PLOT TWINS 1 — Lee Hana [by IMA]

plottwins-new-2

[Lee Hana]

By IMA (@kimkaisure)

Casts : Lee Hana and Lee Hani (OC – Twins), Kim Jong In, and other casts will revealed soon

Genre   : Family, Dark, School-Life, Hurt, Romance

Rating   : 17+ (for scenes and words)

Beta : neez

©IMA @saykoreanfanfiction 2017

Poster BSfxo @PosterChanel

“It is better to be hated for what you are than to be loved for what you are not.”
― Andre Gide



[Plot Twins 1]

New York

Suara hingar bingar musik yang memekakkan telinga terdengar dari sebuah club terkenal di pusat kota New York. Lampu yang berpendar di dalam club seolah menjadi pelengkap kegilaan orang-orang yang tengah bergerak di lantai dansa. Beberapa orang terlihat bercumbu di lantai dansa, saling merapatkan tubuh masing-masing dan bahkan saling menggesekkan bagian tertentu dari tubuh mereka. Bau alkohol yang menyengat tercium dari mulut orang-orang yang menari sambil tertawa di lantai dansa.

Termasuk seorang wanita berwajah asia dengan riasan smokey dan pakaian ketat yang menari di lantai dansa bersama seorang pria asing. Tangan wanita itu melingkar di bahu lebar pria di hadapannya, sementara tangan pria itu memeluk pinggangnya. Dengan jarak wajah yang sangat minim, wanita itu tentu bisa mencium bau alkohol yang menyengat dari mulut pria itu. Namun ketika pria itu mendaratkan ciuman panas di atas bibirnya, wanita itu tetap tidak menolak dan semakin merapatkan tubuhnya.

Tonight is gonna be the  happiest day ever to our birthday girl, Lee Hana!”

Suara berat sang disk jokey yang menggema di dalam club membuat wanita itu melepaskan ciumannya sejenak untuk menyeringai pelan. Ia mengangkat tangan dan mengacungkan jari tengahnya pada laki-laki berkulit hitam yang berdiri di atas podium dengan berbagai macam alat DJ.

Happy Birthday, Lee Hana!”

Wanita itu, Lee Hana, hanya mengendikkan bahu tak acuh dan kembali mencium pria tampan dengan bola mata berwarna cokelat gelap di hadapannya. Tidak peduli dengan suara riuh orang-orang di dalam club yang hampir bersamaan mengucapkan selamat ulang tahun untuknya. Yang Hana pikirkan hanyalah segera mencari VIP Room yang kosong untuk membawa pria asing itu dan melampiaskan hasratnya sesegera mungkin.

Dengan terburu-buru keduanya memasuki VIP Room di lantai dua club, pria itu segera duduk di sofa dengan Hana yang duduk di atas pangkuannya dan membuat gaun ketat yang dipakai wanita itu sedikit tersingkap. Tanpa melepaskan pagutan bibir, tangan Hana dengan lincahnya membuka satu per satu kancing kemeja yang dipakai pria yang baru ditemuinya lima belas menit lalu itu. Sementara gaun yang dipakainya sudah tidak berbentuk lagi dan tangan pria itu sudah merajarela menjamah seluruh bagian tubuhnya.

Hampir satu jam berlalu dan Hana segera menyelesaikan ‘urusannya’ di sana. Berdiri sambil merapikan pakaiannya seraya memperhatikan pria berambut pirang yang baru selesai menaikkan resleting celananya. Hana merapikan rambutnya dengan jemari dan baru saja akan keluar dari VIP Room ketika lelaki itu menahan tangannya.

Hana menoleh dengan ekspresi dingin. “Why?”

“You’re incredible. May I have your number, Hana Lee?” tanya lelaki itu dengan seulas senyum menawan yang membuat Hana balas tersenyum.

Sorry, but no,” Hana menarik tangannya tanpa menghilangkan senyum di bibirnya.

Ekspresi lelaki itu berubah seketika dengan kerutan di kening dan sebelah alis terangkat. “But why? You like me too, right? I just want your number, Hana. Well, just in case if I want to call you someday.”

I’m a free woman, dude. No string attached and that’s final,” Hana menepuk bahu lebar lelaki di hadapannya lalu melangkah maju, berbisik di dekat telinga lelaki itu. “So if you have a feeling to deal with, sorry not sorry, but I’m not doing a relationship thingy.”

Hana memundurkan kepalanya, melemparkan senyuman miring pada lelaki itu sebelum melangkah keluar dari VIP Room dengan angkuhnya. Ia mengulas senyum pada teman-teman yang ditemuinya dalam perjalanan menuju rest room. Berdiri di hadapan cermin besar di dalam rest room, Hana merapikan dandanannya dan kembali memulas lipstick merah di bibirnya –yang sedikit bengkak. Hingga kegiatannya terhenti saat melihat seorang wanita keluar dari salah satu bilik toilet, menatapnya dari pantulan di dalam cermin.

“Oh, this is our birthday girl, Lee Hana.

Chi, tolong jangan merusak moodku,” balas Hana dengan bahasa Koreanya seraya melanjutkan kembali memulas bibirnya dengan lipstick.

“Aku hanya menyapa, well, karena kita berasal dari negara yang sama,” wanita dengan mata segaris itu mengulas senyum miring sambil melangkah menghampiri Hana, berdiri di sebelah wanita itu lalu menyalakan kran washtafel untuk mencuci tangan. “Ah, aku bertemu dengan sahabatmu kemarin di sekitar Times Square. Saat kutanya tentangmu, dia malah pergi dan tidak mau menjawab. Sepertinya dia sudah tidak mengenalmu lagi.”

Shut up,” Hana mengeringkan tangannya yang habis dicuci ke tisu seraya berbalik menghadap wanita yang masuk ke dalam daftar manusia yang paling dibencinya itu. “Kalau kau tidak tahu apa-apa, jangan sok tahu.”

He’s tired because you never listen to him. You still pick random guys to satisfy your own lust.”

Kedua tangan Hana terkepal, ia kembali berbalik dan segera memasukkan peralatan make upnya ke dalam clutch sebelum melangkah keluar dari dalam rest room tanpa mau membuang tenaga untuk membalas wanita itu. Walaupun mengundang seluruh murid satu angkatan, Hana tidak ingat pernah memasukkan nama wanita itu ke dalam list undangan. Moodnya tiba-tiba berubah drastis dan ia tidak ingin berada di dalam club itu lagi. Masa bodoh jika ia meninggalkan pesta ulang tahunnya sendiri, tidak ada lagi yang ingin dilakukannya di sana.

***

Kepala Hana masih terasa pusing ketika bangun di pagi hari. Masih dengan dress seksi yang dipakainya semalam, Hana bangkit dari tempat tidur dan menatap pantulan dirinya sendiri di depan cermin. Rambut kusut, sisa-sisa make up yang sudah luntur dan membuat sekitar matanya menghitam, serta beberapa bekas hickeys di lehernya. Hembusan napas kesal keluar dari bibir Hana, tidak suka dengan jejak yang sudah ditinggalkan pria asing tadi malam. Bahkan Hana sudah lupa nama lelaki itu.

Hana membersihkan tubuhnya dalam tiga puluh menit, ia memakai mini skirt dan kemeja pendek yang dibuka dua kancing teratasnya sebelum melangkah keluar kamar. Menuruni tangga dengan setengah berlari menuju ruang makan, Hana menemukan ayah dan ibu (tiri) nya sudah duduk di meja makan. Dengan beberapa potong toast bread dan tiga gelas susu putih memenuhi meja. Hana melempar tas sekolahnya ke kursi kosong seraya menghempaskan bokongnya pada kursi yang tersisa, berhadapan dengan ayahnya.

“Ada tagihan lagi hari ini,” tuan Lee mengangkat kepalanya dan memperhatikan Hana. “You rented a whole club for your birthday party?”

“Yes,” Hana menjawab singkat seraya mengoleskan nutella pada rotinya. “It’s not even my proper birthday. Appa tahu sendiri aku tidak akan merayakan ulang tahunku dan Hani tepat di tanggalnya.”

“Terserah, percuma melarangmu juga. Dan kau akan pergi sekolah dengan penampilan seperti itu?” tanya ayahnya lagi, kali ini memperhatikan pakaian Hana yang terlalu terbuka –menurutnya.

This is fashion, daddy. Why are you complaining so much this morning? Like you care what am I wore or did before,” Hana memasukkan rotinya ke dalam mulut seraya mengambil tasnya dari kursi lalu melangkah cepat meninggalkan ruang makan. “Aku berangkat.”

Hana setengah berlari menuruni tangga dari teras rumahnya, mematikan alarm mobil dan bergegas memasuki mobil mini cooper kesayangannya. Tidak butuh waktu lama bagi Hana untuk memundurkan mobil dan melajukan mobilnya di jalanan dengan tangan yang sibuk memegang roti. Lebih dari lima belas menit kemudian Hana memasuki pelataran parkir sekolah dan memarkirkan mobilnya pada tempat yang tersisa.

Sebelum keluar dari mobil, Hana merapikan rambut cokelat terang –yang sedikit bergelombang miliknya itu hingga terjatuh alami di bahu sampai ke bagian dada dan memulas lipstick berwarna alami di bibirnya. Meraih totebag di kursi penumpang sebelahnya, Hana kemudian turun dari mobil dan mengunci mobilnya.

“Hana!” kepala Hana sontak menoleh pada suara wanita yang tiba-tiba saja sudah ada di sampingnya dan merangkul bahunya.

Hana melempar senyum pada Wendy Son, salah satu teman sekelasnya yang juga memiliki darah Korea dari ibunya, tetapi tidak bisa bahasa Korea karena tinggal di Amerika sejak kecil bersama ayahnya. “Oh, hai.”

Wendy membalas senyum Hana –dengan setengah tertawa lalu menceritakan apa yang dialaminya pagi itu setelah menghadiri pesta ulang tahun Hana semalam. Dan Hana hanya mendengarkan, tidak berusaha membalas atau menilai cerita –yang menurutnya tidak penting. Tapi satu-satunya wanita yang mau ‘berteman’ hanya Seungwan –nama Korea Wendy, dan ia lebih baik diam saja mendengarkan daripada menyakiti ‘temannya’ sendiri.

Keduanya berpisah karena menghadiri mata pelajaran yang berbeda. Seharusnya. Tapi Hana tidak memasuki kelas pertamanya pagi itu, ia mencari sesuatu untuk mengalihkan mood jelek di pagi hari setelah bertemu ibu tirinya. Hingga pada akhirnya Hana berakhir di dalam ruang janitor dekat kantin bersama seorang laki-laki –yang Hana tidak ingat namanya, ‘doing some random things’ untuk memuaskan keinginan satu sama lain.

Suara ponsel yang berdering berkali-kali tetap tidak mengganggu kegiatan Hana dan prianya. Tidak ada yang bisa mengganggu Hana –yang sedang dalam mode high. Pasti hanya ayah atau ibu tirinya yang menelepon, hanya untuk memastikan bahwa ia benar-benar pergi ke sekolah. Namun suara dering yang terus mengganggu membuat Hana gerah juga. Di sela-sela napas yang terengah dan bibir pria asing yang masih menjelajahi setiap inchi tubuhnya, Hana melirik caller id di layar ponselnya.

“Shit.

Kecuali Lee Hani. Her other half.

Hana turun dari meja kayu, meninggalkan pria asing yang dibiarkan menggantung di belakangnya dan memastikan id caller yang masuk ke ponselnya. Hembusan napas pelan keluar dari bibir Hana sebelum berbalik dan mengulas senyum pada pria asing yang sibuk merapikan pakaiannya kembali. “Dear John—.”

I’m Shawn anyway.”

Dengan ekspresi –pura-pura menyesal, Hana menepuk-nepuk bahu lebar pria itu. “We’re done here, Shawn.

Seringaian tipis muncul di bibir pria itu sebelum keluar dari ruang janitor dan membanting pintunya, namun Hana malah tersenyum sambil menjawab telepon dari saudara kembarnya. Ia duduk di atas meja dengan senyuman lebar –yang tidak pernah ia tunjukkan pada siapa pun, kecuali sahabatnya dan Hani.

“Hani-ya~.”

‘Pasti kau sedang sibuk. Sudah di sekolah?’ tanya Hani seperti biasanya, tanpa menyapa balik Hana.

Hana mengerucutkan bibir, gemas karena Hani selalu bernada serius jika meneleponnya. “Tidak juga, hanya sedang bersenang-senang. Eoh, aku di sekolah tapi tidak masuk kelas.”

‘Ck, bolos lagi?’

“Hani-ya, appa merusak moodku pagi ini. Jadi aku tidak mau masuk kelas,” adu Hana seperti biasanya dan lagi-lagi Hani menghela napas panjang mendengar keluhannya.

Hana sudah siap jika saudarinya itu kembali menasehatinya. ‘Hana-ya, kau bukan anak kecil lagi. Apa hubungannya appa dan sekolah? Kita harus lulus dan kuliah bersama di Inggris. Kau tidak lupa ‘kan?’

Kali ini Hana yang menghela napas panjang sambil memijat pangkal hidungnya. “Iya iya, aku masuk ke kelas kedua.”

‘Keurae, apa susahnya masuk kelas? Dengarkan gurunya, catat seperlunya, dan belajar untuk ujian. Siklus sekolah ‘kan sama saja.’ Hani masih menceramahinya panjang lebar, sementara Hana malah tersenyum geli sambil membayangkan ekspresi kesal gadis itu.

“Sudah?”

Ck, kenapa kau selalu membuatku kesal.’

“Tapi sayang ‘kan?” goda Hana lalu tertawa karena Hani mendecih pelan dari seberang sana. “Tidur sana. Di Seoul ‘kan sudah malam, aku harus masuk kelas juga.”

‘Oh iya, tentang sahabatmu itu…. Kau sudah menemukannya?’ tanya Hani, kali ini bernada sedikit khawatir.

Ekspresi Hana meredup begitu rasa sesak kembali menyerang dadanya, “Aku tidak tahu. Dia seperti ditelan bumi. Tidak ada kabar, kontaknya hilang, dan tidak ada yang tahu dimana dia.”

‘Mungkin dia sedang butuh waktu sendiri. Sebelumnya juga dia seperti ini, tapi kembali lagi ‘kan?’

Sebenarnya Hani sering mendorongnya dengan kata-kata positif seperti itu, tapi entah kenapa Hana yakin bahwa sahabatnya itu tidak akan kembali. Apalagi jika mengingat ucapan wanita bodoh tadi malam yang terus terngiang di kepalanya. Benarkah sahabatnya itu pergi karena ia suka bersenang-senang dengan pria-pria asing?

‘Hana?’

“Tidak tahu. Aku harus masuk kelas sekarang, Hani-ya, selamat tidur,” Hana mematikan teleponnya dengan helaan napas panjang. Ia membereskan beberapa barangnya kembali ke dalam totebag, merapikan rambut bergelombangnya yang sedikit berantakan lalu keluar dari ruang janitor dengan santainya.

***

Another hectic day.

Sesungguhnya Hana paling tidak suka berada di kelas dan mendengarkan apa yang dijelaskan oleh gurunya. Ia bisa mendapatkan materi-materi pelajaran dari internet, bahkan hingga tutorial cara mengerjakan soal-soal sulit –yang tidak pernah dijelaskan di sekolah. Hana wonders why school still exist when internet has everything, more than what you’ve learned at school.

“Hana, can you explain how to solve this matter?

Kepala Hana yang tadinya diletakkan di atas meja –sambil menulis tidak jelas di atas kertas kini menegakkan duduknya dan menatap lurus ke depan. Memperhatikan guru Matematika kesayangannya yang baru menuliskan sebuah soal –entah apa dengan huruf-huruf x, a, dan b yang Hana tidak tahu bagaimana cara mengerjakannya.

May I ask google, maam?”

Empat belas murid lainnya sontak tertawa mendengar jawaban Hana. Sedangkan Hana tidak peduli dan masih bersikap sok polos, menatap Madeline –guru kesayangan berambut setengah ikal yang dibiarkan menggantung di bahu, melengkapi kulitnya yang sedikit tan.

“Hana, please meet me after this class ends.”

Hana meringis pelan begitu bel terdengar, membubarkan teman-teman sekelasnya sementara ia terjebak di dalam kelas. Sambil berdecak pelan, ia menghampiri Madeline yang masih sibuk membereskan peralatan mengajarnya. Berdiri di depan meja guru, Hana melipat tangannya di depan tubuh sambil memperhatikan Madeline.

Solve all of the questions on the sheet and give it to me tomorrow morning,” wanita paruh baya itu menyerahkan selembar kertas pada Hana, berisi lima pertanyaan bersama anak-anaknya –yang Hana sangat tidak disukai di dunia persekolahan.

Seriously?”

And feel free to ask google this time,” Madeline menekankan kata-kata google seraya mengulas senyum tipis dan meninggalkan Hana di dalam kelas sendirian.

Sh*t, I hate this school so much,” Hana meremas-remas kertas itu dan memasukkannya ke dalam totebag. Dengan wajah merengut dan ekspresi kesal Hana melangkah keluar dari kelas, mencari orang yang bisa mendengar keluhan –tentang sekolah lagi darinya.

Dan langkah Hana terhenti begitu mengingat bahwa sahabatnya belum kembali ke sekolah.

Hana mengacak rambutnya sendiri sebelum melangkah menuju cafetaria. She has no friends, but she has a lot of companions.

Seraya membawa nampan makan siangnya, Hana memilih duduk bersama seorang laki-laki –yang sepertinya pernah bermain dengannya. Hana tidak ingat, tapi begitu melihat lelaki itu menyambutnya dengan senyum hangat, ia yakin pernah bermain dengan laki-laki berambut pirang dan tatapan mata teduh berwarna cokelat itu.

Hey, Hana,” sapa lelaki itu dan Hana yang duduk berhadapan hanya menyunggingkan senyum tipis. “So, are you going to give me your number?”

Seketika Hana memutar ingatan pada beberapa hari yang lalu, malam dimana ia cukup mabuk di “pesta ulang tahunnya” dan membawa laki-laki ke dalam VIP Room untuk melanjutkan kegiatan panas mereka di lantai dansa. Laki-laki yang meminta nomor ponselnya juga waktu itu dan Hana yang menolak mentah-mentah tentu saja.

“Oh, sorry. I thought you are—.”

“I know. You don’t remember me, right? They already said it,” lelaki itu bahkan memotong ucapan Hana sebelum beralasan lain. “I’m not surprised.”

Hanya senyum canggung yang bisa Hana tunjukkan pada laki-laki –yang dari gantungan tas ranselnya bernama Jeffrey itu. “I did remember you, Jeff.”

Tatapan mata lelaki itu kembali pada Hana. “You did?”

Yes,” Hana hanya meneguk satu karton kecil susu cokelat dari nampan makan siangnya sebelum beranjak dari kursi. Nafsu makannya sudah menghilang entah kemana setelah ia melanggar prinsip dalam hidupnya sendiri untuk tidak berkomunikasi dengan laki-laki mana pun yang pernah bermain dengannya. Well, itulah kenapa Hana tidak memiliki teman laki-laki lain selain sahabatnya, karena rasanya ia sudah banyak sekali bermain dengan anak-anak di sekolahnya.

I need to go. Bye,” Hana kembali bersikap dingin dan meninggalkan meja itu bersama sisa makan siangnya. Tidak peduli bagaimana lelaki itu memanggil namanya berkali-kali, hingga menarik perhatian orang-orang yang ada di cafetaria.

Pada akhirnya Hana berakhir di halaman belakang, duduk di tribun lapangan basket sambil menikmati angin sore yang menerpa wajahnya. Semenjak beberapa bulan lalu, ia tidak lagi memilki sahabat yang bisa menemaninya kemana pun. Rasanya ia ingin menelepon Hani, tapi di Korea masih pagi sekali dan saudarinya itu pasti belum bangun.

“Ah, jinjja, kenapa aku jadi mau pergi ke Seoul,” Hana menyilangkan kakinya seraya mengikat rambut panjangnya dengan asal membentuk gelungan berantakan di atas kepala. “Tapi harus menunggu liburan semester dulu. Hani pasti tidak suka kalau aku bolos. Haish.

Hana menghentak-hentakkan kakinya, kesal karena tidak tahu harus melakukan apa. Padahal ia tidak pernah bosan ada di sekolah, tapi sejak sahabatnya menghilang lagi, ia jadi malas berada di lingkungan seperti itu sendirian. Tapi lagi-lagi ia tidak bisa kabur dari sekolah dalam waktu yang lama—

“Kecuali aku yang membuat guru-guru memberikan libur ‘kan?” Hana tertawa sendiri sambil menepukkan kedua tangannya. She wants holiday and she needs to get it no matter what.

Pada akhirnya Hana tetap berada di halaman belakang setelah menghubungi seseorang yang bisa membantunya mendapatkan libur. Senyum geli masih muncul di bibir Hana, menunggu detik-detik menegangkan hingga ia bisa sedikit bernapas lega dan menghindari tugas mengerikan dari guru kesayangannya.

“Hana Lee!”

Hana bersorak dalam hati dan memutar tubuhnya menghadap seorang wanita berambut pirang dan mata berwarna biru terang, berlari tergopoh-gopoh mendatanginya. Hana memasang ekspresi –pura-pura heran ketika wanita itu menggamit lengannya dan menariknya dari area halaman belakang. Memasuki lorong yang membawanya kembali ke bagian dalam sekolah.

What’s wrong?” tanya Hana bingung saat wanita itu menariknya menuju ruang guru.

You called by our headmaster,” wanita itu masih terus menarik Hana hingga di depan ruang kepala sekolah, terlihat beberapa murid berkumpul di dekat sana. Termasuk Jeffrey yang memberikan tatapan khawatir pada Hana, dan bergumam pelan seolah memberikan semangat.

Hana tidak membalas apapun, ia mengabaikan bisikan orang-orang dan masuk ke dalam ruang kepala sekolah sendirian. Ada beberapa guru –yang pernah mengajar di kelasnya dan tatapan mereka semua tertuju pada Hana yang terhenti di belakang pintu.

“Hana, someone found drugs inside your desk. Is it yours?” sang kepala sekolah mengangkat satu bungkusan kecil berukuran 3 senti x 3 senti yang membuat para guru memasang wajah penasaran.

Maybe.

Ekspresi sang kepala sekolah menjadi keruh. “Maybe? What does that mean?”

“Maybe someone sent that thing for me because I want to try drugs. Is it mine or him?” tanya Hana dengan santainya, membuat tatapan para guru dan kepala sekolah semakin intens pada Hana. “Could you just give me a suspension, please?”

“Hana, it’s not a joke. It’s a serious matter.”

“I’m not joking either. I want to try drugs, is it wrong or not?” tanya Hana tidak sabaran, karena ia benci berada di sana lama-lama. Cepat berikan saja ia skors selama satu atau dua bulan agar ia bisa pergi ke Seoul.

Drugs is prohbited in our school,” sang kepala sekolah memijat pangkal hidungnya dan meminta tumpukan kertas yang ada di tangan salah satu guru, memeriksa biodata Hana yang tertulis di sana. “We will tell your father.”

“He won’t pick up. Trust me,” tatapan para guru kembali memusat pada Hana, hingga sang pemilik nama mengangkat kedua tangannya. “He’s so busy, even if I die on the street or somewhere, he wouldn’t care.”

“Hana—.”

“Maybe if you give me suspension letter, he will read it,” Hana kembali memberikan penawaran yang membuat guru-guru mengerutkan kening heran. Dalam hati Hana berdoa agar ia mendapatkan skors yang lama dan tidak harus bertele-tele meminta izin ayahnya. Jika ia mendapat skors sekarang, ia hanya tinggal pulang ke rumah, membereskan baju, mengambil paspor, dan mencari penerbangan ke Korea hari itu juga.

Melarikan diri dari semua hal yang mulai membosankan di sana lalu menghabiskan waktunya bersama satu-satunya orang yang ia sayang, Lee Hani.

[PLOT TWINS 1 — CUT]

Casts Introduction  — 0 PROTEA




Ima’s Note :

1st part is coming to skf!!

Ini masih part 1, jadi aku mau tanya butuh translate atau ngga? Atau kalian msh bisa ngerti? hehe

Thanks untuk komen positifnya di cast intro sampe protea ♥

I told you guys, this story is PG17+, please do not shock or protest 🙂 Ceritanya hidup Hana bebas di Amerika, sama kaya orang-orang Amerika lainnya yg suka cari one night stand hehe Peace yaw  :*

Part selanjutnya bakal ceritain kehidupan Hani di Korea yeay!

Thanks so much ihiy

With Love,

IMA

Advertisements

64 responses to “PLOT TWINS 1 — Lee Hana [by IMA]

  1. Haii aku reader baru. dan baru sempat ubek2 wp eh ktemu ff ini.. aku ga bgtu ngerti bhsa inggris jdi ya dipersingkat aja.. hhee

  2. Pake translate aja kak, biar gampang bacanya, ini masih kisah tentang hana? Hani nya belom dikisahin kehidupannya hm

  3. Pingback: PLOT TWINS 2 —Lee Hani | SAY KOREAN FANFICTION·

  4. CRAZY GIRL… Hana mengaku demi mendapat skors… aku aja engg brani (murid teladan) hehehehee… dan siapa shabat hana yng ngilang-ngilang kayak hantu gitu.. udah marahan.. muncul baekan..
    tpi, sumpah suka sama karakter Hana…

  5. Imaa klo bisa pakein translate ya…uuhuu 😂 jujur saya bingung sm bacaannya karna g tau artinya wkwkwkwkkk 😅
    Oy sebenernya sahabat hana siapa sih??
    Ko saya masih g mudeng ya haha
    #masihpusingsmtulisaninggrisnya#

  6. Sebenernya aku baca ff ini di Wattpad, tapi aku juga pengen komen disini.

    Sahabat Hana pasti Sehun kan? Sumpah setelah aku stalkerin ig Lee Hana aku jadi makin penasaran sama ceritanya. Spoilernya bikin greget.

  7. Jarang baca ff but this one caught my Attention. Masih banyak yang belum terjawab ni. Semoga aku telaten nunggu update nya hehe.

  8. Imaaa…… udah lama bgt aq gk buka wp… trakhir pas wildest Dream.. dan skrg mlh nemu yang ini… aaaa… keren pokoknya… Im waittt
    Oya wildest Dream nya kok gk dlanjut siii:::: huhuhu

  9. Hana is bad girl (pergaulannya). well udah ga aneh si sama kehidupan di amerika gimana.

    walaupun ga jago-jago amat b.inggris, tapi dikit-dikit ngerti apa artinya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s