[CHAPTER 13] SALTED WOUND BY HEENA PARK

salted-wound-cover

“Kau milikku, sudah kukatakan dari awal, bukan? Kau adalah milikku.”- Oh Se-Hun

.

A FanFiction 

by

Heena Park

.

SALTED WOUND’

.

Starring: Shin Hee Ra-Oh Se Hun-Kim Jong In

.

Romance–Incest-Thriller–PG15–Chaptered

.

Wattpad : Heena_Park

Facebook : Heena

Instagram : @heenapark.ofc

.

Notes : ff ini juga aku share di WATTPAD. And thanks to Byun Hyunji for this awesome poster!

.

.

Keduanya masih terpaku, berbaring santai di Piazza San Marco. Awalnya Hee-Ra menolak, tapi lagi-lagi Se-Hun berhasil mempengaruhinya. Untung saja sekarang sudah menginjak pukul dua belas malam, jadi daerah Piazza San Marco sepi dan mereka bisa tidur sesuka hati.

 

Mereka memandang indahnya bintang-bintang di langit yang tak tertutupi oleh gedung di sekitarnya. Memberikan ruang santai sejenak untuk keduanya, bahkan Hee-Ra tak pernah berpikir kalau hal-hal kecil seperti ini mampu mempengaruhi suasana hatinya menjadi hangat dan lebih baik.

 

Well, rupanya Se-Hun si pembunuh berdarah dingin inilah yang mampu memberikan Hee-Ra sensasi berbeda. Tunggu dulu, perasaannya yang telah lama hilang tidak mungkin kembali, kan?

 

“Sudah lama aku ingin berbaring di sini,” kata Se-Hun membuka pembicaraan. “Apa keinginanmu dalam hidup yang belum tercapai?”

 

Ia berpikir sejenak. “Sejak kejadian beberapa Minggu lalu yang mengakibatkan aku gagal tampil, aku jadi berpikir kalau menginginkan sesuatu hanya bisa membuatmu sakit hati bila tak tercapai.”

 

Se-Hun menggeleng tak setuju. Ia tidur menyamping memandang Hee-Ra. “Karena keinginan itulah kau tetap bisa bertahan hidup. Apa asiknya hidup tanpa keinginan?”

 

Rupanya sang kakak telah berubah jadi berkali-kali lebih bijak dan dewasa dari sebelumnya. “Lalu apa keinginanmu yang belum terwujud?” Ia balik membalas tatapan Se-Hun dan berusaha mencari kejujuran di sana.

 

Nyala matanya meredup, Se-Hun kembali berbaring di tanah. “Membahagiakanmu.”

 

Telinganya tidak salah dengar, kan? Se-Hun barusan berkata ingin membahagiakan Hee-Ra, kan?

 

“Kau adalah satu-satunya alasan bagiku untuk bertahan, kau adalah tujuanku.” Ia menutup kedua matanya, paham kalau Hee-Ra tengah canggung berada di sampingnya. “Kau tidak perlu menganggapnya sebagai beban, kau hanya perlu berjalan seperti biasa sampai suatu hari nanti usahaku akan mengetuk pintu hati terdalamu.”

 

“Tapi kita adalah saudara, Oh Se-Hun.”

 

Se-Hun tertawa hambar. “Saudara macam apa? Kau bahkan tak pernah memanggilku kakak, kau terus-terusan memanggilku dengan ‘Se-Hun, Oh Se-Hun’. Kurasa kau tidak menganggapku sebagai kakakmu.”

 

“Ti-”

 

Belum sempat Hee-Ra menyelesaikan ucapannya, Se-Hun sudah lebih dulu menutup mulut gadis itu dengan jari telunjuknya. “Ketika waktunya sudah tiba kau akan tahu segalanya, semua hal yang mungkin membuatmu salah paham, semua hal yang mungkin menjadi alasan untuk menjauhiku. Kau hanya perlu menunggu, Shin Hee-Ra.”

 

 

 

 

 

 

Lelah.

 

Satu kata yang berhasil menggambarkan keadaannya saat ini.

 

Jong-In baru menyelesaikan serentetan tugas kuliah juga latihan tarinya sementara jam telah menunjukan pukul setengah sebelas malam. Awalnya Emma berniat menemaninya berlatih di studio, namun Jong-In menolak dan menyuruh gadis itu pulang. Dia hanya tidak ingin dikira memberi harapan untuk Emma, apalagi Hee-Ra masih berada di Venice.

 

Ia mengendarai mobil dengan agak ngantuk, matanya seolah tak bisa diajak bekerja sama.

 

Ponselnya berbunyi, Jong-In mendecak kesal dan berusaha mencari di mana benda kecil tersebut sambil terus memfokuskan pandangan ke depan. Begitu ia mendapatkan benda yang dicari, Jong-In mengerukan keningnya. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tak ia kenal?

 

 

 

‘Buka e-mailmu.’

 

 

 

Email?

 

Tanpa pikir panjang Jong-In segera membuka kotak masuk emailnya, terdapat pesan dari orang ber-ID ‘mrmaskmdr@gxxxx.com’. Eh, siapa dia?

 

Sambil sesekali melirik jalan juga tangan kanan yang terus memegang kemudi, Jong-In menunggu foto yang dikirimkan orang itu muncul. Namun apa yang ia dapatkan? Matanya melebar begitu menyadari bahwa foto yang dikirimkan melalui email padanya merupakan sosok Se-Hun yang tengah mencium kening Hee-Ra di atas sebuah kapal.

 

Apa ini sungguhan?

 

Tidak! Pasti Jong-In salah lihat. Wanita yang di foto tersebut mungkin hanya mirip dengan Hee-Ra. Baiklah, sekarang coba Jong-In akan memperbesarnya, pasti akan kelihatan dan terbukti kalau Hee-Ra bukanlah gadis yang ada dalam foto tersebut.

 

Jantungnya berdegup dua kali lipat lebih kencang, kedua bola matanya makin membulat dan berusaha untuk meyakinkan diri bahwa gadis itu bukanlah Hee-Ra. Namun, Jong-In gagal. Kenyataan rupanya sedang tidak berpihak pada pikirannya. Mau dilihat berkali-kalipun ia tak bisa menampik kalau memang kekasihnyalah yang di foto.

 

Kenyataan membuktikan kalau Hee-Ra membiarkan dirinya dicium oleh si keparat Se-Hun.

 

Matanya terasa berkunang-kunang, rasa pusing di kepalanya semakin memuncak hingga Jong-In tak bisa memfokuskan pandangannya ke jalan dan lebih memberatkan foto dalam ponselnya. Hatinya bergejolak sakit hati, ia merasa dikhianati walau tahu jika Se-Hun adalah kakak kandung Hee-Ra.

 

Entah kenapa rasanya benar-benar sakit. Ia tidak melihat keduanya sebagai kakak-adik, melainkan sebagai pasangan.

 

“Sialan, aku akan membunuhmu, brengsek!” Jong-In membanting ponselnya karena tak tahan. Ia diliputi kemarahan. Untuk pertama kalinya dalam hidup Jong-In membenci seseorang seperti ini. Ya, dia membenci Se-Hun, pria arogan yang selalu mencampuri percintaannya dengan Hee-Ra dan terkesan ingin memiliki adiknya sendiri.

 

Detik berikutnya, karena kemarahan yang menyulut dan berapi-api, Jong-In benar-benar tak memberikan sedikitpun fokus ke jalan. Ia tak menyadari ada kendaraan lain dari arah berlawanan yang tengah melaju kencang ke arahnya. Hingga akhirnya kepalanya menengok dan mendapati kesilauan akibat lampu dari kendaraan tersebut. Mulutnya membulat kebingungan, Jong-In berusaha meminggirkan mobilnya, namun ia telat karena rupanya kendaaran tersebut lebih cepat dari pemikirannya. Tabrakan antar kedua kendaraan itu tak bisa dihindari lagi.

 

Bunyi keras akibat bertubrukannya kendaraan mereka membuat orang-orang berkerumun. Tubuhnya terhimpit, wajah juga tangannya berdarah-darah, kepalanya serasa berputar-putar dan kemudian semuanya gelap.

 

 

 

 

 

 

“Terjadi kecelakaan di jalan-“

 

Jasmine mematikan televisinya. Ia sudah cukup mendengar juga membaca tentang berita kecelakaan hari ini. Rasanya sampai ingin mual.

 

“Orang-orang itu selalu menyusahkan orang lain.” Ia mendecak beberapa kali. “Bahkan jika masalah utama ada pada mesin kendaraan, tetap yang disalahkan adalah si pengendaranya. Itulah alasan kenapa kami sering merekayasa mesin kendaraan target.”

 

Thomas terdiam mendengar ucapan atasannya. Ia mendepat sebuah amplop coklat berisikan data yang diminta oleh Jasmine.

 

“Pada akhirnya ketamakan manusia sendirilah yang akan membunuh mereka.” Ia menengok ke arah Thomas. “Kau melihat berita di televisi barusan, kan? Mereka saling menyusahkan satu sama lain,” ujarnya ringan.

 

Pada dasarnya manusia memang seperti itu, saling membantu, kadang juga saling menyusahkan. Tapi semua kembali pada takdir.

 

“Saya sudah membawa data yang anda inginkan, Miss. Rochester,” gumam Thomas yang sedetik kemudian menaruh amplop coklat di depan Jasmine.

 

Pelayannya yang satu ini memang paling bisa diandalkan. Jasmine tersenyum puas dan segera membuka amplop pemberian Thomas. Matanya berbinar menatap sosok cantik dalam gambar. “Ah, jadi dia yang namanya Shin Hee-Ra.” Jasmine mengangguk-anggukkan kepalanya. “Cantik, kelihatannya dia orang baik-baik. Sayang sekali kau harus dicintai oleh orang seperti Se-Hun.”

 

Jemari lentiknya kembali mengambil beberapa kembar kertas di dalam amplop dan mulai membacanya. Di sana tertulis beberapa informasi mengenai Hee-Ra. Mulai dari sanak saudara sampai pendidikan juga kekasihnya. Jasmine bergeming sebentar, mencoba mengingat sesuatu dan kemudian mulai mengeluarkan suara, “Well, jadi dia putri salah satu targetku? Sungguh malang hidupmu, nak,” katanya lantas tertawa begitu keras.

 

Ia merasa tak perlu susah-susah untuk menghancurkan Shin Hee-Ra, karena rupanya ia telah memulai sejak belum mengetahuinya. Tinggal tunggu tanggal mainnya saja, gadis itu akan hancur dengan perlahan dan begitu menyakitkan.

 

 

 

 

 

 

Hee-Ra tengah menyantap sarapannya ketika Shin Jae-Woo tiba-tiba merasa pening dan agak mual. Tubuhnya bergetar, matanya berkunang-kunang, jantungnya juga berdegup kencang dan menyakitkan. Ada apa dengannya?

 

Merasa ada yang aneh, Hee-Ra mengangkat wajahnya dan tak sengaja mendapati wajah pucat sang ayah. Pria itu terdiam, tangannya bergetar sambil memegang sendok-garpu.

 

“Papa tidak apa-apa?” tanyanya khawatir yang kemudian diikuti Se-Hun dan Kang So-Hee. Kedua orang tersebut baru sadar setelah mendengar pertanyaan Hee-Ra.

 

Lantas Kang So-Hee langsung menempelkan punggung tangan kanannya ke kening suaminya. “Kau demam sayang,” gumamnya cemas. “Mau kusuapi? Se-Hun, panggil dokter setelah menghabiskan makananmu.”

 

Se-Hun segera mengangguk, ia bangkit tanpa menghabiskan makananya. Namun Shin Jae-Woo cepat-cepat menahan lengan putranya itu. “Tidak, aku tidak apa-apa. Aku hanya kurang istirahat, lanjutkan makanmu, nak.”

 

“Tapi wajah papa sangat pucat!” Suara Hee-Ra meninggi. Shin Jae-Woo memang keras kepala, mirip seperti dirinya.

 

Tak ingin keadaan semakin menegang, Se-Hun berinisiatif, “Lebih baik papa istirahat di kamar, hari ini kita tidak perlu pergi ke mana-mana, keadaan papa lebih penting.”

 

Untuk kali ini Shin Jae-Woo mengangguk. “Baiklah, tapi papa tidak mau kalian memanggil dokter. Sungguh, papa cuma kelelahan saja. Setelah tidur semuanya akan kembali seperti semula,” ujarnya tetap pada pendirian pertama.

 

Awalnya Hee-Ra dan Kang So-Hee nampak tak setuju, tapi apa mau dikata? Mereka hanya bisa menuruti sang kepala keluarga untuk kali ini. Akhirnya Se-Hun membantu Shin Jae-Woo untuk berjalan sampai ke kamar, sedangkan Hee-Ra dan ibunya mengekori dari belakang.

 

Shin Jae-Woo sangat jarang sakit, bahkan waktu beliau memiliki jadwal padat sekalipun. Ini terasa aneh, kemarin beliau masih baik-baik saja, tapi kenapa hari ini beliau jatuh sakit dengan mudahnya? Yah, kesehatan manusia memang tak bisa diprediksi.

 

Setelah sang ayah berbaring di ranjang, Hee-Ra segera menarik kursi dan menggenggam erat tangan kanan beliau. “Papa yakin tidak apa-apa?” Wajahnya memerah menahan sedih.

 

Melihat raut sedih putrinya, Shin Jae-Woo tersenyum lembut dan mengusap pipi kanan Hee-Ra. “Papa tidak apa-apa sayang, papa cuma kelelahan. Kau tidak perlu terlalu khawatir seperti itu.”

 

Beliau tahu bahwa Hee-Ra memang sangat menyayanginya. “Kemarilah, biarkan papa memelukmu sebentar saja,” gumam Shin Jae-Woo dilanjutkan dengan menarik tubuh Hee-Ra dalam pelukannya sambil mengecup berkali-kali puncak kepala Hee-Ra.

 

Ah, rasanya menyenangkan sekali. Sudah lama Shin Jae-Woo tidak memeluk Hee-Ra seperti ini. Ia jadi teringat waku Hee-Ra kecil. Dia sangat cengeng, terluka sedikit saja menangis, bahkan matanya berkaca-kaca waktu Shin Jae-Woo sempat berniat memarahinya. Tapi hati orang tua mana yang tak tergerak saat melihat anaknya mengeluarkan air mata? Sontak sebelum Hee-Ra menangis kala itu, Shin Jae-Woo langsung berjongkok dan memeluk erat-erat tubuh Hee-Ra, lalu semua kemarahannya menghilang begitu saja.

 

Sesederhana itu, tapi benar terasa manfaatnya.

 

“Aku mencintaimu, pa. Sangat mencintaimu,” bisik Hee-Ra parau.

 

Lengannya tak bisa diam begitu saja, Hee-Ra membalas pelukan Shin Jae-Woo dan membenamkan diri di dalamnya. Sang ayah yang penyayang dan berhati lembut, beliau adalah ayah terbaik di dunia dalam kamus Hee-Ra.

 

“Papa juga mencintaimu. Begitupula mama dan kakakmu. Papa mencintai kalian semua.”  Shin Jae-Woo melonggarkan pelukannya dan menatap kedua mata Hee-Ra. “Pergilah jalan-jalan bersama Se-Hun, kau tidak boleh melewatkan liburan hanya karena papa, mengerti?”

 

Hee-Ra terpaksa mengangguk, ia melepaskan tangan ayahnya dengan berat dan membiarkan sang ibu untuk menjaga. Se-Hun yang telah menunggu di samping ranjang langsung merangkul Hee-Ra begitu sampai di sampingnya.

 

Anehnya, Hee-Ra tidak menghindar. Ia membiarkan Se-Hun membawanya berjalan keluar kamar lalu berhenti setelah menutup pintu.

 

Sudah berkali-kali Se-Hun mengatakannya, ia tak suka melihat Hee-Ra bersedih. “Aku tidak akan mengajakmu berjalan-jalan,” katanya datar.

 

Hee-Ra mendongak, terkejut akan kalimat yang barusan keluar dari mulut Se-Hun. “Kau?”

 

“Aku akan menemanimu di sini, tentu saja bukan di tempat ini, maksudku kita bisa duduk di restoran atau lobi untuk berjaga-jaga.”

 

Hal kecil seperti inilah yang mampu menyentuh hati Hee-Ra. Sekali lagi perasaan bencinya pada Se-Hun runtuh, ia merasa tidak masalah kalau harus berlama-lama dengan sang kakak. Hatinya juga tak memanas seperti dulu lagi.

 

“Terima kasih…terima kasih, Oh Se-Hun.”

 

 

 

 

 

 

Mereka tidak melakukan apapun sepanjang hari. Hanya duduk di restoran memandang gondola yang lewat, juga sesekali kembali ke kamar sang ayah untuk sekedar menengok. Untungnya sang ayah bisa beristirahat dengan tenang, Hee-Ra cukup takut kalau sesuatu terjadi pada ayahnya. Bisa saja-kan tiba-tiba berliau terkena serangan jantung? Serius, Hee-Ra tak mau membayangkannya.

 

Setelah menghabiskan makan malam dengan layanan kamar tentunya. Hee-Ra dan Se-Hun pamit kepada kedua orang tuanya untuk kembali ke kamar masing-masing. Ada yang berbeda kali ini, mereka tidak berjalan bersampingan, melainkan Se-Hun berada di belakang.

 

Ada apa kali ini?

 

Hee-Ra mendengus, ia berhenti secara tak terduga dan langsung berbalik menghadap Se-Hun. “Kenapa kau berjalan di belakangku?”

 

Menggeleng beberapa kali. “Aku cuma ingin melindungimu.”

 

Melindungi? Melindungi apanya?

 

“Aku tidak mengerti,” protesnya.

 

“Kau tidak mengingatnya? Beberapa hari lalu karena aku berjalan di depanmu, tidak, tapi kau mengikutiku, kau harus berurusan dengan preman-preman itu. Coba kalau saat itu aku berjalan di belakangmu, sebelum mereka bisa menghampirimu mungkin aku sudah memukulinya.”

 

Pipinya merona, tak bisa dipungkiri kalau ucapan Se-Hun membuat Hee-Ra merasa istimewa. Sial, lagi-lagi Hee-Ra kecolongan.

 

“Tapi kita di hotel, tidak akan ada orang jahat di sini.”

 

“Kau tidak menganggapku sebagai penjahat?” Se-Hun menyeringai, tapi tidak menyeramkan sama sekali, malah terlihat tampan. “Aku senang kau memandangku sebagai Oh Se-Hun layaknya orang biasa.”

 

Skakmat. Hee-Ra termakan oleh omongannya sendiri. Yah, sejujurnya ia memang tak lagi menganggap Se-Hun sebagai penjahat, setiap orang bisa berubah, kan? Tapi untuk mengakuinya di depan Se-Hun, Hee-Ra merasa belum mampu.

 

Untuk menutupi kecanggungannya, Hee-Ra segera meraih lengan kanan Se-Hun dan memaksa pria itu berdiri di sampingnya. “Kita berjalan bersama. Begini lebih baik,” gumamnya malu-malu.

 

Mendapati wajah Hee-Ra memerah, Se-Hun mengangguk. “Benar, begini lebih baik.”

 

 

TO BE CONTINUED

Advertisements

85 responses to “[CHAPTER 13] SALTED WOUND BY HEENA PARK

  1. Uuuh, Hee-Ra mulai ngebuka hatinya, yaaa 😏😂.
    Itu Ayahnya udah cukup keracunan, harusnya mereka panggil dokter 😱😱😱… Aku berharap cepet ketauaaan 😇…
    Jasmiiiiine… Kesel, iih 😤😣…
    Kai? Waaah, dia bakal koma, kah? Siapa yg ngirim email kediaaa?
    Aku lanjut baca, Kaaak…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s