Hello School Girl [Chapter 7] ~ohnajla

24agst3

ohnajla || romance, schoollife || Teen || Chaptered ||

Min Yoonji aka Agust D aka Suga BTS

BTS members

Oh Sena (OC)

other cameo

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5 || Chapter 6 || Chapter 7

**

Dewi Fortuna seakan tidak mau berpihak pada Agust D aka Yoonji.

Di saat dia sudah mendapat spot terbaik untuk menulis lirik dengan tenang … eh … curut lain datang. Kim Seokjin. Si idol sekolah yang menjadi trainee itu tiba-tiba saja lewat di depannya. Tampan sih, tapi untuk apa dia memuji seorang pria?

Yoonji langsung menutup bukunya saat Seokjin mendekat dengan senyum sok cool.

“Sedang apa di sini?”

Anda juga sedang apa di sini ah. Ganggu. Yoonji pun menyelipkan rambutnya di belakang daun telinga, lalu memberikan senyum paling manis yang ia punya. “Mencari udara segar. Kau?”

Tanpa perlu minta izin, Seokjin langsung duduk di sampingnya. “Aku baru saja pulang dari perusahaan.”

Ah … pasti trainee. “Oh. Malam juga.”

“Eum. Terkadang aku baru pulang pagi hari. Hah … menjadi trainee benar-benar melelahkan.”

Aku sudah pernah merasakan itu di usiamu, Nak. “Trainee di mana?”

“Hm … Big Hit.”

Yoonji langsung membelalak. What the f***! Big Hit?! Oh my Lord! Dia trainee di Big Hit?! Mampus.

Seokjin tersenyum. Bukan karena melihat ekspresi Yoonji, tapi karena dia memang ingin tersenyum saja. “Aku menolak casting jalan SM dan malah memilih Big Hit. Konyol ya? Padahal SM jauh lebih besar dari Big Hit.”

Ya, kenapa juga kau harus memilih Big Hit? Sial! Bagaimana kalau dia tahu penyamaranku? Kenapa aku bisa sampai tidak mengenali trainee sejenis dia?

“Tapi aku memang tidak berminat masuk ke SM. Teman-temanku yang trainee di sana selalu mencoba untuk pindah ke agensi lain. Meskipun besar, belum tentu menjadi trainee di sana akan menyenangkan. Lagi pula idolaku berada di bawah agensi Big Hit, jadi untuk apa aku jauh-jauh ke SM, ya ‘kan?”

Seokjin bercerita tanpa sekalipun disuruh. Itu memang sudah sifatnya, tidak bisa diganggu gugat lagi.

“Siapa idolamu itu?” tanya Yoonji hati-hati. Setahu dia, artis di bawah agensi Big Hit itu tidak banyak. Maklum, masih agensi baru. Dia saja menjadi artis keempat terbitan Big Hit. Artis pertama tentu saja Bang PD selaku CEO, lalu artis kedua ketiga debut sebagai duo yang mengatasnamakan Homme, lalu artis keempat adalah dia, Agust D.

“Agust D,” balas Seokjin dengan mata berbinar. “Aku suka sekali dengan hyung itu. Setiap konsernya di Seoul aku selalu datang. Dia keren sekali, serius. Apalagi sekarang dia lebih sering berada di Amerika. Dengar-dengar akan menggelar konser di Chicago. Kau pernah dengar namanya ‘kan?”

Tentu saja pernah, itu aku, Nak. Agust D itu aku. Yoonji mengangguk pelan. “Yang kutahu dia rapper.”

Eo! Dia rapper favoritku. Sayang sekali, selain di konser, aku tidak pernah bertemu dengannya….” Kepala Seokjin tertunduk dalam. Sedih. Sudah menjadi trainee, eh ternyata idolanya tidak pernah muncul di agensi. Mana dua tahun terakhir Agust D sudah sibuk di Amerika. Otomatis jatah bertemu mereka makin sedikit.

Yoonji menggaruk kepala belakangnya. Yah … kalau boleh jujur sih, sebenarnya dia kasihan pada anak ini. Menjadi trainee itu tidak mudah, apalagi tiap minggunya selalu ada seleksi-seleksi untuk menentukan siapa yang berhak lanjut pelatihan dan yang dianggap gugur. Dan anak ini, masuk ke agensi itu karena dia. Padahal dari berbagai segi, SM memang rajanya. Tapi Seokjin malah mati-matian masuk Big Hit dengan harapan bisa bertemu dengannya.

Salah Seokjin juga sih. Kenapa tidak masuk sejak dulu saja?

Ia pun menghela napas. Lalu menepuk punggung Seokjin pelan. “Mungkin memang belum saatnya.”

Seokjin tercenung untuk waktu yang cukup lama. Dia baru menoleh setelah Yoonji menarik kembali tangannya. Barusan … Yoonji menyemangatinya. My Lord! Ini pertama kalinya ada seorang gadis yang seperti ini padanya.

Sudah cantik, manis, baik pula.

Jantungnya berdebar tanpa alasan.

Yoonji sendiri malah sibuk dengan pikirannya sendiri. Tidak mengacuhkan tatapan penuh pujaan dari laki-laki di sampingnya.

Seokjin jatuh cinta….

Pada Yoonji….

Yang sudah memberinya kekuatan dengan ikhlas….

.

.

.

Yoonji kembali ke asrama wanita sepuluh menit sebelum pengabsenan dimulai. Gara-gara Seokjin, usahanya untuk keluar dari asrama malah sia-sia. Hari ini lirik yang sedang dia kerjakan macet di tengah jalan. Bukannya memikirkan lirik, yang ada dia justru memikirkan Seokjin.

Dia bukannya jatuh cinta pada Seokjin.

Yang dia pikirkan adalah kata-kata Seokjin tadi.

Soal dia yang sulit ditemui di Korea.

Iya juga sih. Orang Korea, ayah ibu Korea, lahir di Korea, makan nasi dari tanah Korea, tapi batang hidung lebih sering muncul di Amerika. Bukannya aneh?

Seolah-olah dia tidak mencintai negaranya sendiri.

Dan apa kabar fansnya dari Korea?

Apa mereka juga sedang mengeluh seperti Seokjin?

Sigh….

Dia menjadi tenar seperti sekarang jelas-jelas bukan karena fans Amerika. Tapi fans dari Korea.

Bayangkan saja, tidak mungkin namanya akan dikenal sampai Amerika kalau orang-orang Korea tidak peduli padanya.

Siapa yang akan memberitahu international fans soal dia kalau bukan fans dari negaranya sendiri?

Tch … dia sudah tega mencampakkan fans Korea dan malah bersenang-senang dengan fans Amerika yang bahkan tidak tahu apa-apa soal perjuangannya memulai karir sebagai Agust D.

Coba bayangkan saja.

Dia menggelar konser pertamanya di Amerika.

Konser kedua di Kanada.

Konser ketiga di Brazil.

Baru konser keempat yang digelar di Seoul.

Itu pun dia terpaksa karena setelah selesai konser dia akan mendapat jatah pulang kampung selama seminggu.

Fanmeeting banyak dilakukan di Washington DC. Fansign lebih sering digelar di Mexico.

Begitu sering dia mencampakkan negaranya sendiri.

Dan baru hari ini dia menyadari itu dari seorang fansnya, yang bahkan menjadi trainee di Big Hit.

Bahkan yang trainee di agensi yang sama saja sulitnya minta ampun untuk bertemu.

Apalagi yang bukan trainee.

Tahu-tahu kakinya sudah sampai di depan pintu kamar asramanya. Dia mengambil ponsel dari saku, melihat jam.

Tersisa tiga menit lagi.

Ia memutuskan untuk berdiri di sana sampai pengabsenan dimulai. Menyandarkan punggung pada dinding, kembali merutuki kebodohannya sendiri.

Sena pun keluar tak lama kemudian. Hampir saja dia kesal pada Yoonji karena tidak segera kembali. Eh, tahu-tahu dia melihat Yoonji sudah ada di depan kamar. Dia pun berdehem, sontak membuat Yoonji membuka mata.

“Dari mana saja kau?” tanya Sena sok cuek padahal sebenarnya peduli.

Yoonji kembali memejamkan mata. “Bukan urusanmu.”

Diam-diam Sena mencibir gadis itu. Ugh, sok sekali jawabannya.

Ibu asrama pun berkeliling sambil membawa absen. Yang diabsen bukan hanya kehadiran saja, tapi lain-lain juga. Selalu menyempatkan diri masuk kamar para siswi untuk mengecek kalau tidak ada sesuatu yang aneh yang disembunyikan di sana. Menjelang pukul satu, jam malam pun diberlakukan.

Besok masih hari jum’at tapi Yoonji sama sekali belum berminat untuk segera tidur. Sepertinya dia tidak kapok dengan hukuman di ruang detensi pagi tadi. Kekuatan tidurnya itu tidak kira-kira. Kalau dia mau dia bisa tidur seharian penuh. Tapi sekarang, bukannya segera tidur, dia justru sibuk sendiri melihat ponselnya.

Akun Facebook yang sudah lama dia abaikan, kini dia buka lagi setelah dua tahun. Matanya langsung melebar. Notifnya penuh, sangat penuh sekali. Sampai-sampai Facebook hanya bisa menampung angka 99+ di atas ikon bergambar orang, awan dialog dan globe.

Tsk, pasti semua ini dari fans-nya.

Memang siapa lagi?

Kuota pertemanannya sudah penuh. Sudah tidak bisa menambah teman lagi. Dia menolak semua permintaan, tapi tidak sanggup. Bukan karena dia tiba-tiba emosional, tapi permintaan pertemanan terlalu banyak. Jarinya tak sanggup.

Notifikasi hanya berisi tentang orang-orang yang menandai dia dalam postingan mereka. Postingan-postingan yang tidak penting sebenarnya. Kebanyakan postingan itu adalah foto dirinya sendiri aka Agust D. Hm … bikin penuh kronologinya saja.

Yang mengiriminya pesan jauh lebih banyak. Seperti, “hai” “oppa” “saranghae” “kapan comeback?” “kau tidak tampil di MAMA?” “Oppa, aku rindu padamu” “Oppa ayo menikah” “Oppa, aku ulang tahun hari ini” dan sebagainya.

Dia hanya bisa menggeleng pelan.

“Kalian ini tidak punya pekerjaan lain apa?” gumamnya.

Tepat saat itu juga Sena keluar dari kamar mandi dengan bathrobe berwarna putih. Rambutnya basah, wajahnya sudah bersih dari make up. Yoonji terpana sebentar sebelum akhirnya mengalihkan pandangan lagi.

Apa dia hanya memakai dalaman saja di dalam bathrobe itu?

Kepalanya menggeleng cepat. Enyahkan pikiran mesummu, Agust D. Sekarang kau adalah Min Yoonji. Seorang cewek SMA.

Sena meraih hairdryer-nya dari meja, lalu membawanya ke ranjang dan memakainya di sana. Sambil mengeringkan rambutnya, dia memandang Yoonji yang tengah berusaha kembali fokus pada ponsel.

“Hei cabe, kenapa jam segini belum tidur?”

Yoonji pun reflek menoleh. Belum lima detik sudah membuang pandangan lagi. “Kau sendiri kenapa juga belum tidur?”

“Aku yang tanya duluan. Jawab dulu baru kujawab.”

“Bukan urusanmu.”

“Ya sudah, bukan urusanmu juga ‘kan?”

Yoonji menggaruk rambutnya. Hah … sepertinya besok dia harus mencuci wig ini. Bikin gatal.

“Kalau kau sampai terlambat bangun lagi seperti tadi pagi, itu bukan urusanku ya?”

Yoonji memutar bola mata bosan. “Kau pasti sengaja tidak membangunkanku ‘kan?”

Sena menyeringai. “Bukannya sudah kubilang kalau aku benci padamu?”

Babi ini. “Tunggu saja pembalasanku nanti.”

“Haha, memangnya kau bisa ap—AAAA!!!!! KYAAA!! TOLONG!!”

Reflek Yoonji menoleh. Matanya langsung melebar saat dilihatnya bahwa rambut Sena masuk ke dalam lubang hairdryer. Ia pun segera turun dari ranjang tapi … langsung berhenti saat melihat garis batas.

Sena sudah kalap dengan rambutnya yang semakin banyak masuk ke dalam lubang hairdryer. “AAA!! AA!! EOMMA!! EOMMA!! AAA!! TOLONG AKU!! YAA! TOLONG AKU!!”

Tapi Yoonji hanya berdiri di tempat.

“KENAPA KAU HANYA DIAM SAJA BODOH?!”

Yoonji mengarahkan telunjuknya ke bawah. “Siapa yang suruh buat garis seperti ini?”

“MASA BODOH! CEPATLAH BANTU AKU!! KEPALAKU SAKIT!!! HUWAAA!!”

“Bilang ‘tolong aku, Min Yoonji’ baru aku akan membantumu.”

“AA PPALI!!”

Yoonji malah melipat kedua lengannya dengan angkuh. “Bilang dulu atau aku akan tidur sekarang juga.”

Sena pun menggosok kedua telapak tangannya. “Min Yoonji tolong aku…. Kumohon tolong—AAAA!!!”

Yoonji tersenyum menang, lalu melangkah melewati garis itu. Dia langsung mencabut kabel, yang otomatis membuat hairdryer itu berhenti bekerja. Tapi bukan berarti Sena akan berhenti berteriak.

“Aaaa!! Sakit!! Rambutku … hiks.”

Yoonji pergi ke meja belajarnya. Diambilnya sebuah gunting dari laci lalu membawanya ke tempat tidur Sena. Dia duduk di hadapan gadis itu sambil mengangkat gunting itu. Sena langsung mendelik horor.

Andwae!! Aku tidak mau dipotong!!”

Seperti anak kecil yang tidak mau dicukur, Sena mengambil gunting itu lalu dilemparnya ke atas tempat tidur Yoonji.

“Lalu harus diapakan kalau tidak dipotong?”

“Apa saja asal tidak dipotong!”

“Oke, ditarik.”

ANDWAE!! Sakit!!”

Yoonji menghela napas. Sebenarnya anak ini maunya apa sih?

“Ya sudah, kalau begitu, selamat malam.”

“Aaaa~ tunggu! Kau harus bantu aku.”

Yoonji terduduk kembali di tempat tidur Sena. Ya ampun, sekarang gadis itu makin tidak ada bedanya dengan anak kecil. Ternyata … Sena tidak sesombong kelihatannya.

“Dipotong, atau ditarik. Pilih salah satu.”

Sena memajukan bibirnya yang padat berwarna merah efek menangis. “Tidak ada yang lain?”

Yoonji menggeleng tegas. “Kalau tidak, aku tidur.”

“Ah jangan~~”

Yoonji menatapnya lelah. “Jadi, pilih yang mana? Cepat pilih atau kutinggal tidur sekarang juga.”

“Ya sudah … dipotong saja. Eh tapi! Potong yang benar. Jangan sampai membuat rambutku jadi tidak sama, ya ya?”

Sudah terlalu lelah, tanpa perlu membalasnya lagi Yoonji pun meraih kembali guntingnya lantas memotong rambut Sena hanya dalam waktu kurang dari semenit.

Tentu saja, dia itu seorang professional.

Tapi bohong.

Buktinya, rambut Sena sekarang benar-benar tidak sama.

“Itu masih lebih baik daripada kugunduli kepalamu,” celetuk Yoonji sebelum Sena berkicau sambil mengeluarkan rambut Sena yang tersangkut di mesin itu. Rambut Sena tebal, pantas yang masuk banyak. Hm… bisa dipakai santet ini.

Sena sendiri menyisir rambutnya dengan tangan. Sedih sih melihat rambutnya yang pendek sebelah. Tapi ya sudahlah, daripada dia harus terjebak dengan mesin itu apalagi digunduli seperti kata Yoonji.

Yoonji pun pergi ke meja belajar Sena untuk menyimpan hairdryer dan rambut gadis itu di sana. “Benda-bendamu kutaruh di sini.” Setelah itu dia kembali ke tempat tidurnya. Berbaring. Ternyata mengurusi gadis ABG yang rambutnya masuk ke hairdryer menyusahkan juga. Berasa sedang mengurusi anak perempuan. Padahal menikah saja belum.

Sena diam-diam memandang gadis itu. Dengan malu-malu ia pun bilang.

“Terima kasih.”

“Balas terima kasihmu dengan jadi alarmku besok,” jawab Yoonji sebelum memasang penutup mata dan mulai tidur.

Sena menggaruk rambutnya yang tidak gatal. “Baiklah.”

TBC

Advertisements

22 responses to “Hello School Girl [Chapter 7] ~ohnajla

  1. Wkwkwk.. Sena calm dikit plis. Kamu cewe Sen !! 😂😂😂
    Yoongi kapan suka sama sena? Uuh ga sabar nunggu nya.
    Ditunggu next chapt nya kak. Fighting !!!

  2. haha dipake buat santet?? 😂😂 si sena ada ada aja lgi rambut segala nyangkut di hairdryer 😂😂 next thor 😁😁

  3. Seokjin ngebuka hati agus :’) terhura hiks
    sena ada ada aja,tapi yoonji nyebelin juga disaat darurat kyk gitu mlah inget sama garis batasan next ya

  4. Pingback: Hello School Girl [Chapter 8] ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

  5. Pingback: Hello School Girl [Chapter 9] ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

  6. Pingback: Hello School Girl [Chapter 10] ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

  7. Pingback: Hello School Girl [Chapter 11] ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

  8. Pingback: Hello School Girl [Chapter 12] ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

  9. Pingback: Helo School Girl [Chapter 13] ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

  10. Pingback: Hello School Girl [Chapter 14] ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

  11. Pingback: Hello School Girl [Chapter 15] ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

  12. kasian yg mau biki lagu keganggu mulu itu lagi kebetulan banget seokjin trainee bighit nahloh :v itu lagi sena pake acara rambut masuk hairdryer ><

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s