#9 Saturday Night [Blood Sweat & Tears] ~ohnajla

ohnajla | romance, school life, songfic, drama, friendship, family, brothership, teen | G | chaptered |

All member BTS

Oh Sena (OC)

Member EXO (cameo)

“One day we’re talking, the next it’s like we’re total strangers”

Blood Sweat & Tears concept

#1 Intro: Girl Meets Evil

#2 Begin

#3 Lie

#4 Stigma

#5 First Love

#6 Reflection

#7 Scary Date

#8 Worried

#9 Saturday Night

 

Hari minggu datang dengan cepat. Yoongi akan melangsungkan kompetisi piano keduanya. Kali ini, tidak seperti tahun kemarin, Sena juga ikut serta mengantar pria itu. Mereka semua pergi sehari sebelumnya. Menempati sebuah villa milik Baekhyun yang berdiri tak jauh dari lokasi.

Malam sebelum kompetisi tiba, Yoongi menyempatkan diri berjalan-jalan di sekitar pantai yang berhadapan langsung dengan villa Baekhyun. Memakai hoodie merah yang dipadukan dengan skinny jeans hitam, dia menapak pasir putih di bibir pantai sambil menenteng sepatu. Yap, barefoot. Angin kencang terus berhembus dari laut. Dia yang merasa kedinginan, lekas menutupi leher dan belakang kepalanya dengan zipper. Pantai tampak lengang. Momen yang pas untuk merefreshing pikiran sebelum hari kompetisi datang.

Mendongak ke atas. Kedua matanya yang tampak layaknya garis langsung disambut dengan pemandangan yang indah. Seperti permadani hitam yang dibordir dengan manik-manik berbagai warna. Indah. Menentramkan. Tanpa sadar bibirnya mengulum senyum. Di sisi sana, ada bulan sabit yang bersebelahan dengan dua bintang paling terang. Senyumnya makin lebar.

Tiba-tiba ia merindukan keluarganya. Sebenarnya Yoongi bukanlah tipe pria yang selalu mengingat keluarga. Dia sudah terbiasa hidup jauh dari kedua orangtua sejak sekolah menengah. Sudah terbiasa hidup mandiri dengan tidak bergantung pada mereka. Dan lagi, baru beberapa pekan kemarin dia pulang ke Daegu –meski hanya dua hari. Entahlah, dia juga tidak tahu kenapa tiba-tiba merindukan mereka. Yang dia tahu pasti, besok adalah hari penentuan, apakah dia akan berhasil atau tidak dalam mengejar mimpinya. Hari di mana semua darah, keringat dan air matanya terbalas.

“Hei Siput!”

Kepalanya langsung menoleh ke asal suara. Berdecak. Oh Sena datang.

Wae?”

“Semangat untuk kompetisimu besok!”

Dahinya mengerut. “Tumben. Kau sedang kerasukan iblis mana, huh?” Ia pun berbalik, menghampiri Sena yang juga sedang menghampirinya.

“Kau ini. Bisa tidak kau sekali saja menganggap kebaikan hatiku?”

Bibirnya menyeringai. “Ah … gomawo. Tapi kau tidak perlu melakukan ini. Kau jadi terlihat aneh.”

Sena mengerucutkan bibirnya kesal. “Setidaknya aku tidak sepertimu yang bahkan tidak pernah berbuat kebaikan sama sekali.”

“Sok tahu. Memangnya kau pernah bertemu denganku 10 tahun lalu, huh?”

“Aku tidak perlu melakukan itu. Bahkan baru mengenalmu sehari saja aku sudah tahu bagaimana sifat aslimu.”

“Kau ini saaaangat pintar membuat orang kesal.”

“Memangnya kau tidak? Kau ini juga sama saja.”

Mereka sama-sama berhenti. 30 sentimeter, itulah jarak yang memisahkan keduanya. Ombak tiba-tiba datang. Menjilat bibir pantai sekaligus kaki telanjang mereka. Yoongi berjengit, dingin. Sena tersenyum tipis, merasa terhibur.

“Kalau kau tidak kuat dingin kenapa melepas sepatu? Bodoh.”

Yoongi reflek mendongak. “Memangnya itu urusanmu?”

“Aku hanya sedang mencoba romantis. Ck, kau ini benar-benar iron man.” Sena menyelipkan rambutnya ke belakang telinga. Sedikit kesal pada angin yang sejak tadi berusaha menghancurkan tatanan rambutnya.

“Berbaik hati saja kau tidak cocok, apalagi mencoba romantis,” ujar pria itu sebelum beranjak ke area yang lebih jauh dari bibir pantai. Duduk di sana, meletakkan sepatu di sebelahnya. Menatap Sena seakan menyuruh gadis itu untuk duduk di sisinya.

“Kau sedang mengikutiku?” tanyanya usai Sena duduk di dekatnya.

“Jangan percaya diri dulu. Aku hanya sedang ingin menikmati pantai Busan,” balas gadis itu tanpa menatap orang yang mengajaknya bicara. Pemandangan langit malam yang indah jauh lebih menarik untuknya.

“Kau bisa menikmatinya besok.”

“Memangnya itu urusanmu?”

Seringaian terbentuk di wajah Yoongi. “Jangan menyalin kata-kataku.”

“Kalimat itu bahkan sudah ada sebelum kau lahir.”

“Gadis bodoh yang pintar bicara.”

“Terima kasih.”

Pria itu tertawa kecil. “Tumben kau tidak menyangkalnya.”

“Aku sudah kenal bagaimana kau, Min Yoongi. Kau pasti akan berkata ‘bukankah itu kenyataan? Kalau kau sadar kau tidak akan marah’,” jawab Sena sambil meniru gaya bicara Yoongi. Menyebabkan gelak tawa keras dari seseorang yang ditirunya.

“Tepat sekali, gadis bodoh yang pintar bicara.”

“Hentikan. Astaga, tertawamu jelek sekali,” ujar Sena sambil menjauhkan dirinya saat memukul-mukul pundak pria itu.

“HAHAHAHAHA!!” Pria itu malah tertawa dengan keras di dekat telinganya. Sengaja. Hingga adu jotos pun tak terelakkan. Saling mengumpat. Menghina. Dan semua itu baru berakhir setelah dahi mereka berubah warna.

“Aish! Aku akan menuntutmu kalau sampai dahiku kenapa-napa! Akh … sakit sekali. Jinjja!! Yaa! kau berniat menghancurkan penampilanku besok, ‘kan?! Mengakulah!”

Sama-sama mengusap dahi, Sena menoleh sambil menunjukkan tatapan tajamnya. “Akan kutuntut kau atas tindakan pemfitnahan. Memangnya untuk apa aku menghancurkan penampilanmu kalau tadi aku bahkan berteriak ‘Semangat untuk penampilanmu besok’? Dasar siput bodoh.”

“Pokoknya aku tidak mau tahu. Kalau besok orang-orang menertawaiku, itu semua salahmu.”

Sena membelalak. “Enak saja! Kalau kau ditertawakan, itu sudah takdirmu!”

Yoongi terus mendesis kesakitan. Membuat Sena mengerutkan dahi cemas. Apakah barusan dia terlalu kuat? Haduh, bagaimana kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan besok?

“Kau baik-baik saja?” tanyanya kemudian.

Pria itu tidak menjawab.

Yaa, jangan bercanda. Kau baik-baik saja ‘kan?”

“Sakit….”

“Sakit sekali?” tanya Sena khawatir.

Pria itu hanya mengangguk. Sena lantas meraih tangannya, menyingkirkan tangan itu dari dahi. Niatnya dia ingin melihat seberapa menyakitkan bekas jitakannya di dahi pria itu. Tapi entah kenapa sekarang dia malah ingin menampar pria itu.

“Kau khawatir?”

“Minta kubunuh, huh?”

Yoongi menyeringai. “Silahkan bunuh saja.  Gadis bodoh sepertimu tidak akan mungkin bisa membunuhku.”

“DASAR SIPUT GILA KURANG GIZI!! GADIS BODOH, GADIS BODOH, KAU PIKIR KAU JENIUS!”

Bukannya ketakutan Yoongi justru tertawa keras. Yah … bagaimana dia bisa mati kalau hanya dipukuli selemah ini? Dia hanya perlu menghindar dan berpura-pura kesakitan. Bahkan untuk menahan kedua tangan gadis itu tidaklah sulit.

“Hei bodoh, inikah yang kau sebut membunuh, huh? Lakukan dengan benar. Kau ini berniat membunuhku atau menggelitikku?”

Dikatai seperti itu tentu saja Sena merasa tersinggung. Dia berusaha untuk membebaskan tangannya. Tapi sekuat apa pun dia berusaha, usahanya itu tidak membuahkan hasil sama sekali. Pria itu memamerkan lidah dengan bangga. Yang hanya bisa dibalasnya dengan cemberut.

“Sudah menyerah? Aigoo … kasihannya….” goda pria itu sambil menggoyang-goyangkan tangannya yang kecil. Tertawa lagi. “Sudah bodoh. Lemah. Ternyata kau juga kurang gizi.”

“Aish! Lepaskan tanganku!”

Yoongi menggeleng syahdu. “Tidak semudah itu, bodoh.”

Gadis itu mendelik. “Aku akan mengadukanmu padasamchon.”

“Silahkan,” balas pria itu enteng. “Nanti juga kita akan dihukum. Tinggal di tenda lagi, pergi ke sekolah bersama-sama lagi. Kalau kau mau begitu sih, silahkan saja.”

Cih, Yoongi terlalu sulit untuk dikalahkan. Sena mengaku kalah.

Pria itu tersenyum, lagi-lagi menggoyangkan tangannya. “Aku akan melepaskanmu, dengan syarat, kau harus memanggilku Min Yoongi oppa. Min Yoongi sunbaenim. Min Yoongijjangjjangmanbboongbboong.”

Ekspresi Sena mendadak horor. “Nama menjijikkan macam apa itu?”

“Menjijikkan katamu?!”

“Bukankah kau ini seharusnya Min Yoongi jajangmyeon pabo?

Yaa! Ck, kau ini sengaja ingin bersamaku terus, ‘kan?”

“Apa untungnya aku terus bersamamu!” balas Sena sewot.

“Kalau begitu cepat katakan apa yang kusuruh.”

“Tidak mau! Untuk apa aku menuruti perintahmu? Kau lupa, aku ini majikanmu. Kau ini seorang noye, kau tidak pantas memerintah majikan!”

“Perjanjian itu sudah batal, bodoh. Gadis tua itu sudah pergi, sudah tidak ada lagi perjanjian-perjanjian itu.”

“Siput sialan.”

Mwo?! Yaa!! Kau mulai berani pada kakak kelas, huh?!”

“Memangnya kenapa aku harus takut?!”

Yaa!!”

KLAK!

Keduanya reflek menoleh ke asal suara. Baekhyun dengan syal putihnya, mengangkat sebuah anak kunci sambil tersenyum manis pada mereka. “Kenapa berhenti? Silahkan lanjutkan. Kurasa kalian benar-benar ingin bersama malam ini.”

Pria itu pun pergi sambil melambaikan tangan. “Berkencanlah dengan romantis, Tuan dan Nyonya Min. Malam ini silahkan tidur di bus.”

Samchon! Tunggu!” Sena lekas bangkit, ingin mengejar pria itu. Tapi belum saja mengambil langkah, dia sudah terjerembab duluan. Mendesis lirih.

“Jangan berdiri tiba-tiba, bodoh!” pekik Yoongi sambil mengelus pergelangan tangannya.

Sena juga merasakan sakit yang sangat di pergelangan tangannya. Begitu dia lihat….

Samchon!! TIDAAAK!!!”

“Berisik!”

Lagi-lagi sial. Sial lagi-lagi.

Sopir pribadi Baekhyun, Kim Jaejin, menatap mereka heran saat keduanya datang menghampirinya yang sedang asyik membakar ikan di samping bus. Matanya tidak lepas dari borgol yang mengikat tangan kedua anak itu. Borgol yang familiar. Hm … bukankah itu milik Tuannya?

“Kalian sedang bermain pencuri dan polisi?”

Yoongi mendengus, Sena cemberut.

“Ya, aku dan dia pencurinya, Baekhyun samchon polisinya.”

Kursi kosong yang semula ditempati Jaejin langsung diduduki oleh Yoongi. Tapi belum satu menit, Sena sudah menariknya, dan mendorongnya untuk enyah dari sana. Menguasai kursi itu sendirian. Yoongi hanya bisa menghela napas, tanpa pikir panjang langsung duduk di tanah.

“Jangan-jangan kalian ketahuan sedang kencan, ya?” goda Jaejin sambil menahan senyumnya.

“Hanya keajaiban yang bisa membuatku kencan dengan gadis jadi-jadian ini,” balas Yoongi sambil menarik tali hoodie-nya.

Ahjussi, kau sedang memasak apa?” tanya Sena tiba-tiba. Dia sudah terlalu gerah mendengar pembicaraan tentang kencan-kencan itu.

“Aku sedang membakar ikan. Kalian mau? Tuan baru saja membeli banyak ikan laut, dia memberiku ¼-nya. Padahal aku tidak minta sama sekali.” Terkekeh.

“Ah … sepertinya samchon sedang mengadakan pesta ikan bakar bersama yang lain.” Teringat kembali momen-momen tahun kemarin saat dia dan yang lain datang ke Busan untuk mengikuti kompetisi piano. Saat itu Jungkook dan Jimin sudah tinggal di rumah Baekhyun, sementara Sena masih belum ada. Malam hari, di villa yang sama, Baekhyun mengadakan pesta ikan bakar. Hanya delapan orang pria. Membakar bersama, mencuci ikan bersama, memotong bumbu bersama. Kenangan yang tidak akan pernah dilupakan olehnya.

“Pesta ikan bakar? Ah … samchon jahat sekali tidak mau mengajakku,” keluh Sena sambil menghentak-hentakkan kaki. Akibat ulahnya tanah setengah pasir itu pun jadi beterbangan, mengganggu pemandangan Yoongi.

“Hei hei! Hentikan! Debunya masuk ke mataku!”

Sena lantas menghentikannya.

“Nah, ikan bakarnya sudah matang. Ayo masuk. Kalian akan bermalam di sini ‘kan?”

Kedua remaja itu tanpa protes langsung mengikuti kemana siahjussi pergi. Mereka menyantap ikan bakar itu sambil menonton pertandingan sepak bola yang sudah ditunggu-tunggu oleh Jaejin. Sena ataupun Yoongi, sebenarnya sangat tidak tertarik dengan tontonan itu. Tapi mereka tidak banyak berkomentar. Toh Jaejin sudah memberi mereka ikan bakar gratis.

Yaa, jangan tarik-tarik. Aku tidak bisa makan,” seru Yoongi saat tangan kanannya tidak bisa berhenti bergerak karena ulah Sena.

“Aku juga tidak bisa makan,” balas gadis itu tak mau kalah.

Baru saja Yoongi akan memasukkan seiris daging ke mulutnya, tiba-tiba tangan kanannya ditarik lagi. Alhasil daging yang susah payah dia pisahkan dari duri pun jatuh ke lantai bus. Dia pun hanya sanggup menghela napas. Dilihatnya Sena yang sedang sibuk memisahkan duri dari daging. Iseng, ia pun menarik tangannya dan jatuhlah daging itu ke lantai. Bernasib sama dengan daging ikannya tadi.

Sena sontak menoleh. Menatapnya tajam. “Kau sengaja ya?”

Pria itu tersenyum tipis. “Kalau iya kenapa?”

“Kau tahu seberapa sulitnya aku memisahkan durinya?”

Yoongi mengangguk. “Aku tahu.”

“Kalau kau tahu kenapa kau tetap melakukannya?” geram Sena. Kalau saja besok Yoongi tidak ikut kompetisi, sudah dia buat babak belur pria itu sekarang.

“Lihatlah ke bawah.”

Meski kesal, Sena tetap mengikuti apa yang disuruh. Terlihat dagingnya yang berharga hanya tergeletak tak berdaya di sana. Kalau saja daging itu bernyawa, mungkin daging itu sudah menangis. Tapi, dia melihat satu iris daging lagi yang tergeletak di sana. Baru saja ditendang oleh Yoongi.

“Kau pikir hanya kau saja yang kesulitan memisahkan durinya.”

Gadis itu pun menoleh. Bertemu tatap dengan Yoongi yang jaraknya hanya beberapa senti saja darinya. Mata sipit tegas yang menyabit itu juga ikut menatapnya. Jenis tatapan yang sangat berbeda dari jenis tatapan Jimin ataupun Taehyung. Saling bertatapan dengan jarak yang sedekat ini, entah kenapa membuat pipinya tiba-tiba bersemu. Reflek dia membuang pandangan.

Wae? Kenapa tiba-tiba pipimu jadi merah? Sakit? Malu? Marah? Atau….”

Mereka saling pandang lagi. Tapi kini Sena diliputi kecemasan. Apa kira-kira yang akan diucapkan pria ini?

“Kau mau buang angin?”

PLAK!

Jaejin yang sejak tadi keasyikan menonton bola, reflek menoleh. “Suara apa barusan?”

Sena tersenyum lebar. “Bukan apa-apa, ahjussi. Hanya menangkap nyamuk.”

Pria pertengahan 30 itu mengangguk-angguk. Lantas kembali fokus pada pertandingan. Tidak memedulikan kedua remaja yang kini saling mengumpat dengan suara rendah.

Usai makan malam sederhana itu, mereka berdua sepakat untuk beristirahat. Di ruang paling belakang bus itu, ada kamar, dan di sanalah mereka berada. Terpaksa harus terus berdekatan karena kedua tangan mereka diborgol. Jaejin memutuskan untuk tidur di ruang depan, tidak ingin mengganggu momen kedua remaja ini.

“Kalau kau ingin buang air besar, tahan sampai besok,” ujar Yoongi sambil membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Bersebelahan dengan Sena yang sedang duduk.

By the way, aku ingin buang air kecil sekarang.”

“Itu juga tahan sampai besok,” jawab Yoongi enteng.

Pabo! Bagaimana kalau aku mati?!”

“Argh, aku sudah mengantuk! Memangnya kau akan bertanggung jawab kalau besok aku ketiduran selama kompetisi, huh?”

“Tapi ini darurat!! Aish! Bangunlah dulu!” Tanpa menunggu jawaban darinya, Sena langsung menarik tangannya, memaksanya untuk bangkit dari zona nyaman dan menyeretnya memasuki toilet.

“Aku akan menunggu di luar,” ujar Yoongi seraya berhenti tepat sebelum kerangka pintu berada.

“Tidak bisa!! Terlalu jauh!”

“Aish!”

Dengan terpaksa Yoongi harus ikut masuk. Membelakang sambil menjepit hidungnya dengan tangan kiri. “Ppali!

“Jangan menoleh!”

Tiga menit kemudian, mereka pun kembali ke ruang tidur. Yoongi kembali dalam posisi berbaring, berusaha untuk tidur di tengah-tengah berisiknya suara TV yang sedang menayangkan film action.  Tapi ternyata, hal itu tidak semudah yang ia bayangkan. Semakin dia memaksa untuk tidur, suara-suara itu makin keras di telinganya. Argh, yang ada dia malah tergiur untuk ikut menonton film itu.

Baru mendekati tengah malam, TV pun dimatikan. Sena sudah mengeluh mengantuk. Pria itu hanya memperhatikannya tanpa banyak bicara. Tidak butuh waktu lama sampai gadis itu terlelap. Perlahan namun pasti, ia duduk, menarik selimut, membalut tubuh gadis itu sebatas leher. Setelah beres, dia kembali berbaring. Menghadap gadis itu. Tersenyum tipis. Diliriknya tangan mereka yang terkekang oleh borgol. Ukuran yang sangat berbeda. Tangannya tampak raksasa saat disandingkan dengan tangan itu. Ia pun menggerakkan jarinya, menyinggung tangan itu. Lantas tersenyum lebar.

01.00 AM

Sambil merapatkan jaket, Jimin pun membuka pintu bus yang sengaja tidak dikunci. Ditutupnya pintu setelah dia berada di dalam. Tersenyum pada Jaejin yang menyapanya di sela-sela menonton F1. Ia pun duduk di samping pria itu. Mencomot popcorn yang dipeluk oleh Jaejin.

“Sena dan Yoongi hyung sudah tidur?” tanyanya.

“Aku tidak tahu. Tapi sepertinya begitu,” jawab Jaejin tanpa memandang orang yang mengajaknya bicara.

“Aku akan melihat mereka.” Tanpa menunggu jawaban dari Jaejin, dia langsung bangkit, mengendap-endap masuk ke ruang paling belakang. Suasananya senyap. Ia berhenti di ambang pintu yang menghubungkan antara lorong bus dengan ruang tersebut. Terpaku memperhatikan Sena dan Yoongi yang tidur di ranjang yang sama, saling berhadapan.

Hyung, jujur saja, pasti kau ‘kan yang memindahkan Sena ke atas?” tanyanya saat menemui Yoongi di studio milik Baekhyun. Dia datang 30 menit setelah Yoongi. Baru saja menyelesaikan satu koreografi dari Hoseok.

“Aku tidak tahu apa maksudmu,” balas Yoongi cuek. Sejak datang kemari, dia sama sekali belum mengambil break. Bermain piano sudah menjadi kebiasaannya, jadi dia tidak punya alasan untuk merasa kelelahan.

“Hari saat kau dan Sena bermalam di sekolah. Aku yakin, pasti kau yang memindahkannya saat dia tidur ‘kan?”

“Eum.”

Jimin memperhatikan hyung-nya sebentar. Lantas membuang pandangan. “Jadi … kau punya perasaan padanya?”

“Ya. Benci.”

Sontak ia pun menoleh. “Ne?”

“Eum, benci. Kau pikir aku melakukan itu karena aku menyukainya? Aku hanya kasihan melihatnya tidur di lantai. Lagi pula dia bisa terganggu kalau tetap berada di sana sementara aku berlatih untuk kompetisi. Kenapa kau tiba-tiba menanyakannya? Kau punya perasaan padanya?” tanyanya sambil menoleh.

“A-ah i-itu….” Jimin lantas membuang pandangan. Bingung harus menjawab bagaimana.

Yoongi yang paham akan hal itu kembali memandang pianonya. “Kau itu sangat mudah dibaca, Park Jimin. Jangan khawatir. Sedikitpun aku tidak punya perasaan seperti itu padanya. Toh yang harus kau khawatirkan bukan aku. Tapi gadis itu. Kalau kau sadar, kau pasti tahu kalau dia sedang menyukai seseorang. Dan orang itu, sayangnya bukan dirimu.”

“Darimana hyung tahu kalau dia sedang menyukai seseorang?”

“Dia itu sama seperti dirimu, Jimin-a. Kalian mudah dibaca.”

Tiba-tiba dia menghela napas. Memperhatikan mereka sekali lagi, lantas berbalik dan kembali ke tempat Jaejin. Bergabung menonton F1. Ikut menghabiskan popcorn. Berusaha menghapus rasa penasarannya akan siapa pria yang disukai Sena saat ini. Apakah itu Yoongi atau Taehyung, dia berusaha untuk tidak peduli.

 Hari kompetisi pun tiba. Borgol itu dilepas saat Sena dan Yoongi masih terbuai di alam mimpi. Baekhyun sengaja melakukannya. Dia ingin melihat keimutan dua anak itu saat terlelap. Tidak buruk. Dia tersenyum saat mendapati kedua tangan mereka saling menggenggam. Lucu. Sesuai yang diharapkan.

Kompetisi akan diadakan pukul 11 siang. Sambil menunggu saat itu datang, usai sarapan Yoongi dibiarkan berlatih piano di villa Baekhyun. Sebagai pemanasan, agar saat kompetisi berlangsung dia tidak grogi seperti tahun kemarin. Tepat satu jam sebelum kompetisi, mereka berangkat ke lokasi. Yoongi harus berkumpul dengan peserta yang lain, terpaksa dia harus terpisah dari rombongan. Sementara itu, Baekhyun mengajak pasukannya untuk mengisi tempat duduk. Mereka menempati satu baris, nomor tiga dari depan.

Seperti biasa, Sena memilih untuk duduk tepat di sebelah Taehyung. Bersebelahan juga dengan Jimin.

“Bagaimana hukuman kalian kemarin?” tanya Taehyung tiba-tiba. Membuat Sena yang sejak tadi berdebar langsung menoleh.

“E-eh? Kemarin … ng … yah … tidak jauh berbeda dengan hukuman-hukuman sebelumnya.”

“Ah … sayang sekali. Kalau saja kalian tidak dapat hukuman, kalian pasti akan ikut pesta ikan bakar. Kau tahu, pestanya sangat menyenangkan. Kemarin aku berpikir … ah … kalau saja Sena dan Yoongi hyung ada di sini, pasti pestanya akan makin menyenangkan.”

Pipi Sena mendadak merona. “Aku sebenarnya juga ingin ikut pesta itu.”

“Ya … kau baru saja melewatkan pesta pertamamu, Sena-ya.”

“Apakah nanti akan ada pesta lagi?”

Taehyung berpikir sejenak. “Sepertinya tidak. Besok hari senin, jadi kemungkinan malam ini kita akan langsung pulang ke Seoul.”

Ekspresi kecewa terpampang nyata di wajah gadis itu. Membuat Taehyung tersenyum tipis, lantas mencubit pipinya.

“Tidak usah sedih. Masih ada liburan semester. Aku akan memohon pada appa untuk berlibur di Busan lagi.”

Sena memegangi bekas cubitan Taehyung di pipinya. Tersenyum. Lantas mengangguk.

Jimin yang sejak tadi mendengar obrolan mereka, berusaha untuk tidak menoleh. Dia memperhatikan panggung, orang-orang dan sebagainya dengan telinga yang terpasang dengan baik. Entahlah, perasaannya bercampur aduk begitu saja. Susah untuk dijelaskan.

Suasana gedung yang semula ramai, mendadak senyap saat kompetisi dimulai. Satu persatu kontestan naik ke atas panggung, memamerkan bakat berpiano masing-masing. Permainan mereka tidak main-main. Sangat patut untuk diacungi jempol dan applause yang keras. Lalu tibalah giliran Yoongi.

“Itu Yoongi hyung,” gumam Taehyung seraya menegapkan punggungnya saat melihat Yoongi membungkuk 90 derajat penuh pada para penonton.

Tidak hanya Taehyung, Sena, Jimin dan yang lain juga antusias melihat pria itu mulai memainkan Moonlight Sonata. Sena terus berdoa dalam hati. Berharap tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Mengingat tadi pagi dia menemukan bekas kemerahan di dahi dan pergelangan tangan Yoongi. Meski itu bukan sepenuhnya salahnya, tapi dia akan menyalahkan dirinya sendiri jika terjadi apa-apa dengan pria itu. Yah … walaupun kebenciannya benar-benar tidak bisa ditoleransi, tapi dia bukanlah gadis brengsek yang akan menghancurkan mimpi seseorang.

Tujuh menit akhirnya berlalu. Permainan yang indah dari Min Yoongi pun berakhir. Sena menghela napas, lega. Lantas ikut bertepuk tangan seperti yang lain. Pria itu berdiri, membungkuk berulang kali. Lalu kembali ke belakang panggung.

Pemenang akan diumumkan setelah istirahat. Selama istirahat itulah, para peserta diperbolehkan pergi makan malam bersama keluarga masing-masing. Termasuk Yoongi, yang sekarang ikut bergabung di meja besar VVIP yang disewa Baekhyun di sebuah restoran mewah dekat lokasi kompetisi. Banyak peserta beserta keluarga yang juga makan malam di sana. Kalau diperhatikan baik-baik, hampir semuanya berasal dari kalangan keluarga berada. Dan itu dalam artian keluarga lengkap.

Baekhyun memesan dua set hanwoo. Sesekali dia ingin menyenangkan hati anak-anak ini dengan makanan mahal. Tidak peduli dengan seberapa mahalnya daging sapi yang dia pesan, toh anak-anak ini sudah dianggapnya sebagai anaknya sendiri.

“Kau sudah tidak lagi grogi seperti tahun kemarin,” ucap Namjoon setelah menyesap sirupnya. Dia duduk berhadapan dengan Hoseok, bersebelahan dengan Yoongi.

“Benarkah? Kurasa tadi kakiku sedikit gemetar,” balas Yoongi sambil mengedarkan pandangannya ke penjuru meja. Ia berterima kasih karena Baekhyun memesan banyak makanan mala mini.

“Jangan bercanda, permainanmu tadi bagus sekali, hyung. Kau sudah seperti pianis sesungguhnya,” timpal Jimin.

Yoongi hanya menyeringai, lantas memalingkan pandangannya ke depan. Bersitatap dengan satu-satunya gadis yang ada di meja ini. Gadis itu sepertinya ingin mengatakan sesuatu. Ia pun menopang dagu di atas meja, sambil berkata, “Kelihatannya kau ingin mengatakan sesuatu padaku.”

Sena menggaruk rambutnya salah tingkah. “Itu … bagaimana dengan tanganmu?”

“Tanganku? Wae? Ada apa dengan tanganku?” tanyanya sambil memperhatikan kedua tangannya.

Gadis itu tiba-tiba menarik tangan kanannya, menyibak bagian pergelangan tangan yang sengaja ia sembunyikan dengan pakaiannya. Terdapat lecet yang cukup serius. Sebelum yang lain melihatnya, buru-buru Yoongi menarik kembali tangannya.

“Ini bukan apa-apa. Kau pikir aku akan menangis hanya karena lecet sekecil ini.”

Sena menghela napas. Tiba-tiba dia bangkit, berjalan memutar, lalu berhenti setelah berada di samping kursi pria itu. Sikapnya ini membuat semua orang yang ada di meja itu menatapnya, tak terkecuali Baekhyun. Mewanti-wanti kalau mereka akan saling mengumpat lagi seperti sebelum-sebelumnya.

“Kau ini kenapa?” tanya Yoongi sambil mengerutkan dahi melihat Sena yang sedang merogoh saku.

“Diamlah. Ah kuletakkan di mana sih?” Dia sibuk sendiri mencari-cari sesuatu di dalam saku bajunya. Tidak memedulikan tatapan-tatapan yang lain.

“Ketemu. Sekarang angkat kepalamu.”

Wae? Wae? Kau berniat ingin membunuhku?” Yoongi sudah bergidik sendiri dengan dugaannya. Membuat Sena menghela napas, lantas mendorong sendiri dagu Yoongi untuk sedikit mendongak.

“Tidak bisakah kau menghargai sedikit saja kebaikan orang lain? Kalau kau terus seperti ini, kau tidak akan punya teman, apalagi yeojachingu. Memalukan sekali. Sudah 17 tahun tapi belum pernah sekalipun berkencan dengan seorang gadis,” omelnya sambil menempelkan plester di dahi pria itu. Sebelumnya, Yoongi menutupi lecet di sana dengan poni. Toh Sena juga melakukan hal yang sama dengan dahinya. Pria itu tidak banyak berkomentar saat Sena menempelkan plester. Dia lebih memilih melihat ke bawah. Tidak mau tampak klise seperti di drama-drama romance.

“Sekarang kemarikan tanganmu.”

“Sudah kubilang ini bukan apa-apa,” tolaknya sambil menyembunyikan tangan di belakang tubuh.

Sayang sekali, Sena terlanjur keras kepala. Gadis itu menarik tangannya paksa. Menyibak kain yang menutupi tangan kanannya, menempelkan plester seperti yang dilakukan sebelumnya.

“Dua plester itu seharga seribu limaratus won. Ingat, seribu limaratus won. Kau harus membayarnya nanti.”

Gadis itu kembali ke tempat duduknya. Masih tidak memedulikan tatapan yang lain, dia langsung memasukkan banyak daging ke mulutnya. Sejujurnya, daging-daging yang dia makan ini dimasak oleh Yoongi.

“Dagingnya enak. Sepertinya kau juga berbakat memasak daging,” ucapnya sambil melirik Yoongi sekilas. Dicomotnya seiris daging yang sudah masak –dari pemanggang, lalu diletakkannya di atas mangkuk nasi Yoongi. “Cobalah. Dagingnya enak sekali.”

Yoongi menatapnya heran. Tumben. Apa mungkin gadis itu sedang kerasukan roh baik?

“Apa? Kau tidak mau? Ya sudah, akan kumakan.”

Buru-buru Yoongi menahan sumpit gadis itu dengan sumpitnya. “Aku tidak bilang tidak mau.”

Sena hanya mengangguk kecil.

Makan malam itu pun berlanjut dengan atmosfer yang entah kenapa berubah canggung. Salah seorang di sana, tersenyum pahit saat berusaha menelan daging.

 

TBC

Advertisements

5 responses to “#9 Saturday Night [Blood Sweat & Tears] ~ohnajla

  1. Agak binggung. Apa sena suka taehyung apa yoongi. Trus jimin juga penasaran. Sapa yg menetap dg trsenyum pahit?

  2. Pingback: #10 Secret Love [Blood Sweat & Tears] ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s