[Freelance] Oppa and Saem (Part 2)

ff-freelance-oppa-and-saem

Tittle : Oppa and Saem

Author : Cero_Annisa

Lenght : Chaptered

Genre : Family, School life, Romance

Rating : PG14

Main cast : Park Chanyeol, Park Chanyee, Kim Joonmyeon, Kang Hae Goo (OC)

Summary : Chanyee menyukai gurunya, sedangkan sahabatnya menyukai kakaknya. Namun Park Chanyeol, kakak Chanyee menentang hubungan Chanyee dan juga Joonmyeon. Wae?. Baca aja!!!

Disclaimer : ini ff hasil karyaku sendiri.

Author’s note : pastinya sebuah typo masih ada. Let’s comment

Oppa And Saem part 1

………………………………………………..Oppa And Saem Part 2…………………………………………………….

Park Chanyee POV

Aku bingung sekarang, walau otak ini mengingat dengan jelas apa yang terjadi kemarin, aku tetap saja merasa aneh. Aneh di mana aku terbangun dengan kamar luas bercat abu-abu, lengkap dengan selimut tebal yang terlihat mahal. Aku jelas megingat di mana eomma pamit denganku lalu Chanyeol oppa yang terlihat marah pada ku tadi malam akibat sebuah kesalahan.

Eomma, appa, sekarang aku tidak akan melihatnya bertengkar di pagi hari akibat aku selalu membuat masalah di sekolah. Yah, seharusnya aku sekarang sadar dengan apa yang terjadi, aku sudah pindah dengan oppaku, anak manja eomma, anak kebanggaan appa, Park Chanyeol namanya. Lihatlah sekarang, sudut kamar ini semuanya terdapat foto atau lebih tepatnya poster Chanyeol yang sedang berpose di depan kamera, ganteng memang. Sepatutunya aku bangga dengan oppa seperti dia.

“Brak” kepalaku menoleh dengan cepat ke arah pintu yang di buka dengan keras, dan pelakunya siapa lagi kalau bukan pemilik apartemen ini, Chanyeol Park.

“apa yang kau lakukan, cepat bangun dan beres-beres” pagi-pagi sudah ada yang marah-marah, eh-sebenarnya sih bukan marah-marah, namun Chanyeol memang seperti itu, suaranya keras dan berat.

“Ne. Arasso” aku tau diri, di mana seseorang yang menumpang itu harusnya bangun cepat dan tidak malas-malas seperti yang kulakukan saat ini.

Setelah membereskan kamar, aku melangkah menuju arah Chanyeol yang sedang memasak, ia terlihat sempurna dengan poster tubuhnya saat ini. Apron yang melekat pada tubuhnya membuat aku merasa melihat sebuah karya tuhan yang paling indah di pagi hari.

“oppa, biar aku saja yang masak” mendengar suaraku, ia melirikku sejenak lalu lanjut memasak. Yang ku lihat, ia sedang memasak nasi goreng, di mana tanganya yang panjang itu dengan lincah memasukkan nasi dan dilanjut dengan memasukkan potongan wortel di dalamnya.

“tidak usah, biar aku saja yang menyelesaikan ini” setelah mengatakan itu Chanyeol kembali lanjut dengan urusan masak-memasaknya dan mengabaikanku kembali. Hah…

Merasa lelah berdiri, aku memutuskan untuk duduk dan membaca sebuah majalah di atas meja makan, sepertinya majalah ini baru saja di lihat oleh Chanyeol, terbukti ada halaman yang terlihat dan yang paling mengejutkan adalah halaman yang terlipat itu memperlihatkan Chanyeol sedang berpose dengan wanita cantik yang aku tahu adalah Yoona SNSD.

“daebak” ucapku tanpa sadar. Aku benar-benar takjub melihat pose ini, Yoona terlihat memeluk Chanyeol dari belakang sedangkan Chanyeol menatap kamera dengan tatapan mematikanya. Sungguh ini luar biasa menurutku.

“oppa…ini Yoona kan?” tanyaku memastikan, siapa tau bukan.

“memangnya kenapa?” dasar menyebalkan, ditanyain malah balik tanya. Mendadak aku malas, jadi kututup dengan kasar majalah yang ternyata sampulnya adalah Chanyeol lagi. Parahnya ia sedang memperlihatkan tato di lehernya.

“apa oppa ganteng?” sebuah tangan yang menutup mulutku menyadarkanku ke alam sadar dengan segera. Chanyeol barusan menutup mulutku yang sedang menganga. “jangan menganga seperti itu, aku tidak suka” mataku melotot dengan sempurna. Memangnya aku menganga dengan sengaja apa. Heh.

“oppa tau oppa ganteng, tapi tak usah berikan ekspresi berlebihan seperti itu, kau sudah seperti fan fanatik tau” ia lagi-lagi memberikan ceramah yang lumayan panjang, dan sebagai dongsaeng, aku memutuskan untuk diam saja.

“cha, makanlah. 15 menit lagi kita akan berangkat ke sekolahmu” kendati makan, aku malah tambah menganga. Siapa yang tidak keget akan sekolah dengan cepat seperti ini, padahal aku baru saja sampai kemarin.

“apa? Tapikan aku baru saja sampai kemarin. Lagian aku belum punya persiapan sama sekali” tanganku terlipat di depan dada, petanda tak setuju.

“tidak ada tapi-tapian, hari ini kau akan sekolah di dekat agensiku. Aku juga sudah mempersiapkan segala keperluan sekolahmu, jadi aku rasa kau bisa sekolah dengan cepat hari ini. Cepat makan, kalau kau tidak makan aku akan membuangnya” apa aku pura-pura sakit saja? Namun aku tidak pandai akting.

“baiklah, terserah oppa saja” mengalah adalah hal yang paling sempurna untuk dilakukan saat ini, kalau tidak pastikan aku tidak akan mendapatkan jatah makanan dan juga jatah uang jajan.

………………………………………………………………………………………….

Author POV

Terlihat namja berkulit putih yang sedang beres-beres dalam ruangan bernuansa putih, tak lupa foto-foto hasil jepretan standar propesional menghiasi dinding dengan sempurna. Namja yang tak lain itu adalah Kim Joomyeon, seorang fotografer yang juga menjabat sebagai guru ekstrakulikuler fotografer di salah satu sekolah ternama.

Ia bekerja paruh waktu bukan berarti butuh uang, ia melakukan itu karna tak lain ingin mendapatkan sebuah pengalaman dari mengajar anak-anak remaja. Yah, Joomyeon saat ini mengajar anak kelas 10 dan 11, berhubung kelas 12 sudah di tangani oleh Kyuhyun, seniornya dalam bidang fotografer.

Joomyeon menatap jam tangan yang sudah menunjukan angka 10.20 menit, berarti ini sudah waktunya untuk anak-anak berkumpul di ruangan yang sekarang ia tempati.

“yobeseo Kyuhyun hyung, anak-anak kenapa belum datang?” sembari menelpon, ia mengusap sebuah foto yang terletak di ujung ruangan itu.

“oh, araesso. Aku tutup yah” setelah menutup telpon, ia mengantungkan kamera di lehernya lalu keluar dari ruangan itu. Ia juga sempat mematikan AC lalu menyimpan remote AC itu dengan sembarang tempat.

“hyung…anak-anak sudah menunggu di aula, sebaiknya hyung bergegas cepat” melihat muridnya yang ngos-ngosan, ia kemudian merangkulnya lalu berjalan berirnigan menuju aula sekolah. Ia sebenarnya benar-benar lupa akan hari ini, yah, hari ini adalah hari di mana penerimaan siswa baru, dan ia di tugaskan oleh pihak sekolah untuk memotret wajah-wajah baru penghuni sekolah ini. Bukan hanya ia yang disuruh, murid-muridnya juga mendapat perintah oleh kepala sekolah.

“wow hyung, murid baru tahun ini benar-benar banyak” ia tersenyum kala mendengar muridnya yang bernama Taemin itu berujar, ia juga mengiyakan perkataan muridnya tersebut.

“Taemin-ah, jaga matamu. Kita di sini untuk memotret, bukan untuk mencuci mata” Taemin tau apa maksud kata cuci mata, hahaha ia ketahuan sedang menatap salah seorang murid baru yang duduk paling depan.

“hyung bisa aja” setelah percakapan aneh mereka, Taemin dan Joonmyeon kembali memutuskan untuk memotret ke segala penjuru, mereka juga tak melupakan memotret member mereka sendiri saat tengah sibuk bertugas.

Joonmyeon tersenyum melihat hasil karyanya, tak sengaja ia tadi mengabadikan momen di mana salah seorang siswa baru yang menatap tajam kepala sekolah, menandakan siswa itu tidak setuju dengan perkataan kepala sekolah.

“hyung,  lihat deh” Joonmyeon mendekati Khyuhyun yang tengah asyik memfoto siswa yang sedang berbincang dengan salah seorang guru. Ia terlihat serius kala sebelum Joonmyeon datang memperlihatkan kameranya.

“hahaha, lucu sekali anak ini. Di mana ia?” tangan Kyuhyun mengambil alih kamera Joonmyeon saat melihat foto siswa tersebut, ia tertawa sehingga matanya ternggelam dengan sempurna.

“ia sepertinya membenci kepala sekolah, lihat matanya. Hahaha” mereka berdua tertawa tanpa sadar ada yang tengah memerhatikan mereka. Sebut saja Chanyee, ia tengah sibuk menatap Joonmyeon yang sedang tertawa dengan Kyuhyun. Ia juga mengambil handphonenya lalu mengarahkan tepat ke wajah tertawa Joonmyeon.

“dia kira aku tidak tau kalau dia itu tadi memfotoku, cih, dasar. Aku akan menyimpan foto ini sebagai balasan” melihat hasil jepretanya yang tidak terlalu jelek, ia memasukan kembali handphonenya ke dalam saku rok yang ia kenakan.

…………………………………………………………………………………………………….

Chanyee mengigit bibir bawahnya, wajahnya memerah dengan jelas. Sekarang ia tengah menahan pipis di sebuah koridor sekolah yang sepi. Ia tidak tau toilet ada di mana. Ia ingin pipis, itu saja. Rasanya ia ingin menangis, dari tadi ia berkeliling dan tak ada satupun seseorang yang ia kenal. Ya iyalah, yang ia kenal di Seoul hanya oppanya.

“haksaeng, ada apa?” tubuhnya terjingkrak kaget oleh sebuah tepukan di punggungnya. Ia pun segera membalikkan tubuhnya lalu menatap orang itu.

“anu, saya sedang mencari toilet. Saya ingin pipis” tangan Chanyee yang sebelumnya berada di area V, lantas berpindah meremas roknya.

“oh, kalau begitu ikut saem” betapa bersyukurnya Chanyee saat ini, ia kira ia akan pipis di rok.

Setelah sampai di ruangan fotografer, Chanyee di persilahkan masuk dan di tunjukan sebuah toilet. “gomawo saem” sebelum menutup pintu toilet, Chanyee membungkuk hormat lalu berucap terimah kasih.

…….

“ah leganya. Eh- saem” Chanyee membulatkan matanya kaget, ia tak menyangka bahwa saem yang mengantarnya adalah Joonmyeon. Fotografer yang ia yakin saat di aula memotretnya dangan diam-diam. Ia lalu membungkuk hormat dan lagi- berterima kasih.

“anyyeonghaseo naneun Park Chanyee imnida” Chanyee tersenyum di akhir kalimatnya. Ia tak menyangka bahwa dirinya sekarang berada di salah satu tempat bersama saem yang lumayan ganteng itu.

“Ne Chanyee-ssi, aku Joonmyeon, aku guru fotografer di sini. Kau lihat ruangan ini penuh foto-foto bukan?” Chanyee mengangguk lalu melihat beberapa foto dengan seksama. Matanya terpaku pada gambar yang ada di depanya sekarang, tepatnya foto sebuah pemandangan sungai han yang ia ketahui diambil pada saat senja.

“wah…daebak” komentarnya. Ia benar-benar suka pada foto itu, bahkan ia berniat mengambilnya, walau itu tidak mungkin.

“yang mengambil foto itu adalah Kyuhyun, ia salah satu guru fotografer di sini. Kalau kau tertarik dengan foto itu, aku akan memberikannya padamu” mendengar itu Chanyee langsung menatap Joonmyeon.

“saem tidak bercanda bukan?” Joonmyeo tiba-tiba mengeluarkan sebuah smirk, membuat jantung Chanyee berdetak kencang, entah karna takut atau apalah. Apakah dia gila?

“tapi ada syaratnya” tangan Joomyeon terlipat di depan dada bak model, lalu menatap Chanyee dengan seksama. “kau harus masuk klub ini” putusnya lalu kembali mengambil pose keren, lihat saja ia tengah memasukkan tanganya dalam saku celananya.

“aku belum tau untuk itu. Tapi aku tidak punya kamera, bagaimana ini?” tak peduli dengan pose keren Joonmyeon, Chanyee malah mengalihkan perhatiannya kearah lemari yang tengah dipenuhi dengan piagam penghargaan.

“kau bisa menggunakan kamera haendphone. Lagian aku punya beberapa kamera di rumah” tentu saja hal itu membingungkan Chanyee, ia baru saja masuk sekolah seni dan langsung di bujuk oleh guru muda nan ganteng untuk masuk klub fotografer. Ia bahkan yakin, kalau bakatnya tidak ada pada bidang fotografer. Sedikitpun tidak ada.

“baiklah. Aku akan pikirkan soal itu. Tapi aku ingin menanyakan sesuatu saem, bolehkah?” tak mendengarkan sahutan apapun, Chanyee meneruskan “mengapa saem menawarkanku masuk klub ini, bukanya klub ini cukup terkenal?” Joonmyeon lagi-lagi tersenyum tanpa alasan,

“aku hanya punya firasat bahwa kau itu berbakat dalam bidang ini”

“apa buktinya?. Saem bahkan tidak perna melihatku memotret” tantang Chanyee.

“berikan aku handphonemu” tangan Joonmyeon mengulur meminta sebuah handphone, ia yakin akan menemukan sebuah bukti dari sana.

“oh- tapi ini- aku tidak mau” tolak Chanyee. Tanganya menggenggam handphone yang ada dalam sakunya dengan keras, seakan handphone itu akan di culik.

“aish, jinja. Yasudah. Tapi aku ingin kau besok datang di ruangan ini jam 10 pagi. Arassoe?” setelah itu Joonmyeon pun belalu pergi meninggalkan Chanyee, dan pula ia sempat mengacak rambut hitam pekat Chanyee.

………………………………………oppa and saem……………………………………….

Seiring waktu berjalan, Chanyee sudah sampai di apartemen oppanya. Ia terduduk dengan lemas begitu sampainya di kamar. Ia bahkan malas menganti pakaiannya. Tak sempat melihat jam, Chanyee mencek handphonenya untuk sekedar melihat tanda-tanda kehidupan. Ia lumayan terkejut saat mengetahui ternyata ia sampai tepat pada pukul 4 sore, mengingat ia keluar sekolah jam 3 sore.

“aku lapar” ujarnya. Chanyee menuju dapur lalu memeriksa isi kulkas, hanya di penuhi oleh sayur-sayuran hijau dan juga puding. Karna benar-benar lapar, Chanyee memutuskan untuk memasak nasi lalu kemudian menggorengnya. Tak ada pilihan lain dari nasi goreng, melihat bahan masakan yang minim di kulkas.

“em enaknya” beberapa kali Chanyee memuji masakanya sndiri, entah karna ia lapar atau masakanya yang sekarang benar-benar enak. Tak lupa nasi goreng yang ia buat juga disisakan untuk oppanya, walau ia tak tau kapan orang itu akan pulang. Mengingat kemarin Chanyeol berpesan bahwa ia akan pulang telat hari ini.

‘ting tong’ saat tengah asyik makan, Chanyee di gangu oleh suara bel yang lumayan keras. Mengganggu memang, namun entah mengapa ia tetap membuka pintu apartemen

“nuguseo” tanyanya kala melihat siapa yang datang. Seorang wanita bertubuh lansing dengan tinggi badan kurang lebih 170 cm, menurut Chnayee. Pakaian yeoja itu memperlihatkan bahwa iya memiliki fashion yang lumayan tinggi ditambah wajah yang jauh dari ciri wanita asia pada umumnya. Chanyee bisa menyimpulkan bahwa yeoja yang ada di depannya ini adalah seorang model.

“anyyeong” tangannya terangkat angkuh sambil melambai di udara, seakan Chanyee adalah wanita yang hendak diusirnya. Dasar wanita sombong, pikir Chanyee.

“anda siapa?” tanya Chanyee tanpa basa basi. Ia merasa jengkel dengan wanita di depanya ini, datang-datang langsung sok kenal gitu.

“aku di sini ingin mengambil beberapa pakaian Chanyeol” tanpa mendengar tanggapan Chanyee, yeoja itu menerobos masuk dengan sangat tidak sopanya. Dasar.

“maaf, anda tidak boleh masuk sembarangan, nanti Chanyeol oppa akan marah” Chanyee dengan cepat mencegah menggunakan tangannya. Ia menarik lengan yeoja berparas cantik itu hingga yeoja itu mengaduh kesakitan.

“yak! Apa yang kau lakukan. Sakit tau” Sembari mengelus lengannya yang sakit, yeoja itu menatap Chanyee dengan tajam.

“aku tau kau adalah dongsaengnya Chanyeol. Tapi aku ini adalah managernya Chanyeol. Seharusnya kau berlaku sopan padaku. Gadis kecil” tubuh Chanyee mematung, entah mengapa ia merasa bersalah sekarang, ia bahkan tidak keberatan saat yeoja yang mengaku menegernya Chanyeol mendorong jidatnya sambil mengatainya gadis kecil.

“jo-jo-jos-josonghamida eonni. Aku tidak tau kau adalah meneger Chanyeol oppa” sembari membungkuk, Chanyee melirik manger Chanyeol yang sekarang sudah masuk kamra Chanyeol dengan kaki yang di hentak-hentakkan. Sungguh kekanakan. Walau sempat bertengkar, Chanyee tetap memberikan pujian pada manager oppanya tersebut, alasanya adalah yeoja tadi benar-benar berwajah model internasional.

Yang Chanyee lakukan sekarang adalah menunggu manager tersebut keluar dari kamar Chanyeol. Sudah sekitar 15 menit ia menunggu, namun-

“oh-adiknya Chanyeol, Chanyeol berpesan padaku agar kau tidak usah memasak. Ia akan datang sekitar jam 7 malam setelah kerjaanya sudah selesai” berbeda dengan sikapnya yang tadi, yeoja itu sudah berperilaku baik kepada Chanyee. Yah walau sedikit.

“ne. Kamsamida” cicit Chanyee. Ia pun melangkah membukakan pintu yeoja yang sampai sekarang tidak tau namanya.

“kalau begitu eonni pergi. Anyyeong”

…………………………………………………oppa and saem……………………………………………………………

Tepat pada jam 7 malam Chanyeol datang dengan wajah kusam bersama dengan managernya. Yeoja itu terlihat menggandeng tangan Chanyeol sedangkan Chanyeol sedang membawa sebuah kantong plastik berukuran besar. Chanyee yang sedang duduk di sofa lantas berdiri untuk menyambut mereka berdua. Tangan Chanyee cekatan mengambil alih paper bag yang di bawa Chanyeol lalu menaruhnya di sofa.

“oh kau menunggu oppamu yah?” tanya sang manager dengan senyum anehnya. Aneh sekali malah. Seperti senyum meremehkan.

“yak noona, pulanglah, aku ingin istirahat. Kecuali kalau kau ingin menginap” mendengar percakapan mereka Chanyee membulatkan matanya. Bagaimana mungkin seorang gadis menginap di apartemen namja. Apa kata tetangga.

 

Chanyee POV

“aniya, mungkin lain kali aku menginap. Aku pulang dulu sekarang. Bye adik kecil-ah aku tidak tau namamu. Siapa namamu anak kecil?” aku menggaruk tengkuk, rasanya sangat aneh dipanggil anak kecil. Apalagi dengan yeoja aneh seperti dia. Hah…

“namanya Park Chanyee, noona. Noona bisa memanggilnya Chanyee, iyakan Chanyee?” tiba-tiba sebuah tangan merangkulku jangan tanya si pelakunya, Park Chanyeol.

“oh…kalau begitu aku pulang. Anyyeong Chanyeol, anyyeong Chanyee” tubuhku membungkuk memberikan salam, walau susah karna sekarang Chanyeol masih saja merangkulku.

“anyyeong noona cantik” dengarah, Chanyeol seperti anak kecil sekarang. Tanganya ,melambai random di udara seakan sangat bahagia.

“hah…aku capek. Chanyee-ah, kau sudah makan?” Chanyeol melepas rangkulanya lalu mengambil paperbag yang ku bawah ke sofa, ia terlihat mengambil sesuatu di dalamnya lalu membawanya ke dapur.

“aku sudah makan” jawabku. Chanyeol hanya menganggguk sebagai tanggapan, ia berjalan kedapur dengan aku yang mengikutinya dari belakang. Entah menagapa aku mengikutinya, seakan aku juga ingin makan.

“kenapa kau kesini, katanya sudah makan. Masuk kamar sana, belajar. Oppa akan makan sekarang” sifat Chanyeol berubah setelah managernya pulang. Ia terdengar dingin lagi padaku, padahal tadi ia merangkulku. Ada apa ini.

“ne arasso. Aku akan ke kamar” sia sia saja aku mengekorinya kedapur. Walau aku tidak tau mengapa juga aku mengekorinya.

Saat hendak membuka pintu kamar, Chanyeol memanggilku, padahal baru beberapa detik yang lalu ia mengusirku, dasar oppa aneh.

“Chanyee-ah. Kesini sebentar” ia berteriak layaknya bak pesuruh, sedang aku yang di teriaki berjalan bak pembantu.

“wae” tangan Chanyeol terulur memberiku handphone, aku mengerutkan kening.

“appa menelpon, kau ngobrol sebentar, aku ingin makan dulu. Katakan padanya aku akan bicara padanya nanti” bibirku tersenyum lebar. Mendengar kata appa, aku langsung bersemangat. Bagaimana tidak, waktu aku pindah ia tidak memngantarku, dengan alasan tidak enak badan.

“APPA…” aku berlari menuju sofa langsung berteriak ke speaker handphone. Aku sungguh tak menyangka bahwa sekarng aku kegirangan menyambut sabungan telpon appa. Terdengar tawa yang sangat kurindukan. Tawa seorang ajushi yang membanggakan.

“appa pogoshipo jongmal” lahatlah, mataku berkaca-kaca mengucapkannya. Padahal belum satu minggu kami berpisah.

‘hahaha nado aegi ya…kamu sudah makan nak?’ ia bertanya dengan suara serak, seakan menangis, walau ku tau ia tidak mungkin menangis hanya karnaku.

“ne. Aku sudah makan. Appa mengapa tidak menelphon di nomorku saja, aku kan rindu appa, mengapa Chanyeol opppa yang di telpon. Dasar appa” tak sadar aku memajukan beberapa senti bibirku petanda kesal. Sedang yang dinsindir hanya terkekeh di sebrang telpon.

Aku dan appa memang sangat dekat, setiap pagi ia selalu membangunkanku lalu menggendongku ke meja makan untuk makan bersama. Di mana kalau sudah sampai di meja makan, eomma akan marah-marah karna kelakuan manjaku. Namun dengan eomma marah-marah, appa selalu saja membelaku, mengatakan bahwa aku ini masih kecil dan masih wajar untuk di manjakan.

Boleh di katakan waktu itu aku masih kecil, 14 tahun umurku aku anggap belum dewasa. Namun bukan hanya aku yang di gendong ke meja makan, waktu Chanyeol berumur 10 tahun dan aku berumur 8 tahun ia juga selalu di gendong ke meja makan. Kami tentunya tidak akan makan kalau tidak di gendong appa. Hah…mengingat hal itu aku ingin menangis.

“appa gendong” seakan ada appa di depanku aku mengulurkan tanganku minta di gendoong.

‘Chanyee-ah, kau it sudah besar nak, tak sepatutunya ka minta di gendong oleh appamu yang sudah menua ini’ bibirku monyong tiba-tiba.

“tapi waktu aku ingin kesini appa tidak mengendongku ke meja makan. Padahal itu sarapan terakhirku di rumah” saat itu aku tidak tau mengapa aku tidak di gendong oleh appa, eomma hanya mengatakan bahwa kalau aku ini sudah besar dan tidak boleh manja kepada appa lagi.

‘appakan bilang, kalau appa lagi tidak enak badan. Uhuk-uhuk’ terdengar suara batuk menyusul. Appa sepertinya sedang sakit, ataukah ia hanya akting sakit untuk mengelabuiku.

“apa appa sakit?” belum sempat aku bertanya, sebuah tangan tiba-tiba mengambil handphone dari tanganku. Pemiliknya yang mengambilnya.

“aku belum selesai berbicara” ucapku sambil melotot. Ia balas melotot padaku, tanganya mengibas di depanku memberi tanda agar aku pergi di depanya.

“yobseo appa. Ini aku Chanyeol. Ada apa menelponku” melihat tinggi Chanyeol yang jauh berbeda denganku tentunya aku tidak bisa mengambil handphone itu darinya.

“oh arasso. Aku akan ke kamar sekarang” ia berlalu begitu saja, tidak mempedulikanku yang sekarang mulai menangis. Tak tahan, aku berlari ke kamar lalu menguncinya. Aku ingin appa, aku rindu dia. Aku  ingin telpon appa.

Sambil menangis, tubuhku ku hempaskan ke kasur lalu menangis sesegukan. Sebuah flasback tiba-tiba terlihat olehku. Appa yang tertawa dan appa yang marah. Aku sungguh merindukan itu semua.

Chanyeol POV

Sesuai dengan permintaan appa, aku masuk kamar agar perbincangan kita tidak terdengar oleh Chanyee. Seperti sebuah misi, aku mendengar dengan sesama perkataan appa

‘Chanyeol-ah, appa merindukanmu nak’ aku tersenyum,

“appa, aku juga merindukanmu. Datanglah kesini sekali-kali appa” semenjak aku tinggal di Seoul, appa baru pernah datang sekali. Itupun waktu aku sakit, sekitar 1 tahun yang lalu. Appa saat itu datang sendiri dengan membawa masakan yang telah di buat eomma, waktu itu aku sakit demam, namun setelah memakan masakan eomma dan tidur dengan pelukan appa, aku sembuh keesokan harinya. Tak bisa dipungkiri, aku ini anak yang manja. Walau tak lebih manja dari adikku.

‘Chanyeol-ah, kau sudah besar nak. Sekarang appa sedang sakit, tak bisa apa-apa lagi. Kau sekarang juga telah menjadi tulang punggung keluarga, jadi appa sangat berterima kasih padamu nak, appa sangat bangga padamu’ bulu romaku berdiri, aku merinding tiba-tiba. Appa terdengar aneh sekarang.

“mengapa appa seperti itu, aku jadi tidak enak. Appa baik-baik saja bukan” siapa yang tidak khawatir mendengar ucapan aneh dari sang appa, biasanya ucapan-ucapan seperti ini adalah ucapan selamat tinggal. Akh, apa yang kupikirkan.

‘aniya Chanyeol, appa sekarang tidak sehat. Appa tidak tau kapan appa sembuh dan kapan appa akan mat-‘

“stop appa. Jangan mengatakan yang tidak-tidak. Aku mohon. Appa jangan mengatakan kalau appa akan pergi. Ku mohon” mataku berair langsung. Aku tak tau kapan aku menangis terakhir kalinya. Namun aku benci saat begini, saat appa berfikir bahwa aku adalah penerus keluarga.

‘Chanyeol-ah, dengarkan appa, appa sudah tua nak, jadi appa mohon padamu, jaga adik dan juga ibumu. Uhuk-uhuk’

“hiks-appa-hiks geumanhae. Apa appa sakit parah? Kalau begitu aku akan ke sana sekarang. Tunggu aku appa” tak peduli dengan tubuhku yang lelah, aku berdiri menuju lemari mengambil pakaian.

‘tidak Chanyeol. Kau dan adikmu harus sekolah besok, appa melarang kau pulang ke sini. Lagian appa tidak terlalu sakit parah, appa hanya merasa sudah tua, jadi wajar kalau appa sakit’

“wajar apanya, appa sangatlah jarang sakit. Ini aneh appa”

‘kau ini. Sudah dulu yah Chanyeol, appa ingin tidur. Kau tidurlah juga, jangan lupa melihat adikmu dulu. Mungkin sekarang ia menangis’

“appa…jebal”

‘anyyeong’ appa memutuskan sambungan telpon dengan sepihak, ia bahkan tidak mendengar rengekanku.

Aku jadi teringat dengan pesan appa untuk melihat Chanyee, ia pasti menangis sekarang. Aku harus melihatnya dan aku juga yakin kalau ia sekarang mengunci pintunya, jadi untuk tidak melakukan hal yang sia-sia, aku mengambil kunci cadangan Chanyee yang selalu kusimpan di laci meja belajar.

…………………………………………….oppa and saem…………………………………………….

“Chanyee-ah” ujarku saat masuk kamarnya, kamar Chanyee terlihat gelap dengan lampu yang dimatikan. Ia terlihat duduk di atas ranjangnya dengan memeluk kedua lututnya dan juga wajahnya yang ia tenggelamkan di sana. Saat mendengarku masuk ia mendongkak, mungkin karna kaget aku bisa masuk kamarnya.

“hiks-pergi-hiks. Kau jahat, aku hanya-hiks” belum juga aku melangkah mendekatinya, namun sebuah bantal melayang sempurna mengenai perutku.

“Chanyee-ah, uljima” takut dilempar dengan benda yang berbahaya, aku mendekat dengan cepat ke arahnya, sebelumnya kusempatkan menyalakan lampu.

Lihatlah adikku sekarang, ia terlihat kacau, rambutnya yang berantakan dan matanya yang bengkak karna menangis.

“HUA…pergi” saat hendak mengusap rambutnya, ia menerjangku dengan pukulan di perut, sakit memang, namun aku sudah tau  ini akan terjadi apabila Chanyee sudah marah dengan seseorang. Ia sudah terbiasa dimanjankan oleh appa dan dikerasi oleh eomma, jadi inilah yang terjadi padaku sekarang.

‘Greb’

“oppa-hiks”

TBC

.

Aku harap tulisanku sudah lumayan meningkat, karna di part sebelumnya aku membaca ulang dan aku sangat kecewa dengan tulisanku sendiri.

Oh iya berikan komen dan saran, supaya tulisan ini bisa meningkat lagi di part berikutnya.

Terakhir, terima kasih buat temanku Miftahul Jannah, Suyuti dan Fitriani yang udah mendukung dengan menjadi fansku. haha

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s