The Marriage Life of Byun Baekhyun- Part 1 Baba Lee

PART 1

img-20161206-wa0016

 

THE MARRIAGE LIFE OF BYUN BAEKHYUN

Byun Baekhyun | Shim Chaesa

Romance | Hurt | Marriage Life

PG-17

H-7 Menuju Hari Pernikahan

 

Aku membuang sepasang sarung tangan yang baru saja dipakai. Operasi angkat tumor payudara yang baru saja dilakukan berjalan lancar. Pihak keluarga bahkan sampai memelukku ketika aku keluar dari dari ruang operasi. Yah, memang ini tugas seorang dokter, kan?

Kibum berjalan mendekatiku dengan kedua tangan membawa minuman soda dingin. Senyumnya merekah lebar sekali. Satu kaleng minuman soda dia tempelkan pada pipiku. Aku mendelik.

“Kenapa sebal sekali? Sebentar lagi kau akan menikah.” Katanya, dia memegang wajahku, menarik kedua pipi, lalu menggoyang-goyangkan seenaknya. “Mana ada calon pengantin yang muram begini.”

Aku melepaskan kedua tangannya dari wajahku secara paksa. Calon pengantin mana? Calon pengantin semacam Shim Chaesa yang begitu tertekan yang akan segera menikah dengan artis papan atas di Korea Selatan. Gila, orang itut sudah tidak waras sepertinya.

“Bagaimana dengan gaun pengantinmu?” tanya Kibum sambil membuka kaleng minuman sodanya.

“Belum ada.” Kataku seadanya. Karena memang, well aku sibuk sekali bahkan tidak sempat untuk mengurusi hal-hal sepele itu. Saat kumpul keluarga waktu itu, masing-masing dari keluarga kami mengutus seorang kepala sekertaris keluarga untuk mengurus mengenai pernikahan. Bahkan jujur, sampai saat ini aku belum tahu konsep pernikahan seperti apa yang tengah di siapkan.

“Gila! Tempat pernikahan?”

“Aku belum tahu.”

“Undangan?”

“Kalau tidak salah lusa akan disebarkan.”

“Kalau tidak salah?”

Aku menatap Kibum. Wajahnya benar-benar membelalak tidak percaya. Seperti aku sedang berbohong saja dengannya. Tapi aku bersungguh. Gaun pengantin macam apa, kue pengantin yang bagaimana, konsep seperti apa yang akan dilaksanakan nanti. Aku tidak tahu. Tapi kalau tidak salah, malam ini, aku dan Baekhyun akan pergi mencari gaun pengantin. Kalau jadi.

“Kalau tidak niat menikah batalkan saja. Aku siap menampungmu.” Kata Kibum sambil memainkan alisnya, menaik turunkan sambil tersenyum menggoda.

“Lalu kau juga siap menampung fansnya yang berjuta-juta itu?” tanyaku sarkatis. Dia menatap langit-langit terlihat seperti manusia yang sedang berfikir. Sedetik kemudian dia menjentikkan jari sambil tersenyum sangat lebar di depan wajahku.

“Memangnya ketika kau menikah dengannya, kau menampung fansnya yang berjuta-juta itu?” katanya. Aku tidak tahu bagian mana yang lucu tapi tawanya sangat keras. Dia bahkan sampai mengusap air mata yang keluar di sudut bibirnya.

Tapi sumpah, dia benar-benar sukses membuat moodku hancur seketika. Aku memukul kepalanya menggunakan tangan kiri, setelah itu langsung lari pergi sebelum dia menangkapku dan mencoba balas dendam. Sial, kenapa ada orang seperti Kim Kibum di dunia ini. Dan pertanyaan terbesar adalah, kenapa aku mau berteman dengannya?

Ponsel bergetar ketika aku telah memasuki lift. Baekhyun menelfon. Tidak tahu kenapa, aku sama sekali tidak ingin menjawabnya, tidak ingin mendengar suaranya, bahkan tidak ingin dia berada dalam pikiranku.

-Nomor Tak di Kenal-

Aku menunggumu diparkiran. Cepat.

Pintu lift terbuka. Lantai paling dasar. Aku melangkah melewati lobi dan seketika teringat saat dua bulan lalu. Ketika seorang pria dengan otak sangat tidak waras berdiri di tengah lobi dengan gitar yang menggantung di lehernya. Di hadapannya ada mic yang berdiri tegap. Mungkin dia merasa seperti artis solo yang melakukan konsel tunggal.

Semua orang seperti terhipnotis. Mereka membuat lingkaran besar dengan Baekhyun berdiri di tengah-tengah. Tersenyum seperti orang bodoh. Aku tidak tahu sejak kapan tatapan kami bertemu, tapi saat aku sadar, dia mengangkat satu tangannya lalu melambai padaku. Seketika semua orang menyikuti arah pandang Baekhyun. Jujur, aku benci jadi pusat perhatian.

“Ku pikir, aku kalah sebelum beperang. Tapi saat aku tahu kau masih menungguku datang, saat itulah aku tahu bahwa aku masih memiliki kesempatan.”

Seketika semua orang jadi riuh. Beberapa ada yang mengangkat ponselnya dan mulai mengambil fotoku. Jujur, saat itu aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Beberapa orang mulai berbisik, bahkan beberapa ada yang berteriak histeris. Curiga sepertinya dia sudah bisa membaca situasi.

Baekhyun kembali membuat suara, kali ini dia memetik gitarnya dan mulai menyenandungkan sebuah lagu. Tuhan, lagu berapa tahun yang lalu itu?

“I will love you and love you and love you, gonna hold you and hold you and squeeze you, I will please you for all times, I don’t wanna lose you and lose you and lose you cause I need you I need you I need you, so I want you to be my lady you’ve got to understand my love…”

“You’re beautiful beautiful beautiful beautiful beautiful beautiful girl, you’re beautiful beautiful beautiful beautiful beautiful beautiful girl”

Saat itu, aku tidak ingin terpesona. Tapi lagu yang dibawakannya membuatku mau tidak mau seketika terlempar jauh ke masa lalu. Entah kenapa, tapi rasanya sakit sekali. Seperti dia baru saja merobek paksa luka lama yang telah kuobati baik-baik.

Aku ingin pergi saja, tapi Kibum terus menahan lenganku. Brengsek, jelas-jelas dia tahu benar bagaimana kehidupanku di masa lalu, tapi kenapa dia tetap memaksaku untuk kembali.

Lagu selesai diputar, keringat dingin mulai bercucuran, kaki terasa gemetar tidak bisa bergerak. Aku benci hal seperti ini, terlebih benci ketika Baekhyun yang membuatku seperti ini. Semua bertepuk tangan riuh. Bahkan Kibum berkhianat. Dia begitu bersemangat sampai berteriak tidak jelas.

Baekhyun kembali mendekatkan bibirnya pada microfon. Matanya menatapku begitu dalam. Beberapa kali aku coba bergerak untuk menghilangkan tautan yang coba dia buat.

“Ah bagaimana ini, aku tidak pandai merangkai kata-kata. Aku pikir akan cukup dengan menyanyikanmu sebuah lagu, tapi sepertinya kau tidak mengerti. Aku bisa menyanyikanmu puluhan lagu yang ingin kau dengar, aku bisa memainkan musik yang kau suka, tapi apa yang harus aku katakan mengenai pukulan yang begitu keras, tidak ada kata yang dapat aku ungkapkan untuk menggambarkanmu. Aku bersumpah tidak berbohong. Tidak ada kata di dunia ini yang dapat mendeskripsikanmu.”

                Semua orang kembali menatapku. Tapi tatapan kali ini lebih menyeramkan dari sebelumnya. Beberapa bahkan mulai melotot dan mengucapkan sumpah serapah yang sialnya sampai ke telingaku. Byun Baekhyun sialan.

Tidak tahu setan apa yang merasuki dia hari ini, tapi setelah itu tidak lama dia melepaskan gitarnya. Kakinya mulai melangkah membelah ratusan manusia. Matanya tetap tertuju padaku, dan sialnya langkahnya pun begitu.

“Mari memulai hidup baru bersama. Kau dan aku.” Katanya sambil menyodorkan kotak cincin yang terbuka.

“LAMA SEKALI!”

Kalimat itu seketika membuyarkan lamunanku. Sial, kenapa aku cepat sekali sudah sampai di parkiran.

Tidak ada kata-kata manis, atau perlakuannya yang dapat membuatku berdebar. Pria itu hanya duduk di kemudi dengan kaca mata hitam besar. Suaranya galak sekali seperti ibu-ibu pms.

“Aku tidak bisa tiba-tiba ada di sana lalu di sini.” kataku sambil memakai sabuk pengaman. Sama sekali tidak melihat wajahnya. Dia benar-benar-sangat-sok-ganteng. Muka sekali. Apalagi melihat tampilannya. Kaos hitam polos kebesaran dan celana lepis warna kusam dengan tiga sobekan pada paha, lutut dan betis. Suatu hari nanti jika aku benar-benar menjadi istirnya, akan ku jadikan lap lantai saja celana itu.

Baekhyun mengendarai mobil santai sambil sesekali menggumamkan lagu yang sama dengan musik yang memenuhi mobil. Kebanyakan lagu EXO, lagunya atau kalau tidak SNSD. Yah sampai kapanpun ternyata dia tetap jadi SONE.

“Tadi pagi sekertaris Kim sudah mengirimkan gaun pengantin padaku. Tapi aku tidak suka, itu terlalu mengumbar dada.” Kataku sekenanya. Aku membuka pembicaraan bukan karena ingin menghangatkan suasana, tapi hal-hal seperti ini bisa jadi bahan untuk saling memaki antara aku dan Baekhyun tidak peduli dimana kami berada. “Rok juga terlalu pendek, kenapa sekertarismu tertarik sekali untuk melihat tubuhku”

“Aku sudah lihat itu bagus.”

Aku mendelik, “Ya memang bagus untuk orang-orang berotak mesuk seperti kalian. Memangnya tidak ada lagi gaun pengantin yang lebih pantas? Dia cari kemana sih.”

“Bertahun-tahu berlalu, sekarang kau jadi lebih cerewet yaaa.”

Aku terdiam seketika. Tidak ada yang bisa mengerti jalan pikiran Baekhyun. Tiba-tiba dia kasar dan galak, lalu tiba-tiba dia begitu lembut dan perhatian. Tapi tidak lagi. Aku tidak akan jatuh pada lubang yang sama untuk ke dua kalinya.

“Memangnya gambar lain yang dikirim Sekertaris Kim tidak sampai padamu ya? Ada beberapa gaun pengantin yang lebih sopan tapi tetap bisa mengeluarkan aura seksimu. Ada banyak, kita bisa lihat nanti di sana.” Jelasnya, aku hanya mengangguk kecil. Menyandarkan kepalaku pada jendela mobil. Seoul sore hari ramai sekali.

 

2

Flashback

 

“Baekhyun, kau yakin ingin menjadi penyanyi?”

“Ya, kenapa memang?”

“Aku takut kau akan melupakanku nantinya.”

“Kau bercanda? Tentu saja tidak. Aku tidak akan pernah melupakan wanita yang paling galak yang pernah ada di hidupku.”

“Ish! Memangnya ibumu tidak galak?”

“Ibuku baik sekali, penyabar pula, ah aku ingin punya istri seperti itu.”

“Pikiranmu jauh sekali.”

“Hey Chaesa, aku penasaran kenapa kau pendiam sekali?”

“Aku tidak pendiam sekali, aku masih bisa melakukan obrolan dengan orang-orang asing.”

“Tapi kau pendiam seperti tidak punya semangat hidup! Kau harus banyak bergerak dan berbicara agak semua orang dapat melihatmu!!”

“Sepertimu?”

“Apa aku seperti itu?”

“Pikirkan saja sendiri.”

“Hey Chaesa!!! Chaesaaaa!!”

 

3

 

Saat pintu terbuka yang pertama kali kulihat adalah Nyonya Byun yang sudah lama sekali tidak aku temui.  Tubuhnya masih tegap meskipun keriput sudah sangat terlihat jelas di wajahnya. Senyumnya masih semanis dulu. Kakiku bergetar, rasanya sesak sekali. Kenapa semua orang jahat sekali?

“Oh kalian sudah datang?” Bibi Byun menyambut kami. Beliau mengusap lembut rambut dan pipi Baekhyun, setelah itu tersenyum lalu memelukku erat.

“Ya Tuhan sulit sekali bertemu denganmu. Bagaimana kabarmu, Cobi-Cobiku?” aku tersenyuh. Sial, hampir saja menangis. Buru-buru aku membalas pelukannya sambil menganguk.

“Maaf bibi, aku sangat sibuk kemarin-kemarin. Lain waktu aku akan lebih sering untuk menemuimu.”

Bibi Byun melepaskan pelukannya, keningnya mengkerut, bibirnya mencebik, “Panggil mama, aku akan jadi mama mertuamukan, ayolah jangan canggung seperti ini.” beliau tersenyum dan benar-benar melepaskan pelukannya, berjalan mendekati seorang pegawai yang terlihat kelimpuhan membawa berbagai gaun pengantin.

“Aku sudah memilih beberapa gaun untukmu, katanya ibumu sibuk sekali untuk membantu ayahmu dalam pemilihan presiden nanti, jadi aku sendiri yang ke sini. Dia bilang, dia akan mengikuti kemauanmu, inikan pernikahanmu. Tapi aku tidak setuju, maksudku, ini pernikahan pertama dan aku harap terakhirmu, aku yang sudah berpengalaman akan membantumu.” Katanya sambil sibuk melihat
gaun pengantin.

 

Jika ada yang bertanya apa persamaan Baekhyun dan mama nya selain dari pada fisik? Yah, mereka berdua sama-sama banyak bicara.

“Aku tahu model-model anak muda sekarang gaun pengantin dengan konsep seksi, tapi kau harus ingat kalau ayahmu adalah seorang calon presiden, setidaknya buat semua orang terpukau bahwa anaknya benar-benar mengagumkan. Aku yakin ayahmu juga pasti akan bangga, iyakan?”

Aku mengangguk kecil, ikut melihat beberapa gaun pengantin. Semuanya putih, berekor panjang, meskipun kebanyakan mengumbar dada, tapi aku pikir ini masih di batas normal. Kulirik Baekhyun sekilas. Sial, dia malah tertidur di sofa dengan mulut terbuka. Kelihata sekali tidak niat menikah denganku.

“Kenapa kau tidak datang saat pernikahan Baekboom dulu? Aku benar-benar mengahapkan kau hadir di sana.” Lanjut mama dengan nada suara lebih rendah. Aku menundukkan kepala penuh rasa bersalah.

Berapa tahun yang lalu itu? Aku inget jelas saat menerima undangan dulu. Saat itu setelah makan siang dan buru-buru kembali ke kampus untuk melakukan bimbingan pada mahasiswa semester tujuh. Tiba-tiba pihak rumah menelfon, katanya ada undangan pernikahan untukku, dari keluarga Byun.

Aku ingin datang, mengucapkan selamat dan ikut berbahagia. Tapi di sana pasti ada Baekhyun, dan aku sama sekali tidak ingin berbasa-basi dengannya atau bahkan melihat wajahnya. Aku sudah berusaha sejauh ini dan tidak mungkin akan meruntuhkan segala tekad yang telah dibuat hanya untuk seperkian menit.

“Baekboom mencarimu, Baekhyun juga, tapi kau sama sekali tidak ada kabar.” Kata mama, nada suaranya semakin terdengar kecewa. “Tapi aku mengerti kau pasti sibuk mempersiapkan diri untuk sesukses sekarang ini. Aku mengerti, tidak apa-apa. Aku senang kau bisa hidup sehat seperti sekarang ini.”

Rasanya tidak terlalu bodoh untuk mengerti maksud dari ucapannya, aku-bisa-hidup-sehat. Yah, setelah semua yang terlah terjadi padaku, beliau tentu jelas tahu. Pertama karena memang aku selalu menceritakan apapun yang terjadi padanya, ke dua pasti karena Baekhyun. Aku rindu ibu jika sudah begini.

“Aku rasa yang ini lebih baik, Chaesa. Lihat cocok sekali untukmu. Bagaimana kau suka? Aku suka sekali. Aku yakin ibumu juga pasti akan setuju jika kau mengenakan ini saat pernikahan nanti.”

Aku melirik ke arah Baekhyun yang masih terlelap tidur. Mama ikut melihat sambil menggeleng-gelengkan kepala. “Tadi dia mengeluh belum istirahat dari tadi malam. Menjadi idol benar-benar begitu melelahkan yaa. Kadang ibu merasa kasihan dan ingin dia berhenti saja. Tapi bagaimana mana, mama tidak bisa memaksa. Dia senang berada di dunia hiburan.”

“Aku senang ketika semua orang meneriaki namaku.”

Jelas masih ingat dalam benakku setiap kalimat yang terucap dari mulut Baekhyun. Aku tidak tidak mengerti seberapa pentingkah dia untuk hidupku, atau dia sama sekali bukan hal istimewa untuk diingat selalu.

“Kau mau mencobanya” tanya mama sambil menempelkan gaun pengantin pada tubuhku. Beliau menilik begitu baik mulai dari atas sampai bawah. Matanya benar-benar jeli sampai-sampai aku merasa kikuk sendiri.

“Tidak ma,”

“Ya, kau harus, coba pakai, aku ingin lihat apa ini benar-benar bagus, tapi ini bagus, tapi aku ingin lihat kau memakainya.”

“Tapi ma.”

Seketika tatapan beliau berubah jadi benar-benar tegas. Kedua matanya membulat seperti akan menerkamku saat ini juga. “Baiklah.”

 

4

 

Waktu semakin malam. Setelah dua jam penuh mencari gaun pengantin mana yang lebih baik, berdebat dengan pemilik toko, juga Baekhyun. Entah kenapa rasanya lebih melelahkan dari pada melakukan operasi lima jam penuh. Belum lagi mendengar Mama dan anak yang sama-sama cerewet. Telingaku rasanya panas seperti akan terbakar saja.

“Ibu demi Tuhan ini sudah malam, aku bahkan belum mandi. Malam malam seperti apa sih? kenapa harus ke tempat itu pula? Ah benar-benar memalukan.” Baekhyun terus saja berbicara dalam mobil. Rasanya kebisingan di dalam sini lebih di dominasi oleh keluhan Byun Baek yang tidak ada hentinya sejak lima belas menit yang lalu. Aku benar-benar tidak percaya, dia bahkan kuat tidak minum sedikitpun.

Nafas pria itu memburu. Jalanan macet di hadapannya dijadikan pelampiasan. Entah sudah berapa pengendara yang melot tajam ke arah mobil kami karena klakson beruntun yang dibuat Baekhyun.

“Sudah bicaranya?” tanya Mama yang masih tersenyum. Aku melihat beliau dari kaca, dia ikut melirikku lalu tersenyum jahil.

“Ibu sudah bawakan kau kemeja, kau juga sudah istirahatkan tadi? Dan ibu juga tahu besok tidak ada jadwal jadi berhenti berbohong pada ibumu di depan calon istrimu.”

Terlihat jelas raut wajah Baekhyun tiba-tiba berubah jadi begitu terkejut, seperti mulutnya akan mengeluarkan kata ‘Shit! You loser!’ pada dirinya sendiri. Aku tertawa kecil, sebenarnya ingin ikut mengatainya, dulu kami biasa begitu, tapi kebiasaan lama sudah tidak berlaku lagi sekarang.

“Ayahmu, kakakmu, kakak iparmu dan keluarga Chaesa sudah menunggu di sana. Kau ganti saja nanti di mobil tapi tidak aku ijinkan kabur, mengerti?”

Aku memalingkan wajah mencoba menatap mama Byun, awalnya beliau hanya menunduk sampai akhirnya merasa tatapan janggal dariku. “Keluargaku?” tanyaku lirih. Karena sungguh, keluargaku? Lucu sekali, bagaimana bisa mama Byun menggiring ke empat orang itu untuk acara sepele seperti ini?

“Ya, ayahmu, ibumu, dan dua adikmu, ayah Baekhyun tadi bilang mereka sudah berkumpul.” Jelas beliau lalu kembali berkutat dengan ponselnya.

Semua orang tahu jika ayah akan menjadi seorang calon presiden korea pada periode selanjutnya, ibu jelas sibuk mencari simpati seluruh masyarakat Korea Selatan, Chaesa mengambil alih perusahaan yang di dirikan ayah sekarang, sedang Changmin kuliah di Jepan jurusan Ekonomi Bisnis. Dan sejak kapan pria itu sudah berada di Korea? Aku mendengus kecil, jadi sebenarnya aku sendiri yang tidak mengenal keluargaku?

Aku berjalan masuk bersama dengan mama Byun. Ku genggam lengannya untuk menutupi rasa gugup. Sebenarnya sebelumnya kami sempat pergi ke kamar mandi untuk mengganti baju. Mama sempat membelikan baju baru untuk aku kenakan saat ini, katanya aku harus terlihat memukau walau hanya di hadapan keluargaku sendiri.

Sebenarnya lucu sih, biasanya aku hanya memakai kaos kebesaran dan celana pendek sepahan. Rambut acak-acakan diikat asal. Lagi pula tidak akan ada yang berkomentar. Semua orang sudah hidup pada dunianya masing-masing.

Tubuhku seketika menegang. Mereka semua duduk tegap di kursi masing-masing. Kapan terakhir aku melihat keluarga Shim berkumpul? Kenapa mereka terasa asing bagiku. Tidak lama, semua mata tertuju padaku.

“Chaesa anakku! Kemari, cantik sekali!” seru Ayah girang sekali. Sekita netra setiap orang tertuju pada kami, Mama Byun tersenyum lalu menarik kursi terlebih dahulu duduk di samping ayah Byun. Aku masih berdiri, tiba-tiba tidak tahu apa yang harus ku lakukan.

“Kemana Baekhyun?” tanya seorang wanita padaku, bibir dan matanya tersenyum. Tapi mata itu, tatapan itu, tatapan pembunuh.

“Ada barangku yang tertinggal di kamar mandi. Tunggu sebentar.”

 

5

 

Mereka adalah salah satu alasan bagiku untuk pergi menjauh, dari rumah, dari Seoul, bahkan dari Korea Selatan. London sudah jadi rumah yang nyaman bagiku. Tapi sial, Kim Kibum benar-benar seperti tukang hipnotis yang begitu saja bisa membuatku luluh dan kembali ke Korea.

Sejujurnya tidak ada alasan bagiku untuk tetap bertahan di negara ini. keluarga? Lucu sekali, aku bahkan sudah tidak membutuhkan mereka sejak duduk di bangku SMA. Teman? Coba aku ingat, satu-satunya teman terdekatku pergi tanpa kabar. Orang yang ku cinta? Tidak ada. Cinta itu menyakitkan, hanya indah pada awalnya. Orang bodoh seperti apa yang percaya cinta.

Punggung itu masih sama. Dari berjuta punggung yang pernah aku lihat, dia yang paling ku hafal. Perlahan langkahku mendekat. Satu tangannya di simpan di pinggang sedang lainnya menyimpan ponsel pada telinganya.

Itu Baekhyun.

Maaf, aku benar-benar tidak menduga jika ibu merencanakan ini. lain kali kita akan makan malam oke, maafkan aku….”

Dia sudah punya janji ternyata. Pantas dari tadi mulutnya tidak bisa berhenti.

“Aku bersumpah, aku tidak tahu sama sekali soal ini.”

Pacarnya? Dia marah karena Baekhyun membatalkan janji? Ah merepotkan sekali.

“Hey sayang, dengar hey, sayang? Hey, Kim Taeyeon, hey…”

Taeyeon? Kim Taeyeon?

Sial, sudah berapa kali tubuhku membeku kali ini.

 

TBC

Haaaiiii ya ampun apa kabar? LONG TIME NO SEEE!!!! Aku sehat wkwkwkwkwk, alhamdulillah sekarang sudah masa libur. semoga di waktu libur yang singkat ini aku bisa makin produktif, semoga di tahun 2017 ini aku bisa ngeberesin seenggaknya satu ff ini hehehehehe.

BTW gimana? Adakah perbiakan buat tulisan aku ini???? Jangan lupa rclnya yaaaaa, dan doakan aku semoga cepat apdet lagi.

Makasih buat Zhafiii, hahahaha ngiler lah liat foto Baekhyunya sexy abissssssssssssss.

Advertisements

100 responses to “The Marriage Life of Byun Baekhyun- Part 1 Baba Lee

  1. ijin baca ya……
    apa sih sebenernya mau si baek
    pusing ah akumah pusing hahahhaha gak ding boong
    aku suka ceritanya juga penulisannya soalnya aku (sok)selektif banget nyari bacaan (padahalsendirinyagakjagonulis) ini panjang awalnya tapi gk bikin aku ngantuk dan juga kenapa sih si baek!!!!!!!!!!!!!!!???

  2. Sukaa
    Suka sama plotnya, jadi kek yg real bgt ada momen dimana baekyeon di rl dulu yg sempet panas-panasnya
    Cuma ini di part 1 udah diterangin aja si baek tbtb mau nikah sama chaesa tanpa tau alesannya *surprise kali ya

  3. Bagus ff nya udh lama bgt hiatus sama dunia perfanfic an eh sekalinya baca castnya bekyun kkk~engga biasanya bgt,tertarik bgt ceritanya uuu next yaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s