[Alternative Ending] Women in Black: Rewind

women in black and grey

Sebelumnya: Women In Black: The Winner

“We held hands and always together,” ―Scream, D.O (OST Cart)

Cerita ini merupakan bagian dari Women In Black: The Winner, silahkan membaca Women in Black: The Winner terlebih dahulu. Permintaan password dapat melalui Line @nyc8880l (menggunakan @)

Elle tahu benar senjata yang sedang ia mainkan di arena ini. Gadis itu bahkan dapat merasakan betapa serasinya sebuah Hecker yang terselip sempurna pada sela jari. Bukan hal yang baru, apabila ia lebih memilih revolver semi otomatis, mekanis sungsang terkunci, dan modus mundur pendek operasi. Walaupun pistol itu memiliki perawakan kecil, namun cukup untuk melenyapkan nyawa seseorang dalam sekali tembakan di kepala. Apalagi, mengingat karakter Elle yang lebih memilih menghabiskan isi selongsong daripada menyisakan beberapa butir.

Moncong senapan Elle sedang beradu dengan pelatuk lain. Lawannya adalah Five Seven, senjata api asal Belgia yang kecepatannya mencapai 1339 kaki per detik. Jika Hecker dapat membunuh secara menyakitkan, Five Seven bisa melakukannya tanpa seseorang sadar kepalanya telah meledak.

Mengetahui revolvernya jauh lebih lemah, Elle hanya tersenyum simpul penuh arti. Baginya kematian merupakan siklus hidup yang telah dilaui. Ia sudah dituding lenyap dari muka bumi ini sebanyak dua kali. Kematian ketiganya tidak berarti banyak baginya. Dirinya justru lebih takut pada dunia. Kehidupan yang dapat membawanya pada kegelapan serta keputusasaan.

Elle pun hanya mampu menatap tajam pria yang kini berhadapan dengannya.

“Bagaimana rasanya?” tanya pemuda itu melalui bibir tipisnya.

Elle merasakan manik si pria menusuk parasnya menunggu jawaban. “Terkejut, tentu saja,” ucapnya singkat. Ia menyalurkan nasib pada Hecker yang siap menembak itu. “Kau telah membuatku seolah-olah lenyap untuk yang kedua kalinya, Sehun. Aku kira kau akan benar-benar membunuhku―”

“―Aku memang memusnahkan Nara dan Elle. Tetapi, mereka hanya sekedar nama yang digunakan agar aku memiliki kelemahan. Dirimu yang sekarang tentunya berbeda,” potong Sehun. Giliran pria berkemaja hitam itu yang menyunggingkan seringai. Tangannya beranjak untuk tak menodongkan revolver ke arah si gadis. Sehun mengayunkan langkah, memangkas jarak hingga tubuhnya bergesekan langsung dengan moncong senjata api milik Elle. “Aku terlalu serakah untuk merelakanmu direnggut oleh kematian. Aku enggan membagimu pada siapapun, Jung Nara. Aku juga tidak bisa mengabaikan tindakan pengkhianatanmu,” lanjutnya.

“Kau seharusnya membunuhku saja―”

“―Tidak, itu terlalu mudah. Bagaimana jika aku membuatmu hidup, namun terasa mati?”

“Oh Sehun, kau tidak akan mampu melakukannya,” tolak Elle yang mundur beberapa langkah akibat terintimidasi keangkuhan Sehun.

Sehun mendengus. “Apa kau lupa sedang berhadapan dengan siapa?” vokal Sehun. Alisnya naik beberapa inci dan ujung bibirnya terangkat, menampakkan betapa dia sedang bersenang-senang di atas penderitaan Elle. “Aku sudah melakukannya. Coba amati sekitarmu. Apa kau tidak merasa familiar? O, ruangan ini sangat berkesan bagi Jung Nara,” tutup Sehun.

Elle mulai terengah memahami maksud Sehun. Gadis itu mulai memindai ruangan luas, berdinding putih, dan jendela yang berjeruji. Hanya ada satu ranjang lapuk serta lemari yang terletak di pojok penjaranya. Tangannya bergetar hebat seakan ia baru saja dihantam oleh satu kenyataan.

Elle kembali menjadi tawanan.

Masa mudanya terulang kembali, dirinya sebagai Jung Nara yang terkurung.

Kegelapan itu berputar lagi.

Hanya hembusan napas terputus-putus saja yang ia dengar.

Baik Nara ataupun Elle, keduanya ketakutan. Kematian rasanya lebih manusiawi, daripada harus melaju mundur ke masa lalunya.

Jeritannya seolah-olah merasukinya lagi.

Pisau yang dulu menyanyat setiap sekon seakan menyentuh kulitnya.

Kepedihan itu terulang, mencabik Elle secara tak kasat mata.

Elle lantas bergegas menarik pelatuk. Akan tetapi, keheningan yang dirinya dapatkan. Tidak ada peluru yang menghunus raga pria bengis itu.

Tawa Sehun menggelegar, mengisi kosongnya ruangan yang enggan menunjukkan siang dan malam. “Hecker itu palsu. Terlalu lama berada di sini, ternyata membuatmu kehilangan kecerdasan dalam mendefinisikan sebuah revolver,” katanya.

Elle menjatuhkan pistol. “Kau tidak berhak melakukan ini padaku!” pekiknya. Gadis itu berusaha menyerang Sehun.

Sehun semakin mengurangi spasi yang terajut. Ia menepis tangan si gadis yang hendak memberikan pukulan telak padanya. Sehun mencengkram pergelangan Elle, hingga gadis itu merintih. “Aku berhak. Ini hukuman untukmu. Kau tidak akan bisa pergi dari neraka ini sebab aku yang menciptakannya. Nara maupun Elle sudah enyah, kau bahkan tidak memiliki nama,” ucapan Sehun membuat Elle tak mampu berkutik.

“Aku tidak menginginkanmu. Aku tidak ingin dikurung. Aku tidak ingin menjadi Jung Nara lagi,” rintih Elle putus asa.

“Saat ini, bukan waktunya dirimu mengajukan keinginan. Kau menjadi milikku selamanya. Kita akan selalu bersama. Semua itu adalah hal yang mutlak, tanpa bisa kau tolak,” bisiknya dingin pada rungu si gadis, kemudian mengecupnya kasar.

-oOo-

a/n: Silahkan klik TRACK LIST untuk membaca cerita yang lainnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s