I Married To My Enemy [IV] -by ByeonieB

i-married-to-my-enemy

I Married To My Enemy

ByeonieB©2017

“Sweet.”

Main Cast:: Baekhyun of EXO as Byun Baekhyun, OC/You/Readers as Han Minjoo || Additional Cast:: Han Hyojoo (Actress) as Han Hyojoo, Chanyeol of EXO as Park Chanyeol, Sehun of EXO as Oh Sehun, Lee Yubi (Actress) as Lee Yubi, and many more || Genre:: Marriage Life, Romance, A Slight of Comedy, Drama || Length:: Chapter || Rate:: PG-17—PG-18+ || Before:: [Chapter III] || Poster by Jungleelovely

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

October 2002

Minjoo memperhatikan Baekhyun yang tengah bermain piano. Baekhyun memainkan lagu twinkle-twinkle star, lagu yang sedang naik daun pada zamannya. Minjoo di atas kasur Baekhyun, sedangkan Baekhyun memainkan piano kecilnya di pojok ruangan.

“Ya! Bukan seperti itu nadanya!” Minjoo mengeluh pada Baekhyun, “Harusnya itu kan nadanya tinggi.”

“Aku masih belajar, Han Minjoo.” Baekhyun mengerucutkan bibirnya, “Jangan marah seperti itu.”

Minjoo bangun dari kasurnya lalu duduk di sebelah Baekhyun. Kebetulan kursi pianonya cukup panjang untuk mereka berdua.

“Kalau mau menjadi bintang, kau harus siap dimarahi seperti itu, Baekhyun. Masih untung dimarahinya olehku, bagaimana jika orang lain yang memarahimu?”

Baekhyun terdiam sebentar namun setelahnya dia mengangguk-angguk setuju. Baekhyun mengulang lagi permainannya dan kali ini dia menggunakan nada dengan benar. Membuat Minjoo tersenyum merakah seraya bertepuk tangan.

“Baekhyun, kau benar-benar ingin menjadi pianis, hm?”

Baekhyun terdiam sebentar, “Sepertinya begitu.”

“Sepertinya begitu?” Minjoo mengulang perkataan Baekhyun sambil mengangkat alisnya. “Kalau punya cita-cita itu harus diniatkan dengan benar, Byun Baekhyun.”

“Hm.. menurutmu aku cocok menjadi pianis?”

“Tentu saja, cocok!” Minjoo memutar tubuhnya menghadap Baekhyun sepenuhnya, “Kau itu kan selalu menjadi nomor satu di kelas jika sedang bermain piano. Semua nada yang kau ciptakan indah. Jika kau benar-benar menjadi pianis nanti, kau harus menciptakan lagu untukku ya!”

“Aku sudah menciptakan lagu untukmu.” Ucap Baekhyun dengan malu namun Minjoo langsung berbinar cerah.

“Kau sudah punya untukku!?”

Baekhyun mengangguk kecil seraya tersenyum. Dia pun kembali menaruh jemarinya di tuts dan mulai memainkan lagu itu.

“Han Minjoo temanku. Yang cantik tapi banyak berbicara. Yang centil tapi senang bermain tanah. Yang pemberani tapi paling tidak bisa tidur tanpa lampu.”

“Suatu saat, kau harus menikah denganku di masa depan.”

Minjoo tertawa riang sambil bertepuk tangan sesaat Baekhyun selesai memainkan lagu itu. Dia bernyanyi juga.

“Ya! Lagunya bagus! Aku suka!”

Baekhyun tersenyum pelan, “Karena kau suka, aku sekarang telah yakin bahwa aku harus menjadi pianis.”

“Aku akan menjadi pianis untukmu, Minjoo-ya.”

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

[CHAPTER 4]

H A P P Y   R E A D I N G

Mungkin Minjoo benar-benar sudah gila. Mungkin ketika kemarin Minjoo berlari untuk lepas dari para penjahat itu dia juga ikut melepaskan otaknya.

Kalian tahu kenapa? Pertama kali ketika Minjoo membuka matanya pagi ini, dia langsung termenung menatap langit-langit kamarnya dengan jantung yang berdetak seperti drum konser rock band. Terlalu nyaring sampai rasanya kamar itu sedang mengadakan konser rock band tersebut.

“Mulai sekarang, aku berjanii aku akan terus melindungimu. Menjagamu. Aku akan terus di sampingmu dan tidak membiarkan siapapun melukaimu barang seujung kuku pun atau membuatmu menangis hebat seperti tadi.”

“Aku akan melindungimu, Han Minjoo.”

“Akan selalu melindungimu.”

 

Kata demi kata itu benar-benar menancap baik di jantung maupun otak Minjoo. Entah kenapa tiba-tiba ia seperti tengah memelihara kupu-kupu di perutnya dan kata demi kata itu seperti makanan untuk kupu-kupu tersebut. Jadi perumpamaannya adalah saat ia mengingat kata demi kata itu, kupu-kupu itu langsung berhilir di perutnya, menggelitik seluruh perasaannya. Rasanya? Tentu saja menyebalkan tapi Minjoo ingin memelihara kupu-kupu itu terus di perutnya.

Kenapa dengan diri Minjoo? Lebih tepatnya ada apa dengan Baekhyun? Kenapa tadi malam dia begitu berbeda, Minjoo seperti dipertemukan kembali dengan sosok pria yang pernah mengisi hidupnya dahulu dan yang menjadi alasan dari perasaan kecil yang ia sembunyikan bertahun-tahun lamanya—oh jangan lupa perasaan itu telah muncul kembali tanpa sepengetahuan Minjoo. Kemana Baekhyun yang selalu mengerjainya? Yang selalu membuat hidup Minjoo menderita? Mana Baekhyun yang sering Minjoo sebut dengan panggilan SMOS-SMOS (Senang Melihat Orang Susah-Susah Melihat Orang Senang). Dan yang paling penting.. kenapa mulutnya bisa semanis itu?

Minjoo menolehkan wajahnya ke samping, tepatnya ke ranjang yang kosong di sebelahnya. Mengangkat tangannya lalu mengelus-elus bantal miliknya sambil berpikir. Mungkinkah jika Minjoo saja yang terlalu terbawa perasaan? Setiap suami di dunia ini tentunya harus menjaga istrinya, melindunginya dari segala ancaman mara bahaya. Itu memang sudah kewajiban seorang suami tapi disini yang membuat Minjoo termenung dan merasakan dentuman jantung itu karena ini adalah Byun Baekhyun. Musuhnya. Pria yang ia benci dan membencinya. Yang menikah karena dipaksa oleh orang tua dirinya dan pria itu. Meski ia adalah salah satu dari setiap suami itu, tetap saja dia memiliki perbedaan dari mereka dan itu yang membuat Minjoo yakin bahwa dia hanya terlalu terbawa perasaan. Mereka menikah bukan karena perasaan. Tidak dengan cinta. Yang berarti, dia murni mengatakan itu hanya untuk melaksanakan kewajibannya tanpa punya maksud tertentu.

Mendapatkan jawaban itu, Minjoo merasa ada sesuatu yang hampa tiba-tiba menimpanya. Entah kenapa Minjoo seperti tidak terima dengan jawaban itu. Maka dari itu, ia langsung meremas bantal itu sambil merenguh kesal.

“Argh!”

Argh?

Minjoo memutar tubuhnya ke belakang dan mendapatkan Baekhyun berdiri di sebelah kasurnya. Melihatnya dengan tampang menyebalkan itu dan satu alis terangkat. Minjoo semakin yakin jika jawaban tadi seratus persen benar.

“Ya, kau sudah bangun huh?” ucapnya lagi.

“Kau pikir? Dengan mata terbuka ini aku masih tertidur, iya?” jawab Minjoo dengan sinis. Masih tersulut emosi karena jawaban tersebut.

“Ck. Han Minjoo, kau ini memang wanita bipolar ya.”

Bipolar apa maksudmu!?” tanya Minjoo setelah Baekhyun mengatakannya seperti itu. Maksudnya apa sih?!

“Tadi malam saja menangis sampai tersedu-sedu lalu sekarang wujud aslinya sudah kembali lagi.” Baekhyun menyilangkan tangannya di dadanya dan memandang Minjoo dengan rendah. “Pantas saja lelaki banyak yang takut padamu.” Ucapnya sambil terkekeh pelan di akhir. Kekeh yang menyebalkan, maksud Minjoo.

“Tidak usah sok-tahu, Byun Baekhyun. Kau kan tahu aku pernah punya kekasih sebelum kita menikah dibanding dirimu yang tidak punya kekasih sama sekali.” Minjoo berucap begitu puas seakan-akan ia telah menjatuhkan bom di depan muka Baekhyun. “Lagipula, kau tidak mengaca huh!? Yang bipolar itu aku atau dirimu!? Kalau kau tidak bisa mengaca, tuh ada kaca riasku!” tunjuk Minjoo dengan tangannya. “Untukmu saja, agar kau bisa melihat keburukanmu!”

Baekhyun menggelengkan kepalanya lalu melepaskan lipatan tangannya, “Aku malas berdebat dengan orang keras kepala sepertimu sepagi ini. Sudah, bangun sekarang. Kau tidak akan sarapan, huh?”

“Sepertinya untuk pagi ini aku akan memesan makanan cepat saji saja.” Minjoo berdesis dengan menyebalkan.

Baekhyun pun memutar bola matanya acuh, maksudnya adalah berkata secara tidak langsung: terserahmulah, sambil memutar tubuhnya untuk keluar dari kamar mereka. Minjoo juga sama, ia mendecakkan lidahnya pada kepergian Baekhyun lalu mulai bangun dari kasurnya. Mungkin Minjoo harus menjernihkan otaknya yang kebanyakan makan angin malam saat berlarian kemarin dan sepertinya Minjoo juga harus kembali ke Bucheon untuk mencari otaknya.

Saat Minjoo menyentuh kakinya ke atas lantai, ada sesuatu yang menyetrum kaki Minjoo hingga ke kepala Minjoo. Minjoo lupa, kakinya kan baru saja terluka akibat berlari-larian itu. Dan itu bukan terjadi untuk kaki kirinya saja, melainkan kaki kanannya juga.

Minjoo meringis kesakitan sambil berusaha untuk bangun dari kasur. Dia mencoba berdiri namun demi dewa atau apapun itu, Minjoo benar-benar merasakan jika dia sedang berdiri di atas duri tajam dan besar. Sangat menyakitkan. Minjoo mencoba untuk mencari segala cara ataupun barang yang bisa membantunya berjalan, namun nihil. Tidak ada satupun yang bisa membantunya.

Minjoo menyerah, sambil menahan beban tubuhnya pada nakas, ia melihat ke sekeliling lagi untuk ia gunakan sebagai pengganti nakas ini. Ia menemukan itu, pintunya. Tapi masalahnya adalah Minjoo harus melangkah sebanyak kira-kira empat langkah untuk mencapai pintu tersebut.

“Ugh, kenapa ini menyebalkan sekali!!” keluhnya namun lalu ia menyemangati dirinya. Dia harus bisa melewati ini.

Satu langkah pertama. Rasanya ia telah tersetrum seratus kilowatt-joule listrik dari kakinya.

Satu langkah kedua. Kali ini ia merasa telah tersetrum seribu kilowatt-joule listrik dari kakinya.

Saat langkah ketiga, Minjoo sudah tak kuat untuk melangkah lagi. Dia pun dengan sengaja menjatuhkan tubuhnya ke atas lantai, berniat untuk menggeser tubuhnya dengan bokongnya.

“Baiklah, mungkin aku menggeser tubuhku seperti ini saja.” Ucapnya dengan nada semangat. Baru saja dia akan menggeser tubuhnya, ada sepasang kaki yang menghalanginya.

Lalu pemilik kaki itu merundukkan tubuhnya ke hadapan Minjoo.

“Kau tahu arti kata ‘tolong’ tidak sebenarnya?” ucap Baekhyun dengan sangat dingin namun sebersit ke-khawatiran tersirat melalui matanya.

Minjoo menatap Baekhyun dengan diam lalu menghembuskan nafasnya, “Aku bisa sendiri, Byun Baekhyun. Tidak usah menolongku.” Dan Minjoo berusaha untuk ‘berjalan’ dengan menggeser tubuhnya seperti yang ia rencanakan. Tapi, lagi-lagi dia tidak berhasil melakukan itu karena Baekhyun menahan pundaknya. Memeluknya dengan satu tangan. Lalu satu tangannya lagi ia taruh di bawah paha Minjoo dan dalam hitungan detik, tubuh Minjoo kembali melayang seperti kemarin.

“Kata tolong itu diciptakan untuk digunakan saat kau merasa kesusahan. Jangan sampai kau membuat pencipta kata itu merasa dirinya tak berguna karena kau tak menggunakannya di waktu yang tepat.” Ucapnya sebelum berjalan membawa Minjoo dengan gaya yang sama seperti malam kemarin.

Lagi dan lagi, Minjoo merasakan jika dentuman jantung itu muncul kembali dan kupu-kupu itu kembali berhilir di perutnya. Sebenarnya, apa sih makanan dari kupu-kupu itu!? Kata-kata atau sentuhan dari seorang Baekhyun!?

.

.

“Ini makan.”

Minjoo menaikkan pandangannya pada Baekhyun, menatap pria itu setengah ragu setengah dengan jantungnya yang tak karuan.

“Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanya Baekhyun dengan tajam. “Ada yang salah?”

Minjoo menghembuskan nafasnya lalu mengangkat bahunya acuh. Minjoo benar-benar harus melupakan detak jantung tak karuan itu.

Perlahan, Minjoo pun mengangkat sendok dan mulai menyuapi makanan itu ke mulutnya perlahan. Seperti biasanya, masakan Baekhyun selalu seperti masakan restoran bintang lima. Meski ini hanya berbahan dasar nasi putih, tapi Baekhyun menyulapnya menjadi nasi goreng kimchi terenak sejagat raya.

“Kau bilang kau mau makan makanan cepat saji saja.” Tutur Baekhyun yang kini telah duduk di hadapannya secara tiba-tiba. Berhubung Minjoo sudah kalah telak, jadi dia hanya diam saja selama pria itu mengomentarinya. “Biar kutebak, makananku terlalu enak untuk dilewatkan?”

“Kau tidak sarapan?” tanya Minjoo tanpa mengalihkan dirinya dari makanan tersebut. Kali ini, setengah—masih—menahan detak jantungnya dan setengah menikmati makanan tersebut.

“Coba kau lihat jam berapa sekarang.” Mendengar titahan Baekhyun, Minjoo mengangkat kepalanya dan melihat ke arah jam dinding yang di pasang di dapur. Ya Tuhan, apa Minjoo tidur terlalu lama atau melamun terlalu lama karena jam dinding itu telah menunjukkan pukul 10 siang!

“Kau sadar bahwa sekarang sudah tidak pantas untuk disebut makan ‘sarapan’ lagi?” ucapnya dengan sinis. “Huh, betapa tidak beruntungnya aku menikah dengan gadis-kesiangan sepertimu.” Tambahnya lagi dan itu membuat Minjoo menahan mati-matian sendoknya untuk tidak berada pada wajah Baekhyun. Minjoo tahu sekarang bahwa Baekhyun adalah salah satu mutan dari film X-Men dengan super-power merubah perasaan seseorang dalam hitungan detik.

“Kau tidak pergi kerja?” Minjoo telah berhasil meredam amarahnya itu dan mengalihkannya lagi pada pertanyaan lain sambil melanjutkan makannya kembali. Dia tidak melempar sendok itu karena ia berterima kasih pada Baekhyun yang telah mengangkat dan memberinya sarapan.

“Kakimu masih sakit?”

“Iya, masih.” Minjoo menjawab dengan cepat karena Baekhyun mengalihkan pertanyaannya, “Kau tidak pergi ke kantor, Baekhyun?” ulang Minjoo lagi untuk mendapatkan jawaban dari Baekhyun.

Baekhyun terdiam namun pandangannya bukan lagi pada Minjoo, melainkan pada kakinya.

“Ya, kau tidak dengar aku?” Minjoo bertanya untuk memastikan jika Baekhyun tidak tiba-tiba tuli. Namun tetap, Baekhyun tidak menjawab pertanyaannya dan memerhatikan kaki Minjoo.

“Ya, ada apa sih dengan—“

“Lebih baik kau selesaikan makanmu sekarang dan lekas mandi. Aku akan panggilkan dokter ke rumah.”

“Hah?”

Baekhyun telah menaikkan pandangan dan melihat Minjoo dengan jijik, “Kau tuli? Cepat habiskan makananmu dan juga cepat mandi. Aku akan memanggil dokter untuk mengetahui kondisi kakimu.”

Minjoo tidak mengerti mengapa Baekhyun berbicara ke arah ini, “Lalu kau tidak pergi bekerja?”

“Aku harus memastikan kondisi kakimu sebelum pergi ke kantor. Maka dari itu, cepat habiskan dan lekas mandi!”

Baekhyun berdiri dari kursinya, hendak meninggalkan Minjoo namun Minjoo menyadari suatu hal yang sangat urgent.

“Ya!”

Baekhyun mengerem pergerakannya dan memutar tubuhnya menghadap Minjoo dengan malas, “Masih tidak dengar?”

“Bukan!” Minjoo menatap Baekhyun dengan panik di wajahnya. “Aku kan tidak bisa jalan!”

Baekhyun mengangkat satu alisnya, “Lalu?”

Minjoo menghembuskan nafasnya dengan kesal, meski Baekhyun membutuhkan hanya lima tahun untuk mendapatkan dua gelar tapi otaknya bisa dikatakan lambat juga.

“Bagaimana caranya aku mandi, bodoh!?”

.

.

Sumpah, rasanya jantung Minjoo loncat keluar saat ini. Jika dia bisa memutuskan urat malunya, maka hari terbaik untuk melakukan itu adalah hari ini.

Kini Baekhyun telah berdiri di hadapan lemari mereka sambil memilah-milah baju Minjoo untuk gadis itu pakai. Itu bukan hal yang membuat Minjoo menggigiti jempolnya saat ini, tapi karena Baekhyun akan memilihkan pakaian dalam gadis itu juga!

“Ya!” Baekhyun berteriak dari depan lemarinya sambil memutar sedikit lehernya melihat ke arah Minjoo yang duduk di ranjang. “Kau mau pakai baju yang mana!?”

“H-hm?”

“Aish!” Karena kesal, Baekhyun pun mengambil asal sebuah dress tanpa lengan bermotif bunga ke arah Han Minjoo, “Sudah pakai itu saja!”

Baekhyun pun kini menutup lemarinya. Jika Minjoo sebut beruntung karena dia mungkin lupa bahwa Minjoo membutuhkan pakaian dalamnya juga, itu benar. Tapi, jika Baekhyun lupa, berarti Minjoo harus mengenakan pakaian dalam yang sama dengan tadi malam lagi. Ew, membayangkannya saja Minjoo tidak bisa.

“Ya, jangan di tutup dulu…” Minjoo mengecilkan volume suaranya dan sedikit terbata-bata juga, “..ada yang masih perlu diambil lagi..”

Baekhyun menghela nafas kesal dan menatap Minjoo kesal, “Apa lagi sih!? Apa yang kau butuhkan lagi!?”

Minjoo tidak tahu harus menjawab apa dan terus menggigit bibirnya. Memang sih, Minjoo terlalu berlebihan mengambil sikap ini karena mestinya itu hal yang biasa-biasa saja saat suamimu mengambilkan pakaian dalam untukmu. Tapi, Minjoo ingin mengulang perumpamaannya tadi pagi. Baekhyun dan Minjoo bukanlah pasangan yang menikah karena perasaan mereka. Jadi, bukankah itu sangat canggung sekaligus memalukan di satu waktu saat Baekhyun mengambil pakaian dalamnya!?

Baekhyun baru saja akan memprotes lagi karena lamunan Minjoo sebelum Minjoo berteriak dan berkata, “Angkat aku!!”

“Astaga!” Baekhyun mengumpat kesal, “Sudah biar aku yang ambilkan saja! Badanku sakit jika harus mengangkat-angkatmu terus, Han Minjoo!!”

“Tidak bisa!! Pokoknya angkat aku!!” Minjoo telah melebarkan tangannya ke arah Baekhyun. Minjoo tidak boleh membiarkan Baekhyun mengambil pakaian dalamnya atau harga diri Minjoo benar-benar terluka.

Menyerah, Baekhyun pun berdecak kesal dahulu lalu berjalan menuju Minjoo dan mengangkat tubuh gadis itu. Dengan muka cemberut dan kewalahan, Baekhyun berjalan kembali ke lemari mereka.

“Sebenarnya ambil apa sih!?” tanya Baekhyun setelah mereka berada di depan lemari.

Minjoo menolehkan wajahnya kepada Baekhyun dan menutup mata pria itu dengan satu tangannya karena tangan yang lainnya ia kaitkan di leher Baekhyun.

“Kau harus menutup matamu, mengerti!? Kalau sampai kau membuka matamu ketika aku melepas tangan ini kau akan mati!!” ancam Minjoo.

“Aish! Memangnya kau mau ambil apa sih!?”

“Sudah tutup matamu saja!!”

Minjoo pun perlahan melepas tangannya dari mata Baekhyun dan melihat pria itu selama beberapa detik. Mata Baekhyun terus tertutup namun bibirnya mengerucut marah.

“Aish! Kau memang menyusahkan ya!!”

Minjoo pun tak peduli dengan komentar itu dan dengan cepat membuka lemarinya setelah memastikan Baekhyun tidak akan membuka matanya. Minjoo mengubrak-abrik lemarinya namun dia tidak bisa menemukan pakaian dalam yang sepasang.

“Ya! Sudah belum!?” keluh Baekhyun. “Tanganku sakit!”

“Sebentar!!” Minjoo masih berusaha untuk mencari pakaian dalam yang sepasang itu tapi tetap nihil juga. Kemana sih pakaian dalam itu!?

“Ya!!”

Baekhyun menyerah, dia membuka matanya. Saat itu, Minjoo baru saja menemukan pakaian dalam yang sepasang dan menariknya tepat di depan wajah Baekhyun. Membuat Baekhyun langsung melihat ke arah pakaian dalam tersebut.

“Jadi..” Baekhyun menatap Minjoo sebentar lalu kepada pakaian dalam itu lagi, “..kau mencari itu?”

Minjoo bisa merasakan jika wajahnya semerah tomat dan dia sedang berkomat-kamit di dalam dadanya, menyiapkan seluruh kata-kata kasar yang pernah dia temukan selama hidupnya untuk Baekhyun.

“Ya..” Minjoo meremas pakaian dalam tersebut, berusaha untuk menyembunyikannya. Kini matanya juga ikut membulat dengan urat disekitarnya, “Kau membuka matamu!!??”

Baekhyun memundurkan wajahnya karena sumpah teriakan Minjoo benar-benar menghancurkan telinganya, “Kau yang terlalu lama, bodoh! Kan sudah kubilang tanganku sakit mengangkat tubuhmu!!”

“Tapi tetap saja kan kubilang tunggu sebentar!!” Minjoo menyembunyikan pakaian dalam itu di sela-sela perutnya lalu menaikkan tangannya menjambak rambut Baekhyun, “Pria mesum!!”

Minjoo menjambak rambut Baekhyun begitu kencang hingga rasanya batok kepala Baekhyun ingin lepas dari kepalanya.

“Ya!!!” ringisnya sambil menghindari tangan Minjoo. Minjoo tentunya mengacuhkan perkataan itu dan terus menerus menjambak rambut Baekhyun dengan keras seraya berseru, “Pria mesum!! Rasakan ini!!”

Baekhyun terus meringis sambil menghadang tangan Minjoo darinya, “Ya! Lepaskan!! Kau mau jatuh hah!?” ucapnya. Bukankah dia benar-benar menyedihkan dengan kedua tangan yang memegang tubuh gadis itu dan kepalanya terus mencari celah untuk lepas dari tangan Minjoo?

“Aku tak peduli!! Aku benci pria mesum!!” seru Minjoo lagi sambil terus menjambak rambut Baekhyun. Karena kesal Minjoo tidak berhenti menjambaknya, Baekhyun pun dengan cepat melangkahkan kakinya ke kamar mandi hingga membuat Minjoo membulatkan matanya.

“Ya!! Kau mau apakan aku!?” Kini tangannya berubah menjadi memukul-mukul dada Baekhyun. “Kau benar-benar mau mati ya!!?”

Baekhyun tak menanggapi itu lalu masuk ke dalam kamar mandi. Setelahnya dia menurunkan Minjoo di atas bathtub dengan kasar.

“Kau yang mau mati, Han Minjoo!” teriak Baekhyun sambil memegang kepalanya yang mulai pening, “Kau mau aku merendammu disini, iya!!?”

Minjoo sempat bergidik ngeri namun bukan Minjoo namanya jika ia tak berani, “Jika kau membunuhku, maka kau juga akan membusuk lalu mati di penjara, bodoh!”

Baekhyun mendecakkan lidahnya kesal lalu perlahan mengambil shower yang menggantung tepat di atas Minjoo. Melihat itu, Minjoo benar-benar menaikkan bulu kuduknya.

“K-kau benar mau membunuhku!?” ucapnya bergetar dan terus memerhatikan Baekhyun yang kini tengah mengatur keran di air.

Baekhyun mengacuhkannya namun setelah dia mengatur keran itu, dia melihat ke arah pakaian dalam Minjoo yang terselip di perut gadis itu lalu mengambilnya.

“Ya!!” Minjoo meraung, berusaha menarik pakaian dalam itu kembali namun gagal karena Baekhyun telah berdiri menjauh darinya. “Kau mau menjadi pelaku pemerkosaan dengan meninggalkan tubuh mayat di kamar mandi, hah!?”

“Iya! Kenapa?! Kau takut!?” runtutnya dan itu membuat Minjoo bergeming. Apakah ini harinya? Hari terakhir dari perjuangannya?

Setelah mengatakan itu, Baekhyun melangkahkan kakinya keluar dari kamar mandi Minjoo. Meninggalkan gadis itu sendirian hingga Minjoo benar-benar yakin bahwa Baekhyun akan meninggalkannya di kamar mandi dan membusuk disana.

“Ya!! Byun Baek—“

Minjoo menutup mulutnya saat Baekhyun kembali masuk ke kamar mandi, berjalan ke arahnya lalu menaruh dress bunga-bunga tadi beserta pakaian dalam di selipannya di atas closet di sebelah bathtub dimana ia berada. Tak lupa juga Baekhyun menaruh sebuah handuk di sebelahnya dan saat itu, Minjoo merasakan dadanya tertekan kembali oleh perasaan itu.

“Jika kau sudah selesai bilang, aku akan berada di depan pintu.” Ucapnya lalu berjalan keluar sambil mengusap kepalanya. Sedikit meringis juga dan mulut pedasnya juga berkomentar pelan, “Huh, harusnya aku benar-benar menenggelamkan dia disini.”

Pintu tertutup dan meninggalkan Minjoo yang bergeming di dalam bathtub. Saat itu, peliharaan yang berada di dalam perutnya mulai berhilir kembali entah karena sudah mendapatkan makanan atau belum. Kemungkinan tersebesarnya sudah sih.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Chanyeol baru saja turun dari taksi dan mulai berjalan menuju gedung kantornya. Dia baru saja kembali dari rumahnya setelah mengambil file yang tertinggal.

Ketika dia telah berhasil mencapai lobby utama gedung tersebut, Chanyeol melihat jika gadis yang menjadi pujaannya selama tujuh tahun baru saja keluar dari pintu lift dan berjalan ke arahnya. Karena urusan mereka yang terakhir kali itu belum selesai, Chanyeol hendak mengacuhkan noonanya itu dan berjalan selayaknya dia tak melihat Hyojoo. Namun, Hyojoo tak menyadari niat buruk Chanyeol itu dan langsung menghampirinya.

“Baik, saya akan segera datang ke kantor bapak.” Ucap Hyojoo pada teleponnya sambil menahan tangan Chanyeol. “Sekali lagi, saya minta maaf.” Tuturnya lalu menutup panggilan dari ponselnya itu.

Chanyeol memerhatikannya sedari tadi dan kini hendak membuka suaranya, “Noona sepertinya kita sedang dalam kondisi tidak—“

“Ayo kita pergi.” Hyojoo memotong perkataannya seraya menarik-narik tangan Chanyeol, “Minjoo sakit jadi Baekhyun harus merawatnya. Aku harus menghadiri rapat negara tentang peraturan perusahaan intel di Korea, menggantikannya.” Jelasnya seakan mengetahui niat buruk Chanyeol sebelumnya.

“Ayo kita harus pergi sekarang, semua orang sudah menunggu.”

Chanyeol pun menghembuskan nafasnya lalu mengangguk perlahan. Tentu saja ia harus menuruti perkataan Hyojoo karena ini urusan pekerjaan. Chanyeol bukanlah seseorang yang terbawa perasaan saat bekerja, tentunya.

.

.

Chanyeol berdiri di dekat pintu ruangan, menunggu Hyojoo selesai menyalami semua rekan sekaligus saingan dari HanByun Corporation. Rapat untuk peraturan terbaru dari negara telah selesai dilaksanakan. Bukan sesuatu yang cukup serius, hanya saja pemerintah sedikit menegaskan tentang peraturan hak melangsungkan bisnis intel di Korea.

Setelah selesai menyalami semua rekannya itu, Hyojoo keluar dan menghampiri Chanyeol di pintu depan sambil tersenyum. Sedangkan Chanyeol, dia lebih memilih untuk menatap Minjoo dengan datar.

“Sudah selesai kan, noona?” tanya Chanyeol to the point, “Kalau sudah, ayo kita kembali ke kantor. Aku harus menyelesaikan beberapa laporan untuk noona.” Tambahnya lagi.

Hyojoo tahu, Chanyeol masih ngambek dengan kejadian beberapa hari lalu itu. Maka dari itu, Hyojoo telah merencanakan sesuatu.

“Aku lapar, Chanyeol-ah.” Keluh Hyojoo dengan suara yang ia buat segemas mungkin. Biasanya Chanyeol akan luluh jika Hyojoo menggunakan nada itu. “Kita makan dulu, ya?”

Chanyeol berdecak kesal, “Tapi aku tidak lapar, noona.”

“Ayolah..” Hyojoo kini merajuk dengan menarik tangan kiri Chanyeol dengan kedua tangannya, “Kau kan tahu aku tidak suka makan sendirian, Chanyeol. Ayo kita makan dulu, ya?”

Chanyeol pun menghelakan nafasnya dan menyerah.

.

.

Hyojoo memilih sebuah restoran terdekat di tempat rapat tadi. Tidak terlalu mewah, sebatas restoran kecil saja dan untungnya tempat ini sedang sepi meskipun sudah jam makan siang.

“Kau mau pesan apa, Chanyeol-ah?” tanya Hyojoo sambil membuka-buka menunya.

Chanyeol mengangkat bahunya acuh, “Terserah noona. Sudah kubilang aku tidak lapar.”

Hyojoo pun sedikit menatap Chanyeol sinis karena benar-benar deh, marahnya Chanyeol yang kali ini kelewat dari biasanya.

Karena Chanyeol tidak memilih apapun, Hyojoo memanggil pelayan lalu memesan pesanannya dan juga pesanan Chanyeol—berdasarkan makanan favoritnya.

“Itu makanan favoritmu kan?” tanya Hyojoo dengan senyuman gummy kepada Chanyeol setelah pelayan itu pergi. Jujur, sebenarnya Chanyeol sedikit merasa geli karena Hyojoo memesankan makanan favoritnya. Bukankah itu berarti Hyojoo mengingatnya?

Tapi, lagi-lagi si gengsi Park Chanyeol mempertahankan marahnya dengan mengalihkan pertanyaan Hyojoo, “Minjoo sakit apa?”

“Baekhyun bilang kemarin itu ketika mereka sedang di Bucheon, Minjoo sempat dikejar oleh sekumpulan pria pemabuk yang mau memperkosanya. Saat berlari itu, dia terjungkal dan kakinya terselip.” Hyojoo menjelaskannya sambil memainkan sumpit besi yang ia pegang, “Antara kakinya bengkak atau luka, pokoknya Baekhyun bilang Minjoo benar-benar tidak bisa jalan untuk beberapa waktu ini.”

“Jadi dia akan izin sakit dahulu?”

“Tentu saja.”

Saat Hyojoo selesai menjawabnya, pelayan itu telah datang kembali membawa pesanan yang cukup banyak. Satu per satu piring diturunkan dari nampan dan itu membuat mata Chanyeol membulat, “Ya, kenapa noona memesan banyak sekali? Kita kan perlu cepat-cepat kembali ke kantor.”

Hyojoo hanya mengangkat bahunya, menandakan bahwa ia berkata: tidak-peduli sambil berseri-seri. Setelah pelayan itu menata meja, Hyojoo mulai menggunakan sumpitnya untuk menyendoki beberapa lauk ke atas nasi Chanyeol.

“Kau harus makan banyak, Park Chanyeol.” Ucap Hyojoo dengan senyum merekah, “Supaya kau bisa terus berada di sampingku untuk selama-lamanya.”

Mendengar itu, Chanyeol menatap balik Hyojoo dengan datar dan sorot lelah dari matanya. Itu adalah perkataan yang selalu digunakan oleh Hyojoo untuk meminta maaf padanya saat mereka bertengkar. Chanyeol tahu, Chanyeol berlebihan. Harusnya hanya dengan kata-kata itu Chanyeol tahu, Hyojoo mengharapkan lebih dari sekedar hubungan adik-kakak yang selama ini mereka jalani. Tapi, entah Chanyeol memiliki jiwa kewanitaan yang harus selalu pasti itu atau tidak, Chanyeol butuh kepastian mengenai statusnya untuk Hyojoo.

“Noona selalu bilang seperti itu padaku. Yang noona selalu katakan adalah bahwa noona membutuhkanku. Aku menghargai itu dan aku senang dengan itu, tapi..” Chanyeol menjeda perkataannya untuk menarik nafas, “..aku juga butuh kepastian apakah noona membutuhkanku hanya sebagai sekretaris. Atau adik. Atau.. seseorang yang berada di hati noona.”

Senyuman Hyojoo langsung memudar saat Chanyeol berkata itu. Pertanyaan yang mungkin sudah sejuta kali Chanyeol lontarkan tapi sejuta kali juga Hyojoo tidak menjawabnya. Sesungguhnya, Hyojoo sudah tahu jawaban apa dari pertanyaan itu hanya saja ia merasa ada sesuatu yang mengganjal yang membuatnya belum bisa untuk menjawab itu.

“Chanyeol-ah..” Hyojoo mengangkat tangannya, mencoba mencapai tangan Chanyeol. “Tidak bisakah kau memberiku waktu lagi? Aku tahu aku pasti terlihat egois di matamu tapi kumohon beri aku waktu lagi untuk menjawab itu semua.”

“Sampai kapan noona?” tanya Chanyeol, “Tujuh tahun lagi? Atau 14 tahun lagi?” jedanya sambil menatap Hyojoo tajam-tajam. “Beri aku waktu tepatnya jika noona ingin membuatku menunggu. Aku juga punya hati, noona. Dan hatiku ini tidak bisa disuruh menunggu terus..”

Hyojoo menurunkan pandangannya seraya melepaskan tangan Chanyeol darinya. Chanyeol tahu perkataannya mungkin telah menyinggung Hyojoo sangat dalam tapi apakah Chanyeol bisa disalahkan dalam hal ini? Benar bukan katanya, hati siapapun juga punya tanggal kadaluarsa sendirinya. Meski Chanyeol tak yakin bahwa ia benar-benar memiliki tanggal kadaluarsanya untuk Hyojoo, tetap saja menunggu itu bukanlah sesuatu yang patut terus dirasakan oleh hatinya. Sebenarnya.. apa sih yang Hyojoo pertimbangkan dan membuat Chanyeol menunggunya?

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Minjoo sedang asyik-asyiknya menonton acara musik harian di salah satu channel televisi Korea sesaat Baekhyun tiba-tiba datang dan menghampirinya di samping kasur kamarnya.

“Ya, ayo kita makan malam.” Ucapnya sambil bersiap merentangkan tangannya untuk mengangkat Minjoo.

Mengingat seluruh hal yang Baekhyun lakukan hari ini untuk dirinya, Minjoo yakin jika pria itu bisa masuk ke nominasi super-husband untuk ajang married-couple tahun ini. Bagaimana Minjoo tak yakin disaat seluruh hal yang Minjoo lakukan hari ini, pasti Baekhyun ada disana untuk menjadi kakinya. Seperti saat Minjoo hendak turun ke lantai bawah saja, Baekhyun mengangkat tubuhnya. Ada lagi saat Minjoo hendak mandi, Baekhyun mengangkat tubuhnya untuk masuk ke kamar mandi. Lainnya, saat Minjoo bilang bahwa ia ingin menonton televisi namun remotenya berada di meja sebrang tempat tidurnya, Baekhyun mengambilnya untuk Minjoo. Hal kecil memang, tapi itu benar-benar sesuatu yang punya pengaruh cukup kuat untuk jantung Minjoo.

Minjoo menyelipkan senyuman kecilnya sambil ikut merentangkan tangannya menggapai leher Baekhyun. Baekhyun sudah berhasil menaruh kedua tangannya pada pundak dan bawah paha Minjoo, namun belum juga terangkat Baekhyun melepas tangannya dari tubuh Minjoo.

“TIdak bisa begini. Aku lelah jika harus mengangkat-angkat tubuhmu terus.” Ucapnya dan itu membuat Minjoo mengerucutkan bibirnya.

“Lalu kau mau membiarkanku kelaparan, begitu!?”

“Aish.” Baekhyun berdecak kesal sambil berdiri lagi dari tempat tidurnya, “Bisa tidak sih kau sekali saja tidak berpikir yang negatif padaku? Aku akan membawa makananmu kesini saja, jadi kau makan disini tanpa perlu aku mengangkat-angkatmu ke bawah.”

Oh lihat, betapa bodohnya Minjoo saat ini. Melihat Minjoo yang bergeming-tidak-merasa-salah membuat Baekhyun menggeleng kepala dan berjalan meninggalkannya untuk ke ruang makan.

.

.

Baekhyun masuk ke kamar Minjoo saat suapan terakhir dari makan malam Minjoo baru saja dimasukkan ke mulutnya. Dia berjalan sambil membawa kantung kresek di tangan kirinya, tentu saja itu membuat dahi Minjoo berkerut bertanya.

“Kau habis darimana?” tanya Minjoo menatap kresek itu, berharap bahwa itu camilan sebenarnya. “Itu.. apa?”

Baekhyun melepas jaketnya terlebih dahulu lalu melipatnya ke dalam lemari lagi, “Dari apotek dekat perempatan jalan.” Lalu berjalan ke arah Minjoo dan menaruh kresek itu tepat di samping Minjoo. “Dan ini obatmu.”

“Obat?” Minjoo mengambil kresek itu dan melihat ke isinya, “Memangnya tadi dokter itu menyuruhku minum obat ya?”

Dokter memang sudah datang tadi siang dan memeriksa keadaan Minjoo. Dokter itu bilang bahwa Minjoo tidak apa-apa, namun untuk kakinya mungkin terluka cukup parah. Akibat Minjoo berlari terlalu keras tanpa menggunakan sepatu ditambah ia terjungkal dan terselip, urat yang berada di tumit Minjoo terbelit dan itulah penyebab mengapa Minjoo tidak bisa berdiri apalagi melangkah saat ini. Dokter bilang mungkin butuh empat sampai lima hari untuk penyembuhannya.

“Iya, kau harus meminum obat merah beserta perban, Minjoo-ya.” Ujarnya dan saat itu Minjoo baru sadar bahwa di dalam kresek itu adalah dua benda yang disebut Baekhyun tadi. Minjoo mendengus pelan menanggapi ucapan sinis Baekhyun itu.

“Kau sudah selesai belum makannya?” kini Baekhyun mendudukan dirinya di samping Minjoo lalu melihat ke arah piring yang telah kosong. “Sepertinya sudah, huh?”

“Kau tidak bisa melihatnya memang?” ucap Minjoo kini lebih sinis namun Baekhyun menanggapinya dengan memindahkan meja kecil yang dipakai Minjoo untuk makan barusan ke atas lantai. Setelah itu, ia menghampiri kaki Minjoo dan dengan perlahan membuka perbannya.

Entah kenapa, saat itu Minjoo mendengar dentuman drum dari rock band tadi pagi kembali terdengar di telinganya. Yang kali ini sepertinya tidak hanya terdengar satu drum saja, melainkan berlipat-lipar drum berdentum di telinganya. Sembari drum itu terdengar di telinganya, Minjoo juga merasakan satu hal yang membuat bergeming nyaman.

Hangat.

Saat Baekhyun membuka perbannya, membersihkan lukanya, dan memperbarui perbannya, itu semua terlalu hangat untuk dicerna di hati Minjoo. Minjoo tahu, Baekhyun melakukan ini semua semata-mata karena pria itu merasa bersalah telah meninggalkan Minjoo dan membuat Minjoo dalam kondisi berbahaya namun tetap ini terasa salah. Terasa salah karena Minjoo harusnya bisa membawa perlakuan Baekhyun ini biasa saja terhadap hatinya tapi yang dirasakannya terbalik dari itu semua. Minjoo merasa hangat dan seperti ingin terus dengan Baekhyun yang begini padanya.

“Hm.. Baekhyun-ah.” Minjoo mencoba membuka suaranya. Dia harus bisa mengontrol hatinya untuk tidak jatuh pada Baekhyun dengan membereskan perkara di hatinya. “Aku minta maaf karena telah membuatmu repot seharian ini. Membuatmu harus mengangkat-angkat tubuhku ke ruang makan dan ke kamar lagi. Membantuku ke kamar mandi dan masih banyak hal lainnya.”

“Bukankah kau melakukan itu untuk melakukan pembalasan padaku?”

Minjoo menatap tajam Baekhyun yang masih memfokuskan dirinya untuk membalut kaki Minjoo dengan perban lagi. Dia memang mutan dari film X-Men itu.

“Aku bukan pembalas dendam sepertimu, Byun Baekhyun.”

“Yakin?” Baekhyun mendongakkan wajahnya dan menatap Minjoo dengan senyum menyebalkan. “Yakin kau tidak melakukan pembalasan kepadaku, huh?”

Sumpah, Baekhyun itu benar-benar orang yang seperti ini ya, yang bisa membuat orang melambung karenanya namun langsung menjatuhkannya di detik selanjutnya. Tuhan menciptakan Baekhyun dengan hati baja, benar? Minjoo sedang serius berbicara namun dia mengacaukan mood Minjoo untuk melanjutkannya!

“Ya.. setidaknya aku tidak seperti anak kecil untuk melakukan pembalasan kepadamu, huh!!”

“Aku? Seperti anak kecil?” Baekhyun terkekeh pelan dan inilah dimana debat mereka akan mulai. “Seperti anak kecil bagaimana?”

“Ya!” Minjoo menyentak begitu keras lalu memutar semua memori beberapa tempo silam, “Yang menyuruhku untuk menjadi pembantu di rumah dan di kantor!? Yang menyuruhku untuk membereskan seluruh rumah ini dan mengambil barang-barang yang berada di depan matamu dengan tanganku!? Kau pikir itu semua bukan seperti anak kecil, hah!!” Minjoo menarik nafasnya sebentar lalu menambahkan lagi setelahnya, “Bahkan anak kecil pun tak akan seperti itu! Kau setan, benar!? Kau setan tahu!!”

Baekhyun menggeleng-geleng kepalanya dan ia telah selesai melilit kaki Minjoo dengan perban. Baekhyun pun mendongakkan kepalanya kembali, “Tapi apa memangnya kau mengerjakan itu semua?”

“Hah?” Minjoo mengangkat satu alisnya. Minjoo pikir Baekhyun memang gila.

“Memangnya membereskan rumah kau kerjakan semua, Han Minjoo? Kurasa tidak..” Baekhyun menggaruk-garuk dagunya berpura-pura berpikir padahal pria itu mengejeknya, “Memangnya aku tidak tahu kalau kau diam-diam menyewa pembantu harian apa?”

Minjoo bergeming dengan merasakan dirinya tersuduti di pojok ruangan. Perkataan Baekhyun itu benar, dia memang diam-diam menyewa pembantu untuk membereskan rumah ini. Pembantu itu datang setelah Baekhyun pergi dan pulang sebelum Baekhyun sampai di rumah kembali. Ya kalian pikir saja jika Minjoo benar-benar membersihkan rumah sebesar ini sendirian, apa kabar nyawa Minjoo.

“Y-ya tapi aku mengerjakan beberapa juga! Aku mencuci piring, sedikit menyapu juga dan.. pekerjaan kantor! Aku mengerjakan semuanya!” Minjoo terdiam tapi dia mulai merasa perdebatan ini tidak akan ada ujungnya. Tujuannya kan untuk membereskan masalah hatinya, bukan mencari perkara yang ke-seribu dengan Baekhyun. “Pokoknya, aku minta maaf karena merepotkanmu hari ini! Kau juga tidak perlu merasa bersalah lagi karena kau meninggalkanku, aku sudah memaafkanmu.” Ucapnya. Sedikit bangga karena dia merasa telah menjadi malaikat yang memaafkan setan kali ini.

Baekhyun berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Bukankah aku sudah bilang kemarin? Aku ini suamimu. Aku punya tanggung jawab atas dirimu dan aku ingin menjagamu. Yang kulakukan sekarang ini bukan semata-mata karena merasa bersalah, tapi karena aku ingin menepati janjiku padamu. Menjagamu.”

Ini apa!? INI APA!? Demi Tuhan, jantung Minjoo seperti meledak di tempatnya.

“Kau sama sekali tidak merepotkanku. Tenang, aku juga tahu kau tidak mempermasalahkan perihal kemarin jadi.. ini benar-benar karena aku sedang menjagamu, Han Minjoo.” Ucap Baekhyun lagi namun kini ia sambil mengacak-acak rambutnya. Setelah melakukan itu, Baekhyun meninggalkan Minjoo sendirian dengan hati yang porak poranda.

Kalian tahu terbang ke atas awan itu bagaimana rasanya? Begitu nyaman karena kelembutan awan sesuai dengan kulit kita dan juga hangat karena matahari begitu dekat dengan kita. Saat ini Minjoo sedang membayangkan dirinya tengah terbang ke atas awan menunggangi hatinya. Demi dewa apapun itu perumpamaan yang terlalu berlebihan.

Sumpah, ini membuat Minjoo semakin membenci Baekhyun. Bukannya berhasil membereskan perkara di dalam hatinya, kini perkara hati itu semakin berlipat-lipat di dalam sana. Kenapa sih Baekhyun punya kekuatan X-Men itu!!

 

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

“Eonnie!!” Minjoo langsung berangsut ke arah pelukan Hyojoo yang berhadapan dengannya. Kini semua orang dari kantor tengah menjenguknya. Tidak seluruh pegawai di kantor sih, maksudnya adalah ‘paket’ teman-temannya di kantor ada disini semua: Sehun, Yubi, Chanyeol, dan kakaknya sendiri, Hyojoo. Cukup membuat Minjoo senang karena dia sudah mulai bosan di rumah terus menerus selama tiga hari dan hanya ditemani dengan televisi di kamarnya.

“Ya!! Kenapa kau!?” Hyojoo terkekeh pelan, begitu juga dengan yang lainnya yang ikut terkekeh pelan.

“Noona merindukan kami semua ya?” goda Sehun dan itu membuat Minjoo melepas pelukannya dari Hyojoo lalu mengangguk-angguk. “Iya, aku merindukan kalian semua. Rasanya aku ingin memeluk kalian satu per satu.” Muka Minjoo merajuk seperti anak anjing dan tentunya itu membuat semua gelak tawa kembali terdengar.

“Eonnie, kau baik-baik saja?” kini Yubi duduk di atas kasur di atas bagian Baekhyun sambil melihat ke arah kaki Minjoo, “Kaki eonnie kenapa di perban seperti itu? Apa separah itu?”

Minjoo memegang kakinya yang di perban sambil menatap ke arah Yubi, “Ya cukup parah sih..”

“Bukankah uratmu hanya terbelit saja, Minjoo-ya?” kini Chanyeol yang berdiri di hadapannya bertanya. Semua orang memang sudah tahu cerita Minjoo yang dikejar oleh penjahat dan alasan lukanya saat ini, “Kenapa mesti di perban seperti itu?”

“Kakiku juga ikut tergores oleh batu tajam saat aku berlari, Chanyeol-ah. Jadinya ya juga seperti ini..” jawab Minjoo.

Hyojoo menggelengkan kepalanya lalu menyentil dahi Minjoo, “Makanya kalau disuruh suami untuk menunggu ya menunggu. Jangan sok-tahu dan sok-berani!”

Minjoo langsung mengelus dahinya seraya meringis kesal, “Eonnie!!”

“Ck. Sudahlah, aku mau turun dahulu. Nanti appa dan eomma akan datang serta paman Byun dan bibi Byun. Aku mau bantu Baekhyun untuk membuat minuman untuk kalian.”

Minjoo pun mendengus dan membiarkan Hyojoo pergi meninggalkan ruangan.

Sesaat Hyojoo telah berhasil menuruni tangga dan menemukan Baekhyun di dapur sedang membuat minuman, Hyojoo menghampiri pria itu secara diam-diam.

“Ah!” Baekhyun memegang jantungnya saat Hyojoo muncul dari balik punggungnya. Hyojoo tertawa namun Baekhyun meringis kaget, “Noona mengangetkanku!!”

“Aish! Masa hanya seperti itu sudah kaget!? Seorang suami tidak boleh penakut seperti itu!”

“Noona! Coba noona di posisiku, noona juga pasti kaget!!” Baekhyun sedikit kesal pada kelakuan Hyojoo namun setelahnya dia langsung ikut tertawa pelan dengan Hyojoo.

“Noona, apa kabar? Noona baik-baik saja?” setelah meredakan kekehannya, Baekhyun bertanya. “Ah, aku juga mau minta maaf karena telah meninggalkan banyak pekerjaan pada noona beberapa hari ini.”

“Kau sadar juga ya kalau kau merepotkanku?” Hyojoo menjawab dan itu membuat Baekhyun menyengir kuda sambil membalas, “Maaf.”

“Ck. Tapi, aku juga mau bilang terima kasih karena telah menjaga adikku, Baekhyun-ah. Terima kasih sudah merawatnya.”

Baekhyun menggeleng pelan dan melingkarkan jari jempol dan telunjuknya, “Bukan masalah.”

Kini, Hyojoo benar-benar membantu Baekhyun untuk membuat minuman. Dia mengambil gelas lalu menuangkan jus jeruk yang sebelumnya sedang Baekhyun siapkan ke atas gelas.

“Omong-omong, bagaimana hubunganmu dengan Minjoo?” Hyojoo bertanya lalu kini ia mengambil gelas kedua, “Sudah membaikkah?”

Baekhyun bergeming sambil menatap gelas-gelas di hadapannya, “Tidak tahu, noona. Sudah membaik atau tidak, aku tidak bisa memberi jawaban yang tepat.”

“Kenapa tidak?” tanya Hyojoo. Ia telah selesai menuangkan jus ke seluruh gelas dan kini ia mengambil satu gelas untuk ia minum sambil menyandarkan tubuhnya pada pantry dapur, “Bukankah kalian sudah tinggal bersama cukup lama?”

Baekhyun terdiam dan kini ia mengikuti pergerakannya seperti Minjoo, “Entahlah, aku tidak tahu. Aku masih tak tahu hubungan ini mau dibawa pada akhir yang mana. Aku merasa apa yang aku dan Minjoo lakukan terlalu ditarik dan mengulur. Tidak pasti mau kemana.”

“Ya.. tapi kau merasa kau seperti hidup seperti dahulu bukan?” tanya Hyojoo tepat sasaran hingga membuat Baekhyun terdiam, “Kau merasakan perasaan nyaman seperti dahulu, benar?”

Baekhyun langsung terdiam mendengar perkataan Hyojoo. Entahlah, rautnya tidak bisa menjelaskan itu semua. Yang jelas, ada satu hal pasti yang Baekhyun tahu di balik itu semua.

Tidak ingin membuat Hyojoo bertanya lebih jauh, Baekhyun menengadahkan wajahnya pada Hyojoo, “Lalu bagaimana dengan noona? Sudah menemukan jawaban dari pertanyaan Chanyeol?”

Giliran Hyojoo yang terdiam menatap gelas di tangannya, “Entahlah.. aku tidak tahu..”

“Noona, kau sudah tahu jawabanmu itu apa.” Baekhyun menatap Hyojoo dengan yakin. Baekhyun telah mengetahui hubungan di antara Chanyeol dan Hyojoo sejak lama karena Hyojoo kerap kali cerita padanya mengenai ini. Jika bisa dibilang, Baekhyun secara tidak langsung juga menjadi buku harian seorang Hyojoo selama ini. “Pertimbanganmu apalagi selain takut dia merasa terlalu rendah untuk noona?”

Benar, sebenarnya apa sih pertimbangan Hyojoo untuk ragu menjadikan Chanyeol sebagai pendamping hidupnya? Jika dibilang Hyojoo membutuhkan Chanyeol, Hyojoo sangat membutuhkan Chanyeol di sampingnya. Dia telah hidup selama tujuh tahun bersama Chanyeol. Semua masa-masa terburuknya Hyojoo lalui karena Chanyeol telah disampingnya, menahannya saat Hyojoo merasa ia ingin terjatuh.

“Noona, aku hanya mengingatkanmu saja.. saat orang yang kau cinta telah pergi, kau tidak bisa melakukan apa-apa selain memendam penyesalan itu di hatimu.” Baekhyun mengangkat tangannya lalu menepuk pundak Hyojoo berkali-kali, “Jangan sampai noona seperti itu. Selama ini noona tahu noona membutuhkan Chanyeol sedalam itu tapi noona tidak bisa menahannya. Ingat, setiap manusia itu punya batas masing-masingnya dan jangan sampai penyesalan itu datang ke hati noona saat Chanyeol telah mencapai batas tersebut.”

Hyojoo terdiam dan tanpa ia sadari air matanya telah jatuh melewati pipinya.

.

.

“Eonnie, si sinting Baekhyun itu masih terus mengerjaimu!?” tutur Yubi membuat Chanyeol mendelik ke arahnya.

“Ya, Lee Yubi. Kau mengatakan itu disaat kau sedang berbicara dengan istrinya?”

“Itu sebutan yang eonnie buat, Oppa!” bela Yubi membuat Chanyeol menggeleng-gelengkan kepalanya. Benar itu sebutan yang Minjoo buat saat ia merasa ingin membunuh Baekhyun dengan tangannya sendiri beberapa tempo waktu lalu. Tapi, entah kenapa Minjoo merasa asing mendengar itu dan malah Minjoo merasa dia merasa bersalah menyebut itu. Oh, Minjoo totally crazy.

“Hm.. sebenarnya.. beberapa hari ini dia sedikit berbeda, Yubi-ya.”

“Berbeda?” Yubi mengulang perkataan itu, “Seperti apa memangnya?”

“Aku tak paham..” Minjoo berkata dengan ragu dan memorinya kembali pada semua tingkah laku Baekhyun yang merawatnya. Belum lagi kata-kata yang memporak poranda hatinya.

“Aku ingin menepati janjiku. Menjagamu.”

“Ah, kau bilang kau sedang dekat dengan seseorang, Yubi-ya!” Minjoo mengalihkan perbincangannya. Bisa-bisa mukanya memerah tomat hanya dengan mengingat itu semua. “Siapa itu? Aku ingin tahu!”

Minjoo rasa ia berhasil mengalihkan perbincangan karena Yubi langsung terdengar senang saat Minjoo membahasnya, “Dia seniorku waktu aku kuliah dahulu, eonnie. Namanya Jongsuk Oppa!”

Sehun yang duduk di sofa depan kasur Minjoo langsung menolehkan kepalanya, “Kau sedang dekat dengan seseorang?”

Yubi menolehkan wajahnya pada Sehun dan menatapnya kesal, menurutnya Sehun berbicara terlalu sinis tadi, “Kenapa memangnya kalau aku dekat dengan seseorang?”

“Kau tidak cerita padaku!?” tanyanya dengan setengah menyentak. Yubi dan Sehun itu bisa dikatakan cukup bersahabat selama ini, mengingat mereka di tahun kelahiran yang sama. Meski mereka sering bertengkar, tapi Yubi sudah Sehun anggap seperti tempatnya menaruh keluh kesal. “Kau tidak bilang sama sekali masalah kau sedang dekat dengan Jongsuk itu!?”

“Terus untuk apa aku menceritakan itu padamu?” Yubi bertanya begitu sinis dan Sehun langsung bergeming. Sedikit tersinggung karena perkataan Yubi benar, untuk apa Sehun harus tahu Yubi dekat dengan-siapa-nya?

“Y-ya tetap saja.. kau harus menceritakan itu padaku siapa Jongsuk itu!”

Yubi memutar bola matanya malas lalu menatap Minjoo lagi, “Eonnie coba tebak, siapa yang meminta nomor ponsel duluan?”

“Dirimu, tentunya.” Sehun menyambar dan itu langsung disambut Yubi dengan tatapan nyalang.

“Siapa yang menyuruhmu menjawab sih!?” Yubi telah siap membangun kuda-kudanya kalau Sehun berani berkata satu patah kata lagi. Tapi ternyata tidak.

“Memangnya siapa, Yubi-ya?” Minjoo kini bersuara untuk menengahi mereka—meski sepertinya tidak.

“Jongsuk Oppa, eonnie! Dia yang meminta nomorku untuk pertama kali!” Yubi senyum merekah senang sedangkan Sehun menatapnya jijik. Entahlah, Yubi yang seperti ini terlihat menjijikan di mata Sehun.

“Wah.. selamat loh, Lee Yubi.” Minjoo tersenyum senang pada Yubi, “Omong-omong, kenapa kau bisa bertemu dengannya?”

“Jadi beberapa hari yang lalu aku datang ke acara reuni kampusku. Aku bertemu dia disana. Saat aku tengah minum di pojok ruangan, dia menghampiriku dan bilang bahwa aku cantik.”

Mendengar ucapan itu membuat Sehun tertawa begitu keras hingga ia terpingkal-pingkal, “Cantik!? Kau yakin dia bilang cantik padamu!?” Sehun terus tertawa seperti perutnya tengah digelitiki oleh bulu ayam, “Dua kemungkinannya adalah dia yang buta atau kau yang tuli, Yubi-ya!”

“Ya!!” Yubi sudah tidak bisa menahannya lagi, ia berdiri dari duduknya, membawa bantal Baekhyun dan dengan segera menghampiri Sehun. Setelah Sehun tepat dihadapannya, Yubi memukul Sehun berkali-kali menggunakan bantal itu.

“Memangnya ada yang salah dengan wajahku!?”

Pukulan pertama.

“Aw, sakit, Lee Yubi!!”

“Kenapa memangnya kalau dia bilang padaku kalau aku cantik, hah!?”

Pukulan kedua.

“Ya!! Lee Yubi!!”

“Sebenarnya apa sih masalahmu denganku, Oh Sehun!?”

Pukulan ketiga.

“Ya—“

“Hey hentikan.”

Yubi menghentikkan pukulannya saat Baekhyun berada di depan pintu. Oh pemilik rumah sepertinya akan marah.

“Kau mengotori bantalku?” Ucapnya begitu tajam dan langsung membuat Yubi membulatkan matanya sambil merunduk perlahan. Chanyeol dan Minjoo yang melihat itu tertawa pelan.

“Maaf, Tuan.” Ucap Yubi pelan dan Sehun yang menjadi korbannya pun tertawa puas melihat kekalahan Yubi.

“Sudah turun sana, aku telah menyiapkan makan siang untuk kalian semua.” Baekhyun kini berjalan ke arah Minjoo, “Kau juga makan dibawah untuk siang ini.”

Minjoo merekahkan senyumannya kembali lalu Baekhyun telah bersiap untuk mengangkatnya sebelum Yubi dan Sehun telah memulai perang lagi melalui tatapan mereka.

“Ya. Kalian tidak akan makan, huh?” Baekhyun menegur mereka dan itu berhasil. “Cepat taruh bantalku dan turun ke bawah.”

Yubi mendelik kesal pada Sehun sedangkan Sehun menjulurkan lidahnya, mengejek Yubi bahwa dia telah kalah. Chanyeol telah berjalan keluar sedari tadi dan kini Yubi menaruh bantal Baekhyun ke atas kasur lalu berjalan keluar. Begitu juga dengan Sehun, setelah dia merapikan rambut dan bajunya yang berantakan, Sehun menundukkan kepalanya sedikit ketika melewati Baekhyun lalu berjalan mengikuti Yubi.

“Ah.” Baekhyun baru saja mau mengangkat tubuh Minjoo kembali namun Minjoo menahan tangannya, “Aku mau mencoba untuk berjalan sendiri, Baekhyun-ah.”

Baekhyun menaikkan satu alisnya, “Memangnya sudah bisa?”

“Aku harus mencobanya, lagipula ini sudah terlalu lama.”

Minjoo pun sedikit mendorong Baekhyun untuk menjauh darinya dan mencoba untuk berdiri sendiri. Baekhyun juga telah membiarkan Minjoo untuk melakukan itu dengan berdiri memperhatikannya.

Minjoo menaruh satu tangannya pada nakas lalu perlahan ia mencoba untuk berdiri. Pijakan di kakinya telah cukup kuat, namun saat Minjoo berdiri tegak denyutan listrik itu mengalir dari kaki sampai kepalanya.

“Aw!”

Baekhyun langsung mendengus sambil melihat Minjoo dengan menyebalkan, “Kau itu memang gadis sok-kuat dan bodoh ya?”

Minjoo mendelik ke arah Baekhyun sambil menahan kakinya yang teramat sakit disana. Dan pada saat itulah, ia merasakan kembali tubuhnya terhuyung ke atas seperti biasanya.

“Gadis bodoh. Kau tahu bodoh? Itu dirimu.” Ucap Baekhyun lalu berjalan mengangkat tubuh Minjoo.

Minjoo berdecak sebal namun ia tetap merasakan kupu-kupu itu di dalam perutnya. Inilah alasan mengapa ia ingin mencoba untuk berjalan sendiri dibanding harus terus menerus memberi kupu-kupu itu makanan. Minjoo benci kupu-kupu itu.

.

.

Semua orang telah berkumpul di ruang makan saat ini. Bahkan kali ini pun orang tua dari Minjoo dan Baekhyun juga telah ikut serta dalam makan siang bersama ini. Yubi, Sehun, Chanyeol, dan Nyonya Han duduk di satu baris yang sama sedangkan baris sebrangnya diisi oleh Hyojoo, Minjoo, Baekhyun, dan Nyonya Byun. Tuan Han dan Tuan Byun duduk di kursi tunggal lebar meja.

“Wah, rasanya meja ini penuh sekali. Aku belum pernah merasakannya.” Ucap Tuan Han memerhatikan semua orang. Tuan Byun mengangguk setuju sambil menambahkan, “Benar, besan. Aku juga belum pernah merasakan meja sepenuh ini.”

“Maaf jika kami mengganggu acara makan kalian, Tuan Byun dan Tuan Han.” Sehun berbicara sambil merundukan kepalanya, “Kami seharusnya tidak ikut makan dengan keluarga kalian.”

“Aigoo.. jangan berbicara seperti itu, anak muda. Kalian kan teman Minjoo, teman Minjoo juga keluarga kami.” Tuan Han menanggapi perkataan Sehun dan itu membuat Sehun tersenyum pelan. “Lagipula kita bisa memanfaatkan acara makan siang ini sebagai latihan saat kita sudah punya banyak cucu nanti.”

“Uhuk!”

Minjoo tersedak di tempatnya dan dengan cepat menetralkannya dengan air yang berada di hadapannya. Tentu saja Minjoo tersinggung dengan perkataan Ayahnya barusan, dia paling benci jika Ayahnya sudah membahas hal seperti ini.

“Ck.” Baekhyun memberikan Minjoo kain serbetnya dan Minjoo langsung menolehkan wajahnya, “Tidak usah bereaksi berlebihan, Han Minjoo.”

Minjoo berdecak kesal karena itu. Seperti dahulu saja, Baekhyun tidak mengambil pusing hal-hal seperti ini.

“Ohiya, omong-omong bagaimana lukamu, Minjoo-ya?” untungnya nyonya Byun tidak menanggapi perkataan ayah Minjoo barusan. Jika iya, sepertinya Minjoo akan menyumpal mulutnya. “Apakah separah itu hingga kau tidak bisa berjalan?”

“Sekarang sudah baik-baik saja, Bi. Aku sudah istirahat cukup lama di rumah, mungkin besok atau lusa sudah sembuh.”

“Apa Paman perlu menyuruh orang Paman untuk mencari para penjahat itu di Bucheon? Tega-teganya menyakiti menantu paman seperti ini..” tuan Byun menambahkan namun Minjoo merasa geli saat dia menyebutkan ‘menantunya’.

“Tidak perlu, paman. Tidak usah berlebihan.” Tutur Minjoo sambil tersenyum.

“Ini semua karena dia tidak menurut, paman. Suaminya sudah bilang untuk menunggu, tapi dia malah main pergi saja.” Kini Hyojoo yang berbicara dan Minjoo mendelik kesal pada Hyojoo. Kapan sih dia berada di pihak Minjoo!? “Ini akibatnya jika kau membatah perkataan suami.”

Semua orang tertawa dan Minjoo bisa melihat jika Sehun tertawa cukup puas di sebrang sana. Melihat itu membuat Minjoo ingin memukul kepalanya jika ia sudah kembali bekerja nanti.

“Ibu tidak lihat kalau kau memakai kursi roda.” Nyonya Han berbicara dari sebrang meja Minjoo dan itu membuat Minjoo bergidik ngeri. “Selama ini kau pindah tempat dengan Baekhyun yang mengangkat-angkatmu?”

Minjoo menggigit bibirnya dalam, berusaha untuk menghindari pertanyaan itu tapi percuma. Minjoo pun mengangguk-angguk lalu menundukan wajahnya.

“Baekhyun.. membantuku berjalan selama ini.”

Semua orang di meja langsung bergumam ataupun berdeham menyiratkan secara tidak langsung kata ‘romantisnya’ atau ‘akhirnya’. Minjoo bahkan melihat Sehun setengah bersiul mengejeknya dan itu semakin membuatnya yakin bahwa Minjoo akan memukul kepala Sehun setelah ia kembali kerja nanti!!

“Kalau begitu, proses pembuatan cucu kita sudah setengah jalan, benar Nohyun-ah?” Ayah Minjoo setengah berteriak sambil melempar senyuman pada Tuan Byun dan langsung disambut Tuan Byun dua jempol terangkat di udara. Jangan lupakan senyuman yang merekah itu.

“Benar! Akhirnya sebentar lagi aku bisa menimang bayi lagi..”

Minjoo menganga lebar-lebar sampai rasanya dagunya mau lepas dari wajahnya. Kenapa konversasinya jadi membahas hal cucu ini?!

Minjoo menolehkan wajahnya pada Baekhyun dan menemukan pria itu makan dengan terlampau santai. Apa dia tidak merasa canggung atau sebal disaat semua orang memojokkan mereka seperti ini? Atau Minjoo saja yang merasa terpojokkan.

“Ah benar, aku lupa mau berbicara sesuatu.” Ucap Tuan Han setelah meredakan senyumannya, “Minggu depan ada pertemuan seluruh ketua pimpinan cabang di Jepang. Salah satu diantara Hyojoo dan Baekhyun harus datang.”

“Baekhyun saja yang datang.” Ucap Hyojoo, “Aku sedang mengurusi perkara di cabang Seoul dahulu.”

“Kalau Minjoo belum sembuh, aku tidak mau datang, noona.”

Minjoo kembali tersedak ditambah kini ia membelalakan matanya. Tadi itu Baekhyun yang bilang dan apa maksudnya!?

“Ya!” Minjoo mengeluh kesal pada Baekhyun. Apa dia sengaja melakukan ini supaya Minjoo tersuduti?! “Kenapa harus tergantung pada kesembuhanku!?”

“Kau itu kan sekretaris pribadiku. Masa iya aku pergi tanpa sekretaris?” ucapnya kelewat santai—lagi.

“Hah?” Minjoo tidak mengerti kenapa Baekhyun bersikeras seperti itu, maka Minjoo langsung menunjuk satu-satu Yubi, Sehun, dan Chanyeol. “Kan ada mereka, bawa salah satu di antara mereka saja.”

“Kami tidak bisa.” Ucap mereka serempak di akhiri kekehan kecil. Oh bahkan Minjoo bisa melihat jika mereka bertiga sedang saling berhigh-five di bawah meja lalu tertawa kecil kembali. Kenapa semua orang jadi memojokkan Minjoo seperti ini?!

Minjoo pun menaikkan pitamnya dan menatap mereka garang, “Ya!! Kalian berani melawanku!?”

“Sudahlah, Minjoo. Nanti kita bahas lagi saja mengenai siapa yang berangkat ke Jepang ini. Dan mungkin saja kalau minggu depan kau sudah sembuh, Baekhyun akan pergi dan kau ikut bersamanya.” Ucap ayah Minjoo menengahi.

Minjoo menyerah lalu mengepalkan tangannya di balik meja. Ia sedikit melirik Baekhyun disampingnya. Jika ia tidak ingat bahwa di meja ini tidak banyak orang, mungkin kepalan tangan itu akan mendarat persis di pipi Baekhyun saat ini.

.

.

“Ya!!”

Minjoo berteriak dari sofa ruang tengah setelah Baekhyun mengantarkan semua orang untuk pulang. Matahari telah sedikit turun, menampakkan awan oranyenya saat ini.

“Kau telah merencanakan ini semua ya!?”

Baekhyun berjalan melewati Minjoo untuk mendapatkan segelas air di dapur. Kebetulan juga ruang tengah dan ruang dapur terbatas oleh pantry kecil seperti meja bar di antaranya.

“Merencanakan apa?”

“Ya!” tak tahan dengan Baekhyun yang berpura-pura tak paham dengan kejadian tadi siang, Minjoo pun berdiri dari duduknya. Minjoo langsung merasakan kilowatt joule itu kembali mengalir lewat kakinya dan ia meringis sebentar sebelum berteriak, “Tidak usah pura-pura tidak tahu, sialan!”

Baekhyun kembali lagi menghampiri Minjoo dan memerhatikan gadis itu yang telah berdiri. Dia sempat bingung karena Minjoo telah berdiri lebih dari 30 detik.

“Tidak sakit?”

“Hatiku yang sakit, bodoh!” Minjoo membalasnya sambil sedikit berusaha menyeimbangi tubuhnya. “Kapan sih kau bisa sekali saja baik kepadaku?!”

“Ya, kau tidak ingat apa aku merawatmu dengan sangat baik beberapa hari ini?”

Minjoo terdiam dan ia merasa kalah. Baekhyun benar, pria itu telah merawatnya kelampau baik beberapa hari ini hingga membuat kupu-kupu itu terus menjadi peliharaan Minjoo.

“T-tapi kenapa kau tadi memojokkanku seperti itu!?” Minjoo kembali teringat dengan perkataan Baekhyun yang tetap ingin pergi bersamanya jika ia harus ke Jepang, “Kenapa kau tidak pergi ke Jepang dengan salah satu teman-temanku!? Mereka juga kan sekretaris kantor!”

“Sudahlah jangan bahas itu terlebih dahulu. Kakimu masih sakit?” Baekhyun menundukkan kepalanya melihat ke arah kaki Minjoo. “Sepertinya kau sudah bisa berdiri.”

Minjoo juga jadi ikut mengikuti titahan Baekhyun untuk melupakan permasalahan itu dan menundukkan kepalanya lalu melihat ke arah kakinya. Memang saat pertama kali ia menapakkan kakinya di atas lantai, ia merasakan denyutan listrik itu mengalir melalui kakinya namun detik setelahnya kakinya seperti nomal kembali.

“Aku tak tahu..” Minjoo mencoba mengangkat kakinya, “Aw. Masih sedikit sakit.” Ucapnya.

“Sepertinya kau memang harus latihan berjalan supaya urat-uratmu lurus kembali.” Baekhyun berucap dan Minjoo hanya mengerucutkan bibirnya tidak tahu. “Ayo kita latihan jalan.” Tambahnya lagi sambil mendongakkan kepalanya.

“Dimana? Disini?”

“Terserah. Kau maunya dimana memang?”

Mendengar itu Minjoo langsung tersenyum cerah seraya melipat kedua tangannya, memohon. “Aku ingin keluar dari rumah, Baekhyun-ah. Aku bosan disini, sudah tiga hari aku diam di rumah terus.”

Minjoo sedikit mengedip-ngedipkan matanya untuk meluluhkan hati Baekhyun namun menurutnya itu percuma, “Kita ke taman dekat sini ya? Katanya taman dekat rumah kita bagus, Baekhyun!”

Baekhyun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya seraya berkata,

“Kau tahu? Aku seperti sedang mau mengajari anakku berjalan.”

Dan Minjoo hanya mendengus sambil terkekeh pelan.

.

.

“Ayo tiga langkah lagi, Minjoo-ya!”

Peluh keringat telah turun dari kening Minjoo. Ia sedikit merundukkan tubuhnya, menahannya pelan karena ia benar-benar lelah. Minjoo baru saja latihan berjalan sebanyak sepuluh langkah tapi rasanya ia seperti telah berlari selama 30 menit. Kakinya pegal ditambah sakit sekali setiap Minjoo mengangkat dan menapakkannya di atas tanah. Dari sini juga Minjoo belajar perjuangan seseorang yang lumpuh untuk bisa berjalan lagi begitu hebat.

“Aku tidak kuat.” Minjoo menengok ke samping kirinya, ada kursi taman persis di sampingnya. Ia akan menyerah, maka ia berjalan sebanyak satu langkah lalu langsung memaksakan duduk di atas kursi itu.

“Aku menyerah!” ucapnya pada Baekhyun yang berada tiga langkah di hadapannya.

Baekhyun menyelipkan senyuman kecil di bibirnya lalu melangkah menuju Minjoo.

“Baru sepuluh langkah saja sudah seperti ini.” Ucapnya sambil berdiri di depan Minjoo. “Bagaimana jadinya kalau 50 langkah?”

“Kau saja yang berjalan kalau begitu! Aku tidak mau kalau 50 langkah!!” keluh Minjoo sambil menarik nafas dan menghembuskannya lagi.

Baekhyun terkekeh pelan, “Aku bercanda. Kan tadi sudah kubilang kita latihan 20 langkah saja.”

“15 langkah saja ya??” Minjoo mendongakkan kepalanya dan memohon pada Baekhyun. “Lima langkah lagi saja ya?”

Baekhyun merundukkan tubuhnya lalu memerhatikan Minjoo. Minjoo pikir Baekhyun hendak memarahinya namun yang terjadi jauh dari pikirannya selama ini. Baekhyun mengangkat tangannya, menaruhnya di dahi Minjoo dan menghapus peluh keringat Minjoo.

“Y-ya!” Minjoo berusaha memprotes dan menjauhkan wajahnya dari tangan Baekhyun. Oh Tuhan, Baekhyun tidak boleh tahu jika wajahnya menghangat! “K-kenapa kau melakukan itu? Kau tidak jijik apa?!”

“Aku bukan tipikal orang yang jijik-an.” Kali ini ia menatap Minjoo, “Dengar ya, Han Minjoo. Aku memaksamu untuk latihan jalan sebanyak 20 langkah bukan karena aku ingin menyiksamu. Aku melakukannya karena supaya kau bisa cepat berjalan lagi. Kau tidak takut apa kalau kau terus menghindari sakit di kakimu dan memutuskan untuk tidak berjalan bisa menyebabkan kau kehilangan sendi-sendi di kakimu?”

Bukan itu yang membuat Minjoo bergeming membeku ditempat, tapi itu semua karena Minjoo sedang menahan jantungnya untuk tidak loncat dari tempatnya!

“Ayo sekarang kita latihan lagi. Sepuluh langkah lagi saja, Minjoo-ya. Baru selesai.”

Baekhyun telah berdiri kembali sambil menjulurkan tangannya. Sedangkan Minjoo, dia tengah berusaha untuk mengatur pernafasan yang kembali berporak-poranda. Sepertinya konser rock band itu tidak pernah berhenti di dalam tubuh Minjoo.

Minjoo bangun dengan menggapai uluran tangan Baekhyun.

“Sekarang sambil kupegang saja tangannya, supaya tidak terlalu lelah.”

Minjoo pun mencoba kembali untuk melangkah. Dengan pelan, Ia mengangkat kakinya lalu menapakkan kakinya secara pelan juga.

Entah kenapa.. latihan berjalan untuk sepuluh langkah ke depan lagi ini tidak terasa berat untuk Minjoo. Minjoo mencoba mencari alasannya selama beberapa saat dan ia baru sadar sesuatu.

Tangan pria itu. Tangan Baekhyun terlalu hangat untuk di lepaskan dan seperti menggenggam seluruh dunianya. Membuatnya merasa jika kakinya tidak sakit kembali karena Baekhyun menahannya dan menjaganya untuk tetap berdiri tegak.

Saat itu, Minjoo tahu harusnya dia benar-benar mencari otaknya yang lepas saat di Bucheon dan mengembalikan akal sehatnya. Tapi, saat memikirkan itu Minjoo bertanya: Apakah saat akal sehatnya telah kembali, ia masih bisa merasakan kehangatan ini kembali? Karena jika tidak, Minjoo rasa Minjoo akan membiarkan otaknya tetap hilang di Bucheon saja.

.

.

“Ini.”

Baekhyun menyodorkan minuman kaleng pada Minjoo sambil mendudukan dirinya di sebelah Minjoo. Minjoo sudah berhasil berjalan sebanyak 20 langkah tadi, dengan sedikit-sedikit mengomel karena lelah.

“Terima kasih.” Ucap Minjoo sekenanya dan langsung meminum itu karena Baekhyun telah membukanya.

Baekhyun menundukkan kepalanya lalu menatap kaki Minjoo dengan menyipitkan matanya, “Kemungkinan besar kakimu sudah sembuh besok, tadi kau sudah berjalan cukup baik.”

“Itu karena kau memaksanya.” Minjoo mendelik sinis pada Baekhyun. Meski begitu, sebenarnya ia setuju dengan perkataan Baekhyun. Ia rasa kakinya sudah bisa sembuh besok.

“Ya berarti aku seorang terapis yang hebat, benar?”

Minjoo memutar bola matanya malas lalu menatap senja sore di hadapannya. Langitnya begitu indah, cerah namun tidak membuat kulit Minjoo terbakar oleh kecerahannya. Tak jauh dari mereka, terdapat banyak anak kecil tengah berlari saling berkejaran. Ada juga sekumpulan anak perempuan seperti sedang bermain masak-masakan.

Minjoo tersenyum melihat itu. Ini membuatnya mengingat ketika ia dan Baekhyun kecil dahulu, mereka selalu bermain seperti ini.

“Ya, lihat itu.” Minjoo tak tahan hanya untuk mengingat memorinya sendirian. Ia merasa, ia harus membagi kenangan indahnya itu bersama orang yang tepat. “Kita dahulu selalu main seperti itu. Aku yang menjadi tikusnya, kau yang selalu menjadi kucingnya.”

Minjoo terkekeh pelan melihat salah satu anak tertangkap oleh temannya yang kemungkinan besar menjadi kucing itu, “Bukankah itu permainan paling menyenangkan saat kita kecil dahulu?”

Baekhyun telah ikut memerhatikan anak-anak kecil tadi lalu ikut tersenyum seperti Minjoo, “Ya, aku selalu menjadi kucing karena kau tidak mau bermain kalau kau yang jadi kucing.”

“Aku benci menjadi kucing. Terlalu melelahkan harus terus mengejar.”

“Dasar..” Baekhyun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ah, iya.” Karena sedang bernostalgia dengan kenangan masa kecilnya, Minjoo jadi membahas hal lainnya tentang masa kecil mereka. “Kau masih sering bermain piano, Baekhyun-ah?”

“Masih.” Baekhyun mengangguk-anggukan kepalanya. “Kenapa?”

“Tidak, hanya saja kau kan pernah bilang bahwa kau ingin menjadi pianis ketika kau sudah dewasa nanti.” Ucap Minjoo. Minjoo masih mengingat alasan mengapa Baekhyun ingin menjadi pianis ketika ia masih kecil, maka Minjoo langsung melirik Baekhyun perlahan.

“Apa kau.. masih punya cita-cita itu?”

Baekhyun terdiam dengan sudut bibir yang terangkat ke atas. “Masih. Aku masih punya cita-cita untuk menjadi pianis itu.”

Minjoo sedikit tertarik untuk membahas hal ini, “Lalu… kenapa kau tidak melanjutkannya dan malah menjadi direktur utama di perusahaan?”

“Kau tahu, tadinya aku sekolah ke London itu karena aku ingin masuk ke sekolah musik terbaik di London. Hanya saja..” Baekhyun terdiam menatap kosong di hadapannya. Minjoo pun berdeham sebentar.

“Hanya saja.. kenapa?”

Baekhyun pun menghelakan nafasnya, “Aku memikirkan orang tuaku saat itu, Minjoo-ya. Aku tahu, aku hanya satu-satunya anak mereka yang membuatku mau tak mau harus menjadi penerus perusahaan. Aku sudah tahu dari aku berumur sepuluh tahun bahwa aku akan dinikahkan dengan salah satu di antara kalian lalu meneruskan perusahaan ini. Jadi..” Baekhyun sedikit tersenyum kecut sambil mengalihkan pandangannya pada kaleng yang sedang di pegangnya. “Aku harus melepas cita-citaku untuk menjadi pianis.”

Minjoo sempat merasakan apa yang Baekhyun rasakan saat itu. Hatinya tertekan, begitu sakit dan menyesakkan. Menjadi anak tunggal terlebih seorang lelaki di keluarga pengusaha bukanlah hal yang mudah. Baekhyun harus membuang jauh-jauh citanya bahkan dari umur sepuluh tahun pun hanya karena memprioritaskan keluarganya. Memang sih, Baekhyun bisa saja melawan kehendak orang tuanya untuk menjadi penerus perusahaan tapi Minjoo tahu, Baekhyun bukanlah tipikal orang seperti itu. Baekhyun terlalu mencintai kedua orang tuanya dan untuk menolak permintaannya seperti menikah dengannya kemarin ini pun ia tidak bisa.

“Uhm.. aku minta maaf karena telah membahas hal seperti ini..” Minjoo sedikit menggigit bibirnya bersalah, “Maaf karena jadi mengingat cita-citamu yang telah kau lepas..”

Baekhyun terkekeh pelan, “Sebenarnya aku tidak sepenuhnya melepas cita-citaku itu, Minjoo-ya.”

“Huh?”

Baekhyun menolehkan wajahnya dan menatap Minjoo dengan senyuman, “Aku masih sering bermain piano dan tampil di panggung. Dahulu, ketika aku berkuliah di London, aku kerap tampil di beberapa café sekaligus untuk menambah uang sakuku.”

“Wah.. kau memang Byun Baekhyun yang tidak pantang menyerah, hm?” Minjoo tertawa pelan, “Lalu kenapa kau tidak melakukannya juga disini?”

“Aku terlalu sibuk sekarang karena telah menjadi direktur utama perusahaan.” Lalu ia menyipitkan matanya sinis pada Minjoo, “Juga karena merawatmu yang menyebalkan ini.”

Minjoo berdecak kesal, “Aku tidak merasa di urus olehmu tuh—“

“Mau aku menyebutkan semua hal yang telah kulakukan kemarin?”

Minjoo mendengus pelan lalu menyerah, “Iya, iya. Kau memang pamrih, ya?!”

Baekhyun tertawa pelan lalu ia menghambiskan tegukan terakhirnya. Setelahnya ia membuang kaleng itu ke tempat sampah dan menatap Minjoo kembali, “Aku rasa aku sedang lelah untuk memasak makan malam hari ini. Bagaimana kalau kita makan di luar, Minjoo-ya?”

Minjoo melebarkan matanya, “Aku mau!!” tapi setelahnya dia memicingkan matanya sebal, dia teringat dengan kejadian ketika ia makan di restoran di Bucheon waktu itu. “Kau tidak sedang mengerjai aku lagi, bukan!?”

Baekhyun tertawa pelan karena ia tahu Minjoo teringat dengan kejadian di restoran di Bucheon itu, “Kali ini tidak, Minjoo-ya. Aku akan membiarkan kau yang memesan makanannya hari ini.”

Minjoo membelalakan matanya kesal, “Berarti yang waktu itu kau benar-benar sengaja mengerjaiku!?”

“Habis saat itu aku sangat lapar, Han Minjoo. Maaf ya.” Ucapnya terlampau tenang seakan-akan itu bukanlah kesalahan yang fatal. Setelah mengatakan itu, Baekhyun menjulurkan tangannya.

“Sekarang kau sudah bisa berjalan bukan? Kau jalan sendiri bisa kan?”

Minjoo mendengus pelan lalu mengacuhkan tangan itu. Ia jadi menaikkan pitamnya kembali karena tahu Baekhyun benar-benar serius menjahilinya. Setan itu memang ada pada diri Baekhyun!

Karena Minjoo sedang kesal, dia berdiri dengan menyentakkan kakinya terlalu kuat. Saat itulah, ia kehilangan keseimbangannya karena kakinya kembali disengat oleh ribuan kilowatt-joule.

“Ah!”

Dan terjatuh menabrak Baekhyun. Untung Baekhyun bisa menahannya.

“Ya! Apa yang kau lakukan sebenarnya?” Baekhyun terlihat sedikit panik sambil menahan pundak Minjoo.

“Habis kau menyebalkan sih!” ucap Minjoo mencoba bertahan menahan rasa sakitnya. “Jadi saja aku terlalu kuat menyentakkan kakiku!”

Baekhyun mendengus kesal lalu ia melepas tangaanya dari Minjoo dan memutar tubuhnya membelakangi Minjoo.

“Ya sudah, naik ke punggungku lagi saja.” Ucapnya karena ia memang tadi mengangkat Minjoo seperti ini saat turun dari mobil untuk ke taman.

Saat itu, Minjoo sempat ragu untuk kembali naik ke atas punggung di depannya. Kalian tahu bukan, apa efeknya terhadap peliharaan Minjoo jika itu terjadi?

“Ya! Ayo cepat naik, aku sudah lapar!”

Minjoo pun menyerah, dia memang tidak punya cara lain untuk bergerak selain naik ke atas punggung itu. Perlahan ia naik ke atas punggung Baekhyun, memeluk pundak Baekhyun dan membiarkan Baekhyun mengangkatnya.

“Kau itu paling bisa ya menyusahkanku, Han Minjoo.” Keluhnya.

“Kau itu memang musuh terbaikku, Byun Baekhyun.” Balas Minjoo dengan asal.

“Terbaik? Mana ada musuh terbaik.”

“Ya kan itu dirimu, bodoh.”

Baekhyun terkekeh pelan lalu ia berjalan menuju mobilnya.

Sebenarnya, mulai dari hari itu, jam itu, menit itu, detik itu.. Minjoo sepertinya telah mengubah status Baekhyun untuk Minjoo.

Baekhyun bukan lagi musuh Minjoo. Baekhyun adalah teman kecil Minjoo yang Minjoo rasa berubah namun ternyata tidak. Dia adalah Byun Baekhyun yang Minjoo kenal dahulu.

.

.

Suara mesin dimatikan terdengar di telinga Baekhyun dan Minjoo. Minjoo telah membuka seat-beltnya dan kini tengah menunggu Baekhyun untuk mengunci mobil. Setelah selesai, Baekhyun langsung turun dari mobil dan membuka pintu Minjoo.

“Wah, berat badanmu semakin berat ya setelah makan.” Ucapnya setelah mengangkat Minjoo dan menutup pintu mobil dengan kakinya.

Mereka baru saja selesai makan malam di sebuah restoran kota dengan pemandangan yang super-duper-indah. Wah, rasanya Minjoo ingin mengkali kata super itu menjadi seribu. Di atas skylounge, meja tepat di perbatasan dan langsung menghadap city lights Seoul. Kalau Minjoo dibilang kampungan, maka Minjoo akan menyetujui itu karena sedari dia sampai di tempat restoran hingga mereka selesai makan, Minjoo tak henti-hentinya bilang ‘wah’ ‘cantiknya’ ‘nyamanya’ dan kata-kata lain untuk mengekspresikan perasaannya tersebut. Baekhyun pun sempat menutup mukanya karena para pengunjung yang lain menatap Minjoo dengan jijik.

Minjoo tidak tahu alasan Baekhyun membawanya ke tempat itu apalagi Baekhyun tahu dari mana tempat itu. Namun, dari makan malam itu Minjoo merasa dirinya benar-benar kembali dengan Baekhyun yang dulu pernah mengisi hari-harinya. Yang dahulu pernah menjalin hidup bersama, menghabiskan masa kecil mereka bersama. Bersuka dan berduka bersama. Minjoo tahu.. bahwa Baekhyun yang ia kenal dahulu tidak pernah berubah. Masih si Byun Baekhyun, sahabat petir dan sahabat-jika-kau-tidak-punya-pasangan-di-masa-depan-maka-aku-akan-menikahimu. Ya, itu masih Byun Baekhyun.

“Ck. Oh iya, kau tahu tempat makan kita tadi darimana, Baekhyun?” Minjoo bertanya dan Baekhyun mulai berjalan untuk masuk ke rumah mereka.

“Ini zaman dimana Steve Jobs masih tetap kaya hanya karena apel yang termakan itu meskipun dia sudah meninggal.” Ucap Baekhyun dengan nada sadis, “Internet, please.”

Ugh, Minjoo benci Baekhyun yang menggunakan bahasa inggris. Pria itu jauh seribu kali lebih seksi—eh—menyebalkan maksudnya.

Mengingat kata seksi, ya Minjoo kini mengakui bahwa Baekhyun itu pria yang kelewat tampan. Juga seksi. Juga manis. Juga yang lainnya! Setiap kali Minjoo diangkat oleh Baekhyun, mereka akan membuat jarak setipis kertas hingga Minjoo bisa merasakan detak jantung Baekhyun di sekitarnya. Belum lagi harum Baekhyun yang begitu menguar seraya mengejeknya ‘ayo peluk aku’ ‘ayo cium aku’. Karena harum itulah, terkadang Minjoo akan mengeratkan tangannya di sekitar leher Baekhyun supaya kesempatan dalam kesempitan itu Minjoo gunakan sangat baik. Ugh, jika waktu itu Minjoo pernah bilang bahwa ia ingin mengisi tumblrnya dengan wangi rerumputan yang segar itu, kini Minjoo ingin membuang wangi rerumputan itu dan menggantikannya dengan wangi Baekhyun yang ini. Wanginya begitu maskulin, tidak kuat tapi punya sensasi yang memabukkan di indera penciumman. Oh sepertinya Minjoo akan diam-diam mencuri parfum Baekhyun.

Minjoo kemudian kembali pada realitanya, melupakan pikiran-pikiran nakalnya, lalu langsung mendengus pelan pada Baekhyun.

“Ya. Kenapa sih kau itu begitu bipolar, huh?!” Minjoo menatap Baekhyun dengan tajam, “Kau bisa berubah manis dalam satu detik namun bisa berubah menjadi setan kembali dalam satu detik, kau tahu!?”

“Jadi.. menurutmu.. aku manis?”

Minjoo membelalakan matanya dan rasanya ia benar-benar ingin Tuhan tidak pernah menciptakan mulutnya.

Baekhyun telah menolehkan wajahnya pada Minjoo dan menatap gadis dengan satu alis terangkat.

“Selama ini yang kulakukan itu.. manis untukmu ya?”

Demi dewa Poseidon-nya Percy Jackson. Minjoo benar-benar merasa jantungnya telah lepas. Mukanya memerah, seiring dengan tangannya tiba-tiba gemetaran. Sepertinya Minjoo sedang kejang-kejang.

“B-bukan seperti itu maksudku—“

“Jadi saat aku mengangkat tubuhmu.. membawakanmu sarapan, makan siang, makan malam.. membantumu mandi.. membantumu berjalan hari ini.. membawamu ke restoran dengan pemandangan yang indah..” Baekhyun semakin menatap Minjoo dengan geli,

“Itu semua.. membuat hatimu berguncah, iya?”

Minjoo rasa ia seperti menelan pisau di mulutnya. Minjoo tidak boleh seperti ini, Minjoo tidak boleh kalah oleh akal tidak warasnya!

“Y-ya! Turunkan aku, sekarang!” teriaknya. Sedari tadi memang mereka telah sampai di kamar hanya saja Baekhyun tetap mengangkat Minjoo ketika Minjoo bilang ia ‘manis’ tadi.

“Kenapa minta turun? Kau merasa jantungmu mau keluar, benar?”

Demi Tuhan, Minjoo sekarang merasa kesal lagi pada Baekhyun. Pria itu sedang mengerjainya!!

“Ya!! Turunkan aku!!”

Minjoo berguncang hebat dan itu membuat keseimbangan Baekhyun menghilang.

“Ah!”

Minjoo terjatuh lalu ada kabar baik dan buruk mengenai jatuhnya Minjoo itu.

Kabar baiknya: Minjoo terjatuh di atas kasur mereka. Yang berarti Minjoo sama sekali tidak luka di sekitar tubuhnya.

Kabar buruknya: Saat Minjoo terlepas dari pangkuan Baekhyun tadi, tangannya terkait di leher Baekhyun dan itu membuat Baekhyun ikut terjatuh bersamanya hingga pria itu kini tepat berada di atas Minjoo. Di atas tubuhnya!!

Jarak mereka terlalu dekat dan Minjoo bisa merasakan nafas Baekhyun tepat ke wajahnya. Oh, satu lagi menambah hal mengenai keseksian Baekhyun. Nafasnya berwangi mint.

“Y-ya.” Volume Minjoo mengecil karena ia seperti bernafas dengan oksigen yang sama dengan Baekhyun. “L-lepaskan aku. Kau bilang aku berat kan? Kenapa masih memegang pinggangku.”

Minjoo bisa merasakan tangan Baekhyun di pinggangnya. Ugh, ini benar-benar gila.

Baekhyun hanya bergeming menatap Minjoo dengan tatapan yang Minjoo tidak mengerti. Karena tatapan itu membuatnya salah tingkah, Minjoo mengalihkannya—atau bisa-bisa raut wajah Minjoo memerah seketika. Saat ia sedang mengalihkan pandangannya itulah, Minjoo baru sadar bahwa tangannya masih mengerat di leher Baekhyun. Kali itu, Minjoo berpikir keputusannya untuk tidak mencari otaknya di Bucheon adalah kesalahan terbesar.

“O-oh, maaf. Aku belum melepas tanganku, ya?”

Minjoo pun perlahan melepaskan eratan tangannya dan mulai turun melewati pundak Baekhyun. Minjoo baru saja akan sepenuhnya lepas dari leher Baekhyun sebelum pria itu tiba-tiba menahan tangannya.

“Kau mau tahu apa yang lebih manis dariku?”

Minjoo tergelak dan menatap Baekhyun kembali.

“Huh?”

“Ini.”

Mata Minjoo terbuka selebar-lebarnya. Tangannya meremas pundak Baekhyun sedalam-dalamnya. Jantungnya melompat saat ia merasakan sesuatu yang sangat manis di bibirnya.

Baekhyun menciumnya!

Tiga detik Minjoo merasakan itu, Baekhyun melepas ciumannya dan menatap Minjoo dengan tatapan penuh arti.

“Lebih manis, bukan?”

Minjoo bergeming dan rasanya ia kehilangan jiwanya. Melihat Minjoo yang membeku seperti itu, membuat Baekhyun tersenyum pelan lalu melepas tangannya dari tangan Minjoo dan berpindah menahan tengkuk Minjoo. Sedetik setelahnya, Minjoo merasakan sesuatu yang jauh lebih manis dari sebelumnya di bibirnya. Terasa lebih lembut dari sebelumnya, penuh ketegasan, dan juga penuh perasaan.

Minjoo tahu dia gila, dia benar-benar harus mencari otaknya lagi di Bucheon sana. Tapi.. untuk kali ini, biarkan dia merasakan kemanisan ini melalui bibirnya. Melalui hatinya. Melalui perasaannya.

Perlahan namun pasti, Minjoo kembali mengangkat tangannya dan mengeratkannya di leher Baekhyun. Menutup matanya seperti yang Baekhyun lakukan, membalas ciuman itu. Merasakan kehangatan itu semua. Minjoo sempat merasa Baekhyun tersenyum dibalik ciuman itu, mungkin mengejeknya, tapi Minjoo tidak peduli. Yang jelas.. Minjoo ingin merasakan ini lebih dalam lagi.

Saat itu, Minjoo tahu bahwa perasaan yang dulu pernah ada untuk pria itu nyatanya masih tersimpan dihatinya. Perasaan yang Minjoo sembunyikan karena permasalahan yang sampai detik ini belum mereka selesakan.

Kemarin ini Minjoo berpikir dengan mutlak bahwa ia harus menolak perasaannya.

Tapi.. mulai dari sekarang, Minjoo sepertinya akan mencoba untuk menerima perasaan itu kembali.

❣❣❣To Be Continued❣❣❣

Sekarang aku tepatin janjiku!! Yehett!! Hehehe.. cuman dalam kurun tiga hari loh aku udah update lagi hihihi. Bagaimana? Kecewa ya? Maaf loh >,< Ohiya aku mau kasih tahu kalau kemungkinan besar chapter depan bakal aku protect. Alasannya apa? Aku cuman lagi iseng aja pengen ngeprotect wkwk, mau coba-coba maksudnya hehe. Kalau jadi nanti aku kasih announcementnya okay, tenang ko passwordnya ga bakal suruh kalian follow akun medsos aku or semacamnya. Tunggu aja nanti oke!
Yaudah deh see you soon lagi di chapter 5!!

sarange20

-Baek’s sooner to be wife-

Advertisements

173 responses to “I Married To My Enemy [IV] -by ByeonieB

  1. Ya ampun thor ini bener bener keren . Baek sosweet bangat gendong minjoo kemana mana . Terus apalagi scenen terakhir tadi . Minjoo akhirnya mau ngebalas ciuman baek ngilangin semua rasa gengsinya . Hahaha

  2. Sosweet . Ternyata baek selama ini nggak nidurin minjoo . Dia cuman pura pura biar mereka jadi nikah 😍 dan akhirnya minjoo mau mengakui juga kalo dia jatuh cinta sama baek . Hahaha akhirnyaaa

  3. jadi minjoonya pernah suka ama baek?
    oalah si baek sih cemburua ahhahah jadi aja kan saling benci gua tau kok iya gua tau gua sok tahu yang penting seru hahhah
    inimah fix saling suka gk mau ngaku

  4. ayy byunbaek makin sweeeet aja
    dia itu peduli tp itu mulutnya pedes bnget sayang tp sering bkin kesel dan salah paham
    chan kasian qm mnanti terus

  5. Arrgh! Baekie sosweet bget bikin yg baca senyamsenyum sendiri! Huaa romantisnya! Ah yubi sepertinya sehun cemburu kan? Hehehe chapter ini berhasil ngebuat diriku dapat jitakan dari adiku dipikirnya aku sdh gila! Hahaha gogogogo to chapter 5!!

  6. Kak Lula! Kamu membuat Ana tergagu!

    Btw, AKHIRNYA CIUMAN JUGA! Eh!

    Udah gitu aja. Speechless ini.

    Yeogineun
    Dikanasly (:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s