[CHAPTER 14] SALTED WOUND BY HEENA PARK

sw2

“Kau milikku, sudah kukatakan dari awal, bukan? Kau adalah milikku.”- Oh Se-Hun

.

A FanFiction 

by

Heena Park

.

SALTED WOUND’

.

Starring: Shin Hee Ra-Oh Se Hun-Kim Jong In

.

Romance–Incest-Thriller–PG15–Chaptered

.

Wattpad : Heena_Park

Facebook : Heena

Instagram : @heenapark.ofc

.

Notes : ff ini juga aku share di WATTPAD

.

.

Keadaan sang ayah yang rupanya memang membaik setelah seharian beristirahat membuat Se-Hun dan keluarganya kembali beraktifitas seperti biasa. Mereka berempat berencana membeli beberapa buah tangan untuk teman dan kerabat di London.

 

Topeng tradisional, replika menara dan aksesoris handmade rupanya berhasil menarik perhatian Hee-Ra. Ah, Jong-In pasti suka bila Hee-Ra membelikannya replika Piazza san Marco.

 

Sementara Se-Hun yang kala itu tengah melihat-lihat aksesoris nampak tertarik dengan sebuah topi bewarna coklat dan gelang. Ia mengambil kedua barang tersebut, namun setelah ditimbang-timbang, sepertinya gelang lebih bagus.

 

Matanya mencari-cari di mana keberadaan Hee-Ra. Ia tersenyum begitu mendapati sosok yang dicarinya tengah melihat barang replika. Lantas tanpa membuang waktu lebih lama, Se-Hun segera menghampiri Hee-Ra dan memasang gelang tersebut tanpa izinnya.

 

“Apa yang kau—”

 

“Aku cuma memasang gelang,” jawab Se-Hun sebelum Hee-Ra menyelesaikan kalimatnya. “Kau suka?”

 

Gelang berwarna perak yang barusan dipasangkan Se-Hun rupanya tidak buruk. Yah, pria itu memang memiliki selera fashion yang bagus.

 

“Aku akan membelikannya untukmu,” gumam Se-Hun lagi yang berhasil membuat Hee-Ra membulatkan matanya.

 

Ingin rasanya Hee-Ra melontarkan protes, tapi Se-Hun sudah lebih dulu mendapat telepon dari seseorang sehingga langsung menjauh begitu saja. Oh, tentu dia pamit dulu pada Hee-Ra, bukan melenggang begitu saja.

 

“Kau sudah mengirimnya?” Se-Hun langsung bertanya begitu mengangkat ponselnya.

 

“Saya sudah mengirimnya sejak kemarin, Tuan,” jawab pria bersuara serak dari ujung sana.

 

“Apa menurutmu dia akan terkejut?” Se-Hun tertawa pelan. “Dia pasti akan terkejut sekali mendapat fotoku dan Hee-Ra.”

 

Pria yang tengah berbincang dengannya tak membalas ucapan Se-Hun melainkan mengalihkan pembicaraan. “Apa ada yang harus saya lakukan lagi, Tuan?” tanyanya.

 

Se-Hun berpikir sejenak sebelum mengeluarkan suara, “Tidak ada. Aku akan pulang besok.”

 

“Baiklah Tuan.”

 

 

 

 

 

 

Sudah sehari lebih Hee-Ra tidak bisa menghubungi Jong-In. Awalnya memang tersambung, tapi tidak di angkat sama sekali. Bahkan sekarang ponselnya mati. Apa yang sebenarnya Jong-In lakukan di sana? Tidak mungkin dia selingkuh, kan?

 

“Ke mana kau ini sebenarnya?” desah Hee-Ra. Ia menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas lengan, menengok sebentar ke kanan dan mendapati kedua orang tuanya tengah berbincang bersama Se-Hun.

 

Pesawatnya akan tiba beberapa menit lagi, namun Hee-Ra belum berhasil menghubungi Jong-In. Apa dia marah? Tidak, seingatnya dua hari lalu mereka tidak bertengkar. Yasudahlah, lagipula Hee-Ra bisa langsung pergi ke rumah Jong-In setelah mereka sampai di London.

 

Panggilan bagi penumpang pesawat tujuan London yang akan dinaiki keluarga Hee-Ra terdengar. Dengan malas Hee-Ra bangkit dan menyeret kopernya. Ia tidak banyak bicara selama di pesawat, hanya memasang earphone dan mendengarkan lagu sampai tertidur.

 

Se-Hun yang duduk di sebelahnyapun juga tidak mengganggu, pria itu sibuk membaca majalah. Tidak mengeluarkan sepatah katapun sampai mereka tiba di London. Terasa aneh, tapi ada untungnya juga, toh Hee-Ra juga sedang malas berbicara.

 

Entah berapa kali Hee-Ra menghela napas gundah. Ia ambruk dengan malasnya begitu sampai di rumah. Kopernya dibiarkan begitu saja di dekat ranjang, kakinya juga masih mengenakan sneakers.

 

Hee-Ra sudah tidak tahan lagi!

 

Keputusannya bulat, saat ini juga ia akan pergi ke rumah Jong-In—kalau perlu mendobraknya—dan bertanya kenapa pria itu tidak membalas pesan atau sekedar mengangkap teleponnya.

 

Terdengar suara ibunya memanggil-manggil saat Hee-Ra melesat keluar rumah tanpa pamit, otomatis Hee-Ra berhenti dan menilik ke belakang sambil berteriak, “Aku akan pulang sebelum makan malam, mama tidak perlu khawatir!” gumamnya kemudian segera masuk ke mobil dan menginjak gas.

 

Sepi…

 

Kesan pertama yang di keluarkan Hee-Ra kala berhenti di depan gerbang rumah Jong-In. Biasanya kalau sedang lengkap akan ada tiga mobil di sana; milik Jong-In, paman, dan bibinya. Tapi sekarang hanya ada satu—milik bibinya.

 

Lalu di mana mobil Jong-In?

 

Mungkinkah ia masih berada di kampus?

 

Hee-Ra melirik jam tangan, sudah pukul empat sore. Tunggu, siapa tahu Jong-In masuk sore, makanya dia belum pulang. Baiklah kalau begitu, lebih baik Hee-Ra segera menyusul ke kampus saja.

 

Usahanya mengelilingi lingkungan kampus setidaknya dua kali berakhir sia-sia. Hee-Ra tak juga menemukan Jong-In. Bukan hanya itu, bahkan Jason—sahabat Jong-In—juga tidak kelihatan batang hidungnya.

 

Hei!

 

Di mana sebenarnya mereka semua?

 

Mereka sedang tidak merencanakan surprise party, kan?

 

Pikirannya melayang ke mana-mana, seribu pertanyaan tentang keberadaan Jong-In sesak memenuhi hati dan benak Hee-Ra. Sungguh, pria itu tidak pernah menghilang seperti ini sebelumnya.

 

Ia baru sampai di London beberapa jam lalu dan harus mencari-cari keberadaan Jong-In. Sangat melelahkan. Tak ayal akhirnya Hee-Ra menyerah dan duduk lemas di bangku taman kampus. Haruskah Hee-Ra menanyakan perihal keberadaan Jong-In pada Jessica atau Neva? Ah, tidak. Mana mungkin mereka tahu. Mereka berbeda jurusan.

 

Ia menyandar ke badan kursi kayu, daun-daun maple yang mulai menguning dan jatuh terkena angin menimpa kepalanya. Sudah musim gugur rupanya. Benaknya berpikir sejenak, mengingat kejadian beberapa hari lalu. Bayangan Se-Hun yang memberinya kalung dan gelang selalu melintas seolah tak ada habisnya.

 

Ini aneh, Hee-Ra sering memikirkan Se-Hun beberapa hari terakhir. Pagi, siang, sore dan bahkan malam sekalipun nama Se-Hun terus berputar di otaknya. Lihat saja sekarang! Saat ia tengah kebingungan mencari Jong-In pun nama Se-Hun tetap terlintas bagaikan angin lewat.

 

Menyebalkan sekali.

 

Hee-Ra takut hatinya kembali jatuh pada Se-Hun, Hee-Ra takut si pembunuh berdarah dingin yang begitu mempesona itu kembali menjeratnya, ia takut tak bisa mengontrol perasaannya sendiri.

 

“Shin Hee-Ra!”

 

Semangatnya kembali ketika menyadari Jason tengah berlari ke arahnya. Pria tinggi-berbadan besar itu nampak kewalahan dan sempat bertumpu lutut di depan Hee-Ra. Sepertinya ia ingin mengatakan sesuatu.

 

“Jason? Di mana Jong-In?” tanpa basa-basi Hee-Ra segera menanyakan maksudnya.

 

Jason yang masih mengatur napas berusaha berdiri tegak. Ia menepuk sekali pundak Hee-Ra. “Aku berusaha menghubungimu sejak dua hari lalu, tapi tidak pernah tersambung,” ujarnya terputus.

 

Hee-Ra menggeleng. “Aku menggunakan nomor Venice ketika berada di sana, kenapa kau tidak menghubungi lewat Line saja?”

 

Sial. Jason lupa kalau mereka mempunyai Line. Tahu begini, ia langsung menghubungi Line Hee-Ra waktu itu.

 

“Aku lupa, oh sialan.” Ia menggigiti bibir bawahnya sebelum akhirnya meraih tangan kanan Hee-Ra. “Kau harus ikut denganku ke rumah sakit. Jong-In kecelakaan dua hari lalu dan ponselnya hilang!”

 

Tunggu, Hee-Ra pasti salah dengar!

 

Iya, kan?

 

“Apa maksudmu? Jong-In?”

 

Jason menggaruk kepalanya frustasi. “Dia kecelakaan, Shin Hee-Ra. Iya, Kim Jong-In, kekasihmu.”

 

Jantungnya sesara berhenti berdetak, untuk beberapa saat Hee-Ra hanya terdiam dan berusaha mencerna perkataan Jason. Bukan, ia bukannya tak mengerti apa yang barusan keluar dari mulut lelaki itu, tapi tentang kebenaran kecelakaan Jong-In.

 

“Kenapa kau malah diam seperti itu? Ah!” Jason mengaduh frustasi, tanpa menunggu lagi ia langsung menarik Hee-Ra untuk berlari ke mobilnya dan mengajak gadis itu ke rumah sakit.

 

 

 

 

 

 

Mansion besar di pinggiran kota London berhasil membuat Jasmine tertarik. Tentu bukan tanpa alasan yang kuat, karena mansion tersebut adalah kediaman Se-Hun. Wah, Jasmine tak sabar melihat ekspresi Se-Hun ketika mendapati kedatangannya nanti.

 

Senyum liciknya tergambar bebas. Jasmine memencet bel dan beberapa detik kemudian seorang pria berusia empat puluhan keluar. Park Young-Lee rupanya. Jasmine mengenal pria itu. Orang yang selalu berada dan mengabdi pada Se-Hun.

 

Miss. Rochester?” Suara pria itu terdengar datar, dia pasti telah mengetahui kedatangan Jasmine melalui interkom.

 

“Lama tidak bertemu, Mr. Park,” gumam Jasmine yang kemudian melenggang melewatinya. “Tidak perlu merasa takut, aku tidak akan mengobrak-abrik rumah Se-Hun. Aku cuma ingin mampir sebentar,” jelasnya lagi dan kembali berjalan.

 

Ucapan seorang pembunuh seperti Jasmine tidak bisa dipercaya!

 

Tetap saja Park Young-Lee harus berhati-hati. Ia harus segera menghubungi Tuannya sebelum wanita ular tersebut melakukan sesuatu di luar nalar.

 

Sementara itu Jasmine nampak tak peduli dengan Young-Lee. Ia terus melangkah masuk sampai berdiri di dalam kamar utama. Kalau dilihat dari gaya beserta warnanya, Jasmine yakin kamar ini milik Se-Hun. Benar-benar rapi dan terkondisi.

 

Sebuah brangkas berada di pojok ruangan. Kulkas dan sederet minuman beralkohol berada di sampingnya. Sayangnya, Jasmine tidak melihat satupun foto tergantung atau berdiri di atas meja. Padahal ia ingin sekali melihat seberapa besarnya kegilaan Se-Hun untuk gadis bernama Shin Hee-Ra itu.

 

“Jadi, kau berusaha menyembunyikannya dariku?” Pertanyaan yang terdengar lebih untuk dirinya sendiri terucap dari mulut Jasmine. Tanpa perlu jawaban dari Se-Hun pun ia sudah tahu bahwa pria itu memang tak berniat memberikan sedikit informasi atau apapun tentang Hee-Ra padanya.

 

“Kau jatuh cinta pada orang yang salah, sayang.” Jasmine duduk di ranjang Se-Hun dan mengelus pinggirnya pelan. “Kau pasti belum pernah bercinta dengannya sepanas denganku.” Ia tertawa. “Atau mungkin kalian malah belum pernah saling memiliki satu sama lain?”

 

Tawanya menggema, keyakinan seratus persen akan gagalnya Se-Hun untuk membawa gadis itu ke atas ranjangnya membuat Jasmine senang. Buktinya, kalau mereka sudah pernah melakukannya, maka Se-Hun tak akan bersikap seperti itu. Ia sering mendengar dari Bruce bahwa Se-Hun selalu penuh kemarahan dan begitu sensitif saat seseorang menyinggung tentang gadis itu.

 

 

 

 

 

 

Jason mengetuk beberapa kali sebelum membuka pintu, sementara Hee-Ra mengekori dari belakang. Matanya mendapat pemandangan tak asing, Charlie Sullivans dan istrinya tengah berbincang pelan di depan mata, sedangkan Jong-In terbaring lemah di atas ranjang.

 

Menyadari kedatangan Hee-Ra dan Jason, Charlie beserta sang istri segera bangkit dan menghampiri gadis itu sebentar untuk sekedar mengusap punggungnya—saling menguatkan satu sama lain—kemudian keluar meninggalkan Hee-Ra dan Jong-In di kamar.

 

Mereka pasti butuh waktu untuk berdua.

 

Jong-In tidak bersuara meskipun dalam keadaan sadar, cukup membuat Hee-Ra takut. Bagaimana kalau ternyata Jong-In lupa ingatan seperti di film-film? Bagaimana kalau Jong-In tidak mengenali Hee-Ra? Semua kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi menghinggapi kepala Hee-Ra sampai penuh. Ia tidak siap dengan kenyataan menyakitkan yang harus diterima, sungguh.

 

“Kau tidak mau duduk?”

 

Suara yang barusan di keluarkan Jong-In berhasil membuat Hee-Ra tersadar dari imajinasi liarnya. Kelegaan memenuhi dada begitu menyadari kalau Jong-In tidak lupa ingatan atau apapun itu.

 

Hee-Ra duduk di kursi yang berada tepat di samping ranjang Jong-In, kedua tangannya menggenggam tangan kiri Jong-In. Entah kenapa ia merasa bersalah, melihat Jong-In terbaring lemah seperti sekarang berhasil menyakiti hatinya.

 

“Aku berusaha menghubungimu…” Matanya mulai berkaca-kaca. Sialan, kenapa Hee-Ra jadi cengeng begini, sih? Terpaksa untuk menutupi kesedihan yang besar, Hee-Ra memilih untuk menunduk. “Aku…..”

 

“Hei-hei..” Jong-In buru-buru mendongakkan wajah Hee-Ra dan mengusap air mata yang jatuh bebas di wajah gadisnya. “It’s okay. Lukaku tidak begitu parah, aku akan segera sembuh, sayang. Kau tidak perlu menangis seperti ini,” gumamnya menenangkan.

 

Hee-Ra mengangguk beberapa kali, terharu karena Jong-In masih sempat menghiburnya saat dirinya sendiri tengah terluka.

 

Wanna some hug?” tanya Jong-In yang sedetik kemudian merentangkan kedua tangannya.

 

Saat itu juga Hee-Ra segera menenggelamkan diri dalam pelukan Jong-In, membiarkan pria itu mengusap rambutnya serta beberapa kali mencium puncak kepalanya.

 

“Aku takut kau kenapa-napa, aku sangat takut….” adunya penuh kekacauan.

 

Ya, Jong-In paham pada perasaan Hee-Ra. Ia sendiri juga dipenuhi rasa kalut saat menyadari ponselnya tak ada. Kemungkinan rusak karena kecelakaan, dan beginilah akhirnya, ia tak bisa menghubungi Hee-Ra selama dua hari.

 

Bukan cuma masalah ponselnya yang tak ada, tapi dokter sendiri melarang Jong-In terlalu sering menatap ponsel, televisi atau apapun itu dan harus lebih sering beristirahat.

 

Jong-In melonggarkan pelukannya, memberikan ruang agar Hee-Ra bisa bernapas lega. “Maafkan aku telah membuatmu khawatir.” Ia berhenti sebentar dan menangkup kedua pipi Hee-Ra. “Selamat ulang tahun, sayang. Yah, walaupun aku sedikit terlambat mengucapkannya secara langsung, setidaknya aku sudah mengucapkannya di telepon.” Ia tersenyum, barisan gigi rapinya berhasil menghangatkan hati Hee-Ra.

 

Kali ini matanya teralih pada leher dan tangan Hee-Ra. Seingatnya Hee-Ra tak pernah mengenakan kalung dan gelang, tapi hari ini? Hei, dia dapat itu dari siapa? Tidak mungkin kalau orang tuanya, tapi entahlah.

 

Well, hal ini mengingatkan Jong-In pada e-mail yang didapatkannya beberapa hari lalu. Ia tak suka memendam masalah, lebih baik langsung diselesaikan saja karena kebetulan Hee-Ra juga sudah ada bersamanya.

 

“Shin Hee-Ra?”

 

“Ya?”

 

Jong-In berkata dengan hati-hati, takut kalau menyinggung perasaan gadis itu, “Apa kau membiarkan Se-Hun mencium keningmu saat di Venice?”

 

Tiba-tiba keringat dingin keluar dari tubuh Hee-Ra. Bukan tanpa alasan, tapi pertanyaan Jong-In barusan berhasil mengingatkannya akan kejadian beberapa hari lalu untuk yang kesekian kali. Tidak, seharusnya bukan itu yang dipikirkan Hee-Ra, melainkan bagaimana Jong-In bisa tahu.

 

Matanya menyipit, Hee-Ra menjauhkan tubuhnya dari Jong-In dan kembali duduk di kursi. “Bagaimana kau bisa tahu?”

 

Jong-In mendengus, “Sial. Ternyata memang benar itu kau,” desisnya lebih pada diri sendiri.

 

Hee-Ra merasa tak tahan, sekali lagi ia bertanya, namun dengan nada yang lebih tinggi, “Dari mana kau tahu?”

 

Bukannya menjawab pertanyaan Hee-Ra dengan sesuatu yang masuk akal, Jong-In malah diliputi kemarahan sesaatnya. “Apakah penting dari mana atau siapa aku tahu? Yang penting kau sudah membiarkan pria itu mencium walau hanya sebatas keningmu. Itu yang utama, Shin Hee-Ra!”

 

Astaga, apa Jong-In barusan membentaknya?

 

Hee-Ra mendecih kesal. “Jadi kau marah padaku sekarang? Hanya karena Se-Hun mencium keningku?” Ia menggeleng sambil berkacak pinggang, tak percaya akan sifat Jong-In yang berubah cemburuan. “Dia kakakku. Aku tidak percaya kau cemburu padanya.”

 

“Ya! Aku cemburu.” Jong-In mengangkat wajahnya, menatap Hee-Ra dengan penuh kesungguhan. “Aku tidak suka melihatmu dekat dengan Se-Hun. Aku tidak peduli walau dia kakakmu, sungguh, aku tidak suka melihat kalian dekat seperti sekarang.”

 

Serius. Apa kecelakaan yang dialami Jong-In baru-baru ini mengenai otaknya? Maksudku, kenapa dia cemburu pada hal yang tak masuk akal?

 

“Aku tidak tahu jalan pikiranmu, sungguh.” Hee-Ra memalingkan wajahnya dari pandangan Jong-In. Ia tak suka Jong-In berkata seperti itu, kenapa dia bersikap posesif bahkan pada kakak Hee-Ra? Ya, Jong-In dan Se-Hun memang tidak berhubungan dengan baik. Bahkan mereka sering melemparkan pandangan benci satu sama lain. Tapi untung hal yang satu ini, Hee-Ra pikir Jong-In sudah keterlaluan.

 

Hee-Ra bangkit dari kursi, ia membiarkan Jong-In terus menatapnya marah dan mulai berucap, “Aku sedang tidak ingin bersiteru denganmu. Akan kuanggap kau tidak mengatakan apapun tentang hal ini.” Ia berhenti sebentar dan membalas tatapan Jong-In sesaat. “Aku tahu kau membenci Se-Hun, tapi dia tetaplah kakakku. Aku tidak akan menikah dengan seseorang yang membenci salah satu anggota keluargaku, Kim Jong-In,” tegasnya dalam satu kalimat dan pergi begitu saja.

 

Sepeninggal Hee-Ra, Jong-In merasa bodoh. Ia terlalu kalut dalam kemarahan dan kebenciannya pada Se-Hun hingga hubungannya terancam retak. Sialan! Se-Hun memang benar-benar brengsek! Bahkan saat pria itu tidak adapun, hal-hal buruk tetap menimpa Jong-In hanya karena menyinggung perilakunya.

 

Oh, hatinya memanas sekarang. Keputusan Hee-Ra untuk lebih membela sang kakak yang brengsek itu semakin membuat kebencian Jong-In memuncak. Ingin sekali rasanya Jong-In memusnahkan Se-Hun dari muka bumi, kalau perlu menjadikannya serpihan debu tak berguna yang hilang hanya karena tiupan angin.

 

Jong-In benar-benar membenci Se-Hun—lebih dari apapun.

 

 

 

 

 

 

Se-Hun tengah memimpin rapat ketika ponselnya terus-terusan bergetar. Ia yakin telepon yang masuk sangat penting, tapi rapat pemegang saham sialan ini membuatnya tak bisa berkutik hingga setengah jam ke depan.

 

Hingga rapat berakhir, entah berapa kali panggilan yang masuk dalam ponselnya. Setelah menyalami para pemegang saham, Se-Hun segera merogoh ponsel dalam sakunya dan terkejut melihat tiga puluh limat panggilan tak terjawab dari Park Young-Lee.

 

Apa sesuatu yang buruk terjadi?

 

Buru-buru Se-Hun menekan tombol panggil dan tak lama kemudian terdengar suara serak pria berusia empat puluhan itu.

 

“Tuan, Miss. Rochester berada di mansion anda,” ujarnya tanpa sekedar mengucap kata ‘halo’. Se-Hun mendesah kesal. Bagaimana bisa wanita itu mengetahui alamat mansionnya? Sialan, pasti Jasmine juga telah mengetahui seseuatu tentang Hee-Ra.

 

Tentu saja. Kenapa tidak? Mendapatkan alamat mansion yang telah dirahasiakan Se-Hun saja dia bisa, apalagi mendapat informasi mengenai Hee-Ra. Gadis itu tak pernah setengah-setengah mencari informasi, ia akan mendapatkan sebanyak mungkin dan Se-Hun tak tahu seberapa banyak yang telah wanita itu dengar.

 

“What the fuck?!”  umpatan tersebut keluar begitu saja dari mulutnya. “Tetap awasi dia. Aku akan segera pulang, dan berhati-hatilah dengannya, Park. Dia sangat berbahaya dan lebih gila daripada aku.”

 

TO BE CONTINUED

Advertisements

82 responses to “[CHAPTER 14] SALTED WOUND BY HEENA PARK

  1. Wahhh heera sekarang lebih ngebela sehun nih hehe , btw jadi sehun sengaja ngirim ntu foto ? Ditunggu next chapnya hwaiting

  2. Aduh jasmine nyeremin banget ih 😟 aku ga yakin kalo dia ga bakalan ngepangepain si heera. Si jongin lagi laaa, kenapa marah marah wkwk si heera udah ngebuka hati banget ya sama sehun, sampe dibelain gitu. Next ditunggu kaa

  3. Ohh jadii yang ngirim fotonya sehun lagi nyium hee ra itu sehun sendiri, parahh banget yaa sehunn. Kayanya jasmine bahaya banget yaaa, sampe sehun aja hati-hati banget ke diaa..

    Ditunggu nextnya ya kaakk

  4. Hwak….Hee ra ngebelain sehun,asik nih,si jasmine itu harus diapain dulu ya biar musnah dr muka bumi ini,sehun knp ga kamu bunuh aj si jasmine itu biar hidupmu sama hee ra damai.Hah……Makanya jong in jgn negative thinking dulu dong sama sehun,walaupun emang bener si kecurigaannya si jong in,tapi aku ga suka banget deh sama abang jong in y ky gini,beneran,mending sekalian aj si abang jong in itu jdi playboy atau suka mainin cewe dr pd jdi lelaki setia y pecemburu…..Kebanyakan bacotnya ya Uri Authornim,Bian,jadi makin penasaran sma part brikutnya deh,Sllu ditunggu kelanjutannya Authornim…..

  5. Awalnya ngeship sehun-heraa, tpi abis liat scene jongin heraa yg di rs jd baper TT jd pengen jongin sama heraa aja ._.
    Ceritanya mkn seru aja, sering baper juga sama perlakuan sehun ke heraa
    Ottokhaeeee TT

  6. Sepertinya hee ra mulai suka tu sama sehunnn. Aku pikir yg kirimin fhoto itu jasmine ehh rupa” nya sehun

  7. Ternyata sehun yang ngirim foto nya. Hubungan jongin dan heera agak renggang, tapi kenapa aku suka mereka bertengkar ya *maaf thor*.
    Ternyata jasmine lebih gila dan berbahaya daru sehun.

  8. Speechless sumpahh… makin lama makin bikin penasaran jirrrr…
    D tunggu next chap nya ya!!!! 😍😍😍😍😍

  9. Kaya y sehun yach yg ngirim email itu..untung jongin g parah luka y..huahhh heera ngebela sehun..jasmine teguh bgt ya bwt daprletin sehun…

  10. Waaah senang nya jdi heera direbutkan 2 cwo ganteng..sehun ama jongin lagi..
    Kasian jongin. .wajar aja jongin marah klo sikapnya sehun ke heera aja kya bukan sayang tuk seorang ading..tpi lbih kya ke kekasih..sabar jongin

  11. apa jongin sama heera putus aku harap tidak. no no no sehun harus tetap jadi kakak yg baik walau kenyataannya sehun sebenernya bkn kakaknya. aku pengen heera tetep sama jongin 😭😭😭😭

  12. Peranggg! Serius mereka perang? HeeRa ama JongIn? Yeayy!! Wkwk
    Yuhuu HeeRa mulai fallin nih ama Sehun, makin semangat bacanya dehh hehe
    Tp belom siap ama reaksinya Jasmine-_- apa kabar HeeRa nantinya? Bisa mati dadakan wkwk
    Okay ditunggu next chapternya yg makin panassss!!! Thanks ka + Semangadd!

  13. ku kira jongin bakalan parah :-D. waahh herra belain sehun d depan jongin, smoga stelah ini sehun herra makin akrab..
    jasmin terobsesi bangt sama sehun :-\

  14. Heol.. fto yg didpt Jongin it dr Sehun kah aigoo…. waah sukka bgt tmbh pnsrn aduh… ALERT! si melati bau raflesia a.k.a Jasmine tuh bnr2 ancaman brbhaya!! Jongin kamu cemburunya udh mulai naik ubun2 ya… hwihwi… 😀 Semangat author Heena menulis lanjutannya.. HWAITING!!!! 😉

  15. OMG ternyata sehun yang ngirim.. dasar, pdhal aku udh nuduh2.
    dan heera finally udh mulai nunjukin rasa suka sama sehun nihh

  16. Kyak nya hee ra udah mulai suka sama sehun 😀 😍 buktinya heera belain sehun di depan nya jong in
    Ditunggu next chapte nya 🙂

  17. ohhh jadi yg ngirim itu si sehun, jongin lg sakit pdhal pake marah” sgala cemburuan bgt kayanya, kayanya si jasmine nakutin bgt ya sampe2 sehun ga mau jasmine tau ttg heera

  18. Pelis, jangan ada adegan berantem atopun tusuk dan ditusuk. Aku masih mau terlena sama keharmonisan Sehun-Heera eaaaa

  19. Kapannn nih thor hera sadar kalo dia jatuh cinta sama sehun?
    Btw kasian bnget kai nyaaa.
    Semangat trus thor

  20. Ternyata jongin tdk parah.. adakah disini yg berharap jongin parah dan heera finally with sehun??? Hahhaha thats me! Of course me! Hahhaha

  21. bisa aja ternyata sehun yang ngirim foto toohh ckckk
    dannn hee ra ga tau malah ngebelain sehun wkwkwkk sakit sekali sii kkamjoong

  22. Oo.. Yeahh……
    Aku enggak suka kalo emma, jadi pengganggu jongin – hee ra. Tapi aku suka mereka bertengkar kek gini,
    kekekekekekek…….. >:)

    ini jadi kesempatan buat sehun,. >:)

    *bener2 deh,.
    Kelicikan sehun merasuk ke jiwa ku,. :v

    satu masalah yg belum terselesaikan. Bahkan masih jauh dari kata selesai.
    Jasmine, dia benar-benar ancaman besar.
    Belum lagi kesehatan ayah hee ra.

    Aku benar-benar enggak rela kalo keluarga itu hancur. 😥

    itu sangat menyedihkan kalo sampe benar-benar terjadi,. 😥

  23. Daebak! Jasmine dapet info dari Bruce, kan? Ngeseliin…
    Ambigu bgt Jasmine. Emangnya, Cinta harus diwujudkan di ranjang? Emang Sehun pakai cinta waktu sama dia?! 😒 Nyebeliin >_<.
    Kok Ayahnya Hee-Ra udah sehat lagi, sih? Apa cuma pulih sesaat? 😱…
    Aku next ya, Kak…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s