Honey Cacti [Chapter 4]

honey-cacti-poster-3-seohun

Ziajung’s Storyline©

Casts: Oh Se Hun | Choi Seo Ah | Lee Ji Eun

Genre: Romance, Comedy, Drama

Prev: Prolog || Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3

———————————————–

Chapter 4—(Seems Like) A Good Person

 

“Alasan kenapa seseorang tidak bisa dilupakan dengan benar karena mereka terus menyebutnya di depan kita.”

***

                Suara musik yang menghentak telinga bukanlah hal yang asing lagi bagi Se Hun. Umur 18 tahun andalah saat pertama Se Hun menginjakkan kaki ke tempat semacam ini. Ya, gosip tentang Se Hun yang playboy dan suka tidur dengan wanita cantik memang bukan rumor belaka. Itu juga yang menjadi alasan kenapa orangtua Se Hun menjodohkannya dengan Lee Ji Eun.

Ah, iya.

Alasan Se Hun datang ke Sunny’s Glow malam ini bukan karena ingin bersenang-senang atau hasratnya sedang tidak bisa ditahan. Ia membutuhkan waktu sendiri. Meski kedengarannya aneh, tapi Se Hun selalu datang ke sini ketika ingin menenangkan diri. Yang ia lakukan hanya duduk sambil meminum alkohol—mengabaikan segala ajakan orang yang dikenalnya dan godaan wanita seksi yang datang menghampirinya.

Malam ini harusnya ia datang ke salah satu restoran Prancis di sebuah hotel untuk makan malam bersama orangtua Ji Eun. Wanita itu mengajak—ah, tidak, lebih tepatnya memohon—kepada Se Hun untuk datang dan berpura-pura kalau hubungan mereka baik-baik saja. Jujur, Se Hun sempat terenyuh tapi kemudian perasaan muak melihat ekspresi memelas wanita itu menguasai dirinya. Ia mengusir Ji Eun dari ruang kantornya dengan dingin, tanpa memberikan jawaban yang pasti.

[“Kumohon, Se Hun Oppa….”

                “Bangun! Jangan buat aku tambah membencimu, Lee Ji Eun.” Se Hun menggertakan giginya rapat-rapat. Satu tangannya terkepal kuat di atas meja, sedangkan yang satunya berusaha untuk tidak mematahkan pulpen yang ia genggam. Ia pura-pura sibuk dengan dokumen di meja, mengabaikan Ji Eun yang tengah berlutut dengan kepala tertunduk

                “Kau bisa membenciku sepuasnya setelah ini, hanya saja kumohon… ibuku—“

                Se Hun mengangkat kepalanya. “Aku tidak peduli apa yang terjadi dengan ibumu atau siapapun yang datang di restoran itu. Kita sudah berakhir—apakah itu kurang jelas?!”

                “Oppa….”

                “Keluarlah! Sebelum aku memintamu secara kasar.”]

Selama ini Se Hun memberikan waktu untuk Ji Eun menjelaskan sendiri kepada orangtuanya, tapi kalau terus begini, Se Hun tidak punya jawaban lain selain memberitahu mereka secara resmi nanti.

Se Hun menegak lagi alkohol berwarna keemasan itu dalam sekali teguk. Bunyi dentingan es batu di dalam gelasnya lebih efektif untuk mengisi kehampaan hatinya daripada musik keras di sekitarnya. Menuang lagi alkohol itu ke dalam gelas, Se Hun melirik kursi sebelahnya yang kosong. Hm… meja bar ini mengingatkannya dengan sesuatu.

Choi Seo Ah.

Se Hun sedikit menaikan sudut bibirnya. Tanpa tahu sebelumnya kalau Seo Ah adalah teman Ji Eun, untuk pertama kalinya Se Hun menyapa seorang wanita yang tidak dikenalnya di Sunny’s Glow. Terlebih tampilan Seo Ah saat itu biasa saja; blazer cokelat, dan celana panjang hitam, sama sekali tidak menarik perhatian. Tapi justru karena hal itu dan kata-kata kasar dari mulut Seo Ah yang membuatnya bisa sampai ke tahap ini.

Se Hun tertawa sendiri. Konyol memang. Ia mengusir wanita cantik yang sedang dicumbunya dan malah membawa pulang Choi Seo Ah yang mabuk berat ke penthouse. Belum lagi skenario konyol yang dibuatnya mendadak itu. Ah… kenapa tiba-tiba ia kepikiran wanita itu?

Se Hun menghabiskan gelas terakhirnya lalu membayar sambil berpamitan kepada bartender. Niat untuk mabuk sampai pingsannya hilang sudah. Sebenarnya, Se Hun adalah orang yang tahan alkohol, tapi suatu waktu ia ingin sekali merasakan mabuk sampai tidak sadarkan diri. Ia pun keluar dari bar itu dan menuju mobilnya yang terparkir.

Se Hun merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel. Jarinya menyusuri kontak yang tersimpan di ponselnya, mencari sebuah nama. Begitu ia menemukan nama Seo Ah, jarinya berhenti. Haruskah ia menghubungi wanita itu? Tapi untuk apa? Tadi pagi mereka sudah bertemu, dan bahkan Se Hun sendiri yang mengantar Seo Ah ke rumah dan menyuruhnya istirahat yang banyak. Sebenarnya saat ia menelepon Seo Ah waktu itu—ketika Seo Ah berada di New York—ia penasaran karena wanita itu tidak ada di kantor dan mematikan ponselnya dalam waktu yang lama. Kalau saat ini Se Hun kembali menghubunginya dengan alasan yang tidak jelas begini… ia sendiripun geli membayangkannya.

Akhirnya Se Hun memilih mengurungkan niat dan melempar ponselnya ke kursi sebelah. Ia harus bisa mengalahkan pikiran konyol itu dan pulang ke rumah. Ah, tidak, rumah bukan tempat yang tepat sekarang. Tapi ia juga tidak lagi memiliki gairah untuk minum-minum apalagi bermain wanita.      Ck! Terserahlah mobil ini akan membawanya ke mana.

Di dalam mobil Se Hun hanya terisi keheningan. Ia tidak menyalakan musik atau radio, hanya suara deru halus mesin mobil dan embusan nafasnya sendiri. Alkohol tadi bukan apa-apa untuk Se Hun, karena sekarang pria itu masih sadar 100 persen. Mungkin itu pula yang membuatnya kembali merasakan kehadiran seorang wanita yang biasanya duduk di sebelahnya ini. Haah… ini tidak bagus! Ia merindukan sekaligus membenci setengah mati wanita itu.

Mobil Se Hun melambat dan berhenti di depan lampu merah perempatan. Ia menghela nafas kuat-kuat, berharap itu bisa mengurangi beban di hatinya. Ia pun mengalihkan pandangan ke luar jendela. Jam masih terlalu siang untuk kota Seoul tidur, tapi meski begitu jalanan sudah mulai lenggang.  Mungkin udara yang sedikit dingin membuat sebagian orang lebih memilih tinggal di rumah atau makan ramyeon di minimarket 24 jam seperti wanita dengan pakaian olahraga yang duduk di sana.

Eh?

Se Hun menegakkan tubuhnya. “Choi Seo Ah?”

***

                Memang dalam udara dingin begini, ditambah tubuh berkeringat setelah berolahraga, makan ramyeon pedas dicampur sosis dan keju adalah yang terbaik. Hari ini tidak banyak yang Seo Ah lakukan. Ia hanya bermalas-malasan di rumah, menghabiskan waktu cutinya yang masih tersisa empat hari lagi, dan menggemukan diri dengan masakan Jung Ahjumma. Bahkan karena saking bosannya, Seo Ah pun membaca buku ‘Cara Cepat Belajar Masuk Ujian PNS’ yang dibelinya tiga tahun lalu.

Dan sekarang ia berakhir di sini.

Olahraga malam memang cocok untuk menghilangkan stres. Menikmati angin musim gugur di pinggir sungai, mendengar orang-orang bercengkrama, dan memandangi para remaja tampan yang bermain basket. Tanpa terasa malam semakin larut, dan Seo Ah pun mendapat protes dari perutnya.

“Wah, wah, lihat! Bahkan kau sudah mempunyai nafsu makan sebesar itu.”

Seo Ah, yang mulutnya penuh dengan ramyeon, itu pun memutar kepalanya. Matanya membulat, dan dua detik kemudian Seo Ah tersedak. Se Hun pun mengambil botol air mineral di depan Seo Ah dan membukanya, lalu memberikannya pada wanita itu. Seo Ah terus terbatuk, tapi mengambil botol air mineral yang Se Hun ulurkan. Ah, benar-benar! Kenapa ia harus terus berurusan dengan Oh Se Hun, sih?!

“K-Kau! Sedang apa di sini?!” masih menepuk-nepuk dadanya, Seo Ah bertanya pada Se Hun yang sudah duduk di sebelahnya dengan tangan menopang dagu.

Se Hun mengangkat bahunya. “Tidak ada.”

Seo Ah mendecih, lalu memilih mengabaikan Se Hun saja. Seo Ah pun mengambil kembali cup ramyeon-nya dan membalikkan badan, memunggungi Se Hun. Bukannya tidak tahu terima kasih karena tadi pagi sudah mengantarkannya pulang, tapi… sungguh! Tidak bisakah pria ini tidak mengganggunya lagi?! Padahal Seo Ah sudah berdoa banyak-banyak semoga tadi pagi adalah saat terakhir berurusan dengan pria ini.

“Tidak kusangka style-mu boleh juga.”

Mendengar kekehan Se Hun di balik punggungnya, Seo Ah berbalik badan. “Ejekkanmu benar-benar tidak kreatif!”

“Aku serius.” Ucap Se Hun. “Belum pernah aku melihat seorang gadis berpakaian olahraga lengkap, bau keringat, rambut yang diikat asal, makan ramyeon hampir tengah malam begini dengan begitu lahapnya.” Se Hun memperhatikan Seo Ah dari atas ke bawah.  “Wuah, benar-benar sempurna.”

“Mau mati, ya?!”

“Oh! Kau menggunakan banmal lagi padaku?!” Se Hun pura-pura terkejut dan mengeluarkan ekspresi tidak suka. Ia kemudian berdecak seperti orang tua. “Anak muda zaman sekarang memang tidak tahu sopan santun.”

“Kau tahu tidak, secara tidak langsung kau menyebut dirimu orang tua, tau!”

Tapi, seolah tidak mendengar ucapan Seo Ah tersebut, Se Hun melanjutkan dengan nada yang sama. “Bahkan seharusnya kau memanggilku ‘oppa’.”

Pfft!

Untuk kedua kalinya, Seo Ah tersedak. Kali ini ia tersedak air yang tengah ia minum sampai menyemburkannya. Hidung Seo Ah terasa perih.

“KAU SUDAH GILA, YA?!” pekik Seo Ah kencang, sampai membuat orang-orang yang ada di sana menoleh padanya.

“Kenapa? ‘Oppa’ itu kata yang umum.” Jawab Se Hun santai. Dalam hati ia tertawa keras melihat reaksi Seo Ah tadi. Ah… menggoda wanita ini memang hal yang paling menyenangkan.

’Oppa’ itu memiliki makna yang penting bagi seorang wanita!”

“Ah… ternyata kau berpikiran seperti itu,” Se Hun mengangguk-angguk. “Padahal aku hanya berharap hubungan kita semakin dekat seperti kakak-adik.”

“A-Apa?!”

“Atau….” Se Hun tiba-tiba saja mendekatkan wajahnya ke Seo Ah. Bibir Seo Ah yang terdapat saus ramyeon, pipinya yang mulai merona, dan mata Seo Ah yang membulat, membuat Se Hun harus menahan tawanya. Dan yang muncul adalah senyum menggoda dari Pangeran Oh Se Hun. “Kau ingin memanggilku dengan ‘yeobo’?”

“A-Ap—“

“Hahahaha….”

Se Hun tidak tahan lagi! Ia tertawa keras melihat wajah panik Seo Ah. Ternyata wanita ini juga bisa luluh dengan hal-hal semacam ini. Benar-benar menarik.

Ya! Jangan tertawa!”

Tapi Se Hun tidak mau mendengar. Ia masih tertawa sampai perutnya sakit.

Aish! Pria ini benar-benar! Ya! Berhenti!”

“Wajahmu—“ dan Se Hun kembali tertawa.

“Berhenti tertawa!” Seo Ah memekik keras. “Itu sama sekali tidak lucu, Oh Se Hun.”

Se Hun mengusap air mata yang keluar dari sisi matanya. Wuah… sudah lama ia tidak tertawa selepas ini. Choi Seo Ah memang hebat.

Seo Ah mendengus keras. “Bagaimana mungkin seorang pria menertawakan seorang wanita seperti orang kerasukan hantu!” Ucap Seo Ah tajam. “Aku sama sekali tidak menyangka Ji Eun menyukai pria kurang ajar sepertimu.”

Mendengar nama Ji Eun, ekspresi Se Hun pun berubah kembali. Lee Ji Eun, wanita yang membuatnya jatuh pada lubang tidak berdasar ini. Perasaan hangat yang dulunya ia rasakan perlahan menjadi dingin dan beku kembali. Seluruh tubuhnya terasa sakit ketika mengingat wanita itu, tapi bagaimana pun rindu tidak bisa dihindari. Ini seperti pisau dengan dua mata yang perlahan membunuhnya.

Rasa cinta, rindu, kebohongan, pengkhianatan, amarah, semuanya berputar di kepala Se Hun.

“Kenapa? Kau baru merasa bersalah sekarang?” tanya Seo Ah, ketika melihat ekspresi Se Hun berubah menjadi murung.

“Kau… apa selamanya kau akan terus menyalahkanku?” tanya Se Hun pelan. Ia pun menatap Seo Ah dengan ekspresi yang sama.

“Apa maksudmu?”

“Kalau kau tahu alasan sebenarnya mengapa aku memutuskan pertunangan ini, apakah kau masih membenciku?”

Seo Ah tidak langsung menjawab. Ia memikirkan kata-kata Se Hun itu. Alasan sebenarnya? Se Hun sering sekali menyebut hal itu ketika Seo Ah mengatakan kalau ia sangat membenci Se Hun. Ada apa ini? Apa itu artinya… semua yang Ji Eun katakan adalah bohong? Ah, tidak! Bagaimana mungkin muncul keraguan seperti ini. Choi Seo Ah bodoh! Harusnya kau lebih mempercayai sahabatmu daripada pria kurang ajar ini.

Seo Ah menghindari kontak mata dengan Se Hun. Ia tidak mau Se Hun melihat keraguan dari matanya. “Itu… tergantung.”

Se Hun tersenyum pahit. “Lee Ji Eun itu… sama sekali tidak pantas untukku.”

“Memang benar! Ji Eun itu terlalu baik—“

“Tidak. Bahkan sebaliknya,” ucapan Se Hun yang memotong kalimat Seo Ah, membuat wanita itu mengerutkan dahinya. “Wanita itu terlalu kotor untukku.”

YA!”

Emosi Seo Ah tidak terbendung dan meledak begitu saja. Ia berdiri dari kursinya secara tiba-tiba sampai membuat kursi itu terbalik. Seo Ah memang tahu kalau Se Hun itu kurang ajar dan sombong, tapi ketika Se Hun menyebut Ji Eun seperti itu secara terang-terangan, itu tidak bisa diterima! Lee Ji Eun adalah teman terbaik yang pernah ia punya, atas dasar apa ia menyebutnya kotor?!

“Dasar brengsek! Bajingan!”

Seolah sudah memprediksi reaksi Seo Ah, Se Hun hanya bisa tersenyum pahit. Seo Ah semakin murka, ia pun menarik kerah coat Se Hun, membuat wajah pria itu berhadapan dengannya.

“Aku bisa saja membunuhmu di sini sekarang juga, tapi aku tidak ingin membuat Ji Eun menangis di pemakamanmu.” Ucap Seo Ah lamat-lamat. “Jadi enyahlah dengan caramu, dan bawa juga dirimu yang suci ini!”

Seo Ah melepaskan genggamannya di coat Se Hun dengan sedikit dorongan. Ia tidak mau membuat adegan drama di sini, kamera CCTV di mana-mana, dan tabungannya tidak mungkin cukup untuk mengganti rugi wajah tampan pewaris Sungjin yang memar-memar nanti. Seo Ah pun keluar dari minimarket itu dan mengambil sepedanya yang terparkir. Ia meninggalkan Se Hun yang masih bertahan di posisi itu dengan air muka yang gelap.

Mau menjelaskan sampai mulut berbusa pun tidak akan ada yang percaya padanya. Ah, tidak, sepertinya itu karena Se Hun tidak benar-benar menjelaskan kejadiannya. Masih ada sisi hati yang menahannya untuk mengatakan semua itu. Bagaimana pun Lee Ji Eun pernah memiliki tempat spesial di hatinya.

***

                Gara-gara kejadian malam tadi, Seo Ah bangun dalam keadaan seperti monster laut. Ia mengomentari apa saja yang membuat hatinya terusik; udara yang sangat dingin, bau parfum ibunya, tidak ada makanan kesukaannya di meja makan, keberadaan Jeong Min yang—memang—jarang pulang, bahkan ketika ibunya bertanya kenapa ia menggunakan pakaian kantor hari ini.

Intinya Seo Ah marah-marah sepagian itu.

Pagi ini ia memang berniat masuk kerja meski jatah cutinya masih ada. Ia bosan terus berada di rumah, ditambah pembicaraannya dengan Se Hun yang tidak berakhir baik semalam, membuatnya ingin segera menenggelamkan diri di tumpukan pekerjaan. Ya… meski faktanya Seo Ah sangat membenci kantor itu, kali ini kantor merupakan tempat yang pas untuk mengalihkan perhatian. Kalau tidak, ia tidak tahu apa yang akan diceritakannya pada Ji Eun tentang Oh Se Hun-sok-suci itu.

Sampai di kantor, Seo Ah disambut dengan rekan-rekannya yang terus menangih oleh-oleh atau sekadar cerita tentang—kemungkinan—malam panas yang dilaluinya bersama Jong In. Seo Ah menanggapi itu semua dengan senyuman canggung dan mulai mengarang cerita kalau ia tidak jadi pergi ke New York gara-gara sembelit dan tertinggal pesawat.

Dan semuanya berlalu.

Seo Ah duduk di kursinya sambil menghela nafas panjang. Matanya melirik ruangan Seol Hyun yang masih kosong. Tinggal menunggu waktu sampai nenek sihir itu datang lalu memanggilnya, kemudian memberinya pekerjaan yang banyak dan berat, dengan tambahan bumbu sedikit sindiran tentang ‘New York’ dan ‘Kim Jong In’. Gosip tentang Seo Ah selalu cepat mengenai telinga Kim Seol Hyun. Jadi, sebelum itu terjadi, Seo Ah pura-pura menyibukan diri dengan membereskan apapun yang ada di meja, atau sekadar memeriksa catatannya.

Di saat itulah ia menemukan pigura berisi fotonya dengan Jong In.

Foto itu diambilnya dua tahun yang lalu, saat Jong In menyempatkan waktu untuk datang ke Korea. Mereka sama-sama naik gunung Seollak, menikmati pemandangan matahari terbit dari puncak gunung, dan menghabiskan malam yang hangat bersama. Sekarang semua itu hanya menjadi salah satu kenangan yang indah, yang harus Seo Ah lupakan secepatnya. Ia tidak ingin lagi terjebak pada pusaran tidak berujung itu. Segala yang berhubungan dengan Kim Jong In membuat seluruh tubuhnya sakit.

Akhirnya, Seo Ah pun meraih pigura itu dan mengeluarkan foto itu dari sana. Sebenarnya ia tidak tega, tapi ia harus membuang kenangan itu. Seo Ah pun merobek foto itu sampai potongan terkecil lalu membuangnya ke tempat sampah di dekat kakinya. Sesudah itu ia membuka salah satu laci mejanya, mengeluarkan selembar kertas berukuran 2R berisi seorang pria super tampan.

“Wajah Joong Ki Oppa memang yang terbaik.” Terdapat nada sedih di ucapan Seo Ah, tapi ia tidak menyesal. Diletakkan kembali pigura itu di tempat semula. “Benar, sudah tujuh tahun aku terus menerus hanya melihat wajah pria brengsek itu, sudah saatnya Joong Ki Oppa menggantikannya.”

“Oh, kau sudah kembali bekerja, Choi Seo Ah-ssi?”

Mendengar suara itu, Seo Ah memejamkan matanya sejenak. Oke, perang akan segera dimulai. Seo Ah pun membalikkan kursinya dan berdiri di hadapan Seol Hyun.

Annyeonghaseyo.”

“Ah, baiklah. Aku tunggu kau di ruanganku.”

Dengan angkuhnya, Seol Hyun memutar tubuh model itu dan berjalan menuju ruangannya. Bunyi hentakkan high heels merah yang melekat sempurna di kaki jenjangnya bagai mars kematian untuk Seo Ah. Entah dengan apa Kim Seol Hyun menghabisinya hari ini. Seo Ah harus mempersiapkan diri.

Menghirup udara panjang, Seo Ah pun mendekati ruangan Seol Hyun. Ia mengetuk pintu kaca itu.

“Masuk.”

Seo Ah membungkukkan kepalanya (sebenarnya ia sangat sangat sangat tidak ingin melakukan itu. Tapi karena di kantor ini posisinya lebih rendah dari Seol Hyun, ia terpaksa melakukan semua ‘ritual’ itu). “Ada apa Anda memanggil saya, Manajer Kim?”

Seol Hyun tersenyum di balik mejanya. “Bagaimana liburanmu di New York? Apakah menyenangkan?”

Kalau boleh, Seo Ah sangat ingin menarik rambut Seol Hyun dan menghancurkan alis indahnya itu. Tidak perlu berpura-pura, wanita ini pasti sudah tahu gosipnya! Haah… Seo Ah baru merasa menyesal sekarang karena menyebutkan alasannya mengajukan cuti waktu itu.

“Tapi masa cutimu baru berakhir hari Jumat ini, kenapa kau sudah masuk kerja?”

Cih! Pembual! “Karena suatu alasan, saya tidak jadi pergi ke New York. Oleh sebab itu pula, saya memilih masuk kerja hari ini.”

“Tapi, ini hal yang bagus juga.” Seol Hyun mengubah posisi duduknya dan menyilangkan kaki. “Perusahaan sedang sibuk akhir-akhir ini, akan sangat bagus kalau kau membantu kami daripada tidur di rumah seharian tanpa melakukan apapun, kan?”

Sebenarnya ucapan Seol Hyun benar, tapi Seo Ah tidak suka nada bicara wanita itu. Berusaha tidak menggeram, Seo Ah pun menjawab. “Iya, Manajer Kim.”

Seol Hyun kemudian menepuk tumpukkan dokumen yang ada di mejanya. “Periksa semua ini, lalu buat rangkumannya. Akan kutunggu sampai pukul empat sore ini, dan sudah mendapat tanda tangan dari Manajer Yoon. Ah, jangan lupa pesankan restoran untuk makan siang bersama Direktur Park dari Golden—dia adalah orang penting dan sedikit pemilih dalam makanan, jadi kau harus hati-hati. Dan… aku ingin kau merekap pengeluaran minggu ini atas pembangunan real estate bersama Sungjin.”

Seo Ah mencatat itu semua di dalam buku catatannya. Hampir saja ia membuat lubang besar di buku itu kalau tidak pintar mengendalikan diri di depan Kim Seol Hyun. Benar-benar diktator!

“Baik, saya mengerti.”

Seo Ah menutup buku catatannya lalu mengambil setumpuk dokumen yang ditunjuk Seol Hyun. Membungkukkan kepalanya lagi, ia pun membalikkan tubuhnya. Baru tangannya ingin menggapai pintu ruangan Seol Hyun dengan susah payah, suara Seol Hyun kembali mengusiknya.

“Kurasa, dengan kau yang tidak memiliki pacar sekarang, kau akan lebih fokus bekerja kali ini. Selamat, sebentar lagi mungkin kau bisa naik jabatan.”

Tanpa membalik tubuhnya, Seo Ah tahu kalau Seol Hyun sedang tersenyum penuh kemenangan di belakangnya. Di kalangan teman-teman kuliahnya, perang dingin antara Seol Hyun dan Seo Ah sudah menjadi rahasia umum. Penyebabnya sudah pasti Kim Jong In. Ya, Seol Hyun sangat menyukai Jong In waktu itu, dan ketika mendengar Seo Ah-lah yang dipilih Jong In, ia tidak bisa untuk tidak membenci Seo Ah.

Seo Ah dan Seol Hyun berada dalam satu jurusan waktu kuliah. Suatu waktu seniornya pernah mengajak mereka untuk ikut kencan buta karena kekurangan orang, dan di sanalah mereka bertemu Jong In. Kim Jong In yang memiliki perawakan tinggi dan wajah menarik langsung menjadi pusat perhatian, tidak terkecuali Seo Ah dan Seol Hyun. Tapi entah apa yang spesial yang hanya bisa dilihat Jong In dari Seo Ah, Seol Hyun yang memiliki wajah cantik seperti dewi dan tubuh seksi itu diabaikan begitu saja.

Sejak saat itu, Seol Hyun sangat tidak suka melihat Seo Ah bahagia.

Ia beruntung ayahnya adalah pemilik perusahaan berkembang, dan langsung menawarinya jabatan tinggi. Dan ia juga menjadi besar kepala saat tahu Seo Ah melamar pekerjaan di sini dan mendapat posisi sebagai bawahannya. Dengan begini, Seol Hyun bisa mengingatkan kembali di mana posisi Seo Ah seharusnya.

“Benar, kebahagiaan memang tidak diciptakan untukmu, Choi Seo Ah.”

***

                Pekerjaan, Kim Seol Hyun, Kim Jong In.

Pekerjaan, Kim Seol Hyun, Kim Jong In.

Pekerjaan, Kim Seol Hyun, Kim Jong In.

Tiga hal itu terus berputar di kepala Seo Ah.

Seol Hyun benar-benar diktaktor nomor satu. Ia menahan Seo Ah sampai jam 8 malam di kantor. Tidak hanya itu, pekerjaan juga bergantian datang padanya. Aneh memang, Seo Ah sendiri yang berharap mendapat pekerjaan banyak hari ini, tapi pada akhirnya ia mengeluh juga. Sebenarnya, yang paling tidak disukainya adalah sikap Seol Hyun yang benar-benar menyebalkan.

Tidak tahan dengan beban di kepalanya, Seo Ah memilih alkohol untuk pelampiasan. Kali ini ia tidak mendatangi tempat mahal. Keuangannya yang mulai menipis (gara-gara Kim Jong In brengsek itu), ia hanya mendatangi kedai pinggir jalan yang menjual soju dengan tteokbokki. Di depannya sudah ada dua botol soju; satu kosong, sedangkan satunya sisa seperempat. Ia tidak peduli kalau Jeong Min akan menguburnya hidup-hidup karena mabuk lagi.

Seo Ah mendengus. “Kalau aku mempunyai ayah seperti Presdir Kim, kau pasti tidak bisa tertawa seperti itu Kim Seol Sialan!”

Tidak, Seo Ah lebih berharap kalau ia tahu siapa ayahnya. Hidup dengan seorang ibu tunggal, tanpa mengetahui ayahnya siapa, adalah masa-masa terberat dalam pertumbuhan Seo Ah.

Seo Ah meneguk soju-nya lagi. “Dan kalau saja bahasa Inggrisku bagus, dan punya tubuh seperti model, aku sudah menyusulmu dari dulu Kim Jong Bajingan! Kau pasti tergila-gila padaku sampai jadi gila sungguhan.” Dan Seo Ah tertawa sendiri.

Tawa yang penuh kehampaan dan penderitaan.

Seo Ah merebahkan kepalanya di meja. Matanya mengarah pada layar ponselnya yang gelap. Tidak ada satu pun yang menghubunginya, baik itu ibunya atau sahabat-sahabatnya. Terkadang Seo Ah berpikir, di saat dirinya memikirkan mereka semua… apakah mereka juga memikirkan Seo Ah? Atau hanya Seo Ah satu-satunya yang peduli? Ia ingin sekali diperhatikan walau hanya satu kali.

“Sial.”

Seo Ah meraih ponsel itu dan menyalakannya. Ia mencari sebuah kontak di memori teleponnya lalu menghubungi orang itu. Nada tunggu cukup lama terdengar di telinga Seo Ah, sampai suara berat terdengar di ujung sana.

“Halo?”

Ya! Kenapa kau tidak meneleponku?!”

Orang di seberang sana tidak menjawab.

“Perasaanku sedang buruk, harusnya kau meneleponku seperti waktu itu.” Seo Ah merancau tidak jelas karena pengaruh alkohol.

“Kau mabuk lagi?”

“Iya,” jawab Seo Ah ringan sambil terkekeh. “Bagaimana? Kau mau menemaniku?”

                “Kau dimana?”

Mendengar pertanyaan itu, Seo Ah melihat sekeliling dengan matanya yang hanya terbuka setengah. “Hm… entahlah. Ini masih di Seoul sepertinya,” ia kembali terkekeh. “Tteokbokki di sini sangaaat enak. Tubuhku sangat hangat seperti ada yang memeluk.”

Pria di seberang sana menghela nafas panjang. “Baiklah, tunggu di sana, jangan bertindak macam-macam.”

“Iya, iya, Se Hun Oppa.”

***

                Se Hun tidak percaya apa yang ia lakukan sekarang. Hanya dengan panggilan tidak jelas itu, ia mencari Choi Seo Ah di setiap kedai yang menjual soju dan tteokbokki di Seoul. Ia bahkan membuang waktu berharganya untuk seorang wanita yang jelas-jelas membencinya. Entah apa yang terjadi di otaknya. Yang penting sekarang ia berhasil menemukan Choi Seo Ah-yang-sudah-tidak-berdaya-seperti-beruang-malas di meja kedai itu dengan tiga botol soju kosong.  Wanita macam apa yang mabuk karena menghabiskan tiga botol soju sendirian?!

Ya, bangunlah. Ayo kuantar kau pulang.”

“Oh, Se Hun Oppa datang!” Seo Ah tersenyum lebar dengan wajah memerah. “Oppa, aku sangaaat merindukanmu.”

Alkohol memang terkadang mempunyai efek untuk membuat orang lebih jujur dan terbuka. Tapi untuk sekarang Se Hun tidak yakin apakah ucapan Seo Ah itu sungguhan atau sedang terjadi kesalahan proses di otak wanita itu. Sepertinya dunia tahu bagaimana Choi Seo Ah sangat membenci Se Hun.

“Iya, iya, terserahlah!” Se Hun mengibaskan tangannya tanpa minat. “Ayo pulang!”

Seo Ah mengerucutkan bibir dan menggelengkan kepalanya. “Aku tidak bisa pulang sekarang. Rasa benciku terhadap orang-orang itu masih ada, jadi aku tidak bisa pulang. Ahjumma! Aku mau soju lagi!”

Se Hun baru ingin protes tapi ahjumma penjual itu sudah menaruh dua botol soju di meja Seo Ah—lengkap dengan sebuah gelas tambahan. Sepertinya ahjumma itu salah mengira kalau Se Hun ingin menemani Seo Ah minum. Tidak mempunyai pilihan lain, Se Hun pun akhirnya duduk juga.

“Kau masih memikirkan mantan pacarmu itu?” tanya Se Hun sambil menuang soju ke gelasnya.

“Aku tidak memikirkannya, hanya saja dia tidak mau pergi dari sini!” Seo Ah menunjuk-nunjuk kepalanya sendiri. Tidak sadar kalau dirinya sudah mabuk, Seo Ah tetap meminum soju.

“Apa yang membuatnya tidak mau pergi?”

Seo Ah menopang dagunya dengan kedua tangan, di atas meja. Matanya berputar untuk mencari jawaban pertanyaan Se Hun. Wajah mabuk Seo Ah adalah wajah termanis yang pernah Se Hun lihat. Mata sayu wanita itu terlihat semakin kecil, dan pipinya yang memerah membuatnya terlihat seperti bayi. Apalagi saat Seo Ah mengerucutkan bibirnya, membuat pikiran gila Se Hun ingin mencoba untuk mengecup bibir itu.

“Mungkin… karena orang-orang di sekitarku terus menyebut namanya.”

“Kau benar, alasan kenapa seseorang tidak bisa dilupakan dengan benar karena mereka terus menyebutnya di depan kita.” Sahut Se Hun dengan pandangan mata menerawang.

“Uh… kau belum bisa melupakan Ji Eun ternyata.” Seolah mengerti apa yang Se Hun maksud, Seo Ah tersenyum menggoda dan mencolek tangan Se Hun yang ada di meja.

“Entahlah.” Se Hun merasa alkohol sudah mempengaruhinya. Ia kemudian menceritakan semuanya dengan lancar. “Dia yang membuatku merasakan hal yang tidak pernah kurasakan sebelumnya saat bersama wanita.”

Seo Ah menggebrak meja dan berkata kasar. “Lalu kenapa kau menyakitinya, Brengsek?!”

“Kau tahu, apa hal yang paling kubenci? Pengkhianatan.”

Se Hun tahu Seo Ah sudah sangat mabuk, dan dua kali melihat wanita itu mabuk, Se Hun hapal bagaimana tingkah Seo Ah. Wanita itu tidak akan mengingat apapun yang terjadi, bahkan ucapan yang didengarnya. Oleh karena itu Se Hun tenang-tenang saja menceritakan rahasia itu. Ia juga tidak masalah saat mood Seo Ah berubah secepat kilat.

“Di saat aku percaya padanya dan ingin melindunginya, dia bermain di belakangku dengan pengkhianatan.” Se Hun tersenyum pahit, di kepalanya terputar bagaimana ia menemukan sesuatu yang benar-benar menghancurkan kepercayaannya. “Tidak hanya sekali, tapi dua kali.”

“Itu cerita yang sedih… tapi tentu saja punyaku lebih sedih! Aku… bahkan tidak tahu berapa kali dikhianati.” Dengan mata setengah terbuka itu, Seo Ah menanggapi dengan nada tinggi.“Kau tahu, Kim Seol Sialan itu terus saja menertawakanku seharian tadi!”

“Kau bekerja hari ini?”

“Iya. Karena kupikir, aku bisa melepaskan Jong In dengan banyak bekerja. Tapi dia tidak mau pergi!” Seo Ah berteriak kesal sambil mengacak rambutnya.

Se Hun hanya menghela nafas, membiarkan Seo Ah melakukan apapun yang ia inginkan. Dan ketika Seo Ah sudah tidak sadarkan diri di meja, Se Hun memanggil ahjumma penjual dan membayar soju mereka. Kejadian seperti ini terulang lagi di hidup Se Hun, dengan tersangka utama yang sama; Choi-Seo-Ah. Ia pun mau tidak mau menggendong tubuh Seo Ah dan membawanya ke mobil Seo Ah. Pria itu pun menelepon Supir Han dan menyuruhnya untuk mengambil mobil Se Hun di tempat itu. Baru Se Hun ingin menyalakan mesin mobil, terdengar rintihan Seo Ah dari kursi sebelah.

“Sakit….”

Se Hun hanya meliriknya sekilas. Pasti Seo Ah sedang bermimpi mantan pacar itu lagi. Dasar wanita!

“Perutku… sakit….”

Dan ketika itu Se Hun menyadari, kalau Seo Ah terus memegangi sisi perut bagian atasnya, tempat lambung berada. Keringat dingin juga membasahi dahi dan leher wanita itu. Seo Ah tidak berhenti merintih dan bergerak gelisah di tempatnya.

“Choi Seo Ah, kau baik-baik saja?” Se Hun membalikkan badan Seo Ah agar menghadapnya. “Ya, Choi Seo Ah, bagian mana yang sakit?”

“Perutku….”

“Kau… jangan bilang… minum soju dengan perut kosong?!”

“Sakit….”

Se Hun memejamkan matanya, berusaha untuk tidak berteriak pada wanita mabuk yang tengah kesakitan ini. “Baik, kita ke rumah sakit sekarang.”

***

                “Kau dilarang minum soju sampai umurmu mencapai 30 tahun, Choi Seo Ah!”

Seo Ah hanya bisa menunduk untuk menghindari tatapan ibunya yang berapi-api. Ibunya itu baru tiba di Seoul pagi ini dan langsung mengunjungi rumah sakit tempat Seo Ah dirawat. Sebenarnya penyakit Seo Ah tidak separah itu sampai harus dirawat, tapi Lee Jeong Min—yang malam itu sedang berjaga di gawat darurat—memaksanya untuk tinggal sampai ibu mereka pulang.

“Dia bahkan minum-minum bersama seorang pria, Eomma!”

Masih tertunduk, mata Seo Ah mendelik tajam ke Jeong Min yang berdiri di samping ibunya. Pria ini sama saja! Awalnya saja pura-pura mengkhawatirkan Seo Ah, tapi tetap menusuknya dari belakang. Padahal tadi malam ia lebih cerewet dari ibunya, membelikan Seo Ah makanan kesukaannya, dan menunggui Seo Ah sampai tertidur.

“Choi Seo Ah….”

Eomma, kami tidak melakukan apa-apa.”

Seo Ah sebenarnya tidak ingat apapun kalau Jeong Min tidak membawa nama Se Hun ketika ia pertama kali sadar. Ia hanya ingat kalau dia pergi sendirian ke kedai itu, memesan makanan, lalu tiba-tiba perutnya sakit. Tentu saja! Ia tidak makan apapun selain muffin untuk makan siangnya karena manajer iblis itu.

“Kau yakin? Kebiasaan mabukmu kan sangat buruk, mana mungkin kau ingat sudah melakukan apa saja dengannya.”

Ya! Lee Jeong Min!”

“Choi Seo Ah, ingat apa yang eomma katakan tentang pria?! Kau bahkan baru mengalami hal buruk dengan Jong In.”

Ada tiga hal yang tidak disukai Seo Ah di sini. Pertama; Ibunya terus-terusan memanggilnya dengan nama lengkap, kedua; ibunya berpihak kepada Jeong Min, dan ketiga; ibunya menyebut nama Jong In. Tiba-tiba saja perut Seo Ah kembali melilit.

Eomma, sudahlah, aku tidak ingin mengingatnya.”

“Tentu saja tidak mau. Kau sudah menemukan penggantinya, kan?”

Kalau ini bukan rumah sakit, dan kalau aku lupa siapa kau, aku pasti sudah melilitkan selang infus ini ke lehermu, Lee Jeong Min. Seo Ah menggeram dalam hati.

Eomma, dia kelihatannya lebih mapan dari Jong In. Lihat! Dia juga memberiku kartu namanya.” Jeong Min menunjukkan kartu nama yang ia dapat dari Se Hun.

“Sudah kubilang dia bukan siapa-siapa!”

“Ah, baiklah. Sekarang kau siap-siap, kita akan pulang sekarang. Min-a, kau juga ikut?”

Begitulah ibu Seo Ah, berbicara tanpa basa-basi dan langsung pada intinya. Ia bahkan tidak mau repot-repot membuang nafas untuk mengucapkan semua kalimat itu.

“Iya. Aku ganti baju dulu.”

“Baiklah, eomma tunggu di lobi.” Ibu Seo Ah mengangguk. “Kau juga bersiap, Choi Seo Ah.”

Meninggalkan Seo Ah yang sedang melakukan pemeriksaan terakhir, dan Jeong Min yang pergi ke loker untuk berganti pakaian, Choi Min Soo melangkah menuju loket administrasi untuk mengurusi kepulangan Seo Ah. Sekesal apapun dia dengan putrinya, ia tetap tidak bisa meninggalkannya. Ia bahkan rela tidak berganti pakaian dan langsung menuju rumah sakit ketika urusannya dengan klien selesai.

Seo Ah memang mirip dengannya, yang sangat menyukai alkohol meski toleransinya sangat rendah. Sifatnya yang pemarah dan keras kepalanya juga sama seperti Min Soo. Hanya saja, ketika usia memakan wanita itu dan ia mempunyai Seo Ah, perlahan sifat itu memudar. Ia tahu, hanya Seo Ah yang ia miliki, dan Seo Ah hanya memiliki Min Soo. Mereka harus menjaga satu sama lain.

“Choi Min Soo.”

Tubuh Min Soo menegang ketika mendengar suara berat itu. Perlahan, ia membalikan badan sambil berharap kalau itu hanya sekadar ilusi.

Tapi Tuhan berkata lain. Ketakutannya menjadi nyata.

“Benar, kau Choi Min Soo.” Di mata pria tua itu, tersimpan perasaan lega yang bercampur rindu ketika melihat Min Soo. “Sudah lama sekali.”

“A-Anda… k-kenapa….”

Aneh memang, Min Soo yang biasanya selalu berbicara lancar di depan kliennya, atau bahkan di depan pejabat negara, kini tidak memiliki apapun untuk diucapkan. Kepalanya kosong melihat sosok pria tua dengan uban yang hampir menutupi seluruh kepalanya. Pria itu masih sama seperti yang dilihatnya terakhir kali, hanya saja umur tidak bisa berbohong. Tapi meski Min Soo kembali merasakan debaran itu, ketakutan lebih menguasai dirinya.

“Kau sama sekali tidak berubah.” Ucap pria itu dengan senyuman hangat.

Saat pria itu mendekat, Min Soo mengambil satu langkah mundur. Kakinya bergetar. Tidak! Ini tidak boleh terjadi!

“J-Jangan—“

Eomma, sudah selesai?”

Tubuh Min Soo semakin kaku. Sial! Kenapa Seo Ah harus muncul pada waktu yang tidak tepat begini?! Pria itu tidak boleh bertemu dengan Seo Ah.

“Iya, sudah. Ayo—“

“Oh! Presdir Kim! Annyeonghasimnikka?”

“Choi Seo Ah-ssi, sedang apa kau di sini?”

Min Soo tidak bisa mendengar apapun, telinganya seolah disumbat oleh batu super besar. Melihat bagaimana dua orang itu saling mengenal dan mengobrol cukup akrab, membuat sisi dirinya remuk. Suatu hari ia pernah membayangkan hal ini, tapi tidak pernah berharap itu benar-benar terjadi. Dan ketika semuanya terjadi di depan matanya, Min Soo tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Ia takut membuat kesalahan besar untuk kedua kalinya.

“Ah, iya, ini ibuku.”

“Kau… anak Min Soo?” Di mata Presdir Kim yang biasanya penuh kelembutan (berbeda sekali dengan mata Seol Hyun), kini terlihat bergetar. Detak jantungnya pun berdetak lebih cepat.

“Presdir Kim mengenal ibuku?” tanya Seo Ah. Memang tidak aneh kalau ibunya mengenal orang-orang penting di pebisnisan, tapi ia tidak menyangka dunia sesempit ini.

Belum sempat Kim Young Kwan menjawab pertanyaan Seo Ah, Min Soo sudah menarik tangan anaknya itu. “Ayo kita pergi! Jeong Min pasti sudah menunggu kita di luar.”

Seo Ah, yang bingung dengan situasi canggung ini, hanya bisa menatap ibunya dan Presdir Kim bergantian lalu mengucapkan salam kepada atasannya itu.

Eomma mengenal Presdir Kim?” tanya Seo Ah ketika mereka sudah masuk ke dalam mobil Jeong Min.

Min Soo tidak menjawab.

Eomma.”

“Bisakah kau diam?!”

Seo Ah dan Jeong Min sama-sama terkejut dengan bentakkan Min Soo. Ibu yang mereka kenal selalu berusaha untuk tidak membentak meski sudah sangat marah. Tapi kali ini Min Soo sangat berbeda. Bola matanya terus bergetar, dan air mukanya sangat gelap.

“Seo-ya, bisakah kau keluar dari kantor itu?” ucap Min Soo tiba-tiba.

“Kenapa?”

Min Soo mengalihkan pandangan ke luar jendela, tidak mau Seo Ah mengetahui kalau ia sedang ketakutan. “Kau… tidak boleh bertemu dengan pria itu.”

“Pria? Siapa?” Jeong Min melirik dari spion tengah.

“Apa maksud Eomma?” tambah Seo Ah.

Mendengar pertanyaan dari kedua anaknya, emosi Min Soo tiba-tiba memuncak. Ia kesal karena mereka tidak segera paham dan menurut. “Kenapa kau tidak mendengarkanku?! Kalau aku bilang kau harus keluar, maka kau harus keluar! Aku tidak pernah mendidikmu untuk menjadi anak pembangkang!”

Eomma, ada apa denganmu?!”

“Kau harus keluar dari kantor itu secepatnya, Seo-ya.”

Eomma, aku tidak mengerti apa yang eomma katakan, jadi bagaimanapun aku tidak bisa keluar dari sana begitu saja.” Seo Ah membalas dengan nada tinggi. Kenapa ibunya jadi seperti ini?!

“Choi Seo Ah.”

“Ini hidupku, dan aku yang menjalaninya. Eomma tidak bisa egois begitu!”

“Ini demi kebaikanmu, Seo-ya.”

“Tidak. Ini hanya untuk Eomma, kan?”

Min Soo tidak lagi membalas. Ia takut, jika terus seperti ini, Seo Ah akan mengetahui rahasianya. Rahasia besar yang sampai kapanpun tidak mau ia buka. Ia suka dengan hidupnya sekarang, bersama Seo Ah dan Jeong Min. Ia tidak mau kalau satu orang itu kembali mengusiknya dan membuat perputaran dunia Min Soo tidak berjalan sebagaimana mestinya.

“Turunkan aku di kafe Bo Mi.” Ucap Seo Ah tiba-tiba. Saat ini, ia tidak mau berbicara dengan ibunya.

“Kau harus istirahat, Seo-ya.”

“Aku tidak ingin ada di rumah sekarang.” ya, karena itu hanya akan membuatku tambah kesal. “Min-a, turunkan aku di kafe Bo Mi.”

***

                “Uh… lihat, lihat, siapa yang baru menghabiskan malam yang panas bersama kekasihnya di New York?”

Bo Mi langsung menyambut Seo Ah dengan senyuman lebar ketika wanita itu masuk ke dalam kafenya. Waktu jam buka masih setengah jam lagi, itulah kenapa Bo Mi tidak segan-segan mengucapkan kalimat  itu keras-keras.

Seo Ah hanya merespon dengan senyuman.

Rupanya, Bo Mi salah mengartikan senyuman Seo Ah itu. Ia pun mendekati Seo Ah dan menyenggol bahu sahabatnya dengan gerakkan menggoda. “Ayo ceritakan bagaimana kalian menghabiskan waktu bersama? Ah! Aku akan menelepon Ji Eun untuk datang.”

“Aku putus dengan Jong In oppa.”

Bo Mi, yang baru mengeluarkan ponsel untuk menghubungi Ji Eun, langsung memutar kepalanya dengan cepat. Seo Ah tidak menunjukkan indikasi kalau ia sedang bergurau. Namun, dua detik kemudian tawa Bo Mi-lah yang pecah.

“Kau lucu sekali, Choi Seo Ah, hahahaha… kau pikir aku akan percaya?”

Seo Ah tidak merespon, hanya tetap menunjukkan ekspresi yang sama. Saat itulah Bo Mi yakin kalau sahabatnya ini sedang tidak bercanda.

“K-Kau masuk saja dulu. Kita tunggu sampai Ji Eun datang.”

Setengah jam kemudian, Ji Eun datang dan langsung menuju ruangan Bo Mi bersama pemiliknya. Bo Mi pun mengabaikan keadaan kafe yang mulai ramai, ia menyerahkan semuanya kepada anak buahnya. Tidak ada yang bisa menghalangi mereka ketika salah satu memiliki masalah serius.

Satu jam Seo Ah habiskan untuk bercerita. Lembaran tisu penuh air mata terkumpul di atas meja. Berkali-kali Ji Eun dan Bo Mi bergantian menenangkan wanita itu, memberinya pelukan, dan kata-kata pembangkit. Dulu, kisah cinta Seo Ah adalah yang paling diidamkan di antara mereka bertiga—terlebih Bo Mi yang masih sendiri. Tapi sekarang Bo Mi tidak yakin harus memilih kisah cinta seperti Seo Ah, Ji Eun, atau tidak memiliki kisah cinta sama sekali.

“Jadi, kau dimana sebelum pulang ke rumah?”

Seo Ah hampir saja menjawab jujur pertanyaan Ji Eun itu, kalau tidak sadar itu hanya akan menambah masalah di sini. “Aku… di suatu tempat. Aku butuh waktu untuk sendiri.”

“Dasar pria bajingan!” Bo Mi memukul meja di depannya. “Harusnya aku sudah menduga, kalau cintamu itu sudah berjalan ke arah yang tidak sehat!”

“Aku pun begitu.” Jawab Seo Ah. “Tapi bagaimanapun, aku ingin sekali percaya padanya.”

“Sekarang saatnya kau melupakan Jong In oppa, dan cari penggantinya. Aku punya banyak kenalan pria tampan dan kaya, kau mau?”

Ya, Ji Eun-a, kau tidak pernah menawarkan itu padaku.” Tidak terima dengan perlakuan Ji Eun ke Seo Ah, Bo Mi mengajukan protes. Harusnya dia-lah yang lebih diperhatikan—sudah hampir enam tahun dia hidup tanpa kekasih.

“Bukankah kau sedang menunggu oppa-mu yang ada di pangkalan militer?” sahut Ji Eun.

“A-Apa?!”

“Bagaimana kalau dengan Jeong Min? Kurasa dia juga masih sendiri.”

Y-Ya! Kalian!”

Seo Ah dan Ji Eun tertawa, sedangkan Bo Mi mengerucutkan bibirnya. Tidak, ia tidak marah sungguhan, hanya sedikit jengkel karena lagi-lagi dirinya yang menjadi bahan ejekan. Tapi tidak apa, asal itu membuat mereka kembali tertawa, Bo Mi pun ikut senang.

“Kurasa tidak, Ji Eun-a,” ucap Seo Ah, ketika tawanya reda. “Aku tidak ingin berhubungan dengan pria manapun dulu. Ini semacam trauma.”

Tidak hanya pengalamannya, tapi juga pengalaman Ji Eun. Dulu, Seo Ah tidak pernah mendengar ucapan ibunya untuk hati-hati terhadap pria, dan tetap berkencan dengan Jong In. Pria seperti serigala berbulu domba, pintar menyamar, dan tidak tahu kapan memakanmu hidup-hidup. Ketika Seo Ah mendengar pengalaman Ji Eun, ia mulai memikirkan kembali ucapan ibunya. Dan ketika ia sendiri yang mengalaminya, rasanya Seo Ah memang harus mendengarkan ucapan ibunya.

“Kau tidak boleh begitu. Kau harus mencari pengganti Kim Jong In!” kata Bo Mi.

“Hm, baiklah.” Seo Ah tersenyum.

“Omong-omong, Ji Eun-a… boleh aku bertanya sesuatu?”

“Hm?” Ji Eun hanya bergumam sambil melirik Seo Ah dari mulut cangkir tehnya.

“Apa kau… pernah melakukan kesalahan kepada Oh Se Hun?”

Pertanyaan Seo Ah selanjutnya seperti petir siang hari bolong yang menyambar jantung Ji Eun. Begitu tepat sasaran. Nafasnya terhenti di tenggorokan, dan tangannya tanpa sadar menaruh cangkir teh itu dengan gemetar.

“Aku hanya kepikiran. Jong In oppa bilang kalau aku terlalu sibuk dan… wanita itu lebih baik dariku. Apakah Se Hun juga mengatakan hal semacam itu kepadamu?”

Sebenarnya lebih dari itu, Seo Ah penasaran dengan arti ‘kotor’ yang diucapkan Se Hun waktu itu. Ya, Se Hun memang pria sombong dan kurang ajar, tapi ketika mengucapkan itu, Seo Ah sama sekali tidak menemukan kebohongan dari matanya. Itu cukup mengganggu Seo Ah. Setidaknya pasti ada alasan yang sesungguhnya di balik berakhirnya pertunangan Ji Eun dan Se Hun.

Dan seolah satu jalan pikiran dengan Seo Ah, Bo Mi hanya diam, menunggu jawaban Ji Eun.

“A-Apa maksudmu? S-Sudah  pasti karena Se Hun tidak pernah menyukaiku.”

“Tapi….” Seo Ah baru ingin mengatakan kalau itu tidak benar, tapi ia tidak menemukan alasannya. Jadi Seo Ah pun kembali mengatupkan bibir.

“Bukankah kalian sudah tahu bagaimana sifat Oh Se Hun?” ucap Ji Eun. “Itu memang sifatnya. Dia tidak pernah menghargai seorang wanita.”

Ji Eun tidak menyadari kalau ada perubahan raut di wajah Seo Ah. Ucapannya sama sekali berbeda dengan waktu itu.

 

■■■

———————————

*Yang ini bagaimana??? Jangan minta dipanjangin yoooww! Dan…. ada misteri lagi di chapter ini HAHAHAHAHA *ketawa jahat*

Oh, iya main main ke wattpad aku yaaa ‘ziajung’, ada Honey Cacti dan 10 Steps Closer versi non-ff (Cuma diganti sana sini). Dan yang mau beli novel pre-loved punyaqu (hehe) bisa ke bukalapak.com dan cari ‘bzias_store’ *promosi tiada henti*

See yaaa

Regards: Ziajung (vanillajune.wordpress.com)

Advertisements

22 responses to “Honey Cacti [Chapter 4]

  1. Wah nnti klo’ seo ah mulai suka sama sehun, truz gmna jdinx pertemannx seo ah dan jieun. Apa jieun bza terima? Makin jadi penasaran apa yg di lakukan jieun sma sehun dulu. Tetap semangat ya bwat lnjutan ceritanya…

  2. Wohh, jadi gitu yaa. Ihh makin penasaran sama ji eun, dia udah ngapain sehun sii? Serasa sehun cinta banget sama ji eun. Jangan jangan ji eun yg ngeboong yak? Duhh si seo ah, lucu banget dia pas mabok 😅 gimana sehun ga gemes coba 😆😆 wkwk semoga aja sehun bisa ngelupain ji eun yak, abis itu move on ke seo ahh. Jangan jangan itu bapanya seo ah dan bapanya solhyun juga?
    Konfliknya Menyenangkan 😁 bikin penasaran, chapt nya panjang lagi 😅😅 suka dehh. Next yaa kaa, ditunggu 😊

  3. Sebenarnya apa sih kesalahan jieun sama sehun ??terus kenapa ibu y seo ah takut ama ayah y seol hyun ??? Jadi penasaran ni lanjut terus thor

  4. hm hm… iya sih..seo ah manghil bang sehun oppa aja dah.. wkwk
    btw hubungan seo ah ama sehun makin ada kemajuan nih, duh senengnya hoho
    eh ya minsoo bapaknya seo ah lha.. ibunya gamau ketahuan lha gmn tho..makin pusing dg konfiknya huhu tapi makin seru

  5. ya ampunnn sebenernya apa sih yang disembunyiin sehun. kenapa dia ga cerita ke siapa siapa. oiyaa gimana reaksi ji eun ya kalau tau sehun deket sama seo ah. jadi penasaran.
    btw ternyata kim seolhyun satu ayah sama seo ah omg, next kak

  6. huaaaa jgn bilang klo seo ah itu anak dari tuan kim..?? kok aku nyimpulkannya bgtu yaa kk..?? klo iyaa berarti dia sodaraan sm seolhyun..?? tp beda ibukah..??
    .kk kapan sih dijelasin sejelas jelasnya masalah sehun ji eun..?? ga sabarr.. masalh mereka penuh tekateki, apa ji eun berselingkuh..?? sampai 2x dan sehun melihatnya sndiri..?? knpa sehun sampai sebenci itu sm ji eun klo ji eun ga nglakuin kesalahan besar..?? pasti yg ga beres tu ji eun.. iyakan kk..?? iyain aja ya kk yaa..

  7. Apa seo ah anak tuan kim pangesan jeongmin marganya kim ahhh dunia sempit sekali hihihi
    Jieun ngaku aja lah jan jd srigala berbulu domba
    Kalo seoah anak tuan kim dia saudara seolhyun dong
    Aku suka bangetttt greget jadinya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s