I Married To My Enemy [IX] -by ByeonieB

imarriedtomyenemy-2

I Married To My Enemy

ByeonieB©2017

“All With You.”

Main Cast:: Baekhyun of EXO as Byun Baekhyun, OC/You/Readers as Han Minjoo || Additional Cast:: LuHan (Singer) as Luhan, Han Hyojoo (Actress) as Han Hyojoo, Chanyeol of EXO as Park Chanyeol, Sehun of EXO as Oh Sehun, Lee Yubi (Actress) as Lee Yubi, and many more || Genre:: Marriage Life, Romance, A Slight of Comedy, Drama || Length:: Chapter || Rate:: PG-17+ || Before:: [Chapter VIII] || Poster by Sfxo @ Poster Channel

Special Song: All With You by Taeyeon

 

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

May 2010

“Ya! Han Minjoo!”

Hyojoo terus menggedor pintu selayaknya ingin mendobraknya.

“Kau ingin mati di tanganku, huh!? Keluar!!”

Hyojoo masih terus menggedor pintu kamar Minjoo, tak seberapa peduli tangannya sakit.

“Ya!!” Hyojoo rasa emosinya sudah mencapai batas maksimalnya dan dia benar-benar akan mendobraknya sekarang. “Kau benar-benar mau mati ditanganku!? Dalam hitungan tiga kau belum keluar aku membunuhmu!!”

Hening. Tidak ada tanda-tanda seperti Minjoo ingin membuka pintunya dari dalam. Membuat Hyojoo mengepalkan tangannya semakin dalam serta memulai hitungan mundurnya.

“Satu..”

“Dua..”

“Ti—“

“Sudah, noona.”

Hyojoo menoleh ke samping, ke tempat Baekhyun berdiri sedari tadi bersamanya. Melihatnya melakukan aksi menghancurkan pintu kamar Minjoo.

“Berhenti, tidak usah dipaksa.”

Baekhyun tersenyum pelan, meski Hyojoo tahu dibalik dada pria itu rusuknya telah menikam jantungnya.

“Kalau dia tidak mau bertemu denganku untuk yang terakhir kalinya..” Baekhyun menjeda perkataannya selama beberapa detik,

“Ya tidak usah di paksa..”

Hyojoo yang melihat ekspresi Baekhyun pun hanya bisa menatap pria itu getir.

Ini adalah harinya. Dimana Baekhyun akan pergi ke London untuk melanjutkan studinya dan entah kapan tahun untuk bisa kembali ke Korea. Hyojoo mengerti sekali dengan posisi Baekhyun yang seperti ini, sangat sulit pastinya untuk meninggalkan Korea. Terlebih, meninggalkan orang-orang yang pernah hidup bersamanya. Termasuk adiknya, Han Minjoo.

“Ya. Tidak bisa seperti itu. Kalian itu teman dari kecil, kalian sudah hidup bersama selama lebih dari sepuluh tahun.” Ucapnya dengan getir.

“Kalau kalian berpisah dengan cara seperti ini, apa kau yakin tidak akan menyesal di kemudian hari?”

Baekhyun hanya bisa termenung dan memikirkan semuanya di otak, tidak membiarkan Hyojoo menebaknya.

Beberapa detik kemudiannya, dia pun menghela nafasnya.

“Beri aku waktu beberapa menit untuk berbicara dengan Minjoo, noona.”

Hyojoo meraut bingung, “Ya, aku sedang berusaha—“

“Maksudku, seperti ini saja. Tinggalkan aku dan biarkan aku berbicara padanya.”

“Tak apa jika dia tidak mau membuka pintunya juga.”

Hyojoo terdiam dan dia bisa melihat pancaran Baekhyun yang memohon padanya. Sambil masih meratapi perasaan Baekhyun, Hyojoo pun menyetujuinya dan lekas pergi dari pintu Minjoo.

“Ya. Han Minjoo.” Baekhyun berbicara pada pintu itu. “Kau tidur apa? Atau kau tuli? Ah sepertinya kau tuli karena mana ada orang menggedor pintu sehebat noona tadi tidak langsung lepas telinganya.”

Baekhyun berusaha tertawa pelan namun rasanya sangat menyedihkan. Dia kembali bergeming, menatap pintu itu penuh sendu.

“Ya.. Minjoo-ya. Aku akan pergi sekarang. Ke London, yang banyak telepon berwarna merah itu. Yang kau bilang saat kau berumur delapan tahun kau ingin menelepon dari sana ke rumahku.”

“Aku hanya ingin bilang bahwa.. maaf aku harus pergi. Entah kenapa, aku harus mengatakan itu. Aku hanya merasa bersalah harus meninggalkan Korea, meninggalkan Ayah, Ibu. Meninggalkan paman dan bibi.”

“..dan juga meninggalkan dirimu.”

“Aku juga mau minta maaf kalau selama ini aku belum bisa menjadi temanmu yang baik. Belum bisa melindungimu, menjagamu, atau membuatmu senang. Maaf kalau aku belum bisa menjadi temanmu yang seperti itu.”

Baekhyun melihat ke arah kotak yang sedari tadi memang sudah dibawa olehnya. Kotak berukuran 30x30cm berwarna coklat.

“Sebenarnya aku ingin memberikan sesuatu padamu tapi..” dia menjeda perkataannya selama beberapa detik.

“..kau pasti tidak menginginkannya. Kau sedang marah padaku, benar?”

Baekhyun pun hanya bisa mendongakan kepalanya lagi dan inilah.. saatnya.

“Mungkin hanya itu yang bisa kukatakan. Sekali lagi.. maaf aku belum bisa menjadi teman terbaikmu. Maaf untuk hubungan kita yang memburuk di saat akhir seperti ini.”

“Sampai jumpa lagi, Han Minjoo.”

“Aku harap.. kau akan selalu ingat denganku.”

Baekhyun pun menutup matanya selama beberapa detik, mencoba menahan seluruh perasaannya. Perlahan namun pasti, setelah melepaskan apa yang ia ragukan dan takutkan, ia mulai memutar tubuhnya. Berjalan menjauh dari pintu Minjoo, membawa kotak itu.

Sambil berjalan dan menatap kotak itulah, Baekhyun bergumam dengan nada lesu.

“Han Minjoo, aku akan merindukanmu.”

 “Selalu.”

.

.

“Pria menyebalkan.”

Air mata Minjoo telah mengalir sedari tadi. Dari setiap kata-kata Baekhyun yang keluar dari mulutnya, melalui balik pintunya.

“Pria sialan. Apa dia pikir aku akan memaafkannya!?”

Minjoo menghapus air matanya dan dengan keberanian yang selalu dimiliki Minjoo, ia bangkit dari dudukannya di hadapan pintu.

“Benar! Memangnya dengan dia pergi aku akan memaafkannya!?” Minjoo tertawa pelan, “Tidak akan pernah! Pria itu akan selalu punya salah padaku sehingga selamanya dia berhutang padaku!!”

Minjoo memajukan langkahnya, lalu duduk di tepi jendela yang biasanya menjadi tempatnya mengeluh pada Tuhan kalau sedang kesal.

Saat itulah, ia melihat Baekhyun baru saja keluar dari pintu rumahnya. Berjalan ke gerbang. Dan itu semua tak kuasa untuk membuatnya menjatuhkan air matanya lagi.

“Kau harus kembali, aku tidak mau tahu itu, pria sialan. Kau punya hutang padaku.”

“Kau tidak boleh pergi seperti ini, kau masih memiliki urusanku denganku disini. Hubungan kita tidak boleh berakhir seperti ini.”

Tiba-tiba saja Baekhyun mengerem pergerakannya dan memutar kepalanya, menatap jendela kamar Minjoo. Minjoo tahu Baekhyun tidak bisa melihatnya tapi, Baekhyun tidak tahu bahwa Minjoo melihatnya.

“Aku akan mendoakan yang baik-baik untukmu. Kau harus selalu sehat disana, makan yang baik meski tidak ada bibi atau ibuku yang memasak makananmu. Tidur yang cukup, sepertinya kau bisa melakukan itu disaat aku tidak bisa mengganggu tidurmu lagi.”

Baekhyun pun tampak menghembuskan nafasnya pelan lalu memutar tubuhnya lagi. Berjalan menuju pintu gerbang dan tak jauh dari situ, mobil yang membawanya mulai berjalan. Meninggalkan rumah Minjoo. Meninggalkan Minjoo.

“Benar, kau harus hidup dengan baik disana dan kau harus pulang.”

“Aku.. akan merindukanmu. Baekhyun-ah.”

“Jadi, kau harus pulang. Harus.”

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

[Chapter 9]

H A P P Y   R E A D I N G

 

Pada dasarnya, Minjoo ingin sekali menerima semua kata-kata Baekhyun pada otak dan hatinya. Itu, semua kata-katanya pada malam itu.. pengakuannya. Kalian coba pikir saja, bagaimana tidak hati dan otak kalian tidak ingin menerima jika kalian di posisi Minjoo yang hati dan otaknya terus menerus memanggil nama Baekhyun? Ini benar-benar gila, kalian tahu. Rasanya seluruh tubuhnya terus seperti ingin berlari dan menarik Baekhyun. Seperti Minjoo adalah kutub utara dan Baekhyun kutub selatannya pada sebuah magnet, kemanapun Baekhyun pergi, Minjoo ingin mengikutinya. Oleh perasaan itu.

Lalu.. kenapa Minjoo tidak lakukan itu? Kenapa Minjoo tidak lari pada Baekhyun?

Entahlah, itu jawabannya. Ada satu sisi Minjoo yang masih belum yakin meski Baekhyun sudah mengeluarkan semuanya. Sisinya hanya kecil, tapi cukup membuat Minjoo menahan tubuhnya untuk tidak lari kepada Baekhyun. Membuat perantara di antara magnet mereka yang begitu kuat.

.

“Kau harusnya memberitahuku dari dahulu, eonnie.”

Hyojoo memerhatikan Minjoo yang tengah mengupas kulit apel yang sengaja gadis itu bawa untuk dirinya.

“Aku jadi terlihat seperti adik yang jahat, kau tahu..”

Minjoo telah mengetahui semuanya. Alasan dibalik menghilangnya Hyojoo beberapa hari ini dan tentunya hubungannya dengan Chanyeol.

Sekitar satu sampai dua jam yang lalu, Minjoo menghubungi Hyojoo melalui telepon genggam, bermaksud untuk membuat janji dengannya. Selayaknya seorang adik yang mengadu pada kakaknya kalau sedang ada masalah, itulah maksud Minjoo menelepon Hyojoo tadi siang. Minjoo mencoba untuk menceritakan permasalahannya dengan kakaknya, terlebih.. mencoba untuk mengonfirmasi segalanya tentang Baekhyun dan kakaknya.

Namun, Minjoo rasa sepertinya dia harus menahan permasalahannya untuk sekarang. Kondisi dan masalah Hyojoo jauh lebih penting darinya.

“Maaf, Minjoo-ya. Bukan eonnie tidak ingin memberitahumu, hanya saja eonnie menunggu waktu yang tepat.”

Minjoo berdecak kesal, “Waktu yang tepatnya kapan, huh?!” Apel itu baru saja berhasil Minjoo potong menjadi empat, lalu ia menyodorkan satu buah pada Hyojoo. “Sampai aku mati, begitu!?”

“Ya..” Hyojoo mengambil apel yang telah dikupas kulitnya, dirinya memang tidak suka memakan kulit apel. Sama seperti Minjoo juga sebenarnya. “Kenapa kau berkata seperti itu..”

“Eonnie, kau harus merasakan posisiku sekarang.” Minjoo menaruh apel itu di atas piring yang ia bawa dan menatap kakaknya lagi. “Harga diriku sebagai adikmu benar-benar terluka. Selama ini kau selalu melakukan apapun untukku, banyak hal yang kau korbankan demi diriku. Salah satunya pernikahanku dengan Baekhyun kemarin, kau mau berkorban juga untukku.”

“Dan aku? Aku melakukan apa untukmu? Aku hanya bisa banyak mengeluh ini itu, banyak merepotkanmu ini itu, sedangkan saat kau terluka aku tidak tahu apapun dan tidak menolong apapun. Bukankah aku terlihat sangat kejam!? Atau..” Minjoo menyipitkan matanya pada Hyojoo, “Kau sengaja melakukan ini supaya kau terlihat keren, bukan!?”

“Aigoo..” Hyojoo menelengkan kepala Minjoo pelan, membuat Minjoo memprotes sebal.

“Eonnie!”

“Aku berencana untuk memberitahu dirimu tepat setelah aku mengenalkan Chanyeol pada ayah dan ibu, Minjoo-ya.” Ucapnya, mengingat malam itu. Kalau dipikir-pikir lagi, malam itu adalah malam terakhir Hyojoo bisa merasa bahagia dalam hidupnya. “Tapi apadaya, aku malah mendapatkan tamparan keras kalau aku harus menikahi orang yang sama sekali aku tidak cintai..”

Minjoo bisa melihat jika tatapan Hyojoo berubah, seperti dia ingin menangis.

“Ah.. memang sepertinya takdirku akan selalu begini, Minjoo-ya..” benar bukan prediksi Minjoo, mata Hyojoo kini sedikit berair di pelupuknya. “..Aku memang tidak pernah punya kesempatan untuk bahagia sepertinya..”

Tentu saja itu melukai hati Minjoo yang menyayangi Hyojoo sebagai kakaknya. Mereka lahir dari rahim dan darah yang sama, tentu saja Minjoo memiliki ikatan batin yang begitu kuat dengan Hyojoo maka disaat kakaknya terluka maka dia juga ikut merasa terluka.

Kini dia merasa menyesal pernah berpikir untuk tidak telahir sebagai adik Hyojoo. Oh, lebih tepatnya memang julukan adik yang jahat itu tepat diberikan pada Minjoo.

“Eonnie, kau tidak boleh menyerah, hm!?” Minjoo mencoba tersenyum kuat dan memegang tangan kakaknya. “Eonnie harus memperjuangkan Park Chanyeol, kalau eonnie memang mencintainya. Memang sih, aku sedikit aneh mendengar eonnie menyukai Chanyeol dan ternyata kalian sudah kenal lebih dari tujuh tahun, tapi aku percaya.. melihat sebagaimana tulusnya eonnie mencintai Chanyeol, aku yakin Chanyeol orang yang bisa membuat eonnie bahagia.”

Perkataan Minjoo memberikan sedikit energi kepada Hyojoo. Sangat cukup untuk membuatnya tersenyum pelan pada adiknya.

“Aku akan membantu eonnie mulai dari sekarang, aku akan membuat Ayah membatalkan pernikahanmu dengan Junmyeon Oppa. Eonnie tidak usah khawatir, aku pasti bisa melakukannya. Untuk Park Chanyeol, biar aku pukul dia di kepalanya supaya dia mau kembali padamu.” Hyojoo sempat terkekeh pelan mendengar perkataan Minjoo, namun dia tahu bahwa Minjoo serius dengan perkataannya. Maksudnya, dengan dirinya yang benar-benar akan membantu Hyojoo untuk mendapatkan kebahagiaannya.

“Eonnie.. harus berjuang, ok!? Aku pasti membantu, mengerti!?”

Minjoo memanglah tipikal gadis seperti ini. Ini mengingatkannya pada kejadian beberapa tahun silam, tepatnya di kejadian saat Hyojoo dilarang oleh Ayahnya untuk menjadi penari pembuka di acara pentas olahraga nasional. Saat itu Minjoo benar-benar gigih memohon pada Ayahnya untuk mengizinkan Hyojoo menari di tengah lapangan stadium, bahkan Minjoo sampai ikut berlutut dengannya waktu itu. Minjoo memang tipikal gadis seperti itu untuk Hyojoo, yang mau berjuang dan berkorban bersamanya.

Perasaan hangat sebagai seorang kakaknya muncul, perlahan namun pasti. Perasaan dimana kau dilindungi oleh seorang wanita yang memiliki ikatan batin dan darah terlalu jelas di tubuhmu. Hyojoo tahu, bahwa ia tidak pernah salah lahir di keluarga ini. Meski Ayahnya selalu menekannya, setidaknya dia memilki Minjoo yang selalu bersedia menolongnya dan bangkit bersamanya. Hidup tidak selamanya membutuhkan cinta dari seorang lelaki, tapi hidup juga berarti kau memiliki seorang adik yang mencintaimu sepenuhnya.

“Ya.. kau kenapa sih bisa semanis ini untukku?” Hyojoo menarik Minjoo pada dekapannnya, menahannya penuh haru. “Terima kasih, Minjoo-ya. Terima kasih karena telah lahir menjadi adikku dan mau menolongku. Aku benar-benar bersyukur memilikimu menjadi adikku..”

“Ah, eonnie..” Minjoo juga tampak ingin menangis di balik pelukan Hyojoo, “Jangan berkata seperti itu, aku ingin menangis.”

Hyojoo terkekeh pelan lantas melepaskan pelukannya dan menatap Minjoo, “Menangislah, kau harus menangis agar kau merasakan ketulusan dari kata-kataku.”

Minjoo hanya berdecak pelan menanggapi itu.

“Omong-omong, ini hanya aku yang merasakan atau dirimu juga tapi..” Hyojoo menatap Minjoo dari atas sampai ke bawah, “Kau tampak lebih berisi?”

Minjoo membulatkan matanya dan memeluk badannya, lebih tepatnya ia memegang kedua lengannya. Kalau wanita lebih berisi, bukankah lengan yang paling cepat terlihat?

“Kau serius, eonnie!? Aku tampak lebih berisi!?” Lalu Minjoo memindahkan tangannya dan memegang pipinya.

“Aku tahu ini pasti akan terjadi! Aish, baru berusia empat minggu saja sudah seperti ini!!”

Tentunya, itu adalah perkataan yang kelewat ganjil untuk didengar di telinga Hyojoo.

“Baru berusia empat minggu?” Hyojoo mengulang perkataannya, menatap Minjoo bingung. Minjoo sudah seperti biasanya, merutuki kebodohan yang entah diwarisi dari siapa.

“Apa yang berusia empat—YA!!!!!” Hyojoo membulatkan matanya, menatap Minjoo dengan tebakan yang sudah ingin meledak di hatinya. “KAU HAMIL!!??”

Minjoo terdiam, bergeming tidak tahu harus melanjutkan kebohongan ini atau tidak. Dan diamnya Minjoo tentu membuat tebakan Hyojoo berubah menjadi fakta yang terlalu jelas untuknya.

“Benar, kau hamil!!” Hyojoo berteriak bahagia di tempatnya lalu ia menarik Minjoo lagi pada dekapannya, “Ya!!! Aish, kenapa aku begitu senang mendengarnya!!”

Minjoo mengeluh, Hyojoo benar-benar memeluknya terlalu erat saat ini. “Eonnie, ini terlalu sesak!!”

Sesaat mendengar itu, Hyojoo melepaskan pelukannya. Bukannya merasa menyesal, Hyojoo malah menatap adiknya sedikit garang.

“Ya!! Kenapa kau tidak memberitahuku, hm!?” Hyojoo pun memukul pelan paha Minjoo, menunjukkan kekesalannya, “Kau berencana menyembunyikannya, huh!? Kau tidak akan memberitahuku, huh!?”

“Eonnie!!” Minjoo mengusap pelan pahanya, “Sakit!! Aku bukan tidak ingin memberitahumu tapi sama sepertimu, aku menunggu waktu yang tepat.”

Hyojoo menganga tak percaya namun masih bisa kita lihat senyumannya masih bertahan begitu merekah disana.

“Wah.. kau benar-benar ya! Pengkhianat kecil!” Ayolah, kabar mengenai Minjoo hamil dan Hyojoo yang punya kekasih memiliki kadar kepentingan yang berbeda. “Mana bisa kabar ini ditunda-tunda, huh! Kau sudah memberitahu ayah dan ibu!?”

Tentu saja Hyojoo sudah tahu jawabannya, gelengan kepala Minjoo. Pertanyaan retorik.

“Ya!! Kau kan tahu seberapa lama ayah dan ibu menunggu kabar ini darimu!” Hyojoo seperti bersiap untuk bangun dari ranjangnya dan kuda-kudanya, “Aku akan memberitahu mereka sekarang!!”

“Tidak boleh !!” Minjoo langsung menghadang kakaknya, memeluknya hingga menjatuhkan mereka ke atas ranjang. “Jangan beritahu mereka dahulu, kumohon!”

Hyojoo melirik sedikit kepada Minjoo yang merengek padanya. Ya, sebenarnya tidak adil juga sih kalau dia yang memberitahu kabar bahagia ini pada orang tuanya. Harus Minjoo dan Baekhyun sendiri yang mengumumkannya.

“Ok, ok.. aku akan mengabulkan permohonanmu.” Hyojoo tertawa kecil seraya Minjoo melepaskan eratan darinya, “Rasanya tidak adil juga kalau aku yang memberitahu mereka. Harus kalian yang memberitahunya.” Lalu kemudian Hyojoo melirik Minjoo kembali dan sedikit menyipitkan matanya, “Tapi aku tidak akan memberi kalian waktu yang lama, harus secepat mungkin. Mengerti!?”

Minjoo hanya bisa tertunduk pasrah dan mengalah. Mengembalikan senyum Hyojoo yang merekah kepada bibirnya.

“Wah.. kalau dipikir-pikir, pria itu pasti bahagia sekali bukan!?” Hyojoo membayangkan Baekhyun yang tersenyum merekah. Ugh, bahkan rasanya bayangan itu terlalu jelas untuk dikatakan sebagai imajinasi. “Dia pasti akan terus tersenyum, menampakan bentuk mulutnya yang kotak itu. Aigoo.. bocah kecil itu.”

Semua yang Hyojoo katakan adalah imajinasi paling pertama yang Minjoo harapkan. Membayangkan Baekhyun tersenyum bahagia mendengar dirinya tengah mengandung anaknya, lalu ia akan bernyanyi tidak jelas sepanjang harinya karena terlampau bahagia. Bayangan itu terlalu kuat Minjoo impikan sampai rasanya itu menyakiti Minjoo karena namanya tetap saja ‘bayangan’. Tidak pernah bisa Minjoo dapatkan di kehidupannya.

“Mana bisa dia senang..” Minjoo bergumam, tapi Hyojoo sangat mendengarnya dengan jelas. “..bahkan sepertinya ini adalah kabar yang sangat buruk untuknya..”

Alis Hyojoo yang tertaut terlalu kentara, sangat menunjukkan kebingungan yang muncul di otaknya.

“Apa?” Mungkin Minjoo telah kehilangan kemampuan berbicaranya, itu yang Hyojoo pikirkan. “Apa yang kau maksud, Minjoo-ya?”

Menguatkan seluruh batin dan raganya, Minjoo mendongakkan kepalanya. Sudah saatnya juga bukan, dia memberitahu semua ini pada Hyojoo? Meski ini menyakitkan, tapi percuma juga kalau Minjoo terus menyembunyikan dari kakaknya. Tidak ada gunanya menghadang Baekhyun untuk mendapatkan Hyojoo, nyatanya Minjoo memang tidak bisa mendapatkan hatinya. Mungkin.

Ugh, Byun Baekhyun. Kau berhutang satu pada Minjoo!

“Dia itu tidak menyukaiku, eonnie.” Minjoo tersenyum pelan, namun sangat kentara kalau itu senyuman yang menahan rasa sakitnya. “Dia itu menyukaimu. Baekhyun menyukaimu.”

Sumpah, demi apapun. Hyojoo benar-benar seperti tersedak oleh batu sebesar genggaman tangannya.

“Aku telah mengetahuinya dari lama. Dia pernah mengaku padaku bahwa dia mengagumimu, kau itu seperti malaikat untuknya. Itulah alasan dia menyukaimu.” Minjoo tampak seperti ingin menangis di tempat—dan Hyojoo mengetahui itu—namun yang dia lakukan adalah menatap Hyojoo penuh perasaan. Seperti penuh permohonan.

“Eonnie.. apa kau tidak bisa melihatnya sebagai lelaki.. meski hanya satu kali?” Minjoo perlahan menarik tangan Hyojoo lalu menggenggamnya. “Dia telah memiliki perasaan itu padamu sejak lama, meski tak tahu tepatnya dari kapan, tapi aku tahu pasti itu sudah sejak dari kita masih kecil.”

“Eonnie.. bisakah kau melihatnya satu kali? Anggap dia sebagai lelaki dan menerimanya. Aku tahu yang kau suka itu Park Chanyeol, tapi.. berikan dia satu kesempatan. Bisakah?”

Hyojoo benar-benar kehilangan kata-katanya. Ah, bukan. Sepertinya seluruh makian atau kata kasar telah siap dimulutnya tapi dia tidak tahu yang mana harus keluar lebih dahulu.

“Sepertinya kau salah paham, Minjoo-ya..” Hyojoo melepaskan eratan tangan Minjoo pada tangannya, “Ini aku yang bodoh karena tidak mengerti dengan kata-katamu atau aku yang tidak bodoh tapi kau benar-benar salah paham sebenarnya..”

Minjoo hanya bisa terdiam dan menundukan kepalanya, merasa apa yang ia katakan percuma. Entah dia bisa dibilang jahat atau tidak, tapi dalam hatinya berkata: Maaf, Baekhyun-ah. Aku hanya bisa membantu sampai disini.

Tentu saja Hyojoo menangkap sinyal yang mengganjal pada perkataan Minjoo dan tingkah gadis itu saat ini. Sebagai kakaknya, dia akan meluruskannya.

“Ya. Aku ingin bertanya padamu,” Hyojoo memegang pundak Minjoo dan membuat gadis itu menatapnya. “Apa Baekhyun sudah mengatakannya padamu?”

Minjoo terdiam, sebenarnya dia tahu sesuatu apa yang Hyojoo maksudkan hanya saja lagi-lagi sisi kecilnya yang ragu itu menguasai dirinya.

“Sesuatu.. seperti.. apa?”

Hyojoo berdecak pelan, menemukan sebabnya. “Ck. Bocah itu, benar-benar pengecut.”  Lalu kini dia melepaskan eratannya dan menatap Minjoo serius.

“Dengar ya, adikku Han Minjoo. Baekhyun itu tidak menyukaiku. Mungkin memang benar dia menyukaiku, tapi itu bukan rasa suka dari pria kepada wanita.” Hyojoo kemudian menatap Minjoo lurus-lurus, seperti dari matanya menunjuk sesuatu. “Kau tak tahu siapa yang dia suka memang? Kalau kau tak tahu berarti kau bukan teman-seumur-hidupnya!! Itu terlalu jelas tanpa harus menggunakan kata-kata.”

Minjoo terdiam, seperti orang bodoh dan dia merasa bahwa dia memang benar bukan teman-seumur-hidupnya-Baekhyun.

“Siapa.. memangnya..?”

Hyojoo tersedak oleh batu yang lebih besar dari sebelumnya. Dari situlah, ia mengerti. Siapa yang bodoh dan siapa yang tidak pecundang sebenarnya.

“Ah, berarti bukan pria itu yang pengecut. Kau yang terlalu bodoh, wah..” Hyojoo sedikit mendesis, menahan emosinya dan tangannya ia tahan untuk tidak memukul adiknya. “Bahkan tadi kau bilang bahwa aku harus bisa melihatnya sebagai lelaki tapi kau sendiri tidak bisa melihatnya sebagai lelaki!!”

“Kau yang terlalu bodoh, Minjoo-ya. Kau benar-benar bodoh.”

“Kalau saja kau tidak hamil, aku benar-benar ingin memukul kepalamu sampai kau sadar dengan perasaaannya!!”

Minjoo termenung, namun otaknya terus mencerna perkataan kakaknya. Maksud Hyojoo itu apa? Apa yang Minjoo tidak mengerti dari perasaan Baekhyun? Hyojoo bilang, perasaan Baekhyun itu terlalu jelas tanpa harus dikatakan oleh kata-kata tapi kenapa hanya Minjoo yang tidak mengerti?

Sekarang, Minjoo seperti ingin berlari ke ayah dan ibunya. Minjoo ingin merengek, ingin tahu siapa orang tuanya yang sebenarnya karena telah mewarisi kebodohan abadi ini pada dirinya.

.

.

Mari kita ulang semua perkataan Hyojoo ketika Minjoo mengunjunginya tadi. Mungkin tadi Minjoo terlalu tertekan karena tidak sanggup menerima kenyataan bahwa kakaknya bisa saja menerima Baekhyun, maka dia sebodoh itu tidak mengerti maksud perkataannya.

 

“Sepertinya kau salah paham, Minjoo-ya..”

 

Salah paham? Minjoo salah paham dari sisi mananya!? Baekhyun jelas-jelas mengatakan itu pada dirinya enam tahun lalu, tepat di telinganya. Belum lagi dirinya yang melihat ekspresi kekaguman Baekhyun tepat juga di matanya. Sepertinya kalimat yang ini, Hyojoo yang salah.

 

“Apa Baekhyun sudah mengatakannya padamu?”

 

Mengatakan apa!? Mengatakan bahwa Minjoo menjijikan? Bahwa dirinya seperti gadis desa yang datang ke kota? Bahwa dirinya seperti mesin pembuat kata karena terlalu banyak berbicara? Atau karena seperti speaker karena suaranya terlalu keras? Kalau maksud Hyojoo seperti itu, maka tadi Minjoo akan mengakatan ‘iya!’. Oh bahkan rasanya Baekhyun sudah mengatakan itu semua lebih dari seribu kali. Tapi, Minjoo tidak sebodoh itu. Jelas sekali, maksud Hyojoo tidak pernah sedekat itu pada pernyataan yang ia sebutkan.

 

“Kau tak tahu siapa yang dia suka memang? Kalau kau tak tahu berarti kau bukan teman-seumur-hidupnya!! Itu terlalu jelas tanpa harus menggunakan kata-kata.”

“Ah, berarti bukan pria itu yang pengecut.”

“Kau yang terlalu bodoh, Minjoo-ya. Kau benar-benar bodoh.”

“Kalau saja kau tidak hamil, aku benar-benar ingin memukul kepalamu sampai kau sadar dengan perasaaannya!!”

 

 

Ini yang membuat Minjoo paling ingin menggila di tempatnya. Semua kata-kata Hyojoo seperti sandi untuk membuka sebuah loker, namun sandi itu sengaja Hyojoo tenggelamkan di dasar lautan yang bahkan Minjoo tidak tahu laut mana.

Menurut Minjoo, selama ini dia telah mengenal Baekhyun terlalu baik. Minjoo bisa yakin itu.

Pertama, Minjoo tahu semua daftar makanan yang Baekhyun suka dan tidak suka: dia menyukai strawberry sampai dulu dia punya bantal strawberry di kamarnya dan dia benci mentimun sampai dia pernah bertengkar dengan Minjoo karena pernah sengaja menyelipkan mentimun di roti lapisnya. Kedua, Minjoo tahu binatang apa yang paling Baekhyun cintai di dunia ini: dia sangat mencintai anjing tapi dahulu paman dan bibi Byun tidak mengizinkannya untuk memelihara. Ketiga, Minjoo tahu apa yang membuat Baekhyun paling takut di dunia ini: hantu. Semuanya, intinya.. Minjoo mengetahui itu dan kalau Minjoo harus menyebutkannya satu per-satu, maka Minjoo akan benar-benar membuat gulungan kertas sepanjang satu kilometer.

Lalu, apa yang Minjoo tidak tahu sampai kata-kata tidak perlu didengar olehnya?! Apa sejelas itu atau Minjoo yang buta!?

“Aish! Harusnya aku tadi membiarkan eonnie memukulku saja!!” keluhnya.

Dia menyerah, permasalahan ini mungkin akan menjadi masalah barunya untuk seminggu ke depan.

.

Kini Minjoo berhasil memasuki rumahnya. Setelah menaruh sepatunya pada rak, Minjoo mulai berjalan memasuki rumahnya.

Dia tak menemukan Baekhyun dimanapun saat dia memasuki lantai dasar rumahnya. Biasanya pada jam seperti ini, Baekhyun akan berada di tempat yang menurut Minjoo harusnya menjadi profesi Baekhyun di masa depan, yaitu dapur. Hanya ada sisa wewangian masakan yang menyerbak di sekitarnya tanpa ada Baekhyun disana. Oh, sepertinya Baekhyun telah selesai memasak.

Meski sedikit aneh, Minjoo berusaha mengacuhkannya dengan menaiki anak tangga untuk menuju kamar barunya—yang di sebelah kamar mereka. Sebelum benar-benar masuk ke kamarnya, Minjoo sempat melirik sedikit ke kamar Baekhyun yang pintunya terbuka. Berharap dia bisa melihat Baekhyun yang sekedar lewat melalui celah pintunya. Jujur, Minjoo memang merindukan Baekhyun. Terlebih setelah mereka bertengkar dan Minjoo memutuskan untuk pisah kamar. Haha, Minjoo benar-benar seperti menginjak kotorannya sendiri.

Karena tidak bisa menemukan Baekhyun, Minjoo pun menyerah. Dia melanjutkan langkahnya, menuju kamarnya.

Baru saat itulah, rasa rindunya seperti terobati.

“Kau sudah pulang.”

Baekhyun ada di kamarnya, tepatnya berada di hadapan kasurnya. Perlahan namun pasti, Minjoo bisa merasakan medan magnet itu menguat hingga membuat dirinya ingin berlari memeluk Baekhyun.

“Apa.. yang kau lakukan disini?”

Perkataannya tidak terdengar gagu, bukan? Minjoo harap seperti itu karena Baekhyun tidak boleh mendengarnya sedang salah tingkah.

Bukannya menjawab, Baekhyun malah melanjutkan kegiatannya yang seperti membersihkan kasur Minjoo. Melipat selimutnya, sama seperti ketika Minjoo melihatnya beberapa detik yang lalu.

“Sudah selesai.” Dia berdiri tegak, lalu memutar tubuhnya menghadap Minjoo. Menatap Minjoo lurus-lurus.

“Tenang, aku bukan pria mesum seperti yang kau sering sebutkan. Aku hanya mengganti selimut, kasur, dan juga bantalmu.”

Minjoo bergeming, bingung dengan maksud dari pernyataan Baekhyun.

“Kenapa kau melakukan itu?”

“Kalau aku menyuruhmu untuk tidur di kamarku, kau pasti tidak mau bukan? Meski aku bertukar dengan kamar ini juga, kau akan menolak, benar? Aku tidak mau membuatmu berdebat denganku untuk hal-hal tidak penting seperti itu.” Baekhyun mengambil bekas bantal dan selimutnya dari atas lantai lalu dia berjalan menuju Minjoo. Sepertinya, maksudnya menuju pintu keluar ruangan ini.

“Kamar ini sudah bisa menjadi kamar tidur yang sebenarnya. Aku akan membiarkanmu tidur disini sekarang.”

Baekhyun hendak berjalan lagi namun Minjoo menahan dengan perkataannya.

“Kenapa kau melakukan itu? Maksudku..” Minjoo menjeda selama beberapa detik, “..kenapa kau harus mengurusi hal-hal seperti ini untukku?”

Sepertinya, pertanyaan Minjoo itu sangat salah untuk diucapkan karena Baekhyun berdecak kesal padanya.

“Ck. Kau yakin bertanya seperti itu?”

Belum lagi tatapan merendahkannya, yang biasanya pria itu keluarkan khusus untuk dirinya. Tapi ada yang berbeda untuk yang kali ini. Tatapan itu, entah mengapa terlihat bercampur dengan tatapan yang Minjoo tidak bisa tebak. Yang menurut Minjoo muncul saat hati terluka. Seperti itu.

“Bukankah aku sudah pernah bilang bahwa aku paling benci melihatmu tersiksa? Aku sudah bilang padamu berkali-kali tapi kau terus terlihat tersiksa di hadapanku. Untuk sekedar informasi, saat aku melihatmu tersiksa, aku merasakan dadaku di tekan begitu keras. Sangat sakit dan kau tidak pernah boleh merasakannya.” Netranya benar-benar ada pada Minjoo saat mengatakan itu semua, “Sama seperti malam itu, saat kau menggigil dan berkeringat. Kau melukaiku saat malam itu.”

Perlahan, Baekhyun mengeratkan tangannya pada barang-barangnya kembali. Bersiap untuk meninggalkan Minjoo.

“Tentu saja aku melakukan ini semua agar kau tak terluka lagi. Kau tidak boleh terluka atau aku akan terus merasakan perasaan itu. Kumohon, jangan seperti itu lagi.”

Dia pun berjalan, melewati Minjoo dan benar-benar meninggalkan Minjoo sendirian. Terpaku oleh semua kata-kata yang begitu hangat di hatinya.

Minjoo benar-benar gila, dia kembali mengingat pengakuan Baekhyun pada malam itu dan menyambungkan semuanya dengan ini. Membuat semua harapan yang sudah Minjoo buang itu.

Minjoo tahu, harusnya dia tidak boleh melakukan itu, tapi dia tidak bisa menahannya. Hati kecil yang menulis nama Baekhyun di dalamnya terlalu kuat, dia benar-benar berhasil menguasai seluruh jantung Minjoo oleh nama Baekhyun. Menumbuhkan harapan-harapan itu, membuat Minjoo berimajinasi pada awan impiannya. Yang harusnya Minjoo tolak mati-matian tapi semuanya terlihat seperti maju menghadap Minjoo.

Yang Minjoo bisa lakukan hanya termenung, menatap kasur yang kata Baekhyun sudah bisa dikatakan sebagai tempat tidur yang benar. Jika ditanya apakah Minjoo ingin tidur di kasur itu, sepertinya Minjoo akan menggeleng kepalanya. Dia seperti ingin berlari, kembali ke kamarnya yang sebelumnya dan tidur bersama Baekhyun.

Itu, mungkin tempat tidur yang se’benar’nya.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

“Bagaimana keadaan perusahaanmu, Junmyeon-ah?” Ucapan Ayah Hyojoo menghentikan makan malam Junmyeon, “Kudengar kemarin ada masalah penggelapan dana oleh karyawanmu, apa itu benar?”

Junmyeon tersenyum pelan dan begitu tenang, “Benar, Paman Han. Kemarin ada masalah penggelapan dana di perusahaan namun kau tak perlu khawatir, bukan masalah besar.”

Tuan Han terkekeh pelan, “Yang mesti khawatir itu kau, Junmyeon-ah. Syukurlah kalau memang bukan masalah besar.”

Hyojoo hanya bisa terdiam mendengar percakapan mereka. Menatap makan malamnya tanpa nafsu sedikit pun. Merutuki dirinya yang harus ikut di acara makan malam ini. Tidak perlu dijelaskan lagi bukan tujuan acara makan malam keluarganya dan keluarga Junmyeon.

“Hyojoo-ya..”

Panggilan Ayah Junmyeon menyadarkannya, membuatnya mendongak seketika.

“Iya, paman?”

Tuan Kim tersenyum pelan, “Kau tidak menyukai makanannya, ya? Kau belum menyentuh makananmu sama sekali..”

Mendengar itu Hyojoo hanya bisa tersenyum kecut, “Tidak, paman.. aku menyukainya.” Lalu perlahan dia mencoba untuk memasukkan satu sendok makan ke mulutnya, supaya Tuan Kim tidak mencurigainya. Benar bukan seperti prediksinya, rasanya sangat pahit meski ini makanan kelas bintang lima.

Dia benar-benar merindukan Chanyeol sampai matinya. Dia merindukan tawa Chanyeol, ucapan-ucapan Chanyeol yang manis namun kadang manja, Chanyeol yang galak padanya, dan masih banyak ‘Chanyeol yang..’ lainnya. Intinya, Hyojoo benar-benar merindukan Chanyeol. Sangat. Dan itulah mengapa dia merasa semuanya seperti salah, termasuk makan saat ini.

“Ah benar, kenapa kita belum saja membahas masalah pernikahan anak kita, Tuan Han?”

Pergerakan mulut dan tangan Hyojoo langsung berhenti saat mendengar itu semua. Rasanya, jantungnya seperti ditusuk kembali.

“Kalau begitu kita bahas saja sekarang, kira-kira Hyojoo ingin memilih tempat dimana?” Hyojoo tidak bisa menahan ini semua lagi, dia benar-benar ingin meledak di tempatnya. “Kalau Hyojoo belum menemukan, Paman punya beberapa rekomendasi—“

Tring.

Suara dentingan sendok itu membuat seluruh orang di meja menatap pelakunya, Hyojoo. Gadis itu pun sudah berdiri dari tempatnya, mencengkram gaunnya dengan erat.

“Maaf, Paman.. Bibi.. Sebelumnya aku bertingkah seperti ini. Aku tahu ini tidak sopan, tapi..”

“Aku tidak bisa menikahi Junmyeon. Aku.. tak menyukainya.”

Jelas sekali itu langsung membuat seluruh orang yang berada di meja membulatkan matanya. Belum lagi Ayah Hyojoo yang sudah menaikkan emosinya dan ikut berdiri dari kursinya,

“Han Hyojoo!!”

“Apa, Ayah!? Ayah ingin menarikku dan mengurungku lagi, iya!?” Hyojoo tahu dia keterlaluan, tapi ini benar-benar sudah diluar batasnya. “Silakan saja kalau kau ingin mengurungku, tapi asal kau tahu saja, ini semua percuma. Aku tidak bisa menikah dengan Junmyeon karena aku tetap pada pilihanku.”

“Aku hanya mencintai Park Chanyeol. Dan orang yang ingin aku nikahi hanya pria itu, titik.”

Sebelum beranjak pergi, Hyojoo membungkukan tubuhnya pada keluarga Junmyeon dan lantas menatap Ayahnya lagi.

“Pernikahan itu sakral, Ayah. Pernikahan itu menyatukan dua hati untuk hidup bersama selamanya. Aku tidak bisa menikah dengan Junmyeon karena hatiku hanya untuk Park Chanyeol.” Air mata Hyojoo telah jatuh dan itu langsung membuat Ayahnya terpukul.

“Maafkan aku, Ayah.. untuk permintaanmu yang kali ini.. aku tidak bisa mengabulkannya.”

Dan Hyojoo pun pergi, meninggalkan semuanya. Ibunya sempat menarik tangan Hyojoo, namun Hyojoo melepaskannya perlahan.

“Maaf, Ibu.. ini sudah melebihi batasku.”

Perkataan Hyojoo itu benar-benar menampar Ayahnya, hingga beliau tidak bisa berkata apa-apa selain termenung menatap hadapannya kosong.

.

.

Hyojoo terus menangis, hatinya terus tercabik oleh perasaan bersalah itu. Perasaannya pada Chanyeol memang tidak bisa disalahkan dalam hal ini, tapi dia juga merasa bahwa apa yang ia lakukan pada Ayahnya sungguh keterlaluan. Dia tahu, Ayahnya itu sangat mencintainya. Meski menggunakan cara yang salah, Hyojoo selalu tahu bahwa Ayahnya itu hanya ingin yang terbaik untuknya. Untuk putrinya.

Inilah mengapa pundak Hyojoo lebih berat dari sebelumnya. Kehilangan Park Chanyeol dan juga kehilangan orang tuanya. Ya Tuhan, rasanya dunia hanya punya dirinya tanpa siapapun saat ini.

“Maafkan aku, Ayah.. Ibu… Aku sungguh tak bermaksud seperti itu..”

Karena terus menangis dan berjalan tanpa arah, Hyojoo tidak menyadari bahwa sedari tadi ada orang yang mengikutinya dari belakang. Pria, berjumlah sekitar tiga orang, dengan tubuh yang besar-besar.

Bukan hal yang bagus, tebakan kalian benar.

“Halo nona..”

Hyojoo menjerit kaget sesaat mendengar suara itu. Perlahan dia memutar kepalanya dan jantungnya benar-benar jatuh saat melihat sekumpulan pria di belakangnya.

Sebuah pisau yang muncul di tangan yang berbicara tadi sudah terlihat.

“K-kalian.. mau.. apa..?” Hyojoo seperti menyiapkan kuda-kudanya untuk berlari, “A-aku.. tidak punya apa-apa..”

Salah satu pria itu terkekeh pelan, “Kau memang tidak punya apa-apa, tapi itu hanya berlaku untuk sekarang..”

Tangan Hyojoo gemetaran dan ia rasa kakinya melumpuh saat ini.

“..kau pasti akan bernilai sangat tinggi nantinya..”

Meski hidupnya sudah seperti menemui akhir, tetap saja Hyojoo tidak mau mati seperti ini. Tanpa ba-bi-bu lagi, Hyojoo pun lari dengan sekuat tenaganya. Untung saja sepatu hak tingginya telah ia lepas, membuatnya sangat mudah untuk berlari.

Tapi, memang seperti inilah suratan takdirnya. Belum saja ia mencapai larian untuk langkah ketiga, tubuhnya menabrak tubuh yang berbau alkohol. Salah satu dari kawanan penjahat itu.

“Mau kemana gadis cantik?” Dia menghimpit tubuh Hyojoo dengan kedua tangannya yang memegang pundaknya. “Kau tidak bisa lari kemana-mana karena kau sudah berada di wilayahku..”

Saat Minjoo melihat ke sekitarnya, dia baru menyadari bahwa dia ada di sebuah gang yang begitu gelap. Dimana di sekitar jalanannya terdapat botol-botol alkohol berserakan dan kalau kalian bertanya lokasinya dimana, jangan harap kalian mendapatkan jawaban.

“Uh, malangnya wanita ini karena kabur dari pesta..” Pria paling pertama yang berbicara tadi telah menghampirinya kembali. Kini, dia menyentuh dagu Hyojoo. “Kabur karena kekasihmu membawa selingkuhannya atau karena perjodohan? Ah, tidak penting.. yang paling penting sekarang kau bisa menjadi sumber uangku.”

Tiga detik setelah itu, Hyojoo merasakan udara di sekitarnya menipis dan pandangan yang gelap. Kepalanya di tutup oleh kain hitam dan tak jatuh dari situ, ia kehilangan kesadarannya.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

“Kau semakin cantik saja, Minjoo-ya..”

Minjoo terkekeh pelan mendengar pujian dari Ibu Baekhyun. “Tentu saja aku semakin cantik, bi. Tidak lupakan bahwa aku ini yang paling cantik di antara anak-anak bibi?”

Hari ini Minjoo sengaja menjenguk Ibu Baekhyun ke rumahnya. Beberapa waktu yang lalu—sebelum mereka bertengkar—Baekhyun pernah bilang padanya bahwa Ibunya merindukan dirinya dan meminta Minjoo untuk menjenguknya kalau gadis itu tidak sibuk. Karena Minjoo sudah tidak menjadi sekretaris pribadi Baekhyun lagi, gadis itu jadi mempunyai banyak waktu. Kadang, Baekhyun sengaja menyuruhnya untuk tetap di rumah saja malah.

Baekhyun, pria itu. Minjoo baru menyadari bahwa sikapnya berubah. Dia memang masih peduli pada Minjoo, masih kelewat manis untuk jantung Minjoo yang tak bersalah. Seperti malam saat dia membersihkan kamar Minjoo, kalian tahu sendiri bukan bagaimana hangatnya itu semua?

Tapi.. apa kalian tidak melihat ada sesuatu yang ganjil dari yang ia lakukan saat malam itu?

Saat dia berjalan, berbicara pada Minjoo.. ia benar-benar melakukannya secepat mungkin. Seperti ingin melakukan hal-hal yang terikat dengan Minjoo segera selesai. Seperti menjaga jaraknya dari gadis itu.

Dan itu tidak hanya terjadi satu kali, pernah suatu saat Minjoo pulang terlambat—baru kali itu lagi Minjoo terlambat pulang—namun Baekhyun tidak marah padanya, tidak seperti yang sebelumnya ia selalu lakukan saat Minjoo pulang terlambat. Malah, Baekhyun hanya berkata: kalau mau pulang terlambat, bilang saja dahulu padaku. Aku tidak akan memarahimu atau bertanya apa yang kau lakukan, tapi setidaknya jangan membuatku khawatir. Masih banyak hal lainnya yang pria itu lakukan pada Minjoo dan polanya masih sama seperti itu. Tingkahnya ditarik dan mengulur. Awalnya Minjoo memang tidak mengerti mengapa Baekhyun bertingkah seperti itu. Namun, saat ia mengingat bahwa ia pernah bilang padanya untuk jangan mendekatinya, Minjoo baru sadar bahwa itu semua karena dirinya. Baekhyun ingin menjaganya. Ingin.. menghargainya.

Seharusnya.. mulai dari saat ini, Minjoo sudah bisa melepaskan keraguannya. Segala sisinya yang mengatakan bahwa Baekhyun tidak menyayanginya, harusnya Minjoo memusnahkan itu semua. Semuanya.. harusnya.. sudah terlalu jelas tanpa harus kata-kata yang menjelaskannya. Semua yang Baekhyun lakukan padanya, yang Baekhyun berikan untuknya, sudah lebih cukup untuk menjelaskan isi hati pria itu. Minjoo, kau hanya perlu percaya padanya sekarang.

Tapi, lagi dan lagi, Minjoo tetaplah Han Minjoo. Han Minjoo yang membutuhkan fakta dan kejelasan se-detil mungkin. Dia tidak bisa menyingkirkan sisi kecil itu begitu saja.

 

“Ya..” Panggilan Ibu Baekhyun menyadarkannya, “Kenapa melamun? Lihat, kau hampir memotong jarimu..”

Minjoo tersadar dengan perkataan Ibu Baekhyun dan dia langsung melihat ke jemarinya. Sedikit lagi saja Minjoo memajukan pisaunya, mungkin dia benar-benar akan kehilangan jarinya.

“Ah, maaf, Bibi..” Minjoo menarik jari telunjuknya, “Aku tak melamun apa-apa. Hanya sedang berpikir akan sesuatu..”

Ibu Baekhyun menggeleng pelan dan dia melanjutkan dirinya untuk mengaduk-aduk sayur di hadapannya. Minjoo pun melanjutkan kembali tugasnya, memotong-motong wortel serta labu. Ibu Baekhyun akan memasakkan sayur kari untuknya, tentu saja dengan senang hati Minjoo menerimanya. Juga menolongnya.

“Minjoo-ya, hubunganmu dengan Baekhyun sudah sampai dimana?”

Jujur, Minjoo seperti tengah tersedak wortelnya saat ini. Maka ia berdeham pelan seraya menahan darahnya untuk tidak mengalir ke wajahnya.

“K-kenapa memangnya Ibu bertanya seperti itu..?”

Ibu Baekhyun hanya tersenyum pelan, Minjoo bisa melihat sekilas dari tempatnya.

“Tidak, hanya saja aku selalu sedih mengingat waktu itu kalian pernah bertengkar untuk waktu yang cukup lama, enam tahun lamanya, padahal kalian sudah seperti dua insan yang tak terpisahkan sejak kalian kecil.”

Minjoo bisa melihat bahwa tatapan Ibu Baekhyun berubah, seperti dia ingin menangis di tempatnya. Jelas saja Ibu Baekhyun mengetahui dan melihat saat-saat Minjoo dan Baekhyun bertengkar. Saat itu umur mereka masih 18tahun, pikiran mereka belum terbuka dan yang mereka pikirkan hanyalah keegoisan diri sendiri. Mereka tidak tahu bahwa pertengkaran itu membuat dua keluarga yang harusnya bersatu menjadi saling merasa tidak nyaman karena mereka. Merasa sedih dengan mereka. Hati Minjoo langsung merasa bersalah saat mengingat itu semua.

“Ibu tahu, Ibu tidak pantas mengetahui masalah apa yang membuat kalian bertengkar, jadi Ibu tidak akan pernah bertanya, tapi..” Ibu Baekhyun tiba-tiba menghentikan pergerakannya dan lalu menatap Minjoo sendu, “Bisakah kau memaafkan Baekhyun untuk kesalahan yang ia perbuat padamu? Bisakah.. kau dan Baekhyun seperti dahulu lagi..?”

Minjoo ingin menangis, demi Tuhan. Air matanya telah berada di pelupuknya, siap jatuh kapan saja. Meski ini hanyalah Ibu Baekhyun, tetap saja dia adalah seseorang yang melahirkan pria yang berharga untuknya ke dunia ini. Jelas sekali, perkataan bahwa dirinya menginginkan Minjoo untuk terus bersama Baekhyun menyentuh hati kecilnya dan membuat hati kecilnya merajai seluruh tubuhnya. Perasaan itu benar-benar hangat dan Minjoo tak bisa tolak lagi.

“Ibu…” Minjoo menjatuhkan air matanya, “..kenapa Ibu berkata seperti itu, aku menangis jadinya..”

Ibu Baekhyun terkekeh pelan, “Kan sudah kubilang bahwa kau itu sudah seperti putriku sendiri. Jadi aku mencintaimu seperti anakku sendiri. Mengetahui kau adalah istri dari anakku tentunya sangat membuatku bahagia, tapi mengetahui kau dan dirinya bertengkar juga membuat hatiku sakit..” Tangan Ibu Baekhyun pindah menggenggam tangannya,

“Jadi.. bisakah kau memaafkan Baekhyun untuk kesalahannya dan kembali seperti dahulu..?”

Minjoo bergeming, dia benar-benar ingin mengatakan ‘iya’ untuk pertanyaan itu tapi sisi itu masih terlalu kuat menahannya.

“Aku.. akan mencobanya, Ibu.”

Bagaimanapun juga, dia harus tetap mencoba. Meski tampaknya akan sulit—atau dia ragu akan tingkat kesulitannya—Minjoo harus mencoba.

“Aku.. akan mencoba untuk bisa kembali dengan Baekhyun seperti dahulu..”

.

Kring. Kring.

Telepon rumah Ibu Baekhyun berdering. Membuat dirinya dan Ibu Baekhyun yang sedang menikmati acara televisi di ruang tengah saling menengok.

“Biar aku angkat—“

“Tidak usah, biar Ibu saja.” Ucapnya seraya tersenyum pelan lalu beranjak mengangkat telepon itu.

Minjoo sudah cukup lama diam di rumah Ibu Baekhyun, sekarang cahaya matahari pun sudah sedikit berwarna ke-oranye-an. Menandakan bahwa waktu sudah lewat dari jam tiga sore. Setelah menangis tadi, Ibu Baekhyun menenangkan Minjoo dengan memeluknya. Kini Minjoo tahu warisan darimana pelukan hangat yang Baekhyun miliki, pria itu benar-benar persis seperti ibunya. Mereka menghabiskan waktu mereka untuk mengobrol, bertukar cerita, makan siang bersama, dan yang sekarang ini sedang menonton serial sore di televisi.

Minjoo benar-benar merasa nyaman tinggal disini, dikasihi oleh Ibu dari pria yang ia cintai. Andai saja Baekhyun bisa benar-benar menjadi miliknya, dia tentu akan meminta Baekhyun untuk tinggal disini saja bersamanya.

“Minjoo-ya..” Ibu Baekhyun telah muncul lagi dan Minjoo langsung menolehkan wajahnya sambil tersenyum.

“Tadi Baekhyun menelepon, meminta untuk membawakannya sweater hangatnya.” Minjoo sempat kehilangan senyumannya saat nama Baekhyun disebutkan, “Kau tidak bilang padanya bahwa kau sedang mengunjungi rumah Ibu? Dia tampak sedikit kaget saat Ibu bilang Minjoo ada disini..”

Jelas saja pria itu tidak tahu, Minjoo mana berani bilang padanya bahwa dia akan mengunjung Ibunya. Belum lagi, tidak ada kesempatan untuknya mengadu hal seperti itu.

“Iya, aku tidak bilang, Ibu..”

Ibu Baekhyun hanya terkekeh pelan, “Pantas saja. Ya sudah, Ibu carikan dahulu ya sweater hangatnya Baekhyun—“

“Tidak usah, Ibu.” Minjoo menghentikan langkah Ibu Baekhyun, dia merasa tidak nyaman kalau membiarkan Ibu Baekhyun mencarikan sweater hangat milik Baekhyun. Minjoo ini masih istri sahnya, harusnya dia yang melakukan itu. “Biar aku saja yang mencarinya, Ibu taruh dimana sweater hangat Baekhyun?”

“Ah, baiklah.” Ibu Baekhyun tersenyum lega sambil menunjuk sesuatu ke atas. “Itu, di lemari kamarnya. Ada di tumpukan baju yang paling belakang. Kau cari saja yang berwarna biru.”

Minjoo mengangguk perlahan lantas berjalan menaiki tangga. Menuju kamar Baekhyun berada.

.

Kamar ini tidak jauh berbeda dari saat Minjoo terakhir kali mengunjunginya, sepertinya sekitar tujuh tahun yang lalu, sebelum Baekhyun mengakui perasaannya pada kakaknya.

Kamar Baekhyun selalu seperti ini, bersih dan rapi. Minjoo tahu Baekhyun adalah tipikal orang yang sangat mencintai kebersihan, dia paling benci melihat debu atau kotoran barang se-atom pun karena menurutnya itu akan melukai tubuhnya. Dia sering sekali memarahi Minjoo kalau gadis itu mengotorinya dengan rempahan snack dan kue, dia bahkan pernah membuat aturan yang berbunyi; setiap satu sampah yang mengotori ruangan Baekhyun, akan di denda sebesar seribu won. Mengingat itu membuat Minjoo menjadi terkikik sendiri.

Minjoo pun berjalan lagi semakin ke dalam, menuju lemari bajunya. Dia membukanya dalam hitungan detik dan wangi Baekhyun langsung menguar darisana. Sumpah, ini membuatnya gila. Dia seperti ingin membawa semua baju itu dan menaruhnya di kamarnya untuk pasokan oksigennya sendiri. Maklum, dia sudah sangat lama untuk bisa merasakan wangi Baekhyun di tubuhnya dan ia rasa ia sudah mati karena kehabisan pasokan oksigen itu.

Minjoo menuruti seperti titahan Ibu Baekhyun, mencari tumpukan baju paling dalam untuk sweater hangat yang Baekhyun inginkan.

Ia menemukan tumpukan baju itu dan juga sweaternya. Namun, Minjoo juga menemukan sesuatu dari balik tumpukan baju tersebut. Sebuah kotak berwarna coklat, berukur sekitar 30x30cm.

Tentu saja Minjoo merasa mengganjal dengan kotak itu, seingatnya Baekhyun tidak pernah memberitahunya perihal soal kotak ini. Penasaran, Minjoo pun menarik kotak tersebut keluar. Membawanya, lalu ia duduk di atas lantai sambil membukanya.

Jantungnya tiba-tiba menghangat, seperti warmpack telah ditempelkan di hatinya saat Minioo melihat isi dari kotak itu.

Banyak sekali fotonya disana. Ada yang bersama Baekhyun juga, namun sepertinya foto tunggal dirinya lebih banyak disana. Gambaran yang pernah Minjoo buat semasa dia taman kanak-kanak pun ada disana, gambaran yang menjadi hadiah ulang tahun Baekhyun yang ke-enam tahun saat pria itu memintanya. Tulisan lagu Baekhyun yang pernah pria itu ciptakan untuknya pun ada disana, yang seketika saat Minjoo membacanya membuat hatinya benar-benar tersentuh.

 

“Han Minjoo temanku. Yang cantik tapi banyak berbicara. Yang centil tapi senang bermain tanah. Yang pemberani tapi paling tidak bisa tidur tanpa lampu.”

“Suatu saat, kau harus menikah denganku di masa depan.”

 

Demi Tuhan, ini benar-benar membuatnya mengingat masa-masa indah dirinya bersama Baekhyun beberapa tahun silam. Dimana rasanya dunia hanya seperti milik mereka berdua, dimana seperti pria itu hanya untuknya. Perasaan dahulu, yang mengatakan dia tidak membutuhkan siapa-siapa selain Baehyun di sisinya. Ini semua semakin menempatkan Minjoo pada posisi yang sulit, dimana dia harus menumbuhkan harapan itu lagi padanya.

Sesaat, Minjoo tak sengaja menangkap sebuah buku di balik tumpukan foto itu. Buku yang cukup tebal, berwarna merah. Dan Minjoo jelas sekali tidak mengetahui tentang buku itu.

Minjoo tahu ini sangat lancang karena Minjoo membuka-buka privasi Baekhyun. Tapi, bagaimana lagi. Rasa penasarannya lebih besar daripada rasa bersalahnya. Minjoo pun memutuskan untuk membuka buku itu.

Yang ternyata.. itu adalah buku harian Byun Baekhyun.

.

London, June 2010

Ini adalah kali pertamanya aku menulis buku harian. Aku selalu benci untuk menulis buku harian tapi pada akhirnya aku melakukannya juga.

Aku kesepian disini. Tidak ada Minjoo disini. Tidak ada Minjoo yang menemaniku dan berbicara padaku. Tidak ada Minjoo yang memarahiku atau mengajakku bermain. Aku sangat kesepian dan aku juga sangat merindukannya. Ini baru satu bulan tapi aku sudah sangat merindukannya.

Ah, aku baru mengerti mengapa aku melakukan ini. Maksudku, menulis buku harianku. Ini semua karena Minjoo tidak disampingku.

.

London, June 2011

Hari ini adalah hari kelulusan Minjoo. Gadis itu berhasil melewati masa sekolahnya. Aku baru saja menelepon Ibu dan Ibu bilang Minjoo mendapatkan peringkat tertinggi untuk ujian seleksinya. Wah, rasanya aku sangat bahagia sekarang. Aku seperti ingin berlari ke Korea dan memeluknya. Mengatakan “Selamat, gadisku memang pintar.”

Sepertinya aku harus mengatakan ini saja padamu, sejak namamu adalah Han Minjoo, buku harian.

Han Minjoo, selamat atas kelulusanmu! Gadisku, sudah cantik.. pintar lagi! Aku sangat bangga padamu!

.

London, June 2012

Han Minjoo, ada gadis yang menyatakan cinta padaku hari ini. Namanya Catherene. Dia memang cantik dan pintar, tapi sayangnya dia itu bukan dirimu. Ah, benar. Mana ada yang bisa menandingimu, menandingi kecantikanmu dan tingkah lakumu. Minjoo-ya, aku salah! Maafkan aku! Tak seharusnya aku berbicara ini padamu.

P.s: Aku sudah merindukanmu lagi, Han Minjoo. Apa kabarmu disana?

.

London, June 2013

Minjoo-ya, aku menulis ini disaat hujan sedang begitu lebat dan petir menyambar di sekitar telingaku. Aku menyembunyikan diriku di bawah selimut, berharap bahwa kau bisa muncul disana dan memegang tanganku. Aku tahu, harusnya saat ini aku lari kepadamu, memelukmu, menutup kupingmu supaya kau tidak mendengar suara petir ini lagi tapi maaf, aku ternyata juga takut dengan hujan dan petir, Minjoo-ya. Tanpa aku sadari aku menumbuhkan rasa takut ini saat tumbuh bersamamu. Apa yang menjadi ketakutanmu juga menjadi ketakutanku. Kita memang berjodoh sepertinya, Minjoo-ya.

p.s: Lagi dan lagi, aku selalu merindukanmu, Han Minjoo. Aku benar-benar merindukanmu.

.

London, June 2014

Hari ini, aku mendengar kabar dari Hyojoo noona bahwa kau tengah dekat dengan seorang lelaki. Hyojoo noona juga bilang padaku bahwa sepertinya kau juga menyukainya.

Jujur, aku sangat sakit mendengar ini semua, Minjoo-ya. Mengetahui bahwa perasaanmu masih belum sama denganku, aku benar-benar frustasi dan depresi untuk menerima semua ini.

Apa selamanya kita hanya bisa berteman, Minjoo-ya? Tapi aku tidak mau itu, aku ingin memilikimu sepenuhnya. Bukan sebagai teman, tapi sebagai wanitaku. Ketahuilah, Minjoo, aku sudah sangat menyayangimu sampai di titik aku berani bertaruh untuk nyawaku demi dirimu. Hatiku ini sudah dari sejak lahir tercipta untukmu. Jantungku ini terus menerus memanggil namamu dan menyebut namamu. Rasanya, aku tidak pernah menyebut nama lain selain nama bermarga Han dan bepanggilan Minjoo di dalam sini.

Apa… selama ini hanya aku yang menganggapmu spesial? Menganggap hubungan ini lebih dari sekedar teman? Sepertinya begitu..

Sepertinya, hanya aku yang mencintaimu dari sini. Dari sebelahmu.

Han Minjoo.. apa kau tidak bisa menungguku? Apa kau tidak bisa memberikan hatimu untukku?

Demi Tuhan, Minjoo-ya. Aku seperti ingin mati sekarang. Aku takut kembali Minjoo-ya, inilah rasa ketakutan terbesarku saat meninggalkanmu.

Aku takut bahwa aku benar-benar bisa kehilanganmu.

.

Entah sudah berapa derasnya air mata Minjoo saat ini. Minjoo tidak peduli dengan baju yang basah, atau wajahnya, atau buku harian Baekhyun yang ikut juga basah. Hatinya benar-benar sudah selembek seperti dicelupkan ke air. Bukan air dingin, tapi air hangat.

Minjoo benar-benar tak menyangka bahwa ini semua nyata. Sangat nyata. Semua tulisan Baekhyun, semua ungkapannya mengenai apa yang ia rasakan, tertulis jelas di atas kertas ini.

Perlahan, ucapan Baekhyun pada malam itu pun terngiang di telinga Minjoo.

 

“Aku selalu mencintaimu, Minjoo-ya. Dari dahulu sampai sekarang.. perasaan ini tidak pernah berubah untukmu.”

“Aku hanya mencintaimu, Han Minjoo.”

 

Kini, Minjoo mengerti dengan semuanya. Dia mengerti dengan seluruh yang Baekhyun lakukan, dari dahulu, dari saat mereka pertama kali bertemu, lalu masa-masa sekolah mereka, sampai masa-masa dimana mereka setelah menikah kemarin ini dan sebelum mereka bertengkar. Minjoo mengerti bahwa selama ini, Baekhyun sudah begitu keras memberitahunya tentang perasaannya. Memberi segala perhatian, rasa kasih sayang, peduli pada Minjoo. Memberitahu bahwa Baekhyun menyayanginya. Mencintainya.

Minjoo benar-benar seperti orang bodoh saat ini. Dia merutuki kebodohan itu, benar kata kakaknya. Dia lah orang yang tak bisa melihat Baekhyun. Selama ini, dalam hatinya Minjoo selalu meminta Baekhyun untuk setidaknya satu kali saja melihat Minjoo, namun nyatanya Minjoo-lah yang tidak pernah melihat Baekhyun barang satu kali itu. Minjoo yang terlalu bodoh dan Minjoo yang selalu bodoh dalam hal ini.

Perlahan, Minjoo pun bangkit. Memeluk buku harian itu dan berjalan keluar. Sisa air matanya ia biarkan saja seperti itu, dia tahu bahwa perasaan hangatnya akan mengeringkan itu semua.

Sekarang, sisi kecil itu benar-benar sudah lenyap dari tubuhnya. Tidak ada keraguan atau kegelisahan yang Minjoo khawatirkan lagi. Kali ini, Minjoo yang harus berlari ke Baekhyun. Yang harus menahan Baekhyun untuk tidak pergi darinya dan menyatakan bahwa dia juga menyayangi pria itu. Mulai dari saat ini, Minjoo tidak akan pernah melepas Baekhyun lagi dan meragukan perasaannya lagi.

Baekhyun mencintainya.

Dan dia juga sangat mencintainya.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Ini semua sudah diluar batas Chanyeol. Pria itu tahu, bahwa keputusannya meninggalkan Hyojoo adalah kesalahan terbesarnya. Dia berpura-pura kuat, mengatakan pada semua orang saat ditanya ‘mengapa wajahmu seperti itu?’ dengan senyuman ‘aku tidak apa-apa’ tapi padahal di dalam sana hatinya sudah remuk. Pecahan hati benar-benar menggores seluruh tubuhnya.

Dia tidak pernah tahu bahwa sesulit ini rasanya meninggalkan Hyojoo. Tidak bisa melihat gadis itu, tidak bisa memeluknya, menciumnya, mendengarnya, menatapnya, membuatnya seperti hidup di dunia kegelapan. Semuanya terasa berat dan Chanyeol seperti tidak ingin menjalankan hidupnya kembali.

“Tak bisakah kau kembali dengan Hyojoo noona, Park Chanyeol?”

Chanyeol tersenyum pelan, menatap Baekhyun yang tengah berbicara padanya. Kali ini mereka sedang berada di sebuah café di Itaewon, dekat rumah ibu Chanyeol.

Beberapa waktu lalu, Baekhyun menghubunginya. Mengajak berbicaranya mengenai Hyojoo. Baekhyun menceritakan semua yang terjadi pada gadis itu selama dia meninggalkannya. Dari mulai gadis itu yang nekat ingin terjun dari atap gedung perusahaan sampai dirinya yang saat ini tengah dikurung oleh Ayahnya. Jujur, Chanyeol sangat terluka dan kesal saat mendengar itu semua. Maksudnya, dia sangat kesal pada Ayah Hyojoo yang memperlakukan putrinya seperti binatang. Chanyeol selalu tahu bahwa Ayah Hyojoo selalu memperlakukan gadis itu seperti robot, menyuruhnya melakukan hal yang Hyojoo tidak suka dan melarangnya melakukan yang Hyojoo suka. Hyojoo sering menceritakannya dahulu, bagaimana dia benci masuk jurusan manajemen bisnis hanya demi Ayahnya, bagaimana Ayahnya yang melarangnya menari, dan masih banyak lainnya. Ok, mungkin Chanyeol tidak masalah jika Ayah Hyojoo ingin melarang hubungannya dengan Hyojoo. Tapi apa seharus itu sampai-sampai mengurung Hyojoo?

“Noona itu sangat mencintaimu, Park Chanyeol. Kau tak kasihan apa bagaimana terlukanya perasaannya sekarang?” Kepulan asap dari kopi yang ia pesan keluar dari gelas Chanyeol, “Kau hanya perlu kembali saja padanya. Masalah Ayahnya, biar aku yang mengurus. Aku sangat kenal baik Ayahnya, yang perlu kau lakukan hanyalah kembali padanya.”

Chanyeol tersenyum pelan, “Tidak bisa semudah itu, Byun Baekhyun.” Pria itu menggenggam cangkirnya yang panas, menatapnya dengan kosong. “Yang Ayahnya lakukan itu benar. Tak seharusnya aku berhubungan dengan Hyojoo. Kalangan kalian berbeda dengan kalanganku. Dia terlalu jauh di atas dan aku hanya berada di bawah kalian. Aku takut, dia tidak bisa hidup bahagia jika dia harus turun pada kalanganku.”

“Kau pikir aku pergi karena aku tidak mencintainya? Kau salah kalau berpikir seperti itu. Aku sangat mencintainya, dan aku ingin membuatnya bahagia.” Chanyeol menjeda perkataannya selama beberapa detik, masih tetap menatap kosong di hadapannya namun cengkraman di cangkirnya menguat.

“Justru karena aku sangat mencintainya.. maka.. aku harus pergi dari kehidupannya.”

Baekhyun menghembuskan nafas kasarnya, merasa apa yang Chanyeol pikirkan jauh dari kata logis.

“Kau pikir hanya memiliki kekayaan bisa membuat Hyojoo noona bahagia? Kau salah besar, Park Chanyeol. Kebahagiaan itu bukan datang dari materi yang dimiliki, tapi dari hati yang merasakan. Jika hati kalian sakit, sebanyak apapun materi yang kalian punya tidak bisa mengobati sakit tersebut. Itulah yang terjadi pada Hyojoo noona, dia hanya membutuhkanmu untuk mengobati hatinya yang sakit.”

Sebenarnya, Chanyeol menumbuhkan harapan-harapan itu. Dimana dirinya bisa kembali lagi dengan Hyojoo dan hidup bersamanya, hanya saja perbatasan yang Chanyeol selalu rasakan terlalu kentara di hatinya. Menahannya.

“Aku tak bisa, Byun Baekhyun. Aku benar-benar tak bisa.”

“Park Chanyeol—“

Drrt. Drrt.

Getar ponsel Chanyeol berdering di atas meja. Membuat Baekhyun menghentikan omongannya. Sekilas dia sedikit menghembuskan nafas kasarnya, kesal karena Chanyeol terus-terusan menolak untuk kembali pada Hyojoo, lalu mengangkat dagunya menunjuk ponsel Chanyeol. Maksudnya, Chanyeol harus mengangkat panggilan itu.

Chanyeol juga ikut menghembuskan nafasnya. Perlahan, dia pun menjawab telepon tersebut.

“Ya, Park Chanyeol disini.”

“Kau siapanya dari pemilik ponsel ini!?”

Chanyeol mengerutkan keningnya, dia memang tak mengecek panggilan dari siapanya saat mengangkat panggilan ini. Dia pun memundurkan ponselnya dari telinganya, untuk melihat panggilan tersebut.

Kening wajahnya bertaut, seperti kaget dicampur khawatir.

 

Han Hyojoo.

 

“Ya!! Cepat jawab, kau siapanya dari pemilik ponsel ini!!”

“Kau siapa!? Kenapa kau bisa memegang ponsel ini!!” Saat Chanyeol berteriak, Baekhyun menolehkan wajahnya untuk memerhatikannya. Dia tahu bahwa ada yang tidak benar saat ini.

“Aku bertanya kau malah menjawabnya dengan pertanyaan, keparat!!!”

Saat itulah Chanyeol benar-benar seperti kelepasan jantungnya. Saat dia mendengar suara wanita yang paling ia rindukan setengah mati, tengah menangis dan terisak disana.

“Chanyeol-ah.. tolong aku..”

Tangannya langsung terkepal dan Chanyeol langsung berdiri dari tempatnya,

“YA!!! Apa yang kau lakukan padanya!!?? Jangan kau berani menyentuhnya, bajingan!!!”

“Haha, rupanya kau kekasihnya.” Chanyeol masih bisa mendengar suara isakan dan sesekali jeritan terdengar dari sana, membuat semakin mengepalkan tangannya dan menggebrak-gebrak meja.

“BAJINGAN!!! SUDAH KUBILANG JANGAN SENTUH DIA!!!”

“Kalau kau tidak ingin aku menyentuhnya, cepat jemput dia dengan total uang 300juta won!! Temui dia di gudang bekas dekat sungai Han dan jangan pernah panggil polisi!!!”

Telepon pun dimatikan, membuat Chanyeol kalut setengah mati hingga dia melempar ponselnya keras ke atas meja.

“Ya!! Ada apa!?” Baekhyun sudah memerhatikannya sedari tadi, melihat Chanyeol yang marah-marah pada entah siapa di panggilannya tentu membuatnya khawatir. “Siapa yang menelepon tadi!!?”

“Baekhyun-ah, cepat telepon rumah Minjoo. Tanyakan apakah Hyojoo ada di rumah atau tidak!”

“Untuk apa—“

“CEPAT!!!”

Baekhyun yang awalnya bingung pun kini hanya mengikuti kemauan Chanyeol. Dia pun menelepon rumah Minjoo, bertanya pertanyaan yang persis seperti Chanyeol ajukan.

“Halo, bi. Apa Hyojoo noona ada di rumah?”

Chanyeol memerhatikan Baekhyun dengan seksama. Berharap Baekhyun akan menatapnya dan bilang ‘kau ini gila ya menanyakan seperti itu.’

Tapi, respon yang Chanyeol harapkan langsung kandas saat Baekhyun mengubah raut wajahnya sama seperti Chanyeol yang kalut tadi.

“Apa!? Noona belum pulang dari kemarin!?”

Sial, jantung Chanyeol benar-benar hancur saat ini.

“Baiklah, bibi tidak usah menangis. Aku pasti akan mencari noona. Sekarang aku tutup panggilannya dahulu ya.”

Baekhyun mematikan panggilannya dan dia langsung menatap Chanyeol dengan serius,

“Ya, yang menghubungimu tadi siapa? Apa ini ada hubungannya dengan Hyojoo noona? Noona belum pulang dari kemarin dan—“

“Hyojoo noona diculik, Baekhyun-ah. Yang tadi memanggilku adalah penjahatnya. Dia meminta tembusan uang sebesar 300juta won dan menyuruhku untuk datang ke gedung bekas dekat sungai Han.”

Baekhyun tampak seperti menghembuskan nafas beratnya saat ini. Sedangkan Chanyeol, dia merutuki semuanya pada dirinya. Merasa diculiknya Hyojoo saat ini adalah kesalahannya.

“Coba saja aku bisa tetap memerhatikannya dan mengawasinya. Tapi kenapa aku malah pergi dan meninggalkannya.” Chanyeol mengacak-acak rambutnya kasar, matanya sudah seidkit berair sekarang. “Ini semua karenaku. Lagi-lagi, Hyojoo harus terluka karenaku. Park Chanyeol bajingan!!!”

Dia melempar gelas minuman tadi hingga pecah dan membuat seluruh orang menatapnya. Pelayan café pun sampai menghampirinya, takut dia membuat kegaduhan, namun sebelum Chanyeol benar-benar melakukan itu, Baekhyun pun menenangkannya.

“Ini bukan karenamu, Park Chanyeol. Ini hanya musibah yang dialami noona.” Chanyeol masih merunduk kesal, demi Tuhan saat ini dia seperti ingin mencabut jantungnya.

“Daripada kau terus merutuki ini, lebih baik sekarang kita bergegas. Pertama-tama kita datang ke rumahku dahulu, menyusun rencana untuk menyelamatkan noona. Baru setelah itu kita datang ke mereka. Ayo cepat, Chanyeol-ah!”

Setelah berhasil mengatakan itu, Chanyeol pun mendongakkan kepalanya, mulai berjalan dengan tatapan yang demi Tuhan, kalian tidak mau melihat. Sebelum Baekhyun menyusulinya, Baekhyun sempat memohon maaf pada pelayan café dan memberikannya sejumlah uang untuk mengganti kegaduhan yang Chanyeol lakukan dan barulah dia mengikuti Chanyeol. Bergegas menuju rumahnya.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Dengan perasaan bahagia sampai langit ketujuhnya, ditambah perasaan hangat yang mencairkan hatinya, Minjoo pun turun dari taksinya. Air matanya telah mengering, benar bukan seperti prediksinya beberapa waktu lalu. Perasaan itu terlalu hangat dan terlalu nyata untuk tubuhnya.

Minjoo sudah akan meneguhkan hatinya sekarang. Sudah tidak ada keraguan yang menahan atau menghalanginya. Dia hanya akan berlari pada Baekhyun, memohon maaf karena kebodohannya yang selama ini mungkin menyakiti pria itu. Biarlah kalau Baekhyun akan lama memaafkannya, yang jelas Minjoo hanya akan terus seperti magnet utara padanya, si magnet selatan Byun Baekhyun. Medan magnet itu akan Minjoo buat sangat kuat sampai tidak ada yang bisa memisahkan dirinya dengan Baekhyun lagi.

Saat Minjoo melihat Baekhyun di ruang tengahnya, dia masih tersenyum merekah dan seperti ingin langsung berlari memeluk Baekhyun saat itu. Namun, dia menyadari bahwa Baekhyun tak sendirian disana. Ada seseorang duduk di sampingnya, lelaki yang postur tubuhnya sangat Minjoo kenal.

“Ya!”

Baekhyun dan Chanyeol pun menolehkan kepalanya, menghadap Minjoo. Saat mengetahui tebakannya benar, Minjoo langsung tersulut emosinya. Mengingat apa yang telah Chanyeol lakukan pada kakaknya.

“Park Chanyeol, kau!!!”

.

“EONNIE DICULIK!!?”

Minjoo berteriak sangat kencang. Perasaan bahagianya telah ia buang sejauh mungkin dan menggantikannya dengan perasaan kalut dan khawatir. Sekarang pun dia telah menangis.

“Ya!! Bagaimana ini…” Minjoo tidak bisa menghentikan tangisannya sambil menatap Baekhyun dan Chanyeol bergantian, “Kenapa eonnieku bisa culik.. Apa salah dia.. Eonnieku…”

“Ya.. Minjoo-ya..” Baekhyun bisa merasakan apa yang Minjoo rasakan. Dia pun menarik tangan Minjoo, menggenggamnya begitu hangat dan lembut. Berusaha untuk membuat Minjoo tenang dan percaya bahwa Han Hyojoo baik-baik saja.

“Jangan menangis. Aku pasti akan mencari kakakmu, sampai ketemu. Kau tidak usah khawatir, kau harus percaya padaku.”

“Tapi tetap saja..” Minjoo memang merasakan kehangatan tangan Baekhyun dan dia mempercayai pria itu yang akan berusaha mati-matian menemukan kakaknya. Hanya saja, dia tidak percaya pada takdir apa yang akan menimpa kakaknya. “..Bagaimana kalau eonnie dibunuh, aku masih banyak melakukan kesalahan pada eonnieku..”

Baekhyun mencoba tersenyum, meski rasanya berat karena dia juga sama kalutnya seperti gadis itu, Pria itu tetap harus membuat Minjoo tenang.

“Kau harus percaya bahwa eonniemu tidak apa-apa. Kalau kau terus berpikiran seperti itu, apa yang kau pikirkan benar-benar akan terjadi. Kau mau seperti itu?”

Minjoo langsung menggeleng kepalanya. Tentu saja, dia gila kalau dia menganggukan kepalanya.

Baekhyun pun langsung tersenyum lembut sambil memindahkan tangannya pada wajah Minjoo. Menghapus air mata gadis itu.

“Gadis baik.” Dan juga dia memindahkan tangannya menjadi mengelus-elus rambut Minjoo dengan lembut. “Han Minjoo kan memang gadis yang selalu baik.”

“Ya, Baekhyun-ah. Aku menemukan lokasinya.”

Karena merasa Minjoo sudah sedikit lebih tenang sekarang, Baekhyun pun melepaskan tangannya dari Minjoo dan menoleh menghadap apa yang Chanyeol lihat.

“Lihat.” Dia menunjuk sesuatu di layar laptop miliknya, “Ini alamat IP milik ponsel noona. Mereka benar, mereka ada di gedung bekas dekat sungai Han itu.”

“Baiklah, kalau kupikir lagi, sepertinya para penculik itu hanya penculik kelas baru, Chanyeol-ah.” Baekhyun pun mengambil ponselnya dan memperlihatkannya pada Chanyeol. Minjoo yang duduk di sebelah Baekhyun pun ikut memerhatikannya.

“Lihat, gps noona pun aktif. Mereka sepertinya tidak tahu cara mematikannya atau mengoperasikan ponsel tersebut. Kemungkinannya adalah mereka ini hanya penjahat pinggir jalan yang menemukan noona di jalan, melihat pakaian noona yang mewah dan mengiranya berasal dari keluarga kaya, lalu menculiknya untuk meminta tembusan.” Baekhyun pun mendongakkan kembali kepalanya pada arah laptop, “Kalau penjahat kelas atas yang melakukannya, pasti setelah dia menelepon anggota keluarga tawanan, mereka akan langsung membuang ponsel itu supaya tidak ada yang bisa melacaknya. Harusnya juga mereka meminta tembusan yang lebih besar dari sekedar 300juta won.”

“Berarti maksudmu kita bisa menjemput noona hanya berdua? Karena mereka mudah?”

Baekhyun menganggukan kepalanya dan itu membuat Minjoo membulatkan matanya.

“Tidak boleh!!! Kenapa harus kalian berdua saja yang datang!!??” Minjoo sudah seperti ingin meledak di tempatnya, ingin memukul Baekhyun dengan apapun supaya pria itu sadar bahwa yang dipikirkannya tadi sangat tidak waras.

“Kalian kan tidak tahu jumlah mereka ada berapa! Belum lagi kalau mereka berbadan besar dan membawa senjata tajam. Pokoknya hubungi polisi, aku tidak mau tahu itu!!!”

“Kita pasti akan menelepon polisi, Minjoo-ya. Maksudku tadi adalah pertama-tama kita datang dahulu kesana, menjebak mereka dengan membawa koper berisi uang 300juta won itu. Namun, sebelum mereka bisa mengambil uang tersebut, para polisi akan datang dan menangkap mereka semua.” Baekhyun tersenyum pelan, meyakinkan Minjoo.

“Maksudku seperti itu, Minjoo..”

Sebenarnya, Minjoo masih ragu dan khawatir dengan rencana seperti itu. Maksud Minjoo, tetap saja meski mereka memang akan menghubungi para polisi, kenapa tidak menghubunginya dari sekarang saja dan menyusun rencananya bersama mereka? Kenapa harus mereka dahulu yang datang, mereka kan tidak tahu apa rencananya si penjahat itu setelah menerima uangnya. Ada hati kecil Minjoo yang berbisik bahwa Baekhyun akan terluka malam ini, dan jika itu benar-benar terjadi maka Minjoo akan menyalahkan dirinya sendiri karena menyetujui Baekhyun dengan rencananya.

“Aku akan ikut dengan kalian.” Tentu saja, itu langsung mendapatkan sorotan paling garang dari Baekhyun. “Aku yang akan menghubungi polisinya. Aku akan menunggu di mobil dan—“

“Kau itu memang tidak pernah mengerti dengan perasaanku ya?” Tatapan Baekhyun saat ini benar-benar sudah seperti ingin meledak di tempatnya.

“Ini sudah ke sejuta kalinya aku mengatakan ini. Apa sih yang kau tak mengerti dari kata ‘aku paling benci melihatmu terluka’? Ini sangat berbahaya Minjoo! Kalau kau sampai terluka, meski itu barang seujung kuku pun, aku benar-benar akan membunuh diriku. Kau mau masuk penjara karena tuduhan membunuhku, iya!!?” Baekhyun pun menyentak Minjoo cukup keras, “Tidak boleh!!! Kau tetap diam di rumah dan tunggu kabar dariku. Aku pasti langsung menghubungimu kalau aku telah berhasil menemukan noona.”

“Baekhyun-ah, kumohon.. Jangan seperti—“

“Maka aku lebih memohon lagi untuk jangan seperti itu terus, Han Minjoo. Berhenti melakukan hal-hal yang membuatku terluka. Aku tidak bisa menahan rasa sakitnya lagi.”

Sebenarnya, sedari tadi Baekhyun memarahinya, Minjoo telah merasakan perasaan itu. Dia tahu dia salah, situasinya sedang sangat tidak pantas untuk dia berjatuh cinta, tapi dia tidak bisa menahannya. Salahkanlah Baekhyun yang terlalu manis padanya.

“Kumohon, percaya padaku saja bahwa aku akan menemukan kakakmu dengan selamat.” Baekhyun pun menggenggam tangan Minjoo, menatapnya penuh yakin. “Kau boleh meminta apa saja dariku, bahkan kalau kau mau mengusirku, aku akan bersedia melakukannya. Hanya kumohon, tetap di rumah dan tunggu saja aku, hm?”

“Berhenti melakukan hal-hal yang membuatku khawatir dan takut. Aku benar-benar membenci itu semua.”

Mengusir Baekhyun? Tidak, yang Minjoo akan pinta adalah Baekhyun untuk menetap bersamanya selamanya. Tidak pernah pergi kemana pun lagi, hanya berdiri di sampingnya. Itu, yang akan menjadi permintaan Minjoo.

Menghembuskan nafasnya, Minjoo pun mengalah. Dia menatap Baekhyun sedikit enggan tapi pada akhirnya, dia menganggukan kepalanya. Membuat Baekhyun tersenyum cerah dari tempatnya.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Semuanya terasa gelap dan menyesakkan di sekitar Hyojoo. Seperti dunianya mengerut, meninggalkannya sendirian tanpa pencahayaan sedikit pun. Hyojoo tahu bahwa hidupnya telah berada di ujung kematian dan dia tidak bisa melakukan apa-apa selain menangis dan berdoa. Berharap bahwa dia bisa menerima kematian yang tidak pantas ini.

“Ya!!” Salah satu penculik itu berteriak tepat di telinga Hyojoo. Hyojoo hanya bergidik ngeri, lalu sedikit menjauhkan telinganya dari penculik itu. “Berhenti menangis, suaramu sangat berisik!!!”

“Hyung, apa tak seharusnya kita membuka kain hitam itu dari kepalanya?” Ada salah satu penculik yang berbicara, sepertinya keberadaan pria itu cukup jauh darinya karena suaranya tak sekencang penculik yang berteriak ke telinga Hyojoo tadi. “Kasihan dari kemarin dia tak bisa melihat apapun…”

“Ck.” Kini Hyojoo mendengar suara hentakan kaki yang menjauh darinya. “Sejak kapan kita merasa kasihan pada tawanan kita!? Kalau kau merasa kasihan, lebih baik kau pergi saja!! Tidak perlu ikut dengan kami!!”

Suara dari pria yang mengasihani Hyojoo tadi terdengar mendesah. Sepertinya dia hanyalah budak dari penculik ini.

“Hyung, ada yang datang!!!” Ada lagi suara yang berbeda muncul dari belakang Hyojoo. Dia tampak berlari, melewatinya dan entah pergi kemana.

“Sepertinya kekasih dari gadis ini telah datang!”

Hyojoo langsung menegangkan tubuhnya, mendengar ucapan yang mengatakan bahwa Chanyeol telah datang. Dia pun mulai bergerak ricuh, berharap Chanyeol bisa mendengarnya dan menemukannya.

“Ya!!!” Ada salah satu penculik yang menghampirinya, yang berteriak tadi. “Jangan banyak bergerak, kau ingin mati, huh!?”

“Lepaskan aku!!!”

Penculik yang notabenenya ketua dari penjahat itu pun berdesis pelan. Dalam satu tarikan, dia berhasil melepas kain hitam yang berada di kepala Hyojoo.

“Baiklah, aku akan membiarkanmu bernafas.” Wajahnya menipis, mendekati telinga Hyojoo. “..untuk yang terakhir kalinya..”

Tentu saja Hyojoo langsung membulatkan matanya, maksudnya ini tidak sesuai dengan janji yang dia buat dengan Chanyeol tadi siang. Dia bilang bahwa dia akan melepaskan Hyojoo kalau Chanyeol bisa memberikan tembusan sebesar 300juta won.

“Apa maksudmu—“

“Kau pikir aku ini penculik yang bodoh apa? Kalau aku membiarkanmu hidup, kau bisa mencariku dan memasukkanku ke dalam penjara. Aku tidak sebodoh itu, nona.”

Dia menyeringai dan bulu kuduk Hyojoo pun terangkat.

“Ya!! Ambilkan selotip hitam itu!!” Titahnya pada anak buahnya. “Kita harus menutup mulut wanita ini sebelum mengambil uangnya!!”

Ternyata inilah memang akhirnya. Akhir dari kehidupan Hyojoo, memang akan seperti ini.

.

Dengan setiap langkah tegas dan berani yang Chanyeol ambil, dia mencengkram erat koper yang dibawanya. Pikirannya hanya satu, hanya gadisnya. Chanyeol tidak takut kalau dirinya harus terbunuh malam ini, yang jelas Hyojoo harus tetap hidup dengan selamat.

“Kau sudah datang?”

Ada tiga pria di hadapannya sekarang. Berbadan besar, menggunakan baju hitam, dan bertato di sekujur tubuhnya. Yang berbicara itu pasti ketuanya.

“Mana gadis itu?!” Sorot pandangnya begitu tajam. Sangat yakin kalau itu lebih tajam dari sebuah samurai.

“Ck.” Si ketua itu berdecak pelan, seakan-akan merendahkannya. “Perlihatkan dahulu isi kopernya sebelum aku menunjukkan gadismu!!”

Chanyeol mendesah pelan, menahan emosinya. Perlahan dia pun mulai membuka kopernya, menunjukkan uang sejumlah yang para penculik itu inginkan. Setelah salah satu budaknya memastikan, ketua penculik itu menyuruh anak buahnya untuk membawa Hyojoo.

Dan saat itulah, ia benar-benar tidak bisa menahan emosinya kembali. Rasanya jantungnya meledak, bisa merubah dirinya menjadi monster yang paling ditakuti di dunia. Hyojoo terluka di beberapa sudut wajahnya. Ada yang berwarna biru dan bahkan ada merah yang mengalir.

“KAU MENYENTUHNYA!!!???” Chanyeol berteriak, memaki. Dia seperti bersiap ingin berlari menghampiri Hyojoo, namun pergerakannya berhenti karena Hyojoo disodorkan pistol tepat di kepalanya.

“Selangkah kau maju, berarti kau merelakan gadis ini untuk pergi ke akhirat.”

Chanyeol menahan segalanya, menahan hatinya. Dia pun hanya bisa melihat getir ke arah Hyojoo yang mulutnya di perban oleh selotip hitam. Demi Tuhan, itu benar-benar menyakitinya.

“Cepat berikan uangnya!!!!”

Dia pun menutup matanya perlahan, lalu detik selanjutnya melangkahkan kakinya. Matanya tidak pernah sedikit pun terlepas dari Hyojoo dan begitu juga gadis itu. Chanyeol tahu Hyojoo sedang menangis di dalam sana. Chanyeol tahu Hyojoo sedang memohon pertolongannya di dalam sana. Chanyeol tahu itu semua hanya dalam sebatas pandangan mereka.

Setelah memberikan koper itu, si pemimpin tadi membukanya. Seperti menghitung cepat, menyentuh seluruh uangnya. Dirasa yakin bahwa totalnya memang 300juta won, si pemimpin penculik itu pun menyuruh budaknya untuk melepaskan Hyojoo. Dengan kasar, dia mendorong Hyojoo ke pelukan Chanyeol.

“Kau tidak apa-apa?” Chanyeol menatap Hyojoo dengan air matanya yang jatuh. Melihat keadaan sesungguhnya dalam sedekat ini benar-benar menghancurkan jantungnya. “Maaf membuatmu menunggu lama sehingga kau terluka sampai seperti ini—“

Hyojoo menatap Chanyeol gelisah, meminta Chanyeol untuk melepaskan tutup mulutnya. Chanyeol sadar akan permintaan Hyojoo dan dengan perlahan ia membuka tutup mulut tersebut.

“Chanyeol-ah, mereka akan membunuh—“

“Hyung!!”

Saat Chanyeol dan Hyojoo menoleh pada sumber suara, mereka merasakan tubuhnya seperti tersambar oleh petir secara tiba-tiba. Ketika Baekhyun dilempar dengan naasnya ke atas lantai, dengan wajah dan seluruh tubuh telah bersimpuh darah, semuanya membuat baik Hyojoo maupun Chanyeol menghentikan jantungnya.

“Mereka telah menelepon polisi dan polisi sudah ada di depan!! Kita harus kabur sekarang!!”

“Aish!!!”

Hyojoo telah berlari ke arah Baekhyun sedari tadi sedangkan Chanyeol masih berada di dekat penjahat tadi. Memerhatikan gerakannya dan saat itulah, Chanyeol tahu bahwa nyawa Hyojoo benar-benar terancam.

Sebuah pistol keluar dari balik celananya, mengarahkannya pada Hyojoo.

Chanyeol tidak bisa membiarkan itu terjadi, dia tidak bisa kehilangan Hyojoo di hidupnya. Lantas dengan gerakan yang sangat cepat, ia pun menghalangi arah pistol itu dengan tubuhnya. Awalnya Chanyeol ingin melempar pistol itu jauh-jauh darinya namun semuanya terlambat.

Pelatuk telah ditarik, menembus tepat ke dada Chanyeol.

“Dasar bajingan sialan!! Lihat saja, aku akan membunuh kalian semua kalau kulihat kalian masih hidup!!”

Mereka pun pergi, meninggalkan Chanyeol dan Baekhyun yang tubuhnya sama-sama bersimpuh darah. Meninggalkan Hyojoo, yang lagi dan lagi, harus merasakan hidupnya seperti di ujung kematian.

Awalnya dia tak berani menolehkan kepalanya saat mendengar ledakan kecil itu. Hyojoo tahu bahwa hal itu pasti akan merenggut jantungnya. Tetapi, ia tetap tidak bisa mengacuhkannya.

Saat ia telah menolehkan wajahnya, prediksinya itu benar-benar terjadi.

Chanyeol telah terkapar di atas lantai dan darah mulai mengalir di sekitarnya. Matanya tertutup, seperti dia tidak tidak pernah ingin bangun kembali.

Hyojoo tahu inilah.. benar-benar akhir dari kehidupannya.

“Park Chanyeol!!!!!”

.

.

“Sehun-ah, Yubi-ya!!”

Minjoo berteriak dari koridor utama setelah melihat mereka telah berdiri dengan wajah kusut di depan ruang operasi. Minjoo telah mendengar kabarnya, bahwa Chanyeol terkena luka tembak di dadanya dan itu hampir mengenai jantungnya. Jujur itu membuatnya takut, bagaimanapun juga Chanyeol itu teman dekatnya.

“Eonnie!!” Yubi langsung mendekap Minjoo setelah Minjoo sampai di hadapan mereka. Menangis, cukup tersedu. “Oppa.. eonnie.. bagaimana dengan Oppa..”

“Ya…” Minjoo juga sebenarnya ingin menangis tapi dia menahannya. Dia teringat dengan kata-kata Baekhyun. “Kau harus tenangkan pikiranmu. Kalau kau berpikiran yang tidak-tidak, apa yang kau pikirkan akan terjadi. Kau mau itu terjadi kepada Chanyeol?”

Yubi menggeleng pelan dan dia melepaskan pelukannya. “Aku takut, eonnie. Aku benar-benar takut sekarang..”

Minjoo tersenyum lembut, mencoba menenangkan. “Aku juga takut, Yubi-ya. Tapi, daripada kita takut seperti ini, lebih baik kita berdoa supaya operasinya berjalan lancar. Kita harus berdoa supaya Chanyeol selamat.”

Yubi menganggukan kepalanya dan ia menarik nafasnya untuk tenang. Saat itulah, Minjoo menolehkan kepalanya pada Sehun.

“Sehun-ah, eonnieku dimana?”

“Hyojoo noona sedang di rawat, noona. Sedari tadi dia menangis hebat dan berteriak. Baru beberapa waktu yang lalu dia pingsan dan langsung dibawa ke kamar rawat.”

Minjoo pun menatap getir Sehun, membayangkan kakaknya yang tersiksa karena melihat Chanyeol terluka di hadapannya. Minjoo juga akan seperti itu jika mengetahui Baekhyun yang terluka.

Ah, pria itu.

“Baekhyun dimana?” Minjoo mencoba melihat ke sekitar, “Aku sedari tadi tidak melihat Baekhyun…?”

Sehun mengerutkan keningnya, “Noona, kau tidak tahu? Baekhyun hyung juga terluka.”

Demi Tuhan, jantung Minjoo langsung jatuh saat itu. Semuanya terasa seperti runtuh di hadapannya seketika. Benar saja seperti prediksi sebelumnnya. Dimana hati kecilnya yang berkata bahwa Baekhyun akan terluka malam ini.

“Apa maksudmu, Sehun-ah…”

“Baekhyun hyung juga terluka, noona. Kepalanya bocor karena para penculik menghabisinya saat dia mencoba untuk menelepon polisi. Noona tidak tahu?”

Minjoo benar-benar kehilangan sendi di lututnya dan ia terjatuh. Ia mendengar Sehun dan Yubi meneriakan namanya, menahannya, namun Minjoo tidak merasakan apa-apa selain jantungnya yang hancur dan rasa takut yang menyergap seluruh tubuhnya dalam seketika.

Dia seperti di bawa ke neraka terbawah, dimana tempatnya begitu sesak dan menyiksakan. Minjoo merasa bahwa dia seperti akan kehilangan Baekhyun selamanya.

.

.

Seperti inikah rasanya saat melihat orang yang paling kau cintai terluka? Rasanya benar-benar tubuh kalian dihuyung dengan paksa ke setiap sisi tembok. Meremukkan tubuh kalian dalam seketika saat rusuk-rusuknya menusuk jantung dan hatinya. Pantas saja Baekhyun selalu bilang padanya bahwa dia benci melihat Minjoo terluka. Minjoo juga benci melihat Baekhyun terluka.

Air mata Minjoo tak bisa berhenti sedari tadi, dengan tangannya yang menggenggam tangan Baekhyun. Dia benar-benar terluka, Minjoo benar-benar sakit melihat ini semua. Mata Baekhyun tertutup begitu erat, seperti dia tidak pernah mau membuka matanya lagi.

“Kau menyebalkan, Byun Baekhyun.” Minjoo masih menjatuhkan air matanya, “Kau pria bajingan yang selalu menyakitiku. Kau pergi dan kembali.. namun sekarang kau seperti akan pergi lagi.”

Minjoo benar-benar tidak sanggup untuk menahan ini semua. Dia baru saja berhasil mendapatkan Baekhyun lagi dihidupnya, namun ini semua apa? Kenapa ini berlalu begitu cepat? Kenapa Baekhyun seperti akan meninggalkannya lagi?

“Jangan pergi, Baekhyun-ah. Kau sudah berjanji kalau kau akan kembali.”

Minjoo menggenggam tangan Baekhyun lebih erat seraya menatap pria itu yang masih menutup matanya. Berharap bahwa suara dan genggaman tangannya memanggil Baekhyun dari alam bawah sadarnya.

“Aku sudah menunggumu. Lebih dari enam tahun, aku menunggumu. Aku tahu aku bodoh, aku tidak pernah menyadari perasaanmu padaku tapi kumohon.. jangan pergi.”

“Kumohon, kembalilah, Baekhyun-ah. Aku juga menyayangimu.”

“Aku.. mencintaimu, Baekhyun-ah. Jadi, kembalilah..”

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Hyojoo terus menangis. Begitu tersedu, seperti jantungnya tengah di tusuk-tusuk. Bagaimana tidak?

Meski Chanyeol telah menjalankan operasi dengan lancar, nyatanya dokter berkata bahwa kondisi pria itu masih kritis. Peluru yang digunakan oleh para penculik itu adalah peluru dengan bentuk mengerucut panjang. Saat ia menembus dada Chanyeol, itu sedikit menusuk jantung Chanyeol. Hingga membuat jantung tersebut bocor katupnya.

“Chanyeol-ah.. kumohon.. kembali padaku..”

Yang Hyojoo bisa lakukan hanyalah menggenggam tangannya, terus memanggilnya, dan juga memohon pada Tuhan.

“Kau tidak boleh meninggalkanku seperti ini. Benar-benar tidak boleh. Aku tidak bisa hidup tanpamu..”

Tanpa sepengetahuan gadis itu, Ayahnya tengah menatap mereka dengan sendu. Perasaan bersalah itu benar-benar menghantuinya.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

~

“Jangan pergi, Baekhyun-ah. Kau sudah berjanji kalau kau akan kembali.”

“Aku sudah menunggumu. Lebih dari enam tahun, aku menunggumu. Aku tahu aku bodoh, aku tidak pernah menyadari perasaanmu padaku tapi kumohon.. jangan pergi.”

“Kumohon, kembalilah, Baekhyun-ah. Aku juga menyayangimu.”

“Aku.. mencintaimu, Baekhyun-ah. Jadi, kembalilah..”

~

Berat. Itu yang Baekhyun rasakan saat pertama kali ia mencoba untuk sadar dari alam mimpinya. Tubuhnya sakit, matanya berat untuk hanya sekedar membuka kelopak matanya.

Awalnya Baekhyun ingin menyerah, dia tidak ingin membuka matanya. Demi Tuhan, rasanya benar-benar seperti ia sedang dihujani oleh ribuan pisau tajam di sekitar tubuhnya. Baekhyun tidak bisa menahan itu, hanya saja ia teringat dengan panggilan dari seseorang yang paling Ia cintai.

Baekhyun mendengar suaranya. Baekhyun mendengar panggilannya. Maka dari itu, Baekhyun mengeluarkan seluruh tenaganya untuk membuka matanya.

Dan itu berhasil. Baekhyun kembali pada dunianya.

Pandangan di sekitarnya memang masih remang-remang. Ada berkas cahaya yang menyinarinya, namun Baekhyun bisa tahu bahwa ia sedang berada di rumah sakit sesaat ia mencium aroma obat di sekujur tubuhnya.

Pertama kali yang ia lakukan sesaat berhasil membuka matanya adalah mengecek seluruh anggota tubuhnya. Dia mencoba menggerakan seluruh kakinya. Meski hanya pergerakan kecil, tapi itu berhasil. Anggota tubuhnya yang digunakan untuk berjalan itu masih berfungsi sangat baik.

Kali ini, dia mencoba untuk menggerakan seluruh tangannya. Tangan kanannya berhasil ia gerakan, namun tidak dengan tangan kirinya.

Tentu saja Baekhyun kaget, dia pikir ia kehilangan fungsi tangan kirinya, hanya saja itu semua bukanlah alasannya.

Gadis yang suaranya menjadi panggilan Baekhyun tadi ada disini, di sampingnya. Tertidur dengan tangannya yang menggenggam Baekhyun sangat erat. Terlalu erat tapi Baekhyun menikmatinya.

Perlahan, senyuman itu pun muncul di bibir Baekhyun. Dia sedikit merasa bersalah karena tadi sempat berpikir untuk menyerah dengan tubuhnya, padahal ada seseorang yang tidak menyerah untuknya.

Han Minjoo, gadis itu.

.

Apakah Minjoo sedang bermimpi? Kenapa saat dia membuka matanya, dia menemukan Baekhyun tepat di hadapannya? Seingatnya tadi dia sedang duduk di kursi sebelah ranjang Baekhyun, menangis dan juga menggenggam tangan Baekhyun. Memohon pada Tuhan untuk tidak mengambil Baekhyun-nya.

Tapi kenapa sekarang dia ada di atas ranjangnya? Dengan jarak sekitar tujuh sentimeter, dengan mata Baekhyun yang terbuka. Belum lagi saat Minjoo menurunkan pandangannya, Minjoo menemukan tangan Baekhyun yang mendekapnya. Menahan pinggangnya, memberikan pertahanan. Dan juga perasaannya yang menghangat di sekujur tubuhnya.

Kalau benar ini hanya mimpi, maka jangan pernah bangunkan Minjoo. Tolong.

“Ini mimpi ya…” Minjoo mendongakkan kembali pandangannya, menatap mata Baekhyun yang entah kenapa terasa sangat nyata untuknya.

“Aku sedang mimpi ya, Baekhyun-ah?”

Baekhyun mendengus pelan, tapi tatapannya tidak pernah lepas dari Minjoo.

“Aku tak tahu..” Baekhyun mengernyitkan keningnya, seperti dia sedang berpikir. “Apa kau mau mencoba membuktikannya?”

Minjoo menautkan keningnya, “Bukti?”

Baekhyun mengangguk pelan, “Hm, bukti.” Lalu dia menatap Minjop penuh arti seraya memajukan wajahnya.

“Seperti ini.”

Cup.

“Menurutmu,”

Baekhyun telah kembali pada posisi sebelumnya. Meninggalkan jejak bibirnya yang hangat di bibir Minjoo.

“Apakah ini hanya mimpi, Han Minjoo?”

Jantung Minjoo seperti lepas. Melarikan diri di sekitar tubuhnya hingga membuatnya begitu panas. Perasaannya langsung menggebu-gebu dan membuatnya ingin menangis.

Ini bukan mimpi. Ini terlalu nyata untuk hanya dikatakan sebagai mimpi.

“Kau sudah sadar?” Minjoo bertanya dengan nadanya yang begitu datar. Pelan namun sedikit tegas. Lalu dia melihat ke sekitar tubuh Baekhyun yang terluka, termasuk kepalanya yang diperban itu.

“Sudah tidak sakit lagi?”

Ada sorot pandang gadis itu yang entah kenapa seperti sedang menahan emosinya. Baekhyun bisa lihat itu, tapi Baekhyun berusaha berpikir positif bahwa itu bukanlah sorot marahnya.

“Hm, aku sudah sadar. Sudah tidak sakit lagi.”

Namun, nyatanya tebakan Baekhyun itu benar. Sorot pandang itu adalah sorot pandang amarah seorang Han Minjoo.

“Baguslah kalau sudah tidak merasa sakit lagi.”

Baekhyun melihat Minjoo melepaskan eratan tangannya, sedikit dengan kasar, lalu bangkit dari baringannya.

“Aku akan pulang sekarang kalau begitu.”

Tentu saja Baekhyun tidak mengerti dengan Minjoo yang tiba-tiba marah padanya. Dia baru saja sadar dari tidur lamanya dan yang sedari tadi ia lakukan hanyalah menyuruh suster untuk mengangkat tubuh Minjoo agar tidur di atas ranjangnya. Bersamanya. Membuatnya sebisa mungkin menebus kerinduannya pada Minjoo selama hampir dua minggu ini. Baekhyun belum melakukan kesalahan apa-apa!

“Ya..” Baekhyun merenguh, menahan tangan Minjoo. Jelas, dia tidak bisa terima dengan kepergian Minjoo dan emosinya. “..kenapa sudah pergi lagi—“

“Aku tidak mau tinggal dengan orang yang selalu punya niatan untuk pergi dariku. Aku benci dengan orang-orang seperti itu.”

Saat kata-kata itu keluar dari mulutnya, Baekhyun tahu merujuk ke arah mana perbincangan ini. Dia pun sedikit melonggarkan tangannya pada tangan Minjoo.

“Kau selalu seperti itu, Baekhyun-ah. Kau datang ke kehidupanku, memberikanku kehidupan yang penuh arti tapi setelahnya kau akan meninggalkanku dengan perasaanku yang sudah terlalu terjatuh padamu. Itu bukan hanya sekali, Baekhyun-ah. Tapi dua kali. Kau datang kembali, mengulang kejadian yang sama.. yang membuatku selalu terjatuh padamu, tapi…”

“..tapi kau berusaha untuk pergi lagi dariku. Lebih parahnya yang kali ini, kau telah membuatku berada di titik bahwa aku tidak bisa hidup tanpamu.”

Baekhyun tahu ia salah. Seharusnya saat Minjoo mengatakan itu semua, menangis dengan air matanya yang telah mengalir seperti sungai, Baekhyun merasakan perasaan bersalah karena membuat Minjoo merasakan itu. Tapi dia tidak. Yang Baekhyun rasakan adalah perasaan hangatnya.

“Kau bilang kau benci melihatku terluka atau tersiksa? Iya, aku juga benci melihatmu yang terluka dan tersiksa!!”

“Aku membencimu, Byun Baekhyun!!”

Minjoo pun sudah hendak berjalan lagi, meninggalkan Baekhyun yang menyulut emosinya. Namun, dia adalah tetap Han Minjoo. Han Minjoo yang tak pernah bisa lari dari Baekhyun.

“Han Minjoo—“

“Kenapa kau tidak bilang!?” Sekali lagi, Minjoo berhasil menghempaskan tangannya. “Kenapa kau tak pernah bilang bahwa kau menyayangiku?! Kau sengaja melakukannya supaya aku terus tersiksa karena menunggu kepastian darimu, iya!!?”

Baekhyun terdiam. Menatap Minjoo dengan pandangan teduhnya. Yang menurut Minjoo, pandangan seorang Byun Baekhyun yang membuatnya jatuh cinta dahulu.

“Aku pikir kau mengetahuinya, Minjoo-ya..” Minjoo menegangkan tubuhnya, melihat Baekhyun dengan sedikit gemuruh di hatinya.

“Selama ini.. aku pikir.. dengan seluruh perhatianku, dengan seluruh kehadiranku di sisimu mampu menjelaskan bahwa aku sangat menyayangimu. Sangat mencintaimu. Segala yang kuberikan, semua yang kulakukan.. aku pikir, itu mampu membuatmu percaya bahwa aku itu menyukaimu. Menyayangimu. Aku tidak pernah berpikir bahwa kau membutuhkan penjelasan sedetil ini karena yang kulakukan itu semua tanda kasihku padamu.”

Minjoo terdiam, termenung menatap Baekhyun dengan pengakuannya. Minjoo tahu seluruh yang Baekhyun katakan itu tulus dari hatinya. Serius dari hatinya.

Baekhyun pun menarik kembali tangan Minjoo. Lebih tepatnya, menarik Minjoo padanya. Duduk di hadapannya, lalu menangkupkan tangannya pada wajah Minjoo.

“Maaf jika kau pikir.. aku tidak menyatakan perasaanku untuk membuatmu menunggu dan tersiksa. Demi Tuhan, aku tidak pernah berniat seperti itu. Aku pikir kau telah memahaminya, Minjoo-ya. Seperti saat aku membuatkan lagu untukmu. Memberikan hadiah untukmu. Menjadi teman tidurmu di kala hujan petir. Membiarkan lampu tidurmu tetap menyala agar kau tidak takut. Menggenggam tanganmu. Kupikir.. kau telah memahami semuanya.”

Minjoo baru ingat. Ini bukanlah salah Baekhyun sepenuhnya. Dia baru ingat dengan buku harian yang ia temukan dan segala sesuatu yang ada di dalam kotaknya. Dia baru ingat bahwa dialah yang juga bersalah disini.

Dari dahulu, Minjoo selalu bilang bahwa gadis itu gadis yang pekaan. Yang mengerti situasi dan kondisi hati seseorang. Dia bahkan pernah percaya diri, berkata bahwa dirinya itu paham betul dengan Baekhyun. Yang tahu semua isi hati Baekhyun, tapi ini apa? Dialah yang tidak pernah mengerti Baekhyun. Dia yang tidak pernah berusaha melihat sisi yang Baekhyun terang-terangan nyatakan untuknya. Baekhyun yang menyayanginya, Minjoo tak pernah menyadari itu.

Perlahan, Minjoo pun mengangkat tangannya. Menggenggam tangan Baekhyun yang berada di pipinya.

“Aku yang salah juga, Baekhyun-ah.” Minjoo sudah menjatuhkan air matanya lagi. Perasaan bersalah itu benar-benar menggerogotinya. “Seperti katamu, aku yang tidak memahami dirimu. Kau jelas sekali menyatakan perasaanmu padaku dengan semua yang kau lakukan padaku. Aku yang salah, yang selalu menganggap bahwa yang kau lakukan itu sekedar dari seorang teman ke teman sejatinya. Aku yang bodoh, aku yang hanya meninggikan ucapan daripada perlakuan.”

“Aku juga minta maaf, Baekhyun-ah. Maaf.. tidak pernah memahami perasaanmu..”

Air mata Minjoo telah mengalir lagi melewati tangan Baekhyun sesaat ia berbicara seperti itu. Membuat Baekhyun merasa bersalah namun juga lega karena dia mengerti sekarang.

Bahwa perasaannya juga berbalas.

“Aigoo..” Baekhyun pun menghapus air mata Minjoo yang mengalir di tangannya, “Kenapa kau menangis lagi?”

Tak kuasa untuk menahan kehangatan ini sendirian, Baekhyun lalu menarik Minjoo pada dekapannya. Menyalurkan semua perasaannya.

“Ya.. harusnya aku yang meminta maaf. Harusnya aku menyatakan perasaanku karena kau itu orangnya menjunjung tinggi ucapan dibanding perilaku—“

“Kau bilang aku bodoh, begitu??”

Baekhyun terkekeh pelan dan dia melepaskan eratannya. Menatap Minjoo lekat.

“Jadi kau sudah paham sekarang bahwa aku itu sangat menyayangimu? Bahwa aku sangat mencintaimu?”

Minjoo tersenyum lebar dan beberapa detik setelahnya dia mengangguk-angguk ceria. Ya Tuhan, sudah lama Baekhyun tidak melihat Minjoo yang seperti ini padanya. Rasanya, ini seperti mengulang cerita kisah cintanya saat berumur belasan tahun dahulu.

“Lalu, apa kau juga mencintaiku?”

Minjoo terdiam sebentar. Membiarkan pertanyaan Baekhyun itu menggantung di udara.

“Tidak. Aku kan sudah bilang kalau aku membencimu.”

Baekhyun menaikkan alisnya, hendak marah, sebelum Minjoo melanjutkan perkataannya lagi.

“Tapi.. aku hanya ingin bilang untuk jangan pernah pergi dariku lagi. Jangan pernah pergi dari pandanganku dan terus di sampingku.”

Tangan Minjoo tiba-tiba tererat pada pinggangnya, kepalanya sengaja ia dongakkan ke atas agar tatapannya menipis dengan Baekhyun.

“Bisakah itu menjadi jawabannya?”

Baekhyun mencengangkan mulutnya, tak percaya dengan semua kata-kata dan tingkah manis Minjoo padanya. Meski tingkahnya seperti Han Minjoo yang dahulu, tapi semua ucapannya bukan tipikal gadis ini.

Ini benar-benar Han Minjoo gadis-nya, bukan?

“Ya, kau belajar dari mana kata-kata itu?” Tak kuasa, Baekhyun pun terkekeh pelan. Perlahan dia juga mengeratkan kedua tangannya pada pinggang Minjoo. “Bisa juga kau menggombal..”

Entah kenapa, tiba-tiba Minjoo mempunyai ide gila seperti ini. Mungkin ini karena perasaannya yang sudah berbalas, ditambah harga dirinya yang sudah benar-benar ia lepas sekarang. Ah, benar. Sekarang dia tidak perlu mengkhawatirkan harga diri murahan itu lagi.

“Dari sini.”

Bibirnya sengaja ia satukan dengan Baekhyun, yang untungnya jaraknya memang sudah menipis dengannya. Tidak lama, hanya selama tiga detik.

“Aku belajar.. dari sini.”

Bulatan mata Baekhyun benar-benar penuh sekarang. Perlakuan Minjoo terlalu manis dan hangat untuknya. Serangan yang mendadak dan kejutan luar biasa untuk seorang Minjoo yang mempunyai sifat jauh dari itu.

“Kau…”

Baekhyun pun tak kuasa untuk menahannya lagi. Sudah merindukan Minjoo cukup lama ditambah perasaannya yang baru saja seperti jatuh cinta untuk cinta yang sama lagi.

Pria itu melepaskan eratan tangannya dari Minjoo. Memindahkan tubuh Minjoo dengan cepat, mendorongnya hingga terlentang di atas ranjangnya. Tangannya satu ia taruh di pinggangnya, satu lagi ia tahan untuk menahan bebanya.

Jelas saja, Minjoo langsung menjerit mendapatkan perlakuan seperti itu. Meski dia tidak ingin menolaknya juga.

“Ya!!” Suara Minjoo sengaja ia pelankan, kalian tidak lupa bukan bahwa mereka sedang berada di rumah sakit. “Kita masih di rumah sakit, Baekhyun-ah!!”

Baekhyun hanya menyeringai pelan. Menyiapkan kuda-kudanya untuk kejadian selanjutnya.

“Kau yang memulainya, Minjoo-ya. Aku tidak bisa menahannya lagi.”

Perasaan Minjoo pun benar-benar terbang saat ini. Saat Baekhyun menyatukan bibirnya padanya, mengulum lembut namun kuat di satu waktu, menyatakan seluruh perasaannya, memberikan apa yang Minjoo paling inginkan dari seorang Baekhyun.

Kali ini, semuanya sudah jelas. Tidak ada kesalahpahaman lagi di antara hubungan mereka, tidak ada keraguan atau ketakutan yang menerjang mereka. Mereka tahu, bahwa nyatanya perasaan mereka itu sudah berbalas dari waktu yang sudah lama. Hati mereka telah saling terkait, dan takdir mereka memang sudah saling menyatu.

Ah, ini rumah sakit ya. Tidak apa-apa ya kalau mereka sedikit melakukan ‘hal-untuk-mengekspresikan-rasa-cinta’ disini? Harap maklum ya, mereka baru seperti jatuh cinta lagi soalnya.

❣❣❣To Be Continued❣❣❣

HUFT. Maaf agak lama, hehe. Fyi, kemungkinan besar chapter depan udah final. Masih kemungkinan besar ya, aku tak tahu dan tak bisa menjanjikan. Kalau sanggup ya final, kalau ga sanggup ya berarti dua chapter lagi. Silakan di tunggu yang mau menunggu^^
Btw, setelah fanfict ini berakhir, aku seperti biasanya akan pamit lagi ya? Maksudku.. hiatus dulu gitu. Aku udah masuk lagi nih—sad—jadi tentunya aku gabisa nulis selama kuliah. Hehe, untuk announcement fullnya nanti aja deh ya kalau aku udah selesain fanfict ini.
AH!! Lets be friends on instagram yuk: @byeonieb. Just ask for a followback^^

may-b-20170131-0011

Let’s always stay by each other’s side. Never let go of my hand
I want to use my last love, For you.

All With You by Taeyeon

-Baek’s sooner to be wife-

Advertisements

146 responses to “I Married To My Enemy [IX] -by ByeonieB

  1. syukur alhamdulillah baekhyun dan minjoo udah baikan dan gak salah paham lagi tapi kasian banget sama nasibnya chanyeol dan hyojoo semoga ayahnya merestui setelah kejadian itu.
    di tunggu ending sweet nya.hehe

  2. eow.. baca chapter ini perasaan jadi campur aduk dech.. sedih, tegang dan senang jadi satu..
    Dan Akhirnya kesalapahaman terselesaikan… Yeaappeey 🙂 🙂

  3. Yeayy akhirnyaaa, baekhyun nyindirnya mantep abis wkwkw yang dia ngmng kau kan lebih menjunjung tinggi perkataan dibandingkan perlakuan wkwkwkw duh ga kuku lah, chanyeoll gimana? Apa kabarnya? Han hyoonjoo yg sabarr yaaaa, biarkan semua ini bahagiaaa huaaa

  4. bersyukur bgt mrk udh sdar ama prasaan mrk jd turut sneng, and mg hyojoo n chanyeol bsa brsama dan bhgia kyak baekhyun-minjoo. Semangat trus buat authornya-byeonie, good luck.

  5. Akhirnyaaaa baikaan.
    Yang cewek g peka, yg cowok g mau bilang jujur, kelar deh wkwk. Untung salah pahamnya udah lurus.
    Sekarang tinggal eonni nyaa.
    Mau final ya? G relaaaa 😭
    Ditunggu lanjutannyaa. Fighting~

  6. aaaaaa. akhirnyaaa akur jugaaa dan ngga mentingin ego masing” apalagi yang namanya harga diri ,, ya ampunnn harga diri sama suami sendri untuk apa wkwkwk.

    tinggal hyoojo sma chanyeol nihhh. chaneol ahhh berjuang yaa jngan mati kaya di drama mu heheh.

  7. huh. hela napas dah. minjoo ngehnya pas dijelasin secara gamblang mulu ya. btw gue juga giyu si, ngerasa peka. tapi kalo dihadepin ama rasa yang cem baek, gue ga bisa berspekulasi. takutnya dibilang baver. ngarep banget sahabat jadi cinta,

  8. senang dehh liat mereka udah baikan.. ehh tuh ayahnya hyojoo udah restuin aja hubungan mereka ngkk mau apa liat anaknya bahagia.. buat kk semangat nulisnya ditunggu next chapnya

  9. Daebakk…chap ini pnjang bnget, di tambahh adegan romantisnya, huh jdi baver…..
    Wahh….baekhyun baru sadar udh gas poll 😀 ingat baek mhii di RS,uhhh….mrka manis bnget sihh >_< !!!Lma nunggu moment ini, saat mrka brdua sma2 ngungkapin perasaan mrka ♥♡♥♡
    Author emang the best (y)

  10. Senangnya mereka sudah saling paham,
    sekarang tinggal Hyojoo-Chanyeol.
    Ntah kenapa aku jadi sedih liat ada potongan lagunya Taeyeon :’).
    semangat terus yah kak, ditunggu next chaptnya❤

  11. Serius kan, ini masalah kesalahpahaman perasaan Baek ama Minjoo kelar?? Gabakal ada lg perang hati?? Huhuuuu
    Akhirnya nemu moment buat mereka baikan jg, walopun lewat moment yg kecil tp kan hasilnya bener2 lumerr biasaa!!!!
    Sekarang udah gada alesan lg buat mereka saling diem2an berhari2 gegara masalah hat yg nyaris ga nemu titik jawabannya-_-
    Huhhh lega deh liat Baek-Minjoo yg nanti kedepannya bakal saling ngisi hari pake cintanya *cieelahhh wkwkwk
    Yaa semoga aja next part masih nemu kalimat ‘to be continue’ biar ga ditinggal hiatus ama kaka wkwk
    Okay tengkyuu ka, ditunggu next part yaa!!! Semangadd!!!^^

  12. duh akhirnya mereka baikan lagi :’)
    gak sabar pengen baca kisah romantis mereka lagi ><
    tapi itu gmn nasibnya chanyeol x hyojoo ?
    semoga mereka bisa kyk minjoo x baekhyun,,
    kyknya ayahnya hyojoo perlu ditabok biar sadar xD
    tapi ralat sedikit,
    tadi kalo gg salah tulisannya ada yg salah author,
    yg diculik kan hyojoo,tapi tulisannya malah minjoo 🙂
    atau mungkin mataku yg sliwer xD
    semangat buat kuliahny author ^^

  13. akhirnya mereka udah saling terbuka.. udah tau perasaan masing”,.. ^_^
    kyaaaa itu yg diakhir sweet bgt..
    btw itu rumah sakit lhoh,, jgn” nanti ada uisanim masuk lagi.. hahaha 😀

  14. akhirnya udah ga salah paham lagi,minjoo katanya pekaan tapi kok ga peka sama perasaan sendiri :3 kkk~ next yaa meskipun udah masuk tetep semangat nulisnya btw minjoo belum ngasih tau baekhyun kalo dia hamil wkwk gimana ya reaksi baekhyun kira kira ga sabar hehe

  15. Aduh gila…
    Awalnya baca part ini itu mau ngomeel-ngomel pas coment
    Dari pertengahan sampe akhir tuh ceritanya manis banget, semanis coklat seindah mawar

  16. Baru baca jadi baru sempet commen,, ga papa kan?? 🙂
    Akhir’a mereka baikan juga setelah sekian ama bikin aku geregetan gara” salah paham mulu.. gasabar nunggu kelanjutan’a,, 🙂 ditunggu next’a..

  17. Yeay akhirnya mereka uda baikan
    Semoga selanjutnya happy moment terus sama semoga si hyojoo sama chanyeol segera baikan dan bisa menikah.

  18. Akhirnya baekhyun minjoo bersatu jugaa hihihi bahagianya mereka. Dan mungkin sebentar lagi bakal nyusul deh chanyeol hyojo sudah gak sabar deh sm kelanjutannya.
    Cerita sehun yubi juga nggemesin deh. Jadi hiburan tersendiri

  19. Ah.. akhirnya.. tidak ada kesalah pahaman lagi. seneng banget Baek Minjoo bersatu.. disini apa kabar cerita Harga diri Han Minjoo?. hehe.. 😀

  20. Whooaa.. akhirnya gak ada salah paham lagi antara Baekhyun sama Minjoo, coba aja dari dulu kayk gini kan gampang kekekek..
    Btw, nasib Park Chan gimna? Huuaa harus happy ending pokoknya wkwkwk

  21. Pingback: I Married To My Enemy [X] #END -by ByeonieB | SAY KOREAN FANFICTION·

  22. Seperti yang ku duga. Ni ff tuh setiap cerita nya pasti seru. Baru bisa baca lagi sekarang. .q selalu menunggu kelanjutan nya. .good job

  23. Tsk.. Chapt kali ini cukup memuaskan~ perlahan namun pasti permasalahan,haru tangis kebahagianpun terjadi~ yeiy ah,udah mau final ternyata wkwk pantas saja! Buat chanhyo moga bersatu difinal! Chan jgn mati please!! Huaah udah mau ending! Eotteokhae!! Hiks go next to read!

  24. Ya ampun! Mereka tuh bisa”nya ya kek gitu!? Ish, geregetan diawal tapi senyun gaje diakhir. Haha.
    Inilah yg aku tunggu. Jeng jeng.
    Akhir yg bahagia. Of course! I hope so.
    Kalo mereka udah bersatu, jan pisahin lagi kay? Kasian.
    Kasian aku maksudnya, nangis terus kwkw

    nah lo! Tuan Han cengo/plakk

    Yeogineun
    Dikanasly (:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s