Honey Cacti [Chapter 3]

honey-cacti-poster-3-seohun

Ziajung’s Storyline©

Casts: Oh Se Hun | Choi Seo Ah | Lee Ji Eun

Genre: Romance, Comedy, Drama

Prev: Prolog || Chapter 1 || Chapter 2

———————————————–

Chapter 3—One Step Farther, One Step Closer

 

Di kehampaan dapur itu, suara tawa Seo Ah yang bercampur dengan suara rintikkan hujan di luar terdengar sangat memilukan

 

***

                Ini pertama kalinya Seo Ah menginjakkan kaki di bandara besar selain Korea Selatan, dan ia tidak bisa menahan mulutnya untuk mengeluarkan gumaman kagum. Meski pada dasarnya semua bandara sama saja, tapi Seo Ah merasakan aura beda di sini. Ia di New York, sebuah kota yang berada di jantung Amerika Serikat. Seo Ah pergi jauh dari rumah hanya untuk menemui Kim Jong In.

Ya, untuk Kim Jong In, Seo Ah rela mengambil cuti seminggu dari kantornya. Demi Kim Jong In, Seo Ah berdiri dengan sebuah koper dan ransel di Bandara Internasional John F. Kennedy. Dan demi Kim Jong In pula, Seo Ah nekad menggunakan Bahasa Inggrisnya yang pas-pasan untuk bertanya pintu keluar kepada petugas bandara.

Berbekal dengan sebuah alamat yang diberikan Kim Eun Ha—noona Jong In yang tinggal di Daegu—Seo Ah pun naik taksi dari bandara menuju apartemen Jong In. Ia mengabaikan jetlag hebat yang menyerangnya. Rasanya sangat aneh; ia berangkat pagi-pagi dari Seoul, menghabiskan 14 jam lebih di pesawat, namun New York masih sama terangnya seperti saat ia berangkat tadi. Tubuhnya belum bisa menyesuaikan diri dengan perbedaan waktu ini. Terlebih musim gugur New York lebih berangin daripada Seoul.

Jarak yang ditempuh Seo Ah cukup jauh menuju gedung apartemen Jong In. Meski nyatanya apartemen itu ada di pusat kota, tapi jalanan yang macet, ditambah dengan kondisi fisiknya yang benar-benar lelah, perjalanan terasa seperti neraka. Akhirnya, satu jam setengah kemudian, taksi yang Seo Ah tumpangi berhenti di sebuah bangunan tinggi. Bangunan itu lebih pantas disebut hotel, karena… terlalu mewah untuk sebuah gedung apartemen. Seo Ah bahkan bertanya—lagi-lagi dengan Bahasa Inggrisnya yang buruk—apakah supir taksi itu tidak salah alamat.

Dan bodohnya Seo Ah karena lupa kalau ia hanyalah seorang turis, sedangkan supir taksi itu sepertinya sudah menghabiskan seumur hidupnya untuk menelusuri jalanan New York.

Kamar apartemen Jong In ada di lantai lima belas, begitulah yang ditulis Eun Ha. Seo Ah mengabaikan beberapa pasang mata yang memperhatikannya karena; 1) dia adalah orang Asia; dan 2) tas punggung dan koper biru mudanya yang sialnya-cukup-besar membuatnya lebih terlihat seperti bocah hilang daripada seorang wanita yang ingin menemui pacarnya. Seo Ah bertingkah saja seperti seorang penghuni baru, dan langsung masuk lift begitu pintu terbuka.

Mungkin karir Jong In sukses di sini, pikir Seo Ah. Yah… terlalu sukses sampai-sampai tidak pernah kembali ke Korea. Seingat Seo Ah, Jong In kembali ke Korea saat natal saja, dan itu pun hanya tiga hari. Keluarga Jong In tidak harmonis, dan saat masih di Korea, Jong In dirawat oleh pamannya. Hampir tidak ada alasan untuk Jong In kembali ke Korea, kecuali kalau Seo Ah yang meminta.

Tapi, belakangan ini, sepertinya Seo Ah pun mulai tidak berarti baginya. Air mata yang Seo Ah keluarkan untuk meminta Jong In kembali sudah tidak berefek sebesar beberapa tahun sebelumnya. Itulah kenapa Seo Ah lebih memilih datang daripada menunggu lagi.

Berada di depan kamar 1511, Seo Ah menarik nafas sejenak sebelum menekan bel. Ia sengaja tidak memberitahu Jong In tentang kedatangannya. Lebih dari membuat kejutan, Seo Ah sedang ingin mematahkan keraguan hatinya. Ia terus-menerus berdoa agar pikiran bodoh di otaknya sama sekali tidak nyata. Ia berharap Jong In membuka pintu dengan wajah terkejut dan langsung memeluknya erat, menghujaninya dengan sejuta ciuman hangat, dan berjanji sesuatu padanya.

Ah, tidak. Merasakan pelukan Jong In saja sepertinya sudah lebih dari cukup untuk Seo Ah.

Tapi pintu di depannya tidak kunjung terbuka, membuat Seo Ah memeriksa sekali lagi kertas di tangannya—memastikan ia tidak salah kamar, atau malah salah gedung apartemen. Semuanya benar, tapi kenapa Jong In tidak juga membuka pintunya? Seo Ah memencet bel itu sekali lagi. Dua kali. Dan berkali-kali lagi, sampai akhirnya ia jengkel sendiri.

Oke, dia lelah. Dia membutuhkan tempat untuk tidur, agar jetlag-nya teratasi. Tapi Jong In brengsek ini tidak ada di dalam sana.

Iseng, Seo Ah menekan tombol lain di pintu, dan sebuah tombol digital menyala. Ayo, berpikir, Choi Seo Ah…. Seo Ah menyemangati dirinya sendiri. Ia memikirkan empat kombinasi angka yang kemungkinan besar digunakan Jong In. Pria itu bukan pria bodoh yang dengan mudahnya menggunakan tanggal ulang tahunnya sebagai password, juga bukan orang kelewat rajin yang ingin repot-repot mengingat angka sulit. Jadi Seo Ah mulai memasukan empat digit terakhir nomor ponsel Jong In untuk membuka pintu.

Gagal.

Seo Ah mengetukkan jarinya di pintu. Apa lagi, ya? Tanggal mereka meresmikan hubungan? Seo Ah tertawa sendiri—tidak mungkin! Jangankan Jong In, ia pun geli sendiri membayangkannya. Tapi toh Seo Ah mencoba memasukan tanggal itu, dan—sudah pasti—gagal. Jujur saja, Seo Ah sedikit kecewa, karena Jong In terkesan tidak mengistimewakan hubungan mereka.

Kesempatan Seo Ah tinggal tiga kali lagi, tapi ia sudah jengkel dan lelah. Menyenderkan kepalanya ke pintu, Seo Ah menekan asal kombinasi angka di sana. Mengingat Jong In—kali ini—menggunakan password yang sulit, ia ingin berkata kasar. Dan omong-omong tentang kasar, Jong In bisa dibilang pria kelewat normal yang suka menyimpan video porno. Dan bang! Angka itu muncul di kepala Seo Ah.

Berhasil. Pintu tidak terkunci.

Seo Ah menjauhkan kepalanya dari pintu, dan mengerutkan dahinya—tidak percaya dengan kejadian ajaib yang baru menimpanya. Wah! Benar-benar Kim Jong In ini! Menggunakan angka 6969 untuk password apartemen? Rasanya Seo Ah ingin membakar apartemen ini sekarang juga.

Tapi Seo Ah akan melakukannya nanti, karena ia benar-benar butuh tidur.

“Jong In Oppa!” Seo Ah masuk sambil berteriak memanggil Jong In. Tapi tidak ada sahutan sama sekali.

“Kim Jong In, kau di rumah? Aku datang!”

Meletakkan koper dan tasnya di sebelah sofa, Seo Ah menjelajahi ruang tamu Jong In. Apatermen ini cukup besar, meski—sepertinya—hanya ada satu kamar tidur. Tapi masalahnya… kamar ini super kotor! Seo Ah tidak tahu mana yang disebut lantai di sini, karena sejauh kakinya melangkah hanya ada pakaian kotor, majalah-majalah, kaset video games, bungkus makanan ringan dan kaleng bir, sampai kabel-yang-entah-apa-itu. Seo Ah meringis sendiri. Yah… ia memang tidak asing dengan pemandangan seperti ini. Jeong Min pun tidak beda jauh dari sifat jorok Jong In.

Seo Ah hanya menyingkirkan beberapa majalah dan melempar beberapa pakaian kotor yang menghalangi langkahnya ke sofa, sebelum menuju kamar tidur. Ia sedikit berharap Jong In mungkin saja sedang tertidur pulas di kasurnya, tapi lagi-lagi Seo Ah harus menghela nafas panjang. Kamar tidur itu juga kosong.

Seo Ah menyerah. Ia merebahkan tubuhnya begitu saja di atas kasur Jong In. Si pria super sibuk itu pasti sedang melakukan pemotretan dengan model-model cantik. Ya, Jong In bekerja sebagai model sebuah brand ternama, dan sering juga masuk majalah. Jadwal padatnya mungkin melebihi perdana menteri. Belum lagi hobi DJ-ing pria itu. Bisa dipastikan Seo Ah baru bisa menemui Jong In besok pagi.

Memikirkan itu saja membuat kepala Seo Ah semakin berputar, sampai akhirnya ia tertidur.

***

                Dengan membawa kopi yang dibelinya di mesin otomatis, Se Hun melangkah tenang menyusuri jalan setapak di atap KeyEast Company. Hari ini ia kembali mengunjungi KeyEast untuk masalah pekerjaan, dan entah kenapa Se Hun langsung merasa bosan di menit kelima pertemuan kedua belah pihak. Se Hun tidak benar-benar memperhatikan apa yang mereka bicarakan. Lagipula semua itu akan dilaporkan Jun Myeon nanti—dengan sangat lengkap.

Se Hun adalah orang pertama yang keluar dari ruang pertemuan setelah rapat selesai. Ia langsung membeli kopi panas di mesin otomatis, lalu menuju atap bangunan ini. Pertemuannya dengan Seo Ah waktu itu, memberinya sedikit harapan untuk melihatnya lagi di sini. Tapi melihat tempat ini sangat sepi, Se Hun hanya bisa menghela nafas.

“Apa dia menghindariku?” gumam Se Hun, lalu mendecih, memikirkan Seo Ah mungkin saja ada di kantin atau tempat makan lain.

Se Hun meraih ponselnya sebelum duduk di kursi panjang. Kalau wanita itu sengaja menghindarinya, berarti Se Hun-lah yang harus menyeretnya ke sini. Tenang saja, Se Hun memiliki seribu satu cara untuk membuat wanita seperti Seo Ah ingin menemuinya. Yang harus ia lakukan sekarang adalah menghubungi wanita itu dulu.

                Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan….

Se Hun mengeryitkan dahinya. Woah! Benar-benar wanita ini! Bahkan dia mematikan ponselnya karena—mungkin saja—tahu kalau Sungjin kembali melakukan pertemuan dengan KeyEast di sini.

Jengkel dan kesal—itulah yang Se Hun rasakan sekarang. Ia pun meremas gelas kertas wadah kopinya tadi dan beranjak dari tempat itu. Tidak ada lagi yang ingin ia lakukan di sini, lebih baik kembali ke kantor dan menyelesaikan pekerjaan untuk minggu depan.

Hyeong, kita kembali ke kantor.” Kata Se Hun pada Jun Myeon melalui sambungan telepon. Nadanya terdengar tidak semangat bercampur kesal. Ia bahkan tidak mau repot-repot membalas senyum malu-malu beberapa pegawai wanita KeyEast—yang mengenalnya karena Se Hun sudah beberapa kali ke sini.

Entah kenapa Se Hun jadi uring-uringan begini. Apa karena ia tidak bisa bertemu Choi Seo Ah? Oh, ayolah… yang mereka lakukan saat bertemu hanyalah bertengkar. Sangat tidak masuk akal kalau Se Hun—ehem—merindukan wanita itu.

“Se Hun Oppa!”

Se Hun berhenti melangkah dan mengeryit. Sekilas, ia melirik sekeliling, untuk memastikan kalau ia masih berada di lingkungan KeyEast, bukan Sunny’s Glow. Suara itu kembali terdengar, sampai akhirnya Se Hun memutar badan. Ia menemukan seorang wanita luar biasa cantik, dengan tubuh tinggi seperti model, berjalan dengan kibasan rambut panjang hitamnya yang memancarkan aroma bunga-entah-apa-itu yang membuat siapapun menoleh dan menatap kagum. Tapi tidak untuk Se Hun. Pria itu malah makin mengeryitkan dahinya.

Se Hun bukannya tidak kenal siapa wanita itu, tapi tidak paham kenapa wanita itu memanggilnya—terlebih dengan panggilan ‘oppa’.

Oppa mau ke mana? Sudah makan siang?”

“Kembali ke kantor,” jawab Se Hun. “Dan, Seol Hyun-ssi, kukira kita tidak sedekat itu, jadi tolong tunjukkan rasa sopanmu.”

Seol Hyun memutar bola matanya. “Oppa kenapa begitu? Kita kan—“

“Kim Seol Hyun!”

Seol Hyun langsung mengatupkan bibirnya begitu mendengar teguran Se Hun. Oke, memang di antara mereka tidak ada apa-apa lagi selain ‘rekan kerja’, tapi apakah Se Hun harus seperti itu? Setidaknya… apakah Se Hun tidak ingat senyuman atau bahkan ciuman yang ia bagi untuk Seol Hyun? Memanggil ‘oppa’ saja tidak boleh.

“Tolong. Tunjukkan harga dirimu.”

Lebih dari ‘tidak ingin berhubungan lagi dengan Kim Seol Hyun’, Se Hun sebenarnya tidak mau orang-orang—terutama yang menyaksikan adegan penolakan-Kim-Seol-Hyun-si-wanita-sempurna ini—jadi merendahkan Seol Hyun. Maksudnya, Se Hun memang terlihat jahat, tapi Seol Hyun akan terlihat sangat menyedihkan. Belum lagi jika ini nanti berdampak kepada hubungan kedua belah perusahaan. Se Hun tidak ingin membuang-buang waktu dan uangnya untuk hal yang tidak menguntungkan.

Se Hun tidak menunggu jawaban Seol Hyun, dan karena wanita itu tidak juga menjawab, ia pun berbalik dengan mengucapkan salam singkat terlebih dulu. Seol Hyun hanya menatap kepergian Se Hun dengan ekspresi sedih. Dulu, bahkan mereka tidak bisa saling melepaskan genggaman, dan selalu ada pelukan terakhir sebelum akhirnya berpisah. Tapi sekarang, semua itu hanya bagai mimpi buruk terindah untuk Seol Hyun. Ia lagi-lagi merasakan sakit itu.

Seol Hyun sudah hampir putus asa ketika mendengar Se Hun sudah bertunangan. Bagaimana tidak, berita itu muncul setelah dua bulan hubungan mereka berakhir. Seol Hyun tahu, Se Hun memang brengsek, tapi sikap Se Hun yang menganggap seolah dirinya bukan apa-apa—baik dulu maupun sekarang—benar-benar membuatnya ingin mati saja. Tapi setelah ayahnya mengatakan kalau KeyEast sedang menjalin hubungan kerja dengan Sungjin, Seol Hyun merasa ada secercah harapan lagi. Sebelum janji suci itu disahkan, ia masih punya kesempatan—itulah tekad Seol Hyun.

Ah, iya, Seol Hyun lupa janji yang ia buat untuk dirinya sendiri. Se Hun belum menikah, itu artinya ia masih punya banyak kesempatan. Ia pun tersenyum.

***

                Seo Ah menatap bangunan dengan papan nama penuh lampu neon warna-warni di depannya. Setelah bangun dari tidur panjangnya (sebenarnya tidak juga, tapi setidaknya Seo Ah merasa lebih hidup sekarang), ia baru menyadari kalau langit di luar sudah gelap. Dan Jong In belum pulang juga. Akhirnya, sambil menggerutu, Seo Ah menjelajahi apartemen Jong In untuk membunuh bosan. Ia pun menemukan catatan Jong In di meja kerjanya. Di sana tertulis kalau jadwal Jong In sangat padat hari ini—mulai dari pemotretan sampai DJ-ing di sebuah bar.

Seo Ah mendengus setelahnya. Pantas saja, ia sulit menghubungi makhluk satu itu.

Seo Ah mencari alamat bar tempat Jong In tampil dari browser ponsel pintarnya. Puluhan Dollar Seo Ah keluarkan untuk bertemu pria itu, kalau saja Jong In tidak ada di sana… Seo Ah mungkin saja bisa membakar bar itu sekaligus isinya. Rasanya bertemu presiden saja tidak sesulit ini. Seo Ah bahkan rela tidak mandi—hanya menyemprotkan parfum banyak-banyak ke tubuhnya—dan ‘mencuri’ selembar roti dari kulkas Jong In. Dengan kata lain, Seo Ah sedang dalam keadaan bisa saja membunuh orang kapan saja.

Lelah, bau, lapar, dan frustasi.

Dan semua itu gara-gara satu pria bodoh-yang-sayangnya-masih-ingin-ia-pertahankan-bernama-Kim-Jong-In.

Pada dasarnya, bar atau tempat hiburan malam, di mana-mana sama saja. Tapi entah kenapa Seo Ah merasakan bar di Amerika jauh lebih liar. Ia sampai harus mengeryitkan dahinya setiap saat dan berusaha menyelamatkan bahunya dari  siapapun-yang-ada-di-sekitarnya. Musik menghentak yang khas membuat semua orang mengangkat tangannya tinggi-tinggi dan menari sesuka mereka. Seo Ah mencari celah di antara orang-orang itu untuk—setidaknya—bisa melihat sosok yang asik dengan ‘peralatan perang’nya di atas panggung sana.

Seo Ah tersenyum tanpa sadar. Rasanya seperti mimpi melihat Jong In berdiri di atas sana. Pria yang biasanya ia lihat hanya melalui layar ponsel atau komputer selama tiga tahun belakangan ini, dan saat tahun baru atau Chuseok, kini benar-benar nyata di depannya. Dengan headphone yang tergantung di leher, kedua tangannya lihai memainkan alat. Seringai Jong In membuat auranya makin terpancar, Seo Ah pun berdebar lagi dibuatnya.

Beberapa menit kemudian, musik berhenti dan Jong In turun dari panggung diiringi dengan tepukan dan sorakan ramai orang-orang. Jong In pun membalas dengan senyuman lebar, sebelum menghilang di salah satu sudut bar. Musik kembali diputar, kali ini dari orang yang berbeda. Seo Ah tidak sempat melihatnya—atau tidak peduli—dan langsung menyusul jejak Jong In.

Pria itu berbelok di koridor. Dia berjalan dengan sangat santai, seolah menggambarkan betapa familiarnya tempat ini untuknya. Sesekali ia berhenti dan menyapa beberapa orang. Seo Ah tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan karena tempat ini begitu bising. Tapi mata Seo Ah tetap mengawasi Jong In, sambil masih mencari sela di antara puluhan orang yang menikmati malam penuh musik berisik dan lampu kerlap-kerlip. Seo Ah tidak terlalu mempemasalahkan dengan siapa Jong In berbicara—karena pria itu hanya berhenti beberapa saat dan kembali melangkah—sebelum ia melihat Jong In merangkul mesra seorang wanita yang sedang mengobrol dengan wanita berambut pirang dari belakang.

Seo Ah berhenti dalam jarak lima meter. Dalam pencahayaan yang padam ditambah dengan kerlipan lampu yang memusingkan, Seo Ah masih bisa melihat jelas kalau itu bukanlah sapaan biasa. Meski agak risih dengan cara menyapa orang Amerika—yang melibatkan ciuman, pelukan, dan sebagainya dan sebagainya—Seo Ah menyadarinya kalau Jong In tidak sedang melakukan itu.

Kekhawatiran Seo Ah mulai naik ke permukaan.

Masih sambil merangkul pinggang wanita itu, Jong In berbelok ke koridor lain. Kaki Seo Ah bergerak sendiri untuk mengikuti dua orang itu, meski kepalanya hanya terisi udara hampa. Kata “kenapa” terus terulang di benaknya. ‘Kenapa Jong In merangkul wanita itu?’, ‘kenapa Jong In menciumnya?’, ‘kenapa Jong In tidak menyadari keberadaannya?’, dan ribuan pertanyaan ‘kenapa’ lainnya. Tidak peduli berapa banyak bahu yang ditabraknya, Seo Ah tetap melangkah. Sampai akhirnya, bayangan sosok Jong In dan wanita itu mengantarnya pada pintu belakang bar itu.

Melewati pintu itu, Seo Ah langsung saja menyesali perbuatannya. Harusnya ia mendengarkan sebagian dirinya yang mengatakan untuk berbalik, dan membicarakan hal ini dengan Jong In nanti. Tapi ternyata dorongan untuk membuka sebuah fakta yang selalu ia takutkan jauh lebih besar dan mengalahkan segalanya. Dan Seo Ah mengutuk dirinya karena terlalu bodoh.

Ya… terlalu bodoh. Karena hanya bisa diam berdiri di sana, melihat Jong In dan wanita berambut hitam itu bercumbu.

Satu tangan Jong In berada di pinggang wanita itu, sedangkan satunya lagi bersandar di tembok. Seperti tidak ada hari esok, mereka sangat menikmati setiap sentuhan dan kecupan yang diberikan. Bunyi kecapan mengalahkan suara bising dari dalam bar, membuat pijakan Seo Ah menghilang. Banyak yang dipikirkan wanita itu, tapi tidak ada satu pun yang keluar dari bibirnya. Hanya tubuhnya yang bergetar.

Bodoh. Idiot. Tidak berguna.

Seo Ah terus merapalkan kutukan itu. Bukan untuk Jong In, tapi untuk dirinya sendiri. Entah sudah berapa lama keraguan itu muncul, tapi Seo Ah selalu berusaha mengabaikannya. Mengenyahkan pikiran bahwa hubungan mereka tidak baik-baik saja. Dan ketika ia menyaksikan itu sendiri, entah kenapa rasanya jauh lebih sakit daripada hanya membayangkannya.

Sorry… what are you doing here?”

Kim Jong In sebenarnya tidak terlalu peduli dengan siapa yang berdiri di sana dan mengganggu waktunya dengan Krystal, tapi ia tidak bisa untuk tidak menoleh. Sebenarnya lucu juga ketika melihat wajah Krystal yang seperti ini. Namun, beberapa detik kemudian, kekehan Jong In berhenti mendadak, melihat seseorang berdiri di sana dengan raut kacau dan tubuh gemetar.

“Seo Ah-ya…”

Krystal menoleh. “Oppa mengenalnya?”

Entah kenapa Seo Ah ingin tertawa terbahak-bahak mendengar wanita itu berbicara bahasa Korea. Ah, harusnya ia menyadarinya dari awal. Wajah wanita itu masih memiliki campuran Asia, dan mendengar betapa fasihnya ia berbahasa Korea, sudah pasti dia orang Korea. Harga diri Seo Ah sedikit tergores. Ia dikalahkan oleh sesama wanita Korea… lucu sekali.

“K-Kenapa kau di sini?”

Oh, jadi itu pertanyaan yang ditanyakan seorang kekasih ketika melihat pacarnya berkunjung tanpa pemberitahuan?! Terlebih dia baru saja tertangkap basah sedang selingkuh.

“Apa maksudnya ini, Kim Jong In?”

Jong In bergerak gelisah di tempatnya. “A-Aku….”

“Kukira diriku yang akan memberi kejutan, tapi ternyata kau menyiapkan kejutan yang lebih besar.” Seo Ah tertawa hampa di akhir kalimatnya. Jong In tidak berkutik selama beberapa saat, hanya menatap Seo Ah dengan tatapan panik.

Seo Ah mulai mendekati Jong In, menampakkan keberadaannya di bawah lampu kecil yang dipasang di atas Jong In dan wanita-jalang-yang-selamanya-tidak-ingin-Seo-Ah-ketahui-namanya. Wajah pucat Jong In semakin terlihat jelas. Entah Seo Ah harus tertawa atau menangis keras sekarang. Rasanya terlalu sakit, sampai-sampai Seo Ah tidak bisa merasakannya lagi. Padahal ia sudah berusaha mati-matian untuk mengalahkan keraguannya sendiri, tapi Jong In-lah yang menghancurkannya. Sekarang apa yang harus Seo Ah lakukan?

“Jadi ini yang kaulakukan selama ini? Mengabaikanku dan membuatku menunggu di sana seperti orang bodoh?!”

“Seo Ah-ya….”

“Entah kenapa aku tidak ingin penjelasanmu.” Ya, karena semua terlalu jelas. Tapi satu sisi hati Seo Ah ingin mendengar satu alasan dari Jong In.

Oppa, kau mengenalnya?”

Suara wanita yang berdiri di belakang Jong In membuat Seo Ah mau tidak mau mengalihkan pandangannya. Wanita itu sangat cantik—harus Seo Ah akui—pantas saja Jong In berpaling padanya. Matanya yang besar, pipi tirus yang terbentuk sempurna, hidung mancung, dan bibir yang terlihat menawan dengan polesan lipstik merah. Seo Ah mendengus. Sial, semuanya terlalu sempurna.

“Tentu saja.” Seo Ah yang menjawab. “Aku akan membunuhnya kalau dia mengatakan tidak mengenalku.”

“Omong-omong, kenapa bicaramu kasar sekali?” keluar dari balik punggung Jong In, wanita itu menatap kesal Seo Ah. Bahkan dengan tidak sopannya memperhatikan penampilan Seo Ah dari atas sampai bawah. “Ah, aku paham sekarang. Kau pasti pacar yang dicampakan Kai Oppa, kan?”

Memang itu kenyataannya, tapi Seo Ah tidak suka cara bicara wanita ini. Mempertahankan sifat angkuhnya, Seo Ah menjawab. “Setidaknya statusku jauh lebih tinggi darimu yang hanya selingkuhan—atau… perusak hubungan orang.”

“Choi Seo Ah!”

“Kau berteriak padaku?!” Seo Ah mendelik pada Jong In yang baru saja membentaknya. “Kau marah karena aku mengatakan hal buruk kepada wanita jalang ini?!”

“Jaga ucapanmu!” tidak hanya membentak, Jong In sekarang menunjuk kasar wajah Seo Ah.

“Kau… benar-benar,” Seo Ah berbisik lirih. Air mata yang sedaritadi ia tahan perlahan mengaliri pipinya. “Kau bahkan tidak melakukan pembelaan….” atau setidaknya peluk aku sambil berkata maaf, lanjut Seo Ah dalam hati.

Sebagai wanita, Seo Ah tentu ingin dimengerti. Saat ia berkata tidak ingin mendengar penjelasan Jong In, sesungguhnya ia hanya mau Jong In mengucapkan satu kata untuknya. ‘Maaf’. Tapi dengan bodohnya, Jong In malah menuruti kemauan Seo Ah. Pria itu sama sekali tidak menjelaskan apapun, seolah membenarkan segala pikiran gila Seo Ah itu.

Seo Ah kembali mendekati Jong In. Begitu sampai di depan Jong In, dengan isakkannya, Seo Ah mulai memukuli dada Jong In. “Ayo, cepat katakan kalau semua yang kulihat tadi tidak benar! Aku akan memaafkanmu kalau kau mengatakan itu! Aku tidak akan menyebutmu brengsek; dan aku akan melakukan apa saja yang kaukatakan malam ini. Sebentar lagi hubungan kita sudah menginjak tujuh tahun… k-kita sudah berjanji akan menikah tahun depan—“

“CHOI SEO AH!”

“Aku bahkan menghabiskan gajiku untuk menemuimu… ayo, kita kembali ke Korea. Aku yakin, hubungan kita akan baik-baik saja di sana—“

“SUDAH CUKUP! ADA APA DENGANMU, HAH?!”

Seo Ah sendiri tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Mulutnya berbicara sendiri, seolah mewakili kekacauan yang sedang terjadi di otaknya. Matanya tidak fokus, ketakutan benar-benar menguasai dirinya. Jong In menahan tangannya, hingga Seo Ah merasakan seluruh tubuhnya lemas. Ia bisa saja jatuh saat ini.

“Kau tidak bisa menyalahkanku, Choi Seo Ah!”

Dan… apa lagi sekarang? Seo Ah pun mengangkat kepalanya. Matanya yang sembab langsung berhadapan dengan mata Jong In yang memerah karena amarah.

“Kau pikir hanya dirimu yang tersiksa selama ini?! Kau tidak memikirkan bagaimana aku bertahan di sini?! Dengan kau yang selalu sibuk bekerja, dan selalu aku yang menyesuaikan waktu kita.”

Sebenarnya Seo Ah mempunyai seribu satu kalimat untuk melawan Jong In, tapi kekacauan yang terjadi di otaknya tidak bisa memproses semua itu. Ia hanya bisa diam, menatap Jong In dengan matanya yang sudah penuh air mata. Seo Ah tampak menyedihkan. Ia membuat dirinya jatuh di hadapan pria itu.

“Kenapa kau melakukan ini….” lirih Seo Ah.

“Karena Krystal jauh lebih baik darimu!”

Nafas Seo Ah seolah ditarik paksa dari paru-paru. Ia membuka mulutnya, menarik oksigen dari sana, berharap bisa mengurangi sesak yang terus menghimpit dadanya. “Kenapa jalang itu—“

“Berhenti menyebutnya begitu!” wajah Jong In berubah menjadi sangat menyeramkan. Ia pun mendekatkan wajahnya pada Seo Ah, bukan untuk menenangkan, tapi untuk mengintimidasi wanita itu. “Aku muak denganmu!”

“Kim Jong In….”

“Cukup Choi Seo Ah!” Jong In membuang pendangannya sambil menghela nafas panjang. “Ayo kita akhiri saja.”

Seo Ah bergeming selama beberapa saat. Dinginnya malam New York tidak bisa mengalahkan ucapan dingin Jong In itu. Mulut Seo Ah dibuat kaku olehnya. Tidak seperti biasanya, Seo Ah tidak bisa berteriak, bahkan untuk mengucapkan satu kata pun sulit. Telinganya berdengung keras, seolah mesin penghangat ruangan berputar di telinganya. Ya, dia memang sering membayangkan sebuah perpisahan dengan Jong in, tapi ia tidak pernah membayangkan rasa sakitnya. Satu kalimat itu seperti pisau bermata ganda yang menusuknya dari mana-mana.

“K-Kau bercanda, kan?” Seo Ah tersenyum getir, meski bola matanya bergerak panik. “A-Aku datang ke sini hanya untukmu, loh, k-kau pasti ingin membalas kejutanku, kan?”

Jong In tidak menjawab, dan itu malah membuat Seo Ah makin merasa jijik dengan dirinya sendiri. Oh… dia sangat menyedihkan. Seolah dirinya wanita bodoh yang rela melakukan apa saja untuk pria sebajingan Jong In.

“KIM JONG IN, JAWAB AKU!”

“Lebih baik kau pulang sekarang. Aku tidak mau melihatmu lagi.” Dan kemudian, Jong In berlalu masuk kembali ke dalam bar sambil menarik lengan wanita itu.

Semua berakhir.

Choi Seo Ah dibuang.

Rasanya lucu tapi menyedihkan. Dibanding ingin menangis meraung-raung dan berlutut untuk meminta Jong In kembali, entah kenapa Seo Ah justru ingin menginjak wajah pria itu sambil tertawa terbahak-bahak. Dia dibuang begitu saja seperti tisu penuh sperma setelah semalaman bercinta; awalnya sangat berharga, tapi akhirnya menyatu juga dengan kotoran. Lucu ketika mengingat seribu satu kata manis yang diucapkan Jong In dulu, janji yang selalu diulangnya setiap malam, sampai ciuman manis bercampur kata cinta yang bisa membuat Seo Ah merasa seperti gadis paling beruntung di dunia. Omong kosong! Tujuh tahun yang sama sekali tidak berarti apa-apa.

“Brengsek!”

***

                Tapi pada akhirnya, Seo Ah tidak tahan untuk tidak menangis.

Maksudnya… tujuh tahun itu bukan waktu yang singkat! Cukup untuk membuat seorang Choi Seo Ah mengenal Kim Jong In, mencintainya sekaligus membenci pria itu, dan berkhayal suatu saat mereka akan memiliki akhir yang bahagia. Meski begitu, Seo Ah masih memiliki harga diri untuk tidak meminta Jong In kembali, atau paling tidak memikirkan kembali ucapannya itu. Ia terlanjur sakit hati! Terlebih Jong In sudah jelas-jelas menginjak harga dirinya di depan wanita jalang itu.

Dan akhirnya, di sinilah Seo Ah sekarang. Di ruang tunggu Bandara Internasional John F. Kennedy, dengan koper besar, tas punggung, dan tas kecil berisi dompetnya. Menghabiskan puluhan Dollar untuk kembali ke apartemen Jong In dan mengambil barang-barangnya, Seo Ah sekali lagi harus mengeluarkan lembaran Dollar lagi untuk ongkos taksi menuju bandara. Oh, jangan lupakan tiket pesawat mendadak yang dibelinya. Bisa dipastikan, gaji tiga bulannya habis dalam waktu kurang dari dua hari.

Jam menunjukkan pukul sepuluh malam, dan waktu keberangkatan Seo Ah masih delapan jam lagi (itu pesawat dengan jam keberangkatan tercepat yang bisa Seo Ah dapatkan). New York benar-benar meninggalkan kesan yang buruk padanya, oleh karena itu ia ingin segera meninggalkan kota ini. Ia ingin pulang. Sekalipun tidak bisa pulang ke rumah karena malu dengan Jeong Min yang akan menyerangnya dengan seribu satu pertanyaan kenapa ia kembali dengan cepat, setidaknya Seo Ah tidak menghirup udara yang sama dengan pria brengsek dan wanita jalang-yang-sialnya-cantik itu.

Delapan jam tanpa ‘perbekalan menunggu’ apapun adalah hal yang membosankan. Seo Ah hanya bisa memandangi paspor dan tiketnya dengan tatapan kosong. Ia pun mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya, lalu menyalakan ponsel yang hampir 24 jam dalam keadaan mati itu. Notifikasi pesan bergantian masuk, dari ibunya, Jeong Min, dan beberapa orang yang dikenalnya. Rata-rata semua berisi sama, menanyakan apakah dia sudah sampai, bagaimana New York, minta dibelikan oleh-oleh, dan bla bla bla. Tanpa sadar Seo Ah mendengus. Apa yang bisa ia nikmati? Toh, dia hanya tidur selama beberapa jam, dan menghabiskan uang untuk taksi saja di sini.

Ah! Dan menangisi pria bajingan itu.

Seo Ah menggelengkan kepalanya dengan kuat. Tidak, ia tidak boleh mengingat pria itu lagi. Ia tidak boleh mengingat wajahnya, kata-katanya, ciumannya… sentuhannya… janji mereka…

Drrt! Drrt!

Menghapus air mata yang sudah terkumpul di ujung mata, Seo Ah menjawab panggilan itu tanpa melihat nama pemanggilnya. “Halo?”

                “Akhirnya kau menjawabnya.”

Seo Ah mengeryitkan dahi. Suara ini terdengar asing sekaligus familiar dalam waktu bersamaan. Seo Ah pun menjauhkan ponselnya untuk melihat id caller, tapi memori ponselnya tidak menyimpan data si pemanggil.

“Ini siapa?”

“Aku tidak percaya kau melupakan suaraku.”

Seo Ah memejamkan mata sambil memijit dahi. Ia tidak punya waktu untuk meladeni orang seperti ini. “Maaf, sepertinya Anda salah sambung, saya akan—“

                “Aku Oh Se Hun.”

Seo Ah tidak langsung menyahut. Nama itu seolah membuat otaknya dua kali bekerja lebih lambat. Bukan karena hal-hal romantis macam di drama, tapi tiba-tiba saja Seo Ah kembali teringat dengan masalah Ji Eun. Sahabat-sahabatnya pasti akan bereaksi berlebihan kalau sampai tahu masalahnya ini. Ditambah kondisi Ji Eun belum stabil, Seo Ah tidak sampai hati memberitahu mereka tentang masalahnya.

Akhirnya, Seo Ah hanya bergumam pelan. “Oh. Kau rupanya.”

“Kenapa ponselmu baru diaktifkan?”

“Bukan urusanmu.”

                “Kau dimana?”

Pandangan Seo Ah mulai tidak fokus. Terlalu banyak cabang yang tercipta di otaknya. Ia sama sekali lupa dengan rasa benci setengah matinya kepada Se Hun, dan menjawab pertanyaan pria itu. “Di New York.”

                “Apa yang kaulakukan di sana?”

Geunyangyo.”

Semakin lama, Se Hun semakin yakin kalau sesuatu sedang terjadi di sana. Awalnya ia kira jawaban singkat yang diberikan Seo Ah hanya karena wanita itu masih memiliki dendam kesumat padanya, tapi anehnya Seo Ah terus saja menjawab. Tidak ada teriakan atau bahkan ucapan sarkastik dari mulut pedas Seo Ah. Se Hun merasa kalau bukan Seo Ah yang sedang berbicara padanya, wanita itu benar-benar berbeda.

“Kau baik-baik saja?” tanya Se Hun, tidak tahan dengan sikap Seo Ah yang berbeda seratus delapan puluh derajat dari biasanya. Jujur saja, ini memang hal yang bagus, tapi Se Hun tidak suka. Ia lebih suka ketika Seo Ah memakinya, karena dengan begitu ia akan mendengar suara Seo Ah lebih lama.

Se Hun memang merasa dirinya aneh akhir-akhir ini.

Harusnya Se Hun tidak menanyakan hal itu. Harusnya Seo Ah tidak menjawab seluruh pertanyaannya. Harusnya Seo Ah bahkan tidak perlu mengangkat panggilan itu. Karena sekarang pertahanan diri Seo Ah melemah. Ia tidak bisa menanggung semuanya sendiri. Masalah terlalu banyak menghampirinya, sampai ia sendiri tidak tahu harus bagaimana menjawab pertanyaan Se Hun itu. Ia ingin berkata baik-baik saja, tapi kenyataannya tidak seperti itu.

Semua sakit hati dan rasa frustasi yang selama ini Seo Ah tahan, melebur menjadi air mata yang mengalir deras. Dia terisak di bangku bandara. Sosoknya saat ini benar-benar menggambarkan bagaimana frustasinya seorang Choi Seo Ah. New York yang awalnya diharapkan bisa menjadi obatnya selama beberapa hari, kini menjadi obat bius mematikan yang membunuhnya perlahan. Seo Ah tidak bisa lagi pura-pura menjadi wanita kuat.

“Tidak. Aku tidak baik-baik saja.” Jawab Seo Ah di sela isakkannya. Ia menjawab itu tanpa sadar, seolah sedang meneriakan isi hatinya. Ia sendiri tidak yakin apakah ia sadar kalau lawan bicaranya adalah Oh Se Hun—pria kedua yang paling dibencinya setelah Jong In.

“Kapan kau kembali?”

Sadar dengan pandangan orang-orang, Seo Ah berhenti terisak dan buru-buru menghapus air matanya. Ia memejamkan mata sejenak, berusaha terlihat senormal mungkin. “Jam enam pesawatku berangkat.”

“Baiklah, aku mengerti.”

***

                Pukul enam lebih sepuluh menit, pagi hari, Seo Ah sampai di Bandara Incheon. Tidak bisa dibayangkan betapa remuk tubuhnya ini. Ia tidak bisa tidur nyaman di pesawat, tapi kantuk terus menyerang sampai matanya terasa perih. Seo Ah memaksakan tubuhnya yang berat untuk menarik koper dan membawa barang-barangnya. Sebenarnya ia sendiri juga tidak tahu ke mana tujuannya setelah ini. Rumah bukanlah pilihan yang tepat—ia belum siap menerima banyak pertanyaan dari keluarganya. Bertemu sahabat-sahabatnya pun malah akan membuat perasaannya makin kacau. Intinya, Seo Ah tidak ingin membuat orang lain khawatir, meski keadaannya sudah sangat memprihatinkan.

Otaknya mulai mengkalkulasikan uang Dollar yang tersisa di dompetnya. Kalau dikurskan kembali ke Won… rasanya cukup untuk menyewa satu tempat kecil di pinggir kota selama dua atau tiga hari, atau bahkan berlebihan kalau ia memilih sauna sebagai tempat tinggal sementara selama seminggu penuh. Tapi kemudian, ia mulai memikirkan kebohongan-kebohongan lainnya yang berhubungan dengan ‘New York’ dan ‘Jong In si Brengsek’. Ah! Kepala Seo Ah semakin sakit memikirkannya.

Seo Ah berhenti melangkah dan memegangi kepalanya yang berdenyut. Rasanya kepala itu bisa meledak, ditambah dengan kondisi tubuhnya yang tidak bagus dan cuaca yang dingin, ini benar-benar neraka bagi Seo Ah.

“Ternyata jauh lebih buruk.”

Seo Ah melihat sepasang sepatu sneakers di depannya, bersamaan dengan suara seorang pria. Perlahan, Seo Ah mengangkat kepalanya, dan sedetik kemudian langsung menyesal. Lupakan kejadian malam tadi—Seo Ah benar-benar tidak ingin mengingatnya—melihat wajah Se Hun adalah hal terakhir dari yang paling terakhir yang ingin Seo Ah lakukan saat ini. Wajah Se Hun membuat jetlag Seo Ah tambah parah. Apa-apaan dia! Berdiri dengan kedua tangan dimasukan ke dalam celana jeans-nya, berwajah sok datar, seolah merasa dirinya tampan dengan kacamata dan blazer hitam itu. Cih! Dibayar berapapun Seo Ah tidak akan terpesona.

“Kenapa kau ada di sini?” Seo Ah sepenuhnya menggunakan banmal pada Se Hun sekarang. Ia pikir, tidak ada gunanya juga bersikap sopan kepada pria macam Se Hun.

“Aku hanya penasaran dengan keadaan seorang wanita yang menangis dua puluh tiga menit tujuh belas detik di telepon kemarin.”

Seo Ah mendengus. Haruskah ia memberikan piala ‘ucapan sarkastik terbaik tahun ini’ kepada Se Hun?

“Ayo!”

Tidak ada angin, begitupun hujan, Se Hun tiba-tiba saja berkata begitu dan membalik tubuhnya. Tapi Seo Ah tidak bereaksi, hanya mendengus lebih keras terhadap sikap konyol Se Hun itu. Apa dia sedang bermain ‘bos dan majikan’ sekarang?

Sadar kalau Seo Ah tidak mendengarkannya, Se Hun kembali berbalik dan meringis. Wanita itu masih berdiri di tempatnya, dengan satu alis terangkat. Ekspresi wajahnya menggambarkan kalau ia tidak suka sikap Se Hun—ah tidak, maksudnya, Seo Ah memang tidak pernah menyukai Se Hun. Mengendalikan Choi Seo Ah jauh lebih sulit daripada menggelapkan pajak. Se Hun lupa kalau Choi Seo Ah sangat berbeda dari wanita manapun yang pernah ia temui. Harus ada sedikit ‘permainan’ dan ancaman untuk mengendalikan Choi Seo Ah.

“Sedang apa kau? Ayo!” Se Hun berkata sekali lagi.

“Kau pikir, kau siapa? Kenapa memerintahku seenaknya?”

Dua hal yang bisa Se Hun mengerti tentang watak Seo Ah, pemarah dan sinis. Se Hun memang pernah bertemu dengan wanita yang pemarah, tapi tentu saja tipe pemarahnya jauh berbeda dari Seo Ah yang garang ini. Se Hun belum menyusun strategi bagaimana menakhlukan wanita jenis ini, oleh karena itu ia lebih memilih untuk merebut koper Seo Ah dan membawanya pergi daripada merayunya dengan kata-kata.

YA! Oh Se Hun!”

Benar, kan? Wanita itu mengikutinya juga.

Berjalan layaknya selebriti yang baru pulang dari luar negeri, Se Hun menarik koper Seo Ah dengan sombongnya. Bahkan beberapa kali Seo Ah melihatnya membenarkan letak kacamata hitamnya itu, membuat Seo Ah mendecih tanpa sadar. Tuhan benar-benar menguji kesabarannya kali ini. Sudah dicampakan Kim Jong In Brengsek, sekarang ia malah disambut dengan pria tidak tahu diri bernama Oh Se Hun.

Mereka pun keluar dari bandara. Seo Ah tidak lagi meneriaki Se Hun, karena ia sudah sangat lelah. Bagaimanapun pria itu tidak akan berbalik, kecuali Seo Ah merelakan sepatu kesayangannya untuk dilempar ke kepala besar itu. Apalagi para gadis, ibu-ibu, bahkan anak perempuan yang menatap kagum sosok Se Hun, membuat Seo Ah tambah enggan ikut campur. Bisa ia bayangkan bagaimana aksi Se Hun nanti kalau Seo Ah bertindak anarkis.

Se Hun berhenti di samping sebuah mobil hitam yang terparkir di halaman bandara. Seorang pria lainnya turun dari mobil dan menatap koper yang Se Hun bawa dengan alis berkerut.

“Eh? Ini punya siapa?”

“Dia.”

Seo Ah lagi-lagi mendengus. Se Hun ini patut dimasukan ke dalam sekolah tata krama selama lima tahun penuh. Bagaimana mungkin ia hanya menggedikkan kepalanya ke arah Seo Ah, tanpa melihatnya sedikitpun, dan terus berbicara dengan pria di hadapannya. Namun, baru Seo Ah ingin memprotes—kalau perlu meninju wajah Se Hun—Seo Ah menyadari siapa yang sedang berbicara dengan Se Hun. Kim—ah! Entahlah, ia lupa. Pokoknya dia si Pria Tampan-yang-ada-di-apartemen-Se Hun-waktu-itu.

“Ah, annyeonghaseyo?”

“Oh! Teman—maksudku, annyeonghaseyo?” Jun Myeon baru saja ingin menyebut Seo Ah dengan ‘temannya Lee Ji Eun’ ketika matanya menangkap tatapan tajam Se Hun. Benar, dalam keadaan seperti ini, membawa Lee Ji Eun memang tidak bagus.

“Tidak kusangka kita bertemu lagi.” Lanjut Jun Myeon, sekadar basa-basi.

“Ah, iya, begitulah….” Seo Ah terkekeh canggung sambil menyelipkan anak rambutnya ke telinga. Udara yang dingin, ditambah dengan sosok tampan pria yang memakai kemeja biru muda yang dibalut coat hitam ini membuat wajah Seo Ah memanas. Ia butuh pasokan oksigen tambahan!

“Jadi ini barang-barang Nona….”

“Choi Seo Ah. Namaku Choi Seo Ah.” Jawab Seo Ah terburu-buru sambil mengulurkan tangannya.

“Kim Jun Myeon.” Ah! Iya! Jun Myeon! Bagaimana mungkin aku melupakan nama setampan itu, Seo Ah merutuki kebodohannya sendiri.

Se Hun menonton adegan drama murahan itu dengan malas. Beberapa kali ia memutar bola matanya ketika melihat ekspresi malu-malu Seo Ah. Dasar wanita aneh! Ia mengabaikan seorang Oh Se Hun dengan segala pesonanya dan malah tersipu oleh Kim Jun Myeon si Bujang Tua. Oke, kharisma Jun Myeon boleh lebih kuat, tapi tetap saja harusnya Seo Ah merasa tersanjung karena dijemput oleh pangeran macam Se Hun.

Ya, ya, sudahlah.” Se Hun mengibaskan tangannya di antara Seo Ah dan Jun Myeon. “Hyeong, taruh koper ini di bagasi—kemarikan ranselmu!—yang ini juga.”

Se Hun menyerahkan koper yang sedaritadi di pegangnya kepada Jun Myeon, lalu melepaskan paksa ransel Seo Ah dari punggungnya dan langsung menyerahkan kepada Jun Myeon lagi. Dasar! Sudah tahu udara dingin, masih saja melanjutkan basa-basi tidak bermakna itu. Namun, tidak sampai situ saja adegan drama murahan yang terjadi di antara Seo Ah dan Jun Myeon—yang membuat Se Hun mendesah keras. Seo Ah dengan rasa tidak enak hatinya, menolak dengan halus bantuan Jun Myeon yang ingin memasukkan koper dan ranselnya ke dalam bagasi dengan alasan ia bisa melakukannya sendiri. Tapi—tentu saja—Jun Myeon sebagai seorang pria dengan manner yang baik, tidak mengizinkannya, sehingga adegan itu terus terjadi selama tiga puluh detik.

“Kau masuk saja ke dalam mobil!” tidak tahan, Se Hun menarik tangan Seo Ah dan mendorongnya masuk ke kursi belakang. Dan saat ia melihat mulut Seo Ah terbuka, ingin protes, pria itu dengan keras membanting pintu.

“Jadi kau ingin membawanya ke villa?” tanya Jun Myeon, setelah meletakkan barang-barang Seo Ah di bagasi.

“Jalankan saja mobilnya. Bawel sekali.” Se Hun membuka pintu penumpang bagian depan lalu duduk. Terdengar dari luar kalau Seo Ah dan Se Hun kembali beradu mulut.

Walau bingung setengah mati, Jun Myeon hanya bisa mengangkat bahu dan masuk ke dalam mobil—dan kemudian langsung disambut dengan obrolan sinis antara Se Hun dan Seo Ah. Kemarin sore, saat pulang kerja, Se Hun tiba-tiba saja meneleponnya dan meminta untuk menyiapkan villa miliknya di Daejeon. Belum lagi pagi ini, tidak biasanya Se Hun menelepon Jun Myeon terlebih dahulu dan langsung menyuruhnya ke Bandara Incheon. Dan begitu sampai, Jun Myeon benar-benar kehabisan kata.

Yah… semoga saja kali ini Se Hun tidak sedang bermain-main.

Keadaan di dalam mobil kelihatannya tidak akan membaik, karena kedua manusia itu sama-sama keras kepala. Jun Myeon tidak berkomentar apa-apa, hanya menjalankan mobilnya dengan tenang dan berharap kepalanya masih utuh saat tiba di villa nanti. Entah apa yang mereka permasalahkan, intinya yang satu terus menyerangnya dengan kalimat sarkastik, dan yang satu lagi terlihat malas menanggapi sehingga membuat lawan bicaranya makin kesal. Oke, sepertinya Jun Myeon harus mengevaluasi ulang pikirannya tentang ini mungkin akan menjadi awal yang baik untuk kisah asmara Se Hun.

“Sudahlah, kau tidur saja! Jetlag-mu itu benar-benar membuat orang lain kesal!” akhirnya pertengkaran itu pun berhenti dengan Se Hun yang menurunkan kursi lalu memejamkan mata dengan tangan bersedekap di dada, mengabaikan Choi Seo Ah yang berteriak padanya. Terus diabaikan, Seo Ah pun lelah sendiri dan akhirnya ikut tertidur.

Jun Myeon menggelengkan kepala sambil berdecak. Tidak bisa dibayangkan kalau Se Hun benar-benar memilih wanita ini untuk menggantikan Lee Ji Eun.

***

                Udara yang sejuk langsung menyambut Seo Ah ketika keluar dari mobil Se Hun. Mereka berhenti di pinggir jalan raya, di mana terdapat jalan setapak menurun menuju danau indah dengan air bewarna bening. Sekeliling danau itu dipenuhi dengan pepohonan yang mulai menguning daunnya. Sebuah dermaga kecil dan perahu boat menjadi pelengkap. Desiran angin yang menggesek dedaunan dan air danau, membuat Seo Ah memejamkan matanya. Ah… tenang sekali di sini.

“Ayo.”

Suara itu lagi. Kenapa suara Se Hun selalu berputar di kepalanya akhir-akhir ini. Seo Ah tidak sempat menggerutu padanya, karena pria itu sudah terlebih dulu menuruni jalan setapak dengan gaya sombongnya seolah menyuruh Seo Ah cepat mengikutinya. Seo Ah mendecih, tapi toh mengikutinya juga.

Jalan setapak yang dipenuhi dengan daun-daun yang berguguran itu membawa mereka melewati jalur pepohonan yang indah di sisi danau. Seo Ah tidak peduli apakah danau itu asli atau buatan, karena aroma di sini membuat kepalanya lebih ringan. Meski beban di bahunya belum terangkat, Seo Ah setidaknya bisa menggantikan ‘aroma busuk’ Kim Jong In di kepalanya dengan udara segar penuh oksigen di sini.

Se Hun tahu persis kalau Seo Ah menyukai tempat ini. Senyuman muncul di wajahnya—sebuah senyum yang mempunyai banyak arti dan tidak bisa dilihat oleh Choi Seo Ah. Sepertinya membawa wanita itu ke sini adalah cara yang bagus.

Mereka sampai di sebuah tenda kecil dengan dua buah kursi lipat dan sebuah meja panjang berisi berbagai macam makanan. Di sana pula terdapat mesin pembuat kopi otomatis, cd player yang memainkan alunan musik lembut, dan sebuah microwave—yang entah bagaimana bisa bekerja, serta peralatan pancing lengkap di dekat meja. Oke, Seo Ah tahu, Se Hun adalah orang kaya, tapi ia tidak menyangka kalau danau yang terlihat seperti tempat isolasi indah ini menjadi sebuah mini hotel dengan fasilitas lengkap. Seolah ini bukanlah sesuatu yang besar, Se Hun hanya mengulurkan sebuah pancingan ke arah Seo Ah yang terdiam dengan mulut sedikit terbuka dan bola mata yang terus memperhatikan satu per satu barang-barang di dalam tenda itu.

“Ini.”

Seo Ah akhirnya mengalihkan pandangan, lalu mengerutkan dahinya. “Apa?”

Lagi, dengan gaya sombongnya, Se Hun menggedikan kepala ke arah danau. “Memancing. Kata dokter pribadiku, memancing cukup efektif untuk mengurangi stres.”

Seo Ah tahu, Se Hun hanya ingin membantunya, tapi yang terdengar sekarang pria itu seperti sedang mengejek sekaligus menggodanya. Dengan jengkel, Seo Ah mengambil pancingan yang Se Hun ulurkan juga, lalu bergabung dengan Se Hun yang sudah terlebih dulu duduk di kursi lipat menghadap danau. Pria itu menaikan kacamata hitamnya ke kepala, memasang umpan, lalu melempar kail pancing ke danau. Gerakkannya seperti orang yang sudah terbiasa melakukan ini.

Berbeda dengan Seo Ah, ini adalah kali pertamanya. Satu-satunya laki-laki yang ada di rumah adalah Jeong Min, dan kembarannya itu sama sekali tidak suka dengan aktivitas luar ruangan. Seo Ah sendiri tidak terlalu suka dengan yang namanya memancing, karena aktivitas ini membutuhkan banyak waktu. Seo Ah bukan orang yang sabar, dan ia tidak suka membuang waktu (ya… meski dalam sekali waktu hal ini sangat merugikannya). Oleh karena itu, Seo Ah lebih suka jogging malam daripada melakukan-apapun-yang-membantunya-mengontrol-kesabaran kalau sedang stres.

Se Hun melirik dengan ujung matanya. Seo Ah tampak tidak bersemangat, padahal tadi wajahnya bersemu ketika tiba di sini. Apa Se Hun salah memprediksi? Jujur saja, Se Hun sama sekali tidak mempunyai ide bagaimana menghibur Choi Seo Ah yang selama dua puluh menit menangis di telepon. Dan ia lebih tidak habis pikir kenapa dirinya harus peduli. Setelah mendengar Seo Ah menangis waktu itu, dan mengetahui kalau ia ada di New York, entah kenapa kepala Se Hun mendadak kosong selama beberapa saat, sebelum akhirnya memutuskan untuk menelepon Jun Myeon. Ia hampir saja meminta orang kepercayaannya itu untuk menyiapkan jet pribadi untuk menjemput Seo Ah sebelum menyadari kalau waktunya tidak cukup.

Lagipula sangat terkesan kalau Se Hun peduli dengan Seo Ah.

Cih! Ia hanya tidak suka dengan wanita yang menangis.

Ini pun sebenarnya hasil rapat super singkat yang terjadi di antara sel-sel otak Se Hun. Ia tidak mungkin mengajak Seo Ah ke taman bermain, karena itu kekanakan. Makanan mahal sepertinya tidak cocok dalam suasana ini. Meski Se Hun tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya, ia ingin memberikan Seo Ah ketenangan. Suara tangisnya benar-benar membuat Se Hun tidak bisa tidur semalaman.

“Ternyata kau bolos bekerja dan malah berlibur ke New York,” Se Hun mengawali obrolan karena suasana sangat hening dan canggung. “Kau tidak berpikiran sedang menghindariku, kan?”

“Aku kepikiran, kok. Hanya saja timing-nya benar-benar pas.” Jawab Seo Ah datar. Ia sama sekali tidak menoleh.

“Jadi kau pergi ke New York hanya untuk menghindariku?!”

“Apa kau sebegitu pentingnya?” Seo Ah balas bertanya dengan sinis. “Lagipula apa yang aku dapatkan dengan menghindarimu sekarang?”

“Ketenangan batin.”

Seo Ah mendecih dan tertawa sinis. “Benar juga.”

Se Hun tidak membalas lagi. Ada nada yang aneh dalam jawaban Seo Ah. Tidak seperti biasanya, wanita ini tidak berteriak-teriak saat bicara padanya. Suasana ini mengingatkan Se Hun dengan obrolan mereka kemarin.

“Kau tahu, aku memang membencimu, tapi itu tidak sampai membuatku ingin mati.” Tiba-tiba saja Seo Ah bercerita dengan nada mengambang. Matanya terus memperhatikan permukaan air danau yang beriak. “Dan tidak sampai membuatku rela menghabiskan gajiku hanya untuk pergi ke New York.”

“Aku ke sana untuk menemui pacarku,” Seo Ah tersenyum pahit. “Maksudku, mantan pacarku.”

Ingin sekali Se Hun memutar waktu dan menarik semua ucapannya. Tidak seharunya ia memancing Seo Ah untuk menceritakan alasannya pergi ke New York. Dan tidak seharusnya juga ia lupa dengan keberadaan pacar (yang sudah menjadi mantan pacar) Choi Seo Ah yang tinggal di New York. Harusnya ia bisa menduga dari awal, dan tidak membuat semua ini. Melihat wanita itu terus memasang senyum pahit dengan tatapan menerawang di permukaan danau, membuat Se Hun meringis dalam hati. Ia tidak suka melihat Seo Ah seperti ini.

“Jong In oppa memang terkenal di kalangan wanita saat masih kuliah, tapi aku tahu, hanya aku yang spesial untuknya. Kami berkencan seperti pasangan pada umumnya; pergi berkencan pada akhir pekan, kadang bertengkar, berbaikan lagi, dan terkadang berbagi cinta yang panas.” Mata Seo Ah tetap menerawang, seolah sedang memutar balik kejadian-kejadian manis dan romantis di antara mereka waktu itu.

“Saat ia ingin pergi ke New York setelah karir modelnya meningkat pun aku tidak terlalu khawatir. Kami saling memiliki, dan bagaimanapun jarak bukan sebuah halangan. Itu yang membuatku tidak menahannya. Aku percaya, dan aku ingin membuatnya senang.

“Kupikir kami berdua sama-sama menunggu, tapi ternyata hanya aku. Tujuh tahun bukan waktu yang cukup untuk membuatnya hanya jadi milikku, aku gagal membuatnya percaya hanya kepadaku.”

“Tapi kau menghabiskan tujuh tahunmu untuk percaya padanya.” Nada bicara Se Hun seperti ingin menertawakan Seo Ah. Se Hun sebenarnya tidak bermaksud menyindir, tapi nada bicaranya keluar begitu saja.

Seo Ah menoleh cepat, membuat Se Hun menelan air liurnya tanpa sadar. “Iya. Aku bodoh, kan?”

Seo Ah pun melanjutkan dengan desahan panjang di awal. “Kami berdua sama-sama pernah berjanji, dan—bodohnya—hanya aku yang menjaganya. Dia berkata kalau semua ini salahku; salahku karena terlalu sibuk, dan tidak sebaik pacarnya di New York. Aku sama sekali tidak paham apa yang dimaksud ‘baik’ dan ‘jahat’ oleh pria.”

Seo Ah menoleh lagi ke arah Se Hun. Bisa Se Hun lihat, setetes air mata mulai mengumpul di ujung matanya yang memerah. “Apa wanita yang merebut pacar orang lain bisa disebut baik?”

“’Baik’ dan ‘jahat’ itu relatif.”

Seo Ah mendengus. “Pria sama saja.”

Ya! Aku ini berbeda, tau!”

“Lalu bagaimana kau menjelaskan masalahmu dengan Ji Eun?!” sambil menyeka air mata, Seo Ah menyahut.

Se Hun mendecih. Saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menceritakan masalahnya dengan wanita itu. Meski terbawa suasana, Se Hun bukan orang yang semudah itu.

“Itu masalahku.” Jawab Se Hun, lalu ia pun mengalihkan topik. “Sial, kenapa ikannya belum dapat juga—Ya, kau mau makan ramyeon?”

Kepala Seo Ah berputar, mengikuti gerak Se Hun yang sudah beranjak dari kursinya menuju meja panjang. “Memangnya ada?”

“Bahkan tteokbokki pun ada.” Jawab Se Hun sambil mengangkat kemasan tteokbokki cepat saja.

***

                Seo Ah berulang kali membalikkan tubuhnya di atas kasur. Bukan karena ia tidak nyaman tidur di atas kasur super empuk nan lebar ini, tapi ia tidak bisa menutup matanya. Jam dinding di kamar itu menunjukkan pukul sepuluh malam, dan suasana sepi di sekitar villa membuat seolah sekarang sudah dini hari. Ya, Seo Ah akhirnya bermalam di villa Se Hun setelah pria itu kembali mengingatkan kemungkinan pertanyaan apa saja yang akan diterimanya dari orang rumah nanti. Setidaknya Seo Ah bisa menunggu sampai besok siang tanpa mengkhawatirkan dinginnya udara dan barang-barangnya.

Tapi meski begitu ia tetap tidak bisa tidur!

Se Hun tidak ada di villa ini karena pria itu mengatakan ada pekerjaan yang jauh lebih penting daripada tidur bersama Seo Ah (dan Seo Ah pasti akan memilih tidur bersama ikan mas di danau kalau Se Hun benar-benar ingin tidur dengannya). Aneh, padahal tadi pagi jetlag-nya sangat parah. Di tepi danau tadi pun Seo Ah hampir saja pingsan kalau Jun Myeon-si-asisten-tampan itu tidak menolongnya dan langsung membawanya ke villa.

Akhirnya Seo Ah memilih keluar dari kamar itu. Keadaan di luar seperti perkiraannya; sepi. Para pelayan sepertinya sudah tidur. Bunyi jangkrik di luar menambah suasana senyap di sekitar villa ini. Seo Ah pun melangkahkan kaki ke dapur yang hanya diterangi cahaya remang.

Tidak ada seorang pun di sini, itulah yang membuat Seo Ah berani membuka kulkas dan mengambil sekaleng bir. Sebenarnya ia berharap Se Hun menyimpan alkohol yang lebih berat. Seo Ah butuh mabuk malam ini untuk melupakan semuanya dan tidur nyenyak.

Seo Ah hanya manusia biasa, meski orang-orang memandangnya sebagai wanita kuat. Ia patah hati. Seberapa kuat usaha Se Hun tadi untuk mengalihkan masalahnya, tetap perasaan sakit itu ada di hatinya. Tujuh tahun yang lalu cinta itu ditanam, namun dihancurkan hanya dalam beberapa menit pertemuan saja. Seo Ah merasa bodoh juga kasihan kepada dirinya sendiri.

Ia pun membuka kaleng bir itu, lalu duduk di kursi tinggi, di sana. Kesunyian dapur berbaur dengan desahan nafas Seo Ah. Jong In memang bukan cinta pertamanya, tapi Jong In adalah pria yang membuatnya merasa spesial untuk pertama kalinya. Jong In seperti anak anjing yang manis dan selalu ingin Seo Ah belai, dan terkadang seperti rumah yang selalu melindunginya. Akhir yang seperti ini tidak pernah Seo Ah bayangkan, bahkan ketika Jong In memberitahunya tentang menjadi model di New York.

                [“Benarkah?! Selamat, Oppa!” Seo Ah tidak bisa menyembunyikan rasa bangga bercampur senangnya saat Jong In mengatakan tentang tawaran karir model di New York.

                “Kau tahu itu sama saja dengan artinya aku harus meninggalkanmu beberapa saat, kan?” ucap Jong In. Ekspresinya menggambarkan kalau ia tidak sanggup untuk pergi meninggalkan Seo Ah. Namun bagaimanapun, ini kesempatan emas.

                “Aku akan baik-baik saja.”

                “Tapi aku tidak yakin aku akan baik-baik saja.” Jong In menundukkan kepalanya, tidak sanggup menatap mata Seo Ah. “Apa aku tolak saja tawarannya?”

                “Tidak boleh! Ini kesempatan bagus, Oppa!”

                “Tapi….”

                Seo Ah meraih tangan Jong In yang saling bertaut di atas meja. “Kita pasti bisa melaluinya. Kalau kita percaya, semuanya akan baik-baik saja.”]

Tatapan Jong In saat itu sangat meyakinkan. Tapi Seo Ah tidak sampai hati menahan pria itu untuk tidak pergi. Meski wajah dan gayanya seperti playboy, tapi Jong In sangat mencintai dunia modelling. Berawal dari pemotretan untuk toko baju online, sampai akhirnya direkrut oleh agensi model ternama, Seo Ah tahu seberapa keras Jong In berusaha. Ia tidak mau menjadi batu penghalang pria itu. Dan Seo Ah juga berharap, Jong In akan terus mendukungnya.

[“Kalau kau mengatakan ‘jangan pergi’ sekarang pun, aku tidak akan berangkat.” Panggilan pesawat keberangkatan New York sudah terdengar, tapi Jong In tetap saja tidak mau melepas genggamannya dengan Seo Ah.

                “Pergilah….”

                “Seo Ah-ya….” Jong In mendesah, bibirnya tertekuk ke bawah.

                “Oppa, kau sudah melangkah sejauh ini, tidak boleh mundur lagi.”

                Tidak mau bertengkar seperti kemarin, akhirnya Jong In hanya bisa mendesah dan mengangguk. Seo Ah memang benar, tapi ia juga tidak mau meninggalkan gadis ini. “Bagaimana kalau kau ikut aku—“

                “Jong In Oppa.”

                “Aku mengerti. Kau ingin menyelesaikan kuliahmu dulu, iya aku paham.” Ucap Jong In setelah mendengar nada peringatan dari Seo Ah. Ia pun melepaskan genggamannya dengan sentakkan pelan—kesal.

                Seo Ah tersenyum tipis dan kembali meraih tangan Jong In. “Oppa harus kembali ke sini. Aku akan selalu menunggu.”

                Meski terlihat dingin dan mempunyai banyak kharisma, sebenarnya Jong In cukup cengeng. Matanya sudah berkaca-kaca mendengar ucapan Seo Ah itu. Ia pun berdeham untuk menghalau air matanya, lalu melepas genggaman Seo Ah untuk melepaskan kaitan kalung di lehernya. Setelah itu, ia memakaikan kalung itu kepada Seo Ah.

                “Aku akan kembali, jadi kau jangan melirik pria lain! Dan, untuk saat ini, aku hanya bisa memberimu kalung itu. Jika nanti aku sudah mempunyai banyak uang, aku akan memberimu cincin berlian dan memakaikannya di depan banyak orang.”

                “O-Oppa—“

                “Iya. Ayo kita menikah.”]

Seo Ah meneguk kaleng bir ketiganya.

Gadis naif, polos, dan bodoh—itulah penggambaran Choi Seo Ah waktu itu. Dengan mudahnya ia percaya dengan kata-kata pria brengsek bernama Kim Jong In. Ia rela memberikan waktu dan tubuhnya untuk pria yang sekarang membuangnya. Bayang-bayang pernikahan sempurna pun hilang bagai buih—tidak berbekas sedikit pun. Harusnya 20 tahun bukanlah umur yang muda untuk mempercayai begitu saja mulut manis Kim Jong In.

Seo Ah menertawakan dirinya sendiri. Di kehampaan dapur itu, suara tawa Seo Ah yang bercampur dengan suara rintikkan hujan di luar terdengar sangat memilukan. Tanpa disadarinya, tawa itu berubah menjadi isakkan panjang yang menyayat hati. Air mata tidak bisa terbendung dari kedua sisi matanya. Seakan berlomba dengan suara hujan, suara tangis Seo Ah semakin keras dan dalam.

***

                “Apa lagi? Kenapa kau terus melirikku seperti itu?”

“Kau… benar-benar tidak pulang tadi malam?”

Se Hun mendesah. Itu bukan pertanyaan pertama yang Seo Ah ajukan pagi ini. Sekarang mereka tengah berada di mobil Se Hun menuju Seoul—atau lebih tepatnya rumah Seo Ah. Sejak sarapan tadi di meja makan, Seo Ah terus saja menatap Se Hun dengan dahi berkerut dan menanyakan hal yang sama. Dan ini ketiga kalinya Se Hun menjawab ‘tidak’.

“Memangnya ada apa?” Se Hun melirik Seo Ah dari kursinya. “Kau terus saja bertanya seperti itu, tapi ketika kutanya balik, tidak pernah dijawab.”

Seo Ah terlihat memainkan bibirnya, sebelum akhirnya menjawab. “Semalam… sepertinya aku mabuk.”

Se Hun, yang kali ini memilih untuk mengendarai mobilnya sendiri, hampir salah menginjak pedal gas dengan rem ketika mendengar jawaban Seo Ah. Jangan bilang kalau dia mengingat semuanya….

“Dan seingatku, aku minum-minum di dapur… tapi entah kenapa aku bisa terbangun di kamarku.” Seo Ah pun melanjutkan sambil menggaruk tengkuk lehernya, nada bicaranya terdengar tidak yakin.

“Kau kan sedang mabuk, mana mungkin ingat!” sahut Se Hun. “Mungkin saja kau jalan sambil tidur, atau ternyata kau malah minum-minum di kamarmu.”

Se Hun tidak mungkin jujur kalau dirinya yang menggendong Seo Ah ke kamarnya semalam. Tengah malam, Se Hun kembali ke villa karena hatinya tidak nyaman meninggalkan Seo Ah sendirian di sana. Bukan karena ia takut Seo Ah mencuri barang-barangnya dan kabur, tapi… entahlah, ini sedikit rumit. Dan begitu sampai di sana, ia terkejut melihat Seo Ah duduk sendirian di konter dapur dengan enam kaleng bir yang sudah kosong dan satu kaleng di tangannya.

Wanita itu mabuk. Ia terus berbicara sendiri—membicarakan banyak hal, dari mulai pacarnya yang brengsek sampai masalah pencernaannya sejak seminggu yang lalu. Sampai wanita itu tidak sadarkan diri, Se Hun terus mengawasi dari pintu dapur, tidak ingin merusak pemandangan itu. Yah… walaupun ia pernah melihat Seo Ah mabuk sebelumnya, tetap saja ini menjadi hiburan. Setelah Seo Ah benar-benar tidur, ia pun menggendong wanita itu kembali ke kamar dan membersihkan kekacauan di dapur.

Masih membekas jelas wajah memerah Seo Ah dan bibir yang terus mengerucut sambil mengoceh itu. Menggemaskan. Kalau saja sisi dirinya yang masih waras tidak memanggilnya, Se Hun pasti sudah mencium bibir merah muda itu dalam-dalam.

“Iya, sih… tapi aku tidak merasa begitu. Kau—“

“Eish! Kenapa kau keras kepala sekali!” Se Hun melirik Seo Ah dengan tajam. “Dan kenapa kau selalu menggunakan banmal padaku sekarang?!”

“Kau juga menggunakan banmal. Jadi kita seri!”

“Aku ini lebih tua tiga tahun darimu!”

“Eh?” Seo Ah tampak terkejut dengan ucapan Se Hun. “Benarkah?”

“Iya!”

“Jadi kau seorang ‘ahjussi’?”

Lagi. Se Hun melirik tajam Seo Ah. Kalau saja ia sedang tidak mengendarai mobil, ia pasti sudah mencekik leher wanita ini. “Kau ingin kuturunkan di sini dan menjadi gelandangan, ya?!”

***

                Perjalanan yang panjang dan penuh adu mulut seperti biasa. Se Hun akhirnya bisa sampai ke kantor dengan selamat, tanpa kurang sedikit pun, setelah mengantarkan Choi Seo Ah kembali ke rumahnya. Ia sempat ketakutan kalau-kalau wanita itu dengan sadis menggorok lehernya dengan gunting kuku di mobil tadi. Semua itu karena permasalahan kecil yang terus mereka besar-besarkan karena sama-sama keras kepala.

Tapi bagaimanapun, Se Hun merasa lega.

Kelihatannya Seo Ah sudah kembali menjadi Seo Ah yang dikenalnya.

Ketika Se Hun sampai di lantai 30, dua resepsionis di meja depan menyambutnya dengan bungkukkan sopan dan sapaan ringan. Se Hun pun berbelok menuju ruang kerjanya, di saat itu pula sekretarisnya memberitahu info yang membuat jantungnya berhenti berdetak, sampai kepalanya tidak dialiri darah dan terasa kosong.

“Nona Lee Ji Eun menunggu Anda di dalam, Direktur Oh.”

 

■■■


* Maaf banget buat fans krystal, karena bias kalian aku nistain di sini T.T Kepanjangan gak? Dan btw, apa alurnya kecepetan? Hm

Ditunggu kritik, saran, komentar, atau apapun itu di bawahhhh

Regards: Ziajung (vanillajune.wordpress.com)

Advertisements

18 responses to “Honey Cacti [Chapter 3]

  1. Ihh ya ampun jongin jahat banget!!! Aku juga ga kuat deh kalo jadi seo ah😥 parah banget si jongin deh. Untungnya ada sehun yaa. Ciee sehun peduli gitu 😆 mereka berantem2 tapi kangen wkwkwk. Aweeet aneet >.< ya ampun aku sampe lupa kalo ada ji eun. Ahh kenapa dia dateng lagi siii? 😁 udah deh, sehun sama seo ah aja udah cocok!! Neext yaaa ditunggu 😅😅😅

  2. wah,daebak,aku suka banget deh,ga pp asalkn sama jong in juga,hah kasian seo ah,tpi sehun itu so sweet deh,dia udah merasa kesepian deh kalo tdk diganggu sama seo ah deh,hahahaha
    ga ad kritik penuh sama pujian aj deh

  3. seo ah kasian bgt,, aku ikut nangis bacanya..
    ugh si jongin brengsek bgt sihh,, smoga nanti dia nyesel senyesel2nya karna udh bikin seo ah nangis..
    buat sehun kmu sweet bgt dech,,
    trus itu ji eun mau ngapain yah?
    lanjut ya thor, aku suka ff ini,, bagus.. fighting !!

  4. Ini lanjutan yang dulu, kan? Jongin akhirnya kebongkar juga gimana busuknya dia. Oh Sehun kenapa bikin gregetan dia ketauan bgt kalo lagi pdkt ada rasa sama Soe Ah syukur2 Junmyeon baik gak ember emang ya Junmyeon mukanya adem bgt gak salah klo Soe Ah sampe terpesona. Tapi, masih penasaran apa alasan Sehun mutusin Ji eun.

  5. Parah, Jongin parah banget. Udh yakin pasti Jongin kayak gitu di Amerika. Suka banget sama semua perlakuan Sehun, terus penasaran banget sama permasalahan Sehun dan Jieun

  6. Jongin br*ngs*k amat yak disini, dan itu sehun jelas2 tertarik sama seo ah tapi malu2(?), lanjut kak fighting!

  7. duh… kitati pasti. uda jauh” datang dari korea buat nemuin sang pacar eh… si bangKai malah asyik begono ewh.. pingin makan org deh rasanya *sumanti dong
    dan.. gasuka deh ama ji eun itu
    ganyangka aja gitu

  8. Emang ya si jongin kalo sama cewek jangan tanya deh #eh. Ngapain tuh si ji eun ke kantornya sehun? Makin penasaran ae, izin baca ya kak….

  9. Tuh kan sudah duga kalo kongin itu pasti selingkuh huh -_-. Penasaran giamana sih cerita sebenarnya masaalah ji eun sama sehun. Udah deh sehun saam seo Ah aja hihi 😀

  10. jahat banget jongin ya ampunn. mending si seo ah gausah sama jongin lagi sama sehun ajaa huhu:” padahal udh jauh jauh dateng ke new york

  11. ohmaigott.. sii kkamjong emang dasarr yaa luu yaa, kagak pernah normal klo maen di ff wkwkwk..gapapa” kamu cocok bgt kok jadi karakter badboy, ugh ngena deh..
    .sii sehun lama” makin perhatian yaa sm seo ah.. seruu aja tiap baca bagian mereka pasti ada” aja adumulutnya.. hihihi

  12. Waaa, aku benci Jong In disini, jauh-jauh dari Korea ke New York buat ketemu dia malah . . . . . But Untung ada Sehun.
    Masalah pencernaan? Pfffft parah ihh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s