The Untold Story of Jealousy: You Are The One

desain-kursi-dan-sofa-ruang-tamu-minimalis-12

Twelveblossom (twelveblossom.wordpress.com) | Kyungsoo & Jisoo (OC) | Fluff & Romance | Series | PG 15 | Line@: @nyc8880l

Previous:

Untold Love – The Untold Story of Jealousy: Ex-Boyfriend – She’s Dreaming – Think of You

“I felt it since the beginning.” -You’re The One, Xiumin (OST. Falling for Challenge)

-oOo-

Sedari Jisoo mengenal kekasihnya, hal yang paling si gadis sukai dan kagumi dari Kyungsoo adalah kemampuan memasaknya. Sepasang netra Jisoo sampai enggan menggelepar, saat menyaksikan Kyungsoo berkutat dengan peralatan dapur. Jisoo juga gemar memeluk erat-erat punggung Kyungsoo yang membelakanginya, ketika pemuda itu sibuk memotong bahan makanan.

“Kebiasaanmu tidak berubah,” komentar Kyungsoo, sewaktu Jisoo memberikan dekapan erat. Pria itu dapat merasakan pipi Jisoo menempel di punggungnya. Kyungsoo tidak mampu mengendalikan senyumnya yang kini bermain di ujung bibir.

“Aku sudah kecanduan,” gumam si gadis.

Kyungsoo menghentikan kegiatannya memotong sayuran. Ia meremas lembut jari-jari gadisnya. “Kalau begini, makanannya tidak akan cepat selesai.”

Jisoo mencebik, kendati demikian ia tetap melepaskan pelukannya. “Kulepaskan hanya karena aku sangat lapar,” timpal Jisoo yang beranjak untuk bersender pada nakas di samping Kyungsoo. Gadis itu mengamati kekasihnya yang kini masih mengenakan celana kain dan kemeja biru tua. Kyungsoo memang baru pulang kerja, ketika ia berkunjung ke apartemen Jisoo.

Kyungsoo membalikkan badan sehingga dapat berhadapan dengan gadisnya. Pemuda itu menyipitkan matanya yang lebar. “Baiklah, kau lebih memilih ayam goreng daripada aku,” goda pria itu, sembari meraih bungkus bumbu instan yang berada di dekat si gadis. Netra Kyungsoo mencuri pandang pada jari-jari si gadis. “Cincinnya terlihat cantik di jarimu,” celetuk Kyungsoo, tak lupa memberikan kecupan singkat di pipi Jisoo yang merona.

“Terima kasih,” ucap Jisoo genit. Bibir gadis itu enggan berhenti tersenyum. Hatinya kini sedang berbunga-bunga.

“Kim Jisoo, apa tadi kau sempat makan siang?” tanya Kyungsoo, setelah hening selama beberapa menit. Intonasi Kyungsoo setenang air, namun Jisoo tahu apabila vokal kekasihnya yang serupa itu biasanya menghanyutkan.

Refleks Jisoo menggigit bibir, saat memikirkan jawaban atas pertanyaan Kyungsoo. “Tentu sempat. Kau kan tahu betul, aku tidak bisa berkonsentrasi kalau lapar,” balas Jisoo. Ia mengimbuhkan batuk ringan pada kalimatnya.

Kyungsoo menghela napas dalam-dalam. Tangannya sibuk membumbui potongan ayam, sewaktu mengajukan pertanyaan berikutnya. “Syukurlah, aku sempat khawatir kau kelaparan. Apa kau pergi makan siang sendirian?”

Jisoo menggeleng. Jari telunjuknya mengetuk-ngetuk nakas. Ia juga menunjukkan sikap salah tingkah dengan memilin ujung surainya yang tergerai.

“Aku makan siang dengan teman.”

“Teman?” ulang Kyungsoo, memastikan. “Apa aku mengenalnya?”

Bibir Jisoo membuka beberapa inchi gadis itu mengalihkan tatapan pada Kyungsoo.

Pemuda itu menolehkan kepala ke arah si gadis, saat ia tak kunjung mendapatkan jawaban atas pertanyaannya. Ia membelai pipi Jisoo. “Kim Jisoo, suatu hubungan akan bertahan ketika kita saling mempercayai satu sama lain. Namun, ada satu kesepakatan yang menjadi kewajiban agar rasa percaya itu bisa terjalin. Kita harus saling jujur,” jelas Kyungsoo.

“Aku makan siang bersama Baekhyun,” bisik Jisoo. Ia merentangkan tangan minta dipeluk, biasanya begini caranya minta maaf pada Kyungsoo. “Maaf, tadi tidak langsung mengatakannya. Hanya saja, aku takut kau berpikiran macam-macam.”

Kyungsoo menarik gadis itu ke dalam dekapannya. “Aku tidak akan berpikiran macam-macam jika kau memberitahukannya padaku. Sudah kubilang, aku mempercayai seluruh ucapanmu. Walaupun, itu sebuah kebohongan sekali pun,” kata Kyungsoo sembari membelai punggung gadisnya.

Kyungsoo sudah berganti pakaian santai dan Jisoo pun telah mengenakan piama bergambar beruang. Mereka kini berada di ruang menonton apartemen Jisoo. Kyungsoo duduk di sofa sambil membaca buku, sedangkan Jisoo tidur dengan kepala yang direbahkan di pangkuannya.

Kyungsoo memutuskan untuk menginap di apartemen Jisoo. Lantas membuat gadis itu senang bukan main serta enggan tidur lebih awal, padahal Jisoo sudah mengantuk.

Jisoo masih memaksakan diri menonton drama komedi. Ia hanya ingin lebih lama bermanja-manja dengan prianya. Apalagi, kini Kyungsoo menelusuri surai Jisoohal yang paling disukai si gadis. Kyungsoo pun sesekali mengaitkan jari mereka, lalu mengecup punggung tangan Jisoo. Sentuhan-sentuhan kecil inilah yang terus saja membuat Jisoo mudah rindu pada kekasihnya.

“Do Kyungsoo,” gumam Jisoo. Ia mengubah posisi yang awalnya menyamping menghadap televisi menjadi terlentang, sehingga bisa menatap paras pemuda itu.

Yes, Darling?

“Aku membicarakan sesuatu yang menarik dengan Baekhyun saat makan siang,” ucap Jisoo. Si gadis tersenyum malu-malu.

“Oh,” timpal Kyungsoo, seakan tak tertarik.

“Jadi, dia bilang padaku jika aku dan dirinya belum resmi putus

Perkataan Jisoo terpotong oleh suara keras Kyungsoo menutup buku yang dibacanya. “Jangan dengarkan dia.” Kyungsoo memberikan tanggapan.

“Awalnya, aku tidak ingin mengacuhkan. Tapi, ada yang memikat perhatianku.” Jisoo bangun dari tidurnya. Ia duduk di samping Kyungsoo dan menatap dengan cermat pemuda itu.

Sementara Kyungsoo hanya menautkan alis. Bibirnya terkatup serta rahangnya mengeras. Dia tidak membalas manik Jisoo yang menunggu.

Jisoo tersenyum simpul sebab raut Kyungsoo merespons sesuai dugaannya. Pemuda itu akan sangat dingin apabila ia merasa bersalah pada suatu hal atau ketika Kyungsoo menyembunyikan sesuatu darinya. Pengetahuan itulah yang membuat Jisoo lantas merebahkan kepalanya di bahu Kyungsoo. Ia berbisik lembut di rungu prianya, “Jadi, di mana surat itu?”

Kyungsoo memutar bola mata. Ia berusaha mengabaikan indra perabanya yang meremang akibat suara rendah si gadis dan sentuhan Jisoo pada lehernya. “Surat apa?” giliran Kyungsoo yang bersuara sembari melipat tangan di depan dada.

Jisoo menjauhkan wajahnya. Ia berdecak pelan. “Jangan pura-pura tidak tahu. Kau menyembunyikan surat dari Baekhyun,” jelas gadis itu. Dia menarik napas singkat kemudian berucap, “Kenapa kau menyembunyikan surat itu? Apa kau sengaja mengerjaiku agar aku patah hati, begitu?” cecar Jisoo. Gadis itu menarik-narik lengan kaus sang kekasih.

Kyungsoo hanya bisa mencebik, melihat tingkah gadisnya. Pemuda itu menjawab dengan kaku sambil berusaha melepaskan tangan Jisoo, “Hentikan, Kim Jisoo! Baju ini nanti robek.” Kyungsoo membulatkan netra pada si gadis. “Apa gunanya kau membaca surat itu sekarang?” tanyanya, kesal.

“Tentu saja, berguna. Siapa tahu aku bisa kembali pada Baekhyun,” jawab Jisoo asal.

YA!” gertak Kyungsoo yang otomatis membuat Jisoo menutup telinga.

Gadis itu sontak tertawa mendapati raut Kyungsoo yang memerah menahan marah.

“Manis sekali, Do Kyungsooku,” goda Jisoo. Gadis itu membelai surai hitam Kyungsoo seperti caranya menenangkan kucing peliharaannya. “Apa saat ini kau sedang cemburu?” celetuk si gadis.

“Tidak,” timpal lawan bicaranya.

“Kalau begitu, mana suratnya?”

“Aku lupa meletakkannya di mana,” ujar pria itu. Kyungsoo hendak berdiri, namun kembali ditarik Jisoo agar tetap duduk. Ekspresinya sudah menunjukkan bahwa dirinya merasa terpojok. “Aku ingin tidur, Kim Jisoo. Lepaskan,” perintah Kyungsoo.

“Jawab dulu pertanyaanku. Kenapa kau menyembunyikan surat itu?” cerca Jisoo enggan menyerah. “Do Kyungsoo, ini pertanyaan mudah. Cepat jawab, kau tahu kan dulu hal itu sangat penting bagiku sebab

“Because I love you,” potong Kyungsoo sembari mengecup kening Jisoo. Ia menghela napas, kemudian bibirnya menelusuri pipi gadisnya. “Because when you look at me and smile, it feels like my heart will stop. Because you make me realize what happiness is. Because you are my everything, Kim Jisoo,” bisik Kyungsoo lembut.

Jisoo memeluk Kyungsoo erat sekali. “Ini sangat romantis,” gumam gadis itu, kemudian tertawa.

Kyungsoo mengikuti alunan kegembiraan gadisnya. “Jadi, jangan tanyakan soal surat itu lagi.”

Jisoo mengangguk. “Kau menyukaiku sejak lama sekali, ya?”

“Hm, I felt it since the beginning,” gumam Kyungsoo.

“Apa waktu aku berpacaran dengan Baekhyun, kau tidak cemburu?”

“Tidak,” tegas Kyungsoo. Pria itu membenamkan wajah di leher Jisoo. “Sebab aku tahu, kau akan memilihku pada akhirnya,” imbuhnya.

Jisoo memejamkan mata, ketika Kyungsoo mulai mengecupi lehernya. Gadis itu pasrah saja, saat tubuh Kyungsoo mendorongnya perlahan hingga terbaring di sofa. “Percaya diri sekali,” celetuk Jisoo.

Kyungsoo menyeringai. “Karena aku percaya sesuatu yang kau inginkan, tidak selamanya kau butuh kan.” Pemuda itu menunggu tanggapan dari gadisnya. Ia menyugar surai Jisoo, menyisirnya dengan sela jari.

Jisoo meraih jemari Kyungsoo, lalu menautkan bersama miliknya. “Aku tidak mengerti,” bisik gadis itu.

“Saat itu, aku fokus untuk menjadi seseorang yang kau butuh kan. Aku ingin dirimu tidak bisa hidup tanpa diriku. Pada akhirnya, tanpa sadar Kim Jisoo selalu bergantung pada Do Kyungsoo,” jelas pria itu. Ia mengambil jeda sejenak, setelahnya melanjutkan, “Maka dari itu kepergian Baekhyun tak membuatmu berduka terlalu lama.”

“Dasar curang,” kelakar Jisoo. Gadis itu mengerucutkan bibir. “Apa jadinya aku jika kau meninggalkanku? Aku pasti tidak berniat hidup lagi,” protes si gadis.

Kyungsoo terkekeh sekilas, kemudian wajahnya berubah serius. “Bagaimana kalau kita menikah saja? Aku sudah meminta ijin pada Junmyoon Hyung,” katanya enteng.

Jisoo melebarkan matanya yang sipit, rautnya terkejut, dan lucu. “Apa menikah? Kau gila, Do Kyungsoo!”

-oOo-

a/n: Terima kasih sudah membaca. Untuk membaca cerita mereka yang lain silahkan klik Track List. ^^

Advertisements

4 responses to “The Untold Story of Jealousy: You Are The One

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s