[Vignette] Quarrels by ShanShoo

lulu

ShanShoo’s present

Luhan x OC

Romance

.

Cahaya matahari di pagi hari adalah hal pertama yang menyambut sepasang manik Song Dana, kala gadis itu memutuskan untuk membuka mata dan menggeliat kecil di balik selimut yang menutupi tubuhnya. Dana mengerjap beberapa kali, merasa kalau penglihatannya masih belum begitu baik. Ditambah kenyataan bahwa semalam ia menghabiskan hampir sekotak tisu untuk air matanya yang tak berhenti mengalir, membuat kondisi matanya bengkak bukan main. Well, andai saja kemarin ia tak bertemu dengan Luhan dan bertengkar cukup hebat dengan kekasihnya itu, Dana tidak akan seperti ini.

Bahkan Dana masih mengingat dengan baik, kalau masalah yang menimbulkan pertengkaran itu bukanlah sebuah masalah besar. Hanya masalah kecil tentang Luhan yang terlambat menjemputnya pulang dari tempat bekerjanya, dan Dana yang terlampau mementingkan emosinya daripada mendengar alasan mengapa Luhan terlambat.

Untungnya, pertengkaran tersebut tidak pernah membawa mereka pada solusi paling akhir yang ada; memutuskan hubungan. O, tidak, tidak, Dana tidak sebodoh itu untuk membiarkan hubungan mereka kandas setelah hampir satu tahun lamanya terjalin. Biasanya, setelah mereka sama-sama saling mendiamkan seperti ini, keduanya tidak bisa menahan diri untuk tidak saling menanyakan kabar di pagi hari setelahnya. Atau mendengarkan kata maaf dari salah satu pihak, hingga pihak lainnya turut mengucap kata serupa dan saling memberi pelukan hangat, tanda bahwa mereka sudah berbaikan.

Namun kali ini, entah mengapa, baik Dana maupun Luhan sama-sama belum melakukan salah satu dari dua kegiatan rutin tersebut. Dana jelas saja uring-uringan, sekaligus enggan untuk menyapa Luhan terlebih dulu lantaran rasa gengsi lebih mendominiasi. Terlebih, Dana telah memegang teguh prinsip ‘Perempuan tidak pantas meminta maaf terlebih dulu’ sehingga ia akan membiarkan Luhan yang mengoarkan satu kata tersebut dengan nada tulus, tentu.

Setelah dirasa pandangannya membaik, Dana memilih untuk duduk terlebih dulu dan menggeliatkan badannya sekali lagi, sebelum akhirnya meraih ponsel di atas nakas untuk mengecek apakah Luhan mengirimi sesuatu di sana.

Tidak ada. Sama sekali tidak ada pemberitahuan apa pun. Sungguh.

Dana mendengus kesal, pada detik ia melempar ponselnya secara asal ke atas tempat tidur. Gadis berperawakan kurus serta berambut hitam legam itu pun akhirnya beranjak dari tempat tidur dan keluar dari kamarnya, hendak mengambil segelas air putih di konter dapur.

Baru saja menyusun beberapa langkah, sepasang telinganya mendengar bel rumahnya dibunyikan sebanyak dua kali. Refleks Dana terdiam di area ruangan keluarga, menolehkan kepalanya ke arah pintu rumah dengan kening mengernyit samar. Sejenak, ia mengalihkan pandangan pada jam dinding yang ada di sana, pukul tujuh pagi tertera dengan jelas pada jam itu. O, tidak biasanya tamu bertandang di jam-jam rawan seperti ini. Di mana Song Dana masih memasang label malas-melakukan-apa-pun pada keningnya, termasuk pergi mandi dan sarapan pagi. Tapi pada akhirnya, ia memutuskan untuk menerima tamunya dengan langkah diseret. Setibanya di depan pintu, Dana membukanya setengah malas, lalu,

Good morning, My Lazy Girl.

Satu suara familier membuat Dana membuka mata sepenuhnya, pun menghilangkan segala rasa malas serta lemas yang bersarang di tubuhnya.

Luhan.

Nama sang kekasih langsung menampar benaknya, mengirim sinyal berupa debaran jantung serta kelemahan otot-otot kakinya dalam waktu singkat. Apalagi, ketika Luhan memberinya sebuah senyum manis, Dana merasa dunianya berhenti berputar dalam jeda waktu beberapa saat.

I just want to hear you say ‘Good morning’ too for me,” ada kekeh kecil dengan nada canggung yang kentara dalam nada bicaranya, dan sebisa mungkin Luhan mencoba bersikap masa bodoh. Ya, masa bodoh dengan kerjapan cepat Dana serta ekspresi sang gadis yang begitu terkejut karena keberadaan dirinya yang secara tiba-tiba.

What are you doing here?” bukannya membalas sapaan hangat kekasihnya, Dana malah bertanya demikian. Atensi belum teralih ke mana pun. Kemudian ia bersuara lagi, “Apa kau sedang merencanakan sesuatu padaku?”

“O?” Luhan membulatkan bibir, lekas ia mengibaskan sebelah tangannya di depan dada, menampik tuduhan yang diberikan Dana. “Could I come in ?”

“Eh?” kilasan tentang pertengkaran mereka semalam sukses menghantam pikirannya, membuat Dana terlihat dua kali lebih canggung daripada Luhan. Gadis itu menggaruk lehernya yang gatal, sebelum ia mengiyakan permintaan Luhan dan membiarkan laki-laki dengan aura memesona itu memasuki area rumahnya.

Keduanya kini sama-sama berada di ruangan keluarga. Kondisinya masih cukup berantakan, tetapi Dana tak acuh, karena … well, lagi pula, Luhan juga mengetahui bagaimana kebiasaan buruk sang kekasih kala mentari hangat masih bersembunyi di balik putihnya awan yang membentang.

“Mau kubuatkan teh hijau?” tawar Dana, mencoba mengalihkan perasaan canggung yang kian menjadi. Luhan yang berjalan di depannya terdiam sejenak, lantas menganggukkan kepalanya seraya tersenyum―o, demi Tuhan, Dana tak tahu akan sampai kapan ia berhasil menahan dirinya untuk tidak berhambur ke pelukan Luhan hanya karena melihat senyuman manis itu.

Dana membiarkan Luhan duduk di kursi sofa sambil mulai menyalakan televisi. Suara-suara bersumber dari benda itu pun akhirnya terdengar, mengusir sedikitnya atmosfer tak mengenakkan yang bisa saja menyebabkan kecanggungan di antara mereka tak dapat ditepis. Gadis Song itu memilih untuk mencuci mukanya terlebih dulu, sebelum ia berkutat di konter dapur demi menyiapkan dua cangkir teh hijau untuknya dan Luhan. Selagi Dana berada di dapur, maniknya sibuk melirik ke arah Luhan yang terlihat memfokuskan perhatian pada acara televisi. Tanpa sadar, Dana melengkungkan senyuman, menggelengkan kepalanya sembari menuangkan air panas ke dalam cangkir.

Kedua tangannya kini membawa nampan berisi dua cangkir di atasnya. Ketika ia hendak berbalik, ia nyaris memekik karena terkejut saat melihat Luhan tiba-tiba datang menghampirinya dan mengambil alih nampan itu. “Biar kubawakan,” kata Luhan, memamerkan lengkungan manisnya lagi pada Dana. Baiklah, sepertinya Luhan memang sengaja membuat Dana perlahan mengikiskan rasa sabarnya untuk memeluk laki-laki itu dan membenamkan wajahnya di dadanya yang bidang.

“Bisa kaujelaskan, alasanmu datang saat ini?” tanya Dana, begitu mereka memosisikan diri untuk duduk di kursi sofa panjang, berdampingan, selagi Luhan meletakkan nampannya di atas meja kaca.

Luhan berdeham kecil untuk menjernihkan suaranya. “Kau … apa kau masih merasa marah padaku?” tak ada jawaban, melainkan pertanyaan lagi. Dana mengembuskan napas panjang mendengarnya.

Dana membungkam bibir. Rasa gengsinya masih bertahan di urutan pertama.

Diamnya gadis itu membuat Luhan mendesah pelan. Kedua tangannya bergerak meraih pergelangan tangan Dana, sementara dwimaniknya menatap Dana serius. “Maybe it makes you surprised because I came without telling you before. I just want to … apologize to you.” Luhan tersenyum kecil di akhir kalimat,  Yeah, I’m sorry, Dana.”

Kautahu? Perasaan gengsi itu kini lenyap, tersapukan oleh rasa bahagia dan haru secara bersamaan. Dana sudah tak bisa menahan diri lagi untuk menghambur ke dalam pelukan Luhan seraya meredam isak tangisnya di dada laki-laki itu. Tak butuh waktu lama bagi Luhan untuk membalas pelukan erat sang kekasih. Tanpa asa pun, ia mengusap sayang surai hitam sang gadis.

“Dasar Bodoh!” gumam Dana pelan. “Kau benar-benar bodoh, Luhan!” nadanya terdengar lebih jelas, Luhan hanya terkekeh kecil mendengarnya, membiarkan Dana terisak lebih keras. “Kenapa kau hobi sekali membuatku seperti ini, huh?” katanya.

Belum ada respons yang terlontar dari celah bibir Luhan. Laki-laki itu memilih membiarkan Dana memukul dadanya beberapa kali sambil terus merengek layaknya anak kecil. “Tak seharusnya kau mengabaikanku setelah pertengkaran kemarin. Seharusnya kau―”

I’m so sorry, Dana. I didn’t mean to ignore you.” Luhan mengembuskan napas. Sepasang tangannya mulai bergerak menyentuh bahu Dana dan menatapnya tepat di manik mata. “Andai saja masalah di perusahaan tempatku bekerja tidak serumit itu, aku pasti tidak akan membiarkanmu begini.”

Dana mengerjapkan matanya satu-dua kali. Tidak ada yang lebih menarik lagi selain sepasang manik rusa Luhan di hadapannya.

“Aku janji, aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama lagi.”

Are you sure?” tanya Dana, takut jika Luhan mengingkari janjinya.

“Mm-hm,” Luhan mengangguk pasti, jari jemarinya kini bergerak mengusap lelehan air mata di pipi sang gadis. “O, ya, hari ini kau sedang libur bekerja, kan?”

Tak ada frasa yang terucap. Hanya anggukan kecil pertanda Dana membenarkan ucapan Luhan.

“Kalau begitu … apa kau mau pergi kencan denganku?”

“Apa? Bagaimana dengan pekerjaan―”

“Kita kencan nanti malam, setelah aku selesai bekerja.”

Perlahan, senyuman manis terulas di bibir Dana. Buru-buru gadis itu memekik senang, pun memeluk Luhan sekali lagi sembari menggumamkan kata iya berulang kali.

“Luhan?” bisik Dana.

Yes, Darling?”

You know that I love you so much, right?”

Luhan terkekeh sejenak, lantas mengecup ringan pipi Dana dan membalas, “I love you more than anything.”

-end

Thanks for reading 🙂

Go visit ↓

Personal blog : ShanShoo || Wattpad : ShanShoo

Advertisements

4 responses to “[Vignette] Quarrels by ShanShoo

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s