Dearest Ballerin [Hope]

Hasil gambar untuk chanyeol moodboard

cr pict : rain-inc

Dhee/Jung Monica Present

Starting:

Park Chanyeol (EXO) and his daughter Elmaira Park

prev : Dearest ballerina[the dream] 

Backsong : BoA –  Between heaven and hell

.

.

“..god tell us the reason youth is wasted on the young”

.

.

.

Chanyeol sedang mempersiapkan keperluan putrinya untuk pementasan nanti, sebenarnya ia sudah menyiapkannya jauh-jauh hari. Tetapi untuk memastikan agar semuanya lengkap, Chanyeol kembali membongkarnya dan mengeceknya satu persatu dalam list.

Sedangkan si cantik jelita, sedari tadi tidak berhenti menyunggingkan senyum secerah mentari. Ia nampak bahagia, -atau sangat bahagia bahkan. Senyumnya mulai tersungging sejak ia bangun dari tidurnya sampai sekarang. Dan hal itu mau tak mau membuat Chanyeol ikut menyunggingkan senyumnya juga sejak pagi.

Hari ini adalah hari paling bersejarah bagi putrinya. Setelah berlatih begitu keras selama berbulan-bulan, akhirnya tepat pada hari ini, perlombaan balet yang sangat ia nantikan digelar. Bersyukur bagi Chanyeol hingga saat ini tidak ada sesuatu yang menghalangi mimpi putrinya. Termasuk penyakit yang diderita putrinya.

Jauh-jauh sebelum hari pementasan digelar, Chanyeol selalu berdo’a tak ada hentinya. Dari pagi menjelang pagi, baik dirumah maupun ia berada. Ia tak ingin hal yang tidak baik datang menghancurkan mimpinya putrinya, tak jarang ia juga pulang pergi rumah sakit hanya sekedar meminta resep obat yang sekiranya bisa meredakan sakit putrinya. Tidak peduli lelah datang menghampirnya setiap saat, yang terpenting adalah Elma-putrinya harus tetap sehat sampai pementasan digelar. Atau bahkan selamanya

Jam di  dinding menunjukkan pukul sembilan, satu jam lagi perlombaan akan dimulai. Buru-buru Chanyeol membereskan tas keperluan Elma dan pergi menghampiri si cantik di meja makan.

“Makanmu sudah selesai cantik?” tanyanya keluar dari ruang tamu

Si cantik menganggukkan kepalanya antusias. Diambilnya piring kotor bekas makan putrinya kemudian meletakkannya pada kitchen sink. Menggeser langkahnya untuk menghampiri lemari es dan mengambil beberapa botol disana.

Botol obat milik Elma, -putrinya.

Ia masih tak beranjak dari depan lemari es. Tanganya mengepal, -menggenggam botol tersebut. Harus ‘kah ia memberikannya kepada Elma, sementara dihadapannya, sang putri tidak berhenti menyunggingkan senyum secerah matahari. Ia menghela nafasnya kasar, lalu mengembalikan botol tersebut kembali pada tempatnya.

Sekali ini saja biarkan Elma merasa ia seperti gadis normal yang sehat. Tidak ada obat, tidak ada rengekan, dan yang pasti tidak ada tangisan. Karena sungguh Chanyeol tidak mau hari terbaik putrinya berantakan hanya karena dirinya.

“Tunggulah didalam mobil, Sweetheart. Ayah mau mengambil tas terlebih dulu” perintahnya setelah memberikan sepatu

“Ayey captain” seru si cantik sambil berjalan keluar rumah

Gemerlap dekorasi panggung yang megah menyambut kedatangan Elma dan juga si Ayah. Gadis itu memekik girang melihat dekorasi yang sangat luar biasa ini, matanya berbinar lucu pada saat melihat sekeliling. Membuat Chanyeol tertawa dibuatnya

“On behalf of?” tanya salah satu panitia

“Ah, ya, Elmaira Park” jawab Chanyeol menerima bingkisan kue dan  setangkai bunga mawar putih.  Setelahnya keduanya dipersilahkan masuk dan bersiap-siap di backstage.

Beberapa kali Chanyeol membantu Elma mengenakan aksesorisnya. Mulai dari tiara dan beberapa yang lainnya, tak jarang sikapnya tersebut mendapat perhatian dari beberapa panitia dan orang tua peserta lomba lainnya.

Elma membolak balikan tiaranya “Ayah, apakah ini terlihat cantik untukku?”

“Cantik sekali”

“Tidak bohong, ‘kan?”

Ia menganggukan kepalanya mantap dengan dua jempol terarah pada putrinya. Merapikan anak rambut Elma lalu mengecek penampilan putrinya dari atas sampai bawah

Uncle Jo?” Chanyeol ikut menengok kebelakang saat sopran itu menyapa. Ada Jongin disana dengan setelan formal beserta tangan kiri yang membawa sebuket favorite Elma.  Tangannya melambai diikuti jarak yang kian terkikis antara mereka

“Ku harap aku tidak terlambat, jadi, ini untukmu nona manis” katanya dengan tampang menyesal yang dibuat-buat dan menyerahkan buket bunga itu kepada si penerima. “lalu lintas New York tak pernah bagus” sambungnya berjabat tangan dengan Chanyeol

“Tak masalah, yang penting kau datang. Terima kasih sekali lagi” si lawan mengangguk mengiyakan

“Ayah mengajak Uncle Jo?”

Yang dewasa saling melempar pandang. Samar-samar Chanyeol menggelengkan kepalanya untuk memberitahu Jongin kalau jawabnnya tidak.

Jongin mengambil alih badannya untuk berjongkok menyamai tinggi Elma ”Kebetulan Uncle ingin bertemu dengan teman Uncle, lalu melihat mobil Ayahmu terpakir di depan jadi Uncle ingat jika kau nona manis, juga ikut dalam perlombaan ini”  kalimat terakhirnya dibubuhi dengan colekan pada hidung Elma.

Kata Jongin, dokter spesialis yang menangani Elma, berkata bahwa kondisi tubuh Elma sangatlah sulit ditebak. Ia bisa saja tidak merasakan sakit apapun sebelumnya lalu kemudian bisa saja drop. Maka untuk mencegah hal yang tidak diharapkan itu terjadi, Chanyeol juga mengundang Jongin untuk hadir melihat pementasan putrinya. Tentu saja dengan berdalih bahwa Jongin punya kenalan yang juga mengikuti lomba tersebut. Itu sebabnya Jongin bisa berada disini.

Perlombaan sudah dimulai beberapa jam yang lalu, pula dengan Elma meninggalkan sang Ayah dan Jongin kedalam backstage untuk melakukan persiapan. Awalnya Chanyeol bersikukuh untuk ikut kedalam backstage, tetapi karena guru balet Elma memberi penjelasan bahwa Elma akan baik-baik saja didalam tanpanya, jadi ia harus puas hanya dengan berada di jajaran kursi penonton bersama Jongin.

“Dia baik?” pertanyaan Jongin menjadi pembuka utama setelah sepeninggal Elma. Chanyeol mengangguk mengiyakan, seolah yakin bahwa putrinya baik-baik saja.  “Kau tidak lupa memberikannya obat bukan?” tanyanya sekali.

Chanyeol diam. Pertanyaan Jongin membuatnya ingat akan keputusannya tadi pagi. Chanyeol memang tidak lupa akan tetapi kali ini ia memaksakan untuk lupa. Karena ia hanya ingin putrinya merasakan apa yang sepatutnya ia rasakan.

Respon yang ia berikan hanya berupa anggukan kepala. Lalu keduanya tidak saling berbicara sampai nama Elma yang dipanggil untuk peserta selanjutnya. Chanyeol berdiri, memberikan senyum serta semangat terbaiknya kepada sang putri yang dibalas dengan senyum yang tak kalah terbaiknya.

Iringan musik mulai terdengar, gerakan awalan tengah Elma mainkan. Tubuhnya meliuk kesana kemari seperti angsa putih yang cantik. Temponya semakin cepat menandakan sudah memasuki bagian tengah.

Satu-satunya orang yang merasakan keanehan dalam diri Elma adalah Jongin. Matanya memicing seolah menebak apa yang sedang terjadi, dan ia yakin gadis itu tidak sedang dalam kondisi yang baik.

“Apa kau melihatnya?” tanyanya kepada Chanyeol, sementara yang diberikan pertanyaan mengernyit tak tau “Hentikan musiknya, cepat. Bilang ke operatornya untuk menghentikan musiknya” desak Jongin yang membuat Chanyeol semakin bingung.

“Apa maksudmu?”

“Kubilang pergilah ke operator dan minta mereka untuk menghentikan musiknya”

“Menghentikan musiknya? Kau gila? Putriku sedang diatas panggung”

“Jangan membantah, Park. Pergi dan hentikan musiknya”

Emosinya mulai mencapai ubun-ubun. Sungguh ia tidak mengerti apa maksud dari permintaan Jongin “Kau ingin membuat putriku kalah hah?!”

“Dan apakah kau ingin melihat putrimu meregang nyawa disana hah?” tepat setelah bentakan Jongin terhadap Chanyeol, Elma limbung tak sadarkan diri diatas panggung.

“Ayah. Lihatlah, aku tidak bisa” keluh Elma berungkali

Chanyeol menghampirinya dengan senyum tertahan. Sudah kali kelima ia mengeluhkan perihal yang sama kepada Chanyeol, berkata bahwa ia tidak bisa, dan Chanyeol harus melihatnya agar ia tidak menyuruh Elma untuk mengulangi lagi.

Tapi nihil

Justru Chanyeol akan semakin memaksanya untuk mencoba sampai ia benar-benar bisa. Elma yang bosan akan perintah Ayahnya memilih untuk pergi kesisi ruangan. Melipat kedua kakinya dan tak lupa kecurutan bibirnya yang menambah aksi keputus asaannya.

“Hei” sapa Chanyeol, sementara lawan bicaranya hanya menatapnya malas “Kau marah pada Ayah?” tanyanya to the point, mengambil tempat berlutut dihadapan putrinya.

“Tidak. Siapa yang marah” kilah Elma sambil menatap sekeliling. Chanyeol menatapnya gemas, sungguh Elma tidaklah pandai dalam menyembunyikan perasaannya. Ia sama seperti mendiang ibunya, yang juga sama-sama tidak bisa menyembunyikan perasaannya.

“Benar tidak marah?”

“Tidak”

“Elmaira park”

“Tidak”

Merilekskan suasana, Chanyeol memilih untuk mengarahkan kedua tangannya ke perut Elma. Ia menggelitik si empu yang punya perut hingga miringis. Jika didunia ini hanya boleh memilih dua hal yang paling dibenci, maka Elma tidak akan segan memasukkan hal seperti mennggelitik kedalam dua hal yang paling ia benci.

“Kau tidak marah ‘kan” cerca Chanyeol terus menerus

“Ayah hentikan”

“Katakan jika kau tidak marah pada Ayah”

“Oke oke. Aku marah, aku marah pada Ayah”

Tangan Chanyeol berhenti. Yang sedari tadi bermain diperut putrinya, kini beranjak membetulkan  poni kuda putrinya. Si cantik masih merengut kesal, sedangkan Chanyeol mulai mengambil nafas.

“Kau bisa,El. Anak Ayah yang cantik ini pasti bisa” tuturnya sehalus mungkin.

“Gerakan itu susah, Yah. Dan aku tidak bisa” bela Elma pada diri sendiri “Sudahlah. Aku tidak mau lagi belajar balet, mereka menyusahkan”

“Kemarilah” Chanyeol memerintah. Detik berikutnya Elma menyusul Chanyeol ke tengah ruangan “Dulu ibumu juga sering putus asa, sama sepertimu. Dia selalu mengeluh akan hal-hal mudah, dia sering berpikiran jika semua itu sulit. Padahal sama sekali tidak”

Chanyeol mengambil satu tangan Elma. Melabuhkan tangan kanannya pada pundak Chanyeol, sementara sisi yang kiri sudah Chanyeol genggam.

“Menganggap semua hal itu mustahil untuk dilakukan. Termasuk mengahadiri pesta dansa sekolah. Semua orang menganggap pesta dansa adalah hal yang terbaik dalam hidup mereka, tapi tidak dengan ibumu. Ia beranggapan bahwa pesta dansa hanya acara buang-buang waktu saja, tidak keren, menyusahkan. Kau tau alasan ibumu berkata demikian..”

Chanyeol melepaskan pegangannya pada perut Elma, kemudian menyuruhnya untuk berputar. Satu kali putaran. Sebelum ia mengajaknya untuk berputar.

“Kenapa?”

“..Karena ibumu tidak bisa berdansa waltz”

Keduanya terkiki geli. Lalu, melanjutkan kembali tariannya. Berulang kali Chanyeol memutar tubuh Elma dan mengangkat tinggi-tinggi tubuh putrinya.

Inilah kelebihan Elma jika dibanding istrinya. Elma gemar menari, sedangkan mendiang istrinya dulu sangatlah kuno dalam hal menari. Memang sejak kecil Chanyeol selalu mengajaknya berdansa waltz mengelilingi ruang tamu, alasannya agar Elma terbiasa dan pastinya tidak kuno seperti mendiang si ibu.

Bukan maksud Chanyeol untuk memaksa Elma melakukan hal-hal yang tidak ia inginkan, tetapi ia hanya ingin putrinya kelak terbiasa dengan hal yang tidak terduga. Ia ingin putrinya tau bahwa tidak ada yang mustahil di dunia ini selama kita mau berusaha untuk menggapainya. Sama halnya dengan gerakan balet yang sudah ia coba berungkali tadi.

Bukan Elma tidak bisa. Ia hanya belum terbiasa

 

 

Adalah suatu hari dimana Chanyeol rela tubuhnya remuk tak tersisa daripada harus menunggu kabar mengenai kondisi Elma dari dalam sana. Lamunannya buyar kala ia melihat Jongin keluar dari ruang ICU secara tergesa-gesa.

“Bagaimana keadaan putriku?” tanyanya diambang keputus asaan.

“Berdo’alah yang terbaik. Kita masih berusaha menyelamatkannya” jawab Jongin kemudia masuk dengan beberapa perawat yang membawa peralatan medis

Langkahnya merajut kedepan pintu ICU, tatapannya nyalang, dadanya sesak. Dia bermain pada perandaian yang sudah menjadi abu tak tersisa dibenaknya.

Seharusnya Chanyeol tidak egois, seharusnya ia memberikan obat itu tadi pagi. Seharusnya ia menuruti perkataan Jongin, bukan malah mendebatnya. Dan masih banyak ke-harusan- yang sudah menjadi percuma jika dipikirkan.

“El, Ayah mohon bertahanlah. Jangan tinggalkan Ayah, El”

Tepat pada saat ia menggumamkan kata tersebut. Jemari Elma bergerak sedikit disana, dan ia hampir melompat kegirangan jika tidak dihadapkan pada layar monitor bergaris hijau di samping ranjang putrinya yang mendadak berhenti, digantikan dengan lengkingan konstan dan riuh Jongin beserta perawat didalam sana.

“Time of death: one, thirteen, January second, year two thaousand and sixteen, Wednesday”

.

.

.

.

A/N  :

Assalamualaikum, saya kembali lagi dengan series ballerina hehehe. series ini lanjutan dari dearest ballerina ya, yg belum baca monggo klik dearest ballerina . saya entah kenapa suka banget nyiksa mas chanyeol di ff hehehe, sungguh maafkan ya. awalnya ga kepikiran buat ngelanjutin ini cerita, karena menurut saya pribadi yang nulis. ff ini pembawaannya berat hehe, jadi agak susah buat ngelanjutin. buat Elma? maaf ya mas, saya harus ambil elma ekeke. kritik dan saran diterima, mohon apresianya ya. semoga juga endingnya

nampol wkwkkw

buket bunga dari uncle jo

Gambar terkait

ballerina dress from Ayah Chanyeol

Gambar terkait

Advertisements

2 responses to “Dearest Ballerin [Hope]

  1. Wa’alaikumsalam…. Eh… tunggu… Author Dhee ini kan yg buat cerita lengkap sluruh agota EXO dg semua mslahnya mengurus anak? apa ya itu jdulx, ‘Daddy’s Problem/about daddy and his problem’? hehe maaf kalau salah kira 😀 kan ini Elmaira Park.. dg Chanyeol sbg ayah tunggal. Ooy tp trkejut msa’ Elma meninggal ya? ksihan Chan sndirian… huhu.. critanya sedih pisan euy… 😦 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s