[CHAPTER 16] SALTED WOUND BY HEENA PARK

sw2

“Kau milikku, sudah kukatakan dari awal, bukan? Kau adalah milikku.”- Oh Se-Hun

.

A FanFiction 

by

Heena Park

.

SALTED WOUND’

.

Starring: Shin Hee Ra-Oh Se Hun-Kim Jong In

.

Romance–Incest-Thriller–PG15–Chaptered

.

Wattpad : Heena_Park

Facebook : Heena

Instagram : @heenapark.ofc

.

Notes : ff ini juga aku share di WATTPAD

.

.

Dua hari berlalu cukup lambat, pertengkarannya dengan Jong-In beberapa saat lalu juga belum mereda. Hee-Ra masih kukuh dengan pendiriannya, sementara Jong-In juga tidak berniat untuk sekedar meminta maaf, padahal kemarin Hee-Ra sempat menengok untuk kedua kalinya. Pria itu benar-benar keterlaluan.

 

“Kau belum berbaikan dengannya?” Alice yang daritadi melihat kegundahan dalam diri Hee-Ra segera bertanya. “Emma mundur dari pementasan dua hari lagi karena lawan mainnya tidak ikut.”

 

Pementasan? Hee-Ra tidak tahu kalau mereka akan tampil dua hari ke depan, dan Emma? Siapa memang pasangannya?

 

“Karena kau liburan beberapa hari lalu, jadi Mrs. Sanders memutuskan kalau Emma akan berpasangan dengan Jong-In untuk tampil di pesta seorang pejabat. Tapi Jong-In kecelakaan dan berakhir dengan kemunduran Emma. Ia bilang tidak mau kalau bukan Jong-In yang berpasangan dengannya,” jelas Alice.

 

Ucapan Alice barusan menjadi pukulan tersendiri bagi Hee-Ra. Pasalnya si genit Emma yang semakin hari semakin menjadi-jadi sudah berani mengambil keputusan seperti itu. Serius, kalau Hee-Ra yang berada di posisi Emma, dia tidak akan banyak protes dan tetap melanjutkan untuk maju.

 

Kenapa gadis itu murahan sekali, sih? Sudah tahu Jong-In punya kekasih.

 

Hee-Ra menggertakkan gigi geram. “Haruskah aku memanggilnya jalang sekarang?” Ia menatap sinis ke arah Emma yang tengah mengobrol dengan Dion—salah satu penari yang terkenal tampan selain Jong-In.

 

Alice ikut menatap marah ke Emma. Walau kekasihnya tak pernah digoda oleh wanita murahan itu, tetap saja kelakuannya yang suka menempel sana-sini membuat risih. “Jangan sampai kau putus dengan Jong-In, aku sangat muak melihat wajah senangnya karena kalian bertengkar. Apa kau tidak berniat melabraknya? Aku akan membantu dan ikut mengata-ngatai si jalang itu kalau kau mau.”

 

Kali ini Hee-Ra tertawa melihat kilat kesal Alice terhadap Emma. Ia menggeleng. “Aku tidak mau membuang-buang waktu hanya untuk mengurusi wanita seperti Emma.” Ia mendekatkan wajah pada Alice, “Kau bilang Emma mundur dari pementasan, lalu siapa penggantinya?”

 

“Entahlah, sepertinya Mrs. Sanders masih berusaha membujuk Emma.” Matanya membulat, baru peka pada maksud sesungguhnya dari pertanyaan Hee-Ra. “Hei! Kenapa kita harus susah-susah membujuk Emma kalau sang master telah kembali?” Alice tertawa senang dan meraih tangan Hee-Ra, mengajaknya menghampiri Mrs. Sander. “Ayo, Mrs. Sanders pasti akan senang kalau kau bersedia menggantikan si jalang Emma.”

 

 

 

 

 

 

Semenjak berlibur ke Venice rupanya hubungan keluarga Hee-Ra semakin erat. Akhir-akhir ini mereka selalu menyempatkan diri untuk makan bersama. Tidak hanya Shin Jae-Woo, Se-Hun yang biasanya pulang larut malam atau bahkan menjelang pagi-pun rela mampir ke rumah sebentar hanya untuk menikmati makan malam.

 

Setelah menghabiskan makanannya, Hee-Ra mulai bergumam, “Besok aku tidak makan malam di rumah.”

 

Hm? Kau ada kencan dengan Jong-In?” tanya sang Ibu tanpa melirik sedikitpun dan tetap fokus pada makanannya.

 

Hidup memang sangat sempit rupanya. Kenapa orang-orang selalu membawa nama pria itu, sih?

 

“Tidak. Aku harus tampil menari di suatu acara besok, menggantikan Emma.”

 

Shin Jae-Woo mengerutkan keningnya. “Emma yang dulu menari dengan Jong-In menggantikanmu, kan?”

 

Oh baiklah, kenapa ayahnya harus mengingatkan soal hal itu? Mood Hee-Ra benar-benar buruk saat ini.

 

“Begitulah,” jawabnya seadanya, tak berniat memperpanjang obrolan tentang Emma atau siapalah itu, malas sekali memikirkan namanya.

 

“Kukira kalian bermusuhan..”

 

Hee-Ra mendecak kesal, ia langsung bangkit dengan bibir yang mengerucut. “Aku mau ke kamar, terima kasih makanannya,” ujarnya cepat dan langsung pergi begitu saja.

 

Sementara Shin Jae-Woo dan Kang So-Hee hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat anak gadisnya bertingkah seperti itu.

 

“Apa terjadi sesuatu?” Kang So-Hee tak mengerti, beliau menatap Se-Hun dan suaminya secara bergantian.

 

Se-Hun yang kala itu masih mengunyah makanan buru-buru menelannya. “Mereka bermusuhan,” dagunya menunjuk ke punggung Hee-Ra.

 

“Sepertinya dia marah karena aku menyinggung soal Emma terus-terusan.” Shin Jae-Woo meratapi diri, Hee-Ra pasti benar-benar kesal padanya.

 

Baru saja beliau berniat menyusul Hee-Ra, tiba-tiba kepalanya meriang. Pandangannya kabur, tubuhnya terasa berat, untuk berdiripun Shin Jae-Woo harus menekan telapak tangan ke meja. Baru selangkah kaki melaju, segalanya menjadi benar-benar gelap. Teriakan Kang So-Hee sempat terdengar sebelum akhirnya ia kehilangan kesadaran dan tak lagi merasakan dinginnya lantai.

 

 

 

 

 

 

Selama dirias Hee-Ra tak banyak berkomentar. Rasa sedih juga bersalahnya pada sang Ayah yang begitu mendalam terus terbawa sampai sekarang. Awalnya, Hee-Ra berniat membatalkan untuk tampil hari ini dan menunggu Shin Jae-Woo di Rumah Sakit, namun beliau melarang. Shin Jae-Woo malah memaksa Hee-Ra untuk terus maju dan tidak mengecewakan teman-temannya yang sudah memberikan kepercayaan.

 

Belum lagi kehadiran Jong-In di antara mereka. Pria itu rupanya pulih lebih cepat dari yang Hee-Ra perkirakan. Meskipun ia tidak akan ikut tampil hari ini, Jong-In tetap menja staff. Lihatlah kepalanya yang masih dibalut perban, ia berusaha menutupi dengan mengenakan beani hat hitam.

 

Tapi baiklah, kenapa ia tidak menegur Hee-Ra sama sekali? Jong-In benar-benar ingin putus ya? Apa dia mulai tertarik pada Emma? Serius, Hee-Ra merasa ingin marah saat ini.

 

Tawa Jong-In menggema saat mengobrol dengan yang lain—termasuk Emma—semakin membuat panas hatinya. Haruskah Hee-Ra memukul wajah Jong-In agar pria itu sadar apa yang sangat diinginkan wanita pada saat seperti ini?

 

Benar-benar tidak peka!

 

Setelah menyelesaikan riasan Hee-Ra, Mrs. Lewis segera beralih ke yang lain agar tidak membuang waktu. Sementara Hee-Ra masih duduk dan malas menghampiri yang lainnya karena ada Jong-In di sana.

 

Ugh, kenapa pria itu datang, sih? Kenapa dia tidak tidur saja di rumah? Kalau begini kan Hee-Ra yang merasa canggung.

 

Mereka tidak berkomunikasi sama sekali sejak hari itu. Mereka juga tidak mengatakan putus atau bisa dibilang saling menggantung satu sama lain. Tentu saja Hee-Ra rindu pada Jong-In, tapi gengsi dan perasaan kesalnya jauh lebih besar hingga ia tidak berniat untuk mendekati pria itu lebih dulu.

 

“Kau tidak ke sana?” Alice menyadari perubahan raut wajah Hee-Ra sejak tadi, ia menggerakkan dagunya ke arah Jong-In. “Kalian belum berbaikan sampai sekarang?”

 

Hee-Ra menggeleng tanpa mengeluarkan suara. Ia menatap kesal Jong-In yang sepertinya sangat menikmati berada di antara gadis-gadis itu.

 

Ah..” Alice menggaruk kepalanya frustasi. Gadis itu bangkit dan langsung berlari mendekati Jong-In. Hee-Ra berniat menghentikannya namun gagal karena Alice jauh lebih cepat, lagipula ia juga tidak ingin terlalu dekat dengan Jong-In apalagi mengikuti Alice yang saat ini sudah berjongkok di samping pria itu.

 

Ah, pasti Alice akan berkata yang tidak-tidak!

 

Lihat saja sekarang. Alice memukul pelan punggung Jong-In hingga pria itu menengok, kemudian entah apa yang ia katakan sampai air muka Jong-In berubah. Matanya melebar dan sempat melirik Hee-Ra yang berada tak jauh dari keduanya.

 

Sialan, pipinya memerah sekarang. Ah! Benar, kan? Alice pasti mengatakan sesuatu yang tidak-tidak. Well, Hee-Ra harus pergi sekarang. Ia tidak mau dipermalukan dan merasa semakin canggung.

 

Menunggu di mini bus sepertinya lebih baik. Kurang lebih sepuluh menit berlalu sampai yang lain naik dan siap untuk berangkat ke pesta. Bangku di sampingnya masih kosong, Alice seharusnya duduk di situ, sayangnya gadis itu tak kunjung datang sampai Hee-Ra berpikiran untuk turun dan mencarinya. Oh, tapi ia teringat pada Jong-In yang kemungkinan masih di bawah, jadi sebaiknya Hee-Ra tetap duduk di tempat dan menunggu dengan tenang.

 

Nasib baik sedang tak berpihak padanya, entah apa yang terjadi sampai Alice tidak segera menduduki bangkunya dan malah membiarkan Jong-In menempatinya. Ya, pria itu dengan percaya diri yang tinggi langsung duduk di samping Hee-Ra tanpa mengucap permisi atau sekedar meminta izin.

 

Apa dia sudah gila?

 

Hee-Ra berusaha untuk tidak menengok atau sekedar mempedulikan Jong-In. Ia meraih earphone di tas lengan dan segera memakainya, semoga saja ampuh untuk mengalihkan perhatian.

 

Sayangnya Jong-In bukanlah tipikal pria yang mudah menyerah. Ia melirik Hee-Ra sebentar dan terkikik geli, paham kalau kekasihnya berusaha untuk mengacuhkan. Hee-Ra memang keras kepala, gengsinya juga tinggi, tapi Jong-In tangat menyukai gadis itu.

 

Ia memandang Hee-Ra sebentar sebelum akhirnya menarik paksa earphone yang tengah terpasang indah di telinga gadisnya. Hee-Ra yang kala itu terkejut langsung menengok ke arah Jong-In dengan kening mengerut, mulutnya membulat tak percaya kalau Jong-In barusan menarik earphonenya.

 

“Sampai kapan kau akan mengabaikanku?”

 

Alunan suara protes Jong-In menyambut kala Hee-Ra berusaha meraih kembali earphone-nya, namun segera ditahan oleh pria itu.

 

“Aku tidak mengabaikanmu!” tegasnya yang sedetik kemudian membiarkan Jong-In menguasai earphone-nya dan kembali menghadap ke depan. “Jangan bicara padaku, aku tidak akan menjawabnya.”

 

Belum berubah rupanya. Kemarahan Hee-Ra memang bisa berlangsung selama berhari-hari, bahkan bertahun-tahun. Ambil saja contohnya yang paling dekat, Se-Hun.

 

“Maafkan aku..” Penyesalan jelas tersirat dalam setiap kata yang keluar dari mulut Jong-In. Ia sadar kelakuannya beberapa hari lalu sangat keterlaluan, tapi bukankah apa yang dilakukan Se-Hun juga keterlaluan? Pria yang berstatus sebagai kakak Hee-Ra itu bahkan terlalu ikut campur dalam urusan percintaan adiknya dan terkesan ingin memiliki Hee-Ra.

 

“Kau semarah itu padaku?”

 

Tidak ada balasan dari Hee-Ra.

 

“Apa kau akan terus diam? Bahkan bila aku terus berbicara?”

 

Lihat, Hee-Ra masih bungkam.

 

Jong-In menyerah. Ia menutup mulutnya dan memilih untuk menunggu daripada Hee-Ra geram lalu meninggalkannya. Sepanjang perjalanan menuju ke tempat pesta hanya keheningan yang menemani, sesekali Jong-In melirik ke arah Hee-Ra. Gadis itu tak pernah melepaskan pandangannya untuk menerawang dari balik jendela, sungguh, apa ia memang sedingin itu? Hee-Ra bahkan tidak menengok sedikitpun ke arah Jong-In.

 

Mereka tiba di tujuan lebih cepat—seharusnya—tapi aura dingin akibat kecanggungan keduanya membuat waktu berjalan lambat. Hee-Ra turun tanpa mempedulikan Jong-In juga earphone yang masih dipegang oleh pria itu. Well, tujuannya kemari bukan untuk berbaikan dengan Jong-In, melainkan menari.

 

Seorang petugas nampaknya telah menanti kehadiran mereka sehingga tanpa membuang waktu, mereka langsung diantar ke backstage. Menunggu giliran untuk tampil dan membuat mereka yang berada di luar sana terpukau.

 

“Shin Hee-Ra, keluarlah, sebentar lagi waktumu untuk tampil,” ujar Mrs. Sanders dari balik tirai yang langsung dibalas anggukkan oleh Hee-Ra.

 

Melupakan Jong-In yang dari tadi diam-diam terus mengawasi dan mengikutinya, Hee-Ra segera pergi ke pinggir panggung. Rencananya ia akan naik dari samping, bukan dari balik tirai. Kedua matanya menelusur sambil terdiam, sekumpulan taipan dan staff dari pemilik perusahaan berkumpul, gadis-gadis cantik menemani, entah, Hee-Ra kadang berpikir apakah gadis-gadis itu memang datang sebagai kekasih atau hanya bayaran saja.

 

Tiba-tiba pikirannya mengingat sosok Se-Hun. Kakaknya yang begitu tampan dan kaya. Ah, apa dia juga sering datang ke pesta seperti ini? Menggandeng gadis cantik dengan bangga di depan teman-temannya? Hee-Ra ingat pernah pergi ke pesta dengan Se-Hun dan pria itu memang sangat populer.

 

Tunggu dulu, kenapa Hee-Ra malah memikirkan Se-Hun?

 

Tidak! Bagaimana kalau pikirannya mulai teracuni oleh pria itu?

 

Hee-Ra mendecak beberapa kali sambil berkacak pinggang, “Apa yang kulakukan sebenarnya?” bisiknya pada diri sendiri sebagai tanda penyesalan.

 

Untuk melupakan masalah juga pikirannya sejenak, Hee-Ra kembali mengedarkan pandangan. Kali ini ke sisi kanan, menatap sekumpulan pria dan wanita berbaju hitam. Samar-samar pandangannya terfokus pada sosok pria berkumis tipis serta berkaca mata yang tengah memegang segelas wine di tangan kanannya. Di samping pria itu berdiri gadis cantik berambut sepundak, tertawa bebas dengan gadis lain di depannya.

 

Serius. Mungkinkah Hee-Ra salah lihat? Maksudku, ini lucu kala ia menyadari jika pria yang tengah dipandangnya tersebut sangat mirip dengan Se-Hun walau berkumis dan berkaca mata.

 

Sementara gadis yang berada di samping pria itu kelihatan familiar. Hee-Ra yakin pernah melihatnya sebelum ini, bukan sekedar dejavu, namun kenyataan. Otaknya kembali berputar, mengingat kejadian yang dialaminya beberapa hari terakhir.

 

Matanya membulat, menyadari kalau gadis itu mirip dengan asisten baru ayahnya di kantor. Benar! Bahkan cara gadis itu berdiri dan menyunggingkan senyumpun juga sangat mirip.

 

Apakah semua ini hanya kebetulan atau garis takdir? Dalam satu negara dan kota yang sama, kenapa ada dua sosok yang begitu mirip satu sama lain? Oh tunggu dulu, jangan-jangan Hee-Ra hanya sedang berhalusinasi hingga mereka kelihatan mirip.

 

Tapi kenapa halusinasinya harus mengarah pada Se-Hun dan asisten ayahnya? Sangat tidak masuk akal!

 

Dalam kebingungan tak mendasar, juga lelucon yang kelihatannya berlebihan bagi kedua matanya, Hee-Ra menunduk, menggeleng selama beberapa saat untuk menyadarkan diri. Namun, kejadian yang semakin tak masuk akal kembali terjadi. Saat ia mengangkat kepala dan menatap lurus, tak sengaja matanya bertemu dengan mata pria itu. Keduanya terhenyak, menyadari kalau memang saling mengenal. Bahkan pria itu sempat menunjukkan ekspresi terkejut saat bertatap mata dengan Hee-Ra. Reaksi refleks yang begitu familiar, dan Hee-Ra yakin reaksi tersebut memang milik Se-Hun.

 

 

 

 

 

 

Berbeda dengan sebelumnya, Se-Hun merasa cukup risih karena Jasmine terus-terusan menempel ke manapun ia melangkah. Gadis itu bersikap seolah Se-Hun miliknya. Ah, mengingatkan pada Hee-Ra, bukan?

 

Kecanggihan serta kekuasaan yang dimiliki organisasi sangat menguntungkan baginya untuk melakukan misi. Se-Hun bisa dengan mudah masuk ke pesta mewah ini hanya dengan menyuruh Daniel—hacker andalan organisasi—agar namanya dan yang lain tercantum dalam daftar undangan.

 

Se-Hun menerima wine dari seorang pelayan, sementara Jasmine sibuk mengobrol dengan anggota organisasi yang lain, berpura-pura sebagai orang biasa dan membaur. Ia menekan tombol pada alat komunikasi berbentuk bulan sabit di telinga, mengamati keadaan sekitar selama beberapa saat dan mulai bicara, “Apa kalian sudah siap?” tanyanya pelan.

 

“Ya, kami akan segera meledakkan bom dalam limat menit. Ada empat spot yang telah kami tandai, Sean dan Jared sudah mengamankan beberapa penjaga.”

 

“Bagus, lanjutkan kerja kalian.” Se-Hun tersenyum puas, yakin kalau rencananya akan berhasil dengan mulus tanpa kesalahan sedikitpun. Namun, dalam kilatan berikutnya, saat ia tak sengaja mengedarkan pandangan ke sisi kiri-depan, nampak sosok gadis yang tak asing.

 

Rambutnya diikat ke belakang, gaun hitam dan bertelanjang kaki membuat siapapun langsung tahu kalau gadis itulah bintangnya. Se-Hun tertegun, matanya bertemu dengan kedua mata Hee-Ra. Menatapnya selama beberapa saat karena tak menyangka akan berjumpa.

 

Tunggu…mungkinkah yang dimaksud Hee-Ra beberapa waktu lalu adalah acara ini?

 

Sialan! Kenapa tidak ada yang memberitahu kalau nama Hee-Ra juga termausuk di dalamnya? Apa Bruce dan Jasmine sengaja? Kedua mahkluk bengis itu memang tidak suka karena Se-Hun selalu mendahulukan Hee-Ra di atas segalanya.

 

“Brengsek!” Ia mengumpat tanpa mempedulikan tatapan bingung Jasmine. Se-Hun segera menaruh wine ke meja dan berlari mencari keberadaan Kevin—pria yang dihubunginya barusan.

 

Sementara Jasmine terkejut di tempat mendapati Se-Hun meninggalkannya. Ia tidak mengatakan apapun dan langsung pergi seperti itu? Pasti ada yang tidak beres!

 

Langkah lebarnya yang tak mempedulikan orang-orang sekitar membuat Se-Hun diprotes, berkali-kali ia menabrak tubuh para tamu tanpa mengucapkan kata maaf. Baginya yang terpenting adalah menghentikan rencana pengeboman tempat ini sebelum semuanya terlambat, Se-Hun tidak punya waktu untuk sekedar meminta maaf.

 

Ia berlari ke halaman, mendorong sosok pria yang tengah berjongkok dengan pakaian serba hitam sampai menabrak pagar. Segera Se-Hun menarik kerah pria itu. “Suruh mereka membatalkan pengebomam!”

 

Kevin terperangah ketika Se-Hun mendorong juga menarik kerahnya kasar. Ia tak bisa menyuruh mereka membatalkan pengebomam begitu saja! Organisasi bisa marah besar kalau mereka gagal melakukan misi!

 

“A-aku tidak bisa melakukannya!”

 

“Brengsek!” nadanya meninggi, bertengkar di saat seperti ini tak akan menyelesaikan masalah. “Suruh mereka membatalkan pengebomam atau aku akan membunuhmu, bajingan!”

 

Serius! Waktunya hanya tersisa satu setengah menit dan keparat di depannya ini belum mau mengatakan ‘Ya’. Se-Hun bersumpah akan memebunuh Kevin dengan sadis bila sesuatu sampai terjadi pada Hee-Ra.

 

Se-Hun harus mampu mengatasinya, selain waktu yang mulai menipis, pertengkaran mereka juga bisa menarik perhatian hingga bukan tidak mungkin kalau ada seseorang yang curiga.

 

Ah, kenapa si brengsek ini tidak mengikuti keinginan Se-Hun saja, sih? Benar-benar menyusahkan!

 

Hanya ada satu cara yang diyakini Se-Hun akan berhasil…

 

Kejam memang, tapi hanya ini pilihan terakhirnya.

 

“Batalkan pengebomam atau aku akan membunuh anak dan istrimu di rumah!”

 

 

 

 

 

 

Sikap Se-Hun barusan terasa menyakitkan bagi Jasmine. Tatapannya tak pernah lepas dari Hee-Ra yang diyakini menjadi alasan atas kekalutan pria itu. Jasmine sendiri tak menyangka Hee-Ra akan ada di antara mereka, gadis itu tengah menari dengan indahnya di depan sana, membuat banyak mata tak bisa berpaling darinya. Percayalah, hal ini membuat Jasmine semakin membenci Hee-Ra.

 

Kenapa Tuhan tidak adil? Gadis di depan sana memiliki segalanya—keluarga, cinta, kesuksesan —sementara Jasmine? Hidupnya dipenuhi kebencian dan dendam. Sekali jatuh cinta, orang yang dipilih malah menjatuhkan hatinya pada gadis lain.

 

Jasmine iri..

 

Jasmine sakit hati…

 

Kecantikan yang dia miliki memang lebih dari Shin Hee-Ra, tapi kebahagiaannya bahkan tak sampai sepuluh persen bila dibandingkan dengan gadis itu.

 

Riuh tepuk tangan bersautan saat Hee-Ra membungkuk untuk memberi hormat. Semua mata yang sempat tersihir kini kembali fokus, memberi tepukan hangat sebagai rasa kagum.

 

Lantas, Jasmine mengikuti Hee-Ra di balik layar. Ia mengintip dari ujung, gadis itu tengah memeluk seseorang dan berbicara beberapa patah kata sebelum akhirnya ditinggal sendiri.

 

Rasa iri juga cemburu yang membakar hati kembali menguasainya. Hatinya bergejolak, membuat Jasmine membulatkan tekad untuk membalas dendam hari ini juga. Diambilnya pistol yang diselipkan pada sisi kanan gaun untuk berjaga dalam keadaan darurat.

 

Ia berjinjit, berjalan pelan dari balik kegelapan mendekati Hee-Ra yang masih tak sadar akan kehadirannya. Senyum sinis Jasmine terukir, matanya menyala penuh kemarahan saat jarak mereka tinggal beberapa meter.

 

“Kalau aku tidak bisa memiliki Se-Hun, kaupun juga tak boleh menyentuhnya,” bisiknya rancu pada diri sendiri. Napasnya tak beraturan, tangan kanan yang semula hanya memegang pistol itupun mulai di angkat tepat ke arah kepala belakang Hee-Ra.

 

Semuanya akan berakhir hanya dengan satu gerakan. Mungkin setelah ini Se-Hun akan membencinya, tapi tidak apa-apa, yang penting hama penghambat hubungan mereka mati.

 

“Semoga kematianmu berjalan dengan cepat, Shin Hee-Ra,” gumamnya senang. Jasmine mulai menyipitkan matanya, menempatkan bidikan dengan tepat. Cukup satu gerakan, segalanya akan berakhir.

 

Shin Hee-Ra harus mati malam ini juga!

 

TO BE CONTINUED

Advertisements

83 responses to “[CHAPTER 16] SALTED WOUND BY HEENA PARK

  1. Jasmine!! Serem bangt sih 🙄 wkwk endingnya bikin penasaran banget kaa. Kenapa harus ada tbd dsiitu si? 😂 wkwk papa nya heera katanya dibunuh pelan pelan gitu ya? Kasian deh. Sehun protect heera plisss 😚 next kaa ditunggu

  2. APPPAAAAA????!!!! Adegan terakhirnya ngerriiii!!!! Heraaaa…. Sehun toolong Heera Sehunn…. please help her, save her… Otteohke??? ga rela klo smpe dia luka gara2 Si Melati bau comberan tuuu…. omo….. Keeerrreen bgt ini part! Author Heena JJaNG!! 😀 Boleh ga part slnjutx di update besok??? *wing* penasaran bgt soalx… huhuhahaha… 😛

  3. Ahh kenapa tbc padahal dah penasaran amat apa sehun tolongin hee ra atau tidak ????😱😱😱😱😱 thor bagaimana ini aduh kok cepat banget sih habis y 😱😱😱😱😢😢😢😢

  4. Dasar jasmine gila, kalo iri nggak segitunya juga kali.
    Sehun dimana kenapa belum nyelamatin heera dan nyawa heera lagi terancam gegara jasmine yang gila itu. Racun nya udah mulai beraksi dalam tubuh ayah nya heera.

  5. Dan ternyata Sehun telah lebih dulu berada di belakang Jasmine sambil menodongkan pistol. Dor dor Jasmine tewasss yeeeee hehehwhew. Maaf ya thor ngawur, habis kesel banget sama Jasmine, cinta itu gak bisa dipaksain. Semangat buat kelanjutannyaa yaaa

  6. Ihhhh jamine yah bnr2..jahatt bgt…gmn donk klo bbr2 d tembak..g mungkin pst keburu ada sehun…
    Dan jongin-heera blm baikan aja..biarin lah biar heera jd mikirin sehun..hihihi

  7. Uhh… Untung aja ayahnya heera gakhadir di pesta ituu, jadi selamat dehh dari targer pemburuan mereka. Tapi heera hadir di pesta itu, semoga aja sehun bisa ngehentiin. Gawat jasmine mau nembak heera lagi, kenapa heera bisa gak sadar gitu sii kalo di belakang adaorangg…

    Ditunggu nextnyaa kakk

  8. Enggak heraa gak akan mati secepat ituuu. Sehun pasti dtng nyelamatin hera
    Yakkkkk makin seru aja nih ceritanyaaaa

  9. Itu tulisan TBC nya ganggu aja -_-
    Sehun mana sih pas heera lagi dalam bahaya malah ilang 😅
    Ditunggu next chap nya thor 😊👍

  10. anjirr si jasmine iri aja -_- heera bakalan diselametin kan? trus si sehun sma jongin kmana? aduhh tegang bgt bacanya eh tiba” udh tbc -_- keep writing ya thor semangat nulisnya *modus biar ffnya cepet di update* fighting!!

  11. Santaii, selama ada Sehun ama Jongin, Herra bakal aman, ya kan?? Mereka gabakal biarin HeeRa sakit sedikitpun, apalagi Sehun wkwk
    Anyway, racunnya Jaze mulai bereaksi tuh-_-
    Okay ditunggu next part ka, tengkyuu~

  12. wah apa itu no no dont please dont. sehun please muncul itu jasmine mau jedor matek heera no omegat jongin juga boleh deh nolong wks.. buruan pokoknya tolongin uh dasar jasmine jahat jangan begitu egois sekali😭😭😭 cepet dilanjut uh. semangat next chapternya

  13. hhwwaa sehunn kayanya cinta mati banget jadii mau…wkwkkk

    pasti sehun bakalan muncul… sotoy banget yahh aku.. soalnya kan sehun super heroo nya hee ra wkwkkk atau jong in?

  14. Waah jinjaaa kasihan heera jangan sampai ketembak huhu pengen nangis rasanya, sampe sekarang masih kasihan ke sehun yang melakukan segalanya demi orang lain tetepai org lain ga pernah tau apa yg sebenarnya sehun lakuin 😭😭😭
    Lanjut thoor semangat!

  15. Aarrgh..
    Rasanya gerah liat momen jongin – hee ra, -_-

    enggak sabar nunggu momen sehun – hee ra,. >__<

  16. Aarrgh..
    Rasanya gerah liat momen jongin – hee ra, -_-

    enggak sabar nunggu momen sehun – hee ra,. >__<

  17. tapi,.
    APA INI,.?!!

    Aaannddweee……………
    Ssehuunn……..
    Jebal……..

    Tolong jangan lukai hee ra – sehun…….
    Jjeball……….
    Mereka baru aja seneng,. 😥

    JASMINE!!!!
    MATI AJA LO, SUMPAH NGESELIN BANGET TUH ORANG..!!! >__<

  18. moga aja sehun tau semua rencana jasmin,, kasian ayah herra makin hari makin parah tanpa tau pnyebabnya,, sekarang malah herra yg jadi sasaran..

  19. Jasmine, please jangan tembk Hee Ra.
    Tembak aja Sehun #eehsalah , maksudnya Sehun dateng dong tolongin.

  20. Kadang lucu juga liat hubungan Jongin dan hee ra kalo lagi marahan 😀
    Semoga sehun cepat datang buat nyelamatin Hee Ra

  21. Aduh, aduh 😱😱😱😱😱…
    Sehuuuun, Kamu dimana??! 😞 Aaah, Aku speechless lagiii…
    Aku langsung next ya, Kak authoor ^^..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s