I Married To My Enemy [VIII] -by ByeonieB

imarriedtomyenemy-2

I Married To My Enemy

ByeonieB©2017

“His Heart.”

Main Cast:: Baekhyun of EXO as Byun Baekhyun, OC/You/Readers as Han Minjoo || Additional Cast:: LuHan (Singer) as Luhan, Han Hyojoo (Actress) as Han Hyojoo, Chanyeol of EXO as Park Chanyeol, Sehun of EXO as Oh Sehun, Lee Yubi (Actress) as Lee Yubi, and many more || Genre:: Marriage Life, Romance, A Slight of Comedy, Drama || Length:: Chapter || Rate:: PG-17+ || Before:: [Chapter VII] || Poster by Sfxo @ Poster Channel

     ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

November 2009

“Ya, kau sudah dengar belum kalau Hangeng keluar dari Super Junior?”

Salah satu gadis yang menjadi dua teman Minjoo ini berucap. Di tag namanya tertuliskan ‘Min Jihyun’.

“Yang benar!?” Sekarang si teman yang satunya lagi berucap sambil berdiri dari baringannya di atas ranjang Minjoo. Tag namanya bertuliskan ‘Im Soojin’. “Kau tidak sedang bercanda bukan, Jihyun!?”

Jihyun hanya berdecak kesal sambil menatap Soojin dengan garang, “Untuk apa aku berbohong?!”

Seperti Soojin baru saja mendapatkan berita buruk—nyatanya, memang buruk untuknya—dia langsung merubah raut wajahnya sedih sambil terduduk di atas ranjang dengan kaki yang ia hentakkan ke atas kasur. Seperti gadis berumur lima tahun saat balonnya terbang ke atas.

“Aish, Hangeng Oppa itu biasku di Super Junior, Jihyun-ah..” Raut wajahnya tampak sedikit ingin menangis, “Kenapa dia keluar!?”

Jihyun yang mendengar itu menatap jijik Soojin, “Ya. Kau menyebut semua anggota boyband itu biasmu! Jangan berbohong, aku tahu kau bahkan tidak mengenalinya.”

Soojin hanya cemberut dan ia kemudian tersadar dengan Minjoo yang duduk di meja belajarnya. Menatap entah pada apa di hadapannya.

“Ya, Han Minjoo.” Soojin berucap, “Apa yang kau lakukan disana? Kenapa kau belum ganti baju juga, sebentar lagi pesta ulang tahunmu akan dimulai!”

Minjoo di tempatnya hanya bisa termenung diam, sepertinya tidak mendengar perkataan Soojin. Pikirannya sedang kalut beberapa waktu ini, tepatnya dari bulan September lalu.

.

.

“Hyojoo noona itu seperti malaikat untukku. Cantik, pintar, dan yang paling kukagumi adalah kepribadiannya yang begitu lembut dan baik hati. Noona mampu membuat orang yang pertama kali bertemu dengannya akan langsung merasakan nyaman detik setelah noona menyebut namanya.”

“Dari dahulu sampai sekarang, aku selalu menganggumi Hyojoo noona, Minjoo-ya.”

“Tentu saja, aku menyukainya.”

.

.

Entah kenapa hatinya begitu sakit mengetahui Baekhyun yang menyukai kakaknya. Dia mengakui memang, kalau kakaknya itu bisa dikatakan sempurna. Jauh dari sempurna, tepatnya. Persis seperti deskripsian Baekhyun pada Hyojoo.

Mengetahui fakta orang yang kalian suka menyukai saudara kalian sendiri adalah fakta termenyedihkan di dunia. Kalian tidak bisa apa-apa selain menerimanya.

“Ya.” Kini Jihyun berucap karena Minjoo masih tidak menanggapi perkataan Soojin. “Kau ini kenapa, hm? Kau seperti tidak senang disaat hari ini adalah hari ulang tahunmu?”

Minjoo mengangkat bahunya acuh untuk menjawabnya, ternyata dia mendengar ucapan teman-temannya itu. Sepertinya ulang tahun yang kali ini adalah ulang tahun terburuknya sepanjang ia hidup.

“Ck. Kau sedang bertengkar dengan Baekhyun ya?”

Dan perkataan itu kelewat sanggup untuk membuat Minjoo memutar tubuhnya menghadap mereka.

“Tidak. Kenapa aku mesti bertengkar dengan Baekhyun?”

“Tidak, hanya saja kau itu selalu murung saat kau sedang bertengkar dengannya. Berarti harusnya kau sedang bertengkar dengan Baekhyun sekarang.” Jihyun menjeda perkataannya dan beberapa detik setelahnya, dia merubah raut wajahnya setengah mengejek Minjoo.

“Ya, kau menyukai Baekhyun, benar!?”

Dan perkataan itu kelewat sanggup untuk membuat Minjoo menegangkan tubuhnya di tempatnya.

“T-tidak!”

“I-iya!”

Jihyun dan Soojin berucap kompak sambil tertawa setelahnya. Membuat Minjoo menaikkan emosinya karena malu ketahuan menyukai sahabatnya sendiri di depan teman-temannya.

“Aku tidak menyukainya, sialan!”

“Ya. Tidak usah berbohong.” Jihyun sedikit menghentikkan tawanya, “Kami bisa melihatnya semua. Kau itu menyukai Baekhyun.”

“Baekhyun itu cinta pertamamu, benar!?” Soojin menambahkan dan mereka tertawa bersama lagi. Membuat Minjoo semakin memerahkan mukanya karena malu ditambah emosi yang memuncak.

“Aku tidak menyukainya! Kubilang aku tidak menyukainya!” Minjoo tidak boleh membiarkan teman-temannya mengetahui ini. Hancur sudah harga dirinya kalau ia ketahuan menyukai Baekhyun.

“A-aku menyukai orang lain!”

Jihyun dan Soojin menatap Minjoo dengan menantang, “Siapa memangnya?”

Skak mat. Minjoo tidak bisa menemukan nama siapapun di dalam otaknya untuk dijadikan pengalihan. Dia tidak punya banyak teman lelaki, mengingat dia sudah cukup mempunyai Baekhyun disisinya selama ini.

Minjoo terus berpikir keras sampai akhirnya dia diberi ilham oleh Tuhan. Dia menemukan sebuah nama yang terlintas di otaknya.

“Aku menyukai Luhan sunbae!”

Soojin dan Jihyun tampak kaget dan menatap Minjoo dengan menyipitkan matanya.

“Aku menyukai Luhan sunbae, kalian puas!?”

Oh, Luhan sunbae sang kaptem tim basket sekolah, Maaf Minjoo harus menggunakan namamu. Minjoo berjanji akan membersihkan namamu tepat setelah dia berhasil melupakan Baekhyun dan menemukan cinta barunya. Sekali lagi, Maaf ya.. Luhan sunbae.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

[Chapter 8]

H A P P Y   R E A D I N G

 

Memang seperti itu ya rasanya saat kau sedang mengalami patah hati? Semuanya terlihat berat, duniamu seperti hilang, apa pun yang kau lakukan terasa malas dan juga salah. Minjoo pernah mengalami seperti ini juga enam tahun lalu, tapi entah kenapa yang kali ini seperti jauh menyakitkan dari sebelumnya. Mungkin karena dirinya yang sudah berstatus istri dari Baekhyun ditambah dirinya yang sedang mengandung anak pria itu. Kalian bayangkan saja, Minjoo sudah sah menjadi milik Baekhyun di mata negara dan tubuhnya, tapi hati Baekhyun belum bisa sepenuhnya diberikan untuk Minjoo. Bukankah itu menyakitkan?

Minjoo selalu tahu bahwa Baekhyun menyukai kakaknya, dahulu pun Minjoo sering menangkap kejadian-kejadian dimana Baekhyun kelewat peduli pada kakaknya. Selalu pria itu yang ada untuk Hyojoo kalau Hyojoo sedang jatuh, selalu dia yang ada saat Hyojoo sedang sedih, intinya.. Baekhyun benar-benar telihat sangat memiliki perasaan itu pada Hyojoo. Dan inilah alasan mengapa hatinya sangat sakit. Mungkin.. kalau itu orang lain, yang disukai Baekhyun maksudnya, Minjoo bisa saja menggertak gadis itu dan menyuruhnya menjauhi Baekhyun. Tapi, ini kakaknya. Kakaknya sendiri. Yang punya satu ikatan darah dengannya. Bagaimana Minjoo bisa melakukan itu?

Jika Minjoo boleh mengulang waktu.. Minjoo ingin sekali tidak dilahirkan sebagai adik Han Hyojoo. Terlihat kejam, tapi dia benar-benar tidak bisa kehilangan Baekhyun di hidupnya.

“Ya.”

Minjoo memutar tubuhnya yang sedang terbaring di atas ranjang kasur. Sedari tadi yang ia lakukan adalah termenung dan istirahat. Tubuhnya terlalu lelah karena dia terus menangis selama lima jam.

“Bagaimana hasil pemeriksaanmu?” Baekhyun baru saja pulang dan kini sedang menghampiri Minjoo dikasurnya. Dengan raut wajah khawatir dia menatap Minjoo, “Maaf aku tadi tak menjemputmu, urusannya menjadi sangat penting tadi..”

Urusannya menjadi sangat penting? Oh, jelas saja. Urusan Hyojoo selalu penting baginya.

Itu sangat sanggup membuat Minjoo kembali ingin menangis di tempatnya, seperti luka yang ditambah garam. Setidaknya, bisakah Baekhyun tidak perlu membohonginya?

“Tidak apa-apa. Aku tadi sudah bilang, aku bisa pulang sendiri.”

Baekhyun seperti masih terlihat bersalah tapi kemudian dia bertanya, “Lalu bagaimana hasil pemeriksaannya? Kau baik-baik saja? Apa yang terjadi dengan perutmu?”

Jujur sebenarnya ada hati kecil Minjoo, yang benar-benar sangat kecil di dalam sana, masih menyuruhnya untuk memberitahu kabar kebahagiaan ini pada Baekhyun. Tapi, mengingat kejadian tadi sore ditambah masa lalunya membuat Minjoo menjatuhkan semuanya. Dia sudah tidak sanggup untuk sakit hati lagi kalau ia harus melihat raut wajah Baekhyun yang tak senang mendengarnya mengandung anaknya.

“Aku hanya salah makan. Dokter bilang kemungkinan besar aku keracunan makanan restoran yang baru buka itu.”

Baekhyun terlihat menghembuskan nafasnya lega sambil menggeleng pelan pada Minjoo,

“Ya, kau kenapa makan di restoran baru itu, hm? Kau mengejar harga murahnya ya karena baru buka?!” Baekhyun mendesis dan melihat Minjoo merendahkan. “Kau tak punya uang apa? Ah, tipikal Han Minjoo memang, memalukan.”

Minjoo lagi-lagi hanya bisa menahan rasa sakit ditambah emosinya di dalam tubuhnya. Pantas saja Minjoo tak bisa merebut hati Baekhyun, gadis itu hanya terlihat seperti gadis memalukan dan menjijikan di matanya. Tidak seperti Hyojoo yang selalu terlihat sempurna di matanya.

“Hm, terserah denganmu.”

Minjoo memutar tubuhnya kembali dan menaikkan selimutnya sampai menutupi hidungnya. Tak sampai beberapa detik ia mendengar Baekhyun terkekeh pelan dan meninggalkannya, air mata Minjoo kembali turun melewati pipi gadis itu.

Ya Tuhan, kapan Minjoo bisa tidak merasakan sakit hati itu lagi.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Sehun sedikit menggosok-gosok tangannya, untuk membuat kehangatan lewat sana. Sekarang sudah memasuki musim gugur, yang artinya suhu sudah semakin turun.

Pria itu sedang berdiri di depan sebuah rumah, menunggu seseorang dan tak jauh dari dia menggosok-gosok tangannya, pintu rumah itu terbuka. Membuatnya langsung tersenyum ketika melihat gadis itu keluar dari sana.

“Annyeong.”

Yubi tersentak kaget sesaat ia telah mengunci rumahnya. Menemukan Sehun yang berdiri di bawah tangga sana. Jantungnya seperti meledak dan itu tentunya bukanlah hal yang bagus.

“Apa yang kau lakukan?” Yubi telah berhasil menghampiri Sehun di tempatnya. “Kenapa kau disini?”

“Menjemputmu.”

Jujur sebenarnya Yubi merasakan getaran jantung itu di dalam hatinya. Sehun tidak pernah menjemputnya selama ini, kalau pun iya itu pasti karena Yubi yang memintanya.

“Seingatku aku tak memintamu untuk menjemputku?”

“Memang tidak, ini murni aku yang ingin menjemputmu.”

Dan detak jantung itu semakin kentara di dalam sana. Apa yang kau lakukan, Oh Sehun?

“Ayo kita masuk, ini sangat dingin.” Sehun mencoba menarik tangan Yubi, tapi Yubi menghindarinya. Membuat tatapan bingung pada Sehun.

“Ya. Apa yang kau lakukan?” Tapi Sehun tak menggubris tatapan itu dan berhasil menggenggam tangan Yubi. Hangat. Itu yang Yubi rasakan.

“Ayo kita masuk.”

Demi Tuhan, Yubi tidak sedang bermimpi bukan?

.

.

Ini aneh dan ini benar-benar diluar yang Yubi pikirkan. Dia tidak pernah tahu bahwa setelah kejadian memalukan itu—maksudnya, pengakuannya—Sehun masih mau berteman dengannya. Oh, jika Yubi berada di posisi Sehun, dia tentunya akan membuat jarak dengan dirinya. Harusnya sih seperti itu, disaat kau tidak memiliki perasaan apapun pada orang yang menyatakan cinta padamu.

Sesaat mobil dihentikan, Sehun menoleh ke samping.

“Kau turun duluan saja, aku akan memarkirkan mobilnya dahulu di lantai bawah—“

“Kenapa kau melakukan ini?” Yubi tidak bisa menampung tanda tanyanya lebih banyak lagi. “Kau tidak merasa jijik padaku?”

Tentu saja, itu membuat Sehun menaikkan alisnya kebingungan.

“Kenapa aku harus merasa jijik padamu?”

“Aku menyukaimu.” Jujur Yubi merasa rona wajahnya memerah tapi dia benar-benar tak bisa menahan semuanya. “Aku bukanlah tipemu, aku jauh dari kata tipemu. Aku menjijikan dan aku memalukan. Bukankah harusnya kau menjauhiku? Apa kau tidak canggung?”

Mendengar itu semua, Sehun hanya bisa tersenyum pelan di tempatnya. Perlahan tapi pasti, dia memajukan tubuhnya. Sumpah, ini terlalu dekat dan Yubi tidak bisa berhenti berharap pada atas apa yang akan Sehun lakukan.

“Kau memang menjijikan dan memalukan.”

Cklek.

Yubi menjatuhkan harapannya. Sehun bukan maju untuk menciumnya, melainkan melepaskan sabuk pengamannya. Dan perkataan Sehun itu mampu membuat Yubi mendengus kesal.

“Tapi.. kata siapa kau bukan tipeku?”

Yubi membelalakan matanya dan kini ia benar-benar menatap Sehun sepenuhnya. Baru saja beberapa detik ia menatapnya, kini ia seperti merasa terbang ke atas langit karena harapan sebelumnya baru saja terpenuhi.

Sehun menciumnya. Tepat di bibirnya.

“Yang canggung itu kau, bukan aku. Untuk apa aku merasa canggung disaat orang yang kusuka juga menyukaiku?”

Ini semua benar-benar seperti keajaiban. Yubi tak tahu apa ia sedang bermimpi dan mencoba mengingat-ingat apakah ia meminum obat tidur semalam. Tapi, bibir Sehun terlalu kentara di bibirnya. Terlalu manis kalau hanya sebuah mimpi.

Sesaat setelah mengatakan itu, Sehun kembali mencium bibir Yubi sambil menahan tengkuknya. Saat itulah Yubi sadar bahwa ini bukan mimpi.

Ini benar-benar terjadi.

Cintanya.. tidak bertepuk sebelah tangan.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Minjoo baru saja berhasil masuk ke rumah. Kalau kalian bertanya apa ia baru saja pulang, maka jawabannya benar. Dia pun berjalan semakin dalam menuju kamarnya namun tepat saat ia melihat Baekhyun di dapur sana, ia mengerem pergerakannya.

Beberapa hari ini dia sedang menghindari pria itu, tidak perlu Minjoo jelaskan lagi alasannya apa. Saat melihat Baekhyun, rasanya hati itu terus jatuh dan jatuh di dalam sana. Minjoo tak sanggup kalau harus menanggung sakit itu terus menerus di dalam sana. Salah satu jalan terbaiknya adalah tidak melihat Baekhyun. Menghindari dirinya.

Sebisa mungkin, Minjoo menaikkan kecepatan langkah kakinya untuk menaiki tangga kamarnya.

“Ya.”

Baru saja satu anak tangga yang ia ambil, Baekhyun berhasil mendapatkannya.

Dia melupakan dirinya yang tengah mengandung dimana berarti ia harus membagi energinya dengan anaknya. Mungkin kecepatan langkahnya tadi sama seperti dia yang sedang berjalan biasa.

“Kau kenapa baru pulang, hm?” Baekhyun baru saja melepaskan apronnya, tadi dia di dapur sedang memasak makan malam mereka. “Kau kan harusnya pulang jam 5, tapi kenapa baru pulang selarut ini?”

Minjoo menghela nafasnya perlahan dan memutar tubuhnya, memerhatikan Baekhyun. Ugh, benar bukan seperti dugaannya. Rasa sakit itu kembali muncul di dadanya.

“Apa pedulimu? Terserah denganku aku mau pulang jam berapapun, bukan?”

Baekhyun mengangakan mulutnya tak percaya, “Tentu saja aku peduli, aku ini suamimu. Aku yang bertanggung jawab atas dirimu, bodoh.”

Sejujurnya perkataan itu terdengar hangat di tubuhnya dan Minjoo kembali merasakan perasaannya. Rasanya ingin sekali Minjoo membiarkan perasaan itu tetap bertahan disana, tapi dia tidak bisa.

Semakin tinggi yang ia harapkan, maka semakin tinggi pula rasa sakitnya.

“Terserah, aku sedang malas berdebat denganmu.”

Minjoo memutar kembali tubuhnya untuk menuju kamarnya namun lagi-lagi ia tertahan pergerakannya. Bukan karena kata-kata Baekhyun, tapi kali ini dengan tangan hangatnya.

“Ya, kau harus makan dahulu. Kau belum makan, benar?”

Kenapa ini sangat susah, kenapa membuang perasaan ini begitu susah? Apa sudah sekuat itukah perasaannya pada Baekhyun?

“Aku sudah makan.” Bohongnya. Lagi pula, Minjoo mana punya nafsu makan di saat ia melihat Baekhyun dengan kondisi hatinya yang seperti ini.

“Lepaskan aku dan aku ingin istirahat sekarang, bisa?”

Baekhyun bergeming selama beberapa detik. Melihat Minjoo dengan perasaan curiga tapi pada akhirnya dia mengikuti kemauan Minjoo.

“Baiklah, kau harus banyak istirahat. Kau belum lama juga kan sembuh dari sakitmu..”

Minjoo pun tak menggubris pernyataan itu dan mulai kembali berjalan menuju kamarnya. Perlahan tapi pasti, lagi-lagi air mata itu jatuh melewati matanya.

.

.

Baekhyun bingung sebenarnya pada sikap Minjoo beberapa hari ini. Apa dia melakukan kesalahan? Baekhyun rasa tidak, hubungan mereka sudah dikatakan jauh lebih membaik meski ancaman Luhan itu bisa muncul dan terjadi kapan saja.

Pasalnya adalah Minjoo seolah-olah bertingkah menghindari Baekhyun. Bukan menghindari lagi malah, dia seperti terlihat asing di mata Baekhyun. Kalau Baekhyun memanggilnya, Minjoo hanya akan menuruti apapun yang disuruhnya, sekalipun Baekhyun mencoba untuk mengerjainya seperti dahulu: mengambil tutup pulpennya atau menutup gelasnya, tanpa protes sekalipun. Seperti dia sengaja ingin menyelesaikan urusannya dengan cepat saat bersama Baekhyun. Itu berlaku sama saat di rumah, Minjoo hanya akan terdiam ketika Baekhyun berbicara dengannya, meski pun Baekhyun tengah mengejeknya. Bahkan sudah beberapa hari ini Minjoo tidak makan malam bersamanya, setiap dia pulang dia pasti selalu bilang telah makan di luar. Baekhyun memang tak bertanya—Minjoo selalu lebih dahulu bilang ‘Aku lelah, jangan ganggu aku.’—Minjoo makan dimana, tapi ada perasaannya yang bilang bahwa gadis itu berbohong dan melakukannya demi menghindari Baekhyun. Sumpah, itu benar-benar menekannya.

Tok. Tok.

“Masuk.”

Baekhyun kemudian duduk tegak dan memerhatikan Minjoo yang memasuki ruangannya. Dia sengaja memanggilnya lagi, benar-benar ingin mengonfirmasi semuanya atau kalau tidak Baekhyun akan merasa tertekan terus.

“Ada apa, Baekhyun?” tanyanya kelewat datar. Padahal ini udah kali kelimanya datang kemari hari ini.

“Itu yang ingin kutanyakan.” Ini idenya, mungkin ini bisa membuat Minjoo sangat kesal hingga mengutuk mati dirinya. “Kenapa kau kemari? Memangnya aku memanggilmu?”

Minjoo tampak terlihat sangat marah di tempatnya, bisa Baekhyun lihat melewati jemarinya yang menguat.

Sesungguhnya Baekhyun sudah siap untuk menerima semua amukan Minjoo saat ini, bahkan dia sepertinya akan berpesta ria kalau Minjoo benar-benar mengamuk padanya.

“Baiklah, sepertinya aku salah mendapat panggilan.”

Itu yang diucapkannya dan itu juga yang mampu membuat Baekhyun mengubah raut wajahnya.

“Maaf mengganggu waktumu, aku kembali ke ruanganku.”

Dia membungkukkan tubuhnya dan lekas memutar tubuhnya menuju pintu ruangan. Sumpah, ternyata semuanya benar. Minjoo sedang menghindarinya.

“Ya!” Baekhyun berteriak keras, entah kenapa emosinya tiba-tiba melonjak. “Berhenti disitu, Han Minjoo.”

Minjoo mengerem pergerakannya dan perlahan dia memutar tubuhnya menghadap Baekhyun.

“Kau sudah mengingatnya, Byun Baekhyun-ssi?” ucapnya. Sangat formal dan itu benar-benar menggantikan rasa kesal Baekhyun menjadi takut.

Mendengar kata itu pun langsung membuat Baekhyun berjalan cepat dan berdiri tepat di hadapan Minjoo.

“Kau kenapa sebenarnya?” Baekhyun sebisa mungkin mengontrol rasa takutnya, “Apa salahku, kenapa kau menghindariku?”

Minjoo tampak seperti ingin mengeluarkan sesuatu di mulutnya hanya saja yang Baekhyun dengar hanyalah nada bicaranya yang kelewat tenang.

“Aku tidak menghindarimu. Aku hanya sudah tahu harus menghadapimu bagaimana.”

Ini persis seperti pertanyaannya ketika di Jepang dahulu. Dan Baekhyun rasa, ini akan menjadi bumerangnya.

“Kau itu tipikal yang menarik orang dengan cara seperti serigala. Kau menolongnya, memberinya marshmellow, memberitahunya bahwa kau akan menjaganya tapi pada akhirnya marshmellow itu sudah kadaluarsa dan saat kau kelaparan pada akhinya kau akan memakannya. Membuangnya.”

“Kau tidak pernah menjaga orang itu dengan baik karena kau hanya membutuhkannya untuk di belakangmu. Hanya untuk menjadi cadanganmu. Bukan disampingmu. Berjalan bersama dan menghadapinya bersama.”

Baekhyun mengangakan mulutnya, merasa tak percaya dengan semua yang dikatakan Minjoo.

“Ya—“

“Itu caraku menghadapiku. Aku hanya perlu diam dan menanggapinya sampai kau sudah merasa tak membutuhkanku, kau akan membuangku.”

“Kau sudah menemukan jawabannya sekarang, bukan?” Minjoo sedikit menahan nafasnya dan Baekhyun bisa lihat jika matanya sedikit berair.

“Aku kembali ke ruanganku kalau begitu, permisi.”

Minjoo berhasil menghilang dalam beberapa detik karena Baekhyun tak menahannya. Ini semua terlalu menyakitkan, tak pernah ia merasakan luka sedalam ini hingga rasanya semua sendinya lepas dari kakinya. Baekhyun seperti tertancap oleh ribuan pisau saat mendengarnya. Semuanya seperti runtuh seketika.

Baekhyun mengacak rambutnya gusar dan dia menyadari bahwa sepertinya dia memang melakukan kesalahan sebelumnya. Tapi.. Apa kesalahan itu!?

.

.

Karena frustasi tak menemukan kesalahan yang tak ia perbuat, Baekhyun memutuskan untuk menghampiri Minjoo di ruangannya. Gadis itu biasanya belum pulang saat jam kantor sudah selesai, mengingat dirinya yang sedang menghindari Baekhyun. Tsk, sekarang Baekhyun mengerti dengan semua aksi pulang larutnya Minjoo beberapa hari ini. Tapi tetap, apa kesalahannya sebenarnya!?

Tok. Tok.

“Masuk.”

Baekhyun tahu itu bukanlah suara Minjoo, maka dia cukup kaget saat melihat Yubi tepat sesaat dia telah berhasil masuk ke ruangan Minjoo.

“Kau tidak pulang?” tanyanya. Yubi juga cukup tersentak kaget mengetahui Baekhyun yang masuk ke ruangannya dan dia langsung berdiri sambil membungkuk hormat setelah mengetahui itu.

“Saya belum pulang, Tuan. Saya sedang menyelesaikan tugas saya.”

Baekhyun mengangguk-angguk lalu melirik ke sekitar ruangan. Dia berharap bahwa di ruangan ini tidak hanya ada Yubi di dalamnya tapi naas, ruangan ini benar-benar telah kosong.

“Dimana Minjoo?” tanyanya. Meski tahu Baekhyun akan mendapatkan jawaban yang tak sesuai dengan harapannya, dia tetap harus mengonfirmasinya. “Aku tak melihatnya, biasanya ia belum pulang saat jam segini.”

“Ah, dia sudah pulang.” Tuturnya dan langsung membuat Baekhyun menatap lesu Yubi. “Tadi eonnie mengeluh padaku, katanya dia merasa sangat lelah jadi dia cepat pulang.”

Saat seperti ini saja, dia malah pulang cepat. Baekhyun juga yakin, pasti alasan yang tadi Yubi sebutkan hanya berupa alibi karena dia merasa geram dengan pengakuannya kepada Baekhyun tadi.

Lalu bagaimana ini? Baekhyun sudah tahu benar apa yang akan Minjoo lakukan untuk menghindarinya ketika di rumah. Tentu saja, aksi pura-pura tidur. Kalau memang benar itu terjadi, maka permasalahan ini akan terus berlanjut sampai esok hari dan mungkin bisa bertahan cukup lama. Aish, sebenarnya apa yang Baekhyun lakukan hingga membuat gadis itu marah!?

Mencoba merelakan, Baekhyun pun mengangguk pelan dan dia berniat untuk kembali ke ruangannya. Sepertinya dia harus pulang cepat dahulu saja, siapa tahu Minjoo belum melakukan aksi pura-pura tidur itu dan Baekhyun bisa menangkapnya.

“Ya sudah kalau begitu, aku akan pulang sekarang juga.” Ucapnya telah memutar tubuhnya, “Kau jangan pulang larut, hm? Kau tak tahu apa di gedung kantor ini banyak cerita hantu?”

Yubi mengangakan mulutnya sambil terkekeh pelan, “Tuan, jangan seperti itu!”

Baekhyun juga ikut tertawa pelan, tadi hanya ancaman candaan saja. Setelah itu dia berniat untuk benar-benar keluar ruangan tapi Baekhyun mengerem pergerakannya. Dia teringat sesuatu.

“Meja Minjoo sebelah mana, Lee Yubi?” ucapnya setelah berjalan ke Yubi kembali. Awalnya Yubi menatap Baekhyun bingung, seakan-akan mengatakan: untuk apa kau ingin mengetahuinya, namun perlahan gesturenya membelok ke kanan sambil tangannya terangkat menunjuk meja di pojok tengah ruangan.

“Yang itu, Tuan.” Tuturnya.

Baekhyun tersenyum puas sambil mengangguk lalu berjalan menuju meja tersebut. Sekarang tidak lagi dirinya harus menelpon Yubi atau Sehun untuk sekedar memanggil Minjoo. Gadis itu benar-benar.. Apakah dia semarah itu pada Baekhyun hingga mencabut kabel teleponnya demi Baekhyun tak bisa memanggilnya?!

Sesaat ia telah menghampiri meja itu, ia menjongkokan tubuhnya, melihat kabel yang terpisah dengan lubang telepon. Kasihan, kalian sudah terlalu lama terpisah karena akibat gadis kesayangan Baekhyun yang marah tanpa sebab padanya.

Baekhyun pun menarik kabel itu lalu berdiri dan memasangkannya kembali seperti semula. Setelah melihat pasangan itu bersatu kembali, Baekhyun tersenyum haru—maksudnya puas. Mulai besok, Baekhyun akan terus memanggil Minjoo melewati telponnya jikalau kesalahan Baekhyun belum ditemukan sampai besok.

Saat Baekhyun hendak berjalan keluar ruangan kembali, ia menemukan sesuatu yang ganjal pada dirinya. Sebuah amplop dengan kop surat berasal dari rumah sakit dimana Minjoo diperiksaa tempo hari lalu.

“Kenapa ada surat seperti ini?” Baekhyun mengambil amplop tersebut dan melihatnya. “Kenapa juga dia tidak memberitahuku..”

Ada sebersit perasaan kalut yang muncul di dalam hati Baekhyun. Pasalnya, Minjoo sudah bilang padanya bahwa keadaannya baik-baik saja. Dia hanya salah makan, begitu katanya. Tapi, kenapa mesti ada amplop ini? Bukankah berarti ini hasil pemeriksaannya? Yang lebih penting, kenapa dia tidak memberitahu Baekhyun?

Baekhyun menarik nafasnya sedikit lalu berusaha menepis perasaan kalut itu. Ia harus bisa berpikiran positif, ia harus percaya dengan Minjoo.

Akhirnya, dia memberanikan dirinya membuka amplop tersebut.

 

Hasil Pemeriksaan

Nama Pasien: Han Minjoo

Keluhan: Sakit Perut, Merasa mual, Tidak bisa makan, Lemas.

.

.

.

Konklusi: Kehamilan usia tiga minggu.

 

Semuanya terlihat buram di hadapan Baekhyun. Telinganya berdengung nyaring, seperti dia baru saja tenggelam di dasar laut. Pundaknya terasa sangat berat, terlebih ia seperti pindah dari dunianya.

Beberapa saat, dia merasakan first-daddy-impression di dalam tubuhnya. Itu, perasaan menjadi ayah pertama dalam hidupnya. Tidak pernah ia merasa sebahagia ini dalam hidupnya sampai ia rasa ingin memutar tubuhnya seperti ballerina diluar sana. Minjoo telah mengandung anaknya! Ayolah, gadis yang paling Baekhyun cintai seumur hidupnya resmi menjadi ibu dari anaknya! Bukankah itu hal yang sangat bahagia, mengetahui Minjoo memang benar-benar akan selamanya bersama dirinya?!

Namun, beberapa saat kemudian ia merasakan dirinya runtuh. Seruntuhnya seperti akhir dunia. Dia jatuh, tenggelam ke dasar lautan yang begitu luas. Seperti orang meninggalkannya disana.

Minjoo telah hamil tapi.. gadis itu menyembunyikannya? Darinya? Kenapa?!

Rasanya ia seperti tertikam oleh pisau bernama takut di dalam sana seketika Luhan muncul di pikirannya. Ini bukan tentang Luhan, bukan? Baekhyun mohon, ini tidak boleh tentang Luhan!

Dengan emosi yang tiba-tiba memuncak ditambah perasaan takut itu, ia mencengkram erat-erat kertas hasil pemeriksaan Minjoo dan bergegas jalan keluar menuju parkir mobilnya.

Sepertinya, terjun bebas adalah pilihan yang tepat untuk saat ini.

.

.

Minjoo mendudukan dirinya di tepi kasur sambil menutup matanya. Kepalanya sangat pening dan perutnya kembali terasa seperti adukan kue. Terputar dan terkocok, padahal Minjoo tidak memasukkan makanan terlalu banyak di dalam sana.

“Hei, nak.. Kau kenapa, hm?” Minjoo mencoba mengusap perutnya dengan tenang sambil menyingkirkan rasa peningnya, “Kau marah padaku karena telah berkata kasar pada Ayahmu, begitu?”

Perutnya hanya terdiam tapi Minjoo bisa merasakan di dalam sana bahwa janinnya mengangguk-angguk padanya. Ini tak kuasa untuk merasakan panas di matanya.

“Benar.. aku terlalu kasar pada Ayahmu, tapi bagaimana lagi? Ayahmu tidak mencintaiku. Ayahmu mungkin juga tidak mencintaimu. Aku harus bagaimana?”

Ini terlalu berat bagi Minjoo. Minjoo merasa seperti dunianya benar-benar sudah hilang dan ia tak bisa menemukan lagi tempat pijakan. Hari-hari Minjoo lalui seperti hidup di neraka, penuh rasa takut dan sakit di setiap pergerakannya. Sekarang, ia baru sadar bahwa keputusannya untuk membawa perasaan itu kembali di hatinya adalah kesalahan terbesarnya.

Cklek.

Pintu pun terbuka dan memunculkan Baekhyun disana. Entah itu benar atau tidak, tapi Baekhyun terlihat tampak marah di pandangannya.

Minjoo tentu saja akan mengacuhkan itu. Ia pun beranjak dari kasurnya, hendak berjalan menuju pintu keluarnya.

Belum saja Minjoo melewati tubuh Baekhyun, tangan Baekhyun sudah lebih dahulu menariknya hingga pergerakannya terhenti.

“Lepaskan!” Minjoo menghempaskan tangan Baekhyun sekali dan itu berhasil. Namun, untuk kali kedua Baekhyun menggenggam tangannya kembali, Minjoo kalah telak dalam permainannya.

“Apa!?”

Saat Minjoo menatap mata Baekhyun, Minjoo bisa sadar bahwa pandangan Baekhyun tepat di matanya. Ada pandangan tajamnya namun ada pandangan yang Minjoo tak bisa tebak dengan benar. Pandangan menyedihkan?

Setelah berasumsi itulah, Minjoo tahu kenapa Baekhyun memandangnya seperti itu. Baekhyun menunjukan sebuah kertas di hadapan Minjoo.

Kertas hasil pemeriksaan itu.

“Ini apa?”

Perlahan Baekhyun melepas cengkramannya karena ia melihat Minjoo yang sedikit tersontak kaget melalui matanya.

“Ini apa.. Han Minjoo?”

Baekhyun telah mengetahuinya. Meski Minjoo tahu cepat atau lambat Baekhyun akan menyadarinya, tak pernah Minjoo sadari bahwa akan secepat ini. Minjoo belum menyiapkan hatinya untuk menerima semua kemungkinan yang akan ia terima saat Baekhyun mengetahui ini semua, maksudnya.

Dengan menahan air matanya mati-matian, Minjoo pun menatap Baekhyun berani.

“Kertas hasil pemeriksaanku, kenapa?”

Baekhyun tak percaya dengan apa yang Minjoo ucapkan hingga dia mengangakan mulutnya,

“Kenapa?” Pria itu tak bisa lagi menahan emosi yang sudah melewati puncaknya sedari tadi, “Kau bertanya ‘kenapa’!?”

Jujur jantung Minjoo mau meledak saat mendapatkan sentakkan keras seperti itu. Masih menahan air mata itu dan memunculkan keberaniannya, Minjoo menarik kertas itu dari tangan Baekhyun lalu merobeknya.

“Anggap saja kau tidak pernah melihatnya dan aku juga akan beranggapan seperti itu.”

Minjoo tak bisa berdiri dihadapan Baekhyun terlalu lama lagi atau dia benar-benar akan menangis. Ini terlalu berat. Membayangkan apa yang akan dilakukan Baekhyun membuatnya seperti ingin membunuh dirinya.

Minjoo pun mulai beranjak kembali, ingin meninggalkan Baekhyun tapi Baekhyun tetap menahan tangannya hingga tubuh gadis itu sedikit terhuyung namun kembali ke tempat semulanya.

“Ya!!!!!”

“Aku tahu ini berat bagimu tapi tolong jangan katakan itu di telingaku!!!”

Baekhyun melonggarkan cengkramannya saat mendengar itu.

“Setidaknya, tolong… jangan katakan itu dihadapan anakmu, Baekhyun-ah..”

Baekhyun menaikkan alisnya, demi Tuhan tak ada satu pun kata Minjoo yang ia mengerti, “Apa maksudmu—“

“Jangan bilang padanya bahwa kau tidak bisa membiarkannya berada di dalam tubuhku, Baekhyun. Kumohon..”

Saat itu, Baekhyun benar-benar merasa dirinya telah berada di neraka terbawah. Entah itu dirinya sedang terbakar atau disiksa, tapi rasanya benar-benar seribu kali lipat dari yang kalian bayangkan.

Apa maksud Minjoo yang menyatakan bahwa dirinya tidak menginginkan anak itu? Apa maksudnya yang mengatakan Baekhyun.. ingin anak itu tidak pernah lahir dari kehidupannya?

“Kenapa aku…” Baekhyun merasa seperti tenggorokannya terbakar oleh besi panas. “..harus mengatakan itu?”

“Kau selalu menyukai Hyojoo. Salah, maksudku.. kau selalu menyayangi kakakku.”

“Aku tahu itu. Dan keberadaan anak ini bukanlah hal yang patut kau dengar disaat kau menginginkan untuk kembali bersama eonnieku.” Dengan air mata yang telah mengalir entah sejak kapan, kali ini Minjoo mengangkat tangannya untuk memeluk perutnya.

“Aku tahu ini sangat berat bagimu, tapi jangan katakan bahwa kau tidak menginginkannya. Aku tidak akan memaksamu untuk bertanggung jawab, aku tak memaksamu untuk tetap tinggal bersamaku karena anak ini, hanya saja jangan katakan itu padanya.”

“Biarkan aku saja yang mengurusnya. Kau bisa kembali dengan eonnieku lagi tepat setelah anakmu lahir dan melupakannya. Aku tidak apa-apa asal jangan pernah mengatakan itu padanya.”

“Mengatakan bahwa anak ini adalah suatu kesalahan atas perbuatan kita.”

Setiap perkataan Minjoo itu membuat seribu sayatan di hati Baekhyun. Hatinya sudah jatuh entah kemana sedari tadi dan Baekhyun merasa dia hanya hidup sebatas untuk menegakkan tubuhnya. Semuanya tampak buyar karena perkataan Minjoo benar-benar menusuk hatinya. Baekhyun benar-benar terlihat seperti penjahat yang memang patut dihukum mati jika yang Minjoo katakan tadi semua dilakukan Baekhyun.

“Minjoo-ya..” suara Baekhyun terdengar serak karena luapan hatinya begitu sakit. Tangannya ia angkat, ingin meraih Minjoo padanya. “Kumohon jangan seperti—“

Minjoo memundurkan tubuhnya. Membuat tangan Baekhyun seperti membeku di udara.

“Berhenti. Sekarang, kita benar-benar sampai disini saja.” Minjoo menghapus air matanya dan berdiri tegak. Dia sudah menyiapkan langkahnya lagi.

“Mulai detik ini, kita akan kembali kepada kehidupan kita masing-masing. Aku dengan anakku, dan kau dengan dirimu dan juga eonnieku.”

“Kita.. akan berakhir sampai sini saja.”

Baekhyun tahu ia bodoh. Ia hanya terdiam membeku, menyaksikan kematian dirinya sendiri di dalam sana saat membiarkan Minjoo pergi dari hadapannya, keluar dari pandangannya. Baekhyun membiarkan dirinya seperti mayat hidup tak punya hati namun terbebani oleh perasaan sakit itu. Saat sendinya menghilang dan ia menjatuhkan tubuhnya di atas lantai, saat air matanya jatuh dari matanya, Baekhyun menyadari semuanya.

Kehidupan yang ia dambakan sepanjang umurnya akan hilang. Dimana kehidupan itu berisi cerita tentang Han Minjoo beserta khayalan keluarga indahnya. Seperti debu, hanya menghilang seperti itu saja.

Dan Baekhyun tidak tahu harus berapa lama ia bertahan di bumi ini jika begitu.

.

Minjoo menutup pintu kamar Baekhyun dan diam di hadapannya beberapa detik. Air mata yang tadi ia hapus saat berada di depan Baekhyun itu percuma, nyatanya matanya seperti keran bocor saat ini.

“Kau tidak mendengarnya, bukan?” Minjoo menurunkan pandangannya dan menatap perutnya.

“Maaf aku harus mengatakan itu pada Ayahmu tapi ini semua dengan kebaikanmu juga, nak..”

Minjoo tak kuasa menahan tangisannya dan dia langsung terjatuh di hadapan pintu itu dengan pelukan lututnya. Tak pernah ia sadari bahwa kehilangan Baekhyun begitu menyakitinya, menghapus jiwanya.

Saat itulah, baik Minjoo maupun Baekhyun merasakan hari terburuknya. Dengan segala keraguan dan perumapaan bodoh mereka, itu semua.. menyakiti mereka sampai titik dimana mereka merasa mati adalah jalan terbaik untuk semuanya.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Mungkin seperti ini takdir Minjoo sebenarnya. Tidak pernah bisa mendapatkan kebahagiaan di kehidupannya meski hanya sekali pun. Oh, Minjoo salah, dia memang pernah merasa bahagia tapi itu tidak bisa bertahan selamanya. Itu membuatnya bertanya-tanya, apakah mungkin di kehidupan sebelumnya Minjoo pernah menghancurkan rumah tangga seseorang hingga dia mendapatkan kutukan seperti ini.

Masa-masa yang Minjoo hadapi semakin sulit setelah malam itu. Setelah dia mengungkapkan segala kerisauan dan ketakutannya perihal kehamilannya untuk Baekhyun. Minjoo tahu sebenarnya apa yang dia lakukan itu terlalu berlebihan, Minjoo saja belum pernah mendengar Baekhyun berbicara bahwa ia tidak menginginkan memiliki anak bersama Minjoo. Tapi, bukankah semuanya terlalu jelas sampai kata-kata pun tak perlu di ucapkan? Baekhyun jelas sekali menyukai kakaknya, mengingat itulah yang menjadi permasalahan Minjoo selama ini. Berita tentang kehamilan Minjoo jelas-jelas bukan hal yang ingin Baekhyun dengar jika dia memutuskan untuk hidup bersama dengan Hyojoo selamanya. Minjoo juga baru sadar bahwa sepertinya Baekhyun telah memiliki niatan untuk meninggalkan Minjoo entah kapan tahun, mungkin saat semua hal sudah selesai. Dan itu membuatnya semakin terjatuh di bawah lubang penyiksaan.

“Eonnie.. kau tidak apa?”

Minjoo mendongakkan kepalanya dan menemukan Yubi dan Sehun di hadapannya. Raut wajah mereka begitu khawatir, terlebih Yubi seperti sudah ingin menarik Minjoo ke rumah sakit. Bagaimana tidak? Wajah Minjoo benar-benar seperti mayat yang telah mengeras menggunakan pengawet. Begitu pucat dan kelampau putih. Demi Tuhan, kalian pasti akan berpikiran yang sama dengan Yubi jika melihatnya.

“Noona, kau sakit?” Sehun kini yang berbicara. “Mukamu begitu pucat, sepertinya kita harus membawanya ke rumah sakit.”

Minjoo tidak sakit sebenarnya. Atau mungkin memang tapi sakit di dalam hatinya lebih terasa di banding tubuhnya.

“Aku baik-baik saja.” Minjoo tersenyum kuat melihat mereka, “Tidak perlu khawatir, hanya sedang banyak pikiran.”

“Kau sedang bertengkar dengan Baekhyun, eonnie?” Saat Yubi menyebut namanya, entah kenapa jantungnya yang sudah ditikam dalam semakin tertusuk ke dalam. “Eonnie memindahkan Sehun menjadi sekretaris pribadi Baekhyun. Kalian.. benar-benar bertengkar?”

Minjoo terdiam dengan perkataan Yubi. Benar katanya, Minjoo menjadikan Sehun sekretaris utama Baekhyun, menggantikan dirinya. Kalian pikir saja, apa masih tepat jika Minjoo terus bertahan menjadi sekretarisnya? Menghindar di rumah saja sangat sulit, dia tidak harus berurusan dengan Baekhyun juga di kantornya. Entah bisa disebut untung atau rugi, tapi Baekhyun langsung menyetujui permintaan Minjoo yang mengganti dirinya dengan Sehun untuk menjadi sekretarisnya. Sama sekali tidak protes. Ah, mungkin memang dia juga akan menghindari Minjoo mulai dari sekarang.

Minjoo tersenyum pahit mengingat itu, “Tidak bisa aku bicarakan sekarang, Sehun-ah.. Yubi-ya.. Maaf.”

Yubi dan Sehun menghembuskan nafasnya berat dan menatap Minjoo getir. Yubi bersiap untuk memaksa Minjoo berbicara, ayolah Yubi terlalu khawatir melihat keadaan Minjoo yang seperti ini, namun Sehun menahannya.

“Jangan sekarang, mungkin itu sangat berat untuk noona.” Ucapnya tanpa suara dan itu langsung membuat Yubi mengangguk pasrah mengerti.

“Baiklah kalau begitu. Kita tidak akan memaksa namun kita akan menunggu, jadi noona harus ingat dengan hutang noona pada kita.” Sehun menatap Minjoo dengan tatapan menyemangatinya, “Noona tidak perlu menahan beban itu sendirian, masih ada aku dan Yubi. Noona harus ingat itu, hm?”

Minjoo sudah seperti ingin menangis di tempatnya, mendengar ucapan Sehun. Dia selalu berpikir bahwa dirinya ini benar-benar kutukan Tuhan karena dia bilang pada Tuhan bahwa tidak ada orang yang mau berdiri bersamanya. Tapi, ini apa? Minjoo tidak pernah menyadari bahwa Tuhan sudah sebaik ini memberikan Sehun dan Yubi, yang hanya sebatas teman kerja namun terasa seperti keluarga yang selalu di belakangnya.

“Ya.. jangan berbicara seperti itu. Aku ingin menangis jadinya..” Minjoo terkekeh pelan namun air mata itu benar-benar ada di pelupuk matanya. “Terima kasih, adik-adikku. Aku memang tidak pernah salah memilih orang.”

Sehun dan Yubi hanya tersenyum pelan, “Itulah gunanya keluarga, noona. Noona juga sudah sering membantu kami kalau kami sedang kesulitan.”

Minjoo mengangguk sambil menghapus air matanya. Ternyata, keluarga itu memang bisa ada tanpa perlu ada ikatan darah.

“Kenapa suasananya jadi sendu begini sih, aku tidak suka suasana yang seperti ini!” Yubi lalu mengubah raut wajahnya dari cemberut menjadi riang sambil berjalan ke samping Minjoo, “Eonnie, sekarang sudah waktu makan siang! Ayo kita makan!”

Yubi mencengkram tangan Minjoo, menarik-nariknya ke udara dengan senyuman riangnya. Dia persis seperti anak kecil yang meminta Ibunya untuk membelikannya boneka, demi apapun.

Sebenarnya Minjoo ingin menolak ajakan Yubi, kalian pikir saja apa nafsu makannya ada disaat seperti ini? Rasa makanannya seperti telah dilumuri tanah, begitu pahit dan menyesakkan. Tapi, jika Minjoo terus membiarkan hal ini, selalu menolak makan, apa yang dia lakukan akan tidak jauh berbeda dengan apa yang Minjoo tidak ingin dengar dari mulut Baekhyun. Dia bukan hidup untuk dirinya sendiri saja sekarang, tapi dia hidup bersama anaknya dalam satu tubuh. Jika Minjoo tidak makan, maka anaknya juga tidak makan. Jika Minjoo sakit, anaknya juga akan sakit. Ah, Minjoo jadi merasa sangat bersalah karena telah tidak makan teratur beberapa hari ini.

Minjoo pun mengangguk pelan pada Yubi, “Ok, ayo kita makan.”

Yubi tersenyum senang dan setelahnya mereka bertiga pun keluar dari ruangan lalu turun ke lobby, menuju mobil Sehun karena mereka berniat untuk makan di sebuah restoran di persimpang jalan.

Baru saja Minjoo keluar dari lift, ada seseorang yang tersenyum senang padanya sambil memanggilnya.

“Minjoo-ya!”

Luhan, tentu saja dia.

Saat Luhan berdiri di tengah lobby itu, dia masih bisa tersenyum senang melihat Minjoo. Namun, sesaat dia telah berhasil menghampiri Minjoo dan melihat keadaan sesungguhnya, Luhan langsung merubah raut wajahnya drastis.

“Ya. Kau kenapa?” Luhan menaruh tangannya pada bahu Minjoo, membuat Minjoo sedikit risih. “Kau sakit?”

“Oppa..” Meski tidak bisa menyebut dirinya sebagai istri-dalam-hati-Baekhyun, surat pernikahan mereka masih terdaftar dan diketahui oleh banyak orang. Dia harus tetap menjaga martabat dirinya dan Baekhyun di depan semua orang.

“Jangan seperti ini..” Minjoo melepaskan eratan tangan Luhan pada bahunya lalu melirik pelan pada Sehun dan Yubi. “..ada teman-temanku.”

Awalnya, Luhan memang tak mengerti dengan maksud Minjoo menyebut ‘ada teman-temanku’. Namun, saat ia menyadari cincin yang tersemat dijemari Minjoo, pria itu langsung merasakan sakit di jantungnya.

“Ah, maaf..” ucapnya dengan kecut. Namun, dia tetap bertahan untuk menatap Minjoo dengan khawatir.

“Ya. Kau kenapa? Kenapa kau pucat sekali?”

“Kau sakit?”

Sudah Minjoo jelaskan tadi bukan mengenai sakit atau tidaknya Minjoo saat ini. Selain itu, dia juga tidak bisa membiarkan Luhan khawatir akan dirinya jika kalian bertanya mengapa Minjoo menggelengkan kepalanya sekarang.

“Aku tidak apa-apa, Oppa. Hanya sedang banyak pikiran.” Minjoo mencoba tersenyum kuat—lagi. “Sudah, aku tidak bisa bertemu Oppa lama-lama. Aku akan makan siang dengan teman-temanku.”

Sesaat Minjoo menyebutkan teman-temannya, Luhan langsung melirik pada Sehun dan Yubi yang sengaja memisahkan diri di depannya dan Minjoo. Mereka membungkuk hormat dan Luhan menemukan ide gila untuk mendapatkan Minjoo bersamanya.

“Kalian,” Luhan mengeluarkan dompetnya dan menarik kartu kreditnya dari sana. “Kalian makan duluan saja, Minjoo akan pergi bersamaku. Kalian lihat bukan bahwa teman kalian ini sakit? Aku akan membawanya ke rumah sakit bersamaku.”

“Oppa!”

Luhan menghiraukan renguhan Minjoo itu dan menaruh kartu itu pada tangan Sehun saat dia menarik tangannya.

“Pergi sekarang, nanti waktu makan siang kalian habis.” Sehun dan Yubi tampak sedikit khawatir lalu menatap Minjoo. Membuat Luhan menghembuskan nafasnya kesal dan menyembunyikan Minjoo di belakangnya.

“Ya, kalian tidak tahu siapa aku? Aku pengusaha dari Tiongkok yang memiliki proyek dengan perusahaan ini!” Dia menatap garang mereka, “Sudah, kalian tidak usah takut meninggalkan Minjoo denganku. Dia adik kelasku saat sekolah, jadi aku sangat mengenalnya dengan baik. Pergi sekarang!”

Mendengar itu, Yubi dan Sehun pun tidak bisa melakukan apa-apa selain meninggalkan mereka. Awalnya mereka tetap bersikeras untuk tidak meninggalkan Minjoo, namun fakta yang baru Luhan sebutkan tadi sudah mereka ketahui sebelumnya. Membuat rasa percaya mereka muncul seketika.

Sehun dan Yubi mulai berjalan menjauh sambil memimikkan ‘Maaf’ melalui mulutnya pada Minjoo. Sesaat setelah itulah, Luhan langsung memutar tubuhnya dan menghadap Minjoo yang sudah ingin meledak di tempatnya.

“Oppa kenapa melakukan itu!?” Minjoo menatap Luhan dengan sangat kesal, “Aku tidak suka kalau Oppa seperti ini!”

“Ya, apa yang aku lakukan salah? Aku hanya ingin kau tidak terluka, apa aku salah?”

Minjoo berdecak pelan, “Tapi tidak perlu seperti itu! Oppa, kenapa sih Oppa sangat peduli padaku? Aku ini bukan siapa-siapamu!”

Aku menyukaimu, Han Minjoo.

Saat Luhan menyebutkan itu di dalam hatinya, dia melihat Minjoo memutar tubuhnya dan berjalan menjauhinya. Luhan tidak bisa membiarkan Minjoo lepas darinya maka ia langsung menarik tangan Minjoo.

“Minjoo-ya.. tunggu sebentar—“

“Aku tidak mau dibawa ke rumah sakit! Percuma Oppa bilang seperti itu pada teman-temanku!” Minjoo berhasil melepaskan tangan Luhan darinya dan berjalan kembali. Entah kenapa dia merasa kesal pada Luhan saat ini. Ia tahu ia harusnya tidak begitu disaat Luhan sudah sebaik itu peduli padanya. Tapi bagaimana lagi, karena kondisi hatinya sedang tidak baik, Luhan bertingkah seperti itu, jadi saja semuanya meledak.

Dia berhasil mengambil satu langkah menjauh, tapi langkah kesatu itu juga adalah perhentiannya lagi saat Luhan mengatakan sesuatu yang tak pernah ia pikirkan.

“Karena aku menyukaimu.”

Dengan perasaan bingung serta berubah menjadi takut, Minjoo memutar tubuhnya. Menatap Luhan yang telah menatap serius dirinya.

“Karena aku menyukaimu, Han Minjoo.”

~

~

“Selamat sore, Luhan sunbae.”

Luhan mendongakkan kepalanya dan membiarkan handuk di kepalanya jatuh ke pundaknya. Dia baru saja selesai latihan basket dan seorang gadis berdiri di hadapannya saat ini.

“Kau.. siapa?”

Gadis itu tampak risau di tempatnya selama beberapa detik namun kemudian dia memberanikan dirinya untuk berbicara kembali.

“Aku Han Minjoo, dari kelas 2-4.” Ucapnya. Sepertinya Luhan pernah mendengarnya namun dia hanya mengacuhkannya.

“Ada apa, Han Minjoo?” Karena posisi bicaranya tidak enak, Luhan membangkitkan dirinya. “Kenapa kau menemuiku?”

Minjoo kembali gelisah di tempatnya dan Luhan melihat itu. Luhan sudah mau bertanya kembali, namun gadis itu seperti telah mendapatkan keberaniannya kembali.

“Begini.. maaf sebelumnya jika ini sangat lancang, tapi.. aku mau meminta sebuah pertolongan pada sunbae.”

Luhan mengernyitkan keningnya kebingungan, “Pertolongan?”

Minjoo mengangguk, “Aku.. akan mengakui pada seluruh sekolah bahwa aku menyukai Luhan sunbae.”

Apa!? Luhan tak salah dengar, bukan!?

“Huh!?”

“Tunggu, ini bukan seperti aku benar-benar menyukai sunbae..” Minjoo kembali gelisah di tempatnya, dia sedikit menggenggam kedua tangannya dengan erat dan menundukkan wajahnya. “Aku hanya perlu membiarkan seluruh sekolah tahu bahwa aku menyukai sunbae tapi sebenarnya aku tidak. Hanya berpura-pura, maksudku..”

Luhan masih tak mengerti dengan itu semua, “Lalu, kenapa kau harus melakukan itu?”

Minjoo semakin terlihat gelisah di tempatnya. Selama beberapa detik, ia telihat cemas di wajahnya namun kemudiannya ia seperti pasrah pada keadaan.

“Sepertinya ini akan sangat memalukan untuk sunbae. Aku tak bisa memaksakannya kalau begitu.” Minjoo membungkukkan tubuhnya kemudian, “Maaf atas ketidaknyamanan ini. Tolong lupakan semua yang pernah kukatakan.”

Minjoo pun berdiri tegak lagi namun dia langsung memutar tubuhnya untuk berjalan menjauh darinya. Luhan terdiam selama beberapa detik, sebenarnya dia tidak masalah kalau memang gadis itu ingin melakukannya, disaat dia tidak punya kekasih ini. Luhan hanya ingin mengetahui alasannya, makanya ia bertanya seperti itu tadi.

“Ya.” Luhan memanggil dan Minjoo langsung memutar tubuhnya. “Kenapa kau pergi, memangnya aku bilang bahwa aku tidak mau melakukannya?”

Minjoo membelalakan matanya senang dan dia berlari untuk menghampiri Luhan kembali.

“Sunbae mengizinkanku untuk melakukannya!?”

Luhan terkekeh pelan, dia baru sadar bahwa gadis bernama Han Minjoo ini cukup imut.

“Aku mungkin akan membiarkanmu melakukan itu karena aku tidak akan mengalami kerugian apapun, hanya saja aku ingin tahu alasannya apa.” Luhan menatap Minjoo penuh tanya di matanya, “Kenapa kau harus melakukan itu sebenarnya?”

Minjoo jadi menghilangkan senyumannya kembali. Sepertinya alasannya sangat sulit untuk dijelaskan pada Luhan.

“Kalau aku belum bisa menceritakannya bagaimana, Sunbae…?” tanyanya dengan ragu. Benar prediksinya, alasan itu pasti sangat sulit untuk Han Minjoo.

Luhan pun tidak bisa melakukan apa lagi selain menghembuskan nafasnya, “Baiklah kalau begitu. Aku bersedia menolongmu.”

Minjoo kaget bukan main karena dia membelalakan matanya sambil menutup mulutnya, “Benarkah!? Sunbae mau melakukannya, benar!?”

“Ck.” Luhan tertawa pelan, “Tapi aku tidak akan membuatnya gratis untukmu karena kau tidak mau menceritakan alasannya. Aku akan meminta satu permintaan darimu nanti.”

Minjoo tidak bisa menahan teriakan bahagianya lagi dan dia benar-benar berteriak bahagia di depan Luhan. Membuat Luhan menggeleng-geleng kepalanya.

“Terima kasih, sunbae!! Terima kasih!!” ucapnya masih dengan senyuman yang terlalu merekah, “Masalah permintaan itu tidak perlu khawatir, aku akan mengabulkannya! Tapi hanya sampai membelikan sepuluh es krim ya, Sunbae!”

Luhan menyipitkan matanya, “Eiy, pelit juga kau! Omong-omong, sepuluh es krim itu terlalu banyak, Han Minjoo!”

Minjoo terkekeh pelan, “Kalau begitu lima!? Lima, ok?! Wah, sekarang aku mengerti kenapa hampir semua gadis di sekolah ini menyukai Luhan sunbae! Sudah tampan, sangat baik pula!”

Mendengar itu Luhan hanya terkekeh pelan sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

.

.

“Sunbae!!”

Minjoo berteriak dari arah kejauhan, sambil berlari dan juga sambil memegang kantung putih di tangannya. Luhan yang duduk di bawah pohon besar di taman belakang sekolah tersenyum geli melihat itu.

“Sunbae, terima kasih!!” ucapnya sambil membungkukkan tubuhnya di hadapan Luhan. “Terima kasih sekali lagi!! Ah rasanya terima kasih pun belum cukup..”

Luhan hanya tertawa pelan dan mengingat kejadian satu jam yang lalu. Minjoo telah membuat pengumuman di seluruh sekolah bahwa dia menyukai Luhan. Tadi, saat jam istirahat, seperti rencana yang telah mereka buat, Minjoo akan menghampiri Luhan di meja makannya dan mengatakan pengakuan itu lantang-lantang. Satu pucuk bunga yang Luhan siapkan tadi pagi pun sengaja ia berikan pada Minjoo, yang sekarang kembali lagi di tangannya. Memang, Luhan tidak melakukan apa-apa selain hanya diam, menerima bunga itu, menerima siulan dari temannya dan keprokan tangan seluruh pengunjung kantin. Tapi, mungkin bagi Minjoo, apa yang Luhan telah lakukan adalah tindakan heroik terbaiknya sepanjang hidup gadis itu.

“Ya, apa yang kau bawa, hm?” ucapnya sambil menunjuk kantung putih yang Minjoo bawa tadi.

Minjoo tersadar atas apa yang ia bawa dan dia langsung menyodorkannya cepat-cepat.

“Itu es krim, Sunbae!” dia mengangkat seluruh jemari kirinya ke atas udara, “Lima buah!”

Dan mendengar itupun sangat cukup membuat Luhan membelalakan matanya, “Ya! Kau benar-benar membelinya!?”

Minjoo menyengir kuda dengan kelakuannya, “Kata sunbae sepuluh es krim terlalu banyak..”

“Itukan permintaanmu, bukan permintaanku! Aku tidak mau ini!”

Minjoo merubah raut wajahnya cemberut, “Sunbae, tapi aku telah menghabiskan seluruh uang jajanku hari ini untuk membeli es krimnya..” dia tampak kecewa sekarang, “Masa es krimnya dibuang begitu saja..”

Luhan pun berdecak kesal dan dia mengalah. Dia menarik Minjoo untuk duduk di sampingnya lalu memberikan satu es krim padanya.

“Kau makan tiga, aku makan dua. Mau tak mau kau juga harus membantuku makan es krim ini!” Minjoo kembali menyengir kuda dan perlahan membuka bungkus es krim itu, “Ah, omong-omong, ini tidak terhitung dengan satu permintaanku, mengerti!?”

Minjoo mulai memakan es krimnya dan dia melirik Luhan juga yang telah mencoba untuk membuka bungkus es krim itu.

“Memangnya sunbae mau meminta apa dariku?”

Luhan tampak berpikir sebentar, memikirkan apa yang sedang ia inginkan atau apa yang ia ingin lakukan pada gadis ini.

“Kalau aku memintamu untuk menjelaskan kenapa kau melakukan ini semua..” Luhan sedikit ragu sebenarnya, tapi dia harus mencoba. Demi Tuhan, Luhan masih sangat penasaran dengan ini semua. Ini adalah kali pertamanya ada seorang gadis yang meminta pertolongan padanya untuk sekedar membuat pengakuan dengan pura-pura. Bukankah itu hal yang unik?

“..Apa kau sudah bisa menjelaskannya, Minjoo-ya?” lanjutnya kembali.

Minjoo terdiam selama beberapa detik, membiarkan es krimnya menempel di mulutnya. Luhan piker dia masih akan terus membendung tanya itu namun ternyata Minjoo membuka suaranya.

“Aku melakukan ini karena aku telah ketahuan sesuatu yang tidak boleh temanku ketahui.” Ucapnya.

Itu tentu bukanlah jawaban yang ingin Luhan dengar,

“Lalu, apa yang temanmu ketahui kalau begitu?”

Minjoo kembali termenung, bingung harus memberitahu Luhan atau tidak.

“Mereka tahu bahwa aku.. menyukai sahabatku sendiri, Sunbae..”

Itu bukanlah sesuatu yang perlu disembunyikan, Han Minjoo.

“Hanya karena itu? Bukankah itu hal yang bagus?”

“Masalahnya.. sahabatku itu tidak menyukaiku, sunbae..” Minjoo menjeda perkataannya, “Sahabatku itu menyukai kakakku..”

Luhan masih tak mengerti dengan itu semua maka ia hanya terdiam untuk mencernanya. Dan sepertinya diamnya Luhan itu diketahui oleh Minjoo.

“Aku punya satu sahabat lelaki yang telah hidup bersama denganku sangat lama. Dia teman kecilku, teman sekolahku, teman mainku, teman makanku, teman tidurku, teman marahku, teman sedihku, teman bahagiaku.. Intinya, dia teman untuk semua hal yang kulakukan seumur hidupku..”

“Kita telah menghabiskan waktu kita begitu lama sampai-sampai aku merasa bahwa aku tidak bisa hidup tanpanya. Kalau aku memiliki perasaan seperti itu, artinya aku menyukainya. Benar bukan, sunbae?”

Tanpa Luhan sadari, Luhan telah mengangguk-anggukan kepalanya. Lalu Minjoo melanjutkan kembali kata-katanya.

“Aku pikir aku bisa juga mendapatkan hatinya, disaat selama ini aku telah hidup bersamanya. Namun ternyata aku terlalu berharap tinggi saja, dia menyukai kakakku. Kakak perempuanku.”

“Aku hanya sahabat di matanya dan selamanya aku akan seperti itu untuknya.”

Ah, kini Luhan mengerti dengan semuanya. Inilah alasan mengapa Minjoo membuat dirinya harus terlihat seperti dialah yang disukai Minjoo dan bukan sahabat gadis itu. Ketika semuanya telah ketahuan di telinga sahabat Minjoo itu, maka hidup Minjoo akan berakhir. Mengetahui cintanya bertepuk sebelah tangan pada orang yang dicintainya itu bukanlah alasan yang tepat untuk tetap melanjutkan hidupnya.

“Sekarang, Sunbae mengerti bukan kenapa aku melakukan ini? Maaf ya aku membuat hidup sunbae sedikit risih karenaku, pasti akan ada banyak orang yang membicarakan sunbae dan diriku mulai sekarang..”

Luhan terkekeh pelan, “Ya, kau harusnya mengkhawatirkan dirimu. Bukannya aku sombong, tapi mulai sekarang kau harus berhati-hati dengan penggemarku.” Dia kemudian memajukan mulutnya ke samping telinga Minjoo. “Mereka itu beringas kalau sudah ada gadis yang berani mendekatiku!”

Minjoo yang mendengar itu hanya berdecak kesal sambil tertawa pelan, “Omong-omong, Luhan sunbae yakin permintaannya hanya ini? Kurasa apa yang baru saja kuceritakan tadi tidak perlu menjadi permintaan sunbae…”

“Kau serius!?”

Minjoo menganggukan kepalanya dan Luhan langsung tersenyum bahagia.

“Assa! Aku berarti masih mempunyai satu permintaan itu, ya!?”

“Tapi jangan minta yang aneh-aneh ya, Sunbae! Aku tidak punya banyak uang tahu..”

Luhan terkekeh pelan, “Tenang saja, aku tidak akan meminta sesuatu yang harus kau beli dengan uang.” Dia mengangguk-angguk hebat dan dia teringat sesuatu,

“Omong-omong, kalau aku boleh tahu.. sahabat yang kau suka itu siapa namanya, Minjoo-ya?”

Minjoo menggelengkan kepalanya, maksudnya tidak akan memberitahunya.

“Aku tidak akan memberitahunya karena aku akan malu. Lagipula, sunbae juga akan tahu cepat atau lambat.”

“Dia sekolah disini kalau begitu!?”

Minjoo menganggukan kepalanya, lalu dia tersadar akan sesuatu karena dia melirik matanya kesal pada Luhan,

“Sunbae! Kalau sunbae sudah mengetahuinya, sunbae tidak boleh memberitahu siapapun di sekolah ini, mengerti!?” Minjoo mengangkat kepalan tangannya pada Luhan, “Kalau sunbae berani melakukan itu, lihat saja kepalan ini! Akan melayang ke tubuh sunbae!”

Luhan tertawa pelan dan dia menyingkirkan tangan itu dari hadapannya. Perlahan, dia pun mengacak-acak rambut Minjoo dengan tangannya.

“Kau ini.. ada-ada saja!”

~

~

“Aku selalu nyaman saat bisa bersama denganmu, Minjoo-ya.”

Kini, Minjoo dan Luhan berada di sebuah taman yang dekat dengan kantornya. Setelah pengakuan itu, Luhan mengajak Minjoo untuk berbicara. Mengeluarkan semua kata-kata yang ia simpan selama ini untuk Minjoo.

“Saat kau memanggilku, aku merasa sangat bahagia. Saat kita berjalan bersama, tertawa bersama, semuanya terlalu nyaman untukku. Awalnya kupikir kau hanya adikku di sekolah, mengingat kau bertingkah lucu setiap saat, namun aku keliru dengan pikiran itu.”

Luhan menatap Minjoo penuh arti sedangkan Minjoo sudah kehilangan kata-katanya.

“Aku sadar bahwa perasaan itu ada. Perasaan bukan dari kakak ke adiknya, tapi dari lelaki ke perempuan yang dikasihinya.”

“Aku menyukaimu, Han Minjoo. Dari awal kita bertemu dan aku mengenalmu.. aku sudah menyukaimu, Minjoo-ya..”

Minjoo tersedak dengan perkataan Luhan dan dia membeku di tempatnya. Demi Tuhan, dia tidak pernah membayangkan hal ini terjadi padanya. Selama ini, dia selalu menganggap Luhan sebatas seniornya yang sangat bisa disebut sebagai kakaknya di sekolah. Minjoo memang tahu bahwa Luhan selalu menjaganya salama ini, membuatnya senang, mengabuli permintaannya, namun Minjoo pikir itu semua hanya karena Luhan menganggap dirinya sebagai adik perempuannya. Tidak sebagai perempuan yang dikasihinya.

“Oppa..” Minjoo mencoba menarik nafasnya dan menghembuskannya perlahan, “Tapi Oppa tahu.. siapa yang ada di hati ini..”

Jujur perkataan itu langsung menghancurkan hati Luhan yang ke seribu kalinya.

“Oppa tahu.. siapa pria yang aku suka dari dahulu.. sampai sekarang..”

Ini membuatnya semakin terpuruk pada lubang penyiksaan dan Luhan tidak tahu apa yang harus ia korbankan dari tubuhnya untuk lubang itu lagi. Rasanya sakit dan penyesalan itu hinggap di dirinya. Luhan telah mengetahui perasaan itu dari lama, seperti yang ia bilang, dari saat dirinya mengenal Minjoo. Dari saat Minjoo menceritakan tentang alasan mengapa dirinya harus membuat pengakuan-pura-pura pada Luhan.

Andai saja.. waktu itu Luhan bisa memberitahu Minjoo segalanya tentang perasaannya, mungkin Luhan sudah hidup bahagia dengan Minjoo saat ini. Andai saja Luhan tidak memikirkan keraguan Minjoo yang menyukai Baekhyun saat itu, pasti hari ini nama yang ada di hati Minjoo telah berubah menjadi namanya. Masih banyak ‘andai’ lainnya yang Luhan tak mau sebut karena itu menyakitinya.

Kata andai itu akan selalu datang terakhir sebagai penyiksaan terberat untuk manusia yang menyesal.

Luhan menghembuskan nafasnya pasrah, berusaha untuk menerima kekalahannya dan dia menatap Minjoo lurus-lurus.

“Kalau begitu.. aku mau satu permintaanku sekarang.”

Minjoo menegangkan tubuhnya, mengingat permintaan dari enam tahun yang lalu itu. Tentu saja dia takut, dia tidak bisa mengabulkan permintaan Luhan yang menyuruhnya membalas perasaan pria itu.

“Apa… Oppa?”

“Biarkan aku menyimpan perasaan ini dan jangan kau melarangnya. Aku tidak ingin mendengar kau menyuruhku untuk melupakan perasaanku itu padamu.”

Minjoo tergelak dan dia merasa sangat bersalah sekarang. Minjoo sudah tahu bagaimana rasanya cinta bertepuk sebelah tangan itu bagaimana, dan dia tidak mau Luhan yang sudah sebaik ini selama umur hidupnya ikut merasakannya juga.

“Oppa.. jangan seperti itu, kumohon—“

“Aku yang lebih memohon, Minjoo-ya.” Luhan sudah tampak frustasi di tempatnya saat ia menatap Minjoo dengan lesu. “Aku ingin aku tetap menyimpan perasaan ini karena aku yakin.. melupakanmu adalah hal tersulit yang pernah kulakukan.”

“Kumohon.. jangan melarangku untuk terus menyukaimu, Minjoo-ya..”

Minjoo hanya tertunduk lemas dengan perasaan yang begitu berat di pundaknya. Lagi dan lagi, dia harus memikul beban yang sepertinya tidak akan pernah mengurang kapanpun.

.

.

Luhan menghentikan mobilnya tepat di depan rumah Minjoo. Waktu sudah larut sekarang.

Minjoo masih terdiam membisu di tempatnya, lebih tepatnya karena perasaan bersalah itu masih begitu membebaninya. Semuanya jadi terlihat salah dan tidak nyaman ketika Ia bersama Luhan. Seperti ada sesuatu yang menekannya.

“Kau kenapa diam saja?” Luhan membuka suaranya dan itu menyadarkan Minjoo. “Kau pasti sedang merasa bersalah, benar?”

Minjoo tidak mau merasakan perasaan itu sendirian dan berharap Luhan bisa mengerti dirinya. Dia pun menganggukan kepalanya. Tentu saja, Luhan mengerti itu.

“Ah, inilah mengapa aku tidak mau memberitahumu tentang perasaanku selama ini.” Ucap Luhan sambil menghembuskan nafasnya lelah, “Aku tahu kau itu gadis yang sangat baik, kau tidak bisa membiarkan orang merasa tersiksa karena dirimu..”

Setelah mengatakan itu, Luhan memutar seluruh tubuhnya menghadap Minjoo. Memegang bahu gadis itu.

“Han Minjoo.. juniorku.. temanku.. sahabatku.. adikku.. orang yang kusuka.. aku mau kau dengar ini dengan baik-baik.”

Minjoo menatap Luhan tepat di pupilnya dan membuka telinga seakan-akan mulut Luhan tepat ada di telinganya.

“Aku mohon padamu untuk tidak perlu merasa bersalah. Ini semua murni karenaku, bukan karenamu. Perasaan itu karena kesalahan hatiku padamu dan kau tidak punya andil dalam hal ini.”

“Kumohon, kau mengerti semua dengan perkataan itu dan aku harap kau tidak menjauhi karena hal ini.. mengerti?”

Minjoo terdiam sedu di tempatnya. Coba kalian bayangkan, bagaimana bisa kalian bertemu dengan pria sebaik Luhan di dunia ini lagi selain dirinya? Saat perasaan itu sesungguhnya tidak pernah bisa salah, tapi dia tetap menyalahakan perasaannya sendiri demi membuat Minjoo terlepas di bebannya. Ini terlalu berat bagi Minjoo untuk tetap bisa bertemu dengan Luhan atas semua perasaan itu tapi ini juga tidak adil untuk Luhan kalau Minjoo menjauhi Luhan karena perasaannya. Banyak hutang yang Minjoo belum sempat balas pada Luhan dan semua kekacauan ini semakin menambah hutang-hutang itu.

“Baiklah, Oppa.. Aku tidak akan merasa bersalah dan tidak akan melarang Oppa terus merasakan perasaan itu padaku.” Minjoo mengangkat tangannya dan menaruhnya pada lengan Luhan.

“Hanya saja, aku mohon.. jangan tersiksa, Oppa. Oppa itu orang yang sangat baik untukku, aku menyimpan banyak kebaikan Oppa yang belum sempat aku balas. Dan untuk aku merasa tidak bersalah, Oppa juga harus tidak merasa tersiksa.” Minjoo mencoba menatap Luhan sejujur mungkin dari lubuk hatinya.

“Bisakah Oppa melakukan itu untukku?”

Tentu saja itu sangat berat, kalian pikir saja perasaan yang sudah lama ia simpan dan kini ternyata percuma saja ia simpan ditambah harus mendapatkan tamparan jawaban yang tak ingin di dengar oleh perasaan itu memang enak untuk dirasakan? Demi Tuhan, ini sangat menyiksa.

“Baiklah, aku akan tidak merasa tersiksa demi dirimu.”

Tapi, Luhan harus mencoba menahan semuanya. Seperti yang Minjoo bilang, kalau dia ingin Minjoo tidak merasa bersalah dia tidak boleh merasakan perasaan itu semua.

Pada akhirnya, Minjoo pun berhasil keluar setelah mencoba untuk tidak merasakan perasaan bersalah itu. Minjoo masuk ke dalam rumah dan kini tinggalah Luhan di mobilnya sendiri, masih merenung dengan kejadian hari ini.

Tak jauh dari situ, ia melihat lampu mobil datang dari belakangnya, menyinari spion depannya. Dia memarkirkan mobil persis di depan gerbang rumah dan menghalangi jalan itu.

Saat Baekhyun turun dari mobil itulah, membuat Luhan tiba-tiba menaikkan emosinya. Dia keluar dari mobil dan langsung mengepalkan tangannya.

“Kau disini rupanya, bajingan.” Ucapnya kelewat dingin dan datar. Membuat Baekhyun tersedak kaget dan perasaan takut itu kembali menerjang tubuhnya.

“Kau.. kenapa disini?”

“Aku baru saja mengantar gadisku pulang, kenapa?”

Demi Tuhan, Baekhyun tahu siapa yang ‘gadisku’ Luhan maksud itu dan dia menggantikan perasaan takut itu dengan kepalan di tangannya.

“Apa kau bilang?”

Luhan tertawa kecil, mengetahui inilah yang paling bisa membuat Baekhyun marah.

“Aku bilang, aku baru saja mengantar gadisku pulang. Kau tuli?”

Baekhyun tidak bisa menahan emosinya lagi dan kini ia menghampiri Luhan dengan setiap sentakan di kakinya. Menarik kerah kemeja pria itu sambil sedikit mengangkatnya.

“Dia itu.. gadisku.” Wajah Baekhyun sudah memerah, uratnya begitu kentara di lehernya. “Han Minjoo milikku, sialan!!!”

“Ck.” Setelah decakan itu, Luhan menatap Baekhyun tak kalah marahnya dan kemudian dia mendorong Baekhyun hingga tubuhnya lepas dari tangannya.

“Sejak kapan kau bisa menyebut Minjoo milikmu disaat kau hanya bisa membuatnya terluka, bodoh!!”

Baekhyun membetulkan pijakannya dengan perasaan yang tiba-tiba begitu terluka karena ucapan Luhan.

“Yang kau lakukan selama ini hanya menyiksanya! Kau membiarkan dia berada di sampingmu tapi kau tidak pernah tahu apa yang sebenarnya hatinya katakan! Kau membiarkan dia melihat semuanya tanpa penjelasan yang jelas darimu, bajingan!!”

“Apa maksudmu!?”

“Aku tidak akan memberitahumu!! Aku ingin kau terus merasa bersalah sampai kau melepaskan Minjoo!! Ingat ancamanku itu, Baekhyun!? Aku masih sedang berusaha untuk mendapatkannya jadi lebih baik kau siapkan hati lemahmu itu dari sekarang!!”

Luhan membenarkan kerahnya yang tadi ditarik paksa oleh Baekhyun lalu berjalan ke arah mobilnya kembali. Setelah menyalakan mesinnya, dengan cepat Luhan mengendarainya meninggalkan Baekhyun.

Di tempat dimana Baekhyun berdiri, lagi dan lagi dia harus merasakan ketakutan itu. Namun, ada sesuatu yang membuatnya berpikir.

Apa yang dimaksud Luhan tadi?

.

.

Baekhyun telah berhasil masuk ke dalam rumahnya dan berjalan bergegas menuju kamarnya. Saat ia telah membuka pintu kamarnya, dia menemukan gadis yang paling ia rindukan selama beberapa hari ini.

Minjoo tersentak kaget, mengetahui Baekhyun lah yang membuka pintu kamar mereka dahulu. Benar, setelah kejadian itu Minjoo memutuskan untuk pindah ke kamar yang terletak di sebelah kamar mereka, yang saat mereka bertengkar karena Baekhyun bilang dia bukan wanita itu. Yang Minjoo bilang kamar itu menyeramkan, masih sampai sekarang. Kalian pikir saja, apa satu ranjang dengan Baekhyun masih bisa pantas Minjoo lakukan?

“Maaf aku masuk ke kamarmu. Aku hanya ingin membawa baju-bajuku.” Ucap Minjoo.

Baekhyun menundukkan kepalanya dan melihat ke keranjang yang telah berisi baju-baju Minjoo. Gadis itu benar-benar telah membuat bentangan yang semakin luas diantara dirinya.

Setelah selesai memindahkan semua baju itu, Minjoo mengangkatnya dan berjalan keluar.

“Kau tidak boleh mengangkat-angkat seperti itu, Minjoo-ya..”

Baekhyun menahan Minjoo tepat setelah dia berada di depan pria itu. Sesungguhnya dia ingin mengatakan ‘kita’ tepat setelah kata ‘bayi’, namun entah kenapa Baekhyun menahannya.

“Itu tidak baik untuk bayi..ku..”

Benar, Baekhyun salah membuat keputusan mengganti kata ‘kita’ menjadi ‘ku’nya. Minjoo merasa sakit hati sekarang.

“Bayi ini kuat, dia tumbuh bersamaku yang juga kuat.” Minjoo tersenyum kecut, “Tenang saja, lagipula ini tidak terlalu berat.”

Minjoo hendak berjalan lagi namun lagi dan lagi, Baekhyun menahannya. Menggenggam tangannya.

“Apakah kau harus melakukan sampai sejauh ini?” Kata-kata itu seperti membuat Minjoo ingin menangis. “Baiklah, kalau kau memang ingin menghindariku. Aku yang akan keluar dari kamar ini, kau harus tetap tidur disini.”

Baekhyun hendak menarik keranjang berisi baju itu dari tangan Minjoo namun Minjoo menahannya.

“Mana bisa aku tidur disini di saat ini adalah rumahmu, Baekhyun—“

“Kamar sebelah itu dingin, Minjoo-ya! Belum lagi kasurnya yang tidak bagus! Selimutnya tipis, kau bisa membeku disana!” Baekhyun sedikit menyentak keras Minjoo,

“Aku sudah pernah bilang padamu bukan untuk jangan menyiksa dirimu? Kau sudah tahu bukan bahwa aku paling benci melihatmu tersiksa!?”

Jujur semua perkataan itu begitu terngiang-ngiang dan begitu hangat. Sampai kehangatan itu rasanya memanaskan mata Minjoo. Rasanya seperti Minjoo mendapatkan harapan itu lagi namun akal sehatnya yang telah kembali menghadang semua harapan itu.

“Aku bilang aku baik-baik saja, Baekhyun. Kasurnya cukup baik untuk membuatku tidur, kamarnya tidak dingin dan selimutnya cukup tebal.” Minjoo tersenyum untuk meyakinkan Baekhyun yang ketakutan entah untuk apa. Syukurlah kalau buat anak ini.

“Sudah kubilang, bayi ini kuat. Aku juga kuat, jadi kau tidak perlu khawatir. Aku bisa menjaganya sendirian.”

Minjoo pun melanjutkan langkahnya lagi sambil tak kuasa untuk menjatuhkan air matanya. Sedangkan pria itu, dia pun hanya mengacak rambutnya kesal sambil menendang kasurnya. Kakinya sakit, tapi hatinya jauh seribu kali lebih sakit dari itu semua.

~

~

“Kenapa sih kau takut dengan hujan, Minjoo-ya?”

“Aku takut pada petirnya, Baekhyun.”

“Kenapa takut pada petir? Kan kita di rumah, petir tidak bisa menghampiri kita.”

“Setiap hujan petir, aku pasti selalu bermimpi buruk Baekhyun-ah. Kalau tidak ada yang menemaniku tidur, sudah pasti mimpi buruk itu datang.”

“Jadi aku harus selalu tidur bersamamu kalau sedang hujan petir?”

“Tentu saja, kau tidak mau?”

“Ckck, aku itu temanmu paling baik, Minjoo-ya. Tentu saja aku mau.”

“Aish!”

~

~

Ctarr. Ctarr.

Demi Tuhan, mata Baekhyun sedari tadi terbuka dan dia tidak bisa membiarkan dirinya istirahat barang semenit pun. Bukan, ini semua bukan karena suara petir atau hujan derasnya, tapi ini karena dirinya yang terlalu mengkhawatirkan Minjoo sampai titik puncaknya. Minjoo selalu memiliki phobia terhadap hujan petir. Kata gadis itu waktu mereka berumur tujuh tahun, Minjoo akan selalu mendapatkan mimpi buruk setiap hujan petir datang. Membayangkan Minjoo tidur tidak tenang, sendirian, di kamar yang dingin itu pula.. membuat Baekhyun seperti ingin menghancurkan pintu Minjoo di hadapannya.

Oh, kita lupa bilang bahwa Baekhyun sudah berdiri di depan kamar Minjoo sejak hujan petir itu dimulai. Kira-kira, 30 menit yang lalu.

Baekhyun terus mencoba untuk mengangkat tangannya dan mengetuk pintu itu, namun sedari tadi juga dia mencoba untuk menurunkan tangannya dan tidak mengetuk pintu itu. Itu terus terjadi selama 20 kali dan Baekhyun rasa dia tidak bisa membendungi perasaan kalut itu lagi di dalam tubuhnya.

Biar saja kalau Minjoo memakinya, menyebutnya mesum atau apapun itu. Baekhyun tidak bisa membiarkan Minjoo tersiksa karena phobianya.

Baekhyun pun akhirnya membuka pintu kamar itu dan bergegas menghampiri Minjoo di kasurnya.

Betul bukan, harusnya dia telah melakukan itu lebih cepat dari sebelumnya karena Minjoo benar-benar sudah gelisah di atas kasurnya sekarang. Wajah berkeringat, ditambah keningnya yang terus mengerut. Belum lagi dia merenguh, seperti meminta tolong pada siapapun.

Ya Tuhan, kenapa Baekhyun selalu dikasih cobaan seperti ini?

“Minjoo-ya..” Baekhyun menghampiri Minjoo dan langsung mencoba menenangkan gadis itu. “Minjoo, tenang kumohon.. itu semua hanya mimpi..”

Minjoo masih menutup matanya—juga masih dengan kondisi itu—namun kali ini Minjoo tiba-tiba sedikit terlihat menggigil di tidurnya. Gadis itu berbohong, selimut yang digunakannya benar-benar tipis.

Dengan sedikit berlari, Baekhyun pun mengambil selimut yang berada di kamarnya dan langsung menutupi tubuh Minjoo tanpa melepaskan selimut tipis itu darinya. Untungnya, itu langsung berhasil mengatasi menggigilnya tubuh Minjoo beberapa menit yang lalu.

Meski sudah tidak menggigil, kerutan kening serta peluh keringat itu masih terlalu kentara di wajah Minjoo. Membuat Baekhyun mendudukan tubuhnya di tepi ranjang Minjoo sambil menghapus keringatnya.

“Minjoo-ya.. itu hanya mimpi..” Baekhyun berusaha untuk berbicara meski Minjoo tampaknya tidak mendengar. “Jangan larut pada mimpi burukmu itu. Kau bilang kau kuat.. kau harus bisa mengatasinya..”

Baekhyun terus mengusap kepala Minjoo dan menguatkan gadis itu. Dia baru saja akan berdiri lagi, maksudnya adalah untuk memastikan bahwa jendela kamar ini tidak terbuka atau pendingin udaranya tidak menyala, namun tiba-tiba tangan Minjoo menggenggam jemarinya. Begitu erat dan seperti tidak ingin melepasnya.

“Jangan pergi..”

Baekhyun terdiam dengan hatinya yang tiba-tiba seperti jatuh ke dasar.

“Jangan pergi, kumohon..”

“Temani aku..”

Baekhyun pun tak kuasa untuk memanaskan matanya serta membalas genggaman tangan itu.

.

Hujan memang belum berhenti tapi untungnya petirnya sudah tidak muncul lagi.

Baekhyun telah terduduk di atas lantai dengan menyandarkan tubuhnya pada meja nakas yang terletak di sebelah kasur Minjoo. Tangannya masih menggenggam tangan Minjoo. Minjoo sudah tidak mengerutkan keningnya atau pun mengeluarkan keringat di wajahnya, tapi tetap saja Baekhyun tidak bisa menghentikan rasa kekhawatirannya itu.

“Minjoo-ya, kau yakin kau bilang padaku untuk tidak khawatir disaat gadis yang paling aku sayang itu adalah dirimu, hm?”

Baekhyun menatap Minjoo dengan perasaannya yang terluka. Meski wajah cantik gadis itu ketika tidur sedang ia lihat saat ini, tetap saja perasaannya begitu terluka.

“Saat aku melihatmu tersiksa, entah kenapa rasanya seperti rusukku lepas dan menusuk seluruh organ tubuhku. Aku takut, kalau kau terluka barang seujung kuku pun karena aku paling tidak sanggup melihatmu terluka.” Tangan Minjoo yang masih digenggamnya kini ia usap perlahan-lahan menggunakan ibu jarinya. “Sudah kubilang bukan bahwa jangan pernah menyiksa dirimu? Itu terdengar seperti kiasan untukmu tapi kalau kau menjadi diriku, kau pasti merasakannya. Aku lebih memilih untuk diriku yang terluka dibanding harus melihatmu yang terluka. Obat untuk menyembuhkan luka saat melihatmu tersiksa tidak ada di dunia ini, Minjoo-ya.”

Seketika, Baekhyun teringat dengan perut Minjoo yang telah mengandung anak mereka. Dia pun menegakkan tubuhnya, tanpa melepas genggaman itu, lalu menggesernya mendekati perut Minjoo. Tangan satunya lagi naik, mencoba untuk mengusap perut Minjoo.

“Halo, anakku.. kau disana? Aku belum pernah menyapamu sebelumnya jadi sekarang aku ingin menyapamu.” Baekhyun tersenyum sedih saat mengatakan itu, “Ah, aku juga ingin bilang bahwa aku sangat bahagia dan sangat menginginkan dirimu untuk ada di dalam perut ini. Ucapan ibumu itu tidak benar, aku tidak pernah memiliki niatan untuk menyingkirkanmu dalam hidupku dan hidupnya. Aku benar-benar bahagia mengetahui dirimu mulai hidup di dalam sana.”

Sesaat itulah ia merasakan perasaan Ayah yang selama ini ia coba rasakan namun permasalahan itu terlalu kuat hingga menghancurkannya. Seperti inikah rasanya, mengetahui dirimu akan sebagai ayah dan kepala keluarga dari istri serta anak yang paling kalian cintai? Semuanya benar-benar gila, Baekhyun seperti terbang tinggi ke udara dan mendapatkan awan impiannya. Namun, semuanya langsung kandas, mengingat kejadian yang menimpa mereka beberapa waktu ini. Terlebih.. saat ia mengingat Luhan dan semua perkataan Minjoo tempo lalu.

“Kau sudah mendengar semua yang tadi aku ucapkan, bukan? Aku paling benci melihat ibumu terluka atau tersiksa karena aku akan jauh lebih merasa tersiksa saat melihatnya.”

Baekhyun masih terus mengusap perut itu tanpa tahu, air matanya telah mengalir disana.

“Kau tidak boleh membuat ibumu tersiksa, hm? Kau harus baik-baik di dalam sana di saat aku tidak bisa melihat kalian. Jangan membuatnya susah, kau juga pasti sayang ibumu kan?”

“Kau juga pasti sama sepertiku bukan, yang menyayangi dirinya?”

“Sangat mencintainya..?”

Baekhyun tak kuasa lagi untuk menahan isakannya dan dia pun menundukkan pandangannya. Perlahan-lahan mulai merealisasikan rasa sakit itu. Demi Tuhan, perasaan ini sangat kuat untuk seorang Minjoo dan fakta yang mengatakan bahwa dia akan kehilangan Minjoo selamanya semakin mendekatinya.

Ini membuatnya hancur dan ia tidak bisa menahan ini untuk lebih lama lagi.

Baekhyun benar-benar tidak bisa kehilangan Minjoo.

.

Waktu masih menunjukkan pukul 4 dini hari tapi Minjoo telah membuka matanya. Tubuhnya langsung kaget saat melihat Baekhyun tertidur di hadapannya, berbalut dengan alas lantai dan sandaran pada meja nakas. Minjoo bukan orang yang tidak pekaan, karena dia langsung merasakan kehangatan yang menjalar dari genggaman tangannya. Genggaman tangan Baekhyun padanya.

“Kenapa kau disini?” Minjoo berucap, maksudnya pada diri Baekhyun sendiri. Dia bingung, memikirkan segala alasan yang membuat Baekhyun menggenggamnya namun dia teringat sesuatu.

Tadi malam, gadis itu mimpi sangat buruk sekali. Di dalam mimpinya dia telah ditinggalkan Baekhyun dan juga anaknya, sendirian dalam kegelapan. Minjoo terus meraung menangis, meminta pertolongan, namun tiba-tiba ada seberkas cahaya yang menghampirinya dan menghilangkan semua mimpi buruk itu. Diganti dengan mimpi yang kelewat indah, sangat indah. Dimana dirinya, Baekhyun, serta anaknya di masa depan sedang duduk di sebuah taman bunga dengan wajah berseri bahagia.

“Kenapa kau membuatnya semakin rumit, Baekhyun-ah..”

Minjoo tak kuasa untuk menjatuhkan air matanya dan mengeraskan cengkraman itu di tangannya.

“Aku.. ingin sekali mimpi itu benar-benar terwujud. Membayangkannya benar-benar membuatku bahagia, Baekhyun, tapi aku tahu.. aku bukanlah orang yang tepat untuk membuatmu tersenyum seperti di mimpi itu.”

Minjoo menatap genggaman tangan itu dan masih menjatuhkan air matanya.

“Apa kau tidak bisa.. sekali saja, melihatku?”

“Aku juga ingin menjadi orang yang bisa membuatmu tersenyum, Baekhyun-ah..”

“Apa aku tidak bisa menjadi orang itu?”

Ini terlalu berat untuk dirinya. Semua harapan itu, meski akal sehat menahannya, nyatanya otaknya yang gila dan hati kecilnya itu masih terus bertahan disana. Membuat harapan-harapan yang selalu menyakitinya namun menghangatkannya juga.

Entah sampai kapan ini terus terulang, yang jelas Baekhyun dan Minjoo hanya akan terus menyakiti diri mereka masing-masing dengan semua perumpaan bodohnya.

Kini, mereka hanya bisa berharap pada waktu untuk menghentikkan semuanya. Tiada lain.. selain waktu.. yang bisa menjawab semuanya.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Segala sesuatu yang ada di hadapan Hyojoo terlihat begitu buram dan gelap, seperti dia kembali hidup di zaman cahaya belum di temukan. Kegelapan dimana-mana dan kesunyian yang terlalu nyaring. Nyaris membuat Hyojoo ingin membunuh dirinya sendiri.

Disinilah dia berada, di kamarnya, di rumahnya. Dikurung oleh Ayahnya sendiri karena pemberontakan yang ia lakukan beberapa hari ini. Tentu saja, pemberontakan dirinya yang meminta haknya untuk memilih pria yang dia inginkan.

Keadaan Hyojoo sangat hancur, raut wajahnya begitu suram, namun hatinya jauh lebih hancur dari itu semua. Hyojoo tidak perlu bilang berkali-kali bukan kalau dia merasa ingin bunuh diri setelah Chanyeol meninggalkannya?

Pintu tiba-tiba saja terbuka dan menampakkan Ayah Hyojoo dari sana. Sebenarnya, Ayah Hyojoo juga tidak tega melakukan ini pada anaknya sendiri. Demi Tuhan, dia tidak bermaksud jahat dengan mengurung anaknya di kamarnya. Yang dia inginkan adalah yang terbaik untuk Hyojoo, menikah dengan Junmyeon yang sudah jelas-jelas punya masa depan yang cerah. Ayah Hyojoo sudah mengetahui tentang hubungan anaknya dan kekasihnya itu, Park Chanyeol, yang notabenenya hanya seorang sekretaris di perusahaan. Masa depannya tidak terlalu jelas untuk putri kesayangannya.

“Ya..” Pria tua itu melihat Hyojoo terduduk di atas kasur dengan pandangan yang kosong. Ya Tuhan, benar-benar sangat menyedihkan.

“Bersiap-siaplah. Kita akan bertemu dengan Junmyeon hari ini untuk membahas pernikahan kalian—“

Prang.

“Sudah kubilang bahwa aku tidak ingin menikah dengan Junmyeon, Ayah!!!!”

Lampu tidur yang terletak di atas nakas meja sebelah tempat tidur Hyojoo telah hancur berkeping-keping. Sama hancurnya dengan hatinya.

“Ya!! Aku tidak pernah mengajarkanmu menjadi anak yang seperti ini!!!”

Tanpa tahu waktu yang tepat, air mata itu sudah ke seribu kalinya mengalir di pipi Hyojoo.

“Benar, Ayah tidak pernah mengajarkan ini padaku. Ayah hanya mengajarkanku bagaimana jadi anak yang baik, yang pintar, dan yang mengerti bisnis. Ayah mengajarkan itu semua padaku selayaknya aku robot!!!”

Tuan Han yang semua menatap Hyojoo dengan garang tiba-tiba merubah raut wajahnya saat mendengar ungkapan Hyojoo itu,

“Ayah mengajarkanku dengan sangat baik selama ini tapi apa Ayah tidak tahu bahwa itu semua bukanlah yang kuinginkan?” Hyojoo menjeda perkataannya namun air mata itu masih mengalir di matanya, “Dahulu ketika aku berada di sekolah menengah atas, kau tidak mengizinkanku untuk menjadi penari padahal kau tahu bahwa aku suka menari. Aku tidak boleh masuk sekolah seni karena aku harus melanjutkan perusahaanmu. Ok, aku menyetujuinya dan mengikuti kemauanmu tapi sekarang.. kumohon..”

“Apa aku tidak bisa mendapatkan keinginanku sekali saja? Aku hanya ingin bersama pria itu, Ayah.. Hanya dia yang mengerti diriku dan yang aku mau..”

Ayah Hyojoo terdiam, seperti perkataan gadis itu telah menyinggung serta menusuknya. Entah kenapa, rasanya begitu sakit saat mengetahui apa yang Ayah Hyojoo anggap baik selama ini bukanlah hal yang baik untuk anaknya, Hyojoo. Ayah Hyojoo merasa bahwa dirinya selama ini hanyalah memperalat Hyojoo.

Perlahan namun pasti, Ayah Hyojoo pun menahan rasa sakit itu dan memunculkan kembali emosinya.

“Aku tidak akan mendengar semua perkataanmu. Yang kulakukan ini semua demi kebaikanmu, jadi sekarang siap-siaplah.”

Ayah Hyojoo mundur dan lalu menutup pintunya. Tapi bukan berarti dia membuang semua rasa sakit itu.

“Yang menurutmu baik, belum tentu baik untukku, Ayah!”

“Aku membencimu!!”

Perkataan Hyojoo itu sukses meruntuhkan segalanya bagi Ayah Hyojoo.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Minjoo menata dirinya sebaik mungkin dengan balutan gaun merah itu. Gaun merah tanpa lengan namun menutupinya dari leher sampai tumit kakinya. Terlampau ketat karena postur tubuh Minjoo langsung terbentuk ketika ia melihat dirinya di kaca. Tak lupa Minjoo memasang eyeliner, blush-on, lipstick dan riasan yang lainnya di wajahnya, sebisa mungkin menyembunyikan wajah kusutnya di balik sana.

Hari ini adalah pesta peresmian proyek perusahaan yang berkolaborasi dengan proyek perusahaan milik Luhan. Dia tentu saja harus datang sebagai pendamping Baekhyun, mengingat dirinya masih istri sah dari pria itu. Meski rasanya sangat mengganjal, tapi Minjoo harus terlihat sebagai istri yang benar di hadapan semua orang.

Saat gadis itu turun dari lantai kamarnya, dia menemukan Baekhyun disana. Tengah menunggunya dengan balutan tuxedo yang memukau. Baekhyun yang seksi dan manis itu tentu saja masih bertahan untuk seorang Minjoo.

“Ehem..”

Minjoo berdeham untuk memanggil Baekhyun dan seketika Baekhyun menengoknya, pria itu menatap Minjoo. Sangat lurus dan begitu detil.

“Aku siap. Ayo kita berangkat sekarang, mengingat aku tidak mau terlalu lama di acara itu.”

Ada harapan kecilnya yang menginginkan Baekhyun mengucapkan sepatah atau dua kata mengenai penampilannya, sekedar bilang ‘kau tampak bagus dengan baju itu’ misalnya.

Ah, tapi sepertinya Minjoo sudah terlalu kebal dengan membuang harapan-harapan itu.

.

.

Ruang hall dari hotel berkelas bintang lima bisa disulap menjadi acara semegah ini ternyata. Meski hanya berupa beberapa meja yang di tata rapi, panggung, hiasan-hiasan di pinggir ruangan.. semuanya benar-benar terlihat elegan. Tentu saja harus terlihat elegan, yang datang di acara ini bukanlah orang sembarangan. Jangan lupa, Baekhyun itu adalah direktur utama dari sebuah perusahaan intel terbesar di Korea. Ditambah proyeknya yang berkolaborasi dengan Luhan yang notabenenya perusahaannya itu sangat terkenal di Tiongkok, tentu saja orang-orang yang datang bukan sekedar pemilik restoran pinggir jalan.

Minjoo benci acara ini. Sangat benci dengan orang yang berkumpul terlalu banyak, tertawa untuk hal yang tidak lucu hanya agar terkesan baik di mata lawan bicaranya, dan masih banyak hal yang lainnya. Inilah hal yang paling membuatnya tidak mau menjadi penerus perusahaan saat Ayahnya pernah menawarkannya dahulu. Minjoo tidak suka bersikap sok-elegan seperti ini.

“Minjoo-ya!”

Panggilan Luhan dari jauh itu menyadarkannya dan membuat Minjoo menengoknya. Minjoo tersenyum riang dan melambaikan tangannya pada Luhan. Oh, kita lupa menjelaskan tentang Baekhyun yang sedari tadi di samping Minjoo, yang lengannya di ikat oleh tangan Minjoo. Jelas sekali, pria itu seperti terbakar di dalam kepalanya saat mendengar panggilan Luhan.

“Kau datang kemari, hm?” Luhan sudah berada di hadapan mereka dan saat dia melirik ke arah Baekhyun, tatapan mereka seperti dua batu yang saling di gesekkan. Ada percikan api disana.

“Ah, tentu saja datang.”

Luhan tersenyum kecut dan melihat Baekhyun yang seperti ingin tersenyum puas seraya seperti berkata: Sudah kubilang gadis ini milikku. Tentu saja Luhan langsung mengacuhkan itu.

“Oppa datang sendirian?” Minjoo melirik ke belakang dan samping Luhan, “Tidak membawa pasangan?”

“Kau yakin bertanya seperti itu padaku, Minjoo-ya?”

Minjoo tersadar oleh pertanyaan yang bodoh itu. Ya Tuhan, kapan Han Minjoo bisa punya otak yang cerdas.

Takut merubah suasana menjadi canggung, Minjoo pun menyengir pelan, “Ah, maaf, Oppa..” kemudian sambil menggigit bibirnya, “Harusnya aku tak bertanya itu..”

Luhan terkekeh pelan dan tak sengaja ia melihat Baekhyun yang tengah menatapnya garang. Tentu saja dia merasa kesal, hey Baekhyun itu ada di antara mereka tapi mereka membuat konversasi yang seperti menganggap Baekhyun tidak berdiri di antara mereka. Bukankah itu sangat menyebalkan?

Harusnya Luhan tidak mempedulikan tatapan itu dan tetap membuat Baekhyun merasa panas di tempatnya. Tapi, sepertinya ada sisi Luhan yang begitu baik muncul di dalam sana.

“Ah sepertinya aku mengganggu waktu kalian.” Luhan berucap, nadanya terlalu sinis. “Aku seharusnya tidak menggoda istri orang, bukan? Tuan Byun?”

Ugh, rasanya tangan Baekhyun ingin mengepal jika tidak ingat Luhan adalah rekan kerjanya untuk proyek ini.

Luhan hanya tersenyum merendahkan lalu ia berpamit pada mereka. Meninggalkan mereka hanya berdua, meski ada beberapa orang di sekitarnya.

“Sesenang itukah kau berbicara dengan Luhan?”

Minjoo menengok wajahnya ke samping saat Baekhyun membisikkan kalimat itu di telinganya.

“Sampai-sampai berbicara seperti aku tidak ada disana..” Baekhyun tiba-tiba tersenyum pada Tuan Jeon, rekan dari perusahaan Bighit Entertainment, saat pria itu lewat di hadapannya.

Minjoo hanya mendengus pelan, “Kenapa kau harus peduli? Itu urusan aku dan Oppa.”

Dia kemudian sedikit melonggarkan eratan tangannya pada Baekhyun, Minjoo sudah sedikit lelah karena sedari tadi harus jalan kesana dan kemari hanya untuk sekedar tersenyum pada rekan-rekan Baekhyun.

“Sudahlah, tidak perlu membahas itu. Sekarang kita harus menyalami tamu yang mana lagi?”

Baekhyun tampak sedikit kesal dengan ucapan yang ‘Itu urusan aku dan Oppa’. Sial, apa urusan di antara mereka memangnya!

“Tidak ada. Semua tamu sudah kita beri salam.”

Minjoo sedikit kaget dan merenguh kesal, “Kenapa tak bilang? Kalau begitu aku tidak perlu menggandeng tanganmu terus sedari tadi!”

Minjoo pun melepaskan eratan tangannya dari Baekhyun. Selama satu detik, itu mungkin berhasil. Tapi setelah detik kedua, tangannya terapit kembali di sekitar lengan Baekhyun, lalu detik ketiga Baekhyun menurunkan tangan Minjoo menjadi berada di genggamannya.

Sumpah, ini terlalu hangat.

“Kenapa harus di lepas? Bukankah sekarang sedang dingin?” Baekhyun semakin memperdalam eratannya dengan mengenggam seluruh jemarinya. “Tetaplah seperti ini.”

Ini gila, kenapa Minjoo masih terus membuat harapan-harapan itu meski dia tahu dia akan membuangnya? Semuanya karena pria ini, pria yang selalu manis padanya namun dia hanya memiliki akhir yang tidak bahagia untuk Minjoo.

Dengan berat hati, Minjoo pun melepas eratan tangannya.

“Aku tidak mau. Ini terlihat sangat salah, Baekhyun-ah.”

Karena matanya tiba-tiba memanas, Minjoo pun memutar tubuhnya dan berjalan keluar, menjauhi Baekhyun.

Baekhyun, si pria bodoh itu, hanya bisa terdiam dan merutuki kekesalannya dalam hati melihat kepergian Minjoo.

.

.

Kenapa ini begitu sulit? Kenapa melepas Baekhyun begitu sulit untuk dirinya?

Berulang kali Minjoo melepas harapan itu dan membuangnya jauh-jauh ke dasar laut. Bahkan sepertinya Minjoo sudah membuang semua harapan itu ke dalam segitiga Bermuda, yang harusnya tidak bisa kembali lagi padanya.

Tapi kenapa.. hatinya terus membuat harapan itu? Harapan dimana bahwa kata ‘bersama’ itu muncul di antara namanya dan nama Baekhyun. Harapan yang terbuat dari hati kecilnya yang sudah mati-matian ia sembunyikan tapi tetap saja, hati kecil itu tidak mau sembunyi. Hati kecil itu seperti ingin menempati tempat seharusnya dimana ia berada, di jantungnya. Hati kecil yang tertuliskan nama Baekhyun disana.

Minjoo merunduk, menatap sepatu merah dan lantai di bawahnya. Udara dingin yang berhembus karena dia sedang berada di balkon luar ruangan ia hiraukan. Pikirannya sudah terlalu lelah jika harus mengurusi hal-hal yang lainnya.

“Jangan disini, Minjoo-ya.”

Dia membulatkan matanya, seraya tubuhnya juga yang tiba-tiba menghangat karena jas yang memiliki wangi Baekhyun di sekitarnya.

“Jangan berdiri disini. Terlalu dingin, tidak bagus untukmu yang sedang mengandung.”

Minjoo menolehkan pandangannya pada Baekhyun, yang sudah ikut berdiri di sampingnya dan juga menatap pemandangan kota Seoul di malam hari. Hall hotel ini kebetulan berada di lantai teratas dan sedari tadi Minjoo menatap ke arah itu juga.

Karena sebelumnya Minjoo sedang berpikir mengenai alasan-alasan mengapa hatinya belum saja bisa melupakan Baekhyun, kini gadis itu menyadari alasannya apa. Itu semua karena Baekhyun terus muncul di sampingnya. Harapan itu terbuat dari hati kecilnya yang bertuliskan nama Baekhyun di dalam sana, jelas sekali harapan ini muncul seiringnya dengan kemunculan Baekhyun di sekitarnya.

“Kenapa kau mengikutiku? Tidak kah harusnya kita dalam kondisi harus terus bertemu, Baekhyun?” Tiba-tiba saja Minjoo merasa sangat kesal namun tersiksa di dalam satu waktu.

Minjoo kemudian membuka jas itu dari tubuhnya, menyerahkannya pada Baekhyun. “Aku tidak dingin dan kumohon, berhentilah bersandiwara selayaknya kau peduli dengan bayi ini.”

“Nyatanya, kau pun akan meninggalkannya juga, bukan?”

Minjoo pun memutar tubuhnya dan berusaha untuk mengambil langkah meninggalkan Baekhyun. Namun, selalu dan selalu, Baekhyun selalu berhasil menahannya.

“Apa kau benar-benar menyukai Luhan?” tanyanya to the point.

“Apakah.. perasaan kau sedalam itu untuk Luhan?”

Minjoo melepaskan eratan tangan Baekhyun yang menahannya, “Sudah kubilang, itu urusan aku dan Oppa. Kau tidak perlu ikut campur!”

Minjoo mencoba berjalan kembali dengan menghempaskan tangan Baekhyun namun Baekhyun masih terlalu kuat untuk menahannya.

“Ya—“

“Dari dahulu sampai sekarang..”

Entah kenapa, tatapan Baekhyun terlihat begitu menyedihkan di mata Minjoo.

“..kau memang menyukai Luhan, Minjoo-ya? Kau memang benar-benar menyukai pria itu?”

Minjoo terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab apa, tapi dia seperti merasakan kesedihan dari pertanyaan Baekhyun yang seperti itu.

“Iya, aku menyukainya.”

Minjoo memutuskan untuk memilih membuat kebohongan. Dan sepertinya.. gadis itu akan menyesalinya nanti.

“Dari dahulu sampai sekarang, aku menyukainya. Bukankah kau harusnya tahu?”

Selama beberapa detik, Baekhyun terus terdiam. Namun, kemudiannya Minjoo merasakan tangan Baekhyun melonggar padanya.

“Ah.. begitu rupanya.”

Tatapan Baekhyun yang sudah teralih darinya, entah kenapa.. itu terlihat seperti orang yang baru patah hati bagi Minjoo.

“Sekarang aku mengerti mengapa kau melakukan ini semua.” Baekhyun telah menatap Minjoo kembali,

“Sepertinya.. hanya aku yang menganggap bahwa hubungan kita itu lebih dari sekedar sahabat, bukan.. Minjoo-ya?”

Hati Minjoo langsung jatuh ke dasar mendengar itu semua.

“Baiklah kalau begitu, mulai dari sekarang.. aku tidak akan mengganggumu lagi.” Baekhyun sedikit menghapus jarak di antara dirinya dan Minjoo, untuk memakaikan gadis itu jasnya kembali. “Aku akan benar-benar membiarkanmu untuk menemukan kebahagiaanmu sendiri. Aku akan melepasmu, membiarkanmu jalan di depanku untuk menemukan apa yang kau inginkan. Aku tidak akan lagi mencoba untuk menghalangimu..”

Setelah mengaitkan satu kancing jasnya, Baekhyun mendongakkan kepalanya menatap Minjoo.

“..karena.. namaku pun tidak pernah ada di dalam hatimu, benar.. Minjoo-ya?”

Semuanya terasa salah di dalam sana. Minjoo tahu, hatinya sedang kembali membuat harapan itu dan Minjoo berusaha menahannya. Tapi.. apa maksud dari semua perkataan Baekhyun tadi?

Apa yang ia sebutkan dengan semuanya?

“Setelah kau melahirkan nanti, aku akan mengajukan sidang perceraian untukmu. Kau hanya perlu bertahan selama beberapa bulan lagi, lalu setelahnya kau bisa pergi kepada Luhan. Ah, jika kau ragu Luhan itu menyukaimu atau tidak, dia menyukaimu.” Perkataan Baekhyun terlampau santai meskipun Minjoo bisa mendengar nada suaranya yang sedikit ingin menangis, “Kau tidak perlu ragu untuk datang padanya, dia pasti akan menerimamu. Untuk masalah anak, aku pasti akan bertanggung jawab.”

Benar bukan, seperti yang Minjoo telah prediksikan. Air mata Baekhyun jatuh tanpa sepengetahuan pria itu.

“Selamat tinggal, Minjoo-ya. Aku harap, kau bisa hidup bahagia selama-lamanya. Terima kasih pernah menjadi temanku, sahabatku.. dan juga yang mengisi hatiku.”

“Meski pada akhirnya aku tidak bisa menepati janjiku untuk hidup bersama denganmu selamanya, aku tetap merasa bahagia bisa pernah hidup untuk waktu yang lama denganmu.”

“Terima kasih dan… selamat tinggal. Han Minjoo.”

Baekhyun pun melepas tangannya yang sedari tadi berada di pundak Minjoo. Perlahan, dia berjalan melewati Minjoo.

Minjoo tidak bisa membiarkan tanda tanya itu semakin membesar di kepalanya, maka dia langsung memutar tubuhnya dan memanggil Baekhyun.

“Apa maksudmu sebenarnya?” Minjoo berteriak kesal, “Apa maksudmu mengatakan itu semua, Byun Baekhyun!!”

“Bukankah itu sudah jelas!?” Baekhyun juga tak kalah merasa kesalnya dengan Minjoo,

“Bukankah semuanya sudah jelas kalau aku itu mencintaimu?!”

Minjoo membulatkan matanya dan jantung yang sudah retak itu entah kenapa seperti bangun dan sedikit menghangatkannya.

“Dari dahulu sampai sekarang.. dari pertama kita bertemu sampai detik ini.. hati ini masih terus bertulis namamu. Aku tidak pernah sekalipun mencoba untuk menggantinya, seperti yang kau ragukan mengenaiku dan Hyojoo noona..”

“Aku selalu mencintaimu, Minjoo-ya. Dari dahulu sampai sekarang.. perasaan ini tidak pernah berubah untukmu.”

“Aku hanya mencintaimu, Han Minjoo.”

Ini seperti harapannya yang berada di segitiga Bermuda telah datang lagi. Meski sudah tenggelam jauh di dasar, harapan itu naik kembali dan sampai di hatinya. Menyatukan semua harapan-harapan dan menumbuhkan harapan yang lainnya.

“Kau telah berhasil, Han Minjoo. Kau telah berhasil membuat balas dendam terbaikmu. Sekarang aku hancur, kau puas!?”

“Meski begitu.. aku tetap akan terus mencintaimu. Nyatanya, hati ini memang tercipta untukmu.”

Baekhyun pun kembali memutar tubuhnya dan berjalan meninggalkan Minjoo. Meninggalkan Minjoo yang tidak tahu harus berbuat apa setelah mengetahui isi hatinya, meski perasaan hangat dan menyesal itu telah muncul di dalam sana.

Ah, benar. Sekarang, penyesalan akan membuat kebohogan tadi telah muncul dan menggerogoti hati Minjoo.

❣❣❣To Be Continued❣❣❣

sarange14

-Baek’s sooner to be wife-

Advertisements

184 responses to “I Married To My Enemy [VIII] -by ByeonieB

  1. Benar 2 sedih kk liht keputusasaan baek. . Kngen romantis dan perthkrn mereka thor..Hyojoo juga sangat tertekan sekali.. Chanyeol?? Bagaimana keadaan Chan dan tanggapan Chan kpd hyojoo ?? Penasaran.s emngat Thor nim….

  2. Aaaarrggghh baper njjr greget banget sama hub baekjoo. Kenapa minjoo bilang kalo dia suka sm luhan pdhl itu bohong, kenapa juga baekhyun baru ngaku sama minjoo bilang dia suka sm luhaaaaaan omaygaaad greget bgt sumpah>_<

  3. nyesek bacanya ceritanya, sampai keikut nangis. jinjjah jinjjah jinjjah sakit hati aku sma critanya 😫 kumohon eonni jngan pisahkan mereka, aku ndak kuat bacanya, biar mreka bahagia eonni.
    daro awal mereka sdah slah paham dan sekarang sdah tau perasaan baekhyun tnggal minjoo mau bersikap seperti apa sma baekhyun. aku hrap dg pengakuan baekhyun,minjoo jadi sadar dan ungkapin juga prasaannya ke baekhyun😫😫😫
    next chap aku tunggu eonni, hwaighting!!!

  4. Minjoo ya..Kebohongan mu jadi bumerang untukmu 😭 kenapa kamu meragukan cinta Baekhyun oppa waee??Waeee?? Arrghhhh kok salah faham Mulu sih..😬😬 Baek juga masak nggak peka kalo cewek kayak gitu pasti ada apa² . Komunikasi nya mas… 😡😡 Gregettt…
    Jangan jadiin luhan orang ke 3 please🙏 dia terlalu tampan buat jadi PHO..
    Nggak tega Baekhyun menangis pengen deh mengusap air matamu mas😘

  5. Autho, Chapter 9 nya kapan di upload nya ya ? Penasaraaan bgtttss sma klanjutan ceritanya , pleeease, jgn lama2 ya, udah nunggu tiga hari. He he. Soalnya bikin bapeer bgtt .. Jdi galau nih ,mkirin baekhyun sama minjoo .. !! Terus berkarya ya author . good job !!

  6. aslinya bikin mewek baper sanfat lah.
    itulah akibatnya kalau sama2 gengsi dan bertahan dengan yang namanya harga diri.
    semoga dan semoga chap selanjutnya masalah udah clear semua dan gak banyak melow2 nya 😀

  7. baper thor… mereka cuma salah paham tpi ceritanya bisa sepanjang ini dan pengemasan certitanya itu bagus😖😖 bikin mewek… ditunggu selalu lanjutannyaaa

  8. Tuch kan..minjoo knp ngebohong sich..skrg gmn coba udh tw perasaan barkhyun yg sebener y..mereka tuch knp g jjr adja satu sama lain..ahduhhhh…hyunjoo juga gmn yah kasian…

  9. Pingback: SAY KOREAN FANFICTION·

  10. bisa jadi salah oaham begitu sich
    duhhh siapa bisa nyatuin duan manusia yang sama” egois danmkeras kepala menahan ego masing”

  11. Hadeh gak tau dah mesti comment apa, udh lelah baper-,-.. Baekhyun-Minjoo jngan pisah please, huhuhuhu.. jujur sama perasaan masing2 aja susah amat, buat mereka bahagia authornim

  12. Aaaaaaaaa… 뭉ㅈㄷ….
    Astaga gw kayak baru putus cinta baca part yang ini, chingu kau harus bertanggungjawab bikin mataku sembab ditengah malam gelap gulita???

  13. Thor kngen nih kapan ngeposting lnjutan ceritanya ? Pada tanggal 28 Jan 2017 01.53, “SAY KOREAN FANFICTION” menulis:

    > ByeonieB posted: ” I Married To My Enemy ByeonieB©2017 “His Heart.” Main > Cast:: Baekhyun of EXO as Byun Baekhyun, OC/You/Readers as Han Minjoo || > Additional Cast:: LuHan (Singer) as Luhan, Han Hyojoo (Actress) as Han > Hyojoo, Chanyeol of EXO as Park Chanyeol, Sehun of EX” >

  14. Okay dichap ini ku mau bilang slamat buat yubi ma sehun akhirnya cinta mereka terjawabkan! Dan buat chan ma hyo oh! Please jgn sadending hiks sakit bget tau! Apa lg hyo yg depresi! Appa hyo harus tau diri! Dan buat lulu aduh! Lulu semangat yh ternyata km ga sejahat itu di ff ini~ dan Minjoo yg lg hamil chukkae,aduh efek ibu hamil gtu kali yh mikirnya kemanamana dan jadinya gtu deh bikin baek ma dirinya pusing sndiri! Hahaha gogo next chapter! Biar semuanya terjawabkan!

  15. Andwaeee jngan tinggalkan aku juga mencintaimu baek eh salah maksudnya minjoo 😭😭 kirain tuan Ahn bukan tipe yg mempermasalahkan harta ternyata dugaanq slah 😌 jalan hidup mereka belibet banget sedih akutuh jngan pisahin baekminjoo terlalu lama 😪😪

  16. AHHHHH GILAAA GILAAA GAKUAT BACA INI NANGISSSS BENERAAANNN😭😭😭😭😭
    parah sih bener2 perasaan campur aduk kirain minjoo bakal maafin baekhyun yg udah seneng2 jadi ayah…. taunya….😣💔
    damnnnn moment, why did it all seems wrong urgh!!! sumpah… kenapa semuanya jd sedih gini :((((
    parah sih trs baekhyunnya ngeiyain aja si minjoo gitu, bukannya dipeluk atau gmn :”((
    paling baper sih pas di kamar tidur damn it i literally crying :(( pas bgt lg denger lagu sedih juga :”((
    SHIT PART TERAKHIR GITU AMATT 😭😭😭
    gaboleh cerai pls berdua stay ajaahhh :((
    aduuu kak i give up deh aku banyak ngelewatin part yg harus dibaca grgr gakuat beneran😭
    best chapter bgt but it freakin hurts mehh!!

  17. Iya! AKU SETUJU DENGAN BAEKHYUN KALO MINJOO ITU FOOL! Pake banget! Dan Baekhyun 2 kalinya Minjoo trus tambah gila! Kesel bgt aku!
    Kakak sih! Seneng bgt buat aku nangis dari zaman ‘THE SUN’! Dan aku ga terbiasa meskipun begitu. Heran deh kay!

    Yeogineun
    Dikanasly (:

  18. Dua dua nya sama-sama ga mau jalan njir -_- apasih susah jujur dan saling terbuka? Kenapa minjoo nethink ke baek tanpa klasifikasi dulu ke baek? Kenapa musti boong kalo dia suka luhan??? Aagghhrr ini feelnya dapet banget thorr:'(

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s