Bad Things ~ohnajla

bad-things1

ohnajla|| romance, fluff, songfic || PG-17|| oneshot

Park Chanyeol EXO

Park Jimin BTS 

Oh Hyejin (OC)

**

Am I out of my head?

Aku tak waras?

Am I out of my mind?

Aku tak waras?

If you only knew the bad things I like

Bila kau hanya tahu keburukan yang aku sukai

Don’t think that I can explain it

Jangan pikir aku bisa menjelaskannya

What can I say, it’s complicated

Yang bisa aku katakan, itu rumit

No matter what you say

Tak peduli apa yang kau katakan

Don’t matter what you do

Tak peduli apa yang kau lakukan

I only wanna do bad things to you

Aku hanya ingin berbuat buruk padamu

So good, that you can’t explain it

Oh bagus, kalau kau tak bisa menjelaskannya

What can I say, it’s complicated

Yang bisa aku katakan, itu rumit

Bad Things (Machine Gun Kelly ft Camila Cabello)

**

Datang ke perpustakaan kota untuk pertama kalinya. Aku tidak menyangka kalau itu adalah pertama kalinya aku berubah menjadi segila ini.

Bukannya ilmu-ilmu yang kuserap dari buku yang mewarnai pikiranku sepulang dari sana.

Tapi yang ada hanyalah imajinasi-imajinasi yang tak tahu arah. Mungkin orang-orang yang bisa membaca pikiranku akan menatap jijik padaku.

You know … yeah .. these things….

Padahal aku bukanlah gadis yang suka berpikiran seperti itu selama ini.

Ayahku seorang dosen.

Ibuku adalah guru.

Nenek kakekku adalah pensiunan guru.

Keluarga yang terhormat sekali bukan?

Dan sepertinya aku sudah berhasil mencoreng nama baik keluarga Oh.

Take my ‘first time’ babe….

You can call me b*tch … yeah ….

Jorok sekali bukan, pikiranku ini? Haha.

Rasa-rasanya aku ingin pergi ke dokter kejiwaan sekarang juga untuk memeriksa psikologisku.

Ah tapi jangan.

Ibu dan ayahku akan sangat curiga padaku. Bisa-bisa aku sudah dikira gila duluan dan akhirnya dijebloskan ke rumah sakit jiwa.

Andwae! Aku lebih baik bunuh diri dengan tersedak muntahku sendiri daripada harus membusuk di rumah sakit jiwa.

Lalu apa yang harus kulakukan dengan pikiranku ini?!

Adegan-adegan dewasa terus terputar ulang seperti kaset rusak –mungkin otakku lah yang sudah rusak. Semakin aku mengatupkan mataku, semakin banyak adegan-adegan itu menguasai pikiranku.

Oh shit!

Aku butuh obat untuk menidurkan pikiran kotor ini.

Sial.

Awalnya aku ingin merasakan pengalaman baru dengan masuk perpustakaan kota….

Eh….

Pulang-pulang aku seperti gadis gila yang terobsesi clubbing.

Oh plis, aku baru saja dari perpustakaan, bukan clubbing.

Semua ini karena pria itu.

Kenapa dia harus ada di sana hari itu?

Kenapa dia harus duduk di sana hari itu?

Kenapa dia harus membasahi bibir penuhnya dengan penuh menggoda?

Kenapa tatapannya begitu seksi?

Kenapa—

Aish! Aku benci pria itu.

Aku tidak mengenalnya. Dia bukan teman masa kecilku, bukan juga teman sekolahku, apalagi mantan pacar.

Dia hanyalah orang asing. Yang datang ke perpustakaan untuk membaca. Sama seperti tujuanku datang ke sana.

Tapi kenapa dia sebegitu menggoda?

Sialnya dia lebih muda dariku.

Dia seorang haksaeng.

Dan namanya adalah Park Jimin.

Ssshh … menyebut namanya saja sudah membuat pikiranku meledak.

Oh tidak!! Aku bisa gila kalau terus-terusan seperti ini!!

“Sayang?”

Suara berat familiar pun menyapaku. Aku menoleh. Entah wujud wajahku seperti apa, mungkin saja mengerikan karena dia yang memanggilku terkejut.

“Kau sedang sakit ya?”

Aku menggeleng. Lantas aku pun bangkit dari kursi dan memeluknya. Hm … dia ini kekasihku sekaligus teman masa SMA-ku. Park Chanyeol.

“Kenapa?” tanyanya. Seperti biasa, suaranya sangat menenangkan. Anehnya … itu tidak membuat jantungku berdebar kencang seperti aku melihat chubby cheeks seorang Park Jimin.

“Aku lelah.”

“Mm? Memang kau baru saja melakukan apa?”

Yah … sebenarnya aku hanya duduk melamun di sana sejak dua jam lalu. Betah juga ya? Beruntung tidak ada setan sinting yang mencuri rohku.

“Aku merindukanmu.”

Picisan. Baru saja bertemu dua jam lalu aku sudah bilang merindukannya lagi. Tch, hubungan kami bahkan bukan hubungan jarak jauh. Tapi aku lega, dia dengan mudahnya percaya begitu saja. Aku mengerang kesal karena rambutku diberantakan olehnya.

“Maaf lama. Kau pasti bosan ya sendirian di sini?”

Sebenarnya tidak. Aku terlalu sibuk memikirkan Park Jimin.

“Ada seseorang yang ingin kukenalkan padamu.”

Aku pun mendongak. Astaga, pacarku tinggi sekali. Lelah leher ini terus berkontraksi. “Siapa?”

“Adikku. Aku pernah cerita padamu ‘kan kalau aku punya adik saudara sepersusuan?”

Ah ya … dia pernah cerita itu sewaktu jadian kami ke-5. “Dimana dia?”

“Di luar. Dia sudah menunggu di luar.”

Aku hanya menurut saat tangan besarnya menggandengku keluar dari kamar ini. Yeah … sejak berpacaran kami tinggal bersama di bawah satu unit apartemen yang sama. Jangan berpikiran yang tidak-tidak. Di sini bukan hanya ada kami berdua, tapi ada juga Yoora eonni, kakak Chanyeol. Aku menumpang di sini karena rumahku memang sangat jauh dari kampus. Efisienlah.

“Dia laki-laki atau pe—” kalimatku langsung terputus saat kulihat siapa orang yang disebut Chanyeol sebagai adik saudara sepersusuannya. Dia….

Annyeonghaseyo.”

Otomatis akupun membungkam mulutku yang terbuka lebar. Aku bukan terkejut dengan aksen Busannya yang kental. Aku hanya terkejut dengan fakta yang mencengangkan ini.

Aku menatap Chanyeol yang sedang tersenyum. “Ini adikku. Park Jimin. Maafkan aksennya. Dia belum terbiasa menggunakan aksen Seoul.”

Yeah … anak berseragam SMA rapi dengan kacamata kotak bertengger di atas hidungnya itu adalah Park Jimin. Seorang haksaeng yang sama yang kulihat di perpustakaan beberapa waktu lalu. Aku yakin aku tidak salah orang. Meskipun warna seragamnya berbeda dari yang waktu itu, bibir tebalnya yang ranum dan pipinya yang tembem lucu itu masih kuingat dalam benakku.

Sial. Lagi-lagi adegan-adegan kotor itu bertebaran di kepalaku.

I want you forever

Even when we’re not together

Shit! Lagi-lagi setan mengontrol pikiranku.

Aku menggeleng dengan cepat berharap dengan begitu semua pikiran biadab itu akan lenyap. Aku adalah pacar seorang Park Chanyeol. Aku hanya boleh memikirkannya!

Chanyeol tampaknya keheranan dengan sikapku. Dia memegang kedua bahuku yang sontak membuatku mendongak. Ya Tuhan … pacarku tampan sekali. Tapi aku … malah memikirkan Park Jimin.

Entah setan mana lagi. Di depan Park Jimin, aku menangkup pipi Chanyeol dan mencium bibirnya panas. Gila. Benar-benar gila. Seorang Oh Hyejin, anak dari Oh Sehun dan Jeon Yerim seonsaengnim, dengan secara tak tahu tata krama mencium seorang pria di depan umum.

Forget it.

Aku melepas ciumanku setelah aku merasa bahwa semua ini sia-sia saja.

Siapapun tolong aku!!!

Tanpa melihat pada mereka, aku langsung kembali ke kamar dan mengunci pintunya. Kusandarkan punggungku pada daun pintu. Merosot turun seiring jatuhnya cairan liquid dari kelopak mataku.

Aku benci diriku sendiri.

DOK DOK DOK

“Hyejin-a! Gwaenchana!”

Itu suara Park Chanyeol. Aku langsung menutup kedua telingaku. Shireo … aku tidak mau makin menyiksa diriku.

“Hyejin-a buka pintunya! Oh Hyejin!”

Aku hanya menginginkan Park Jimin. Aku hanya ingin Park Jimin. Tolong Chanyeol … berhentilah….

“Kalau kau tidak segera keluar, aku akan membukanya dengan kunci cadangan. Oh Hyejin?!”

Aku pun langsung berdiri lagi. Membuka pintu.

Kulihat pria menjulang di depanku tampak frustasi. Dia sepertinya marah padaku. Aku tahu itu dari warna telinganya yang berubah merah. Hei, aku ini mengenalnya tidak satu dua hari.

“Ada apa denganmu, huh?” tanyanya terburu-buru. Dia pun menoleh ke belakang pada Park Jimin sambil mengatakan, “duduk saja di situ. Aku harus bicara dengannya dulu.”

Kemudian Chanyeol pun mendorongku masuk lalu mengunci pintunya. Dia menatapku. Selang dua menit dia mengusap wajahnya frustasi.

“Aku tidak mengerti denganmu akhir-akhir ini, sayang. Ada apa sebenarnya? Kenapa kau tiba-tiba seperti ini? Apa kau sedang sakit? Atau sedang banyak masalah?” Dia terdiam beberapa detik sebelum melanjutkan. “Tingkahmu mendadak aneh. Ini bukan seperti Oh Hyejin yang kukenal lagi.”

Aku menatapnya sendu. Maafkan aku, Chanyeol. Aku juga merasa begitu. Andai saja kau tahu apa alasan yang sebenarnya … apakah kau akan memakluminya?

Aku baru sadar kalau bibir bagian bawahnya berdarah. Apa tadi aku tak sengaja menggigit bibirnya? Sepertinya dia juga baru menyadari darah itu setelah aku menyentuh bibirnya. Dia mendesis.

Mian.”

Dia menatapku. “Kenapa meminta maaf?”

Karena aku sangat menginginkan adikmu. “Bibirmu berdarah karena aku.”

Dia menghela napas. Menyeka darah di bibirnya dengan punggung tangan. “Aku tidak menyangka kalau ciuman pertama kita akan seaneh ini.”

Kepalaku langsung tertunduk.

“Kupikir akulah yang akan menciummu duluan, ternyata justru sebaliknya. Tsk, daripada disebut ciuman, itu tadi jauh lebih cocok disebut sebagai kegilaan. Aku tahu kau bukanlah gadis yang seperti itu, Hyejin. Kenapa um? Aku yakin kau pasti punya masalah.”

Usapan tangannya di kepalaku justru membuat hatiku makin perih. Chanyeol … kau berhak menghukumku sekarang juga.

Dok dok dok

Kami pun langsung menoleh ke asal suara. Di balik pintu itu, terdengar suara orang yang akhir-akhir ini memenuhi pikiranku.

Hyung, aku harus pergi sekarang. Ada les yang harus kuhadiri.”

Chanyeol memunggungiku, membuka pintu dan berbicara dengan Jimin. Aku tidak bisa melihat lelaki itu karena ditutupi oleh tubuh besar Chanyeol. Mereka mengobrol sebentar sebelum akhirnya Chanyeol menutup kembali pintu itu.

Chanyeol menatapku sebentar yang juga kutatap balik dengan mataku yang memerah.

Tanpa ada angin tanpa ada apa, tiba-tiba dia mengangkatku lalu merebahkanku di atas ranjang, bersamanya yang kini tidur menyamping di sampingku. Tanpa perlu menunggu responku, ia pun memelukku erat.

“Kau harus istirahat, sayang. Kau kelihatan sangat lelah.”

Aku yang disuruhnya istirahat, tapi dia yang duluan memejamkan mata. Lihatlah, sedekat ini, Park Chanyeol jauh lebih tampan dari Jimin. Dia juga punya bibir yang penuh, pipi yang tembem dan mata yang menggemaskan. Tapi entahlah … kenapa aku justru lebih tertarik pada visual Park Jimin. Aku bersumpah, ini pertama kalinya aku merasa segila ini pada seseorang.

Aku pun merangkul leher Chanyeol dan menempelkan bibirku pada bibirnya. Aku tidak melakukannya dengan agresif seperti tadi. Hanya menempel saja. Dia tidak segera membuka matanya. Aku yakin dia belum tidur. Buktinya, matanya saja masih bergerak-gerak.

Begitu kujauhkan wajahku, matanya perlahan terbuka. Kami pun saling menatap untuk waktu yang lama.

Aku mencintainya.

Aku mencintainya.

Aku mencintainya.

Hanya mencintainya.

Hanya itu usahaku untuk mengabaikan pikiran kotorku tentang Jimin. Aku hanya harus menyugesti diri sendiri untuk melupakannya.

Chanyeol pun mengusap lembut pipiku. Eum, tindakan yang benar, sayang. Kau harus membuatku lebih tertarik padamu.

“Aku tidak tahu kau ini terkena pengaruh apa sebenarnya. Tapi aku harap kau akan baik-baik saja setelah ini, sayang. Kembalilah menjadi Oh Hyejin yang kukenal.”

Setelah satu kecupan mendarat di keningku. Akhirnya aku pun menyadari satu hal yang telah kulupakan akhir-akhir ini akibat terlalu sering memikirkan Park Jimin.

Chanyeol mencintaiku dengan tulus. Bahkan meskipun aku sudah menggodanya dengan dua kali ciuman di bibir, dia tetap memperlihatkan sikap gentleman-nya dengan tidak mengikuti kata setan. Bukankah jika sepasang kekasih berciuman di atas ranjang, sesuatu yang ‘berlebihan’ akan terjadi? Yang kata orang itu adalah efek lanjutan.

Tapi di kamus Chanyeol tidak. Setelah mencium keningku dia pun memelukku erat sambil berbisik. “Tidurlah, putri kecilku. Kau harus mengistirahatkan dirimu.”

Jimin belum tentu akan melakukan ini, bukan?

Bahkan aku tidak yakin apakah dia punya perasaan padaku.

Jadi kenapa aku harus mencampakkan Yoda tercintaku demi sesuatu yang tidak pasti?

Aku mencium bibirnya sekilas. Mungkin yang seperti itu akan menjadi kebiasaanku sebentar lagi. Kutersenyum tipis saat Chanyeol mengerang. Tangannya menyuruh kepalaku untuk bersandar nyaman di bantal.

“Ciumnya nanti lagi. Sekarang tidur.”

Tch, dia sudah semakin mirip dengan ayah-ayah muda yang mencoba menidurkan anak perempuannya. Hah.

FIN

 

**Maaf gaje :3 author lagi banyak pikiran makanya ceritanya sefantastis ini :v please forgive me T^T

Advertisements

5 responses to “Bad Things ~ohnajla

  1. leavve jejak… wkwk… fluff bgt ini ceritanya… haa ksian deh Chan diduain wkk… Hyejin musti bekerja keras utk ngembalikan hatix ke Chan itu, msa’ dy mw nerusin suka sma Jimin hoho.. 😛

  2. Hyejin jangan ngeliat yang lain please,chanyeol udah ganteng lho,kalau kamu duain dia aku siap gantiin kok #plakdigampar

  3. Ngakak lah kegoda sama jimin,tapi bener sih apa yang hyejin pikirin tadi wkwk,ga bersyukur banget ya udah dapet dobi malah pengen yang lain tapi tetep aja pilih dobi apa lagi kalo dia setulus itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s