I Married To My Enemy [V] -by ByeonieB

imarriedtomyenemy-2

I Married To My Enemy

ByeonieB©2017

“This Feelings.”

Main Cast:: Baekhyun of EXO as Byun Baekhyun, OC/You/Readers as Han Minjoo || Additional Cast:: Han Hyojoo (Actress) as Han Hyojoo, Chanyeol of EXO as Park Chanyeol, Sehun of EXO as Oh Sehun, Lee Yubi (Actress) as Lee Yubi, and many more || Genre:: Marriage Life, Romance, A Slight of Comedy, Drama || Length:: Chapter || Rate:: PG-18+ || Before:: [Chapter IV] || Poster by Sfxo @ PosterChanel

Notes:: Just reminding about this quotes, “The one who knows what’s good and what’s bad for you is just yourself.” Please take a deep look into the rate and this notes.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

October 2006

“Han Minjoo.”

Baekhyun mengangkat beberapa toples berbalut selotip hitam yang berada di laci paling bawah Minjoo dengan keheranan. Terdapat sekitar.. satu, dua, tiga, em.. lima disana.

“Ini apa?” ucap Baekhyun sambil menujukkan pada Minjoo yang tengah memilih baju untuk menonton film bersama bocah lelaki itu.

“Ya!” Minjoo langsung lari dan mengambil toples hitam itu dari tangan Baekhyun. “Kau tidak boleh melihat ini!”

Baekhyun mengernyit kebingungan, “Memangnya itu apa? Kenapa aku tidak boleh melihatnya?”

Minjoo terdiam sebentar dan memerhatikan toples itu. “Sebenarnya tidak apa-apa sih.” Minjoo membuka toples itu dan memperlihatkannya pada Baekhyun.

“Ini hanya koin-koin yang aku simpan saja.”

“Kau menabung?”

Minjoo mengangguk sekali.

“Untuk apa?”

Minjoo terdiam sebentar sambil berpikir, “Entahlah buat apa. Yang jelas aku ingin menabung saja supaya nanti kalau aku ingin apa-apa aku tidak perlu meminta pada Ayah dan Ibu.”

Baekhyun tersenyum lebar lalu mengangkat tangannya untuk mengusap-usap kepala Minjoo.

“Oh temanku Han Minjoo yang sangat baik.”

Minjoo terkikik pelan lalu menaruh kembali toples itu pada laci bawahnya dan menutup laci tersebut.

“Kau juga harus menabung, Baekhyun-ah. Nanti kalau kau mau membeli sesuatu, kau tidak perlu meminta uang dari orang tuamu lagi.”

“Aku memang sudah menabung.”

Minjoo tercengang lalu menatap Baekhyun kesal, “Ya! Kenapa kau tidak mengajakku kalau begitu!?”

“Apa harus aku mengajakmu?”

Minjoo kesal bukan main mendengar itu. Ia lalu berlari ke kasurnya dan membawa bantalnya pada Baekhyun, memukul-mukul pria itu.

“Rasakan ini, pengkhianat! Dasar Baekhyun pengkhianat!”

“Minjoo-ya! Sakit!”

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

[Chapter 5]

H A P P Y   R E A D I N G

Minjoo berjalan dengan tangan yang merentang, kepala menghadap ke atas, dan mata yang tertutup. Semua orang yang tengah berjalan di sekitar lobby melihatnya dengan tatapan menyipit, yang sedang berjalan dengan rekannya saling berbisik, samar-samar terdengar mereka berbicara: Bukankah itu kepala sekretaris perusahaan? Dia sudah gila?

Dengan senyuman merekah, Minjoo menghirup udara di lobby gedung kantornya sangat banyak. Yup, inilah hari pertama Minjoo telah kembali kerja. Mungkin terdengar naif, tapi ini benar-benar serius dari hati Minjoo bahwa gadis itu merindukan pekerjaannya. Empat hari tidak bekerja, selalu di rumah, benar-benar memuakkan. Minjoo sadar memang jiwanya adalah jiwa pekerja—sekaligus jiwa sekretaris.

Setelah melakukan itu, Minjoo kembali seperti semula dan berjalan dengan senyuman merekah lagi. Dia bahkan menyapa hampir semua orang yang ia temui, memang itu rekan-rekannya tapi tetap saja rekan yang Minjoo sapa pun tersenyum takut karena Minjoo tidak pernah bertingkah seperti itu. Oh sepertinya menyapa juga adalah untuk pertama kalinya.

“Paman Kim!”

Kini Minjoo memanggil penjaga keamanan yang mejanya berada di tengah lobby.

“Eh, nona Han.” Paman Kim itu tersenyum dengan kerutan di bawah matanya. Maklum, pria itu umurnya sudah melewati setengah abad. “Apa kabar, nona? Bukankah kemarin nona sedang sakit?”

“Iya, kemarin aku sakit tapi sekarang aku sudah sembuh!” Minjoo kembali berucap dengan nada yang begitu tinggi. “Bagaimana gedung kantor? Aman tanpaku, bukan?”

“Haha, nona.. memangnya nona ikut menjaga kantor ini denganku?” ucapnya sambil tertawa.

“Ih, paman! Aku juga terkadang menjaga gedung kantor ini!” Minjoo memajukan wajahnya pada telinga Paman Kim, “Menjaga supaya gedung kantor tidak digigiti oleh tikus.”

Paman Kim tertawa kembali dan Minjoo juga ikut tertawa bersamanya.

“Ah, sudah ya, Paman.. Aku harus ke ruanganku sekarang. Sampai jumpa, Paman!”

Baru saja satu langkah Minjoo ambil menuju lift yang berada di pojok lobby, mata Minjoo tiba-tiba membulat menyadari siapa yang datang dari arah pintu utama sesaat ia tidak sengaja menengok ke arah sana.

Jantungnya berdetak di sekujur tubuhnya, seperti gempa bumi tengah berada di pijakannya. Tanpa ba-bi-bu lagi, ia langsung memutar tubuhnya dan melesat ke balik meja paman Kim tadi.

“Eh, nona?” Paman Kim kaget sambil merunduk ke arah Han Minjoo dibawah meja, “Kenapa bersembunyi? Ada apa?”

Minjoo menyuruh paman Kim untuk tidak bersuara dengan telunjuk ke bibirnya. Paman Kim masih bingung namun untungnya dia mengerti. Kalau masih tidak mengerti, Minjoo berniat untuk menyumpal mulut paman Kim dengan tasnya.

Gadis itu terus memerhatikan keadaan di luar dari celah meja meski hanya dengan melihat kaki-kaki orang berjalan. Saat sepatu yang ia kenal sudah berjalan menjauhi tempatnya dan menghilang di balik lift, Minjoo langsung menghembuskan nafasnya lega. Detik selanjutnya, Minjoo keluar dari tempat persembunyiannya.

“Nona, kenapa bersembunyi tadi?” Paman Kim kini merubah rautan wajahnya menjadi serius, “Apa nona diikuti oleh penjahat dan penjahat itu masuk kemari?”

Minjoo melihat paman Kim dengan bibir mengerucut, “Iya, ada penjahat tadi makanya aku bersembunyi!”

Bukannya berhenti bertanya namun paman Kim kini benar-benar merubah raut wajahnya serius seratus persen, “Astaga! Ya sudah, nona tunggu sini! Aku akan panggilkan polisi!” dan paman Kim melesat dari hadapan Minjoo sedetik selanjutnya.

“Paman Kim! Penjahatnya itu direktur utama perusahaan ini!!” teriak Minjoo namun sepertinya paman Kim tak mendengar.

Benar, penjahat yang Minjoo sebutkan tadi memang pria sinting yang kini bukan hanya memporak-porandakan hidupnya saja melainkan hatinya juga. Pria yang berhasil membuat Minjoo membencinya setengah mati namun di satu sisi yang Minjoo tolak setengah mati Minjoo berharap kejadian malam itu terulang kembali. Kalian masih tidak tahu siapa pria yang Minjoo maksud?! Byun Baekhyun! Dia! Yang mencium Minjoo dua hari lalu dan sadisnya membuat getaran di hati Minjoo sampai detik ini!!

Setelah kejadian malam itu, Minjoo benar-benar tidak mau melihat mata Baekhyun meski hanya satu per seribu detik tatapan. Jika dia melihat Baekhyun, maka hatinya akan berdetak tepat di tenggorokannya dan hatinya itu bisa membuat otak Minjoo kelewat tidak waras. Minjoo jadi ingin mencium Baekhyun lagi, maksudnya!! Itu benar-benar terjadi, asal kalian tahu saja, saat pagi hari setelah malam itu, Minjoo terbangun dan langsung dihadapkan dengan wajah Baekhyun yang tepat menghadapnya. Bukannya Minjoo mau mengulang perkataannya yang mengatakan bahwa Baekhyun itu tampan dan seksi—juga manis serta imut—tapi pagi itu dia benar-benar seperti itu. Malah, seratus kali lipat dari itu! Saat itu Minjoo berbuat hal yang sangat gila karena tidak tahan melihat Baekhyun-tertidur-dengan-pose-tampan-oh-sangat. Ia mengangkat tangannya dan menaruhnya di pipi Baekhyun! Mengusapnya dengan lembut dan saat melihat bibirnya Minjoo ingin gila!

Saat itulah, Minjoo sadar bahwa menatap Baekhyun bukanlah hal yang baik. Dan semenjak itu juga Minjoo langsung menghindari Baekhyun sepenuhnya, seperti saat pagi Baekhyun terbangun, Minjoo sengaja pergi ke supermarket dengan alasan dia mau membeli sesuatu. Berhubung kaki Minjoo sudah membaik, kemarin Baekhyun sudah kembali pergi bekerja. Jika belum pergi bekerja, mungkin Minjoo akan memilih untuk kabur dari rumah saja!

Malam itu benar-benar salah satu malam tak terlupakan untuk Minjoo. Bagaimana Baekhyun menahan pinggangnya, mengelus tengkuknya dan menciumnya in a passionate and lovely way. Mungkin itulah alasan kenapa jantungnya terus bergetar, terang saja si kupu-kupu peliharaan Minjoo ini benar-benar kekenyangan dan terus berhilir ria di sekitar tubuh Minjoo.

Jika dibilang apakah Minjoo menyesali perlakuannya, iya Minjoo menyesalinya. Karena pada malam itu juga dengan bodohnya ia mau terjun ke pesona Byun Baekhyun yang begitu seksi dan manis di satu waktu. Tapi… kalau ia ditanya apakah ia mau mengulangi malam itu, Minjoo akan mengangguk semangat dan membiarkan otaknya menghilang di Bucheon.

Astaga!! Apa yang Minjoo pikirkan!!

.

.

“Nanti siang kita makan kemana, ya?”

Sehun dari meja kerjanya bertanya sambil tetap mengerjakan laporannya. Ruangan ini cukup hening, semua orang tampak serius mengerjakan pekerjaannya. Sehun benci keheningan seperti itu.

Ah, kita belum pernah menjelaskan pembagian kerja mereka sebagai sekretaris. Sehun dan Yubi adalah sekretaris untuk keperluan perusahaan, pekerjaan mereka bisa dianggap sama dan terbagi dua. Mengurus laporan setiap manager perusahaan dan merekapnya di satu tempat. Chanyeol adalah sekretaris pribadi wakil direktur utama perusahaan. Dia dikhususkan untuk mencatat semua laporan dari wakil direktur utama perusahaan dan juga sekaligus wakil kepala sekretaris perusahaan. Minjoo yang sudah kalian tahu sebagai kepala sekretaris perusahaan tentunya bertugas sebagai sekretaris pribadi direktur utama sekaligus mengumpulkan seluruh laporan perusahaan yang Sehun dan Yubi kerjakan. Setelah laporan ia rekap dalam satu tempat, laporan tersebut akan menjadi data rahasia perusahaan yang hanya dipegang oleh kepala sekretaris perusahaan.

“Ya. Masih satu jam lagi juga sudah memikirkannya. Kerjakan pekerjaanmu dahulu yang benar!” Chanyeol berucap dari mejanya juga dan dia sedang melakukan hal yang sama dengan Sehun.

Sehun pun mengerucutkan bibirnya lalu ketika ia melihat Minjoo di mejanya, ia tersenyum gummy.

“Ah, noona! Karena noona baru saja kembali ke kantor bagaimana—“

“Jangan coba-coba untuk merayuku mentraktir kalian semua makan siang, ya. Aku sibuk, pekerjaanku banyak yang tertinggal karena sakit kemarin.” Ucapnya dengan dingin dan tatapan yang terus ke layar komputer. Benar deh, rasanya laporannya ini sejenis bakteri amoeba yang terus membelah secara tiba-tiba.

“Padahal maksudku mentraktirku saja..” Sehun mengerucutkan bibirnya dan kini ia melihat ke arah Yubi.  “Ya, Lee Yubi. Kau mau makan dimana nanti siang?”

“Aku siang ini mau bertemu dengan Jongsuk Oppa.” Ucapnya, “Aku tidak akan makan siang bersama kalian.”

Mendengar itu, Minjoo dan Chanyeol langsung melirik ke arah Yubi serta tersenyum mengejek.

“Akhirnya, kau jadi juga dengan Jongsuk itu, hm?” Ucap Chanyeol kelewat girang. Minjoo menambahkan, “Ya, Sehun-ah.. sebaiknya kau meminta Yubi mentraktirmu saja.”

Lalu setelahnya Minjoo dan Chanyeol bersiul pada Yubi sambil terkikik. Yubi terkekeh pelan namun reaksi yang Minjoo dan Chanyeol berikan tadi tidak sama dengan reaksi Sehun. Sehun merubah raut wajahnya dengan mengangakan mulutnya serta satu alis terangkat.

“Kau.. benar-benar sudah menjadi kekasih Jongsuk itu?”

Yubi melirik sebentar ke arah Sehun. Sebenarnya ada yang aneh dari tingkah pria itu beberapa hari ini pada Yubi. Terlebih jika Yubi sudah membahas Jongsuk Oppa-nya. Mengenai Jongsuk Oppa itu, memang benar Yubi sedang dekat dengannya tapi jika kalian berpikir bahwa Yubi tengah berusaha membuat Sehun cemburu.. itu salah besar. Kalian tahu, move on. Ia sedang berusaha untuk tidak menyukai Sehun lagi karena selamanya ia hanya akan berteman dengan Sehun.

“Memangnya kenapa?” Yubi mengangkat satu sudut senyumannya, “Kau cemburu, hm?”

Sehun terdiam dan dia menatap Yubi tidak tahu kenapa dengan perasaan yang tertekan. Sadar atau tidak sadar, dia merasa tak suka Yubi dekat dengan Jongsuk itu.

Kring. Kring.

Telepon dari meja Minjoo berbunyi dan itu langsung membuyarkan pandangan Minjoo dari Yubi ke arah telepon itu. Seperti mendapatkan telepon maut, Minjoo membeku dengan keringat yang sudah turun dari pelipisnya.

Ini pasti dari Byun Baekhyun!

“Ya! Angkat teleponnya!” Keluh Chanyeol karena Minjoo tidak kunjung mengangkat-angkat teleponnya. “Berisik!”

“Aku tak mau..” Minjoo kini mengepalkan tangannya dan melihat telepon yang terus berdering dengan ngeri, “Pasti dari sinting itu..”

Karena Minjoo tak kunjung mengangkat teleponnya, Chanyeol dengan kesal menghampiri meja Minjoo dan mengangkat telepon tersebut. Minjoo menatap Chanyeol dengan peluh keringat semakin kentara di pelipisnya, seraya juga dengan kaki dan tangannya yang terus bergetar. Minjoo seperti tengah diserang oleh penyakit kejang-kejang.

“Baik, pak. Akan saya sampaikan.”

Chanyeol menaruh kembali telepon tersebut dan tubuhnya menghadap Minjoo.

“Ya, Baekhyun menyuruhmu untuk datang ke ruangan—“

“TAK MAU!”

Chanyeol sampai berjengit hebat dan menahan jantungnya yang lepas akibat teriakan Minjoo. Sumpah, itu teriakan terbesar kedua yang pernah Minjoo lakukan—pertama yang sampai membuat gedung kantornya bergetar, ingat?

“Ya!!” Kini Chanyeol yang balas berteriak. “Kau menganggetkanku!!” kini Chanyeol sedang mengusap-usap dadanya. Semoga jantungnya sudah terpasang kembali.

Minjoo mendongakkan kepalanya dan langsung mengepalkan tangannya memohon, “Tolong aku, Park Chan! Selamatkan aku!”

“Kau berlebihan sekali sih!?” Chanyeol menundukkan pandangannya dengan alis bertaut, “Tadi Baekhyun bilang dia butuh kau untuk merevisi laporannya! Kali ini dia bukan menyuruhmu datang untuk mengerjaimu, Minjoo-ya—”

“Bukan itu masalahnya Park Chan!”

Yup, bukan itu masalahnya. Jika ia membiarkan mata nakalnya bertemu dengan mata Baekhyun dan otak gilanya menyuruhnya untuk melakukan hal semena-mena pada Baekhyun, maka detik itu adalah hari kematiannya.

“Aku sedang tidak dalam situasi harus menatap matanya!” Minjoo kembali memohon seperti hidupnya telah di ujung tanduk sekarang, “Tolong aku sekali saja, Chanyeol-ah! Hanya datang ke ruangannya dan mengambil laporannya!”

“Aish, memangnya kenapa kau tidak dalam situasi untuk tidak menatap matanya, huh!?”

Seketika Chanyeol membuat Minjoo mengingat kejadian malam itu lagi. Dimana Baekhyun menciumnya dengan manis, hangat, dan penuh—

“Pokoknya sedang tidak bisa!!” Minjoo langsung membuyarkan pikirannya pada malam itu. Tidak boleh, Minjoo tidak boleh ingat pada kejadian erotis itu lagi atau tidak Minjoo bisa bertingkah gila pada Baekhyun. “Selamatkan aku sekali saja, Park Chan!! Kumohon!!”

Chanyeol pun menghela nafasnya dan kemudian berjalan keluar. Dengan sentakan di setiap kakinya dan sumpah serapah komat-kamit di bibirnya. Sedangkan Minjoo, gadis itu menghembuskan nafasnya secara lega. Maaf Park Chanyeol, kau harus ditumbalkan dahulu untuk perkara hati Minjoo saat ini.

.

.

“Dia ingin kau yang datang ke ruangannya, Minjoo-ya.”

“APA?!” Minjoo berdiri dari meja dengan kaki yang menyentak lantai. Saat ia melakukan itu, orang-orang yang berada di lantai bawah langsung melihat ke atap, merasakan bahwa ada gempa bumi yang datang secara tiba-tiba.

Chanyeol kembali memundurkan wajahnya seraya menahan tubuhnya untuk tidak terhuyung oleh gelombang suara Minjoo yang begitu tinggi, “Ya!! Han Minjoo!! Sekali saja, bisa untuk tidak teriak-teriak!?” Chanyeol kini mengepalkan tangannya dan meniupnya lalu menggumpalnya ke telinga, “Telingaku sudah mati, tahu!!”

Minjoo tidak mengeluhkan perkataan Chanyeol dan kini ia menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa. Mati sudah dirinya kali ini.

Jika Minjoo tetap memutuskan untuk pergi ke ruangan Baekhyun, sudah dipastikan otak Minjoo yang kelewat tidak waras itu akan membuat hal-hal yang Minjoo tidak inginkan: seperti mencoba untuk menarik kerah kemeja Baekhyun dan mencium pria itu sama seksinya seperti malam itu. Ugh, jika Minjoo benar-benar melakukan itu Minjoo akan lompat dari kaca jendela Baekhyun.

Karena sedari tadi Sehun dan Yubi melihat Minjoo yang seperti sudah di ambang kematian hanya sekedar dipanggil oleh Baekhyun, mereka pun mulai berkumpul di meja Minjoo.

“Memangnya kenapa sih noona tidak bisa bertemu dengan Baekhyun?” Sehun malas berdiri jadi dia mengeser kursi kerjanya yang beroda ke sebelah Minjoo. “Bukankah kemarin hubungan noona dengan Baekhyun semakin membaik?” Sehun ingat bagaimana Baekhyun merawat Minjoo dengan baik saat mereka kemarin mengunjunginya. Maksudnya, mengangkat-angkat tubuh Minjoo itu loh…

“Benar, eonnie. Kenapa eonnie bertengkar lagi dengan Baekhyun?” kini Yubi menceletuk dari tempatnya yang berada di hadapan Minjoo.

Minjoo mendongakkan kepalanya dan melihat ke semua temannya yang tengah memerhatikannya dengan tatapan bertanya-tanya. In a judgemental way, seperti Minjoo yang salah saat ini. Oh Minjoo yang salah, memang.

“Uhm.. aku sedang tidak bertengkar dengannya, maksudku.. ya aku kan memang masih membencinya!?” ucapnya sedikit kesal di akhir saat menyadari perkataan Yubi. “Memangnya sejak kapan aku damai dengannya? Never!”

“Aish, kau itu tidak tahu terima kasih ya!” Chanyeol berucap sambil sedikit marah, “Baekhyun itu sudah baik merawatmu selama tiga hari ini! Mengangkat-angkatmu, membantumu berjalan, merawatmu, membuatkanmu makanan!” Chanyeol membuka setiap jemarinya dan menunjuk-nunjuknya pada Minjoo. “Apa susahnya sih kalau berdamai saja dengannya?!”

Minjoo terdiam dan mendengarkan penuturan kata Chanyeol dengan seksama, “Aku.. bisa saja berdamai dengannya tapi..” Minjoo mengigit bibirnya dan menundukkan pandangannya ke dalam. “..kalau sekarang, aku sedang benar-benar tidak bisa untuk bertemu dengannya.”

“Kenapa?!” Chanyeol berteriak kembali. “Kenapa tidak bisa? Coba jelaskan lebih detil, Han Minjoo!!”

“Aish!” Kesal Chanyeol yang terus menerus menindasnya, Minjoo bangkit dan menatap Chanyeol galak.

“Dia kemarin baru menciumku!! Aku bisa gila kalau aku melihatnya, kau tahu!!”

Minjoo tahu bahwa dia sesungguhnya tidak harus dilahirkan oleh mulut yang super-berisik-dan-tidak-tahu-situasi-kondisi. Harusnya, dari dulu Minjoo menjahit mulutnya saja atau operasi plastik menutup mulutnya.

Dia bergeming, membeku seperti jantungnya telah jatuh ke dasar jurangnya. Oh, Han Minjoo tinggal nama sekarang.

“Dia.. menciummu, noona?” Sehun telah muncul dari samping dan berdiri dari kursinya. “Kalian telah berciuman?” ucapnya dengan senyuman yang sangat menyebalkan.

Oh my god!!” Yubi menutup mulutnya dan tersenyum sangat lebar. “Kalian telah berciuman!! Astaga!!”

Chanyeol yang tadinya menatap galak pun kini mengendurkan raut wajahnya dan tak kuasa menahan senyuman geli.

“Oh jadi karena itu kau tidak mau menemuinya?” Chanyeol tersenyum kikik, “Ya. Tapi kan kalian sudah berciuman sebelumnya saat di atas altar waktu itu?!”

“Hyung! Masa hyung tidak mengerti sih?!” Minjoo melihat Sehun yang telah berpindah tempat dari sampingnya menjadi berdiri di hadapannya. Oh sekarang mereka seperti membuat komplotan pembenci Han Minjoo di hadapannya. “Ciuman yang noona maksud itu yang panas dan bergairah.. makanya noona tidak mau menemuinya!”

Minjoo rasa ia seperti sekecil semut kali ini. Sehun, Yubi, dan Chanyeol terus terkikik di hadapannya, menertawakannya dan mengejeknya dengan berbagai hal.

Baru kali ini Minjoo merasa sangat payah dalam hidupnya. Atau dia tidak menyadarinya saja kalau hidupnya memang benar-benar payah selama ini?

.

.

Minjoo terus berjalan mondar-mandir di depan ruangan Baekhyun. Setelah memutuskan untuk tetap pergi—menghindar dari si komplotan pembenci Minjoo (re: Chanyeol, Yubi, dan Sehun)—ke ruangan Baekhyun, dia tengah memikirkan rencana lain untuk setidaknya mata dan otaknya yang gila itu tidak melakukan hal semena-mena pada Baekhyun.

“Aish!” Minjoo kini menghentikan langkahnya dan mengetuk-ngetuk kepalanya. “Otak! Ayo berpikir! Kau harusnya berpikir di situasi seperti ini!”

Minjoo terus berpikir saat tiba-tiba seseorang karyawati lewat di hadapannya dan memberikan ide cemerlang seperti ia masuk surga.

“Ya!!” Minjoo berteriak pada karyawati tersebut dan tentunya si wanita itu langsung menghentikan langkahnya.

“Pinjam scarfmu!!”

.

.

Raut wajah Baekhyun berubah seperti ia sedang menerka-nerka siapa yang menyanyi di balik topeng di salah satu acara televisi Korea.

“Kau.. Han Minjoo?”

Minjoo berdeham sedikit sambil menganggukan kepalanya. Saat ujung scarf yang menutup seluruh mukanya itu jatuh, ia membenarkan posisinya. Benar, scarf yang ia pinjam dari salah satu karyawati perusahaan itu ia gunakan untuk menutup seluruh wajahnya. Entah itu suatu mukjizat dari Tuhan untuknya, si karyawati itu juga kebetulan membawa kacamata hitam di tasnya. Benar-benar membuat Minjoo seperti teroris yang sedang menawan direktur perusahaan saat ini.

“Kau bukan teroris semacamnya?”

See? Baekhyun bahkan telah mengonfirmasi pikiran Minjoo saat itu juga.

Menghela nafasnya dengan kesal, Minjoo pun berucap, “Iya, ini aku!! Sudah jangan bahas hal lain, katanya kau ingin memberikanku laporan perusahaan!?”

Baekhyun membenarkan posisi duduknya dan menatap Minjoo dengan datar, “Aku tidak bisa memberikan laporan perusahaan pada seseorang yang aku tidak kenal.”

“Hah?” Minjoo menganga dan untungnya mulutnya tertutup oleh scarf itu. “Kan sudah kubilang ini aku, Han Minjoo!”

“Aku tidak percaya.” Baekhyun kini menundukkan wajahnya dan membaca-baca laporannya sendiri. “Siapa tahu kau itu titisan teroris dari perusahaan lain yang menyekap Han Minjoo dan merekam suaranya lalu memutarnya dibalik tubuhmu untuk memperdayaku.”

“Maaf, aku tidak sebodoh itu.”

Demi Tuhan, Baekhyun itu adalah titisan setan dari neraka yang berniat untuk menghancurkan hidup manusia di bumi. Iya, Baekhyun adalah titisan setan yang disebut-sebut akan menghakimi umat manusia di akhir hayat!!

Merasa pitamnya telah naik pada puncaknya, Minjoo merasa jika wajahnya begitu panas. Dengan mata yang bertaut tajam dan niatannya untuk membunuh Baekhyun detik selanjutnya, Minjoo menaikkan tangannya ke atas kepala lalu membuka seluruh scarf itu dari wajahnya. Saat kacamata hitam lepas dari matanya, kalian bisa lihat bahwa mata Minjoo seperti hendak keluar dari tempatnya.

“Ini!!” Minjoo melempar barang itu tepat ke atas meja Baekhyun, membuat pria itu kini mendongakkan wajahnya. “Kau puas, hah, sialan!?”

Baekhyun tersenyum pelan lalu setelahnya ia bangkit. Berjalan melewati Minjoo dengan menyandarkan tubuhnya pada mejanya. Menghadap sempurna gadis itu.

“Kau sedang menghindariku, benar?”

Saat itu, Minjoo tahu bahwa dirinya telah berhasil masuk ke perangkap Baekhyun. Selain yang penuh pesona dan keseksian itu, maksudnya.

Baekhyun menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya, “Kenapa kau melakukan itu, hm?”

Minjoo tergelak dan rasanya menelan saliva adalah hal tersulit yang pernah ia lakukan hari ini.

“M-menghindari a-apa?” ucapnya. Oh bahkan giginya seperti rontok semua sekarang.

“Pergi ke supermarket dan membuat notes: aku tidur duluan karena aku sangat lelah, saat aku sampai di rumah kemarin.” Ucapnya.

“Kenapa.. kau melakukan itu, hm?” Baekhyun kembali mengulang pertanyaannya.

Glek. Itu suara dari keberhasilan Minjoo menelan salivanya.

“O-oh.. i-itu..” Minjoo menyiapkan seluruh kata-katanya. Berharap bahwa rangkaian narasi yang akan ia ucapkan setelah ini tidak terdengar seperti karangan waktu dia menjejaki taman kanak-kanak. “A-aku kemarin pergi ke supermarket untuk beli susu. Lalu.. l-lalu..”

Bagaimana ini, kata-katanya tiba-tiba menghilang saat ia tak sengaja menatap mata Baekhyun. Ya Tuhan, dia rasa kejadian malam itu benar-benar terbuka dipikirannya saat ini!!

“Eum.. aku ke taman dan bermain bersama para anak-anak yang ada disana.” Ucapnya begitu cepat sambil mengalihkan pandangannya dari mata Baekhyun. Bermain dengan anak-anak yang ada disana? Apa yang kau katakan Han Minjoo?!

Minjoo merutuki kebodohannya dan dia seperti ingin mengganti target pembunuhannya pada diri dia sendiri. “P-pokoknya kemarin aku sangat lelah jadi ya.. seperti itu..”

“Kau tidak sedang menghindariku karena kejadian malam dua hari lalu, bukan?”

Minjoo rasa jantungnya seperti ditembak mati saat itu. Kakinya lemas, tanah seperti lumpur penghisap yang menghisapnya ke dalam muka bumi. Oh Minjoo memang berharap seperti itu.

Baekhyun memajukan langkahnya dan menarik dagu Minjoo untuk melihat ke arahnya.

“Oh, kau memang menghindariku karena kejadian itu, benar?” ucapnya sambil menarik senyuman di sudut bibirnya.

Tuhan.. apakah ini akhir hayat Minjoo? Karena Minjoo tidak merasakan apa-apa lagi selain tangan Baekhyun yang hangat ada di dagunya. Selain tatapan Baekhyun yang tepat di matanya. Selain bayangan yang kembali pada dua malam lalu.

Di saat ajalnya akan dicabut pun Minjoo masih sempat-sempatnya mengingat malam itu lagi. Dia memang benar-benar sudah kehilangan akal sehatnya!

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Chanyeol berjalan menuju ruangan Hyojoo dengan file di tangannya. Setelah dia berada depan pintu ruangan Hyojoo, ia mengetuk pintu itu sebentar lalu setelah terdengar teriakan dari dalam mengatakan bahwa ia boleh masuk, Chanyeol membuka pintunya.

Saat itulah, saat ia menatap mata Hyojoo, ada sesuatu yang menekan hatinya begitu nyeri. Bahkan Chanyeol sepertinya ingin meraung-raung karena itu terlalu menyakitkan.

Hyojoo yang di hadapannya ini bukanah Hyojoo yang Chanyeol kenal. Hyojoo yang punya mata bulat, senyum tipis, pipi bersemu merah dan tentunya, wajah yang cantik oleh perpaduan itu tidak Chanyeol lihat saat ini. Mata Hyojoo begitu gelap, sedikit Chanyeol lihat jika keringat meluncur dari pelipis gadis itu, dan senyuman yang paling menawan darinya hilang tergantikan oleh senyuman menahan rasa sakitnya.

“Noona.. kau kenapa?” Chanyeol panik bukan main dan ia langsung menghampiri Hyojoo tepat di depan mejanya, “Kau sakit?”

Chanyeol bisa lihat jika Hyojoo terpaksa tersenyum dari mejanya seraya berkata, “Hm? Aku tidak apa-apa, Chanyeol. Hanya lelah sedikit.” Hyojoo kini merubah postur tubuhnya sedikit lebih tegak untuk menunjukkan bahwa dia tidak apa-apa, “Ah, mana laporan yang aku minta tadi, Chanyeol-ah?”

Sumpah saat itu Chanyeol tahu Hyojoo sedang mengalihkan pembicaraannya dan rasanya Chanyeol kesal sampai ke ubun-ubun mendapatkan perlakuan seperti itu. Ia ingin marah, tapi mengingat dirinya dan Hyojoo masih dalam kondisi untuk tidak saling berbicara membuat Chanyeol menelan pahit-pahit rasa khawatirnya itu.

“Ini.” Chanyeol menaruh laporan itu di atas meja Hyojoo tanpa mengalihkan sedikit pun pandangannya dari Hyojoo. Oh bahkan kini Chanyeol bisa lihat jika mata Hyojoo sedikit berkedut-kedut, mungkin pening telah menyerang kepala Hyojoo. “Laporan tentang analisa marketing perusahaan selama sebulan ke belakang. Aku telah merekap yang sebelumnya juga jika kau membutuhkan untuk menganalisisnya.”

Hyojoo mengangguk-angguk lalu ia tersenyum pelan, “Ah, terima kasih. Sekarang kau boleh kembali ke ruanganmu.”

Chanyeol tahu ada sesuatu hal yang tengah Hyojoo coba sembunyikan darinya. Dan Chanyeol bisa tebak seratus persen bahwa gadis itu sedang kambuh oleh penyakitnya.

“Baik. Aku akan kembali.”

Chanyeol memutar tubuhnya dan berjalan menuju pintu keluar. Sesungguhnya Chanyeol ingin sekali beteriak sekarang, memarahi Hyojoo untuk jujur padanya jika ia sedang kesakitan. Tapi sekali lagi, permasalahan mereka yang sudah bertahan selama satu minggu itu membuat nyalinya ciut. Dia dan Hyojoo tidak memiliki status yang jelas untuk melanjutkan hubungan mereka.

Brak!

Tepat saat Chanyeol menyentuh kenop pintulah, ia mendengar suara debuman yang begitu keras. Dengan perasaan takut setengah mati, ia langsung memutar tubuhnya.

Dan langsung mendapati Hyojoo telah terbaring di atas lantai.

“Noona!!!!”

.

.

Mata Hyojoo kelampau berat saat ia mencoba untuk membukanya. Rasanya sangat perih, seperti gajah sedang duduk di atas kelopak matanya. Sekuat tenaga Hyojoo mencoba untuk membukanya dan beberapa detik setelahnya, ia berhasil.

Hyojoo langsung disuguhkan dengan Chanyeol yang berdiri di samping ranjang, memerhatikannya begitu datar.

“Sudah bangun?”

Suaranya begitu dingin tapi yang Hyojoo rasakan justru sebaliknya.

“Kau..” Hyojoo berusaha untuk bangun dan ia berhasil. “..menungguku, Chanyeol-ah?”

Chanyeol hanya terus menatap Hyojoo dengan datar, “Tadi ada Minjoo namun gadis itu telah pulang karena waktu sudah larut.”

Hyojoo langsung mengalihkan pandangannya pada jam yang ia temukan tiba-tiba di dinding kamar. Benar saja, waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam.

“Aku akan pulang sekarang. Ayah dan Ibu noona sedang dalam perjalanan kemari.” Ucapnya lalu Chanyeol langsung memutar tubuhnya. Chanyeol pikir Hyojoo akan menahannya, menyerukan tidak setujunya atas kepergian Chanyeol tapi yang Chanyeol dapatkan hanya hembusan nafas Hyojoo yang begitu berat.

“Baiklah. Hati-hati, jangan sampai mengantuk ketika menyetir dan..” Hyojoo menjeda perkataannya selama beberapa detik, “..terima kasih telah menungguku.”

Chanyeol menghentikan langkahnya dan ia rasa pitamnya yang ia tahan selama sepuluh jam telah meledak sekarang.

“Noona..” Dia memutar tubuhnya kembali dan menatap Hyojoo dengan wajahnya sangat merah, “..benar-benar tidak pernah menganggapku menjadi pria yang spesial di hatimu?!”

Hyojoo membulatkan matanya, “Chanyeol-ah..”

“Apa aku yang selama ini tujuh tahun bersama noona tidak ada artinya!?” Chanyeol menatap tajam Hyojoo dengan sudut mata yang telah berair. “Lalu selama ini noona angkap aku sebagai apa!?”

Hyojoo kehilangan kata-katanya dan Ia merasakan jantungnya sakit saat melihat air mata itu turun dari mata Chanyeol, “Chanyeol.. tidak seperti itu—“

“Tidak seperti itu, apa!? Tadi adalah kali pertamanya noona tidak memberitahuku bahwa penyakit lambung noona kambuh!” Chanyeol berteriak kesal karena ia benar-benar tersakiti atas apa yang Hyojoo lakukan padanya. “Noona dengan tenangnya bilang bahwa aku boleh pulang dan berharap bahwa aku selamat di jalan disaat noona meninggalkan otakku dengan pikiran yang kalut tentangmu!!”

Jika kita bisa memutar ulang kejadian saat Hyojoo jatuh pingsan, siapapun dari kalian pasti ingin sekali menahan Chanyeol untuk tidak melakukan hal gila seperti bunuh diri karena Chanyeol benar-benar merasa bahwa dia ingin bunuh diri melihat Hyojoo terluka karenanya. Hyojoo punya penyakit lambung yang akan kambuh saat gadis itu melalui banyak kesulitan—stress. Bukannya Chanyeol ingin percaya diri dengan mengatakan Hyojoo banyak memikirkannya juga, tapi Chanyeol bisa tebak itu dengan seratus persen benar bahwa masalah antara dirinya dengan Hyojoo ikut banyak andil dari kambuhnya penyakit Hyojoo ini.

Saat melihat Hyojoo menutup matanya dengan bibir yang pucat serta keringat yang bersimpuh di sekitar wajahnya, Chanyeol benar-benar merasa bahwa jantungnya telah lepas entah kemana. Rasa takut menyergapi tubuhnya dan ia merasa sangat bersalah atas ini semua. Tak henti-hentinya Chanyeol berjalan bulak-balik menunggu keadaan Hyojoo di depan ruang dokter dengan tangisan di wajahnya karena ia benar-benar merasa sangat bersalah.

“Noona.. kau benar-benar tidak pernah menerimaku untuk disampingmu sebagai priamu, iya?” ucapnya dengan air mata yang jatuh dari matanya.

“Kau.. memang menginginkan hubungan ini sebatas adik-kakak saja.. benar?”

Hyojoo menutup mata dan menjatuhkan air matanya sambil menahan jantungnya yang sangat sakit. Lebih sakit daripada penyakit lambung yang telah ada padanya dari saat ia kecil.

Sambil menahan itulah, ia telah menemukan jawabannya selama ini. Hyojoo membuka matanya lalu berusaha untuk bangkit dari kasur menjadi berdiri di hadapan Chanyeol.

“Maaf telah membuatmu merasakan itu semua, Chanyeol-ah. Maaf membuatmu menunggu terlalu lama dan membuatmu merasakan sakit itu selama ini.”

Hyojoo mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Chanyeol. Mengusapnya lembut dan menghapus air mata itu dari mata Chanyeol.

“Aku..akan memberikanmu jawabannya sekarang.”

Hyojoo menjijitkan tumitnya dan menaruh bibirnya di bibir Chanyeol. Hanya menaruh selama beberapa detik namun itu cukup membuat Chanyeol bergeming dan menghangat di tempatnya.

“Aku.. ingin Park Chanyeol menjadi pria yang ada di sampingku.” Ucap Hyojoo setelah ia melepaskan kecupannya. “Aku ingin Park Chanyeol yang memegang tanganku saat aku jatuh. Ingin Park Chanyeol yang memarahiku kalau aku telat makan. Ingin Park Chanyeol yang mengkhawatirkanku kalau aku sakit. Ingin Park Chanyeol yang ada kapanpun disaat aku membutuhkannya.”

“Bukan menjadi adik, tapi aku ingin Park Chanyeol menjadi orang yang bisa aku sebut.. milikku. Ya, aku ingin dirimu menjadi orang yang spesial dihatiku, Chanyeol-ah..”

Chanyeol terus membeku dan hanya menatap datar Hyojoo tepat di matanya. Hyojoo pun sempat menunggu selama beberapa detik namun Chanyeol tetap tidak berkata apapun selain menatap matanya.

“Ya.. kenapa kau malah diam sekarang? Padahal aku telah mengatakan semuanya..” Hyojoo berkata dengan semburat merah dipipinya. Kalian rasakan saja sendiri saat membuat pengakuan kepada seseorang yang kalian suka, rasanya benar-benar seperti ingin menjadi buta saja. “Kau tidak mau ya jadi kekasihku?!”

Tiga detik Hyojoo masih tidak mendapat respon apapun dari Chanyeol, Hyojoo menyerah dan ia merasakan ketakutan bahwa Chanyeol tengah menolaknya.

“Ya—“

Namun, setelah detik ketiga itulah ia merasakan bahwa bibirnya kembali disentuh oleh sesuatu yang hangat dan lembut seperti beberapa menit yang lalu. Yang membuatnya sangat bahagia mengetahui bahwa ia akan selalu menikmati ini untuk waktu yang sangat lama.

“Terima kasih, noona.” Chanyeol berucap sambil melepaskan bibirnya dari bibir Hyojoo. “Terima kasih telah menerimaku..”

“Ya. Kalau kau akan menerimaku kenapa kau membuatku menunggu, hm?!”

Chanyeol terkekeh pelan lalu menarik Hyojoo masuk ke dalam pelukannya, “Noona juga harus bisa merasakan posisiku yang menunggu noona selama tujuh tahun. Masih mending hanya selama tiga menit. Lalu bagaimana denganku yang tujuh tahun?”

Hyojoo menyembunyikan wajahnya di dada Chanyeol dan terkekeh pelan. Ia juga ikut membalas pelukan itu.

“Hm. Sekarang kita impas berarti.”

Mereka tersenyum dengan perasaan yang begitu hangat. Meski begitu, mereka tahu bahwa menjadi sepasang kekasih bukanlah jawaban akhir dari hubungan mereka. Mereka tahu, setelah ini mungkin mereka akan menghadapi masalah lainnya dimana mungkin mereka bisa terpisahkan kembali. Mereka tahu itu namun mereka akan berusaha semaksimal mungkin untuk bisa tetap seperti sekarang.

Untuk menemukan akhir yang bahagia dengan hidup selamanya bersama.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

“Siapkan pakaianmu.”

Baekhyun membuka kancing teratas di kemejanya lalu melepas dasinya sambil menatap Minjoo yang terbaring di atas kasur.

“Aku tahu kau belum tidur, Han Minjoo.”

Minjoo langsung membuka matanya setelah ketahuan melakukan rutinitasnya menghindari Baekhyun untuk tiga hari ini. Dia mendengus pelan lalu bangkit dari kasurnya dan melihat Baekhyun.

“Kau itu setan, huh?! Aku sedang tidur jadi jangan ganggu aku!”

Minjoo kembali memutar tubuhnya, membuat punggungnya menghadap Baekhyun, lalu membaringkannya seperti sebelumnya. Kalian belum lupa kan bahwa Minjoo masih berusaha keras untuk menghindari Baekhyun karena kejadian malam sakral itu? Sebentar, malam sakral!? Apa yang Minjoo pikirkan, itu tidak sakral sama sekali!!

Minjoo mencoba menutup matanya kembali namun baru beberapa detik ia mencoba tertidur, Minjoo merasakan seseorang menarik bantalnya hingga membuat kepalanya membentur kasur. Tidak sakit sih, tapi cukup membuat Minjoo terlonjak kaget bukan main.

“Aish!” Minjoo kembali bangkit saat ia menebak Baekhyun yang melakukan itu. Benar saja, Baekhyun memang memegang bantal itu. “Ya!!!”

“Kubilang siapkan pakaianmu. Bawa untuk sekitar tiga sampai lima hari saja.”

“Iya aku akan siapkan pakaiannya besok pagi—“ Minjoo langsung terdiam. Sepertinya ia telah mendengar perkataan itu sebanyak dua kali tapi Minjoo baru menyadari arti setiap kata-katanya, “Untuk apa aku menyiapkan pakaian?” tanyanya sambil menunjuk dirinya sendiri.

“Kita akan pergi ke Jepang, bodoh. Kalau orang berbicara itu dengarkan sampai selesai makanya!”

Minjoo bisa mendengar suara petir begitu keras di telinga dan otaknya. Minjoo merasa petir itu bahkan telah menghancurkan tubuhnya berkeping-keping.

Kenapa jadi pergi ke Jepang?! Dan tadi Baekhyun bilang apa, ‘Kita akan pergi ke Jepang, bodoh’, itu berarti dia dan Baekhyun akan pergi ke Jepang? Berdua!?

“Hanya berdua!?” Minjoo kini berteriak hingga Baekhyun memundurkan langkahnya dengan wajah masam.

“Han Minjoo sudah berapa kali kubilang bahwa berhenti teriak-teriak seperti itu!!” Baekhyun memaki Minjoo sangat galak, namun Minjoo tidak peduli. Yang ia pedulikan adalah kewarasannya yang bisa memakan Baekhyun kapan pun jika benar ia dan Baekhyun hanya pergi berdua ke Jepang.

“Jawab pertanyaanku! Hanya kita berdua yang berangkat ke Jepang, Baekhyun-ah!?”

“Aish, iya!!”

Setelah Baekhyun mengatakan itu, Minjoo seperti mendengar suara tembakan yang begitu dahsyat tepat ke arah otaknya. Minjoo rasa siapapun penembaknya itu, dia benar-benar penembak jitu dengan membiarkan otak Minjoo bolong namun tidak dengan jantungnya jadi dia bisa bergerak dengan jantungnya yang sekarang ini sedang memuji Baekhyun itu.

Jika Minjoo benar-benar pergi dengan Baekhyun ke Jepang hanya berdua.. Minjoo sudah pastikan dia benar-benar bisa menjadi orang yang gila. Memang dirinya dan Baekhyun pergi ke Jepang untuk urusan pekerjaan tanpa urusan lain—entahlah, Minjoo rasa tidak mungkin mereka terus bekerja selama tiga sampai lima hari—tapi tetap saja di negara entah berantah selama tiga sampai lima hari bersama Baekhyun!? Oh sekedar informasi saja, meski Minjoo sudah pernah ke Jepang dia masih menyebutkan Jepang itu entah berantah—Jelas, Minjoo baru pergi satu kali saja ditambah itupun menggunakan guide tour dengan embel-embel Minjoo tertidur di sepanjang perjalanan menuju lokasi. Karena Minjoo menyebut Jepang negara entah berantah itulah dia bisa gila. Minjoo hanya punya Baekhyun selama tiga sampai lima hari. Harus menggantungkan hidupnya pada Baekhyun selama itu. Yang berarti membiarkan dirinya harus terus bersama Baekhyun selama itu. Harus-terus-bersama itu yang membuat Minjoo sudah membayangkan dirinya tiba-tiba mencium Baekhyun karena jantungnya yang sedang memuji Baekhyun!!

“Aku tidak mau!!” Minjoo mengeluh dengan menghentak-hentakkan kakinya ke kasur, “Aku tidak mau ke Jepang pokoknya!!!”

“Ya!” Baekhyun melempar bantal itu ke tubuh Minjoo hingga mengenai wajahnya. “Kau kenapa seperti anak kecil sekali, sih?! Ini kan tugasmu sebagai sekretarisku, kau harus ikut aku di rapat tahunan seluruh kepala cabang itu!!”

Minjoo sedang tidak ingin memprotes perlakuan Baekhyun yang jahat itu padanya hingga dia hanya menghalau bantal itu ke samping dan menatap Baekhyun penuh kesal, “Kenapa tidak Hyojoo eonnie yang berangkat sih!?”

“Noona sedang sakit, bodoh! Kau tega sekali di saat kakakmu sedang kambuh penyakitnya kau malah menyuruhnya berangkat!!”

“Aish! Lalu kenapa kau tidak berangkat sendiri!?”

“Apa fungsimu kalau begitu!?”

“Kenapa tidak menyuruh Chanyeol, Yubi, atau Sehun saja sih!? Kan sudah pernah kubilang bahwa aku tidak mau ke Jepang!”

Baekhyun menarik nafasnya pelan dan kemudian ia mendudukan dirinya tepat di hadapan Minjoo. Membuat jarak mereka hanya berpenggaris sepuluh sentimeter.

“Kau kenapa setidakmaunya itu berangkat ke Jepang denganku, hm?” Baekhyun memajukan wajahnya lagi hingga jarak mereka hanya lima sentimeter. Bahkan dia memiringkan kepalanya sedikit ke kanan, “Masih karena malam itu, iya?”

Sebenarnya Minjoo ingin berteriak sekencang-kencangnya kata ‘Iya’ namun semuanya begitu tertohok di dalam oleh wajah Baekhyun yang sedekat ini dengannya. Dengan jarak seperti ini, nafas mint Baekhyun begitu kentara menerpanya. Belum lagi ditambah bibir Baekhyun yang tiba-tiba memanggilnya dengan seruan ‘ayo cium aku’ terngiang-ngiang di otak gilanya.

Minjoo menelan mati-matian salivanya sambil berkomat-kamit meminta otaknya untuk menghilangkan seruan-seruan setan itu, “B-bukan karena malam itu kok.”

Baekhyun masih terdiam menatap Minjoo namun beberapa detik kemudian dia memajukan kembali wajahnya, seperti malam sakral itu. Dengan cepat, otak Minjoo yang tiba-tiba sedang tidak gila ini langsung menghadang bibirnya dengan tangannya.

“Iya karena malam itu kok.”

Baekhyun berucap sambil tersenyum licik dari jarak tiga sentimeter ini. Sekarang, Minjoo sadar bahwa pria itu berhasil menjahilinya untuk yang ke sejuta kali.

“Ya!!!” Minjoo langsung mendorong tubuh Baekhyun menjauh darinya. “Kau itu benar-benar iblis ya!!??”

“Dengar ya, Han Minjoo.” Baekhyun kembali mendekatkan tubuhnya kepada Minjoo meski tidak seintens sebelumnya. “Sudah kubilang, kau tidak akan bisa menghindariku bagaimana pun caranya. Meski kau berlari sejauh apapun, menolak seluruh perkataanku, akan ada aku yang menarikmu kembali tepat di depanku, menghadapku, dan menuruti kemauanku.”

“Kau akan terus bersamaku, bodoh.”

Baekhyun terkekeh pelan lalu beranjak dari duduknya meninggalkan Minjoo yang membeku. Kata-kata itu persis seperti yang Baekhyun katakan sebelumnya saat dirinya disebut teroris oleh Baekhyun.

“Percuma saja kau menutup wajahmu dengan segala bentuk barang, Minjoo-ya.”

“Aku akan terus memanggilmu. Menarikmu. Dan membuatmu menghadapku.”

“Aku akan terus membiarkan kau bersamaku, Han Minjoo.”

Minjoo tidak sadar bahwa kata-kata itu punya maksud lain dari yang Baekhyun ucapkan. Minjoo hanya sadar bahwa maksud dari kata-kata itu adalah Baekhyun akan selalu terus menghantui otak gilanya yang tiba-tiba punya hasrat untuk mencium Baekhyun kembali. Oh Tuhan.

.

.

Minjoo berjalan sambil terus beberapa kali mengeluh. Berkomat-kamit meminta Tuhan menolongnya untuk bisa kabur dari waktu ini.

“Ya!!”

Baekhyun yang sudah satu meter darinya berteriak padanya.

“Cepat!! Sebentar lagi pesawatnya akan landas!!”

Minjoo yang tengah menghentikan jalannya menghembuskan nafas besar-besar lalu kembali melangkah sambil menarik kopernya. Ugh, mana mungkin Tuhannya mau menolongnya disaat datang ke gereja yang terakhir kalinya adalah waktu ia menikah dengan Baekhyun.

Sesaat ia berhasil menghampiri Baekhyun, Minjoo menemukan Baekhyun yang tengah melihatnya dengan ekspresi andalannya—menyebalkan.

“Kenapa kau melihatku seperti itu?!”

Baekhyun berdecak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. “Belum pernah aku melihat gadis yang sememalukan ini untuk pergi naik pesawat.”

Minjoo langsung memerhatikan tubuhnya yang terbalut celana pendek dengan guratan sobek di ujungnya ditambah kaos lengen pendek yang bermodel sedikit crop tee. Memang sih Minjoo menyadari bahwa gayanya terlalu norak untuk ukuran umur 26 tahun sepertinya tetap saja dia harus menggunakan baju senyaman mungkin bukan kalau naik pesawat!?

“Memangnya kenapa, huh!? Kau malu aku memakai baju seperti!? Gampang saja, aku tidak akan ikut!”

Baekhyun menghembuskan nafasnya lalu menarik koper Minjoo.

“Lebih baik kau siapkan nyalimu untuk ditertawai sepanjang perjalanan, Han Minjoo.” Ucapnya dan melengos pergi. Membuat Minjoo menaikkan pitamnya kembali.

“Ya!!”

.

.

Baekhyun itu benar-benar cenayang, ya? Benar saja seperti kata-katanya, hampir seluruh penumpang pesawat menertawai Minjoo karena pakaian Minjoo. Meski tidak tertawa langsung, mimik muka mereka sangat kentara sekali bahwa mereka sedang menertawai Minjoo. Semua mulutnya terus berbicara sambil sesekali menunjuk-nunjuk Minjoo.

Minjoo meredam mati-matian emosinya dengan menahan nafasnya sangat dalam. Sambil melakukan itulah, dia melirik matanya pada Baekhyun yang telah tertidur dengan kepala menyandar pada jendela pesawat.

“Ugh, dia bisa-bisanya tidur disaat aku sedang dihina-hina seperti ini. Apa katanya yang mau menjagaku, huh!” gerutu Minjoo lalu ia kembali menghadap ke depan. Minjoo harus mencari sesuatu yang bisa mengalihkannya dari setan-setan ini, maka ia pun membuka tasnya dan mengambil novel yang selalu ia bawa jika ia sedang dalam perjalanan panjang. Tak lupa juga Minjoo mengeluarkan mp3 player beserta headphonenya, tentu saja untuk menghadang bisikan-bisikan iblis ini.

Saat Minjoo tengah memakai headphone itu pada telinganya lah ia merasakan sesuatu yang basah tumpah ke atas kulit pahanya yang terbuka. Minjoo juga melihat seorang lelaki berusia sekitaran eonnienya tengah terjatuh sambil memegang gelas.

“Ah! Maafkan aku, nona. Kakimu jadi basah begini.”

Minjoo sedikit merasa kesal karena minuman ini cukup lengket di kulitnya, minuman perisa tentunya. Rasanya Minjoo ingin berteriak memaki pria ini hanya saja ia mengingat dirinya sedang diinjak-injak oleh semua orang di pesawat yang membuatnya tidak punya kubu siapapun.

“Tidak apa-apa, Tuan.” Minjoo berucap dan berhasil menahan pitamnya.

Tetapi, bukannya pergi pria itu malah berjongkok di depan persis kaki Minjoo dan memerhatikan pahanya, “Aku bantu bersihkan ya, nona. Karenaku kulitmu jadi lengket, benar?”

Minjoo sempat risih karena tingkahnya namun Minjoo sebisa mungkin menahan pikiran negatifnya dan masih berlaku sopan pada pria itu,

“Tidak usah, Tuan. Aku bisa membersihkannya sendiri.”

“Jangan begitu nona, aku jadi tidak enak.” Pria itu mengeluarkan sapu tangannya dan mulai menaruhnya di atas paha Minjoo. “Biar aku bersihkan.”

Minjoo benar-benar risih setengah mati tapi dia masih terus berpikir positif dan menolak secara halus, “Tidak usah, tuan. Ini benar-benar bukan apa-apa.”

Pria itu terus memaksa dan terus mencoba untuk menyentuh paha Minjoo dan kini Minjoo mulai ketakutan,

“Tidak, nona, biar kubersihkan—“

“Ya.”

Minjoo menolehkan kepalanya pada Baekhyun dan melihat pria itu telah sepenuhnya membuka matanya.

“Dia bilang tidak usah. Kau tuli, huh?! Tidak usah memaksa kalau dia tidak mau!”

Pria jatuh itu tertawa pelan lalu berdiri dari tempatnya sambil menatap Baekhyun rendah, “Memangnya kau siapa sampai bisa berkata seperti itu padaku, huh!?”

Baekhyun berdiri dari tempatnya dan berjalan keluar, sedikit mendorong pria itu. Pria itu baru saja akan melawan sebelum Baekhyun mengatakan sesuatu yang menampar pria itu cukup keras.

“Aku suaminya, bodoh.”

Tamparan yang begitu keras, bukan? Pria itu langsung diam dengan jakun yang bergerak sekali. Mungkin menelan salivanya yang kalah telak.

“Lebih baik kau pergi sekarang sebelum kau kutendang keluar karena melakukan pelecehan pada istriku.”

Pria itu terdiam selama beberapa detik namun setelahnya berbicara lagi. Masih bersikeras melawan Baekhyun disaat dirinya sudah kalah telak, “Aku tidak melakukan pelecehan! Aku hanya ingin menolongnya karena aku tadi telah menumpahkan minuman ke kakinya!”

“Ya.” Baekhyun menatap pria itu dengan sangat tajam, “Memangnya aku tidak tahu apa kau telah memerhatikan istriku sejak dia naik pesawat tadi, huh? Kau sudah beberapa kali berjalan melewati kursiku, aku tahu itu!”

Pria itu kini benar-benar terdiam membeku di tempatnya. Jika Ia seperti itu berarti apa yang Baekhyun baru katakan benar?!

“Sudah pergi sekarang! Aku sedang dalam kondisi yang baik untuk tidak menghajarmu!”

Pria itu menghembuskan nafas kesalnya dan berjalan melewati Baekhyun sambil sedikit mendorong bahu Baekhyun. Pada saat itulah, Minjoo langsung berdiri dengan kepala yang begitu panas.

“Ya. Yang kau katakan itu benar, huh!? Dia mengikuti sedari tadi!?” Minjoo menggertakan giginya lalu mengalihkan pandangannya dari Baekhyun pada punggung pria itu yang telah menjauh. “Awas saja akan aku hajar dia!!”

Baekhyun menggeleng kepalanya lalu menarik Minjoo keluar. Minjoo tentunya kebingungan dan langsung mengerem langkahnya, “Mau kemana, huh? Kau berdiri itu memang mau keluar dan bukan menghajar pria itu?”

“Ck.” Baekhyun melepaskan tangannya dan kemudian memerhatikan kaki Minjoo yang kelihatan lengket, “Kakimu tidak akan dibersihkan, huh?”

Minjoo baru sadar dengan kulit kakinya yang lengket lalu dia menyengir kuda, “Ah, benar.”

Baekhyun mendengus pelan, “Dasar bodoh.” Lalu berjalan kembali menarik tangan Minjoo menuju toilet pesawat.

Minjoo mengerucutkan bibirnya namun detik setelahnya dia sadar sesuatu. Ini adalah kali pertamanya Baekhyun menggenggam tangannya. Ya sebenarnya Baekhyun sudah pernah memeluk tubuhnya saat mengangkat-angkatnya waktu sakit itu, belum lagi Baekhyun yang sudah mencium bibirnya. Mungkin beberapa bagian tubuh Minjoo sudah ‘tidak perawan’ oleh sentuhan Baekhyun namun untuk tangannya, ini adalah kali pertamanya Baekhyun menggenggamnya. Dan entah kenapa ini benar-benar terasa nyaman.

“Kenapa kau ikut juga ke toilet bersamaku?” tutur Minjoo setelah toilet itu sudah ada di hadapannya. Baekhyun menghadapnya dan melihatnya dengan alis bertaut. “Mau menjaga janjimu yang melindungiku dari pria itu, iya?” ucapnya setengah gerogi.

“Bukan.” Baekhyun meruntuhkan harapan Minjoo dalam satu sepersekian detik. “Aku hanya saja tidak mau mendengar celotehanmu yang berisik mengatakan kakimu begitu lengket karena aku juga tahu kau tidak akan pergi ke toilet karena takut dengan pria tadi, apa aku benar?”

Minjoo mengangakan mulutnya dan merasakan pitamnya naik kembali. Kali ini jauh seribu kali lipat lebih kesal dari pada pria jatuh itu.

Dengan satu hentakan, Minjoo melepas tangan Baekhyun dan masuk ke dalam toilet itu. Sebelum benar-benar menutup pintunya, Minjoo sempat menyerukan amarahnya.

“Sinting gila! Kupikir kau itu benar-benar tulus mau menolongku tahunya hanya memikirkan diri sendiri!”

Baekhyun terkekeh pelan mendengar itu.

.

.

Minjoo benar-benar mirip seperti gadis desa yang pertama kali datang ke kota tepat saat ia menginjakkan kakinya di bandara Narita. Dia terus menghirup nafas sebanyak-banyaknya sambil berseru ‘Halo lagi, Jepang!’

Sumpah itu adalah hal yang sangat memalukan.

“Ya!” Baekhyun berseru dan melihat ke arah Minjoo yang di sampingnya sedang mengeluarkan kepala melalui jendela mobil. Kali ini mereka sedang naik taksi umum untuk pergi ke hotel mereka. “Kau tidak masuk angin apa!?”

Minjoo tidak mempedulikan perkataan itu dan terus mengeluarkan kepalanya sambil mengulurkan tangannya keluar. Meski ini bukan yang pertama kalinya, tetap saja sebenarnya Minjoo menyukai Jepang. Jepang itu benar-benar memilik udara yang bagus. Meskipun sekalinya musim panas, cuacanya tetap bagus!

“Kenapa sih kau protes saja!?” Minjoo telah cukup puas menghirup udara sebanyak-banyaknya dan kini duduk tegap sambil melihat Baekhyun kesal. “Kau benar-benar tidak bisa melihat aku senang, ya?!”

“Sudah puas makan anginnya, hm?” Meski terdengar sangat lembut tapi Minjoo tahu bahwa itu merupakan pertanyaan sarkastik untuk mengejeknya.

“Sudah! Kau puas!?” ucapnya sedikit teriak. Minjoo rasa suaranya terlalu kencang karena supir taksinya kini melihatnya melalui kaca spion dengan tatapan ngeri.

“Ck. Kemarin ini ada seseorang yang bilang bahwa dia tidak ingin pergi ke Jepang.” Minjoo mendelik kesal saat Baekhyun telah membahas hal ini. “Tapi tampaknya orang itu telah pergi. Kira-kira kau tahu tidak kemana perginya orang itu?” Baekhyun bertanya sambil mengangkat satu alisnya ke atas pada Minjoo. Tampang andalannya untuk menjatuhkan seorang Han Minjoo.

“Orang itu ada di hadapanmu!!” Minjoo berteriak lebih kencang lagi dan tak mempedulikan supir taksi yang benar-benar berlagak akan memberhentikan mobilnya. Benar-benar, Minjoo sepertinya harus menyesali dirinya yang sempat terjatuh pada pesona sialan itu!!

“Hahaha. Suaramu itu terbaik, Minjoo-ya.” Baekhyun mengangkat jempolnya pada Minjoo lalu tiba-tiba ia melirik supir taksi dan berkata, “Soudesune, Ojisan? (Benar bukan, Paman?)”

Baekhyun menggunakan bahasa Jepang saat berbicara dengannya maka dari itu supir taksi menyerukan kesetujuannya menganggukan kepala. Dengan modal kelas bahasa Jepang yang dia ambil waktu semasa sekolah dahulu, Minjoo mengerucutkan bibirnya pada supir taksi itu. Baekhyun benar-benar setan yang bisa menghasut siapapun.

Anatatachi wa aikouka? (Apakah kalian sepasang kekasih?)”

Minjoo memang tidak mengerti arti kata semuanya tapi ada satu kata yang ia tangkap, yaitu yang ‘kekasih’. Apa paman ini sedang bertanya bahwa mereka ini sepasang kekasih?

Iie. Watashitachi wa aikouka. (Bukan, kami bukan sepasang kekasih.)” Baekhyun menjawab, masih menggunakan bahasa Jepangnya.

Ah, Tomodachi desuka? (Ah, lalu kalian itu teman?)”

Ini dimana sih? Ini bukan planet sejenis Jupiter dan kawan-kawannya itu kan? Kenapa mereka terdengar seperti menggunakan bahasa alien!? Oh, Minjoo lupa bilang. Meski dia pernah mengambil kelas bahasa Jepang itu, kalian jangan berharap bahwa Minjoo bisa menjadi translator presiden negara karena yang ia hapal adalah kata-kata yang penting saja seperti: aku, kamu. Kata kekasih ia temukan saat ia disuruh menyebutkan satu kata secara mendadak di kelas.

Iie. Tomodachi dewa arimasen. (Bukan juga.)” Baekhyun melirik sebentar pada Minjoo dan Minjoo mengangkat bahunya, berharap Baekhyun mengerti bahwa dia sedang bilang: kalian bicara apa sih sedari tadi?, tapi sepertinya Baekhyun tidak menangkap pertanyaan Minjoo itu.

Minjoo pun menyerah untuk ingin terjun dalam konversasi mereka yang terus berlanjut. Baekhyun sempat meliriknya kembali, sambil tersenyum, namun Minjoo memutar bola matanya malas dan menghadap jendela. Ya, Minjoo tahulah pasti pria itu tengah menjelek-jelekannya!!

.

.

“Wuah!”

Kamar mereka ini benar-benar super mewah. Luasnya mungkin sebesar lantai dua rumah mereka. Di pojok ruangan terdapat perapian, jendela yang menghadap langsung ke kota Tokyo, televisi super besar, sofa dan meja, dapur kecil di ujung ruangan, kamar mandi dengan bathub, dan yang terakhir kasur king size!

“Wuaah!” Minjoo loncat ke atas kasur dan dia langsung berguling-guling seperti anak bayi baru bisa merangkak disana, “Ini benar-benar keren, Baekhyun-ah!”

Baekhyun hanya mendengus sambil menaruh kopernya di dekat lemari, “Kau itu benar-benar menjijikan ya!? Kau tidak pernah ke hotel ya sebelumnya?!”

Minjoo mengerucutkan bibirnya dan kini ia duduk di tepi ranjang, “Aku pernah menginap di hotel tapi hotelnya tidak sebagus ini.” Meski orang tua Minjoo sangat kaya-raya, Minjoo bukanlah tipikal anak yang suka menghabiskan uang orang tuanya untuk jalan-jalan ke luar negeri ataupun belanja sesuka hatinya. Waktu ke Jepang dahulu pun merupakan uang hasil tabungannya sendiri selama sepuluh tahun.

“Kau kan tahu aku tidak suka menggunakan uang orang tuaku. Untuk bisa menginap di hotel seperti ini rasanya aku perlu menabung selama lima tahun dahulu.” Minjoo berucap sambil mengangkat bahunya. Melihat itu, Baekhyun pun tersenyum dan mendudukan dirinya persis di sebelah Minjoo.

“Aigoo..” Baekhyun mengangkat tangannya dan mengusap rambut Minjoo. “Masih anak yang sangat baik rupanya!”

Mata Minjoo sedikit membulat dan jantungnya perlahan-lahan membuat seluruh tubuhnya menghangat. Tangan sialan ini harus Minjoo singkirkan!

“Y-ya, tentu!” Minjoo berhasil menghadang tangan Baekhyun darinya dan ia juga telah berhasil menetralisir jantungnya. “Memangnya dirimu apa! Kau pasti sering menggunakan uang paman Byun!”

“Hey, tidak lupa apa kalau rumah kita aku beli dengan apa?” ucapnya dan membuat Minjoo kalah telak.

“Dengan uang, tentunya!” Minjoo menyerocos kasar dan Baekhyun hanya berdecak pelan.

“Berdebat denganmu tidak akan pernah selesai. Coba kau periksa jadwalku sekarang, Minjoo-ya. Pertemuan dengan kepala cabang itu kapan dilaksanakannya?”

Minjoo menuruti permintaan Baekhyun dan berjalan ke tasnya yang di sofa untuk mengambil tabletnya. “Pertemuannya baru dilaksanakan besok pagi jam sepuluh sampai jam lima sore. Setelahnya akan ada acara makan malam dengan mereka semua di tempat yang sama.”

Baekhyun mengangguk-angguk setuju, “Minjoo-ya, coba tambahkan jadwalku di hari lusa. Tadi Hyojoo noona meneleponku dan berkata bahwa ada investor dari China ingin bertemu denganku, kebetulan dia sedang di Jepang sekarang.”

Minjoo menganggukan kepalanya dan menambahkan jadwal yang Baekhyun maksudkan di tabletnya.

“Sudah semuanya, Pak Direktur.”

Baekhyun menatap Minjoo dengan alis bertaut sambil terkekeh pelan, “Tumben sekali kau mau memanggilku seperti itu.”

Minjoo terkekeh pelan, “Meski kau musuhku, tetap saja aku menghormatimu sebagai direktur utama perusahaan. Kalau untuk urusan pekerjaan, aku mau menuruti perkataanmu.” Minjoo sempat menekan kata urusan-pekerjaan untuk membuat Baekhyun mengerti maksudnya, namun pria itu malah melenyapkan senyumannya.

“Eh, ada yang salah, Baekhyun-ah?” Minjoo bertanya saat menyadari Baekhyun bergeming menatapnya. Minjoo baru mau bertanya lagi namun Baekhyun menghembuskan nafasnya dan menggeleng kepalanya pelan.

Dia bangkit dan berjalan mengambil dompet serta ponselnya, “Ayo kita keluar. Masih cukup siang untuk berjalan-jalan sebelum kita sibuk besok.”

Minjoo membinarkan matanya dan berlari tepat ke hadapan Baekhyun, “Kita boleh jalan-jalan!?”

Baekhyun mengangkat alisnya, “Kenapa tidak boleh? Siapa yang melarang!”

Minjoo senang bukan main dan dia merekahkan senyumnya benar-benar lebar,

“Yeay!! Kupikir kita hanya akan bekerja disini!” Minjoo pun berlari kembali menuju kopernya lalu membukanya. Dia mengeluarkan beberapa baju dan juga ada kamera yang ia simpan di tumpukan baju.

“Ya.” Baekhyun memerhatikan itu semua terlebih kamera yang Minjoo bawa itu. “Kau mempersiapkan ini semua!?”

Minjoo mengambil dressnya yang berwarna pink cerah, tali lengan yang tipis dan membuat pakaian itu seperti pakaian hawaii. Seperti yang Baekhyun tebak, Minjoo memang telah mempersiapkan itu semua. Meski waktu itu ia menolak mati-matian untuk tidak pergi ke Jepang, sebersit perasaan senang juga menyelip disana sebenarnya. Lagipula, Minjoo bukannya tidak mau pergi ke Jepang. Dia hanya tidak ingin berdua dengan Baekhyun di Jepang!

“Aku akan berganti pakaian dahulu. Kau tunggu diluar, ok!?” Minjoo tersenyum cerah lalu berlari ke kamar mandinya membawa pakaian itu.

“Ya! Orang yang mengatakan tidak mau ke Jepang itu bukannya kau, ya!?”

“Benar, itu aku!” Minjoo berteriak dari dalam kamar mandi dan Baekhyun langsung menggeleng pelan sambil tersenyum mendengar itu.

.

.

Bangunan-bangunan menjulang tinggi di sepanjang kota. Banyak taman dengan bunga indah, ditambah pepohonan yang terus Minjoo temui setiap ia melangkahkan kakinya. Tak henti-hentinya suara dari kamera terdengar di telinga Minjoo, seiring dari jemari Minjoo yang terus-menerus menekan tombol di kamera tersebut. Pemandangan indah seperti ini tidak boleh terlewat sedikit pun meski Minjoo hanya memotretnya asal-asalan. Tidak apa-apalah, yang penting bisa Minjoo lihat kembali kalau ia sedang membutuhkan liburan.

Senyum Minjoo juga mengiringi setiap langkah dan setiap cekrekan kamera yang ia ambil. Hatinya terus melambung tinggi, kalau dibilang Minjoo kurang liburan, maka Minjoo akan mengangguk setuju. Terakhir Minjoo liburan adalah sekitar satu tahun yang lalu, saat dia ke Jeju bersama teman grupnya—Sehun, Yubi, Chanyeol. Bukankah itu terlalu lama di saat akhir-akhir ini Minjoo tengah dihujani beban-beban menyebalkan seperti menikah dengan pria yang disampingnya sekarang!?

Mengenai Baekhyun, Minjoo rasa ia lagi dan lagi seperti terbang ke masa dimana dirinya dan Baekhyun pernah menjalani hidup bersama. Mereka tertawa, bercanda pada satu hal yang sama dan kemudian bertengkar kecil untuk hal-hal yang sangat tidak perlu. Ada yang Minjoo meminta tolong Baekhyun untuk memotretnya dengan patung anjing hachi namun Baekhyun malah menzoom muka Minjoo hingga patung tersebut terpotong di fotonya. Tentu saja Minjoo menyerocos kesal dan menyuruh Baekhyun memotret ulang tapi tetap, yang Baekhyun lakukan setelahnya adalah memotret kaki Minjoo.

Ada lagi di saat Minjoo menyuruh Baekhyun berpose di depan sebuah lukisan dinding yang sangat aestetik. Ternyata sifatnya yang terkadang manis itu menyimpan tampangnya yang kaku kalau di foto, untuk informasi kalian. Baekhyun seperti pria yang baru bertemu kamera seumur hidupnya lalu hanya berdiri tegak dan menatap kamera itu. Kerap kali Minjoo menyuruhnya bergaya tapi yang pria itu lakukan hanya mengangkat tangannya, membentuk sebuah gunting melalui jemari telunjuk dan tengahnya, dan senyuman yang benar-benar di buat. Minjoo tertawa bukan kepayang sambil mengejeknya tapi yang Baekhyun katakan hanya: Kalau aku berpose seperti model, aku akan dianggap sebagai member boyband Korea yang sedang liburan. Ugh, he definitely have this high-confidence!

Minjoo menghentikan langkahnya karena kakinya mulai terasa lelah. Ia menoleh ke belakang, mencari Baekhyun, namun pria itu tidak ada. Minjoo sempat panik namun kemudian dia menghembuskan nafasnya lega karena Baekhyun berjalan dari arah diagonalnya sambil membawa es krim di tangannya.

“Ya. Buatku mana?”

“Kau tidak minta dibelikan?” Baekhyun bertanya sambil melahap es krimnya. “Ya tentu saja tidak kubelikan.”

Minjoo menganga tak percaya sambil mendengus kesal pada Baekhyun. Kalian coba pikirkan sendiri saja, di saat kalian sedang pergi bersama teman kalian, kalian kan tidak mungkin membeli es krim untuk kalian sendiri!? Terlebih, Minjoo ini istrinya!!

“Kau itu benar-benar pria berhati dingin ya!?” Minjoo menyerocos dan menatap tajam Baekhyun. “Bagaimana bisa kau membeli es krim itu untuk dirimu sendiri di saat kau sedang bersama denganku!?”

“Kau mau?” Baekhyun menyodorkan es krim itu dan membuat Minjoo tergelak di hadapannya. “Kalau mau bilang saja, tidak usah berteriak-teriak.”

Minjoo terdiam dan bergeming menatap es krim yang sangat mencuri seluruh pikirannya. Udara sekarang sedang sangat panas, belum lagi ditambah saat ini sedang musim panas yang berarti Minjoo seperti sedang berdiri persis dibawah matahari. Memakan es krim tentunya hal yang sangat tepat.

Menalan mati-matian amarah—dan juga rasa malunya—Minjoo pun memajukan mulutnya dan menjulurkan lidahnya menuju es krim itu. Hawa dingin es krim itu sudah terasa dilidahnya namun detik selanjutnya ia merasakan hawa dingin itu menghilang.

Siapa lagi pelakunya kalau bukan si sinting Baekhyun yang sengaja menarik es krimya!!

“Ya!!” Minjoo teriak memaki Baekhyun yang tengah tertawa sangat keras.

“Kau seperti anjing, Minjoo-ya!!” ucapnya sekarang dan membuat Minjoo merasakan bahwa dia harus mencari sesuatu yang tajam seperti pisau atau gergaji untuk menggorok leher Baekhyun.

Karena tahu Minjoo bisa melakukan itu padanya, Minjoo pun memutar tubuhnya dan berniat untuk melangkah menjauh dari Baekhyun.

“Ya, aku bercanda.” Namun Baekhyun menahan tangannya dan membuatnya kembali menghadap pria itu. Kemudian Baekhyun menaruh es krim tadi di tangan Minjoo.

“Ini, buatmu saja. Aku sudah kenyang.”

Minjoo memerhatikan Baekhyun dengan mengerucutkan bibirnya. “Sekali saja, Baekhyun. Kau tidak mengerjaiku. Bisa?”

“Hm.. tidak bisa sepertinya.” Ucapnya sambil terkekeh pelan dan Minjoo memutar bola matanya. Setelahnya Minjoo melahap es krim itu dengan semangat, merasakan bahwa dia seperti tengah terjun ke kolam renang yang begitu menyegarkan.

“Aigoo.. Kau menikmatinya, hm?” Baekhyun memerhatikan Minjoo yang seperti anak lima tahun itu memakan es krim. “Kenapa rasanya seperti sangat enak saat kau makan, hm?”

Minjoo pun memunculkan ide cemerlang di otaknya untuk membalas perlakuan Baekhyun sebelumnya, “Kau mau lagi?” ucapnya sambil menyodorkan es krim itu kembali ke Baekhyun.

Baekhyun menggeleng pelan, “Aku tahu kau mau membalas perbuatanku, Minjoo-ya.”

“Tidak. Ini aku serius.” Minjoo semakin menyodorkan es krimnya ke depan wajah Baekhyun. Tak lupa juga memasang mimik muka seserius mungkin. “Kau boleh menyicipinya kembali.”

Baekhyun terdiam sebentar namun ia perlahan bergerak juga menghampiri es krim itu.

“Kau benar sedang tidak membalasku, kan!?” Baekhyun mengerem pergerakan kepalanya dan membuat Minjoo memutar bola matanya malas. Nyaris saja Minjoo memaki Baekhyun untuk cepat melahap es krimnya supaya ia bisa mengerjainya.

“Iya, aku serius!” dan Minjoo memajukan kembali es krim itu tepat ke depan wajah Baekhyun.

Merasa yakin dengan mimik muka Minjoo, Baekhyun pun bergerak mendekati es krim. Dia berhasil merasakan es krim itu kembali di bibirnya namun tiba-tiba ia tersedak dengan Minjoo yang mendorong es krim itu begitu dalam hingga menyentuh hidungnya.

“Ya!!”

“Hahaha!!”

Minjoo tertawa bukan main sambil menarik kembali es krimnya.

“Makanya jangan pernah coba-coba untuk menjahiliku, Byun Baekhyun!”

Minjoo terus tertawa dan ia merasakan bahwa perjuangannya selama ini untuk menjahili Baekhyun berhasil. Meski sekarang skornya baru satu banding seribu.

“Aku tidak sekejam ini ya menjahilimu sampai mengotori wajah!” Baekhyun marah dan memprotes, lalu ia menunjuk-nujuk mukanya. “Aku tak mau tahu, bersihkan wajahku!”

Bukan Minjoo namanya kalau dia mengiyakan permintaan Baekhyun disaat ia sudah menang, Ia pun menggelengkan kepalanya dan berjalan menjauh dari Baekhyun sambil menjulurkan lidahnya.

“Makanya jangan pernah menjahiliku seperti itu, Byun Baekhyun! Kau tahu, hari pembalasanku sudah tiba!”

Baekhyun hanya bisa menghembuskan nafas pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia pun mengikuti Minjoo sambil membersihkan hidungnya.

“Ya! Mau kemana kau!”

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Seorang pria dengan rambut coklat kehitaman tengah mengamati kota Tokyo melewati kaca jendela kamar hotelnya. Dengan cangkir kopi di tangannya, asap dari panasnya kopi telah menguar-nguar melewati gelas tersebut.

Tok. Tok.

“Silakan masuk.”

Pria yang mengetuk pintu pria itu tadi masuk dan menemuinya.

“Tuan, direktur utama HanByun Corporation sedang berada di Tokyo. Tadi aku telah meneleponnya dan dia mengatakan bahwa dia bersedia bertemu dengan Tuan.”

Pria yang disebut Tuan oleh sekretaris pribadinya itu menganggukan kepala, “Ok, buatkan jadwalku dengannya. Kira-kira.. tiga hari dari sekarang saja.”

“Baik, Tuan.” Setelah itu, sekretaris pribadinya minta izin untuk keluar dari kamarnya.

Dia kembali bergeming dan membuka ponselnya. Melihat website HanByun Corporation dan memerhatikan struktur divisi pekerja di perusahaan tersebut.

Byun Baekhyun

CEO of HanByun Corporation

 

“Sudah lama tidak bertemu, Baekhyun-ah.” Ucapnya dan tersenyum pelan.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Minjoo menjatuhkan tubuhnya ke atas kasur, berharap punggungnya yang telah mati rasa itu bisa lurus kembali. Tidak peduli betapa lengketnya gaun ini di tubuhnya, yang Minjoo benar-benar butuhkan sekarang adalah untuk meluruskan sendi-sendi tulang belakangnya yang hampir lepas semua.

Dirinya dan Baekhyun baru saja selesai menghadiri acara pertemuan dengan seluruh kepala cabang di berbagai negara. Dari pukul sepuluh pagi tadi sampai sekarang pukul sepuluh malam, Minjoo tidak henti-hentinya berjalan kesana-kemari, tersenyum, mencatat seluruh pekerjaan Baekhyun, dan masih banyak hal lainnya yang ia lakukan. Kali ini Baekhyun benar-benar menggunakannya dengan tepat sebagai sekretarisnya karena ia sama sekali tidak menyebalkan hari ini. Entah sedang serius karena jadwalnya sangat padat atau memang ia terlalu lelah mengurusi hal-hal tidak penting yang ia lakukan selama ini (re: menjahili Minjoo). Yang jelas, memang hari ini mereka berdua sangat sibuk melakukan pekerjaan, Baekhyun dengan proyek-proyeknya dan Minjoo dengan laporannya. Oh, kalau Minjoo mempunyai tugas tambahan. Karena dia istrinya, ia sekaligus menjadi pendamping Baekhyun seharian ini. Tadi Minjoo sudah menyebutkan bukan bahwa ia harus tersenyum entah untuk sejuta kalinya saat di acara menyebalkan hari ini?

Minjoo baru saja akan terlelap saat merasakan kasurnya bergerak dan kemudian pipinya ditepuk lembut oleh tangan yang Minjoo boleh bilang hangat itu.

“Ya. Bangun.” Baekhyun menepuk-nepuk pelan pipi Minjoo dan itu cukup membuat Minjoo tidak jadi menutup matanya. “Aku tahu kau sangat lelah tapi ini benar-benar genting. Kita harus pindah hotel besok pagi.”

Minjoo mendengar itu dan dia langsung merenguh kesal sambil membangkitkan tubuhnya, “Kenapa harus pindah?”

“Ingat investor China yang kusebutkan kemarin? Dia minta bertemu di kota Nagasaki yang berjarak 50 kilometer dari sini.”

Aish, siapapun investor China itu, Minjoo benar-benar akan menghajarnya sampai mati kalau dia bertemu dengannya. Kenapa sih harus bertemu di tempat sejauh itu dan yang bahkan Minjoo tidak ketahuii!? Minjoo pun yakin, orang-orang banyak yang tidak tahu tempat itu!

“Kau harus bereskan pakaianmu. Besok pagi kita check-out hotel dan langsung berangkat kesana.” Baekhyun terdiam sebentar melihat Minjoo yang setengah menutup matanya dan mengerucutkan bibirnya.

“Maaf ya, kau pasti benar-benar lelah? Maaf membawamu ke dalam lingkup pekerjaanku yang seperti ini.” Minjoo mendengar itu semua dan kini dia membeku sambil merundukkan pandangannya. “Akan kunyalakan keran air panasnya untukmu. Setelah selesai membereskan pakaianmu, setidaknya kau harus mandi dahulu supaya badanmu tidak gatal, ya?”

Baekhyun langsung bangkit dan pergi menjauh darinya. Ya Tuhan, entah Minjoo yang terlalu lelah atau sebenarnya dia telah berada di alam mimpi tapi tadi adalah kali pertamanya Minjoo mendengar suara penyesalan Baekhyun yang begitu dalam. Sangat dalam dan itu membuat kehangatan dari tubuh Minjoo menguar di setiap inci tubuh Minjoo. Si kupu-kupu ini telah mendapatkan profesi baru, selain membuat perutnya merasa geli setiap Minjoo memberinya ‘makanan’, kini mereka menciptakan suasana hangat dalam perut itu. Ugh, ini mimpi bukan, sih!?

.

.

Minjoo terdiam sambil memandang lurus-lurus kursi kemudi di hadapannya. Di sampingnya ada Baekhyun, yang sedang membaca laporan kemarin yang Minjoo buat menggunakan tablet milik Minjoo. Mereka sudah dalam perjalanan menuju kota Nagasaki itu menggunakan mobil kantor milik perusahaan cabang Jepang beserta supirnya.

Minjoo termenung karena dia masih memikirkan perkataan Baekhyun tadi malam. Perkataan itu seperti menyatakan bahwa dia menyesal membuat Minjoo kelelahan karena harus menemaninya seharian. Semuanya begitu terasa oleh Minjoo tapi Minjoo merasa ragu dengan itu semua.

“Apa tadi malam aku mandi, Baekhyun-ah?”

Baekhyun melirik Minjoo dengan alis bertaut, “Huh?”

“Tadi malam aku mandi tidak sehabis kau bangunkan itu?”

“Ck.” Baekhyun memutar kepalanya kembali dan memerhatikan tablet Minjoo seksama. Minjoo rasa Baekhyun pikir pertanyaannya itu sangat tidak penting. “Jangan menggangguku. Aku sedang pusing membaca laporanmu.”

“Aish, jawab saja, kau kan punya kemampuan mengingat yang hebat. Tadi malam aku mandi tidak?”

“Memangnya kenapa sih?” Baekhyun mendesis kesal lalu melirik Minjoo kembali, “Aku tidak tahu!” kemudian dia menatap tablet Minjoo kembali.

Minjoo mendengus sebal lalu ia menatap kursi kemudi lurus-lurus. Percuma, sepertinya dia memang bermimpi tadi malam.

“Yang jelas kau masuk kamar mandi setelah aku nyalakan keran air hangat. Tidak tahu kalau kau tidur di dalam sana.”

Atau memang itu bukan mimpi!

Minjoo menolehkan wajahnya begitu cepat pada Baekhyun dan menatap pria itu dalam-dalam. Jadi.. semua kata-katanya itu benar keluar dari mulutnya?

“Kenapa? Memangnya kenapa dengan kau mandi atau tidak? Kau merasa badanmu menyengat?”

Minjoo tidak menggertak saat Baekhyun mengatakan kalimat ejekannya di akhir itu dan hanya terus menatap Baekhyun dengan pandangan yang tidak bisa diartikan. Kata-kata dengan suara penyesalan teramat dalam itu benar-benar Baekhyun katakan tadi malam?

Tak kuasa untuk menahan kupu-kupunya untuk tidak membuat wajahnya memerah, Minjoo mengalihkan wajahnya pada jendela luar. Menatap pemandangan pepohonan dengan jantungnya yang berdetak di setiap wajahnya.

“T-tidak. T-tidak apa-apa.”

Ugh, kenapa kupu-kupu ini bisa bertahan sangat lama di perut Minjoo sih!

.

.

“Wuaaah!!”

Minjoo kembali lagi dengan tingkah menjijikannya yang seperti baru pertama kali datang ke kota besar. Uhm, sepertinya kali ini baru pertama kali melihat pantai karena ia berlari-lari ke arah pantai sambil melebarkan tangannya.

“Ya!!” Baekhyun memprotes aksi Minjoo dari kejauhan. Percuma saja, Byun Baekhyun. Jarakmu dengannya terlalu jauh karena Minjoo lari begitu cepat sambil kegirangan melihat pantai yang sangat indah.

Kalau kalian melihat secara langsung, mungkin sebenarnya tingkah kalian bisa saja lebih menjijikan dari Minjoo karena nyatanya pantai ini memang benar-benar sangat indah. Warna airnya biru kehijauan, pasirnya berwarna putih keemasan dan terdapat beberapa karang di sekitarnya. Belum lagi pantai ini sangat bersih dan terawat, ditambah pengunjung yang tidak terlalu banyak. Sepertinya pantai ini tidak diketahui banyak orang, maka dari itu keaslian dari pantai ini masih terlihat jelas.

Minjoo berjalan ke arah gelombang air yang datang lalu berlari menjauh saat dirasa gelombang tersebut terlalu besar. Belum lagi dia memungut beberapa kerang dari atas pasir. Sumpah, gadis itu benar-benar seperti anak balita yang pertama kali diajak ke pantai.

“Ya! Kita harus check-in hotel dahulu sebelum kau mau main di pantai sini!” Baekhyun telah berhasil menghampiri Minjoo sambil melihat ke arah kopernya yang berada di pinggir pantai. Kebetulan juga Baekhyun memilih hotel yang berada di samping pantai ini.

“Aku ingin main dahulu baru ke hotel, Baekhyun-ah!” Minjoo berlari ke arah kopernya dan membuat Baekhyun menghembuskan nafasnya kasar, “Kau duluan saja ke hotel, baru nanti temui aku lagi. Aku akan ganti pakaian dahulu di kamar mandi!”

Baekhyun menyerah. Dia benar-benar meninggalkan Minjoo setelah Minjoo menarik kopernya ke kamar mandi.

.

.

Minjoo telah berhasil mengganti pakaiannya dengan dress yang motif dan modelnya sama seperti hari pertama mereka sampai di Jepang namun berbeda warna. Yang kali ini berwarna oranye. Minjoo memerhatikan dirinya seksama sambil tersenyum girang. Tak ada salahnya dia membawa beberapa baju liburan ini, nyatanya dia memang akan menikmati liburan.

Saat Minjoo tengah mengikat rambutnya di depan kaca toilet, Minjoo menyadari sesuatu yang sangat ganjal. Ia melirik ke sampingnya, tepat dia dimana menaruh koper saat ia mengganti pakaiannya ke dalam kabin toilet, namun tidak menemukan barang serodapun kopernya disana.

Minjoo kalut setengah mati dan langsung memeriksa seluruh kabin toilet untuk menemukan kopernya namun ia tidak menemukannya sama sekali. Ia pun dengan cepat keluar dari toilet itu sambil menyelempangkan tasnya dan bertanya pada penjaga toilet.

Sorry, I want to ask, do you see my suitcase had been taken away by someone from the toilet? (Maaf, saya mau bertanya, apakah kau melihat koper saya telah dibawa seseorang dari toilet?)”

Minjoo berharap-harap cemas bahwa bibi ini mengerti bahasa Inggris tanpa Minjoo perlu menggunakan bahasa isyarat dan nyatanya harapan Minjoo memang terkabul,

I’m sorry, I didn’t see it because I was just changing shift with my friend. (Maaf, saya tidak melihat karena saya baru saja berganti shift dengan teman saya.)”

Kaki Minjoo lemas setengah mati, “Can you tell me where is your friend going? (Bisakah kau memberitahuku kemana temanmu pergi?)”

I’m sorry again but people who work here will just work for once and never comeback. So I didn’t know where is my friend going because I didn’t even know her. (Saya minta maaf lagi tapi orang-orang yang bekerja disini hanya bekerja sekali dan tidak pernah kembali. Jadi, saya tidak tahu kemana teman saya pergi karena saya tidak mengenalnya.)”

Minjoo benar merasa kehilangan sendi-sendi kakinya. Dia hampir saja jatuh kalau dia tidak melihat Baekhyun datang dari arah berlawanan menuju dirinya.

“Ya. Kenapa kau masih disini?” Baekhyun memerhatikan Minjoo lalu melirik ke arah belakang Minjoo. “Mana kopermu?”

Minjoo tak kuasa untuk menahan tangisnya dan langsung menangis sekencang-kencangnya di hadapan Baekhyun. Membuat wajah Baekhyun berubah menjadi panik.

“Ya. Kenapa?”

“Koperku..” Minjoo menangis tersedu-sedu sambil mengusap air matanya yang tak mau berhenti. “Koperku hilang, Baekhyun-ah..”

Baekhyun melihat Minjoo dengan sorot pandang kecewa, mungkin di dalam hatinya dia telah menyiapkan seluruh perkataan yang mengatakan bahwa Minjoo ceroboh, benar katanya bahwa seharusnya mereka check-in dahulu, jangan berlebihan karena melihat pantai indah jadi betingkah menjijikan hingga menghilangkan kopernya. Tapi, bukannya mengeluarkan semua unek-unek yang Minjoo pikirkan dari Baekhyun, pria itu malah menghembuskan nafasnya pelan.

“Sudah. Tidak apa-apa. Yang hilang itu hanya koper, masih untung bukan dirimu.” Baekhyun memerhatikan Minjoo dengan seksama lalu melirik ke tasnya. “Barang-barang yang ada di koper apa saja memang? Kameramu? Tabletmu? Eh tabletmu tadi kan kubawa.”

Minjoo sudah sedikit menghentikan tangisannya, “Kameraku ada di tas. Ponsel dan dompet juga di tas. Tabletku ada di dirimu. Aku tidak bawa barang yang lain, di koper hanya baju-baju saja.”

Baekhyun terlihat seperti ingin mengatakan: ayolah, terus kenapa menangis kalau hanya itu?, tapi dia hanya menghembuskan nafasnya lagi sambil menarik Minjoo berjalan keluar.

“Ya sudah kalau itu saja yang hilang.” Baekhyun mengerem langkahnya lalu menghadapkan wajah Minjoo padanya. Ia mengangkat tangannya dan menghapus jejak-jejak air mata Minjoo.

“Tidak perlu menangis seperti ini.”

“Kau tidak marah?” Minjoo membiarkan Baekhyun yang menghapus air matanya padahal di dalam sana kupu-kupunya telah kembali berhilir ria. “Aku tidak akan melawan kalau kau mau memarahiku, Baekhyun-ah. Aku yang salah dan aku patut dimarahi.”

Baekhyun berhasil menghapus jejak air mata Minjoo lalu menurunkan tangannya dan menarik Minjoo untuk berjalan kembali.

“Tadi aku sudah bilang, yang hilang itu kopermu. Bukan dirimu. Untuk apa aku marah?”

Deg. Deg.

Demi apapun, Minjoo benar-benar merasa air matanya telah kering karena kehangatan itu telah menjalar sampai matanya.

“Kalaupun aku memarahimu itu akan sia-sia saja karena kopermu tidak akan kembali juga. Kau juga tidak perlu menangis kalau begitu, mengerti?”

Minjoo pun terdiam dan berjalan mengikuti Baekhyun yang menariknya dengan perasaan hangat yang telah mengalir di sekujur tubuhnya. Pikirannya tentang koper yang hilang ia buang entah kemana dan menggantikannya dengan setiap kata yang Baekhyun katakan tadi serta tangan yang menggenggamnya untuk yang kedua kali.

Mungkin untuk hari ini perasaannya benar-benar akan membutakan pikirannya dan menuruti semua apa yang Baekhyun lakukan padanya.

.

.

Minjoo berjalan mengitari setiap lorong pakaian untuk menggantikan pakaiannya yang hilang. Dia mengambil beberapa dress, kaus beserta celana pendek, lalu kemeja putih kebesaran untuk menjadi piyamanya selama beberapa hari.

Setelah mengambil beberapa pakaian itu, ia menghampiri Baekhyun yang duduk di kursi tunggu.

“Sudah selesai?”

Minjoo mengangguk pelan lalu Baekhyun bangkit dan mereka berjalan menuju kasir. Selesai membayar, mereka pun keluar dari butik tersebut.

“Ya. Baekhyun-ah.”

Kini mereka sedang berjalan menyasari jalan setapak. Meski kotanya bukan kota terkenal, kota Nagasaki juga cukup memiliki gedung-gedung yang menjulang tinggi dan pemandangan yang indah.

“Maaf karena banyak merepotkanmu.”

Baekhyun terkekeh pelan lalu ia melirik Minjoo, “Sadar juga kau.”

Minjoo merasakan hatinya sedikit meretak karena pengakuan Baekhyun namun setelahnya dia merasakan kupu-kupu itu lagi saat Baekhyun menambahkan,

“Itu bukan masalah, Han Minjoo. Aku ini suamimu, sudah sepatutnya aku ada disana saat kau kesulitan.”

Baekhyun mengerem pergerakannya dan memutar tubuhnya menghadap Minjoo, “Berhenti mengkhawatirkan hal yang tidak-tidak karena aku bersamamu untuk menghadapi semuanya. Mengerti?”

Lalu Baekhyun menolehkan kepalanya pada tempat di sebrang jalan sambil menunjuk-nunjuk sesuatu.

“Ayo kau foto disana, aku akan memotretmu dengan benar kali ini. Kau tidak mengeluarkan kameramu sedari tadi, hm?”

Minjoo sempat bergeming selama beberapa detik karena perkataan Baekhyun sebelumnya. Ia merasakan ada suatu getaran yang muncul disana, yang entah sejak kapan sebenarnya getaran itu ia terima.

Tiba-tiba saja tubuh Minjoo terhuyung saat Baekhyun menarik tangan Minjoo dan berjalan menuju dinding yang berlukis menara Tokyo yang tinggi itu. Baekhyun menyuruh Minjoo untuk berdiri di lukisan tersebut lalu Baekhyun memotetnya. Benar seperti katanya, dia memotret Minjoo dengan benar kali ini.

“Giliran kau yang memotretku sekarang. Lihat baik-baik ya, aku akan bergaya dengan benar sekarang.”

Saat Baekhyun telah berada di depan dinding itu, Minjoo mengangkat kameranya pada matanya dan ia terbelalak kaget. Baekhyun benar-benar berpose seperti layaknya salah satu member boyband dari negerinya yang tengah liburan. Sangat tampan dan seksi di satu waktu. Membuat Minjoo menyemburatkan kemerahan di pipinya karena tak sanggup melihat itu semua.

“Sudah belum, Minjoo-ya!?” Baekhyun berteriak dan Minjoo tergelak sambil menekan tombolnya. Ia berhasil mengambil beberapa gambar dengan gemetaran di jemarinya.

“S-sudah.” Ucap Minjoo lalu memutar tubuhnya karena takut Baekhyun melihat semburat merah itu.

“Aku ingin lihat.” Baekhyun menghampiri Minjoo namun Minjoo tetap berusaha memunggungi Baekhyun, dia tidak boleh membiarkan Baekhyun melihat semburat merah memalukan ini.

“Ya.” Baekhyun mulai mengeluh karena Minjoo terus memunggunginya, “Mana fotonya, aku ingin lihat. Jangan-jangan kau tidak melakukannya dengan benar ya!?”

“Lihatnya nanti saja. Di hotel.” Minjoo memasukkan kameranya ke tas lalu hendak berjalan meninggalkan Baekhyun. “Sekarang lebih baik kita melanjutkan perjalanan kita—“

“Permisi.” Sepasang lelaki dan wanita tengah menghampirinya. Mereka berbahasa Korea yang berarti mereka berasal dari negeri yang sama dengannya. “Kalian dari Korea juga ya? Kami ingin minta tolong untuk mengambil gambar kami berdua disana, boleh?”

Mereka menunjuk ke arah dinding yang tadi Minjoo gunakan sebagai latar belakang fotonya. Minjoo mengangguk pelan lalu melirik ke arah Baekhyun.

“Kubilang juga lihat fotonya di hotel saja.” Bisik Minjoo dan membuat Baekhyun memutar bola matanya malas dan menggeser tubuhnya berdiri di samping Minjoo.

“Ok. Satu, dua, tiga.” Suara kamera terdengar sesaat setelah Minjoo menekan tombol ponsel mereka yang tadi diserahkan sang wanita. Mereka meminta sekali lagi maka Minjoo melakukannya sebanyak dua kali.

“Terima kasih. Ah, apa kalian mau difoto juga?”

Minjoo membulatkan matanya dan baru saja akan mengatakan tidak sebelum Baekhyun menyanggah,

“Terima kasih sudah menawarkan. Tolong foto kami juga ya.”

Sang wanita tersenyum mengangguk dan Baekhyun langsung menatap Minjoo penuh arti.

“Ya. Keluarkan kameramu, cepat!”

Seperti kena sihir, Minjoo menuruti perkataan Baekhyun dan mengeluarkan kameranya lalu memberikannya pada si wanita. Baekhyun sudah berdiri di posisi yang tepat dan kini Minjoo baru berhasil menyusulnya dengan tatapan tidak mengerti pada Baekhyun.

“Ok, aku ambil fotonya ya. Satu, dua, tiga!”

Terdengar suara kamera dari tempatnya dan Minjoo bisa pastikan wajahnya terlihat sangat kaku karena ia kini sedang merasakan panas di sekujur tubuhnya.

“Kalian pasangan, bukan? Lebih dekat lagi, aku akan mengambil foto lagi.”

Minjoo terdiam dan tidak mematuhi perkataan si wanita. Ya gila saja kalau Minjoo mematuhi perkataannya, harga diri Minjoo saja sudah sangat jatuh sekarang di hadapan Baekhyun.

Ia pikir, Baekhyun juga memiliki pemikiran yang sama dengannya untuk tidak menuruti perkataan wanita yang mereka tak kenal itu tapi Minjoo benar-benar salah kaprah. Sesaat Minjoo merasakan tubuhnya seperti ditarik oleh sesuatu di pinggangnya. Lalu punggungnya merasa seperti bersandar pada sesuatu yang hangat. Dan Minjoo merasakan bahwa ada nafas yang menerjang sekitar punduk dan telinganya. Nafas mint yang menjadi candu seorang Han Minjoo setelah menikah dengan Byun Baekhyun.

“Diam dan jangan protes. Ini hanya sekali seumur hidup.”

Minjoo merundukkan pandangannya dan melihat lingkaran tangan Baekhyun di perutnya. Menahan pinggangnya, seakan-akan menahan seluruh dunianya. Perlahan Minjoo menolehkan wajahnya ke samping dan garis wajah Baekhyun dari samping itulah yang membuat Minjoo percaya akan sesuatu.

Getaran yang muncul entah darimana itu berasal dari pria ini. Pria yang sedang memeluknya, yang seperti memberikan seluruh penjagaan teraman di dunia padanya.

Mulai dari saat Minjoo bisa menerima getaran itu, Ia juga telah menumbuhkan rasa percaya bahwa pria ini memang suaminya. Bukan hanya semata-mata dibuku pernikahan dan depan pendeta, tapi benar-benar seorang suaminya.

Minjoo percaya bahwa Baekhyun ini suaminya, mutlak miliknya.

.

.

Minjoo terdiam sambil beberapa kali terkikik memerhatikan foto mereka yang tadi diambil ketika mereka berjalan-berjalan. Ada beberapa foto yang menggelikan seperti Minjoo yang mejahili Baekhyun dengan menzoom foto Baekhyun menjadi sebesar mukanya saja.

Pergerakan Minjoo tiba-tiba berhenti sesaat ia menemukan foto Baekhyun yang berpose begitu tampan, di depan lukisan dinding tadi siang. Minjoo memerhatikan cukup lama sampai-sampai dia tidak tahan untuk tidak mengambil ponselnya, melirik ke pintu kamar mandi—memastikan Baekhyun masih mandi, lalu memotret gambar itu. Semburat merah kembali terlihat dipipinya, mungkin maksudnya adalah dia ingin menggunakan foto itu sebagai layar belakang telepon genggamnya.

Cklek.

Pintu tepat terbuka sesaat Minjoo berhasil memotret gambar itu. Untunglah, Minjoo tidak ketahaun tengah menjadi sasaeng fan yang mencuri foto pribadi idolnya.

“Ah! Kamera itu!” Baekhyun menunjuk kamera yang Minjoo pegang sambil berjalan ke arah Minjoo. “Aku ingin melihat fotoku! Pasti tadi kau melakukannya tidak benar, huh!?”

Minjoo mendengus sebal lalu menyodorkan kameranya sambil bangkit, “Lihat saja sendiri!”

Gadis itupun berjalan melengos melewati Baekhyun dan mengambil baju serta handuknya. Untung saja Minjoo memiliki alasan untuk menyembunyikan semburat merah dipipinya karena dia memang belum membersihkan badannya setelah mereka jalan-jalan dari siang sampai sore tadi.

Setelah Minjoo di dalam kamar mandi, Minjoo dengan cepatnya melalukan rutinitas malam sebagai wanita selain mandi—mencuci mukanya, merapikan rambut dan semacamnya. Saat ia telah selesai melaksanakan itu semua, Minjoo menyadari sesuatu yang sedari tadi memang mengganjal padanya.

Dia memerhatikan gantungan pakaiannya dengan detil-detil dan menyadari ada yang kurang dari sana. Sesaat, kakinya lemas dan ia seperti ingin jatuh karena ia lupa membeli bra dan celana dalamnya!!

Minjoo berkomat-kamit tidak jelas, memikirkan banyak cara untuk mengatasi permasalahan yang sesulit ujian masuk universitas ini. Kalau dia memakai bra dan celana dalam yang sama seperti tadi siang, itu benar-benar akan menjijikan karena tadi dia keluar cukup lama dan berkeringat cukup banyak. Tapi.. kalau dia memutuskan untuk menyetujui ide gilanya, yaitu menyuruh Baekhyun membeli pakaian dalamnya, Minjoo sudah benar-benar tidak punya harga diri dihadapan Baekhyun.

“Aish! Pilihan satu itu sama sekali tidak boleh aku pilih! Tapi pilihan dua juga benar-benar menghancurkan hidupku..” Minjoo terus menggigit bibirnya dan berjongkok di atas lantai. Beberapa detik melakukan itu, Minjoo merundukkan pandangannya dan menghembuskan nafas lemas. Dia harus mengorbankan harga dirinya.

Perlahan, ia bangkit lalu menyentuh kenop pintu. Dengan berat hati, sebelum ia membuka pintu itu ia melepas seluruh harga dirinya.

Cklek.

Pintu terbuka dengan hanya kepalanya saja yang muncul dari balik pintu. Minjoo tidak menemukan Baekhyun dari pandangannya maka ia pun berdeham sebentar dan mulai mengeluarkan suaranya, “B-Baekhyun-ah..”

“Hm?”

Baekhyun muncul tepat saat Minjoo memanggilnya. Sempat membuat Minjoo ingin memakinya karena mengagetkannya tapi Minjoo harus menelan pahit-pahit karena dia akan meminta pertolongan Baekhyun.

“Bisakah kau…”

“Huh?”

Minjoo menarik nafasnya pelan, menyiapkan sekali lagi mentalnya sebelum melanjutkan.

“Bisakah kau.. membelikan pakaian dalam untukku?”

“Huh?” Baekhyun mengulang perantanyaan yang bermaksud dia tidak mendengar Minjoo. Minjoo memang sengaja mengecilkan suaranya karena rasa malu itu. “Kencangkan lagi volume suaramu. Aku tak bisa dengar.”

“Bisakah kau.. membelikan pakaian dalamku?”

“Minjoo-ya, aku tak dengar suaramu—“

“Bisakah kau belikan pakaian dalamku!!??”

Minjoo berteriak kesal karena Baekhyun terus berkata ‘huh?’ namun detik setelah mengatakan itu Minjoo menyesali perbuatannya. Baekhyun bergeming selama beberapa detik dan mengedipkan matanya berkali-kali pada Minjoo.

“Kau.. tidak membelinya tadi?”

Minjoo benar-benar ingin membunuh dirinya sendiri saat Baekhyun mengatakan itu. Ia pun hanya menganggukan kepalanya sangat lemas dan Baekhyun langsung menahan tawanya mati-matian di hadapan Minjoo. Wajar jika Baekhyun ingin tertawa, hari ini benar-benar jackpot untuk seorang Han Minjoo. Sudah koper hilang, baju tidak punya, lupa beli pakaian dalam lagi.

Minjoo pun hanya menahan pahit-pahit makiannya. Mau bagaimana lagi, kalau pun mau mengelak dan memaki Baekhyun juga dia sudah benar-benar sekecil semut. Sudah sekecil semut, tak punya harga diri pula.

“Ok. Ukurannya apa memang?”

Ukuran!! Kenapa Minjoo tidak kepikiran tentang hal ini!? Bukan, dia bukan lupa ukuran branya berapa tapi jika Minjoo menyebutkannya maka Baekhyun akan mengetahui ukurannya. Meski dia telah mengakui bahwa Baekhyun itu suaminya, tetap saja! Harga diri!

Tapi ya.. lagi dan lagi Minjoo harus membuang harga dirinya ke atas tanah dan menjawab pertanyaan Baekhyun,

“34 dan 30.”

“34 itu bra atau celana dalam?”

“Bra!!”

Baekhyun tertawa melihat Minjoo yang berteriak seperti itu padanya.

“Baiklah, akan aku belikan. Tidak usah malu seperti itu, Minjoo-ya. Aku kan sudah pernah melihat bra-mu juga.”

Baekhyun berjalan menjauhinya, menuju pintu luar dan ketika Minjoo mendengarkan suara pintu ditutup kencang, Minjoo terjatuh ke atas lantai sambil merutuki harga dirinya yang sudah tidak berbekas. Cerita tentang ‘Harga Diri Minjoo’ telah berakhir sampai disini.

.

.

Minjoo keluar dari kamar mandi sambil menggenggam handuknya. Dia melihat ke kanan dan ke kiri, mencari Baekhyun namun dia tidak menemukannya di sekitar sana. Minjoo pun menggantungkan handuknya lalu berjalan menuju kasurnya dan baru disitulah dia menemukan Baekhyun. Bukan, bukan di atas ranjang kasur mereka namun di luar balkon kamar mereka.

Sambil mengerucutkan bibirnya, Minjoo pun berjalan menghampiri Baekhyun.

“Ya.” Minjoo melipat kedua tangannya di hadapan dadanya dan menghadap tubuh Baekhyun sempurna. “Kau ini seorang mesum ya? Apa-apaan dengan warna branya?!”

Baekhyun tengah menyandarkan tubuhnya pada pembatas sambil menaruh kedua tangannya di atas pembatas tersebut.

“Kau tidak memesan warna.”

“Ck.” Minjoo melepas tangannya dan menunjuk-nunjuk Baekhyun dengan marah, “Tapi tidak warna merah seperti ini!!”

“Sudah dibelikan, masih saja marah-marah.” Baekhyun tampak menggeleng-gelengkan kepalanya, “Tipikal Han Minjoo.”

“Aku memang minta dibelikan tapi kan kau juga bisa memilih warna yang tepat. Tidak perlu—“

“Aish!”

Baekhyun menegakkan tubuhnya dan menghadap Minjoo. Ia kemudian menaruh tangannya di pundak Minjoo, membuat Minjoo tercengang kaget tapi setelahnya Minjoo merasakan tubuhnya langsung menghadap surga yang tak pernah ia impikan. Pantai dan pemandangan bintang di atas langit, ditambah cahaya rembulan yang muncul dari ujung pantai. Hembusan angin yang begitu kuat namun disatu sisi begitu memabukkan, membuat Minjoo terpukau.

“Bagus, bukan?” Baekhyun telah kembali menyandarkan tubuhnya seperti sebelumnya sambil memerhatikan pemandangan di depannya.

Angin pantai yang berhembus itu benar-benar membuat Minjoo merinding. Jika Minjoo bisa membawa tumblernya, Minjoo ingin sekali membuang nafas mint Baekhyun yang ia simpan dan membawa angin ini padanya. Kalian harus merasakannya sendiri, saat angin berhembus ke wajah kalian, menerpa tubuh kalian, menerbangkan rambut-rambut kecil kalian, masuk ke rongga hidung kalian itu benar-benar seperti sedang terbang ke atas langit. Minjoo benar-benar merasakan itu, terbang dengan apapun itu, meski sepertinya yang paling memungkinkan itu dengan hatinya. Pemandangan yang indah ditambah pria yang tepat untuk menikmati keindahan semesta ini.

“Kau.. memang sengaja pesan hotel disini karena pemandangan ini?” Minjoo bertanya sambil menolehkan kepalanya pada Baekhyun. Sisi wajah tampan itu begitu kentara meski gelapnya malam meredupkan pandangan Minjoo. Membuat Minjoo seketika menghangat di sekujur tubuhnya.

Baekhyun menggeleng kepalanya, “Tidak. Aku memang sengaja saja memesan hotel disini karena dekat dengan pantai. Pemandangan ini sepertinya bonus yang tak terduga.”

Minjoo terkekeh pelan lalu kembali menghadap pemandangan itu. Kini ia bahwa angin membuat pantai bergelombang dan semerbak wangi air laut itu memasuki indera penciuman Minjoo. Sepertinya ia akan menyukai angin laut mulai saat ini.

Tiba-tiba Minjoo bergeming dan memudarkan senyumannya. Ia tengah berpikir dan kembali lagi pada kejadian tadi siang, dimana kopernya hilang dan Baekhyun tidak memarahinya. Padalah Minjoo jelas sekali mengetahui bahwa Baekhyun sudah menyiapkan kata-katanya untuk memaki Minjoo namun pria itu lebih memutuskan untuk menahannya.

“Ya. Tadi siang kenapa sih kau tidak memarahiku?”

Baekhyun berdecak pelan, “Ya.. masih dengan pertanyaan itu?” ucapnya sambil melirik Minjoo dengan malas, “Kan sudah kubilang tadi siang alasannya apa, Han Minjoo. Apa perlu aku mengulangnya untuk seribu kali?”

“Bukan seperti itu, Baekhyun-ah..”  Minjoo ikut menghadap tubuhnya pada Baekhyun, “Aku jelas-jelas sekali melihat bahwa kau telah menyiapkan kata-katamu untuk memakiku. Kenapa kau tidak melakukan itu?”

“Aku bukan tidak melakukannya, hanya saja aku telah tahu harus menghadapimu bagaimana saat kau seperti itu.”

Minjoo menautkan alisnya, “Menghadapiku?”

Baekhyun mengangguk pelan lalu kini memerhatikan cahaya rembulan dengan angin yang berhembus ke wajahnya.

“Kau itu orang yang harus diraih terlebih dahulu karena kau tidak suka mengatakan terlebih dahulu. Kau itu orang yang harus ditolong lebih dahulu karena kau tidak bisa meminta tolong. Saat kau menangis, orang yang melihatmu menangis hanya harus diam dan mendengarkan semuanya maka kau akan terdiam dan memberitahu semuanya.”

“Kau tipikal orang yang tidak mau melakukan pertama kali karena kau tahu, yang kedua itu bisa jadi pemenang. Seperti itulah aku menghadapimu.”

Minjoo jadi teringat setiap perlakuan Baekhyun padanya selama ini saat Baekhyun mengatakan itu semua. Benar katanya, Minjoo memang tipikal orang seperti itu. Dia tidak suka mengatakan sesuatu terlebih dahulu dan memilih orang meraihnya. Dia tidak suka bilang ‘tolong’, sama seperti saat Baekhyun mengangkat tubuhnya ketika Minjoo terjatuh dan berniat menggeser tubuhnya dengan bokongnya. Baekhyun hanya akan diam dan mendengarkannya saat Minjoo menangis sampai Minjoo sendiri yang mengatakannya semua pada Baekhyun.

Minjoo terdiam selama beberapa detik namun masih tetap memerhatikan Baekhyun,

“Apa itu artinya kau sudah lelah menghadapiku, Baekhyun-ah?”

“Justru karena aku tidak lelah, maka aku mempelajari semua hal untuk menghadapimu, Minjoo-ya.”

Saat beberapa detik, Minjoo terpaku terdiam menatap Baekhyun yang meluruskan pandangannya dan perasaan hangat itu langsung menyergapi seluruh tubuhnya. Apakah yang Baekhyun katakan sebelumnya tadi bermaksud bahwa Baekhyun selama ini mempelajari bagaimana cara menghadapi Minjoo yang artinya.. dia menerima Minjoo untuk hidup bersama dengannya selamanya? Baekhyun mencoba bertahan untuk Minjoo karena ia.. ingin hidup bersama Minjoo?

Minjoo berdeham sebentar sambil mencoba menetralisir jantungnya yang memompa darahnya begitu cepat. Tidak, tidak boleh secepat itu kawan-kawan organ tubuh Minjoo. Minjoo tidak boleh meledak saat ini!

“Kita kan sudah kenal sangat lama. Kenapa kau mempelajariku lagi?” Minjoo menggigit bibirnya dan tak terasa ia telah memeluk tubuhnya sendiri begitu erat, “Apa itu artinya aku telah berubah..?”

“Kau tidak berubah. Aku hanya mempelajari hal-hal yang tak sempat kupelajari selama aku pergi kemarin ini.”

Minjoo tidak tahu apa yang tubuhnya perbuat saat ini. Yang jelas, entah ada hewan apa lagi di dalam tubuh Minjoo tapi semua kata-kata Baekhyun tadi benar-benar membuatnya menghangat. Di setiap kulitnya dan juga setiap desiran darahnya. Minjoo seperti tengah berada di atas awan yang empuk, melambung tinggi dan terkena sinar matahari. Semuanya benar-benar terasa nyaman dan Minjoo tak bisa menolak itu semua lebih dalam lagi.

Mereka berdua pun terdiam, membiarkan seluruh angin-angin menerpa tubuh mereka dengan cahaya rembulan yang semakin kentara. Saat itulah, Minjoo mendengar sesuatu dari Baekhyun.

“Lalu.. bagaimana cara kau menghadapiku, Minjoo-ya?”

Minjoo menolehkan pandangannya, “Hm?”

“Bagaimana caramu menghadapiku? Apa kau mengerti bagaimana harus menghadapiku dan…” Baekhyun menjeda perkataannya selama beberapa saat.

“..menerimaku?”

Minjoo tergelak, menelan salivanya susah payah. Tidak pernah Minjoo pikirkan pertanyaan ini akan keluar dari mulut Baekhyun dan tidak pernah sekalipun Minjoo mengetahui jawabannya karena menurutnya memaki dan melawan Baekhyun hanya cara yang ia pikirkan saat emosi menguasai dirinya.

“Aku belum… menemukan jawabannya, Baekhyun-ah.”

Baekhyun telah menatap Minjoo, begitu lurus namun Minjoo tahu ada sebersit kekecewaan dari sana. Selama beberapa detik Minjoo membiarkan itu. Lama tak mendapatkan respon apa-apa dari Baekhyun, Minjoo langsung tahu pria itu sangat kecewa padanya. Minjoo pun mengalihkan pandangannya dan bersiap untuk beranjak menghindari Baekhyun sebelum pria itu menahan tangannya.

“Akan aku buat kau mengerti..”

Lalu menahan pinggang Minjoo hingga membuat mata Minjoo hanya menatap matanya.

“..dan menerimaku..”

Detik setelah itu, Minjoo kembali merasakan sesuatu yang sama hangatnya dan lembutnya seperti malam itu. Malam dimana Baekhyun mencium Minjoo, tepat di bibirnya. Minjoo merasakan itu semua kembali tepat di bibirnya, namun sepertinya yang kali ini jauh lebih hangat dan lembut dari sebelumnya karena Minjoo menggunakan seluruh perasaan yang telah ia akui.

Entah Minjoo merasa waktu berjalan cepat atau memang waktu memakan mereka berdua, setelah ciuman itu dibawa semakin dalam oleh mereka berdua, Minjoo menemukan dirinya di atas kasur dengan Baekhyun yang berada di atas Minjoo. Pria itu masih menahan pinggang Minjoo sangat erat, namun beberapa detik setelahnya Minjoo merasakan tangan hangat itu lepas dari pinggangnya. Perlahan namun pasti, tangan itu kemudian bergerak menuju kancing kemeja teratas Minjoo dan sedetik setelah berhasil memegang kancing itu, tangan itu melepas kaitan kancingnya. Dan itu terus berjalan hingga kancing terakhirnya dan membuat tubuh Minjoo terasa dingin oleh angin dari pintu balkon. Berhubung Minjoo hanya memakai kemeja kebesaran yang ia beli tadi siang tanpa menggunakan short-pants atau yang lainnya, tubuh Minjoo benar-benar terbuka saat ini.

Minjoo sempat melihat Baekhyun bergeming menatap tubuhnya lalu tersenyum pelan, “Aku tak salah memilih warnanya ternyata.” Dan itu mendapat tinjuan ringan di perut Baekhyun dari Minjoo.

Baekhyun terkekeh pelan karenanya namun setelahnya Baekhyun kembali mencium bibir Minjoo dengan lembut sambil perlahan melepas lagi ciumannya dan menurunkannya melewati dagu dan leher Minjoo. Gadis itu benar-benar di mabuk kepayang menerima semua perlakuan Baekhyun. Minjoo ingin menolak, tapi seluruh perasaannya sudah mengatakan terima. Minjoo ingin menghentikan ini semua, tapi tubuhnya terus menarik Baekhyun kembali padanya.

Sesaat Baekhyun menghentikan kecupannya pada leher Minjoo dan menegakkan tubuhnya untuk membuka kaus putihnya. Minjoo tergelak mendapati tubuh Baekhyun setengah terbuka itu di hadapannya hingga rasanya nafasnya telah habis sesaat melihat itu.

Tangan Baekhyun tiba-tiba terasa kembali memegang pinggangnya yang hanya dibungkusi oleh kulitnya, namun kali ini tangan itu berjalan menuju balik punggungnya dan memegang kaitan branya. Minjoo tahu maksud Baekhyun apa dan Minjoo menahan tangan Baekhyun karena itu.

“Kenapa?” Baekhyun menatap Minjoo lurus-lurus, “Kau takut?”

Minjoo menggigit bibirnya pelan, “Hm.. aku tahu ini memang bukan yang pertama kalinya tapi kenapa ini terasa seperti yang pertama..?”

Baekhyun terdiam menatap Minjoo,

“Kau pikir ini yang pertama kalinya, begitu maksudmu?”

Minjoo terdiam juga dan hanya menatap Baekhyun. Dia tahu ini bukan yang kali pertamanya melakukan itu dengan Baekhyun, mengingat inilah alasan mengapa Baekhyun dan dirinya menikah. Tapi entah kenapa ada sesuatu di dalam lubuk hati dan otaknya yang mengatakan bahwa malam itu adalah yang pertama kalinya untuk mereka. Ini adalah pertama kalinya mereka menyatukan tubuh mereka.

Minjoo tahu, dia sedang berhalusinasi saja dengan otaknya dan membuat pikiran yang tidak masuk akal seperti itu. Minjoo juga yakin, ia merasa ini adalah kali pertamanya karena yang waktu itu ia dipengaruhi alkohol. Berbeda yang dengan yang kali ini, kesadarannya penuh seratus persen ditambah ia akan menggunakan perasaannya untuk melakukan yang kali ini.

Ia pun melepas eratan tangannya dan menahan pinggang Baekhyun.

“Tidak. Lupakan apa yang tadi kukatakan.”

Baekhyun memerhatikan Minjoo begitu seksama dan setelahnya ia tersenyum pelan.

“Baiklah. Kalau kau berpikir ini yang pertama kalinya..” Minjoo membuka telinganya lebar-lebar untuk menunggu kelanjutan dari kata-kata Baekhyun.

“Aku akan membuatnya benar-benar seperti pertama kali.”

Minjoo tidak mengerti dengan perkataan itu. Yang jelas, setelah kata-kata itu ia merasakan tubuhnya benar-benar panas oleh sentuhan Baekhyun. Setiap genggaman tangan Baekhyun padanya, setiap sentuhan tangan Baekhyun padanya, setiap kecupan Baekhyun padanya membuat Minjoo menutup matanya dan merasakan itu semua. Ini gila, ini memabukkan, tiba-tiba ia seperti sedang melayang ke langit ke-tujuh dan seperti tidak pernah kembali lagi. Meski ini melelahkan, meski ini sedikit menyakitkan tapi Minjoo benar-benar mengingkan ini semua. Menginginkan Baekhyun ada padanya dan bersamanya.

Minjoo merasakan jika jantungnya benar-benar seperti popcorn kebakaran. Meledak-ledak di sekujur tubuhnya dan bahkan kupu-kupu itu juga ikut menggelitik seluruh tubuhnya, merasakan dua kali lipat dari biasanya. Dan Minjoo sekarang benar-benar sudah akan sadar semuanya.

Bahwa.. perasaan yang Minjoo selama ini tidak mau sebut, tidak mau Minjoo ucapkan, tidak mau Minjoo akui adalah perasaan dimana Minjoo ingin memiliki pria ini disampingnya. Perasaan dimana Minjoo ingin dia yang menahannya. Menggenggamnya. Menyentuhnya. Memeluknya. Dan mengasihinya.

Dia yang Minjoo maksud adalah Baekhyun. Orang yang pernah memberi perasaan yang sama dari dahulu dan yang kemarin ini Minjoo anggap hilang padahal nyatanya perasaan itu masih terus berada di dadanya.

Ya, Minjoo sudah mengakui bahwa ia menyukai Baekhyun. Baik menggunakan akal sehatnya atau otak gilanya.

Lebih tepatnya, Minjoo mengakui bahwa dia memang menyayangi Baekhyun. Dari dahulu sampai sekarang.

Perasaan cinta untuk Baekhyun itu tidak pernah berubah.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Minjoo telah tertidur begitu pulas di hadapan Baekhyun. Mata cantiknya ia tutupi oleh kelopak matanya.

Meski cahayanya begitu redup, itu tidak membuat kecantikan Minjoo hilang dari mata Baekhyun. Bahkan, Baekhyun bisa melihatnya dengan sangat jelas dari jarak sedekat ini. Pipi yang merah, hidung mancung, dan bibir tipis yang manis. Membuat Baekhyun tersenyum pelan melihat itu semua.

“Kau bilang itu seperti kali pertamanya untuk kita, Minjoo-ya?”

Baekhyun mengusap lembut rambut Minjoo yang tertidur di atas tangannya. Selimut menutupi tubuh mereka yang sepenuhnya tanpa pakaian, menyembunyikannya dari angin yang berhembus dari balkon.

“Kau benar. Itu yang pertama untuk kita.”

~

~

“Kau tidak mengerti perasaanku.”

Baekhyun mencium Minjoo begitu gila. Siapa suruh gadis ini membuka kancing kemejanya di hadapannya disaat dia baru saja meminum dua botol alkohol yang sudah ‘memanaskan’ tubuhnya?!

Karena tak tahan lagi, Baekhyun berhasil mengangkat tubuh Minjoo ke atas kasur dan membuka kemeja gadis itu. Dia tahu yang dia lakukan ini salah, tak seharusnya ia melakukan itu pada gadis yang ia sayangi selama umur hidupnya. Merenggut keperawanannya saat dia tak sadar, tapi bagaimana lagi. Hormon itu benar-benar kuat ditambah alkohol yang berhasil ‘menggerung’-nya.

“Huek!”

Minjoo yang tak sadar tiba-tiba mendorong tubuh Baekhyun dan berlari menuju kamar mandi. Melihat itu, Baekhyun pun menghembuskan nafas kasar dan mengikuti Minjoo ke kamar mandi.

Gadisnya tengah muntah hebat di atas closet, mengeluarkan seluruh yang ada di perutnya. Tak tega melihat Minjoo terluka seperti itu, Baekhyun pun menghampirinya, menggenggam rambutnya sambil memijat-mijat lehernya.

“Sepertinya kau memang dilindungi malaikat, hm?” Baekhyun berucap namun ia tahu Minjoo tak mendengarnya.

“Maaf ya aku sempat berpikir untuk melakukan itu padamu. Aku seharusnya tidak begitu padamu, bukan?”

~

~

“Aku tidak menidurinya, noona.”

Hyojoo menolehkan wajahnya pada Baekhyun.

“Aku memang sempat ingin menidurinya. Hanya saja saat aku hendak melakukan itu, dia muntah hebat. Aku jadi tidak tega melakukan itu padanya.”

Hyojoo menatap Baekhyun lurus-lurus,

“Lalu kenapa kau tidak bilang padaku tadi?”

Baekhyun terdiam selama beberapa detik, memerhatikan air mancur taman belakang rumah Minjoo dan Hyojoo dengan penuh arti.

“Aku pikir ini kesempatan yang bagus untuk mendapatkannya di hidupku. Dengan berpura-pura bahwa aku telah menidurinya, dia pasti merasa mau tidak mau harus menikah dan hidup bersamaku.”

“Kau tahu Minjoo punya kebiasaan tidak ingat apa-apa setelah mabuk?”

Baekhyun mengangguk kepalanya berkali-kali. Membuat Hyojoo terkesima dan bertanya lagi setelahnya,

“Kau masih mencintainya, benar? Selama ini hanya dia yang menganggapmu musuh, iya?”

Baekhyun tersenyum pelan lalu mengangguk kembali.

“Wanita kedua yang aku sayangi setelah Ibu adalah dirinya, noona. Dan itu tidak pernah berubah sekalipun aku pergi selama enam tahun darinya.”

“Aku hanya akan terus mencintai Minjoo. Seumur hidupku hatiku hanya untuk seorang Han Minjoo.”

~

~

“Benar bukan, Paman?” Baekhyun berbicara dengan paman supir taksi itu menggunakan bahasa Jepang. Ya dia cukup fasih karena dia pernah menjadi penggemar anime dahulu ditambah untuk urusan pekerjaannya sekarang ini.

“Apakah kalian sepasang kekasih?”

“Bukan, kami bukan sepasang kekasih.”

“Ah, lalu kalian itu teman?”

“Bukan juga.”

Baekhyun melirik sebentar, memerhatikan Minjoo. Minjoo mengangkat bahunya dan Baekhyun bisa langsung tahu bahwa gadis itu tidak mengerti dengan bahasa Jepang serta semua perbincangannya dengan supir taksi.

“Paman, istriku cantik, benar?” ucapnya dan menolehkan kepalanya pada supir taksi itu lagi.

Supir taksi itu kaget bukan main ketika mendengar kata istri dari mulut Baekhyun. Ia kemudian menatap Baekhyun melalui kaca spionnya, “Jadi kalian sudah menikah?”

Baekhyun tersenyum ceria dan menganggukkan kepalanya. “Cantik, benar?”

Supir taksi itu tertawa pelan lalu mengangguk-angguk, “Iya, istrimu cantik. Tapi kenapa tadi kudengar dia membentak-bentakmu?”

“Dia memang begitu paman. Pemarah dan arogan. Sedikit-sedikit mengomel dan memakiku.” Ucap Baekhyun sambil cemberut dan itu langsung mendapatkan tawa dari paman supir taksi itu.

“Tapi kau mencintainya, bukan?”

Baekhyun tersenyum lalu melirik ke arah Minjoo. Menatap gadisnya penuh arti.

“Tentu saja. Aku sangat mencintainya, Paman.”

~

~

“Aku harap..”

Baekhyun terus mengelus lembut rambut Minjoo yang masih tertidur pulas dihadapannya. Minjoo benar-benar seperti bayi yang sangat kelelahan karena habis bermain seharian dengan ibunya.

“Dengan apa yang kita lakukan ini, kau sadar bahwa selama ini perasaanku itu nyata untukmu, Minjoo-ya..”

“Bahwa.. hati ini memang untukmu. Seumur hidupku, dari pertama kita bertemu sampai sekarang. Meski kita pernah terpisah oleh jarak dan waktu, perasaan ini tidak pernah berbalik dan mengkhianatimu.”

Baekhyun terus menatap Minjoo lurus-lurus, berharap Minjoo melihatnya dan mendengar kata-katanya.

“Aku mencintaimu, Han Minjoo.”

“Sangat.”

“Aku harap kau menyadarinya setelah ini dan bisa menerimaku untuk menjadi suamimu, seutuhnya.. Minjoo-ya. Istriku.”

“Aku mencintaimu.”

❣❣❣To Be Continued❣❣❣

Maaf ini lama banget ya >,< Maaf banget yang udah nunggu huhu maaf loh, seminggu kemarin aku keluar rumah terus.. maklum lagi liburan panjang huhu, maafin ya! Ohiya aku ngga jadi ngeprotect karena lagi mager iseng wkwk, jadi kalian para bocah dibawah delapan belas tahun baca baik-baik notes aku tuh! Inget ya, delapan belas tahun, bukan tujuh belas tahun! Hehe, ohiya makasih yang udah nulis komentar selama ini, maaf aku gabisa bales komentar kalian. aku sebisa mungkin favorite-in semua komentar kalian biar kalian tahu how grateful i am to have readers like you guys ❤ Makasih untuk dukungannya^^ Sekian, see you soon lagi!!

sarange18

-Baek’s sooner to be wife-

Advertisements

147 responses to “I Married To My Enemy [V] -by ByeonieB

  1. Daebakkkkk jinjja✨ Hohhh sampe merinding wkkw tpi ini kek berasa ada 1 drama seri yg mirip wkwkw *apasih
    #abaikan (?)
    Ak baca 5 chapt itu sampe sekarang loh dari tadi 😂
    Parah2 ceritanya memabukan & untung ini hari minggu wkwk😂

    D tunggu kabar next nya yah minn~~~ >< dan jgn lupa malaikat kecil BaekJoo
    (baekhyun-minjoo)
    And as always, fighting for the other writing 💕💋

  2. Sumpah gua bacanya sambil gigit selimut sangkin gregetnya
    Ini chap paling daebakkk bgt

  3. DEMI APAPUN !!! AKU GATAU HARUS NGOMONG APALAGI EONNI!!

    CERITA INI BENER2 BIKIN NGAKAK SENDIRI, SENYUM SENDIRI BACANYA… GANAHAN ROMANCENYA!!!

    ternyata baek gak nidurin minjoo? OMG OMG OMG!!

    tak terduka iniii uwww/…. KEREN BANGET BANGET!!!

    SEMANGAT NULIS UNNIE!!! UWWWW

  4. MATI DAH MATI HAYATI 😭😭😭 ingin sangat berkata kasar di chapter ini 😭😭 parah sweetnya …. jadi makin suka sama baekhyun nih 😂 baekhyun ternyata cinta banget ya sama minjoo .. gak nyangka ternyata dia sengaja buat gak ngomong itu supaya dia nikah sm minjoo .. 😭 gimana caranya dpt cowok kyk gitu ? 😂 #mustahilmaksimal

  5. Sungguh demi apapun chapter ini sweeeet banget…
    Ya AMPUN GAK NYANGKA TERNYATA BAEKHYUN ITU CINTA SAMA MINJOO DARI AWAL.
    astaga astagaaa beruntungnya minjooo 😭😘
    Baca confession nya baekhyun plus throwbacknya entah kenapa buat aku senyum sendiriii.
    Semangat trus ya nulisnya
    di tunggu next chapternya 😊😊😊

  6. Dari awal aku udah nyangka kalo mereka gak bener” tidur waktu itu.. Ternyata bener 😄
    Ngomong” chapter ini sweet banget, melting 😱
    Semangat terus author, 🙌🙌

  7. Suka sukaaaaaaaaaa capt ini paling ngegemesin oh ternyt yang pertama to ohhhhhhhhhh swweettttttttt , di tunggu lanjutannya ya

  8. Haaaaaaaa kenapa sweet banget chapter ini…dan ternyata baekhyun waktu mabuk dulu nggak memperkosa mijoo 😅😅😅…..

  9. Pingback: I Married To My Enemy [6] -by ByeonieB | SAY KOREAN FANFICTION·

  10. Anjayyyy. Meleleh gueeee. Baekkkkkk. Lo manis banget sumpah. Gue Cinta ama lo baek, gue singkiron dulu ceye dr hidup gue buat beberapa menit meluk elo. Hahahahaaa

    Minjoo, akuin aja udah. Kalian cocok. Baek ngerti banget minjoo. Ngarep banget…. Heheheee

  11. Komennya gue baper max. Author tau lah without any words come out here…
    I cant even explain it. Too much. Yg jelas aku saranghae bgt mati matian ama author satu ini

  12. greger bgt knpa baekhyun sma minjoo gak saling ungkapin perasaan mereka jadi gemes deh sma mereka berdua..
    ahh tpi ceritanya ttp manis..

  13. Aaa, Baekki..
    Aku bingung mau comment apa, ini udh bagus bnget😍
    Btw, selamat buat Cy yg udh dpt kepastian ya hihihi..

  14. aaaaahhhh sweet bgt baek sm minjoo
    aku kirain waktu itu baek beneran nidurin minjoo tenyata g dan ini akhirnya mereka nglakuin ‘itu’ jd ini yg pertama kalinya y
    penasaran sama orang yg pengin ketemu baekhyun siapa y kira2
    penasaran lanjut baca chap selanjutanya

  15. Sosweet . Ternyata baek selama ini nggak nidurin minjoo . Dia cuman pura pura biar mereka jadi nikah dan akhirnya minjoo mau mengakui juga kalo dia jatuh cinta sama baek . Hahaha akhirnyaaa 😍

  16. Demi apa pun tiap chapter selalu kereeennnn, jjang eon!!👍👍 cus baca chapter selanjutnya. Oh iya, gak ada gitu eon org ke 3 dalam hubungan mereka ya?

  17. Ciee yg beneran prtma kali,, gentle bgt si baek mah bikin ati meleleh euy,,super panjang ini chap n full romance moment baek minjoo yeeaayyy,,, kesian jg si ma minjoo, selalu jdi korban 😂😂😂

  18. baekhyun lu hebat nak!!
    kesempatan dalam kesempitan yg menakjubkan hahah
    selama ini ternyata si baek dah menipu hahahha

  19. ADUUUUUU HEUUUUU MY KOKOROOOO!! ><
    minjoo pls… wkwk. how the hell she forgot to bring her underwear?!?! for god sake😂
    tp agak penasaran juga sih itu siapa yg bakal jadi partner kerja baekhyun? kayanya udh nyiapin bgt gitu….
    trs agak bingung juga knp kopernya minjoo bisa ilang padahal cuma ditinggal jalan-jalan bentar dan gak jauh juga .___.
    aaahhh gabisa komentar lagii aahh last scene dabbest sih, gak vulgar jugaaa intinya pas bgt. waaahhh, that was their first tho!!! baekhyunnn u're truly an evil!!! 💘

  20. minjoo malu ktemu baek setelah dcium aneh” aja tingkahnya tp lucu jg
    sehun suka yubi tp dia malah sering curhat cwe k yubi skrng yubi dket cwo gk rela
    akhirnya penantian mu park chan terbalaskan ya
    itu baek pelit apa irit bli satu
    minjoo orng kya yg gk mau hambur”in uang ortu tp ko liat hotel bagus gtu sih haha tp lucu
    pd akhirnya byun baek kau brhasil mnjadikan minjoo milikmu seutuhnya

  21. Sebenernya mo lanjut ke chap 6. Cuma apa daya mata dah sepet :”v kalo liat kata2 baekhyun tuh ya sambil bayangin baekhyun ngomong gitu ke aku, mungkin aku dah kejang2 di tempat /apa/ :v terus kayanya itu masalah tumblr kaga kelar2 dah :v

  22. Hahaha chapt 5 benerbener WOW,part favoritku pas baekie nyinggun teroris krn tingkah konyol istrinya! Hahaha~ aah baek romantis dan penuh perhatian and perfect dah.. Hufft pantas nunggu minjo memperlihatkan ibu2 ngidam blum muncul soalnya blum ke touch ma baek dan aku suka baek diberi pemikiran yang cerdas itu! Hah Cinta~ hehe pria china itu siapa? Apakah luhan wow ini akan terjwb di chapt slanjutnya! Hahaha dan thank to autor yg ga pake PROTECT hehe bukan krn umurku yg mudah! Tapi krn aku tkut autor ngasih PWnya lama dan gantuni aku yang sangat penasaran! Hehe itu ajah mau next ke chapt 6 biar rasa penasaranku ini terbayarkan.. Hahaha sehun dan yubi huaa kalian gmana ya hubungannya? Dan chanyeol chukkae akhirnya jadian!! Gogo to chapter 6!

  23. Hahaha chapt 5 benerbener WOW,part favoritku pas baekie nyinggun teroris krn tingkah konyol istrinya! Hahaha~ aah baek romantis dan penuh perhatian and perfect dah.. Hufft pantas nunggu minjo memperlihatkan ibu2 ngidam blum muncul soalnya blum ke touch ma baek dan aku suka baek diberi pemikiran yang cerdas itu! Hah Cinta~ hehe pria china itu siapa? Apakah luhan wow ini akan terjwb di chapt slanjutnya! Hahaha dan thank to autor yg ga pake PROTECT hehe bukan krn umurku yg mudah! Tapi krn aku tkut autor ngasih PWnya lama dan gantuni aku yang sangat penasaran! Hehe itu ajah mau next ke chapt 6 biar rasa penasaranku ini terbayarkan.. Hahaha sehun dan yubi huaa kalian gmana ya hubungannya? Dan chanyeol chukkae akhirnya jadian!! Gogo to chapter 6!

  24. AAAAAAAA MANIS BANGET BAEKHYUN NYA. AKU HARUS GIMANA DUH! BAEKHYUN BENAR-BENAR BIKIN GEREGETAN TAUGA!?
    Aigoo… Mereka ngegemesin banget sih, uluh uluh. Tapi sayangnya Han Minjoo kurang peka. Sangat disayangkan. Tapi-lagi mungkin dia itu bukannya ga peka, tapiii lebih ke….err…gengsi? Mungkin!
    Akhirnya mereka beneran memerankan layak suami-istri. Huffttt… Walopun mereka masih bertingkah konyol sih kwkw
    sudah kuduga kalo mereka dulu ga nglakuin itu….

    Btw, ada orang misterius tuh, sapa kay?

    Yeogineun
    Dikanasly (:

  25. Hoala hoala akhirnya ada baekhyun pov nya! 😆 terungkap dah perasaan nya baek ke minjoo😄 ohya jan bilang yang kerabat perusahaan dari china itu luhan>< aduh nebak doang ko:'V semogaan minjoo bener udh falling in love ama baekhyun dah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s