[Freelance] Hurt.

picsart_11-18-03-19-59

Title : Hurt.

Author : Orechuu.

Cast : Park Chanyeol (EXO), Hwang Soyeon (OC) and other

Genre : sad, hurt

Rating : G

Length : ONESHOT

Disclaimer : please, don’t be plagiarism. All story is mine. Don’t be sider.

Author POV

 Soyeon membuka mata dengan berat. Ia dapat melihat orang tuanya serta seseorang yang entah kenapa benar benar ia rindukan. Setetes air mata meluncur dari pelupuk matanya. Selang oksigen yang terpasang di hidungnya, infus yang tertancap di kulitnya, dan alat alat rumah sakit menyesakkannya. Soyeon tahu, itu semua tidak berguna. Ia akan mati, meskipun dirinya meminum 10 obat sekaligus.

“eomma.. appa..” bisik Soyeon.

Soyeon menangis. Ia sudah sangat lelah. Ia ingin mengakhiri rasa sakit yang selalu ia rasakan. Mengapa Tuhan memberinya penyakit yang membuatnya seperti ini. Kenapa Tuhan tidak memberikan hidup bahagia bersama orang tua kepadanya.

Soyeon menatapnya. Laki laki yang selalu membuatnya optimis sembuh. Laki laki yang selalu ingin ia lihat.

“Chanyeol – ah..” bisik Soyeon.

Soyeon menutup matanya. Dadanya sesak. Tapi ini bukan yang pertama kalinya. Soyeon sudah sangat sering merasakan gejala yang lebih menyakitkan.

“kau pasti bisa sembuh Soyeon – ah, kami janji.” Ucap eomma meyakinkan.

Soyeon tersenyum tipis. “eomma.. appa… saranghaeyo..”

“kami juga menyayangimu Soyeon.” Ucap appa.

Eomma menangis dipelukan appa. Soyeon menghembuskan napas berat.

“ya..Park Chanyeol..”

Chanyeol menatap Soyeon, “waeyo?”

“jangan melupakanku.” Ucap Soyeon lirih.

“ya! Hwang Soyeon!”

Soyeon tersenyum. Ia menatap orang tuanya juga Chanyeol. Entah kenapa dirinya merasa sangat bahagia. Seakan akan rasa sakit yang selama ini ia rasakan telah hilang. Ia merasa sangat bahagia.

“annyeong..”

 

 

Soyeon POV

12 Juli 2015

“sudah minum obatnya?” Tanya eomma padaku.

“sudah.. aku tidak akan lupa.” Jawabku menyakinkan eomma.

Eomma menatapku, “eomma ingin kau sembuh.”

“aku juga.”

Aku tersenyum, “na galkkae.” Aku berbalik meninggalkan eomma. Aku sudah tidak sabar ingin kembali sekolah setelah sekian lama harus berbaring di ranjang rumah sakit yang sangat tidak nyaman. Aku mempunyai penyakit yang sudah ada sejak aku kecil. Jantungku sangat lemah. Saat kecil, aku sudah pernah melakukan transplantasi jantung, tetapi ternyata tidak berefek apa apa. Selama hidupku, aku sudah berkali kali melakukan operasi, tetapi semua itu percuma saja. Jantungku malah semakin melemah setiap hari.

***

“kapan kau kembali dari rumah sakit?” Tanya Chanyeol terkejut.

“lusa.” Jawabku ringan.

“kenapa tidak menghubungiku?”

Aku melahap makan siangku tanpa menghiraukan tatapan Chanyeol.

“Soyeon!”

“aku tidak ada waktu, jadwalku padat.” Ucapku ringan, lagi.

“cih.”

Aku melirik Chanyeol yang sibuk melahap makan siangnya. Aku dan Chanyeol sudah bersahabat sejak kecil. Saat umur 5 tahun, Chanyeol pindah ke kompleks rumah kami. Rumahnya tepat di depan rumahku, sehingga keluarga kami sangat dekat. Dan sejujurnya aku sudah lama menyukainya. Aku tidak tahu kenapa aku bisa menyukainya. Tapi terkadang aku berpikir, apakah mungkin aku bisa berharap bisa bersama dengannya selamanya di samping penyakitku yang tak kunjung sembuh ini?

“annyeong!”

Lamunanku buyar. Aku mendongak. Seorang gadis yang sangat tidak asing bagiku karena sering kulihat. Anh Jinhee, gadis yang bernotabene sebagai kekasih Park Chanyeol. Jinhee memang cantik, tak heran jika banyak yang menyukai gadis itu.

“kau tidak menjawab teleponku semalam?” Tanya Jinhee pada Chanyeol.

“maafkan aku, aku sibuk sekali. Festival sekolah kan sebentar lagi.” Jawabnya.

“apa kau tidak tahu betapa aku merindukanmu?”

“aku juga sangat merindukanmu.”

Aku tersentak. Dadaku sesak. Aku tidak sanggup mendengar semua itu. Aku memasukkan sesendok nasi kemulutku dengan susah payah. Aku menahan air mataku keluar. Aku sudah cukup merasakan penyakit yang terus menggerogoti tubuhku. Tetapi kenapa aku harus merakan hal ini? Sakit yang tak bisa disembuhkan. Aku benci ini!

Tiba tiba dadaku sakit sekali. Sangat sakit. Aku yakin sudah minum obat tadi. Aku tidak mungkin meminumnya lagi. Dadaku sangat sesak, tanganku bergetar, aku merasakan keringat dingin di tubuhku.

“Soyeon – ah, gwaenchanayo?”

Aku mendongak, Jinhee menatapku khawatir. “wajahmu pucat sekali.”

“sudah minum obatmu?” Tanya Chanyeol sambil menggenggam tanganku.

Jantungku berdetak kencang, dan sialnya itu membuat dadaku semakin sakit. “su..dah” ucapku bergetar.

Tiba tiba pandanganku mengabur. Mataku juga berkunang kunang. Dadaku sakit, kepalaku pusing, tubuhku bergetar hebat. Dan semuanya.. gelap.

 

Chanyeol POV

 17 Juli 2015

“sebenarnya aku merasa sedikit tidak sehat malam ini.”

Aku menatap Soyeon yang terlihat pucat, meskipun begitu gadis itu masih tersenyum. Aku benar benar merasa khawatir padanya. Tapi aku sendiri tidak tahu apa yang harus kulakukan pada sahabatku itu.

“kau sudah minum obatmu kan?” Tanyaku.

Soyeon tersenyum tipis. “aku tidak apa apa. Aku sudah minum obat, sebentar lagi aku pasti sudah merasa baikan.”

Aku menghela napas, “aku masih belum yakin.”

“kenapa kau tidak percaya pada sahabatmu sendiri?” ucap Soyeon lirih. “dan ada perlu apa malam malam begini?”

“aku ingin hanya ingin bertanya.” Ucapku.

“tanya saja.” Jawabnya ringan.

“lusa Jinhee ulang tahun. Apa yang bisa kuberikan padanya?”

Aku menatap Soyeon. Tiba tiba raut wajahnya berubah muram. Tapi kemudian senyumnya mengembang. “beri saja kalung untuknya.”

“kalung?”

“ya.., dia pasti senang.”

Aku duduk di sofa kamar Soyeon. Aku mendongak menatap langit langit kamar Soyeon yang penuh dengan gambar bintang. Aku yakin Jinhee pasti menyukai kalung.

“tapi kalung seperti apa?” Tanya ku pada Soyeon.

Tidak ada jawaban dari Soyeon. Apa dia tertidur?

“ya! Soyeon!”

Aku mendongak. Jantungku serasa berhenti berdetak. Soyeon tergeletak di lantai. Aku berlari ke arahnya. Tubuhnya sangat dingin. Aku memeriksa nadinya, masih ada detak jantungnya. Aku mengguncang tubuh Soyeon.

“Soyeon – ah!”

“Hwang Soyeon!”

***

Aku duduk di kursi rumah sakit yang dingin. Dadaku sesak. Aku tidak menyangka Soyeon tiba tiba pingsan lagi. Padahal tubuhnya sudah lama membaik. Tetapi kenapa kembali seperti ini? Dan akhirnya gadis itu harus dibawa ke rumah sakit.Seorang dokter keluar dari ruangan Soyeon. Aku berdiri, begitu juga orang tua Soyeon.

“bagaimana keadaan Soyeon dokter? Dia masih bisa sembuhkan?” Tanya ayah Soyeon.

“kami sudah tidak bisa menyembuhkan Soyeon. Operasi dan transplantasi jantung tidak berpengaruh apa apa pada tubuh Soyeon. Sekarang kita hanya bisa pasrah kepada Tuhan, semoga Soyeon  bisa sembuh.”

Aku terduduk di kursi. Aku tidak sanggup mendengar kata kata dokter. Ibu Soyeon menangis lagi. Aku menundukkan kepalaku.

“Aish!”

***

“annyeong.”

Tiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiiittt………………..

Jantungku serasa berhenti berdetak. Suara monoton dari alat pendeteksi detak jantung memenuhi ruangan. Para dokter dan suster menerobos masuk kedalam kamar rumah sakit Soyeon. Dokter dokter itu berusaha mengembalikan detak jantung Soyeon lagi tetapi nihil, semuanya sia sia.

Aku merasa linglung. Aku berbalik dan keluar dari ruangan lalu duduk di kursi. Tidak mungkin. Ini tidak mungkin. Soyeon belum mati!

Aku menangis. Bodoh!

“Kenapa aku menangis? Soyeon tidak mungkin mati… tidak…”

Aku mendengar ibu Soyeon yang menangis sambil memanggil manggil nama Soyeon. Tapi semuanya telah berakhir, Soyeon telah pergi.

 

***

Ceklek

Aku memasuki kamar Soyeon. Beberapa jam yang lalu adalah pemakaman Soyeon. Dadaku terasa sesak. Aku duduk di pinggir ranjang Soyeon. Kamar Soyeon tenang dan nyaman. Setetes air mata meluncur dari mataku, tapi dengan cepat kuhapus. Aku mengedarkan pandanganku, tapi pandanganku terhenti pada buku harian Soyeon yang terletak di meja. Aku meraih buku itu. aku sedikit ragu untuk membukanya, tetapi aku terlalu penasaran untuk membukanya. Aku membuka halaman terakhir buku harian itu.

 

20 Juli 2015

Aku sudah tidak sanggup. Aku tidak sanggup merasakan semua ini. Aku ingin mati. Percuma saja jika aku melakukan puluhan operasi, jika aku tetap merasakan penyakit ini. Tapi Tuhan, terima kasih karena kau telah memberiku kesempatan untuk melihatnya untuk yang terakhir kalinya. Chanyeol.. meskipun aku hanya seorang sahabat bagimu, tapi aku tetap bersyukur karena aku masih dapat melihatmu untuk yang terakhir kalinya. Dan sebelum aku pergi, bolehkah aku masih menyukai Chanyeol? Menyukainya sebagai laki laki, bukan sebagai sahabat. Karena dialah orang yang kucintai hingga saat ini, dan entah sampai kapan. Park Chanyeol.

                                                              Hwang Soyeon.

 

Aku menjatuhkan buku harian itu ke lantai. Apa yang telah kulakukan? Membiarkan Soyeon merasakan sakitnya sendiri. Membiarkan Soyeon sakit hati ketika melihat dirinya bersama Jinhee.

“maafkan aku.. Soyeon-ah..”

 

Fin.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s