[Freelance] Because Of Wedding

sre

Author: #KyungSooHun (Risty Kysechan)
Tittle: Because Of Wedding
Cast:
– Oh Sehun
– Song Min Young
Other Cast:
– Oh Youngjae (HunYoung’s daughter)
– Han Na mi
– Wu Yi Fan
– Find by yourself
Genre: Marrige Life, Hurt (Maybe), Sad, Romance ( Maybe ), Find by yourself.
Lenght: Oneshoot
Rate: NC17+, NC-21
Jumlah Word: 8.700+ Word
Desclaimer: The Story Is Mine!, Mungkin ide ff ini pasaran, tapi jika kalian menganggap ini hasil plagiat silahkan cantumkan linknya. Bukan apa-apa saya membuat cerita ini sesuai dengan isi otak saya. Jika ada kesamaan mungkin itu hanya kebetulan saja. Tolong percaya saya jika kalian readers yang baik.
Warning: NO COPAS, NO PLAGIAT, NO BAVER BERKEPANJANGAN. INI HANYA CERITA 😀 kalo ada Typo itu adalah bonus buat kalian kwkw 😀
.
=====Author Present=====
.
July, 28, 2015

.

“Appa, aku tidak mau….aku mohon!”
.
Seorang gadis cantik berusia 23 tahun, terlihat bersimpuh dihadapan seorang pria paruh baya yang tengah menatapnya sendu. Berkali-kali ia memohon, namun pria paruh baya itu tidak mengubrisnya. Bukan karna pria itu tidak mendengarnya. Namun, sebuah keterpaksaan yang membuat Tuan Han-Pria paruh baya itu tidak bisa menuruti keinginan putrinya. Walaupun gadis itu bukan putri kandungnya, tapi sejujurnya Tuan Han sangat menyayanginya. Gadis itu sudah ia anggap sebagai putri kandungnya sendiri. Ia mencintai gadis itu sama seperti rasa cintanya pada putri kandungnya. Namun apa yang bisa ia lakukan saat ini? Keputusan yang akan ia ambil adalah keputusan satu-satunya agar nama baik keluarganya tidak tercontreng.
.
“Ap..Appa…” Suara gadis itu memelan, airmatanya tak lagi menetes. Ia lelah! bahkan, ini sudah kesekian kalinya ia memohon, namun ayahnya tidak mengubrisnya. “Kumohon, aku tidak bisa menikahi pria itu, aku…aku tidak mencintainya.” Setetes air mata kembali meluncur membasahi pipi mulusnya.
.
“Young-ah bagunlah, Nak. Jangan seperti ini.” Tuan Han mengangkat bahu putrinya yang bergetar. “Kumohon sayang.” Tuan Han memperlihatkan wajah memelasnya. “Demi kami. ” Jemari Tuan Han menghapus air mata yang membasahi pipi Min Young lembut. “Appa tahu ini berat untukmu, tapi jika bukan dirimu siapa lagi? Undangan sudah tersebar sedangkan Nami tidak kunjung membuka matanya.” Tuan han menghela nafas frustasi, raut wajahnya menampakan kesedihan yang mendalam. “Selamatkan kami..”
.
“Appa..” Suara Min Young terdengar parau. “Bagaimana mungkin kau bisa seegois ini?, aku yakin Nami tidak akan rela melihat pria yang ia cintai menikahi wanita lain. Aku mo—-”
.
“Appa mohon..” Tuan Han kembali menampilkan tatapan memelasnya.

.
.

August, 8, 2015
.
.

Di depan Altar sebuah Gereja dikawasan Kota Seoul, terlihat seorang pria yang gagah berdiri dengan setelan tuxedo hitam yang dipadukan dengan bawahan berwarna senada. Tatapan pria itu begitu tajam. Ia masih mengingat kejadian naas yang menimpanya dua minggu yang lalu; ketika ia dan juga kekasih yang akan ia nikahi pergi untuk melakukan fitting baju pengantin. Ia merasa beruntung karna ia dan juga kekasihnya itu selamat. Namun, sebuah kenyataan pahit menghampirinya. Kekasihnya itu mengalami koma. Sampai sekarang wanita itu tak kunjung menunjukan tanda-tanda kesadarannya.
.
Perasaan bersalah yang kian menyeruak kedalam relung hatinya membuat pria itu semakin murung, ia membenci semua ini! Ia benci karna harus menikahi wanita lain selain kekasih yang sangat ia cintai. Ia benci takdir! ia benci ayahnya yang tega memaksanya untuk tetap melakukan pernikahan ini.
.
Ia melirik kearah jajaran tamu yang turut hadir dalam pernikahannya, pria itu membuang muka saat ia bertatapan dengan ayahnya.
.
.
Tak berselang lama seorang pria paruh baya datang dengan menggandeng lengan seorang gadis yang terlihat begitu anggun dengan gaun putih menjuntainya. wajahnya ditutupi dengan tudung khusus untuk pengantin, rambutnya disanggul rendah dengan mahkota putih yang terletak diatas kepalanya.
.
“Oh Sehun, aku menyerahkan putriku padamu untuk kau jaga dan kau lindungi” Tuan Han menyerahkan lengan putrinya kepada Sehun, pria paruh baya itu menitikan airmatanya sambil menatap putrinya. “Maafkan Appa, nak.” Lirih pria paruh baya itu kemudian melangkahkan kakinya.
.
.
“Saudara Oh Sehun, apa anda bersedia menerima saudari Song Min Young, sebagai istri anda, dengan suka maupun duka, susah maupun senang, pahit maupun manis, menjaga dan melindunginya selalu sampai maut memisahkan. Apa anda bersedia?”
.
“Ne, saya bersedia”
.
“Dan saudari Song Min Young, apa anda bersedia menerima saudara Oh Sehun, sebagai suami anda dengan suka maupun duka, susah maupun senang, pahit maupun manis, menjaga dan melayaninya selalu sampai maut memisahkan. Apa anda bersedia?.”
.
Min Young menghela nafas panjang sambil memejamkan matanya. “Ne, saya bersedia.” jawabnya pelan.
.
“Kalian telah resmi menjadi sepasang suami istri, untuk mempelai pria dipersilahkan untuk mencium mempelai wanita.” ucap Sang Pastur lantang.
.
Min Young-gadis itu terhenyak, ia menautkan kedua ruas jarinya yang bergetar. airmatanya menetes membasahi pipi mulusnya. Dengan perlahan ia mulai memejamkan matanya saat dirasa pria dihadapannya perlahan membuka tudung bagian depan wajahnya.
.
CUP~~
.
Sebuah kecupan singkat ia dapatkan, tatapan mereka bertemu saat Min Young membuka matanya yang terlihat memerah.
.

“Apa aku bisa menjalani semua ini?.”-Song Min Young.
.
======Story Begin======
.
SEOUL, 31 October 2016
.

Suasana kota Seoul pagi ini terlihat begitu cerah. Dedaunan hijau, dengan paparan sinar matahari menambah kesan kesegarannya. lalu lalang kendaraan tampak memadati jalanan kota Seoul pagi itu.
.
Di sebuah mansion yang terletak dikawasan kota Seoul, terlihat seorang wanita yang tengah sibuk dengan alat penggorengan dapurnya. Song Min Young-wanita itu terlihat kurang fokus dengan apa yang sedang ia kerjakan, sehingga tanpa sengaja tangan mulusnya terkena cipratan minyak. tidak ada ringisan ataupun keluhan yang terlontar dari mulutnya. ia hanya membiarkan kulitnya yang sedikit memerah tanpa menghiraukannya.
.
.

Min Young meletakan nasi goreng yang telah ia buat dengan segelas air putih keatas meja makan. wanita itu juga meletakan dua potong roti panggang dengan segelas kopi yang terlihat masih mengepul sempurna.
.
Ia menyecahkan bokongnya pada Kursi, kemudian menyuapkan sesendok nasi goreng itu kedalam mulutnya dengan pandangan kosong. Ingatannya terfokus pada kejadian beberapa malam yang lalu. Kejadian yang seakan menohok hati terdalamnya. Tamparan serta makian yang ibunya lontarkan membuatnya merasakan sakit yang teramat dalam. Luka cipratan minyak itu bahkan tidak ada apa-apanya dengan luka dihatinya-fikir Min Young. Padahal malam itu Min Young hanya berniat untuk menjenguk kakak tirinya, tapi apa yang ia dapat? sebuah tamparan keras dipipi kirinya hingga memerah. Bukan itu yang membuatnya sakit, melainkan setiap lontaran yang diucapkan oleh ibunya sendiri. Ia bahkan masih sangat mengingatnya.
.
“Anak sial! gara-gara dirimu anakku seperti ini!, pergi kau dari sini..”
.
“Aku tidak sudi melihatmu menginjakan kembali kakimu dikamar anakku..Pergi kau.”
.
“Kau merebut kebahagiaan putriku, seharusnya kau tidak menerima pernikahan ini..”
.
Semua kata-kata yang ibunya lontarkan tak kan pernah ia lupakan. Min Young sering bertanya pada dirinya sendiri. Apa aku benar-benar putrimu?, Kenapa kau melahirkanku jika untuk kau benci?, Apa kesalahan fatal yang telah kuperbuat?
.
Pertanyaan-pertanyaan itu hanya bisa ia pendam dalam hati!. Min Young menghela nafasnya panjang kemudian berdiri. Wanita itu berjalan menuju wastapel lalu meletakan piring yang masih terisi penuh oleh nasi goreng kimchi. Nafsu makannya benar-benar hancur.
.
==Because Of Wedding==
.
Sehun berjalan menuju meja makan dengan setelan kantornya. Pria itu terlihat tampan dengan setelan kemeja biru muda yang dipadukan dengan celana hitam kantornya. Oh jangan lupakan tangannya yang sedang memegang sebuah dasi berwarna merah maroon yang tampak serasi dengan warna kemejanya. Rambutnya yang basah membuat Pria itu berkali lipat terlihat lebih tampan.
.
Ia mengedarkan pandangannya keseluruh ruang dapur. Pandangannya terhenti pada sosok yang sedari tadi ia cari. Ia berjalan tanpa melepasakan kontak matanya pada sosok itu.
.
“Apa yang kau lakukan disini?” Sehun mengambil tempat disamping Min Young yang tengah sibuk dengan aktifitas mencucinya.
.
“…..”
.
“Astaga, Song Min Young. aku bertanya padamu..”
.
“Aku hanya sedang mencuci piring-piring ini. Apa kau tidak bisa melihatnya?” Min Young memutar bola matanya jengah, jelas saja ia mengetahui bahwa pria itu pasti tau apa yang sedang ia kerjakan tanpa harus bertanya.
.
“Umm..” Sehun hanya mengangguk-anggukan kepalanya. Sebenarnya ia ingin bertanya sesuatu pada Min Young. Tapi, ia merasa ini bukan saat yang tepat melihat mood wanita itu terlihat buruk.
.
“Mana dasimu..” Min Young mengelap tanganya dengan kain kering. Wanita itu kemudian membalikan tubuhnya yang terlihat berisi tapi tetap terlihat sexy. Sehun mendekatkan tubuhnya pada tubuh Min Young, ia melingkarkan tangannya pada pinggang Min Young. Min Young mulai mengambil alih dasi yang dipegang Sehun kemudian menyempulkannya dengan lihai.
.
Kegiatan itu menjadi rutinitas Min Young setiap pagi, awalnya Min Young merasa sedikit enggan, tapi ia tetap melakoninya. Toh Sehun juga yang meyuruhnya. Walaupun sebenarnya pernikahan mereka hanyalah sebuah kecelakaan, tapi bagi Sehun tidak ada salahnya memberikan sedikit perhatian dan kasih sayangnya terhadap Min Young. Ia bukan seorang pria bejat yang tidak memiliki hati hingga harus menyiksa seorang perempuan yang tidak ia cintai seperti yang tertulis dalam sebuah novel. Tidak! Ia tidak sudi melakukannya. Begitupun dengan Min Young, wanita itu tampak santai melakoni tugasnya sebagai seorang istri. Sudah satu tahun lebih pernikahan mereka berjalan. bahkan, keduanya tampak bahagia tanpa ada masalah yang menghampiri keluarga kecil mereka. Keduanya terlihat seperti keluarga kecil yang bersatu karna cinta bukan karna sebuah kecelakaan.
.
Sehun terlihat lebih rapi dengan dasi yang telah menyempul sempurna. Ia memandangi wajah Min Young intens. Pria itu baru menyadari bahwa Min Young memiliki tahi lalat diatas bibirnya. Bibir yang selalu menjadi candu baginya, bibir yang selalu ia cecap tanpa bosan, bibir yang selalu mengeluarkan erangan sexynya. Oh Shit! Sialan memikirkannya saja membuat pria itu menegang.
.
“Aku sudah menyiapkan sarapanmu disana, kau harus menghabiskannya..” Min Young menunjuk meja makan yang diatasnya telah tersedia sarapan yang tadi ia buat. “Aku akan keatas melihat Youngjae terlebih dahulu,” Min Young mulai membalikan tubuhnya, ia hendak berjalan namun ia kembali menoleh saat tangan kanannya dicekal oleh Sehun.
.
“Kau belum memberikan morning kiss ku.” Sehun bergumam dengan nada merajuknya.
.
CUP~~~
.
“Sudah ya..” Setelah itu Min Young segera berlari meninggalkan Sehun yang ia yakini sedang memperlihatkan wajah garangnya.
.
**********
.
“Aku berangkat dulu, hari ini aku usahakan pulang cepat.” Sehun mengecup dahi Min Young setelah itu ia mengalihkan tatapannya pada balita berjenis kelamin laki-laki berusia 11 bulan yang berada di gendongan Min Young. Mata balita itu terlihat berkaca-kaca saat ia memandang wajah tampan Ayahnya.
.
“Hey jangan menangis, Appa janji hari ini akan pulang cepat, jangan nakal okay. Appa akan membelikanmu mainan setelah Appa pulang nanti.”
.
Bagaikan sebuah sulap, Youngjae-balita itu tersenyum lebar saat mendengar kata ‘Hadiah’ yang terlontar dari mulut Ayahnya. Ia mengucek matanya pelan. Sehun tersenyum lebar melihat putranya kembali tersenyum. Ia mengecup pipi gembul puteranya dengan gemas.
.
“Aku berangkat..” Sehun berbalik kemudian menaiki audi hitam miliknya.
.
==Because Of Wedding==
.
Sehun memasuki kantornya dengan tatapan dinginnya. Ia berjalan menuju lift pribadi yang telah di sediakan. Pria itu sesekali menggerutu kesal saat mengingat sekertarisnya-Kim Jong In yang meminta izin untuk tidak masuk hari ini. padahal hari ini ia memiliki rapat penting dengan kolega bisnisnya. shit! ini benar-benar membuat kepalanya pusing.
.
Pria itu merogoh saku celananya kemudian mengambil benda pipih persegi panjang dari dalamnya. Ia membuka password pada benda canggih itu. Sebuah pesan masuk, ia kembali mengumpat saat membaca deretan kalimat yang tertulis disana. Kim jong in sialan desisnya. Ia menghela nafas frustasinya! Hari ini ia kan mengerjakan pekerjaanya seorang diri.
.

********
.
Waktu berganti sore, Tepatnya pukul 18.45 PM KST, Min Young terlihat sibuk dengan aktifitasnya memakaikan bedak pada tubuh Youngjae yang telah ia mandikan. bebarapa menit yang lalu balita itu mengeluarkan kotoran rutinnya hingga ia harus kembali memandikan putranya. Min Young sesekali mengajak putranya berbicara seolah mengalihkan perhatian putranya agar tidak menangis seperti biasanya. Kebiasaan Youngjae jika ‘sedang atau setelah’ mandi, bocah itu akan sangat rewel. Beruntung hari ini bocah itu tidak terlalu rewel seperti biasanya sehingga Min Young tidak terlalu kerepotan.
.
Dengan cekatan Min Young mulai memakaikan baju bermotif teddy bear pada tubuh putranya. Youngjae sesekali tertawa geli saat Min Young menciumi leher putranya.
.
.
.
Min Young mengalihkan tatapannya saat mendengar suara pintu kamarnya terbuka. Ia tersenyum lebar saat mengetahui siapa yang membuka pintu itu.
.
“Kau sudah pulang..” Min Young bertanya, ia mengangkat tubuh Youngjae kepangkuannya.
.
“Kau melihatnya sendiri, aku berada disini berarti aku sudah pulang.” Sehun tersenyum lebar. Oh shit! Sialan dia membalas perkataan istrinya pagi tadi.
.
“Ck, jangan meniruku.” Min Young memutar bola matanya jengah. Selalu seperti itu fikirnya.
.
“Youngjae-ya lihat ini! appa membawa sesuatu untukmu, sayang..” Sehun mengacungkan paper bag yang didalamnya terdapat beberapa mainan untuk putranya. Tanpa memperdulikan Min Young, pria itu meraih tangan Youngjae agar duduk dipangkuannya. Namun, dengan segera Min Young menepisnya.
.
“Kemarikan padaku, kau mandilah aku akan mengajaknya bermain sebentar.” Sehun terlihat kesal karna Min Young menepis tangannya.
.
“Kebiasaan burukmu Oh Sehun! cucilah tanganmu terlebih dahulu.” Min Young menatap sehun tajam.
.
“Huh, baiklah..”
.
CUP~~
.
Sehun mengecup bibir Min Young sekilas, setelah itu ia berjalan dengan santai menuju kamar mandi. Sementara Min Young terlihat kesal dengan kelakuan suaminya.
.
.

“Aaaaaa…..” Youngjae menangis histeris saat tiba-tiba lampu di penthousnya mati. Balita itu merasa pernafasannya sesak. Min Young kelabakan, tubuhnya bergetar hebat dengan keringat membasahi pelipisnya. Dengan tangan bergetar minyoung menepuk-nepuk pantat puteranya agar Youngjae tenang. Tapi hasilnya nihil, putranya malah semakin histeris.
.
Sehun berjalan tergesa saat mendengar tangisan puteranya. Ia berjalan mendekati ranjang dengan penerangan yang berasal dari ponselnya. Ia merasa bersyukur karna tadi ia membawa ponselnya disaku celana.
.
.
.
“Young-ah gwaenchana?” Sehun menepuk pundak Min Young, pria itu sudah jelas tahu akan seperti apa reaksi istrinya itu. “Kemarikan youngjae padaku, tenangkan dirimu! Hey lihat aku, aku disini. Kau tidak perlu takut.” Sehun mengusap kepala Min Young lembut. Dengan perlahan ia mulai meraih tubuh putranya yang sudah mulai tenang. Ia mendudukan tubuh Youngjae kepangkuannya. Tangan kanannya ia gunakan untuk menahan bobot tubuh Youngjae, sementara tangan kirinya ia gunakan untuk memeluk tubuh Min Young yang masih bergetar.
.
“Stt..aku disini, tenangkan dirimu..” Sehun bergumam pelan. Tangannya dengan lembut mengelus surai Min Young dengan teratur.
.
“Terimakasih.” Min Young kembali menetralkan deru nafasnya. Ia merasa sedikiti lebih tenang.
.
.
.
“Aku bersyukur karna tuhan memberikan dirimu sebagai jodoh untukku, setiap perhatian yang kau berikan membuatku semakin enggan untuk melepasmu. Bolehkah aku bersikap egois untuk memilikimu seumur hidupku?” – Song Min Young
.
==Because Of Wedding==
.
“Ahh…” Min Young mengerang merasa geli pada bagian kewanitaanya. Wanita itu menengadahkan leher jenjangnya saat merasakan jari tangan Sehun yang semakin gencar mengoyak tubuh bagian bawahnya. “Eunghh..” Wanita itu menggerakan kakinya seolah ingin menendang sesuatu saat merasa gelombang nikmat itu akan datang. Ia manarik nafas panjang saat gelombang kenikmatan itu bertubi-tubi menghampirinya. Sehun menarik jarinya dari liang kewanitaan milik istrinya; kemudian mulai mencium bibir Min Young dengan nafsu yang menggebu.
.
Dengan perlahan Sehun mulai memasukan kejantanannya kelubang hangat milik istrinya. Mereka mengerang pelan saat merasa benda tumpul itu berhasil menerobos memasuki lubangnya. Sehun menggerakan tubuh bagian bawahnya dengan pelan, pria itu sesekali menggoyangkan pinggulnya guna memberikan kenikmatan yang lebih untuk Min Young.
.
Gerakan pinggulnya semakin cepat saat gelombang kenikmatan itu menghampiri keduanya. Mereka mengerang nikmat dengan mulut yang terbuka serta mata yang tertutup merasakan hangatnya cairan yang keluar menyatu di bawah sana.
.
“Huh…huh..huh…” Nafas keduanya memburu setelah mendapatkan pelepasan masing-masing. Sehun menggulingkan tubuhnya kesamping Min Young. Ia mengambil air minum dinakas kemudian memberikannya kepada Min Young.
.
“Minumlah…”
.
.
Sehun meraih ponselnya dinakas kemudian mulai mengangkat panggilan yang baru saja datang untuknya. Sialan siapa yang menelpon tengah malam seperti ini? Sehun mengumpat pelan. Dengan kesal ia menggeser tombol hijau pada ponselnya.
.
“Ah ye, Eommeonim?” Sehun memelankan suaranya saat mengetahui siapa yang menghubunginya.
.
“….”
.
“Benarkah? Baiklah, aku akan segera kesana.”
.
Plip
.
Sehun mematikan panggilan itu kemudian berjalan tergesa menuju walk in closet. Ia mengambil sebuah kaos dan celana jeans biru dongker kemudian bergegas untuk segera pergi.
.
“Kau mau kemana?” Min Young bertanya saat melihat Sehun yang tergesa-gesa, ia melilitkan selimutnya guna menutupi tubuh polosnya.
.
“Aku akan kerumah sakit, Nami sadar Minyoung-ah..” Sehun segera meraih kunci mobilnya kemudian bergegas pergi tanpa menghiraukan reaksi Min Young.
.
.
Setelah Sehun pergi, Min Young termenung diranjangnya dengan selimut yang masih membungkus tubuh polosnya.
.
Nami sadar
.
Nami sadar
.
Nami sadar
.
Itulah yang ada dalam fikiran Min Young saat ini. Nami telah sadar kembali, inikah saatnya kebahagiaanya akan berakhir? Inilah akhir dari kisah pernikahannya? Tanpa sadar airmata Min Young menetes membasahi pipi mulusnya. Jika dulu ia membenci pernikahan ini, lain halnya dengan sekarang. Min Young justru ingin tetap mempertahankan pernikahannya.
.
.
“Disaat aku mengharapkannya, kenapa justru takdir berkata lain?” – Song Min Young.
.
==Because Of Wedding==
.
Sehun berlari di area koridor rumah sakit. pria itu mengenakan sandal bersilang, ia pergi dengan terburu-buru sehingga ia tidak memperhatikan penampilannya. Beruntung rumah sakit tampak sepi jadi ia tidak perlu mencemaskannya. Jelas saja tampak sepi, ini sudah terlalu larut untuk waktu kunjungan rumah sakit.
.
Dengan tergesa ia membuka pintu kamar inap dengan nomor 702. Pria itu segera memasuki ruangan dimana Nami dirawat. Ia bisa melihat diujung sana terdapat sosok Nami yang tengah mendudukan tubuhnya, Sehun juga melihat ibu mertuanya tertidur disofa yang letaknya tidak jauh dari ranjang yang ditiduri oleh Nami.
.
“Oppa..” Nami-Wanita itu tampak berkaca-kaca saat melihat pria yang sangat ia rindukan berada dihadapannya. Tanpa membuang waktu lebih banyak Sehun segera berlari meraih tubuh Nami kedalam pelukannya. “Aku merindukanmu..” Gumam Nami dengan senyuman harunya.
.
“Aku lebih merindukanmu, bagaimana? Apa ada yang terasa sakit?” Sehun melepaskan pelukan Nami kemudian meneliti setiap inci dari wajah kekasihnya. Kepala wanita itu masih terbungkus dengan kain putihnya.
.
“Tidak, aku merasa lebih baik saat kau datang kemari.” Nami tersenyum lebar kemudian ia mulai menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Sehun. Sehun mengelus surai Nami dengan penuh kasih sayang.
.
“Syukurlah..” Gumam Sehun sembari memejamkan matanya.
.
“Eumm, Oppa. Ada yang ingin aku tanyakan..” Nami melepaskan pelukannya, wanita itu mendongakkan wajahnya untuk menatap iris mata kekasihnya. Sehun merasa sedikit gusar. Pria itu takut jika Nami akan menanyakan perihal pernikahannya.
.
“Ap..apa..” Setelah beberapa menit akhirnya sehun berani bertanya. Ia kelabakan, pria itu merasakan keringat dingin yang sedikit menetes membasahi dahinya.
.
“Ck! kenapa kau segugup itu? Aku hanya ingin bertanya padamu..” Nami terlihat kesal melihat reaksi sehun yang terlalu berlebihan. “Eomma, bilang aku koma selama satu tahun lebih, apa itu benar? Lalu bagaimana dengan pernikahan kita?”
.
“Itu benar, kau seperti putri tidur yang tidak kunjung membuka matanya.” Sehun menatap Nami dengan raut muka kesal yang dibuat-buat. “Pernikahan kita tentu saja batal Nona Han, kau fikir bagaimana lagi.”
.
“Maafkan aku, ini semua gara-gara diriku..” Nami menundukan kepalanya. Sehun merasa gemas melihat tingkah kekasihnya itu. Ia meraih dagu Nami kemudian menatap iris mata Nami lembut. “Ini bukan salahmu, hey lihat aku! Ini hanyalah sebuah kecelakaan, jadi kau tidak perlu merasa bersalah okay.”
.
Nami menganggukan kepalanya dengan mata yang berkaca-kaca ia kembali memeluk erat tubuh Sehun. “Terimakasih.” Gumam Nami.

.
*********
.
Sudah terhitung 3 hari Sehun jarang pulang ke penthousenya. Ia lebih sering menghabiskan waktunya dirumah sakit dan di kantor, pria itu sesekali pulang ke penthousenya hanya untuk mengambil beberapa helai pakaian ganti dan sekedar membersihkan diri. Setelah itu ia akan langsung pergi tanpa menyapa keluarga kecilnya. Sikap pria itu juga kian berubah. Sifatnya yang hangat berubah menjadi dingin. Pria itu bahkan bersikap acuh pada putranya sendiri. Min Young tidak bisa berbuat apa-apa selain bersabar dan menenangkan putranya yang menangis histeris saat melihat kepergian ayahnya. Bukan karna ia tidak berani, tapi keadaanlah yang membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa.
.

Hari ini Min Young berinisiatif untuk melihat bagaimana keadaan kakak tirinya. entah mendapat keberanian darimana, wanita itu nekat pergi kerumah sakit padahal jelas saja Min Young yakin bahwa ia hanya akan mendapat makian dari ibunya.
.
Ia melangkahkan kakinya dikoridor rumah sakit guna memasuki ruangan dimana Nami dirawat. Tangannya membawa sebuah paper bag yang didalamnya terdapat beberapa Cupcake yang ia beli sebelum ia pergi kerumah sakit. Samar-samar Min Young mendengar suara suaminya yang tengah berbincang dengan ibunya. Wanita itu menghentikan langkahnya saat mendengar kalimat yang membuat kerongkongannya sakit.
.
“Nami sudah sadar, bukankah ini adalah waktu yang tepat untukmu menceraikan wanita itu.”
.

“Aku membutuhkan waktu sedikit lagi Eommeonim, jangan beritahu hal ini pada Nami aku takut—”
.
“Ck, aku tidak akan mengorbankan perasaan putriku. Segeralah urus semuanya.” Nyonya Han melangkahkan kakinya meninggalkan Sehun.
.
Ia menghentikan langkahnya saat melihat sosok Min Young yang berdiri tepat dihadapannya. Ia menatap Min Young dengan penuh kebencian.
.
“Untuk apa kau kemari?”
.
“Aku hanya ingin—”
.
“Pergilah aku muak melihat wajahmu itu.”
.
“Maafkan aku..” Min Young menundukan kepalanya. Ia sudah biasa diperlakukan seperti itu oleh ibu kandungnya sendiri.
.
“Aku tidak butuh permintaan maafmu, pergilah..” Setelah mengatakan itu Nyonya Han segera pergi menuju ruang dimana Nami dirawat.
.
Sementara Min Young hanya bisa meremas ujung kemejanya yang mulai kusut. Perasaan itu kembali lagi. Perasaan bersalah pada dirinya sendiri. Minyoung membalikan tubuhnya yang bergetar kemudian melangkahkan kakinya untuk meninggalkan tempat ini. Ia mengurungkan niatnya untuk menjenguk kakak tirinya yang bahkan ia yakini tidak memperdulikan kehadirannya.
.
“Maafkan aku..” Sehun menatap kepergian Min Young dengan perasaan tak menentu. Entah mengapa melihat Min Young seperti itu membuatnya merasakan sakit hati yang mendalam.
.
.

Min Young berjalan meninggalkan kawasan rumah sakit Seoul dengan pandangan kosong, wanita itu berjalan menyebrangi jalan tanpa memperdulikan teriakan dari para pengemudi mobil yang merasa kesal karna wanita itu hampir saja tertabrak.
.
Berkali-kali Min Young membungkukan tubuhnya guna meminta maaf kepada para pengemudi mobil atas kelalayannya. wanita itu menghela nafas panjang kemudian segera bergegas pergi.
.
“Song Min Young kau tidak boleh lemah, bukankah kau sudah terbiasa diperlakukan seperti itu.” Batin Min Young menyemangati dirinya sendiri.
.
*******
.
Min Young memasuki penthousenya dengan tergesa, ia mengitari ruang tamu kemudian bergegas menuju dapur. Wanita itu membuka kulkas lalu mengambil sebotol air mineral. Ia menegaknya hingga tersisa setengahnya. Tenggorokannya terasa kering. Ia mengedarkan pandangannya ke penjuru dapur, merasa heran karna tidak menemukan siapapun dirumahnya. “Kemana Youngjae dan kim Ahjumma?” fikirnya.
.
.
.
.
“Ahjumma dimana Youngjae?” Min Young bertanya saat ia berpapasan dengan Kim Ahjumma-pengasuh Youngjae, di ruang tamu. Ia merasa heran kemana puteranya?.
.
“Dia berada ditaman belakang bersama Tuan Kris nyonya.” Jawab Kim Ahjumma dengan tersenyum lembut.
.
Wanita paruh baya itu begitu lembut, sangat berbanding dengan ibunya sendiri. Min Young merasa bersyukur karna bisa memilik Kim Ahjumma yang sesekali datang kerumahnya untuk mengasuh Youngjae.
.
“Kris Oppa?,” Min Young berfikir sejenak, setelah beberapa detik, wanita itu berlari menuju taman belakang. kim Ahjumma hanya menggelengkan kepanya melihat tingkah majikannya itu.
.
Kris adalah sepupu Min Young yang tinggal di Kanada bersama kedua orang tua dan juga istrinya. Ibu Kris-Song Dahye merupakan adik dari Song Daehan yang notebennya adalah ayah Min Young. Meskipun jarak mereka jauh, namun hubungan yang terjalin tetap berjalan baik.
.

.
Min Young mematung melihat tubuh tinggi menjulang itu berdiri tidak jauh darinya. Ia menatap punggung pria yang sangat ia rindukan dengan perasaan haru. Disamping pria itu, Min Young juga melihat seorang gadis kecil yang sedang berceloteh sesekali mengajak puteranya berbicara. Ia mengangkat bibirnya membentuk bulan sabit. Tersenyum lembut sebelum ia melangkah menghampiri ketiganya.
.
“Auntie..” Pekik gadis kecil berusia 5 tahun itu saat menyadari kedatangan Min Young. “Daddy, Auntie datang..” Gadis itu berlari menghampiri Min Young dengan girang.
.
“Jangan berlari sayang! kau bisa jatuh” teriak Kris sambil tersenyum geli melihat tingkah putrinya.
.
“Auntie, i miss you so much..” Gadis itu memeluk tubuh Min Young yang telah berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tinggi Alexa Wu-gadis kecil itu.
.
“Miss you too, Baby.” Min Young mengelus surai Alexa lembut sambil memeluk tubuh mungil itu. “Bagaimana kabarmu?” Ia melepaskan pelukannya, menatap dalam tepat dimanik mata Alexa dengan tangannya yang sibuk menyelipkan rambut Alexa ketelinga gadis itu.
“Aku baik” jawab Alexa dengan senyuman manisnya.
.
“Kau tumbuh menjadi gadis yang cantik.” Min Young tersenyum lembut.
.
“Tentu saja, dia menuruni genku.” Jawab kris. Pria itu berjalan menghampiri Min Young dengan Youngjae yang berada dipangkuannya. Min Young mendengus sebal mendengarnya. Selalu seperti itu fikirnya.

“Ck! Kau terlalu percaya diri, Oppa.”
.
“Aku memang tampan. Itu kenyataan, Song Min Young.”
.
“Terserah kau saja.” Min Young mengalihkan tatapannya pada Youngjae yang tengah mengayunkan tangannya seolah meminta digendong, ia meraih lengan Youngjae kemudian mengecupi pipi gembul itu dengan sayang.
.
“Youngjae tumbuh dengan baik, ” Kris tersenyum lembut.
.
“Yah kau benar, Oppa. Sebaiknya kita duduk disana” Min Young menunjuk kursi yang terletak tidak jauh dari tempatnya berdiri di taman itu.
.
.
.
“Young-ah aku harus bicara denganmu. Ini mengenai–” Kris menjeda ucapannya sambil menarik nafas panjang guna meyakinkan dirinya. “Song Ahjussi, tidak maksudku tentang warisan peninggalannya.” Min Young membatu. Apa ini saatnya?
.
“Aku tahu kau belum siap, tapi ini sudah saatnya kau meneruskan perusahaan yang Ahjussi tinggalkan untukmu. Aku tidak bisa terus menerus mengurusnya. Abeoji membutuhkanku diperusahaan. Lagipula Youngjae sudah cukup besar.”
.
“Apa tidak bisa diundur lagi?, aku belum siap.” Keluh Min Young.
.
“Aku akan membantumu,” Kris menatap Min Young penuh harap. “Aku akan membantumu memantau semuanya, sesekali aku akan mengunjungimu.”
.
“Beri aku waktu untuk memikirkannya.” Min Young menghela nafas panjang, jika ia harus meneruskan perusahaannya dalam waktu dekat, itu berarti dia harus kembali ke Kanada dan meninggalkan Seoul. Ada perasaan berat dalam relung hatinya untuk meniggalkan seoul. Entah mengapa ia tidak mengetahuinya.
.
“Baiklah, jangan terlalu lama.” Kris menghela nafas lega.
.
“Omong-omong kapan kalian datang?”
.
“Kemarin,” jawab Kris sekenanya.
.
“Dimana Hyejin eonni? Apa dia tidak ikut datang kemari?”
.
“Tidak, dokter melarang Hyejin menaiki pesawat karna kehamilannya yang semakin besar. Ah ya, dia menitipkan salam untukmu. Dia sangat merindukanmu.” Kris tersenyum lebar saat membayangkan ekspresi istrinya yang merajuk untuk ikut mengunjungi Min Young. “Wanita itu bahkan menangis semalaman, untung saja eomma bisa membujuknya.”
.
“Ah, aku juga sangat merindukannya.”
.
“Ck, berkunjunglah ke Kanada jika kau merindukannya.”
.
“Akan kufikirkan.”
.
“Kau selalu seperti itu. Omong-omong dimana suamimu?” Tanya Kris hati-hati. Ia tahu semua tentang Min Young. Bahkan pria itu sering kali memberikan nasihat dan juga semangat untuk Min Young walaupun hanya melalui video call. tidak mudah untuk Min Young melewati semuanya seorang diri. Oh ayolah bahkan ibunya sendiri membencinya. Ibu yang seharusnya memberikan kasih sayang dan memberinya dukungan justru berbanding sebaliknya.
.
“Dia–” minyoung menggantungkan ucapannya. Apa ia harus berkata jujur?.
.
“Apa yang kau sembunyikan? Ceritakan padaku!” Kris menatap tajam tepat ke manik Min Young.
.
Min Young menghela nafas panjang, mungkin dengan menceritakan masalahnya bebannya akan berkurang fikirnya.
.
==Because Of Wedding==
.
Hari beranjak malam, Tepat pukul 20.00 PM KST, Sehun memasuki penthousenya dengan langkah tergesa-gesa. Pria itu berjalan menaiki anak tangga guna memasuki kamarnya. Langkahnya terhenti didepan sebuah box bayi yang berada tepat disebelah ranjangnya. Ia menatap balita yang ada didalamnya itu lama. Hatinya terasa tenang sekaligus sesak melihat putranya yang tengah tertidur pulas sambil menghisap ibu jarinya. Ia bingung! Apakah keputusan yang akan ia ambil itu benar? Disisi lain ia tidak ingin meninggalkan keluarga kecilnya, tapi disisi lain ia juga tidak bisa meninggalkan wanita yang sangat ia cintai. Sehun mengusap wajahnya kasar. Pria itu menatap puteranya sendu sebelum ia mendekatkan wajahnya ke pipi gembul putranya. “Maafkan Appa sayang..” Sehun mengalihkan tatapannya pada Min Young yang tengah tertidur membelakanginya, ia menghela nafas panjang kemudian melangkahkan kakinya memasuki kamar mandi.
.
Min Young menitikan airmatanya. Sebenarnya, ia hanya berpura-pura tidur. “Apa ini akhir dari semuanya?.” Batin Min Young
.

Setelah beberapa menit terdengar suara pintu yang berdecit, Sehun keluar dari kamar mandi dengan rambut basahnya. Ia terlihat lebih segar setelah membersihkan tubuhnya. Kemeja putih dengan celana jeans sebagai bawahannya telah melekat pada tubuh proporsionalnya. Ia mendekatkan tubuhnya pada ranjang yang ditiduri oleh Min Young. Tatapannya terlihat sendu saat melihat punggung Min Young yang membelakanginya. Entah mengapa melihat wanita dihadapannya membuat sehun merasakan desiran kecil pada hatinya. Ada perasaan berbeda pada dirinya. Entah perasaan apa ia juga tidak mengetahuinya. Tapi yang pasti ia merasa ragu untuk melepaskan wanita itu.
.
“Aku tidak tahu keputusan apa yang harus kuambil, aku menyayangimu dan juga putra kita, Tapi aku tidak bisa melepaskannya.” sehun menarik nafas panjang sambil memejamkan matanya. Ia melirik kesamping nakas saat mendengar deringan ponselnya. Ia meraih benda pipih persegi itu kemudian berjalan menjauh untuk mengangkatnya.
.
“………”
.
“Ya aku akan kesana sebentar lagi”
.
“……..”
.
“Baiklah aku akan membelikannya untukmu..”
.
“……..”
.
“Na-do..”
Terdengar nada keraguan saat Sehun mengucapkannya. Entah mengapa ia merasa sedikit risih mendengar kalimat yang diucapkan wanita diseberang sana. Padahal dulu ia sangat menyukainya. Tapi sekarang? Entah mengapa Ia merasa ragu.
.
PLIP~~
.
Sambungan itu terputus. Sehun menyimpan ponselnya disaku celana. Pria itu berjalan kesamping nakas untuk mengambil kunci mobilnya. Baru beberapa langkah ia berjalan, suara tangisan yang begitu memekakan membuat langkahnya terhenti. Ia melirik box bayi itu sekilas. Berfikir sejenak kemudian berjalan mendekati box bayi itu.
.
Hatinya terasa sesak saat melihat mata putranya yang berkaca-kaca dengan isakan-isakan kecilnya, tubuh Youngjae telah duduk sempurna, tangan balita itu maju kedepan seolah meminta untuk digendong. “Pa…” Sehun tertegun mendengarnya. Apakah balita itu memanggilnya Appa?.
“Pa…” Youngjae menangis histeris karna melihat ayahnya yang hanya diam tanpa menggendongnya. “Paa..pa…” Dengan sekali tarikan sehun meraih tangan bocah itu kemudian mengecupi pipi gembulnya bertubi-tubi. “Kau memanggilku apa tadi sayang? Astaga kau memanggilku ayah?…ucapkan sekali lagi…” Sehun merasakan desiran-desiran yang menjalar mengenai hatinya saat pertama kalinya ia mendengar puteranya memanggil dia dengan panggilan ayah, mata pria itu terlihat berkaca-kaca. Youngjae menenggelamkan wajahnya pada lekukan leher Sehun, balita itu mengeratkan tangannya pada leher Sehun seolah ia tidak ingin ayahnya pergi lagi. “Pa..” Suara Youngjae terdengar parau saat mengucapkannya. “Ya sayang, Yatuhan Oh Youngjae, Appa mencintaimu sayang..sangat!”
.
Min Young melihat semuanya dengan mata yang berkaca-kaca, wanita itu mendudukan tubuhnya, Ia tidak menyangka reaksi Sehun akan seperti itu. Min Young bersyukur ternyata Sehun masih menyayangi Youngjae.
.
==Because Of Wedding==
.
Sehun membuka knop pintu ruangan dimana Nami dirawat, Wajah pria itu terlihat begitu murung pagi ini. Semalam ia tidak jadi datang menemui Nami. Youngjae-puteranya tertidur dipangkuannya, setiap kali ia memindahkan puteranya ke dalam box bayi, balita itu akan kembali menangis histeris. Bahkan Min Young yang notebennya adalah ibu Youngjae tidak bisa membujuk putranya. Keras kepala memang! Tapi itulah tabiat putranya yang menuruni gen ayahnya. Tepat pukul 11 malam, Sehun baru bisa menidurkan Youngjae ketempat tidur disamping pria itu. Ia memeluk tubuh Youngjae sambil menerawang memikirkan tentang kehidupannya. Pria itu memikirkan semuanya semalaman. Dan ia sangat yakin dengan keputusan yang akan ia ambil. walaupun ia tahu bahwa akan ada yang tersakiti, tapi bukankah ia tetap harus mengambil keputusan?
.
Sehun berjalan mendekati ranjang yang ditiduri Nami, Pria itu tertegun saat melihat Tuan dan Nyonya Han yang sedang membujuk Nami untuk makan. Namun hasilnya tetap sama seperti beberapa jam yang lalu. Wanita itu tetap bergeming tanpa menerima satu suap pun makanan yang diberikan Nyonya Han. “Sayang, makanlah beberapa suap saja, Eomma mohon. Bukankah kau ingin cepat sembuh?.” Nyonya Han menatap Nami sendu. “Eomma mohon, kau tidak makan dari kemarin sore..” Wanita itu mengalihkan tatapannya pada Tuan Han kemudian menggeleng pelan seolah mengatakan ia menyerah. Tuan Han menghela nafas frustasinya.
.
“Biar aku saja..” Tuan dan Nyonya Han membalikan tubuhnya saat mendengar suara yang tidak asing pada indra pendengarannya. Mereka menghela nafas lega saat melihat ternyata memang benar, Sehun yang datang. “Kemarikan bubur itu padaku, Eommonim.” Sehun meraih mangkuk yang didalamnya terisi bubur abalon. ia tersenyum lembut “Abeonim dan Eomeonim sebaiknya pulang untuk beristirahat, aku akan menjaganya.”
.
“Terima kasih Sehun-ah..” Tuan Han tersenyum lembut kemudian pergi bersama Nyonya Han untuk pulang.
.
Sehun menghela nafas panjang kemudian mendekati Nami. “Kenapa kau tidak mau makan?” Ia membalikan tubuh Nami yang membelakanginya. “Nami-ya makanlah, bukankah kau ingin—-”
.
“Kenapa kau tidak datang semalam? Kau tahu aku menunggumu..” Nami menatap sehun dengan raut muka yang menahan tangisan. “Kau mengingkari janjimu?.”
.
“Aku tidak bermaksud seperti itu, Sungguh! maafkan aku.” Sehun meraih tangan Nami, namun wanita itu menepisnya.“Kau tahu aku tidak suka menunggu, Oh Sehun! Kau mengecewakanku.” Nami menangis histeris, ia memukuli dada Sehun dengan kedua telapak tangannya. Sehun meraih tubuh Nami kedalam pelukannya tanpa memperdulikan pukulan-pukalan yang Nami berikan padanya. “Maafkan aku, sungguh.”
.
Mengucapkan kata maaf membuat Sehun kembali teringat akan bayangan-bayangan Youngjae yang menampilkan tatapan sendunya. “Maafkan Appa sayang, tunggu sebentar lagi. Appa janji akan segera menyelesaikan semuanya.” Sehun bergumam dalam hati seolah meyakinkan keputusannya.
.
==Because Of Wedding==
.
Min Young kelabakan melihat Youngjae yang tak berhenti menangis dalam gendongannya, tubuh Youngjae panas, ia merasa frustasi karna berbagai cara telah ia lakukan untuk membujuk putranya agar berhenti menangis, namun hasilnya tetap sama, balita itu tak kunjung menghentikan tangisannya. Awalnya Min Young mengira itu hanya kebiasaan Youngjae yang menangis setiap bangun tidur karna membutuhkan ASI-nya. Tapi ternyata dugaannya salah, bahkan balita itu belum memasukan asupan apapun kedalam mulutnya. Setiap kali ia menyodorkan sesuatu kedalam mulut Youngjae, balita itu selalu bungkam dan menepisnya. “Sayang, berhentilah menangis.” Min Young menepuk-nepuk punggung Youngjae yang berada dipangkuannya. “Eomma mohon. apa kau tidak lelah?” Min Young menitikan air matanya, ia bingung harus melakukan apa. “Kau ingin apa hmm? Eomma akan membelikannya. Jadi, berhentilah menangis! Kau harus makan sayang.” Min Young mengecup pelipis youngjae. “Ma..pa..pa…” Youngjae semakin terisak. Min Young tertegun. Mungkinkah Youngjae merindukan ayahnya? “Pa..” Tangisan itu begitu memilukan, Min Young tidak punya pilihan lain. Wanita itu meraih ponselnya di nakas kemudian mulai menyambungkan panggilannya. Ia meletakan benda pipih itu ditelinganya.
.
“Berhenti menangis, sayang..” Min Young merasa frustasi karna Sehun tidak kunjung mengangkat panggilannya. Dengan cekatan ia mengetikan sesuatu pada benda pipih itu. Hingga 5 menit kemudian tangisan Youngjae berhenti. Minyoung membanting ponselnya ke ranjang, kemudian berdiri untuk membawa puteranya keluar. Demi tuhan! tubuh Youngjae benar-benar panas dan balita itu pingsan. “Astaga Oh Youngjae, bangun sayang…” Min Young berlari dengan Youngjae yang berada dipangkuannya. Tidak ada pilihan! Ia harus segera kerumah sakit.
.

**********
.
Min Young berdiri didepan ruangan ICU dengan deraian air mata yang mengalir membasahi pipi mulusnya. wanita itu sedang menunggu dokter yang menangani puteranya keluar. “Young-ah, tenanglah, aku yakin Youngjae akan baik-baik saja” Kris-pria itu berjalan mendekati Min Young, ia memeluk tubuh Min Young seolah menyalurkan kekuatan untuk wanita itu. “Aku tidak bisa tenang, yatuhan putraku..” Min Young terisak didepan dada kris. “Youngjae keponakanku yang kuat, sayang. dia akan baik baik saja.” Kris mengelus surai Min Young.
.
Beberapa menit kemudian, Dokter Park keluar dengan wajah lelahnya. Ia menghampiri Min Young dan juga Kris “Anda beruntung karna segera membawanya kerumah sakit. Saya tidak yakin jika beberapa menit saja anda terlambat mungkin putera anda tidak bisa diselamatkan. Kasus seperti ini sering terjadi. Mungkin terlihat sepele, tapi jika dibayangkan dampak dari suhu tubuh yang semakin meninggi akan mengakibatkan hal yang fatal. ” Dokter Park menghela nafas leganya.
.
Min Young menatap Kris lama, seandainya Kris tidak datang kerumahnya, mungkin ia tidak tahu akan seperti apa jadinya. Ia merasa bersyukur karna Kris datang disaat waktu yang tepat.
.
“Lalu bagaimana keadaanya sekarang?” Tanya Kris.
.
“Kalian hanya harus menunggu sampai dia siuman, keadaanya sudah stabil” Kris menghela nafas leganya
.
“apa kami boleh melihatnya?” Min Young bertanya dengan penuh harap.
.
“Silahkan..”
.

==Because Of Wedding==
.
Sehun meraih ponselnya yang berada di kursi dekat ranjang yang ditiduri oleh Nami, ia membuka kunci ponselnya. Pria itu mengernyitkan dahinya saat melihat puluhan panggilan tidak terjawab yang berasal dari Min Young. Ia membuka beberapa pesan yang masuk. Beberapa pesan dikirimkan oleh sekertarisnya yang membahas tentang proyek yang akan ia buat bersama kolega bisnisnya. Pandangannya seketika mengabur saat membaca pesan yang berasal dari Min Young. Pesan itu dikirim 3 jam yang lalu.
.
“Sehun-sshi kau berada dimana?”
.
“Pulanglah sebentar saja, Youngjae tidak berhenti menangis, aku bingung! apa yang harus kulakukan? Badannya panas…”
.
“Suhu tubuhnya semakin tinggi, kumohon pulanglah..”
.
“Kumohon pulang sebentar saja, aku janji setelah Ini aku tidak akan mengganggumu lagi. Astaga aku benar-benar bingung..aku janji akan melakukan apapun, ini yang terakhir, pulanglah”
.
“Balas pesanku..”
.
“tak bisakah kau pulang sebentar saja?”
.
“YOUNGJAE PINGSAN”
.
Sehun segera menekan tombol 1 untuk menghubungi nomor Min Young, demi tuhan putranya sedang sakit? dan dengan brengseknya pria itu justru mengabaikan ponselnya.
.
“Angkat teleponnya Song Minyoung” Sehun menggeram saat tidak mendapatkan respon dari seberang sana. Tanpa berfikir panjang pria itu segera berlari keluar dari kamar inap Nami.”Kau dimana?, bagaimana dengan Youngjae” Sehun menghela nafas lega saat panggilannya terjawab.
.
“….”
.
“Hyung bagaimana kau bisa—”
.
“…..”
.
“Kumohon beritahu aku dimana mereka..” Sehun mengusap wajahnya kasar.
.
“…..”
.
“Arraseo aku akan segera kesana”
.
PLIP
.
Panggilan itu terputus, dengan segera Sehun berlari mencari kamar dimana putranya dirawat. Nomor 189 itu berarti ia hanya harus melewati 3 belokan saja.
.
*******
.
Sehun berhenti tepat didepan pintu nomor 189, pria itu meraih knop pintu kemudian membukanya perlahan.
.
Pemandangan pertama yang ia lihat adalah putranya yang tertidur tak berdaya dengan selang oksigen yang menempel pada hidungnya serta selang infus yang bertengker dilengan kirinya, disisi kanan, ada Min Young yang dengan setia menggenggam tangan balita itu dengan deraian airmatanya. Sehun merasa sekujur tubuhnya lesu melihat pemandangan itu. Ia berjalan mendekati kris yang berada tak jauh dari sana. “Apa yang terjadi?” Sehun bertanya dengan pandangan kosong. “Bagaimana mungkin putraku bisa masuk kerumah sakit” tanpa ia sadari setitik air mata-nya keluar membasahi pipi sehun, ia merasa menjadi ayah paling brengsek yang tidak bisa menjaga putranya. “Aku..aku–” Sehun mendongakan kepalanya saat menerima tepukan pada bahunya.
“Aku tahu ini berat untukmu, tapi kuharap kau bisa memberikan keputusan yang terbaik. Min Young banyak menderita. Selama ini dia tidak pernah bisa terbuka pada siapapun. Tapi semenjak ada kau dihidupnya, dia sedikit lebih terbuka. Fikirkan perkataanku baik-baik.” Setelah mengatakan itu Kris berjalan meninggalkan ruangan itu seolah memberikan waktu untuk keduanya menyelesaikan masalah mereka. Dia bukan pria tempramental yang akan mengambil keputusan dengan langkah kekerasan. Pria itu justru lebih memilih mengambil keputusan secara logis.
.
Sehun mendekati Min Young, tangannya ia letakan melingkari bahu Min Young. “Bagaimana keadaanya?” Min Young tercekat saat merasakan sepasang tangan melingkari bahunya.“Dia..dia tidak membuka matanya, aku takut dia tidak–” Suaranya terdengar parau, Sehun mengeratkan pelukannya. “Jangan berfikir macam-macam, putra kita sangat kuat! Aku yakin tidak akan terjadi apapun padanya.” Sehun melepaskan pelukannya, kemudian membalikan tubuh Min Young agar menatapnya. “Dengarkan aku baik-baik! Aku tahu aku salah, seharusnya aku tidak mengabaikan kalian. Maafkan aku!” Sehun menatap tepat ke manik Min Young. “Aku bukan pria romantis yang akan mengumbar sesuatu untuk mengungkapkannya, tapi kumohon untuk kali ini! Tunggulah aku sebentar lagi, hingga waktu itu tiba, aku akan kembali pada kalian. Tunggu sampai aku menyelesaikan semuanya.” Sehun merengkuh tubuh Min Young erat, meletakan kepala wanita itu tepat pada dadanya.
.
“Sampai kapan?” Suara Min Young terdengar parau.
.
“Sebentar lagi, aku janji” Min Young menangis haru, Ia menumpahkan airmatanya hingga membasahi kemeja yang Sehun kenakan. Sehun sudah yakin dengan keputusan yang akan ia ambil. Ia akan berbicara pada Nami tentang kebenarannya setelah keadaan wanita itu membaik. Ia hanya sedang mencari waktu yang tepat. Sehun melakukan itu bukan semata karna Youngjae, tapi ia mulai menyadari perasaanya. Benar apa yang dikatakan Jong In-sekertarisnya bahwa kita harus menyadari perasaan itu sebelum kita kehilangan orang yang kita sayangi dan menyesal di kemudian hari. Sehun memejamkan matanya, ia merasa lebih tenang saat menghirup aroma vanilla yang menguar dari rambut Min Young.
.
“Kau sudah makan?” Sehun bertanya tanpa melepaskan pelukannya. Min Young menggeleng pelan sebagai jawabannya. “Aku akan membeli makanan untukmu, tunggu disini aku akan segera kembali” Sehun mengecup pelipis Min Young kemudian bergegas pergi. Min Young merasakan desiran-desiran dalam hatinya. Tanpa sadar ia tersenyum lembut.
.
*******
.
Sehun berjalan dengan membawa sebuah paper bag yang didalamnya terdapat beberapa jenis makanan yang baru saja ia beli. Pria itu menghentikan langkahnya saat melihat pemandangan yang membuat darahnya naik. Bagimana mungkin ibu mertuanya bisa berada disini? lebih tepatnya didepan pintu kamar inap Youngjae. Bukan itu yang membuatnya marah melainkan tatapan wanita paruh baya itu yang terlihat menusuk. Ia bisa melihat Min Young ketakutan disana. Tangan wanita itu saling bertautan dengan wajahnya yang menunduk. Ia hendak berjalan menghampiri keduanya, namun ia mengurungkan semua itu saat melihat Kris berjalan dari arah yang berlawanan. Sehun bisa melihat rahang Kris mengeras, dengan tatapan mata elangnya.
.
.
“Hentikan!” Tatapan Kris begitu menusuk, Pria itu menatap Nyonya Han tanpa rasa takut sedikitpun. Bukan salah dia; jika bisa berbuat seperti itu. Salahkan Nyonya Han yang tidak memperdulikan putrinya sendiri.
.
“Jangan ikut campur..” Nyonya Han membalas tatapan itu lebih tajam. “Kau fikir kau siapa?”
.
“Aku? Aku adalah orang yang akan melindungi putrimu bibi.”
.
“Dia bukan put–”
.
“SAMPAI KAPAN KAU AKAN MEMBENCINYA BIBI?..” Kris menarik nafasnya sejenak “DIA PUTRIMU, PUTRIMU, PUTRIMU BIBI..”
.
“Aku tidak memiliki putri seperti dia, gara-gara dia suamiku–”
.
“SUAMIMU APA? SADARLAH BIBI, APA KAU FIKIR MIN YOUNG TIDAK MENDERITA SELAMA INI? KAU SALAH BIBI, KAU SALAH! BAHKAN MIN YOUNG LEBIH MENDERITA DARIPADA DIRIMU. WANITA ITU HARUS—”
.
“Geumanhae…” Min Young menatap Kris dengan raut wajah terlukanya “jebal geumanhae, oppa jebal…” Cairan bening itu lolos membasahi pipi mulus Min Young.
.
“Tidak, Young. wanita ini harus mengetahui segalanya.” Kris kembali menatap tajam Nyonya Han. “Apa kau bisa melihatnya? Putrimu menderita! Selama ini dia hidup dengan perasaan bersalahnya. APA KAU TAHU PENYAKIT APA YANG DIA DERITA SETELAH PAMAN SONG MENINGGAL? TIDAK KAN? KAU TERLALU MEMENTINGKAN DIRIMU, KAU EGOIS BIBI. KAU TIDAK MAU TAHU BAGAIMANA PERASAANYA . 15 TAHUN KAU MENGABAIKAN PUTRIMU, APA KAU SADAR? KAU TERLALU BANYAK MENYAKITI DIA, AKU TIDAK YAKIN PAMAN AKAN MEMAAFKANMU JIKA DIA MELIHAT PERLAKUANMU TERHADAP PUTRI KANDUNGMU SENDIRI.”
.
“Oppa jebal geumanhae…”
.
“KAU HARUS SADAR BIBI, APAKAH MIN YOUNG MENGINGINKAN SEMUA INI? TIDAK. JUSTRU DIA LEBIH MENDERITA DARIPADA DIRIMU..PENCULIKAN ITU MEMBUAT MIN YOUNG TERTEKAN. DIA MENGALAMI–”
.
“GEUMANHAE, JEBAL”. Minyoung bersimpuh dilantai dengan isakan tangisnya. Tubuhnya bergetar hebat. Sehun yang melihat itu segera berlari, kemudian merengkuh tubuh Min Young. “Bawa dia kekamar Youngjae Oh Sehun, aku akan berbicara dengan wanita ini” Kris menatap Sehun penuh harap, Sehun segera menuntun Min Young memasuki kamar Youngjae.
.
“Kita bicara ditempat lain..”
.
.
.
Nami berjalan dengan pandangan kosong, ia tidak salah melihat bukan?. Tatapan itu, tatapan itu terlihat begitu menyakitkan. Ia bisa melihat tatapan Min Young yang menanggung beban beratnya. Nami awalnya ingin berjalan-jalan mengitari rumah sakit, namun wanita itu harus mengurungkan niatnya saat melihat perdebatan orang-orang yang dikenalnya. Satu hal yang ia tanyakan Bagaimana Sehun terlihat begitu menyayangi Min Young. Ada apa sebenarnya?.
.
“Aku harus mencari tahu kebenarannya”. Nami sudah bertekad, sebenarnya selama ini ia sedikit heran karna sikap Sehun yang sedikit berbeda padanya. Pria itu lebih kaku, Tidak seperti dulu, sehun akan secara terang-terangan mengucapkan kata cinta padanya.
.
==Because Of Wedding==
.
Nyonya Han memasuki kamar inap Nami dengan pandangan kosong. Wanita paruh baya itu merasakan sesak dalam hatinya setelah mengetahui semua kebenarannya. Ia tidak menyangka bahwa selama ini ia telah menyakiti putrinya sendiri. Putri kandungnya selama ini menderita karena dirinya. Kris telah menceritakan semuanya. Kejadian 15 tahun memang bukan kesalahan putrinya. Tapi kesalah pahaman yang membuat wanita itu di butakan oleh rasa kehilangannya. “Maafkan eomma..” Berkali-kali ia menjerit dalam hati. Ia merasa malu pada dirinya sendiri. Apa ia pantas mendapatkan maaf dari putrinya?.
.
“Eomma…” Nami memanggil Nyonya Han yang terlihat tidak baik-baik saja. “Eomma gwaenchana?” Nami menggenggam jemari Nyonya Han. Wanita paruh baya itu hanya menatap Nami dengan tatapan sendunya.
.

“Eomma, sebenarnya aku mengetahui semuanya.” Nyonya han mendongakan kepalanya. Bagaimana mungkin nami mengetahuinya. “Maafkan aku, Eomma..selama ini aku selalu memperlakukan adikku dengan tidak baik aku..aku hanya takut kau—” Nami menundukkan kepalanya.
.
“Kau tidak bersalah, sayang. ” Nyonya Han menggenggam tangan Nami. “Ini semua murni kesalahanku! Seharusnya aku tidak pernah mengabaikannya, seharusnya aku membahagiakannya. Tapi apa yang kulakukan? Aku justru membuatnya terluka.” Satu tetes cairan bening itu meluncur melewati pipi Nyonya Han. Nami merengkuh Nyonya Han kedalam pelukannya. “Belum terlambat untuk kita meminta maaf padanya bukan?.” Nami mengeratkan pelukannya, Nyonya Han menggeleng pelan “aku tidak pantas menerima maaf darinya, aku terlalu–”
.

“Jangan berbicara seperti itu, kita akan mencoba memperbaiki semuanya.” Nami melepaskan pelukannya kemudian menatap Nyonya Han sendu. “Eomma, tolong jawab aku dengan jujur! Ada hubungan apa antara Sehun dan juga Min Young?” Nyonya Han menggeleng pelan, ia merasa tidak pantas untuk menjelaskannya. “Kumohon jawab aku, aku akan mendengarkanmu..” Nami menatap Nyonya Han penuh harap.
.
“Baiklah, tapi kau harus janji satu hal!” Nami mengangguk. Nyonya han mulai menjelasakan semuanya.
.
**********
.
Sehun sedang memberikan asi yang telah Min Young peras kedalam botol untuk Yongjae, balita itu terlihat bersemangat menghisap asinya. Min Young tersenyum lembut sambil mengusap kepala putranya. Mereka merasa bersyukur karena keadaan Youngjae kian membaik. Balita itu kembali membuka matanya sekitar satu jam yang lalu. Saat ini mereka sedang duduk disebuah kursi yang telah disediakan pihak rumah sakit dikamar itu. Min Young duduk dengan Youngjae yang berada dipangkuannya, sementara Sehun duduk disampingnya dengan tangan yang memegang botol susu Youngjae
.
“Sayang jangan terburu-buru, kau bisa tersedak..” Min Young menegur Youngjae dengan mengangkat botol susu itu sejenak kemudian meletakannya kembali pada mulut Youngjae, saat balita itu menggeliat hendak menangis. Sehun yang melihat kejadian itu sontak tersenyum jahil. Pria itu melakukan apa yang minyoung lakukan barusan pada putranya. Ia terkekeh pelan melihat mata Youngjae yang berkaca-kaca.
.

“Jangan menggangunya..” Tegur Min Young pada Sehun, ia merasa kesal melihat kelakuan Sehun yang menggangu putranya dengan mengangkat botol susu itu lagi.
.
“Kau tadi melakukannya..” Jawab Sehun memberenggut.
.
“Ck! kau benar-benar..” Min Young jengah melihat kelakuan suaminya yang terkadang jahil. “Aku hanya menegurnya tadi, sedangkan kau?” Min Young membeo.
.
“Aku hanya–”
.
“Terserah kau saja, jangan mengganggunya lihatlah matanya berkaca-kaca.”
.
“Baiklah aku hanya bercanda tadi,”
.
“Bercandamu keterlaluan..”
.
Min Young dan juga Sehun mengalihkan pandangan mereka saat mendengar suara pintu yang dibuka. Mereka terseyum melihat siapa yang datang.
.
“Auntie…” Alexa-wu gadis itu turun dari gendongan Kris, kemudian berlari menghampiri Min Young, Youngjae, dan juga Sehun. Ia mengamati Youngjae dengan mata polosnya. “Eoh bagaimana dengannya Auntie? Daddy mengatakan padaku bahwa baby Youngjae sakit” gadis itu mengusap rambut Youngjae dengan sayang.
.
“Dia baik-baik saja, sayang. Kau bisa melihatnya sendiri” Min Young tersenyum lembut, ia melirik Kris seolah meminta penjelasan, demi tuhan ini sudah malam! Kenapa mereka tidak datang besok saja.
.
“Dia yang memaksaku, gadis itu terus merengek ingin menjenguk Youngjae” Kris menjelaskan seolah ia mengetahui arti tatapan Min Young.
.
Min Young menatap Alexa dengan senyuman lembutnya. “Sayang, kenapa kau tidak datang besok saja. Ini sudah malam, kau harus beristirahat..”
.
“No, Auntie! aku sangat khawatir dengan keadaanya, lagipula aku akan menginap disini..” Alexa menatap Kris penuh harap. “Benarkan Daddy..” Kris mengendikan bahunya sebagai jawaban, Alexa memberenggut.
.
“Yeah, Baby. kau boleh menginap disini.” Alexa tersenyum lebar. “Thank you, Daddy,” Kris tersenyum lembut kearah putrinya.
.
“Omong-omong bagaimana keadaanya, Young?” Kris memperhatikan Youngjae yang telah memejamkan matanya Dengan mulutnya yang masih menghisap botol susu itu. “Dia sudah membaik,” Min Young mengecup pelipis Youngjae.
.
“Ah, syukurlah kalau begitu” Kris tersenyum lembut “Ah iya, lusa kami akan kembali ke Kanada, bagaimana kau sudah memikirkannya?” Kris melirik Sehun yang terlihat penasaran dengan arah perbincangannya. “Aku belum bisa memutuskan, tapi aku akan segera menghubungimu, Oppa..”
.
Kris mengangguk. “Baiklah, ah Sehun-sshi aku ingin berbicara dengangmu. Kau bisa bukan?” Sehun mengangguk sebagai jawaban. “Sebaiknya kita mencari kedai kopi disekitar sini.”
.
Sehun berdiri kemudian mengecup pelipis Min Young. “Aku akan segera kembali, tidurlah..” Setelah itu mereka mulai berjalan meninggalkan kamar itu.
.
==Because Of Wedding==
.
3 Days Later~
.
.
Tiga hari telah berlalu. keadaan Youngjae telah pulih seperti semula, hari ini ia diperbolehkan pulang. Balita itu terus mengoceh tak jelas dalam gendongan Sehun dengan ibu jari yang ia masukan kedalam mulutnya. Sehun tersenyum kecil melihat putranya yang begitu antusias. Ia melirik Min Young yang berjalan disampingnya dengan tas berukuran sedang ditangannya. Mereka sedang berjalan di koridor rumah sakit menjuju ke parkiran
.
“Young, aku sudah membeli tiket untuk keberangkatan kita ke Kanada. Kau setuju bukan jika kita mempercepat keberangkatannya”

Min Young tersenyum tipis. “Aku…terserah padamu. Kau yakin akan meneruskan perusahaan ayahku?” Min Young menggigit bibirnya pelan seolah mengalihkan kegugupannya.
.
“Aku yakin, lagipula Miho hyung akan mengambil alih perusahaan Abeoji.” Sehun sudah bertekad, ia juga mengetahui semuanya, tiga hari yang lalu kris menjelaskan semuanya tanpa ada yang terlewat sedikitpun. Setelah mengetahui prihal akan kepergian Min Young pria itu segera menanyakannya kepada Min Young. Dan mereka sepakat akan pergi bersama.
.
“Hari ini aku akan menemui Nami, kau boleh ikut bersamaku. Aku akan menjelaskan semuanya pada Nami.” Min Young mengangguk pelan. “Aku juga akan meminta maaf padanya.” Sehun menggenggam tangan Min Young. “Baiklah kita pergi bersama.” Mereka melanjutkan langkah mereka yang sempat tertunda.
.
.
Saat tiba di parkiran, Sehun dan juga Min Young sontak di kejutkan dengan kehadiran Nami dan juga Nyonya Han yang tengah berdiri tepat di samping mobil Hyundai milik Sehun. Kedua wanita itu tersenyum canggung kearah Min Young. Mereka ingin membicarakan sesuatu, Namun terlihat enggan mengatakannya. Sehun yang mengerti situasi itu akhirnya berdehem pelan, ia berusaha mencairkan suasana dengan mengajak mereka ke rumahnya untuk sekedar berkumpul dan mengobrol. Namun, keduanya menolak.
.
Nyonya Han menarik nafas panjangnya. Wanita paruh baya itu melepaskan genggaman tangan Nami lalu berjalan pelan mendekati Min Young. Matanya terlihat berkaca-kaca.
.
“Minyoung-ah, Maafkan aku…”
.
Min Young terkejut melihat apa yang sedang ibunya lakukan. Tanpa ia duga, Wanita paruh baya itu bersimpuh dengan linangan air matanya yang mulai menetes membasahi kedua pipinya.
.
“Apa yang Eomma lakukan?” Min Young meraih tubuh ibunya dengan kedua tangan yang ia letakkan pada masing-masing bahu wanita paruh baya itu. “Bangunlah! Kenapa Eomma seperti ini?” Minyoung mengangkat tubuh ibunya agar kembali berdiri.
.
“Aku tahu, terlalu sulit untukmu memaafkanku. Aku memang tidak pantas mendapatkan maaf darimu. Karna aku, hidupmu menderita. Karna keegoisanku, aku menelantarkan putriku sendiri.”
.
Min Young tertegun, wanita itu mengangkat tangan kanannya. Dengan terampil jari lentiknya menghapus airmata yang membasahi pipi ibunya. Wanita itu tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Selama ini, ia tidak pernah membayangkan bahwa ibunya akan meminta maaf padanya. Karna yang ia yakini selama ini ibunya tidak pernah bersalah. Justru ialah yang bersalah karena telah menyebabkan kematian ayahnya.
.
“Eomma, aku tidak pernah menyalahkanmu atas sikapmu padaku selama ini, Karna aku sadar!…” Min Young menundukan kepalanya. “Aku sadar bahwa aku memang pantas mendapatkannya. Karna aku Appa mening–”
.
“Aniya…” Sela Nyonya Han. “Kau tidak bersalah, selama ini aku terlalu naif..maafkan aku..”
.
“Aku telah menyadari semuanya, Kris benar! Ayahmu meninggal karna ingin menyelamatkan putrinya. Dan aku..aku tidak seharusnya membencimu..” Lanjut Nyonya Han
.
“Eomma…” Lirih Min Young dengan airmata yang tidak bisa ia tahan lagi. Wanita itu menjatuhkan tubuhnya kedalam pelukan hangat Nyonya Han.
.
“Kau memaafkanku?..” Wanita berambut sebahu itu mengangkat wajahnya, menatap wajah putrinya dengan sendu.
.
“Bagaimana mungkin aku tidak memaafkanmu, kau adalah ibuku. Sebenci apapun kau hiks…padaku, kau tetaplah ibuku..ibu yang telah melahirkanku.” Min Yong terisak kemudian melesakkan kepalanya kedalam dekapan Nyonya Han.
.
Sehun dan juga Nami lega melihat pemandangan mengharukan itu. Nami bahkan berkali-kali menyeka air matanya yang menetes tanpa beban.
.
.
.
“Nami-yaa, ada yang harus aku bicarakan padamu. Ini mengen—”
.
“Oppa, Jika kau ingin membicarakan tentang pernikahan kalian, aku sudah mengetahui semuanya.” Nami tersenyum. Senyuman yang terlihat tulus tanpa ada paksakan.
.
“Bagaimana mungkin kau—”
.
“Ck! Jangan menyelaku dulu. Dengarkan aku!.” Nami mendelik tajam. “Eomma sudah menceritakan semuanya padaku.” Nami melirik sehun sekilas. Kemudian berdiri dihadapan Min Young. Tangannya terulur menggapai tangan Min Young, menggenggamnya dengan erat. “Minyoung-ah, maafkan aku. Aku tidak pernah berlaku baik padamu selama ini. Aku selalu menyakitimu dengan tidak memperdulikanmu. Aku sadar, selama ini aku sudah mengambil kasih sayang ibumu untukku tanpa memperdulikan perasaanmu.” Nami menghela nafas leganya karna ia telah berhasil mengucapkan kata maaf dengan lancar. “Oleh karena itu, sebagai permintaan maafku padamu, aku mengikhlaskan hubungan kalian berdua. Hiduplah bahagia! Jangan pernah menangis lagi, dan buang semua rasa bersalahmu..”
.
“Eonni…” Min Young tidak bisa menahan desakkan airmatanya. Wanita itu menangis tersedu-sedu. Ia merasa beban dalam hidupnya hilang dalam sekejap.
.
“Aku bilang jangan menangis. Kemarilah…”
.
Nami mendekap tubuh Min Young. Sekarang ia merasa lega. Ia melirik kearah sehun yang sedang menatapnya sendu. Wanita itu tersenyum seolah mengatan ‘Aku baik-baik saja’ . Tangan wanita itu dengan teratur mengelus punggung Min Young.
.
Youngjae menatap satu persatu orang di dihadapannya dengan mata polosnya. Balita itu sesekali mengoceh dengan air liur membasahi dagunya. Terlihat menggemaskan!
.
Nami mengeryitkan alisnya melihat balita dengan pipi gembul yang berada dalam pangkuan sehun.
“Apa dia keponakanku? Aigoo lucunya..” Nami melepaskan pelukan Min Young perlahan. “Bolehkah aku menggendongnya?” Nami menatap Min Young penuh harap.
.
Min Young menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
.
“Kemarilah sayang…” Nami meraih tubuh Youngjae kedalam gendongannya. Balita itu tertawa pelan saat Nami sesekali mengecupi pipi gembulnya.
.
Sehun tersenyum simpul kemudian berdiri disamping Min Young, tangan kanannya merangkul pundak Min Youg agar mendekat padanya. Pria itu mengecup pelipis Min Young. “Kita akan memulai lembaran baru, Lupakan masa lalumu. Dan hiduplah bahagia bersamaku. Saranghae..” Sehun berbisik tepat di belakang telinga Min Young. Min Young membalikan tubuhnya, mendekap tubuh sehun erat. “Nado..”
.
.
Tanpa mereka sadari, semua mata yang menyaksikan pemandangan mengaharukan itu tersenyum bahkan ada yang sampai menangis haru. Nyonya Han mendekati Nami, kemudian mengajak cucunya bermain.
.
.

^_~ “Karna pernikahan ini aku memilikimu. Karna pernikahan ini aku mengetahui apa itu cinta. Karna pernikahan ini aku ingin hidup lebih lama lagi. Hanya bersamamu dan putra kita. Aku berterimakasih atas takdir tuhan yang telah mempersatukan kita.” ^_~ – Song Min Young.
-FIN-

Advertisements

14 responses to “[Freelance] Because Of Wedding

  1. woahhhhhhhh sedih bnget tp sumpah ini bner2 mengharukan dn tidak mengecewakan,,,, kata2nya rapih dn bner2 teratur uhuhuhuh udh lama ne gk nemu bacan keceh dsini,, etsss tp bkan berarti smua bacaan y muncul akhir2 ne gk keceh cma hehhehe bagi aku bacan kya gni kerennn dn aq sukaaaaa
    bdw kamu pnya crta apalgi boleh baca kahhhh ato ne karya pertama mu

  2. great story…suka bgt ama genre kyak gini and hsilx memuaskan…bhsax rapi + feelnya dpat bgt….d tunggu krya slnjutnya…

  3. Tadinya ragu mau baca ini ff, tapi sumpah demi apapun ga nyesel baca cerita ini!! Aku sampai mau nangis, aahh ini feelnya dapet banget. Keren laah! Authornim jjang! 👍👍

  4. Woah….keren banget ceritanya,ada sweet tapi ada sedihnya juga,jadi terharu.perjalanan cinta sehun minyoung bener bener penuh haru.Untungnya sehun jadi suami yang baik dan penuh perhatian.jadi pengen punya suami kayak sehun.
    Ditunggu karya karya selanjutnya, keep writing,hwaiting

  5. wah…..Aku kira tdi nami bkln ngambil sehun dan hidupnya min yoong sama ankx bkln sedih,tapi trxta enggak,hah so sweet deh

  6. nangis loh akunya, astaga aku belajar untuk gak ngejudge cerita secara sepihak, aku kira sehun bakal ninggalin minyoung dan yongjae ternyata nggak, sehun sayang banget ama mereka. i need more tissue T.T good job thor buat cerita kek gini lagi yak, ditunggu next projectnya 😀

  7. Hueeee,, nyesek sis bacanya,, seneng liat minyoung ga nuntut sehun krna sikapnya sehun yg berubah ke dia n youngjae,, sehun dewasa bgt dsni, melting jadinya,, jadikn series aja sis, keren nih ^^

  8. Daebakkkk… 😢😢

    Untunglah Sehun ngambil jalan yang tepat. Ngga bisa ngebayangin gimana perasaan Min Young kalo Sehun bener2 ninggalin dia dan Youngjae demi Nami 👍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s