Between Us – “Nice Guy” | QueenX

Between US

“Nice Guy Under The Rain”

poster

Author

QUEENX

 

 

Genre : ROMANCE, FLUFF, SCHOOL LIFE

 

 

Main Cast :

OH SEHUN

KIM YOOJUNG (OC)

 

Length : Chaptered (Less than 3k Words)

 

Rating : PG

 

Sebelumnya di BETWEEN US

 

 

.

 

***.

All in Author’s POV

.

Yoojung sedang jatuh cinta. Bukan sedang lagi, semakin sering ia berada di sisi Sehun, semakin sering ia menemukan hal-hal unik dan manis dari diri Sehun, itu akan membuatnya merasa jatuh cinta lagi dan lagi pada Sehun. Jika jatuh itu menyakitkan apalagi jika terjadi berulang kali karena hal yang sama, maka bagi Yoojung jika ia jatuh karena cintanya pada Sehun, ia tidak masalah seberapa sakitnya akibat dari jatuhnya itu.

Lagi-lagi Sehun memasukkan bola basket di tangannya dengan mulus ke dalam ring. Seisi lapangan langsung menjerit bahagia ketika mendapati tim dari Sehun memenangkan pertandingan dengan nilai yang sangat memuaskan. Seisi lapangan langsung berlari berhambur menghampiri juara umum mereka dan mengangkat seluruh pasukan pemain basket dan melemparnya ke udara.

Yoojung tersenyum senang, ia kemudian melambai pada Sehun dan memberikan dua jempolnya untuk Sehun. Melihat gadisnya ada diantara kerumunan penonton, ia meminta untuk melepas diri dari para pemain sebentar dan berlari menghampiri Yoojung.

“Kau semakin keren.” Puji Yoojung.

“Dan kau pasti semakin khawatir kalau popularitasku akan semakin meningkat di kalangan para gadis di sekolah maupun di luar sekolah.” Timpal Sehun.

“Tidak.”

“Hey, jangan bohong. Buktinya kemarin kau tak membiarkanku foto bersama beberapa gadis di pinggir jalan saat kita pulang bersama.”

“Itu karena mereka sangat genit padamu. Sampai meminta ciuman di pipi segala. Itu kan sangat berlebihan!” sungut Yoojung dengan ekspresi lucunya. Membuat Sehun gemas dan mendaratkan kecupan di pipi Yoojung.

“Lihaaat teman-temaaan! Sehun mencium kekasihnya!”

“Uwaaaaa!”

“Andwaeeeee.”

“Awww, Sehun manis sekali.”

Yoojung langsung mencubit lengan Sehun, “Kita sedang berada di tengah keramaian dan apa yang baru saja kau lakukan! Dasar byuntae.” Bisik Yoojung yang disusul dengan gelak tawa Sehun.

“Lagipula kan aku bersikap byuntae pada kekasihku sendiri, memangnya tidak boleh?”

“Uhhh mereka saling menggoda satu sama lain sekarang.”

“Aaaaarrgghh Oh Sehun! Goda aku juga, kumohooon.”

“Hahahaahahaha.”

*

“Jadi kau diberi libur latihan selama dua hari oleh pelatihmu?” tanya Yoojung antusias. Ia mendapat jawaban anggukan kepala Sehun.

“Jadi, selama dua hari ke depan kau tidak memiliki kesibukan apapun kan selain sekolah dan belajar seperti biasa?”

Sehun tampak berpikir sebentar lalu mengangguk lagi.

“Apakah kau akan mengajakku berkencan?” tanya Sehun.

“Mana ada seorang perempuan mengajak laki-laki berkencan. Bukankah seharusnya kau yang menawarkan ajakan kencan untukku?”

Sehun tertawa kemudian mencubit gemas pipi Yoojung.

“Baiklah, ayo kita pergi berkencan!”

“Yeaaay, mau pergi kemana?”

Sehun mengangkat bahu, “Terserah padamu saja. Asal…jangan toko buku. Itu sama saja kau mengajakku seharian penuh belajar dan belajar.” Tutur Sehun yang mengundang tawa Yoojung.

“Aku juga tahu itu, kau kan sangat alergi terhadap buku. Padahal buku itu adalah jembatan ilmu. Memangnya mau sampai kapan kau bertahan dengan basketmu? Saat seseorang sudah menua nanti, ia tidak mungkin bisa melompat-lompat aktif seperti saat ini, kau juga pasti akan berakhir duduk di kursi roda dan membaca buku sambil menikmati matahari terbenam dari teras rumahmu.” Ucap Yoojung panjang lebar.

“Kau tidak hanya memikirkanku sebagai suamimu ternyata, tapi juga sampai membayangkan masa tuaku nantinya. Astaga Kim Yoojung, kau berpikir terlalu jauh, sayang.” Ucap Sehun kemudian.

“Sayang?” balas Yoojung terkejut.

“Ya?” jawab Sehun yang mengira Yoojung memanggilnya dengan sebutan ‘sayang’.

“Kau…barusan memanggilku sayang?”

“Tidak boleh? Kau kan kekasihku?”

“Tapi…ini pertama kalinya aku mendengarmu memanggilku sayang.”

“Kalau begitu, setiap ada kesempatan aku akan memanggilmu sayang sebanyak mungkin. Bagaimana?”

Yoojung memaksakan senyuman manis di bibirnya lalu menggeleng, “Entahlah tapi rasanya terdengar menggelikan saat kau memanggilku sayang. Panggil Jung saja sudah cukup menurutku.”

“Tapi aku ingin memanggilmu sayang mulai sekarang.” Suara Sehun yang biasa terdengar berat dibuat semanja mungkin pada Yoojung, membuat Yoojung geli dan langsung menghujaninya dengan cubitan gemas.

“Hentikan Oh Sehun!”

“Sayangku Kim Yoojung!”

“Diamlah! Nanti kita akan ditertawai orang di sekitar kita.”

“Sayang, sayang, sayaaaang.” Sehun semakin gencar menggoda Yoojung.

“Sehun!”

*

Monalisa menatap kosong layar laptop di hadapannya. Sejak tadi ia tidak melakukan apapun selain meluruskan tatapannya pada layar laptopnya. Belakangan ia lebih sering melamun saat sedang sendiri, dan jika sudah melamun, ia kembali teringat pada pertemuan singkatnya dengan pria bernama Oh Sehun.

“Oh Sehun…” ucapnya lirih lalu tiba-tiba saja ia tersenyum.

Tidak biasanya Monalisa seperti ini, ia dibuat penasaran oleh sosok pria asing yang bahkan ada dalam jarak pandangnya tidak sampai lebih dari lima menit. Ia masih mengingat betapa dalam dan dinginnya tatapan pria bernama Oh Sehun itu pada dirinya.

Ia bahkan kembali mengingat deretan kata-kata singkat apa yang Sehun lontarkan padanya saat mereka bertemu. Monalisa sudah bertemu banyak lelaki di luar sana, tetapi baru kali ini ada laki-laki yang sangat dingin terhadap dirinya bahkan tidak memberikan senyumnya sedikitpun pada Monalisa yang lebih dulu menyapa bahkan memberinya senyuman yang hangat.

“Dia benar-benar membuatku merasa pen—”

Dddrrtt drrrttt!

Ponsel Monalisa bergetar, ia langsung tersadar dari lamunannya dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya, sebuah panggilan dari kakak tirinya.

“Iya kak?”

“Kau sedang sibuk?”

“Emm, tadinya. Sekarang sudah tidak lagi. Ada apa?”

“Temani aku makan siang, ya?”

“Makan siang? Ini bahkan sudah pukul empat sore, kak! Kau ini, mengapa kau sering sekali melupakan jam makan siangmu? Kau pasti sibuk dengan tumpukan pekerjaanmu, ya?”

“Hehe, bukan begitu adikku sayang. Kau tahu kan beberapa hari ini makanku jadi tidak teratur karena banyak perusahaan ayah yang harus aku awasi secara bersamaan.”

“Kan kau memiliki banyak tangan kanan di setiap perusahaan milik ayah, mengapa tidak membagikan tugasmu dengan mereka!?”

“Sudah, jangan protes terus. Nanti aku semakin lapar. Tunggu aku di tempat biasa kita bertemu, ya?”

“Baiklah.” Jawab Monalisa singkat, ia kemudian melihat ke jendela, tampaknya langit sedang tidak bersahabat sore ini karena terlihat mendung dan akan turun hujan tidak lama lagi.

“Kakak!”

“Apa?”

“Jangan lupa bawa payung. Kurasa tidak lama lagi akan turun hujan.”

“Iya adikku yang cerewet, sampai jumpa tiga puluh menit lagi disana.”

“Iya.”

Monalisa menutup panggilan dari kakaknya kemudian mematikan laptopnya dan bersiap untuk menemui kakaknya di restoran tempat biasa mereka bertemu.

*

Yoojung mengayunkan kakinya berulang kali sambil melihat ke kiri dan ke kanan. Dia sudah berada di halte tempat ia akan bertemu dengan Sehun. Sehun berkata padanya kalau ia akan sedikit terlambat karena masih harus menunggu bus rute selanjutnya untuk datang. Sambil menunggu sesekali Yoojung memainkan poninya dan mengaturnya kembali dengan telapak tangannya.

“Ah, itu pasti bus yang ditumpangi oleh Sehun.” Ucapnya lalu segera berdiri dan menunggu bus itu berhenti di hadapannya.

Ketika bus umum tersebut telah berhenti, tampak beberapa orang berjalan turun dari dalam bus, dilihatnya satu per satu namun tidak ia temukan Sehun. Yang terakhir turun adalah seorang pria berjas kantoran dengan membawa sebuah payung dengan dasi yang sedikit ia longgarkan.

Yoojung menggembungkan pipinya lalu kembali duduk di kursi halte tersebut. Setelah semua orang pergi, tersisa pria asing dengan jas di kantoran yang duduk di sebelahnya. Yoojung kembali memperhatikan jalan raya yang kembali sepi untuk menunggu kedatangan bus selanjutnya.

“Sedang menunggu bus, ya?” tanya pria asing itu, Yoojung buru-buru memutar kepalanya dan tersenyum kecil kemudian menganggukkan kepalanya.

“Mengapa tidak naik bus yang tadi saja?” tanya pria itu lagi.

“A-aku…aku sedang menunggu seseorang.”

“Oh begitu.” Pria tersebut mengangguk lalu mengangkat ponselnya ketika terdengar nada panggilan.

“Ya, halo? Kau dimana?”

“…”

“Aku sudah turun dari halte bus. Aku akan kesana.”

“…”

“Mobilku tadi tiba-tiba saja berhenti di tengah jalan. Jadi aku menelpon bengkel langgananku untuk mengambilnya dan aku kesini menggunakan bus umum.”

“…”

“Ya, mungkin setelah kita makan mobilnya sudah selesai diservice. Tunggu aku disana, aku akan menyebrang.”

TUT.

Dan ketika pria itu mengakhiri panggilannya, hujan turun dengan sangat deras, membuat dirinya langsung bersiap membuka payungnya untuk segera pergi. Namun langkahnya tertahan ketika melihat gadis di sebelahnya masih menunggu kedatangan bus selanjutnya. Pakaian yang dipakai Yoojung memang berlengan panjang, tetapi bahannya cukup tipis. Pria itu yakin Yoojung pasti kedinginan sekarang karena percikan air juga mengenai tubuhnya.

“Nona.”

“Y-ya?”

“Ini. Gunakan payung ini untuk menutupi punggungmu. Kurasa itu akan mengurangi rasa dingin di tubuhmu.”

“A-ah, tidak perlu, tidak lama lagi orang yang kutunggu akan—”

“Tidak masalah, aku hanya tinggal menyebrang dan sampai di tempat tujuanku. Kau bisa memakainya dengan orang yang kau tunggu itu. Aku bisa berlari dengan cepat.”

“Benar tidak apa-apa?”

Pria itu mengangguk, Yoojung tersenyum lalu menunduk menerima pemberian payung dari pria tesebut.

“Te-terima kasih banyak, tuan.”

“Sama-sama, aku pergi dulu.”

Ketika pria itu berlari menerjang hujan yang cukup deras, tak lama kemudian bus yang Yoojung tunggu datang. Ketika pintunya terbuka, Sehun langsung berlari turun dan memeluk tubuh Yoojung yang sudah menyambutnya dengan lambaian tangan.

“Hey!” pekik Yoojung terkejut.

“Kau sudah menunggu lama?” tanya Sehun khawatir.

Yoojung menjawab dengan gelengan kepala, “Ayo.” Ajaknya kemudian.

“Kau membawa payung? Kau sudah memprediksikan akan turun hujan, ya sore ini?” tanya Sehun melihat Yoojung memayungi dirinya.

“Tadi ada tuan tampan baik hati yang memberikanku payung ini saat menunggumu.” Ucap Yoojung.

“Tuan tampan baik hati? Apakah dia jauh lebih tampan dariku sampai kau bilang dia tuan tampan segala?” tanya Sehun cemburu.

“Hahahaha, emm bagaimana ya?”

“Astaga, Yoojung si kutu buku bisa menggoda pria lain juga ya ternyata.” Cibir Sehun.

“Sembarangan! Aku tidak menggoda tuan tampan itu, justru dia yang memberikanku payung ini. Lagipula dia mengatakan payung ini bisa kugunakan denganmu untuk sampai di tempat tujuan kita. Harusnya kau berterima kasih padanya, bukan marah-marah begini.”

“Sudahlah, tidakkah kau merasa udaranya semakin dingin. Ayo kita langsung menyebrang saja.”

Yoojung mengangguk lalu berjalan sepayung berdua dengan Sehun di bawah derasnya hujan.

*

Hoseok memasuki café langganannya dengan langkah terburu-buru. Tubuhnya sedikit menggigil namun kembali sedikit merasa hangat saat disambut dengan mesin penghangat ruangan yang ada di dalam café tersebut.

Matanya langsung mengitari seisi café dan tak jauh dari tempatnya berdiri, ia menemukan sosok Monalisa sedang mengamati hujan sambil memegang secangkir cokelat panas tentu saja. Itu adalah minuman faforit adik tirinya.

“Maaf atas keterlambatanku.” Ucapnya lalu mengambil tempat duduk di hadapan Monalisa.

“Kakak? Mengapa kau bisa basah seperti ini? Astaga! Bukankah kau sudah kusuruh membawa payung tadi?” ucap Monalisa khawatir yang kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya.

“Gunakan ini untuk mengeringkan wajah dan rambutmu.” Ia kemudian menyerahkan sapu tangannya pada Hoseok.

“Wah, wah, kau sudah seperti seorang istri yang protektif sekali terhadap suaminya.”

“Kau itu memang selalu membuatku khawatir, kak! Mengapa tidak membawa payung?”

“Aku membawanya tadi.”

“Lalu bagaimana kau bisa basah kuyup seperti ini jika kau membawa payung?”

“Tadi kuberikan pada seorang gadis yang menunggu temannya di halte bus.”

“Haish, lihatlah, sikapmu yang terlalu murah hati itu membuatmu jadi basah kuyup begini, kalau kau sakit aku dan ibu juga yang repot, kak!” omel Monalisa lalu memanggil pelayan dan langsung memesan minuman hangat untuk kakaknya.

*

Sehun dan Yoojung masuk ke dalam café yang mereka datangi lalu meniriskan payung yang mereka gunakan untuk melindungi kepala dan sebagian tubuh mereka dari hujan.

“Ini, pakailah.” Ujar Sehun lalu menyampirkan jaketnya di pundak Yoojung.

“Kau bagaimana? Oh iya, aku lupa mengembalikan jerseymu yang kupinjam kemarin, besok saja tidak apa-apa, ya?”

Sehun mengangguk, “Carilah tempat duduk, aku akan memesankan sesuatu yang hangat untuk kita berdua.”

Yoojung mengangguk kemudian membawa payung yang sudah ia lipat bersamanya dan berjalan mencari tempat duduk. Saat matanya sibuk mencari tempat duduk, ia melihat Monalisa sedang berbicara dengan ekspresi khawatir pada seseorang di depannya. Ia tidak menyangka kalau ia bisa bertemu dengan penulsi idolanya lagi di café yang ia datangi dengan Sehun.

Buru-buru ia menghampiri meja milik Monalisa dan menyapa penulis idolanya itu.

“Hai Monalisa!”

“O-oh, hai.” Jawab Monalisa terkejut.

“Kau!?” tiba-tiba saja pria yang ada di hadapan Monalisa terkejut melihat kedatangan Yoojung di mejanya.

“Kalian saling mengenal?” lanjutnya.

“Tuan tampan yang baik hati?” tutur Yoojung kemudian.

“Dia memanggilmu apa tadi? Tuan tampan?”

“Iya, dia tuan tampan yang baik hati. Ia yang memberiku payung ini saat aku menunggu seseorang di halte tadi. Ini payungnya, tuan. Terima kasih ya, berkat kau, aku dan kekasihku bisa sampai disini.”

“Kekasihmu?” ucap Hoseok dan Monalisa bersamaan. Yoojung menjawabnya lewat anggukan kepala.

“Tapi…kau malah jadi basah kuyup begini, tuan. Jika kau terserang demam bagaimana? Ah, aku jadi merasa sangat bersalah sekarang.” Tutur Yoojung kemudian.

“Tidak apa-apa. Sistem kekebalan imunku sangatlah kuat, hanya karena hujan seperti itu, tidak akan membuatku demam. La-lalu…dimana kekasihmu?”

“Dia…ah itu dia, Sehun-ah! Kemari!” panggil Yoojung.

Monalisa dan Hoseok langsung mengikuti arah lambaian tangan Yoojung dan tak lama setelah itu datang Sehun sambil membawa dua cup berukuran sedang minuman hangat di tangannya.  Ia menatap Monalisa sekilas dan tersenyum padanya lalu beralih pada Hoseok yang menatapnya dengan ekspresi sedikit terkejut.

“Sudah dapat tempat duduk?” tanya Sehun tak mempedulikan dua orang yang menurutnya asing meski ini adalah kali ketiga ia bertemu dengan penulis idola Yoojung.

Yoojung menggeleng, “Lalu sedang apa kau disini?” tanya Sehun heran.

“Ini tuan tampan baik hati yang meminjamkanku payungnya.”

“Sudah kau kembalikan?”

“Sudah.”

“Terima kasih sudah meminjamkan payungmu pada kekasihku. Kami permisi dulu, ayo Jung-ah.” Ucap Sehun lalu berjalan pergi, tidak menggubris Monalisa nyaris ingin mengatakan sesuatu padanya.

“Aish, pria itu. Ah, maaf ya dia memang orang yang seperti itu. A-aku pergi dulu Monalisa, sampai jumpa di lain kesempatan. Dan tuan, sekali lagi terima kasih untuk payungnya. Hun-ah! Tunggu!” pekik Yoojung di akhir kalimat.

Monalisa dan Hoseok saling memandang dalam diam, tatapan mereka kembali tertuju pada Sehun dan Yoojung yang sudah mendapatkan tempat duduk kosong untuk mereka berdua.

*

IKLAN LEWAT!!!

Jika sempat, kunjungi COF untuk mengikuti ‘event’ pertamanya ya

klik di bawah ini

CAFETARIA OF FANFICTION 1st Mini Contest

*

“Kau memesan apa?”

Hot matcha.” Jawab Sehun lalu membuka penutup cup salah satu minuman di tangannya dan ia berikan pada Yoojung.

“Kau tahu saja aku sedang ingin minum matcha.”

“Pikirkanlah, memangnya ada hal yang tidak aku ketahui dari dirimu?” pancing Sehun yang membuat Yoojung tersenyum dan mendorong pundak Sehun pelan.

“Eh, Hun. Kau lihat pria yang duduk di depan Monalisa tadi?”

“Pria yang kau sebut tampan itu? Menurutku biasa saja.”

Ih, kau ini! Bukan begitu, menurutmu Monalisa ada hubungan apa ya dengan pria itu?”

“Itu bukan urusanku.”

“Tapi ya, Hun. Monalisa adalah gadis yang tertutup. Dia jauh lebih menutup dirinya dari sekitarnya daripada aku. Apa pendapatmu jika mereka berdua ternyata menjalin hubungan khusus?”

“Ya biar saja. Apakah itu masalah untukmu? Kau cemburu?”

Ih, Sehun! Kau ini. Terlalu tidak peduli pada lingkungan sekitarmu itu tidak baik!”

“Kurasa mereka bukan hidup di dalam lingkunganku, jadi untuk apa aku ah tidak, untuk apa kita harus peduli, Jung-ah. Lebih baik kita ganti topik pembahasan kita, oke?”

*

“Mereka pasangan yang lucu, bukan begitu adikku?” Hoseok kembali mengalihkan fokusnya pada Monalisa yang masih terus menatap kedua pasangan tersebut. Yoojung dan Sehun.

“Lihatlah eskpresi pria itu kak. Dia terlihat sangat hangat di depan kekasihnya, tetapi dingin sekali saat bertemu dengan kita. Dia pria yang unik.” Tutur Monalisa.

“Oh ya, dimana kau bisa mengenal gadis itu?” tanya Hoseok kemudian.

“Emm, dia menghadiri event perdana penjualan novel ketigaku kak.” Jawab Monalisa lalu menyeruput cokelat panasnya sampai tandas.

“Padahal saat aku mengajaknya bicara, ia sangat pemalu, tetapi ketika bersama dengan kekasihnya, ia terlihat aktif sekali.” Ucap Hoseok lagi.

“Mereka berdua mengingatkanku pada dua sahabat dalam novel ketigaku, Margareth dan Robin.”

“Bukankah kisah persahabatan mereka berakhir duka?”

“Ya, Margareth mengakhiri hidupnya karena kehilangan Robin dari sisinya. Tapi kurasa itu tidak akan terjadi pada gadis itu dan kekasihnya. Mereka…terlihat sangat…manis.” Ucap Monalisa sambil tersenyum kecil.

T B C

SORRY FOR TYPO(s)

.

Sampai jumpa di chapter selanjutnya~~~

.

.

Salam Alay as alwayssss

.

QueenX

Advertisements

34 responses to “Between Us – “Nice Guy” | QueenX

  1. semoga aja sejung ttep spt itu , entah knapa aku merasa lisa nanti jd pnghalang hbungan mreka dehh .
    next chap fighting

  2. couple yg satu ini bkin iri aja….konflik apa yg akan trjadi antara yoojung,sehun dan monalisa nanti? aq pnsaran bgt…

  3. Duh aku baru ngikutin judul ini 😅
    Ko aku ngerasa sehun sama monalisa agak gimana gitu ya? Kasian dong si yoojung kalo emng mirip kaya cerita yg di novel itu 😥 duh padahal mereka berdua sweet banget. Next yaa kaaaa

  4. ekhhhhh fika????? km ksh eksis ya allah seneng bnget… aq yg kurng update skrng loh hehehhehehe
    maaf bru bsa baca ini skrng… demi apa deh hehehe aq lg seneng main d wattpad hehehheheh lgian dsni jg hk two knp mkun berkurng crta y keceh2 heheheh
    ouhhhjj Yoojung Sehun selalu bkin melting hehehheh suka deh tp klo bsa jngan dhalangin sma Monalisa yh hahhaaha

  5. Ahhh jadi penasaraan sama kisah romance selanjutnya 😍😍😍😍
    Haaa sehun kamu benar” gx ada tandingaan y dehhh pokok y daebakkk

  6. Cuma bisa berharap SeJung Couple ga sad ending kaya cerita di novel Monalisa.. semoga aja Monalisa ga jadi orang ketiga atau PHO di hubungan SeJung Couple…

  7. hwa,,,eotteokhae nih,ini jgn2an kakaknya si monalisa juga suka lagi sama yoojung, andwae……jgn ganggu pasangan ini dong,setauku ya pasangan ky mereka ini bakalan awet sampe ajal memisahkannya,asikkkkkk

  8. waduch”..
    apa mungkin berkataan monalisa yang terakhir,ending dari cerita ini..
    sya tidk rela kalao harus sad ending

  9. Ketika orng kek sehun yg gak perduli sma skitar dn lu stu” orng yg dy pduliin maka kelar lah hidup lu… Hahhahah

  10. Nah loh jangan bilang si monalisa itu mau hancurin hubungan mereka sama kaya di novelnya? Biasa orang ketiga mah bisanya ngerusak. Next ya kak!

  11. Pingback: Between US – “A Gap” | QueenX | SAY KOREAN FANFICTION·

  12. Jungse♡♡♡♡♡ gaboleh sedih
    Pokoknya sama2 terus ih, mbak mon gosah ganggu eaaaaa jangan dosa lho jadi pho
    Ntar kena karma *eh ga ding canda :v

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s