MASK (QUESTIONS) BY DEMON’S

mask1

|| Author : Demon’s Black Angel ||

Tittle : Mask (Questions)

Main Cast : Xi Luhan, Oh Sehun, etc

Genre : Romance, Brothership, Hurt

Rated : PG-17

Dislaimer : This is my story! Please your comment 😀

(TEASERQUESTIONS)

Topengnya sangat apik menyembunyikan apa yang disembunyikannya. Lelaki itu akan selalu merapatkan topengnya, bahkan di hadapan adik kesayangannya

=

=

=

Langit tampak begitu kelam dengan awan hitam bergelung menunggu menumpahkan muntahan air esnya pada para manusia di bumi. Ia begitu gelap bahkan hingga tak tersisa satupun celah dimana matahari dapat memancarkan cahayanya.

Di sudut perumahan, berdiri lelaki muda dengan jaket sweater oblong di pundaknya, berdiri mendongak menatap langit yang tak kunjung merubah warnanya. Ia menghela napas. Tangannya terjulur ke udara, menunggu tetesan hujan membasahi telapaknya, namun tak satu tetespun tumpah. Bermenit-menit hingga senyum tipis mengembang di wajahnya. Sekali lagi ia menatap langit dengan senyuman, berterima kasih pada langit yang tak kunjung menumpahkan tangisnya. Segera ia kenakan jaket sweater oblong yang sedari tadi di genggamnya dan berjalan menuju pagar, tepat ketika sebuah suara menghentikannya membuka pintu pagar.

 “Hyung. Kau mau pergi kemana?”

Berbalik, lelaki itu menghadap ke sumber suara di ambang pintu rumah, melihat sang adik yang tampaknya baru bangun tidur, tertera jelas dengan sang adik yang masih mengusak matanya sembari menguap beberapa kali. Tak kunjung mendapat jawaban, sang adik kembali membuka suara.

Hyung, hari ini sangat gelap, hujan akan segara turun, beristirahatlah di rumah atau kau akan kehujanan dalam perjalanan. Kau selalu berkerja tanpa henti.” Rutuknya sembari memajukan bibirnya, pertanda kesal. Sedang sang kakak terlihat tertawa melihat ekspresi sang adik, tapi tetap menuruti permintaan adik satu-satunya itu. Kembali ia menutup pintu pagar dan berjalan menuju pintu rumah. Tepat saat ia berada di teras, langit menjatuhkan bom airnya, membuat sang adik memperlihatkan ekspresi ‘See? Aku benar’ disambung dengan gelak tawa keduanya. Sang kakak mengusak rambut adiknya dan segera membawannya masuk, menghindari hawa dingin hujan yang menusuk kulitnya. Kakak yang baik bukan?

=

=

=

Dua belas tahun lalu, tepat setelah kedua orang tuanya meninggalkannya bersama sang kakak, ia selalu mempertanyakan banyak hal. Salah satunya adalah marganya dengan sang kakak.

Oh sehun, yang saat itu berumur enam tahun, baru memasuki sekolah dasar, menerima banyak pertanyaan yang selalu tidak bisa ia jawab. Teman-temannya di sekolah selalu bertanya kenapa ia dan sang kakak memiliki marga yang berbeda.

Ah, Ia memiliki seorang kakak laki-laki yang selalu ia banggakan di depan teman-temannya. Begitu banyak sanjungan yang ia lontarkan menyangkut sang kakak. Bagaimana sang kakak yang berumur sepuluh tahun –Sehun dan sang kakak hanya berjarak empat tahun- banting tulang untuk menghidupi dua perut yang selalu merengek serta menyekolahkan Sehun. Ia sangat bangga dengan kakaknya. Sehunpun selalu ingat ketika kakaknya mengusak rambutnya serta berpesan agar ia belajar dengan rajin dan mendapatkan beasiswa agar meringankan kakaknya. Ia yakin kakaknya hanya bercanda, karena ia tahu kakaknya tidak keberatan sama sekali menghidupi Sehun kecil, tapi dalam lubuk hatinya, Sehun tentu ingin meringankan beban sang kakak. Maka dari itu, ia belajar mati-matian, tiga hingga lima kali lipat dari pelajar biasanya dan berhasil mendapatkan beasiswa akselerasi, hingga pada umur sepuluh tahun ia sudah lulus dari sekolah dasar. Sesuatu yang membanggakan.

Namun, dari semua hal itu, pertanyaan yang dulu sempat bersarang kembali muncul. Pertanyaan yang sedari dulu teman-temannya ajukan mengganggu pikirannya. Tentu ia tidak akan bertanya pada kakaknya, karena hal itu mungkin saja akan menyakiti perasaan sang kakak. Maka dengan rasa penasaran, ia bertanya kepada guru favoritnya tentang mengapa kakak beradik bisa memiliki marga yang berbeda, yang dijawab dengan hati-hati oleh sang guru.

Sepanjang perjalanan pulang, Sehun kecil terus menyelami perkataan yang guru, sesekali menggeleng dan menghela napas.

“Kakak beradik bisa memiliki marga yang berbeda, karena akhir-akhir ini banyak warga yang merubah marganya karena merasa tidak cocok dengan hal itu.”

Tidak mungkin. Kakaknya hanya anak sepuluh tahun yang belum mengerti hal seperti mengganti nama belakang di catatan sipil. Ia yakin itu.

“Selain itu, ada kemungkinan bahwa kakak beradik ini bukan saudara kandung. Mungkin saja kakak adik ini lahir dari ibu yang berbeda.”

Tidak mungkin. Selama ini hanya ada satu ibu yang ia tahu. Bahkan dari semua gambar dan foto yang ada di rumahnya, hanya ada satu wanita yang disebut sebagai sang ibu. Ayahnya juga tidak mengatakan atau memberi tahu tentang wanita lain yang mungkin punya potensi di panggil sebagai ibu. Kakaknya juga tidak memperlakukaknya seperti adik tiri selayaknya ia tonton di TV. Pemikirannya begitu kalut sedangkan kakinya terus berjalan.

“Sehuuuun.”

Sehun kecil membalikkan badan mencari sumber suara, dan menemukan sang kakak berdiri di ambang rumah melambai padanya. Rupanya terlalu asik berpikir membuat langkahnya tak tersusun rapi, hingga melewati dua rumah dari rumahnya. Tersenyum malu sembari mengusak belakang kepalanya, Sehun berbalik dan berlari menuju rumah. Dengan kecepatan lari yang tidak biasa ia menghampiri sang kakak, hendak bercurah hati, namun naas ia tersandung batu di halaman sehingga ia terjatuh dan dagunya terbanjiri darah segar. Sang kakak meringis melihatnya dan segera menghampiri Sehun yang masih betah bertelungkup ria di halaman, menangis.

Sehun hanyalah anak-anak yang masih takut akan darah, maka saat melihat darah segar membanjiri bajunya, teriakan terus menggema dari bibirnya, dan ketika sang kakak menghampiri, segera ia membentangkan tangannya, menunggu untuk di gendong.

“Kau itu.  Sudah tau berbahaya, masih saja terus berlari. Sudah sepuluh tahun, masih takut darah.” Omel sang kakak yang sedang mengobati luka Sehun sedangkan sang adik masih setia menutup mata tak berani melihat darah yang ia kira masih terus mengalir di dagunya. Untung dagunya hanya lecet, jadi  anak itu tidak perlu di bawa ke rumah sakit, karena demi apapun, kakak beradik itu memiliki trauma terhadap tempat tersebut.

Cha. Selesai. Lain kali jangan berlari lagi. Atau hyung akan menendang bokongmu.” Candanya ketika Sehun membuka mata. Segara ia membereskan kotak P3K yang berantakan di depannya, dan berlalu setelah mengusak pelan rambut Sehun.

Sehun terus mengikuti sang kakak dengan matanya dan teringat perkataan gurunya. Melihat senyum dan perlakuan sang kakak, tidak mungkin mereka adalah saudara tiri. Perlakuan sang kakak terlalu tulus untuk ukuran saudara tiri.

“Apa yang kau pikirkan hingga dahimu berkerut seperti itu? Sudah seperti orang dewasa saja.”

Sehun mendengus mendengar sang kakak, lalu memukul tangannya. “Aku memang sudah dewasa.” Sahutnya dengan bangga membusungkan dadanya. Sedang sang kakak tertawa terpingkal-pingkal di sampingnya.  Dengan kesal Sehun berkata dengan tegas.

“Kau mungkin yang melindungiku sekarang hyung. Tapi kita lihat sepuluh tahun ke depan, aku yang akan berada di depanmu, membentengimu dari bahaya.” Setelah mengatakannya Sehun berjalan menuju kamar dengan menghentakkan kakinya kesal dan membanting pintu. Ia masih di balik pintu kamar saat ia mendengar kakaknya berteriak “Aku menunggu saat itu Sehun. Kau harus membalas jasaku sepuluh tahun mendatang. Aku akan menagih janjimu inii. Arraseo?”

Arra.” Sehun balik berteriak.

Di balik pintu itu Sehun tersenyum. Biarkan semua menjadi rahasia sekarang, karena ia tidak akan sanggup menerima kenyataan yang entah apa itu. Biarkan ia bahagia bersama sang kakak, hingga saatnya semua rahasia itu terbongkar dengan sendirinya.

=

=

=

Tujuh belas tahun sudah Sehun menjalani kehidupannya, dan di ulang tahunnya ke tujuh belas, seorang gadis berdarah china menyatakan perasaannya. Sungguh bangga hati Sehun ketika di umur yang masih belia, ia mempunyai tubuh yang proporsional dan wajah yang tampan, sehingga banyak gadis di sekolahnya yang terus membuntuti Sehun bahkan beberapa berani menyatakan perasaannya.

Tapi, madu tak berbalas manis. Setiap pernyataan cinta yang diterimanya, dengan halus di tolak. Bukan karena ia punya kelainan, bukan. Ia bahkan mempunyai gadis yang disukainya saat berumur sebelas tahun. Tapi bukan itu masalahnya. Kakaknya, yang tidak tahu kenapa, menentang keras saat Sehun menyukai pacar.

Teringat ketika suatu hari ia mendapatkan surat cinta di depan terasnya, dan sang kakak yang menentangnya terlihat sangat marah. Sehun bingung. Ia sudah tujuh belas tahun, saat-saatnya mengenal jatuh cinta, tapi mengapa kakaknya sangat melarangnya.

Maka dari itu, Sehun penasaran apa yang akan terjadi jika ia mempunyai kekasih. Dan ia melanggar apa yang dilarang oleh kakaknya.

Hari itu, sepuluh hari setelah ulang tahunnya berlalu, ia menerima salah satu pernyataan cinta dari juniornya, Hani. Gadis itu begitu lembut dan manis. Matanya yang bulat di naungi sepasang alis tebal yang sangat mengesankan. Hidungnya bangir tapi tetap cocok dengan wajahnya yang sedikit chubby. Bibirnya yang mungil dengan senyum yang indah menjadi pertimbangan Sehun menerimanya.

Berjalan seminggu, Sehun sungguh tidak menyangka kabar burung itu sampai ke telinga sang kakak, ia bahkan mencari-cari adakah sang kakak mempunyai mata-mata di sekolahnya. Tapi tidak ada satupun yang menunjukkan hal tersebut. Nihil.

Setelah pulang sekolah, Sehun menyempatkan diri mengantarkan Hani, kekasihnya pulang memakai bis. Mungkin bisa disebut kencan singkat jika saja ia tak menemukan sang kakak berdiri dengan tatapan nyalang di depan rumah sang kekasih.

“Ssehun, siapa itu. Aku takut dengan tatapannya.” Ucap Hani seraya bersembunyi di belakang bahu tegap Sehun. Sungguh, siapapun akan takut dengan tatapan kakaknya itu. Matanya memerah menahan marah dengan kepalan tangan yang erat seperti hendak meremukkanmu. Pemandangan yang menakutkan.

“Kau masuk segera. Itu hanya kakakku, jangan khawatir heum.” Sehun memegang kedua bahu Hani dan mengelus pelan kepalanya. Mendengar titah Sehun, Hani segera masuk ke rumah setelah memberi hormat kepada kakak Sehun secara takut-takut.

“Bisa kau jelaskan ini?” Sehun masih bebsekedap ketika kakaknya mendekat. Rautnya tiba-tiba berubah sangat ramah. Berbeda 180 derajat dengan apa yang baru saja ia saksikan. Dengan santai Sehun menjawab bahwa ia berkencan.

Helaan napas terdengar dari bibir sang kakak, seperti menahan dan menekan emosinya dalam-dalam. Dan hal itu semakin membuat Sehun penasaran hingga ia tak kuasa bertanya.

“Kenapa hyung melarangku pacaran?”

Dengak seksama Sehun perhatikan perubahan raut muka sang kakak, namun tak banyak yang berubah selain senyumnya yang cerah berubah menjadi senyum sendu. Bahkan tatapannya tak berubah sama sekali.

“Itu untuk kebaikanmu, juga kekasihmu. Aku tidak bisa menjaminnya tetap selamat.”

Setelahnya ia menyaksikan kakaknya berlalu. Dan menyisakan pertanyaan baru di benaknya. Ia bukan anak kecil lagi yang harus di timang dan di asuh secara berlebihan. Sehun mengacak rambutnya asal dan menyusul sang kakak.

hyung. Katakan yang jelas agar aku mengerti. Aku bukan anak kecil lagi yang harus kau jejali dan larang segala macam hal. Aku sudah dewasa.”

Gelak tawa mengalun ketika Sehun menyelesaikan kalimatnya. Dengan gemas sang kakak mengacak rambut Sehun dan memukul pundak sang adik. Sesekali mendecih ketika Sehun kembali mengulangi kata ‘aku sudah dewasa’ berkali-kali.

“Makanya aku khawatir, karena kau sudah dewasa. Kau bisa saja menghamili anak orang.” Ucap sang kakak dengan menunjuk wajah Sehun. “Dan aku tidak mau bertanggung jawab atas itu. Mengerti.”

Sehun terdiam, berpikir. Kakaknya benar juga. Ia tidak akan berani untuk mengambil resiko itu. Bergidik, Sehun menyusul langkah kakaknya itu, dan canda tawa kembali mengalun dari keduanya.

=

=

=

“Xi Luhan-ssi.”

“Ya?”

Pria bernama Luhan itupun menyahut ketika namanya di panggil. Di pintu pagar, sang adik berdiri dengan wajah sangat datar dan tatapan yang tajam. Luhan, lelaki itu mengerutkan dahinya, tidak pernah sang adik memanggilnya dengan nada itu. Dengan khawatir, ia meninggalkan pekerjaan kebunnya dan menghampiri sang adik.

“Sehun-ssi. Kenapa kau berekspresi seperti itu hah?” mencoba mengimbangi sang adik, Luhan berkacak pinggang. Menampilkan raut garang yang biasanya selalu ampuh untuk menciutkan nyali sang adik.

guess what?” sang adik menyeringai dan hal itu membuat Luhan penasaran. Berkali-kali menebak dan di hadiahi gelengan oleh sang adik, Luhan pada akhirnya menyerah.

Hyung, kau sangat payah dalam menebak. Aku peringkat satu. Lagi.” Sahutnya seraya menunjukkan piala yang sedari tadi berada di balik punggungnya. Dan mata berbinar sang kakak tak dapat di sembunyikan. Syukur mengalun terus-menerus darinya, bahkan bulir air mata sempat Sehun  lihat mengaliri pipi sang kakak. Membuatnya tertawa pelan.

Hyung. Sesenang itu kah kau aku menjadi juara. Sampai menangis seperti anak gadis saja.”

“Itu artinya kau selamat bodoh.” Sehun mengerutkan dahinya. Tak mengerti dengan ucapan sang kakak. Mendengar tak ada lagi tawa dari Sehun, Luhan mengangkat wajahnya dan menghapus air matanya lalu berdeham.

“Selamat untukmu bodoh. Itu maksudku. Ah, karena piala itu kosakatanya berantakan.” Ucapnya seraya berbalik menuju kebun, dan melanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda. Masih di pintu pagar, Sehun mendecih lalu berteriak pada kakaknya.

“Mana mungkin aku bodoh jika menadapat juara hyung. Aku tidak sama sepertimu yang bahkan mengucapkan selamat saja sampai berbelit.” Luhan yang mendengat hal itu tersenyum dan melanjutkan pekerjaannya.

“Ya, aku adalah orang bodoh yang bahkan tidak berani melepas topengnya. Bahkan dii hadapan adiknya sekalipun. Maafkan hyung, Sehun. Maafkan hyung yang bodoh dan tak berdaya ini.”

: : : TBC : : :

Jangan tanya kenapa aku update itu. Ketika moodnya sedang jelek, lahirlah karya seperti ini. Semoga kalian bersedia membaca. Jangan lupa, Insyaallah Happily of Marriage chap. Terakhir akan di publish dua minggu mendatang. See yaaa.

블렉 포르 아이스 a.k.a Demon’s Black Angel

Author Site :

Twitter            : https://twitter.com/wahyusilvi1

WordPress       : www.demon2507.wordpress.com

Email               : www.ohsilvy2507@gmail.com

 

Advertisements

4 responses to “MASK (QUESTIONS) BY DEMON’S

  1. Topeng apasih yang dipakai luhan dan kehidupan luhan banyak banget misteri, contohnya sehun nggak boleh punya pacar dan sehun dapat juara satu sehun akan selamat. Kenapa marga mereka harus beda. Banyak banget misteri nya thor.
    Next terus ya thor jangan digantungin cerita nya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s