Hello School Girl [Chapter 3] ~ohnajla

bts-run

ohnajla || romance, schoollife || Teen || Chaptered ||

Min Yoonji aka Agust D aka Suga BTS

BTS members

Oh Sena (OC)

other cameo

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3

**

Hari-hari yang aneh pun dimulai. Sena tidak menyangka kalau orang yang dibencinya justru menjadi roommate barunya. Aih, apakah Tuhan sangat membencinya sampai-sampai dia harus satu kelas dan sekarang satu kamar dengan cabe cilik itu? Ugh, beruntung teman sebangkunya adalah Irene dan beruntung lagi mejanya dengan meja si cabe cukup jauh. Tapi, semua keuntungan itu sangat tidak sebanding dengan kepopulerannya yang kini menurun drastis.

“Jimin-a, bisakah kau—”

“Maaf Sena, aku tidak bisa. Sekarang aku sibuk.”

Sena hanya bisa melongo melihat Jimin yang belum-belum sudah pergi meninggalkannya. Aish! Sibuk katanya? Ya, sibuk mencari perhatian Min Yoonji. Awas saja cabe cilik itu nanti.

Lalu saat di kantin, setelah mengambil dua gelas jus buah, dia baru sadar kalau tali sepatunya terurai. Melihat Namjoon yang sedang lewat, dia pun menegurnya.

“Namjoon-a, bisakah kau—”

Aigoo aigoo~~ berikan padaku, akan kubawakan.” Namjoon melesat bagai kilat di matanya menghampiri Yoonji yang hanya membawa satu cup kopi, itu pun cup kecil.

Grrrr, lagi-lagi Min Yoonji sialan!

Pelajaran kimia. Harus membuat kelompok dengan anggota maksimal empat, Sena pun melambai dengan ceria saat ia tak sengaja bertemu tatap dengan Taehyung yang sedang melihat sekitar mencari teman satu kelompok.

“Di sini Taehyung­-a. Taehyung? Kim Taehyung?”

Taehyung menjilat bibir bagian bawahnya gugup lalu berkata, “Yoonji-a, kau mau sekelompok denganku?”

“Loh? Taehyung? Kenapa dia? Hei nerd! Look at me! Here here! Not that hoe! Yaa!

“Oh Sena, mohon tenang.”

Sena mengepalkan tangannya kesal. Min Yoonji!!! Gadis itu!!

.

.

.

Yaa!”

Yoonji yang baru keluar dari bilik toilet pun tersentak melihat Sena yang tiba-tiba muncul sambil membentak. Kalau saja jantung bisa melompat, mungkin dia sudah melompat sejak tadi. Dahinya terlipat menatap gadis itu yang tampaknya sudah menahan kesal sejak tadi.

“Apa-apaan sih?”

Dengan cueknya dia melenggang mendekati wastafel untuk mencuci tangan.

Sena mengikutinya sambil bersungut-sungut. “Kau itu … jujur padaku, kau pasti menggunakan ilmu hitam ‘kan saat datang kemari?”

“Ilmu hitam? Untuk apa aku menggunakan hal yang sudah jadul seperti itu?”

“Tidak usah banyak alasan, kau pasti menggunakan guna-guna untuk menarik perhatian cowok-cowok di kelas ‘kan?!”

Beberapa siswi yang ada di sana melirik mereka penasaran, tapi Sena tampak tak peduli. Dia masih berdiri di sebelah Yoonji yang tinggi cantik bahenol itu, menagih jawaban yang dia inginkan.

“Aku tidak pernah memakai hal kotor seperti itu untuk menarik perhatian mereka. Merekanya saja yang tertarik padaku,” balas Yoonji sambil mengeringkan tangannya di mesin pengering tangan.

“Tidak mungkin! Kau ini sama sekali tidak cantik! Hanya badanmu yang tinggi, pantatmu yang besar dan kakimu saja yang ramping! Wajahmu itu sangat menyakitkan mata! Tidak mungkin mereka tertarik padamu dengan wajahmu yang jelek itu!”

Bukannya kesal, Yoonji justru tersenyum tipis. Dia menatap Sena melalui pantulan cermin. “Jadi kau merasa lebih cantik hanya karena kau punya dada yang besar?”

Wajah Sena langsung memerah. “Apa katamu?!”

“Bukan apa-apa. Sampai ketemu lagi di kelas.” Setelah menyelipkan rambutnya di belakang telinga, Yoonji pun berjalan dengan lenggak-lenggok nan cantik keluar dari toilet wanita. Mengulum senyum misterius di perjalanannya menuju kelas.

.

.

.

Sepulang sekolah, Yoonji menyetujui ajakan Jung Hoseok untuk pergi ke sebuah toko buku. Sebenarnya Hoseok sudah mengajaknya sejak kemarin, tapi kemarin Yoonji harus bertemu dengan ibu asrama untuk mendapatkan kamar barunya. Jadi baru hari ini mereka baru benar-benar bisa keluar.

“Yoonji­-ya, menurutmu, novel fantasi itu lebih bagus tidak sih dari novel romansa?” tanya Hoseok dalam perjalanan mereka menuju toko buku. Mereka memutuskan naik bus.

Yoonji tampak berpikir sebentar. “Mungkin iya … mungkin tidak.”

Jawaban itu membuat Hoseok terenyuh. Ini pertama kalinya ada seorang gadis yang semenarik ini. “Lalu genre apa yang disukai Yoonji?”

“Hm … aku lebih suka novel horor.”

“Ha? Horor?” Kata itu bahkan jauh lebih horor dari horor sendiri(?). Pokoknya jangan pernah singgung soal horor pada Jung Hoseok maupun teman sebangkunya Shin Hoseok. Karena apa? Mereka sama-sama penakut tingkat akut.

“Eum. Thiller, misteri, action, psyco. Aku suka semua itu.”

Hoseok menelan ludahnya susah payah. “A-ah … seleramu cukup unik, Yoonji-a.”

Yoonji mengangguk dengan santainya, seolah cuek dengan Hoseok yang sudah berkeringat dingin.

Sesampai mereka di toko buku, Hoseok tak membiarkan Yoonji dekat-dekat ke bagian novel horor. Apalah, melihat kovernya saja dia sudah mau pingsan. Yang penting Yoonji harus ikut kemana dia pergi. Bagian novel fantasi sepertinya jauh lebih aman.

“Yoonji-ya, kau tahu, aku sudah membeli hampir sebangian buku-buku di sini. Aku sudah baca ini, ini dan ini. Aku merekomendasikanmu untuk membaca novel yang ini. Ceritanya menarik sekali, serius. Kau akan menyesal kalau kau tidak membacanya setidaknya sekali dalam seumur hidupmu. Bahasanya itu mudah dicerna, lalu pilihan katanya keren sekali, kau pasti akan tergugah untuk membuat novel juga. Dan … kisah cinta tokoh utama sayangnya berakhir tragis.” Hoseok meremas dada kirinya. “Aku menghabiskan waktu dua hari dua malam untuk menangisi kisah cinta mereka.”

Yoonji membolak-balik novel tebal itu sambil memperhatikan Hoseok yang terus saja mengoceh dengan gaya anehnya. Dia selalu tersenyum sejak datang ke sini. Bukan karena dia suka masuk ke toko buku, tapi karena Hoseok. Tingkah aneh Hoseok membuat senyumnya tidak bisa hilang.

Yoonji mengembalikan buku itu ke tempat asalnya. “Jadi kau sudah membeli novel horor juga?”

Ne?”

Yoonji mengangguk sambil mengulum senyum misterius. “Eum, novel horor. Katamu kau sudah membeli hampir sebagian buku-buku di sini. Berarti kau juga pernah beli novel horor ‘kan?”

Lagi-lagi Hoseok berkeringat dingin. “I-itu itu … AH! Lihat ke sini Yoonji-a, Harry Potter seri terbaru sudah terbit!” Hoseok langsung membelokkan topik pembicaraan dengan dalih novel Harry Potter seri terbaru yang sebenarnya sudah ada di toko ini sejak beberapa minggu lalu.

“Wah….” Hanya itu reaksi Yoonji sebelum dia melanjutkan, “aku ingin melihat novel horor seri terbaru juga.”

Hoseok berpura-pura tidak dengar dan tetap mengocehkan novel-novel fantasi yang lain. Agak sulit memang membuat perhatian Yoonji teralih. Tapi akhirnya dia berhasil juga dan mereka pun pulang dengan membawa sebuah novel fantasi yang dipilih Yoonji asal-asalan.

Di perjalanan menuju halte, mereka berhenti sebentar di truk makanan keliling yang menjual bungeoppang.

Ahjumma, dua bungkus bungeoppang,” ujar Hoseok sambil memperlihatkan V sign-nya pada si ahjumma yang menjual bungeoppang itu.

Sambil menunggu, Hoseok mengeluarkan dompet dari saku celananya. Berniat pamer mungkin, dia mengambil dua lembar uang sepuluh ribu won dari dompet itu tepat di depan mata Yoonji.

Yoonji sendiri mengerutkan dahi sambil bergumam dalam hati. Sinting ini kenapa sih?

“Ini, haksaeng.”

Hoseok menukar uang itu dengan dua bungkus bungeoppang yang dipesannya. Satu bungkus dia serahkan ke tangan Yoonji. Setelah dapat kembalian, mereka pun melanjutkan perjalanan menuju halte.

“Tidak dimakan? Enak sekali ini,” tanya Hoseok setelah menyadari kalau bungkus bungeoppang itu hanya dipegang saja oleh Yoonji sampai mereka sudah ada di dalam bus.

“Nanti. Belum lapar,” jawab Yoonji cuek tanpa sedikitpun menoleh.

Padahal jawaban itu bukan berdasarkan apa-apa, tapi Hoseok menangkap maksud lain yang sebenarnya sangat tidak benar. Dia pun menelan gigitan bungeoppang di mulutnya. “Maaf. Kau pasti kesal padaku karena tidak menuruti keinginanmu beli novel horor ‘kan?”

Yoonji menoleh, mengerutkan dahi.

Hoseok menunduk sambil melanjutkan. “Aku tahu kok, aku ini peka. Sebenarnya … aku ini takut dengan hantu. Jadi maaf kalau aku berusaha mengalihkan perhatianmu dari novel horor.” Ia pun mendongak. “Lain kali aku janji akan mengajakmu ke novel horor. Kau bisa pilih novel horor kesukaanmu, bebas!”

Yoonji mendengus geli lantas tersenyum. “Terserah sajalah.”

Wajah murung Hoseok pun berubah sumringah. “Kau memaafkanku?”

“Eum.”

Jinjjayo?”

“Eum.”

Yes.”

Yoonji hanya menggeleng pelan melihat tingkahnya. Dasar geblek..

TBC

Advertisements

29 responses to “Hello School Girl [Chapter 3] ~ohnajla

  1. yoonji mah selera film nya beda ya -_-
    tsadeeeest
    eh aku juga suka genre horor? kamu juga suka? kapan2 nonton bareng yuk //lah mulai lagi gajenya//

  2. yoonji sebenernya cewek jadi jadian yakan bener ga sih? Gimana kalo ternyata mereka tahu apalagi sena,kalo sena beneran suka sama suga ga salah kok tenang aja sena :v

  3. Pingback: Hello School Girl [Chapter 4] ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

  4. Pingback: Hello School Girl [Chapter 5] ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

  5. Pingback: Hello School Girl [Chapter 6] ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

  6. Pingback: Hello School Girl [Chapter 7] ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

  7. Pingback: Hello School Girl [Chapter 8] ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

  8. Pingback: Hello School Girl [Chapter 9] ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

  9. Pingback: Hello School Girl [Chapter 10] ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

  10. Pingback: Hello School Girl [Chapter 11] ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

  11. Pingback: Hello School Girl [Chapter 12] ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

  12. Pingback: Helo School Girl [Chapter 13] ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

  13. Pingback: Hello School Girl [Chapter 14] ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

  14. Pingback: Hello School Girl [Chapter 15] ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

  15. ngakak anju hoseok :v beneran penasaran kenapa suga jadi cewe itu tapi dia biasa aja nerima ajakan para cowo2 :v ga ngertiii

  16. Annyeong! Huehue 😦 aku melewatkan jejakku di chapter 2! Heol! Entah kenapa komentarku di chapter itu benar benar tidak bisa keposting 😦 aku sungguh sungguh minta maaf (sebenernya sih gabegitu bersunggunh sungguh sih), karena melewatkan jejakku yang tak berfaedah itu. Hah, yang pasti jejakku di chapter ini ada yuhu~
    sampai saat ini ffnya makin seru kok, fighting! 🙂

  17. sena kasihan sekali kepopulerannya sekarang menipis dan hampirrrrr habis, kata-kata yoonji di dalam hatinya itu amazing(?) sekali ya…. wkwkwk kwkwkw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s