I Married To My Enemy [III] -by ByeonieB

i-married-to-my-enemy

I Married To My Enemy

ByeonieB©2016

“I’ll Protect You.”

Main Cast:: Baekhyun of EXO as Byun Baekhyun, OC/You/Readers as Han Minjoo || Additional Cast:: Han Hyojoo (Actress) as Han Hyojoo, Chanyeol of EXO as Park Chanyeol, Sehun of EXO as Oh Sehun, Lee Yubi (Actress) as Lee Yubi, and many more || Genre:: Marriage Life, Romance, A Slight of Comedy, Drama || Length:: Chapter || Rate:: PG-17—PG-18+ || Before:: [Chapter II] || Poster by Jungleelovely

 

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

September 2005

“Jangan ganggu Han Minjoo!”

Minjoo menolehkan kepalanya yang tertunduk karena tiga gadis di hadapannya baru saja mendorongnya. Baju Minjoo kotor, penuh dengan cat warna-warni. Begitu juga dengan tangan ketiga gadis itu.

“Heol. Ada bocah kecil yang ingin menjadi pahlawan rupanya.” Salah satu gadis berpakaian sekolah menengah pertama itu memutar tubuhnya dan memandang rendah Baekhyun. Tipikal ketua dalam kelompok itu.

Melihat keadaan Minjoo yang begitu lusuh, lantas membuat Baekhyun menaikkan pitamnya. Dia maju sampai menghampiri si ketua ‘geng’ itu lalu mendorongnya.

“Ya!” keluh gadis itu yang disambut teman-temannya dengan kaget. “Kau berani melawan sunbaemu!?”

Baekhyun tidak mempedulikan perkataan gadis itu dan ia malah mengambil cat dari tangan salah satu temannya lalu menumpahkannya tepat ke muka gadis itu.

“Aku tidak peduli kau sunbaeku atau bukan yang jelas..” Baekhyun menatap gadis itu tajam.

“Jika kau berani menyentuh Han Minjoo barang sehelai rambut lagi, aku berani menumpahkan asam sulfida ke wajahmu. Seperti ini.”

Demi Tuhan, wajah Baekhyun benar-benar seram saat itu. Gadis itu pun bahkan kini ketakutan.

“Jauhi Minjoo dan jangan pernah mengganggunya lagi! Sekarang pergi!!!”

Setelah Baekhyun meneriakkan kata itu, gadis itu berdiri—dibantu oleh teman-temannya—dan langsung pergi terbirit-birit meninggalkan gudang sekolah. Tempat dimana mereka mengeksekusi Han Minjoo.

“Kau tidak apa-apa?” Baekhyun langsung menghampiri Minjoo tepat setelah mereka pergi. Ia membuka almamater sekolahnya dan memasangkannya di tubuh Minjoo. “Ayo kita berdiri dan pulang.”

Minjoo terdiam dan tidak menyambut kehadiran Baekhyun. Namun, beberapa detik setelahnya gadis itu langsung menangis. Kencang dan sangat terisak.

“Ya..” Baekhyun mencoba menenangkan Minjoo dengan menghapus jarak mereka, menjatuhkan Minjoo di dekapannya.

“Benar, menangislah. Berteriaklah karena aku tahu pasti kau sangat ketakutan tapi setelahnya kau tidak boleh takut lagi, hm?”

Baekhyun mengelus rambut Minjoo dan mengusap-usap punggung Minjoo dengan lembut.

“Aku berjanji akan melindungimu.”

“Aku.. pasti melindungimu.”

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

[CHAPTER 3]

H A P P Y   R E A D I N G

 

Perjuangan hidup Minjoo yang “sebenarnya” baru dimulai hari ini. Semua masa sekolah Minjoo dimulai dari sekolah dasar, menengah pertama, menengah atas lalu menghadapi kuliah bukanlah apa-apa dari perjuangan setelah hari kemarin.

Hari dimana kini status Minjoo bukanlah gadis perawan nan lajang kembali. Tetapi menjadi seorang istri dari Byun Baekhyun—musuh seumur hidupnya.

“Kau tidak bisa memasak?!”

Minjoo terdiam, menggigit bibirnya dan menatap Baekhyun dengan pupil matanya yang membulat besar. Berharap Baekhyun bisa mengerti bahwa ia sedang mengemis kasihani dari pria itu. Sedangkan Baekhyun, pria itu melihat Minjoo dengan kesal dan lelah.

“Kau kan tahu kalau aku paling benci menyentuh peralatan dapur, Baekhyun-ah..”

Minjoo mencoba beralasan untuk mendapatkan pengampunan dari Baekhyun. Kejadian ini bermula karena baru saja beberapa menit yang lalu Baekhyun turun dari tangga, masih dengan pakaian tidurnya karena hari ini ia akan sengaja datang ke kantor terlambat—begitu juga dengan Minjoo, dan lalu menemukan meja makan yang kosong seperti tidak pernah ada jejak orang menaruh piring disitu. Jelas, Minjoo tidak tahu satupun resep masakan meskipun acara favoritnya adalah acara memasak.

“Tapi masa iya kau tidak berusaha selama kurang lebih 10 tahun lamanya?!” Baekhyun berteriak kesal lagi sambil masih menatap garang Minjoo dan Minjoo hanya semakin menggigit bibirnya ke dalam. Tidak tahu harus berbuat apa karena dia memang sama sekali tidak bisa memasak. Bahkan ramyun pun bisa ia buat mengembang sebesar pancinya.

Karena tahu meski Baekhyun akan memarahinya sebagaiamana keraspun Minjoo tetap tidak bisa memasak, Baekhyun pun menghelakan nafasnya sambil memijat keningnya. “Ya Tuhan… kenapa aku menikah dengan gadis seperti ini..”

Baekhyun pun menyerah, setelah menghembuskan nafasnya dia langsung menatap Minjoo tajam.

“Harusnya aku yang mengeluh dinikahkan denganmu selama ini. Nyatanya bukan kau yang akan dirugikan melainkan aku!” Dia pun merenguh kesal sebelum berjalan melewati Minjoo menuju lemari es dibelakang gadis itu. Minjoo pun berdecak kesal sambil menatap Baekhyun sebal, “Ya lalu kenapa kau tidak melawan seperti aku kalau kau merasa dirugikan juga, bodoh!” ucapnya sangat pelan tanpa sepengetahuan Baekhyun.

Saat Minjoo menghampiri Baekhyun ditempatnya berdiri, Minjoo menatap takjub semua yang Baekhyun lakukan. Baekhyun persis seperti koki yang ada di variety show memasak setiap hari minggu yang selalu Minjoo lihat. Tangannya begitu cekatan memotong sayuran, mengaduk telur lalu memasak semuanya. Kalian suka lihat bukan saat para koki memasak akan keluar api dari wajan yang ia gunakan? Baekhyun melakukan itu di hadapan Minjoo dan itu membuat Minjoo bertepuk tangan kagum sambil melupakan apa yang ia lakukan begitu bodoh saat ini.

“Kau ini anjing laut ya? Menjijikan sekali!”

Minjoo pun hanya mendengus kesal dikomentar seperti itu.

.

“WUAAAHH!”

Baekhyun sampai menjatuhkan sendoknya saat Minjoo berteriak seperti itu.

“Ini enak, Baekhyun-ah! Aku baru tahu kau bisa masak!” ucapnya dengan riang sambil terus memakan telur dadar dengan campuran sayur dan daging. Padahal, bahan utamanya hanya telur namun Baekhyun bisa membuatnya seperti masakan di hotel bintang lima.

“Ck. Aku baru tahu bahwa kau semenjijikan ini, Han Minjoo.” Sambil menyuapkan kembali makanannya, Baekhyun menggeleng-geleng kepalanya pada Minjoo.

Minjoo pun terdiam lalu menatap Baekhyun dengan penuh selidik, “Kau.. sejak kapan belajar masak, Baekhyun?”

“Aku belajar masak di London karena tidak mungkin aku makan makanan cepat saji setiap hari atau mati kelaparan karena tidak makan.” Ucapnya. “Kau harusnya berterima kasih padaku karena aku akan membiarkanmu terus hidup untuk ke depannya, Han Minjoo.”

Minjoo menghela nafas kasar, ya benar sih apa yang Baekhyun katakan. Kalau Baekhyun tidak bisa memasak, mereka akan mati perlahan karena pengawet dari makanan cepat saji atau mati kelaparan.

“Hm, terima kasih.” Ucap Minjoo dengan malas lalu melanjutkan makannya. Baru saja Minjoo menikmati makanannya untuk sendok yang ke lima, Baekhyun membuka suara lagi.

“Ah, karena kau tidak bisa memasak maka kau memilik bagian harus membereskan rumah ini setiap hari.”

Minjoo tersedak dan langsung meminum airnya dengan cepat. “Setiap hari?! Kau gila apa!?”

“Itu bukan masalah yang besar dibanding tidak makan setiap hari, bodoh.”

“Kita bisa menyewa pembantu!”

“Aku tak suka ada orang lain di rumahku sendiri.”

Minjoo tercengang dan menatap Baekhyun tidak percaya. Tidak mengerti ada orang seiblis Baekhyun yang mau menghancurkan hidup Minjoo seperti ini.

“Apa masalahmu denganku sebenarnya, hah?!” Minjoo menyentak keras kali ini karena dia benar-benar berada di pitamnya, “Kenapa kau terus mengerjaiku, Byun Baekhyun!!”

“Masalahku padamu itu banyak namun aku melakukan itu bukan semata-mata karena aku membencimu! Aku hanya membagi tugas pekerjaan rumah dengan adil di rumah ini, aku memasak dan kau membereskan rumah. Apa salahnya?”

“Tapi rumah ini besar, Baekhyun-ah!” Minjoo membuat gesture dengan melebarkan tangannya ke atas dan ke samping. “Ini tidak adil dengan dirimu yang hanya memasak!”

“Hanya memasak?” Baekhyun menambah senyuman menyebalkan di sudut kiri bibirnya. “Oh lalu kau mau tidak makan setiap hari atau makan dengan makanan cepat saji setiap hari? Entah pilih yang mana tapi dua-duanya akan mengakibatkan kau mati di akhir, bodoh!”

Minjoo menghela nafasnya lagi, rasanya ia benar-benar ingin memutilasi Baekhyun saat ini. “Pokoknya kita menyewa pembantu saja! Titik!”

“Aku tidak mau! Ini rumahku jadi saat aku bilang aku tidak mau pakai pembantu ya tidak!”

“Rumahmu!?” Minjoo mulai berdiri dari duduknya dan menatap Baekhyun garang. “Ini rumahku juga ya asal kau tahu!”

“Aku yang membeli rumah ini, bodoh. Kau tidak tahu!?”

Minjoo tertawa pelan, “Tidak usah berbohong, Byun Baekhyun! Ini rumah yang dibelikan oleh orang tuaku dan orang tuamu untuk kita jadi ini juga rumahku!”

“Tidak, aku yang membelinya dan orang tuaku beserta orang tuamu hanya memilihkannya! Jika tidak percaya kau tanya saja pada mereka!”

.

.

“Oh, benar dia. Rumah itu yang beli dia..”

Minjoo tertohok oleh pisau yang begitu tajam di tenggorokannya saat mendengar ucapan ibunya di telepon itu.

“A..apa, eomma?”

“Kau benar, Baekhyun yang membeli rumah kalian itu.”

Tak kuasa menahan beban harga dirinya, Minjoo terjatuh ke atas lantai rumah sambil memandang rumah ini dengan mengenaskan. Ternyata Minjoo seperti pengemis saat ini.

“Kenapa eomma bilangnya waktu itu ini pemberian Appa dan Eomma serta Paman Byun dan Bibi Byun!?”

“Sebelumnya itu rumah kalian ini diberikan kepada kami agar saat semua anak kami telah menikah kami bisa hidup bersama. Hanya saja kemudian kami berpikir bahwa lebih baik rumah ini kalian pakai saat kalian sudah menikah saja agar kalian punya rumah sendiri untuk kalian berdua, Minjoo-ya..”

Kali ini Minjoo mengangkat tangannya lalu memijat dahinya yang mulai pening. Rasanya, lebih baik Minjoo loncat dari kamarnya saja daripada harus menanggung rasa malu ini. Tentu saja malu, Minjoo sudah mengaku-ngaku bahwa ini rumahnya juga namun nyatanya rumah ini adalah milik Baekhyun. Belum lagi kata ‘menumpang’ yang ia temukan sedetik setelah ia mengetahui realita itu menamparnya begitu keras. Tidak ada yang lebih mengenaskan selain menumpang tinggal dan menikah dengan musuhmu sendiri, kalian coba pikirkan.

“Kenapa memangnya, Minjoo? Kenapa kau menanyakan hal ini?”

“Eomma harusnya bilang—“ Minjoo sempat meninggikan suaranya namun ia menyerah. Percuma saja jika ia mau melawan. Ia menarik nafas lagi lalu menghembuskannya perlahan lagi.

“Eomma kumohon aku ingin pulang!”

“Ya!” Sentakannya begitu keras hingga Minjoo memundurkan telinganya. “Kau ini sudah menjadi istri orang, kau tidak bisa pulang seenakmu! Kau tidak bisa tinggal dengan eomma dan appa lagi karena kau sudah jadi tanggung jawab suamimu! Kau harus menurut pada Baekhyun atau eomma akan memukulmu jika kau pulang, mengerti!?”

Tut. Tut.

Telepon dimatikan secara sepihak dan meninggalkan Minjoo mengenaskan di atas lantai. Bahkan Ibunya yang selama ini selalu menjadikannya anak kesayangannya pun telah meninggalkannya dengan lelaki yang akan menjadikan dirinya budak. Mungkin Ibunya sudah malu dengan diri Minjoo sendiri.

“Sudah mendapatkan konfirmasinya, Nyonya Byun?”

Minjoo tahu saat itu Baekhyun sedang mengejeknya, maka Minjoo langsung memutar kepalanya dan melihat Baekhyun sedang menyandar pada dinding ruangan. Kali itu Baekhyun sudah tidak mengenakan piyama lagi karena waktu sudah hampir menunjukkan pukul 9 pagi.

Minjoo tidak menjawab pertanyaan Baekhyun dan langsung berdiri dari tempatnya, “Itu pembudakan kau tahu!?” ucapnya karena dia benar-benar kalah saat ini.

“Ck. Han Minjoo.. Han Minjoo..” Baekhyun berdiri tegak kembali sambil menggelengkan kepalanya, dia tahu bahwa Minjoo telah kalah. “Hanya membereskan rumah saja kau anggap aku membudakmu. Bagaimana kalau aku memintamu seorang anak, huh!?”

“Ya!!!!”

.

.

Minjoo tak berhenti menggerutu sejak tadi. Meskipun itu di halte bus, Minjoo tidak peduli. Alasan apalagi kalau bukan seorang Byun Baekhyun yang telah melakukan perbudakan terhadapnya menurut gadis itu.

“Byun Baekhyun sialan.” Ucapnya sambil menggertakkan giginya. “Aku harus mencari tahu kelemahannya dan membuatnya hancur.” Tambahnya lagi sembari menginjak-injak entah apa itu di bawah kakinya. Mungkin satu semut telah mati karena ulahnya itu.

Tin. Tin.

Minjoo melirikkan matanya terhadap mobil yang berhenti tiba-tiba dihadapannya. Kacanya terbuka dan Minjoo langsung mendapatkan api membara kembali setelah mengetahui siapa itu.

“Kenapa kau naik bis? Aku kan membawa mobil.” Ucap Baekhyun sambil memajukan tubuhnya untuk mencapai kaca di sebelahnya.

Minjoo berdecak sebal lalu memajukan tubuhnya masuk ke dalam kaca itu.

“Apa yang membuatmu berpikir bahwa aku mau satu mobil denganmu, sialan!? Aku tidak mau! Pergi sana!” Minjoo menepuk pintu mobil itu dengan debuman yang cukup keras. Baekhyun pikir mobilnya telah bengkok saat itu.

“Ck. Kau marah hanya karena aku menyuruhmu membereskan rumah?” Baekhyun terkekeh pelan masih dengan tatapannya yang merendahkan Minjoo. “Kau benar-benar seperti anak kecil, gadis bodoh.”

“ITU PEMBUDAKAN, BODOH. ITU BUKAN HANYA MEMBERESKAN RUMAH SAJA!!!”

Semua orang melihat Minjoo dengan tatapan ngeri. Antara takut dan menjijikan. Yang jelas, Minjoo tidak peduli dengan tatapan orang-orang saat ini. Dia hanya ingin dirinya tidak selalu diinjak-injak oleh seorang Baekhyun.

“Terserah kau mau menganggap itu perbudakan atau tidak.. ataupun kau mau naik ke mobil ini bersamaku atau tidak.” Ucap Baekhyun. “Yang jelas, kau harus sudah ada di ruanganku 30 menit dari sekarang. Oh kalau bisa 20 menit dari sekarang.” Tambahnya lagi sambil melihat ke arah jam tangannya.

“Hah!? Untuk apa!? Aku tidak mau!!”

Demi Tuhan Han Minjoo, kau harus mengecilkan volumemu karena semua orang kini sudah mengambil ancang-ancang untuk menghubungi rumah sakit jiwa karena teriakanmu.

“Kau lupa? Mulai hari ini aku adalah direktur utama dari HanByun Corporation.” Minjoo tahu apa yang dikatakan Baekhyun selanjutnya akan semakin menjatuhkan dirinya. “Dan mulai dari hari ini juga.. kau adalah sekretaris pribadiku.”

Minjoo benar-benar sedang dijajah oleh Byun Baekhyun.

“Jadi aku ingin kau ada di ruanganku 30 menit lagi. Sampai jumpa.”

Minjoo telah memundurkan tubuhnya sedari tadi maka setelah Baekhyun mengatakan dua kata terakhir itu ia langsung menancap gasnya dengan kencang. Meninggalkan Minjoo yang seperti sedang menyusut menjadi sebesar semut. Semuanya terasa besar disekitarnya dan kata-kata ‘Kau adalah sekretaris pribadiku’ bergema begitu nyaring di telinganya.

Oh Tuhan.. tidak bisakah Kau berikan Han Minjoo satu kesempatan lagi untuk hidup dengan tenang?

.

.

“Ini tidak adil!!!!!!!”

Minjoo berteriak begitu kencang. Kaca bergetar, meja bergoyang, kursi kerja berjalan dengan sendirinya. Air di dalam gelas beriak-riak, membuat gelombang tsunami yang hanya terjadi di dalam gelas itu. Lengkingan suara Minjoo rasanya membuat gempa berkekuatan 10 skala ritcher telah terjadi di dalam ruangan sekretaris gedung ini.

“Ini tidak adil!! Kenapa aku dijadikan budak oleh laki-laki bajingan itu!!!”

Sehun dan Yubi yang berada di ruangan kini tengah menutup kupingnya. Rasanya telinga mereka mau pecah saat itu.

“Noona! Aku tahu ini tidak sopan tapi suara noona benar-benar menyakitiku!” ucapnya kemudian sambil meniup-niup kepalannya dan memasukkannya kedalam telinga. Semoga telinganya tidak berdengung kembali.

“Ya!!” Minjoo menghampiri Sehun di mejanya lalu menarik kerah pria itu. Jangan tanyakan Sehun seperti apa, rasanya pria itu kini tengah menghadapi kematiannya.

“Hanya karena aku berteriak kau bilang aku menyakitimu!? Lalu bagaimana aku yang sedari tadi di suruh datang dan pergi ke ruangan si pria sialan itu hanya untuk sekedar mengambilkan mapnya ataupun menutupi jendelanya, Oh Sehun!!”

“Apa kau tidak tahu bahwa itu menyakiti batin dan jasmaniku, hah!!!”

Sehun rasa telinganya telah pecah saat ini.

“Eonnie..” Yubi yang telah berhasil menetralisir dengungan di telinganya menghampiri Minjoo. Dia harus bisa menenangkan Minjoo atau dia juga akan seperti Sehun.

“Eonnie harus sabar..” ucapnya begitu lembut sambil mengelus-elus punggung Minjoo. “Coba eonnie mengadu saja pada ayah eonnie, mungkin ayah eonnie akan mendengar—“

“DIA TIDAK AKAN MENDENGARKU LEE YUBI!! DI DUNIA INI TIDAK ADA YANG AKAN MENDENGARKU!!!”

Semua lengkingan di ruangan ini terjadi karena ulah dari si tokoh antagonis versi cerita Han Minjoo, Byun Baekhyun. Seperti yang telah pria itu sebutkan saat di halte bus tadi, hari ini memang benar dia telah dinobatkan menjadi direktur utama dari HanByun Corporation. Menggeser posisi kakaknya, Han Hyojoo, yang sekarang ini hanya menjadi wakil direktur utama dan seperti yang telah tadi pria itu bilang, Minjoo resmi menjadi sekretaris pribadi dari pria itu.

Sekarang coba kita definisikan apa makna sekretaris pribadi itu. Menurut riset yang Minjoo cari di internet, sekretaris pribadi adalah seseorang yang membantu pimpinan dalam menjalankan kegiatan perkantoran. Oke, sekarang mari Minjoo garis bawahkan lalu di-bold-kan dari kata menjalankan kegiatan perkantoran. Baekhyun sama sekali tidak melakukan itu padanya!

Sedari tadi, Minjoo sudah terhitung datang dan pergi dari ruangan Baekhyun sebanyak 10 kali dalam dua jam hanya untuk meladeni permintaan Baekhyun yang menurut Minjoo bisa ia lakukan hanya menggerakan jempol kakinya.

Masa, Baekhyun menyuruhnya untuk menutup tirai jendelanya karena ia merasa matahari terlalu silau? Lalu ada lagi Baekhyun yang menyuruhnya untuk menutup gelas minumnya padahal gelas itu berada tepat di depan matanya. Ada juga Baekhyun yang harus mencari mapnya padahal itu jelas-jelas berada di lacinya. Coba kalian sambungkan dengan definisi sekretaris pribadi yang Minjoo sudah sebutkan. Dari semua hal yang Minjoo sudah lakukan, mana yang menujukkan bahwa ia sedang melakukan pekerjaan perkantoran!? Kecuali kalau artinya membantu pimpinan dalam menjalankan kegiatan di kantor, maka Minjoo melakukan tugasnya dengan benar. Hanya saja, jika definisi sekretaris pribadi seperti itu maka itu tidak jauh dengan definisi pembantu di kantor!

“Aku harus protes pada eonnie! Harga diriku sebagai Han Minjoo tidak bisa seperi ini!!”

Minjoo keluar dari ruangannya lalu menghentakkan kakinya keras-keras menuju ruangan eonnienya.

“Eonnie!!”

Han Hyojoo dan Park Chanyeol langsung memegang jantungya saat Minjoo menggebrak pintu sekencang itu.

“Aku tidak mau menjadi sekretaris pribadi Byun Baekhyun lagi!!” Minjoo berteriak dan langsung menepuk-nepuk meja Hyojoo dengan keras. Untung saja tidak pecah karena meja Hyojoo terbuat dari kaca.

“Dia memperbudakku, eonnie!!”

Chanyeol menatap Minjoo dengan sebal masih berusaha untuk menetralisir jantungnya yang hampir lepas, “Ya! Pelankan suaramu!”

“Park Chanyeol! Kau saja yang menjadi sekretaris pribadi Baekhyun, hm!?” Minjoo tidak mempedulikan perkataan Chanyeol sebelumnya dan kini telah menatap Chanyeol dengan harapan. Memang, semenjak Hyojoo menjadi wakil direktur utama perusahaan Chanyeol menjadi sekretaris pribadi eonnie-nya itu. “Kalau kau mau posisiku sebagai kepala sekretaris tidak apa-apa! Aku berani menyerahkannya untukmu!”

Chanyeol melirik Hyojoo dan Minjoo dengan bimbang. Di satu sisi tawaran Minjoo begitu menarik untuk diterima. Menjadi kepala sekretaris tentunya merupakan track record yang bagus untuk Chanyeol di perusahaan ini.

“Tidak bisa!” Hyojoo membuyarkan harapan Chanyeol dan membalikkannya pada realita. “Kau harus tetap menjadi kepala sekretaris dan sekretaris pribadi Baekhyun!!”

Minjoo yang mendengar itu pun rasanya telah jatuh untuk sejuta kali ke lubang yang berada di bawahnya. “Eonnie! Kenapa sih tidak mengerti?! Aku kan sudah bilang dia itu menjadikan aku budaknya! Eonnie tidak tahu apa yang ia lakukan sedari tadi!? Dia menyuruhku untuk hal-hal yang pembantu lakukan, eonnie tahu!!”

Hyojoo mencoba melihat Chanyeol yang kini sedang meliriknya juga dan Hyojoo tahu ada sorot kekecewaan dari tatapan Chanyeol saat itu.

“Han Minjoo.. sudah berapa kali eonnie bilang, kau harus mencoba membaca dan mengerti setiap yang Baekhyun lakukan padamu. Kau tidak mengerti bahwa dia sedang mencari perhatian padamu?” ucap Hyojoo dengan lembut dan meyakinkan. “Kau hanya harus sabar menghadapinya, maka kau akan mengerti apa yang dia lakukan, Minjoo-ya..” Hyojoo paling mengerti apa yang harus ia lakukan untuk menaklukan hati adiknya.

“Mencari perhatian!? Mencari perhatian apanya!! Dia itu menjatuhkanku!! Dia itu ingin menjadikan aku budaknya!! Dia sedang melakukan pembalasan!!” Minjoo mengucapkan semua kata itu dalam satu detik dan teriakan di setiap katanya. Ubun-ubunya sudah pecah oleh api saat itu.

Hyojoo menyerah, ia menghela nafas. “Terserah apa katamu pokoknya kau tetap menjadi sekretaris pribadi Baekhyun! Entah kau mau protes atau melakukan pemberontakan, aku tidak akan peduli! Kau harus tetap menjadi sekretaris pribadinya, titik!”

Minjoo pun menghela nafas terakhirnya. Benar-benar terakhir, karena Minjoo seperti sedang di cabut nyawanya oleh Tuhan saat ini.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Suasana di mobil begitu sunyi, seperti hanya ada satu pengemudi padahal jelas-jelas ada dua orang di dalam mobil itu.

“Chanyeol-ah, kau marah padaku?”

Hyojoo membuka suaranya untuk menghidupkan suasana. Seperti perkataannya, Hyojoo bisa tebak alasan dari diamnya Chanyeol saat ini. Hyojoo sudah hidup begitu lama dengan Chanyeol, mungkin terhitung sudah 7 tahun lamanya dia mengenal Chanyeol. Hyojoo tahu apa saja yang akan membuat Chanyeol senang. Hyojoo tahu apa saja hal yang paling dibenci Chanyeol. Hyojoo juga tahu segala makanan dan minuman yang Chanyeol suka dan tidak suka. Jika Hyojoo boleh percaya diri, mungkin tidak ada yang lebih mengenal Chanyeol sedalam itu selain Hyojoo.

Chanyeol masih terdiam dan terus menatap jalanan tanpa mau menjawab perkataan Hyojoo. Bahkan niatan untuk mendengarkan pertanyaan Hyojoo pun tidak ada rasanya.

Hyojoo menghembuskan nafasnya dan kini menghadap Chanyeol sepenuhnya, “Chanyeol-ah.. kau kan tahu noona paling tidak suka kalau kau marah kau mendiami noona.” Tuturnya, “Noona lebih suka kau marah langsung daripada harus berpura-pura tidak mendengar noona seperti ini..”

Chanyeol masih terdiam namun detik selanjutnya ia menyerah.

“Kenapa.. noona tidak memberikan kesempatan itu padaku?”

“Kesempatan apa, Chanyeol-ah?”

“Untuk menjadi kepala sekretaris. Seperti yang Minjoo tawarkan.”

Hyojoo kini mengerti alasan dari marahnya seorang Park Chanyeol.

“Kenapa.. noona?”

Hyojoo menghela nafasnya lagi dan lagi. Hyojoo mengerti, pasti Chanyeol sangat kecewa dengan keputusannya tadi siang untuk tetap menjadikan Minjoo sekretaris pribadi Baekhyun padahal Minjoo sudah mau memberikan tempatnya pada Chanyeol.

Hyojoo juga mengerti, mengapa Chanyeol menginginkan itu semua.

“Chanyeol-ah.. aku berharap kau mengerti bahwa yang kulakukan tadi demi kebaikan Minjoo. Aku ingin Minjoo dan Baekhyun bisa akur seperti dahulu dengan begitu pernikahan mereka bisa berjalan dengan sempurna seperti aku dan orangtuaku harapkan..”

“Lalu bagaimana dengan diriku, noona?”

Chanyeol berkata dengan tatapan sendu pada Hyojoo. Membuat Hyojoo merasakan apa yang Chanyeol juga rasakan saat ini.

“Bagaimana dengan diriku yang menunggu selama 7 tahun untuk bisa hidup bersamamu? Atau aku ingin bertanya padamu.” Chanyeol mengubah tatapan menjadi sangat serius.

“Apa noona.. menyukaiku? Apa noona memberikanku tempat di hatimu? Apakah noona.. mencintaiku?”

Hyojoo terdiam dan ia tidak tahu harus menjawab bagaimana.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Minjoo melepaskan sepatunya lalu menaruhnya di rak sepatu. Mukanya kusut, begitu juga hatinya yang kusut. Rasanya Minjoo ingin langsung tertidur pulas meskipun di atas lantai detik itu juga.

“Kau sudah pulang?”

Minjoo tersentak kaget saat ia mencoba menaiki tangga. Tangganya memang berada tepat di samping dapur, tempat dimana keberadaan Baekhyun detik ini.

“Kenapa baru pulang sekarang?”

Demi Tuhan, rasanya Minjoo ingin lari lagi ke depan pintunya dan membawa sepatunya. Ia ingin memukul Baekhyun menggunakan haknya sampai kepala pria itu berdarah. Hanya saja ia terlalu lelah melakukan itu semua.

“Kau yakin bertanya itu? Kau menyuruhku menuliskan seluruh laporanmu hari ini sebelum aku pulang tadi!”

Baekhyun berdecak sambil menggelengkan kepalanya. Kini ia sedang menumpahkan sesuatu yang tampak nikmat di mata Minjoo ke atas piring namun Minjoo terlalu malu untuk mengakuinya.

“Ya.. kau sudah berapa lama sih menjadi sekretaris? Membuat laporan adalah hal yang mudah dan kau tidak perlu menghabiskan waktumu sampai larut begini hanya untuk menulisnya..” Baekhyun menjeda perkataannya namun dia melanjutkan lagi. “Ya kecuali kalau kau bodoh.”

Minjoo menghela nafasnya lalu merendam seluruh amarahnya. Hari ini tenaganya sudah habis untuk meladeni Baekhyun, dia tidak mau menghabiskan sisa tenaga terakhirnya untuk hari ini hanya untuk menanggapi penghinaan Baekhyun. “Terserahmulah, aku lelah.”

“Ya. Makan malam dulu.”

Minjoo menghentikan langkah kakinya lalu melirik ke arah Baekhyun.

“Makan malam dulu, Han Minjoo. Baru istirahat..”

Itu adalah perkataan terlembut dan terhangat yang pernah Baekhyun ucapkan. Untuk hari ini, karena Baekhyun sebelumnya juga pernah mengatakan kata-kata yang hangat seperti malam kemarin.

“Apa kau bilang?” Minjoo bertanya untuk memastikan jika ia tidak salah dengar.

“Makan dulu, Han Minjoo. Baru istirahat.” Ucapnya kali ini menatap Minjoo lurus-lurus.

Minjoo menelan saliva sekaligus hatinya yang tiba-tiba melambung tinggi ke tenggorokan. Tidak, Han Minjoo. Kau tidak boleh terjatuh kepada pesonanya, begitu otaknya yang berbicara.

Minjoo perlahan memutar tubuhnya lalu berjalan ke arah meja makan. Ia mencoba sebisa mungkin untuk tidak terlihat gugup dan sepertinya itu berhasil.

“Terima kasih.” Ujarnya lalu duduk di kursi. Baekhyun menaikkan satu alis matanya, hendak bertanya terima kasih untuk apa namun Minjoo lebih dulu menjelaskan. “..untuk makanannya.”

Baekhyun pun mengacuhkan perkataan itu.

Mereka makan malam dengan sangat tenang. Ugh, rasanya menyebalkan dalam suasana setenang itu bagi Minjoo. Minjoo bukanlah tipikal gadis yang bisa diam meskipun hanya satu menit. Dia selalu ingin menghidupi suasana meskipun bersama musuh abadinya sekalipun.

“Ngomong-ngomong, kau membeli rumah ini pakai apa, Baek?” tanyanya. Ya tidak penting sih, tapinya itu pasti bisa membuat suara dentingan piring tidak terlalu kentara di telinganya.

“Dengan uang tentunya.” Ucap Baekhyun dengan menyebalkan. “Pakai daun memangnya?”

Minjoo menarik nafasnya lalu menghembusnya lagi, “Ya aku tahu pakai uang, Byun Baekhyun.” Minjoo telah berhasil untuk tidak melempar sendok pada wajah Baekhyun, “Maksudku kau mendapatkan uangnya darimana.”

“Aku selama ini bekerja di perusahaan.”

“Perusahaan mana?”

“Ya perusahaan ayah-lah.”

“Hah?” Minjoo menjeda makannya dan menatap Baekhyun bingung. “Kau kan baru saja bekerja hari ini?”

“Ck.” Baekhyun terkekeh pelan lalu menatap Minjoo, “Kau tidak tahu selama aku tinggal di London ini aku menjadi manager marketing perusahaan, Han Minjoo?”

Minjoo menggelengkan kepalanya. Dia benar-benar tidak tahu soal itu karena orang tuanya tidak pernah membahas.

“Sebenarnya bukan menjadi manager marketing di perusahaan Korea, melainkan di cabang London.” Baekhyun sedang mencoba mengingat kenangannya ketika bekerja di cabang London itu, “Aku bekerja untuk memajukan perusahaan cabang London dan aku berhasil. Aku mendapatkan uang kompensasi yang begitu besar sehingga akhirnya aku membeli rumah ini.”

“Dan itu juga yang membuatmu tinggal selama 6 tahun disana?” tanya Minjoo dan Baekhyun menganggukan kepalanya.

“Aku menyelesaikan studi sarjanaku 3 tahun disana. Lalu sambil bekerja aku juga menyelesaikan studi magisterku disana selama dua tahun. Sebenarnya aku bisa saja tinggal di London hanya selama 5 tahun hanya saja waktu itu perusahaan di London belum bisa aku tinggal maka aku bertahan untuk satu tahun selanjutnya.”

Minjoo mengangguk-anggukan kepalanya namun dia kemudian sadar sesuatu.

“Kau menyelesaikan studi sarjana dan magistermu dalam 5 tahun!?”

Baekhyun melihat Minjoo dengan tatapan aneh sambil menganggukan kepalanya perlahan.

“Ya!! Apa kau sejenius itu!?”

“Kau tak tahu aku sejenius itu, hah!?” Baekhyun tertawa bangga, “Aku kan si Baekhyun ranking satu se-sekolah. Kau tak seharusnya kaget kalau aku sejenius itu, Minjoo-ya.”

Minjoo menatap Baekhyun dengan jijik. Rasanya Minjoo menyesal telah membuatnya merasa menjadi lebih tinggi lagi daripada Minjoo.

Ketika suasana mulai hening kembali, Baekhyun menanyakan suatu pertanyaan yang membuat Minjoo tersedak.

“Selama aku di London.. apakah kau punya kekasih, Minjoo-ya?”

“Uhuk!”

Minjoo langsung mengambil air dan meminumnya cepat-cepat. Apa yang barusan Baekhyun tanya?

“Ya, ulangi pertanyaanmu. Aku takut aku salah dengar.”

“Kau punya kekasih sebelum kita menikah, Minjoo-ya?”

Minjoo terdiam menatap Baekhyun. Tidak tahu mengapa pertanyaan itu membuatnya membeku di tempat.

Kekasih? Minjoo tidak pernah punya kekasih selama ini. Dahulu, waktu Baekhyun dan dirinya belum menyatakan perang, satu-satunya lelaki yang ada di sampingnya adalah Baekhyun. Hanya Baekhyun yang mau menjadi sahabat petirnya di kala hujan. Hanya Baekhyun yang mau mengalah untuk tidak memakan pinggiran brownies bakar untuk Minjoo. Hanya Baekhyun yang mau membelikannya pembalut saat Minjoo menstruasi untuk pertama kalinya di sekolah. Masih banyak ‘hanya Baekhyun’ yang lainnya yang telah pria itu lakukan untuk Minjoo, membuat Baekhyun menjadi salah satu orang yang spesial untuk Minjoo. Yang sudah menghabiskan hidupnya dari mereka kecil seperti anak kembar berbeda jenis kelamin. Seperti sebagian dirinya, Baekhyun seperti itu untuk Minjoo.

“U-untuk apa kau ingin mengetahui itu?” tanya Minjoo dengan gagu.

“Ya.. aku ingin tahu seberapa laku dirimu disini.” Ucap Baekhyun, “Ingin tahu apakah ada lelaki yang mau pada dirimu yang begitu tidak bisa disebut gadis ini.”

Minjoo menjauhkan perasaannya yang menghangat dan membuang jauh-jauh memori akan dirinya dan Baekhyun di masa lalu. Baekhyun memang se-setan ini.

“Ada!! Aku punya kekasih sebelum kita menikah! Kau puas!?” tentu saja itu bohong, “Memangnya aku ini sepertimu apa!? Yang tak laku dan tidak punya pacar!?” ucapnya dengan puas meskipun Minjoo yakin bahwa Baekhyun akan berkata sebaliknya.

“Ya, kau benar. Aku memang tidak punya pacar selama ini.”

Eh?

“Aku hanya bersama buku-buku pelajaran dan perusahaan ayah selama ini. Tentu saja aku tidak punya kesempatan untuk mencari wanita.”

Minjoo terdiam dan mencoba mencari sesuatu di balik pandangan Baekhyun itu. Minjoo tahu, itu semua tidak bohong. Dia mengatakan yang sebenarnya.

“Lalu.. apa kau pernah punya seseorang dihatimu, Baekhyun-ah?”

Han Minjoo. Apasih yang kau pikirkan? Rasanya Minjoo ingin menjahit mulutnya sendiri karena menanyakan hal sebodoh itu.

“Ck. Kau tidak perlu tahu. Nanti kau tahu sendiri.” Baekhyun berdiri dari tempatnya lalu meninggalkan makanannya yang tersisa satu sendok lagi. “Aku sudah selesai. Kau cuci piringnya. Ingat pembagian kerja kita, Minjoo.”

Minjoo baru saja akan mencerna kalimat pertama Baekhyun namun kalimat keduanya itu benar-benar menampar Minjoo.

“Kau.. bilang.. aku bisa istirahat setelah makan, Baekhyun-ah?” tanyanya terbata-bata sambil menahan nafasnya. Dia seperti air mendidih oleh api yang membara.

“Iya kau bisa istirahat setelah makan namun tetap.. kerjakan dahulu bagianmu karena aku sudah mengerjakan bagianku yaitu hanya memasak. Jangan lupa kalau peranmu harus membereskan rumah ini, Minjoo-ya.” Ucapnya lalu berjalan menaiki tangga, menuju kamar mereka.

“Ya..” Minjoo tak terima dengan ini semua. Sebenarnya setan apa sih yang merasuki Baekhyun sampai dia tidak punya hati nurani sedikitpun pada Minjoo?!

“Ya!! Kau bajingan tidak punya hati!! Kalau begitu aku tidak usah makan saja tadi!!”

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Baekhyun semakin menggila. Rasanya Minjoo ingin menyuruh nenek sihir ataupun siapapun yang intinya adalah seseorang yang mempunyai kekuatan magis agar dia bisa mengutuk Baekhyun menjadi kecoak lalu dia injak sampai mati.

Minjoo benar-benar diperlakukan sebagai pembantu pribadi Baekhyun—catat itu, pembantu. Bukan sekretaris. Setiap harinya Baekhyun menyuruh Minjoo hal-hal yang masih sama tidak pentingnya seperti hari pertama:

“Han Minjoo, tolong ambilkan pulpenku disitu!”

“Han Minjoo, tolong bersihkan file ini dan taruh di lemari!”

“Han Minjoo!”

“Han Minjoo!”

Ya Tuhan! Rasanya Minjoo ingin mengubah namanya agar ia tidak mendengar titahan dari Baekhyun.

Sebenarnya, apa sih masalah Baekhyun pada Minjoo? Kenapa Baekhyun sebegitu terobsesinya untuk mengerjai Minjoo sampai seperti ini? Menjadikannya pembantu baik di rumah ataupun di kantor. Terlebih menjadi pembantu di rumah. Memang sih, jika dihitung secara matematis, proporsi mereka cukup adil. Baekhyun bagian memasak dan Minjoo membersihkan rumah. Baekhyun mengurusi kebutuhan dalam tubuh mereka sedangkan Minjoo kebutuhan luar tubuh mereka. Tapi, jika di hitung secara logika, pembagian pekerjaan rumah itu benar-benar tidak adil! Masa Minjoo harus membersihkan rumah yang luasnya setengah dari rumah orang tua Minjoo yang sebesar istana itu!? Sebenarnya tidak terlalu berat sih dibanding harus membereskan rumah orang tua Minjoo, tapi tetap saja ini pembudakan!

“Sehun-ah! Yubi-ya!”

Minjoo berteriak memanggil mereka berdua dari pintu ruangan. Dia baru saja turun dari ruangan Baekhyun. Nafas Minjoo cukup terengah, menandakan ia benar-benar lelah dengan semua yang Baekhyun lakukan.

Brak!

Minjoo melemparkan satu tumpuk file yang begitu banyak di hadapan meja Sehun. Membuat Sehun menelan salivanya susah payah, begitu juga Yubi yang telah menghampiri meja tersebut.

“Si sinting Baekhyun..” Minjoo menjeda perkataannya karena ia sedang menarik nafasnya. “..menyuruhku untuk merevisi semua laporan ini. Deadline lusa.”

“APA!?” Sehun berteriak sangat kencang hingga Yubi memukul bahunya. Terlalu berlebihan.

“Sebanyak ini dengan deadline lusa, eonnie?” tanya Yubi kemudian. Sambil menatap ringis Minjoo juga.

Minjoo menarik nafas banyak-banyak setelahnya ia mencoba untuk meluruskan badannya yang sudah seperti berlari sepuluh kilometer per hari.

“Maka dari itu..” Minjoo membuka suaranya tanpa menjawab kedua pertanyaan mereka sebelumnya, “Kalian harus membantuku mengerjakan ini.”

Sehun dan Yubi saling melirik. Maksudnya adalah mereka sedang saling memberi kode bahwa mereka tidak mau membantu Minjoo. Kejam memang, tapi pasalnya laporan ini banyak sekali. Mungkin bisa menghabiskan tenaga mereka untuk sepuluh hari ke depan.

“Noona.. em.. bukannya kami jahat—“

“Akan kuberi gaji tambahan 10 persen!” Minjoo memohon, menyatukan kedua tangannya. “Kumohon Yubi-ya.. Sehun-ah.. kalian tega dengan noona dan eonnie kalian ini, huh? Jika aku melakukannya sendiri mungkin kalian akan mendengar berita bunuh diri atas nama diriku di koran pagi besok..”

Minjoo merundukkan tubuhnya agar semakin terlihat memohon. “Kumohon, tolong aku..”

Yubi yang tak tega pun menghela nafas sambil tersenyum lembut. Rasanya ia terlalu jahat tadi saat melirik-lirik matanya dengan Sehun dan berkata dalam hati aku-tidak-ingin-menolongnya, “Aku akan membantu eonnie. Tanpa kenaikan gaji pun tidak apa-apa asalkan traktir aku makan siang yang enak selama tiga hari saja.” Yubi tersenyum kuda. Minjoo terharu mendengar itu, tentu saja hanya dibayar oleh makan siang bukan masalah yang besar untuk Minjoo.

“Yubi-ya..” Minjoo berlari ke tempat Yubi berdiri dan langsung memeluk Yubi setelah tepat di sebelahnya. “Terima kasih!! Kau mau makan dimana, huh!? Dimana pun aku akan mentraktirmu! Tiga hari?! Seminggu pun boleh!!”

Yubi terkekeh sambil membalas pelukan Minjoo, “Iya, iya.. sama-sama, eonnie.”

Sehun pun menghela nafasnya juga lalu ikut menyuarakan kesetujuannya, “Aku juga mau membantu noona.. naik gaji 5 persen saja sudah cukup.” Ucapnya pelan di akhir kata.

Minjoo terkekeh sambil melepaskan pelukannya dari Yubi dan mengacak rambut Sehun, “Aigoo! Dasar perhitungan. Tapi, terima kasih! Kalian berdua memang adik kesayanganku!”

Minjoo menatap mereka berdua dengan senyuman merekah secara bergantian lalu setelahnya ia teringat lagi dengan Baekhyun.

“Si sinting itu.. lihat saja nanti. Aku akan membalasnya suatu saat nanti.”

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Rasanya, Yubi ingin berterima kasih pada pencipta earphone karena telah menciptakan barang yang memberi kepuasan begitu tinggi untuk seorang Yubi. Entahlah, dia memang sangat mencintai earphone. Paling benci jika melihat kabel earphone terbelit, tidak suka meminjamkan earphone kepada orang lain, dan akan menangis tersedu-sedu jika earphonenya hilang. Kecintaannya terhadap earphone juga merambat pada hal lain, yaitu musik. Entah yang mana terlebih dahulu antara musik dan earphone, yang jelas kedua barang itu memang ditakdirkan untuk bersatu menurut Yubi.

Tin. Tin.

Yubi yang tadinya sedang menunggu bis untuk pulang sambil mendengarkan musik melalui earphone itu melihat ke depan. Sebuah mobil hitam dan detik selanjutnya kaca mobil tersebut terbuka.

“Ya! Kenapa kau baru pulang!?” teriaknya, bertanya.

Yubi pun melepas earphonenya sebelah lalu bertanya pada Sehun, “Apa? Aku tidak dengar.”

“Kenapa kau baru pulang, hm? Apa yang kau lakukan di kantor sampai malam begini?” Sehun mengulang pertanyaannya meskipun ia berdecak kesal sebelumnya.

“Aku mengerjakan laporan eonnie dahulu tadi karena aku ingin tidur cepat di rumah.” Yubi pun menyipitkan matanya, “Kau sendiri? Kenapa kau baru pulang? Kau kan sudah pulang sejak sore tadi.”

“Tadi aku bertemu seseorang dahulu, sekarang baru pulang.” Ucapnya, “Kalau begitu, pulang bersamaku saja. Aku antar sampai rumah.”

Yubi berpikir sebentar lalu ia menggeleng pelan, “Tidak usah. Aku ingin naik bus saja.”

“Ya!” Sehun berteriak, “Sudah baik aku menawarkan malah kau tolak. Cepat naik!”

Yubi mendengus kesal lalu ia merapikan earphonenya dan memasukkannya ke dalam tas. Setelahnya, ia langsung masuk ke kursi penumpang di sebelah Sehun.

“Kenapa kau memaksa, terserah aku kan aku mau pulang sendiri atau tidak..” ucapnya lalu menaruh tasnya di bawah sambil berusaha untuk memasang sabuk pengaman.

“Ck. Lee Yubi, apa kau tidak tahu tata krama? Kalau ada orang yang menawarkan bantuan, kau harus menerimanya. Bukan menolaknya.” Sehun memerhatikan Yubi yang kesulitan memasang sabuk pengamannya. Karena tidak kunjung terpakai, Sehun pun bertanya dengan sebal, “Ya. Kau bisa pakai sabuk pengamannya tidak?”

“Susah, Sehun-ah.” Yubi mengeluh sambil masih berusaha untuk memasangkannya susah payah. “Ini mobil bekas ya? Makanya sabuk pengamannya sudah rusak.” Yubi berucap seperti itu karena Sehun baru saja membeli mobil ini sekitar beberapa hari yang lalu. Kemarin-kemarin ini dia sempat menyombongkannya di kantor, berkata bahwa ia membeli mobil itu dari gajinya selama ini padahal jelas-jelas diberikan oleh kakak iparnya.

Sehun mendecakkan lidahnya kesal lalu pada akhirnya ia memajukan tubuhnya. Melewati wajah Yubi sambil menarik lepas sabuk pengaman Yubi yang dipegang gadis itu dan menyisakan jarak lima sentimeter antara pipinya dan wajah Sehun.

Tentu saja, Yubi membulatkan matanya. Ada satu fakta yang selama ini gadis itu sembunyikan dari semua orang, entah itu temannya, Chanyeol ataupun Minjoo yang sudah ia anggap kakak sekaligus.

Yubi menyukai Sehun. Sangat menyukainya, ralat. Bagaimana bisa seorang Yubi yang notabenenya gadis kencur nan polos tidak jatuh hati pada Sehun yang tampannya sejagat raya itu? Sehun yang kulitnya putih, dagunya panjang, bibirnya tipis, badannya proporsional dan tingginya itu melebihi Yubi sehingga jika Yubi memeluknya bisa tepat pada dadanya. Sekarang coba kalian posisikan diri kalian sebagai Yubi, kalian juga pasti langsung jatuh hati pada Sehun di pandangan pertama, sama seperti Yubi.

“Begini saja tidak bisa. Dasar gadis desa.” Ucapnya setelah berhasil memasangkan sabuk itu lalu kembali ke tempatnya. Yubi terdiam membeku karena itu semua. Menyadari Yubi yang terdiam membeku, Sehun pun mengernyitkan keningnya.

“Kau kenapa? Kenapa mukamu memerah?”

Rasanya Yubi ingin menangis detik itu. Mungkin, setelah ini semua rahasia perasaannya akan terungkap oleh Sehun.

“Hm? A-aku—“

Nada ponsel Sehun berdering dan ia langsung mengangkatnya. Siapapun yang menelepon, Yubi ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya.

“Ok, sweety. Tunggu sebentar lagi, ok?”

Yubi langsung menjatuhkan harapannya setelah mendengar panggilan itu. Inilah alasan mengapa Yubi tidak bisa mengungkapkan perasaannya pada Sehun atau yang lainnya. Yubi bukan dan tidak pernah menjadi tipe seorang Sehun. Tubuh Yubi tidak seproporsional model, dia pendek, rambutnya pendek, pipinya chubby. Yubi tahu seperti apa tipe Sehun karena ia kerap kali bertemu Sehun dengan kekasihnya yang sering ganti-ganti itu—tentu saja seperti yang kalian tebak, tinggi, langsing, seksi dan memiliki ukuran dada yang besar. Karena perkataan yang terakhir itu membuat Yubi melihat ke dadanya, ugh sepertinya Yubi harus operasi plastik terlebih dahulu.

Mencoba untuk melupakan keresahannya, Yubi mencoba untuk menatap Sehun dengan garang. Aksi andalannya kalau dia sedang cemburu tapi Sehun tidak mengetahuinya.

“Ya. Gadis mana lagi itu, hm!?” Yubi memukul kepala Sehun hingga Sehun memekik kesakitan. “Kau masih belum mau berubah juga ya!?”

“Lee Yubi!!” Sehun mengusap-usap kepalanya, “Sakit!!”

“Kau ini kenapa sih selalu haus akan wanita, Oh Sehun!? Tidak takutkah kau jika suatu saat karma mendatangimu!?” bentaknya lagi.

“Aish! Kali ini pasti berhasil!” Yubi merasakan hatinya sedikit meretak. “Aku telah jalan bersamanya selama tiga hari dan aku rasa aku menyukainya. Aku nyaman bersamanya.” Jelasnya sambil masih mengusap kepalanya.

Yubi terdiam menatap Sehun, rasanya ia ingin menangis detik itu juga. Sepertinya.. dia harus mulai mencoba untuk tidak menyukai Sehun lagi setelah ini.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Minjoo terbangun dengan kantung mata yang cukup hebat. Alasan apa lagi kalau bukan mengerjakan laporan dari Baekhyun si sinting itu. Dia telah menjadi zombie seperti ini sejak dua hari yang lalu, tepatnya setelah Baekhyun memberikan tugas ini kepadanya. Meskipun telah di bagi tiga dengan Sehun dan Yubi, tetap saja laporan ini sangat banyak! Terlebih karena Minjoo yang tahu pekerjaan Baekhyun selama ini apa saja, dia juga tidak bisa memberikan laporan yang tidak Sehun dan Yubi ketahui untuk dikerjakan. Sangat menyedihkan.

“Ya, apa kau sekarang telah berubah menjadi zombie huh?” ucap Baekhyun sambil mengambil minumnya. Minjoo kini sedang sarapan buatannya yang sialnya terasa nikmat di lidah Minjoo.

“Ini semua karenamu. Karenamu, bodoh.” Minjoo berucap sambil memegang erat-erat garpunya. Rasanya garpu itu akan melayang kapan pun jika Baekhyun berucap sepatah kata lagi.

Untungnya tidak, Baekhyun hanya terkekeh pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya lalu berjalan meninggalkan Minjoo di tempatnya.

Sepertinya.. Tuhan memang menginginkan Baekhyun untuk hidup lebih lama.

.

.

Chanyeol berjalan dari lobby utama menuju liftnya, dia baru datang dan sedikit terlambat hari itu. Ia berhasil masuk ke dalam lift dan baru saja pintu lift akan tertutup, pintu itu terbuka kembali.

“Annyeong, Chanyeol-ah.”

Chanyeol terdiam, menatap Hyojoo dengan datar. Dia masih kecewa dengan Hyojoo dari kejadian terakhir kali. Dimana dia melarang Chanyeol untuk menerima tawaran Minjoo menjadi kepala sekretaris perusahaan.

Chanyeol berdeham sebentar namun tak membalas perkataan Hyojoo. Ia hanya menggeser tubuhnya sedikit ke kiri, memberikan jarak antara dia dan Hyojoo.

Hyojoo menghela nafas lelah, jika sudah seminggu lamanya Chanyeol marah, artinya pria itu sedang kecewa berat pada Hyojoo.

Saat lift mulai berjalan, Hyojoo memberanikan dirinya membuka suara. Untungnya saat itu tidak ada siapa-siapa selain mereka berdua.

“Chanyeol-ah..” Hyojoo mencoba meraih tangan Chanyeol, “Maafkan aku..”

Chanyeol bergeming tidak menanggapi Hyojoo. Hyojoo yang hendak meraih tangan Chanyeol pun menurunkan lagi tangannya.

“Maafkan aku yang tak pernah memperhatikan posisimu di sampingku, tapi perlu kau tahu kalau aku sangat membutuhkanmu—“

“Karena apa? Karena apa noona membutuhkanku?”

Chanyeol menatap Hyojoo lekat-lekat. Memberikan seluruh pancaran perasaannya selama ini. Hyojoo tahu itu.

“Karena—“

Ting.

Pintu lift terbuka dan memunculkan Minjoo disana.

“Ah, noona dan Chanyeol.” Minjoo tersenyum sebisanya karena ia masih lelah, “Annyeong.”

Hyojoo pun melirik Chanyeol dengan penuh arti. Chanyeol tahu maksudnya apa maka dari itu ia langsung menghela nafasnya.

“Annyeong, Minjoo-ya.” Ucap Chanyeol.

Baru kali itu ia ingin mengutuk Minjoo untuk enyah dari hadapannya meskipun Minjoo adalah sahabatnya.

.

.

“Kenapa harus aku yang pergi ke Bucheon denganmu!?”

Demi dewa apapun, Minjoo tidak tahu harus mengutuk Baekhyun menjadi apa lagi saat ini. Sepertinya tidak perlu menjadi binatang, lebih baik pria itu langsung mati saja.

Pria itu meminta Minjoo untuk pergi bersamanya ke Bucheon detik ini, karena ada rapat bertemu klien disana. Entah itu benar atau tidak, tapi kenapa harus Minjoo sih?

“Kau pikir, aku harus pergi dengan siapa lagi selain denganmu?”

“Dengan eonnieku! Dia kan wakil direktur perusahaan!” Minjoo membalas berteriak, “Aku tidak mau! Aku sudah cukup lelah dijadikan pembantu olehmu beberapa hari ini!”

“Kalau noona yang pergi ya berarti aku tidak perlu pergi, bodoh.” Baekhyun menyiapkan beberapa filenya dan beranjak dari kursi. “Lagipula, noona tidak bisa berangkat. Dia ada urusan. Ayo kita pergi sekarang.”

Minjoo merenguh kesal karena dia baru saja punya mimpi untuk pulang setelah makan siang agar dia bisa tidur di rumah. Lagi dan lagi, Baekhyun selalu berhasil menjatuhkan harapan-harapannya. Membuatnya semakin membenci dirinya.

.

.

“Ya!”

Baekhyun menepuk-nepuk pipi Minjoo yang berusaha tertidur. Sumpah, itu rasanya seperti Baekhyun sedang menampar Minjoo. Dan tentu harga dirinya merasa tersakiti.

“Sakit, Byun Baekhyun!!” Minjoo teriak dengan kesal sambil mengelus pipinya.

“Jangan tidur, kau harus menemaniku mengemudi.” Ucapnya masih memfokuskan dirinya pada jalanan.

Minjoo menganga tak percaya atas apa yang baru saja Baekhyun katakan. Tadi pria itu sendiri yang mau dirinya menyetir mobil menuju Bucheon dibanding harus naik kereta ekspres. Kalau begitu kan dia lebih baik memilih naik kereta ekspres!

“Kau tahu, aku telah terbangun selama dua hari untuk mengerjakan laporan sialanmu itu.” Minjoo menatap Baekhyun garang-garang, siap-siap melontarkan api melalui matanya itu. Minjoo mengingat bagaimana dirinya bersusah payah meminum kopi setiap dua jam sekali hanya untuk terbangun selama dua hari lalu. “Dan sekarang kau memintaku untuk bangun menemanimu mengemudi, huh!? Kemana dirimu saat aku bangun untuk mengerjakan laporanmu!?” teriaknya begitu kencang.

“Itu kan tugasmu. Sekarang juga tugasmu. Jadi ya kau harus mengerjakan tugasmu.”

“Ya.. tugasku itu adalah membantu tugas perkantoranmu!” Minjoo tampak berpikir sebentar, sepertinya ada yang salah dari perkataannya. “Ya mungkin membuat laporan itu benar tugasku tapi yang lainnya!? Mengambilkan pulpen, menutup gelas, menutup tirai dan yang lain-lainnya!? Apa itu tugas sekretaris!?” ia menambah kata-katanya untuk terlihat seperti korban di situasi ini.

“Menurutku itulah tugas sekretaris. Membantu pekerjaan pimpinannya. Iya kan?”

“Ck.” Minjoo berdecak lalu memutar seluruh tubuhnya menghadap Baekhyun. “Sebenarnya masalahmu apa sih denganku!? Sampai kau selalu ingin menyiksaku!?” Minjoo membuka seluruh jemari kirinya.

“Jika dihitung-hitung, kau yang lebih punya banyak hutang dosa padaku tahu! Dahulu kau mempermalukanku di depan Luhan sunbae, menjatuhkan harga diriku di depannya, belum lagi di seluruh sekolah! Lalu sekarang, kau memperlakukanku sebagai pembantu, baik di kantor maupun di rumah, menyuruh hal-hal yang tidak penting!” Minjoo berkoar-koar seperti sedang mengadakan debat pemilihan presiden, jemarinya yang tadi ia siapkan ia gunakan untuk menghitung itu semua. “Harusnya aku bisa menuntutmu sekarang karena kau telah melakukan tindak kekerasan dalam rumah tangga!”

“Ck. Siapa yang akan membelamu memangnya? Kau pikir, orang tuamu akan membelamu? Kakakmu juga?” Jujur Minjoo menciut saat Baekhyun berkata seperti itu, ternyata dia mengetahui kelemahan Minjoo—tidak pernah ada orang yang berpihak padanya. “Mungkin kau hanya akan dinasehati seperti ini: ‘Han Minjoo, itulah tugasmu sebagai seorang istri.’ Atau kakakmu akan bilang seperti ini: ‘Tugas sekretaris secara implisit memang begitu, adikku sayang.’”

Baekhyun tertawa pelan sedangkan Minjoo benar-benar telah “sebesar” debu saat ini. “Kau hanya akan kalah jika kau terus mengeluh mengenai itu semua, Minjoo-ya. Lebih baik kau kerjakan semuanya dengan benar.”

Minjoo pun mengerucutkan bibirnya lalu memutar tubuhnya menghadap depan secara sempurna, merasa kalah telak oleh Baekhyun.

“Ini pembudakan.. ini penjajahan.” Minjoo bergumam pelan namun Baekhyun bisa menangkapnya. Pria itu pun tertawa.

“Ya, daripada kau mengeluh terus, lebih baik kau lihat ke samping kiri dan kananmu.”

Meski masih dengan bibir yang mengerucut, Minjoo menurutinya juga. Ia menolehkan kepalanya ke arah kaca jendelanya lalu detik selanjutnya matanya membulat. Lebih tepatnya berbinar-binar.

Di sampingnya kini telah ada hamparan rumput hijau begitu luas sepanjang matanya memandang. Begitu luas, sampai rasanya seluruh dunia ini hanya di tanami oleh rumput hijau itu.

“Wuaah.. kita ini dimana sebenarnya?” Minjoo menolehkan kepalanya sebentar ke arah Baekhyun, “Aku tidak pernah tahu sebelumnya ada tempat seperti ini.” Ucapnya begitu takjub.

Baekhyun terkekeh pelan tanpa menjawab pertanyaan Minjoo. Yang pria itu lakukan adalah menekan tombol kaca untuk bagian Minjoo, membuat jendela Minjoo terbuka dan saat itu wangi rumput segar masuk ke indera Minjoo. Begitu menyegarkan, seperti seluruh udara penat yang berada di dalam paru-parunya tergantikan oleh wangi rumput yang segar itu.

Minjoo selalu menyukai wangi rumput segar dari kecil, dahulu ketika Minjoo dan Baekhyun masih kecil mereka kerap kali pergi ke bukit yang berada di dekat rumah mereka karena bukit itu ditanami rumput yang begitu luas dan hijau. Sayangnya, bukit itu kini telah dijadikan sebuah mall di atasnya.

“Wuaahh..” Minjoo menjulurkan tangannya keluar, ingin menggapai angin yang tidak bisa ia sentuh itu. Jika ia bisa menyentuh angin itu, Minjoo mungkin akan mengosongkan tumblrnya dan memasukkan ke dalam sana untuk menjadi tabung oksigennya. Sangat berguna di saat ia bertengkar dengan Baekhyun, tentunya.

“Tidak salah kan aku membawa mobil?” Baekhyun berucap dan itu langsung membuat Minjoo menolehkan kepalanya, “Aku tahu kau suka sekali dengan pemandangan seperti ini..”

Saat itu, Minjoo merasakan sesuatu yang aneh bergejolak dibalik rusuk dadanya. Benda yang berfungsi untuk memompa darah Minjoo ke seluruh tubuh itu rasanya seperti sedang melebur disana, meleleh bagaikan coklat berada di atas wajan panas. Rasanya aneh, sedikit membuat denyutan tapi jika ditanya apakah Minjoo ingin merasakannya lagi, Minjoo bisa menganggukan kepalanya.

Jadi Baekhyun sengaja membawa mobil hanya untuk menunjukkannya hamparan rumput yang luas ini? Dan saat tadi Baekhyun menepuk-nepuk pipinya, menyuruhnya untuk tidak tidur, karena ia ingin menunjukkan tempat ini?

“K-kau sengaja.. membawa mobil hanya.. untuk..” Minjoo menahan kata-katanya, “..menunjukkan ini.. padaku?”

“Iya.”

Deg. Deg.

“Supaya kau bisa lepas dari penatmu selama seminggu ini.”

Minjoo ingin marah rasanya. Pertama pada Baekhyun, lalu kedua pada hatinya. Kenapa hatinya meleleh dan jantungnya jadi berdetak seperti ini!?

Untuk mengalihkan dirinya yang tiba-tiba salah tingkah itu, Minjoo mengalihkan pandangannya dari Baekhyun dan menatap pemandangan melewati jendela mobil itu lagi. Sambil berpura-pura untuk menikmati pemandangan, Minjoo menepuk-nepuk dadanya.

Tidak boleh. Jantung itu tidak boleh berdetak lagi untuk orang itu. Tidak boleh meleleh lagi. Tidak boleh terasa hangat lagi. Minjoo harus menolak perasaan itu mati-matian.

Minjoo menarik nafas perlahan-lahan lalu kini ia mengangkat tangannya keluar dan memegang angin-angin itu lagi.

“W-wuah, terima kasih loh sudah mau membawaku kemari. Kau bisa baik juga rupanya.” Ucapnya meski harus berkali-kali menelan ludahnya dengan susah payah.

Baekhyun hanya tersenyum tipis dan melihat Minjoo dengan tatapan penuh arti mendengar ucapan Minjoo tadi.

.

.

Minjoo rasa dia sedang terserang sindrom khusus yang ia ciptakan sedetik lalu: sindrom-akibat-hal-manis-oleh-musuh. Minjoo rasanya mau gila!

Jantungnya ini, terus berdetak membunyikan dentuman tak karuan semenjak kejadian di mobil tadi, dimana ia mengetahui alasan dibalik mengapa Baekhyun memilih untuk membawa mobil dibanding naik kereta ekspres menuju Bucheon. Itu karena ia ingin menunjukkan tempat dimana hamparan rumput nan luas itu kepada Minjoo. Untuk Minjoo!!

“Argh!”

Semua orang di dalam ruang rapat itu melihat ke arah Minjoo, mengkerutkan keningnya kebingungan. Oh, bahkan ada yang menatap Minjoo sambil berkata lewat matanya: dia-gila-ya.

Minjoo berdeham, tersenyum pelan lalu menunduk-nunduk bodoh bermaksud meminta maaf. Baekhyun yang berada di depannya, sedang mempresentasikan proyeknya menggeleng-geleng kepala melihat Minjoo. Menggeleng-geleng jijik, maaf Minjoo terlalu malu untuk menyebut kelakukannya yang memalukan itu.

Dia harus melepaskan detak jantung tak karuan ini, bagaimana pun caranya. Sangat tidak boleh membiarkan detak jantung ini!

.

.

“Kau telah gila ya?”

Mereka telah keluar dari ruang rapat itu setelah tiga jam lamanya. Berarti, telah tiga jam lamanya juga Minjoo berusaha untuk melepaskan detak jantung itu dari balik dadanya namun ia rasa itu tidak berhasil.

“Gila kenapa?” Minjoo bertanya seakan ia tidak ingat apa yang ia lakukan di ruang rapat sebelumnya. Masih dengan alasan untuk menyembunyikan salah tingkahnya dari Baekhyun, sebenarnya.

“Ck. Tidak mau mengaku rupanya.” Baekhyun menggeleng-gelengkan kepalanya lalu menatap sengit Minjoo, “Untung klienku tidak pergi karena tingkahmu, bodoh.”

“Biar saja mereka pergi! Biar kau rugi!”

Baekhyun menatap Minjoo dengan ringisan mengerikan, “Ya! Kalau aku rugi, berarti sama saja kau membiarkan perusahaan Ayahmu rugi, bodoh!”

Oh, benar. Ternyata Minjoo sebodoh itu.

“Sudahlah, aku lapar. Aku ingin makan. Ayo ikut aku.”

Minjoo mengangkat bahu acuh lalu berjalan mengikuti Baekhyun di belakangnya. Mereka keluar dari tempat pertemuan mereka dan berjalan menyebrang gedung menuju restoran yang terletak persis di seberang toko.

“Aku mau pesan gogigui, japchae, sup rumput laut, nasi, dan kimchi lobak.” Ucapnya begitu ia telah mendapat tempat duduk dan pelayan menghampirinya.

“Ya! Mengapa pesan sebanyak itu!?” Minjoo memprotes dan ia langsung menatap pelayannya, “Pesan dua sundubu jigae dan satu kimchi saja.”

“Kenapa kau yang mengatur?” Baekhyun protes dan kini ia menatap pelayan itu lagi, “Pesan yang sebelumnya. Jangan dengar wanita ini.”

“Baekhyun, kita harus pulang—“

Minjoo merasakan jika jantungnya loncat ke tenggorokannya. Telapak tangan Baekhyun persis berada di bibirnya dan ia seperti mencium setiap jemari Baekhyun disana. Sangat hangat dan rasanya Minjoo ingin menciumi setiap jemari itu kalau dia tidak waras. Oh, dia memang sudah tidak waras sekarang.

“Pesan yang pertama kali aku bilang, jangan dengar wanita ini. Terima kasih.”

Sesaat setelah pelayan itu pergi, Baekhyun melepas tangannya dari mulut Minjoo. Lalu melihat gadis itu yang membeku tiba-tiba.

“Ya, kenapa kau?” Baekhyun menautkan alisnya, “Kenapa kau jadi diam?”

Tersadar dari realita, Minjoo terang-terangan langsung menatap Baekhyun dengan api yang membara.

“Apa yang kau lakukan, hah!?” Minjoo bertanya setengah berteriak. “Kenapa kau menutup mulutku!?”

“Kau terlalu berisik, Han Minjoo. Terlalu banyak berbicara.” Ucapnya acuh lalu kini ia tengah memainkan sendoknya. “Ah, karena kau tadi tidak ingin memesan makananku semua, jadi kau hanya mendapatkan nasi dan japchaenya saja ok.”

“Aku kan hanya ingin bilang bahwa kita harus pulang cepat! Besok harus kembali bekerja dan belum lagi aku membereskan rumahmu itu!” ucapnya dengan menekan kata ‘rumahmu’. Benar kan itu rumahnya.

“Ck. Memangnya kau yang menyetir? Aku yang menyetir kan jadi terserah aku saja kita mau pulang jam berapanya.”

“Tapi tetap saja, aku kan—“

Ini memang Minjoo yang kelaparan atau bukan, hanya saja harum dari sup rumput laut saat pelayan tiba-tiba menghidangi seluruh pesanan di hadapannya begitu mencuri perhatian Minjoo. Baekhyun mengetahui itu dan ia langsung tersenyum miring melihatnya.

“Kau tidak boleh makan sup itu, Minjoo-ya.” Lalu setelah pelayan itu selesai menghidangi daging dan pembakarannya, Baekhyun mengangkat selembar daging yang berada di atas nampan pada mata Minjoo, “Dan juga tidak boleh makan ini..”

Mata Minjoo mengikuti lambaian daging yang berwarna merah dan tebal itu terapung di udara. Sumpah, entah karena ia baru mendapatkan makan siangnya sesore ini atau bukan, tapi daging beserta hidangan lainnya tampak benar-benar membuat saliva Minjoo naik turun di tenggorokannya. Dia sedikit menyesal karena telah melarang Baekhyun memesan lebih banyak sebelumnya.

“Aku tak akan makan!” Minjoo berucap setelah menelan kumpulan saliva itu di tenggorokannya. Ya sudahlah, ia sudah terkena boomerangnya sendiri.

“Aku hanya akan makan nasi dan japchae saja maka dari itu kau harus cepat menghabiskannya agar kita bisa—“

“Aku akan mengizinkanmu untuk makan ini.”

Mata Minjoo langsung menatap Baekhyun dengan pancaran bahagia seperti mendapatkan undian lotere namun selanjutnya ia langsung merasakan bahwa ia telah kalah dari undian itu.

“Tapi dengan syarat kau harus menyuapiku semua makanan ini.”

“Ya! Kau anak bayi apa!?”

“Ya sudah kalau tidak mau.” Baekhyun mulai menaruh beberapa daging di atas pemanggangan. “Tidak apa-apa, bukan aku yang rugi.”

Saat percikan api itu muncul dari atas daging, Minjoo mendeguk dengan susah payah. Saat dagingnya mulai setengah matang, rasanya salivanya itu ingin bertahan di tenggorokannya. Ia membayangkan kenikmatan daging berwarna merah dan tebal itu menyatu di lidah dan perutnya.

Minjoo menyerah, ia pun mengangkat tangannya mengambil capitan yang berada di tangan Baekhyun dan mulai membalikkan daging yang tinggal beberapa detik lagi akan matang.

“Ok, aku akan menyuapimu.”

Dan Baekhyun tertawa puas melihat itu.

.

.

Minjoo tak henti-hentinya menatap Baekhyun dengan tajam. Rasanya dia benar-benar ingin mengutuk Baekhyun menjadi serangga detik ini juga lalu ia injak sampai darahnya keluar kemana-mana.

Bagaimana Minjoo tak kesal? Pasalnya Baekhyun lagi-lagi mengerjai Minjoo saat mereka makan baru saja tadi. Ingat kan bahwa Baekhyun akan memberinya daging jika ia mau menyuapinya? Minjoo menyuapinya, bahkan memasakkan semua daging untuknya hanya saja bagian Baekhyun memberi daging pada Minjoo kelewat keterlaluan. Pria itu hanya memberi tiga buah daging pada Minjoo. Hanya tiga buah!!

“Byun Baekhyun sialan..” Minjoo menatap Baekhyun yang tengah berada di hadapannya, bersiap untuk menyebrang lagi. “Pria itu benar-benar terkutuk!!!”

Baru saja Minjoo hendak memukul Baekhyun menggunakan tasnya, terdengar tiba-tiba suara nada dering entah dari ponsel siapa. Yang jelas, Minjoo menurunkan tasnya kembali karena ia melihat Baekhyun mengangkat ponselnya dan menaruhnya di telinga. Oh, berarti ponsel milik pria itu.

“Sekarang?” Baekhyun berucap dan Minjoo memerhatikannya. “Tapi saya baru akan kembali ke Seoul. Jika saya tidak kembali sekarang, saya akan sampai terlalu malam kesana.”

Minjoo masih memperhatikannya dan kini Baekhyun sedang menoleh ke arahnya.

“Baiklah. Saya akan kesana.”

Baekhyun menaruh ponsel itu kembali ke sakunya lalu berjalan menghadap Minjoo. Minjoo tadinya ingin menyerocos memarahi Baekhyun atas kejadian di restoran namun Baekhyun membuka suaranya lebih dahulu.

“Kau tunggu di restoran ini sebentar ya. Aku ada keperluan bertemu klien kembali.” Ucapnya membuat Minjoo kaget.

“Menunggu bagaimana maksudmu? Aku menunggu disini, berdiri di depan pintu?” ucapnya sedikit kesal. Ya kalian bayangkan saja jika kalian disuruh menunggu di depan sebuah restoran. Bukankah itu menyebalkan?

Baekhyun melihat ke restoran sebentar lalu ia seperti menemukan sesuatu karena tiba-tiba ia menarik tangan Minjoo dan membawanya pada kursi yang terletak persis di sebelah pintu restoran.

“Kau duduk disini saja, bagaimana?” tanyanya.

“Ya. Memangnya bertemu klien siapa sih? Kenapa tiba-tiba begitu?” tanya Minjoo, “Lagipula, kenapa aku tidak bisa ikut? Aku kan sekretarismu, harusnya aku digunakan saat hal-hal begini. Bukannya yang lain.” Ucapnya setengah menekan kata-kata terakhir dengan galak.

“Sebentar saja, ya? Aku janji hanya sebentar setelah itu kita pulang, hm?” Baekhyun tersenyum simpul meyakinkan dan jujur itu sedikit mengguncangkan Minjoo. “Masalahnya klien ini begitu penting untukku jadi jika aku kehilangannya, perusahaan bisa rugi besar-besaran.” Tambahnya lagi tidak menjawab pertanyaan Minjoo yang kenapa dia tidak dibawa untuk urusan ‘benar-benar’ perkantoran.

Minjoo menghembus nafasnya mengalah, ya sudah jika memang Minjoo tidak dibutuhkan dan klien itu sangat penting untuk Baekhyun.

“Baiklah.” Minjoo melihat Baekhyun dengan malas, “Awas kalau kau lama!”

Baekhyun tersenyum menenangkan seraya berkata, “Iya, Han Minjoo.”

.

.

Minjoo melihat jam tangannya yang kini sudah menunjukkan pukul 9 malam. Dia sudah menunggu selama lima jam lebih dan Baekhyun belum kunjung datang juga.

Minjoo kalut, sungguh. Karena menunggu selama itu, Minjoo jadi berpikir bahwa Baekhyun sesungguhnya sedang menyingkirkan Minjoo dari hidupnya dengan meninggalkan Minjoo di Bucheon. Sumpah, jika itu benar-benar terjadi rasanya Minjoo ingin memaki Baekhyun sampai mati di tempatnya. Ditambah, ingin menangis juga.

“Kemana dia..” tuturnya.

Dan itu terjadi lagi selama satu jam ke depan. Baekhyun masih belum muncul juga disaat restoran itu kini telah menutup tokonya.

“Permisi nona, maaf sebelumnya tapi kursi ini akan saya masukkan ke dalam toko.”

Minjoo berdiri sesaat pelayan dari toko itu keluar dan menghampiri kursinya. Air matanya menggenang dan ia benar-benar langsung membenci Baekhyun sampai ke pitamnya dan melupakan gejolak jantung yang muncul tadi siang.

Menyerah, Minjoo pun berjalan menuju halte terdekat. Air matanya telah jatuh dan jika saja ia tidak ingat ia sedang berada di jalanan, mungkin dia akan menangis tersedu-sedu saat itu juga.

Ia tidak pernah berpikir bahwa Baekhyun akan sejahat ini padanya. Setega ini mengerjainya dengan meninggalkannya di Bucheon sendirian tanpa kendaraan apapun. Terlebih, yang lebih jahatnya lagi adalah pria itu menyuruh Minjoo menunggu sampai pria itu kembali. Jika memang ia berniat untuk meninggalkan Minjoo di Bucheon, kenapa pria itu menjanjikan hal yang pasti akan ia ingkari? Kenapa ia tidak bilang saja: ‘Ya, aku akan meninggalkanmu disini jadi sampai jumpa’ supaya Minjoo bisa pulang naik bis dari tadi? Ah, Minjoo bodoh. Masa iya seseorang yang mau meninggalkannya harus bilang-bilang terlebih dahulu.

Setelah sampai di halte bus, ia langsung mendudukan dirinya di kursi yang tersedia disana. Minjoo terdiam membeku dan ia sadar akan sesuatu yang mungkin akan menjadi petaka baginya.

Dia sendirian. Benar-benar sendirian. Jalanan begitu sepi, tampak seperti tidak akan ada satupun kendaraan yang lewat di hadapannya. Pikiran Minjoo menjadi dua kali kalut, tak terasa ia menggenggam tasnya erat-erat karena ketakutan.

“Hey, gadis manis!”

Jantung Minjoo berdegup begitu kencang setelah mendengar teriakan dari seberang jalan. Matanya membulat dan ia rasa jantungnya telah lepas saat itu juga. Sekumpulan pria bertato di lengannya tengah tersenyum licik ke arah Minjoo sambil memegang botol minuman yang Minjoo bisa tebak itu adalah minuman alkohol.

Tanpa berpikir panjang lagi, Minjoo langsung berdiri dan berlari sekencang-kencang menjauhi halte dan sekumpulan pria yang telah berhasil menyebrangi itu.

“Hey nona muda! Tidak usah berlari, percuma!” Minjoo mendengar teriakan itu namun Minjoo tidak peduli dengan kata terakhirnya. “Kami pasti bisa mendapatkanmu!”

Air mata Minjoo telah berlinang begitu deras terbawa angin sambil terus berlari. Minjoo tidak pernah berpikir bahwa ia akan mati seperti ini.

Minjoo terus berlari dan saat ia sedang berdiri di depan sebuah gang, kakinya keseleo karena ia menggunakan sepatu hak. Dengan perasaan yang begitu takut, ia melepas sepatu itu terlebih dahulu lalu berlari lagi. Namun, karena waktunya terulur untuk melepas sepatu itu, jarak antara dirinya dan para pria tadi semakin menipis hingga pada suatu tempat entah dimana, salah satu dari mereka berhasil menarik baju Minjoo dan membuat Minjoo terjungkal jatuh ke atas tanah.

“Cepat juga kau larinya nona muda.” Kata salah satu di antara mereka yang kini sedang terengah-engah. Minjoo mencoba untuk berdiri dan kabur lagi namun dua dari mereka kini menjaga Minjoo dengan menahan bahunya. Mereka berjumlah tiga orang dan Minjoo hanya sendiri. Minjoo sudah tahu akhir dari kejadian ini akan bagaimana.

“Jangan berusaha kabur, sayang..” Si pria yang pertama kali berbicara itu mengeluarkan pisaunya dan merundukkan tubuhnya menyejajarkan dengan Minjoo. Bau alkohol langsung menyeruak ke indera Minjoo hingga membuat Minjoo merundukkan pandangannya. “Jika kau ingin mati dengan cepat, maka diam saja mengerti?”

Pisau itu pun masuk ke seluk rambut dan menyentuh leher Minjoo, lalu perlahan turun perlahan membuka kancing pertama kemeja Minjoo.

“Tadinya kami hanya ingin mengambil beberapa barang darimu saja tapi ternyata kau sangat cantik nona.” Pria itu perlahan mengusap rambut Minjoo dan menjenggutnya tiba-tiba hingga kepala Minjoo menatap dirinya kembali. “Aku jadi tergoda untuk melihat selain wajahmu ini.”

Tangan Minjoo bergetar, bibirnya ia tekan dalam-dalam menggunakan giginya untuk mengekspresikan seberapa besar ketakutannya saat ini. Pria itu menyadarinya dan ia terkekeh pelan melihat gidikan ketakutan Minjoo.

“Tidak usah takut, kami akan melakukannya secara pelan padamu.” Ucapnya lalu melepaskan tangannya dari rambut Minjoo. “Kau hanya perlu menutup matamu dan menikmati semuanya sampai akhirnya kau membuka matamu dan menemukan surga disana.” Mereka tertawa namun tidak untuk Minjoo. Minjoo menangis semakin hebat.

Minjoo baru saja akan menyerah dan menundukkan kepalanya lagi sebelum ia mendengar jeritan keras dari dua orang yang sedang memegang bahunya ini.

“Brengsek apa yang kalian lakukan pada istriku!!”

Minjoo mendengar itu namun otaknya tidak bisa mencerna untuk berpikir siapa yang mengatakannya. Sesaat ia merasa bahunya tidak tertahan lagi dan pria yang berada di hadapannya sudah pergi entah kemana, ia langsung menutup seluruh wajahnya dengan seluruh tangannya. Ia teramat takut untuk membuka matanya dan menangis secara terdiam di balik sana.

Tak lama dari situ, ia merasakan bahwa seseorang sedang memegang bahunya dan berkata secara lembut.

“Minjoo-ya..”

Minjoo tahu suara ini. Minjoo kenal suara ini.

Minjoo langsung membuka seluruh tangannya dan mengangkat kepalanya.

Baekhyun disana. Berdiri merunduk di hadapannya.

“Minjoo-ya.. kau tidak apa-apa?” tanyanya dengan nada khawatir setengah terengah-engah.

Minjoo tidak menjawab pertanyaan Baekhyun namun langsung menghambur ke pria itu dengan memeluknya. Begitu erat dan juga menangis begitu terisak disana.

Dia tidak membutuhkan apa-apa selain ini. Dia hanya takut dan merasa bahwa tadi hidupnya akan benar-benar berakhir. Minjoo berharap Baekhyun tahu itu dan tidak membuka suaranya untuk menanyakan keadaan Minjoo karena Minjoo hanya membutuhkan ini sekarang.

Dan Minjoo rasa, Baekhyun mengerti karena Baekhyun hanya terdiam dan meminjamkan tubuhnya untuk Minjoo tangisi.

.

.

Minjoo terdiam menatap luar jendela mobil dengan mata yang membengkak dan bibir yang pucat. Wajahnya begitu bias, terserap oleh rasa ketakutannya. Ia cukup kedinginan namun ia bertahan karena jas Baekhyun berada ditubuhnya.

Setelah tiga jam perjalanan dari Bucheon ke Seoul, mereka akhirnya sampai di rumah. Tepat saat Baekhyun berhasil memarkirkan kendaraannya di rumah, Minjoo langsung keluar dari mobil tanpa menunggu persetujuan atau perizinan pada Baekhyun.

“Hey, tunggu!” ucap Baekhyun dari dalam mobil namun Minjoo tidak mempedulikannya.

Minjoo melupakan Baekhyun yang telah menyelamatkannya karena kembali ingat dengan Baekhyun yang membohonginya tadi, yang menyuruh menunggunya selama enam jam dan membuatnya berada di ambang kematian oleh para penjahat itu. Mungkin tadi Baekhyun menyelamatkannya karena ia rasa ia telah bercanda keterlaluan meninggalkan Minjoo hingga diserang oleh penjahat tadi. Ugh, kalau saja tenaga Minjoo tidak habis dia ingin mencekik Baekhyun sampai mati saat ini juga.

“Aw.” Minjoo meringis mendapati kakinya begitu sulit digerakan. Saat ia merunduk untuk melihat apa yang terjadi dengan kakinya, ia langsung menatap ngeri pada kakinya itu. Kakinya bersimpuh luka dimana-dimana, bahkan terdapat banyak goresan darah di sekitarnya. Ini pasti karena tadi Minjoo berlari cukup kuat tanpa sepatu, lalu keseleo ditambah terjungkal saat pria penjahat tadi menangkapnya. Jangan tanyakan sepatunya sekarang kemana, sepertinya ia buang saat ia berlari tadi.

“Kau tidak bisa jalan, kan? Sini kubantu—“

“Tidak usah.” Minjoo mencoba berjalan lagi menuju teras dan menahan mati-matian rasa sakit yang muncul dari kakinya. Bodoh, Han Minjoo, harusnya kau tidak perlu mempertahankan gengsi dan amarahmu.

Saat ia sedang berjalan kembali, entah ia tiba-tiba mendapatkan kekuatan wonder woman atau bukan, yang jelas tubuhnya tiba-tiba terangkat ke udara hingga membuatnya tercekat. Saat ia mencari penyebab dibalik kekuatannya itu, ia menemukan Baekhyun di dekatnya. Ternyata, pria itulah yang menjadi penyebabnya.

“Turunkan aku!!” keluh Minjoo pada Baekhyun yang jaraknya terlampau dekat karena pria itu mengangkatnya dengan bridal style. Minjoo juga sempat merasakan gejolak jantung tadi siang muncul lagi di dadanya dan kali ini dia akan memarahi jantungnya. “Tidak perlu susah payah membantuku, aku bisa sendiri!”

Baekhyun mengacuhkan pernyataan Minjoo lalu berjalan memasuki rumahnya. Karena tidak ada tenaga yang tersisa untuk menyuarakan teriakannya, Minjoo pun hanya menghela nafas panjang dan mengeratkan pegangannya pada leher Baekhyun.

Dari jarak sedekat ini, Minjoo memang tahu arti dari kesempatan dalam kesempitan. Minjoo baru tahu ternyata Baekhyun mempunyai wajah setampan ini. Sebenarnya, tidak-baru-tahu sih, hanya saja dia baru menyadari ternyata Baekhyun sangat tampan. Pria itu punya lekung wajahnya yang cukup oval dengan kulit putihnya. Meskipun sedikit chubby, tapi untuk ukuran ke-chubby-annya pria itu tetap bisa dikatakan tirus. Hidungnya panjang, bulu matanya lentik dan bibirnya tipis. Oh Tuhan, Minjoo jadi teringat bahwa ia pernah dicium bibir itu.

Karena terlalu memperhatikan ketampanan Baekhyun, Minjoo tidak sadar kalau mereka telah sampai di kamar mereka. Baekhyun menurunkan Minjoo ke atas kasur dan mendudukannya. Minjoo sempat berdeham sebentar untuk menyembunyikan dirinya yang telah diam-diam mencuri pandang pada wajah Baekhyun.

Pria itu keluar setelah menurunkan Minjoo dan kembali lagi membawa kotak kesehatan. Ia berjongkok di hadapan Minjoo dan menghadap ke lutut dan kaki Minjoo.

“Kenapa kau tadi pergi dan tidak menungguku disana?”

Minjoo menaikan satu alisnya, “Apa?”

Baekhyun kini tengah membersihkan kotoran tanah, debu serta guratan darah yang ada di kaki Minjoo dengan kapas dan air yang tidak tahu datang darimana, “Kenapa kau tadi tidak menunggu di depan restoran itu sampai aku kembali menjemputmu?”

Minjoo mendengus kesal, “Ya, kau kan yang meninggalkan aku!? Aku telah menunggu selama lima jam disana dan kau tidak kembali!”

Baekhyun terdiam sambil terus membersihkan luka Minjoo disana. Minjoo sempat berpikir bahwa perkataannya itu benar dan dia akan menangis kembali karena Baekhyun benar-benar berniat menyingkirkannya sebelum akhirnya pria itu membuka suaranya lagi.

“Maaf. Maaf membuatmu menunggu selama itu.” Ucapnya. Tak pernah Minjoo mendengar suara Baekhyun semenyesal itu.

“Tadi klienku membahas hal yang lain dan ternyata aku tidak sadar waktu bahwa aku telah membuatmu menunggu selama itu.”

“Maafkan aku, Han Minjoo. Aku tidak bermaksud untuk meninggalkanmu.”

Minjoo menelan salivanya susah payah karena sepertinya jantungnya berdetak di tenggorokannya lagi.

“Jadi.. tadi.. kau tidak berniat untuk meninggalkanku disana?”

Baekhyun mengangkat wajahnya karena perban di kaki Minjoo sudah selesai ia eratkan.

“Tentu saja tidak. Kau itu istriku, kau itu sudah tanggung jawabku. Masa iya aku meninggalkanmu disana, sendirian.”

Deg. Deg.

Setelah membersihkan sisa bekas kapas dan kotak kesehatan itu ke atas nakas, Baekhyun berdiri lalu duduk tepat di samping Minjoo, memandang gadis itu dengan lembut dan penuh arti.

“Kau tadi menangis begitu hebat dan aku merasa sangat bersalah karena telah meninggalkanmu selama itu dan membuatmu berada dalam bahaya.”

Minjoo tahu bahwa Baekhyun berkata sungguh-sungguh dan perkataan selanjutnya tulus dari hatinya,

“Aku minta maaf, Han Minjoo. Maaf tidak bisa menjagamu.”

Jantung Minjoo perlahan menghangat dan ia merasakan di sekujur tubuhnya.

“Aku tahu kau itu orangnya paling tidak bisa dikhianati satu kali namun aku ingin kau memegang janjiku yang satu ini.”

Minjoo memasang telinganya lebar-lebar dan menyiapkan seluruh hatinya.

“Mulai sekarang, aku berjanii aku akan terus melindungimu. Menjagamu. Aku akan terus di sampingmu dan tidak membiarkan siapapun melukaimu barang seujung kuku pun atau membuatmu menangis hebat seperti tadi.”

“Aku akan melindungimu, Han Minjoo.”

“Akan selalu melindungimu.”

Minjoo ingin menolak apa yang di dalam tubuhnya lakukan, saat ia merasakan gejolak jantung tadi siang semakin hebat dan lelehan hatinya semakin cair dari kejadian tadi siang, hanya saja dia tidak bisa. Entah dia tahu atau tidak tahu, hati kecil yang ia mati-matian sembunyikan di balik sana, perlahan muncul kembali untuk menunjukkan perasaan lamanya.

Hati kecil itu kembali, mulai menghangat seperti yang pernah ia lakukan dan sepertinya akan bertahan untuk beberapa waktu ini.

❣❣❣To Be Continued❣❣❣

Maaf ga sesuai janji ngepostnyaa!! Aku terlalu lama ya?! Maaf loh >,< jujur aku ngerasa kehilangan feel untuk menulis ini, entah karena aku terlalu sibuk jadi aku gatau kabar Baekhyun sekarang bagaimana atau apa. Yang jelas dan aku tahu pasti, aku masih cinta kok sama Baekhyun *giggle* kalau aneh dan tidak sesuai harapan maaf ya! Aku udah mencoba semampuku dan ya cuman seperti ini T.T seperti yang udah aku janjikan sebelum ini, aku akan ngepost lebih cepat selama aku liburan jadi see u soon on chapter 4!^^

sarange19

-Baek’s sooner to be wife-

Advertisements

111 responses to “I Married To My Enemy [III] -by ByeonieB

  1. Minjoo kaga bisa berenti tereak” apa??😂 okee, pekerjaanny parah bgt-mnurutku. Diperbudak sama Baek😂😂 Baek sebenerny suka kn sama Minjoo?? iya ga siih??- –
    tpi, nunggu 5/6jam itu lama bgt>< dan akhirnya Baek yg nyelametin Minjoo^^ Baek ngomongny itu tulus lhoo, Minjoo. mbok ya luluh kenapa??😂😄
    Waiting for next chap!!👌

  2. Hehehe perbudakan?! Huaah benar minjoo,diriku merasakan yg sama denganmu! Hehehe tapi satu lg itu krn baekie cinta.. Hiks yubi kasian mendam cinta ama sehun Ya Allah sakit tau.. Yubi next chap smoga endingnya happy eo. Dan baekie habis membuat min melayang tinggi tbtb di hempaskan gtu aja! Hufft miris! Wkwkwk and last ini keren! Next to read chapter 4!

  3. Gila! Bayangin suara Minjoo yang cetar itu! Astaga… Minjoo sehatkan? Jangan tulari Baekhyun dengan tingkah mu kay? Aku prihatin tau ga! Kwkw yakali idup Minjoo dramatis bener jadi istri+sekretaris pribadi Baekhyun. Duh aduh, ikutan baper akunya.

    Padahal aku udah pernah ngomong kalo Sehun dan Yubi itu cocok. Tapi emang dasarnya Sehun kek feses! Sebel!

    Eh? Kok aku ikutan baper gegara Minjoo nangis ketakutan? Ikut takut akunya!
    Itu janji Baekhyun bener ga? Kalau ga aku bantai lu, Baek!

    Maaf baru komen.

    Yeogineun
    Dikanasly (:

  4. Entah kenapa gua jadi baperreu banget ama eps ini :’) uh baekhyun nya sweet banget:’V huhu kalo jadi minjoo gua udh pasti langsung punya penyakit jantung ><

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s