[Here I am Series] 07. My Dear by ShanShoo

cover

Yesung – Here I am Album (Fanfiction Series)

07. My Dear (Last)

Jin BTS x Jisoo BLACKPINK

family, hurt-comfort // tracklist-fic series // teenager

-o-

Did you have a hard day?

You can complain to me

Did something make you almost cry?

It’s alright, look at me

-o-

Tracklist before : 06. Confession

Kim Seokjin baru saja menuangkan sup ayam ke dalam mangkuk berukuran besar untuk makan malam, ketika telinganya mendengar suara pintu rumah yang dibuka secara paksa dan beberapa detik setelahnya, ia melihat presensi adik perempuannya memasuki ruangan duduk. Gadis itu masih terbalut pakaian kasual untuk jadwal perkuliahannya hari ini. penampilan kusut dan wajah yang kuyu memang sudah bukan hal yang aneh untuk Seokjin dapati dari wajah Jisoo, namun berbeda dan mengundang kerutan samar di keningnya manakala wajah adiknya terlihat sembab. Dari kejauhan, ia bisa mendapati jejak-jejak air mata di kedua pipi Jisoo.

“Apa yang terjadi?” segera, Seokjin melepas celemek yang terpasang di tubuh tinggi tegapnya. Pun berlalu dari konter dapur seraya meletakkan celemek itu di sandaran kursi makan sebelum ia berjalan cepat menghampiri Jisoo. Tetapi Jisoo tak kalah cepat untuk menghindari kakaknya dan memasuki kamar sembari menutup pintunya dalam sekali hantaman.

Oh, apa yang terjadi?

-o-

Kim Seokjin tak akan menyerah untuk bertemu dan bersitatap dengan adik perempuannya itu. Sekalipun matahari berganti bulan dan kembali berganti matahari di langit sana. Bukan apa-apa, melihat Jisoo dengan jejak air mata dan juga bibirnya yang bergetar kecil bukanlah sesuatu yang baik. Seokjin benci melihat hal itu. Seokjin tak mau melihat Jisoo menangis.

Maka, di sinilah Seokjin, berdiri di depan kamar adiknya seraya mengetuk pintunya beberapa kali. “Jisoo-ya, bolehkah aku masuk?” pinta Seokjin lembut, berupaya merayu adiknya agar mau membukakan pintu untuknya. Belum ada respons yang berarti, dan Seokjin kembali berbicara, “Jisoo-ya, kau belum makan malam, kan? Aku sudah membuatkanmu―”

Pintu terbuka perlahan, dan Seokjin patut bersyukur akan hal ini. Senyumnya lekas terbit di parasnya yang rupawan. Lupa sejenak kalau kondisi adiknya saat ini terlihat sedang tidak baik-baik saja.

“Oh, biarkan aku masuk, Jisoo.” Kata Seokjin lagi. Kali ini dengan nada tegas yang kentara. Membuat Jisoo menghela napas dan menyampingkan tubuhnya, membiarkan Seokjin lewat dengan nampan berisi semangkuk sup ayam di tangannya, lantas meletakkan nampan itu di atas nakas.

“Nah,” Seokjin membuang napas, sementara bokongnya didaratkan ke tepian tempat tidur Jisoo. “keberatan bila aku menanyakan apa yang terjadi padamu?”

Jisoo masih berdiri di sana, mematung dan menatap balik manik hitam gelap kakaknya. Ada jeda panjang yang melingkupi. Jisoo menggigit bibirnya beberapa kali sebelum berkata, “Tidak ada yang terjadi.”

“Ya, ceritakanlah. Aku akan dengan senang hati mendengarnya.” Sahut Seokjin, tak acuh pada kebohongan yang diberikan Jisoo padanya.

“Ayolah, Kim Seok―”

“Aku kakakmu. Setidaknya panggil aku dengan sopan.” Kata Seokjin, menyela. Meski nadanya terdengar jengkel, tapi senyuman terulas di bibirnya.

“Oh, ya ampun,” Jisoo memutar bola matanya. “Aku baik-baik saja, Oppa. Memangnya aku terlihat bagaimana di matamu?” tanyanya kesal.

“Mm,” Seokjin menggumam sebentar. “Pertama, kau masih mengenakan pakaian kuliahmu.” Ujarnya sembari meneliti pakaian yang melekat di tubuh Jisoo. Ya Tuhan, bagaimana bisa Jisoo lupa untuk mengganti pakaiannya―tidak. Bagaimana bisa Jisoo lupa untuk pergi mandi dan mengganti pakaiannya dengan setelan piyama tidur?

Sementara Seokjin masih memerhatikannya, Jisoo diam membeku. “Dan yang kedua, wajahmu sembab. Aku yakin kau habis menangisi sesuatu. Apa mungkin … kau menangis karena Nam Taehyun mengabaikanmu lagi?”

“Tidak.” sela Jisoo cepat, terlalu cepat hingga Seokjin mengerutkan keningnya. “Ini tidak ada hubungannya dengan Nam Taehyun, oke?”

“Benarkah?” kedua alis laki-laki itu terangkat sempurna. Rasa penasaran telah melingkupi setiap sudut pikirannya. Kalau bukan karena Nam Taehyun, lalu karena apa? Seokjin yakin, Jisoo bukanlah gadis cengeng yang sering menangis karena pernyataan cintanya ditolak mentah-mentah. Oh, lagi pula, Jisoo bukanlah seorang gadis yang selalu menunjukkan ketertarikannya pada sang lawan jenis. Contohnya Nam Taehyun.

“Ya.” Sahut Jisoo singkat. “Jadi, silakan keluar dari kamarku dan terima kasih atas sup ayamnya.” Jisoo memberikan senyum kelewat lebar yang dipaksakan, selagi Seokjin masih memberinya tatapan tak mengerti.

“Oh, baiklah. Aku percaya padamu, Nona.” Seokjin menghela napas. Ia mulai beranjak dari tempat tidur Jisoo dan melangkah ke arah pintu, di mana sang gadis masih berdiri di sana sembari mulai memasang mimik wajah yang sukar diartikan. Seokjin mendapati kemurungan di wajah gadis itu, sementara cairan bening menganak di kedua bola matanya.

Intinya, Jisoo sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Seokjin tahu itu.

“Jisoo-ya,” panggil Seokjin tepat di samping Jisoo. Gadis itu berusaha untuk menoleh, seperti ada sesuatu yang berat menahan dagunya. Ia mendapati tatapan penuh perhatian tercipta di kedua manik hitam kelam kakaknya. “Keberatan bila aku memelukmu?”

Satu pertanyaan itu berhasil meruntuhkan keyakinan Jisoo, bahwa ia bisa menahannya, bahwa ia tidak akan menangis di hadapan Seokjin, bahwa segalanya akan baik-baik saja ketika matahari menjelang di hari esok. Tapi ternyata, pertanyaan lembut yang selama ini Jisoo inginkan rupanya membuat Jisoo tak mampu berkata-kata, pun ia mengkhianati keyakinannya sendiri. Bahwa ia ingin menangis, dan ia memang membutuhkan pelukan hangat seorang Kim Seokjin, kakak kandungnya.

Hug me.” Bisik Jisoo di antara isak tangis yang tak dapat ia tahan. Perlahan namun pasti, Seokjin bergerak meraih tubuh mungil Jisoo ke dalam dekapannya. Sebelah tangannya membelai lembut surai kemerahan Jisoo yang semakin terisak di dadanya.

“Jangan katakan kalau kau baik-baik saja, jika pada kenyataannya kau sedang terpuruk seperti ini,” pinta Seokjin, berbisik lembut di sebelah telinga sang gadis. “apa artinya seorang kakak bagimu kalau kau sendiri tak pernah membagi kesedihanmu padanya. Dan hal itu malah semakin membuat seorang kakak sedih, kau tahu itu?”

Tak ada jawaban. Hanya terdengar isakan tangis Jisoo di dalam ruangan kamar berukuran cukup besar itu.

“Jisoo-ya,” Seokjin memanggil nama gadis itu lagi. “Kau harus menceritakan masalah yang membuatmu menangis seperti ini padaku, oke?” ia merasa Jisoo mengangguk ragu dalam pelukannya. Lalu, “Jika kau sudah merasa tenang, kau harus menghabiskan sup ayammu yang hampir dingin sebelum kita memulai sesi curhatnya.” Katanya lagi. Mengabaikan desisan kesal yang masih sempat Jisoo lontarkan padanya, namun Seokjin agaknya bersikap tak acuh pada desisan itu dan mengangkat sebelah bahunya singkat.

Sesi curhat? Oh, benar-benar!

-end

ShanShoo’s note :

  1. Yeaaaay! Akhirnya fanfiction series dari album ini kelar jugaaaa! ^^
  2. Makasih buat kalian yang udah ngikutin series ini sampai tracklist terakhir yaa :”)
  3. Makasih juga buat kalian yang udah meluangkan waktu berharganya buat memberikan apresiasi berupa komentar serta kritik sarannya ❤
  4. Doain semoga Isan lancar dalam menyusun KTI buat sidang nanti ❤
  5. Last, go follow wordpress : ShanShoo and wattpad : ShanShoo
  6. Makasiiih ❤

Tertanda,

ShanShoo ❤

Advertisements

5 responses to “[Here I am Series] 07. My Dear by ShanShoo

  1. Punya kakak kaya jin, seneng ya? Dan dengan bangga ngenalin “Ini kakak aku.” jiah, apalagi jimin, atau yang keren+tampan gitu. Jadi bayanginnya gitu. Okeh, aty serab liat hp, mati lampu kakak 😀 . Selamat dah beres songfic seriesnya 😉 😀 ❤

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s