I Married To My Enemy [VII] -by ByeonieB

imarriedtomyenemy-2

I Married To My Enemy

ByeonieB©2017

“Fooled.”

Main Cast:: Baekhyun of EXO as Byun Baekhyun, OC/You/Readers as Han Minjoo || Additional Cast:: LuHan (Singer) as Luhan, Han Hyojoo (Actress) as Han Hyojoo, Chanyeol of EXO as Park Chanyeol, Sehun of EXO as Oh Sehun, Lee Yubi (Actress) as Lee Yubi, and many more || Genre:: Marriage Life, Romance, A Slight of Comedy, Drama || Length:: Chapter || Rate:: PG-17+ || Before:: [Chapter VI] || Poster by Sfxo @ Poster Channel

Notes:: It is better for you to listening to 내 사랑 (My Love) by Lee-Hi while read this chapter.

 

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

September 2009

“Bukankah noona itu sangat keren?”

Minjoo menolehkan kepalanya pada Baekhyun. Mereka berdua sedang duduk di kursi penonton acara pentas olahraga nasional yang diselenggarakan setiap tiga tahun sekali.

Minjoo tahu eonnie-nya lah yang Baekhyun maksudkan maka dari itu ia kembali melihat ke depan, dimana eonnienya sedang menari untuk pembukaan acara.

“Tentu saja, itu eonnie-ku!”

Baekhyun mengangguk-angguk lalu kembali menatap Hyojoo dengan lurus,

“Dari dahulu sampai sekarang, aku selalu menganggumi Hyojoo noona, Minjoo-ya.”

Minjoo mendengar itu dan ia langsung menolehkan kepalanya pada Baekhyun lagi.

“Huh?”

Baekhyun tersenyum pelan sambil masih memerhatikan Hyojoo yang sedang menari berputar. Tubuhnya yang ramping begitu terlihat indah dan sangat cukup untuk membuat seluruh penonton bertakjub pukau.

“Hyojoo noona itu seperti malaikat untukku. Cantik, pintar, dan yang paling kukagumi adalah kepribadiannya yang begitu lembut dan baik hati. Noona mampu membuat orang yang pertama kali bertemu dengannya akan langsung merasakan nyaman detik setelah noona menyebut namanya.”

Entah perasaan apa itu, yang jelas hati Minjoo benar-benar seperti tertumbuk pisau begitu tajam di dalam sana. Seperti langsung jatuh dan hancur saat kata-kata itu masuk ke indera perasanya.

“Kau.. menyukai noona?”

Baekhyun tersenyum pelan, masih menatap Hyojoo dengan pancaran sinar di matanya.

“Tentu saja, aku menyukainya. Lelaki mana sih yang tidak akan suka dengan noona?”

Dan itu sangat mampu membuat Minjoo merasakan dunianya runtuh seketika.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

[Chapter 7]

H A P P Y   R E A D I N G

 

From: Ayah

“Hari ini akan ada acara makan malam bersama investor dari Amerika. Kau harus datang, Hyojoo-ya.”

 

Hyojoo mengangguk-angguk dan itu menginterupsi Chanyeol yang duduk di kemudi sebelahnya.

“Ada apa?”

Minjoo hanya mengangkat bahunya acuh sambil menaruh ponselnya ke dalam tas lalu menoleh pada Chanyeol.

“Tidak terlalu penting, Ayah hanya bilang bahwa malam ini ada makan malam bersama investor dari Amerika.”

Chanyeol mengangguk perlahan tapi kemudian ia merubah rautnya sedikit kecewa pada Hyojoo, “Berarti kita harus membatalkan acara makan malam kita hari ini?”

Hyojoo membulatkan matanya dan menatap Chanyeol sepenuhnya dengan raut sedih, baru ingat dengan janji makan malam mereka untuk merayakan hari jadinya.

“Ah! Bagaimana ini?!” Hyojoo mengaitkan tangannya pada lengan Chanyeol. “Hari ini kan hari jadi kita yang ke-30 hari, Chanyeol-ah..”

Hyojoo sudah tampak ingin menangis di hadapan Chanyeol dan itu membuat Chanyeol tak tega untuk menunjukkan kekecewaannya. Dia pun menggenggam tangan Hyojoo yang ada padanya sambil mengusap lembut jemarinya,

“Tak apa, Hyojoo-ya. Bagaimana kalau besok saja kita rayakannya?” tawar Chanyeol tapi Hyojoo langsung menyambutnya dengan gelengan hebat di kepalanya.

“Tidak bisa, Chanyeol. Tanggal hari jadi kita itu hari ini, kalau besok jadi merayakan yang ke-31 hari.”

“Apa bedanya? Menurutku sama saja, kita kan merayakannya bersama-sama.” Chanyeol kembali menawarkan karena Chanyeol tahu urusan pekerjaan Hyojoo tidak bisa di nomor dua kan. Terlebih ini seorang investor, mereka pasti punya pengaruh kuat untuk perusahaannya.

“Aish! Itu berbeda, Park Chanyeol.” Hyojoo melepaskan eratan tangannya dari Chanyeol dan menatap ke depan. “Kita harus tetap merayakannya malam ini..”

“Lalu, makan malam dengan investor itu?”

Hyojoo terdiam dengan otaknya yang bekerja untuk memikirkan semuanya. Dalam beberapa detik kemudian, ia langsung menjentikkan jarinya dan menatap Chanyeol kembali.

“Aku akan menyelesaikan makan malam itu dengan sangat cepat.” Hyojoo menyipitkan matanya dan dia menatap Chanyeol senang kembali, “Kau juga datang saja! Biasanya kalau Ayah ikut dalam acara makan malam bersama investor, Ibu juga akan ikut menemaninya.” Hyojoo kemudian menatap Chanyeol dengan tatapan yang berubah menjadi tatapan berharap.

“Dengan begitu kita juga bisa memberitahu mereka tentang hubungan kita, Chanyeol-ah..”

Chanyeol tergelak dan dia tampak tegang di tempatnya. Mengenalkan diri pada keluarga kekasih kalian itu bukanlah hal yang mudah, kalian harus percaya dengan itu. Kalian harus terlihat berwibawa, punya kharisma dan yang terpenting adalah sosok kalian harus membuat keluarga pasangan percaya bahwa kalian adalah orang yang tepat untuk anak mereka. Dan Chanyeol belum terlalu yakin dengan itu semua.

“Hyojoo-ya..” Chanyeol sedikit menelan salivanya susah payah, “Apa ini tidak terlalu cepat? Maksudku.. kita baru saja mejalin hubungan selama 30 hari..”

“Dengan aku memperkenalkan diriku kepada keluargamu, aku secara tidak langsung berarti sudah siap menikahimu.”

“Memangnya kau tak siap?”

Pertanyaan itu membuat Chanyeol membeku ditempatnya. Tamatlah riwayatnya sudah.

“Jadi kau membuatku menjadi milikmu itu hanya semata-mata kisah cinta anak remaja yang telah menunggu noonanya selama tujuh tahun, begitu?” Wajah gadis itu memang tampak tak terlihat marah, tapi Chanyeol bisa merasakan tubuhnya mendingin mendengar semua kata-katanya. “Kalau memang seperti itu, lebih baik kita pisah saja. Aku tidak bisa menjadi kekasih dari khayalan cinta anak remaja.”

“Ya…” Untungnya saat ini mobil sedang berhenti karena lampu merah. Chanyeol bisa menghadapkan tubuhnya pada Hyojoo sambil mencoba menarik tangannya.

“Aku tidak bermaksud seperti itu, Hyojoo. Aku tentu saja siap untuk menikahimu hanya saja..”

“Hanya saja apa?” ucap gadis itu sedikit menekan katanya. Membuat Chanyeol mau tak mau harus menghembuskan nafasnya berat.

“Aku merasa.. aku terlalu jauh untuk mengejarmu yang di atas. Kau terlalu tinggi, sangat tinggi, dan itu terkadang membuatku merasa memiliki batas antara dirimu denganku.”

“Aku tak bermaksud bahwa aku bilang aku ingin menyerah darimu. Sangat tidak pernah kupikirkan untuk menyerah darimu hanya saja itu..”

“Aku merasa aku belum pantas untuk memimpinmu.”

Hyojoo terdiam dan ia bisa melihat bahwa perasaan Chanyeol selama ini begitu tulus padanya. Memang Hyojoo melihat ada sebersit ketakutan yang Chanyeol simpan di hatinya sendiri namun Hyojoo tahu bahwa Chanyeol memang sungguh-sungguh dengannya.

“Chanyeol-ah..” Hyojoo tersenyum dan ia menarik tangan Chanyeol. Menggenggamnya begitu lembut.

“Yang aku butuhkan itu hanya dirimu. Aku hanya butuh Park Chanyeol untuk disampingku.” Hyojoo tersenyum. “Aku tidak perlu kau mengejarku setinggi yang kau maksudkan. Aku bersedia untuk turun beberapa langkah asal kau tetap berada di sampingku.”

Chanyeol terdiam dengan hatinya yang menghangat tiba-tiba.

“Jadi, kau tak perlu mengkhawatirkan batas di antara kita. Kita tidak pernah memiliki batas karena kau terus disampingku.”

Benar, Park Chanyeol. Harusnya kau tidak perlu memikirkan hal-hal yang membuatmu ragu untuk berada di sisi Hyojoo selamanya. Yang gadis itu butuhkan hanya dirimu. Hanya keberadaan Park Chanyeol di sampingnya tanpa alih-alih yang lain.

Mendengar semua tuturan kata Hyojoo membuat Chanyeol tersadar dan beban yang selama ini ia angkat sedikit terlepas darinya.

Ia kemudian menarik kepala Hyojoo dan membuatnya menyatu dengan bibirnya.

“Terima kasih, Han Hyojoo. Aku berjanji akan selalu di sampingmu.”

.

.

Pada akhirnya, Chanyeol menyetujui untuk menghadari acara makan malam dengan investor dari Amerika itu. Alasan apa lain selain permintaan Hyojoo yang memintanya untuk membawa hubungan ini ke jenjang yang lebih serius lagi?

Dengan balutan tuxedo dan Hyojoo yang terlihat sangat menawan dengan gaun silvernya, Chanyeol sangat merasa percaya diri hari ini bahwa dia bisa mendapatkan kepercayaan orang tua Hyojoo untuk mendapatkan gadisnya seumur hidupnya.

Mereka telah berjalan, menaiki lift di sebuah hotel bintang lima dimana restorannya adalah tempat pertemuan tersebut. Setelah berhasil menemukan restorannya, mereka langsung masuk dan pelayan mengantar mereka pada meja yang telah orang tua Hyojoo siapkan.

Setelah sampai disitu, Chanyeol cukup tersentak kaget melihat meja mereka yang tampak penuh. Ada orang tua Hyojoo tentunya, tapi ada sepasang orang tua lain beserta pemuda yang jauh dikatakan tampan darinya duduk disana. Melingkar dengan mereka.

“Selamat malam, semuanya.” Hyojoo berkata sambil membungkukkan tubuhnya. Chanyeol mengikutinya juga.

“Oh, Hyojoo-ya.” Pria yang mungkin bisa disebut Ayah dari pemuda itu menyahut dan membuat Hyojoo tersenyum binar sambil terkaget.

“Paman Kim!?”

Oh, dia bermarga Kim.

“Paman Kim kenapa bisa disini!?” Hyojoo kemudian melirik ke arah pemuda yang Chanyeol sebutkan sebelumnya. “Kau.. Kim Junmyeon!?”

Pemuda yang bernama Junmyeon itu tersenyum pelan sambil melambaikan tangannya.

“Annyeong, Hyojoo-ya.”

Hyojoo tampak kaget dan bingung di waktu yang sama maka dari itu ia melirik ke Ayahnya dan bertanya, “Ayah, kenapa mereka ada disini semua? Bukankah Ayah bilang kita akan bertemu dengan investor dari Amerika?”

Ayah Hyojoo yang sedari tadi memerhatikan Chanyeol dengan pandangan tak suka mulai melirik ke arah putrinya dengan senyuman pelan.

“Oh? Ayah lupa bilang ya kalau janji itu di batalkan karena kita akan membahas pertunanganmu dengan Junmyeon malam ini?”

Chanyeol merasakan sendinya lepas, bersamaan dengan hatinya yang juga jatuh entah kemana.

Hyojoo tidak jauh berbeda dari Chanyeol dan gadis itu rasa ia ingin pingsan,

“Apa maksudmu, Ayah…?”

“Kau akan menikah dengan Junmyeon, Han Hyojoo. Mungkin dalam waktu yang dekat tapi untuk malam ini kita akan membuatmu bertunangan dahulu dengan Junmyeon.”

Inilah badai yang pernah mereka khawatirkan saat hari jadi hubungan mereka.

Bahwa hubungan mereka.. tidak pernah bisa berjalan mudah seperti kalian membalikkan telapak tangan kalian.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Sudah beberapa hari ini Minjoo merasakan perutnya seperti diaduk oleh adukan kue atau mixer pembuat kue. Semuanya begitu tercampur, entah Minjoo hanya memakan sayuran, atau makan daging saja. Yang jelas perutnya seperti selalu merasa sangat penuh meski Minjoo hanya makan satu sendok nasi. Demi Tuhan, ini lebih gila dari apapun. Minjoo bahkan menyiapkan kantung muntah di laci kerjanya jikalau tiba-tiba semua ‘adonan’ perutnya ini sudah tidak bisa ia tahan lagi.

“Eonnie, kau tak apa?”

Yubi menyadarkannya saat Minjoo tengah memegang perutnya terus menerus. Minjoo mendongak dan memberi jempolan pada Yubi.

“Aku tak apa, Yubi-ya. Sepertinya aku salah makan saja.”

Yubi membelalakan matanya, “Eonnie, salah makan itu bisa juga keracunan! Eonnie terakhir kali makan apa memangnya?”

Minjoo tampak berpikir sebentar, “Aku tak banyak makan beberapa hari ini karena perutku memang sudah tidak enak dari beberapa hari yang lalu.”

Yubi semakin membelalakan matanya namun kini ditambah ia seperti ingin memukul Minjoo, “Eonnie! Kenapa tidak bilang kalau begitu!?” Yubi menggigit bibirnya sambil mengingat-ingat, “Apa ini karena restoran baru di sebrang jalan!? Kita kan baru makan disana beberapa hari yang lalu..”

Minjoo menggeleng pelan kepalanya, “Jangan menuduh sembarangan, Lee Yubi. Kau, Sehun, dan Chanyeol buktinya tidak apa-apa disaat kalian makan disana juga.” Minjoo mencoba menegakkan tubuhnya seraya melupakan perutnya yang tidak enak itu. “Sudahlah, mungkin sebentar lagi juga aku akan baik-baik saja. Kau, omong-omong, ada apa kemari?”

Sebenarnya Yubi masih ingin memarahi Minjoo dan menyeret gadis itu ke rumah sakit. Tapi, Yubi yakin Minjoo pasti akan langsung mengancam akan memecatnya kalau dia tetap melakukan itu. Ia pun mengalah dan menghembuskan nafas berat,

“Byun Baekhyun memanggil eonnie ke ruangannya. Dia tak bisa menghubungimu sedari tadi..” Yubi melirik ke telepon yang terletak dipojok meja Minjoo. “Apa itu rusak, eonnie?”

“Tidak.” Minjoo seperti mengambil sesuatu di balik mejanya dan lalu menunjukkannya pada Yubi setelahnya, “Aku mencabut kabelnya. Seperti yang tadi sudah kubilang, perutku sedang tidak enak jadi aku sedang malas untuk menanggapinya.”

Yubi memerhatikan Minjoo dengan getir, “Ya sudah, kalau begitu biar aku saja yang menanggapinya, eonnie. Kasihan, eonnie sedang sakit begini.”

Minjoo menggeleng dengan cepat sambil berdiri dari tempatnya. Sedikit lemas, tapi Minjoo mencoba untuk bertahan.

“Tidak perlu, Yubi-ya. Aku akan datang padanya.” Minjoo mulai keluar dari mejanya dan berjalan ke arah pintu keluar, “Kalau aku membiarkanmu yang melakukannya, nanti kau minta upah tambahan lagi.”

Yubi yang mendengar itu tertawa pelan seraya merenguh sebal,

“Eonnie!”

.

.

Tok. Tok.

“Masuklah.”

Minjoo perlahan membuka pintu tersebut dan setelah berada di dalam ruangan Baekhyun, Minjoo langsung berjalan tepat ke hadapan Baekhyun.

“Ada apa kau memanggilku?”

Baekhyun tengah memerhatikan sesuatu di layar komputernya. Sangat serius, bahkan Minjoo bisa melihat kerutan-kerutan di sekitar kelopak matanya.

“Ya.” Baekhyun belum membalas perkataannya disaat Minjoo sudah bermonolog ria selama sepuluh detik. “Ada apa? Jangan bilang bahwa kau memanggilku untuk mematikan laptopmu?”

“Kemari, Minjoo-ya.”

Minjoo menghembuskan nafasnya kasar, “Byun Baekhyun, aku tidak sedang dalam kondisi—“

Baekhyun berdecak sambil mendongakkan kepalanya pada Minjoo.

“Kau tak dengar? Kubilang kemari ya kemari, Han Minjoo.”

Minjoo meredam nafsu amarahnya sedalam mungkin. Dia berharap bahwa perutnya bisa memuntahkan isinya semua tepat saat ini juga pada Baekhyun.

Mau tak mau Minjoo pun mematuhi perkataan Baekhyun dengan berjalan menuju samping pria itu. Minjoo langsung menemukan beberapa gambar bentuk bangunan di layar komputernya, mungkin sedari tadi Baekhyun sedang melihat itu semua.

“Ini apa, Baekhyun-ah?”

Baekhyun melirik Minjoo sebentar dengan satu alis terangkat, “Kau tak pernah melihat bangunan?”

Oh wahai muntahan-isi-perut-Minjoo, cepatlah keluar detik ini!

“Maksudku ini untuk apa, Byun Baekhyun…” Minjoo sempat menekan semua katanya. Kalau saja tubuhnya tidak lemas, tangannya mungkin akan melayang ke wajahnya. Bercanda, Minjoo mana punya hati untuk menghancurkan wajah tampan itu.

“Ini untuk proyek perusahaan dengan perusahaannya Luhan. Aku sedang mencoba melihat-lihat desain gedung yang bagus seperti apa.” Baekhyun menolehkan kepalanya lagi pada Minjoo. “Kira-kira yang menurutmu bagus yang mana, Minjoo-ya? Hanya untuk menjadi panutannya saja.”

Minjoo sedikit membungkukkan tubuhnya untuk melihat tapi karena perut itu masih terus mengaduk-aduk isinya, Minjoo tidak bisa bertahan untuk membungkukan tubuhnya sambil berdiri terlalu lama.

“Aku ikut dengan pilihanmu saja, Baekhyun-ah.” Ucapnya setelah menegakkan tubuhnya dan melihat Baekhyun. “Aku percaya dengan pilihan orang yang bersekolah di London.”

“Ck.” Baekhyun berdecak kesal, “Tetap saja kau harus memilihnya, yang mana yang menurutmu bagus?”

“Aku sedang malas untuk memilih.” Minjoo merenguh kesal, “Sudahlah, aku percaya padamu. Aku kembali ke ruanganku dahulu ya.”

Minjoo baru saja siap untuk melangkah sebelum ia merasakan tangannya ditarik hingga ia terjatuh. Awalnya Minjoo berpikir bahwa ia akan jatuh ke atas lantai dengan kesadarannya yang menghilang namun ternyata ia jatuh pada sesuatu yang tak terduga.

Seperti sudah ditakdirkan, Minjoo persis terjatuh dengan posisi duduk di atas pangkuan Baekhyun. Tepat di atas pangkuan pria itu!

Sumpah demi apapun, perutnya saja sudah sedang tidak enak dan kali ini si peliharaannya akan membuat pesta di dalam perutnya. Apa kabar perut Minjoo!

“Y-ya.” Minjoo bisa merasakan bahwa Baekhyun sedikit menahan pinggangnya. Dia tidak mau melihat eratan tangan itu, atau dia benar-benar akan menggila. “L-lepaskan. Kalau nanti ada yang melihat bagaimana..”

Baekhyun hanya tersenyum kecil di dalam hatinya sambil memajukan kursinya untuk menghimpit Minjoo diantara dirinya dan meja kantornya. Muka merona Minjoo adalah yang terbaik untuk seorang Baekhyun.

“Kenapa memang? Hampir seluruh orang perusahaan mengetahui bahwa kau istriku. Mereka tidak akan berpikir yang macam-macam.” Untung saja tubuh Minjoo cukup ringan hingga memudahkan Baekhyun menggeser kursinya. “Sudah kubilang juga lihat dahulu desain gedungnya. Sekarang kau pilih, menurutmu yang bagus yang mana?”

Minjoo tergelak dengan jantung yang tepat di tenggorokannya. Ini gila, sangat gila. Kalau Minjoo tetap mempertahankan tubuh hangat Baekhyun menempel dengannya, tangannya menahan pinggangnya, apalagi aroma-memabukkan-sialan itu terus menguar di sepanjang hidungnya, Minjoo bisa-bisa kehilangan akal sehatnya yang memang sudah hilang. Belum lagi ditambah perutnya yang sedang teraduk-aduk, kalau kupu-kupu itu terus berpesta di dalam sana Minjoo benar-benar akan memuntahkan seluruh isinya tepat di hadapan Baekhyun. Memang sih itu yang Minjoo inginkan tapi Minjoo juga akan jijik untuk melihatnya.

“Ya!” Dalam satu sentakan Minjoo berhasil mendorong kursi—dan juga Baekhyun—ke belakang hingga gadis itu berdiri dari pangkuan Baekhyun. “Berhenti menggodaku, bodoh! Sudah kubilang aku sedang tidak dalam kondisi untuk menanggapimu!”

Minjoo pun mulai memutar tubuhnya, mulai meninggalkan Baekhyun, tapi Baekhyun berhasil lagi menahan tangannya.

“Ya!” Minjoo melepaskan tangan Baekhyun darinya. “Sudah kubilang jangan—“

“Kau sakit?”

Minjoo terdiam dan melihat Baekhyun yang entah sejak kapan sudah berdiri di hadapannya.

“Huh?”

“Telapak tanganmu berkeringat.”

Baekhyun hendak menarik tangan Minjoo lagi untuk memastikannya namun Minjoo langsung menghadangnya dengan memeluk telapak tangannya.

“Kalau kau sakit, telapak tanganmu pasti berkeringat.” Baekhyun menaikkan pandangannya dan menatap Minjoo. “Kau baik-baik saja? Kau sakit apa?”

Minjoo bisa merasakan rona wajahnya berubah menjadi merah. Seperti apa yang Baekhyun baru saja katakan, Minjoo memang memiliki kebiasaan tangan berkeringat disaat kondisi tubuhnya sedang tidak bagus. Kebiasaan ini sudah terjadi dari sejak ia kecil, tentunya saat mereka dahulu menghabiskan waktunya bersama.

Mengetahui Baekhyun yang masih mengingat kebiasaan kecilnya sangat ampuh sekali untuk membuat jantungnya berdetak di wajahnya, maksudnya membuat rona merah itu. Astaga.. perasaan ini benar-benar sangat kuat.

“T-tidak, aku tak sakit.”

Baekhyun mencoba menarik tangan Minjoo lagi tapi Minjoo berhasil menjauhkannya.

“Lihat? Kau pun tidak mau menunjukkannya padaku. Berarti benar, kau sakit.”

“Tidak, aku tidak sakit, Byun Baekhyun.”

Baekhyun menarik nafasnya begitu berat seraya perasaan khawatir itu begitu menekan dadanya. Dia tahu sekali bahwa Minjoo sedang membohonginya, entah untuk alasan apa gadis itu melakukannya.

“Tidak perlu berbohong, Han Minjoo. Kau sakit, aku tahu itu.” Baekhyun berusaha untuk menggenggam tangan Minjoo, “Ayo kita ke rumah sakit.”

Minjoo menggeleng dengan cepat sambil terus menahan tangannya.

“Aku tak sakit, aku baik-baik saja. Sudah ya, aku ke ruanganku dahulu.”

Bukannya Minjoo tidak mau mengakui pada Baekhyun bahwa ada sesuatu yang salah pada perutnya, hanya saja dia benar-benar berpikir bahwa dia bukan di titik harus dibawa ke rumah sakit. Selain itu, dia masih merasakan kehangatan rona pipinya yang memerah karena Baekhyun memangkunya ditambah mengingat kebiasaan kecilnya. Tidak lupa dengan Minjoo yang kalau sudah terlena pada Baekhyun akan membuat hal-hal gila jika dia tetap disampingnya, bukan?

Sesaat Minjoo telah berhasil memutar tubuhnya dan berjalan keluar dari pintu, ia masih mendengar renguhan kesal Baekhyun yang berteriak padanya. Maaf Byun Baekhyun, hati Minjoo harus dinetralisir dahulu sebelum berada disampingmu untuk waktu yang cukup lama.

“Ya!! Han Minjoo!!”

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Minjoo berjalan pelan seraya menahan perutnya untuk tidak mengeluarkan semuanya. Ini sudah lima jam lamanya Minjoo merasakan perutnya yang terus terkocok. Seperti yang tadi sudah Minjoo katakan pada Yubi, perutnya yang aneh ini memang sudah terjadi dari beberapa hari yang lalu, hanya saja untuk kemarin-kemarin ini, perutnya hanya terasa teraduk untuk beberapa waktu saja. Tidak pernah terasa sampai lima jam seperti hari ini.

“Kalau kalian mau keluar, ya keluar saja. Tidak perlu membuatku bingung harus mengeluarkan kalian atau tidak.” Keluh Minjoo pada perutnya. Rasanya seperti Minjoo ingin menusuk perutnya dan mengeluarkan semua adukan itu sendiri menggunakan tangannya.

Setelah berhasil sedikit menceramahi perutnya, Minjoo menegakkan tubuhnya dan mulai berjalan untuk keluar dari gedung. Waktu kerjanya sudah habis dan Minjoo sudah siap untuk pulang.

“Minjoo-ya!”

Minjoo menolehkan pandangannya pada sumber suara dan ia menemukan Luhan yang berada di ruang tunggu lobby.

“Oppa.”

Minjoo tersenyum pelan dan Luhan telah berhasil menghampirinya.

“Kau sudah pulang?” Luhan juga telah tersenyum sambil memerhatikan Minjoo detil. Saat beberapa detik, Luhan belum menyadarinya. Namun, saat melihat ada raut wajah Minjoo yang sedikit kesakitan, Luhan menyadari ada sesuatu yang terjadi pada Minjoo.

“Kau.. baik-baik saja, Minjoo-ya?” Luhan memegang lengan Minjoo, “Sepertinya kau sakit..”

Minjoo tersenyum, berharap senyuman itu bisa menyingkirkan kekhawatiran Luhan seraya menghempaskan tangan Luhan secara lembut dari lengannya. Minjoo sedikit khawatir jikalau orang-orang diperusahaannya melihatnya saat ini. Seperti yang Baekhyun bilang, hampir seluruh karyawan perusahaan mengetahui dirinya yang berstatus istri dari sang direktur utama.

“Aku baik-baik saja, hanya sedikit tidak enak badan.” Minjoo menatap Luhan dengan tatapan yang kuat, “Omong-omong, kenapa akhir-akhir ini aku sering bertemu dengan Oppa? Oppa tak ada pekerjaan apa?” Tuturnya untuk mengalihkan pembicaraan sebelumnya.

“Ya..” Luhan menatap Minjoo dengan raut sedih, Luhan berhasil masuk ke dalam perangkap pertanyaan alihan itu. “Apakah itu tak jahat menyebutku orang tak ada pekerjaan? Aku hanya ingin bertemu denganmu, tidak boleh?”

Minjoo meringis pelan, “Ah, maaf, Oppa. Kurasa kata-kataku berlebihan..”

Luhan berdecak pelan lalu ia menatap Minjoo khawatir kembali. Oh, pria itu belum melupakan tentang kekhawatirannya pada Minjoo.

“Ya. Kau bilang kau tak enak badan, berarti benar kau sakit, Minjoo-ya.” Luhan tampak sedikit ingin menarik tangan Minjoo namun Minjoo berhasil menghadangnya, “Ayo kita ke rumah sakit saja.”

Minjoo menggeleng pelan, “Aku bilang aku baik-baik saja. Hanya sedikit tidak enak badan bukan berarti harus dibawa ke rumah sakit, Oppa..”

“Tapi, Minjoo-ya—“

“Pokoknya jangan membawaku ke rumah sakit!” ancamnya meski dia hanya bercanda. “Atau aku tidak akan pernah mau bertemu Oppa kembali!?”

Luhan sebenarnya masih sangat khawatir dan ingin sekali menarik Minjoo untuk ke rumah sakit. Tapi, pria itu sebisa mungkin menahannya karena dia ingin menjaga dan menghargai Minjoo. Luhan menyadari bahwa Minjoo sedikit membuat batas di antaranya dan Luhan sangat tahu alasannya apa.

“Ya sudah, kalau begitu biarkan aku mengantarmu.” Minjoo seperti hendak memprotes tapi Luhan langsung menatapnya galak. “Tidak ada penolakan! Ya, aku ini Oppa-mu tapi kenapa aku tak boleh menolongmu sih!?”

Minjoo pun tak bisa apa-apa selain mengalah dan terkekeh pelan pada Luhan.

.

.

“Ya. Baekhyun dimana, hm?”

Minjoo melirik sedikit pada Luhan, sedikit aneh Luhan bertanya tentangnya namun kemudian dia hanya mengangkat bahunya acuh.

“Dia dan aku itu memiliki jadwal yang berbeda, Oppa. Aku pulang jam 5, belum tentu juga dia pulang jam 5.”

Luhan yang berada di kemudinya sedikit menyipitkan matanya, “Tapi kau kan sedang sakit, apa dia tidak tahu?”

“Dia tahu.”

Untung lampu perempatan sudah berubah berwarna merah. Kalau tidak, mungkin Minjoo akan menjadi korban kecelakaan pada hari itu karena Luhan menghentikkannya secara tiba-tiba.

“Oppa! Pelan-pelan menyetirnya..” keluh Minjoo sambil melirik sebal pada Luhan. Luhan mengacuhkannya dan menatap Minjoo serius.

“Dia tahu tapi dia tidak sedikit pun mencoba untuk mengantarmu ke rumah sakit atau pun rumah?”

Minjoo menghela nafasnya dan menatap jalanan tak peduli, “Dia sudah mau membawaku ke rumah sakit tapi seperti yang kulakukan pada Oppa, aku menolaknya.”

“Tetap saja, sudah tahu kau sedang sakit tapi masih bekerja?” Luhan berdecak pelan sambil melihat Minjoo getir, “Dia itu suamimu atau bukan, sih!?”

Sejujurnya hati kecil Minjoo merasakan denyutan nyeri sambil dia berkata: Baekhyun tak peduli padamu, hanya saja dia membuang semuanya dan berpikir positif.

“Tadi kan sudah kubilang, aku memang sedikit sakit tapi ini bukan kondisi dimana aku harus dibawa ke rumah sakit.” Minjoo menatap Luhan yang menatapnya begitu serius, “Oppa.. kau ini kenapa, hm!? Kau cemburu ya pada Baekhyun!?”

“Iya, aku cemburu. Harusnya aku yang menikah denganmu dan bukannya dia!”

Minjoo tahu bahwa perkataan Luhan itu hanya bercanda, mengingat dahulu Luhan juga sering berkata bahwa dia akan menikahinya.

“Oppa, berhentilah. Itu menjijikkan.” Minjoo berucap sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

Luhan pun terdiam, bergeming selama beberapa detik dengan ingatan tentang dirinya dan Minjoo dahulu. Masa-masa dimana mereka bisa dikatakan kelampau dekat hanya sebatas hubungan senior dan junior.

“Kau itu menyukai Baekhyun sebanyak itu ya?”

Minjoo tersentak kaget dan membelalakan matanya.

“Sebanyak itukah perasaanmu pada Baekhyun sampai-sampai kau membelanya dihadapanku?”

Minjoo hanya bergeming tanpa suara. Rasanya jantungnya seperti tersedak dan perutnya semakin terkocok.

“Oppa kan tahu itu.”

Minjoo menelan salivanya perlahan sambil memutar kepalanya. Ini terlalu memalukan untuk dikatakan.

“Tanpa aku perlu bilang, pasti Oppa sudah mengetahuinya.”

Meski Luhan tak bisa melihat raut wajah Minjoo, Luhan tahu persis bahwa yang gadis itu katakan adalah serius dari hatinya. Dia hanya bisa terdiam dengan perlahan cengkraman di kemudinya sedikit menguat. Ada rasa sakit yang semakin menjadi mendengar itu dari Minjoo. Meski Minjoo tak mengatakannya secara langsung, Luhan sudah tahu pasti apa jawabannya.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Minjoo mendudukan tubuhnya di atas kasur setelah dia baru saja membersihkan seluruh tubuhnya. Waktu sudah malam, dan saat ini Minjoo mencoba untuk membaringkan tubuhnya, untuk tidur malam tentunya. Namun tepat setelah dia menaikkan kakinya ke atas ranjang, pintu kamarnya terbuka. Baekhyun masuk ke dalam kamarnya sambil membuka dasinya. Pria itu jelas sekali baru pulang.

“Kau sudah pulang?”

Baekhyun tidak menjawab dan dia hanya mendengus pelan.

“Pertanyaan retorik. Hanya membuang energiku kalau aku menjawabnya.”

Minjoo menganga sambil menahan emosinya mati-matian. Dia sudah mengumpulkan nyawa malaikatnya untuk peduli pada pria itu tapi si sinting gila ini menanggapinya kelewat iblis. Baekhyun memang titisan iblis zaman akhir itu.

“Terserah denganmulah.” Minjoo sudah kelampau lelah—dan kesal—untuk menanggapinya, maka ia pun mencoba untuk membaringkan tubuhnya. Tapi, sesaat dia tengah mencoba untuk membaringkan tubuhnya, dia merasakan perutnya seperti ingin mengeluarkan seluruhnya. Maka ia pun kembali bangun dan duduk di atas ranjang.

“Aish, kau ini kenapa, hm?” Minjoo berbicara pada perutnya, dengan volume sekecil mungkin. Berharap Baekhyun tak mendengarnya. “Aku ingin istirahat, jadi kalian juga istirahat, hm?”

Suara kecil Minjoo belum cukup untuk mengelabui pendengaran Baekhyun yang terlampau tajam. Tentu saja dia melihat itu dan mendengar semuanya, maka dari itu Baekhyun langsung merubah raut wajahnya sangat khawatir sambil menghampiri Minjoo.

“Ya, kau masih sakit?”

Minjoo mendongak, melihat Baekhyun dengan sebal sambil menyadari bahwa Baekhyun telah duduk di samping Minjoo.

“Bukankah kau tadi bilang bahwa kau tak mau membuang energimu untuk pertanyaan retorik?” desisnya dengan tajam.

Baekhyun berdecak sebal, ia seperti termakan oleh bumerangnya sendiri.

“Kenapa kau masih sakit?” Baekhyun mencoba merundukkan pandangannya dan melihat perut Minjoo. “Yang sakit itu perutmu?”

“Ck.” Minjoo meringis sebal dan kembali merundukkan pandangannya, untuk memijat perutnya. “Sudahlah, tidak usah sok-peduli.”

Baekhyun jelas mendengar itu semua dan ia memerhatikan Minjoo dengan mulut yang terbuka.

“Aish, sepertinya kau memang tidak sakit ya.” Baekhyun menatap Minjoo dengan tajam dan menyebalkan, “Sudah mulut tajam, tadi juga sudah senang bukan pulang bersama Luhan.”

Minjoo benar-benar menolehkan pandangannya untuk menatap Baekhyun sekilat mungkin. Tak lupa juga dia mengangkat alisnya. Minjoo tak salah dengar kan?

“Apa yang kau bilang?”

“Kau tadi pulang bersama Luhan. Bukankah kau senang, huh?” tanya Baekhyun lagi.

Inilah alasan yang membuat Baekhyun berkata sesinis itu pada Minjoo beberapa menit yang lalu. Sesaat jam kantor sudah selesai, Baekhyun juga ikut menyelesaikan jam kerjanya dengan membiarkan sisa pekerjaannya dikerjakan entah kapan agar dia bisa pulang besama Minjoo. Untuk informasi tambahan, Baekhyun dan Minjoo tidak pernah pulang bersama, sama seperti yang Minjoo bilang pada Luhan, jadwal mereka jauh berbeda. Sekarang kalian pikirkan saja, mengetahui istri kalian tengah sakit itu memangnya sangat nyaman untuk dipikirkan? Demi Tuhan, sepertinya kalau telepon Minjoo tidak gadis itu matikan, mungkin teleponnya akan berdering ratusan kali karena Baekhyun terus mencoba menghubunginya selepas Minjoo pergi dari ruangannya. Ini Han Minjoo, gadis yang Baekhyun paling sayang seumur hidupnya dan dia sedang sakit. Bagaimana Baekhyun tak khawatir?

Namun naasnya, si Luhan bajingan itu ternyata mengambil kesempatan lebih dahulu saat Baekhyun melihat mereka di lobby tadi, hendak menghampiri Minjoo karena Yubi bilang Minjoo baru saja turun dari ruangannya. Belum lagi Luhan yang menggenggam lengan Minjoo. Rasanya, Baekhyun ingin mematahkan lengan Luhan detik itu juga. Kenapa pria itu berani sekali menyentuh Minjoo!

Minjoo terdiam di tempatnya dan ia menatap Baekhyun dengan curiga. Sudah dua kali Minjoo mendengar perkataan Baekhyun yang membahas dirinya dengan Luhan. Belum lagi Minjoo bisa mendengar suara sinisnya setiap menyebutkan nama Luhan. Bukankah ini aneh disaat permasalahan tentang Luhan pernah terjadi enam tahun yang lalu?

“Kau ini sebenarnya cemburu bukan Luhan Oppa datang kembali ke Korea?” Minjoo melihat Baekhyun begitu serius, “Dari kemarin kau membahas pria itu terus, bertanya-tanya tentangnya.” Sebenarnya Minjoo sudah menumbuhkan bersitan harapan bahwa perkataannya benar tapi Minjoo harus menahannya. Yang kemarin saja sakit hatinya masih membekas. Yang Baekhyun bilang: Apa aku terlihat seperti pria cemburu di matamu?

“Sudahlah, bilang saja, bodoh. Aku tidak akan mengejekmu.” Ucapnya sambil tersenyum gummy.

Baekhyun berdecak kesal sambil tertawa pelan. Sesungguhnya itu adalah aksi dimana dia sedang menahan mati-matian groginya disana. Pertanyaan Minjoo itu sudah jelas sekali akan mendapatkan anggukan, bukan?

“Ck. Kau ini benar-benar gadis Candy ya? Sudah sering mengeluarkan semburat merah, sekarang berharap bahwa pangeran akan marah kalau melihat dirimu bermain dengan pria desa.”

Benar bukan seperti dugaannya. Untung saja Minjoo sudah membuang bersitan harapan itu saat ini.

Minjoo pun mengerucutkan bibirnya, “Ya. Kau itu bukan pangeran.”

“Tapi kau memang benar gadis Candy itu, yang terlalu cepat jatuh pada pesona pangeran.”

Minjoo langsung merasakan emosinya yang tumbuh sekilat mungkin di kepalanya. Rasanya ini sudah benar-benar puncaknya Minjoo. Minjoo paling benci kalau Baekhyun mengetahui kelemahannya.

“Terserah denganmu lah!” Minjoo mulai membaringkan tubuhnya sambil mengenyampingkannya dari Baekhyun. “Aku terlalu lelah untuk debat denganmu. Kau hanya akan membuat kepalaku semakin sakit.”

Baekhyun tertawa pelan dan dia mulai beranjak dari tepi ranjang Minjoo. Sebelum dia pergi meninggalkan Minjoo, dia menarik selimut Minjoo sampai menutupi seluruh tubuhnya. Membuat Minjoo membelalakan matanya.

“Benar, istirahatlah. Gadis Candy harus menyiapkan energinya untuk mengejar pangeran.”

Meski perkataannya terlampau menyebalkan, tapi Minjoo sudah terlebih dahulu memberi peliharaannya makanan sehingga ia tak mempedulikan perkataan itu. Terkutuklah wahai perasaan Minjoo.

.

.

Ini benar-benar menjengkelkan. Di waktu sedini hari ini, Minjoo mesti merasakan perutnya yang sangat teraduk hingga rasanya akan keluar semua dari mulutnya!? Ayolah, mata Minjoo terlampau berat untuk terbuka dan kakinya terlalu malas untuk bergerak ke kamar mandi kamarnya. Minjoo mencoba menahannya karena dia masih sangat mengantuk tapi itu benar-benar sudah titik teratasnya. Minjoo pun mengalah dan terpaksa membuka matanya lebar-lebar, kemudian bangkit serta dengan cepat berjalan ke kamar mandi. Saat dia di depan wastafelnya, Minjoo mencoba mengeluarkan semuanya tapi coba kalian tebak.

Yang keluar hanya air liurnya saja. Benar-benar air liurnya saja!

“Aish!” Minjoo membasuh mulutnya dengan air dan menyalakan keran untuk membasuh wastafelnya. “Kenapa hanya itu yang keluar!? Harusnya keluarkan saja semuanya!!”

Minjoo merenguh kesal pada cerminan dirinya di kaca hadapannya. Dia terdiam dahulu selama beberapa detik, mencoba merasa-rasa apakah perutnya sudah tak teraduk kembali. Setelah detik itu berubah menjadi menit dan Minjoo tak merasakan bahwa perutnya akan mengeluarkan sesuatu lagi, Minjoo pun memutuskan untuk kembali tidur di atas ranjangnya.

Baru beberapa menit Minjoo berhasil membaringkan tubuhnya, perut sialan itu terasa teraduk kembali sampai ke puncaknya. Membuatnya kesal dan Minjoo memutuskan untuk membiarkannya. Selama beberapa menit, Minjoo bisa menahannya. Tapi setelah menit yang ketiga, dia bisa merasakan bahwa yang kali ini benar-benar akan mengeluarkan semuanya.

Karena percaya yang kali ini akan mengeluarkan segalanya, dengan cepat Minjoo pun bangkit dari tidurnya lalu kembali berlari ke kamar mandinya, menuju wastafelnya.

“Ya!!”

Minjoo memaki perutnya dengan sebal. Sialnya, yang keluar itu hanya air liur tadi lagi!

“Kalau mau keluar, ya keluar saja!! Tidak perlu membuatku susah seperti ini!!”

Minjoo terus mengeluh sebal dan dia memutuskan untuk tetap diam di kamar. Awas saja kalau perut ini melakukan hal yang sama lagi, Minjoo benar-benar akan membelah perutnya dan membuang semua isinya dengan tangannya sendiri!

Selama sepuluh menit, Minjoo merasa tidak ada tanda-tanda bahwa dia akan muntah air liur itu lagi. Dia pun akhirnya memutuskan untuk kembali lagi ke kasurnya setelah dia sedikit menceramahi perutnya dengan ancaman: kalian melakukan itu lagi padaku, benar-benar akan kubuang kalian ke tempat sampah.

Sebelum naik ke atas ranjang, Minjoo memerhatikan Baekhyun yang telah tertidur menghadapnya. Karena khawatir pergerakannya akan membangunkan Baekhyun, Minjoo pun dengan sangat perlahan naik ke atas ranjang lalu membaringkan tubuhnya.

Awalnya Minjoo hanya menatap langit-langitnya, namun entah seperti Baekhyun mempunyai kekuatan cahaya, pria itu terlalu bersinar hingga membuat Minjoo menolehkan kepalanya dan menghadapkan tubuhnya pada Baekhyun.

Ini adalah kali pertamanya Minjoo memerhatikan Baekhyun tertidur di hadapannya. Meski mereka sudah menikah untuk waktu hampir dua bulan ditambah telah tidur bersama selama waktu itu juga, Minjoo tidak pernah tahu bahwa Baekhyun memiliki wajah tidur yang kelewat menggemaskan sampai rasanya Minjoo ingin mencubitnya. Menciumnya. Ups, maaf.

Minjoo terus tersenyum gummy, menatap Baekhyun sambil mengangkat-angkat tangannya untuk menyentuh wajah Baekhyun. Namun, beberapa detik setelah itu ia merasakan kembali perutnya teraduk sampai titik teratasnya. Minjoo hampir saja memuntahkannya pada Baekhyun namun dia berhasil untuk menutup mulutnya seraya bangkit dan berlari lagi menuju kamar mandinya.

Saat itulah, Baekhyun baru merasa tidurnya terganggu saat Minjoo loncat dari ranjangnya, menggoyangkan tubuhnya. Membuat Baekhyun membuka matanya seraya menguceknya perlahan.

“Ya. Kenapa kau?”

Baekhyun tak mendapatkan jawabannya karena Minjoo sudah berada di kamar mandi. Membuat Baekhyun berdiri dari ranjangnya dan menuju kamar mandi.

“Minjoo-ya.” Baekhyun mengetuk pintunya beberapa kali. “Kenapa kau?”

Selama beberapa menit, yang Baekhyun dengar hanya suara air yang mengalir ke atas wastafel. Lalu, tak jauh dari situ, pintu kamar mandi terbuka dan memunculkan Minjoo yang wajahnya sudah sangat pucat. Demi Tuhan, rasa kantuk Baekhyun langsung menghilang seratus persen dan tergantikan oleh perasaan takutnya.

“Ya. Kau tidak apa-apa?” Baekhyun menarik tangan Minjoo dan menggenggamnya. Telapak tangannya basah. Membuatnya tiba-tiba merasa sangat kesal.

“Ya! Ini apa, hm!?” Baekhyun terus menggenggam tangan Minjoo, mengusap telapak tangannya yang berkeringat untuk menunjukkan bahwa gadis itu telah salah membohonginya. “Kau membohongiku!?”

Minjoo merunduk lesu, takut karena amukan Baekhyun ditambah sudah tak bertenaga.

“Maaf, Baekhyun-ah..”

Baekhyun sebisa mungkin menahan emosinya dengan menutup matanya. Ya Tuhan, kalau kalian bisa melihat wajahnya, itu benar-benar berwarna merah sekarang.

“Kenapa!? Kenapa kau melakukan itu padaku!?” Baekhyun membuka matanya dan menatap Minjoo tajam. Kali ini dia sudah menggenggam Minjoo lebih erat, “Tidak, aku akan memarahimu nanti. Sekarang kita ke rumah sakit.”

Baekhyun telah berhasil untuk menarik tangan Minjoo tapi saat langkahnya bergerak, langkah Minjoo tak bergerak sama sekali.

“Tidak mau.” Minjoo menahan tangan Baekhyun melewati genggaman tangannya, “Aku tak mau ke rumah sakit.”

Baekhyun sebenarnya bisa saja mengangkat tubuh Minjoo dan menyeret gadis itu ke rumah sakit, tapi dia memutar tubuhnya untuk mendengar alasan Minjoo.

“Kenapa tidak mau!?”

“Aku tak mau diinfus atau dirawat, Baekhyun-ah.”

“Ya!!!”

Minjoo sempat merasakan jantungnya akan lepas saat mendapatkan sentakan itu. Perlahan Minjoo pun mendongakkan kepalanya dan menatap Baekhyun. Saat itu, ada perasaan yang lebih mengganggu dari perutnya yang muncul ketika melihat raut wajah Baekhyun. Wajah pria itu benar-benar bias, seperti baru saja melihat hantu di hadapannya.

“Terus apa maumu!? Mau membuatku tersiksa karena mengkhawatirkanmu lalu membuatku mati perlahan-lahan, begitu!?” Baekhyun benar-benar terlihat frustasi di tempatnya dan itu membuat Minjoo merasa bersalah. “Kalau kau memang mau membalas dendam padaku, tidak perlu dengan cara ini! Tidak perlu dengan cara menyiksa dirimu!”

Minjoo bergeming dan dia menatap Baekhyun yang sudah seperti ingin menangis meraung-raung di tempatnya. Baru kali ini Minjoo melihat Baekhyun seperti keruntuhan dunianya di hadapannya. Harusnya Minjoo merasa senang melihat Baekhyun tersiksa karenanya, seperti kata pria itu, Minjoo berhasil membalas dendamnya. Tapi.. yang saat ini Minjoo rasakan adalah perasaan bersalah yang semakin menyakiti hatinya.

“Ya.. Baekhyun-ah—“

“Kumohon, ayo kita ke rumah sakit, Minjoo-ya.” Ucapnya sambil menggenggam tangan Minjoo dengan lembut. “Jangan seperti ini.. Jangan membuatku khawatir. Aku sangat membenci melihatmu terluka seperti ini.”

Ya Tuhan, perasaan ini benar-benar begitu kuat, bukan? Sampai rasanya Minjoo terjatuh di bawah batu rasa kebersalahannya karena membuat Baekhyun mengkhawatirkannya.

.

Pada akhirnya, Minjoo tetap berpegang teguh pada pendiriannya untuk tidak pergi ke rumah sakit. Memang sih Minjoo terlihat egois dan perasaan bersalah itu semakin menjadi-jadi. Tapi, bagaimana lagi. Minjoo sudah bilang bukan, dia belum di titik harus dibawa ke rumah sakit.

“Minum ini.”

Perkataan Baekhyun terlalu dingin dan terlalu galak untuk ukuran Minjoo yang sedang sakit saat ini. Minjoo perlahan bangkit dari baringannya seraya mengambil gelas yang berisi air hangat dari tangan Baekhyun. Minjoo akan membiarkan perlakuan Baekhyun yang kali ini karena memang dia yang salah.

“Kau itu memangnya anak kecil berumur lima tahun, huh?” Baekhyun telah duduk di tepi ranjang Minjoo dan memandang Minjoo dengan tajam. “Tidak mau ke rumah sakit karena takut diinfus?”

“Ya. Aku tidak takut diinfus.” Minjoo mengeluh pelan, “Aku hanya berpikir bahwa aku belum di titik dimana aku harus dibawa ke rumah sakit, Baekhyun-ah..”

“Tapi tanganmu sudah berkeringat sejak tadi siang, Han Minjoo. Artinya ada sesuatu yang salah di dalam perutmu itu.”

Minjoo pun hanya menghembuskan nafasnya pelan dan dia mengalah. Ya sudah, memang pada dasarnya Minjoo yang menyebabkan kekacauan ini.

“Iya, iya. Aku minta maaf sekali lagi karena membuatmu khawatir.” Minjoo menaruh gelas itu di atas nakas, lalu perlahan membaringkan tubuhnya lagi. “Kau tidur kembali sana. Besok kau harus pergi kerja, Baekhyun.”

“Aku tidak akan pergi kerja sebelum kau pulih.”

Inilah yang membuat Minjoo paling tidak mau terlihat sakit di depan Baekhyun. Dia paling tak suka kalau Baekhyun harus ‘bolos’ kerja hanya karena merawatnya.

“Ya. Kau itu kan direktur utama perusahaan. Kau tidak bisa tidak masuk terus, Byun Baekhyun.” Minjoo menatap Baekhyun sedikit tegas, “Kemarin kau sudah pernah tidak masuk beberapa hari karena merawatku, sekarang mau seperti itu lagi? Kau mau dianggap direktur yang tidak benar, huh?”

“Tutup mulutmu, sekarang perutmu bagaimana rasanya?”

Tiba-tiba saja tangan Baekhyun menarik tangan Minjoo lagi, menggenggamnya begitu erat namun ada perasaan hangat yang menjalar disana. Membuat jantung Minjoo ingin meledak.

“Ini masih sangat basah, Minjoo-ya.” Ucapnya sambil menunjukkan genggaman tangan itu pada Minjoo. “Perutmu berarti belum pulih.”

Perlahan namun pasti, Minjoo bisa sangat jelas melihat bahwa Baekhyun menyelipkan tangannya ke dalam selimut Minjoo. Gadis itu kaget setengah mati, namun ada yang membuatnya benar-benar merasakan jantungnya lepas dan berdetak di tenggorokannya sesaat tangan hangat itu terasa di perutnya. Mengusapnya terlampau lembut.

“Ini aneh, perutmu tidak berbunyi seperti orang yang keracunan.” Baekhyun kemudian mengalihkan tatapannya untuk menatap Minjoo, “Kau makan apa sih sebenarnya?”

Demi Tuhan, ini benar-benar gila. Sepertinya Minjoo benar-benar akan meledak oleh peliharaan dan jantungnya!

“Y-ya!” Minjoo menjauhkan tangan Baekhyun dari perutnya. “Kenapa kau memegang perutku!?”

Pertanyaan itu kelewat jelas menunjukkan bahwa kau salah tingkah, Han Minjoo.

“Aku hanya memeriksanya, kenapa memang?” Baekhyun melihat Minjoo dengan guratan alis yang menyatu namun detik setelahnya dia tampak menahan tawanya.

“Kenapa? Kau merasa mau gila karena aku menyentuhmu, begitu?”

Baekhyun itu benar-benar seorang cenayang yang bisa menebak situasi dan kondisi hati Minjoo. Perkataan itu pun sukses membuat Minjoo tergelak dan menyadari bahwa dia sebodoh itu. Ada tidak sih tempat les yang bisa mengajarkan bagaimana caranya mengontrol hati saat sedang jatuh cinta?

“Lupakan! Kau itu benar-benar mutan ya, tadi saja bisa marah-marah karena mengkhawatirkanku dan sekarang sudah mau mengejekku lagi?!” Minjoo menarik selimutnya atas-atas hingga menutupi wajahnya. “Dasar pria gila, mutan gila.”

Meski suaranya teredam, Baekhyun bisa mendengar semuanya. Dia pun semakin tertawa mendengar itu.

“Ya. Aku pernah bilang bukan kalau aku sudah melihat semuanya? Kenapa kau masih saja malu, hm?”

Minjoo benar-benar merasa kerongkongannya telah kering, dia jadi teringat dengan kejadian di Jepang satu bulan yang lalu. Ah, dia tidak boleh mengingat malam sakral itu!

“Sudahlah, berhenti menggodaku!” Minjoo semakin menyembunyikan dirinya di balik selimut, “Aku sudah baik-baik saja, sekarang kau tidur kembali. Mungkin ini karena aku kedinginan saja, jadi jangan mengkhawatirkanku kembali.”

“Kau kedinginan?” Baekhyun menolehkan pandangannya pada air conditioner di pojok ruangan. “Padahal tidak aku nyalakan pendingin ruangannya..”

Minjoo mengangguk-angguk kepalanya, menyadari bahwa sedari tadi dia merasa kedinginan.

“Hm, aku memang kedinginan sedari tadi.”

Baekhyun bergeming dan setelahnya seperti dia menemukan sesuatu di pikirannya, dia menatap Minjoo selama beberapa detik. Membuat Minjoo risih karena perasaan gila itu masih menggila di dalam sana.

“Ya. Aku bilang tidur sana, kenapa kau malah melihatku!?”

Baekhyun terus menatap Minjoo dengan diam namun beberapa detik setelahnya dia bangkit, membaringkan tubuhnya tepat di sebelah Minjoo.

“Jangan memprotes atau melepaskannya, kau hanya perlu diam. Mengerti?”

Minjoo menautkan kedua alisnya kebingungan lalu menoleh ke arah Baekhyun. Saat itulah, Minjoo merasakan jantungnya lagi dan lagi lepas dan berdetak di tenggorokannya. Mungkin, lebih tepatnya berdetak di seluruh tubuhnya.

Baekhyun membawanya ke dalam dekapan tubuhnya yang hangat. Kelewat hangat. Tangannya ia taruh untuk melingkari pinggang Minjoo, menahannya dan membuat Minjoo merasa menjadi manusia paling aman di muka bumi. Aroma tubuhnya yang selalu membuat Minjoo mabuk dan candu langsung masuk ke indera penciuman Minjoo. Belum lagi telinga Minjoo yang tepat berada di dadanya, mendengar suara degupan jantung Baekhyun yang terdengar seperti melodi terindah di sepanjang hidupnya.

“Bagaimana?” ucap Baekhyun tepat di telinga Minjoo. “Tubuhmu sudah tidak dingin lagi? Harusnya sudah tidak..”

Minjoo tahu bahwa selama ini perasaannya terhadap Baekhyun memang sangat kuat, kelampau sangat kuat malah. Di setiap perkataan Baekhyun yang kadang menyebalkan namun lebih sering manis, atau di setiap sentuhan Baekhyun pada kulitnya, tanpa sadar itu semua lah yang membuat Minjoo terus menumbuhkan perasaannya untuk Baekhyun. Minjoo sudah gila dan dia ingin berhenti gila, tapi ini semua terasa benar dan membuatnya nyaman.

Tangan Minjoo pun perlahan terangkat dan membalas pelukan Baekhyun. Kita tidak perlu membahas cerita ‘Harga Diri Minjoo’ lagi karena cerita itu memang sudah benar-benar selesai sampai di sini.

“Hm, ini hangat. Aku sudah merasa lebih hangat.”

Kalung yang berbentuk bunga ini tidak akan pernah Minjoo lepas, Minjoo berjanji dengan itu. Seperti kata Baekhyun tentang kalung itu, ia tidak akan pergi dari Baekhyun. Selamanya.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Hyojoo berjalan dengan wajahnya yang sedikit bias meski dia memakai make up yang cukup untuk menyembunyikannya. Ini semua tidak lain karena perkara yang terjadi diantara dirinya dan Chanyeol beberapa hari lalu, dimana Ayahnya memutuskan untuk menjodohkannya dengan anak dari teman lamanya sekaligus investor terbesar di perusahaannya, Kim Junmyeon. Demi Tuhan, Hyojoo tidak pernah tahu rencana itu sama sekali, hari itu benar-benar terlalu mendadak dan cukup membuat Hyojoo merasa jatuh ke dasar neraka.

Hyojoo tahu, mungkin hubungannya dengan Chanyeol benar-benar bisa berakhir saat ini.

“Hyojoo-ya.”

Hyojoo mendongak dan menemukan Chanyeol di kursi taman, dimana mereka membuat janji untuk bertemu. Hyojoo ingin menangis dan berlari memeluk Chanyeol sebenarnya, karena masalah yang terjadi beberapa hari lalu membuat Chanyeol menghilang darinya dari hari itu sampai hari ini. Hyojoo tahu pasti Chanyeol begitu terpukul maka Hyojoo membiarkan Chanyeol yang menghilang darinya.

“Park Chan!” Hyojoo tersenyum cerah lalu menghampiri Chanyeol. Gadis itu kemudian menggenggam tangan Chanyeol, “Kau kemana saja, hm? Kau baik-baik saja?”

Hyojoo tahu itu adalah pertanyaan yang sangat salah untuk diajukan kepada Chanyeol. Perlahan, dia merasakan tangan Chanyeol melepaskan tangannya.

“Hm, aku baik-baik saja, noona.” Sudah lama rasanya mendengar Chanyeol memanggilnya ‘noona’ dan Hyojoo tiba-tiba merasa sangat takut karena panggilan itu. “Noona bagaimana? Noona sehat saja, bukan?”

Hyojoo tak mampu berkata karena ia seperti ingin menangis detik itu juga, “Aku baik-baik saja, Chanyeol-ah.”

Mereka kemudian memutuskan untuk duduk di kursi taman, saling menutup mulut mereka. Entahlah, kata-kata mereka seperti tertahan di dalam sana dan jika salah satu mencoba untuk membukanya, maka semuanya benar-benar berakhir.

“Junmyeon itu temanmu, noona?”

Hyojoo menegangkan tubuhnya, dia benci kalau harus membahas hal ini sebenarnya.

“Iya, dia temanku. Dia anak dari teman lama ayahku, dahulu kita sering bemain bersama saat kita kecil.”

Chanyeol mengangguk perlahan, “Ah, teman kecilmu ternyata..” Chanyeol mencoba tersenyum meski rasanya sangat menyakitkan. “Dia baik, noona?”

Hyojoo melirik ke arah Chanyeol dengan matanya yang sudah panas, “Kenapa kau menanyakan itu?”

Chanyeol terdiam, mencoba untuk menahan segalanya di dalam sana. Meski berat, dia pun akhirnya menolehkan wajahnya untuk menatap Hyojoo.

“Aku hanya ingin tahu apakah dia orang baik atau tidak, karena sepertinya kalau mapan, dia jauh lebih mapan dariku.” Chanyeol tersenyum pada Hyojoo.

“Aku harus tahu apakah pria penggantiku bisa menjaga noona dengan baik dan bisa membuat noona bahagia selamanya..”

Air mata Hyojoo pun jatuh melewati pipinya.

“Ya—“

“Noona, aku mau hubungan kita berhenti sampai disini saja.” Chanyeol memotong perkataan Hyojoo dan menatap gadis itu sangat serius. “Aku ingin kita pisah dan menjalani hidup kita masing-masing, noona dengan kehidupan noona. Aku dengan kehidupanku.”

“Aku akan berhenti untuk bisa di samping noona karena nyatanya aku tidak pernah bisa ada di posisi itu. Jadi, aku ingin kita berhenti sampai disini saja.”

Chanyeol rasanya ingin mati setelah mengeluarkan semua kata-kata itu. Setiap kata yang keluar dari mulutnya seperti menikam jantung Chanyeol dengan samurai terbesar di dunia. Di tambah dengan Hyojoo yang menangis di hadapannya, membuat segalanya semakin hancur.

“Tolong lupakan perasaanmu padaku, noona.. dan hiduplah dengan bahagia.”

Chanyeol beranjak dari tempatnya, hendak meninggalkan Hyojoo namun Hyojoo berhasil menahan tangannya.

“Kau berjanji untuk terus bersamaku, Chanyeol-ah..” Tangan Hyojoo begitu menggenggamnya begitu erat hingga Chanyeol tak tahan untuk mengeluarkan air matanya. “Kau bilang.. kau ingin selamanya berada di sampingku.. apa kau tidak ingat dengan itu, Park Chanyeol..”

Dengan tenaga yang tersisa, Chanyeol pun lagi dan lagi menghempaskan tangan Hyojoo.

“Maaf, harusnya aku tidak pernah membuat janji itu. Aku tak bisa menepatinya.” Chanyeol menahan serakan suaranya lalu melanjutkan, “Jadi, kumohon.. lepaskan dan lupakan aku. Berbahagialah dengan Junmyeon karena aku memang tidak pernah bisa membuatmu bahagia.”

Chanyeol pun mulai melangkahkan kakinya dengan air mata yang telah mengalir deras dipipinya. Keadaan pria itu tak jauh berbeda dengan Hyojoo, minus dengan isakannya yang langsung muncul tepat Chanyeol menjauhinya.

Saat itulah, Hyojoo dan Chanyeol merasakan dunianya hancur seketika. Hyojoo salah mengenai batas di antara dirinya dan Chanyeol. Hyojoo bilang, batas itu tidak ada disaat Chanyeol-lah yang selama ini terus menerus mengejar posisi yang lebih tinggi untuk Hyojoo. Untuk bisa bersama dengan Hyojoo, Chanyeol harus memiliki kelebihan-kelebihan Hyojoo yang menjadi kekurang-kekurangan Chanyeol. Batas itu terlalu kentara meskipun perasaan mereka bisa saja menghancurkan batas itu.

Kenyataan dimana bahwa mereka tidak bisa bersama selamanya sudah terlampau jelas sekarang dan itu  sangat kuat untuk menghancurkan tubuh mereka. Rasanya sakit dan mereka merasa.. mati adalah pilihan terbaik untuk mereka.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Yubi sedikit berlari sesaat dia melihat pintu lift akan di tutup. Dia sudah sangat terlambat karena dia bangun kesiangan pagi tadi.

Mungkin dewi fortuna sedang berpihak padanya, maka dia masih bisa menekan tombol liftnya dan tak membiarkan lift itu berjalan lebih dahulu sehingga membuka pintunya. Namun, sesaat itu juga dia tahu memang bangun kesiangan adalah suatu pertanda bahwa harinya akan berjalan dengan buruk.

Buktinya, saat ini ada Sehun di hadapannya. Pria yang ia mati-matian hindari sejak kejadian hari itu.

Sejujurnya Yubi ingin sekali kabur saat ini, berlari entah kemana meski harus ke dalam tanah tidak apa-apa. Yang penting tidak di depan Sehun sekarang ini.

“Ya. Kau tidak akan masuk, huh?” Sehun menyadarkan lamunannya, “Kau sedang terlambat, bukan? Kalau kau mau menunggu lift selanjutnya mungkin kau akan kena marah Minjoo noona.”

Yubi pun mendengus pelan dan dia memutuskan untuk mengalah. Selain itu, kalau dia menghindar juga akan terlalu kentara bahwa dirinya adalah pelaku kejahatan di hari itu di saat harusnya Sehun yang menjadi penjahatnya. Membuang rasa malunya, Yubi pun berjalan untuk masuk ke dalam lift tersebut.

Suasana begitu canggung dan terdengar sangat hening. Mereka berdua bahkan sampai bisa mendengar deruan mesin lift yang harusnya tertutupi oleh ruangan kedap suara lift ini. Entahlah, meski mereka terdiam, nyatanya mereka seperti menyimpan banyak kata atas kejadian yang terakhir kali.

“Yubi-ya—“

“Aku ingin kau melupakan perkataanku yang kemarin itu, Sehun-ah.” Yubi langsung memotong perkataan Sehun dengan cepat. Membuat Sehun menutup mulutnya dan membiarkan Yubi yang melanjutkannya.

“Saat itu, aku hanya terlalu terbawa emosiku. Hari itu aku sangat sensitif, sehingga mulutku mengatakan semua yang ingin aku katakan. Maaf, karena hari itu aku menyentakmu cukup kasar.”

Sehun masih tetap terdiam dan menatap Yubi. Sedikit membuat Yubi risih.

Ting.

Untung saja detik setelah itu pintu lift sudah membuka, seperti membuat jalan keluar dari kejadian ini semua.

“Pokoknya, kau lupakan saja semua perkataanku yang kemarin. Mungkin aku masih harus menjauh darimu beberapa hari lagi, tapi setelahnya kita bisa berteman seperti semula. Yang kau lakukan hanya perlu melupakan perkataanku, mengerti?”

Yubi tersenyum pahit sambil berjalan keluar dari lift. Sehun tentu saja tidak bisa membiarkannya begitu saja, ada sesuatu yang perlu ia katakan juga.

“Yubi-ya!”

Yubi tidak menggubrisnya dan tetap berjalan lurus menuju ruangan kerja mereka. Membuat Sehun kini berlari untuk menghampirinya.

“Yubi-ya, aku juga punya—“

Sehun menghentikan perkataannya sesaat ia berada di depan pintu. Begitu dengan Yubi, yang sudah lebih dahulu melihat semuanya.

“Hyung..” Sehun dan Yubi melihat persis ke arah meja Chanyeol. Pria itu sedang mengemas barang-barangnya, menaruhnya di dalam kardus.

“Oppa, kau mau kemana?”

Chanyeol menolehkan kepalanya lalu tersenyum pada mereka berdua.

“Kalian sudah datang?” Chanyeol baru saja menaruh benda terakhirnya ke dalam kardus. Setelah selesai, dia menutup kardusnya dan menepuk-nepuk tangannya. Bermaksud untuk membersihkan tangannya yang sedikit kotor, lalu memutar tubuhnya menghadap Sehun dan Yubi.

“Baguslah kalau kalian sudah datang, aku tidak perlu membuat janji dengan kalian untuk bertemu yang terakhir kalinya.”

Mata Yubi tiba-tiba memanas dan ia menatap Chanyeol dengan sedih, “Apa maksud Oppa..”

“Aku akan berhenti dari perusahaan, Yubi-ya.” Chanyeol menatap Yubi sekuat mungkin, dia tahu dia juga ingin menangis seperti Yubi. “Aku akan kembali pulang ke rumah ibuku dan meninggalkan Seoul..”

Mendengar itu tak kuasa untuk membuat Yubi menahan air matanya dan langsung menghampiri Chanyeol,

“Kenapa? Kenapa seperti itu?” Yubi sudah menangis cukup hebat sambil menahan lengan Chanyeol, “Apa alasannya? Kenapa Oppa tidak bilang padaku atau kita semua? Kenapa Oppa tidak mendiskusikannya dengan kita semua?”

Chanyeol jadi merasa bersalah dengan air matanya yang ikut ingin turun juga dari pelupuk matanya melihat Yubi menangis seperti ini. Baginya, Yubi, Sehun, dan Minjoo itu sudah seperti saudaranya sendiri. Mereka telah bekerja untuk waktu yang cukup lama, meski belum mencapai belasan apalagi puluhan tahun, sudah cukup bagi Chanyeol menganggap mereka keluarga dekatnya. Dan Chanyeol merasa tersakiti mengetahui bahwa dia harus berpisah dengan mereka semua.

“Hyung..” Sehun juga tidak jauh berbeda dengan Yubi, pandangannya begitu kecewa dan terlihat sangat sedih. “Apa benar-benar harus pergi? Kenapa kau tidak pernah bilang pada kami bahwa kau akan pergi? Apa alasannya..?”

Chanyeol menatap mereka berdua secara bergantian lalu setelahnya ia menarik mereka berdua untuk berada di pelukannya.

“Maaf, aku tahu ini sangat mendadak dan kalian pasti sangat kecewa mendengarnya. Maaf juga aku tak bisa memberitahu alasannya, membuat kalian semakin khawatir tapi percaya padaku bahwa aku akan baik-baik saja. Aku hanya perlu pergi dari sini, dari Seoul dan maaf lagi.. meninggalkan kalian.”

Kali ini Sehun juga tak kuasa untuk menjatuhkan air matanya dibalik sana.

“Maka dari itu, aku ingin bilang terima kasih kalian sudah mau menjadi teman sekaligus adik terbaikku selama disini. Terima kasih sudah mau menjadi sebagian saudaraku saat disini. Maaf aku belum bisa memberi kalian apa-apa, yang jelas jika kita bertemu nanti lagi.. aku janji aku akan memberikan sesuatu untuk kalian.”

Chanyeol melepaskan pelukannya dan menatap mereka yang sudah basah dengan air mata.

“Aigoo.. kenapa kalian jadi menangis seperti ini?” Chanyeol mencoba tertawa, menahan tangisnya sebenarnya. Kemudiannya dia menatap Yubi.

“Lee Yubi, kau harus mengecilkan volume di pemutar musikmu, hm? Aku tak mengerti kenapa kau selalu bisa mendengar musik sekeras itu di telingamu, kau tak takut apa telingamu nanti rusak? Aku terkadang khawatir kalau kau mendengar musik terlalu keras saat di jalan, kau tak sadar bahwa ada orang yang sedang mengikutimu dan berniat menjahatimu jadi kecilkan volume suaranya, ok?”

Lalu kini Chanyeol melirik ke arah Sehun yang disamping Yubi.

“Untuk kau, berhenti mempermainkan wanita! Ya, wanita itu punya perasaan! Aku tahu kau itu tampan sehingga banyak wanita yang mengejar-ngejarmu tapi tetap saja kau harus menemukan wanita yang tepat untukmu. Bukan dengan cara mencoba-cobanya, tapi merasakan hatinya. Mengerti!?”

Setelah itu Chanyeol pun menatap mereka berdua bergantian.

“Dan untuk kalian berdua, berhenti bertengkar! Memangnya aku tak tahu apa kalau kalian itu sebenarnya saling menyukai hanya saja kalian terlalu malu untuk mengakuinya?!” Sehun dan Yubi tampak terdiam, tidak ingin terjun ke perkataan Chanyeol yang mencoba untuk mencairkan suasana. Chanyeol pun menyerah, dia tersenyum pelan pada mereka.

“Kalian harus berhenti bertengkar saat aku telah pergi nanti, hm? Bisakah kalian berjanji padaku?”

Yubi pun tak kuasa untuk menanggapinya dan dia langsung memeluk Chanyeol begitu erat sambil menangis tersedu-sedu disana. Sehun di tempatnya hanya menahan tangisannya dengan mengalihkan pandangannya dari Chanyeol.

Perpisahan memang tak pernah berakhir dengan bahagia, tentunya.

.

.

Chanyeol mengetuk pelan pintu ruangan Hyojoo sambil menyiapkan seluruh batinnya. Setelah merasa dia siap, dia pun memberanikan diri untuk membuka pintu ruangan Hyojoo.

Kondisi Hyojoo benar-benar jauh dari kata baik saat ini. Tubuhnya terlihat lemas, belum lagi wajahnya yang begitu pucat. Membuat Chanyeol mengepalkan tangannya, mencoba menahannya untuk tidak menjatuhkan air matanya.

“Selamat siang, noona.”

Hyojoo yang sudah memerhatikan Chanyeol sedari tadi hanya terdiam dan menatap Chanyeol dengan perasaannya yang begitu terluka.

“Maaf mengganggu waktumu tapi aku ingin memberikan ini.”

Chanyeol mengeluarkan amplop berwarna putih sambil menaruhnya persis di hadapan Hyojoo.

 

Surat Pengunduran Diri.

 

Dengan kesal, Hyojoo pun merobek amplop itu dan membuangnya ke atas lantai sambil bangkit dari kursinya dalam satu sentakan.

“Kau pikir kau bisa mengundurkan dirimu seperti itu saja, Park Chanyeol!? Kau tahu bukan kau telah menandatangi kontrak dengan perusahaan dan jika kau mengundurkan diri seperti ini, kau akan dikenakan sanksi!?”

Suara Hyojoo terlalu keras dan dingin. Chanyeol mewajari itu karena dia tahu, pria itulah penyebabnya.

“Aku tahu, dan aku sudah menyiapkan uang penaltinya. Noona tak perlu khawatir.”

Hyojoo membulatkan matanya kaget mendengar itu.

“Sebenarnya aku ingin mengatakan perpisahan denganmu tapi.. sepertinya perkataan kemarin terlalu membekas dihatimu sehingga kita dalam akhir yang tidak terlalu menyenangkan.” Ucapnya, “Kalau begitu, aku minta maaf atas segalanya. Terima kasih untuk segalanya. Aku.. akan pergi selamanya sekarang, Hyojoo-ya.”

Chanyeol sudah memutar tubuhnya lagi untuk meninggalkan Hyojoo, namun tiba-tiba Hyojoo berlari ke arahnya dan menahan tangannya. Chanyeol bisa mendengar isak tangis Hyojoo yang masuk ke telinganya.

“Apa kau benar-benar tidak bisa bersamaku lagi, Park Chanyeol?” Hyojoo meremas tangan Chanyeol begitu erat. “Apa dengan perkataan ‘Aku mencintaimu’ belum bisa membuatmu tetap tinggal denganku?”

Chanyeol menjatuhkan air matanya. Ini benar-benar sudah menjatuhkan semuanya.

Perlahan, dia pun memutar tubuhnya. Menghadap Hyojoo, memerhatikan gadis itu yang menangis dan menatapnya. Chanyeol mengangkat jemarinya untuk menghapus air mata Hyojoo, lalu detik setelahnya dia menyatukan bibirnya dengan kening Hyojoo. Menyalurkan perasaannya selama ini untuk Hyojoo.

“Maaf, noona. Aku.. benar-benar harus pergi.” Ucapnya sambil melepaskan ciuman itu dan berjalan menjauhi Hyojoo. Membuat Hyojoo mematung dengan jantungnya yang mati perlahan-lahan.

Setelah Chanyeol berada di luar ruangan Hyojoo, pria itu terdiam dan menyandarkan tubuhnya di pintu Hyojoo. Kakinya tiba-tiba terasa sangat lemas, hingga ia menjatuhkan tubuhnya disana.

“Itu cukup, noona. Sangat cukup. Aku mencintaimu sangat cukup untuk membuatku tetap disamping noona tapi.. kita memang tidak pernah bisa bersama, noona.”

“Noona terlalu jauh untuk aku capai, meski aku terus mengejar noona, batas itu hanya akan terus melebar di antara kita sampai rasanya aku jauh dari kata pantas untuk noona. Aku takut, aku tidak bisa mengejar batas itu dan malah membuat noona tidak bahagia. Aku tidak bisa membuat noona tidak bahagia karenaku.”

Chanyeol pun merundukkan kepalanya dan menangis dengan diam disana.

“Aku juga mencintaimu, noona. Sangat.”

“Han Hyojoo, aku mencintaimu..”

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Ponsel Baekhyun bergetar di dalam saku celananya dan itu membuatnya langsung mengambilnya dari dalam sana.

 

Oh Sehun

 

“Hm?” gumaman itu membuat Minjoo yang duduk di sampingnya menoleh. Saat ini mereka sedang di rumah sakit, untuk apalagi kalau bukan memeriksa keadaan Minjoo. Ini semua terjadi karena Baekhyun menyeret Minjoo ke rumah sakit saat gadis itu masih tidak merasa nyaman dengan perutnya selama dua hari. Minjoo tidak punya alasan lain untuk berkata bahwa dia belum dititik untuk dibawa ke rumah sakit sekarang.

“Temanmu tak biasanya menelepon.” Baekhyun menambahkan katanya dan membuat Minjoo melihatnya dengan raut wajah berkata: kau serius berkata seperti itu?. Minjoo tahu siapa yang Baekhyun maksud karena dia juga melihat ke arah ponsel Baekhyun.

“Itu kata-kata yang sangat aneh disaat Sehun adalah orang yang bekerja di bawahmu, bodoh.” Minjoo menunjuk dagunya ke arah berlawanan darinya, “Sudah sana angkat dahulu, siapa tahu itu telepon penting.”

Baekhyun pun menuruti perkataan Minjoo dan bergegas pergi mencari tempat yang tertutup untuk mengangkat panggilannya.

“Iya, Sehun.”

“Maaf Tuan sebelumnya jika ini sangat mendadak, tapi bisakah Tuan datang ke kantor sekarang? Saat ini ada investor dari Amerika yang datang untuk rapat proyek, Tuan.”

Baekhyun menautkan alisnya, “Aku sudah menyuruh Hyojoo untuk menemui mereka. Dia belum datang memang?”

“Nona Hyojoo tidak bisa dihubungi, Tuan. Saya tidak tahu kemana beliau pergi.”

“Coba kau tanya Park Chanyeol dan suruh menghubunginya, dia kan sekretarisnya.”

Baekhyun bisa mendengar suara dehaman Sehun dari teleponnya. Ada keraguan dari dehaman Sehun dan Baekhyun bisa menebak bahwa ada sesuatu yang terjadi.

“Ya. Apa ada sesuatu yang terjadi?”

“Hm.. Begini Tuan, Park Chanyeol telah memutuskan untuk mengundurkan diri beberapa jam yang lalu.”

Benar bukan tebakannya. Baekhyun langsung membulatkan matanya seraya menegakkan tubuhnya.

“Mengundurkan diri? Tapi, kenapa?”

“Entahlah, dia tidak bilang padaku.” Sehun menjeda perkataannya beberapa detik, “Tuan, investor Amerika ini bilang padaku bahwa dia harus menjalankan rapat proyeknya sekarang, mengingat dia akan kembali ke Amerika beberapa jam lagi. Apa kita perlu membatalkannya saja? Sepertinya Tuan tidak bisa datang sekarang..”

Baekhyun mengusap wajahnya kesal. Dia ingin marah sebenarnya pada Hyojoo, namun dia tahu pasti ada masalah besar yang menimpa Hyojoo dan Chanyeol sampai-sampai membuat Chanyeol pergi dari perusahaan.

“Bilang padanya aku akan datang dalam 15 menit. Tunggu sebentar, aku akan pergi sekarang.”

Sehun menyutujui katanya dan setelahnya sambungan di matikan. Baekhyun memutar tubuhnya, berjalan menuju tempat Minjoo dan sesaat dia telah melihat gadis itu kembali, tiba-tiba dia merasa sangat bersalah. Baekhyun pernah berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia tidak pernah mau menomor dua kan Minjoo demi pekerjaan karena Minjoo tidak sepatutnya diperlakukan seperti itu. Terlebih, Minjoo sekarang ini sedang sakit. Bukankah Baekhyun pantas dicap sebagai suami yang jahat jika lebih memilih untuk menemui investor ketimbang peduli dengan penyakit istrinya?

“Ya..” Minjoo melihat raut wajah Baekhyun yang tampak tidak semangat menatapnya. “Ada apa? Ada masalah ya di perusahaan?”

Baekhyun tetap terdiam dan menatap Minjoo. Namun, beberapa detik setelahnya dia mengalihkan pandangannya dari Minjoo, mengusap wajahnya, merenguh kesal sambil menundukkan kepalanya, lalu kembali menatap Minjoo.

“Aku akan menjemputmu ketika kau sudah selesai di periksa. Aku tidak mau tahu pokoknya kau harus menghubungiku sesaat setelah kau selesai diperiksa.”

Minjoo terkekeh pelan dan dia menggeleng kepalanya pada Baekhyun, “Memangnya aku anak kecil, huh? Aku bisa pulang sendiri!” kemudian Minjoo mendorong-dorong tubuh Baekhyun untuk menjauh darinya, “Sudah pergi sana. Kubilang juga apa, kau itu direktur utama perusahaan, Byun Baekhyun. Kau tidak bisa seenaknya tidak masuk kerja hanya mengurusi aku yang hanya sakit perut—“

“Itu bukan hanya sakit perut kalau sudah lebih dari satu hari, bodoh!”

Minjoo berdecak pelan dan dia semakin mendorong Baekhyun menjauh darinya, “Terserah. Sudah pergi sana! Pasti ada pertemuan dengan investor kan!? Sudah pergi!”

Baekhyun bergeming meski Minjoo tetap mendorong tubuhnya. Selama beberapa saat perasaan bersalah itu menghantuinya dan itu membuatnya tak kuasa untuk menarik tangan Minjoo dan menggenggamnya.

Serangan yang sangat mendadak dan sukses membuat jantung Minjoo lepas dari tempatnya.

“Hubungi aku ketika sudah selesai, mengerti?” Baekhyun menatap Minjoo begitu teduh dan Minjoo bisa merasakannya. “Aku pasti menjemputmu.”

Setelah itu, Baekhyun pun melepas tangan Minjoo dan mengusap kepala Minjoo lembut sambil beranjak menjauh darinya. Meninggalkan Minjoo dengan jantungnya yang sudah meledak-ledak. Ya Tuhan.. kenapa kau menyiptakan makhluk semanis ini.

.

.

Baekhyun baru saja masuk kembali ke ruang rapatnya setelah ia mengantar investor dari Amerika itu menuju mobilnya.

“Oh Sehun, apa Han Hyojoo tak mengabarimu sama sekali?”

Sehun menggeleng pelan kepalanya dan itu membuat Baekhyun semakin mengkhawatirkan noona-nya itu. Baekhyun paling tahu sifat Hyojoo, jika gadis itu memiliki masalah, dia pasti akan pergi dan menyembunyikan dirinya. Pernah waktu ketika Hyojoo berumur 17 tahun—saat itu Baekhyun berumur 14 tahun—Hyojoo kabur dari rumah karena orang tua mereka melarang gadis itu untuk menjadi penari pembuka di acara pentas olahraga nasional. Saat itu seluruh orang begitu khawatir, baik keluarganya sendiri maupun keluarga Baekhyun. Untung saja waktu itu Baekhyun bisa menemukannya dengan cepat, Hyojoo kabur ke sauna yang cukup jauh dari rumahnya dan juga rumah Minjoo.

“Aish, terus kenapa Park Chanyeol pergi, hm?” Baekhyun sedikit menatap Sehun galak, “Kau bertanya alasannya apa? Dan juga, apa kau mengingatkannya bahwa ada uang penalti jika dia memutuskan kontrak sepihak?”

Sehun mengangguk pelan, “Aku sudah mengingatkannya dan dia bilang dia telah menyiapkan uang penaltinya, Tuan.”

Baekhyun semakin menghela nafasnya dengan kasar dan dia mengacak rambutnya frustasi. Sebenarnya apa yang terjadi dengan mereka!?

Beberapa detik dari situ, Sehun terlihat seperti merasakan ponselnya bergetar di dalam celananya. Membuatnya dengan cepat mengangkat panggilan tersebut saat dering kelima.

“Halo, saya Oh Sehun.”

Baekhyun yang mendengar itu menoleh ke arahnya. Awalnya Sehun terlihat biasa saja dengan telepon tersebut namun beberapa detik kemudian raut wajahnya berubah.

“Dia di atap gedung? Sedang apa?”

Karena percakapan terlihat serius, Baekhyun jadi ikut menyimaknya dengan terus memerhatikan Sehun serta panggilannya. Setelah beberapa menit, Sehun memutuskan panggilannya dan menatap Baekhyun di tempatnya.

“Nona Hyojoo ada di atap gedung ini, Tuan. Park Chanyeol baru saja menghubungiku.”

Dengan perasaan yang begitu takut, Baekhyun langsung lari tanpa permisi pada Sehun. Kemana lagi jika bukan ke atap gedung untuk menemui Hyojoo. Entah kenapa, ada perasaannya yang mengatakan bahwa Hyojoo mungkin saja bisa melakukan hal ekstrem yang mungkin tidak bisa ia terima di atas sana. Memikirkan itu membuat Baekhyun benar-benar khawatir.

“Noona!!!”

Baekhyun telah sampai di atap gedung dan memerhatikan Hyojoo yang berdiri di tepi pembatas atap gedung. Demi Tuhan, peluh keringat serta kakinya yang sedikit lemas ia acuhkan begitu saja saat melihat itu semua.

“Noona, tidak boleh!!” Baekhyun lari kembali dan menarik Hyojoo menjauh dari pembatas. Membuat tubuh gadis itu langsung menghadapnya.

“Apa yang noona lakukan!? Noona gila, huh!!?” ucapnya sambil menggoyang-goyangkan tubuh Hyojoo dengan hebat. “Noona tidak boleh seperti ini!! Noona tidak memikirkan perasaan Ayah, Ibu, Paman, Bibi, Minjoo, dan juga aku!? Kumohon jangan seperti ini!!”

Hyojoo hanya bergeming dengan raut wajahnya yang sudah begitu pucat sedari Baekhyun telah memutar tubuhnya. Benar-benar seperti manusia yang kehilangan jiwanya.

“Apa ini yang kau rasakan saat kau tak bisa melihat Minjoo lagi, Baekhyun-ah..” tutur gadis itu menatap kosong pada Baekhyun. “Saat orang yang kau cinta pergi, apakah seperti ini rasanya..”

Hyojoo kemudian mengangkat tangannya dan menepuk-nepuk dadanya.

“Kenapa ini begitu sakit..” Pada akhirnya, Hyojoo menjatuhkan air matanya dan menatap Baekhyun. “Aku rasa seperti aku ingin mati, Baekhyun-ah.”

Baekhyun terdiam dan dia tahu bahwa Hyojoo telah berada di titik terbawahnya untuk merasa hidup. Baekhyun tak menjawab pertanyaan itu dan dia hanya membawa Hyojoo masuk ke dalam pelukannya.

“Memang sakit rasanya saat orang yang kau cintai pergi dari kehidupanmu, Noona. Aku merasakannya seperti itu dahulu saat bersama Minjoo.”

Dia terus mendekap Hyojoo dengan erat sedangkan Hyojoo terus menangis begitu terisak.

“Tapi, noona tidak boleh menyerah. Noona masih punya diriku yang bisa noona andalkan untuk membantu noona tetap bertahan.”

“Noona, tidak boleh menyerah, hm? Aku disini, bersama noona..”

Hyojoo mendengar kata-kata itu dan dia hanya terus menangis disana. Memang rasanya hatinya seperti sudah hancur dan mati perlahan-lahan disana sehingga ia tak mampu melakukan apa-apa serta mati adalah pilihan terbaiknya.

Demi Tuhan, Hyojoo tak sanggup menahan ini semua.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Apa kalian pernah merasakan sangat bahagia sampai rasaya kalian ingin terbang ke atas langit? Kalau kalian belum pernah, mari Minjoo deskripsikan bagaimana rasanya. Semuanya terlihat begitu mudah, seperti bebatuan itu seringan kapas, gravitasi pada titik nol dan itu membuat diri kalian terbang-terbang. Itulah alasannya disebut ‘bahagia sampai terbang ke atas langit’.

Saat Minjoo mendapatkan kertas hasil pemeriksaannya hari ini, melihat pernyataan surat yang membuatnya termenung dengan perasaan hangat, Minjoo sambil merasakan perasaan itu semua.

 

“Selamat, nona Han. Kau sedang mengandung janin usia tiga minggu.”

 

Kata-kata suster itu benar-benar terngiang di kepalanya dan membuatnya tanpa sadar menurunkan pandangannya. Menatap perutnya dan lalu mengusapnya. Yang seperti sihir dialami oleh para wanita pertama kehamilan, ia merasakan kehidupan di balik sana. Di balik perutnya.

Minjoo ingin menangis sesungguhnya, perasaan bahagia itu terlalu menekan kantung air matanya untuk menangis. Percaya pada Minjoo, saat mengetahui kalian akan menjadi Ibu dari anak kalian benar-benar merasa seperti mendapatkan mimpi yang tak pernah kalian capai. Minjoo benar-benar merasakan itu semua, terlebih saat ia mengingat siapa ayah dari janin di dalam kandungannya. Membuat perasaan itu semakin menguat dan terus meneriakkan nama prianya.

Tak kuasa untuk menahan kebahagiaan ini sendirian, Minjoo perlahan mengangkat ponselnya dan mencari kontak Baekhyun disana. Meski ada sedikit keraguan dibalik dadanya, Minjoo tetap yakin bahwa Baekhyun juga akan sama bahagianya saat mendengar dirinya yang tengah mengandung anaknya. Ayolah, tak mungkin Baekhyun sekejam itu sampai tidak mau mengakui anaknya.

Deringan pertama sampai ketiga belum bisa membuat Minjoo berbicara dengan Baekhyun dan sampai Minjoo mendengar suara operator kartu providernya, dia menutup panggilan tersebut.

“Akan lebih baik jika aku memberitahunya langsung.” Minjoo tersenyum lalu mengangguk yakin atas pilihannya. Dia pun beranjak keluar dan menghentikkan taksi yang melewat di hadapannya. Minjoo akan menemui Baekhyun langsung di kantornya.

.

.

Saat dia mencapai ruang kantor Baekhyun, Minjoo sedikit tersentak kaget menemukan Sehun di dalam ruang kantor Baekhyun. Cukup aneh, mengingat Sehun bukanlah sekretaris yang mengurusi bagian ke atas.

“Ya. Apa yang kau lakukan disini?”

Sehun menolehkan kepalanya saat mengetahui Minjoo yang berbicara.

“Noona!”

Dengan berjalan cepat, ia langsung menghampiri Minjoo dengan raut sedih. Membuat Minjoo menautkan alisnya kebingungan.

“Kenapa kau? Kenapa sedih seperti itu?”

“Chanyeol hyung, noona..” Sehun berucap dan Minjoo bisa mendengar suaranya yang begitu pelan seperti habis menangis. “Noona belum mendengarnya?”

Minjoo semakin memperdalam tautan alisnya dan melihat Sehun sedikit tak sabaran, “Aku baru saja sampai jadi aku tak tahu apa-apa. Ada apa, kenapa Park Chanyeol?”

“Dia mengundurkan diri, noona.” Itu sangat cukup untuk membuat Minjoo membulatkan matanya. “Dia mengajukan surat pengunduran diri pada Hyojoo dan aku tak tahu alasannya kenapa.”

Sumpah, itu seperti cabai yang disembunyikan dibalik marshmellow rasanya. Minjoo baru saja mendapatkan kabar bahagia dan dia sudah harus menerima kabar buruk tiga puluh menit setelahnya?!

“Aish! Pria itu! Kenapa dia tak bilang, sih?!” Minjoo menggeram kesal, sepertinya kalau dia melihat Chanyeol detik itu juga dia akan langsung menghajar pria tersebut. “Sekarang noona dimana? Baekhyun juga, dimana pria itu? Baekhyun sudah mendengarnya?”

Sehun menganggukan kepalanya, “Tadi Baekhyun mengejar Hyojoo yang berada di atap gedung. Hyojoo tidak bisa ditemukan saat ada investor dari Amerika yang hendak menemuinya maka aku menghubungi Baekhyun untuk mengonfirmasinya. Namun beberapa waktu lalu, Chanyeol meneleponku dan bilang bahwa Hyojoo ada di atap gedung perusahaan dan dia meminta siapapun untuk cepat menghampiri Hyojoo.”

Minjoo menautkan alisnya kebingungan mendengar itu, “Kenapa dia menyuruh—“ dan dia baru sadar akan sesuatu.

“Ya!!! Tidak mungkin bukan kalau eonnie ku mencoba untuk bunuh diri!?” Sumpah, jantung Minjoo seperti mau melepas memikirkan itu. Dia langsung memutar tubuhnya, meninggalkan Sehun yang memanggilnya dan dengan cepat bergegas menuju atap gedung perusahaan.

“Kau itu gila ya, Han Hyojoo!?” keluhnya dengan kesal dan tetap berjalan cepat. Sedikit melupakan bahwa dia tengah mengandung saat ini.

 

“Noona, tidak boleh menyerah, hm? Aku disini, bersama noona..”

 

Perkataan itu membuat langkah Minjoo terhenti sesaat dia sudah berada di pintu atap gedung.

 

“Masih ada aku, noona. Aku masih disini, bersama noona. Aku ingin noona tetap bertahan, bisa?”

 

Membuat cabai terbalut marshmellow itu benar-benar ia rasakan berjuta kali lipat di dalam tubuhnya. Sakit, jantungnya seperti jatuh ke dasar dan langsung pecah sesaat ia mendengar dan melihat semua yang Baekhyun lakukan pada Hyojoo. Memeluknya, mendekapnya begitu erat sambil sesekali mengusap kepala kakaknya.

Tangan Minjoo sedikit bergetar saat ia mencoba untuk bertahan pada pegangan pintu. Kakinya seperti kehilangan sendinya dan tak mampu menopang tubuhnya untuk tetap tegak seperti biasanya. Semuanya menjadi hancur, semuanya terlihat sangat berat untuk Minjoo.

Tak kuasa untuk menahan itu semua, Minjoo pun perlahan mundur dari tempatnya dan berjalan keluar dengan air mata yang telah jatuh entah sejak kapan.

Sambil berjalan menjauh, Minjoo mengangkat tangannya perlahan menuju lehernya. Menggenggam kalung berbentuk bunga itu dengan erat.

 

“Hyojoo noona itu seperti malaikat untukku. Cantik, pintar, dan yang paling kukagumi adalah kepribadiannya yang begitu lembut dan baik hati. Noona mampu membuat orang yang pertama kali bertemu dengannya akan langsung merasakan nyaman detik setelah noona menyebut namanya.”

“Dari dahulu sampai sekarang, aku selalu menganggumi Hyojoo noona, Minjoo-ya.”

“Tentu saja, aku menyukainya.”

 

“Aku bodoh. Aku dibodohi oleh perkataannya selama ini.” Minjoo tersenyum dengan air mata yang terjatuh. “Aku selalu berpikir bahwa aku bisa menggantikannya, menggantikan eonnie dari hatinya. Tapi nyatanya.. aku hanya terlalu percaya diri dengan semua perasaan ini.”

Minjoo terkekeh pelan sambil menepuk-nepuk dadanya, dia menggigit bibirnya untuk menahan tangisannya tapi ia rasa ia tidak bisa.

“Ya.. kenapa kau merasa sakit, hm?” Minjoo menarik nafasnya, masih berusaha untuk menahan isakannya. “Kau kan sudah terbiasa untuk merasakan ini..”

Namun, pada akhirnya Minjoo tak bisa menahannnya. Ini terlalu menyakitkan, rasa sakit yang pernah ia rasakan dahulu muncul kembali dan kini menjadi berkali-kali lipat rasanya. Menusuk, menghancurkan, lalu membuang hatinya ke neraka. Demi Tuhan, Minjoo seperti ingin mati lagi rasanya, seperti dahulu kala.

Dia baru sadar, keraguan yang tadi sempat ia munculkan saat hendak menelepon Baekhyun memang suatu pertanda bahwa dirinya masih tetap Minjoo yang sama untuk Baekhyun yang dahulu. Minjoo yang belum bisa masuk ke hati Baekhyun, seperti enam tahun yang lalu.

Baekhyun masih menyayangi kakaknya. Hati pria itu.. masih untuk Han Hyojoo, kakaknya.

❣❣❣To Be Continued❣❣❣

Annyeong Haseyo, bertemu lagi dengan ByeonieB!! *claps* bagaimana dengan chapter ini? Seperti yang udah aku taruh di notes, ada baiknya kalian sambil mendengarkan lagu My Love-nya Lee-Hi, soundtracknya Moon Lovers, karena aku membuat chapter ini sambil mendengarkan musik tersebut. Kalau kalian bilang aku belum bisa move on dari Moon Lovers, maka jawaban kalian seratus persen benar!! Aku masih kebawa perasaan (re: baper) sama Moon Lovers sampai detik ini, jadi aku belum totally move on from that drama. Untuk chapter selanjutnya, ada kemungkinan besar bahwa aku masih akan memakai lagu-lagu dari Moon Lovers lagi. Hehehe ^^
Hm.. Aku cuman ingin menjawab beberapa pertanyaan kalian yang menanyakan: “Kenapa ngejadiin Luhan orang ketiga sih?” “Luhan ga cocok jadi orang jahat, authornim T.T” dan masih banyak lainnya—rata-rata kalian nulis seperti itu kira-kiranya. Want to clarificate, aku memakai Luhan sebagai rivalnya karena aku belum pernah ngejadiin Luhan orang ketiga untuk couple imajinasi aku ini. Kalau kalian yang baca fanficku dari jaman ‘The Sun’, kalian pasti nemuin Luhan disana tapi bukan sebagai orang ketiga, right? Dia cuman jadi teman Minjoo dan orang yang membuat salah paham Baekhyun. Belum pernah aku ngejadiin dia ‘enemy’ di karyaku, selama ini yang aku gunain antara Chanyeol sama Sehun. Kalau masalah karakter Luhan jahat atau ngga disini, aku ngga akan menjawab dan biarkan ceritaku yang memberitahu karakter Luhan yang sesungguhnya dalam cerita ini.
Ini panjang banget pasti kalian bete ya bacanya wkwk, yaudah kkeut! See you soon di chapter 8!

0064hyq9gw1f3cskqsa6jj315o0rs49s

I thought you felt the same way
Although you were looking somewhere else.

– My Love by Lee-Hi

-Baek’s sooner to be wife-

Advertisements

144 responses to “I Married To My Enemy [VII] -by ByeonieB

  1. Sumpah demi “cabe setan yang meroket”??? Gimana bisa minjo berfikiran kayak gitu disaat kenyataannya baekhyun emng cinta mati ama dia (tapi grngsi)?

    Gw bener” berharap sebesar harapan kura_kura yang ingin menang lomba lari lawan kelinci?

    Semoga Luhan gg ambil kesempatan ini…😣😣😣😥😥

  2. Huaaa aku bener bener ikut sedih+sakit bacanya 😭 kenapa mereka malah saling salah paham padahal sama sama saling suka, huh emang ya kalo cinta itu rumit 😂 tapi aku penasaran yg udah suka duluan itu minjoo atau baekhyun? Apa dulu minjoo jadi suka sama luhan karena minjoo nyangkanya baekhyun sukanya sama hyojoo eonni?
    Ahhh pokoknya ditunggu aja buat kelanjutannya authornim 😊

  3. Ya ampuun aku frustasi dengan segala kesalahpahaman ini!!!
    Minjoo hamil dan ini harusnya jadi kabar bahagia yg bisa bikin baekhyun dan minjoo saling mengungkapkan perasaan mereka
    Park chanyeol kenapa menyerah? Duuuh beneran frustasi hahaha

  4. baru aja bahagia” ngeliat sweetnya baek ke minjoo
    kok ada masalah lagii yaa
    minjoo lagi sensitif banget keknyaa
    aku hrap tidak terjadi apa” sama hubungan baekminjoo

  5. Demi apa pun, chapter ini buat greget, kenapa sih mereka gak saling ngaku aja, baekhyun mikir minjoo masih suka sama luhan, sebaliknya minjoo mikir baekhyun masih suka juga sama hyonjoo. Mau gimana lagi, nunggu chap selanjutnya aja lah, fighting eon, jangan kelamaan post chap selanjutnya ya☺️

  6. Yessss. Demi apa, sng bgt Minjoo beneran punya baby Baek. Tp knp ending chptrnya nyesek bgtttt😭😭 kl ak jd minjoo pasti jg udh salah paham sih, soalnya cm denger bagian itu. Apa lagi dulu baek bilang suka hyojoo noona. Semoga cpt baikan ya, kan lg bahagia bakal pny baby baek😞 btw luhan bakal jd jahat atau baik, smua ak serahin sm author deh, yg jelas suka bgt sm ceritanya😆 dtgg next chptny kak, smgt smgt! Ps. Ak juga msh baper ending Moon Lovers😭😭😭

  7. aaarrrggh aku frustasi sama mereka, berasa pengen masuk ke cerita terus ngomong ‘baekhyun mencintaimu bukan kakakmu minjoo’.. ah elah kapan mereka berhenti salah paham 😤😤😤😤

  8. Seriously, gue potek ka!!! Ini kenapa jadi begini siii??? Manis sedikit, paitnya yg bejibun-_- baper gue ka, B.A.P.E.R!!!
    Bayangan liat Baekhyun ama Minjoo yg bakal makin manis + romantis seketika raib kebawa emosi sendiri, ‘ko jadi makin complecated gini sih?’
    Chanyeol yg dibikin putus asa gegara rumus ‘batas’nya tentang Hyojoo yg belom nemu jawabannya, jg Hyojoo yg dibikin sepatah hatinya orang patah hati. Kecewa banget, pasti. Janjinya nguap gitu aja, kaya masuk telinga kanan, cerna dikit trus keluar telinga kiri.
    Terus gimana nasib Minjoo? Apa kabar mentalnya? Udah seneng hamil, pake acara ketunda ngasih taunya ke Baekhyun, ehh malah sempet2nya liat cuplikan mellowdrama yg ada Baekyhyun-Hyojoo-nya. Mana yg didengernya cuma kalimat ‘salah pahamnya’. Yaudah deh gue cuma terima diem aja liat Minjoo. Harap2 cemas ngbayangin pikiran Minjoo, tau sendiri dia kan orangnya ngandelin pikiran terburuknya. Susah disuruh pothink kalo udah nyangkut Baekhyun
    Dr part ini gue udah gamau bayangin gimana nantinya hubungan Minjoo ama Baek, udah ketakutan sendiri swear!
    Okay ditunggu aja next partnya, gamau berharap banyak sii huhuuu. Thanks + Semangadd!!!^^ *semogacepetpublish

  9. Minjoo salah paham T_T . Kenapa sih harus begini ? Chanyeol kenapa kamu nyerah ?? Padahal kalo emang cinta pertahanin dong chan walau sulit . kasian hyunjoo nya sampe patah hati bangat . Eh tapi kasian chanyeol juga ngejar hyunjoo tapi nggak nyampe nyampe . Terus hubungan Baek sama minjoo gimana ?? Padahal sama sama suka . Padahal udah bikin dede bayi . Masa masih salah paham aja sih T_T

  10. Omegadhh,, aku udah nyangka sih dari awal pas minjo sakit perut pasti minjo lagi ngandung(?) Dan whoa~ ternyata emang bener lagi ngandung. Wahh~ makin greget dah ceritanya authornim aku jadi tau permasalahan apa sebenernya dulu yang terjadi antara baekhyun dan minjo .. omegadhh jadi makin seru aja kan.. ditunggu next chap nya authornim,, ga sabar akutu nunggu kelanjutan hubungan minjo ama baekhyun keep writing^^

  11. Pingback: I Married To My Enemy [VIII] -by ByeonieB | SAY KOREAN FANFICTION·

  12. Selamat buat baekminjoo,, cie yg mo punya baby uhuk,, minjoo salah paham kn jdinya, bawaan bayi mngkin ya jdi sensitif,,
    Sedih knp chan hrus prgi, hyojoo pdahal nda mw pisah loh,, dua pasangan ini emng bikin greget ya,, ok see u next chap 😘

  13. Duh akhirnya bakalan ada baby BaekJoo..
    Tpi baru aja Minjoo mau seneng kenpa mesti sedih lagi? Huhuhh.. salah paham melulu mereka—___—

  14. minjoo dan baekhyun selalu aja salah paham,..kapan mereka saling mengerti masing2?kasiham sama chanyeol,kenapa harus pergi perjuaingin cintu dulu…semangay buat author untuk nglanjutin next chap

  15. Baru aja seneng eh udah degdeg an lagi liat masalah yang bakal muncul antara baek sama minjoo. gak mau terus2n mereka salah paham

  16. Kok aku gemes ya ama cerita nya 😬 kamu salah faham minjoo-ya … Baekhyun oppa itu cuma mau nenangin eonnie mu yang mau lompat… Kasian kan aegy nya..Kalo kamunya stres …😑

  17. pelajaran yang harus kita ambil adalah…………..langsung laporang sama suami kalau kamu hamil jangan nunggu mo ngomong langsung ntar ada kejadian tak terduga yang bikin kita gak jadi ngomong ahahhahhha

  18. Bener kan dugaan aku, pasti lagi mengandung.
    Congrats yaa, baek pasti seneng banget.
    Tapi minjoo kayaknya salah sangka deh, tapi kalo jadi minjoo pasti mikirnya kayak gitu

  19. Sumpah chapter ini benar2 menyedihkan dan baperan mulu! Mana masalah SeYu couple ditambah Chanhyo couple ditambah lg BaekMin couple.. Huaa nangis bca pas chan ngelepasin cintanya hiks!! Hiks harus cepat ke next chapt disini hawanya sgt menyakitkan! Gogogo to next chapt~

  20. Nyesek baca chapter ini kenapa minjoo jadi slah paham gini sih jngan sampai gara2 masalah ini minjoo nutupin kehamilannya dari baek 😭😭

  21. keknya aku telat bgt yaaa baru baca sekarang :(((
    school sucks :(((
    as always, suka bgt part iniii ♡♡♡
    baekhyun perhatian bgt sama mom-wannabe aka minjoo.. yaa meski awalnya gatau gt wkwk.
    aduduuuu tragis benerrr chanyeol-hyojoo :(( gasukaaakk💔
    LOH TAPI PART TERAKHIRNYA GITU?!?!?! 😭😭😭 kek abis kesamber petir di siang bolong yaa… duhh salah paham minjoo aarrgghh :(( baekhyun sii!! momennya ga tepattt!! 😣
    itu gimana perasaan minjoo elahhh :((

  22. Ah, Tuan Han nyebelin kay? Baru aja pasangan ini ngakuin rasanya, eh malah di tenggel gitu aja!
    Kufikir Sehun dan Yubi itu bikin geregetan, Chanyeol dan Hyojoo itu ribet, parahnya Baekhyun dan Minjoo nih: dari aneh, gregetin, ribet, rusuh, nyebelin, dan tarik-ulur mele. IH! Bodo bodo bodo bodo bodo bodo!

    Iya, Kak! Emang ML itu sulit banget dilupain! MWAHAHAHA… Apalagi hantunya Eun kwkw

    Yeogineun
    Dikanasly (:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s