Unspeakable Secret | 11th Chapter

unspeakable mancay

:: UNSPEAKABLE SECRET ::

(말할 없는 비밀)

 

STORYLINE BY NISA

POSTER BY dyzhetta @ Art Fantasy

 

MAIN CAST :

Oh Sehun

Kim Leera

 

Support Cast : EXO’s Members, OC, Various Artist || Genre : Drama, Family, Romance || Rating : PG 15

 

Previous Chapter

[BAB 1] || [BAB 2] || [BAB 3] || [BAB 4] || [BAB 5] || [BAB 6] || [BAB 7] || [BAB 8]  || [BAB 9] || [BAB 10]

HAPPY READING 😀

 

Leera mendapati Sehun yang sudah merebahkan dirinya di atas ranjang yang ada di kamar mereka saat gadis itu keluar dari kamar mandi. Berhubung Sehun sudah berada disana lebih dulu, terpaksa Leera yang mengalah dan tidur di sofa.

Gadis itu beringsut ke arah ranjang dan hendak meraih sebuah bantal dan guling untuk dibawa ke sofa. Namun pergerakannya terinterupsi karena Sehun menahan tangannya.

“Mau kemana?” tanya pria itu. Leera langsung menunjuk ke arah sofa dengan kepalanya. “Tidur disini saja,” ucap Sehun kemudian.

Leera kebingungan dan hanya bisa menautkan alisnya. Jadi Sehun mengalah padanya dan bersedia tidur di sofa? Miracle! “Kau serius menyuruh aku yang tidur disini?” tanya Leera. Dengan cepat Sehun membalasnya dengan anggukkan.

Ia lalu tersenyum dan mulai naik ke atas ranjang. Saat hendak merebahkan dirinya, Leera kembali harus dibuat kebingungan karena Sehun tak kunjung pindah ke sofa. “Kenapa kau masih disini?” tanyanya.

Sehun menatap Leera dengan tatapan yang tak kalah kebingungan. “Ya memang seharusnya aku disini kan? Memangnya mau dimana lagi?” tanya Sehun.

“Katanya aku yang tidur disini? Berarti kau yang tidur di sofa,” balas Leera.

“Buat apa aku tidur di sofa selagi ada ranjang sebesar dan seempuk ini?” tanya Sehun lagi. “Ya, aku tahu. Tapi tidak mungkin ‘kan kita tidur di ranjang yang sama?” Leera tanpa sadar langsung melingkarkan kedua tangannya di depan dada. Seperti refleks perlindungan dari dalam dirinya.

“Kenapa tidak mungkin? Kau takut aku berbuat macam-macam?” tanya Sehun dengan alis yang terangkat sebelah. “Ya, memang aku berencana melakukannya.” Sehun tersenyum miring setelahnya. Ditambah lagi saat ia melihat wajah Leera yang benar-benar ketakutan. Bahkan gadis itu berkeringat cukup deras, setakut itukah ia?

Ya! Kubunuh kau kalau berani macam-macam!!” pekiknya dengan suara bergetar. Masih dengan tangan yang tersilang di depan dada.

“Hahaha, aku hanya bercanda, Leera-ya. Mengapa kau ini penakut sekali. Tenang saja, aku tidak sebrengsek itu walaupun nyatanya aku cukup brengsek,” balas Sehun yang kini ikut terduduk diatas kasur.

Leera memutar bola matanya mendengar perkataan Sehun. Ia lalu bergegas kembali untuk bangkit dari tempat tidur dan menuju ke sofa, ia merasa risih jika harus se ranjang dengan Oh Sehun.

“Aku serius kali ini, Kim Leera. Tidur disini saja, aku janji aku tidak akan berbuat macam-macam. Kau boleh bunuh aku atau apakan saja aku kalau sampai aku melakukan hal itu. Aku bersumpah atas nama Tuhan kau akan aman malam ini. So, just stay with me, here.” Sehun menepuk permukaan kasur yang kosong.

Leera menimbang-nimbang sebentar dengan akal sehatnya dan pada akhirnya menjatuhkan keputusan untuk percaya pada perkataan Sehun.

Perlahan tapi pasti, ia merebahkan tubuhnya dan memilih untuk tidur memunggungi Sehun. Karena ia yakin betul bahwa ia tidak akan bisa tidur dengan menghadap ke arah Sehun malam ini.

“Matikan lampunya atau tidak?” tanya Sehun. “Hm,” balas Leera dengan gumaman setuju.

Setelah lampu dimatikan, suasana diantara mereka langsung hening. Hanya suara nafas serta mesin pendingin ruangan yang mengisi celah-celah diantara mereka berdua. Sampai akhirnya Sehun kembali bersuara, memanggil nama Leera.

“Ya?” sahut Leera.

“Berbalik sebentar, aku mohon,” titah Sehun dengan suara yang begitu lembut. “Mau apa?” tanya Leera yang masih enggan berbalik menghadap ke arah Sehun.

“Sebentar saja, aku ingin mengucapkan selamat malam,” balasnya lagi.

Leera membalikkan tubuhnya hingga kini ia saling berhadapan dengan posisi berbaring miring  dengan Sehun. Leera sadar bahwa jantungnya berdegup begitu kencang saat Sehun menatap matnaya begitu lekat. Bahkan kalau boleh jujur, Leera muali sesak nafas saat Sehun bergerak mendekat ke arahnya. Bukannya takut, ia justru gugup.

Gadis itu memejamkan matanya begitu saja saat Sehun mencondongkan tubuhnya ke arah Leera. Berbeda dari yang Leera pikirkan, Sehun justru membisikkan kalimat biasa yang terdengar begitu menghanyutkan. “Selamat Malam, Kim Leera. Sleep tight and have a nice dream, Honey.” Setelah itu Sehun mendaratkan sebuah kecupan hangat di dahi Leera.

 

= n i s a | Unspeakable Secret =

 

Kini Leera sudah kembali sampai di Pattaya tepatnya didalam kamar hotelnya dengan Sooyoung. Ia baru saja sampai di Pattaya setengah jam yang lalu dan selama setengah jam itu pula Sooyoung tak henti-hentinya menanyakan kemana hilangnya Leera seharian serta berasal darimana kantung belanjaan super banyak yang ada dikamar mereka saat ini.

“Kau pergi dengan Oh Isajangnim lagi kan kemarin?” tanya Sooyoung untuk kesekian kalinya, akhirnya Leera menyerah dan menjawab pertanyaan Sooyoung tersebut dengan gumamannya.

Leera masih membaringkan tubuhnya sembari memeluk guling dan menenggelamkan wajahnya disana. Ia benar-benar lelah saat ini. Pasalnya kemarin ia dan Sehun tidak henti-hentinya melangkahkan kaki mereka untuk mengeksplor kota Bangkok dan semalam ia juga tidak bisa tertidur nyenyak karena pikirannya terpecah belah. Memikirkan Bogum, juga memikirkan Sehun.

‘Ah, kenapa dua pria itu hobi sekali mengganggu ketenangan pikiranku, hm?’ batin leera.

Yak! Daebak!! Pergi kemana kalian? Mengapa kau baru pulang pagi ini? Jangan bilang semalam kau tidur bersama Oh Isajangnim?!?!” pekik Sooyoung begitu heboh.

“Sooyoung-ah, bisakah kau diam sebentar saja. Aku benar-benar lelah dan aku harus kembali siap sebelum mengurus pekerjaan kita siang nanti,” ucap Leera dengan lemah dari balik gulingnya.

Sooyoung akhirnya memilih untuk memberikan waktu luang untuk teman sekamarnya tersebut dan keluar dari kamar serta menuju ke restoran untuk menyantap sarapan.

 

= n i s a | Unspeakable Secret =

 

Leera baru saja keluar dari kamar mandi dan lagi-lagi ia menemukkan wajah menuntut dari Sooyoung yang sedang memngobrak-abrik kopernya sendiri; memilih pakaian yang akan dikenakan untuk pertemuan siang ini.

“Jadi?” ucap Sooyoung. Benar bukan? Sooyoung masih menuntut dan akan terus menuntut penjelasan dari Leera.

“Oke, dengarkan aku dan berhenti membuat spekulasi sendiri,” ucap Leera yang sedang duduk di depan meja rias memakai krim perawatan wajahnya.

“Jadi, kemarin aku pergi ke Bangkok bersama Oh Isajangnim.”

Sooyoung tak dapat menahan pekikannya saat ia mendengar pernyataan Leera. “Apa?! Ke Bangkok? Kalian pergi sejauh itu, berdua saja?!”

“Hei, Bangkok itu tidak jauh, hanya tiga jam dari sini,” balas Leera sembari memutar kedua bola matanya.

“Tapi tetap saja, Leera-ya. Bangkok itu sudah berbeda kota dengan Pattaya. Sama seperti Seoul dan Busan. Oke, oke, lanjutkan,” ucap Sooyoung.

“Dan yap… kami hanya berjalan-jalan biasa lalu memutuskan untuk menginap semalam karena sudah terlalu larut untuk kembali ke Pattaya, begitu saja kok,” ucap Leera seraya menghidupkan hair-dryer untuk mengeringkan rambut cokelatnya.

Sooyoung memicingkan matanya, merasa masih ada yang kurang dari penjelasan Leera. “Kalian… tidur bersama ya?!” tanya gadis itu.

Leera terdiam sebentar, ia bingung harus menjawab jujur atau bohong. Karena apabila ia menjawab jujur Sooyoung pasti akan salah paham. Ya, memang mereka tidur bersama dan bahkan satu ranjang kemarin malam. Tapi sumpah demi apapun, Sehun dan Leera tidak berbuat macam-macam. Sehun hanya mengecup dahinya sekilas semalam. Leera juga bingung mengapa ia mengijinkan Oh Sehun melakukan itu, mungkin karena ia dalam kondisi yang tidak baik sehingga tingkat kesadaranya pun tidak baik juga.

“Tidak, aku dan Oh Isajangim tidur dikamar yang berbeda. Bahkan lantai kamar kami berbeda jauh seperti di hotel ini,” ucap Leera yang akhirnya memutuskan untuk berbohong daripada Sooyoung semakin menuntut penjelasan padanya.

Karena Sooyoung masih mempertahankan wajah tak percayanya, Leera kembali angkat bicara. “Kalau kau tidak percaya, tanyakan saja pada Oh Isajangnim langsung,” balas Leera santai.

Skak Mat.

Sooyoung langsung menghentikan kecurigannya. “Oke, oke. Aku percaya.”

 

= n i s a | Unspeakable Secret =

 

Kini mereka semua tengah berada di restoran hotel yang berpemandangan indah Pattaya Beach di sisi sampingnya. Leera duduk diantara Sooyoung dan juga Dahye di meja berkapasitas lima belas orang itu. Sedangkan Sehun sudah duduk dengan gagahnya di bagian paling ujung meja.

Siang ini mereka akan melakukan pertemuan terakhir sebelum kembali ke Seoul yang langsung dihadiri oleh pimpinan yang mengadakan kerja sama dalam pembangunan resort dari Cliff Group. Yep, Ilhwa Group bekerja sama dengan Cliff Group untuk membangun resort fantastis yang sudah sejak lama mereka rancang.

Tak lama kemudian datanglah dua orang pria serta satu orang wanita yang merupakan perwakilan dari Cliff Group. Leera lagi-lagi tertegun ditempatnya saat ia menemukan Bogum merupakan salah satu dari perwakilan Cliff Group tersebut. Tepat sekali, Bogum merupakan salah satu Direktur yang bekerja di Cliff Group atau bisa dibilang saat ini Leera sedang bekerja dibalik proyek yang sama dengan Bogum.

Selain Leera, ada juga Sehun yang terkejut dengan kehadiran Bogum yang merupakan perwakilan dari perusahaan kliennya. Well, ia memang belum pernah bertemu dengan Sang Direktur alias Bogum dari Cliff Group sebelumnya. Ia hanya sempat bertemu dengan sekretarisnya, itupun hanya satu kali.

“Kim Leera? Sedang apa kau disini? Ah… jangan bilang kau bagian dari klienku alias Ilhwa Group?!” ucap Bogum begitu ia sampai dihadapan Leera.

“Y—ya… dunia ternyata begitu sempit,” ucap Leera yang masih tak percaya bahwa ia akan bertemu lagi dengan Bogum disini. Sebagai rekan kerja pula.

“Aku begitu sen—“

“Sebaiknya kita mulai pertemuan ini dan mengesampingkan urusan pribadi terlebih dahulu,” ucap Sehun dingin dari ujung meja.

Dengan wajah tidak suka, Bogum menoleh ke arah Sehun dan dibalas dengan wajah tak kalan sinisnya oleh Sehun. “Oke, kita bicara nanti, ya,” ucap Bogum pada Leera karena ia berpikir perkataan Sehun ada benarnya juga. Dalam pekerjaan kita harus bersikap profesional.

Sepanjang berjalannya rapat siang ini. Sehun dan Bogum tak henti-hentinya melemparkan tatapan tajam satu sama lain. Bahkan keduanya tak jarang terlihat mencela pendapat satu sama lain yang berhasil membuat karyawan lainnya menangkap keganjilan diantara kedua pimpinan perusahaan besar tersebut.

Sedangkan Leera sendiri, ia berusaha sebisa mungkin untuk memfokuskan dirinya pada rapat siang ini agar tidak ada informasi yang tertinggal dan ia juga sebisa mungkin untuk tidak melihat ke arah Sehun dan juga Bogum saat mereka berdua bicara sekalipun.

Akhirnya rapat terakhir yang berhasil mencapai titik terangnya berakhir juga setelah digelar selama kurang lebih dua jam tersebut. Begitu rapat resmi ditutup, Leera langsung buru-buru membereskan buku catatan serta netbook kecilnya dan memasukkan barang-barang tersebut kedalam tasnya.

“Leera-ya, bisa bicara sebentar?” ucap seseorang yang pasti adalah Bogum.

Leera mau tak mau menganggukkan kepalanya. “Oke,” ucap Leera dan langsung mengekor dibelakang tubuh tegap Bogum.

 

= n i s a | Unspeakable Secret =

 

Kini Leera dan Bogum sedang berjalan-jalan santai di bibir pantai Pattaya. Sejak tadi belum ada di antara keduanya yang berniat membuka pembicaaraan.

Leera terlihat menunduk menghadap ke pasir yang mencetak bekas jejak kakinya sedangkan Bogum hanya melemparkan pandangannya ke arah pantai, terdengar helaan nafasnya beberapa kali. Mungkin ia juga bingung harus memulai pembicaraan mereka dari mana. Mengingat bahwa mereka berpisah dengan cara yang tidak baik.

“Jadi, apa yang ingin kau bicarakan, Oppa?” Bosan berlama-lama ditengah keheningan, Leera akhirnya berinisiatif untuk membuka pembicaraan.

Bogum menoleh ke arah Leera. “Apa ya? Aku juga bingung harus mulai dari mana…” ucapnya, diikuti dengan kekehan kecil setelah itu.

“Ah ya, sebelumnya aku ingin meminta maaf atas apa yang aku lakukan enam tahun yang lalu. Menghilang begitu saja hingga akhirnya semalam kita bertemu,” ucap Bogum; terbesit keraguan dinada bicaranya.

“Oh itu, ya sudah ku maafkan, tenang saja, Oppa,” ucap Leera sembari tertawa renyah.

“Kau tidak penasaran kenapa aku pergi saat itu?” Bogum menghentikan langkahnya dan menatap dalam kearah Leera.

“Tentu saja aku penasaran dan sepertinya… saat ini aku tahu jawabannya, yaitu karena kecacatanku, benar kan, Oppa?” ucap Leera dalam hati. Namun yang ia ucapkan berbeda, “Well, aku mengerti Oppa pasti pergi karena alasan yang penting.” Ia tersenyum sebisa mungkin.

Bogum mengangkat tangannya menuju ke bahu ringkih Leera dan mencengkram bahu gadis itu. “Tapi kau harus percaya padaku, Leera-ya. aku pergi… bukan karena itu, bukan karena cerita masa lalumu.”

“Kalaupun karena itu aku juga tidak apa-apa, Oppa. Karena aku sendiri juga sadar kalau masa laluku sulit untuk diterima oleh diriku apalagi oleh orang lain,” balas Leera; masih mempertahankan senyuman palsu yang sesekali diiringi oleh tawa renyah.

“Kau ingat, kala itu aku mendapatkan telepon saat kau baru saja mengakhiri ceritamu?” tanya Bogum dan Leera menganggukkan kepalanya karena kejadian hari itu ia ingat betul, bahkan kejadian dimana ada seekor semut yang mengigit kakinya hari itu masih ia ingat.

“Itu telepon dari ibuku. Beliau berkata bahwa ayahku kritis. Aku pernah cerita juga kan kalau ayahku memiliki penyakit jantung?”

Lagi-lagi Leera menganggukkan kepalanya.

“Harusnya ayahku tidak akan kritis seperti itu kalau saja orang suruhan lawan bisnisnya menyelinap masuk keruang rawat inap ayah dan menyuntikkan racun pembunuh hewan kedalam infus ayahku…” ucap Bogum yang kini berujar lirih. Leera terperangah mendengar kejadian sebenarnya dari Bogum. Ternyata selama ini ia salah menilai Bogum yang tidak mau menerima kecacatan masa lalunya. Ternyata Bogum meninggalkannya memang karena sesuatu yang benar-benar penting.

“Ja—jadi… ayah Oppa bagaimana?” tanya Leera terbata-bata.

Bogum menoleh ke arah Leera dengan mata berkaca-kaca, “Ayahku sudah tiada saat aku tiba di Amerika, dan sejak saat itu, aku di pindahkan ke Yunani demi keamananku dan aku harus hidup dengan identitas palsu sampai aku lulus perguruan tinggi, maka dari itu aku tidak bisa menghubungi semua orang dari masa laluku. Karena aku berubah menjadi Ethanio di Yunani ini, seorang Ethanio yang masa lalunya tak bisa ditemuka oleh siapapun. Pokoknya aku benar-benar menjadi orang yang baru dengan sifat yang baru juga tampilan baru,” ucap Bogum panjang lebar.

Leera melihat Bogum dari atas sampai bawah. Yap, sepertinya Bogum benar, Bogum yang saat ini ia lihat memang cukup jauh berbeda dengan Bogum yang terakhir ia temui. Terlihat dari cara berbicara juga style pria itu saat ini.

“Ya, kau memang sedikit berbeda, Oppa…”

“Jadi sekali lagi kutekankan, Kim Leera. Aku menghilang bukan karena aku tidak bisa menerima cerita masa lalumu, tapi karena masalah keluargaku yang mengharuskan aku bagaikan hilang ditelan bumi. “

Leera berjinjit untuk memeluk Bogum dan melingkarkan lengan kurusnya di leher Bogum. “Terimakasih sudah menjelaskan semuanya, Oppa, sekarang aku lega dan perasaan takut kau benci itu sudah hilang dari hidupku. Karena jujur… selama enam tahun belakangan ini aku tidak bisa berhenti membuat berbagai macam spekulasi mengenai kepergian Oppa dan jawaban yang selalu aku dapatkan adalah… Oppa pergi karena cerita masa laluku dan itu membuatku membenci diriku sendiri…” Leera mulai terisak sehingga membuatnya kini berkata dengan terputus-putus oleh isakannya.

Bogum balas memeluk gadis kecilnya itu dan ia semakin mempererat dan mempererat pelukannya pada Leera seolah takut kehilangan gadis kecilnya itu untuk yang kedua kalinya. “Kau tahu, Leera-ya,  aku bahkan tidak masalah sama sekali mengenai perawan atau tidaknya dirimu, karena yang aku butuhkan bukan keperawananmu tapi hatimu…” ucap Bogum disela-sela pelukan hangat mereka satu sama lain.

Bogum menghisap aroma stroberi dari surai cokelat gadis itu seakan ia menghisap ganja yang begitu memabukkan lalu kembali membuka suara, “Aku menyukaimu, Kim Leera. Sejak dulu dan sampai saat ini perasaan itu tidak pernah berubah, justru bertambah.”

 

= n i s a | Unspeakable Secret =

 

Sehun membanting pintu suite roomnya tersebut dengan kasar. Setelah itu ia melemparkan tubuhnya begitu saja keatas ranjang berukuran king tersebut. Ia menyembunyikkan kepalanya di balik bantal dengan sebelah tangan yang terus meninju asal-asalan keatas ranjang.

Kejadian dimana ia memergokki Leera yang memeluk Bogum sebegitu eratnya seakan takut sekali kehilangan pria itu terus berputar dibenak Sehun layaknya sebuah kaset rusak. Ditambah lagi dengan pernyataan cinta Bogum di akhir yang (mungkin) terdengar begitu manis di telinga gadis itu namun justru terdengar seperti suara bising ditelinga Sehun.

“Bogum sialan!! Pengecut!! Mati saja sana!!” teriak Sehun dengan geram dari balik bantalnya.

Lalu ia menggulingkan tubuhnya kesana kemari; memikirkan jawaban seperti apa yang diberikan oleh Leera terhadap pengakuan sosok Bogum yang begitu Sehun benci. Mungkinkah Leera terpukau dengan pernyataan Bogum lalu mereka berkencan dan meninggalkan Sehun seorang diri seperti ini? atau mungkin Leera justru menampar Bogum dan menolak mentah-mentah pernyataan cinta pria itu? Oh Tuhan, Sehun sangat berharap pilihan kedualah yang menjadi pilihan Leera, namun kenapa perasaannya terus berkata bahwa Leera memilih pilihan pertama?!

Sial!!

“Tapi tunggu… kenapa aku jadi uring-uringan seperti ini? Ini sama sekali bukan gaya Oh Sehun. Ya, ini semua aku lakukan karena aku takut rencanaku hancur, ya, pasti!!” gumam Sehun yang kini sudah terduduk dengan tatapan kosongnya.

“Aaah, molla!!!” teriaknya lagi sembari mengacak rambutnya asal-asalan.

Sehun merogoh sakunya untuk menghubungi Jongin, ia ingin menumpahkan seluruh keluh kesahnya pada Jongin. Segera ia mencari kontak Jongin dan langsung menempelkan ponselnya tersebut ketelinga kirinya.

Sial! Nomor Jongin tidak bisa dihubungi, sebenarnya kemana pria ini. Biasanya semarah-marahnya pria itu pada Sehun, ia tetap akan mengaktifkan ponselnya walaupun—well, tidak mengangkat telepon dari Sehun tapi ia tetap membalas pesan singkat dari Sehun sesekali.

Pokoknya, Jongin tidak pernah sekekanakan ini sebelumnya. Apa Jongin benar-benar dalam tingkat marah paling puncaknya saat ini sampai ia bahkan menonaktifkan ponselnya? Seketika Sehun jadi merasa bersalah dan tentu itu semakin membuat kepalanya ingin pecah.

“Untung saja ini hari terakhir aku disini, kalau tidak, aku tidak bisa menjamin apakah semuanya akan berjalan lancar atau tidak,” gumam Oh Sehun dengan wajah murkanya.

 

= n i s a | Unspeakable Secret =

 

Haeyoung melangkahkan kakinya keluar melalui pintu utama Ilhwa Group. Ia menghembuskan nafas pasrah saat ia mendapati hujan deras mulai mengguyur kota Seoul. Ternyata ramalan cuaca yang tadi siang ia pantau melalui ponselnya tidak akurat dan sialnya ia tidak membawa payung apalagi jas hujan.

“Kenapa si hitam sialan itu harus masuk bengkel, eo!?” gerutu Haeyoung sembari menghentakkan kakinya berkali-kali diatas lantai.

Sebenarnya ada puluhan unit payung yang dipinjamkan oleh Ilhwa Group, namun karena perubahan cuaca dadakan yang menyebabkan hampir seluruh karyawan tak sedia payung, puluhan payung tersebut raib dan menyisakan dirinya yang harus menunggu seseorang mengembalikan salah satu dari payung-payung tersebut agar ia bisa pulang.

“Coba saja ada Leera, aku ‘kan bisa menumpang dengannya,” gerutu gadis itu lagi.

5 Menit

10 Menit

15 Menit

Yap, sudah 15 menit Haeyoung menunggu sambil menggigil didekat pintu masuk Ilhwa Group namun ia tak kunjung mendapatkan payung satupun. Yang ada, hujan semakin deras dan ia sudah pasrah jikalau ia harus menginap di kantor malam ini.

Haeyoung merasakan tiba-tiba tangan besar seseorang memegang sebelah pundaknya. Sontak ia menoleh dan entah kenapa dirinya begitu sial hari ini, ia mendapati bahwa tangan besar itu adalah milik Chanyeol, makhluk Tuhan yang paling ingin ia jauhi di dunia ini.

“Sedang apa disini?” tanya Chanyeol kebingungan.

Memutar bola matanya malas, Haeyoung menjawab, “Makan.”

Dahi Chanyeol semakin berkerut saat ia mendengar jawaban tidak masuk akal bin konyol yang keluar dari bibir mungil Haeyoung. “Makan air hujan maksudmu?” Chanyeol tertawa kecil.

Haeyoung membalikkan badannya hingga saat ini ia kembali memunggungi Chanyeol, namun seenaknya saja pria bertelinga besar itu membalikkan tubuh Haeyoung yang jauh lebih kecil daripada tubuhnya.

“Kenapa tidak pulang?” tanya Chanyeol lagi.

“Jadi maksudmu aku harus menerjang hujan-hujan tersebut untuk lari ke halte bus, begitu?! Kau suka sekali ya melihat aku sakit? Ck.”

“Kenapa ke halte bus, bukankah kau membawa mobil sendiri?”

Dengan enggan Haeyoung menjawab, “Masuk bengkel.”

Tiba-tiba saja Chanyeol menggenggam tangan kanannya. “Kalau begitu, pulang bersamaku saja. Ayo, Haeyoung-ah!!” Setelah itu Chanyeol menarik tangannya tanpa mendengarkan penolakan dari Haeyoung sama sekali.

Haeyoung akhirnya benar-benar pulang bersama Chanyeol hari ini, walaupun jujur, ia sangat keberatan. Karena ia tahu dirinya tidak akan kuat berlama-lama hanya berdua dengan Chanyeol. Hal itu justru akan menyakiti dirinya sendiri.

Ditambah lagi dengan aroma khas Chanyeol yang selalu berhasil menggelitik hidungnya, selalu membuatnya ingin menenggelamkan wajahnya di pelukan pria itu.

Tapi tiba-tiba saja kepalanya berdenyut kencang serta rasa sakit di pinggangnya membuat Haeyoung mau tak mau pasrah akan ajakan Chanyeol untuk pulang bersama karena ia tak mungkin bisa bertahan menunggu hujan reda dan berjalan ke halte bus dengan kondisi tubuh seperti ini.

Well, Haeyoung tahu betul kenapa ia bisa terkena serangan mendadak seperti ini. Yaitu karena ia meminum alkohol serta melewatkan kewajibannya yang harusnya ia lakukan satu minggu yang lalu.

“Kau pucat sekali, Haeyoung-ah. Apa kau sudah makan?” tanya Chanyeol khawatir sembari menoleh sekilas kearah Haeyoung yang mengarahkan pandangannya ke kaca jendela dan menatap kosong kejalanan.

“Sudah,” jawab Haeyoung singkat. Seperti biasanya. “Memangnya kapan kau makan? Bukankah kita baru saja pulang kantor? dan juga… aku melihatmu tidak pergi makan siang hari ini.” Chanyeol berkata dengan pandangan yang tetap terfokus ke jalan raya.

Haeyoung menoleh datar ke arah Chanyeol. “Sejak kapan kau menjadi penguntitku? Apa kau kekurangan pekerjaan ya dikantor sampai repot-repot mengawasi pergerakanku di kantor?” tanya Haeyoung, setelah menyelesaikan perkataannya ia kembali menjatuhkan pandangannya keluar sana.

“Aku hanya tidak ingin kau sakit, Haeyoung-ah. Karena wajahmu benar-benar pucat,” tegas Chanyeol. Mata bulatnya mancarkan tatapan penuh perhatian yang berhasil membuat Haeyoung kembali merasakan sakit di ulu hatinya.

Akan tetapi Haeyoung berusaha meredam rasa sakitnya dah membalas perkataan Chanyeol sebisa mungkin tetap terlihat baik-baik saja, “Apa pedulimu? Bahkan jika aku mati juga tidak ada untung dan ruginya untukmu.” Haeyoung berkata dengan tajam dan wajah sinis yang enggan melirik kearah Chanyeol.

“Byun Haeyoung, kumohon… aku hanya ingin memberikan perhatianku padamu, bisakah kau menerima niat baik ku sedikit saja, hm?” Chanyeol menatap dalam kearah mata Haeyoung dan terlihat enggan mengalihkan tatapan penuh kehangatan yang hanya ia pancarkan pada Haeyoung tersebut. Untung saja saat ini mobil yang ia kendarai sedang dalam keadaan berhenti karena lampu lalu lintas menunjukkan warna merahnya. Kalau tidak, mungkin mereka sudah kecelakaan saat ini karena Chanyeol benar-benar tidak melihat ke arah jalan raya sama sekali. Pikiran dan pandangannya hanya terfokus pada satu objek, Byun Haeyoung.

“Aku tidak meminta dan memang tidak membutuhkan perhatian darimu, Park Chanyeol. Kalau dulu mungkin aku rela mengemis perhatian darimu, tapi ingat, aku yang sekarang dengan yang dulu berbeda dan kau yang membuatku berubah, asal kau tahu,” balas Haeyoung yang terdengar seperti sindiran.

“Tidak, kau tidak berubah dan tidak akan pernah berubah, Haeyoung-ah. Kau masih gadis yang sama dengan gadis yang aku cintai dahulu, saat ini, dan selamanya.” Chanyeol masih bertahan diposisinya dengan tatapan mata yang sialnya begitu meneduhkan hati Haeyoung dan membuat getaran-getaran itu kembali terasa jelas.

“Ini diriku, aku yang tahu apakah aku berubah atau tidak. Mungkin yang tidak berubah adalah dirimu, karena aku sudah tidak mencintaimu sedikitpun seperti beberapa bulan yang lalu, disaat aku masih berhasil dibodohi olehmu.”

Lagi-lagi Haeyoung memasang wajah sinisnya. Ia kembali mengalihkan pandangannya dari Chanyeol karena ia tak sanggup menatap langsung mata Chanyeol yang berkemungkinan besar membuatnya kembali runtuh.

TIIT TIITT TIIITT

Belum sempat Chanyeol melanjutkan perkataannya, bunyi klakson dari mobil yang ada dibelakangnya sudah menginterupsi lebih dahulu sehingga mau tak mau Chanyeol harus menahan semua ucapan-ucapannya.

 

= n i s a | Unspeakable Secret =

 

Akhirnya mobil Chanyeol memasukki daerah rumah Haeyoung yang terletak di daerah Yangcheon, cukup jauh dari Gangnam. Chanyeol tidak bisa membayangkan bagaimana lelahnya Haeyoung jika gadis itu menolak ajakan pulang bersamanya tadi.

“Terima kasih,” ucap gadis itu singkat tanpa berniat menatap wajah Chanyeol dan langsung saja membuka sabuk pengamannya serta menarik knop pintu mobil yang berwarna silver tersebut.

Chanyeol dengan sigap langsung turun, berniat untuk berbicara lebih lanjut dengan Haeyoung, namun ia menahan perkatannya dan memilih untuk berlari ke arah Haeyoung dan menangkap tubuh gadis itu yang limbung dan kini tak sadarkan diri didalam pelukannya.

Ya! Byun Haeyoung!! Apa yang terjadi denganmu?!” pekik Chanyeol panik sembari menepuk pelan pipi Haeyoung yang sudah begitu pucat beberapa kali.

 

 

:: t b c ::

#PREVIEW FOR NEXT CHAPTER

“Mwo?! Apa yang terjadi dengan Haeyoung Sunbae? Kau dirumah sakit mana sekarang? Aku akan segera kesana.”

“Kau… kudengar kau bersekolah di Perancis? Apa yang kau pelajari sampai jauh-jauh kesana kalau kau bahkan tak bisa menjaga mulutmu seperti ini?”

“Kenapa diam? Sekarang kau merasa bahwa kau tidak bisa melakukan apapun tentang perjodohan ini tanpa aku, bukan? Kita sebut saja… masa depanmu bergantung padaku saat ini.”

“Kau sudah punya kekasih? Atau jangan-jangan istri dan anak?! Atau kau duda?!”

===

 

Hello readers!! Sudah tiga bulan lebih ya kita tidak berjumpa hahaha 😀 Masih ada yang inget cerita ini nggak? wkwk.

Maaf ya kalau chapter ini pendek banget-banget, sebenarnya aku ngga mau bikin tbc disitu, tapi aku udah gatel aja mau nulis tbc dan lanjut next chapter hihi 😀

Hayoo ada yang bisa tebak kelanjutan dari Sehun – Leera – Bogum dan itu Haeyoung kenapa coba? Cuma pingsan biasa? Benar ngga ya? Hihihi.

Advertisements

25 responses to “Unspeakable Secret | 11th Chapter

  1. Aaaak kenapaa baru update yaaa ampun ku tunggu lamaaa buanget 😦
    Aku kira gabakal lanjut 😦
    Sehun cemburu kaah? wkakaka
    Leera masih suka sama Bogum apa gimana??
    Lanjut pokoknya jangan lama lama titik. Hahahaha

  2. haeyoung hamil mungkin wkwkwk.. kayall bgtt, cuma asall nulis kk siapa tau bener hihihi
    .ceeeileeehhh aku suka aku sukaaaaa sehunnnn benerannn cemburuuuu hihihi, seneng bgt ahh rasanyaaaaa..hihh tp aku dikit sebel knpa sehun tu sllu menampik perasaan klo dia itu emang beneran suka sm leera, aishhh mau sampai kpn coba kk..??
    ngomong” si bogum itu beneran tulus kan kk..?? iyalahhh..
    uda leera sm bogum duyu ajaaaa, biar sehun kalapp..aku bahagia bgt klo sehun kelabakann sm perasaannya wkkwkw makin seru kk.. love youu
    thankiss yaa kk yaaa..

  3. wah wah wah………..Sehun Oppa cemburu tuh sama Bogum,aku jdi penasaran,siapa si bogum itu.Leera y jgn takut dong sama sehun dong Hihihihi,dia ga gigit kok,dia itu so sweet dan laki2 y akn sllu mnjaga dirimu,walaupun berlandaskan balas dendam semata paxa awalnya,Iihhhh Bogoshipeoyeo Authornim,udh brp lma ya in ff ga dipost,ampe lupa siapa aj castnya aku,y semangat trus ya Uri Authornim buat ngetik ffnya.

  4. Omoo…. lgsung speechless Unspeakable Secret ud lanjut lagi… aduuh… authornya abis ngetrip kemana?? )hoooo untunglah kamu kembali, pdhl ud suudzon aja US g bkl dilnjut pdhl kan critax seru! 😀 Well well welcome back again ya… semangat nulisnya! Haeyoung gpp pingsan asal jgn punya penyakit mengerikan deh.. wkk… Eh Sehun jealous bgt itu!! aduh penasaran… itu siapa yg dijdohin y?? /duh repot! yaudah lah drpd repot2 mending doa midahan lnjutanx dipost cpt xixixixi

  5. Cieee Sehun cemburu cieee. Jujur aku awalnya agak lupa ini cerita awalnya gimana. Tapi setelah lanjut baca jadi keinget. Lagian lama banget updatenya? Lumutan iya yang nunggu haha. What happen sama Bogum-Leera? Jadian kah? Andwae!!!!!

  6. gila udh lama bgt baca chapter 10 yg 11 nya baru update untung masih inget 😂😂
    masa leera gampang bgt ih nerima bogum lg ih kesel ih 😂✌

  7. Ahh kaa, akhirnya update juga 😆aku tunggu in tahu wkwk. Itu si jisoo diganti sama bogum ya ka? Aih si sehun, jeles nih yeeee 😏 aku sampe lupa kalo sehun punya niat jahat sama leera. Abisnya dia sweet banget sii, kaya beneran suka. Liat aja hun, bakaln nyesel deh 😁 wwkk si bogum sama leera baikan yaa, bagus deh, agak kasian juga sama leera kalo ditinggal cowo grgr kek begitu 😰 si haeyoung sakit apa tah? Ko aku jadi kasiian yaa 😫 untung ada mas cy wkwk
    Next yaaa kaa, panjangin lagi biar enak wkwkkw ditunggu 😆

  8. Akhirnya di update juga. Hampir lupa sma critanya. Semakin penasaran gmn kelanjutan hubungan leera-sehun. Ditunggu nextnya thor

  9. Udh lama banget nggak ada kisah mereka nih. Pengen cepet2 baca next chap deh. Hihih
    semangat buat next chap author

  10. yuhuu akhirnya update cie sehun yang lagi dilema liat leera sma bogum ,, suka liat sehun gitu biar die ga jadi bles dendam atau malah suka smaa leera wkwk

  11. Bogum siapa siih..?? Perasaan kmren jisoo deh..???
    Leera sama bogum ajah dulu biar sehunnya nyasar diri kalo dia suka bneran sma leera bukan cman pengen bales dendam..
    Haeyoung kasian amat dah.. Pasti ga gampang maafin chanyeol..
    Lagian si chanyeol player banget sii… Ditinggalin kan sekrang…

  12. wkwkw seneng banget bacanya sehun uring2an gara2 leera deket sma bogum hahah rasakan kauu oh sehun
    hayeong knpa tuh? semoga hubungan chanyeol sma hayeong makin membaik yaaaaa

  13. heol apa leera sama bogeum kencan ayo kencan dan buat sehun cemburu buta wks asik sehun uring2an tak tahukah bahwa itu namanua cemburu wkwkwkw dasar sehun iblis idiot. jatuhlah kau dalam pesona leera sampai rasanya ingin mati tanpa leera di sampingmu hahahaha /ketawa jahat/ aw previewnya bikin makin penasaran. bururan di lanjut ya kak aku penasaran amat tertarik dengan ceritanya SEMANGAT UNTUK CHAPTER SELANJUTNYA YA KAK AUTHOR

  14. Hayoung kenapa ya kok pinsan?,untung ada chanyeol.
    Sehun leera gimana kelanjutanya?
    Jongin apakabar
    Ditunggu next chapter nya thor,semangat

  15. Kok mkin dibuat pnsaran.. Kok makin seru.. Hahahah
    Sbnar aku smpat mikir klo Do Nami itu yg bkalan di jdohin ma sehun .. Bnr gak sih….

  16. Long time not see you thor-nim ^^
    Sehun gak ngeti ya? Kamu itu udah mulai cinta sama Leera hihihi. Ditunggu kelanjutannya yaa, semangat!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s