Honey Cacti [Chapter 5]

honey-cacti-poster-3-seohun

Ziajung’s Storyline©

Casts: Oh Se Hun | Choi Seo Ah | Lee Ji Eun

Genre: Romance, Comedy, Drama

Prev: Prolog || Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4

———————————————–

Chapter 5—Conffesions

“Aku membencimu, oleh karena itu kau tidak boleh jauh dariku. Agar aku bisa selalu membencimu.”

***

                Pagi ini, kantor pusat Sungjin Group yang berada di Seoul dihebohkan dengan kedatangan wanita paruh baya dengan dandanan super glamor. Mantel bulu asli berwarna coklat menggantung di pundaknya, membalut tubuh rampingnya yang memakai terusan berwarna biru tua. Tangan dengan kuku dicat berkilau itu memegang tas jutaan Won limited edition yang dipesannya khusu dari luar negeri. Ia melewati meja resepsionis depan begitu saja, membawa kaki dengan heels hitam itu menuju lift khusus. Menjadi pusat perhatian adalah hal biasa untuknya, oleh karena itu tanpa memperdulikan semua ia langsung menuju lantai 30.

Pintu lift terbuka di lantai 30, wanita itu pun mengayunkan kakinya. Ketika resepsionis bangkit dari duduknya untuk menyapa, ia hanya mengangkat satu tangannya dan berjalan masuk. Gerakkan yang angkuh namun anggun.

“Apa Se Hun ada di dalam?” tanyanya saat tiba di depan meja sekretaris direktur.

Tiga sekretaris direktur yang ada di tempat itu langsung berdiri begitu menyadari sosok wanita parlente yang berdiri di depan meja mereka. Mereka pun langsung membungkuk, sebelum satu sekretaris wanita berambut cokelat menjawab dengan sopan.

“Ya, Nyonya Jung, beliau ada di dalam, tapi—“

“Baiklah.”

Jung So Min langsung memotong ucapan sekretaris itu begitu saja setelah ia mendapatkan apa yang ia mau, lalu membuka pintu ruangan direktur. Larangan yang sudah ada di ujung lidah tiga sekretaris itu pun harus ditelan kembali bulat-bulat. Mereka menarik nafas bersamaan, sebelum mulut mereka mengeluarkan kalimat umpatan kepada calon mertua sang direktur.

“Se Hun-a!”

Se Hun, yang sedang mendiskusikan sesuatu yang serius dengan Jun Myeon, langsung mengalihkan pandangan setelah mendengar sapaan itu. Hentakkan heels yang menggema, membuat Se Hun mengerutkan dahinya, seiring dengan senyuman lebar yang ditebar wanita 51 tahun yang berjalan ke arahnya.

Eommeonim?”

Lebih dari rasa penasaran kenapa wanita itu datang, Se Hun lebih merasa jengah. Ibu dan anak tidak jauh berbeda. Mereka agresif namun licik, bertindak hati-hati dan menggunakan cara apapun yang bisa menguntungkannya. Se Hun sudah sering menemui orang macam itu, tapi ia tetap tidak percaya bisa tertipu dengan kepolosan Lee Ji Eun.

Dengan lirikan mata, So Min meminta Jun Myeon untuk keluar. Tapi Jun Myeon tidak selemah itu. Sebelum Se Hun mengangguk dan mengisyaratkan kalau Jun Myeon bisa meninggalkan mereka berdua, pria itu pasti tidak akan beranjak dari sofa itu. Se Hun pun mempersiapkan dirinya untuk mendengar kalimat interogasi dari mulut wanita ini.

“Bagaimana kabarmu?” tanya So Min, mengawali percakapan setelah ia duduk di sofa. “Pekerjaan direktur pasti sangat berat, ya. Sayang sekali waktu itu kau tidak bisa makan malam bersama kami.”

Kalimat itu terdengar seperti “berani-beraninya kau menolak ajakan makan malam keluarga Lee” di telinga Se Hun. Se Hun tidak peduli apa yang Ji Eun katakan pada ibunya malam itu. Se Hun hanya… tidak ingin lagi berurusan dengan mereka.

“Maafkan saya.”

“Ah, tidak, tidak,” Nyonya Jung menggoyangkan tangannya. “Aku memaklumi itu, Ji Eun juga. Kita bisa mengatur hal semacam itu kapanpun kau memiliki waktu luang dengan mudah.”

Tawa ringan Nyonya Jung seolah obat pencuci perut bagi Se Hun. Perutnya terasa diaduk-aduk sampai ingin muntah. Entah sampai kapan Se Hun bertahan pada sifat munafik dan memuakan ini. Ia ingin mengakhirinya segera.

Beberapa waktu yang lalu Se Hun sempat berpikir bahwa memberi Ji Eun waktu bukanlah waktu yang tepat. Semakin cepat Se Hun mengakhirinya, semakin sedikit pula masalah yang tercipta. Ia tidak mempermasalahkan orangtuanya, tapi orangtua Ji Eun. Cukup berat di bagian itu, terlebih ada rumor yang mengatakan kalau sebenarnya kedua orangtua Ji Eun tidak dalam keadaan harmonis.

“Saya rasa tidak ada lain waktu.”

Se Hun bisa mendengar hentakkan nafas dari Nyonya Jung. Ketegangan menyelimuti ruangan itu, menciptakan hawa dingin yang tidak biasa. Se Hun menatap lurus Nyonya Jung, tatapannya tidak bergetar seolah menggambarkan kalau ia serius dengan ucapannya. Dan itu membuat So Min mulai merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya. Untungnya sebelum ia tidak sadarkan diri—hanya karena tatapan Se Hun—sekretaris Se Hun masuk membawakan minuman. So Min pun langsung menyesap teh itu dengan anggun untuk meredakan ketakutannya.

Nyonya Jung meletakkan kembali cangkir teh itu. “Kenapa? Apa kau sedang menjalani proyek besar? Tidak perlu terburu-buru, kurasa masih cukup waktu sampai aku kembali ke Jepang.”

Se Hun mengembuskan nafas. “Anda tahu itu bukan maksud yang ingin saya sampaikan.”

Ya, tentu tahu. Tapi bagaimanapun, Jung So Min ingin menampis pemikirannya sendiri. Ia terus menyugestikan dirinya kalau Se Hun adalah satu dari sekian pria brengsek—seperti suaminya—yang terus mengumbar kebohongan. Tapi di satu sisi, tatapan Se Hun membuatnya terganggu.

“Kau… kau hanya sedang bertengkar dengan Ji Eun, kan?” Nyonya Jung terus memaksakan senyum, sampai ia sendiri tidak menyadari kalau itu membuat wajahnya terlihat aneh.

“Saya membatalkan pertunangan kami.”

Seketika itu pula, dunia bagai runtuh di atas kepala Jung So Min. Ia merasakan syaraf-syarafnya menegang sampai seluruh tubuhnya bergetar. Tanpa sadar, kedua tangannya sudah meremas pakaiannya sendiri. Emosinya memuncak tiba-tiba, membuatnya ingin berteriak sekeras mungkin, kalau perlu sambil menyumpahi Se Hun. Sekarang apa yang harus aku lakukan?

“K-Kenapa?” masih dalam keterkejutannya, So Min bertanya tanpa menyadari kalau suaranya bergetar.

“Anda yakin bertanya padaku?”

“T-Tidak. Maksudku, apakah orangtuamu tahu? Kita harus mengadakan pertemuan keluarga secepat—“

“Saya tidak terlalu mempemasalahkan pertemuan keluarga.” Potong Se Hun, sebelum ucapan Nyonya Jung semakin melebar. “Tapi bagaimanapun, keputusan saya sudah bulat.”

Jung So Min tidak tahu harus membalas apa, yang ada dipikirannya sekarang adalah menemui Ji Eun secepatnya dan bertanya bagaimana hal ini bisa terjadi. Ia tidak sanggup kalau harus mengetahui hal itu dari mulut Se Hun. Ia tidak sanggup melihat harga dirinya sendiri terinjak-injak oleh penerus Sungjin, di gedung pusat perusahaan besar itu pula. Setidaknya ia masih bisa menyombongkan dirinya, karena pembatalan pertunangan ini belum resmi diketahui kedua keluarga (dalam hal ini maksudnya adalah keluarga Lee).

Memperbaiki ekspresinya yang sempat menegang tadi, So Min mengulaskan senyum tipis. “Aku akan membicarakan hal ini dengan orangtuamu.”

Se Hun balas tersenyum. Senyum yang cukup sopan untuk menutupi rasa bencinya. “Anda tidak perlu terburu-buru, Nyonya Jung. Aku tidak akan menarik investasi begitu saja.”

Ucapan Se Hun itu membuat darah So Min kembali mendidih. Bahkan anak itu sudah tidak lagi menyebutnya dengan ‘eommeonim’—ia bersumpah apapun yang telah dibuat Ji Eun, ia harus menghukum anak itu. Investasi bukanlah satu-satunya yang ia incar dari pernikahan ini. Dan tentu saja Se Hun adalah orang yang cermat dan perhitungan. Meski LY Group sedang tidak stabil, perusahaan itu tetap memiliki potensi jangka panjang. Se Hun pasti sedang mengatur rencana untuk mengambil alih LY.

So Min mengambil tas tangannya dan bangkit dari sofa, diikuti oleh Se Hun. “Kalau begitu, aku pergi.”

Se Hun membungkukkan badan untuk memberi salam. “Hati-hati di jalan.”

So Min tidak berbalik atau menjawab. Di kepalanya hanya Ji Eun tujuannya.

***

“Lee Ji Eun!”

Kedatangan ibunya yang tiba-tiba itu, membuat Ji Eun hampir mencoret desain gaun malam yang sedang digambarnya. Ji Eun melepaskan kacamata besarnya dan mendekati ibunya yang berjalan dengan langkah berapi-api. Tidak hanya itu, ekspresi ibunya juga menggambarkan betapa marah beliau.

Eomma, ada ap—“

“Apa yang kaulakukan?!”

Ji Eun mengerutkan dahinya karena tidak mengerti. “Apa maksud Eomma?”

“Se Hun membatalkan pertunangan kalian!”

Padahal Ji Eun sudah mendengar hal itu langsung dari mulut Se Hun, dan ia pun menyadari cepat atau lambat hal ini akan datang, tapi tetap saja itu berhasil membuatnya kehilangan kata-kata. Ia tidak bisa mengucapkan apapun untuk pembelaan, atau paling tidak berbalik badan untuk menghindari tatapan marah ibunya. Luka itu kembali terbuka.

“Apa yang sudah kau lakukan padanya, hah?!” seolah tidak cukup dengan teriakan dan tatapan mengerikan, So Min mencengkram kedua lengan atas Ji Eun sampai rasanya kuku-kuku itu menancap di sana.

Eo-Eomma… a-aku….”

“Apa?! Apa yang akan kau katakan?! Semua itu hanya salah paham?! Salah paham seperti apa yang membuat kau harus kehilangan pewaris Sungjin itu?!”

Ji Eun tidak bisa menahan air matanya. Semakin ibunya berteriak, semakin lebar luka itu terbuka. Belakangan ini Ji Eun sudah berusaha untuk mengobati lukanya sendiri, dengan bekerja gila-gilaan, mengobrol dengan sahabat-sahabatnya, bahkan merusak diri dengan alkohol. Dan sekarang, orang yang ia pikir lebih memahaminya lebih dari siapapun malah memojokkannya. Ji Eun tidak mempunyai tempat untuk berlindung.

“Kau tidak tahu apa saja yang sudah kukorbankan agar kau bisa bertunangan dengan Se Hun?! Dan sekarang kau merusaknya begitu saja! Dasar anak tidak tahu diri!”

Eomma!”

“Kau masih bisa berteriak padaku?!”

Eomma, cukup!” Ji Eun melepaskan cengkraman tangan ibunya sambil berteriak. Kedua tangannya menutupi telinganya kuat-kuat. Ia tidak mau mendengar apapun lagi!

“Lee Ji Eun! Anak Sialan!” So Min belum juga menyerah. Ia kembali menarik tangan Ji Eun dan membalikkan tubuh wanita yang ingin pergi dari tempat itu. “Jadi benar, kau yang mengacaukannya, kan? Dasar Anak Sialan! Kau sama saja dengan ayahmu—“

“Aku pernah keguguran!”

Cengkraman tangan So Min di pergelangan tangan Ji Eun mengendur, seiring dengan darah yang mengering tiba-tiba di wajahnya. Ia pucat pasi. Ini jauh lebih mengejutkan daripada mendengar pertunangan mereka batal.

“A-Apa?”

Ji Eun sama sekali tidak bisa menyembunyikan tangisannya. Ia menutupi wajah dengan kedua tangannya. Kakinya pun kehilangan kekuatan tiba-tiba, sampai dirinya tidak bisa berdiri dengan benar dan jatuh terduduk di lantai. Seluruh beban dunia seolah dilimpahkan padanya, membuat sosok ringkih itu begitu menyedihkan. Lee Ji Eun yang sekarang seperti lukisan gedung tua di tengah malam hujan badai. Sendirian dan tanpa perlindungan. Ia bisa saja runtuh kapan saja.

“K-Kau… apa?”

“Aku hamil, dan keguguran.”

“Se Hun—“

“Dan itu bukan anak Se Hun.”

Butuh kekuatan besar untuk Ji Eun mengatakan itu, bahkan helaan nafas yang ia keluarkan terasa sangat perih. Mengatakannya jauh lebih pedih daripada ketika hal itu terjadi. Jujur saja, saat Ji Eun kehilangan janin dari pria bajingan itu, ada perasaan lega di hatinya. Pikirnya, ia masih memiliki secercah harapan. Tapi ternyata, karma tetaplah karma. Ia mendapatkan balasan yang jauh lebih menyakitkan daripada sebuah pengkhianatan.

Ji Eun mendengar langkah kaki ibunya yang mendekat. Nafasnya tercekat di tenggorokan. Bayangan sebuah pelukan hangat yang menenangkan serta kata ‘semua akan baik-baik saja’ seketika musnah ketika tamparan perih menyapa pipi kirinya. Ji Eun membuka mulutnya, ingin mengucapkan sesuatu namun yang keluar hanya hentakkan nafas. Bunyi keras tamparan itu terus terngiang di kepala Ji Eun, sampai membuat kepalanya pusing. Dan seolah belum puas dengan tamparan, So Min menarik rambut Ji Eun ke belakang sampai wajah anak satu-satunya yang penuh air mata itu terlihat olehnya.

“Anak Sialan! Kau benar-benar tidak tahu diuntung!” genggaman tangan Jung So Min semakin erat, membuat Ji Eun harus menahan diri untuk tidak berteriak dan membuat keributan di butiknya. “Padahal aku sudah mengorbankan harga diriku agar kau bisa menggoda pewaris Sungjin itu. Tinggal sedikit lagi dan kau mengacaukannya? Dasar Bodoh!”

E-Eomma….” tangan Ji Eun memegang tangan So Min, memintanya untuk berhenti menarik rambutnya.

“Apa susahnya aborsi sebelum Oh Se Hun Sialan itu mengetahuinya, hah?! Untuk apa aku membiayaimu sekolah tinggi-tinggi?!”

Ji Eun tidak bisa mempercayai apa yang baru ia dengar. Ibunya menyuruh dia membuang janin tidak berdosa itu hanya karena Sungjin?! Bahkan Ji Eun hampir bunuh diri waktu itu karena tidak bisa menemukan cara untuk memberitahu keadaannya, tapi… ibunya bisa memutuskan semudah itu? ‘Kecelakaan’ itu saja sudah membuat Ji Eun gila, apalagi ketika mengetahui dirinya hamil dan tidak mendapat tanggung jawab dari pria itu.

Jung So Min menghentak kepala Ji Eun ke depan. Ia mengatur nafasnya dan memperbaiki sedikit penampilannya yang kacau karena aksinya tadi. “Aku tidak mau tahu, kau harus mendapat kepercayaan Se Hun kembali.”

Ji Eun menatap ibunya dari bawah dengan tatapan tidak percaya. “Eomma, aku tidak mau menyakiti Se Hun lagi.” Ya, meski aku sangat mencintainya.

“Aku sudah mempertaruhkan harga diriku sejauh ini, sekarang giliranmu.” Ucap So Min. “Se Hun memang tidak menarik investasinya di perusahaan ayahmu sekarang, tapi kita sama-sama tahu apa yang kita inginkan, kan?”

Ji Eun tidak menjawab pertanyaan sakarstik itu. Bagaimanapun ia tidak pernah mempunyai pemikiran seperti itu. Dari awal ia sudah tertarik dengan Se Hun karena parasnya yang tampan. Sifat Se Hun memang sedikit menyebalkan, tapi lama kelamaan ia nyaman dengan itu. Ketika Se Hun memberinya perhatian kecil, seluruh tubuhnya bersemu. Ia tidak peduli seberapa banyak Se Hun bermain di luar sana, karena pada akhirnya dialah satu-satunya yang akan memiliki Se Hun.

Tapi sekarang… bayangan itu menguap bagai abu.

“Ah, atau begini saja.”

Nada bicara ibunya yang berubah tiba-tiba membuat Ji Eun mengantisipasi kalimat kejutan apalagi yang akan beliau ucapkan. Benar saja, begitu Ji Eun mengangkat kepala, senyum licik ibunya muncul.

“Tidurlah dengan siapapun, dan katakan kalau itu anak Oh Se Hun. Dengan begitu, kau akan menjadi Nyonya Sungjin dan melahirkan anak-anak pewaris Sungjin. Sungjin akan jadi milik kita, Sayang.”

Kalau boleh memilih, Ji Eun lebih memilih mati daripada mendengar kalimat laknat itu dari mulut ibunya. Ia tidak mengenal sosok wanita di depannya. Wanita yang melahirkannya dan merawatnya selama dua puluh tahun sebelum Ji Eun memilih hidup mandiri. Wanita yang menjadi panutannya dan berharap suatu saat ia menjadi sosok penyayang sepertinya. Wanita yang selalu melindunginya ketika ayahnya dalam tempramen buruk dan rela mengorbankan punggungnya sebagai ganti tubuh kecil Ji Eun. Semua itu tidak ada lagi. Yang Ji Eun lihat sekarang hanya seorang monster di balik pakaian mewah dan wajah hasil perawatan jutaan Won.

Eomma….”

So Min mensejajarkan posisinya dengan Ji Eun, lalu meraih dagu anak perempuannya. “Kau mau lihat eomma bahagia, kan? Kalau begitu dengarkan eomma. Aku tidak ingin anakku menjadi diriku karena pria seperti ayahmu itu. Kau harus berhasil mendapatkan Oh Se Hun, begitu juga Sungjin, dengan begitu kita akan hidup bahagia selama-lamanya—seperti di dongeng. Kau mengerti?”

Tanpa menunggu jawaban Ji Eun, So Min pun berdiri. “Aku akan mengatur pertemuan dengan keluarga Oh. Kau harus mempersiapkan apa yang ingin kau katakan. Dan tentu saja, jangan mengecewakanku.”

Jung So Min meninggalkan Ji Eun yang masih bertahan dengan posisinya di lantai. Ia keluar dari ruangan Ji Eun sama seperti ketika ia datang, angkuh namun anggun. Semua orang di butik yang melihatnya merasa tidak heran dengan penampilannya yang sangat mewah itu, mengingat Lee Ji Eun adalah seorang desainer yang andal. So Min pun memakai kacamata hitam yang sedaritadi tersimpan di tas tangannya, untuk menyembunyikan sisa-sisa kemarahan yang masih tersirat di wajahnya.

Eommeoni!”

Awalnya So Min tidak mau menolehkan kepala untuk melihat siapa yang memanggilnya. Tapi karena ini masih di area butik Ji Eun, terlebih banyak orang yang memperhatikannya, ia pun menoleh.

Omo*! Bo Mi-ya, Seo Ah-ya.”

***

                                Enam pasang mata itu tidak berhenti menatap satu wanita seperti cabai yang baru masuk ke ruangan. Tubuh wanita itu sangat sempurna, ditambah dengan pakaian dan heels berwarna merah menyala—seperti cabai—ia lebih pantas berjalan di catwalk daripada di lantai dingin marmer KeyEast. Berbeda dengan dua orang pria yang menatap Kim Seol Hyun seolah rela melempar mata mereka sampai masuk ke dalam ruangannya, empat orang wanita di sana malah mengerutkan dahi—antara tidak suka, jijik, tapi juga iri.

“Wah, benar-benar bidadari dari neraka!” Jung Ho Seok berdecak kagum sambil terus memperhatikan Seol Hyun, meski pintu ruangannya sudah tertutup rapat dan mereka hanya bisa melihat manajer seksi itu dari balik kaca buram.

“Dia seperti cabai!” cibir Park So Dam.

“Aku heran,” Jung Eun Ji menggeser kursinya agar lebih dekat ke meja Seo Ah, lalu menyilangkan kakinya. “Dia melarang kita memakai pakaian warna mencolok, tapi dia sendiri memakai pakaian cabai.”

Seo Ah mengangguk, ia paham betul sifat Seol Hyun. Dari dulu wanita itu sangat tidak suka disaingi. Di divisi ini pun sebenarnya ada Ha Ni yang bisa menjadi saingannya, tapi dengan peraturan tidak masuk akal—melarang anak buah wanitanya memakai pakaian cerah, pendek, dan ketat—ia menjadi satu-satunya yang menonjol di sana. Dan hari ini, tiba-tiba saja dia datang dan membuat heboh kantor dengan memamerkan lekuk tubuh sempurnanya di pakaian serba merah. Mulai dari riasan tebal—tapi cantik—lipstik merah menyala, one-piece merah, dan heels sepuluh senti berwarna merah. Untung saja dia adalah Kim Seol Hyun, kalau Seo Ah yang berpenampilan seperti itu sudah pasti dia akan dicampurkan bersama sawi yang sudah digaramkan untuk menjadi kimchi.

Seo Ah melirik Eun Ji dengan menunjukkan wajah masam. “Karena hari ini dia akan bertemu Direktur Oh dari Sungjin, makanya begitu.”

Ucapan Seo Ah langsung disambut ‘oh’ panjang dari rekan-rekannya. Sudah menjadi rahasia umum kalau Kim Seol Hyun itu adalah mantan Oh Se Hun dari Sungjin, dan Seol Hyun mengalami cinta bertepuk sebelah tangan. Mereka tidak habis pikir, Seol Hyun dengan segala kesempurnaan itu masih saja mengejar Direktur Oh dari Sungjin, padahal ia bisa mendapatkan pria yang jauh lebih tampan dan kaya.

“Tapi tidakkah itu berlebihan? Dia kira mau pergi ke klub?!” sahut Eun Ji sebal.

“Eiy, pikirkan sisi positifnya. Siapa tahu dengan Manajer Kim berpenampilan begitu, kerja sama kita akan lancar—aw! Seonbae!”

Eun Ji, yang tidak tahan dengan Lee Da Won yang terus saja mengeluarkan air liur untuk Seol Hyun itu, melemparkan pulpen dari tempat Seo Ah ke kepala anak itu. “Memangnya KeyEast semurah itu?!”

“Tapi, Seonbae, tidakkah itu membuat mereka berpikiran begitu?”

“Dia itu hanya sedang kasmaran. Kau tahu, seperti kucing yang ingin kawin sampai ‘itu’-nya gatal tapi tidak juga—“

Aish, Jung Eun Ji!”

Mendengar bentakkan Seo Ah, Eun Ji langsung mengatupkan bibirnya. Eun Ji memang tidak suka dengan Seol Hyun—seperti Seo Ah, tapi yang menjadi masalah mulut wanita itu bisa mengeluarkan jutaan kalimat vulgar kalau sedang menggosipkan manajer seksinya. Ah, tidak, maksudnya, Eun Ji memang memiliki mulut yang vulgar dan cenderung tidak bisa di kantor. Seo Ah hanya tidak mau ia mengotori pikiran polos junior-juniornya, dan juga tidak mau sampai Seol Hyun mendengarnya dan menciptakan keributan besar.

“Maaf.” Eun Ji tertawa canggung ke arah Seo Ah, lalu menggeser kembali kursinya.

“Sudahlah, setidaknya kalian tidak akan melihat pakaian cabai itu selama beberapa jam.” Seo Ah mulai membayangkan apa yang akan terjadi dengan matanya kalau terus-terusan melihat warna merah terang baju Seol Hyun itu. Ia menggelengkan kepala sambil mendesah keras.

“Kau ikut ke Sungjin?” tanya Eun Ji.

Maunya sih tidak. “Iya.”

Tepat setelah mengucapkan itu, telepon paralel di meja Seo Ah berdering. Suara Seol Hyun pun langsung menerobos telinganya tanpa salam apapun. “Choi Seo Ah, segera siapkan mobil. Sepuluh menit lagi kita berangkat.”

“Baik, Manajer Kim.” Jawab Seo Ah, lalu menutup teleponnya. “Aku pergi dulu.”

“Semangat, Choi Seo Ah!”

Seonbae, fighting!”

Seo Ah tidak menjawab, hanya membereskan barang-barangnya lalu turun ke lantai bawah untuk memanggil Supir Yoo. Seol Hyun turun lima menit kemudian (masih dengan penampilan cabainya). Selama perjalanan, dia tidak berhenti mengoceh tentang persentasi yang akan ia sampaikan nanti, meminta Seo Ah memperbaiki di sana-sini, dan ditambah dengan ucapan-ucapan tidak penting yang hanya membuat Seo Ah tambah kesal. Selain di kantor, ini adalah saat-saat terberat di hidup Seo Ah. Ya, berada di satu mobil dengan Kim Seol Hyun bersama ucapan-ucapan yang membuat telinganya panas.

Perjalanan itu menghabiskan waktu hampir 20 menit. Supir Yoo menghentikan mobilnya di depan kantor pusat Sungjin Group, lalu turun dari mobil untuk membukakan pintu untuk Seol Hyun. Setiap gerakkan yang dilakukan Seol Hyun terlihat seperti slow motion. Dimulai dari Seol Hyun menjulurkan kakinya, merapatkan mantel merah karena angin dingin yang berhembus, sampai gerakkan menyisir rambut panjang cokelat itu ke belakang. Semua pria yang melihatnya menjatuhkan rahang, dan para wanita hanya bisa berdecak kagum dan merasa iri.

Tapi tidak dengan Seo Ah. Ia hanya mengerutkan hidung. Ia sudah kenyang dengan segala pesona Kim Seol Hyun dari dulu, jadi sekarang Seo Ah lebih ingin meneriaki Seol Hyun orang gila karena berpenampilan serba merah seperti itu.

“Choi Seo Ah.”

Seo Ah tersentak di tempatnya. Ia mengira Seol Hyun menangkap ekspresi tidak sukanya sehingga membuatnya marah. “Y-Ya?”

“Bagaimana penampilanku?”

“A-Apa?”

Seol Hyun memutar bola matanya. Ia pun bertolak pinggang dan memberi isyarat melalui tatapan mata. “Penampilanku? Apa masih oke?”

Apanya yang oke?! Menyebalkan! Membuatku ingin muntah! Apa-apaan pakaian merah itu?! Benar-benar seperti gochujang*! Apa dia berniat menggoda Oh Se Hun di sini, seperti yang Da Won katakan—agar kerja samanya berhasil?!

Namun dari segala macam umpatan itu, akhirnya yang bisa lolos dari mulut Seo Ah hanya; “Ya… seperi biasa… Anda, cantik.”

“Aku memang cantik.” Seol Hyun tersenyum, lalu menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. “Ayo masuk.”

***

                “Direktur Oh, perwakilan dari KeyEast sudah datang.”

“Baik.”

Se Hun merapikan dokumen yang diperlukan untuk rapat nanti dibantu oleh Jun Myeon, ketika Irene memanggilnya. Perjanjian kerja sama antara Sungjin dan KeyEast sudah mencapai tahap akhir, Se Hun hanya akan mendengar persentasi terakhir dari keuangan tim KeyEast sebelum pengesahan besok hari. Sebenarnya ini pun hanya sebagai formalitas saja.

Se Hun keluar dari ruangannya diikuti Jun Myeon, lalu Irene. Irene menekan tombol lift yang akan membawa mereka ke ruang rapat yang berada di lantai 25.

“Kudengar, wanitamu juga datang.”

Mendengar ucapan Jun Myeon yang sedikit ambigu, Se Hun menoleh. “Wanita… ku?”

Lalu, lima detik kemudian, setelah mengerti apa yang dimaksud Jun Myeon, Se Hun mendesah panjang. “Maksudmu Kim Seol Hyun?” tanyanya tidak suka. “Hyeong, kau kan tahu sendiri aku dan dia sudah lama berakhir.”

Jun Myeon membalas dengan tatapan jenaka. “Aku tidak menyebut Seol Hyun.”

“Terserahlah.”

“Maksudku Choi Seo Ah.”

Tepat seperti dugaan Jun Myeon, begitu ia menyebut nama Seo Ah, Se Hun langsung kembali memutar kepalanya. Pria itu tidak bisa mengungkapkan rasa terkejutnya dengan mulut, dan itu membuat Jun Myeon ingin tertawa terbahak-bahak. Hanya matanya yang membulat seolah menyuruh Jun Myeon menceritakan lebih jauh. Tapi Jun Myeon sedang ingin menggoda anak ini, hingga ia hanya diam saja sambil menyembunyikan senyum gelinya.

“Bagaimana….”

Se Hun belum menyelesaikan kalimatnya ketika lift berdenting dan pintunya terbuka. Irene pun langsung menahan lift itu dan mempersilahkan Se Hun dan Jun Myeon masuk. Menetralkan kembali ekspresinya, Se Hun berdeham dan masuk ke dalam lift. Jun Myeon dan Irene berdiri di belakangnya, sehingga mereka tidak bisa melihat senyum Se Hun di saat pintu itu kembali tertutup.

Tidak pernah Se Hun merasa sesemangat ini ketika masuk ke ruang rapat. Ia melangkahkan langkah pertamanya dengan senyuman lebar begitu turun dari lift. Ia yang memimpin jalan menuju ruang rapat, lalu membuka sendiri pintu itu—tidak lupa dengan senyum lebar.

Rapat kali ini pasti menyenangkan.

“Selamat pagi, semua.”

Orang-orang yang ada di ruangan itu berdiri dan menyapa balik Se Hun. Se Hun tidak memperhatikan betul siapa saja yang ada di sana, matanya hanya menangkap satu sosok yang sangat mencolok di sana. Si Wanita dengan pakaian serba merah, Kim Seol Hyun. Se Hun mengeryitkan dahinya selama beberapa sekon dan dengan cepat menyembunyikan rasa penasarannya itu, lalu beralih pada seseorang yang ada di sebelah Seol Hyun. Se Hun kembali menggulung senyum.

“Bisa kita mulai rapat hari ini?”

Ah, Seo Ah lupa. Tentu saja ada yang jauh lebih buruk daripada berada satu mobil dengan Seol Hyun selama 20 menit, yaitu menghabiskan waktu di rapat membosankan ini dengan dua orang yang dibencinya—Seol Hyun dan Se Hun. Ia lupa kalau segala yang berkaitan dengan Sungjin pasti ada Oh Se Hun. Seo Ah sama sekali menyesal dengan kehidupannya, ia terus memikirkan dosa apa yang telah ia lakukan di kehidupannya terdahulu. Bahkan kehadiran Kim Jun Myeon di sebelah Se Hun sama sekali tidak memperbaiki mood-nya.

Drrt. Drrt.

Ponsel Seo Ah bergetar ketika moderator membuka rapat hari ini. Seo Ah pun membuka ponselnya di bawah meja.

                [Gayamu oke juga.]

Seo Ah hampir memukul layar ponselnya sendiri ketika membaca pesan tidak penting dari Se Hun. Lagipula pria itu jelas-jelas berada satu ruangan dengannya, dan hanya berjarak beberapa meter, untuk apa mengiriminya pesan seperti itu?! Seo Ah pun mengabaikannya dan kembali fokus ke arah Seol Hyun yang sedang berjalan menuju podium—untuk persentasi.

Dan lagi, ada pesan masuk ke ponsel Seo Ah. Dua sekaligus.

                [Aku suka one-piece itu. Kau pintar sekali memilih warnanya.]

                [Akan lebih bagus kalau lipstikmu sedikit lebih muda.]

                Di atas meja Seo Ah ada gelas kosong, juga ada botol air mineral, ingin sekali Seo Ah melempar dua benda itu ke wajah Se Hun. Seo Ah pun melirik dengan ganas pria itu, tapi ia mendapat balasan sikap acuh tak acuh dari Se Hun. Pria itu pura-pura memperhatikan rapat dengan senyum menggantung di bibirnya—seolah sedang menggoda Seo Ah.

Seo Ah pun membalas pesan Se Hun kali ini dengan berapi-api.

[Tutup mulutmu!]

                [Aku tidak membuka mulut kok.]

Se Hun membalas dengan cepat, dan itu malah membuat Seo Ah makin jengkel. Wanita itu mulai merasakan urat lehernya menegang. Mengatur nafas, Seo Ah akhirnya bisa mengendalikan dirinya. Lagi, ia mengabaikan pesan tidak berguna dari Se Hun.

Tapi bukan Se Hun namanya kalau tidak keras kepala. Ia terus memberondong Seo Ah dengan stiker-stiker aneh dan pesan-pesan tidak berguna lainnya, membuat Seo Ah mau tidak mau membuka kembali pesan-pesan itu.

                [Apa kau yang mengerjakan presentasinya? Aku suka.]

                [Kau mau bekerja di Sungjin? Kuyakin posisimu akan lebih tinggi di sini.]

[Aku tidak sudi bekerja denganmu!]

[Bisakah kau diam?! Aku sedang berkonsentrasi!]

               

                [Hm… begitu?]

                [Kau makan siang jam berapa?]

[Bukan urusanmu.]

                Tanpa sadar, Seo Ah malah jatuh ke jebakan Se Hun. Ia keterusan membalas pesan Se Hun, meski dijawabnya dengan perasaan kesal dan ketus. Ia hampir melewatkan seluruh persentasi Seol Hyun, bahkan buku catatannya nyaris bersih.

[Mau makan apa?]

                [Masakan Jepang bagaimana?]

[Aku tidak suka makanan Jepang. Aku lebih suka makanan Korea.]

                [Call! Kita makan makanan Korea!]

[Apa?!]

                [Tunggu di kafe depan gedung. Aku akan menemuimu di sana setelah rapat.]

                [Dan aku tidak akan meninggalkan kafe sebelum kau datang.]

[YA!]

                “Ya—“

Seo Ah buru-buru mengatupkan bibirnya ketika tanpa sadar mulutnya menyuarakan teriakan itu. Ia pun membungkuk di tempatnya sambil menggumamkan kata maaf. Bisa ia lihat, Seol Hyun di depan sana mulai melemparkan meriam-meriam kecil ke arahnya. Akhirnya Seo Ah meraih kembali pulpen yang sempat ia tinggalkan dan mencatat apapun yang ia dapat dari persentasi Seol Hyun.

Yah… sebelum ponselnya kembali mendapat satu pesan terakhir dari Se Hun.

[Sst… perhatikan rapatnya.]

***

                Seo Ah tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya hari ini. Ia tahu, ia benci hari ini karena rapat sialan itu, dan Manajer Cabai yang terus mengoceh padanya setelah rapat. Tapi yang ia paling benci adalah dirinya sendiri yang sekarang tengah menunggu lampu tanda menyeberang menjadi hijau agar ia bisa menyeberang untuk sampai ke Subway Cafe. Ia bahkan berbohong pada Seol Hyun dengan mengatakan ia ingin menemui teman dulu dan akan kembali ke kantor setelah jam makan siang.

                Teman apanya?! Aku malah berharap tidak pernah bertemu dengannya!

Tapi meski begitu, pikirannya tidak sejalan dengan tindakkan dan hatinya. Ia menyeberang jalan dan masuk ke kafe itu. Tentunya dengan tujuan menunggu Oh Se Hun si Pewaris Sungjin yang Terhormat. Seo Ah pun berdiri di depan pintu kafe selama beberapa saat. Ia gila! Sangat gila! Untuk apa dia mempercayai ucapan brengsek itu?! Dan yang lebih penting, sejak kapan hubungan mereka sedekat ini?!

Tidak tahu! Aku ke sini hanya minum kopi dan menunggu selama 5 menit, setelah itu pergi. Seo Ah menggeleng pelan, lalu mengantri di depan konter untuk memesan. Melihat antrian yang cukup panjang, Seo Ah menghela nafas panjang. Kenapa ia harus terpengaruh ucapan “tidak akan pergi sebelum Seo Ah datang” dari Se Hun?! Itu ucapan cheesy yang sering didengarnya di drama-drama.

Setelah mendapat Moccachino-nya, Seo Ah berjalan ke kursi yang berada di dekat jendela. Pikirnya, dengan duduk di sana ia bisa melihat kedatangan Se Hun dengan cepat. Oke, ini tidak akan lama. Seo Ah hanya akan bertahan sampai Mocchanico-nya habis.

Seo Ah menumpu kepalanya dengan sebelah tangan, lalu melihat layar ponselnya. Pria itu belum juga menghubunginya. Tidak, maksudnya, bukankah dia sudah menyusahkan Seo Ah? Tidak bisakkah dia mengirimi Seo Ah pesan dan menyuruhnya menunggu sebentar—omong-omong ini sudah hampir lima menit.

Memang, Seo Ah sebenarnya bisa pergi bahkan sebelum niat untuk datang ke kafe ini muncul di hatinya. Tapi tiba-tiba seperti ada dua sisi berlawanan di dalam diri Seo Ah. Satu sisi terus mengutuk kebodohannya karena mau-maunya menunggu Se Hun, dan satunya lagi menyuruhnya untuk sekali saja mendengarkan Se Hun. Setidaknya pria itu sudah menolongnya waktu itu, bahkan sampai mengantarnya pulang. Dan juga… ia masih penasaran dengan Ji Eun.

Bukan berarti Seo Ah ingin ikut campur.

Tidak ada satu pun pesan yang masuk ke ponsel Seo Ah, dan lima menit pun berlalu. Seo Ah baru ingin meninggalkan kursinya ketika kaca jendela di sebelahnya terketuk. Umpatan untuk Se Hun yang sudah di ujung lidahnya, harus Seo Ah telan lagi karena pria yang ada di sisi jendela satunya bukanlah Oh Se Hun. Rasa kecewa perlahan naik ke permukaan, tapi Seo Ah tutupi dengan sebuah senyum lebar begitu ingat siapa pria itu.

“In Seong-a!”

***

                “Bisakah kita membahas ini di rumah saja?”

Se Hun memijit dahinya sendiri dan mendesah. Sudah tiga puluh menit ia terjebak di sini, duduk di sofa, di ruangan Presiden Direktur Sungjin Group bersama ayahnya. Seusai rapat tadi, Jun Myeon memberinya kabar kalau ayahnya ingin bertemu dengannya. Se Hun kira mereka akan membahas kerja sama dengan KeyEast, tapi ternyata hal tentang Lee Ji Eun-lah yang ingin dibahas ayahnya.

Ini masalah pertemuan keluarga yang dibicara ibu Ji Eun waktu itu. Ternyata Nyonya Jung benar-benar serius. Beliau mengontak ayahnya dan meminta Se Hun untuk datang di hari pertemuan. Sebenarnya masalah ini tidak akan menjadi serius kalau saja Ji Eun jujur dari awal. Se Hun termasuk orang yang cukup malas mendatangi pertemuan keluarga macam ini.

Oh Seong Woo—ayah Se Hun—akhirnya mendesah. “Aku sudah membahas ini dengan ibumu, jadi memang sebaiknya kau datang.”

“Bagaimanapun hasil pertemuan nanti, Abeoji harus tahu kalau aku tidak akan merubah pikiran.”

“Itu hakmu.”

Se Hun hanya bersyukur ayahnya tidak meminta macam-macam saat ini, dan cukup kooperatif. Entah apa yang merasuki pria berumur 65 tahun itu. Meski tidak buruk, hubungan Se Hun dengan ayahnya juga tidak bisa dikatakan baik. Makanya kali ini Se Hun pun tidak bertindak macam-macam.

“Baiklah, kalau Abeoji sudah selesai,” Se Hun berdiri dari duduknya. “Aku pergi dulu.”

“Apa kau… sedang melihat wanita lain?”

Se Hun, yang baru ingin memutar langkahnya, berhenti di tempat. Ia tidak berbalik, tidak juga mengucapkan apapun.

“Apa kau memutuskan pertunangan karena wanita lain?”

“Bukan.” Jawab Se Hun, sambil kembali menatap ayahnya. “Kalaupun ada wanita lain, dia bukan alasanku membatalkan pertunangan.”

Seong Woo tidak berkata apapun selama beberapa saat. Ia menatap lurus mata putranya, mencari sesuatu yang sangat membuatnya penasaran. Ia sangat tahu kalau Se Hun memang suka bermain wanita, tapi dia bukan anak pembuat onar. Dia tidak mungkin mengorbankan nama keluarga hanya untuk main-main, ada alasan besar yang disembunyikan anak itu. Tapi di satu sisi, Seong Woo juga yakin kalau alasan Se Hun ‘membuang’ Lee Ji Eun juga karena seorang wanita.

Tidak juga menemukan hal yang ia cari, Seong Woo pun mengangguk kecil sambil menghela nafas. “Baiklah, asal dia wanita baik-baik, aku tidak masalah.”

Se Hun tersenyum mendengar itu. Sekali lagi ia mensyukuri sikap kooperatif ayahnya. “Kalau begitu, aku permisi.” Memberi salam, Se Hun pun keluar dari ruangan itu.

Se Hun tidak bisa melangkah dengan biasa. Ia terus-terusan melirik jam tangannya sambil menggerutu kecil ketika menunggu lift. Ia sudah mencoba untuk menghubungi Seo Ah, tapi wanita itu sama sekali tidak menjawab panggilannya, bahkan membaca pesan-pesannya. Sudah 40 menit lewat dari waktu janjinya dengan Seo Ah, membuat Se Hun sangsi apakah Seo Ah masih menunggunya di kafe itu atau tidak. Atau mungkin… Seo Ah memang tidak pernah menunggunya.

Ah, tak tahulah! Ia harus memastikannya sendiri.

Se Hun berlari begitu turun dari lift, membuat beberapa karyawan yang melihatnya mengerutkan dahi. Tapi di antara mereka, para karyawan perempuan justru melihat Se Hun dengan pandangan kagum. Sosok Se Hun yang sedang berlari, dengan kancing jas terbuka, rambut hitam berkibar, dan kaki panjangnya yang tampak semakin indah itu benar-benar seperti sosok pangeran yang berlari untuk menyelamatkan sang putri di menara yang dijaga seekor naga. Begitu gagah dan penuh kharisma.

Se Hun menyeberang jalan dengan tidak sabar. Untungnya lampu lalu lintas sedang berwarna merah ketika Se Hun tiba di tepi jalan. Dari jarak beberapa meter, ia bisa mengenali Seo Ah yang duduk di dekat jendela. Wanita itu tertawa lebar. Ia tampak sangat senang sambil menepuk-nepuk tangan pria yang duduk bersamanya—

A-Apa?! Seorang pria?!

Mata Se Hun menyipit melihat pemandangan itu. Jadi… bukannya duduk manis menunggu Se Hun, wanita itu ternyata sedang asik berkencan dengan pria lain?! Terlebih pria itu terlihat lebih muda darinya. Choi Seo Ah satu ini memang tidak bisa tidak menjaga matanya dari pria-pria tampan.

Mendecih sendiri, Se Hun pun mendorong pintu kafe dengan sedikit kesal. Langkah kakinya jauh lebih lebar daripada saat berlari tadi, ia langsung menghampiri meja Seo Ah. Untungnya Se Hun tidak perlu melakukan apa-apa untuk menarik perhatian Seo Ah, karena wanita itu menyadari kehadirannya lebih cepat dari yang Se Hun bayangkan.

“Kau sudah datang?”

Seo Ah bertanya sambil tersenyum. Ah, tidak, maksudnya dengan sisa tawa yang ia bagi kepada pria yang duduk di depannya itu. Se Hun berani bertaruh, kalau tidak ada pria itu, Seo Ah pasti sudah melempar heels-nya bahkan ketika Se Hun masih ada di seberang jalan sana.

“Tentu saja aku datang, aku kan yang menyuruhmu menunggu di sini.” Se Hun membuat setiap kata yang diucapkannya perlahan agar terdengar jelas oleh pria itu.

Seo Ah melihat jam tangannya, lalu menunjukkan benda itu ke arah Se Hun. “Sudah 45 menit, dan kau masih bisa berkata seperti itu?”

“Aku sudah mencoba menghubungimu, tapi kau sama sekali tidak menjawab. Kukira ada apa ternyata sedang asik mengobrol dengan seorang pria muda.”

“Kau marah padaku?! Bolehkah aku mengingatkan siapa yang seharusnya marah di sini?!” ekspresi Seo Ah berubah, begitu juga dengan nada bicaranya.

“Aku menyuruhmu menunggu, bukan mengobrol.”

Seo Ah bangun dari duduknya, ia kini berdiri berhadapan dengan Se Hun. “Lalu aku harus menunggu seumur hidupku hanya dengan memandangi jendela kosong, begitu?!”

“Kau bisa menghubungiku.”

“Kau pikir, siapa yang membuatku datang ke sini?! Sudah seharusnya kau yang mengubungiku!”

“M-Maaf, bisakah kalian tidak bertengkar? Kurasa ini hanya salah paham.”

Mendengar suara lain yang ikut dalam pembicaraan, Seo Ah dan Se Hun sama-sama menolehkan kepala. Ternyata pria yang memakai mantel abu-abu itu sudah berdiri di tempatnya. Tangannya terangkat untuk menghentikan Seo Ah dan Se Hun yang sudah seperti ingin saling mencakar.

“Kau siapa?” tanya Se Hun sinis. Ia tidak bisa menahan matanya untuk tidak memperhatikan penampilan pria itu dari atas sampai bawah. Cih, dia pikir bisa menarik Choi Seo Ah dengan mata itu? Dan apa dia pikir Seo Ah menyukai style pakaian biasa-biasa saja? Apa itu? Hanya memakai jam tangan biasa saja sudah bertingkah sombong!

“Ah, saya Kim In Seong.”

“Dia hubae*-ku saat kuliah! Juga sekarang bekerja di Sungjin, kau puas?!” tambah Seo Ah dengan nada berapi-api karena ia yakin Se Hun tidak akan tahan dengan satu pertanyaan itu.

“Kau… berkerja di Sungjin?”

“I-Iya, Direktur. Saya staf dari departemen pemasaran.”

Beruntung juga anak ini, pikir Se Hun. Padahal Se Hun sudah siap menyemprot In Seong kalau dia sampai tidak mengenali siapa dirinya. Baiklah, untuk kali ini Se Hun akan membiarkan anak ini.

“Kau mengerti sekarang?” tanya Seo Ah. Meski sudah tidak berteriak, amarah di matanya tidak mereda.

“Sedikit, tapi tidak juga. Sudahlah, ayo kita pergi. Aku sudah lapar.”

Tanpa aba-aba sebelumnya, Se Hun menarik tangan Seo Ah dan membawanya keluar. Tidak dihiraukan pekikkan Seo Ah, atau saat In Seong memberikan salam pada mereka berdua. Se Hun hanya diam dan mengeratkan genggamannya. Ia menarik Seo Ah untuk menyeberang jalan, lalu kembali ke kantornya untuk mengambil mobil.

“Bisa tidak sih, kau sedikit lembut padaku?!” tanya Seo Ah setelah Se Hun mendorongnya masuk ke dalam mobil.

Se Hun menutup pintu mobil itu dengan keras. Ia pun memutari mobil dan masuk ke kursi pengemudi tanpa mengatakan apapun.

“Oh Se Hun-ssi!”

“Baik, siapa nama hubae-mu tadi?” tanpa menoleh, Se Hun bertanya sambil menjalankan mobilnya keluar dari area gedung.

“Kim In Seong.” Jawab Seo Ah. Dua detik kemudian, ia merasa bodoh karena menjawab pertanyaan Se Hun begitu saja. Ia pun menambahkan; “Kami tidak sengaja bertemu, dan akhirnya mengobrol panjang. Kau benar-benar tidak bisa melihat orang senang, ya?”

Bukannya menjawab pertanyaan sarkastik Seo Ah, Se Hun malah mengeluarkan earphone dan menelepon seseorang.

“Bagus sekali, sekarang kau pura-pura tuli.” Seo Ah mendecih. Ia pun mengalihkan pandangannya ke luar jendela.

“Oh, hyeong, ini aku. Bisakah kau mencari tahu Kim In Seong dari departemen pemasaran? … Hm, aku minta informasi yang lengkap…. Untuk apa? Kau tidak berpikir kalau sebaiknya kita mengurangi—“

Seo Ah mencabut earphone di telinga Se Hun dengan paksa dan melemparnya ke dashboard. Saat Se Hun menoleh—ingin protes—ia dihadapkan dengan Choi Seo Ah yang bernafas seperti ikan paus kehabisan udara dan wajah semerah cabai. Matanya seolah siap mencabik jantung dan limpa Se Hun sampai potongan terkecil, lalu merusak wajah tampan Se Hun dengan kuku-kukunya yang tajam. Meski mengerikan, entah mengapa itu terlihat menggemaskan di mata Se Hun. Ah… membuat Choi Seo Ah emosi adalah hal yang paling menyenangkan di dunia.

“Apa yang kaulakukan?!” pekik Seo Ah.

“Kenapa? Dia karyawanku. Aku bebas melakukan apa saja atas karyawanku.”

“Kau….” Seo Ah mendesis. “Ingin kulaporkan ke Menteri Tenaga Kerja, ya?!”

Se Hun mengangkat bahu sambil terus menyetir. “Aku mengenal beliau.” Jawabnya enteng.

YA!”

“Ah! Kau berisik sekali!” Se Hun mengorek telinganya yang sedikit berdengung karena teriakan Seo Ah. “Lagipula ini salahmu. Apa susahnya hanya diam menunggu dan memesan kopi sebanyak mungkin.”

“Lalu aku harus mengabaikan seseorang yang kukenal menyapaku, begitu?”

“Bukankah itu hal yang mudah?” Se Hun melirik Seo Ah, ia ingin tahu reaksi apa lagi yang dikeluarkan wanita itu.

Seo Ah menghela nafas keras. “Daebak! Kau benar-benar….”

Tiba-tiba saja Se Hun menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Ia pun membuka sabuk pengaman dan memutar duduknya agar bisa melihat Seo Ah dengan jelas. “Kita batalkan saja. Nafsu makanku jadi hilang seketika karena bertengkar denganmu.”

“Kau menyuruhku menunggu 45 menit untuk sia-sia?” tanya Seo Ah tidak percaya.

“Tidak ingat, kau menggunakan 45 menit itu untuk reunian.”

“Apa kau seorang pria?”

“Apa perlu aku tunjukkan di sini? Sekarang juga?”

Melihat senyum Se Hun dan tatapan nakal itu, Seo Ah mengepalkan tangannya. Tidak! Seo Ah tidak boleh terjebak di permainan kotor pria ini. Benar, saat sedang bersamanya, yang Se Hun lakukan hanya membuatnya kesal dan jengkel—dan kali ini pun harus Seo Ah akui, Se Hun berhasil melakukan itu. Seo Ah lapar dan lelah, belum lagi pekerjaannya masih menumpuk. Lebih baik ia keluar dari mobil ini dan kembali ke kantor. Ah, sambil berharap tidak pernah bertemu Se Hun lagi.

“Sudahlah. Aku kembali saja ke kantor.”

Trek!

Kunci pintu otomatis menyala ketika Seo Ah ingin menarik tuas pintu. Ia memutar kepala lagi, menatap Se Hun seolah ingin mengunyah pria itu. Lihat saja, setelah membuat Seo Ah kesal setengah mati, Se Hun masih bisa tersenyum seperti itu dan bergaya sok keren.

“Apa maumu?”

“Kita makan pasta. Makanan Korea tidak pas dalam suasana seperti ini.”

Setelah mengatakan itu, Se Hun kembali mengubah posisinya lalu menjalankan mobilnya.

***

                Pukul 8 Malam.

Keluar dari La Antoine Restaurant, Se Hun memasuki mobilnya dan meninggalkan restoran itu segera. Sambil mengemudi, ia mengedurkan dasi yang sedari tadi seperti mencekik lehernya. Di dalam restoran ia sama sekali tidak bisa bernafas. Kejadian tadi mengingatkannya dengan waktu itu—ketika ia pertama kali bertemu Ji Eun—hanya saja suasananya jauh berbeda.

Malam ini sangat menegangkan dan penuh emosi.

Dengan pertemuan keluarga tadi, Se Hun dan Ji Eun resmi berakhir. Meski ada ketegangan antara ibu Ji Eun dan ayah Se Hun tadi, akhirnya keputusan akhir pun dibuat. Ayah Ji Eun juga hadir tadi, tapi tidak banyak yang beliau lakukan. Beliau hanya minum wine sambil sesekali menanggapi ketika ibu Ji Eun bertanya padanya. Ibu Ji Eun yang paling menekan di sana, membuat Se Hun yakin kalau batalnya pertunangan ini bukanlah akhir dari segalanya.

Se Hun mengantisipasi kejutan lebih besar.

Dan yang paling membuatnya kesal, sampai akhir pun Ji Eun tidak jujur, atau paling tidak kepada keluarganya sendiri. Ia hanya mengucapkan maaf tanpa menjelaskan, membuat semuanya salah paham terhadap Se Hun. Jika saja Ji Eun jujur pada ibunya, pertemuan ini pun tidak mungkin ada, dan semuanya berakhir tanpa ada drama.

AISH! SIALAN!”

Mobil Se Hun berhenti karena lampu lalu lintas. Ia pun berteriak sendiri di dalam mobil sambil meremas rambutnya dan memukul roda kemudi. Ia marah. Marah kepada dirinya sendiri yang masih melindungi Ji Eun dari fakta mengerikan. Dan marah kepada Ji Eun yang terus memojokkannya secara tidak langsung. Ia membutuhkan alkohol sekarang. Se Hun harus mabuk dan membuatnya lupa masalah ini selama—ya… kurang lebih—beberapa jam ke depan. Dan kalau perlu, ia juga menginginkan seorang wanita penghibur.

Entahlah, mungkin Se Hun akan mati kecanduan alkohol karena masalahnya dengan Ji Eun tidak juga ada habisnya.

Mengalihkan padangan ke luar jendela, Se Hun menemukan sebuah minimarket 24 jam di pinggir jalan. Dari tempatnya, terlihat dua orang anak SMA yang sedang menikmati ramyeon instan di dalam sana. Pemandangan itu mengingatkannya dengan Choi Seo Ah yang makan ramyeon hampir tengah malam dengan pakaian olahraganya. Saat itu entah bisikan dari mana sampai-sampai Se Hun memutuskan untuk menghentikan mobilnya dan menghampiri wanita itu.

Ah… Choi Seo Ah…

                [Apa kau… sedang melihat wanita lain?]

Ia jadi ingat dengan pembicaraan dengan ayahnya kemarin. Se Hun memang tidak menjawab pertanyaan itu secara terbuka, tapi saat menjawab itu wajah Seo Ah-lah yang terlintas di otaknya. Setengah hati Se Hun masih tidak percaya kenapa ia melakukan itu. Tidak ada kenangan manis yang dibuatnya bersama Seo Ah, mereka hanya bertengkar setiap waktu. Bahkan ketika Se Hun bersikap manis pun Seo Ah membalasnya dengan sinis.

Semua itu bukan sesuatu untuk dikenang, tapi anehnya Se Hun terus-menerus mengingatnya, dan kadang tersenyum ketika membayangkan wajah marah Seo Ah.

[Apakah Se Hun menyukai wanita lain? Apa dia lebih baik dari Ji Eun kami? Kenapa kalian buru-buru memutuskan ini?]

Se Hun tanpa sadar mendengus, mengingat ucapan sinis Nyonya Jung tadi. Memang, untuk wajah dan penampilan, Ji Eun lebih baik, tapi setidaknya Seo Ah tidak munafik. Seo Ah bukan seperti wanita yang berpura-pura polos di depannya, menolak semua sentuhannya dengan mengatakan ‘ini belum saatnya’ sambil memerkan tatapan seperti anak anjing, sampai akhirnya Se Hun luluh dan menganggap itu nilai tambahan untuknya. Seo Ah juga sepertinya bukan wanita yang mau tidur dengan pria mana saja sampai hamil dan menggugurkan bayinya diam-diam.

Argh! Kenapa nama Seo Ah lagi yang muncul?!

Se Hun buru-buru menjalankan mobilnya ketika mendengar klakson dari mobil di belakang. Ia mengeluarkan ponsel dari saku jasnya. Melirik layar ponsel yang gelap itu sambil mengemudi, Se Hun ragu, haruskah ia menelepon Seo Ah atau tidak. Kalaupun iya, apa yang harus ia katakan? Akan memalukan kalau ia bilang ‘aku merindukanmu’ begitu saja. Belum lagi, ia juga yakin Seo Ah akan langsung meneriakinya kalau Se Hun benar-benar mengatakan itu.

Ponsel itu masih ada di genggaman Se Hun bahkan ketika mobil itu berhenti di lampu lalu lintas berikutnya. Dua sisi berlawanan Se Hun terus saja berkelahi. Ia bingung mana yang harus dimenangkan—pikiran warasnya, atau hatinya. Sampai akhirnya jari-jari itu bergerak sendiri, mencari kontak Choi Seo Ah (tapi dengan mulut yang tidak berhenti mengumpati dirinya sendiri), lalu menghubungi nomor itu.

Nada tunggu yang terdengar membuat detak jantung Se Hun bertambah cepat. Satu sisi ia berharap Seo Ah tidak mengangkatnya, namun sisi yang lain ingin sekali mendengar suara wanita itu. Dan ketika suara Seo Ah menyapa, Se Hun tidak tahan untuk tidak tersenyum.

“Kau di mana?” tanya Se Hun.

“Taman,” jawab Seo Ah. Terdengar helaan nafas tidak teratur dari seberang sana. “Kenapa?”

“Bersepeda?”

“Iya.”

“Baiklah, tunggu aku.”

“A-Apa—“

Se Hun memutuskan panggilan dan langsung menginjak pedal gasnya dalam-dalam. Benar, ia memang merindukan wanita itu, dan secepatnya ingin bertemu dengannya.

***

                Seo Ah menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut. Apa-apaan pria itu? Meneleponnya tiba-tiba dan mengatakan hal yang tidak dimengertinya. Untuk apa Seo Ah menunggunya? Dasar aneh!

Tidak mau ambil pusing tentang itu, Seo Ah memasukkan ponselnya ke saku jaket dan kembali mengayuh sepedanya. Sudah hampir memasuki musim dingin, udara mulai menusuk sampai tulang. Tapi meski begitu Seo Ah tetap menyukai bersepeda di malam hari. Melihat pasangan tua berjalan berdua di taman, keluarga kecil yang menghabiskan waktu istirahat mereka sambil bermain bola, atau melihat pasangan muda yang bermesraan di pinggir sungai. Seo Ah suka sekali memperhatikan orang-orang—apalagi kalau secara kebetulan bertemu pria tampan.

Seo Ah mengayuh sepedanya pelan-pelan sambil menikmati udara malam. Ia sengaja tidak mendengarkan musik apapun untuk bisa merasakan suara angin berhembus di sekitarnya. Ia juga bisa mendengar alunan gitar merdu dari seorang penyanyi jalanan yang sedang melakukan busking di sisi jalan.

“Bip! Bip!”

Seo Ah terkejut sampai membuat sepedanya oleng sesaat, sebelum akhirnya ia menurunkan kedua kakinya ke tanah. Hampir saja ia mempermalukan dirinya sendiri karena meneriaki pesepeda yang dengan-kurang-ajar-berteriak-seolah-Seo Ah-wanita-tuli itu, kalau ia tidak mengenali dengan cepat siapa dia.

“Kau ingin mati, ya?!”

Se Hun memamerkan sederetan giginya. “Kau terkejut? Maaf.”

Seo Ah mendecih mendengar permintaan maaf yang bukan permintaan maaf itu. Dilihat dari penampilannya, Se Hun sepertinya tidak dari rumah atau memang berniat bertemu dengan Seo Ah dari awal. Pria itu memakai kemeja formal berwarna hitam yang sudah sedikit berantakkan di balik mantel biru tuanya, lengkap dengan celana bahan dan sepatu pantofel. Apa dia baru pulang kantor? Di hari libur? Ah, sudahlah! Itu bukan urusan Seo Ah.

Tapi meski begitu, Seo Ah tetap bertanya, dengan wajah pura-pura tidak tertarik. “Darimana? Dengan pakaian seperti itu.”

“Pertemuan keluarga.”

Seo Ah mengangguk. “Lalu untuk apa ke sini?”

“Bertemu denganmu.”

Seo Ah mendesiskan ‘heol’ begitu mendengar jawaban Se Hun. Benar-benar playboy, dengan mudahnya dia membuat jantung Seo Ah berhenti berdetak selama beberapa detik. Untung saja Seo Ah dengan cepat menguasai diri. Ia tidak boleh jatuh seperti wanita murahan di luar sana.

“Oh, terima kasih, tapi aku sedang tidak ingin melihat wajahmu,” ucap Seo Ah sarkastik. Ia pun kembali menaiki sepedanya dan meninggalkan Se Hun.

Se Hun dengan cepat menyusul, ia mengendarai sepedanya di sebelah Seo Ah. “Kau harusnya bersyukur karena dirindukan Oh Se Hun.”

“Cih, apanya yang harus disyukuri?!” balas Seo Ah.

“Tentu saja harus. Jarang sekali aku merindukan wanita yang sudah bersuami, loh.”

Ciit!

Seo Ah menghentikan sepedanya secara mendadak, sampai dirinya sendiri terdorong ke depan. Ia melirik Se Hun yang juga menghentikan laju sepedanya. Pria itu tersenyum manis padanya, membuat Seo Ah yakin kalau Se Hun sudah mengetahui fakta sebenarnya.

“Ah, siapa nama suamimu waktu itu? Jeong… Jeong… ah, pokoknya yang dokter itu, kan? Aku bertemu dengannya waktu mengantarmu ke rumah sakit waktu itu. Tapi, kalau dilihat-lihat, dia lebih seperti kakakmu daripada suamimu.”

Ekspresi Seo Ah langsung datar begitu mendengar serentetan kalimat Se Hun itu. Pria ini memang ahli membuat kata-kata semacam itu—berpura-pura bodoh tapi sebenarnya lebih tahu daripada yang seharusnya ia tahu. Itu membuat Seo Ah kesal dan ingin melumuri wajah sok tampan itu dengan lumpur.

“Lupakan. Kau membuatku kesal.”

Seo Ah mendengus, lalu kembali meninggalkan Se Hun. Kali ini ia mengayuh sepedanya lebih cepat. Ia ingin melepaskan diri dari makhluk ini secepatnya.

Tapi gerakkan Seo Ah bisa dibaca Se Hun. Pria itu pun mengayuh sepedanya dengan cepat, sampai membuatnya beberapa meter di depan Seo Ah. Awalnya Seo Ah tidak mempermasalahkan itu, toh itu bagus melihat Se Hun berada dalam jarak yang jauh. Tapi kemudian, Se Hun berhasil menaikan emosinya. Pria itu menolehkan kepalanya ke belakang dan menunjukkan eskpresi mengejek. Bukan hanya itu, pria itu pun sengaja memelankan laju sepedanya selama beberapa detik agar Seo Ah bisa sejajar lagi dengannya.

“Kau mau apa, sih?!”

Bukannya menjawab, Se Hun malah tersenyum miring dan melaju dengan cepat. Dada Seo Ah bergemuruh. Kurang ajar! Dia pikir bisa mengalahkan Seo Ah di sini? Di daerah rumahnya sendiri?

Seo Ah mengayuh sepedanya dengan kuat, sampai ia bisa menyamai sepeda Se Hun. Kali ini Seo Ah yang tersenyum miring pada Se Hun. Tapi keadaan itu tidak berlangsung lama, karena Se Hun kembali mengulang aksinya. Ia berhasil membuat Seo Ah marah untuk kesekian kalinya.

Itu terus berulang-ulang sampai kejar-kejaran dua sepeda itu pun tidak terhindarkan. Mereka sama-sama tidak menyadari tawa lepas yang saling mereka lemparkan. Angin malam yang berhembus menerbangkan lambut mereka berdua. Di tengah hiruk-pikuk kota yang teredam pepohonan, dua anak manusia yang bersepeda berpacu dengan angin membuat suasana malam tampak lebih terang.

Dua sepeda itu sudah meninggalkan taman, sekarang melaju di atas jembatan. Kendaraan-kendaraan lain di jalan raya tidak menghentikan semangat mereka untuk saling mendahului. Nafas mereka sudah terputus-putus, tapi tetap tidak ingin dikalahkan. Sampai akhirnya Seo Ah-lah yang pertama kali menyerah dan menghentikan sepedanya.

“T-Tunggu! Baiklah, aku menyerah!” teriak Seo Ah dengan nafas terengah-engah, membuat Se Hun yang sudah beberapa meter di depannya juga berhenti dan berbalik badan.

Se Hun turun dari sepeda dan mendorongnya lebih dekat ke Seo Ah. “Sudah kubilang, aku memang hebat.”

“Terserahlah.” Ucap Seo Ah sambil berjalan ke pembatas jembatan. Ia meneguk air mineral dari botol yang dibawanya di sepeda sampai setengah habis. Ia masih memiliki hati untuk menyisakan sedikit air untuk Se Hun.

Se Hun menerima botol yang diulurkan Seo Ah. “Terima kasih.”

Berbalik badan, Seo Ah menghirup nafas dalam-dalam. Sungai di bawahnya terlihat seperti kaca hitam raksasa yang berkilauan karena lampu bangunan di sekitarnya. Seo Ah merasakan udara dingin dan hangat bersamaan. Ia selalu suka sungai di malam hari, kontras dengan suasana kota, sungai memberikan ketenangan untuknya.

“Ah… enaknya….” Se Hun mengikuti Seo Ah berdiri sambil melihat sungai di depannya.

“Aku selalu suka sungai di malam hari.”

Se Hun memutar kepalanya untuk melihat Seo Ah. Wanita itu tersenyum sangat lepas, seolah rasa bencinya kepada Se Hun tidak pernah ada, dan itu membuat Se Hun ikut tersenyum tipis.

“Apa kau tidak penasaran dengan pertemuan keluargaku?” tanya Se Hun.

Seo Ah mengangkat bahunya. “Untuk apa? Lagipula itu keluargamu.”

“Bersama keluarga Ji Eun.”

Mendengar jawaban Se Hun, Seo Ah memutar kepalanya dengan cepat. “Kalian… kembali bersama?”

“Tidak, justru sekarang sudah resmi dibatalkan.” Jawab Se Hun tanpa menatap Seo Ah. Matanya hanya menerawang ke kejauhan.

“Oh, begitu.”

Seo Ah tidak mengerti kepada dirinya sendiri. Ia merasa kesal tapi senang dalam waktu bersamaan. Kesal karena pria ini masih menjadi pria brengsek yang menyakiti hati sahabatnya, namun ada sedikit letupan di perutnya ketika tahu Se Hun memilih tidak lagi bersama dengan Ji Eun. Ini memang terdengar bodoh, Seo Ah sendiri pun tidak paham.

Seo Ah melirik Se Hun. “Kenapa kau sangat membenci Ji Eun?”

“Aku tidak bisa mengatakannya padamu karena aku tidak mau kau membenci Ji Eun juga.”

Itu bukan jawaban yang mau Seo Ah dengar. Jawaban Se Hun yang ambigu itu malah membuat Seo Ah tambah penasaran. Seo Ah sebenarnya benci ikut campur urusan orang lain, sama seperti orang lain yang ikut campur urusannya. Tapi untuk masalah ini, ia benar-benar penasaran. Seorang Oh Se Hun ini sepertinya pernah menyukai sahabatnya, namun kenapa harus berakhir seperti itu? Ji Eun pun terkesan tidak ingin menceritakan semuanya dengan jelas. Seo Ah jadi tidak tahu harus berpihak pada siapa sekarang.

“Kau… terlihat seperti pria jahat sekarang.” ucap Seo Ah setelah menghela nafas panjang.

“Bukankah kau selalu melihatku begitu?” Se Hun melirik Seo Ah dengan senyuman khas playboy-nya. “Sebagai pria berengsek.”

Ah, benar juga, Seo Ah bergumam dalam hati. Kenapa dia menjadi plin-plan belakangan ini? “Kurasa kau tidak terlalu buruk juga.”

Se Hun tertawa mendengar jawaban Seo Ah. Ya, ia baru ingat kalau Seo Ah adalah wanita aneh. Padahal siapa yang dulu paling sering menyebutnya ‘brengsek’, bahkan sampai berniat melemparnya ke dalam sungai? Choi Seo Ah yang dulu seperti pahlawan kesiangan yang rela mengorbankan apa saja untuk Lee Ji Eun, termasuk mengubur Se Hun hidup-hidup. Dan sekarang, wanita ini malah menyayangkan sikapnya di pertemuan keluarga tadi. Apa gambaran Se Hun sudah berubah di matanya?

“Kenapa kau tidak mencobanya sekali lagi? Bersama Ji Eun.”

“Kau tahu, apa yang kukatakan pada orangtuaku di pertemuan tadi?” bukannya menjawab, Se Hun malah balas bertanya pada Seo Ah.

“Apa?”

Seo Ah mengubah posisinya, sehingga ia bisa melihat profil Se Hun dari samping dengan jelas. Keindahan garis wajah Se Hun tampak semakin tegas dengan kilauan lampu gedung-gedung di kejauhan sana. Penerangan cahaya di jembatan tepat berada di atas kepalanya. Seo Ah merasa sesuatu baru saja masuk ke dalam matanya, karena tiba-tiba saja ia menganggupi sosok Se Hun. Rambut hitamnya menyatu dengan angin awal musim dingin. Matanya, hidungnya, dan garis rahang itu seperti lukisan yang dibuat sepenuh hati oleh Tuhan. Pandangan Seo Ah turun ke tubuh Se Hun yang dibalut mantel biru tua. Pria ini termasuk kurus, tapi entah kenapa Seo Ah merasa kalau tubuh itu cukup kuat untuk melindunginya. Apalagi dengan jari-jari tangan yang panjang itu. Se Hun benar-benar seperti ciptaan terindah.

Dan tiba-tiba saja sosok yang tengah Seo Ah perhatikan itu memutar tubuhnya. Seo Ah tersentak di tempat, dan buru-buru mengatur ekspresinya. Akan sangat memalukan kalau ia tertangkap basah menganggumi Se Hun.

“J-Jadi apa?”

Se Hun tersenyum padanya. “Karena aku menyukai wanita lain.”

Baru saja beberapa detik yang lalu Seo Ah mengaggumi Se Hun sampai air liurnya hampir menetes, lalu kemudian ia dibuat terkejut dengan tatapan mata yang tiba-tiba menatap tepat di matanya. Se Hun membuat jantungnya bekerja keras sekarang. Ucapannya… tatapan itu… seolah hanya untuk Seo Ah. Nafas Seo Ah tercekat di tenggorokan, menahan suatu ledakkan di perutnya.

“A-Apaan, sih?!” menutupi kegugupannya, Seo Ah berteriak keras. Cukup keras sampai membuat tenggorokannya sakit. “Tahu tidak, cara menggodamu ini sudah basi! Wanita tidak akan lagi terjatuh hanya karena kau menatapku begitu.”

Se Hun masih mempertahankan senyumnya, ia pun menyenderkan punggung lebarnya ke pembatas jembatan. “Lalu?”

Seo Ah juga membalikkan badan. Ia kembali memandang sungai untuk meredakan deguban jantung gilanya. “Wanita sekarang sangat suka bermain tarik-ulur. Kami sangat tidak suka pria yang menggoda kami terang-terangan.”

“Seperti… ungkapan “bencilah diriku, tapi jangan berhenti mengejarku”.” Lanjut Seo Ah. Sebenarnya wanita itu hanya sedang mencari bahan untuk mengalihkan dirinya sendiri dari debaran-yang-belum-siap-ia-rasakan-sekarang.

“Kalian ternyata rumit sekali.” Sahut Se Hun sambil terkekeh.

“Begitulah. Karena kami spesial.” Seo Ah masih belum berani melirik Se Hun. Ia terus-terusan melihat ke arah lain.

Se Hun tidak juga menanggapi selama beberapa saat, menciptakan keheningan yang berhasil membuat kaki Seo Ah gemetaran. Seo Ah pun memainkan ujung rambutnya yang diikat ekor kuda untuk menghilangkan gemetar yang mulai menjalar ke tangannya. Sial! Ia benci suasana ini. Kenapa juga ia harus merasa berdebar di depan pria brengsek ini?!

Merasa ini tidak akan berhenti hanya karena mereka saling diam, Seo Ah pun memutuskan untuk pergi dari sana. Ia meraih sepeda, menaikan standarnya. “Sudahlah, aku ingin pulang. Sampai jumpa.”

Dengan tidak terduga, Se Hun menahan tangan Seo Ah yang baru saja ingin menaiki sepedanya. Mata wanita itu membulat seketika. Ia tidak menyangka kalau Se Hun akan bertindak sejauh ini, namun tetap saja Seo Ah tidak bisa melakukan apa-apa. Ia hanya diam di tempat, menahan nafasnya, dan menunggu Se Hun untuk melanjutkan apa yang ingin dilakukannya.

“Aku membencimu.” Ucap Se Hun, dengan tatapan lurus ke mata Seo Ah.

“A-Apa?!”

“Aku membencimu, oleh karena itu kau tidak boleh jauh dariku.” Satu langkah—Se Hun mendekat. “Agar aku bisa selalu membencimu.”

■■■


*Omo  (오모) : Ungkapan terkejut

*Gochujang (고추장) : Pasta fermentasi cabai khas Korea

*Hubae (후배) : Adik kelas / Adik tingkat / junior

*Yah… entahlah dengan chapter ini T.T

Jadi menurut kalian, haruskah aku ngelajutin honey cacti atau enggak? Soalnya respon kali ini gak sama kayak 10 Steps, author sedih T.T jadi takut apa emang ceritanya jelek ya…

Oh iya, mungkin chapter selanjutnya (kalau emang responnya dirasa cukup bagus buat lanjut) agak lama ya. Aku lagi ada acara 2 minggu ini, bakalan susah cari waktu buat full nulis. Ini aja dikebut 3 hari, untung konsepnya udah ada.

Thanks for reading ^^ kritik dan saran diterima loooh

*btw SF9 sudah menjamah FFs ku HAHAHAHAHA*

Regards: Ziajung (vanillajune.wordpress.com / wattpad: ziajung)

Advertisements

45 responses to “Honey Cacti [Chapter 5]

  1. Wah knp cepat kali tbc padahal penasaran kali apa yg ingin sehun lakukan sama seo ah
    Lanjut thor jgn berhentikan ok 😊😊😊
    Jebal thor ditunggu y

  2. Ahh kaa, tolong di lanjut ini!! Jebal!! Aku suka banget deh! Serius! 😅 ahh aku greget sama sehun deh, knapa ga dia bilang aja sii yg sebenrya, biar kelar gitu masalahnya. Ngapain dia nutup2in si ji eun, tar emaknya ji eun malah ngelakuin yg engga engga lagi 😌 si ji eun juga ihh, jujur aja knapa sii? Wkwk
    si sehun suka banget deh godain si seo ah. Tapi serius deh mereka kocak banget kalo udah ketemu. Berantem tapi kangen 😊 si sehun knapa bilang “aku membencimu” sii? Langsung aja bilang suka gitu bangg!! Wkwkw. Next ya kaa. Tolong dilanjutin, aku tunggu in lohh 😁

  3. Omooo akhirnya sehun benar2 terlepas dr hubungannya sma ji eun, aku harap ibunya jieun ga bertindak lebih jauh lg..
    Cieee sehun akhirnya udah jatuh Cinta sama seo ah, dan kenapa sehun ga bilang jujur aja sih tentang hubungannya dengan jieun yg berakhir jd greget pan..

  4. ceritanya menarik.. suka sama model model sehun gitu.. semoga seo ah sama se un ssegera jadian.. ditunggu chapter selanjutnga.. fighting!!!!

  5. Finally dipost jugaaaa, akhirnya pertunangannya gagal yeayyy!
    next chap banyakin sehun&seo ah ya thor :3 keepwriting!&fighting😊

  6. omayaa~ update juga.
    sehun-seoah mkin ucul aja. gue ikutan ngakak pas adegan d ruang rapat. sehun ulululuu km kyanya udah mulai terang2an deh. dan ternyata jieun aku tdak mnyaka kamu…!@^&#(‘”;; emaknya jieun jahara . dan plisss lanjut eon aku suka bnget tau sma ceritanyaa. fighting eon!!

  7. paraahh sih chap kali ini aku baca ikutan deg degan literally baca dari awal udah deg deg an pas akhir juga uuhuhuuu

    AHHH THOR LANJUT YA AYAYYAYAYA
    AKU SUKA BGT TULISAN AUTHORR

    SEMANGAT YA THOR SEMANGAT JUGA ACARANYA SEMOGA LANCARR LUV LUV

  8. Arrgghh pliss lanjutin ceritanya. Aku penasaean sama pasangan sehun seo ah.. Aku seneng karakter sehun arrgghhh pokonya plis dilanjut. Sehun nya bikin greget. Baca chap ini bikin merinding plus degdegan hehehehe

  9. ceritax menarik koq jdi harus tetep lanjut y author-nim…hehehehe suka ama cara Sehun ngedeketin seo-ah, ntar d ajak ribut ntar d ajak ngobrol brg….pkokx ska deh ama ff ini

  10. Wahhh Kerennn banget.d lanjuttt dong penasaran sama Sea ah dan sehun nih.makin penasaran nih kedepannya d tunggu next chapter nya figting🙋🙋🙋

  11. Dilanjut dong, jangan sampai berhenti di sini,
    Apakah itu yang dikatakan sehun benar, ku harap itu hanya bualannya saja

  12. Modus si cadel -_- kata ‘cinta’ di ubah ‘benci’ ckck
    Tp makna nya dalemmmm

    Kalo Seo Ah mulai jatuh cinta sm sehun, bukannya itu ‘pengkhianatan’ ya? T_T temen makan temen

  13. dah update lg nih…makin seru ceritanya. ciee cara sehun nembak beda bgt pake katq benci padahal cinta.
    tetep lanjut dong thor, penasaran ma kelanjutannya

  14. Haha seyum2 sendri bacanya.
    Sekarang gantian sehun yg benci sama seo ah,
    itu alasan supaya sehun mkin dekat dengan seo ah,
    oh itu alasan knp sehun mutusin pertunangan mereka,
    eomma ji eun picik sekali pemikirannya nyuruh ank nya bersetubuh dengan peria lain dh itu ngaku klok dy hamil anak seehun yaampun benci x.
    Next thor

  15. Lanjut kak, pokoknya kakak kudu ngelanjutin ff ini karna ini ffnya keren kaaakkkkk pokoknya kakak kudu ngelanjutin ini lah

  16. Lanjut kak lanjut!!!! Ceoet banget keknya di post nya aku sukaaa makasih ya kak. Critanya keren. Fighting lanjutnya!!!

  17. Kyaaaaaa!!! keren kak ff-nya. ♥♥♥
    suka banget sama semua karakternya. Logis.
    apalagi ttg usia mereka.

    btw, akhirnya nemu ff yg yeojanya ngga cantik, tapi manis. hhh

    sebel jg sih sama eunji yg gak mau jujur, apalagi sifat ibunya. idihh.. pengen nabok rasanya. -_-

    Maafin ya baru bisa komen dichap 5

    SEMANGAT BUAT CHAP SELANJUTNYA KAKAAA. .!! JJ

  18. Bukannya itu karma buat Sehun? Dia juga suka mainin wanita atau mungkin dia gak separah Jieun, entahlah. Eomma Jieun jahat anak sendiri digituin ihh. Asekkk Sehun kalo kayak gini terus bisa berabe jantung dagdigdug mulu bawaannya senyum terus pas baca modus banget deketin Seo Ah… Part 5 bener2 something. Seo Ah hatinya sudah mulai terkutuk.

  19. “Aku membencimu, oleh karena itu kau tidak boleh jauh dariku.”

    Kok ngena banget yaa, suka banget 😍
    Semangat sehun! Buat seoah lupain kai, terus seoah jatuh cinta sama sehun, jadinya bahagia deh kalian berduaaaa kkkk~

  20. Tambah greget aja mereka berdua. Uluhuluhhhh bilang aja cinta hun. Suka banget sama ceritanya. Lanjut dong kak! Penasaran banget kisah selanjutnya. Gimana reaksi seo ah sama bomi ttg jieun? Kelanjutan couple ini? Uahhhhh jadi perang dunia klo jieun tau sehun lope2 sama seoah.. lanjut ya kak! Aku dan sehun mendukungmu!!!! Muahhh

  21. omaigattttt berasa mimisan sendiri ngebaca scene terakhir. bayangin sehun ngomong gt didepan kita wkwkwkwk *menghayal tingkat tinggi. btw benciii banget deh sama so mi. kurang ajar dan jahat banget, tega bener sama ji eun-_-
    berharap kisah sehun seo ah bisa lebih romantis lagi dan mereka mulai saling suka

  22. ekkwkw pertengkaran mereka berasa kek abg labil apalagi waktu di ruang rapat, bikin ngekek sendiri..
    ,seru kk makin kesini makin asikkk..tp aku heran deh sm ibunya ji eun, gileee benerrr sumfehhhh..uda ga waras tu otaknya . masa iyaa nyuruh anak sendiri tidur sm orang biar dia hamil.. oh astaga itu ibu apa setan *oopss emosi kk..

  23. Oho, terjadi pengakuan disini, banyak sekali misteri yang terungkap di chap ini,,
    Author-nim, lanjut terus dong yaa, ini ceritanya bagus kok, suka banget sama ceritanya ini please jangan di gantung di tengah jalan yaaa,,

  24. Yeyeye lalalala
    Yeyeye lalalala
    Ini chapter favourite aku!!!! Semua misteri mulai kebuka dan moment Seo Ah – Sehun bertebaran. Aaaaaa chapter ini tersweet bangetttt. Dear author jangan lelah dan menyerah untuk terus lanjut story ini yaaa ^^

  25. Kenapa sehun masih nutupin? Gak kebayang gimana ekspresi seo ah kalo tau yg sebenarnya. Masa sih cewe sekarang sukanya tarik ulur? Kok aku nggak ya? Apa jangan-jangan aku…….. Yasudahlah… Sudah biasa 😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s