If We Love Again: That Was Love – Twelveblossom

if-we-love-again-req-1

Poster By: Kyoung @ Poster Channel

Previous:

Desire of Heart  – Still Remember You

Twelveblossom (twelveblossom.wordpress.com) | Sehun, Jung Nara, Park Chanyeol, and Olivia Kim │ PG 15 │Hurt/Comfort & Romance │ Series │Track List Project | Line@: @NYC8880L

“I believe that was love.” ―Artificial Love

-oOo-

Nara percaya cinta adalah konsep yang abstrak. Tidak ada ukuran ataupun definisi universal atas hal tersebut. Setiap orang mengartikan cinta mereka secara berbeda-beda. Nara sendiri meyakini bahwa cinta ialah dorongan yang membuatnya rela melepaskan sesuatu paling berharga. Sama ketika yang dilakukannya empat tahun lalu. Gadis itu pernah jatuh cinta satu kali dan cinta itu pula yang membuat perasaannya terluka. Sehingga, Nara berbesar hati untuk melupakan.

“Cinta memang tidak bisa diukur atau diartikan menjadi sebuah teori yang paten. Tapi, aku percaya jika kita dulu memang saling jatuh cinta,” ujar Nara mengisi keheningan ruangan itu, sementara dokter pribadi Sehun mengobati lukanya.

Sehun cuek. Ia tetap menekuni kertas-kertas yang berada di meja kerjanya. Pemuda itu diam-diam menyesali keputusannya karena membawa Nara ke ruang kerjanya di Oh Corporation. Tadi mereka dikejar-kejar wartawan dan Sehun yang memang tidak tahan melihat memar di wajah wanita, refleks menarik Nara memasuki ruangannya.

Liv mengangguk mendengar ucapan pewaris Jung Corporation. “Dan cinta bisa membuat seseorang melakukan sesuatu yang tidak dia inginkan,” timpal Olivia Park yang lantas mendapatkan tatapan tajam dari Sehun.

Setelahnya, ada jeda yang panjang, hingga dokter yang mengobati Nara telah menyelesaikan tugasnya, ia mohon diri disusul oleh Liv. Pada akhirnya ruangan luas itu hanya berisi Sehun dan Nara.

Nara tentu memanfaatkan kesempatan agar dia dapat menjalin sebuah kesepakatan. “Aku berutang padamu, Oh Sehun,” kata Nara sembari beranjak untuk memperpendek jaraknya dengan Sehun.

Pemuda itu mengerutkan alis. Dia melepas kacamatanya, lalu menantap Nara.

Nara melipat tangan di depan dada. “Tapi, sudah lunas karena dulu kau juga berutang padaku. Kau pernah memanfaatkanku, bukan? Kau juga menipuku dengan bertingkah seolah benar-benar menyukaiku. Kita seharunya impas, tetapi kenapa kau berniat menghancurkan aku? Padahal cinta itu tidak pernah ada. Apabila perasaan itu tak tercipta, seharusnya penolakanku bukan hal yang berarti bagimu,” ungkap Nara, ia berusaha mengatur nada suaranya agar terkesan santai.

Sehun tersenyum simpul. “Karena aku ingin begitu. Kau dulu berkata kepadaku jika seseorang yang memiliki uang, bisa melakukan sesuatu tanpa menjelaskan alasannya.” Ia melejitkan bahu sebelum berucap, “Saat seseorang tertipu. Itu bukan salah orang yang menipu, tapi dia saja yang terlalu bodoh. Semua yang aku lakukan hari ini, tidak ada sangkut pautnya dengan Jung Nara―mengucapkan namamu sudah membuatku muak. Aku memang telah merencanakan sejak lama untuk menyingkirkan Kang Jungsoo,” lanjutnya mengejek.

Nara mengangguk. “Aku tahu, baiklah.” Ia melangkah mundur. “Terima kasih sudah mengobati lukaku. Aku tidak akan menemuimu lagi untuk minta dinikahi atau semacamnya karena Jung Nara sangat menjijikkan di mata Oh Sehun.” Nara menyelesaikan perkataanya sembari meraih tas tangannya, kemudian berbalik pergi.

“Kalau begitu ucapkan selamat tinggal pada Jung Corporation,” tandas Sehun.

Nara sontak menghentikan aksi marahnya yang penuh harga diri. Dia lupa jika Sehun memegang kunci kelemahannya. Nara menghela napas keras-keras, Ia menghadap Sehun lagi. “Lalu, apa yang kau inginkan Oh Sehun? Kau toh tidak ingin menjadi investor di perusahaanku atau menikahi diriku sehingga aku bisa meminjam namamu untuk meraih kepercayaan investor.” Nara berkacak pinggang. “Apa yang harus kulakukan?” tanyanya putus asa.

“Kau bisa menjadi salah satu mainanku,” jawab Sehun enteng.

“Kau menampar Oh Sehun?” vokal Chanyeol untuk yang kesekian kalinya. Pemuda berusia dua puluh empat tahun itu berdecak, enggan percaya. “Bagaimana tanggapan Sehun? Apa dia langsung mengusirmu?” tanyanya.

Nara merebahkan kepala di atas meja gerai kopi Chanyeol. “Dia malah menyeringai. Aku langsung kabur. Bagaimana ini? Aku seharusnya merayunya agar dia menikahiku. Aku tidak dapat mengendalikan emosi sewaktu dia bilang akan menjadikan diriku mainannya. Dia menyakiti harga diriku.” Nara menjelaskan. Kaki Nara menghentak-hentak lantai, ia kesal pada dirinya sendiri.

“Katamu, kau akan melakukan apa pun untuk Sehun selama dia bersedia membantumu. Tapi, kau malah menolak sewaktu Sehun mulai memberi tanggapan. Dasar tidak konsisten,” celetuk Chanyeol sembari menuangkan kopi lagi ke gelas Nara.

Nara mengerang, dia mengacak-acak surai. “Aku bilang begitu soalnya dulu kukira dia belum menjalin hubungan apa pun dengan sekretaris sialannya itu.” Nara menghembuskan napas kesal. “Bayangkan saja, dia sudah punya kekasih tapi malah memintaku jadi, ah mengerikan sekali!” seru Nara frustasi.

Chanyeol awalnya menepuk punggun Nara kasihan, tapi enggan berselang lama pemuda itu malah tertawa kecil. “Sudahlah Nara, tidak apa-apa. Dengar, karena kasus Kang Jungsoo diperkarakan ke pengadilan, maka rapat direksi diundur. kau masih punya waktu satu bulan sebelum pemutusan perusahaan. Kau dapat memanfaatkannya.” Pemuda itu meremas lembut tangan Nara yang sedari mengepal. “Jika, dirimu tidak juga berhasil. Aku akan ikut campur―“

“―Tidak, kau harus kembali ke keluargamu apabila membantuku. Kau akan terkurung di balik meja dan berhenti menjadi barista jika hal itu terjadi.”

“Ya sudah, kalau kau menolak,” timpal Chanyeol. Ia mengangkat sepasang bahunya. “Sehun tidak berkencan dengan Liv, asal kau tahu,” lanjut Chanyeol.

Nara lantas membolakan mata. Dia menatap Chanyeol, menunggu kelanjutan dari ungkapan si sahabat. “Aku melihat mereka berpelukan sewaktu pesta. Kemarin saat aku bersama mereka, Sehun tidak ingin jauh-jauh dengan Liv,” lontar Nara.

Chanyeol memberengut. Dia menggerakkan jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri di depan Nara. “Dia putri dari Keluarga Kim yang memiliki Cloud Three Group. Olivia Kim sudah mempunyai pasangan sendiri secara bisnis. Perusahaan mereka bergerak di bidang pariwisata jadi―“

“―Jangan bilang dia gadis yang dulu pernah akan bertunangan denganmu,” potong Nara, terkejut.

Chanyeol tersenyum kecut. “Iya, benar.”

“Astaga, ini rumit sekali. Apa kita sedang berakting untuk opera sabun?” gumam Nara. Gadis itu benar-benar lemas di kursinya.

“Jangan pikirkan Liv. Yang harus kau pikirkan saat ini adalah cara meminta maaf pada Sehun atas tamparanmu itu,” saran Chanyeol yang langsung menambah beban pikiran si gadis.

Sehun masih berada di kantor. Pemuda itu memutar kursi kerjanya, sehingga dia berhadapan langsung dengan langit malam Seoul. Ia mengamati langit yang dibingkai oleh dinding kaca yang melapisi setengah dari ruang kerja itu. Sehun sedang merasuki pikirannya. Dia mulai menekuni ingatan masa lalu yang dulu sempat memenuhi seluruh benaknya.

Sehun dulu adalah pemuda yatim piatu yang kehilangan ibunya pada umur tujuh tahun. Dia hanya dibesarkan oleh sang ibu, tanpa tahu siapa ayah kandungnya. Sehun enggan melenyapkan kenangan ketika Ibu harus membanting tulang melakukan banyak pekerjaan agar dapat menghidupinya. Pada saat Sehun berusia lima tahun, ibunya menikah dengan seorang pria agar mendapatkan jaminan pendidikan Sehun di masa depan. Akan tetapi, pria tua itu justru bertingkah sebaliknya, ia membuat Sehun dan ibunya terancam. Pada akhirnya, ibu Sehun meninggal akibat kekerasan yang dilakukan si ayah tiri.

Sehun sudah biasa menjadi pria malang yang harus menjalani hidup begitu keras. Saat umurnya menginjak angka delapan belas tahun, dia jatuh cinta pada Nara―gadis angkuh rekan sekelasnya. Tak ada yang istimewa selama mereka menjalin hubungan, hanya saja Sehun sempat menerima beberapa pukulan dari pengawal Keluarga Jung jika dia mengajak gadisnya berkencan. Hubungan mereka terjalin selama tiga tahun, mereka baik-baik saja. Hingga, Nara menghinanya.

Bertepatan dengan keterpurukannya itu, Sehun menemukan fakta bahwa dia adalah putra dari Oh Junghee―hasil dari hubungan terlarang pengusaha itu dengan ibunya. Oh Junghee sekarat ketika itu, sehingga keluarganya membutuhkan pewaris. Sehun lah satu-satunya garis keturan keluarga Oh. Kakeknya―Oh Sungho―menawarkan kekayaan di saat yang tepat.

Bagi Sehun perputaran nasib dalam dunianya terjadi begitu cepat. Dulu ia berada di bawah, tak butuh waktu lama membuatnya berada di puncak dan menjadi nomer satu. Hal yang Sehun pahami, sewaktu dia memiliki segalanya seperti sekarang adalah dia sendirian. Hanya segelintir orang yang benar-benar menjadi temannya. Setiap orang yang datang dan pergi dalam empat tahun terakhir ini, tidak lebih dengan maksud untuk memanfaatkan dirinya. Menyadari betapa hampanya kehidupannya yang sekarang, Sehun lantas meraup parasnya yang tegang.

Ia menarik lengan kemeja yang dikenakannya hingga sesiku. Jari-jari juga bergerak untuk mengendurkan dasi. Sehun berusaha membuat dirinya nyaman.

“Liv, masuk ke ruanganku,” ucap Sehun pada telepon yang menghubungkan langsung pada sekretaris pribadinya.

Tak perlu waktu lama agar Liv memahami alasan dia dipanggil. Gadis itu segera memasuki ruang kerja Sehun yang luas dan bercat abu-abu.

“Apa yang dilakukan gadis itu hari ini?” tanya Sehun, setelah Liv membungkuk singkat dan duduk.

Si wanita anggun yang membalut tubuhnya dengan setelan rok dan kemeja merah itu pun memulai laporannya. “Dia menghabiskan waktu sepanjang hari di gerai kopi milik Chanyeol. Satu jam lalu dia baru pulang ke apartemen Chanyeol.”

Sehun mengerutkan alis. “Kenapa dia tidak pulang ke rumahnya?”

“Rumah milik Keluarga Jung dianggap sebagai aset perusahaan yang berhak dimiliki oleh CEO dari mereka. Karena nasib Jung Taekwang sebagai CEO masih diputuskan satu bulan yang akan datang, maka keluarganya tidak berhak lagi menggunakan rumah tersebut,” jelas Liv.

“Lalu, bagaimana cara Nara memperoleh uang?”

Liv membuka kertas laporan yang sedari tadi dibawa. “Dia bekerja sebagai guru di klub balet High Step.”

“Kenapa dia tidak mengambil alih kepemimpinan?” Sehun mengetuk jari-jarinya.

“Secara hak waris, saham Nara masih di bawah Jung Taekwang dan adiknya―Jung Jaehyun,” ungkap Liv yang lantas mendapatkan anggukan mengerti dari Sehun. “Jung Jaehyun baru berusia enam belas tahun, dia terlalu muda untuk itu. Terakhir kali aku mendapatkan kabar tentangnya, dia bersekolah di New York,” lanjut si gadis.

“Aku mengerti. Apa lukanya sudah sembuh?” Sehun kembali membuka topik.

Olivia Kim tersenyum simpul mendengar pertanyaan Sehun. Temannya itu kadang-kadang bisa sangat melankolis dan konyol. “Luka yang mana dulu?” Liv menimpali dengan pertanyaan. “Kalau luka di pipinya sudah mulai sembuh. Kalau luka di hatinya, aku rasa dia masih kesal gara-gara kau berkata bahwa dulu dirimu hanya pura-pura mencintainya,” ujar Liv.

Sehun memutar bola mata. Ia menggerakkan tangannya sebagai sinyal agar Liv meninggalkan ruangan itu. “Keluar sana, pulang,” usir Sehun, nadanya bercanda.

Liv tertawa sekilas, kemudian wajahnya berubah serius. Ia menyodorkan dokumen pada Sehun. “Aku kira ini hanya artikel tidak penting. Tapi, lama-kelamaan artikel ini meraih banyak komentar dari publik, sehingga menjadi trending topic.”

Sehun mendengarkan keterangan sekretarisnya sembari tetap membaca. Artikel tersebut ditulis oleh salah satu netizen di sebuah forum ‘Pengusaha Sukses Abad Ini’. Dalam tulisan itu dibahas mengenai dugaan wanita yang masuk ke dalam kendaraan Sehun adalah Jung Nara―pewaris sebagian besar Jung Corporation. Ada bukti foto ketika Nara memasuki mobil dan saat Nara keluar dari kantor Oh Corporation. Tidak hanya itu, argumen yang diungkapkan artikel membuat Sehun mendengus. Artikelnya menyatakan bahwa keputusan Sehun untuk mengagalkan kontrak kerja dan melaporkan penyelewangan pajak Kang’s Technology karena cinta pertama yang belum selesai dengan Jung Nara. Terakhir, diimbuhkan juga foto Sehun dan Nara sewaktu mereka masih berkencan.

“Dari mana mereka mendapatkan foto ini?” Sehun memijat pelipis. Ia mengubah pertanyaan, “Apa user name yang digunakan penulis artikel ini?”

“Avocado Juicy,” jawab Liv menahan tawa. Si gadis tampaknya sudah tahu mengenai satu hal.

Sehun menutup matanya, lelah. Ia langsung menghempaskan diri ke kursi kerjanya. “Jung Nara benar-benar kekanakan. Bisa-bisanya dia menggunakan cara murahan ini. Hapus artikel itu.” Dia kembali menatap tajam Liv. “Aku yakin Chanyeol membantunya―“

“―Aku tidak suka kau menyebut nama Chanyeol dengan nada marah seperti itu,” potong Liv, dia cemberut. “Dengar ya, Oh Sehun. Aku tidak peduli mengenai urusan percintaan kekanakanmu dengan Nara, tapi kalau sampai dirimu menyentuh satu ujung surai saja milik Park Chanyeol―kau lenyap,” ancam Liv. Gadis itu beranjak dari duduknya, meninggalkan Sehun yang berdecak kesal.

Nara meletakkan setangkai mawar putih di peristirahatan terakhir. Ketika Nara berada di pusaran itu hatinya terasa ganjil. Setiap tahun pada tanggal 26 November dia menyepatkan diri untuk berkunjung. Wanita yang dikuburkan di sini memang bukan kerabatnya, orang itu adalah ibu Sehun.

Nara ingat benar, Sehun selalu mengajaknya datang kemari pada hari peringatan kematian ibunya saat mereka masih berkencan dulu. Empat tahun lalu, Sehun pergi ke Amerika, Nara pun menggantikan Sehun untuk datang kemari.

“Sehun telah kembali,” bisik Nara. Ia merapikan surainya yang tertiup sepoi angin. Gadis yang memakai gaun selutut bewarna hitam itupun melanjutkan ucapanya, “Dia berubah sekarang. Entah menjadi lebih baik atau buruk, tapi yang pasti Sehun sudah tidak mencintaiku lagi. Aku tahu ini resiko yang harus kuambil,” vokal Nara seolah ada seseorang yang sedang mendengarkan.

Gadis itu menghela napas berat. “Mungkin tahun depan aku tidak bisa datang ke sini lagi. Jadi, selamat tinggal, Bibi,” lontar si gadis kemudian berbalik.

“Astaga!” pekik Nara kaget, sewaktu berbalik dia mendapati pria berjas dan bercelana kain hitam sudah berdiri di hadapannya. Nara mengelus dada. “Kau membuatku terkejut, Oh Sehun. Jantungku hampir jatuh,” omel si gadis sembari menatap Sehun galak. Tak berselang lama Nara mengubah ekspresinya menjadi sangat ramah. “Hai,” sapa Nara salah tingkah.

Sehun masih berdiri di sana. Tampak sangat rupawan sebab surai kelabunya tertata rapi. Ia melipat tangan di depan dada. “Kenapa kau di sini?” tanyanya dingin, sekaligus curiga.

“Aku kebetulan lewat jadi―“

“―Kebetulan juga kau membawa setangkai mawar putih,” potong Sehun. Dia mengayunkan langkah, memangkas spasi di antara mereka. Pria itu dapat mencium aroma parfum si gadis yang bisa ia kenali. Nara tidak berubah. “Satu minggu lalu kau menamparku dan beberapa hari sebelumnya dirimu membuat artikel konyol mengenai kita. Apa kau tidak malu berada di sini?” cecar Sehun.

“Aku tidak malu karena diriku tak mudah menyerah.” Nara melejitkan bahu. “Lagi pula aku ke sini bukan untukmu. Aku hanya ingin―“

“―Apa alasanmu menolakku dulu? Aku tahu, kau tidak pernah mempermasalahkan latar belakangku. Waktu itu, kau juga sudah mengetahui aku adalah cucu Oh Sungho,” lagi-lagi Sehun berusaha medominasi pembicaraan. Pemuda itu mencengkram pergelangan tangan Nara hingga si gadis mengernyit kesakitan.

“Lepaskan, Oh Sehun,” Nara mulai berontak. “Kau tidak akan mempercayai apapun yang kukatakan sekarang. Lebih baik itu terkubur menjadi masa lalu saja.”

Sehun tertawa hambar. “Kau meminta agar aku membantumu. Tapi, dirimu enggan memberikan argumen kuat sebagai alasan―“

“―Aku dulu sangat mencitaimu. Tapi, cinta itu justru membuatmu tidak ingin mengambil tawaran Keluarga Oh karena kau tidak ingin pergi ke Amerika. Aku harus membuatmu pergi dan melupakanku,” timpal Nara. Gadis itu mengigit bibir. Ia mengalihkan maniknya dari tatapan tajam Oh Sehun. “Kau dulu seakan tidak punya impian dan motivasi. Dirimu terlalu terpuruk, seolah-olah kau tidak memiliki jalan yang membuatmu bertahan hidup. Aku melukai dirimu agar kau … memiliki keinginan untuk melampaui Keluarga Jung.”

Sehun melepaskan cengkramannya pada gadis itu. “Jung Nara adalah gadis egois, dia tidak mungkin melakukan itu.”

Airmata Nara mulai turun satu persatu, mendengar ucapan Sehun.

-oOo-

a/n: Part selanjutnya silahkan klik >>> Track List Project. Terima kasih sudah membaca ^^.

Advertisements

7 responses to “If We Love Again: That Was Love – Twelveblossom

  1. Sehun jgn gengsian dong. Nara cepat bilang yg sebenarnya sama sehun. Liv sebenarnyA siapa itu dia ? Jgn nempel terus dengan thehun hahhahaha bagus cerita ny. Next yaa….

  2. kasian,hati mereka y terluka parah,raga mmng tak apa,namun hati mereka Remuk tak ad bentuknya krna kesalah pahaman dmasa lalu dn skrang

  3. Sehun ga tau ya kalo nara udah berjuang kayak gitu buat dia. Aslinya masih sama sama sayang, tp demi sehun loh nara nyakitin sehun. Duh rumit rumit. Belom lagi chanyeol sama liv. Tp keren lah nih ff. Fighting thor.

  4. Ahhajakakakkaakkakakk gemes bgt dikubuuran begitu ihhh suka bgt mantab nara entr kalo sehun udh luluh tolak lagi ya biar tau rasa tuh cowo hah (kesel

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s