Between US – “Hatred” | QueenX

Between US

“Hatred”

poster

Author

QUEENX

 

 

Genre : ROMANCE, FLUFF, SCHOOL LIFE

 

 

Main Cast :

OH SEHUN

KIM YOOJUNG (OC)

 

Length : Chaptered (Less than 3k Words)

 

Rating : PG

 

 

 sebelumnya di BETWEEN US

 

.

 

***.

All in Author’s POV

.

“Oh astaga, baru kutinggal sebentar dan kalian sudah selengket lem dengan perangko seperti ini.”

Tiba-tiba saja suara Nyonya Kim mengacaukan suasana romantis yang baru saja tercipta antara Sehun dan Yoojung. Keduanya langsung saling memisahkan diri dan pura-pura sibuk dengan ponsel mereka masing-masing.

“Hahaha, ada-ada saja kalian berdua ini. Jung-ah, kemari, ibu membawakan kalian berdua makanan ringan.” Panggil Nyonya Kim kemudian berjalan menuju ke dapur disusul dengan langkah Yoojung. Sehun pun membuntuti kekasihnya dari belakang.

“Apakah ada yang bisa kubantu bibi?” tanya Sehun kemudian menghampiri ibu Yoojung.

“Emm, ini…kau atur ini di dalam kulkas, ya? Oh ya Jung-ah, apakah ayahmu belum pulang?”

“Ibu, jika ayah sudah pulang, tidak mungkin aku dan Sehun bermesraan seperti tadi di ruang tengah.” Timpal Yoojung yang mengundang tawa ibunya dan membuat pipi Sehun merona merah karena merasa malu dengan pernyataan Yoojung yang terlalu blak-blakan.

“Aigooo, lihatlah Sehun, dia pasti sedang menahan malu karena ucapanmu barusan, Jung-ah.” Goda sang ibu.

*

“Seulgi, bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?” tanya Monalisa ketika ia mendatangi klinik Seulgi.

“Bertanya tentang apa?”

“Kau dan…kak Hoseok.”

Seulgi yang tadinya memberi senyuman ramah untuk Monalisa tiba-tiba saja memasang eskpresi kurang mengenakkan namun memaksakan senyumnya kemudian mengangguk.

“Tapi…jika itu mengganggumu, kurasa aku tidak akan menanyakannya. Maaf.”

“Tidak apa-apa, Lisa. Tanyakan saja. Lagipula terapimu juga sudah selesai, kita juga jarang saling berbagi hal pribadi meski aku sudah dua tahun menjadi dokter pribadimu, bukan?”

Monalisa kemudian tersenyum dan mengangguk cepat, “Emm, setelah tidak berhubungan denganmu, kakakku tidak berhubungan dengan wanita manapun lagi. Entahlah tapi mungkin kurasa ia masih mengharapkan kau kembali ke sisinya Seulgi-ya.” Ucap Monalisa hati-hati.

“Aku rasa tidak. Maksudku, aku sudah terlalu menyakitinya, aku lebih memprioritaskan pekerjaanku daripada dirinya. Aku bahkan mengakhiri hubungan kami secara sepihak demi mendapatkan gelar masterku di Australia. Aku rasa, bahkan hanya sekedar menjalin hubungan pertemananpun Hoseok tidak akan melakukannya karena ia masih sakit hati dengan sikap egoisku terhadap hubungan kami.” Jelas Seulgi panjang.

“Apakah kau tidak pernah mencoba untuk meminta maaf padanya?”

“Aku sudah mencobanya, Lisa. Terlalu sering melakukannya hingga membuatku lelah. Kurasa, hubunganku dengan Hoseok pada akhirnya memang lebih baik begini. Aku selalu berharap ia segera mendapatkan penggantiku, tapi…sepertinya aku yang masih belum bisa melepas bayang-bayangnya dari hidupku.” Tutur Seulgi jujur.

Monalisa tersenyum kemudian menepuk pundak Seulgi, “Kak Hoseok adalah pria yang baik dan pemaaf, ia pasti sudah memaafkanmu sejak jauh-jauh hari, mungkin hatinya masih terluka, tapi aku yakin, lama kelamaan ia akan luluh dan memaafkanmu. Batu karang di lautan lepas saja bisa terkikis oleh ombak, apalagi hati manusia.” Ujarnya sedikit melegakan hati Seulgi.

*

Yoojung melangkah malas keluar dari rumahnya, ia masih ingin berlama-lama dengan Sehun di rumah, tetapi ibunya malah menyuruhnya untuk pergi ke minimarket untuk membeli sekaleng acar. Bisa-bisanya ibunya lupa untuk membeli padahal acar sudah tertulis dalam daftar belanjaannya di posisi paling atas.

“Mengapa juga Sehun lebih memilih menemani ibu memotong bawang!? Sejak kapan ia ahli dalam urusan dapur? Ih, menyebalkan.” Gerutu Yoojung sepanjang perjalanan menuju ke minimarket.

Setiba Yoojung di minimarket, ia langsung menuju ke bagian sayuran untuk mencari acar yang dipesan oleh ibunya.

“Permisi nona, ada yang bisa saya bantu?” tiba-tiba seorang pramuniaga datang menghampiri Yoojung.

“Ah, bisakah kau mencarikan acar dengan merk ini?” Yoojung langsung menyodorkan kertas yang bertuliskan merk acar yang biasa dibeli oleh ibunya.

“Ah, kebetulan sekali. Stoknya baru saja datang, tunggu sebentar ya nona, akan saya ambilkan.”

Yoojung menjawab dengan anggukan. Matanya melirik kesana kemari sambil menunggu acar yang ia cari dibawakan oleh sang pramuniaga. Tiba-tiba saja pandangannya tertuju pada lemari pendingin berisi puding dan es krim. Tanpa menunggu waktu lama, ia langsung melesat menuju lemari pendingin tersebut.

Ketika Yoojung akan membuka pintu lemari pendinginnya, secara tidak sengaja tangannya berpegangan dengan tangan seseorang. Keduanya langsung sama-sama mengangkat tangan mereka dan saling menatap terkejut.

“K-kau!?” terdengar suara pria yang terkejut ketika melihat Yoojung.

“T-tuan tampan yang baik hati?” balas Yoojung ikut terkejut.

“Tuan apa tadi katamu?” pria yang ternyata adalah Hoseok nyaris tertawa ketika mendengar Yoojung memberinya panggilan ‘Tuan tampan yang baik hati’.

“A-ah emm, maksudku—”

“Jung Hoseok, panggil saja aku Hoseok.” Potong Hoseok cepat. Yoojung membuka mulutnya dan mengangguk.

“Ma-maaf Tuan Hoseok.”

“Hoseok saja, tidak perlu ada embel-embel tuan.” Imbuhnya.

Yoojung mengangguk lagi, “K-kau mau mengambil puding?” tanyanya.

“Ya, kau juga?” tanya Hoseok kembali yang dijawab anggukan kepala Yoojung.

“Mau rasa apa?” Hoseok membukakan pintu lemari pendingin untuk Yoojung.

“Emm…mangga.” Jawab Yoojung sambil tersenyum.

“Kau suka rasa mangga?” tanya Hoseok terkejut.

“Emm i-itu kesukaan kekasihku, a-aku lebih suka rasa nanas.” Jawab Yoojung.

Hoseok mengangguk lalu tersenyum, “Kalau begitu selera kita berdua sama. Aku juga suka puding nanas. Adikku yang lebih menyukai puding mangga, sama seperti kekasihmu.”

“Permisi, nona.” Tiba-tiba saja pramuniaga yang Yoojung tunggu, datang diantara Hoseok dan Yoojung.

“Ah, iya?”

“Ini, acar yang anda cari. Ada lagi yang bisa kubantu?”

“Ti-tidak. Terima kasih.”

“Sama-sama, nona.”

Hoseok masih berdiri disana sambil memegang kotak puding mangga di tangannya, begitu pula dengan Yoojung.

“A-emm t-tuan emm maksudku Hoseok, emm kak Hoseok, hehe. A-aku…aku permisi dulu.”

“O-oh ya, hati-hati.”

Keduanya saling menunduk memberi hormat dan berjalan berlawanan arah. Yoojung ke meja kasir, sementara Hoseok berjalan menuju ke bagian tempat buah-buahan. Namun matanya masih tertuju pada Yoojung yang sudah selesai membayar di meja kasir. Setelah Yoojung pergi, buru-buru Hoseok berlari menuju meja kasir untuk membayar puding yang ada di tangannya dan langsung keluar dari minimarket tersebut untuk melihat kemana Yoojung pergi.

“H-hey! Nona! Nona puding mangga!” panggil Hoseok namun Yoojung tak mendengarnya yang berbelok dan menghilang dari pandangan Hoseok.

Hoseok mengacak rambutnya gemas, “Haish, aku lupa bertanya siapa namanya.” Gerutunya lalu berjalan menuju ke tempat dimana mobilnya ia parkirkan.

*

“Puding mangga?”

“Kau suka mangga, kan?”

Monalisa menatap heran kakak tirinya yang tiba-tiba datang mengacaukan kegiatan melukisnya dan membawakannya puding mangga dengan jumlah yang sangat banyak. Dia memang suka mangga. Tapi dia tidak semaniak itu. Ada apa dengan kakaknya hari ini?

“I-iya sih, kak.”

“Aku membelikannya di minimarket di dekat kantorku. Kebetulan stoknya masih banyak, jadi kuborong semua untukmu.” Ucap Hoseok sambil tersenyum.

“Kau terlihat bahagia sekali hari ini, kak. Apakah perusahaanmu sedang mengalami keuntungan yang besar bulan ini?” tanya Monalisa heran lalu menaruh kuas di sisi meja dan membersihkan tangannya dari cat air kemudian membuka satu bungkus puding dan melahapnya.

Hoseok masih tersenyum lalu menggeleng, “Entahlah, tiba-tiba saja aku jadi bahagia setelah membelikanmu puding ini. Bagaimana rasanya?”

“Ya, rasa mangga. Tidak mungkin karena kau bahagia berubah jadi rasa apel, kan?” balas Monalisa. Membuat Hoseok tertawa.

“Sebenarnya ada apa denganmu, kak? Apakah kau baru saja memenangkan undian?” tanya Monalisa masih penasaran. Kakaknya memang tipikal pria yang tak pernah memasang wajah sedih sekalipun ia sedang dilanda banyak masalah, tetapi kakaknya hari ini terlihat terlalu bahagia dan malah membuatnya khawatir.

“Apa pendapatmu jika aku mulai percaya dengan mitos yang pernah kau ceritakan padaku beberapa hari yang lalu?”

“Mitos yang man—oh pertemuan secara tak disengaja itu?”

Hoseok menjawabnya lewat anggukan kepala.

“Kak…”

“Ya adikku sayang?”

“Kau…tidak sedang jatuh cinta, kan?” tanya Monalisa hati-hati.

Sementara Hoseok lagi-lagi hanya menjawab lewat senyuman dan mengusap puncak kepala adiknya kemudian berdiri dari duduknya.

“Ngomong-ngomong, apa yang sedang kau lukis?” tanya Hoseok mengamati kanvas yang ada di hadapan Monalisa.

“Mengapa semuanya berwarna merah?” tanya Hoseok bingung.

Monalisa hanya tersenyum kecil, “Entahlah, mungkin karena aku bosan terus melukis pelangi.”

“Kau…” Hoseok dengan segera menyentuh lukisan milik Monalisa yang masih basah, “…i-ini…Monalisa, kau sudah meminum obatmu?” tanya Hoseok tiba-tiba.

“Sudah, kak. Kau tidak perlu khawatir. Aku selalu minum obat tepat waktu.”

“Istirahatlah. Cukup menulis novel, kau tidak perlu melukis lagi. Akan kurapikan semua ini, segera naik ke atas kasurmu.”

“Kak, aku baik-baik saja. Kau tidak perlu—”

“AKU TIDAK PERLU APA MONALISA!? INI DARAH! KAU MELUKIS MENGGUNAKAN DARAH DARI HIDUNGMU, KAN!? KAU GILA!? KEMBALILAH KE KASURMU ATAU KUBAKAR SEMUA LUKISAN YANG ADA DI DALAM KAMARMU!” gertak Hoseok yang seketika membuat air mata Monalisa berlinang.

*

Lagi-lagi menjadi penghuni rumah sakit. Sudah terlalu bosan Monalisa menjalani hidup sebagai pasien di rumah sakit. Kehidupannya menjadi terbatas sejak ia divonis menderita penyakit kanker. Semuanya tidak terasa sama lagi, rasanya kebahagiaan dan hidupnya sudah tidak ada artinya lagi. Ia tetap merasakan ada yang kosong di dalam hatinya meski ia mendapatkan perhatian yang berlimpah dari ayah kandung, ibu tiri bahkan kakak tirinya.

“Kak Seulgi.” Panggilnya ketik Seulgi baru selesai mengecek kesehatannya pagi ini.

“Hm?”

“Kapan aku bisa pulang?”

“Aku bisa saja memulangkanmu saat ini juga, tapi aku sedang tidak mau berdebat dengan Hoseok untuk sementara waktu. Maafkan aku, Lisa.”

“Kak Hoseok itu…apakah dia seperti itu juga saat kalian masih berhubungan denganmu?” tanya Monalisa hati-hati.

Seulgi tersenyum lalu mengangguk, “Dia kakak yang protektif, kan? Sejujurnya aku iri denganmu, sudah lama aku tidak merasakan perhatian yang berlebihan darinya. Andai saja kita bisa bertukar posisi. Aku rela meski harus terus sakit-sakitan dan dilarang ini itu olehnya.” Balas Seulgi.

“Kau rela, kak? Aku bahkan lebih baik mati saja daripada harus menjalani segala jenis terapi menyebalkan ini. Hidupku semakin tidak bebas dan selalu dililit oleh selang-selang ini.” Gerutu Monalisa yang mengundang tawa kecil Seulgi.

“Kalau begitu istirahatlah. Jika kondisimu bisa segera kembali fit, kau akan kuizinkan pulang. Aku pergi dulu, ya?”

Monalisa mengangguk kemudian memejamkan matanya.

*

“Kau yakin dia dirawat disini?” tanya Sehun pada Yoojung.

Yoojung yang sedang sibuk mengatur poninya mengangguk dan menggandeng Sehun menyeretnya menuju ke meja resepsionis.

“Permisi.” Sapa Yoojung pada salah seorang perawat yang sedang berjaga disana.

“Selamat siang, nona. Ada yang bisa saya bantu?”

“Boleh aku tahu ruangan pasien atas nama Jung Eunji?”

“Sebentar ya, nona…ah ruangan nona Jung Eunji ada di lantai lima kamar nomor delapan puluh tiga.”

“Ah, ya. Terima kasih.”

Yoojung baru saja mendapatkan kabar dari teman sekelasnya kalau teman sebangkunya Eunji hari ini dilarikan ke rumah sakit karena memiliki masalah pencernaan. Sebenarnya Sehun enggan menemani Yoojung ke rumah sakit, ia paling benci bau obat-obatan, tetapi karena Yoojung merengek dan mengadu pada ibu Sehun, dengan terpaksa Sehun menemaninya ke rumah sakit.

“Aku tunggu di luar saja, ya?”

“Aish, kau ini. Masuk saj—”

“Kau saja yang masuk. Aku kan tidak kenal siapa Jung Eunji.” Balas Sehun ketika ia dan Yoojung sudah berdiri di depan pintu masuk ruangan Eunji dirawat.

“Ayolaaah, kali ini saja.”

“Sekali tidak ya tidak. Sampaikan saja salamku padanya.”

Ih, kau ini. Ya sudah, nanti kalau aku sudah keluar, aku akan menghubungimu.”

“Aku tunggu di kantin rumah sakit saja. Aku tidak kuat berada disini, bau obatnya sangat menyengat.”

“Tentu saja rumah sakit bau obat. Kalau bau busuk berarti kau sedang berada di tempat pembuangan sampah!”

“Sudah sana masuk, dasar cerewet!”

Sehun mendorong Yoojung masuk ke dalam ruangan Eunji dirawat dan kemudian berjalan pergi menjauhi lorong rumah sakit tersebut.

*

Karena merasa bosan berada di dalam ruangannya, Monalisa memutuskan keluar dari kamarnya dengan menaiki kursi roda. Ia masih merasa pusing jika harus berjalan kaki. Ia melihat wajahnya sekilas di cermin, ia tampak terlihat pucat, wajahnya berubah menjadi masam.

“Aku benar-benar terlihat buruk tanpa make up. Kemana perginya kak Hoseok? Ia bilang ia akan datang jam dua. Ini sudah jam tiga dan ia belum datang juga.” Gerutu Monalisa lalu membuka pintu kamarnya dan mendorong maju kursi rodanya untuk keluar.

Monalisa sedikit kepayahan saat berniat menutup pintu ruangannya, tangannya tidak dapat meraih gagang pintu namun tiba-tiba sebuah tangan membantu menutup pintu kamarnya.

“Oh, terima kasih—oh…kau?” ucap Monalisa terkejut ketika melihat Sehun yang juga sama terkejutnya memandang dirinya yang tengah duduk di kursi roda.

Sehun mengangkat kepalanya dan melihat ke sekelilingnya. Tidak ada siapapun di lorong tersebut. Ia kemudian kembali melihat Monalisa yang masih menatapnya.

“Kau sendiri saja?” tanya Sehun.

Monalisa tersenyum kecil, ini pertama kalinya ia bertanya padaku, batinnya. Monalisa kemudian menganggukkan kepalanya.

“K-kau…sedang apa kau disini?” tanya Monalisa kemudian.

“Apakah kau harus mengetahuinya?” jawab Sehun dingin, seperti biasa. Membuat Monalisa seketika mengatupkan bibirnya.

“Kau mau kemana?” tanya Sehun kemudian.

“A-aku…aku merasa bosan berada di dalam sana, ja-jadi aku ingin keluar sebentar ke taman.”

“Oh.” Jawab Sehun singkat lalu berjalan mendahului Monalisa.

Cih, pria itu. Ia bahkan tidak menawarkan diri untuk sekedar mengantarku ke taman. Apakah dia sedingin itu pada perempuan lain selain kekasihnya? Batin Monalisa lagi.

Namun ketika akan mendorong ban besar pada kursi rodanya, Monalisa sedikit kesulitan karena ban kecil di depannya tersangkut sesuatu yang membuatnya sulit untuk mendorong maju kursi roda tersebut.

“Aish, kenapa lagi sekarang.” Gerutunya lagi.

Sehun yang sudah melangkah jauh di depan, memutuskan untuk membalikkan tubuhnya ketika mendengar gerutuan Monalisa. Sekalipun dia pria yang terkenal dengan julukan si hati batu, setidaknya ia masih menyimpan secuil sikap kemanusiaannya. Jadi, dengan terpaksa—sepertinya—ia melangkah kembali ke tempat Monalisa berada dengan kursi rodanya yang bermasalah itu.

“Duduklah dengan benar, akan kubawa kau ke taman.” Ucap Sehun lalu memegang pegangan kursi roda milik Monalisa dan membawanya menuju ke pintu lift.

“M-maaf selalu me—”

“Bagus kalau kau tahu kau merepotkan orang di sekitarmu.” Potong Sehun.

“K-kau…sendiri saja datang kesini? Tidak bersama dengan—”

“Aku hanya sekedar menolongmu untuk sampai ke taman. Jadi apapun pertanyaan yang kau ajukan padaku tidak akan kujawab.” Potong Sehun lagi.

“M-maaf.”

“Berhentilah berkata maaf. Kupingku sakit sejak tadi mendengar kata maaf darimu.”

Monalisa menutup rapat bibirnya. Sepertinya Sehun memang tipikal orang yang sulit untuk didekati, meski hanya sekedar ingin menjadi temannya. Tapi, bukan berarti Monalisa takut padanya, hal ini semakin membuat Monalisa merasa penasaran. Sebenarnya apa motif dibalik sikap dinginnya. Apakah itu hanya berlaku pada dirinya? Atau pada orang lain yang asing di matanya.

Setelah mengantar Monalisa sampai di taman rumah sakit. Sehun duduk sebentar di bangku taman. Membiarkan Monalisa menahan ucapan terima kasihnya pada Sehun untuk sementara waktu sementara Sehun mengeluarkan ponsel dari sakunya dan menghubungi seseorang.

“Oh, masih di atas? Masih lama? Aku akan menunggumu di taman rumah sakit. Kalau sudah selesai datang saja kesini.”

“…”

“Ya, kau mau makan dimana?”

“…”

Jjampong lagi? Kau tidak bosan? Carilah menu lain.”

“…”

“Aish, iya, iya. Kau bahagia sekarang? Cepat! Jangan terlalu lama, perutku sudah berbunyi sejak tadi.”

“…”

“Ya, ya, sampaikan salamku padanya. Ya, bye.”

Sehun mengakhiri panggilannya kemudian mengalihkan pandangannya pada Monalisa yang tengah menatapnya.

“Ah, iya. Terima kasih sudah mengantarku kemari.” Ucap Monalisa yang dijawab dengan anggukan kepala Sehun.

“Kakakku, dia sangat suka jjampong. Kau dan temanmu harus mencoba jjampong yang ada di dekat rumah sakit ini. Kata kakakku rasanya sang—”

“Kau menguping pembicaraanku di telepon?” selidik Sehun.

Monalisa tersenyum kecil, “Maaf, a-aku hanya berniat untuk merekomendasikan jjampong terlezat di sekitar sini saja. Siapa tahu, temanmu itu suka.”

Sehun menatap Monalisa lama, membuat Monalisa salah tingkah kemudian menunduk malu, “Sudah berapa lama kau dirawat disini?”

“Y-ya?”

“Wajahmu terlihat sangat pucat, apakah kau menderita penyakit parah?”

Ia bahkan memperhatikanku dengan sangat baik. Oh-astaga…apa yang baru saja kau gumamkan Monalisa? Dia sudah memiliki kekasih! Kau tidak boleh terpesona pada dirinya. Dia pasti hanya sekedar berbasa-basi padaku sambil menunggu temannya. Batin Monalisa lagi.

“Aku tidak sedang berbicara dengan batu, kan? Mengapa diam saja?”

“A-emm i-itu, aku—”

“Monalisa! Apa yang kau lakukan disini?” tiba-tiba datang Hoseok yang menghampiri Monalisa.

“Kakak?” ujar Monalisa terkejut.

Tatapan mata Hoseok bertemu dengan Sehun, “Oh…kau?”

Sehun langsung berdiri dari duduknya dan menunduk hormat pada Hoseok, “Apa kabar?”

“Apakah kau menjenguk adikku?” tanya Hoseok kemudian.

“Tidak. Aku menemani seseorang kemari untuk menjenguk temannya.” Jawab Sehun.

“Iya, kak. Dia hanya membantuku turun dari lantai atas menuju taman.” Sambung Monalisa.

“Bukankah kau harus beristirahat full di ruanganmu? Aish, apakah Seulgi tidak memberikanmu perawat untuk membawamu kemari? Mengapa harus merepotkan orang lain?” gerutu Hoseok.

“Bukan begitu, kak.”

“Tidak apa-apa, lagipula kebetulan aku juga akan menunggu-ah, maaf, aku harus mengangkat telepon dulu.” Sehun langsung mengangkat panggilan dari ponselnya.

“Ya, kau dimana?”

“…”

“Iya, aku masih di taman. Oh, aku melihatmu, disini, di dekat air mancur!” Sehun mengakhiri panggilannya dan melambaikan tangannya pada Yoojung yang langsung berlari menghampirinya.

“Kupikir kau di-eh? Monalisa? Hoseok? Kalian berdua ada disini juga?” tutur Yoojung terkejut.

Monalisa tersenyum kaku, begitupula dengan Hoseok.

Mereka selalu bersama. Bodohnya aku, bagaimana bisa aku menyangka kalau Sehun sedang bersama temannya tadi. Batin Monalisa.

“Sudah selesai? Bagaimana keadaan Eunji?” tanya Sehun tak mengindahkan sapaan Yoojung pada kedua kakak beradik di depannya.

“Dia sudah bisa pulang besok. Sepertinya ia hanya keracunan makanan. Oh iya, sepertinya kedai jjampong di dekat sini tutup. Bagaimana kalau kita mencari kedai lainnya saja?” tanya Yoojung lalu menggandeng lengan Sehun.

“Kau sudah melihatnya?”

“Umm, kata ibu Eunji kedainya tutup sejak pagi. Oh iya, tunggu dulu, kalian bertiga bertemu disini? Ih, Sehun! Mengapa kau tidak bercerita padaku kalau ada Monalisa disini!?” gerutu Yoojung kemudian.

“Apakah itu penting?” tanya Sehun malas.

“Tentu saja penting! Oh iya, Monalisa…kau baik-baik saja? Apakah kau sakit? Apakah kau dirawat disini? Oh astaga, kau terlihat pucat, apakah dia baik-baik saja?” tanya Yoojung bertubi-tubi pada Hoseok, membuat Hoseok tertawa, Monalisa pun sampai menggeleng kebingungan dengan pertanyaan yang dilemparkan Yoojung padanya.

“Kau akan membuatnya semakin sakit jika terus bertanya seperti itu. Ayo kita pergi, kami permisi dulu.”

“Sehun! Aku bahkan belum lama bertemu dengan mereka. Aish, oh iya…bukankah ini sesuatu yang menakjubkan? Akhir-akhir ini aku sering dipertemukan dengan kalian. Pasti ada takdir yang terhubung diantara kita bertiga, bukan begitu Hun-ah?”

“Diamlah. Jangan mengada-ada. Ayo kita pergi, kami permisi dulu. Maaf kalau dia terlalu berisik.” Potong Sehun.

“Ah, iya, tidak apa-apa. Hati-hati di jalan kalian berdua.” Balas Hoseok.

“Monalisa, cepat sembuh, ya! Fighting! Sampai jumpa di lain kesempatan! Ah, kapan-kapan kita berempat harus makan jjampong bersama, ya?”

“Aish kau ini, ayo cepat pergi! Jangan berisik! Kita sedang ada di rumah sakit, Jung-ah!”

Yoojung dan Sehun kemudian berjalan pergi, meninggalkan Monalisa yang kembali diam dan Hoseok yang masih tertawa melihat kelucuan yang ada pada diri Yoojung.

“Menyenangkan bukan bisa mengenal gadis seperti dirinya?” ucap Hoseok lalu mendorong kursi Monalisa untuk kembali ke dalam ruangannya.

Entahlah, hanya saja…semakin sering bertemu dengan gadis itu, membuatku tidak senang. Apalagi saat melihat keakrabannya dengan Sehun. Monalisa hanya bisa membatin sambil meremas kedua tangannya.

T B C

SORRY FOR TYPO(s)

 

Advertisements

27 responses to “Between US – “Hatred” | QueenX

  1. sehun ama yoojung pasangan yg cocok bgt…sama2 cerewet klo berduaan…jgn smpai ada ‘sesuatu’ d blik prtemuan Sehun n monalisa…Dan hoseok kyakx udh mulai suka ama yoojung….makin pnsaran ama ceritanya…d tunggu next chapterx….

  2. HWA……..gokil deh,lucu banget tuh…..memang bener kali ya ada tali takdir diantara mereka berempat….kayakx ini mmng pasangan y tertukar deh(lah koj mlh hedukung)Ga mungkin….Oh iya kan semua pasangan itu ga harus mmpunyai kesukaan y sama Hihihi

  3. Aih ko aku jadi sebel sama monalisa yak 😂 jangan rebut Sehun dari yoojung plissss 😆 si sehun untung cool yak. Duh ngeri ngebauangin hubungan sehun sama yoojung hancur grgr si monalisa itu. Next ya kaa

  4. monalisa kok gitu sihh ih sebel aku sama lisa , jangan2 hoseok suka jg lagi sm yoojung .
    pkoknya sejung shipper forever aku mahh , apapun yg trjadi mreka berdua hrus ttep barengan . ngeri sndiri kalo smpai kbahagiaan sejung trganggu gara2 lisa .

  5. Hwaaaaa jangan sampai yoojung berkorban buat monalisa dan ngerusak hubungan sejung, gue takutnya ff ini bakalan sad ending, tapi moga aja ngga 😁

  6. Jangan sampe hub sehun sama yoojung rusak gara2 tu PHO ga rela…
    Suka liat sehun sma yoojung mesra2 depan kakak adik itu wkwkwk

  7. Pingback: Between US – “Fake Smile” | QueenX | SAY KOREAN FANFICTION·

  8. sehun jutek bukan krna takut jatuh cinta ke yg lain kan ? huhu cukup gatel juga baca sehun yoojung lisa heoseok yg sering bertemu. bisa jadi ada benih2 cinta kaan. uwaah. sungguh sungguh deh ini cerita. sehun ttp sama yoojung kan yaaah

  9. Kayanya sehun benci sama monalisa, kayanya dulu ada hubungan sesuatu (sok tau wkwkw). Izin baca ya kak…

  10. Hape gua baru jadi ni abis diservis ga ucul kan kalo gua banting tayy-_- itu mbak mon dibilang gosah ganggu gosah nikun dihh
    Sebel gua ketemu mele gada yang lebih penting daripada ketemu mbak mon yaaa
    Sebel bagt dahh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s