If We Love Again: The Reason is You

if-we-love-again

Poster by ALKINDI DESIGN

Previous:

Desire of Heart  – Still Remember You – That Was Love – All The MemoriesThe Hidden Love

Twelveblossom (twelveblossom.wordpress.com) | Sehun, Jung Nara, Park Chanyeol, and Olivia Kim │ PG 15 │Hurt/Comfort & Romance │ Series │Track List Project | Wattpad: twelveblossom

“Everytime I doubt, everytime I lose, everytime I fail, the reason I strong is you.” ―Stronger, EXO

-oOo-

Olivia Park menyerahkan piama tidur untuk Nara. Wanita itu mengawasi Nara yang sedang bercermin. Nara melamun dan Liv tahu hal yang sedang dipikirkan sang gadis. Lantas Liv berdeham agar Nara menyadari kehadirannya.

“Kau sedang memikirkan, Sehun,” celetuk Liv yang langsung membuat Nara menoleh. Liv tertawa kecil. “Aku juga sempat menjadi seperti dirimu, Nara. Aku pernah merasa sebagai pihak yang bersalah dalam sebuah hubungan. Namun, di sisi lain hal yang kulakukan bukan kesalahan melainkan demi kebaikan pria yang kucintai. Bedanya, aku tak seberani dirimu. Aku tidak mencoba menjelaskan padanya,” lanjut Liv.

Nara merajut langkah menuju Liv yang terduduk di ranjang. “Apa ini mengenai Chanyeol?” tanya Nara.

Liv mengangguk. “Kau dan Sehun harus memiliki akhir yang berbeda daripada cerita kami. Berjanji padaku, ya?”

“Kau berkencan dengan Sehun, kenapa dirimu malah membuatku berjanji seperti itu?” tanya Nara, curiga sekaligus penasaran.

“Kami tidak berkencan. Well, memang dulu kami pernah mencoba menjadi sepasang kekasih, tapi gagal. Aku dan Sehun sama-sama orang yang ditinggalkan dan disakiti,” Liv menghela napas. “Kami membentuk tim manusia patah hati, hebat bukan? O, aku hanya bercanda, rautmu jangan serius begitu, Nara. Aku dan Sehun cuma berteman. Kami bertemu saat dia memulai kuliahnya di Amerika. Ia yang mendekatiku karena sikapku serupa seseorang yang dia kenal. Katanya, aku mirip sekali denganmu. Aku yakin waktu itu Sehun sedang depresi atau semacamnya,” kenang wanita itu, tanpa segan mengimbuhkan tawa terkikik.

Nara ikut tertawa. Seharusnya, ini menjadi kisah yang dirunung duka. Walapun begitu, cara Liv mengatakannya membuatnya berbeda. Olivia Kim terlalu periang.

“Kau bercerita seakan Sehun belum bisa melupakanku―”

“―Hm, tidak seperti itu. Yang benar, Sehun masih sangat mencintaimu. Aku semestinya tidak membongkar semua ini padamu. Hanya saja, aku terlalu lelah melihat kalian yang tak kunjung paham. Apa kau sadar? Sehun mengawasimu selama ini, setiap saat. Aku yang memberikan laporan padanya tentang keadaanmu, kegiatanmu, dan foto-fotomu. Awalnya, aku berpikir jika dia melakukannya agar dapat membalas penghinaanmu. Akan tetapi, secara tidak sadar, dia malah melindungimu. Berulang kali aku mengatakan padanya, apabila kasihnya untukmu masih ada. Sehun tetap keras kepala,” beber Liv.

Nara membisu. Dia mencerna baik-baik suara Olivia Park.

“Sehun adalah seorang pria dengan harga diri yang tinggi. Kadang kala, rasa cintanya padamu tertutupi oleh harga dirinya. Yang harus kau lakukan, jangan biarkan dirimu menyerah ketika dia memintamu demikian. Apabila, kau lelah karenanya beristirahatlah sejenak. Namun, jangan sampai, kau membiarkannya pergi. Jika hal itu sampai terjadi yang ada nanti hanyalah penyesalan. Percayalah padaku, dia masih sangat mencintaimu. Kau harus lebih kuat,” vokal Liv.

“Kenapa kau mengatakan hal ini padaku?”

Liv melejitkan bahunya. “Sebab kau teman baik Chanyeol dan gadis yang dicintai sahabatku,” tutup Liv.

Keadaan Nara sudah lebih baik daripada kemarin. Ia bahkan bisa melangkah tanpa terhuyung dari ranjang mewah itu. Si gadis yang terbangun akibat cahaya matahari menelusup melalui celah-celah kelambu pun memindai hunian Sehun. Raganya yang telah membaik, membuatnya lebih dapat memahami letak-letak ruangan apartemen mantan kekasihnya. Apartemen ini begitu luas dan dingin. Pantas saja Sehun kerap meminta Liv untuk menemaninya tinggal. Hati Nara menjadi berdenyut, ketika benaknya membayangkan betapa kesepian cinta pertamanya itu.

Kaki Nara berayun menuju ruang santai yang berhubungan langsung dengan dapur, ruang makan, dan ruangan lain yang entah apa. Dia lantas tertarik pada sebuah pintu yang setengah terbuka ini. Nara mencuri pandang sejenak, mengamati ruangan itu―yang ternyata adalah tempat kerja Sehun. Netra Nara refleks membola sewaktu ia menemukan Sehun yang tertidur di kursi kerja. Kacamata masih bertengger di paras Sehun. Seolah terhipnotis gadis itu mendekat agar dapat melihat secara jelas raut pria yang dicintainya.

“Kau pasti lelah,” gumam Nara. Ia sedikit menunduk agar wajahnya sejajar dengan Sehun. “Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya Nara sembari mengusap lembut kening Sehun yang berkerut. Ia melakukannya secara hati-hati agar pemuda yang berpakaian kasual itu tak terbangun.

Setelah puas memandangi Sehun yang terlelap, Nara memundurkan ayunan kaki. Ia hendak pergi ke dapur sebab perutnya mulai lapar. Sedari tadi ia juga mencari Liv yang tampaknya masih tidur. Nara sebenarnya enggan merepotkan sekretaris Sehun, toh ini juga masih pukul enam pagi. Jadi, dia menebak letak bahan makanan ataupun perlatan masak dapur apartemen Sehun.

Nara menemukan telur dan wortel di dalam lemari pendingin, sisanya adalah bir kaleng. “Kau sudah jadi kaya raya sekarang, Oh Sehun, tapi selera makananmu tidak berubah,” monolog Nara. Ia mengenang Sehun yang dulu. Pemuda itu menyukai omelet yang berisi wortel. Mengingat hal itu, Nara langsung menarik ujung bibirnya. Ia hendak membuat omelet favorit Sehun.

Nara mulai memasak, ia cukup ahli dalam mengolah makanan berbahan baku telur. Tangan Nara bergerak terampil pada sepuluh menit awal. Lantaran demikian, menginjak menit berikutnya, tangan gadis itu mulai bergetar. Ia tidak sengaja menjatuhkan piring.

“Astaga!” pekik Nara. Ia panik, berusaha melangkah untuk membersihkan pecahan piring. “Ah!” sekali lagi gadis itu berseru kesakitan. Kali ini kakinya malah terkena pecahan piring.

“Diam di sana,” ujar Sehun yang berjalan dengan langkah lebar-lebar menuju ke arah Nara. Pemuda itu segera merangkum Nara dalam gendongan. Gadis itu bahkan tidak sempat terkejut, saat Sehun mulai membentaknya, “Kau bisa tidak, berhenti membuatku khawatir? Kenapa tidak memakai alas kaki?” Sehun mendudukkan Nara di atas nakas. Ia menatap galak Jung Nara. Sehun menunduk sejenak untuk memasangkan sandal merah muda pada kaki si gadis.

“Aku lapar,” jawab Nara. Ia menunduk, enggan membalas manik Sehun.

Alis Sehun naik. “Kenapa tidak minta tolong pada Liv?” intonasi Sehun masih naik satu tingkat. Ia mencengkram bahu Nara. “Dengar Jung Nara, kau itu masih sakit. Jangan turun dari tempat tidur!” cetus si pria.

Nara bungkam, bahunya naik-turun.

Sehun mendengar sayup-sayup suara sedu gadis bersurai panjang itu. Ia segera membuang napas berusaha sabar saat menyadari Nara mulai menangis. Perlahan-lahan luapan amarahnya meluruh. Dia tidak tega. “Jangan menangis, hm? Kau jadi cengeng, ya,” ujar pemuda itu. Jari telunjuk Sehun mengangkat dagu Nara dengan lembut, sehingga paras mereka dapat saling menatap. Jemarinya menghapus airmata si gadis.

“Aku tidak menemukan Liv, mungkin dia masih istirahat. Jadi, aku memasak sendiri. Aku ingin membuatkanmu omelet karena kau terlihat lelah,” jelas Nara, ia tetap sedih. Airmata si gadis satu persatu turun dan hidungnya menjadi merah. “Kau tahu aku berubah sensitif kalau sedang sakit, tapi kau tetap saja membentakku,” imbuh Nara.

Tubuh Sehun bergerak menarik gadis itu dalam pelukannya. Saat ini pikirannya benar-benar sedang berhenti bekerja. Ia sendiri juga tak menyadari apa yang sedang dilakukannya. Sehun membiarkan gadis itu membasahi kemejanya. Tangannya merengkuh si gadis lebih dalam. “Tidak apa-apa, sudah jangan menangis,” bujuk Sehun.

“Kau membuatku takut,” bisik Nara yang lantas mengundang senyum simpul Sehun.

“Kau tidak takut sewaktu pengawal Kang’s Technology membentak dan memukulmu. Tetapi, kau takut padaku?”

Nara mengigit bibirnya sebelum menjawab, “Aku tahu mereka memang jahat, jadi aku sudah mempersiapkan diri untuk dipukul dan diomeli. Kalau dirimu kan berbeda.”

Sehun melepaskan dekapannya agar ia bisa memindai raut si gadis. “Apa yang membuatku berbeda?” tanyanya.

Gadis itu diam beberapa sekon. Bibirnya tak bergerak sedikit pun, hanya tangannya yang beranjak menuju rahang Sehun dan diam di sana. “Sehun yang kukenal adalah pria baik hati. Dia tak pernah secara sengaja menyakitiku. Oleh karena itu, apabila ia menjadi sangat marah padaku berarti dirikulah yang bebuat jahat padanya,” ucap Nara pelan.

Sehun meletakkan cangkir berisi cokelat panas di meja samping tempat tidur. Ia singgah di sudut ranjang, sementara Nara duduk bersandar pada kepala ranjang dan menyelimuti tubuhnya. Mereka sedang berdampingan. Sehun berulang kali memutar logikanya agar ia dapat memulai percakapan. Pria itu sedang memilah-milah kosakata yang tepat.

“Aku telah memikirkannya semalam,” ujar Sehun pada akhirnya. Ia menatap lurus ke depan, maniknya enggan bertemu Nara. “Aku akan melepaskanmu. Hal itu berarti seluruh aset keluargamu kembali seperti semula,” lontar Sehun.

“Kenapa begitu tiba-tiba?” tanya Nara. Ia terlalu terkejut mendengar ini. Gadis itu sama sekali tidak mengira bahwa Sehun akan melakukannya.

Sehun tersenyum, “Dengan begitu, aku bisa mengubur semua tentang kita. Balas dendam yang kulakukan berakhir sia-sia karena tindakanku ini justru membangun kenangan kita lagi. Aku ingin semua hal tentangmu berakhir agar kita dapat saling melupakan.”

Nanar sorot mata Nara menghujam Sehun. Nara mencengkram selimut. Hatinya kembali merasakan kepedihan itu. Ia seharusnya lega, terbebas dari kesengsaraan. Meskipun demikian, ada separuh kebahagiaannya yang justru terserap pada duka lain.

Sehun menjungkitkan ujung bibir menjadi senyum yang menarik hati. “Aku tidak akan ikut campur lagi mengenai kehidupanmu. Anggap saja impas. Jika bukan karena kau yang menghinaku empat tahun lalu, aku tidak akan seperti saat ini. Apabila, aku tak mengingat kebencianku padamu di masa laluku, pasti aku akan menyerah untuk meraih diriku yang sekarang.” Ia membelai surai Nara penuh sayang. “Hiduplah dengan baik, Jung Nara. Aku sudah menghubungi Chanyeol untuk menjemputmu,” lanjutnya, kemudian berdiri dan berlalu meninggalkan kamar itu.

Nara tidak menangis. Benaknya bersahutan menyatakan bahwa yang dikatakan Sehun adalah sebuah dusta. Ia tahu jika mereka tak bisa saling berlalu pergi begitu saja. Hatinya mengerti, setiap sentuhan yang diberikan pria itu padanya adalah bentuk dari kasih.

“Kenapa kau begitu keras kepala, Sehun?” tanya Nara pada kekosongan. Gadis itu menyibak selimutnya. Ia tertatih mengejar Sehun. Gadis itu segera menarik tangan sang pemuda hingga berbalik menghadapnya. Ia dapat melihat penderitaan dalam wajah cintanya.

“Kenapa kau selalu egois?” lontar Nara. Ia memukul berkali-kali tubuh pemuda itu. “Kenapa kau berbohong? Kenapa kau menyakiti dirimu sendiri?” cecar Nara.

Sehun menyengkram sepasang tangan Nara. Ia tak membalas.

“Aku sudah berlutut padamu. Kau telah mengerti alasan diriku menghinamu. Kenapa kau masih mengucapkan perpisahan?” tanya Nara. Gadis itu membiarkan airmatanya yang perlahan turun. Hari ini dia sudah menangis dua kali disebabkan oleh orang yang sama. “Kenapa kau begitu dingin padaku?” tanya Nara berkali-kali.

Sekali lagi, Sehun melupakan bagaimana raganyanya harus bertindak ketika melihat duka yang terkoar dari paras Nara. Ia meraup wajahnya, melepaskan pegangan tangannya pada si gadis. “Kau membuatku bingung, Jung Nara. Kau membuat tubuhku bergerak tak sejalan dengan logika. Kau membuatku membencimu, tetapi tak dapat menyaikitimu. Penderitaan yang kuberikan padamu, justru membuat diriku gelisah,” balas Sehun. “Kau membuatku gila―”

Ungkapan Sehun terpotong. Nara yang memutusnya. Gadis itu menarik sang pemuda pada tautan yang dalam. Ia mengirim Sehun pada definisi dari segala hal perilaku yang dia rasakan. Kail itu telah bertemu. Bibir Nara sengaja mengawali pertemuan kelembaban mereka. Nara ingin tahu kebenaran dari segalanya.

Nara mencium Sehun.

Tangan gadis itu mengalung sempurna ke leher si pria.

Ia bergerak seolah-olah ini adalah terakhir kalinya gadis itu dapat menyentuh Sehun.

Nara enggan berharap jika lumatan itu akan terbalas.

Kendati demikian, Sehun membalasnya.

-oOo-

a/n: Part terakhir dapat dibaca di >>> If We Love Again: For Life. Cara mendapatkan password klik >>> Kata Kunci. Cerita mereka yang lain dapat dibaca di Track List Project.

Cerita ini juga dapat dibaca di Wattpad: @twelveblossm / wattpad.com/twelveblossom

Terima kasih sudah membaca.

Advertisements

12 responses to “If We Love Again: The Reason is You

  1. Sedih, asli. Kenapa sehun ngelepasin Nara. Kan masih sama sama sayang kan ? Masa nyerah hun. Ah, baper baper. Ditunggu nextnya ya thor. Fighting

  2. Knp ai mereka ini ga langsung bilang aja kalau mreka masih sangat sling mencintai,yah oh sehun…..jdilh laki2 gentelman dong,nara luluhknlh hati sehun ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s