If We Love Again: The Hidden Love

if-we-love-again

Poster by ALKINDI DESIGN

Previous:

Desire of Heart  – Still Remember You – That Was Love – All The Memories

Twelveblossom (twelveblossom.wordpress.com) | Wattpad: twelveblossom Sehun, Jung Nara, Park Chanyeol, and Olivia Kim │ PG 15 │Hurt/Comfort & Romance │ Series │Track List Project

“Do you still love me? A heart full of love can’t be hidden.” ―For You, Chen, Baekhyun, and Xiumin (Ost. Scarlet Heart Ryeo)

-oOo-

“Apa yang kau lalukan padanya?!” pekik Liv, ketika dia membuka pintu apartemen milik Sehun. Wanita itu bahkan baru saja hendak beristirahat, namun dikejutkan oleh Sehun yang sedang membopong Nara.

Sehun enggan mengindahkan suara Liv, pria itu bergegas masuk, menuju kamarnya. “Apa Dokter Kim sudah kau hubungi?” tanya Sehun, nadanya tergesa.

“Kenapa Nara seperti itu? Dia pingsan? Kau apakan dia? Kau sudah gila ya, Sehun―” ucapan Liv terpotong karena Sehun menatapnya dengan tajam. Gadis itu sontak menghela napas, ia tahu seluruh tanda tanya yang ada di benaknya tak akan terjawab selama Sehun belum mendapatkan balasan. “Suho dalam perjalanan kemari,” ucap Liv.

Sehun mengangguk. Dia membaringkan Nara di ranjangnya. Pemuda itu menyelimuti si gadis, lalu mengusap puncak kepala Nara penuh sayang. “Alerginya kambuh, tapi tidak parah. Jadi, aku membawanya kemari,” jelas Sehun pada Liv.

“Apa aku perlu menghubungi keluarganya?” tanya Liv. Wanita itu berpikir sejenak. “Ah, Chanyeol perlu tahu mengenai ini―”

“―Jangan berikan kabar apa pun padanya.”

“Tapi, dia pasti khawatir,” lagi-lagi Liv menggantung ucapan, saat paras Sehun mengeras. “Oke, baiklah, terserah. Jung Nara milikmu, lakukan yang kau inginkan. Tapi, awas saja kalau sampai terjadi sesuatu padanya,” lanjut Liv, ia keluar dari kamar itu.

Selang sepuluh menit dokter pribadi Sehun datang, kemudian memeriksa kondisi si gadis. Sementara Sehun mengawasi, ekspresinya datar, kendati demikian pikirannya sedang cemas. Sebenci apa pun dia pada Jung Nara, pria itu tetap tak menginginkan sesuatu yang buruk terjadi pada sang gadis. Pemikiran itulah yang membuat Sehun merasa tidak waras. Seharusnya, dia justru bahagia melihat Nara tumbang, bukan malah menolongnya, apalagi ikut cemas.

“Selain alergi, dia juga kelelahan dan stres. Aku menyarankan agar Jung Nara istirahat selama beberapa hari,” kalimat itu diucapkan Suho ketika dia mengakhiri pemeriksaannya. Dokter itu pun beranjak dari kediaman Sehun setelah memberikan perawatan lebih lanjut pada Nara.

Sehun tetap berada di samping Nara. Ia mengawasi si gadis, berjaga sembari sesekali mengusap kening Nara. Sehun berulang kali menghela napas, ketika maniknya mengamati selang infus yang terpasang pada tubuh mantan kekasihnya. Seolah dapat menyembuhkan, Sehun menggenggam tangan Nara. Ia meremasnya lembut, sesekali mengecup punggung tangan si gadis. Ia membiarkan hatinya menggiring, bukan lagi logika. Hanya untuk malam ini, Sehun menjadi dirinya yang dulu. Pemuda yang mencintai Jung Nara.

“Sakit,” bisik Nara dalam tidurnya. Gadis itu bergumam sedih.

Sehun yang mendengar vokal lemah Nara segera menegakkan tubuh. Ia membelai surai si gadis, seperti caranya dulu menenangkan Nara.

Mendapatkan sentuhan yang tak terduga, raga Nara sontak menanggapi. Kelopak mata Nara perlahan-lahan menggelepar terbuka. Ringkih, si gadis berusaha menyempurnakan tatapannya. Netranya bertemu paras Sehun yang cemas, membuat hati Nara hangat. Aku sedang bermimpi indah rupanya, batin Nara berbicara. Meskipun demikian, dia tetap menderita.

“Sehun, sakit sekali. Aku takut,” bisik Nara, setengah sadar. Matanya terasa berat. Ia ingin tidur, namun khawatir jika dirinya terlelap lagi, maka Sehun akan menghilang.

Sehun tersenyum lembut, membalas tatapan sayu gadis itu. Ia mengusap pipi Nara. “Aku di sini, Nara. Tidak apa-apa tidurlah. Aku menjagamu,” katanya. Ia mengecup sepasang kelopak mata Nara yang mulai tertutup lagi.

“Selamat pagi, Nara!” sapa Liv ceria, ketika Nara membuka mata. Liv tersenyum lebar. Dia berjalan mendekat ke arah Nara, membuat gaun merah muda selutut yang ia kenakan bergerak-gerak cantik. “Kata Dokter Kim, kau sudah lebih baik. Apa kau lapar?” oceh Liv.

Nara hanya diam. Ia lantas memindai lingkungan sekitarnya. Dia sedang berada di ruangan yang sangat luas, terlihat seperti kamar tidur. Nara menatap dinding kaca di hadapannya yang menyadarkan Nara bahwa dirinya tengah berada di sebuah hotel atau apartemen lantai teratas.

“Kau di apartemen Sehun sekarang,” kata Liv lagi, menjawab pertanyaan yang ada di benak Nara.

“Kenapa aku bisa di sini?” tanya Nara. Ia juga mengamati pakaiannya yang telah berganti menjadi gaun tidur bewarna hitam. Nara mengernyitkan kepala, ia malah pusing karena mencoba mengingat.

“Kau pingsan semalam dan Sehun tidak sengaja melihatmu, jadi dia menolong,” jawab Liv singkat. Gadis itu tersenyum jahil sebelum kembali melanjutkan, “Dia juga menjagamu semalaman sampai terlambat ke kantor. Oh, sebenarnya aku tidak boleh bilang. Dia membuatkan spageti kesukaanmu tadi pagi, padahal dia sudah tahu kalau telat. Wah, tidak biasanya Sehun seperti itu.” Liv menarik napas. Sudut bibirnya tertarik semakin lebar, setelah melihat respons Nara yang tertegun. “Kata Sehun, kau hanya ingin makan spageti buatannya jika sedang sakit. Astaga, kalian manis sekali. Kenapa tidak menikah saja?”

Nara membuka mulut hendak menimpali ungkapan Liv, namun parasnya terlanjur merona. Gadis itu malu. Jadi, dia mengatupkan bibir lagi. Dia memilih diam.

Liv sengaja menepuk kepala seakan dia melewatkan sesuatu yang penting. “Well, aku lupa jika kalian tidak bisa bersama karena sedang bermain drama melankolis. Sehun bertingkah layaknya mantan kekasih yang jahat, tapi pada kenyataannya dia tidak ahli dalam menyembunyikan cintanya. Sedangkan dirimu berperilaku seperti gadis malang yang gemar menyakiti diri sendiri,” ujar Liv, ekspresinya berubah menjadi datar. Ia mendekatkan wajahnya yang mengejek ke arah Nara. “Berhenti berntindak bodoh, Jung Nara. Berhenti membuat orang lain, terutama Chanyeol khawatir. Ini peringatan pertama dan terakhirku untukmu,” tutup Liv, kini ia kembali tersenyum ramah. Liv mengerling jahil, kemudian berbalik meninggalkan Nara yang tetap diam di atas ranjang.

Menurut Nara, karakter Olivia Park menyerupai Sehun. Gadis itu bisa menjadi sangat baik dan menyeramkan dalam waktu bersamaan. Raut Olivia juga bisa sontak berubah dalam jeda yang tak lama. Lebih dari penampilannya yang anggun, Liv adalah gadis yang periang. Pantas saja, Sehun suka berdekatan dengan Liv, sepengetahuan Nara, pemuda itu memang suka dengan sosok yang ceria.

“Makan yang banyak, Nara,” kata Liv sembari membantu Nara duduk. Mereka berada di meja makan sekarang. Infus yang sedari malam terpasang pada tangan Nara telah dilepas. “Sehun akan memecatku jika kau tidak menghabiskan masakannya,” lanjut Liv, dia tersenyum.

Nara menurut. Perutnya memang mulai lapar. Terakhir kali ia makan kemarin malam, sedangkan saat ini sudah siang hari. Nara mengecap perlahan spageti yang terhidang di hadapannya. Gadis itu segera menyadari bahwa itu memang dibuat oleh Sehun. Nara mengigit bibir, tergesa ia pun kembali menyuapkan makanan itu.

“Terima kasih, Olivia,” ujar Nara pelan, ketika Liv memberinya air putih dan obat setelah makan. Mereka masih berada di meja makan hendak berbincang.

Liv hanya melejitkan bahu. “Tidak masalah,” balasnya.

“Hal yang kau lakukan saat ini mirip sekali dengan yang biasa Chanyeol lakukan. Dia gemar menuangkan kopi atau air putih pada gelasku. Chanyeol beranggapan ketika kita minum, kegelisahan akan luntur,” lontar Nara. Maniknya bertemu dengan milik Liv. Nara dapat melihat sorot mata Liv berubah hangat sewaktu ia menungkit masalah Chanyeol. “Dia pasti khawatir karena aku belum memberinya kabar.”

“Dia pria yang baik, tentu saja ia akan mengkhawatirkanmu,” bisik Liv seakan sedang mengenang sesuatu. “Dia baik pada semua orang kecuali diriku,” lanjutnya.

Nara menautkan alisnya, tak memahami ungkapan Liv sepenuhnya.

“Seperti yang kau tahu, Chanyeol menyukai kebebasan. Sayangnya, dia terlahir di keluarga yang mengatur seluruh urusan dalam hidupnya. Chanyeol diminta untuk begini dan begitu. Bahkan, ketika kami masih kecil, Chanyeol mengenal diriku sebagai gadis yang harus dicintainya. Dia memahami sosok Olivia Park adalah tali kekangnya, lalu perlahan ia mulai membenciku,” Liv mengalihkan tatapannya. Ia menghela napas. “Jadi, saat dia mulai menyukai gadis lain, hal yang pertama dirinya lakukan adalah melepaskanku. Yang berarti ia membuang segalanya,” imbuh Liv.

“Kalian mungkin hanya salah paham. Aku mengenal Chanyeol cukup lama dan dia jarang sekali membenci orang lain. Kau adalah gadis yang baik,” timpal Nara.

Liv menarik ujung bibir, memberikan ekspresi berterima kasih pada Nara atas penghiburannya. “Kau harus meneleponnya,” kata Liv, ia mengulurkan ponselnya, lalu ponsel lain yang layarnya retak―milik Nara. “Kemarin malam ponselmu terus saja berbunyi, tidak sengaja Sehun merusaknya karena terlalu berisik. Jadi, sementara ini pakai ponselku saja,” imbuh Liv, kemudian ia meninggalkan Nara di runagan itu memberikan privasi pada si gadis.

“Chanyeol,” sapa Nara.

“Jung Nara! Kenapa ponselmu tidak aktif? Aku menunggu di apartemen tapi kau tidak datang,” panik Chanyeol, ketika pemuda itu mendengar suara Nara di ujung telepon.

“Aku pingsan jadi―”

“―Kau sakit? Di mana dirimu sekarang? Aku akan menjemputmu.”

“Aku sudah baik-baik saja, Chanyeol. Aku berada di apartemen Sehun. Secara tidak sengaja dia menolongku,” jelas Nara. Ia kembali membuka suara. “Nanti kujelaskan saat kita bertemu. Aku pulang setelah bertemu Sehun. Aku ingin mengucapkan terima kasih padanya terlebih dahulu. Aku akan menghubungimu lagi, ini ponsel Liv. Sampai jumpa,” tutup Nara sebelum Chanyeol mengomelinya mengenai betapa pentingnya menjaga kesehatan.

Nara mulai capek. Setelah minum obat gadis itu justru sangat mengantuk. Liv memintanya untuk beristirahat. Ia kembali ke kamar dibantu oleh Liv sebab Nara masih belum sanggup berjalan sendiri. Padahal, Nara berusaha tidak terlelap. Akan tetapi, setelah ia berbaring dan menghirup aroma parfum Sehun yang menempel pada bantal serta selimutnya, Nara perlahan-lahan tertidur.

“Bagaimana keadaanya?” tanya Sehun, tepat ketika dia memasuki apartemennya. Pemuda itu sengaja pulang lebih awal sebab ia merasa tak tenang. Sehun menarik lengan kemeja putihnya dan melonggarkan dasi.

Liv berjalan di belakang Sehun yang melangkahkan kaki menuju ruang tidur pun menjawab, “Dia tadi sudah sadar, lebih baik dari kemarin. Nara sedang tidur,” jawab Liv.

Sehun menghentikan laju pijakan kakinya saat berada di hadapan ranjang tempat Nara berbaring. Ia memindai paras gadis yang tertidur pulas. Serta merta pemuda itu pun duduk di sudut ranjang, mendapingi Nara. Tangannya mulai memeriksa suhu tubuh si gadis dan mengusap pipi Nara. Dia menghela napas lega, mendapati Nara mulai membaik, walaupun parasnya masih pucat.

“Dokter Kim juga baru saja dari sini untuk memeriksanya,” Liv mengisi keheningan. Tak ada timpalan dari Sehun, wanita itu pun melanjutkan, “Nara juga telah menghubungi Chanyeol. Dia mengatakan akan pergi setelah mengucapkan terima kasih padamu.”

Sehun menyeringai mendengar laporan Liv. “Apa kau pikir bisa pergi dariku setelah membuatku cemas seperti ini?” tanyanya pada raga Nara.

“Tidak,” bisik bibir tipis Nara. Gadis itu ternyata tak sepenuhnya tidur. Ia membuka mata. Tatapan tajamnya segera menghunus Sehun. “Aku memang tidak berencana pergi sebelum dirimu memberikan penjelasan padaku,” ulang Nara.

Sehun sejenak terkejut, tapi rautnya segera berubah menjadi tenang selang satu sekon. Ia membalas pandangan Nara dengan lebih mendominasi, membuat si gadis sontak membuang muka. Sehun tersenyum mengejek melihat tindakan Nara yang belum sanggup memandang pria itu lama-lama.

“Sepertinya, aku harus keluar mencari udara segar. Silahkan bicara,” ucap Liv, sebelum dia merajut langkah menjauh.

“Kenapa kau menolongku?” tanya Nara, intonasinya masih lemah.

Sehun memutar bola mata, tahu benar pertanyaan itu segera terkoar dari mantan kekasihnya. “Karena aku manusia, bukan iblis atau semacamnya. Hal biasa jika diriku menolong orang lain,” jawab Sehun enteng.

“Kau membenciku. Kau seharusnya senang aku sakit―“

Sehun berdecak, memutus lontaran Nara. “Kau tahu Nara, sangat tidak seru apabila diriku harus melawan seseorang yang lemah. Keadaannya menjadi tidak seimbang.”

“Jadi, kau membawaku kemari bukan karena dirimu masih mencintaiku?” tanya Nara, lebih seperti cicitan.

Sehun tertawa hambar. Ia berperilaku seakan pertanyaan Nara adalah hal paling tolol yang pernah dia dengarkan. “Mencintaimu? Hanya dalam mimpimu saja,” timpal Sehun, galak. Pemuda itu segera beranjak. Ia berbalik membelakangi Nara.

“Kemarin saat aku tidak sadar, kau ada di dalam mimpiku. Kau berujar jika dirimu akan menjagaku, mendengar hal itu membuatku sangat gembira. Aku berharap agar diriku tidak pernah bangun dan lenyap, mungkin aku akan lebih bahagia,” penjelasan Nara itu membuat langkah Sehun berhenti.

“Aku tidak memiliki minat akan hidup dan matimu, Jung Nara. Bagiku kau hanya manusia, sama seperti orang lain yang datang dan pergi dalam hidupku,” vokal Sehun.

Gadis itu berusaha turun dari ranjang.

Sehun tidak bergeming.

Nara melangkah mendekati Sehun, sehingga kini dia berhadapan dengan si pemuda. Nara membungkuk sebentar, lalu kembali menegakkan tubuh. “Terima kasih sudah menolongku, kau sudah menjadi manusia yang baik,” Gadis itu menengadah, ia bisa menatap Sehun. Nara mencoba tersenyum. “Aku lelah, Sehun. Aku sudah sangat lelah. Kau menyakitiku sekaligus membuatku bingung. Kau menolakku, tetapi dirimu selalu menatapku dengan pandangan itu. Netramu itu seolah-olah terus mengatakan cinta padaku, sementara bibirmu tidak. Sikapmu seakan-akan menginginkan diriku, tetapi bibirmu tidak. Apa aku benar-benar harus membunuh diriku sendiri agar bisa mengetahui perasaanmu yang sesungguhnya?” tanya Nara.

Sehun tetap bungkam. Pemuda itu hanya mengawasi Nara, entah apa yang sedang ada dalam pikirannya saat ini.

“Aku akan melenyapkan diri, apabila itu yang membuatmu bahagia. Toh, aku sama seperti yang lain. Aku datang pun kau diam. Aku pergi pun kau diam,” lanjut Nara. Ia mulai tersedu. Tubuhnya yang masih sakit, membuatnya sensitif. Pandangannya pun mulai kabur. Dia mengerjapkan mata beberapa kali, ketika menyadari tatapannya pada Sehun buram.

Sehun segera menangkap tubuh Nara yang terkulai di hadapannya. “Kau ini terlalu banyak bicara Nara,” tukasnya sembari menggendong Nara.

Sementara si gadis hanya meringkuk, menyenderkan kepalanya di bahu Sehun. Ia memejamkan mata. “Aku ingin pulang, Chanyeol menungguku―“

“―Persetan dengan Chanyeol sekarang kau harus diam dan kembali istirahat,” potong Sehun. Ia merebahkan Nara ke ranjang. Pemuda itu menghela napas. “Tunggu di sini. Jangan coba-coba kabur,” lanjutnya.

Sehun pergi dari ruangannya. Tak berselang lama ia kembali dengan nampan sebagai tempat untuk menaruh segelas susu hangat. Pemuda itu singgah di samping Nara. Dia membantu Nara duduk, sehingga bisa meminum susu yang dibawa Sehun.

Lantaran demikian, Sehun tak membiarkan Nara langsung meminum susu itu. Ia menyendok susu, meniupnya, kemudian menyuapkan pada si gadis.

“Apa ini termasuk bentuk dari kebaikanmu terhadap orang lain?” tanya Nara.

Sehun mengangguk.

Nara tersenyum. “Kau berbohong,” lontar Nara percaya diri.

Sehun memutar bola matanya, enggan menanggapi. Ia fokus mendinginkan susu untuk Nara.

“Aku tahu benar, apabila Oh Sehun tidak suka mencium bau susu. Apalagi, sampai membuatkannya untuk orang lain, kecuali jika aku sedang sakit,” kata Nara. Dia menjulurkan lidah, mengejek Sehun.

“Terserah, kau saja, Jung Nara,” Sehun menanggapi singkat sembari mengusap ujung bibir Nara yang terdapat sisa susu.

Nara mengenggam tangan Sehun yang berada di parasnya. “Aku mencintaimu, Oh Sehun,” tukas si gadis. “Bisa tidak, kau berhenti membenciku selama aku sakit? Anggap saja, ini sebagai bentuk kebaikanmu pada orang lain,” tawar Nara.

“Tidak,” jawab Sehun singkat. Dia kembali menyuapi Nara.

“Kenapa?” tanya Nara kecewa. Ia cemberut.

“Apabila aku mengiyakan, kau akan menyakiti dirimu setiap hari agar aku berhenti membencimu,” balas Sehun. Ia meletakkan gelas susu itu di nakas. Jemari pemuda itu menyilapkan anak rambut Nara yang berantakan. “Kenapa dulu kau tidak mengatakan alasanmu menolakku? Kau seperti sengaja membuatku membencimu,” giliran Sehun yang mengajukan pertanyaan.

Nara mengalihkan maniknya agar tidak berhadapan langsung dengan Sehun. “Karena aku terlalu mencintaimu. Sebagian diriku tak ingin kau pergi ke Amerika. Aku sangat merindukanmu setiap hari. Rasanya tidak enak. Aku mengira, jika aku membuatmu membenciku, kau tidak akan merasakan hal yang sama.” Nara tertawa ringan. “Alasanku sangat konyol, ketika itu aku masih sangat muda. Pikiranku tidak seluas sekarang,” lanjutnya.

“Kenyataannya, aku tetap merindukanmu setiap saat,” timpal Sehun pelan, sehingga si gadis tak dapat mendengarkan dengan jelas.

“Apa?”

Sehun hanya menjungkitkan bibir, kini senyumannya lebih tulus. “Cepat sembuh agar diriku bisa membencimu lagi,” ucap Sehun. Ia menepuk puncak kepala Nara.

-oOo-

a/n: Terima kasih sudah membaca. Part selanjutnya dapat dibaca di klik Track List Project  atau kalian juga bisa baca di Wattpad >> twelveblossom / wattpad.com/twelveblossom

Advertisements

13 responses to “If We Love Again: The Hidden Love

  1. Kok kejam sih sehun. Sama sama mencintai apa susahnya sih balikan. Kasian Naranya kalo kaya gini. Engga deng kasian dua duanya. Ditunggu lanjutannya thor. Fighting!!!

  2. Akhirnya… adeuuhhh makin seru ihhh penuh teka teki ahhhhh keren lah pokonya…
    Next Next next
    Setia menunggu..
    Sampai sehun nyatain cinta wkwkwk baper jadinya. Next and hwaiting

  3. Uda ketinggalan banyak ff ini padahal suka bgt…oh ya alasan nara selain itu biar sehun benci apa sih? Katanya cuma setengah yg dia ceriatain ke sehun…

  4. Kenapa sih tu du makhluk gengsinya tinggi amet ya……..Hati kalian y sengsara bukan raga KALIAN,oh iya raganya lbh sengsara…..liv lo udh mmberi rincian ttng prasaan kalian,tapi kalian mlh mnelan bulat2(ga mmpertimbangkan ) apa y liv katakn, dasar HunNa HunNa

  5. njess banget tor saat nara bilang “apa aku harus bunuh diri agar aku tau bagaimana persaan kamu sebenarnya” dan sehun bilang” cepet sembuh biar aku bisa membencimu kembali” sakiiitttt njir sehun

  6. Gilaaaaa😂😂😂😂 sehun masih aja sok ya jaga imagae😂 blg aja sayang nara gitu hun sakitnya ngarep lebih ketinggian itu bikin fly tapi pas jatoh sakitttt:”v tapi gpp lanjut terus kak😊😊 keep writing😁😁😁😁😁😁😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s