[CHAPTER 11] SALTED WOUND BY HEENA PARK

salted-wound-cover

“Kau milikku, sudah kukatakan dari awal, bukan? Kau adalah milikku.”- Oh Se-Hun

.

A FanFiction 

by

Heena Park

.

SALTED WOUND’

.

Starring: Shin Hee Ra-Oh Se Hun-Kim Jong In

.

Romance–Incest-Thriller–PG15–Chaptered

.

Wattpad : Heena_Park

Facebook : Heena

Instagram : @heenapark.ofc

.

Notes : ff ini juga aku share di WATTPAD. And thanks to Byun Hyunji for this awesome poster!

.

.

Prev :

TEASER

CHAPTER 1

CHAPTER 2

CHAPTER 3

VIDEO TRAILER

CHAPTER 4

CHAPTER 5

CHAPTER 6

CHAPTER 7

CHAPTER 8

CHAPTER 9

CHAPTER 10

.

“Good morning. Happy Birthday, sunshine.”

 

Hee-Ra menarik kedua ujung bibirnya setelah mendengar suara Jong-In dari telepon. Ia masih mengenakan jubah mandi, rambutnya masih basah dan terbungkus dalam handuk. Ia berdiri di samping jendela, memandang bebas ke luar kaca.

 

“Cepatlah pulang karena aku punya sesuatu untukmu,” lanjut Jong-In yang kembali membuat Hee-Ra tersenyum.

 

“Kuharap kau ada di sini, Kim Jong-In.”

 

Jong-In berdehem beberapa kali. “Bagaimana kalau sekarang aku berlari ke Airport dan menyusulmu ke Venice? Ah tidak, itu tak akan menjadi kejutan karena kau telah mengetahuinya, jadi kubatalkan saja.”

 

Hee-Ra tertawa, ia menutup gorden jendela. “Aku akan menghubungimu lagi nanti,” tukasnya kemudian menekan tombol merah dan panggilannya dengan Jong-In pun terputus.

 

Mengingat hari ini merupakan hari spesial, Hee-Ra berpikir apakah kedua orang tuanya merencanakan sesuatu?

 

Ia bergegas membuka lemari, hanya ada beberapa stel pakaian dan dress, lagipula siapa yang mau membawa banyak pakaian untuk liburan?

 

Ia memilih celana jeans biru tua, kaus dan jaket untuk dipakai. Rambutnya diikat ke belakang, kasual namun tetap rapi dan enak dipandang.

 

Baru saja Hee-Ra membuka pintu kamarnya, seorang pria berjas hitam yang sekiranya berusia di empat puluh tahun telah berdiri di depannya.

 

“Good morning, Miss. Shin. Follow me,” ucapnya yang tanpa menunggu balasan dari Hee-Ra langsung melenggang begitu saja. Otomatis Hee-Ra segera mengikuti supaya tidak kehilangan jejak, mengingatkannya dengan kejadian kemarin malam—saat mengikuti Se-Hun dan kemudian dihadang preman.

 

Orang itu berhenti di samping sedan hitam dan kemudian membukakan salah satu pintu sebagai tanda agar Hee-Ra masuk ke sana. Ah, ia merasa spesial saat diperlakukan seperti itu. Setelah orang tersebut menyusul duduk di kursi pengemudi, mobil mulai melaju, melewati beberapa jembatan serta menelusuri pinggiran kanal yang begitu memesona.

 

Sekitar dua puluh menit berlalu, mereka berhenti di depan sebuah restoran mewah yang begitu indah—Riviera—Nampak kedua orang tuanya beserta Se-Hun telah menunggu di sana. Buru-buru Hee-Ra turun dan menghampiri mereka, kemudian memeluk ayah dan ibunya bersamaan.

 

“Buon compleanno[1], my dear.” Kang So-Hee mengusap lembut punggung Hee-Ra, sepersekian detik kemudian memberikan kecupan hangat di pipi juga keningnya.

 

“Happy Birthday, my little princess.” Shin Jae-Woo membelai rambut belakang Hee-Ra, ingatan perjalanan hidup anak gadisnya yang kini telah berusia dua puluh dua tahun seolah kembali terputar bagaikan film. Ya ampun, hatinya terasa hangat setiap kali mengingat tangisan pertama Hee-Ra kala itu, putrinya yang manja kini sudah tumbuh dewasa dan begitu cantik.

 

Ah, ini dia yang terakhir. Dilihat berkali-kalipun pria itu memang tampan, tak peduli pakaian seperti apa yang ia gunakan.

 

“Happy Birthday, my sister,” gumamnya ringan. Terlalu ringan sampai senyuman hangat itu mengikuti. Ya, Se-Hun menatapnya begitu hangat, dalam dan penuh perhatian.

 

Tidak ada yang mereka lakukan selain berpandangan. Se-Hun juga tidak merentangkan kedua tangannya untuk sekedar memberikan pelukan hangat, begitupula Hee-Ra, hanya mematung dan sepersekian detik kemudian mengangguk, mengucapkan terima kasih, karena memang begitulah seharusnya.

 

Lantas mereka memasuki ruangan dan duduk di meja yang telah dipesan. Empat piring panino dan espresso telah tersedia di sana, hidangan makan pagi yang tak begitu berat namun sudah cukup membuat perut kenyang, kan?

 

Well, memakan kue tart saat pagi sepertinya tidak begitu cocok, jadi kami putuskan kau akan meniup lilin nanti,” gumam Kang So-Hee tanpa ditanya, sementara Shin Jae-Woo dan Se-Hun mengangguk setuju.

 

Mereka kelihatan seperti keluarga bahagia, bukan?

 

Pasangan suami-istri yang begitu mencintai kedua anaknya, seorang kakak yang sangat perhatian pada sang adik. Hampir bisa dikatakan sempurna. Tapi andai mereka tahu dalam kebahagiaan sesaat yang tercipta sebagai ilusi keindahan mata ini hanyalah kebohongan belaka. Bukan, bukannya mereka tak saling menyayangi, hanya ada satu orang yang sesungguhnya bukan siapa-siapa tapi datang dan mulai ikut campur di dalamnya.

 

Ada yang bilang rasa nyaman dan cinta tumbuh karena terbiasa. Mungkinkah Se-Hun juga merasakannya? Entah kenapa berada di tengah-tengah keluarga palsunya ini terasa sangat menyenangkan, seolah ia memang merupakan bagian dari mereka. Andai saja suatu hari nanti Hee-Ra atau yang lainnya mengetahui kenyataan? Apakah Se-Hun masih diberi kesempatan untuk sekedar menyapa?

 

Setelah menghabiskan makanan masing-masing serta beberapa kali bersenda-gurau, mereka akhirnya memutuskan untuk beranjak ke tempat selanjutnya. Oh, tentu saja Hee-Ra tidak tahu. Yang ia ketahui hanyalah mengikuti ke mana-pun orang tuanya melangkah.

 

Namun kali ini mereka tak menggunakan sedan, melainkan sebuah mini bus yang telah dipesan khusus oleh sang ayah. Satu lagi, Hee-Ra tak mendapati Se-Hun berada di sekitarnya, maksudku hanya ada empat orang dalam mini bus tersebut; sopir, Hee-Ra dan kedua orang tuanya.

 

“Dia kembali ke hotel karena harus mengurus sesuatu,” sahut Kang So-Hee ketika menyadari ekspresi kebingungan Hee-Ra. “Pegawainya berusaha menghubungi sejak kemarin.” Berhenti sebentar dan membuang napas pasrah. “Pengusaha muda memang selalu sibuk, persis seperti ayahmu dulu,” lanjutnya sambil melirik Shin Jae-Woo di sebelah dan membuat pria berusia akhir empat puluhan itu tertawa hambar.

 

Maklum, Hee-Ra juga tahu kesibukan Se-Hun. Seorang pria muda, kaya, tampan, pintar, siapa gadis yang tak tertarik padanya?

 

Bahkan Hee-Ra yang semula sangat membenci Se-Hun, perlahan luluh. Pesona pria itu memang tak bisa dielak, walaupun sesungguhnya sejak awal Hee-Ra telah terpesona. Ia hanya berusaha menyembunyikan kenyataan dan terus mengatakan pada diri sendiri bahwa ia membenci Se-Hun.

 

Mengesampingkan rasa penasarannya terhadap Se-Hun, Hee-Ra memfokuskan pandangan ke ponsel dan mulai mengetik pesan untuk Jong-In. Ia tidak begitu memperhatikan jalan yang dilalui, padahal banyak pemandangan indah di sekitarnya.

 

 

 

 

 

 

“Kau tidak perlu marah-marah seperti itu.” Se-Hun melirik ke kanan sebentar, memastikan keadaan di sekitarnya memang aman.

 

Ia tengah duduk di atap sebuah gedung, tangan kanannya memegang senapan, sementara tangan kirinya menempelkan ponsel ke telinga. “Aku bisa membereskannya dengan cepat, asal kau tidak cerewet,” lanjutnya.

 

Telinganya memanas mendengar rengekan sosok pria yang merupakan kliennya. Semalaman ia terus-terusan menghantui Se-Hun agar segera membunuh lawan bisnisnya, benar-benar mengesalkan. Apakah mereka tidak bisa bersabar sebentar saja? Selalu saja terburu-buru.

 

“Kusarankan kau pergi ke bar dan menikmati setiap detik berhargamu.” Ia mendecak beberapa kali, telinganya mulai tak begitu fokus mendengar serentetan kata yang keluar dari lawan bicaranya.

 

Netranya menangkap sosok pria berjas hitam yang sedang duduk di dalam mobil, selama beberapa detik tidak ada pergerakan lain kecuali menunggu pintu dibukakan oleh anak buahnya. Se-Hun menyeringai, ia menaruh ponselnya ke paha dan mulai mengatur posisi tangan memegang senapan.

 

Se-Hun tak pernah meleset, ia selalu mengenai sasaran. Ia menyipitkan salah satu matanya dan mulai membidik sasaran.

 

“Nikmati perjalananmu ke surga, kawan.”

 

Dalam sekali tekanan, Se-Hun telah meluncurkan pelurunya dan bagai suatu kebiasaan yang tak terelakan, peluru tersebut tepat mengenai sasaran yang berjarak cukup jauh darinya.

 

Tanpa perlu pikir panjang, setelah melihat darah yang mengucur dari tubuh sasarannya, Se-Hun segera bangkit dan membakar kursi kayu yang dipakainya barusan kemudian mengikat tali ke besi dan meluncur turun lewat dinding sebelum pengawal pria tadi menemukannya.

 

Keriuhan yang terjadi akibat penembakan barusan cukup menguntungkan Se-Hun. Ia dengan leluasa pergi tanpa memperdulikan orang-orang yang sibuk pada dirinya sendiri, berlarian kesana-kemari karena takut menjadi sasaran berikutnya. Padahal, tanpa mereka ketahui, pembunuh yang sebenarnya sedang berkeliaran di tengah-tengah keramaian, sungguh kamuflase yang mengagumkan.

 

Yah, masa bodoh dengan mereka, yang penting sekarang Se-Hun harus menyiapkan rencananya untuk Hee-Ra. Ia tidak mungkin melewatkan momen penting seperti ini, bukan?

 

 

 

 

 

 

Hee-Ra beserta keluarganya sempat singgah ke Lido di Venezia—sebuah gosong pasir sepanjang  sebelas kilometer dan menjadi rumah bagi 20.000 penduduk. Walau hanya sekedar duduk-duduk santai sembari memandang ke laut lepas, tak lupa ditemani bekal khusus buatan sang ibu sebagai camilan, sudah cukup membuat ketiganya senang.

 

“Kalian mau es kelapa muda?” tanya Shin Jae-Woo ketika kedua matanya tak sengaja menangkap seorang penjual es kelapa muda. Sontak Kang So-Hee dan Hee-Ra mengangguk bersamaan.

 

“Aku akan segera kembali dengan membawa tiga buah kelapa, ada yang mau membantu?”

 

“Aku!” Hee-Ra menawarkan diri dan segera bangkit dari tidur malasnya. Ia segera menyusul Shin Jae-Woo yang telah berjalan lebih dulu, berusaha mengimbanginya.

 

Setelah memesan tiga buah kelapa, keduanya bersandar ke pagar besi—saling berdampingan, tentu saja. Hee-Ra kelihatan begitu menikmati suasana dan ketenangan yang ada di sini, seharusnya sejak lama Shin Jae-Woo melakukannya, mengajak anak dan istrinya berlibur bersama dan rehat sejenak dari pekerjaan yang terus-terusan menumpuk.

 

Bagaimanapun, keluarga lebih penting daripada materi.

 

“Shin Hee-Ra?”

 

Hee-Ra mengangkat wajahnya, menengok ke arah Shin Jae-Woo yang tak meliriknya sama sekali. “Ya, papa?”

 

“Papa lihat sikapmu pada Se-Hun sudah lebih baik dari sebelumnya.” Kali ini ia berbalik dan memegang kedua bahu anak gadisnya. “Papa senang melihatnya,” lanjut Shin Jae-Woo sambil terus memasang senyum indah di wajahnya.

 

Bukankah beliau seorang ayah tiri yang baik? Maksudku, Shin Jae-Woo menyayangi Se-Hun sepenuh hati, padahal pria berusia dua puluh empat tahun itu bukanlah darah dagingnya.

 

“Tapi…” Hee-Ra menggantung kalimatnya, tak yakin apakah ucapannya setelah ini bisa diterima. Oh ayolah, tidak ada salahnya untuk bertanya, kan? Ia harus melanjutkannya.

 

“Papa bilang…Se-Hun banyak berjasa bagi keluarga kita…tapi aku tak pernah melihat pengorbanannya selama ini…jadi?”

 

Rupanya Hee-Ra masih mengingat ucapannya kala itu. Shin Jae-Woo sendiri juga baru menyadarinya, seorang Oh Se-Hun—anak tiri yang membuatnya tersadar akan pentingnya keluarga.

 

Ia kembali menyandar ke pagar besi dan berpikir selama beberapa detik sebelum mengeluarkan suara, “Kau ingat kejadian tiga atau empat tahun lalu? Saat papa melarangmu melanjutkan kegemaranmu menari dan lebih fokus pada pendidikan?” Ia terkikik pelan. “Malam harinya, Se-Hun mendatangi papa di ruang kerja, berkali-kali ia memohon agar papa mengizinkanmu mengikuti kelas menari. Awalnya papa menolak dan terus fokus pada dokumen-dokumen kantor, tapi Se-Hun terus menunggu, ia berdiri di dekat pintu selama lebih dari enam jam, dan ya, papa tetap tidak mengiyakan keinginannya.”

 

Apa? Se-Hun melakukan hal seperti itu? Kenapa Hee-Ra tak pernah tahu?

 

“Dia terus berusaha mendapatkan hati papa, ia sering membersihkan ruang kerja papa, membukakan pintu saat papa pulang larut, padahal saat itu kau marah dan tidak mau berbicara dengan papa. Sampai akhirnya papa mulai berpikir kalau melarangmu mengembangkan bakat sama saja dengan membunuh salah satu bagian hidupmu, dan akhirnya papa mengizinkanmu menari. Kau tahu? Saat itu Se-Hun sangat senang dan membuatkan papa secangkir kopi, hebat, kan?”

 

Tunggu dulu, jadi alasan luluhnya hati sang ayah kala itu bukanlah karena Hee-Ra yang marah? Melainkan gara-gara keteguhan Se-Hun? Terdengar kekanakan memang, tapi pria itu berhasil membuatnya diizinkan menari!

 

“Kau ingat saat mamamu harus dioperasi usus buntu?”

 

Hee-Ra mengangguk cepat. “Ya, waktu itu aku sedang liburan di Berlin dengan teman-teman,” sahutnya.

 

“Waktu itu, papa juga berada di luar kota karena urusan bisnis, dan Se-Hun yang akhirnya memutuskan untuk pulang lebih cepat, meninggalkan rapat pemegang saham dan lebih memilih membawa mamamu ke Rumah Sakit dan menunggu sampai operasi selesai. Salah satu suster yang sering lewat di depan Se-Hun ketika mamamu sedang operasi bilang kalau selama operasi berlangsung, Se-Hun terus berdoa, bahkan ia sempat menitikan air mata beberapa kali, namun cepat-cepat dihapus.”

 

Hatinya tercelos, telinganya seolah tak percaya pada setiap kata yang keluar dari mulut Shin Jae-Woo, tapi hatinya berbeda. Jauh dalam hati yang sulit tercapai, Hee-Ra menangis, ia begitu menyesali perbuatannya selama ini, mengacuhkan Se-Hun yang telah banyak berjasa bagi keluarganya.

 

Ia terlalu sibuk membenci tanpa mau menyadari beribu kebaikan yang diperbuat oleh Se-Hun, ia terlalu sibuk memaki sampai lupa kalau Se-Hun selalu menjaganya.

 

“Tempat yang akan kita datangi setelah ini merupakan pilihan Se-Hun, dia bilang kau akan sangat menyukainya.”

 

Tempat apa?

 

Hee-Ra mengerutkan keningnya meminta penjelasan, tapi Shin Jae-Woo tidak berniat membuka mulut mengenai hal itu dan malah mengalihkan pembicaraan. “Shin Hee-Ra, Se-Hun adalah orang pertama yang menanyakanmu saat pagi, dan yang terakhir mengucapkan selamat tidur padamu kala malam. Ia selalu berdiri di depan pintu kamarmu dan berbisik pelan, mengucapkan selamat tidur tanpa kau sadari.”

 

Tanpa terasa matanya mulai berair, Hee-Ra berusaha menahan butiran bening itu untuk jatuh membasahi pipinya, namun gagal. Ia menutup mulutnya dengan salah satu telapak tangan dan berusaha untuk tak terisak.

 

“Se-Hun adalah kakak yang baik, kuharap setelah ini kau tidak membencinya lagi, karena papa-pun juga sangat menyayanginya.” Shin Jae-Woo menepuk-nepuk pundak Hee-Ra selama beberapa saat sebelum penjual es kepala mengatakan pesanannya telah jadi. Pria itu kemudian mengiyakan dan segera menghampiri sang penjual kelapa, lalu melambaikan tangan pada Hee-Ra sebagai tanda agar putrinya bersedia membawa kelapa yang tersisa.

 

Pikirannya melayang setelah mendengarkan perkataan ayahnya. Hee-Ra tak pernah menduga bahwa Se-Hun melakukan hal-hal demikian. Mungkinkah pria itu benar-benar menyayangi keluarganya? Apakah ia telah berubah?

 

 

 

 

 

 

Setelah menghabiskan cukup banyak waktu di Lido di Venezia, ketiganya mampir sebentar ke Rialto Mercato untuk sekedar melihat-lihat ikan segar, mungkin berniat membeli kalau ada yang memikat hati.

 

Mereka memutuskan untuk membeli beberapa ekor ikan dan meminta seorang chef di salah satu Rumah Makan mengolahnya dengan bumbu yang spesial. Tentu saja hal tersebut semakin membuat Hee-Ra senang.

 

Sembari menunggu hidangannya matang, Kang So-Hee kembali ke mini bus dan mengambil kue tart yang telah disediakan sejak tadi. Ia menyalakan lilin dan mulai bernyanyi Selamat Ulang Tahun begitu melewati garis pintu.

 

Begitu mendengar suara nyanyian Kang So-Hee, semua orang yang ada di sana tiba-tiba ikut bernyanyi dan berhasil membuat Hee-Ra tersipu malu.

 

“Ucapkan keinginanmu dalam hati sebelum meniup lilin,” gumam Kang So-Hee yang masih memegang kue tart tersebut.

 

Hee-Ra mengangguk antusias dan menyatukan kedua tangan sambil menutup matanya. Keinginan yang datang bagaikan semilir angin barusan diucapkannya dalam hati. Sesuatu yang tak pernah terpikir olehnya sebelum hari ini, sesuatu yang diragukan kebenarannya namun tetap ia yakini.

 

Sesaat setelah membatin keinginannya, Hee-Ra membuka mata dan mulai meniup lilin berbentuk angka dua puluh dua tahun tersebut. Ia memang bukan tipikal gadis yang percaya dengan tahayul, tapi tidak ada salahnya mencoba, kan? Siapa tahu keinginannya bisa terjadi.

 

“Jadi, apa yang kau ucapkan dalam doamu?” Shin Jae-Woo terdengar penasaran, namun Hee-Ra dengan cepat menggeleng sambil memasang senyum penuh arti.

 

“Aku tidak boleh mengatakan keinginanku pada kalian kalau ingin dikabulkan,” jawabnya lalu mengedipkan mata kirinya genit yang disambut tawa oleh Shin Jae-Woo.

 

Setelah menghabiskan makan siang menyenangkan yang jarang dilakukan selama beberapa tahun belakangan ini, mereka pergi ke teater Le Fenice—salah satu tempat yang ingin dikunjungi Hee-Ra.

 

Mereka menonton opera yang rutin diadakan di sana. Kemegahan bangunan semakin menambah suasana klasik yang telah tercipta, benar-benar cocok dengan apa yang sedang ditampilkan. Oh ya ampun, Hee-Ra bisa betah kalau tinggal di Venice, rasanya ia tak ingin pulang.

 

Sepanjang pertunjukan berlangsung, ketiganya tak berhenti untuk sekedar megagumi, entah opera yang sedang tampil maupun desain interior bangunan berkelas ini. Jujur saja, mereka merasa seperti berada dalam sebuah istana.

 

Riuh tepuk tangan penonton menggema begitu semua aktor dalam opera tersebut membungkukkan badan sebagai tanda berakhirnya pertunjukan. Begitupula dengan Hee-Ra, ia bahkan sampai berdiri sambil terus menepuk kedua tangannya.

 

“Kau menyukainya?” Kang So-Hee mengusap rambut putrinya.

 

“Mama bercanda?” Berhenti sebentar dan menarik napas dalam-dalam kemudian membuangnya keras. “I love it, more than you think!” jawabnya tak kalah heboh.

 

Mendengar Hee-Ra bahagia dengan semua rencananya membuat Kang So-Hee begitu senang. Apa yang paling penting bagi seorang ibu selain kebahagiaan anaknya? Tidak ada, kan?

 

“Se-Hun bilang kau akan menyukai semua ini.” Kang So-Hee menarik Hee-Ra dalam pelukannya. “Dan dia benar. Mama sangat senang karena kaupun juga begitu,” lanjutnya terharu.

 

Lagi-lagi Se-Hun. Kenapa orang tuanya terpaku pada Se-Hun? Mengapa mereka mau mengikuti saran Se-Hun? Dan bagaimana bisa Se-Hun mengetahui apa-apa saja yang disukai Hee-Ra padahal kenyataannya mereka sangat jarang berbicara.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Waktu terus berjalan, Se-Hun juga terus menunggu. Ia bersandar ke badan mobil sambil sesekali melirik jam di tangannya. Baru pukul tujuh memang, tapi Se-Hun berharap agar Hee-Ra dan kedua orang tuanya segera kembali. Well, ia tidak sabar memberikan serentetan kejutan manis untuk sang adik—ralat, miliknya.

 

Ia mengetuk-ngetukan kakinya ke jalan, menyadari beberapa mata yang selalu tertuju ketika tak sengaja lewat di depannya. Yah, mau bagaimana lagi? Siapa yang tidak menengok dua kali bila melihat si tampan Se-Hun?

 

Sampai akhirnya Se-Hun mendongakkan kepalanya sambil menarik kedua ujung bibir, tersenyum senang ketika mendapati Hee-Ra dan kedua orang tuanya telah sampai.

 

Seolah mengerti keinginan Se-Hun, Kang So-Hee meliriknya sebentar lalu mengatakan sesuatu pada Hee-Ra hingga ekspresi gadis itu berubah, namun semuanya berakhir saat Kang So-Hee mendorong pelan punggung putrinya ke arah Se-Hun.

 

Awalnya terlihat wajah ragu-ragu yang begitu kentara dalam air muka Hee-Ra, ia menggigiti bibir bawah seolah tak yakin pada apa yang dilakukannya saat ini. Sebelum Hee-Ra berubah pikiran, sebelum rencananya berakhir sia-sia, Se-Hun melangkah maju menghampiri Hee-Ra.

 

Good evening, Miss. Shin,” ujarnya manis kemudian meraih tangan kanan Hee-Ra tanpa permisi. Menggenggamnya erat dan menuntun ke mobil walau serentetan pertanyaan juga protes tak berhenti keluar dari mulut Hee-Ra.

 

“Apa yang kau lakukan? Kita mau ke mana?” protes Hee-Ra tak terima ditarik begitu saja, tapi ia tak melakukan penolakan dan tetap membiarkan Se-Hun menggenggam tangannya.

 

Mereka berhenti di samping mobil, Se-Hun segera membukakan pintu dan mendorong Hee-Ra untuk masuk. “Kau akan tahu nanti.” Ia berhenti sebentar dan membungkuk, mendekatkan wajahnya pada wajah Hee-Ra. “Aku tidak menerima penolakan untuk kali ini,” lanjutnya lalu mengedipkan sebelah mata, membuat Hee-Ra tak sanggup berkata-kata.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

———

 

 

 

 

1 : Selamat ulang tahun

Advertisements

81 responses to “[CHAPTER 11] SALTED WOUND BY HEENA PARK

  1. Kejutan apakah yg berikan sehun buat heera.
    uhhhh gak sabar buat baca Next chepter.
    makin menarik aja good job thor 👍👍👍👍👍
    i love it 😍😍😍😍😍

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s