#8 Worried [Blood Sweat & Tears] ~ohnajla

ohnajla | romance, school life, songfic, drama, friendship, family, brothership, teen | G | chaptered |

All member BTS

Oh Sena (OC)

Member EXO (cameo)

“One day we’re talking, the next it’s like we’re total strangers”

Blood Sweat & Tears concept

#1 Intro: Girl Meets Evil

#2 Begin

#3 Lie

#4 Stigma

#5 First Love

#6 Reflection

#7 Scary Date

#8 Worried

Langit tampak keemasan begitu mereka berdua sampai dengan selamat di sebuah restoran fast food. Taehyung memesan King Burger, menu paling mahal dan paling populer di restoran ini. Sena sebenarnya tidak ingin makan apa pun. Tapi karena dipaksa, akhirnya dia menjatuhkan pilihan pada salad buah. Pria itu juga memesan Bingsu, hanya satu mangkuk, untuk berdua.

“Bingsu di sini porsinya sangat banyak. Pernah aku beli dua dengan Jimin, tapi kami tidak bisa menghabiskannya.” Itulah alasan Taehyung saat Sena mempertanyakannya. Tidak sesuai harapan. Padahal Sena ingin sekali mendengar alasan yang lebih ‘romantis’ dari pria itu.

King Burger dan salad buah mereka akhirnya datang. Sena tak berhenti menganga. Tercengang melihat burger yang nyaris mengisi seluruh ruang piring tanggung itu. Belum lagi dengan tingginya. Ckckck, benar-benar King Burger.

“Mau coba?” tawar Taehyung tiba-tiba.

Sena lantas menggeleng. “Perutku masih terlalu kenyang untuk memakannya.”

“Ah … oke. Selamat makan.”

Keduanya pun mulai makan. Entahlah disebut makan apa ini. Sena tampak santai menyantap pesanannya. Sementara kebalikannya, Taehyung makan seperti seorang anak yang tidak pernah diberi makan selama sebulan. Saus belepotan di mana-mana. Sena tersenyum tipis. Meraih tisu, dan menghapus noda itu dari wajah Taehyung. Pria itu berterima kasih padanya lewat senyum polosnya.

Hidangan penutup pun datang. Semangkuk Bingsu yang benar-benar banyak untuk ukuran satu mangkuk. Sepertinya perut Taehyung masih bisa menampung banyak makanan. Dari matanya, dia tampak sangat bernapsu sekali untuk segera menghabiskan Bingsu itu. Sena tertawa kecil. Baru kali ini dia mendapati sosok pria yang tidak ada malu-malunya saat makan di depan seorang wanita. Benar-benar pria yang apa adanya.

“Cha! Buka mulutmu.”

Gadis itu mendongak, mengerjap sebentar. Dilihatnya Taehyung yang sudah siap dengan sendok penuh dengan bingsu. Menahan diri untuk tidak jatuh pingsan, Sena pun membuka mulutnya. Malu-malu menerima suapan dari pria itu.

“Sekarang giliran aku.”

Ne?”

“Suapi aku juga,” timpal pria itu sambil bersiap membuka mulutnya.

Sebelum didului oleh lalat, Sena langsung menyendok bingsu dan memasukkannya ke dalam mulut lebar itu. Sayangnya, karena terlalu gugup sasarannya meleset, es itu malah menempel di pipi Taehyung.

OMO! Ah mianhae!!”

“Aish … padahal aku sudah membuka mulutku selebar mungkin,” gumam pemuda itu sambil memutar bola matanya. Membiarkan Sena membersihkan noda itu dari pipinya.

Mianhae….”

Ne~~” balas pria itu setengah aegyo. Sena tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum.

Setelah Bingsu itu habis, Taehyung pun pergi membayar. Lantas keduanya beranjak pulang.

Berdua, jalan-jalan menyusuri trotoar di bawah langit yang indah, mereka tampak serasi layaknya pasangan kekasih. Jarak restoran ini dengan rumah mereka tidaklah jauh. Hanya perlu jalan kaki sedikit, mereka sudah sampai. Tapi, bukan Taehyung namanya kalau dia hanya mengikuti jalur umum. Maka, ide konyol pun datang ke otaknya. Mereka akan pulang melalui rute terjauh.

“Sesekali kau perlu mengambil jalan lain untuk pulang.” Begitulah kata Taehyung, yang bahkan tidak ditanya sama sekali.

Mereka melewati lapangan basket umum. Di sana ada enam pria yang bertanding. Dua diantara mereka memakai jaket yang sama, kembar. Duanya lagi tampak menonjol dengan tubuh tinggi mereka. Satu orang paling banyak berteriak. Dan satu sisanya….

“Yoongi hyung?”

Sena langsung menoleh. Mengernyit. Tak lama kemudian matanya membelalak.

Ya, itu benar. Satu yang paling pendek di sana adalah Yoongi. Memakai hoodie merah lengkap dengan skinny jeans dan beaniehitam. Dialah yang paling lincah. Melewati dua manusia tiang yang menghadangnya tanpa pikir panjang. Melompat dan PRANK! Ia pun berhasil mencetak angka.

Prok prok prok.

Sena menoleh ke asal suara.

“Kau lihat? Bahkan dengan lawan setinggi itu pun, dia tetap bisa mencetak angka dengan sempurna. Dia benar-benar MVP Red Dragon.”

Gadis itu kembali menonton suasana di lapangan itu. Lagi-lagi Yoongi berhasil mendapatkan bolanya. Tapi kali ini pria itu sepertinya mulai kelelahan. Terbukti dengan beberapa kesalahan kecil yang dibuatnya. Namun hal itu tidak membuatnya kalah dari tim raksasa. Lagi-lagi dia berhasil mencetak angka dengan lemparan jarak dekat. Lantas mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi, berteriak seakan baru saja memenangkan olimpiade tingkat dunia.

“Kerja bagus, hyung!!” pekik Taehyung tiba-tiba.

Semua orang di sana termasuk Yoongi langsung menoleh. Saat pandangannya dengan Yoongi bertemu, ia berusaha untuk tersenyum, tapi entah kenapa jatuhnya malah menyeringai. Dan pria itu membalasnya dengan wajah datar andalan. Menyebalkan.

“Oh! Taehyung!” Seseorang selain Yoongi memekik. Satu diantara dua pria kembar. Berlari kecil menghampiri Taehyung sambil memamerkan senyum manisnya.

“Yo Minjae~” Mereka pun berpelukan. Kelihatan akrab sekali.

“Akhirnya kita bertemu lagi, chingu-ya.”

Taehyung tertawa. “Jangan berlagak seolah kita sudah berpisah sepuluh tahun. Dua minggu kemarin bukankah kita bertemu?”

“Ah jinjja. Kau ini masih saja tidak punya sense romantis. Ck, apa gunanya kau belajar ilmu itu dariku selama dua tahun kalau kau masih tetap seperti ini, pabo-ya.”

Aigoo … sekarang kau mulai merasa jenius, eo?” Taehyung menjitak kepalanya.

“Tanganmu ternyata masih suka hilang kendali, eh?” Minjae balik menjitak.

Yaa, bisakah kalian tidak berlagak romantis di depan umum? Menjijikkan. Apa kalian tidak malu dengan gadis cantik itu?” Bogum, saudara kembar Minjae ikut-ikutan mendekat. Tersenyum manis saat bertemu tatap dengan Sena.

Minjae pun memunculkan kepalanya dari balik bahu Taehyung, untuk melihat siapa gadis cantik yang disebut kakaknya itu. “Wah … apakah ini yeojachingu-mu?”

Taehyung langsung menggeleng. “Kau ini bicara apa? Dia Sena, gadis yang tinggal di rumahku. Kami hanya teman, tidak lebih.”

“Ey … yang benar saja. Pergi berdua dengan seorang gadis itu sama sekali bukan gayamu, Byun Taehyung.”

Pertandingan basket kecil-kecilan itu otomatis berakhir berkat kehadiran Taehyung dan Sena. Yoongi memilih duduk di pojok lapangan. Menyesap air mineral yang dibawanya dari rumah. Menonton Sena yang kini mulai digoda oleh si kembar Park. Sesekali dia mengusap keringat di lehernya. Pertandingan ini sangat menguras tenaga. Entahlah apa nanti malam dia bisa begadang untuk latihan piano atau tidak. Yang pasti dia akan tidur sesampai di rumah nanti.

Selesai berbicara dengan si kembar, Sena dan Taehyung pun pamit pulang. Sudah tidak ada momen berdua lagi, karena Taehyung memaksa Yoongi untuk pulang bersama mereka. Langit berubah keunguan. Sena terpaksa harus menelan kekecewaannya karena kehadiran Yoongi yang merusak sesi ‘date’nya dengan Taehyung.

Hyung, kenapa tadi kau tidak mengajakku?”

“Bukannya kau pergi dengan anak ini?” balas Yoongi sambil mendorong dagunya pada Sena yang berada di antara mereka.

Taehyung melirik Sena yang asyik bermain ponsel, berpura-pura tidak dengar. “Maksudku sebelum aku pergi dengannya.”

“Kau sudah duluan pergi saat aku akan memberitahumu,” jawab Yoongi santai. Dialihkan pandangannya ke depan. Jalanan kompleks ini nyaris sepi karena hari mulai gelap. Lampu-lampu jalan dinyalakan bersamaan.

Taehyung menggaruk rambutnya. “Ya sudahlah.”

Sebenarnya Sena sedikit sakit hati mendengarnya. Jadi, apakah Taehyung kecewa padanya karena tidak bisa ikut bergabung basket dengan Yoongi dkk? Ah … tapi kalau dilihat dari sisi lain, bukankah Taehyung duluan yang mengajaknya keluar bersama? Jadi ini bukan sepenuhnya salahnya ‘kan?

“Kalian barusan dari mana?”

“Seperti biasa. King Burger.”

Yoongi hanya mengangguk singkat. “Besok pagi jangan lupa ikut latihan dengan Red Dragon. Mulai besok kau sudah tergabung dalam tim inti. Mei nanti akan ada pertandingan persahabatan dengan SMA si kembar Park. Jadi kau harus mulai mempersiapkan diri dari sekarang.”

“Lalu hyung sendiri?”

“Rencananya aku tidak akan ikut latihan sampai minggu depan. Aku harus mempersiapkan diri untuk kompetisi piano nanti.”

“Oh.”

Suasana hening lagi. Huft. Sena paling tidak suka ini. Sudah dia ada di tengah, diacuhkan, sekarang mereka justru sibuk sendiri-sendiri. Ia pun kembali mengantongi ponselnya. Merapatkan coat, menatap dua pria di kanan kirinya bergantian.

“Biar kutebak, pasti kalian tidak dekat satu sama lain.”

Dua pria itu reflek menoleh. Menampakkan ekspresi yang serupa.

“Kau sedang berlagak menjadi peramal?” sahut Yoongi to the point.

Sena mendecih. “Yaa, aku ini tanya!”

“Tidak juga. Kami dekat,” balas Taehyung.

“Tapi hubungan kalian seperti hubungan antara partner bisnis.”

“Itu hanya kesimpulanmu,” jawab Yoongi sambil membuang pandangan.

Taehyung mengamini ucapan Yoongi. “Kami benar-benar dekat. Dia sudah kuanggap sebagai hyung-ku sendiri. Kenapa kau bisa berpikiran begitu?”

“Kalau kau tidak tahu apa-apa, tidak usah banyak bicara. Memalukan.”

Sena langsung menoleh. Memberinya death glare.

Yoongi yang merasa diperhatikan juga ikut menoleh. “Apa?”

Dan gadis itu lekas membuang pandangan.

“Aku tidak salah bicara, ‘kan?”

“Ya ya ya.”

“Kalau kau sadar diri, kau tidak akan marah dengan kata-kataku.”

“Iya iya! Aku tahu.”

Sementara dua remaja itu saling adu mulut, di sisi lain Taehyung sibuk memperhatikan. Mereka berdua sama sekali tidak ada akrab-akrabnya, tapi entah kenapa, melihat mereka adu mulut seperti itu, Taehyung merasa iri.

“Kalian tampak serasi.”

Keduanya langsung menoleh. Menatapnya horor.

“Serasi? Aku dan dia? Hah!” Yoongi tersenyum kecut.

“Apa maksudmu dengan serasi?”

“Kalian beradu argumen seperti pasangan kekasih di drama. Goo Jun Pyo dan Geum Jan Di.”

Yoongi tiba-tiba tertawa sarkastis. “Dia? Geum Jan Di? Kau buta?”

Mwo? Si siput ini kau sebut apa? Goo Jun Pyo? Cih!”

Dua sejoli itu saling bertatapan tajam. Sampai-sampai mereka tidak lihat jalan. Alhasil, salah satu dari mereka tumbang setelah menabrak tiang listrik. Sena. Mengusap dahinya yang memerah akibat benturan keras itu. Menyumpah pihak pembangkit listrik dan si siput yang sedang tertawa heboh.

“Kau baik-baik saja?” Taehyung pun berlutut di sampingnya. Sebenarnya bisa saja dia tertawa lebih keras dari Yoongi, tapi karena dia merasa iba, tawanya itu berusaha ia tahan.

“Sakit….” keluhnya sambil mengerucutkan bibir.

“Hahaha! Itu lucu sekali! Lakukan sekali lagi,” seru Yoongi.

Sena sontak menoleh. “Lucu katamu?! Yaa! Cari mati?!”

Yoongi menjulurkan lidahnya. “Tidak. Aku cari hidup. Mehrong~”

Pria itu langsung lari. Sena yang tidak terima pun segera mengejarnya. Melempari apa saja yang bisa dilempar. Kompleks yang nyaris sepi itu mendadak ramai oleh suara mereka. Taehyung hanya menonton. Menggeleng pelan.

Usai makan malam. Sena, Taehyung, Jimin dan Jungkook sepakat untuk berkumpul di ruang tamu. Melakukan rapat meja persegi panjang untuk menuntaskan sebuah kasus berat.

Taehyung telah siap dengan sunglass-nya. Menatap ketiga temannya secara bergantian. Selayaknya seorang kepala gangster yang akan memberikan taktik perang kepada anak buah.

“Baiklah. Rapat ini kita mulai. Terima kasih untuk tuan Kim yang sudah bersedia datang, begitu juga tuan Park dan nona besar Oh. Saya selaku moderator rapat akan memulai rapat kali ini.”

Jimin membetulkan kacamata Harry Potter-nya. Jungkook meletakkan kaca pembesar di atas meja. Sementara Sena sudah sejak tadi duduk tenang dengan kaki saling tumpang tindih. Atmosfer mulai serius.

“Pertama-tama, biarkan saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada Tuan besar Byun, selaku ayah saya yang telah memberikan tempat yang luar biasa ini sebagai tempat rapat. Tanpanya mungkin kita tidak akan bisa menikmati karunia yang indah ini. Hiks hiks.”

Jungkook buru-buru memberinya selembar tisu. Tapi sebelum diraih oleh Taehyung, Jimin sudah mendahului. Sena memegangi dada kirinya yang tiba-tiba sakit.

“Ya, baiklah. Begini, tuan-tuan dan nona pasti sudah tahu ‘kan alasan kenapa saya mengajak anda semua untuk datang?”

“Ya! Benar!” jawab Taehyung sendiri. “Kita semua akan memecahkan sebuah masalah yang serius. Sangat serius. Untuk itu, saya mengumpulkan kalian semua di sini. Kita akan memecahkannya bersama-sama.”

Semua langsung fokus. Taehyung mengeluarkan buku tebal dari dalam tasnya. Menjatuhkannya dengan dramatis ke atas meja. Semua mata membelalak. Pria itu membuka halaman demi halaman. Hingga tibalah halaman ke-50.

Dia mengambil napas dalam-dalam, lalu membuangnya pelan. “Tugas rumah hari Senin. Matematika halaman limapuluh. Yakni! Duapuluh lima, soal LOGARITMA!!”

Semua mulut menganga. Sena lantas menutup mulutnya dengan anggun.

“Ini benar-benar masalah yang serius, Tuan Byun,” sahut Jungkook sembari memperbesar tulisan di sana dengan kaca pembesarnya.

“Aku bisa merasakan hawa kematian dari tulisan itu,” timpal Jimin sambil mengepalkan tangan.

“Ya. Dan kita harus memecahkannya malam ini,” ujar Taehyung penuh wibawa.

“Apakah kau sudah melaporkannya pada pihak berwajib?” tanya Sena.

Taehyung mengangguk syahdu. “Tapi sayang sekali. Tuan Kim Namjoon menolaknya.”

“Akh! Kiamat!” pekik Jimin.

“Hidup kita sedang ada di ujung tanduk!!” teriak Taehyung tiba-tiba.

.

Wat ar yu going, guys?” Hoseok tiba-tiba muncul. Sudah memakai piyama. Ia barusan dari kamar mandi, menyikat gigi, mencuci kaki dan tangan sebelum tidur. Sialnya dia tidak bisa melakukan semua itu dengan tenang karena keributan yang dibuat anak-anak ini.

I’m fine, I’m fine,” balas Taehyung sambil melepas sunglass. Menyeka kedua matanya yang bahkan tidak kenapa-napa.

It’s break! Break all!” sambung Jimin. Ikut-ikutan sok dramatis seperti Taehyung.

It’s make my heart neomu appa.” Sena ikut menimpali.

Hanya Jungkook yang normal di sana. Cengar-cengir mendengar bahasa Inggris ketiga temannya yang berantakan.

“What are you talking about, guys?” Namjoon tiba-tiba muncul. Dia juga datang karena suara-suara berisik empat anak itu. Menenteng buku terjemahan yang barusan diambilnya dari perpustakaan Baekhyun.

“Kami sedang mengerjakan matematika,” jawab Jungkook sembari mengangkat buku diktat tebal milik Taehyung. Menunjukkan duapuluh lima soal yang harus mereka selesaikan malam ini.

“Oh, good luck,” balas Namjoon sambil berlalu. Malas berurusan lagi dengan mereka.

“Kupikir ada apa. Don’t be afraid, uh? Keep spirit, guys. Fighting!” Hoseok juga ikut-ikutan berlalu setelah memberi mereka semangat dengan bahasa Inggris asalnya.

Sena tiba-tiba teringat sesuatu. “Ah, sepertinya aku tahu siapa orang yang bisa membantu kita.”

Muka-muka penuh harapan pun tiba-tiba bermunculan. “Serius?”

Gadis itu mengangguk yakin. “Akan kupanggil dia.” Segera diambilnya ponsel dari saku, mengetik sebuah nama, dan KLIK!

“Hei, kau tidak akan lupa perjanjian kita kemari ‘kan?”

“…”

“Sekarang juga datanglah ke ruang depan.”

“…”

“Aku tidak menerima penolakan. Lima menit! Kuberi kau lima menit! Kalau kau tidak segera datang, aku akan menghancurkan kamarmu!”

“…”

PIP!

Sena tersenyum puas. Menatap wajah penasaran tiga temannya satu persatu. “Sebentar lagi dia akan datang.”

.

.

“Kau minta kubunuh, huh? Kau pikir kau siapa menyuruhku datang kemari.”

Sena pun berdiri, menyambut Yoongi yang marah-marah dan tanpa pikir panjang langsung mendorong pria itu untuk duduk di tempatnya tadi. “Aku majikanmu, kau lupa?”

“Gadis sialan ini. Yaa! Sudah kubilang kau bisa memulainya setelah aku mengikuti kompetisi piano. Kau ini mengerti bahasa manusia atau tidak, huh?”

“Ssst!” Sena meletakkan telunjuknya di depan bibir. “Sudah kubilang aku tidak menerima penolakan dalam bentuk apa pun. Ini keadaan mendesak. Sebagai seorang noye, kau harus mengikuti perintah majikanmu dengan baik.”

Yoongi mengacak rambutnya frustasi. “Ya ya ya! Sekarang apa yang kau inginkan dariku?!”

Sena pun duduk di sebelah Jimin. Meraih buku diktat Taehyung, mendorongnya ke hadapan Yoongi. “Bantu kami menyelesaikan soal-soal ini.”

Ekspresi Yoongi berubah horor setelah melihat angka-angka di sana. “Kau membangunkanku hanya untuk mengerjakan angka-angka ini?”

Sena mengangguk enteng. “Seonsaengnim sedang cuti hamil. Guru penggantinya juga tidak becus menjelaskan materi. Sebagai kakak kelas, kau harusnya bisa membantu kami menyelesaikan ini.”

Pria itu mengerutkan dahinya. “Yaa, bukannya dulu kau bilang kau ini langganan parallel? Lalu apa manfaatnya kau mendapat gelar itu kalau mengerjakan soal seperti ini saja tidak bisa?!”

Tiga kurcaci selain Sena mengerut ketakutan. Aigoo … kalau sejak awal mereka tahu bahwa Yoongi lah bantuan itu, mereka sudah pasti akan menolak mentah-mentah. Ketiganya masih trauma dengan kemarahan Yoongi pagi ini gara-gara menguping pembicaraan mereka berdua. Masih baik Seokjin hyung. Meskipun pria itu tidak pintar-pintar amat dalam matematika, setidaknya pria itu tidak akan membentak-bentak mereka seperti ini.

“Ah … banyak bicara sekali sih,” ujar Sena sambil mengorek telinga. “Mau aku langganan juara parallel atau tidak, itu ‘kan bukan urusanmu, noye. Memangnya salah kalau aku meminta bantuanmu? Ck, jangan pernah berteriak pada majikan.”

Yoongi mengepalkan tangannya kuat-kuat. Lantas menghela napas. “Beruntunglah karena kau adalah perempuan.”

Sena mengangguk tak peduli. “Ya sudah, sekarang bantu kami mengerjakannya. Ppali!”

Meskipun kesal, Yoongi tetap mengajari dan membantu mereka menyelesaikannya. Susah payah dia menahan matanya untuk tidak tertutup. Yah … gara-gara Sena lagi, rencana tidurnya hanya tinggal rencana saja. Mungkin malam ini, dia tidak akan berlatih piano lagi.

Esoknya, setelah dikoreksi, buku tugas rumah pun dikembalikan ke masing-masing siswa oleh si ketua kelas. Sena tidak sabar untuk segera melihat hasilnya. Tanpa pikir panjang dia pun langsung membuka bukunya dan….

Mwo-ya?! Ini serius?!” pekik Taehyung tiba-tiba.

“Kurasa seonsaengnim kurang menambahkan satu angka lagi di sini,” timpal Jungkook.

“Astaga … ini pertama kalinya aku melihat angka ini di bukuku,” sahut Jimin.

Sena mematung. Menatap horor angka ‘0’ besar yang memenuhi bukunya. Ini benar-benar tidak masuk akal.

“Apakah di antara kalian ada yang membawa pemotong rumput?” tanyanya tiba-tiba.

Jimin, Jungkook dan Taehyung saling pandang tak mengerti.

“Untuk apa?”

Gadis itu menatap lurus ke depan. “Untuk memotong urat nadi seseorang bernama Min Yoongi.”

Ketiganya melonjak kaget. Ngeri melihat ekspresi Sena yang mendadak berubah layaknya psikopat.

“Siput jelek, pendek, menyebalkan itu. Akan kubunuh dia nanti.”

Sementara itu di kelas 2-1.

Yoongi mengusap leher belakangnya yang tiba-tiba meremang. Aneh, padahal tidak ada apa-apa di sini tapi kenapa dia merasakan hawa membunuh yang kuat? Seokjin yang duduk sebangku dengannya menoleh.

Wae?”

“Aku merasakan hawa membunuh yang kuat,” jawabnya masih sambil mengusap tengkuk.

Seokjin reflek menoleh ke belakang, hanya sekilas. “Mungkin Minah tahu kalau kau memberikan cokelatnya padaku.”

Pria itu mengangkat bahu. “Entahlah.”

“Kau harus berhati-hati mulai sekarang,” ujar Seokjin sambil menepuk pundaknya.

Yoongi pun komat-kamit tidak jelas. Menggumamkan doa agar dia tidak mati setelah jam pelajaran berakhir.

*maaf kalo lama ngga posting ini. Soalnya udah duluan kuposting di blog pribadi jadi males posting lagi*

TBC

Advertisements

10 responses to “#8 Worried [Blood Sweat & Tears] ~ohnajla

  1. Pingback: #9 Saturday Night [Blood Sweat & Tears] ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

  2. Pingback: #10 Secret Love [Blood Sweat & Tears] ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

  3. hahaha aku kirain mereka dapat nilai bagus taunya dapat nol besar wkwk…. banh yoongi, bang yoongi….

  4. hahaha aku kirain mereka dapat nilai bagus taunya dapat nol besar wkwk…. bang yoongi, bang yoongi…. baik bener dia…. #Kebalikannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s