Honey Cacti [Chapter 6]

honey-cacti-poster-3-seohun

Ziajung’s Storyline©

Casts: Oh Se Hun | Choi Seo Ah

Genre: Romance, Comedy, Drama

Prev: Prolog || Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5

———————————————–

Chapter 6—Haunting

 

“Jadi percayalah padaku.”

***

“Aku membencimu, oleh karena itu kau tidak boleh jauh dariku. Agar aku bisa selalu membencimu.”

Perlu waktu sepuluh detik untuk Seo Ah memahami kata-kata Se Hun itu. Tiba-tiba saja tangan Seo Ah terasa dingin, seolah pria itu menyerap semua darah di tubuhnya melalui sentuhannya itu. Tatapan mata Se Hun membuat kepala Seo Ah kosong, ia tidak bisa berpikir apapun bahkan untuk memikirkan bagaimana cara bernafas.

Seo Ah bukan wanita bodoh dan polos. Meski ucapan itu terdengar ambigu, tapi ia sedikit paham apa yang ingin disampaikan Se Hun. Tapi… Seo Ah tidak ingin mempercayainya. Ia tidak ingin mempercayai ucapan semacam itu yang keluar dari mulut Se Hun,meski faktanya, kata-kata itu berhasil membuat kerja jantungnya menggila. Ini salah! Tidak seharusnya Seo Ah berdebar karena pria ini, terlebih dia pernah menyakiti sahabatnya.

“Apa?”

Se Hun tidak melepaskan genggaman, hanya mengendurkannya. Ia pun menghela nafas. “Hah… ini bukan gayaku. Aku lebih suka dengan cara ‘tepat sasaran’.”

“T-Tunggu. Jadi maksudmu….”

“Aku tahu ini terdengar gila, tapi,” Se Hun mengangkat kepalanya. “Aku tidak ingin kau pulang malam ini.”

“Kau tidak serius, kan?”

“Aku tidak pernah seserius ini.”

Udara di paru-paru Seo Ah tertahan di tenggorokan, tidak mau keluar, sehingga membuat perutnya mulas luar biasa. Ditambah angin yang terus berembus seolah mendorong Seo Ah untuk memeluk Se Hun agar mendapat kehangatan, Seo Ah benar-benar hanya berdiri seperti orang bodoh. Ia tahu kalau Se Hun memang playboy hebat, tapi ia tidak menyangka kalau kehebatannya itu mampu membuat seorang Choi Seo Ah tidak berkutik. Bagaimana mungkin ia bisa memainkan detak jantung seseorang hanya dengan tatapan matanya?! Seo Ah benar-benar kesal, tapi tidak bisa berbuat apapun.

“Aku tidak bisa.”

Akhirnya, setelah beberapa detik menghadapi pertengkaran kecil di dalam dirinya, Seo Ah mampu menjawab ucapan Se Hun. Ia menarik tangannya kembali dan mencengkram stang sepedanya dengan kuat. Benar, ia tidak boleh goyah dengan prinsipnya.

“Kena—“

 “Aku tidak bisa… hanya… tidak bisa—kenapa kau terus bertanya?!” potong Seo Ah, suaranya terdengar marah sekaligus bingung. “Maksudku, kau… kau sudah menyakiti Ji Eun, mana mungkin aku bisa dengan orang sepertimu. Pokoknya tidak bisa!”

Dengan cepat Seo Ah menaiki sepedanya dan meninggalkan Se Hun yang masih mematung karena bentakkannya itu.

“Choi Seo Ah!”

 

“Asisten Manajer Choi!”

Ya! Seo Ah-ya! Ada telepon masuk!”

“Apa? Ah, iya.”

Mendengar teriakan itu, Seo Ah menyenggol tempat sampah di dekat kaki kursinya, menjatuhkan pulpennya, dan terantuk meja ketika memungut pulpen. Tingkahnya seperti orang linglung yang baru saja kehilangan milyaran Won. Di sebelahnya, Jung Eun Ji hanya bisa berdecak dan menggelengkan kepalanya melihat Seo Ah yang kerepotan memunguti sampah yang berserakkan. Bahkan dari jarak itu Eun Ji melihat mata Seo Ah tidak fokus hari ini.

“Kau kenapa, sih?!”

“Entahlah. Aku hanya merasa sedikit pusing hari ini.” Jawab Seo Ah, kembali duduk di kursinya. Ia memijit pelan pelipisnya, lalu beralih ke komputer untuk menyelesaikan pekerjaan.

Ini semua gara-gara Oh Se Hun! Seo Ah hampir tidak bisa tidur semalam, dan bangun dalam keadaan pusing luar biasa. Ia bahkan dituduh hamil oleh Jeong Min gara-gara tidak menghabiskan sarapannya dan muntah setelah meminum kopi. Seo Ah pun meminta Jeong Min untuk mengantarnya ke kantor karena tidak berani membawa mobil sendiri pagi ini. Dan kemudian, bahkan setelah Seo Ah dihadapkan dengan pekerjaan yang menumpuk, adegan semalam itu terus saja terngiang.

Dasar pria gila!

Bisa-bisanya dia menganggap Seo Ah seperti wanita biasa yang bisa ia kencani sesukanya! Bisa-bisanya Se Hun membuat jantung Seo Ah berdebar secepat itu, sampai-sampai tidak bisa tidur. Bahkan dengan kurang ajarnya dia tidak mau keluar dari otak Seo Ah.

Seo Ah kembali dikejutkan dengan dering telepon paralel di mejanya. Respon berlebihan yang ditunjukkan Seo Ah ketika mendengar dering telepon, membuat Eun Ji menghela nafas dan menggeleng. Ia memang sering menangkap Seo Ah yang sedang termenung di mejanya, tapi sepertinya kali ini sangat parah. Seo Ah sebelumnya tidak pernah meninggalkan komputernya diam sebegitu lama sampai sleep mode.

Seo Ah mengangkat gagang telepon itu dengan panik dan menengakkan tubuhnya. “Y-Ya? Asisten Manajer Keuangan, Choi Seo Ah di sini.”

“Presdir… Kim?”

“Ya, Anda diminta untuk datang ke ruangan beliau sekarang.”

Pikiran Seo Ah menjadi fokus secara tiba-tiba ketika mendengar nama Presdir KeyEast disebut seorang wanita di seberang sana. Alisnya berkerut. Ia tidak pernah berhadapan langsung dengan Presdir, karena pekerjaannya memang tidak berhubungan langsung dengan beliau. Tapi kenapa tiba-tiba Presdir itu ingin bertemu dengannya? Apa Seo Ah sudah membuat kesalahan besar?

Ah, benar!

Jangan-jangan selama ini ia dimata-matai oleh orang-orang Seol Hyun, sehingga semua ucapan kebencian yang pernah Seo Ah katakan di belakang Seol Hyun sampai ke telinga Presdir Kim. Argh! Bagaimana ini?! Seo Ah tidak ingin menghabiskan 20 tahun hidup berharganya di dalam penjara!

Menelan air liurnya sendiri, Seo Ah pun menjawab dengan suara gelisah. “T-Tapi… untuk apa Presdir Kim ingin bertemu dengan saya?”

“Saya juga tidak tahu, Asisten Manajer Choi. Presdir Kim sangat menantikan kehadiran Anda di ruangannya sekarang.”

Gagang telepon itu masih menempel di telinga Seo Ah meski nada terputus-putus sudah terdengar. Nada berulang itu memenuhi otaknya yang kosong. Cobaan hidup apa lagi ini?! Tidak puaskah Tuhan mengujinya dengan bekerja satu divisi dengan Kim Seol Hyun, dan sekarang ia akan menghabiskan puluhan tahun sisa hidupnya di penjara karena tuduhan pencemaran nama baik.

“Kenapa?” tanya Eun Ji penasaran.

Seo Ah pun tersadar. Ia mengambil map apapun yang membuatnya terlihat tidak seperti akan menghadapi takdir buruk hidupnya hari ini. “Presdir Kim ingin bertemu denganku. Aku ke atas dulu ya.”

“Kenapa Presdir ingin bertemu denganmu, Asisten Manajer Choi?”

Untuk membunuhku!!

“Untuk membahas laporan keuangan proyek apartemen itu.” menutupi rasa takut yang menggila di dadanya, Seo Ah melangkah dengan cepat meninggalkan ruangan divisinya itu.

Kaki Seo Ah tidak bisa tenang, meski sudah berada di dalam lift menuju lantai 20. Otaknya terus memikirkan alasan yang—terdengar—masuk akal kalau Presdir itu benar-benar ingin memasukannya ke penjara. Meski faktanya, kelakuan Kim Seol Hyun sendirilah yang pantas mendapat tuntutan, tapi tetap saja Seo Ah takut setengah mati. Bagaimanapun dunia ini dikuasai oleh orang-orang yang memiliki uang banyak.

Pintu lift terbuka di lantai 20. Seo Ah keluar dari lift dan berbelok ke kanan. Di depan sebuah pintu cokelat, terdapat sebaris meja yang diisi oleh seorang wanita cantik dan satu orang pria paruh baya. Dua orang itu langsung berdiri dari duduknya dan tersenyum, seolah sudah menunggu kehadiran Seo Ah sedari tadi. Tanpa sungkan, mereka pun segera mempersilahkan Seo Ah masuk ke dalam ruangan Presdir Kim.

“Oh! Choi Seo Ah-ssi, silahkan masuk.”

Sapaan ramah langsung diterima Seo Ah ketika tatapan matanya bertemu dengan Presdir Kim. Tapi itu justru membuat Seo Ah tambah takut. Ini pertama kalinya ia datang ke ruangan Presdir KeyEast Group, dan berbicara empat mata secara langsung, tapi ia disambut seolah mereka sudah kenal sejak lama. Seo Ah merasakan seluruh bulu kuduknya berdiri. Kelihatannya ia benar-benar menghadapi takdir terburuknya hari ini.

Annyeonghasimnikka, Presdir Kim?”

“Duduklah.” Presdir Kim bangkit dari kursinya dan berjalan menuju sofa. “Kau mau teh? Atau kopi?”

“Ah, tidak perlu repot-repot, Presdir Kim.”

Meski begitu, Presdir Kim tidak mendengarkan ucapan Seo Ah. Ia menelepon sekretarisnya melalui telepon paralel di ruangan itu, memintanya untuk membawakan teh dan camilan untuk Seo Ah. Tanpa sadar, Seo Ah menggigit bibir bawahnya, kakinya bergerak gelisah di dekat meja. Ini lebih buruk dari dugaannya. Lebih baik Presdir Kim membentaknya langsung daripada menyambutnya dengan hangat begini. Seo Ah merasa sangat dipojokkan sekarang.

“Bagaimana pekerjaanmu?”

Seo Ah mengerjap gugup. Ia meremas map yang dibawanya—tanpa sebab itu. “Baik-baik saja, Presdir.”

Kim Young Kwan tersenyum melihat reaksi Seo Ah. Ia tidak menyalahkan sikap canggung Seo Ah, bagaimanapun sebagian adalah salahnya karena mengundang Seo Ah tiba-tiba seperti ini. Pertemuan tidak terduganya dengan Choi Min Soo waktu itu membuat ingatannya kembali terbuka. Setiap hari Young Kwan memikirkannya. Mungkin menemui Min Soo akan menghabiskan banyak waktu dan tenaga, oleh karena itu Young Kwan mulai dari anaknya terlebih dulu—Choi Seo Ah.

“Pasti sangat berat, ya.” Young Kwan menanggapi. “Ah, kudengar kau dan Seol Hyun satu kampus saat kuliah.”

“Iya. Kami pernah sekelas di beberapa mata kuliah.” Seo Ah tersenyum canggung di akhir, menutupi rasa takutnya akan dilempar dari lantai 20 oleh ayah dari orang-yang-selalu-ia-umpat-di-belakang.

Obrolan mereka terpotong beberapa saat karena sekretaris Presdir Kim masuk dan membawakan 2 cangkir teh dan biskuit untuk camilan. Akhirnya Seo Ah bisa bernafas lega. Ia pun langsung meminum teh itu setelah si Sekretaris menaruhnya di atas meja. Ia benar-benar ingin ini semua cepat berakhir.

“Tapi, maaf sebelumnya, Presdir Kim,” Seo Ah memulai lagi pembicaraan setelah sekretaris itu meninggalkan ruangan. Ia menghela nafas sejenak, lalu berbicara dengan hati-hati. “Apa ada sesuatu yang ingin Anda bicarakan dengan saya?”

“Aku hanya ingin mengobrol denganmu.”

“Ya?”

Mendengar jawaban sederhana Presdir Kim, Seo Ah hampir saja mengumpat. Jadi dia masa-masa ketakutannya di dalam lift, dan mengeluarkan keringat dingin di punggung dan telapak tangannya adalah tindakkan sia-sia?! Kenapa Presdir ini menempuh cara misterius seperti ini kalau hanya ingin mengobrol dengan Seo Ah?!

Seolah mengetahui kekacauan yang terjadi di otak Seo Ah gara-gara jawabannya, Presdir Kim melanjutkan. “Kau adalah salah satu karyawan teladan di kantor ini, dan juga teman Seol Hyun.”

Seo Ah tanpa sadar mendegus. Teman apanya! Tapi, buru-buru ia mengatur kembali sikapnya. “Ah, begitu ternyata.”

“Jadi bagaimana hubunganmu dengan Seol Hyun? Apa dia selalu merepotkanmu?”

Iya! Tidak ada detik di hidupku yang tidak direpotkan oleh anak manjamu itu! “Tidak, Presdir. Seol Hyun sangat baik padaku, ia bahkan sering membimbingku kalau sedang kesulitan.”

Satu prinsip yang selalu Seo Ah pegang di dalam kantor ini adalah; selalu bermuka dua. Bahkan kalaupun ia sudah bersikap seperti itu, ia tidak juga mendapat promosi selama tiga tahun ini. Lagipula sifat Presdir Kim sangat berbeda dengan Seol Hyun yang selalu seenaknya.

“Anak itu memang sedikit manja, tapi dia pekerja keras.”

“Ah, begitu ya.”

Seo Ah tidak bisa menjawab apapun, bahkan untuk mendecih pun ia tidak berani. Jadi, ia memberikan jawaban mengambang seperti itu dan kembali meminum tehnya. Ia sangat ingin keluar dari ruangan itu segera, tapi kalau dilihat dari sikap Presdir Kim, pria tua itu belum ingin melepaskan Seo Ah. Akan terkesan tidak sopan kalau Seo Ah mohon diri terlebih dulu.

“Keluargamu… baik-baik saja?”

Seo Ah tidak bisa untuk tidak mengalihkan pandangannya untuk menatap langsung mata Presdir Kim ketika pria itu tiba-tiba saja menyebut keluarganya. Sebenarnya itu hal yang wajar, kalau sebelumnya mereka sudah sering berbicara. Terlebih sepertinya Presdir Kim belum pernah bertemu dengan ibunya dan Jeong Min sekalipun.

Ah, tidak. Mereka pernah bertemu, di rumah sakit waktu itu.

“Apa Presdir mengenal ibuku?”

Young Kwan tersenyum mendengar pertanyaan Seo Ah. Tapi itu bukan senyum yang biasa ia tunjukkan. Senyuman itu mengandung sesuatu yang pahit dan kesedihan, seolah ia sedang membuka luka lama ketika tersenyum seperti itu. Ia tetap menatap Seo Ah, menghela nafas, dan menjawab dengan nada rendah.

“Hubungan kami lebih dekat daripada sekadar mengenal.”

***

                “Seo! Makan malam!”

Seo Ah menutup laptopnya lalu keluar dari kamar setelah mendengar teriakan Jeong Min dari lantai satu. Hari ini dan tiga hari ke depan saudara kembarnya itu tidak bekerja, sudah seharian ia ada di rumah melakukan ini-itu. Termasuk memasak makan malam. Memang hari dimana Jeong Min libur adalah hari ternyaman di hidup Seo Ah. Dia akan memasak sarapan, membuatkan Seo Ah dan ibunya bekal, membersihkan halaman depan dan belakang, mengatur buku-buku di ruang baca, dan memasak makan malam. Seo Ah yakin, Jeong Min adalah reinkarnasi kepala pelayan istana. Ia mungkin akan lebih senang diberi pekerjaan rumah daripada membersihkan luka penuh darah di unit gawat darurat.

“Hoah! Lagi-lagi masakan ahjumma kalah saing dengan masakan Jeong Min.” Ucap Seo Ah ketika mencium aroma harum masakan yang sedang ditata Jeong Min di meja makan.

“Begitulah. Tuan Jeong Min sama sekali tidak meminjamkan pisaunya padaku.” Jawab Jung ahjumma sambil membantu membawa hasil masakan Jeong Min dari dapur ke meja makan.

Ahjumma kan sudah tahu aturannya,” Jeong Min keluar dari dapur sambil membawa sup yang masih mengebul panas. Mulutnya bergerak, menyunyah sesuatu. “Saat libur panjang, dapur adalah milikku.”

“Ya, aku mengerti.” Jung ahjumma menanggapi dengan nada menggoda.

“Apakah aku harus membuka restoran untukmu, Min-a?”

Ibu Seo Ah masuk ke ruang makan dan langsung duduk di kursi yang biasa ia duduki. Ia menatap puas makanan yang tersaji di meja makan. Seo Ah dan Jeong Min pun ikut bergabung. Makan malam yang hangat pun dimulai.

Malam ini Jeong Min yang banyak bercerita, terutama tentang pasien-pasiennya yang terkadang bertingkah aneh. Ibu mereka juga menceritakan harinya. Hanya Seo Ah yang masih diam dan jadi pendengar baik. Tidak ada yang spesial hari ini, pekerjaannya menumpuk seperti biasa, ditambah omelan Seol Hyun yang seperti genderang rusak. Satu-satunya yang aneh hari ini adalah Presdirnya yang tiba-tiba mengajaknya mengobrol sampai satu jam.

Dan kebanyakan membicarakan keluarga Seo Ah dan hubungan Presdir Kim dengan ibunya.

“Ah, Eomma.”

Tiba-tiba saja Seo Ah menyela pembicaraan Jeong Min dan ibunya. Dua orang itu pun menoleh ke arah Seo Ah.

“Kenapa Eomma tidak bercerita kalau ternyata Eomma adalah teman lama Presdir Kim Young Kwan?”

Sendok yang tengah dipegang Min Soo menggantung di sisi mangkuknya. Ia tidak mengucapkan apapun, tapi matanya membulat sempurna. Mendengar nama pria itu saja sudah membuat seluruh tubuhnya bergetar, dan sekarang anaknya sendiri yang mengucapkan nama itu.

Min Soo pun teringat pertengkaran terakhirnya dengan Seo Ah gara-gara Kim Young Kwan juga. Ia tidak mau hal itu terulang lagi. Seo Ah adalah keluarga satu-satunya yang ingin Min Soo lindungi, terutama dari pria itu. Ia tidak ingin Seo Ah menguak rahasia terkelam dalam hidupnya dan membuat luka dalam di hatinya sendiri. Min Soo sudah nyaman dengan hidupnya sekarang.

Meletakkan sendoknya dengan tenang—meski tangannya bergetar. “Dari mana kau mendengar itu?”

“Presdir Kim bercerita banyak tentang eomma tadi,” jawab Seo Ah sambil mengangkat bahu, ia pun memakan makanannya dengan tenang, tidak menyadari wajah ibunya semakin menegang. “Beliau ternyata orang yang ba—“

“Kenapa kau bertemu dengannya?”

“Apa?”

“Seo Ah-ya, kurasa kau harus keluar dari kantor itu secepatnya.” Min Soo kembali mengambil sumpitnya dan menyumpit tumis jamur di depannya. Ia menghindari tatapan mata Seo Ah, begitu juga pertanyaannya. “Aku akan mencarikan pekerjaan lain untukmu di kantor yang lebih besar. Atau kau bisa juga membuka—“

Eomma kenapa begini?!”

“Choi Seo Ah!”

Eomma selalu saja seperti ini ketika aku membicarakan Presdir Kim—waktu itu juga begini.” Seo Ah menaikan nada suaranya. “Apa yang sebenarnya terjadi di antara kalian? Apa eomma pernah membuat kesalahan besar padanya?!”

“Choi Seo Ah, cukup! Habiskan makananmu lalu kembali ke kamar.” Jeong Min akhirnya menengahi, karena suasana ruang makan tiba-tiba saja dipenuhi kabut tebal.

Tapi Seo Ah tidak mau mendengar. Ia terus saja menyerang ibunya. “Kalian hanya teman waktu kulaih, kan? Lalu apa masalahnya sampai-sampai Eomma terlihat sangat membencinya? Bahkan Presdir Kim terus saja tersenyum ketika membicarakan Eomma tadi, kenapa Eomma malah bersikap sebaliknya?!”

“Seo—“

“Tidak, aku tidak akan berhenti sebelum Eomma menjawabnya—jadi jangan ganggu aku, Min-a.” Seo Ah mendelik sekilas ke arah Jeong Min, lalu kembali memberikan tatapan menuntut pada ibunya. “Bisakah Eomma memberikanku alasan yang jelas? Alasan kenapa Eomma membenci Presdir Kim dan berusaha menjauhkan aku darinya?”

Jeong Min melihat mata ibunya yang terlihat gemetar. Ibunya memang mempunyai sifat yang keras, sama seperti Seo Ah, dan juga karena beliau juga seorang pengacara. Baru kali ini Jeong Min melihat ibunya terpojokan seperti itu, terlebih oleh anaknya sendiri. Satu sisi Jeong Min sangat penasaran, tapi di satu sisi ia tidak mau melihat ibunya terus dipojokkan Seo Ah. Bagaimanapun pasti ada alasan dibalik sikap ibunya itu.

“Seo, kembali ke kamarmu sekarang.” Jeong Min berucap dengan pelan, tidak mau memperburuk suasana.

“Apa dia ayahku?”

Hentakkan nafas dan pekikkan kecil dari mulut Min Soo terdengar di telinga Seo Ah dan Jeong Min. Tidak seperti biasanya, Min Soo benar-benar tidak berdaya kali ini. Satu tangannya tergeletak lemah di atas meja, sedangkan satunya digunakan untuk menutup mulut. Matanya pun sudah memerah, siap menumpahkan air mata.

“Jadi begitu ya….”

Seo Ah tersenyum pahit setelah melihat reaksi ibunya. Awalnya ini hanya tebakkan tidak berdasar yang ia buat untuk menggertak ibunya, tapi kelihatannya semua sudah jelas. Pertemuan menegangkan antara ibunya dan Presdir Kim di rumah sakit, Presdir Kim yang tiba-tiba berusaha mendekatinya, cerita penuh kenangan itu, dan reaksi ibunya, sudah cukup menjadi bukti kalau dugaannya adalah fakta. Tidak mengetahui siapa ayahnya adalah sesuatu yang buruk, tapi melihat bagaimana ibunya berusaha untuk menyembunyikan fakta sebenarnya adalah hal yang paling menyakitkan bagi Seo Ah.

“Jadi itu kenapa Eomma membencinya…” ucap Seo Ah, seperti sedang berbicara dengan dirinya sendiri. “Dan alasan Eomma selalu berusaha menjauhkan kami.”

“Kenapa Eomma ingin menyembunyikannya? Apa sebuah dosa kalau aku mengetahui siapa ayahku?”

“Seo Ah-ya, ini—“

“Hanya salah paham?!” potong Seo Ah dengan kasar. Ia kembali meninggikan suaranya. “Kalau begitu jelaskan sikap eomma selama ini!”

“Choi Seo Ah, berhenti berteriak dan masuk ke kamarmu!”

Seo Ah menggertakkan gigi-giginya. “Bisakah kau diam saja di sana?! Ini masalahku dengan eomma, anak angkat sepertimu tidak ada hubungannya!”

“Choi Seo Ah!”

“Kenapa? Apa Eomma sekarang marah karena ucapanku terlalu kasar? Tidakkah Eomma pernah berpikir kalau sikap Eomma-lah yang paling buruk?!”

“Apa Eomma pernah berpikir bagaimana tertekannya aku dengan sebutan ‘anak di luar nikah’ atau ‘anak tanpa ayah’ yang mereka lemparkan padaku?! Bahkan sebutan ‘anak angkat’ jauh lebih baik dari semua itu.”

Air mata yang Seo Ah tahan sedari tadi mulai mengaliri kedua pipinya. “Selama ini aku tidak pernah membahasnya karena aku percaya Eomma bukan orang seperti itu. Selama ini aku selalu selalu berpikiran kalau sebenarnya ayahku yang membuang kita.”

“Ternyata Eomma sangat egois.”

Plakk!
                Semua terjadi begitu cepat. Ibu Seo Ah yang menggeser kursinya sampai terbalik, lalu menghampiri Seo Ah dan menampar pipi anak perempuannya itu dengan keras. Seo Ah tidak bereaksi, otaknya masih mencerna itu semua. Denyutan bercampur rasa perih di pipinya sama sekali tidak sebanding dengan luka baru di dadanya. Air matanya pun berhenti mendadak.

“Kau pikir hanya dirimu yang menderita?! Aku, aku yang melahirkanmu dan membesarkanmu seorang diri selama 27 tahun, apa kau tidak berpikir selebar apa luka yang harus kututupi agar kau tidak melihatnya?!”

Jeong Min menahan lengan ibunya dan menyuruhnya tenang. Keadaan menjadi lebih buruk dari yang ia bayangkan. Ibunya yang tidak pernah berteriak walaupun sedang marah sekalipun, sekarang memekik keras sampai membuat langit-langit rumah ini seolah bergetar. Setiap tetes air mata yang dikeluarkannya mewakili banyaknya luka yang tersimpan di hatinya—seorang diri. Ini pertengkaran keluarga terhebat yang pernah terjadi. Jeong Min, sebagai satu-satunya laki-laki yangg ada di sini, berusaha sekuat mungkin agar keadaan tidak lagi memburuk.

“Aku bahkan mengorbankan umur ke-22 tahunku untuk melawan kematian saat melahirkanmu!”

“Jadi sekarang Eomma menyalahkanku?!” Seo Ah kembali melawan, membuat Jeong Min akhirnya berdiri di antara mereka. Tapi itu sama sekali tidak menghentikan emosi yang bergejolak di dada Seo Ah. “Kenapa Eomma tidak menggugurkanku saja?! Dengan begitu Eomma akan hidup lebih tenang, dan aku tidak akan mendapat Eomma yang buruk sepertimu!”

Plakk!

Giliran tangan kanan Jeong Min yang menampar keras pipi Seo Ah. Kali ini ucapan Seo Ah sudah keterlaluan! Bagaimanapun ia harusnya berterima kasih karena sudah dilahirkan secara sempurna dan dirawat oleh ibu luar biasa seperti Min Soo. Seo Ah tidak harus merasakan dinginnya badai di dalam sebuah kardus jeruk seperti yang Jeong Min alami ketika umurnya baru lima hari. Seo Ah juga tidak harus berebut makanan dengan anak lain, dan menunggu sebuah keluarga menyambutnya dengan perasaan ketakutan. Harusnya Seo Ah menyadari itu!

Mata merah Seo Ah yang sudah basah, menatap Jeong Min dengan tatapan tidak percaya. Pada saat itulah Jeong Min menyadari apa yang ia lakukan. Ia menatap telapak tangannya yang masih menyisakan hawa panas dan perih itu, lalu beralih ke mata Seo Ah. Ribuan kata maaf yang menggantung di ujung lidahnya tidak bisa ia keluarkan ketika berhadapan dengan tatapan penuh luka milik Seo Ah.

“Ternyata tidak ada yang berpihak padaku di sini.”

“Seo, ini—“

“Baik, aku memang tidak seharusnya ada di sini. Bahkan seharusnya tidak dilahirkan.”

Seo Ah membalikkan badannya dengan cepat, keluar dari ruang makan. Sepuluh detik kemudian bunyi daun pintu yang tertutup kasar terdengar. Min Soo langsung menjatuhkan tubuhnya, dan Jeong Min berusaha mengejar Seo Ah meski sudah terlambat. Tangisan Min Soo menggema. Ia tidak menyangka kalau hal ini terjadi dengan begitu cepat. Min Soo ingin selamanya rahasia itu tersimpan, ia tidak ingin terluka lagi dan tidak ingin Seo Ah terluka. Tapi akhirnya ia menyadari, kalau semua itu hanya karena keegoisannya.

Ya, keegoisan yang membuat anaknya sendiri malah mendapat luka yang lebih dalam.

***

                Meninggalkan rumah dengan emosi yang memuncak, membuat Seo Ah seperti orang bodoh. Tanpa memperdulikan udara luar yang hampir mencapai nol derajat, ia melupakan mantel bahkan dompet dan ponselnya. Seo Ah benar-benar seperti gelandangan. Berusaha untuk tidak terlihat lebih bodoh, Seo Ah memeluk dirinya yang hanya dibalut baju rajut dan sweater tipis, serta sepatu olahraga tanpa kaus kaki, Seo Ah berjalan cepat menuju kafe milik Bo Mi.

Dan Seo Ah hampir mati membeku setelah menempuh 20 menit dengan berjalan kaki ke tempat itu.

Kesialannya tidak berhenti sampai situ. Bo Mi tidak ada di kafe karena pulang terlebih dulu. Kafe hanya diisi para karyawan paruh waktu dan sedikit pelanggan. Jujur saja, Seo Ah sedikit canggung tanpa Bo Mi di sini. Akhirnya, dengan sedikit mempertaruhkan harga dirinya, Seo Ah meminjam uang pada salah satu pekerja paruh waktu yang dikenalnya untuk naik taksi menuju rumah Bo Mi.

Dalam situasi seperti ini, Bo Mi adalah tempat yang tepat untuk Seo Ah. Ia butuh hal yang sedikit gila. Berbeda dengan Bo Mi, Ji Eun memiliki sifat yang terlalu lembut. Seo Ah tidak ingin hal-hal yang melankonis tambah merusak malamnya.

Bo Mi tinggal di sebuah rumah sewa sederhana di pinggir Gangnam. Kalau diizinkan, dari dulu Seo Ah ingin sekali tinggal di rumah sewa macam ini. Tapi ia tidak bisa karena ibunya terlalu protektif, dan juga Jeong Min yang jarang ada di rumah hingga rumah itu seperti tidak berpenghuni kalau Seo Ah benar-benar keluar dari sana.

Ah… rumah ya? Bagaimanapun perasaan bersalah sedikit muncul di hati Seo Ah. Ini pertengkaran hebat pertama, bahkan Seo Ah mendapat dua kali tamparan. Belum lagi tindakkan bodohnya untuk keluar dari rumah di udara sebeku ini. Tapi Seo Ah tidak ingin kembali, tidak sebelum ia menjernihkan pikirannya. Ia membutuhkan waktu untuk memikirkan alasan ibunya yang selama ini menyembunyikan keberadaan ayah kandungnya. Dan waktu untuk memikirkan bagaimana ia harus bersikap di depan ibunya dan Presdir Kim nanti.

Setelah menyerahkan ongkos taksi kepada supir taksi, Seo Ah menaiki cepat anak tangga menuju pintu masuk rumah Bo Mi. Masih sambil memeluk tubuhnya, Seo Ah menekan bel rumah Bo Mi tidak sabaran. Kalau sampai 5 menit Bo Mi tidak membuka pintunya, Seo Ah pasti masuk berita koran pagi dengan judul ‘Wanita Bodoh yang Mati Kedinginan di Depan Rumah Sahabatnya’.

Dua puluh detik kemudian, pintu itu terbuka. Bo Mi, yang tengah memakai jubah mandi, menatapnya dengan mata membulat. “Seo Ah-ya, ada apa? Dan… kenapa kau tidak memakai mantel?”

Seo Ah tidak lagi bisa merasakan ujung jarinya yang mulai membeku, ia pun langsung menerobos masuk rumah Bo Mi dengan mendorong pelan tubuh sahabatnya itu agar menyingkir. “Ceritanya panjang. Sekarang aku membutuhkan selimut dan cokelat—“

Bibir Seo Ah berhenti mengoceh dan otomatis terbuka lebar ketika melihat sosok asing yang ada di ruang tengah rumah Bo Mi. Seorang pria. Tidak, bukan hanya itu, tapi seorang pria yang tengah duduk santai sambil menonton tv dengan bertelanjang dada dan hanya menggunakan celana jeans. Oke, Seo Ah bukan memikirkan; orang gila macam apa yang bertelanjang dada di udara sedingin ini, tapi; siapa pria ini dan apa hubungannya dengan Bo Mi?!

“A-Ah, begini Seo Ah-ya….”

Menyadari suasana canggung dan tegang yang tiba-tiba menyelimuti ruangan itu, pria itu pun mengambil kemejanya yang tergeletak di lantai, lalu berdiri dan menghampiri Seo Ah. “Kau temannya Bo Mi? M-Maaf, kalau begitu aku pulang saja.”

“Tidak. Tidak apa-apa.”

Menemukan kembali pijakkan kakinya, Seo Ah menghela nafas panjang. Ia hanya sedikit terkejut melihat ada seorang pria di rumah Yoon Bo Mi. Di antara Seo Ah, Ji Eun, dan Bo Mi, hanya wanita itu yang sepertinya tidak terlalu peduli dengan urusan pria. Bukan berarti Bo Mi tidak memiliki keinginan untuk menjalin hubungan, hanya saja wanita itu lebih terkesan menghindari sesuatu yang rumit. Seo Ah tidak menyangka kalau Bo Mi memiliki sisi yang seperti ini.

“T-Tidak. Young Bin-ssi hanya mampir untuk minum kopi, dan… rumahku sedikit panas, jadinya kami—“

“Tidak apa-apa, Bo Mi-ya, aku mengerti,” Seo Ah berusaha tersenyum, meski rasa kaget belum hilang sepenuhnya.”Aku hanya ingin meminjam mantel dan sedikit uang untuk pergi ke rumah Ji Eun.”

Bo Mi tidak tahu harus bersyukur atau bersujud dan meminta maaf pada Seo Ah atas pengetiannya itu. Ia melirik Kim Young Bin yang berdiri di sebelahnya. Pria itu juga meliriknya, seolah sedang melemparkan pertanyaan yang sama. Sungguh ini di luar ekspetasi mereka. Sebelumnya tidak pernah ada kejadian macam ini.

“Bagaimana? Apa boleh?”

“Kau bisa menggunakan mobilku, dan… ah! Mantel! Tunggu sebentar.” Bo Mi segera sadar dari lamunannya, dan dengan panik masuk ke kamar untuk mencari baju hangat untuk Seo Ah.

Ditinggal berdua oleh pria yang baru-pertama-kali-dilihatnya-tapi-sudah-memberikan-kejutan-besar, Seo Ah tidak tahan untuk tidak memperhatikan pria itu dengan saksama. Memang dari penampilan, pria itu biasa-biasa saja. Bahkan tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan Se Hun. Tidak terlalu tinggi, juga memiliki mata yang kecil, hanya saja bahu yang lebar itu sepertinya lumayan nyaman untuk disandari.

Ah, kejadian malam ini benar-benar membuat otak Seo Ah menggila!

“Jadi… kau pacar Bo Mi?” tanya Seo Ah, mencoba mencairkan suasana.

“Iya, ah tidak, maksudku kami belum pernah membahas hal itu.”

Seo Ah mengangguk. Ia paham apa yang dimaksud pria itu. Ternyata Yoon Bo Mi memang belum berubah.

“Namamu Young Bin?”

“Ah, iya, maaf telat memperkenalkan diri.” Sikap Young Bin yang buru-buru menyodorkan tangannya, terlihat seperti calon menantu yang baru saja bertemu dengan calon mertua yang galak. “Namaku Kim Young Bin.”

Seo Ah menerima uluran tangannya. “Choi Seo Ah.”

Beberapa saat kemudian, Bo Mi datang dengan pakaian yang lebih layak daripada jubah mandi tadi sambil membawa mantel tebal berwarna merah di lengannya. Ia pun mengambil kunci mobilnya yang ada di meja ruang tengah. Sebenarnya, Seo Ah ingin tertawa melihat wajah serba salah Bo Mi yang menggemaskan itu, tapi suasanannya tidak memungkinkan. Menggumamkan terima kasih, Seo Ah pun berpamitan dari dua orang itu. Selama ini Bo Mi selalu menjadi tempat mengeluh Seo Ah dan Ji Eun, tidak ada salahnya jika sekali-kali membuat wanita itu memanjakan dirinya.

Seo Ah mengendarai mobil Bo Mi menuju apartemen Ji Eun. Tidak ada pilihan lain selain tempat itu. Seo Ah tidak ingin pulang ke rumah, tapi juga tidak ingin mati kedinginan di luar.

Seo Ah tiba di apartemen Ji Eun 15 menit kemudian. Untungnya keadaan Ji Eun jauh lebih normal daripada Bo Mi tadi, setidaknya dia tidak memakai jubah mandi dan tidak ada pria asing di sana. Ji Eun pun mempersilahkan Seo Ah masuk, wajahnya menampakkan kekhawatiran sekaligus bingung. Belum lagi Seo Ah mengatakan kalau ia datang dengan mobil Bo Mi.

“Kau bertengkar dengan Jeong Min?” tanya Ji Eun sambil meletakkan kopi panas di meja konter dapur. Seo Ah duduk di kursi tinggi, Ji Eun pun ikut duduk di sebelah wanita itu.

Seo Ah menggenggam cangkir itu, membawa kehangatan menjalari tubuhnya. “Tidak, tapi dengan ibuku.”

“Kenapa?”

“Maaf, Ji Eun-a, aku belum bisa mengatakannya.”

Selain karena privasi, masalah keluarga akan menjadi topik sensitif kalau dibahas bersama Ji Eun. Keluarga Ji Eun sedang tidak harmonis. Seo Ah tidak ingin memberika trauma yang lebih dalam untuk sahabatnya itu. Dan ia sendiri juga tidak mau orang lain mengetahui masalahnya.

Meski agak kecewa, Ji Eun tetap tersenyum. Ia mengusap punggung tangan Seo Ah. “Baiklah. Kau bisa tinggal di sini untuk sementara. Tenangkan dirimu dulu, oke? Setelah ini kau harus bicara baik-baik dengan ibumu.”

“Terima kasih, Ji Eun-a.” Ucap Seo Ah sambil tersenyum tipis. “Ah, tolong jangan bilang pada Jeong Min dan ibuku kalau aku ada di sini, ya.”

Yah… meskipun—90 persen—aku yakin kalau mereka pasti tahu aku sedang berada di antara rumah Ji Eun atau Bo Mi.

Ji Eun mengangguk. “Baiklah. Habiskah kopi, lalu bersihkan dirimu. Kau mau makan sesuatu?”

***

                Malam itu, Seo Ah tidak bisa tidur. Sedangkan Ji Eun, di sebelahnya, tampak tidur dengan tenang dan anggun. Seo Ah tidak sampai hati membangunkan Ji Eun untuk menemaninya malam ini. Akhirnya Seo Ah memutuskan untuk mengatasinya sendiri. Perlahan, ia menyibak selimut, lalu menurunkan kakinya satu per satu.

“Mau ke mana?”

Seo Ah menolehkan kepalanya, dan menemukan Ji Eun sedang berusaha duduk di kasur sambil mengusap mata. Seo Ah meringis pelan. Niatnya untuk tidak mengganggu Ji Eun, malah membuat wanita itu bangun dari tidurnya.

“Maaf, Ji Eun-a, aku membangunkanmu.” Ucap Seo Ah pelan.

Ji Eun menggeleng. “Tidak, aku belum benar-benar tertidur kok. Kau kenapa? Tidak bisa tidur.”

“Hm.”

“Kalau begitu… mau minum bersamaku?”

Sebenarnya, alkohol bukan pilihan bagus untuk saat ini, tapi entah kenapa Seo Ah tidak bisa menolak ajakan Ji Eun. Ia pun hanya mengangguk. Ji Eun kembali menyalakan lampu lalu keluar dari kamar, diikuti Seo Ah. Lampu dapur menyala dengan terang. Seo Ah duduk di kursi tinggi, sedangkan Ji Eun mengeluarkan dua botol soju dari kulkas dan dua gelas. Tidak lupa juga ia mengeluarkan beberapa camilan untuk dimakan bersama.

“Kau masih tidak mau bercerita?” tanya Ji Eun sambil menuangkan soju ke gelas Seo Ah.

Seo Ah tidak langsung menjawab, ataupun meminum soju yang dituangkan Ji Eun. Ia menatap cairan bening itu selama beberapa saat. Menceritakan masalahnya bukanlah gaya Seo Ah. Ia tidak suka membuat orang lain ikut merasakan kesedihannya. Tapi di satu sisi, ia juga tidak enak hati pada Ji Eun. Sahabatnya ini sudah membiarkannya tinggal, memberinya makan, meminjamkan pakaian, bahkan tidur. Memang suatu yang normal ketika seorang sahabat membutuhkan bantuan, tapi Seo Ah cukup terbebani akan hal itu.

Ah, sudahlah. Lagipula mereka bersahabat, kan?

“Aku… bertemu dengan ayahku.”

Uhuk!”

Pernyataan Seo Ah langsung diikuti oleh suara batuk Ji Eun yang keras. Wanita itu tersedak cumi kering yang sedang ia makan. Buru-buru Ji Eun menuang soju dan meminumnya, namun itu malah membuat dirinya tambah parah karena rasa pahit soju. Wanita itu panik sendiri, berbeda dengan Seo Ah yang hanya berekspresi kosong sambil meminum soju.

“Kau… apa?!”

“Aku bertemu dengan ayahku, yang selama ini disembunyikan Eomma.”

“Bagaimana….”

“Dia presdir di kantorku.”

Entah karena pengaruh alkohol, atau potongan cumi kering yang masih tersangkut di kerongkongannya, atau juga karena ledakkan hebat yang baru terjadi di kepalanya, otak Ji Eun bekerja dengan cepat. Kalau ayahnya Seo Ah adalah presdir di kantor itu… berarti dia adalah ayah Seol Hyun juga?! Dan kalau begitu, mereka saudara tiri?!

“Ayah Kim Seol Hyun?!”

Seo Ah diam beberapa saat sambil menggenggam gelasnya. Benar, selama ini ia tidak berpikir sampai sejauh itu. Kalau Presdir Kim adalah ayahnya, itu berarti dia masih bersaudara dengan Kim Seol Hyun. Maksudnya, apa ada yang lebih buruk dari memiliki hubungan darah denagn Nenek Sihir itu?! Berada dalam satu kantor saja sudah membuat Seo Ah gila, apa Tuhan benar-benar menginginkannya mati di usia semuda ini?!

“Bagaimana ini….” seolah sedang berbicara dengan dirinya sendiri, Seo Ah bergumam pelan. Matanya mulai panas, siap mengeluarkan air mata lagi.

“Lalu, apa yang dikatakan ibumu?”

Menghirup nafas panjang, Seo Ah berusaha untuk tidak membayangkan wajah Seol Hyun ataupun Presdir Kim. “Dia terkejut dan… marah. Kami bertengkar hebat,” jawab Seo Ah. “Aku tidak percaya eomma menyembunyikan semua itu hanya karena dia membenci a—maksudku Presdir Kim.”

Ji Eun meraih tangan Seo Ah lalu mengusapnya pelan. “Aku yakin, beliau punya alasan untuk itu.”

Meski begitu, Ji Eun tidak terlalu percaya dengan ucapannya sendiri. Ia hanya ingin menenangkan Seo Ah. Mengalami broken home di usia ini membuat Ji Eun memahaminya dengan cepat. Ibunya sangat membenci ayahnya, sampai-sampai menggunakan Ji Eun untuk menghancurkan suaminya sendiri. Ibunya ingin melindungi Ji Eun, tapi bagi Ji Eun itu hanya alasan untuk keegoisannya. Dalam kasus Seo Ah kali ini pun terlihat sama. Ibu Seo Ah pasti melakukan itu karena tidak ingin membuka lukanya.

Hanya demi keegoisannya.

“Sudahlah, aku tidak ingin memikirkan itu sekarang.” Seo Ah menuang soju-nya sendiri lalu minum dalam sekali teguk. “Ji Eun-a, ada yang ingin kutanyakan padamu.”

“Apa?”

“Kau dan Se Hun… benar-benar berakhir?”

Ji Eun hampir menjatuhkan gelasnya ketika mendengar nama Se Hun. Entah darimana Seo Ah mendapatkan berita itu. Otak Ji Eun kembali kacau. Meski ia terus bertekad untuk melupakan pria itu, tetap saja ini lebih sulit dari mendesain baju pengantin untuk Ratu Inggris. Semakin ia mencoba melupakan, semakin pria itu tertanam kuat di hati dan pikirannya. Ini membunuh Ji Eun secara perlahan.

“Iya.” Jawab Ji Eun pelan. Ia berusaha tidak menunjukkan ekspresi kalutnya pada Seo Ah.

“Kau tidak mencoba mempertahankannya lagi?”

Ada jeda sesaat karena Ji Eun menuang soju dan meminumnya. “Apanya yang ingin dipertahankan? Se Hun oppa… sudah sangat membenciku.”

“Kenapa dia sangat membencimu?”

Ji Eun mengangkat kepalanya. Ia bertemu dengan mata Seo Ah yang menunjukkan rasa penasaran besar. Tapi rasa penasaran itu terlihat berbeda dari sebelumnya. Kalau waktu itu, ketika Ji Eun membahas tentang Se Hun, pasti mata Seo Ah berkilat-kilat penuh emosi. Entah apa yang membuat Seo Ah jauh lebih tenang sekarang. Bahkan Ji Eun merasakan kalau sebenarnya Seo Ah sedang menginterogasinya.

Menyadari kalau pertanyaan itu membuat Ji Eun tidak nyaman, Seo Ah pun menambahkan dengan sedikit bercanda. “Kalau kau tidak mau menjawab tidak apa-apa. Aku hanya penasaran, kenapa orang sebaik kau bisa dibenci pria brengsek itu. Maksudku, bukankah seharusnya kau yang membencinya? Benar, kan?”

“Aku memang membencinya,” sahut Ji Eun, dengan tatapan menerawang. “Tapi aku tidak bisa berhenti memikirkannya.”

[ “Aku membencimu, oleh karena itu kau tidak boleh jauh dariku. Agar aku bisa selalu membencimu.”]

Tiba-tiba saja, suara menyebalkan itu teringang di kepalanya. Oh Se Hun sialan! Kenapa pria itu selalu muncul di saat yang tidak tepat?! Harusnya Seo Ah membenci Se Hun sekarang, bukan memikirkan kata-kata murahan itu! Benar-benar!

“Dia tidak pernah sekalipun mencintaiku,” Ji Eun kembali bercerita. “Baginya, aku hanya wanita murahan yang biasa ia temui.”

[“Aku tidak bisa mengatakannya padamu karena aku tidak mau kau membenci Ji Eun juga.”]

Semua ucapan pria itu, semua sikapnya malam itu, benar-benar sudah mengacaukan Seo Ah. Ia tahu, seharusnya ia lebih mempercayai Ji Eun daripada pria brengsek macam Se Hun. Tapi… Seo Ah tidak bisa membohongi dirinya—ia ingin mempercayai Se Hun sekarang. Apa yang disembunyikan? Kenapa ia harus saling membenci seperti ini? Dan… apa benar Se Hun tidak pernah mencintai Ji Eun? Kalau benar, kenapa ia tidak ingin orang lain juga membenci Ji Eun?

“Menurutku, yang harus kalian lakukan adalah berbicara serius.” Ucap Seo Ah. “Mungkin saja ada kesalahpahaman yang belum terselesaikan. Kau dan Se Hun sama-sama suka membuat keputusan sepihak.”

“Kesalahpahaman?” Ji Eun mendengus sambil meletakkan gelasnya dengan kasar ke atas meja marmer. “Ya, Choi Seo Ah, jangan berbicara seolah kau mengenalku dan Se Hun sedekat itu.”

Ji Eun sudah mabuk, itu membuat Seo Ah harus menahan amarahnya yang sudah sampai di tenggorokan. Tidak mengenalnya? Jadi selama ini Ji Eun tidak menganggap Seo Ah sedekat itu? Apa itu juga alasan kenapa Ji Eun menyembunyikan sesuatu yang berhubungan dengan Se Hun?

“Dan kenapa kau selalu membahas Se Hun ketika kita bertemu? Kau menyukainya?”

Entah kenapa, mata Ji Eun yang setengah terbuka dan memerah itu membuat Seo Ah gugup. Ah tidak, lebih tepatnya ucapan wanita itu. Bagai pencuri yang tertangkap basah, tubuh Seo Ah menegang di tempat. Tunggu, kenapa dia seperti ini?! Kenapa dia harus takut dengan ucapan Ji Eun itu?

“B-Bagaimana mungkin? Aku bahkan tidak mengenalnya.” Seo Ah mengibaskan tangannya. Meski kilahannya itu tidak begitu berguna—karena Ji Eun sama sekali tidak bisa ingat apapun ketika mabuk—Seo Ah tetap melakukannya. Dalam hati, ia menunjukkan kalimat itu untuk dirinya sendiri. Ya, aku berharap tidak pernah mengenalnya.

“Ah, kau benar.”

Seo Ah mungkin sudah menjadi teman jahat karena merasa lega ketika kepala Ji Eun jatuh di atas meja. Tepat saat itu, Seo Ah menghela nafas panjang.

Menyukai Se Hun? Apa benar seperti itu?

Seo Ah tidak hanya akan menjadi teman jahat, tapi juga pengkhianat yang pantas dihukum gantung kalau mengakui itu. Sahabatnya hampir mati karena pria itu, tapi dia malah jatuh ke pesonanya. Sahabatnya berusaha untuk mengenyahkan pria itu, tapi Seo Ah malah memikirkannya setiap waktu. Sahabatnya masih berharap bisa kembali padanya, tapi Seo Ah malah ingin mereka tidak memperbaiki apapun.

Ini seperti dua sisi mata uang.

Sisi jahat Seo Ah mengatakan kalau Ji Eun sudah tidak ada hubungan apapun dengan kehidupan Se Hun sekarang. Se Hun pria bebas, dan itu berarti Seo Ah bebas memilikinya. Lagipula keduanya sudah resmi berpisah di hadapan keluarga mereka. Seo Ah tidak akan mendapat peran antagonis.

Kepala Seo Ah berdenyut. Kedua sisi dirinya tidak ada yang mau mengalah. Semua berpendapat kalau mereka sama-sama benar. Seo Ah harus mengenyahkan semua ini. Ia pun mengambil soju baru dari kulkas Ji Eun, dan meminumnya langsung tanpa gelas. Lebih baik ia mati di sini daripada mendengar ocehan tidak berguna dalam dirinya.

***

Dengan pakaian pinjaman Ji Eun dan mobil milik Bo Mi, Seo Ah kembali ke rumah. Bukan karena ia sudah selesai dengan renungannya, tapi ia harus bekerja hari ini. Ponsel, dokumen-dokumen penting, hardisk berisi data, dan mobilnya semua ada di rumah. Ia tidak punya pilihan lain selain pulang ke rumah. Sebelum turun dari mobil, Seo Ah melirik jam yang ada di mobil Bo Mi. Bagus, sepertinya ibunya sudah berangkat kerja.

Tapi Seo Ah melupakan satu hal. Jeong Min, yang sedang mengambil cuti beberapa hari, menyambutnya dengan tatapan dingin di ruang tamu. Seolah sudah menunggu Seo Ah sedari tadi, pria itu duduk di sofa dengan tangan terlipat dan kaki menyilang. Mulutnya terkatup rapat. Tidak ada sapaan konyol yang biasa ia lemparkan ketika bertemu Seo Ah.

“Dari mana saja? Kau tidak tahu eomma menunggumu sampai kantung matanya memiliki kantung mata?”

Seo Ah tidak berhenti melangkah, kakinya membawa Seo Ah ke arah dapur. Ucapan tadi sebenarnya cukup lucu, tapi mereka berdua tahu kalau sekarang bukan waktu yang tepat untuk tertawa. Seo Ah mengambil air mineral dari kulkas dan menegaknya. Ia menyadari kalau Jeong Min sudah berdiri di depan meja makan dengan tatapan yang sama.

“Kukira semua manusia memiliki pengetahuan sama tentang meminta maaf jika memiliki kesalahan,” ucap Jeong Min sinis. Matanya tidak lepas dari Seo Ah yang masih mengabaikannya. “Apa kau tidak pernah diajari untuk menatap lawan bicaramu, Choi Seo Ah?!”

“Iya, tidak pernah.” Seo Ah pun membalikkan badannya dan menjawab dengan dingin. “Karena aku dibesarkan oleh ibu egois tanpa ayah.”

Eomma punya alasan untuk itu.”

“Bagaimanapun kau menjelaskannya, itu tidak membuatku berpikir kau mengerti perasaanku,” nada bicara Seo Ah jauh lebih kasar sekarang. “Kau hanya anak angkat yang dibawa ke sini saat berumur enam tahun. Sedangkan aku, sudah melewatkan enam tahun itu dengan menerima banyak cacian!”

“Kau memiliki ibu!”

“Lalu apa hebatnya?!”

“CHOI SEO AH!”

“Kenapa?! Mau menamparku lagi?!” Seo Ah menghampiri Jeong Min dengan cepat ketika melihat tangan pria itu terangkat. Ia pun tidak segan-segan menawarkan pipi kanannya. “Semalam hanya pipi kiriku, kenapa kau tidak membuatnya seimbang sekarang?!”

Jeong Min menggeram tertahan. Ia pun mengepalkan tangannya di udara sebelum akhirnya berbalik dan masuk ke kamarnya. Mendengar bunyi pintu berdebum, Seo Ah menghela nafas panjang. Kakinya terasa lemas, sampai ia harus menggenggam kuat ujung meja di dekatnya. Ya, masalah kali ini tidak bisa selesai begitu saja. Amarah Seo Ah tidak bisa reda hanya dengan satu dua nasihat. Ia membutuhkan waktu sendiri lebih lama.

Naik ke kamarnya, Seo Ah mengambil tas, dompet, ponsel, dan dokumen-dokumen yang ia butuhkan. Hari ini bisa dipastikan ia terlambat. Tapi untung saja Ji Eun membantunya untuk membuat alasan tadi. Jadi dengan begitu, Seo Ah bisa menenangkan diri sejenak.

Sebelum keluar dari rumah, Seo Ah menatap pintu kamar di sebelahnya. Ia mengakui kalau kata-katanya memang kasar. Tidak pernah sekalipun Seo Ah membahas status Jeong Min ketika bertengkar, ini pertama kalinya. Ia bahkan menghina ibunya sendiri. Jeong Min benar, seharusnya ia bersyukur karena masih memiliki ibu. Jeong Min benar-benar sendirian kalau saja ibu Seo Ah tidak datang waktu itu.

Tapi sekarang bukan waktunya untuk melankonis begini.

Seo Ah membuka kunci mobil Bo Mi ketika ponselnya bergetar. Sebelumnya ia sempat melihat banyak panggilan tidak terjawab, email, dan pesan lainnya yang masuk, tapi ia tidak membalas—atau bahkan melihatnya—dan langsung menghapus semua notifikasi itu. Tapi karena sekarang ponsel itu ada di tangannya, Seo Ah pun menjawab panggilan itu tanpa melihat layar ponselnya karena sibuk dengan mobil dan tasnya.

“Halo?”

                “Seo Ah-ya, apa kabar?”

Tangan Seo Ah, yang ingin menyalakan mesin mobil, terhenti di udara. Perasaan gelisah mulai merambat ke dadanya. Perlahan, ia menjauhkan ponsel itu dari telinganya dan melihat ID calleryang terpampang di layar ponsel.

Kim Jong In.

                “Kau masih di sana? Apa kau… masih marah padaku?”

Seo Ah kembali menempelkan ponselnya ke telinga. Tangannya gemetar sampai membuat pandangannya tidak fokus. “K-Kenapa menelepon?”

                “Aku merindukanmu.”

Nafas Seo Ah tercekat di tenggorokan.

                “Aku ingin bertemu denganmu dan meminta maaf. Besok pagi aku akan kembali ke Seoul.”

                Kembali?! Berani-beraninya dia menggunakan kata itu setelah menggoreskan luka dalam padaku! Apa dia pikir masih ada yang mau menyambutnya di sini?! Meski begitu, Seo Ah tidak bisa mengeluarkan semua umpatannya langsung pada Jong In. Mendengar suara pria itu lagi membuat Seo Ah tidak bisa bernafas. Tapi ini berbeda dari beberapa bulan sebelumnya. Seo Ah ingin menangis, tapi bukan karena ia merindukan pria itu.

Karena Seo Ah sudah muak dengannya.

“Begitu?”

                “Hm. Maukah kau bertemu denganku nanti?”

***

                “Kau sepertinya sedang banyak pikiran.”

Bukan tanpa alasan Jun Myeon mengatakan itu pada Se Hun. Sudah dua hari ini Se Hun menjadi sedikit pendiam, belum lagi dengan pandangan menerawang itu. Satu hal yang bisa Jun Myeon pahami, ini bukan menyangkut hal pekerjaan. Se Hun tidak pernah sediam ini meskipun semua pekerjaan kantor bisa saja membunuhnya kapan saja.

“Entahlah. Mungkin iya.”

Jawaban yang sama sekali tidak bisa dimengerti Jun Myeon. Pria itu menghela nafas. “Apa ini tentang Lee Ji Eun?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Choi Seo Ah.”

Meski masih belum paham, Jun Myeon hanya bisa mengangguk. Sudah lama sekali ia curiga kalau di antara Se Hun dan wanita itu sedang terjadi sesuatu. Sesuatu yang tidak wajar, dan bukan juga hal biasa seperti yang dirasakannya saat melihat Se Hun dekat dengan seorang wanita. Perasaan itu terkesan lebih intim namun kompleks.

“Kalian bertengkar?” tanya Jun Myeon, dan dibalas anggukan kecil oleh Se Hun. “Kenapa? Kali ini apa yang kaulakukan padanya?”

Satu hal yang diyakini Jun Myeon, pasti Se Hun yang membuat masalah di sini. Sekalipun itu memang kesalahan Choi Seo Ah, Se Hun-lah yang andil untuk membuatnya lebih buruk. Jun Myeon sudah hapal bagaimana keras kepalanya Se Hun, juga sisi nakal Se Hun yang tidak mau hilang.

Seberapa banyak pun pertanyaan Jun Myeon, itu tidak membuat Se Hun mengalihkan pandangan ke arahnya. Ia masih duduk di sofa ruang kerjanya dengan kaki tersilang. Tatapannya hanya berpaku pada satu titik di meja. “Aku bilang, aku membencinya.”

Jun Myeon mengerutkan dahi. “Hanya itu?” aku kira lebih buruk.

“Tapi karena aku tidak benar-benar mengatakannya, dia jadi marah.” Akhirnya, Se Hun mengangkat kepalanya sambil menghela nafas. “Dia bilang tidak bisa.”

“Hei, aku benar-benar tidak mengerti situasinya karena tidak ada saat kejadian itu terjadi,” Jun Myeon menegakkan tubuhnya dan menunjuk-nunjuk Se Hun dengan tidak sabar. Ia pikir, sekarang waktunya bermain. “Bicara yang jelas, agar aku bisa membantumu!”

Se Hun melirik Jun Myeon dari ujung matanya. “Aku tidak sedang meminta bantuanmu.”

“Oh, baiklah. Aku pergi kalau begitu.”

Hyeong….”

Jun Myeon langsung berhenti bergerak dan kembali duduk ketika mendengar rengekkan Se Hun. Mereka sama-sama tahu kalau tadi hanya candaan. Sama seperti Se Hun, ada kalanya Jun Myeon mengeluarkan sisi jahilnya, dan ia paling senang jika menggunakan itu untuk menggoda Se Hun. Jun Myeon tahu, Se Hun tidak bermaksud begitu. Tanpa diminta, Jun Myeon memang selalu menjadi pemberi solusi terhebat untuk Se Hun, dan tanpa bertanya pula, Jun Myeon paham kalau Se Hun sedang membutuhkan bantuannya.

“Sepertinya… aku tertarik dengan Choi Seo Ah.”

Oh, untung aku tidak terkejut lagi. Jun Myeon mencibir dalam hati. Ia sudah menduganya dari awal.

“Aku menyatakan itu padanya, tapi dia bilang kalau wanita sekarang lebih suka dibenci daripada mendapat pengakuan cinta yang romantis.” Lanjut Se Hun. Cara bicaranya mirip sekali dengan seorang gadis remaja yang frustasi karena pernyataan cintanya diabaikan begitu saja.

“Dan kau menurutinya?”

Se Hun mengangguk.

“Lalu?”

Dahi Se Hun berkerut sambil menatap Jun Myeon. “Kukira hyeong akan memberiku solusi.”

Jun Myeon menghela nafas. “Apa yang dia katakan padamu?”

“Dia bilang, dia tidak bisa, karena bagaimanapun aku sudah menyakiti Ji Eun. Dan… hubungan kami baru resmi berakhir.”

“Kalian benar-benar cocok.”

“Apa?”

Jun Myeon menyandarkan punggung lalu melipat kakinya. “Kau, dan Choi Seo Ah itu sama-sama bodoh dan egois.”

Hyeong….”

“Yang dikatakan wanita itu benar, kau tidak paham dengan perasaannya—bagaimanapun wanita sangat sensitif,” jawab Jun Myeon. “Tapi dia juga terlalu bodoh karena mementingkan orang lain daripada dirinya.”

Se Hun tidak butuh jawaban yang seperti ceramah itu, ia butuh sebuah solusi untuk menghilangkan kegundahan hatinya. Ia tidak bisa tidur nyenyak memikirkan kejadian malam itu. Rasa ini jauh lebih besar daripada saat pertama kali ia merasa tertarik dengan Lee Ji Eun. Ia tidak ingin melepas Seo Ah, seberapa kalipun wanita itu mencoba melarikan diri. Jadi, Se Hun pun tidak ingin menyerah hanya karena kalimat ‘aku tidak bisa’.

“Bicaralah dengan baik-baik.”

Se Hun mendengus, mendengar ucapan Jun Myeon. Lagi-lagi kalimat kosong.

Ya, aku serius. Kalau kau memang menyukainya sebesar itu, buat dia melihat perasaanmu. Buat dia menjadi egois.”

Hyeong, sebenarnya kau ingin membantuku atau malah menjebakku?” mata Se Hun menyipit. “Kau tidak tertarik juga dengan Seo Ah, kan? Sampai-sampai ingin menggagalkan rencanaku?”

“Sekalipun aku tertarik, aku tidak akan menggunakan cara murahan seperti itu.” sahut Jun Myeon, lalu bangkit dari duduknya. “Pria sejati selalu punya cara untuk memikat wanita.”

Melihat kedipan sebelah mata dan senyum lebar Jun Myeon, Se Hun mendecih lalu tertawa. Jun Myeon benar, Se Hun memang harus menjadi pria sejati sekarang. Ia harus meyakinkan Seo Ah kalau dirinya tidak main-main dan membuat wanita itu mengakui perasaannya. Di sisi hati Se Hun yang dalam, entah kenapa Se Hun percaya kalau Seo Ah juga memiliki perasaan yang sama dengannya. Tapi lagi-lagi otak bodoh wanita itu menjadi tembok besar untuk wanita itu memahaminya.

Seperti sudah mendapatkan jawaban dari dirinya sendiri, Se Hun segera menghubungi sekretarisnya melalui interkom dan memintanya untuk mengudurkan jadwal Se Hun sebanyak dua jam. Yah, untung saja jadwal Se Hun tidak terlalu padat hari ini, jadi sekretaris itu tidak terlalu pusing untuk mengaturnya kembali. Se Hun melihat jam tangannya. Jam makan siang masih lama, jadi kemungkinan besar wanita itu masih ada di kantornya.

Sambil tersenyum, Se Hun mengambil jas dan kunci mobilnya, lalu keluar dari kantor dengan perasaan membuncah.

Karena sebagian besar karyawan KeyEast sudah mengenalnya, Se Hun pun dapat keluar masuk kantor itu dengan mudah. Tanpa berpikir panjang, ia langsung naik ke atap gedung. Waktu itu, pertemuannya dengan Seo Ah di sini seperti takdir. Tapi karena Se Hun tahu takdir tidak akan terulang semudah itu, ia mengirimkan pesan singkat kepada Seo Ah untuk datang ke atap.

Tidak sampai satu menit kemudian, pintu menuju atap itu terbuka. Se Hun takjub sendiri, mengira Seo Ah juga sangat merindukannya sampai-sampai berlari menaiki anak tangga sebanyak itu. Tapi ketika melihat wajah tanpa ekspresi wanita itu, dan tidak ada setetes pun keringat yang keluar, Se Hun langsung merutuki kebodohannya.

“Seo Ah-ssi!”

Menutupi rasa malunya itu, Se Hun menyapa Seo Ah dengan suara keras. Wanita itu mengangkat kepalanya. Alisnya terangkat begitu melihat sosok Se Hun di gedung KeyEast. Seingatnya Sungjin tidak memiliki urusan apapun di KeyEast hari ini.

“Kau di sini?”

Tidak seperti biasanya, Seo Ah membalas dengan nada datar. Sekarang giliran Se Hun yang mengerutkan dahinya. Apa jangan-jangan Seo Ah masih marah dengan kejadian itu?

Se Hun menghampiri Seo Ah yang masih berdiri di tempatnya. Ada yang aneh dengan wanita itu. Matanya tidak menunjukkan gairah apapun, bahkan tatapan kebencian yang biasa ia tunjukkan untuk Se Hun pun tidak ada. Se Hun melihat kekosongan.

Se Hun menyentuh bahu Seo Ah. “Kau baik-baik saja? Apa ada masalah?”

“Tolong jangan pedulikan aku.” Menepis tangan Se Hun dengan dingin, Seo Ah pun berbalik ingin meninggalkan tempat itu.

Tapi tentu saja Se Hun tidak bisa membiarkannya.

Ia sudah mempersiapkan diri sejak tadi, bahkan sampai mempemalukan dirinya di depan Jun Myeon. Se Hun tidak bisa kembali begitu saja. Ia harus menyelesaikan perasaan mengganjal di hatinya dan juga pernyataan yang belum selesai malam itu. Ia juga harus mendengar penjelasan yang jelas dari Seo Ah. Sekalipun wanita itu menolaknya, Se Hun ingin mendengarnya secara jelas, bukan ucapan menggantung macam itu.

Se Hun menahan tangan Seo Ah dan menariknya, membuat wanita itu kembali bertatapan dengannya. “Aku ingin bicara denganmu.”

“Aku tidak ingin.” Seo Ah sekali lagi mencoba meloloskan tangannya, tapi tidak bisa. “Tolong lepaskan aku.”

“Tidak bisa! Aku harus menyelesaikannya sekarang juga!” mendapat penolakkan, Se Hun tidak punya cara lain selain bertindak lebih keras.

Namun ternyata, Se Hun salah perhitungan. Nada suaranya yang meninggi malah membuat raut wajah Seo Ah berubah. Wanita itu mengerutkan dahinya tidak suka, tatapannya pun menajam seolah ingin menikam Se Hun sampai mati.

“Lepaskan!”

“Baik. Tapi setelah kau mendengarkanku.”

“Tidak, kau yang harusnya mendengarkanku!” Seo Ah masih meronta. “Lepaskan!”

“Choi Seo Ah!”

“Kenapa tidak ada yang mau mendengarkanku?!”

Mendengar teriakan Seo Ah, dengan perlahan Se Hun melepaskan genggamannya. Seo Ah mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangan sambil menggeram. Wanita itu terlihat sedang memiliki banyak masalah—terlalu banyak sampai tidak bisa memberikan tatapan kebencian pada Se Hun. Ketika Seo Ah menurunkan tangannya, Se Hun bisa melihat mata wanita itu sembab. Tidak seperti sebelumnya, Seo Ah tidak melarikan diri, malah mengoceh tidak jelas dengan nada tinggi.

“Kenapa tidak ada satupun yang ingin mendengarkanku?! Semua hanya memikirkan dirinya sendiri! Kau pikir, selama ini aku diam karena aku baik-baik saja?! Aku memendamnya! Aku memendamnya karena tidak ingin membebani kau. Tapi kemudian kau membalasnya dengan melempar kotoran ke wajahku!”

Se Hun tahu, itu semua bukan untuknya—atau mungkin sebagian untuknya. Se Hun pun hanya diam saja, membiarkan Seo Ah mengeluarkan semua uneg-uneg yang menumpuk di hatinya. Kurang lebih dua bulan mengenal wanita ini, Se Hun mulai paham bagaimana sifat Seo Ah. Meski suka marah-marah, Seo Ah lebih mementingkan orang lain daripada dirinya sendiri. Tidak jarang kalau itu sampai melukainya. Tipe orang yang suka memendam keinginannya untuk menjaga perasaan orang lain.

“Kau pikir aku akan meminta sebagian hartamu yang melimpah itu?! Mengetahui kalau aku tidak dibuang saja, aku sudah bersyukur. Tapi… sepertinya kau memang berniat membuangku.”

Tidak tahan dengan ocehan Seo Ah yang semakin kacau dan tidak jelas, Se Hun menarik bahu wanita itu dan memeluknya. Seo Ah tidak menolak. Suara tangisan mulai keluar dari mulutnya, semakin lama semakin keras.

“Apa susahnya memberitahu kalau aku masih memiliki ayah, dan dia masih hidup?! Dan apa sulitnya mengaku kalau kau adalah ayahku….” ujar Seo Ah disela tangisnya. Ia menutup wajahnya dengan kedua tangan, masih di dalam pelukan Se Hun.

Se Hun tidak bisa menyembunyikan keterkejutannya, namun sekuat mungkin menahan mulutnya untuk tidak mengucapkan apapun. Seo Ah menemukan ayahnya? Bahkan orang bodoh pun pasti akan mengalami guncangan mental jika mengalami itu. Maksudnya, Seo Ah sudah 27 tahun hidup tanpa ayah, lalu tiba-tiba saja ia bertemu. Mendengar rancauan Seo Ah tadi, sepertinya ibu Seo Ah berperan untuk menyembunyikan keberadaan ayahnya. Se Hun yang hanya bisa mendengarnya saja sudah kesal.

“Jangan menangis….” Setelah beberapa saat, hanya itu yang bisa diucapkan Se Hun. Ia pun menurunkan tangan Seo Ah dan menggunakan tangannya sendiri untuk mengusap air mata Seo Ah.

Menjauhkan wajahnya dari tangan Se Hun, Seo Ah menatap pria itu. Kali ini dengan tatapan yang biasa wanita itu gunakan ketika melihat Se Hun. “Kenapa kau datang?”

“Aku ingin membicarakan sesuatu denganmu.”

Baru beberapa detik yang lalu, Seo Ah berhasil menghilangkan setengah bebannya, tapi kemudian Se Hun membawa beban yang baru. Seo Ah langsung teringat ucapan Se Hun malam itu. Maksudnya… hanya orang bodoh yang melupakan kejadian malam itu (meskipun Seo Ah sempat melupakannya beberapa saat. Tapi sungguh, ia punya alasan untuk itu). Seo Ah pun menghindari tatapan Se Hun. Namun sebelum niat untuk melarikan diri dari Se Hun—lagi—pria itu dengan cepat menangkap tangannya.

“Jangan menghindar.”

“Se Hun-ssi, sudah kubilang, aku tidak bisa.”

“Kenapa? Berikan aku penjelasan. Apa kau tidak bisa karena aku salah mengungkapkannya?”

Mulut Seo Ah kelu beberapa saat. “Bukan itu….”

“Kalau kau memang mengkhawtirkan soal Ji Eun, lebih baik lupakan. Aku sama sekali tidak ingin membahasnya.” Se Hun berkata dengan tegas. “Segala yang berhubungan dengan Ji Eun tidak ada lagi kaitannya denganku.”

“Tapi Ji Eun sahabatku!” Seo Ah terus berkilah.

“Lalu, apa kau pernah memikirkan dirimu sendiri?!” tanya Se Hun. “Selama ini kau terus menyalahkan orang karena keegoisan mereka, apa kau pernah berpikir bagaimana sikapmu ini bisa melukai seseorang?”

Oke, Seo Ah tidak ingin bertengkar. Sudah cukup masalah di rumah dan… ah, sial! Seo Ah kembali teringat telepon yang diterimanya tadi pagi. Cabang di kepalanya semakin banyak dan kusut. Ia tidak tahu mana yang harus diselesaikan terlebih dulu. Semua berteriak di kepala Seo Ah sampai rasanya ingin meledak. Pernyataan Se Hun, fakta tentang rahasia kelahirnya, dan Kim Jong In. Benar, kenapa si Brengsek itu datang pada saat yang tepat?! Datang di saat semua masalah menghampiri kehidupan damai Seo Ah.

“Aku tidak ingin bicara padamu.” Lagi, Seo Ah menghindar. Ia melolosakan diri dari genggaman Se Hun.

“Benar-benar lucu!”

Ucapan Se Hun itu membuat Seo Ah berhenti melangkah, tapi ia tidak berbalik.

“Kau meminta untuk didengarkan, tapi kau tidak mau mendengarkan. Kau menyalahkan mereka dengan keegoisannya, tapi kau sendiri malah menutup diri! Tidakkah itu lucu?! Harusnya kau melihat dirimu lagi sebelum menyalahkan orang lain. Jika—“

“Tutup mulutmu, Bajingan!” Dengan cepat, Seo Ah berbalik badan lalu mendorong dada Se Hun. Teriakannya menggema di telinga Se Hun.

“Sudah cukup Bajingan itu menghubungiku tadi pagi, bisakah kau diam saja dan melupakannya?!”

Seo Ah menengadahkan kepalanya sambil menghela nafas panjang. “Kau tidak mengerti, Oh Se Hun. Aku… sahabatku masih belum bisa melupakanmu, dan aku sendiri—“ Seo Ah menutup matanya sejenak untuk menghalau air mata. “—belum bisa menyembuhkan lukaku.”

Seketika Se Hun ingat dengan kejadian beberapa minggu yang lalu. Ah, benar, wanita ini baru saja mengalami kejadian buruk dengan kekasihnya, pasti pernyataan cinta Se Hun membuatnya tambah tertekan. Tapi jika mendengar cerita Seo Ah yang sangat membenci pria itu, seharusnya ini bukan jadi masalah lagi.

“Jong In menghubungiku,” lanjut Seo Ah, dan sukses membuat Se Hun membulatkan matanya. “Dia bilang, dia merindukanku dan akan kembali ke Seoul. Tidakkah kau membayangkan bagaimana isi kepalaku sekarang?”

Tangan Se Hun terkepal di sisi tubuhnya. Mendengar nada bicara Seo Ah yang bergetar, melihat mata sembab itu, dan raut frustasi yang kentara jelas, membuat emosi Se Hun naik sampai ubun-ubun. Ternyata pria itu berulah lagi. Meski tidak mengenal persis bahkan belum pernah bertemu, entah kenapa Se Hun sudah sangat membenci Jong In itu.

“Dia yang menyakitiku, tapi suaranya terdengar seperti aku yang menyakitinya.”

Seo Ah tidak bisa menahannya lagi. Jujur, ia sangat berdebar ketika mendengar suara Jong In tadi. Apalagi suara dalam dan lembut itu, mengingatkan Seo Ah dengan hari-hari terdahulu. Tapi kemudian kata-kata kasar yang diucapkan Jong In malam itu menghancurkan segalanya.

Seo Ah tidak ingin kembali.

“Aku harus bagaimana….”

Untuk kedua kalinya dalam hari ini, Se Hun memeluk Seo Ah lagi. Ia mengeri perasaan wanita ini sekarang. Trauma itu belum hilang. Jujur saja, Se Hun sedikit senang mendengarnya. Seo Ah tidak lagi membahas tentang Ji Eun, itu berarti Ji Eun bukanlah penghalang mereka lagi. Yang harus Se Hun lakukan sekarang adalah menyakinkan wanita ini dan menjadi pria yang lebih baik dari Kim Jong In itu.

“Maaf kalau aku membuatmu kesal, tapi… aku hanya ingin kau tahu kalau aku serius dengan ucapanku.” Sambil mengusap kepala Seo Ah di pelukannya, Se Hun berucap. “Aku bukan mantan pacarmu yang di New York, dan tidak akan pernah menjadi dirinya. Jadi percayalah padaku.”

Seo Ah mengangkat kepalanya. “Bagaimana bisa aku mempercayaimu?”

Se Hun membuat wajah seolah sedang berpikir, dan beberapa detik kemudian dia meringis. “Dengan mengucapkan ‘aku percaya pada Se Hun’, ‘aku percaya pada Se Hun’ berulang kali?”

Seo Ah mendengus. Jawaban konyol.

“Lihat, kau tertawa.”

“Tidak.” Sanggah Seo Ah cepat. Akhirnya ia menyadari kalau dirinya ada di pelukan Se Hun. Seo Ah pun mendorong dada Se Hun, tapi pria itu malah mengeratkan pelukannya di pinggang Seo Ah.

Ya!”

“Aku serius,” ucap Se Hun. “Percayalah padaku.”

Dalam posisi seperti ini, Seo Ah bisa menatap bola mata Se Hun dengan jelas. Begitu bening, sampai bayangan Seo Ah terpantul di dalamnya. Meski Seo Ah melihat sedikit ketakutan di sana, tapi Se Hun sama sekali tidak ragu. Mata itu menghipnotis Seo Ah. Wanita itu tidak menyadari kalau Se Hun mengeratkan pelukannya hingga jarak mereka semakin dekat. Dan embusan nafas Se Hun yang terasa di pipi Seo Ah malah membuat wanita itu semakin jatuh ke dalam pesona Se Hun.

“Kau mau, kan, percaya padaku?”

Bagai hanya sapuan angin, Se Hun mengucapkan kalimat itu dengan teramat pelan dan lembut, sebelum bibirnya menyentuh bibir Seo Ah. Mata Seo Ah membulat. Wanita itu tidak bisa menggerakkan anggota tubuhnya yang lain. Bahkan untuk mengeluarkan udara di tenggorokkannya saja tidak bisa.

Se Hun melepaskan ciuman ringannya itu untuk menatap wajah Seo Ah. Niatnya ia akan segera menjauhkan diri kalau detik itu Seo Ah kembali berteriak padanya. Tapi tubuh Seo Ah sangat kaku, dengan wajah memerah, dan mata membulat. Sial! Wanita ini sangat bisa mengontrol hasratnya. Se Hun tidak lagi bisa membendung semua itu ketika melihat wajah polos Seo Ah yang seperti itu.

Ciuman kedua terasa jauh lebih berani dari sebelumnya. Se Hun tidak segan-segan menggerakkan bibirnya dan menghisap bibir Seo Ah yang manis itu. Seo Ah mulai membalas dengan gerakkan ragu. Suara gesekkan angin dengan dedaunan seperti melodi di antara suara kecapan bibir mereka. Tangan Seo Ah yang sebelumnya ada di dada Se Hun pun merambat naik, melingkar di leher pria itu. Sekarang tidak ada jarak lagi di antara mereka.

Seo Ah gila—sangat gila! Ia bahkan terlalu gila untuk menghentikan semua ini. Tidak ada lagi ingatan Jong In yang tersisa di kepalanya. Yang ada hanya bagaimana bisa terus mencium bibir Se Hun seperti ini. Ia juga lupa kalau mungkin sahabatnya tengah menangisi pria ini sekarang. ia tidak peduli. Keegoisannya benar-benar menguasai dirinya sekarang.

Ketika udara di sekitar mereka semakin berkurang, mereka pun menjauhkan diri. Bunyi nafas yang membentur masing-masing wajah mereka menandakan kalau mereka melakukannya dengan sekuat tenaga tadi. Baik Se Hun dan Seo Ah sama-sama malu, dan hanya bisa menghindari tatapan masing-masing tanpa mencoba melepaskan diri.

“Aku….”

Se Hun dan Seo Ah mengucapkan kalimat yang sama bersamaan. Rasa canggung kembali menyelimuti mereka. Menutupi debar jantungnya sendiri, Seo Ah menurunkan tangannya dari leher Se Hun dan dengan pelan mendorong dada pria itu agar menjauh.

“Aku memang tidak bisa, tapi,” ucap Seo Ah, sebelum Se Hun mengatakan apapun lagi. Seo Ah mengangkat kepalanya. “Aku akan mencobanya.”

“A-Apa?”

Seo Ah menghembuskan nafas panjang, seolah sedang menyakinkan dirinya sendiri kalau ini adalah keputusan yang benar. “Aku… akan mencoba percaya padamu.”

 

■■■

—————————————-

*lama ya lama???? Wkwkwk maafkeun… ini diselesaiin satu minggu karena baru punya waktu akhir-akhir ini T.T yah… pasti udah pada lupa.

Maafin juga karena sehun-seoanya gak banyak keluar di sini, tapi ada kejutannya kan??? Wkwkwk oh iya, rencananya chapter depan mau banyakin sehun-seoa, jadi kalau kalian punya ide tentang scene2 romantis gitu, silahkan tuangkan di kolom komentar atau bisa personal chat diriquh

Hehehe

Liburanku tinggal sisa seminggu T.T jadi aku akan mencoba membuat cepet ya. Masalahnya ada beberapa project lagi yang belum kuselesaikan.

Kritik dan saran diterima ^^ see ya

Regards: Ziajung (vanillajune.wordpress.com / wattpad: ziajung)

 

Advertisements

40 responses to “Honey Cacti [Chapter 6]

  1. Akhir y..update juga..kanhen bgt ma mereka..huahhhh sehun-seo ah..kissing..kissing hehehe..akhur y mw juga ma sehun hihihi
    Pasti ada alasan y knp ibu seo ah gitu..jd mereka sodaraan y..seo ah ma seolhyun..hihihi

  2. hay kakak , welcome back…
    oh manis nya… oh sehun kapan aku di gitu in ?? seru kali ya kak kalo seo ah tiba tiba di lamar sama sehun???
    ditunggu kelanjutannya kak

  3. Kak aku nungguin ff ini lama banget rasanyaaaa, skrg update lagi, sumpah seneng bgt bacanyaaaaaaa, BTW scene sehun seoah singkat yah:( tapi gak apa, ff nya tetep keren

  4. Seo Ah kayak dijatuhin bom apa yg lebih parah lagi saat tau saudaraan sama musuh -yg suka nyuruh2 ngeselin lagi- Seo Ah harus egois sekali-kali benersih tapi malah kepikiran gimana ntar reaksi Jieun kalo Jongin mah bodo amat udah masuk tong sampah. Banyakin part Sehun-Seo ah itung2 Seoah gak galo2 amat lah sama masalahnya. Ditunggu terusss part selanjutnya^^

  5. Kasian seo ah banyak bgt masalah dlm hidupnya,, udah tertekan masalah keluarga, ditambah si jongin,, ugh bener” yah ga tau malu bgt tu orang.. trus sehun nambah beban fikiran.. paling ntar masalahnya jg nmbah lagi sama ji eun..

    hmm,, ga pp deeehh,, yg namanya hidupkan emg banyak lika-likunya…
    itu yg diakhir kisseu nya ? ^_^
    seo ah will try to trust you,sehun.,

  6. waaa akhirnya update jg thor. kasihan si seoahnya bnyk pikiran sampe stres gtu. untung ada sehun yg mau jd tmn curhatnya #hehe . ok thor banyakin moment sehun-seoahnya klo perlu seoahnya sampe lupa ma beban pikirannya #asekkk.
    ditunggu

  7. Gila ffnya keren banget. Cetar membahana badai banget.
    Duuhh nangis aku keinget ibu.
    Pengen cepet2 liat ekspresinya jongin kalo seo ah udah punya sehun yg notabene nya lebih baik dan lebih kaya.

  8. Ahhh akhirnya keluar juga ff ini
    Wahh jadi makin seru aja ni cerita y
    Thor chapter selanjutnya harus banyak romance y sehun sama seo ah y y y
    Jebal thor 😢😢😢

  9. Seo ahhhhh, kasian banget sii dia masalahnya bertubitubi datang begitu 😌 tapi dia emosional banget sii, sampe sampe marah marah ke eommanya, aku jadi kasian sama eommanya 😔 wwkk hett si ji eun, kasih tau gee, gregetan sama dia wkwk. Sehun akhirnya mengakui 😚 ga papa dah, mereka cocok wkwk. Aku suka ketuker sama ji eun dan eun ji tau 😂 wkwk ga papa deh. Makin seru ceritanya ini 😄next kaaa

  10. gilaaa yaa seo ah kayak di tembak berkali kali

    aku sukaaa part ini soalnya konfliknya banyak ahahhahahahhaha jahat ya

    yeyy jongin balik lagi beneran penasaran jongin mau ngapain emangnya

  11. Cerita yang ditunggu tunggu banget nih. Penuh emosional ya di chapter ini. Dak semoga itu yang terbaik buat sehun-seoah.
    Ditunggu next chapternya ya.

  12. Waaaahhh keren banget ceritanya. Kasian seo ah, masalah yg dateng sampe buat dia kyak gitu. Suka paz momen sehun dan seo ah nx. Makin seru dan makin greget. D tnggu klnjutan ceritanx ya. Keep writing…

  13. Sebenernya kasihan sma seo ah tentang ayahnya, tp seo ah bener2 sebanding sma ibunya, kasihan kan ibunya juga terluka sebenernya..
    Sebenernya mau ngapain sih jong in menghubungi seo ah lg? Mencurigakan ini jangan2 jong in pengen balikan lg sma seo ah..
    Tp sehun udah start lebih dlu untk mendekati seo ah dan bisa mempercayai sehun, ya ampuun akhirnya mereka skinship jg.. Ulalaaaa semoga lama lama seo ah akan luluh sma perjuangan sehun..

  14. Finally seo ah and sehun…
    Rahasia dibalik bencinya dan putusnya hubungan sehun dan ji eun yg belum
    Dan yeayyy sesekali memang seharusnya seo ah mencoba untuk egois untuk dirinya jangan selalu mendahulukan orang lain
    Kenapa merasa lebih ngena couple ini ya daripada sebelumnya,, faktor bias mungkin kkkkk

  15. aaa..seneng akhirnya honey cacti chapter 6 muncul..baca adegan kissing.nya sehun- seo ah melting sendri, deg”an sendri pdahal yang dicium bukan aku..pkoknya kelanjutannya tetep dirunggu^^

  16. huaaaaa teriak2 sendirii baca inii. omaygat akhirnyaaa mereka bisa romantis dan seo ah mulai ngebuka hatinya buat sehun:”))) jangan2 tapi habis ini ji eun ngerusak kebahagiaan mereka, sama jongin jugaa hua ga rela!!

  17. Sungguh, seo ah wanita yang tegar 🙂 selalu mementingkan kepentingan org lain daripada dirinya sendiri 🙂 fighting seo!! 🙂

  18. WAH TERNYATA SEKALI NEGPOST URI AUTHORNIM INI PANJANG JUGA YA….GA PP URI AUTHORNIM AKU AKN SLLU MENUNGGU,DAN BIAN AKU GA KOMEN DI PART 5,SOALNYA KETIMPAL SAMA LIBURAN DAN KEASIKAN KERJA,Dan mmaf juga caps lock semua ya…hihihihi

  19. Wowwww Kerennn banget.jadi iri nih sama sehun dan seoAh.ahirnya mereka berciuman. Makin penasaran nih kedepannya d tunggu next chapter nya figting🙋🙋🙋

  20. Yeheiiiiu akhirnya Seo ah nrima Sehun juga…
    Berat banget sihh beban hidupnya Seo ah…
    Semoga aja Jong in kmbali dan menyesal…biar dia tau rasa…
    Next yya unni^^
    Fighting…!

  21. Akhirnya kebongkar juga ayahnya seo ah, aduh engga tau banget itu si joongin nlp seo ah 😒 moment terkhir BEST sehun seo ah😄😍😘😘😘😘😘

  22. Yesss akhirnya mereka bareng deh. Semoga sehun bisa dipercaya biar seo ah makin yakin sama perasaannya sama sehun

  23. Aaahh chapter ini keren, konfliknya dateng bertumpuk tumpuk tapi scene terakhir jd penutup chapter yg manis banget. Uuhhh sehun seoah!!!!! Couple baru makin greget bikin penasaran. Cepet update ya jeng. Semoga ada waktu luang seluang-luang nya. 2 minggu ditinggal udh rindu bgt. Jd jgn lama2 yaa hehe. Chayooooooo

  24. Wahh akhirnyaa merekaa bersamaa. Itu jongin pasti nyesel itu wkwk gasabar nunggu ff ini mau tau gmn jongin kesananya. Lanjutt kaa👍🏻👍🏻👍🏻

  25. Wah akhirnya seo ah sama sehun, tapi ji eun kalau tau pasti gak akan diam malah nekat si ji eun. Di tunggu ya kak next chaptnya..

  26. Semua masalah Seo Ah datang di satu waktu dan datamg Sehun sebagai penawar semua pesakitam Seo Ah. And finally bendera Sehun berkibar yeyeye

  27. Tolong jelaskan cerita apa ini? Tadi di tengah aku hampir nangis… Terus pas bagian akhirnya aku malah senyum gaje. Kaya nano2 ya… Demi apa keren banget 😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s