[10th] Snapshots by slmnabil

snapshot-slmnabil-bycastorpollux

Author : slmnabil | Cast : Hong Seoljin (OC), Kim Jongin, Park Chanyeol

Genre : Romance | Rating : PG15 | Length : Chaptered

credit poster : CASTORPOLLUX@posterchannel

prolog : one dance | 1st | 2nd | 3rd|

4th | 5th  | 6th | 7th | 8th | 9th

TENTH SHOT

Kepalaku rasanya seperti habis dimakan hiu. (Jangan tanya apakah aku benar-benar pernah mengalaminya, ini seratus persen kiasan.) Aku mengerjapkan mata beberapa kali sembari berusaha mendudukkan diri. Sekilas saja aku sudah tahu sedang berada di mana sekarang. Ditambah pakaianku yang sudah diganti dengan kemeja biru muda kebesaran, seharusnya aku tak usah menebak sekalian.

Ketika mengingat hari macam apa yang kulalui kemarin, aku tiba-tiba ingin menenggelamkan diri di balik selimut dan tak pernah bangun lagi. Bagaimana bisa aku menghadapi Chanyeol setelah sikap tak tahu diriku semalam? Park Chanyeol, yah, karena dia punya hati yang besar dia pasti tidak akan menyinggungnya sama sekali. Nah, masalahnya aku ingat betul semalam berapa lama aku menangisi mantan pacarku.

Kerja bagus, Hong Seoljin. Dia pasti sangat senang melihatmu pagi ini.

Percuma saja. Sedalam apa pun aku menundukkan kepala, wajahku tak akan lantas berganti rupa.

Aku spontan terlonjak ketika merasakan Chanyeol datang dan mencium kepalaku. Ketika aku mendongak, kudapati dia mengenakan jaket dan celana olahraga. Di keningnya pun tampak banyak titik-titik keringat.

“Kapan kau bangun?” tanyanya, sebelum meminum air mineral dari botolnya dan duduk menyamping di hadapanku.

Aku meraih handuk kecil di lehernya lalu membersihkan dahinya sebelum menjawab, “Baru saja.”

“Apa aku sebau itu?” ia bilang.

Aku mengernyit tak mengerti. “Sama sekali tidak. Memangnya kenapa?”

“Kau kelihatannya gatal sekali ingin aku membersihkan diri.”

Aku seharusnya tersenyum, atau lebih bagus lagi tertawa, bukannya bergeming seperti ini sembari berpikir bagaimana bisa pria sebaik Chanyeol bertemu dengan orang sepertiku? Dia seharusnya kesal karena aku menghabiskan waktu lebih lama dari yang dijanjikan di rumah Jongin. Bukankah normalnya aku akan ditanyai? Tapi, dia … kelihatan punya niat menyinggungnya saja tidak.

“Yah, sebaiknya aku cepat-cepat mandi. Padahal sejak tadi aku menunggumu memelukku,” kata Chanyeol.

Mau tak mau aku tersenyum dan merentangkan kedua tanganku. Mengerti akan isyarat, ia langsung menggeser tubuh dan melingkarkan lengannya di sekitar pinggangku. Belum sampai lima detik, aku cepat-cepat melepaskan diri darinya.

“Batal. Aku tidak mau ditempeli keringat pagi-pagi begini.”

Chanyeol tampak sedikit kesal. “Oke, aku akan mandi.”

Aku mengangguk. “Bagus. Aku akan menunggumu sampai selesai mandi.”

“Di situ?”

“Tepat di sini.”

Dia mengerutkan keningnya. “Bukankah seharusnya kau melakukan sesuatu? Menyiapkan sarapan, misalnya?”

“Tidak mau. Sudah lama aku tidak memakan masakanmu. Kau saja yang memasak.”

Chanyeol tampak berpura-pura mempertimbangkan sejenak sebelum mengiakan. “Baiklah. Izin malas-malasanmu diterima.”

Aku tersenyum selebar yang kubisa.

*

Begitu Chanyeol ke luar dari kamar mandi, aku melesat masuk dengan cepat ke dalam. Bukan apa-apa, sejak tadi aku sudah memegang keputusan untuk memberitahu soal Kim Jongin padanya, tapi aku masih bingung harus menyampaikannya bagaimana. Dan gagasan merencanakan sembari melihat wajah Chanyeol kurasa tidak begitu bagus. Benar, ‘kan?

“Sarapannya harus sudah siap begitu aku selesai,” kataku begitu pintu tertutup rapat.

Kudengar suara tawa gelinya samar. “Baiklah. Dasar tukang perintah.”

Dan begitu aku selesai mandi pun, aku masih menjalankan peranku sebagai tukang perintah.

“Aku lupa mengambil baju ganti!” teriakku dari dalam.

“Aku tak bisa membantumu! Tanganku habis memegang bawang dua-duanya!” dia balas berteriak.

Hah, bawang. Cuma alasan. Bilang saja dia tidak mau membantu. Aku memendarkan pandangan sekali lagi ke sepenjuru kamar mandi, tapi hasilnya tetap sama: jubah mandinya tidak ada di sini.

“Taruh saja selimut ke depan pintu,” kataku putus asa. Masa yang ini juga dia tidak mau?

“Sudah kubilang aku sibuk,” katanya.

Baiklah, sejenak aku lupa kalau aku harus berbaik-baik padanya hari ini. Karena apa? Aku juga ternyata lupa kalau Park Chanyeol menyebalkannya keterlaluan.

“Lalu kau mau aku bagaimana?!” aku berteriak lagi, lebih keras dari yang sebelumnya.

“Entahlah, kau inginnya bagaimana?” Bisa kudengar ia tertawa geli.

Sialan, ini kelewatan.

“Kalau dalam lima detik kau tidak meletakkan selimutnya aku tidak jadi menikah denganmu,” ancamku. “Satu ….” Dan yah, aku tidak perlu menyelesaikan hitungan. Aku tahu betul titik lemahnya ada di mana.

Dengan cepat aku melilitkan selimut untuk menutupiku lalu menderapkan langkah ke luar. Aku tak bisa menahan diri untuk melihat apakah Park Chanyeol benar-benar memasak sarapan yang membutuhkan bawang atau tidak.

“Wah, baru kau saja yang bilang butuh bawang di roti panggang selai jeruk dan secangkir kopi. Apa memang kau biasanya begitu?” tanyaku sebal begitu melihat apa yang ia siapkan untuk sarapan.

Chanyeol tertawa saja. Aku mulai curiga kalau dia itu cuma bisa tertawa saat merasa terpojokkan.

“Sana pakai bajumu dulu,” katanya.

Aku mendengus. “Kau tidak bilang pun niatku sudah begitu,” sahutku.

Detik itulah saat kami sama-sama mendengar suara nomor sandi dimasukkan dan pintu terbuka setelahnya. Aku sungguh tidak bisa tidak malu. Karena,

1) ibu Chanyeol berdiri persis di hadapanku,

2) ayahnya menyusul beberapa menit setelahnya,

3) aku tidak beranjak dari tempatku satu milimeter pun,

4) satu-satunya kain yang melapisiku hanyalah selimut ini,

5) utamanya, aku merasa aku akan tamat sekarang juga.

Ya ampun, kenapa aku tidak melesat ke kamar cepat-cepat? Apakah yang kulakukan sekarang bisa disebut mencoba menggali kuburanku sendiri? Dan kenapa di antara orang-orang ini tidak ada satu pun yang bersuara?

“… bersenang-senang.”

Oh, atau hanya aku saja yang tidak mendengar? Karena kelamaan aku mulai mendengar suara ayah Chanyeol disertai seringaiannya yang belum jelas untuk apa. Di sisi lain, ibunya sama sekali tidak menunjukkan respon—aku bahkan meragukan ia masih bernapas. Dan Chanyeol, yah, seperti yang kubilang: dia tertawa saja.

Merasakan lengannya di bahuku, akhirnya aku sepenuhnya tersadar bahwa aku berada di tempat dan keadaan yang salah. Sial.

“Seoljin, sebaiknya kau segera berpakaian,” katanya seraya mendorongku pelan ke kamar.

Aku sudah mengacaukannya. Iya, ‘kan? Aku melakukan sesuatu yang tidak seharusnya, bukan? Dasar bodoh, masalah sebelumnya saja belum terselesaikan.

*

Aku tahu tidak pantas menemui orangtua Chanyeol dengan keadaan seperti ini: rambut yang airnya masih menetes-netes (mana aku sempat mengeringkannya?), setelan olahraga milik Chanyeol (plus pakaian dalamnya—tapi mereka takkan tahu kalau aku tak bilang), dan wajah yang masih tampak sembab sehabis menangis semalaman.

Tambahkan itu semua dalam daftar kesalahanku selama ini.

Ketika aku bergabung dengan mereka di meja makan, ibu Chanyeol tampaknya belum juga pulih dari keterkejutannya (tentu saja, aku saja belum). Dan ayahnya … selama apa pun aku mencoba mengerti tapi tetap saja aku tak tahu alasan dia tertawa-tawa.

“Saya minta maaf atas … yang … baru saja terjadi. Saya … uhmm … sungguh tidak bermaksud … seperti itu,” kataku. Memangnya apa lagi yang bisa kukatakan?

Kalau saja … kalau saja Chanyeol tidak mengerjaiku seperti tadi. Kalau saja … dia mengambilkan pakaianku. Dasar menyebalkan!

Aku melempar pandangan padanya, berusaha terlihat semarah mungkin. Namun, yah, tampaknya dia tidak menganggapnya serius dan malah berpikir itu lucu. Seolah-olah muncul begitu saja dari kepalanya: ini humor yang sangat bagus untuk memulai hari, bukan?

“Aku mengerti,” sahut ayah Chanyeol—yang tentu, masih saja menahan tawa. “Sini, bergabunglah bersama kami.”

Kuderapkan langkah ke kursi di sebelah Chanyeol, aku pasti bisa memikirkan balasan macam apa yang bisa kuberikan padanya sepanjang sarapan. Pasti. Harus bisa.

“Nih, kopi pagimu dulu,” katanya sembari menyodorkan cangkir padaku. Sok baik, sok naif, sok tidak bersalah.

“Aku akan membunuhmu,” bisikku sepelan mungkin, tapi tetap kubuat semurka mungkin.

Nah, sekarang kalau kupikir aku bisa menikmati sarapan pagiku, aku salah besar. Karena ibu Chanyeol duduk berhadap-hadapan denganku dan dia tampaknya tidak begitu senang mendapati pacar putranya berada di apartemennya—sangat menganggu agenda sarapan keluarga.

Kau tahu? Aku bahkan tidak bisa menyeruput kopiku sama sekali.

“Hong Seoljin, ikut aku sebentar,” adalah apa yang dikatakannya sebelum mendahului langkah menuju ke luar apartemen.

Mau tak mau, melupakan fakta bahwa ayah Chanyeol berada di sini, aku melepaskan dengusan yang sejak tadi kutahan-tahan. Aku melemparkan pandangan galak pada Chanyeol. “Kau! Siap-siap mati begitu aku kembali!”

Begitu aku sampai di pintu dan hendak ke luar, suara itu akhirnya kudengar lagi: dua laki-laki yang tengah tertawa-tawa puas. Sebetulnya, aku harus mempertimbangkan untuk menikahinya atau tidak, sih?

*

Ternyata ia menungguku di lift. Ketika aku sampai di sebelahnya, ia langsung menekan tombol dan membawaku masuk ke dalam. Ajaibnya, di dalam tidak ada siapa-siapa selain kami berdua. Suasana yang sungguh mendukung.

“Apakah kalian sering melakukannya?” tanyanya, tanpa awalan yang berusaha membuatku tidak terkejut setengah mati seperti ini. Wah, seharusnya aku tidak lupa kalau dia wanita yang sama dengan orang yang melemparkan surat perjanjian pranikah di hadapanku.

“Ma … maksud, Anda?”

“Yang barusan …,” ia tampak tak begitu nyaman, “rambut kalian sama-sama basah dan kau ….”

Ya ampun! Dugaan apa yang dia miliki sekarang?! “Tidak! Sama sekali tidak begitu! Bergantian! Bergantian!”

Dia mendesah lega. Bagus, situasinya lebih baik sekarang.

“Kau sering menginap di apartemennya?” tanyanya.

Ternyata tidak sampai situ saja. Bodohnya aku.

“Tidak begitu sering. Ini pertama kalinya sejak ia pulang dari New York, dan …,” aku tak yakin harus mengatakan ini, “dia menginap sekali di apartemenku.”

Ibu Chanyeol menggeleng-geleng, tak kupahami juga gunanya apa. “Bagaimana sebelum-sebelumnya?”

Aku bisa mendengar degup jantungku sendiri dari sini. “Beberapa kali.”

“Kau yakin?”

“Biasanya tiga bulan sekali aku menginap,” ungkapku.

Sebetulnya aku tak begitu mengerti arah pembicaraan ini. Ditambah, pertanyaan-pertanyaannya hari ini membuatku menyadari bahwa aku jarang sekali menemui orangtua Chanyeol. Kalau dibandingkan dengan orangtua mantan-mantan pacarku … sangat jauh sekali. Dulu, aku menganggap mereka orangtuaku juga.

“Aku sangat mengenal Chanyeol sebagai anakku, tapi aku benar-benar tidak tahu dia lelaki seperti apa,” ujarnya. “Kau tahu maksudku, ‘kan?”

Aku mengangguk saja, bertepatan dengan pintu lift yang terbuka. Dia menekan tombolnya lagi untuk naik ke lantai tigapuluh—lantai teratas—dan barulah kusadari pembicaraan ini akan panjang. Ajaibnya lagi, tak ada seorang pun yang masuk ke dalam—persis seperti sebelumnya.

“Dari dulu dia terlalu sibuk dengan karirnya, dia hampir tidak punya waktu untuk keluarga. Chanyeol tidak pernah punya pacar, kami bahkan sempat mengira dia tidak tertarik pada perempuan.” Nyonya Park tertawa. Sungguh tak bisa kubayangkan.

“Lalu dia memperkenalkanmu pada kami. Tentu saja aku senang bahwa dugaan kami salah, namun aku juga tidak bisa seratus persen tenang. Aku punya banyak kolega dan aku tahu apa yang biasanya terjadi pada anak laki-laki rekan bisnisku. Kesanku padamu tidak terlalu baik dan itu bertahan cukup lama, mengingat kau juga tahu … kau tidak berusaha melakukan pendekatan padaku untuk menghilangkan dugaanku.”

Mana bisa aku mendekatimu jika tiap kali aku melihatmu saja, kau seolah ingin menenggelamkanku di Sungai Han?

“Dan tiba-tiba, sepulangnya dari New York, dia bilang dia mau menikahimu. Wah, kau tidak bisa membayangkan betapa terkejutnya aku waktu itu. Aku tidak menyangka dia akan menikahi pacar pertamanya. Kecuali…” dia menggantung perkataannya lalu menatapku lamat-lamat.

“Kecuali apa?” tanyaku.

Dia menatapku curiga, ke perutku dengan pandangan menyelidik. “Tidak, ‘kan? Tidak begitu, ‘kan?”

Praktis aku mengerutkan kening tak paham. “Apanya yang tidak begitu? Saya tidak mengerti.”

“Kau tidak hamil, ‘kan?”

“Astaga, tentu saja tidak!” suaraku mendadak histeris. “Bagaimana bisa Anda berpikir begitu?”

Dia mengangkat bahu seolah tak menjatuhkan tuduhan serius sebelumnya. “Biasanya begitu. Sudah kubilang, aku tidak tahu Chanyeol itu laki-laki seperti apa.”

“Tapi hamil … wah, itu keterlaluan,” kataku, sejenak lupa aku berbicara pada siapa.

“Syukurlah tidak begitu. Tapi, kita harus segera melakukan tindakan pencegahan.”

Aku menatapnya cukup lama.

“Aku tidak tahu putraku bisa berbuat apa, tapi akan lebih baik kalau pernikahan kalian segera dilangsungkan. Kau tahu, demi mencegah hal-hal yang tidak diinginkan.”

Ini gila. Saat ini aku benar-benar punya ribuan perkataan kasar. Sialnya, satu-satunya yang kuucapkan hanya sebatas, “Ah, begitu.”

*

Bahkan sepulangnya orangtua Chanyeol pun aku masih tidak bisa menerima perkataannya. Sejak tadi aku tak bisa duduk tenang dan malah mondar-mandir di hadapan Chanyeol yang sedang duduk di sofa memperhatikanku, sedang aku menyisir rambutku kasar sembari meniup poniku beberapa kali.

“Wah! Serius! Dia mengira aku hamil! Keterlaluan!”

“Setelah mendengar alasannya, kalau aku jadi ibu pun aku akan menduga begitu,” bela Chanyeol.

“Meskipun dia ibumu, kau tidak seharusnya bersikap begini. Dia pikir aku wanita seperti apa?” debatku. “Dia bahkan wanita yang sama dengan yang sangat berhati-hati melindungi hartamu dan sekarang dia minta aku cepat-cepat menikah. Aku tidak bisa mengerti, sampai mati pun tidak.”

Saat kulihat wajah Chanyeol, aku baru sadar kalau tidak seharusnya aku mengatakan itu.

“Chanyeol … aku ….”

“Perjanjian itu … aku sudah merobeknya,” kata Chanyeol.

Nah, aku malah semakin merasa jadi orang jahat di sini. “Chanyeol.”

“Aku minta maaf atas semua perlakuan kasarnya padamu,” katanya. “Apakah kau akan mengerti jika kubilang dia tidak bermaksud begitu?”

Setelah semua yang kaulakukan untukku? “Tentu saja,” kataku. Itu bahkan belum cukup.

Aku melangkah untuk memeluk Chanyeol cepat. Segala perasaan yang tidak bisa kukatakan seolah-olah kusampaikan semuanya di sana. Kemudian, ingatan itu datang. Kalau aku perlu mengatakan soal Jongin padanya, yang tak mungkin diwakili dengan satu pelukan saja.

Aku melepaskan diri beberapa menit kemudian. “Aku ingin memberitahumu soal Jongin,” ujarku.

Dia menunjukkan sikap mendengarkan.

“Aku dipecat,” kataku. “Dia pikir baik aku ataupun dia tidak akan bisa bekerja dengan nyaman lagi.”

“Apakah kau setuju dengan keputusannya?”

“Setelah kupikir-pikir, ya, dia memang benar.”

“Jadi apa rencanamu sekarang?”

Aku menarik napas panjang sejenak. “Aku akan menyerahkan pekerjaanku pada temanku, aku akan minta dia melakukan yang terbaik sampai akhir.”

Chanyeol mengelus rambutku penuh sayang. “Tindakan yang tepat.”

“Tapi … aku berpikir kalau … aku harus datang ke pertunjukannya,” ujarku hati-hati.

Semula kukira Chanyeol akan mengatakan tidak boleh. Tapi, aku benar-benar tidak bisa menebak apa yang ada di pikirannya. “Bolehkah aku ikut?”

—to be continued.

  • Maaf (lagi) karena keterlambatannya yang sangat terlambat, tiba-tiba idenya mandeg hehe
  • Makasih yang masih nunggu ❤

 

 

 

Advertisements

33 responses to “[10th] Snapshots by slmnabil

  1. Plotnya cantik banget, secantik yang nulis, gemesss banget nabil

    Gak seru kalo udah baca gak ngerusuhin yang nulis, semangaaaat….!!!
    Dan selamat udah come back

  2. Ih… Kak Nabil aku suka banget sama ceritanya, sampai-sampai desiran darahku terasa sampai ke ubun-ubun. Aku meninggalkan jejak di sini aja, ya. Kalau meninggalkan jejaknya di semua chapter, tangan aku bisa keriting, terus nanti nggak bisa stalk doi lagi. anyway, jangan bales coment aku pake “Makasih udah baca dan berkomentar🙂.” aku tidak bisa mentolerir coment aku yang seabrek ini cuman direspon kaya gitu. CUKUP DOI AJA YANG KASIH AKU PHP, OKE. Cinta sama kak Nabil :*

  3. kalau baca snapshot itu rasanya penuh bunga-bunga meski jantung bertalu-talu, aku bener-bener suka sama penokohan chanyeol plus disajikan dengan cara penulisan yang pas jadinya setiap adegan itu sseakan-akan nyata, hehe, peluk chanyeol tersayang sama uri penulis ^^,
    pertemuan pertama yg sama sekali gak bagus sama calon mertua tapiiii keknya chanyeol udah dapat lampu hijau sama sang ayah deh dan buat ibunya mungkin sikap jahatnya itu semata hanya karena dia terlalu sayang sama chanyeol kan ?
    dan uri jongin semoga aja konsernya nanti bisa sukses yah dan jangan sampai buat seoljin dan aku nangis disamping chanyeol hahahaha
    ditunggu snapshot berikutnya yahhh ^^ HWAITING

  4. Ihh, akhirnya yang ditunggu-tunggu muncul juga. Rasanya udah lama banget sejak chap 9 diposting. Tapi gapapa sih yang penting ff ini tetep kece kyk biasanya. Gatau kenapa setiap baca ff ini aku jadi deg2an gituu, abis itu senyum2 sendirii. Chanyeol sama Seoljin tambah sosweet ajaa. Kyknya ibunya chanyeol udah ngrestuin mereka? Semoga endingnya chanyeol sama seoljin barengann..

    Okedeh aku tunggu next chapternya yawww

    • waaah, makasih kalo masih ditungguin 🙂 maafkan nabil dan kemalasannya dan keterbatasan idenya yaa :(( asal senyum-senyumnya jangan di depan umum sih its oke kayaknya hehe 😀 makasiih udah bacaa 🙂

  5. Terang aja orangtuanya chanyeol berpikir yang ” iyya- iyya” kalo ngelihat keadaan seoljin.Kabar jongin gimana? kangen jongin!!!!

  6. Oo ceritanya ibunya Chanyeol cuma mau mastiin kalo calonnya Chanyeol cewe yg baik2?? Oke sih, tp caranya terlalu nakutin banget, serasa pacu adrenalin wkwk Seoljin aja ampe tegang gitu haha
    Tapi serius Seoljin cinta 100% ama Chanyeol? Gue ga ikhlas laaa!! Kesian ama Jongin kaa, ga tega bayangin gimana Jongin huhuu
    Serasa ada yg ganjel, masalah Jongin ama Seoljin tu kaya belom kelar. Gue ngarepinnya Seoljin ga bener2 serius mau nikah ama Chanyeol wkwk biarlah gue jahat hiihii
    Okay ditunggu next part ya ka, tengkyuu + semangatt!!! Jan lupa jaga kesehatann^^

  7. Kak semangat yaaa nulisnya, semoga dapet ide2 nya cepet ya kak biar ga lama juga readers nungguin nyaaaaa ☺☺☺☺ suka banget sm cerita nya chanyeol nggemesin

    • halo, waaa makasih yaaa masih mau nungguin hehe 🙂 ini tuh antara dua, gapunya ide terus malas (maafkan heuheu) diusahain selesai secepatnya yaa, dan kayaknya ada rencana ditamatin dulu dan dipost secara teratur seperti sebelumnya 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s