I Married To My Enemy [VI] -by ByeonieB

imarriedtomyenemy-2

I Married To My Enemy

ByeonieB©2017

“For You.”

Main Cast:: Baekhyun of EXO as Byun Baekhyun, OC/You/Readers as Han Minjoo || Additional Cast:: LuHan (Singer) as Luhan, Han Hyojoo (Actress) as Han Hyojoo, Chanyeol of EXO as Park Chanyeol, Sehun of EXO as Oh Sehun, Lee Yubi (Actress) as Lee Yubi, and many more || Genre:: Marriage Life, Romance, A Slight of Comedy, Drama || Length:: Chapter || Rate:: PG-17+ || Before:: [Chapter V] || Poster by Sfxo @ Poster Channel

Special Song: 너를 위해 (For You) by Chen, Baekhyun, Xiumin

 

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

November 2009

“Selamat malam, Paman.. Ayah..”

 “Ah, Baekhyun-ah.” Ayah Minjoo yang sedang berada di ruang tengah bersama Ayahnya tersenyum lebar. Mereka sedang menggeser kursi sofa karena hari ini adalah ulang tahun Minjoo yang ke-17 tahun. Keluarganya dan juga keluarg Baekhyun akan merayakannya, tentu saja.

“Masuklah.”

Baekhyun mengangguk sekali lalu menghampirinya.

“Kenapa kau baru datang, hm?” Ayahnya yang kali ini bertanya setelah berhasil menggeser sofa untuk menata ruangan, “Kan tadi sudah ayah suruh datang secepatnya. Pesta jadi tertunda karenamu tahu?!” ucapnya sambil sedikit marah.

“Eiy, Nohyun-ah..” Ayah Minjoo menegurnya, “Dia bohong, Baekhyun-ah. Pestanya belum mulai karena Ibu Minjoo belum selesai menyiapkan semuanya.”

Baekhyun tertawa pelan sambil menggaruk tengkuknya, “Maaf aku terlambat ya, Paman, Ayah. Aku tadi harus mengurusi sesuatu dahulu.”

Ayahnya hanya menggelengkan kepalanya sedangkan Ayah Minjoo terkekeh pelan.

“Ah, kalau begitu ada yang bisa kubantu? Apa mejanya sudah siap?”

Ayah Minjoo melihat sekeliling lalu menggeleng kepalanya, “Semuanya sudah siap kalau untuk urusan ruangan. Kita tak perlu menggeser semuanya, yang datang hanya keluarga kita ditambah beberapa teman Minjoo saja.”

Baekhyun mengangguk-angguk mengerti, “Lalu.. Minjoo ada dimana sekarang?”

“Di kamarnya, bersama teman-temannya. Kau mau bertemu dengannya?”

Baekhyun mengangguk sekali, “Kalau begitu aku permisi untuk ke kamar Minjoo ya, Paman, Ayah.”

Ayah Minjoo mengangguk sambil tersenyum sedangkan Ayahnya hanya mengangkat dagunya, seperti berkata: Sana, pergi. Ugh, Ayahnya memang sedikit menyebalkan.

Baekhyun pun berjalan menghampiri kamar Minjoo, sebelumnya dia bertemu dengan Ibunya dan Ibu Minjoo serta Hyojoo di ruang makan. Ibunya bertanya yang sama dengan Ayahnya namun minus memarahi bocah remaja itu. Setelahnya barulah dia meminta izin kembali untuk menemui Minjoo di kamarnya.

Baekhyun tersenyum merekah saat ini. Hari ini adalah ulang tahun Minjoo, hari kelahiran gadis yang ia suka dari saat pertama kali mereka bertemu waktu kecil dahulu. Gadis yang punya pengaruh penting seumur hidupnya.

Sambil berjalan, Baekhyun pun mengeluarkan sebuah kotak kecil dari dalam mantelnya. Kotak berwarna pink dengan pita bening di atasnya. Dia tersenyum semakin merekah lagi mengingat apa isi dari kotak tersebut.

“Aku menyukai Luhan sunbae!”

Baekhyun mengerem pergerakannya saat ia sudah berada di depan pintu kamar Minjoo. Pintunya tidak tertutup sepenuhnya jadi Baekhyun jelas-jelas mendengar itu.

“Aku menyukai Luhan sunbae, kalian puas!?”

Baekhyun bisa mendengar teman-teman Minjoo tertawa sambil bertepuk tangan padanya, entah untuk apa, yang jelas saat itu Baekhyun bisa merasakan hatinya langsung jatuh ke dasar. Membuat segala sesuatunya bergema di pendengarannya dan membuat tubuhnya begitu hampa.

Sekarang dia mengerti, mengapa saat perempuan—di film drama yang ia lihat bersama Ibunya setiap malam—ditinggal oleh lelakinya karena menyukai orang lain, perempuan itu akan menangis tersedu-sedu.

Mengetahui orang yang kau sayang mungkin akan meninggalkanmu itu memang semenyakitkan ini.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

[Chapter 6]

H A P P Y   R E A D I N G

 

Saat matahari mulai terbit persis ke hadapan Minjoo, merasakan cahaya merasuki kulit lalu matanya, Minjoo mulai mengernyitkan keningnya. Merasa bahwa matahari itu telah mengganggu tidur cantiknya. Karena dirasa matahari tersebut seperti tidak akan berpijak dari tempatnya, Minjoo mengalah untuk membuka matanya.

Dia membuka matanya tepat menghadap ke kasur dimana Baekhyun tertidur, namun tak menemukan pria itu di hadapannya. Perlahan, dia melirik ke belakang, kiri sampingnya, mencari Baekhyun namun tak menemukan pria itu dimana pun. Minjoo menyerah dan dia kembali lagi menghadap bagian dimana Baekhyun tertidur semalam.

Saat itulah, ia tiba-tiba merasakan peliharaannya menggelitik perutnya kembali. Ketika ia mengangkat tangannya, menaruhnya tepat di bantal Baekhyun, perasaan itu kembali menggoroti seluruh tubuhnya. Minjoo benar-benar ingat dengan semua yang terjadi tadi malam. Bagaimana ia melalui malam itu penuh dengan sentuhan, kehangatan, dan seluruh perasaannya. Minjoo sangat ingat bagaimana Baekhyun menyentuh permukaan kulit Minjoo begitu lembut, mengusapnya dengan hangat, menahannya seperti Minjoo tak boleh lepas darinya.

Sesaat itu juga, Minjoo tiba-tiba mengangkat tangannya untuk menyentuh bibirnya, turun perlahan ke dagunya, lehernya, lalu yang terakhir ia memegang dadanya. Ia sedang mengingat semua kecupan yang Baekhyun simpan disana, yang bahkan Minjoo masih bisa rasakan sampai detik ini.

Ini semua membuatnya gila. Meski Minjoo tahu malam itu bukanlah yang pertama kalinya, Minjoo benar-benar merasakan perasaan yang begitu kuat pada Baekhyun. Seperti narkoba, mungkin mulai dari detik ini, perasaan itu akan terus menggerogoti tubuhnya untuk terus menerus terlena dan terjatuh pada Baekhyun.

“Kau sudah bangun?”

Minjoo terlonjak kaget saat mendengar suara itu. Meski dia telah mengakui bahwa dia sudah terjatuh pada Baekhyun, Minjoo mesti harus tetap mempertahankan harga dirinya. Oh, cerita ‘Harga Diri Minjoo’ belum tamat sampai kemarin.

Minjoo pun kembali menutup matanya, berpura-pura bahwa dirinya masih terlelap untuk tidak ketahuan salah tingkah. Selama beberapa detik dia rasa apa yang ia lakukan itu berhasil, namun seperti biasanya, keberuntungan bukanlah teman Minjoo.

“Aku tahu kau sudah bangun, Han Minjoo.”

Minjoo pun menggigit bibirnya sambil membuka kembali matanya. Percuma saja kalau dia bertahan terus, dia telah ketahuan juga. Dia pun memutuskan untuk memutar tubuhnya menghadap Baekhyun sambil membangkitkan dirinya.

“K-kau sudah bangun?” Minjoo gelagapan berbicara sambil menahan selimut itu sampai batas dadanya. Jangan lupa, dia sedang tanpa busana sama sekali saat ini. “T-tadi kau pergi kemana?”

Baekhyun terkekeh pelan lalu menatap Minjoo lurus-lurus sambil mengangkat sudut bibirnya,

“Han Minjoo, kau itu gadis yang seperti ini ya.”

Minjoo menautkan alisnya kebingungan, “Hm?”

Baekhyun mengangkat jemarinya lalu menunjuk-nunjuk muka Minjoo. Ia seperti sedang membuat lingkaran di udara, “Wajah salah tingkahmu ini. Selalu muncul setelah kita melakukan sesuatu.”

Oh, cerita ‘Harga Diri Minjoo’ memang sudah tamat sampai kemarin. Minjoo langsung membulatkan matanya dan tanpa sadar satu tangannya menyentuh pipinya. Benar-benar panas dan Minjoo sepertinya tidak ingin tahu warna apa yang tengah mengecat mukanya saat ini.

“Kau ini gadis Candy ya? Yang datang pada pangeran dan saat pangeran melakukan sesuatu padanya, dia akan mengeluarkan semburat merah itu?”

Oh, Baekhyun sudah memperjelas apa rona pipinya saat ini. Mendengar itu membuat Minjoo langsung merutuki dirinya yang begitu lemah oleh pesona Baekhyun hanya karena ciuman dan sentuhan yang Baekhyun lakukan padanya. Uhm, sebenarnya bukan ‘hanya’ ciuman dan sentuhan, itu lebih dari sekedar ‘hanya’ ciuman dan sentuhan bagi Minjoo.

Dia kembali memerhatikan Baekhyun yang sedang menertawainya dan Minjoo tiba-tiba merasa emosi yang biasanya muncul karena pria itu ada di pitamnya detik ini, “Ya. Kau tak tahu siapa yang melakukan ini semua kepadaku memangnya? Ini karenamu tahu!”

“Ah jadi kau mengatakan bahwa kau sudah jatuh pada pesonaku karena tadi malam, begitu?”

Minjoo merasakan panas tubuhnya menggerling dari ujung kaki sampai kepalanya. Antara merasakan kehangatan tadi malam dan pitamnya yang naik kembali karena Baekhyun tengah mengejeknya.

“Ya.. Kau benar-benar tipikal orang seperti ini ya! Yang bisa menjatuhkan suasana hati seseorang dalam sepersekian detik!!” Sepertinya panas itu berasal dari emosinya. “Dasar iblis setan menyebalkan!!”

Baekhyun hanya tertawa pelan lalu dia memberikan kemeja putih Minjoo padanya, “Kita tidak bisa berdebat terlalu lama, cepat bersihkan tubuhmu. Investor dari Tiongkok itu telah menunggu kita.”

Minjoo pun hanya mendengus mendengar itu. Minjoo mengambil pakaiannya, hendak memakainya kembali namun dia menyadari sesuatu yang ganjal pada dirinya.

“Pakaian dalam ku kemana?” Sebenarnya Minjoo hanya bertanya pada dirinya sendiri tapi Baekhyun menangkap suaranya.

“Ah, aku telah menaruhnya di tempat pencucian.”

“Hah?” Minjoo mengangakan mulutnya, “Kenapa kau melakukan itu?!”

“Hanya saja.. itu sudah terlantar begitu mengenaskan semalam di atas lantai. Memangnya kau tak takut ada bakteri apa?”

“Lalu aku pakai apa sekarang?!”

Baekhyun berdecak pelan, “Pakai saja kemejamu itu. Kau akan langsung mandi kan?”

“Ya!!”

“Aish, terlalu banyak bicara, Han Minjoo! Cepat pakai saja kemejamu itu, lagipula aku sudah melihat semuanya tadi malam!” Baekhyun pun berjalan melengos meninggalkan Minjoo yang tengah melihatnya dengan alis bertaut dan mulut sepenuhnya terbuka.

Demi Tuhan, Baekhyun itu benar-benar makhluk dari segitiga Bermuda yang menjadi ancaman seluruh muka bumi ini. Minjoo benar-benar harus menghabisinya meski ia yakin akan menangis setelah melakukan itu.

 

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Pintu kamar Hyojoo terbuka lebar dan memunculkan Chanyeol dari sana.

“Hyojoo-ya..” Chanyeol tersenyum begitu lebar sambil mengangkat dua jinjingan di tangannya, “Aku membawakan sesuatu untukmu..”

Hyojoo sama tersenyum lebarnya dengan Chanyeol, “Park Chan!!”

Chanyeol terkekeh pelan lalu menutup pintu kamar Hyojoo dan setelahnya menghampiri gadis itu di ranjangnya. Meski sudah dikatakan sembuh, Hyojoo masih perlu dirawat di rumah sakitnya sampai hari ini. Dokter bilang penyakit itu pun kambuh karena Hyojoo kurang istirahat dan juga makan.

“Ini.” Hyojoo sedikit menggeserkan tubuhnya untuk memberi Chanyeol tempat. “Aku membawakan makanan untukmu.”

Dengan senyuman yang masih merekah, Hyojoo langsung membuka kantung tersebut. Chanyeol yang telah duduk di sampingnya memerhatikannya penuh dengan guratan senyuman di matanya. Hyojoo memang tipikal gadis seperti ini, jika sudah dimanja maka usianya tidak lebih jauh dari usia anak yang baru lulus taman kanak-kanak.

“Ah!!” Hyojoo mengeluarkan manisan dari dalam kantung tersebut. “Kau tahu saja kalau aku senang makan ini kalau sedang kambuh.”

Chanyeol terkekeh pelan lalu mengangkat tangannya, mengusap-usap rambut Hyojoo dengan lembut.

“Aigoo.. anak kesayanganku..”

“Anak?” Hyojoo menolehkan wajahnya ke samping dan memberikan Chanyeol tatapan cemberutnya. “Sejak kapan aku menjadi anakmu?!”

“Lalu kau mau aku sebut apa?” Chanyeol menyipitkan matanya sembari menaruh tangannya di pinggang Hyojoo, “Kekasihku? Wanitaku?”

Hyojoo tersenyum gummy sambil memeluk Chanyeol hingga telinganya berada di dada Chanyeol.

“Milikmu..”

“Aish.” Chanyeol tertawa sambil mencoba melihat Hyojoo yang tengah memeluknya. “Darimana kau belajar kata-kata itu, hm?”

Hyojoo hanya tertawa pelan sambil semakin menelusupkan wajahnya ke dada Chanyeol. Membiarkan aroma Chanyeol menjadi oksigennya.

“Ah, benar!” Hyojoo melepaskan eratannya dan menatap Chanyeol. “Kau sudah bilang pada Baekhyun bahwa pertemuan dengan investor dari Tiongkok itu hari ini?”

Chanyeol mengangkat satu jempolnya, “Sudah, nyonya wakil direktur.”

Hyojoo hanya terkekeh pelan lalu ia kembali menautkan tangannya pada pinggang Chanyeol, “Ah, mengingat Baekhyun aku jadi teringat dengan adikku. Mereka tentunya menikmati liburan mereka, bukan?”

“Kau itu sedang membuat mereka berbaikan ya?” Chanyeol sedikit melirik matanya pada Hyojoo tapi tak membiarkan posisi yang sudah begitu nyaman itu terlepas darinya.

“Lebih tepatnya aku sedang membuat adikku sadar. Baekhyun itu sudah menyayangi adikku sejak lama, Chanyeol. Pernikahan ini pun sebenarnya dia yang menginginkan.”

Chanyeol kaget dan kini pandangannya benar-benar merunduk pada Hyojoo, “Lalu? Maksudmu apa, bukankah pernikahan ini terjadi karena mereka ketahuan telah melakukan ‘itu’.”

Hyojoo mengerti dengan kata ‘itu’ dari yang Chanyeol lontarkan. Dia tersenyum lalu mengingat hari dimana Baekhyun memberitahunya bahwa ia tidak meniduri Minjoo. Jujur saat itu Hyojoo benar-benar kagum dan sangat terkesima pada apa yang Baekhyun katakan. Meski licik, Hyojoo tahu bahwa hati Baekhyun begitu tulus untuk adiknya.

“Tidak. Mereka tidak pernah melakukan itu. Pernikahan itu murni Baekhyun yang menginginkannya dengan sedikit cara licik untuk menghentikkan rengekan adikku.” Hyojoo tampak merubah rautnya menjadi cemberut sekarang. “Si penyihir gila itu, kenapa sih dia begitu mempertahankan gengsi dan martabatnya?! Aku juga tahu bahwa dia memiliki perasaan yang sama dengan Baekhyun!”

“Minjoo juga menyukai Baekhyun? Sejak kapan?”

“Kau bayangkan saja, Chanyeol-ah.. mereka itu sudah menghabiskan masa kecil sampai masa remaja bersama. Makan bersama, pergi ke sekolah bersama, sekolah di sekolah yang sama, pergi liburan bersama, tidur bersama pun sudah pernah!” Hyojoo berbicara penuh api-api di setiap katanya. Memang seperti itu kalau sudah mengingat semua kenangan Minjoo dan Baekhyun, terlebih mengingat tingkah laku adiknya. “Masa iya dia tidak memiliki perasaan sedikitpun pada Baekhyun!? Aku tahu adikku itu punya hati!”

“Ya.. ya..” Chanyeol terkekeh pelan sambil mengusap-usap punggung Hyojoo. “Mereka yang punya masalah tapi kenapa kau yang begitu berapi-api?”

Hyojoo yang mendengar itu pun ikut terkekeh pelan sambil semakin mengeratkan pelukannya pada Chanyeol.

“Maaf.. aku memang selalu seperti itu kalau mengingat mereka. Gadis itu, benar-benar..”

Chanyeol hanya menggelen pelan sambil semakin mengeratkan pelukannya pada Hyojoo. Beberapa detik dari situ, mereka mendengar pintu membuka secara tiba-tiba dengan perlahan. Tentu saja mereka kaget, sebelum si pembuka pintu itu masuk, dengan cepat mereka melepas pelukannya.

Chanyeol langsung lompat dari tempat tidur Minjoo dan berdiri di sampingnya.

“Ayah..”

Ternyata itu Tuan Han. Dengan cepat, Chanyeol pun membungkukkan badannya hormat.

“Halo, Tuan Han.”

Ayah Hyojoo terdiam dan memerhatikan mereka berdua begitu detil karena ia sempat melihat mereka tengah berpelukan sebelum dirinya benar-benar masuk ke ruangan. Terlebih pada pria tinggi yang berdiri di samping ranjang kasur putrinya, Park Chanyeol. Ayah Hyojoo tahu siapa Chanyeol itu.

Saat itu, tanpa mereka sadari, bahwa kejadian yang mereka tak pernah impikan mungkin akan menimpa mereka. Dimana mungkin pertarungan terberat yang pernah ada di hubungan mereka dimulai sekarang.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

“Selamat datang, Apa anda tuan Baekhyun?”

Baekhyun mengiyakan pertanyaannya lalu pelayan tersebut menunjukkan jalannya, mungkin pada sebuah ruangan privat. Saat ini dirinya telah berada di sebuah restoran mewah dengan khas Jepang yang begitu kental, bahkan ia pun melepas sepatunya sesaat memasuki restoran ini. Jika kalian bertanya tujuan apa yang membuatnya kemari, tentu saja tidak lain bertemu investor dari Tiongkok itu.

“Ah, Sumimasen. (Maaf)” Baekhyun memohon pada pelayan tersebut untuk berhenti sebentar dan membiarkan Baekhyun memutar tubuhnya. Oh, disitu rupanya Han Minjoo. Berlagak seperti anak ayam yang mengitari induknya.

“Kau tunggu diluar saja, tidak perlu masuk.” Ucapnya dan membuat Minjoo mengangkat satu alisnya.

“Kenapa tidak boleh? Lalu nanti yang mencatat laporanmu siapa?”

“Biar aku saja, paling nanti kau yang menulis ulang.”

Minjoo hanya mendengus pelan lalu memutar tubuhnya seraya melangkah menjauh dari Baekhyun. Membuat Baekhyun mengangkat bahunya acuh dan berjalan kembali mengikuti si pelayan.

Setelah berada di depan pintu ruangan, pelayan tersebut menggeser pintunya dan membuat ruangan itu terlihat oleh pandangan Baekhyun. Baekhyun belum menemukan investor itu di dalam ruangan namun tepat setelah ia memasuki dirinya ke ruangan, Baekhyun merasakan ada nyeri di dadanya. Yang begitu membuatnya tertekan.

“Annyeong, Byun Baekhyun.”

Baekhyun menelan salivanya perlahan dan menatap pria itu dengan perasaan takut yang muncul di sekujur tubuhnya.

“Ini aku, Luhan.. Sunbae-mu. Masih ingat?” ucap pria itu dengan senyuman yang begitu merekah.

~

~

Januari 2010

 

“Ya!! Byun Baekhyun!! Dimana kau!?”

Luhan yang baru saja menyelesaikan latihan basketnya menatap Minjoo dengan alis bertaut. Masalahnya adalah suara gadis itu benar-benar kencang hingga dia yang berada di ujung lapangan pun mendengar suaranya.

“Han Minjoo!!”

Minjoo pun menolehkan kepalanya, mencari sumber suara, dan ia menemukan Luhan di tempatnya. Minjoo yang berada di ujung lainnya pun berlari menghampiri Luhan.

“Sunbae!”

Luhan bangkit dari duduknya lalu berdiri, menatap Minjoo dengan senyuman lembutnya. “Kenapa kau berteriak-teriak, hm? Baekhyun mengerjaimu lagi?”

Minjoo mengangguk mantap sambil menatap Luhan, “Sunbae jangan pergi melihat majalah dinding, ya? Akan sangat memalukan kalau Luhan sunbae melihat..”

Luhan pun hanya mengernyitkan keningnya kebingungan mendengar itu.

~

~

Tentu saja Luhan tidak akan mendengarkan larangan Minjoo yang tidak memperbolehkannya melihat majalah dinding sekolahnya. Dia mendongakkan kepalanya, menatap majalah dinding tersebut lurus-lurus. Tepatnya, pada rubrik pesan yang begitu terpampang besar disana.

 

“Luhan sunbae, semangat untuk pertandingan basketnya! Aku berharap Luhan sunbae bisa menang kali ini! Ah, aku juga mau bilang bahwa keringat Luhan sunbae itu yang terbaik! Aku sangat menyukai wangi keringatmu!“

-salam hangat, Han Minjoo kelas 2-4

 

“Ckckck.”

Luhan mendengar suara decakan itu dari sampingnya, menemukan Baekhyun yang ternyata menatap yang sama dengannya.

“Gadis itu benar-benar memalukan, hm? Menulis seperti ini di majalah dinding.” Ucapnya lalu menolehkan wajahnya pada Luhan, “Bukankah dia sangat menjijikan!? Tak seharusnya gadis bertingkah seperti ini..”

Baekhyun terkekeh pelan lalu dia mulai berjalan meninggalkan Luhan. Sebelum langkahnya mencapai yang kedua, perkataan Luhan menghentikannya.

“Kenapa kau melakukan ini padanya? Kenapa kau terus mengerjainya?” Baekhyun baru saja mau membalas perkataan itu dengan alibi-alibinya sebelum Luhan memberikannya debuman yang cukup kuat di hatinya.

“Kau cemburu mengetahui dia menyukaiku dan aku juga menyukainya?”

Perkataan Luhan itu berhasil membuat tubuh Baekhyun memutar penuh menghadapnya.

“Kau.. menyukainya? Kau menyukai Minjoo?”

Luhan mengangguk mantap, “Iya. Aku menyukainya. Kau menyukainya juga, bukan?”

“Kenapa?” tanpa sadar Baekhyun telah mengepalkan tangannya, “Kenapa kau menyukainya?”

“Itu hak-ku dan itu bukan urusanmu.” Luhan melangkahkan kakinya, menghampiri Baekhyun. “Yang jelas, berhentilah mengerjainya. Kalau yang kau lakukan itu untuk membuatku merasa jijik padanya, yang kau lakukan hanya akan sia-sia saja. Aku akan tetap menyukainya. Tapi jika kau memang berniat membantuku, maka lanjutkan saja semuanya.” Ucapnya sambil tersenyum lalu melangkahkan kakinya untuk berlalu dari Baekhyun. Tak lupa juga dia mengimbuhi tepukan di bahu Baekhyun sebelum benar-benar melangkah dari pria itu. “Aku akan berterima kasih jika memang seperti itu.”

Tanpa sadar, kepalan tangan Baekhyun benar-benar sudah memutih hingga membuat tapakan kuku disekitar kulitnya. Baekhyun tak tahu apakah yang Luhan katakan itu serius dari perasaannya atau hanya sekedar gertakan sambal untuknya saja tapi yang jelas.. Baekhyun merasakan bahwa dirinya benar-benar terancam saat itu.

~

~

“Wah! Bukankah itu sudah lama, hm!?” Luhan mengernyitkan keningnya sambil sedikit menyeruput teh ocha khas Jepang. Baekhyun yang sudah duduk bersamanya hanya bisa tersenyum pelan. “Coba kita ingat, sepertinya sudah enam tahun yang lalu ya?”

Baekhyun mengangguk, “Iya, masa sekolah kita sudah enam tahun yang lalu, hyung.”

Luhan telah menaruh kembali gelasnya ke atas meja dan menyipitkan matanya pada Baekhyun, “Ya. Rasanya sangat aneh mendengarmu memanggilku ‘hyung’. Panggil aku Luhan saja.”

Baekhyun tampak sedikit berpikir, merasa apakah ia salah atau tidak jika memanggil senior satu tingkat di atasnya dengan hanya sebutan nama tapi setelahnya dia tersenyum sambil mengangguk-angguk.

“Ok, Luhan.”

Luhan mengangguk-angguk, “Ah, jadi apa kabarmu? Kau tampaknya sudah sangat berubah sekarang.”

Baekhyun mengangkat bahunya sambil menatap lurus-lurus pada Luhan, “Kau juga sama, Luhan. Kau tampak jauh berbeda dari saat kita sekolah dahulu.” Baekhyun menjeda perkataannya sambil mengangkat gelasnya untuk diminum sebelum ia melanjutkan lagi, “Ah, aku juga baru tahu kalau itu dari Tiongkok?”

“Haha. Aku memang tidak pernah memberitahu siapapun kalau aku berasal dari Tiongkok.” Luhan tersenyum pelan sambil mengingat keluarganya, “Aku lahir di Tiongkok namun orang tuaku menyekolahkanku di Korea Selatan. Jangan merasa bangga ya, tapi memang kuakui sih kalau sekolah di Korea Selatan lebih baik daripada di Tiongkok.

Baekhyun hanya bisa tertawa pelan mendengar itu.

“Oh iya, bukankah kau pernah sekolah ke London?” Luhan kini tengah mengisi gelasnya yang telah kosong dengan teh ocha kembali, “Kapan itu ya.. Saat kau kelas dua, benar?”

Baekhyun mengangguk, “Benar. Aku pergi saat kelas dua.”

“Wah.” Luhan menatap Baekhyun dengan takjub, “Kau bisa ya keluar sekolah di tengah-tengah seperti itu? Aku tahu sih kalau kau dahulu memang terkenal sangat pintar. Berbeda dengan diriku yang hanya terkenal karena kapten tim basket sekolah.”

“Haha. Tidak seperti itu, Luhan. Kau juga dahulu sangat hebat.”

Luhan terkekeh pelan, “Benarkah? Bukannya aku sombong ya, tapi memang saat itu aku seperti bisa makan coklat seminggu sekali.” Luhan membentuk gesture melingkar di hadapannya dengan mata dan mulut yang membulat. “Banyak sekali yang menaruh coklat di lokerku setiap minggunya!”

Baekhyun lagi-lagi hanya bisa tertawa pelan mendengar itu. “Kau menikmati itu, benar?” tuturnya lagi lalu sekarang dia melakukan hal yang sama seperti Luhan sebelumnya, menuangkan teh ocha pada gelasnya.

“Aku jadi ingat seseorang kalau sudah membahas penggemarku.”

Perkataan itu langsung membuat tangan Baekhyun berhenti dengan senyuman yang tertahan dalam rundukkan kepalanya.

“Gadis itu.. Han Minjoo. Kau tentu masih mengingatnya, bukan?” Luhan menjeda perkataannya sambil menatap langit-langit dengan kernyitan di keningnya, “Kalau di ingat lagi, bukankah aku pernah mengancammu karena gadis itu, Baekhyun-ah? Karena aku ingin melindunginya dan kau terus mengerjainya, bukankah aku pernah mengancammu?”

Baekhyun mencoba bertahan sekuat mungkin disaat luapan apinya begitu kentara di sekujur tubuhnya serta perasaan takut yang perlahan hinggap di dadanya. Tidak mencoba untuk terlihat canggung, Baekhyun pun menaruh poci yang berisi teh ocha ke tempat semula.

“Ah, Han Minjoo..” Sebisa mungkin Baekhyun tersenyum sambil menahan kepalan tangannya di bawah meja. “Kau masih menyukainya?”

Luhan tampak mengernyitkan keningnya kembali, “Entahlah.. aku tak tahu. Aku sudah lama tidak bertemu dengannya juga.” Luhan menghembuskan nafasnya perlahan, seperti dia telah menyerah untuk mengingat. “Ah, aku mau minta maaf karena telah pernah mengancammu seperti itu, ya? Waktu itu aku masih berusia 18 tahun. Maklum, rasa bersaingnya masih begitu kuat.”

Baekhyun hanya bisa tersenyum paksa mendengarnya. Saat itu pikirannya terbang ke Minjoo yang kini berada di satu restoran dengannya. Meski Luhan berkata ia tak tahu apakah perasaannya pada Minjoo masih ada atau tidak, tetap saja perasaan takut itu masih begitu kentara di dada Baekhyun. Rasanya Baekhyun seperti ingin berlari dari tempat ini dan membawa Minjoo sejauh mungkin dari tempat dimana Luhan berada.

“Baiklah. Aku pun sudah melupakan semuanya.”

.

.

Minjoo mengaduk-aduk minumannya dengan malas sambil sesekali melihat ke jam dinding restoran. Dia mendengus pelan, rasanya dengusan itu sudah yang keseribu kalinya. Waktu sudah berjalan selama dua jam dan ia rasa ia akan mati dalam kebosanan ini!

“Aish!” Minjoo menggoyang-goyangkan kakinya sambil mengumpat pada Baekhyun, “Kenapa sih dia lama sekali? Lalu kenapa aku tidak boleh masuk juga disaat ini merupakan pekerjaan!” Minjoo mengambil sendok yang berada di atas meja, yang selama dua jam ini ia beri nama Baekhyun untuk mengumpatnya.

“Kau itu masih si sinting gila itu ya!?” Minjoo memukul sendok itu pada meja. Membuat suara cukup nyaring hingga beberapa pelanggan memerhatikannya, “Kenapa kau membiarkanku menunggu diluar dan mati kebosanan disaat harusnya aku bekerja!? Kau tidak sedang berusaha untuk menyuruhku menarik kopermu nanti ketika di bandara bukan!?”

Minjoo baru saja akan memukul sendok itu ke meja lagi sebelum ia melihat seseorang yang namanya sama dengan sendok itu datang menghampirinya.

“Kau!!” Minjoo langsung bangkit dan menunjuk Baekhyun dengan amarah, “Kenapa lama sekali sih!!? Kau sengaja ya mau mengerjaiku lagi!?”

Baekhyun tidak menjawab pertanyaan itu dan malah menggenggam tangan Minjoo yang menunjuknya.

“Ayo kita pergi dari sini sekarang. Barangmu sudah dikemas semua, kan?”

Minjoo mengernyit heran. Entahlah, dia melihat tatapan Baekhyun begitu kalut padanya.

“Iya sudah.”

Baekhyun mengangguk lalu segera menarik Minjoo untuk keluar dari restoran tersebut. Untungnya kali ini Minjoo tengah menurut pada Baekhyun dan tidak bertanya apapun, dia hanya membiarkan Baekhyun membawanya berjalan dengan cepat menuju mobilnya. Yang jelas, Minjoo tahu ada sesuatu yang mengganggu pikiran Baekhyun saat ini.

“Hm?”

Luhan baru saja keluar dari ruangan privat yang tadi ia gunakan untuk bertemu Baekhyun. Tak sengaja ia melihat Baekhyun menarik seorang gadis yang telah memunggungi mereka dan berjalan keluar dari restoran.

“Dia tampak terburu-buru sekali..” ucap Luhan acuh tak acuh dan ikut pergi juga meninggalkan tempat tersebut.

.

.

“Ya.” Minjoo menatap Baekhyun yang berada di sampingnya. Kini mereka telah berada di ketinggian seribu meter di atas daratan, tentu saja naik apalagi kalau bukan pesawat. “Investor dari Tiongkok itu siapa, hm?”

Baekhyun hanya terdiam sambil menatap majalah yang ia baca, “Kau tidak perlu tahu.”

Minjoo menarik nafasnya pelan-pelan, ya Tuhan sepertinya dia akan selalu kehabisan nafas kalau sudah menghadapi pria ini.

“Kenapa?” Minjoo masih menatap Baekhyun begitu tajam. Berharap pria itu tertusuk oleh tatapannya, “Kenapa aku tak boleh tahu?”

“Aish.” Baekhyun menutup majalahnya dalam satu sentakan dan menatap Minjoo dengan kesal, “Kenapa kau ingin tahu juga!?”

“Tidak, aku bingung sebenarnya kenapa kita mesti harus langsung pulang seperti ini.” Minioo merenguh kesal pada Baekhyun. Padahal Baekhyun bilang tadi saat di perjalanan menuju restoran mereka akan pulang malam. Minjoo belum membeli bingkisan untuk teman-temannya masalahnya. “Apa masalahnya yang membuatmu ingin langsung pulang? Investor dari Tiongkok itu ingin langsung cepat-cepat melaksakanan proyek di Korea?”

Baekhyun bergeming selama beberapa detik, bergulat sesuatu di pikirannya namun detik setelahnya dia langsung memutar tubuhnya dari Minjoo.

“Aku lelah. Jangan ganggu aku.”

Minjoo mengangakan mulutnya sambil tertawa pahit, “Ya! Byun Baekhyun! Kita belum selesai berbicara, ada masalah apa sebenarnya!?”

Baekhyun tetap mengacuhkannya dan seperti mengerti apa alasan dibalik banyak-tanya-nya Minjoo saat ini, ia membalas kata-katanya. “Tutup mulutmu. Kalau yang kau khawatirkan karena kau belum membeli bingkisan untuk teman-temanmu, tenang saja aku sudah membelinya.”

Minjoo yang mendengar itu langsung membinarkan matanya dan membuang seluruh emosinya entah kemana. Sepertinya yang manusia mutan itu adalah Han Minjoo.

“Kau telah membelikannya!? Aih, terima kasih, Baekhyun-ah!”

Baekhyun hanya mendengus pelan dan tetap memunggungi Minjoo. Pikirannya melayang kembali saat dia bertemu dengan Luhan di restoran tadi.

~

~

“Kau tahu dimana gadis itu tinggal?”

Baekhyun menegangkan tubuhnya, dia tahu siapa ‘gadis’ yang Luhan maksud maka ia sebisa mungkin untuk menenangkan dirinya.

“Tidak. Aku tak tahu. Aku sudah lama tidak bertemu dengannya.”

Luhan mengernyit sambil menatapnya curiga, “Kau yakin tak tahu? Aku tahu bahwa perusahaanmu itu milik keluargamu dan keluarganya, Baekhyun-ah..”

Ada sedikit keringat yang muncul di pelipis Baekhyun namun sebisa mungkin Baekhyun tak membuatnya kentara, “Kudengar terakhir kali dia juga sekolah ke luar negeri tapi aku pun tak yakin. Aku saja baru kembali sekitar satu bulan yang lalu. Aku tak ada waktu untuk bertemu atau mencarinya karena aku langsung menjabat sebagai direktur utama saat itu.”

Baekhyun tahu bahwa kebohongannya itu begitu kentara di telinga Luhan, tapi mau bagaimana lagi. Dia tidak boleh memberitahu keberadaan Minjoo pada pria itu.

“Baiklah. Aku percaya padamu.”

~

~

Apa yang Baekhyun lakukan itu benar-benar pecundang, dan Baekhyun tahu itu. Ia menyembunyikan Minjoo mati-matian dari seseorang yang pernah menjadi masa lalu gadisnya. Meski sampai detik ini Baekhyun tak tahu kelanjutan hubungan mereka bagaimana saat dia pergi, Baekhyun hanya takut Luhan masih menyimpan perasaannya dan begitu juga sebaliknya dengan Minjoo. Hanya menunggu waktu, Minjoo bisa saja kembali jatuh ke pelukan Luhan.

Apakah kalian berpikir bahwa yang Baekhyun lakukan salah di saat dia hanya ingin mempertahankan Minjoo disampingnya? Baekhyun berani bertaruh bahwa kalian akan melakukan yang sama dengan apa yang ia lakukan sekarang jika kalian berada di posisinya.

“Aku baru saja mendapatkanmu kembali, Minjoo-ya. Kau tidak bisa jatuh kepada siapapun lagi.”

“Aku tak boleh membiarkan itu.”

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Sehun menghembuskan nafas pada tangannya yang terkepal. Sesekali juga pria itu menatap jalanan di hadapannya dengan bibir yang mengerut. Tak selang dari situ, seseorang yang menjadi pemilik rumah dimana ia duduk persis di hadapan pintunya muncul dari sebrang jalan. Kini gadis itu tengah berjalan ke rumahnya.

“Ya. Lee Yubi.”

Yubi mendongak, menemukan Sehun yang baru saja berdiri dari tangga penghubung rumah kontraknya. Melihat Sehun disana entah kenapa membuat Yubi menurunkan suasana hatinya.

“Hm. Ada apa, Sehun-ah.” suara Yubi sangat kelewat bermalas-malasan.

“Ya. Kemarin ini aku habis berkencan dengan seorang gadis.” Sesaat mendengar itu, entah kenapa Yubi merasakan hatinya begitu remuk seperti baru saja kejatuhan batu satu ton. “Tapi gadis ini berbeda dari yang biasanya aku kencani, Yubi-ya. Dia lembut, sangat manis, dan tawanya itu! Wah benar-benar gadis yang belum pernah kutemui seperti biasanya!”

Yubi hanya menghembuskan nafasnya perlahan. Harusnya dia terbiasa dengan ini semua, Sehun sudah sering menceritakan banyak gadis padanya tapi kenapa yang saat ini begitu membuat Yubi merasa ia harus berhenti mendengarkan ceritanya.

“Kencani saja dia kalau begitu.”

Yubi terpaksa mengatakan itu karena dia pikir sudah saatnya ia berhenti peduli pada Sehun dan sekitarnya. Nyatanya pun, Yubi tak pernah ada dalam kategori gadis yang Sehun ingin kencani.

“Aku lelah, Sehun-ah. Jangan meminta pendapatku dahulu.”

Yubi baru saja mau melangkah masuk ke dalam sebelum Sehun menahan tangannya.

“Kenapa? Kenapa kau seperti ini?” Sehun bertanya dengan tatapan yang begitu serius. “Biasanya kau akan memakiku, menceramahiku, memukulku, atau mengancamku kalau aku bertemu gadis yang baru. Kau juga sudah jarang bertemu denganku, makan siang pun tidak pernah lagi bersamaku. Kenapa kau seperti ini?”

Yubi berusaha sekuat mungkin untuk menenangkan hatinya, sebenarnya dia ingin meledak. Tapi dia tidak bisa.

“Aku hanya lelah.” Yubi berusaha menarik tangannya dari Sehun. “Aku ingin tidur, Sehun-ah.”

“Apa ini karena Jongsuk Oppa-mu itu?” Sehun menatap Yubi lurus-lurus tapi Yubi menghindarinya. “Itu semua karenanya, iya? Jadi kau melupakan sahabatmu, begitu?”

Entah kenapa saat mendengar Sehun mengatakannya sahabat, hati di balik dadanya tiba-tiba panas sampai ke ubun-ubun kepalanya padahal Yubi tahu hati itu sudah retak sejak lama. Tanpa sadar, air matanya telah turun dan dia langsung mendongakkan kepalanya. Menatap Sehun lurus-lurus namun dengan api di matanya.

“Ini karenamu.” Yubi menghentakkan tangan Sehun hingga terlepas darinya. “Ini karenamu, sialan.”

Sehun mengangkat alisnya, “Aku?”

Yubi mengangguk berkali-kali sambil terus membiarkan air mata itu turun dari matanya, “Ini semua karenamu! Aku lelah hanya terus menjadi bayanganmu! Lelah hanya terus menjadi tempatmu menaruh keluh kesal, atau hanya teman makan siang istirahat, atau juga hanya menjadi target bercandaanmu! Aku lelah menceramahimu masalah wanita disaat kau sendiri pun tak akan mendengarkan nasihatku! Aku lelah dengan itu semua, Sehun-ah.”

Yubi menahan tangannya untuk tidak menampar Sehun maka ia hanya bisa menggigit bibirnya, “Maka dari itu, pergi dari hadapanku. Aku benar-benar tidak mau melihatmu lagi.”

Dengan sekuat tenaga yang tersisa, Yubi mencoba melangkahkan kakinya menjauh dari Sehun. Tapi, untuk kedua kalinya, Sehun berhasil menahan tangannya.

“Lepaskan, sialan!”

“Kenapa? Kenapa kau lelah menghadapiku?” Sehun tampak frustasi di tempatnya dan terus menahan lengan Yubi. “Aku tidak akan melepasmu sampai kau memberitahu alasannya!”

“Aku menyukaimu, bodoh!” Yubi berteriak kencang. Dan itu mampu membuat Sehun melemaskan eratannya pada Yubi.

“Aku menyukaimu, sialan. Kau tidak bisa melihat itu? Ah, kau memang tidak pernah melihatku juga.”

Yubi melepaskan tangannya dari Sehun sambil menghapus air matanya, “Maka dari itu, pergilah. Aku tak mau melihatmu. Hatiku hanya sakit kalau terus melihatmu.”

Dalam satu sentakan, kali ini Yubi berhasil menjauh dari Sehun dan masuk ke rumahnya. Meninggalkan Sehun yang berdiri kaku sambil meratapi kepergian Yubi dari balik pintu rumahnya.

Satu sisi Sehun merasakan ada yang tertekan hingga membuatnya merasa kehabisan oksigen di dalam paru-parunya. Melihat Yubi menangis karenanya, entah kenapa membuat Sehun sulit bernafas.

Tapi, ada satu sisi Sehun yang merasakan sebuah perasaan hangat di dalam dadanya. Yang entah kenapa, itu membuat bebannya selama beberapa hari setelah mengetahui Yubi mengencani Jongsuk itu terlepas dari pundaknya.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Baekhyun sedang memerhatikan bagan profit perusahaan selama sebulan ke belakang sebelum ia mendengar sebuah ketukan di pintunya. Dia menyahutinya dan lalu menyuruhnya masuk.

“Ah, Luhan-ah.” Baekhyun berdiri dari tempatnya sesaat ia melihat Luhan masuk.

Luhan tersenyum lalu beringsut untuk menghampiri Baekhyun yang tengah menghampirinya, “Hello, brother.

Baekhyun hanya terkekeh pelan lalu setelahnya ia menyuruh Luhan untuk duduk di sofanya. Sebelum beranjak untuk berbicara dengan Luhan, ia menatap Yubi yang mengantar Luhan tadi.

“Terima kasih, Yubi-ssi.” Dan Yubi mengangguk pelan seraya pergi setelahnya.

“Kau mau minum apa? Tapi aku hanya punya minuman dingin disini..” Baekhyun bertanya masih dengan berdiri karena ia bersiap untuk mengambil minuman di lemari pendingin yang terletak di pojok ruangan.

Luhan menanggapinya hanya dengan acuhan bahu, “Terserah saja.”

Baekhyun mengangguk pelan lalu mengambil dua kaleng soda dari lemari pendingin. Setelahnya, Ia berjalan ke sofa kembali sambil menaruh minuman tersebut di hadapan Luhan.

“Harusnya aku bisa memberi minuman lain disaat kau adalah orang penting untuk perusahaanku..”

“Hey.” Luhan tertawa pelan, “Jangan seperti itu. Aku kesini juga sebagai temanmu.”

Baekhyun tersenyum mendengarnya, “Kau sampai di Korea kapan?”

Kini Luhan perlahan membuka kaleng sodanya, “Hm, sekitar dua hari yang lalu?” ucapnya sambil tengah berpikir, “Iya, dua hari yang lalu.”

Baekhyun pun mengikuti jejaknya untuk membuka kaleng soda dan ia bertanya kembali, “Sebenarnya ada urusan apa kau pergi ke Jepang?”

“Aku mempunyai perusahaan cabang juga di Jepang, Baekhyun-ah. Kemarin perusahaan itu sedang mengalami masalah jadi aku berkunjung kesana. Aku tinggal selama sebulan, sebenarnya..”

“Wah..” Baekhyun menatap Luhan dengan terpukau, “Kau ini keren sekali ya? Perusahaanmu sangat besar juga..”

Luhan hanya tersenyum menanggapinya, “Ah, aku kemari karena ingin melihat data proyek kita. Kau bilang kau sudah menyusunnya, benar? Sebelum kita melaksanakan rapat, aku ingin melihatnya dahulu.”

Baekhyun menaruh kaleng sodanya sambil mengangguk-angguk perlahan, “Akan aku ambilkan. Tunggu sebentar.”

Baekhyun berdiri dari tempatnya dan perlahan berjalan menuju mejanya lalu membuka file-filenya. Selama beberapa saat ia masih mencoba untuk menemukan data proyek yang Luhan maksudkan namun sampai semua file-file itu tersisihkan, ia tak bisa menemukannya. Itu membuat dirinya menarik ponsel dari saku celananya dan mencari kontak Minjoo disana. Sesaat setelah kontak Minjoo muncul, ia baru sadar akan sesuatu.

Luhan ada disini, di tempatnya. Baekhyun sama sekali tidak boleh membiarkan Minjoo bertemu Luhan karena selain ia tahu ada kemungkinan yang sangat besar bahwa Luhan masih menyukai Minjoo, Baekhyun juga telah berbohong pada pria itu dengan mengatakan bahwa Baekhyun tak mengetahui keberadaan Minjoo. Mungkin dia akan dianggap pengkhianat oleh Luhan dan saat ini bukanlah kondisi yang tepat untuk membuat benteng dengan Luhan. Ingat, dia itu investor penting di perusahaannya.

Baekhyun pun mengurungkan niatnya untuk menelepon Minjoo dan lantas mencari kontak Chanyeol di ponselnya.

“Halo, Chanyeol-ah. Aku mau minta tolong padamu untuk mengambil data laporan proyek dengan perusahaan Tiongkok di manager marketing dan berikan padaku.” Dia sedikit melirik Luhan yang berada di tempatnya, berharap bahwa Luhan tak mendengarnya. “Jangan membiarkan Minjoo yang membawanya, hm? Aku mohon kau yang membawanya kemari, terima kasih.”

Baekhyun pun mematikan ponselnya dan berjalan kembali menuju Luhan. Ternyata, saat kau memutuskan untuk berbohong, kau harus membuat kebohongan-kebohongan yang lainnya untuk tetap menjaga kebohongan utamamu itu. Dan Baekhyun sedang berada di posisi tersebut, sekarang ini.

.

.

Chanyeol berjalan keluar dari ruangannya dan saat itulah ia menemukan Yubi di depan pintu ruangan.

“Oppa, kau mau kemana?” tanya gadis itu tepat saat berpapasan dengan Chanyeol.

“Aku mau mengambil laporan datanya Baekhyun. Hm, sedikit aneh karena dia menyuruhku dan bukannya menyuruh Minjoo.”

“Benarkah? Tadi juga Baekhyun menyuruhku menjemput tamu yang menjadi investor perusahaan kita dan bukannya menyuruh Minjoo eonnie yang melakukannya.” Yubi mengingat bagaimana Baekhyun meneleponnya dan berkata untuk stand by di lobby utama, menunggu kedatangan Luhan disana. “Ini aneh, Oppa. Apa mereka bertengkar?”

“Kalau mereka bertengkar itu tidak aneh, Yubi-ya. Sudah, Oppa harus mengambil laporannya dahulu.”

Chanyeol pun berjalan kembali meninggalkan Yubi menuju ruangan manager marketing. Setelah mendapatkan laporan tersebut, Chanyeol kembali berjalan ke lift, menuju ruangan Baekhyun di lantai teratas. Namun, saat di lift itulah ia malah bertemu dengan Minjoo disana.

“Park Chanyeol.” Minjoo keluar dari lift dan memerhatikan tumpukan data yang dibawa oleh Chanyeol. “Apa itu? Untuk Hyojoo eonnie?”

“Bukan. Ini untuk Baekhyun.”

Minjoo mengernyitkan dahinya, “Kenapa kau membawanya untuk Baekhyun?”

“Entahlah, tadi dia menyuruhku. Kalian sedang bertengkar hebat? Sampai-sampai dia tak mau melihatmu.”

Minjoo keherenan setengah mati. Perasaannya mengatakan bahwa mereka dalam kondisi baik-baik saja, terlebih setelah kejadian yang di Jepang. Ya meski umpatan, makian dan saling-menghinanya belum berhenti, tetap saja itu kan hanya sekedar bumbu-bumbu suasana yang selalu mereka ciptakan?

“Sini, biar aku saja yang membawakannya.” Minjoo mencoba mengangkat data laporan tersebut. “Kalau dibilang sedang bertengkar ya kau tahulah kalau aku pasti akan selalu bertengkar dengannya. Tapi, aku tidak dalam kondisi sampai sangat benci untuk menemuinya.”

“Makanya aku bertanya ‘kalian sedang bertengkar hebat?’ dan bukannya ‘kalian sedang bertengkar?’. Aku tahu kalian memang setiap hari bertengkar.”

Minjoo hanya tertawa terpaksa sambil mengangkat laporan tersebut. “Terima kasih, Park Chanyeol. Sekarang aku akan menunjukkannya bahwa aku sekretaris yang bertanggung jawab.” Lalu setelahnya dia menekan tombol lift dan menunggunya. “Dia itu benar-benar iblis ya? Disaat urusan perkantoran seperti ini malah menyuruh sekretaris lain untuk mengerjakannya. Wah! Aku ingin mengumpat kencang-kencang rasanya!”

Chanyeol hanya menatap Minjoo nanar mendengar itu.

.

.

“Kudengar Han Minjoo ada di Korea, Baekhyun-ah.”

Baekhyun langsung terdiam kaku di tempatnya. Perlahan juga ia menghilangkan senyumannya sesaat sebelumnya mereka tengah membicarakan pertandingan sepak bola.

“Kemarin aku bertemu dengan beberapa temanku. Aku bertanya padanya tentang Minjoo dan mereka bilang mereka pernah melihat Minjoo disini.” Luhan menjeda perkataannya sambil mengernyitkan keningnya, “Ah! Mereka juga bilang bahwa Minjoo sudah menikah!” Dia menatap Baekhyun sambil mendecakkan lidahnya, “Wah.. sangat disayangkan sekali, bukan?”

Saat itu Baekhyun benar-benar merasa bahwa dia sekecil semut. Ia seperti ditimpa dengan kebohongannya yang tiba-tiba seberat satu ton di atasnya. Entah ia merasa bersalah atau ketakutan, yang jelas tiba-tiba sendinya hilang pada pijakannya.

Melihat Baekhyun yang tetap bergeming pun membuat Luhan sadar atas omongannya. Ia rasa ia salah berbicara, “Ah. Maaf. Kurasa kau masih menyukainya, ya? Maaf karena berbicara seperti itu.”

Baekhyun menghiraukan perkataan itu dan masih tetap bergeming setelahnya. Beberapa detik tak jauh dari situ, ia mendengar ketukan di pintunya. Baekhyun langsung tersadar dan mendongakkan kepalanya.

“Masuklah, Chanyeol-ah.”

Saat kenop pintunya tengah mencoba terbuka, Baekhyun memasang senyumnya. Namun, saat pintu itu benar-benar terbuka dan memunculkan gadisnya disana, Baekhyun kehilangan senyumannya.

Kini, ia benar-benar merasa pijakannya di telan oleh bumi.

“Ya. Kenapa menyuruh Chanyeol yang membawanya—“ Minjoo menutup mulutnya sesaat ia mengetahui bahwa Baekhyun tidak sendirian disana. Ada seorang pria yang memunggunginya.

Ia merutuki kebodohannya lalu membungkukkan badannya, “Maafkan saya, Tuan.”

Luhan melihat Baekhyun yang hanya terdiam menatap seseorang di belakangnya. Dia kebingungan, maka Luhan memutuskan untuk memutar tubuhnya. Melihat sesuatu yang membuat Baekhyun membeku di tempatnya.

“Ya, Baekhyun-ah kau kenapa—“ Luhan menghentikkan perkataannya sesaat Minjoo telah menegakkan lagi tubuhnya. Menatap Minjoo dengan tak percaya.

“Kau.. Han Minjoo, benar?”

Minjoo membenarkan rambut yang sedikit teracak sambil memerhatikan pria itu. Dia memang tampak tak asing bagi Minjoo sesaat Minjoo melihat punggungnya namun tetap saja, Minjoo tak bisa mengenalinya.

“Siapa..?”

“Ini aku, Luhan. Sunbae-mu.”

Luhan melirik ke arah Baekhyun dengan senyuman di sudut bibir yang terangkat. Jelas sekali, pria itu tersenyum sarkastik atas kekecewaannya pada Baekhyun yang membohonginya.

“Oppa-mu.” Tambah Luhan lagi dan telah menolehkan kepalanya kembali pada Minjoo.

Minjoo langsung kaget namun ia membinarkan matanya.

“Sunbae!!”

Saat itu, Baekhyun menyadari bahwa perjalanannya untuk mendapatkan Minjoo masih panjang. Sangat panjang, malah. Yang kemarin dan selama ini hanya merupakan awal dari perjuangannya dan itu bukanlah apa-apa untuk menilai perjuangan. Inilah yang akan menjadi kategori penilaiannya, apakah pada akhirnya ia berhasil mendapatkan Minjoo untuk selamanya.

Atau ia malah tetap mendapatkan hasil yang sama dari enam tahun lalu, bahwa Minjoo memang tidak pernah menyukainya dan ia tak bisa mendapatkan Minjoo untuk selamanya.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Luhan baru saja datang membawa dua mangkuk es krim di nampannya. Dengan senyuman tampannya, ia membawa es krim tersebut ke mejanya bersama Minjoo.

“Wah!” Minjoo berseru seperti anak kecil, tipikalnya. “Ini terlihat enak!”

Luhan tertawa dan ia memberikan sendoknya pada Minjoo, “Kau itu masih sama saja ya? Selalu memintaku untuk mentraktirmu eskrim..”

Minjoo tertawa pelan dan ia mulai menyendokan satu suapan ke mulutnya. Saat es krim itu berada di mulutnya, ia merasakan bahwa ia sedang memakan es krim terenak sejagat raya. Ayolah, Han Minjoo. Benar-benar berlebihan.

“Ini enak sekali, Sunbae!” Minjoo tersenyum lebar. “Sunbae tahu dari mana tempat ini?”

“Aku melihatnya di internet. Katanya es krim ini es krim terenak di Seoul.” Minjoo mengangguk-angguk dan kini tengah memakan es krim untuk sendok kedua.

“Omong-omong.. jangan memanggilku ‘sunbae’ lagi, Han Minjoo. Kita sudah tidak sekolah, Minjoo-ya.” Luhan tersenyum melihat Minjoo memakan es krim begitu bahagia. “Panggil aku ‘Oppa’.”

Minjoo mengangguk-angguk lagi dan melihat ke arah Luhan, “Ok, Oppa! Oppa, makan es krim-mu!” Minjoo menunjuk es krim Luhan dengan dagunya. “Itu sudah mau meleleh.”

“Ah.”

Luhan pun mulai memakannya namun dengan sangat pelan. Ia menikmati pemandangan di depannya, melihat Minjoo yang memakan es krimnya.

Melihat tingkah Minjoo yang seimut ini membuat Luhan teringat dengan masa sekolahnya dahulu bersama Minjoo. Jika ditanya apakah hubungan mereka cukup dekat maka Luhan berani sekali untuk mengangguk yakin karena mereka memang sangat dekat. Meski itu hanya hubungan sebatas senior dan juniornya saja.

Dahulu, seperti yang Luhan sudah bilang, Minjoo kerap kali memintanya untuk mentraktir es krim kalau pria itu menang dalam pertandingan basketnya. Kadang, kalau mereka bertemu di lapangan Luhan akan memanggilnya dan mengerjainya. Minjoo pernah sesekali membantu Luhan untuk membereskan bola-bola yang ada di ruang kerja tim basket. Banyak sekali obrolan dan candaan yang telah mereka bagi bersama dan itu semua membuat Luhan pernah menyayangi Minjoo lebih dari sekedar juniornya. Luhan pernah menyukai Minjoo sebagai gadis. Dan karena ia mengingat perasaan itulah, tiba-tiba Luhan merasakan getaran yang sama untuk Minjoo seperti dahulu kala saat ini.

“Oppa!”

Luhan terkaget sambil melihat Minjoo yang menatapnya kebingungan.

“Oppa kenapa memerhatikanku terus? Es krim-mu benar-benar meleleh!” tunjukknya dengan sendoknya. Luhan melirik ke arah es krimnya sambil terkekeh pelan lalu menatap Minjoo kembali.

“Ya.. Kenapa kau bisa berubah seperti ini, hm?” Luhan melihat mangkuk es krim Minjoo telah hampir habis.

“Kenapa kau bisa jadi lebih manis…”

Minjoo mendengar itu dan langsung tersenyum pada Luhan, “Oppa juga berubah!” Minjoo menunjuk-nunjuk muka Luhan dengan sendoknya. “Oppa jadi semakin tampan! Rasanya aku bisa mendengar semua gadis disini sedang membicarakan Oppa..” Minjoo tampak melirik ke kanan dan kirinya. Benar saja seperti perkataannya, beberapa gadis di sekitarnya tengah memerhatikan Luhan dengan terkagum-kagum.

“Ck. Bagaimana kabarmu, Minjoo-ya?” Luhan menghentikkan memakan es krimnya dan menatap Minjoo lurus-lurus, “Kudengar kau sempat sekolah di luar negeri..?”

Minjoo langsung menggeleng kepalanya mendengar itu, “Tidak. Aku sekolah di Korea saja, Oppa. Aku bukanlah tipikal orang yang terlalu menjunjung tinggi pendidikan, mengingat aku sering bolos jam pelajaran..”

Luhan tertawa kecil sambil setelahnya mengingat perkataan Baekhyun waktu di Jepang. Pria itu telah dibohongi olehnya, rupanya.

“Ah, iya. Oppa kau itu berasal dari Tiongkok?” Minjoo menatap Luhan dengan bingung, “Kenapa Oppa tak memberitahuku?”

“Kau tidak pernah bertanya juga, Minjoo-ya.” Luhan terkekeh pelan dan setelahnya ia melihat Minjoo mengerucutkan bibirnya. Luhan pun kembali melanjutkan perkataannya untuk menghilangkan cemberut Minjoo itu, “Aku memang sengaja tidak memberitahu siapapun, Minjoo. Tidak ada satu pun temanku yang tahu sebelum akhirnya aku memutuskan kembali ke Tiongkok setelah kelulusanku.”

“Ah, itu sebabnya aku tak pernah bertemu Oppa lagi setelah kau lulus?”

Luhan mengangguk-angguk, “Kau merindukanku ya?”

Minjoo berdecak pelan, “Hm, aku merindukanmu. Waktu dahulu Oppa benar-benar kakak kelas terbaikku, teman terbaikku! Saat Oppa lulus, aku jadi tidak punya kakak yang bisa kumintai untuk mentraktirku es krim lagi..”

“Ya!” Luhan berpura-pura marah pada Minjoo, “Kau memanfaatkanku selama ini, ya?!”

Minjoo hanya meringis kuda mendengar itu.

“Lalu.. bagaimana dengan Baekhyun?” Luhan menatap Minjoo dengan tatapan penuh arti, “Kau masih bertengkar dengannya?”

Minjoo menganggukan kepalanya, “Kami masih sering bertengkar, tapi.. Oppa harus tahu sesuatu.”

“Apa?”

“Aku menikah dengannya.”

Luhan tampak kehilangan senyumannya dan ia merasakan ada sesuatu yang menekannya,

“Kau.. telah menikah dengannya?”

Minjoo mengangguk-anggukan kepalanya dan menatap Luhan dengan senyuman.

“Kau pasti kaget ya, Oppa? Aku termakan oleh bumerangku sendiri.”

Minjoo tertawa pelan sedang Luhan sama sekali tidak tertawa. Yang ia rasakan adalah emosi yang tiba-tiba menguap di kepalanya. Ia merasa seperti sesuatu yang harusnya menjadi miliknya, telah direbut darinya. Terlebih, mengingat Baekhyun yang membohonginya beberapa hari lalu membuat Luhan mengepalkan tangannya di bawah mejanya.

“Kau mau bermain licik, Baekhyun-ah? Baiklah. Aku juga akan bermain licik.”

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Baekhyun seperti robot yang tak memiliki baterai di mesinnya saat ini. Terdiam membeku dan hanya menatap lantai dingin dibawahnya. Sedingin tangannya saat ini.

Dia telah melakukan aksi mogok bergerak ini dari sejak kebohongan yang hanya bertahan selama lima hari ini terungkap. Bertahannya hanya sebentar, tapi kenapa kebohongan itu memiliki efek yang begitu serius pada Baekhyun.

Baekhyun tahu persis apa keinginan Luhan saat ini. Luhan sudah dua kali bertemu dengannya dan selama dua kali itu juga dia terus membahas Minjoo dengannya. Entah karena pria itu memang ingin membuat Baekhyun panas atau murni hanya ingin membicarakannya, bukankah itu terlalu kentara bahwa Luhan memang masih menyimpan perasaannya pada Minjoo? Dan kalau itu benar, harapan Baekhyun telah hilang dari 60 persen menjadi 30 persen.

Jika kalian menganggap bahwa Baekhyun itu penakut, jelas sekali Baekhyun mengakuinya. Tapi, kalian rasakan saja posisinya sekarang. Baekhyun dan Minjoo memang sudah dinyatakan sah di mata negara, belum lagi Baekhyun sudah pernah menidurinya yang seharusnya artinya Minjoo itu sudah milik Baekhyun sepenuhnya. Meski sudah begitu, Sampai detik ini Baekhyun masih belum tahu apakah Minjoo memiliki perasaan yang sama dengannya atau tidak. Walaupun sudah banyak melalui hal bersama dan terkadang Minjoo menunjukkan perasaan tertarik padanya, tetap saja itu belum cukup untuk membuang kegundahannya. Terlebih, mengetahui Minjoo pernah memiliki perasaan pada Luhan membuat nyali Baekhyun semakin kecil. Kemungkinan besar perasaan itu masih ada di diri Minjoo sangat besar, dan tentunya.. kemungkinan Baekhyun akan kehilangan Minjoo dan yang kali ini untuk selamanya sangat bisa terjadi.

Cklek.

Pintu terbuka dan memunculkan Minjoo dari sana.

“Oh, kau sudah disini, Baekhyun.” Minjoo berjalan terlebih dahulu menaruh tasnya. Baekhyun mendongak dan memerhatikan semua pergerakan Minjoo.

“Kau baru pulang?” Baekhyun sempat menahan kata-katanya namun ia tak bisa mati penasaran, “Kau kemana saja bersama Luhan..?”

“Aku? Hanya makan es krim saja.” Minjoo jadi teringat dengan dirinya yang dipertemukan lagi dengan Luhan setelah sekian lamanya. Ia melirik ke arah Baekhyun dengan curiga.

“Ya.”

Minjoo berjalan menuju Baekhyun yang duduk di tepi ranjang. Ia juga melakukan hal yang persis sama dengan Baekhyun namun tepat disampingnya. “Kenapa kau tak bilang padaku bahwa investor dari Tiongkok itu adalah Luhan Oppa?”

Kalian tahu, mendengar gadis yang kalian suka menyebut mantan pria yang pernah di sukainya dengan sebutan ‘Oppa’ adalah hal yang paling menyebalkan di dunia ini. ‘Oppa’ itu untuk panggilan kepada kekasih jika bukan kakak kandung, untuk informasi kalian.

“Oppa..?”

Kali ini ketakutannya menjadi berkali-kali lipat di dalam tubuh Baekhyun.

Minjoo mengangkat bahunya acuh, “Tadi sunbae memintaku untuk mengganti panggilannya.” Minjoo kembali menatap Baekhyun lurus-lurus dan merasa bahwa pertanyaan tadi hanya pengalihan saja.

“Ya. Jawab pertanyaanku, kenapa kau tak bilang bahwa investor yang kita temui di Jepang itu adalah dia?”

Baekhyun terdiam di tempatnya. Merasa ada sesuatu yang semakin menekannya saat melihat Minjoo mengetahui kebohongannya.

“Kenapa aku harus bilang?”

Minjoo mengangkat satu alisnya, “Tentu saja kau harus bilang. Luhan adalah kakak kelas kita semasa kita sekolah dahulu.” Minjoo terdiam selama beberapa detik namun kemudian ia seperti menemukan alasan Baekhyun secara tiba-tiba.

“Kau… cemburu ya aku bertemu Luhan? Makanya kau tak bilang bahwa investor itu adalah Luhan.”

Ada sebersit harapan bahwa Baekhyun akan menunjukkan sikap cemburunya dan sedikit membuat Minjoo percaya diri dengan perasaan yang ia tumbuhkan kembali beberapa waktu ini. Ayolah, Minjoo pun tak pernah tahu apakah perasaannya ini bertepuk sebelah tangan atau tidak.

“Apakah aku terlihat seperti pria pecemburu di matamu?”

Tapi pria itu memang Byun Baekhyun si dingin dan sinting gila. Minjoo salah berharap pada pria yang tampangnya hanya akan datar meskipun gunung meletus di hadapannya. Paman dan Bibi Byun bukan manusia es padahal.

Minjoo hanya mendengus pelan mendengar itu, “Lalu kenapa kau tidak bilang bahwa itu Luhan Oppa, hm? Apa alasanmu?”

“Kenapa kau butuh alasanku? Bukankah kau senang bertemu dengannya tanpa mengetahui alasan dariku.”

Minjoo telah kehilangan harapannya untuk mendapati Baekhyun cemburu tepat di matanya dan akhirnya ia menghembuskan nafasnya seraya menaikkan emosinya.

“Kau benar, aku senang bertemu dengan Luhan Oppa! Kelewat senang, malah!” Minjoo berteriak sambil menatap Baekhyun tajam, “Kau puas!?”

Baekhyun hanya mendengus pelan mendengar itu, “Terserah denganmu. Pergi sana, aku ingin tidur.”

Baekhyun pun mulai membaringkan tubuhnya dan memunggungi Minjoo yang masih duduk di tepi ranjang. Gadis itu melihat Baekhyun dengan umpatan yang tak berhenti di mulutnya sedangkan Baekhyun baru saja membuat kebohongan yang lainnya.

Dia tidak tidur, dia membuka matanya. Sedang mencoba menahan rasa sakit dan takut yang menyergap seluruh tubuhnya.

.

.

Hari ini Baekhyun berencana pergi berkunjung ke gedung toko perusahaannya untuk mengecek pemasaran disana. Ia baru saja turun dari liftnya, bermaksud untuk berangkat, sebelum ia menemukan seseorang yang membuat langkahnya berhenti di lobby utama.

Pria yang menjadi kekhawatirannya beberapa hari ini ada disana. Dengan pandangan yang menoleh ke kanan dan kiri. Siapa lagi kalau bukan Luhan, tentunya.

Mencoba untuk mengenyampingkan perasaan pribadinya dan berpikir positif bahwa maksud Luhan kemari adalah untuk mengurusi pekerjaan, Baekhyun pun menghampirinya dengan mantap.

“Oh, Luhan.” Baekhyun tersenyum pada Luhan. “Kau disini? Kenapa kau tak menghubungiku?”

Luhan tersenyum pelan, “Aku kemari bukan untuk menemuimu, Baekhyun-ssi.”

Baekhyun pun memudarkan senyumannya.

“Aku kemari untuk bertemu Minjoo.”

Rasanya, emosi Baekhyun meluap sampai ke ubun-ubun kepalanya detik ini. Kalau dia tidak ingat bahwa dia adalah orang yang tengah memohon investasi pada Luhan, Baekhyun sudah dipastikan akan menghabisi Luhan saat ini juga.

“Kenapa kau ingin bertemu dengan Minjoo? Bukankah yang mempunyai urusan pekerjaanmu adalah aku?”

“Aku tidak hanya mengurusi pekerjaan saja disini.” Luhan berbicara dengan nada semenyebalkan mungkin. “Aku punya urusan lain di kantormu. Terlebih pada gadis itu.”

Baekhyun benar-benar merasakan pitam itu kini meledak di kepalanya. Sesaat setelah mengatakan itu, Luhan mengalihkan pandangannya dan berkata selayaknya bernyanyi.

“Han Minjoo… kau dimana ya…”

Luhan hampir saja melewati Baekhyun sebelum tangan Baekhyun menahannya begitu kencang.

“Menjauhlah darinya.” Baekhyun berbisik pada Luhan. Percayalah, kalau kalian mendengarnya kalian akan takut setengah mati. “Aku yakin Minjoo telah bilang bahwa dia sudah menikah.”

“Ck.” Luhan berdecak pelan lalu menghempaskan tangan Baekhyun begitu keras. “Dia sudah memberitahuku dan apa kau pikir aku akan berhenti sampai situ saja?”

Luhan menatap Baekhyun tak kalah tajamnya dengan Baekhyun. Jarak mereka sengaja mereka tipiskan, mereka tidak mungkin saling mengumpat dengan suara yang begitu keras mengingat mereka adalah dua petinggi yang sedang saling bekerja sama.

“Aku bukanlah tipikal orang seperti itu. Aku.. paling tidak suka apa yang seharusnya menjadi milikku direbut oleh seseorang yang bermain licik denganku.”

Baekhyun mengerti apa yang Luhan maksud licik dari katanya. Membohonginya, berusaha menyembunyikan Minjoo darinya.

“Kau tidak lupa bukan siapa yang pernah ada di hati Minjoo?” Luhan menatap Baekhyun dengan marah. “Itu aku, sialan.”

Karena situasi makin mencekam, beberapa orang yang melihat mereka saling beradu tatapan itu mulai curiga bahwa mereka sedang bertengkar. Untuk mengilangkan kecurigaan itu, Luhan pun sedikit menjauh dari Baekhyun lalu tersenyum lebar.

“Aigoo! Kalau begitu sampai jumpa lagi kawan lama!”

Dia menarik tubuh Baekhyun ke dalam pelukannya namun ia mengatakan satu hal yang membuat rasa takut Baekhyun semakin menjadi di dalam tubuhnya.

“Meski kau telah memilikinya, aku tidak akan berhenti sampai situ saja. Aku akan membuatnya kembali padaku, membuat perasaannya yang dahulu pernah ada untukku tumbuh kembali di hatinya. Tunggu saja penderitaanmu sampai saat itu, Baekhyun-ssi.”

Luhan melepas pelukannya dan bertingkah seperti orang yang baik kembali. Tersenyum lalu menepuk-nepuk pundak Baekhyun beberapa kali. Tak selang dari situ, ia berjalan menjauh darinya, menuju keluar gedung.

Meninggalkan Baekhyun dengan sendinya yang hampir menghilang detik ini juga.

.

.

Baekhyun baru saja berhasil memarkirkan mobilnya di garasi rumahnya. Rumah orang tuanya, maksudnya, lalu dia berjalan menuju pintu rumah.

Tepat setelah nada dari bel berhenti bersuara, pintu rumah Baekhyun terbuka oleh Ibunya yang menampakkan diri dari sana.

“Baekhyun-ah!” Ibu Baekhyun tersenyum lebar, “Kenapa kau pulang?” Kemudian Ibu Baekhyun mencondongkan kepalanya keluar sambil melihat ke kanan dan ke kiri.

“Minjoo tak ikut bersamamu?”

Baekhyun menggeleng pelan seraya tersenyum. “Dia di rumah, Ibu. Aku kemari hanya ingin mengambil beberapa barangku.”

“Ah, begitu rupanya.” Akhirnya Ibu Baekhyun pun membiarkan Baekhyun masuk ke dalam rumah.

“Kupikir kau datang kemari karena kau akan menginap. Kau tak merindukan rumah Ibu apa?” ucap Ibu Baekhyun setelah mereka berada di dalam rumah.

Baekhyun yang mendengar itu hanya tersenyum geli sambil menggeleng kepalanya.

“Aku lebih merindukan rumah baruku dibanding rumah Ibu.”

“Ya.” Ibu Baekhyun menepuk pundak Baekhyun pelan, “Jahat sekali kau berbicara seperti itu pada Ibu. Sebegitu senangnya kah kau telah menikah dengan Minjoo?”

Baekhyun terkikik pelan mendengarnya lalu setelahnya ia melirik ke setiap sudut ruangan, “Aku tak menemukan Ayah. Ayah pergi?”

“Ayahmu sedang memancing bersama Ayah Minjoo. Biasa, menghabiskan hari tua mereka.”

Baekhyun mengangguk-angguk lalu kemudian dia teringat dengan tujuan utamanya datang kemari, “Ah, Ibu. Aku harus pergi ke kamarku sekarang. Aku mau mencari barangku dahulu.”

Ibu Baekhyun menyetujui dan akhirnya membiarkan Baekhyun meninggalkannya untuk berjalan ke lantai dua, dimana kamarnya berada.

Sesaat Baekhyun membuka kamarnya, dia menemukan kamar itu seperti berpenghuni tapi kasurnya terlampau rapi untuk seseorang yang tinggal di kamarnya. Masih begitu bersih seperti saat dia terakhir kali meninggalkannya. Mungkin Ibunya sangat menyayanginya hingga tetap membersihkan kamar Baekhyun meskipun Baekhyun sudah tidak tinggal bersamanya.

Baekhyun tersenyum sendu mengingat Ibunya namun lalu dia berjalan menuju lemarinya, membukanya lebar-lebar, sedikit mengacak-acak bajunya dan menemukan sebuah kotak disana. Kotak cukup besar berukuran 30x30cm berwarna coklat yang tersembunyi di balik tumpukan bajunya.

Perlahan Baekhyun menarik kotak itu dari dalam sana dan mengeluarkannya. Ia terduduk di tepi ranjangnya dan menaruh kotak tersebut di atas pahanya. Detik setelahnya ia membuka kotak tersebut.

Kotak itu adalah ‘Kotak-Minjoo’, begitu Baekhyun menamainya. Karena di kotak itulah ia menyimpan semua kenangan penting bersama Minjoo-nya, dari masa kecil hingga enam tahun yang lalu. Terdapat berbagai foto dirinya dengan Minjoo, dari mereka masih menggunakan seragam taman kanak-kanak sampai seragam SMA mereka. Ada juga berapa pemberian Minjoo seperti puisi Minjoo yang dibuat untuknya, origami pertama yang Minjoo buat lalu diberikan padanya, ada lagi beberapa gantungan kecil yang pernah Minjoo berikan padanya. Terlalu banyak barang yang harus disebutkan dan terlalu banyak kenangan yang disimpan disana.

Tujuan Baekhyun membuka kotak itu adalah untuk mencari kotak lain namun berukuran jauh lebih kecil dari kotak coklat ini. Berukuran lima kali lima sentimeter, berwarna pink dengan pita bening di atasnya. Kotak yang berisi hadiah untuk ulang tahun Minjoo yang ke tujuh belas. Yang menjadi alasan dari keterlambatan Baekhyun di hari spesial gadis itu.

Baekhyun menatap kotak ini penuh dengan perasaannya, terkadang ia merasa menyesal tidak pernah memberikan hadiah ini di hari ulang tahun Minjoo karena jika saja ia bisa memberikan ini pada Minjoo, secara tidak langsung ia berhasil mengklaim Minjoo adalah miliknya melalui benda tersebut.

Baekhyun menggenggam kotak itu begitu erat. Dan perkataan Luhan muncul kembali di kepalanya.

“Aku tidak akan berhenti sampai situ saja.”

“Aku akan membuatnya kembali padaku, membuat perasaannya yang dahulu pernah ada untukku tumbuh kembali di hatinya.”

Baekhyun hanya bisa menunduk sambil menutup matanya. Mencengkram erat kotak itu di tangannya. Lagi dan lagi, perasaan takut itu kembali menyerang sekujur tubuhnya.

.

.

“Kenapa acara televisi hari ini tidak ada yang seru ya?” Minjoo terus saja memindahkan saluran televisinya, entah itu maju atau mundur. Sambil sesekali mengambil strawberry yang telah ia cuci di atas piringnya.

“Aish. Benar-benar tidak ada acara yang seru!”

Minjoo bangkit dari tidurannya di sofa lalu melempar kasar remote itu pada sofa. Dia mengerucutkan bibirnya dan mengingat apa yang Baekhyun katakan tadi pagi.

 

“Kau tak perlu pergi kerja hari ini. Aku akan keluar kota, kau tak usah ikut.”

 

“Kenapa aku tak usah ikut!? Padahal kalau ke luar kota setidaknya aku bisa jalan-jalan!” Minjoo sempat berpikir sebentar. “Apa dia sudah berhenti menyukaiku—Ya!” Minjoo rasa dia mau gila. Dia pun memukul-mukul mulutnya.

“Sadarlah, Han Minjoo! Baekhyun tidak pernah menyukaimu! Hanya kau yang menyukainya!”

Dia berdecak sebal lalu mengambil remote itu kembali. Sepertinya kalau ada juara muri untuk memindahkan saluran televisi terbanyak dalam satu hari, Minjoo yakin bisa memecahkannya hari itu.

“Hm?” Minjoo berhenti pada salah satu acara memasak. Saat ini acara tersebut tengah menayangkan bagaimana caranya membuat kue beras yang enak dengan berbagai rasa.

“Wah, sepertinya enak!”

Minjoo terus menonton acara tersebut, memerhatikan setiap pembuatannya dari bagaimana mengaduk adonannya, memberi takaran gulanya, lalu merebusnya. Melihat itu semua membuat Minjoo berpikir ide gila untuk bisa memenangkan hati Baekhyun.

“Apa Baekhyun menyukai ini ya?” Minjoo terus memerhatikan si koki yang saat ini sedang membentuk adonannya. “Tidak ada orang Korea yang tidak menyukai kue beras sih—Han Minjoo!”

Minjoo pun mengambil remote lagi lalu memindahkannya ke saluran yang lain. Setelah memindahkan saluran tersebut, Minjoo melemparkan remotenya kembali dan menutup kedua kupingnya. Merasa bahwa setan-setan itulah yang membuat bisikan untuk jantungnya.

“Apa yang kau pikirkan, Han Minjoo! Kau sedang tidak mencoba untuk memenangkan hati Baekhyun bukan!?” Dia kemudian merundukkan pandangannya pada jantungnya, “Jantung! Kau tak boleh membiarkan otakku membuat pikiran-pikiran gila! Sama sekali tidak boleh!!”

.

.

Namun pada akhirnya disinilah ia berdiri. Di depan pantry dapur dengan berbagai bahan dan peralatan yang digunakan untuk memasak kue beras seperti di saluran yang ia lihat beberapa jam yang lalu. Setelah memutuskan untuk berbelanja ke supermarket yang tujuan awalnya hanya ingin membeli cemilan, ia menjadi tertarik untuk membeli tepung, pewarna makanan alami dan juga perisa alami. Benar-benar mengikuti seperti apa yang koki di saluran tadi.

“Baiklah. Tidak apa-apa sekali-sekali aku gila. Aku akan mengikutimu jantung!” Dia mengatakan itu untuk memotivasinya dan mulailah dia berutak-atik dengan bahan-bahan itu. Minjoo tampak serius membuatnya, mengikuti setiap perkataan dari koki dengan modal mengulang acara tadi di internet ponselnya. Sesekali ia tak sengaja menorehkan beberapa tepung pada wajahnya, tak peduli juga kalau dia merasa pegal saat tangannya harus mengaduk adonan yang lumayan banyak.

Tentu saja dia serius, Minjoo melakukan ini murni dari hatinya yang menyuruh. Ingin sekali saja dia bisa membuat hati Baekhyun yang berdetak dan bukan terus miliknya. Ingin sekali saja Minjoo melihat Baekhyun senang karena atas apa yang ia lakukan, bukan terus merasa kecewa dan marah padanya. Minjoo ingin sekali saja Baekhyun bisa melihatnya, menatapnya, dan memberikannya pancaran perasaan suka itu padanya. Meski menurut Minjoo itu akan sulit sekali untuk dia dapatkan, Minjoo harus tetap berjuang.

Minjoo tak salah bukan kalau dia ingin memperjuangkan hatinya?

.

.

Baekhyun membuka pintu rumahnya dan mencium wangi adonan yang begitu kentara di penjuru ruangan. Ia mengikuti harum tersebut dan menemukan dapurnya seperti baru saja kemalingan. Sangat berantakan dengan berbagai alat yang bahkan hingga menyentuh ke lantai ujung mendekati pintu ke taman belakangnya.

“Apa yang kau lakukan?”

Minjoo mendengar suara itu dan lantas ia tersenyum senang sambil menolehkan kepalanya.

“Baekhyun-ah! Kau sudah datang!” Minjoo berkata kelewat ceria. Salahkan perasaannya kali ini, jangan otak gilanya. “Uhm, maaf aku sedang membuat kue beras. Ini sedikit berantakan ya?”

“Sedikit berantakan?” Baekhyun kini menemukan benda asing lagi yang berada tepat di hadapannya. Dia mengambil itu dan memegangnya. Adonan dari kreasi tanah liat anak-anak versi Minjoo. “Ini sangat berantakan, bodoh.”

Minjoo mendengus pelan dan mencoba sekuat mati untuk menahan emosinya. “Maaf kalau ini sangat berantakan.”

Baekhyun menggeleng pelan dan lalu menghampiri wastafel yang berada di sebelah Minjoo. Setelah membuang adonan yang mengenaskan itu, ia mencuci tangannya dan menatap apa yang ada di atas panci rebusan. Berbagai warna dari kue beras telah tersaji disana, sangat indah namun kalau ditanya rasa sepertinya Baekhyun agak khawatir.

“Kau membuat kue beras?”

Minjoo mengangguk kepalanya sekali. Dia masih menggunakan kain apron di tubuhnya dan tangannya masih tertempel adonan yang lengket itu.

“Untuk siapa?”

Minjoo bergeming di tempatnya. Kalian rasakan saja di posisi Minjoo, memangnya tidak malu apa mengakui bahwa kita membuat sesuatu untuk orang yang kita suka.

“Uhm..” Minjoo gelagapan dan tengah mengalihkan pandangannya. Bingung harus berkata jujur atau tidak. “..uhm, ini untuk—“

“Sudahlah.”

“Huh?”

“Aku tak ingin tahu ini untuk siapa, tidak penting juga untukku.”

Minjoo mengangkat satu alisnya sambil merasa seperti mendapat debuman yang cukup kuat di hatinya mendengar itu.

“Bersihkan saja ini semua. Jangan harap aku mau mencobanya ya, Han Minjoo. Aku yakin aku akan langsung mati saat memakan ini semua.” Baekhyun melihat ke arah panci besar itu dan mengambil salah satunya. “Lihat, ini saja begitu keras. Kau menggunakan bahan apa sampai bisa sekeras ini, pengawet pengeras?”

Itu perkataan yang terlalu kasar untuk seseorang yang berusaha mati-matian belajar memasak hanya demi untuk membuat orang yang ia suka tersanjung setidaknya sekali. Debuman itu begitu kuat hingga rasanya mata Minjoo memanas.

“Ya!!!”

“Ck. Berhentilah, kau tidak akan pernah bisa terlihat seperti perempuan di mata pria manapun.”

Lalu Baekhyun mulai berjalan menjauh darinya. Meninggalkannya dengan kata-kata yang sangat menusuk di jantungnya.

Inilah hal yang paling Minjoo benci di dunia. Saat pria yang kau suka terlampau jujur oleh perkataannya mengenai dirimu yang sangat kekurangan itu, kau seperti merasa ingin menghilang menjadi debu saja. Rasanya begitu menyakitkan sampai kau pikir menyetrum dirimu sampai mati adalah pilihan yang terbaik.

.

Baekhyun sebenarnya tahu bahwa kata-katanya ini sangat salah. Minjoo pasti sangat sakit mendengar ini darinya tapi bagaimana lagi. Hatinya juga kelewat sakit dan takut karena ancama Luhan tadi siang, ditambah oleh Minjoo yang memperjelasnya tadi. Meski Minjoo tidak menyebutkannya, tapi Baekhyun tahu bahwa Minjoo membuat makanan itu untuk Luhan, melihat dari gelagapannya perkataan Minjoo. Ya Tuhan, kenapa rasa takut ini semakin menjadi-jadi hingga membuatnya semakin ingin menyembunyikan Minjoo dari siapapun.

“Aku ingin memakan kuenya, Minjoo-ya.” Ucapnya setelah berjalan menjauh dari Minjoo.

“Meski tak enak, tetap saja itu buatanmu..”

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Setelah membersihkan semuanya sambil menangis dalam diam, Minjoo berjalan menaiki tangganya untuk menuju kamarnya. Tubuhnya begitu lelah harus membersihkan dapur yang sialnya perkataan Baekhyun benar itu sambil menangis. Dia seperti sedang membersihkan rumahnya sendirian namun dikali dua rasanya.

Setelah berhasil berada di kamarnya, Minjoo menemukan Baekhyun telah tertidur di atas ranjangnya. Memunggunginya. Jika dia tidak memiliki perasaan itu pada Baekhyun, sepertinya tadi dia sambil membawa pisau dan kini mulai mencabik-cabik tubuh Baekhyun seperti daging cincang.

Minjoo sedang sangat tidak ingin bertemu Baekhyun, apalagi untuk satu ranjang dengannya. Maka ia pun memutuskan untuk mengambil bantalnya dan berjalan keluar. Tadinya ia ingin menggunakan kamar tamu, tapi karena kamar tamu itu tidak pernah digunakan sama sekali membuat Minjoo berpikir bahwa ada hal-hal ‘lain’ yang pastinya membuat Minjoo merinding tiba-tiba. Minjoo pun memutuskan untuk tidur di sofa yang berada di ruang tengah lantai dua, persis di hadapan kamarnya.

Dia memutar tubuhnya, menghadap sandaran sofa supaya bisa menyembunyikan mukanya disana. Minjoo terdiam selama beberapa menit, mengingat semua perkataan Baekhyun namun ia rasa ia mulai kelelahan untuk mengingatnya. Minjoo mulai mengantuk dan perlahan mulai terpejam. Baru beberapa menit dia menyentuh alam mimpinya, Minjoo merasakan tubuhnya seperti terbang ke atas ke udara dan itu langsung membuatnya membuka matanya sepenuhnya.

Ia menemukan dirinya di kamarnya. Dengan Baekhyun yang tengah mengangkatnya.

“Apa yang kau lakukan!?” Minjoo memaki lalu setelahnya ia menggoyangkan tubuhnya, meminta turun. “Turunkan aku, sekarang juga!”

Baekhyun tidak membalas apa-apa dan mengikuti sesuai titahan Minjoo untuk menuruninya. Setelah turun itulah, ia mencoba berjalan kembali keluar kamar untuk ke sofa namun Baekhyun menahannya.

“Kau tidur disini saja.”

“Aku tak mau tidur satu ranjang denganmu.” Ucap Minjoo sambil melepaskan tangan Baekhyun dengan kasar. Minjoo mencoba untuk berjalan lagi namun Baekhyun berhasil mengcengkram tangannya lagi.

“Biar aku yang tidur di sofa saja, kau kan perempuan—“

“Aku bukan perempuan!!!” Minjoo berteriak dan saat itu ia tahu bahwa matanya telah memanas kembali. “Aku bukan perempuan, sialan. Aku bukan perempuan!!!”

Baekhyun menatap Minjoo dengan hatinya yang berdenyut.

“Minjoo-ya bukan seperti itu—“

“Hm, kau benar. Aku bukan perempuan. Aku tidak bisa memasak, masakanku semuanya menggunakan pengawet pengeras. Aku bukan perempuan karena aku hanya bisa berteriak dan memakimu saja. Aku hanya menyusahkanmu selama ini saja, membuatmu malu karena aku begitu menjijikan. Tapi tetap saja, kau itu bajingan, Baekhyun.”

Minjoo tahu bahwa air matanya telah turun dari matanya tapi dia mau bagaimana lagi. Hatinya benar-benar telah hancur saat ini.

“Kau itu bajingan yang menyebutku bukan perempuan tapi kau melindungiku. Kau itu bajingan yang menyebutku bukan perempuan tapi kau merawatku dengan sangat baik. Kau itu bajingan yang bukan menyebutku perempuan tapi kau menciumku. Lebih parahnya lagi kau bahkan telah meniduriku!!” Minjoo menjeda perkataannya selama beberapa detik, masih dengan menatap Baekhyun penuh tangisan dan emosi.

“Kau bajingan sialan, Baekhyun-ah. Kau itu iblis!!”

Minjoo langsung menangis begitu keras di hadapannya, begitu tersendu-sendu sambil menutup mukanya, sampai Baekhyun sendiri bisa merasakan bagaimana perkataannya tadi itu begitu menyakitinya. Rasanya jantung Baekhyun seperti ingin berhenti begitu saja melihat Minjoo menangis karenanya. Baekhyun tak tahu bahwa dia sebajingan ini. Hanya untuk mempertahankan Minjoo disisinya, dia sampai membuat Minjoo terluka sedalam ini.

“Maafkan aku, Minjoo-ya..” Baekhyun mencoba untuk meraih pundak Minjoo, namun dia mengurungkan niatnya. “Aku hanya terlalu sensitif hari ini..”

“Lalu!?” Minjoo membuka wajahnya dan air mata itu benar-benar telah membanjiri seluruh wajahnya. “Aku ini pelampiasan amarahmu!? Benar saja, aku memang bukan perempuan kalau begitu!!!”

Minjoo hendak kembali keluar dari kamarnya namun Baekhyun selalu berhasil menahan tangannya.

“Aku sedang takut akan sesuatu, Minjoo-ya.”

Minjoo sempat mengangkat alisnya kebingungan namun dia hanya menatap galak Baekhyun,

“Takut apa?!”

“Kehilanganmu.”

Deg. Deg.

“Aku takut kehilanganmu, Han Minjoo.”

Minjoo bisa merasakan jika tubuhnya begitu panas. Rasanya air mata yang tadi mengalir begitu deras seperti sungai pun kini mengering seperti sungai di musim kemarau.

Lagi dan lagi, perkataan Baekhyun terlalu hangat untuknya.

Baekhyun perlahan berjalan menjauh darinya, menuju mantelnya dan mengambil sesuatu disana. Ia kemudian berjalan kembali pada hadapan Minjoo namun kini menariknya untuk duduk di tepi ranjang mereka.

Saat mereka telah duduk di tepi ranjang, Minjoo melihat bahwa yang Baekhyun bawa di mantelnya tadi adalah sebuah kotak kecil. Berwarna pink dengan pita bening di atasnya. Ia membuka kotak tersebut dan lalu mengangkat benda tipis yang panjang.

Seuntai kalung berwarna pink keemasan telah menjuntai di hadapan Minjoo. Terdapat pendant berbentuk bunga kecil tepat di tengahnya.

“Ini cantik bukan, Minjoo-ya?”

Minjoo menatap kalung itu dan Baekhyun secara bergantian selama beberapa detik. Mengubur rasa malunya, ia pun mengangguk pelan menyetujui perkataan Baekhyun.

Baekhyun tersenyum lalu membuka pengait kalung tersebut sambil perlahan mencondongkan tubuhnya melewati leher Minjoo. Minjoo sempat tergelak kaget karena jarak mereka terlalu dekat, belum lupa dengan Minjoo yang mabuk oleh aroma Baekhyun, bukan?

Untungnya rambut Minjoo tengah ia ikat menggumpal ke atas sehingga Baekhyun bisa dengan cepat mengaitkan kalung tersebut di balik lehernya. Setelah merasakan Baekhyun telah selesai memasangkan kalung itu, Baekhyun memundurkan kembali tubuhnya sambil memegang pundak Minjoo. Kali ini dia sedang memerhatikan kalung tersebut yang telah mengelilingi leher Minjoo.

“Kau benar, ini cantik.”

Minjoo hanya terdiam lalu merundukkan pandangannya untuk melihat. Saat itulah ia mendengar sesuatu yang membuatnya kembali menghangat dari sebelumnya.

“Karena kau sudah memakai ini, aku ingin kau berjanji padaku bahwa kau tidak boleh meninggalkanku apapun alasannya. Kau harus tetap disisiku.”

Minjoo mendongakkan kepalanya dan menemukan Baekhyun yang menatapnya begitu tulus.

“Bisakah kau mengabulkan permintaan itu, Minjoo-ya? Untuk jangan pernah pergi dariku?”

Minjoo terdiam selama beberapa detik. Berusaha untuk menetralisir otaknya yang telah tersendat oleh darahnya lalu mengangguk perlahan. Membuat Baekhyun tersenyum lega melihat itu.

Baekhyun kemudian memerhatikan Minjoo cukup lama dan menyadari bahwa sisa-sisa air mata itu masih ada di sudut mata Minjoo.

“Maafkan aku karena telah berkata sekasar itu padamu.” Baekhyun mengangkat jemarinya dan menghapus semua sisa air matanya. Setelah melakukan itu ia kembali menatap Minjoo. “Aku tahu.. aku sangat jahat, bukan?”

Minjoo mengangguk cukup cepat dan itu membuat Baekhyun terkekeh pelan. Baekhyun masih terus memerhatikan wajahnya, entah menatap pada apa yang jelas tiba-tiba saja ia menarik tubuh Minjoo dan membuat dahinya bersentuhan dengan bibir Baekhyun. Membuat Minjoo merasakan darah mengalir dari dahinya ke seluruh tubuhnya. Membuat kupu-kupu itu bergejolak ria karena makanannya telah datang kembali.

Setelah mencium kening Minjoo, Baekhyun menjauhkan bibirnya dan kini perlahan mendekap Minjoo. Menaruh kepala Minjoo di dadanya dan menahan pinggang serta punggung Minjoo.

“Aku… benar-benar takut bahwa aku mungkin bisa kehilanganmu, Minjoo-ya.” Ucapnya dari balik tubuh Minjoo.

“Kau… harus benar-benar menjaga janji itu ya, Han Minjoo..” Minjoo bisa merasakan ketulusan yang begitu dalam dari perkataan Baekhyun, meski ia tak menatap matanya sekalipun.

“Untuk jangan pernah meninggalkanku dan tetap disisiku.”

Minjoo terdiam namun hatinya terus berteriak bahwa apa yang Baekhuyn lakukan sudah melewati batas kapasitas hatinya. Ini terlalu manis dan hangat, sedangkan hati Minjoo tidak bisa menampung lebih lagi semua kemanisan dan kehangatan ini.

Minjoo tahu, sebenarnya ada sesuatu yang lebih mengganjal dari ini semua. Minjoo tidak bodoh, meski dia tidak kuliah di luar negeri seperti Baekhyun, Minjoo tahu bahwa Baekhyun mengkhawatirkan sesuatu yang mungkin bisa membuat mereka terpisah. Saat itu rasa percaya diri Minjoo terhadap perasaannya pada Baekhyun semakin meningkat. Mungkin Minjoo bisa sedikit yakin bahwa Baekhyun juga mendetakkan jantungnya untuk Minjoo dan bukan hanya selalu Minjoo yang mendetakkan jantungnya untuk Baekhyun.

Perlahan, dia menaikkan tangannya untuk membalas pelukan Baekhyun. Sebisa mungkin tidak terlalu erat—agar cerita ‘Harga Diri Minjoo’ masih bisa ia lanjutkan—tapi Minjoo juga ingin mendekapnya begitu dalam.

Untuk malam ini, mungkin mereka hanya akan diam dan merasakan kehangatan dari masing-masing tubuh. Baekhyun sedikit membuang ketakutannya akan kehilangan Minjoo sedangkan Minjoo menambah tingkat kepercayaan dirinya untuk menyukai Baekhyun. Meski ini hangat dan mereka menginginkan akhir seperti ini, mereka tahu ini bukanlah akhirnya. Biarlah, setidaknya mereka sedang menikmati waktu yang tengah memperjuangkan mereka.

❣❣❣To Be Continued❣❣❣

This is the worst of mine T.T maaf ya T.T

sarange22

-Baek’s sooner to be wife-

Advertisements

127 responses to “I Married To My Enemy [VI] -by ByeonieB

  1. aduh luhan itu mukanya angel banget.. aneh aja gitu kalo jadi jahat.
    aduhh, please dehh baek-minjoo kalian itu saling cinta.. masih pd nyumput2 aja..

  2. Wuah pas minjoo ungkapin kekesalan nya sama baekhyun kok aku ikut nangis ya kekekeke
    Ff ini daebak 👍

  3. Bilang aja sihh baek klo qmu ngga mau minjoo dkat2 sma Luhan,,,kamu kn suamii nya jdi kmu berhak ngelarang minjoo, minjoo psti nurut koq…..Ayolahh inii siapa sh yg hrs mulai duluan blng cintanya???Bikin greget ajha….

  4. gemes ya lihat minjoo sama baekhyun, sama-sama suka sebenernya, tinggal bilang ajaaaaa sulitnya minta ampun wkwk

  5. Hadeh, aku lelah dengan semua ini, kpn sih mereka bisa jujur satu sama lain, makin greget sama mereka-,-.. kan jujur lebih baik..

  6. Lulu jahat ih . Padahal udah jelas baek sama minjoo suami istri tapi masih mau rebut minjoo dari baek . Baek juga segala boong sih 😢 terus yang paling bikin greget kenapa nggak bilang aja sih kalo Cinta . Malah saling gengsi begitu sama code codean . baek juga suka menyimpulkan sesuatu sih sebelum mendengarkan penjelasan sejelas jelasnya . Coba kalo dia dengerin minjoo sampe akhir . Pasti nggak gini kejadianya .

  7. Baekhyun juga yang salah kenapa gak ngomong dari awal kalau dia sudah menikah dengan minjoo.
    Ayolah kalian itu sama2 suka kenapa mesti pada gengsi.
    Waduhhh masalah untuk hyojoo dan chanyeol bakalan bermuculan nih.

  8. aku speechless pas tahu investor dari china itu luhan soalnya entah aku yg bego sampe clueless banget ato gimana aku gk tau siapa investor china yang bilang lama gk ketemu itu di pikiranku investor china itu bapak bapak botak tengah buncit dengan dahi kinclong.

  9. aduh awalnya aku deg – degan waktu kebohongan baekhyun terbongkar, masih kasihan sm yubi nih, akhirnya yubi mengatakan kalau dia suka sm sehun, baek cuma takut kehilang minjoo jd seperti itu, ini murni hanya kesalah pahaman baek sm minjoo…..

  10. Loh kenapa ini dibilang worst kak? Justru ini yang geregetin mulai lah ada orang ketiga. Kesel sih ama si luhan nya juga, perebut banget. Nah kan jadi marah2/? :v

  11. Duh gmana nasib chanyeol? Aduh! Nah,akhirnya yubi mengatakan semua perkara hatinya! Sehun gmana nantinya ma yubi? Duh makin grepet penasarannya! Okay,awalnya sdikit ngenes tau kalau lulu yg punya wajah ala baby face harus jadi pho ke hubungan baekmin couple,aduh ga cocok malah nyeremin! Tapi faktanya harus gtu kan? Hehehe okay next chapt 7 biar semuanya ketahuan gmana alurnya! Hehe gogogo

  12. Lah kok aku ikutan bingung ya? Sekiranya emang Minjoo ‘milik’ Baekhyun. SEPENUHNYA. Tapi Baekhyun juga sepatutnya takut. Ah, pusing! Tiba2 dateng aku udah ga suka sama Luhan! Beneran!

    Yeogineun
    Dikanasly (:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s