I Married To My Enemy [X] #END -by ByeonieB

imarriedtomyenemy-2

I Married To My Enemy

ByeonieB©2017

 

“In the end, My Enemy is My Love.”

 

Main Cast:: Baekhyun of EXO as Byun Baekhyun, OC/You/Readers as Han Minjoo || Additional Cast:: LuHan (Singer) as Luhan, Han Hyojoo (Actress) as Han Hyojoo, Chanyeol of EXO as Park Chanyeol, Sehun of EXO as Oh Sehun, Lee Yubi (Actress) as Lee Yubi, and many more || Genre:: Marriage Life, Romance, A Slight of Comedy, Drama || Length:: Chapter || Rate:: PG-17+ || Before:: [Chapter IX] || Poster by Sfxo @ Poster Channel

❤️ 💛 💚 💙 💜❤️ 💛 💚 💙 💜

Final Chapter

❤️ 💛 💚 💙 💜❤️ 💛 💚 💙 💜

H A P P Y   R E A D I N G

 

Entah kenapa Chanyeol bisa ada disini. Tempatnya gelap, namun ada sebuah jalan setapak yang diimbuhi lilin kecil di pinggirnya dan itu menuju pada sebuah pintu yang begitu bercahaya. Sangat terang, sampai rasanya itu menarik Chanyeol untuk mengunjunginya.

Chanyeol tentu saja tertarik dengan pintu itu, karena dia tidak tahu apa yang terjadi dengannya dan juga kenapa dia ada disini. Satu hal yang terakhir dia ingat adalah dia menghadang pistol yang hendak menembus tubuh gadisnya dan tiba-tiba saja dia sudah ada di tempat ini.

Ah, dia baru sadar. Apakah ini akhirnya? Pintu itu adalah pintu menuju dunia selanjutnya?

Awalnya Chanyeol terdiam, memaku menatap pintu itu dengan segala pemikiran di otaknya. Mempertimbangkan banyak hal jika dia memutuskan harus kesana. Tapi, entah apa yang merasuki Chanyeol, pria itu memutuskan untuk berjalan menuju pintu tersebut. Ada beban di setiap pijakannya, tapi mau bagaimana lagi? Ini akhir dari kehidupan Chanyeol dan dia tidak bisa memutuskan untuk tidak menerimanya.

“Kumohon..”

Langkah Chanyeol terhenti. Mendengar suara isakan dari seseorang yang paling punya pengaruh besar di hatinya.

“Kembalilah. Kau tidak boleh tinggalkan aku seperti ini..”

Ini suara Hyojoo. Chanyeol sangat mengetahui itu dengan jelas baik otak dan hatinya. Suara itu benar-benar terdengar hancur dan menyedihkan di satu waktu, hingga membuat Chanyeol menengok ke arah suara itu.

~~~

Cahaya yang sama muncul tepat setelah Chanyeol membuka matanya. Chanyeol pikir ia salah ambil jalan—maksudnya pintu bercahaya itu—namun tepat sesaat segalanya tampak jelas di matanya, dia tahu bahwa dia tidak salah ambil jalan.

Chanyeol mendengar suara isak tangis itu. Tepat di sebelahnya, di tangannya. Dan juga tepat di hatinya.

“Kumohon, Chanyeol-ah..”

Gadis itu tidak menyadari bahwa Chanyeol telah sadar dari tidur panjangnya dan tetap terisak di sana. Memanggilnya.

“..kau tidak boleh meninggalkanku seperti ini. Kau pernah janji padaku untuk tidak akan pernah meninggalkanku..”

Chanyeol tersenyum. Perasaannya begitu bahagia, melihat Hyojoo bertahan di sampingnya.

Ternyata suara itu benar-benar miliknya.

Masih dengan senyuman itu, Chanyeol pun berusaha untuk memanggil Hyojoo. Bukan dengan suaranya, tapi dengan sentuhan di tangannya.

Ia menggenggam tangan Hyojoo, membalas eratan tangannya. Yang langsung direspon Hyojoo begitu terkesima sambil tak percaya. Meskipun dia merasa tak percaya, Hyojoo tetap mendongakkan kepalanya dan menatap mata Chanyeol.

“Aku merindukanmu..” Suaranya begitu serak, tapi memang itulah yang ia ingin ucapkan. “Terima kasih karena telah memanggilku..”

Hyojoo pun tidak bisa melakukan apa-apa selain menangis sambil bangkit, lalu memeluk Chanyeol-nya. Dalam hatinya dia berkata; terima kasih, Tuhan. Terima kasih karena telah mengembalikannya padaku.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Srek.

Baekhyun menoleh pada suara pintu itu dan setelah melihat wajah yang memasuki kamarnya, dia tersenyum bahagia. Kelewat bahagia.

“Minjoo-yaa!!”

Minjoo menautkan keningnya tepat setelah ia menutup pintu kamar Baekhyun. Ayolah, dia itu Byun Baekhyun. Yang menyebalkan dan sok-dingin itu. Sangat aneh rasanya mendengar pria itu berteriak seperti bocah cilik padanya, “Ya, kenapa dengan suaranya? Kau seperti anak kecil, tahu!?”

Baekhyun hanya cemberut mendengarnya, kecewa dengan penuturan Minjoo. Apa salahnya dengan suara yang seperti itu? Baekhyun kan hanya mencoba memanggilnya dengan penuh rasa sayang!

“Apa itu tidak terlalu kejam?” Tepat setelah Minjoo duduk di sampingnya, Baekhyun menatap gadis itu kesal. “Aku kan melakukan itu karena aku menyayangimu!”

Minjoo mendesah pelan sambil menatap Baekhyun aneh, “Tetapi kau tampak menjijikan dengan suara itu, Byun Baekhyun.”

Jelas saja pria itu semakin kecewa dengan penuturan katanya. Baekhyun mendengus kesal, lalu melirik Minjoo dengan sipitan matanya.

“Wah, Han Minjoo.. kau memang benar-benar terlahir dengan mulut seperti itu ya?”

Minjoo mengangkat bahunya acuh, seperti berkata: aku itu Han Minjoo. Kau tak ingat?; Dan itu membuat Baekhyun semakin tak percaya dengan dirinya yang mencintai Minjoo. Hatinya tidak salah kan?

Tentu saja, tidak.

“Ck. Mendekatlah.”

Gesture tangannya pria itu buat seperti sedang menarik-nariknya. Minjoo tentu langsung menaikan alisnya mendengar dan melihat itu.

“Untuk apa?” Minjoo menolehkan kepalanya pada nakas meja di samping ranjang Baekhyun, menaruh barang bawaannya. Kemudian dia menatap Baekhyun lagi, “Bukankah kau marah karena kata-kataku tadi?”

Baekhyun mendesis kesal, sumpah ya mulut Han Minjoo itu harus sekali-kali di plester, “Aku ingin menyapa anakku. Kenapa kau banyak bertanya sekali sih!?” Dan itu membuat Baekhyun terpaksa menarik Minjoo cukup kencang. Tidak membuat Minjoo terbentur, karena Baekhyun menarik gadis tu pada pelukannya. Menaruh punggungnya pada dada Minjoo dan menaruh tangannya pada perut Minjoo. Back hugging.

“Tidak boleh? Ah, kalau yang ini harus boleh.” Kemudian Minjoo merasakan perutnya sangat hangat, kelewat hangat karena tangan Baekhyun mengusapnya disana. “Dia juga anakku soalnya.”

Minjoo seperti tersedak oleh jantungnya karena ia ingin muntah sekarang. Bukan, bukan karena perutnya mual atau apapun itu. Ini karena pria menyebalkan ini, yang berhasil mencuri hatinya seumur hidup gadis itu. Demi Tuhan, ini benar-benar manis dan membuat Minjoo menggila di tempatnya.

“Apa kabarmu, anakku? Rasanya sudah lama ya aku tidak menyapamu. Kau baik-baik saja disana, bukan?” Kalau Minjoo bisa berteriak, Minjoo ingin melakukannya dan teriak sekencang-kencangnya. “Kau harus tumbuh sehat ya di dalam sana. Harus makan banyak dari nutrisi ibu-mu.”

“Ayah benar-benar tak sabar untuk bisa melihatmu, menggenggam tanganmu, dan bermain denganmu.”

Rasanya benar-benar gila, ini membuat Minjoo benar-benar ingin terbang dari tempat ini ke kayangan dimana para dewi tinggal dengan bahagia. Ini benar-benar membuatnya bahagia, hatinya benar-benar hangat dan impiannya yang sekarang muncul kembali setelah perasaannya resmi berbalas tampak begitu benderang di otaknya. Impiannya yang itu, yang Minjoo membayangkan dirinya dan Baekhyun berada di sebuah taman dengan anaknya yang bermain. Itu benar-benar tampak jelas di otaknya. Yang memangnya harus Minjoo rasakan saat pertama kali mengetahui bahwa dirinya tengah mengandung anak Baekhyun.

“Kau tidak boleh membuat ibu-mu susah, hm? Kalau kau tidak mau makan, jangan membuat ibu-mu harus mengeluarkan makanannya. Kau ingat dengan janjiku, kan? Ah, sepertinya kau ingat karena ibu-mu belum muntah-muntah lagi beberapa waktu ini.”

Saat hatinya tengah terbang seperti itu, tiba-tiba saja Minjoo seperti kembali ditarik ke realitanya. Maksudnya perasaan itu masih kentara—hangat dan manis—hanya saja ada sesuatu yang mengganjal dari kata-kata itu. Ada sesuatu yang Minjoo tidak ketahui dari kata-kata itu.

“Janji apa?” Minjoo menolehkan kepalanya dan dia langsung menghadap wajah Baekhyun yang satu sentimeter dari hidungnya.

“Kau membuat janji apa dengannya?”

Kepalanya masih sengaja ia rundukkan melalui leher Minjoo untuk menatap perutnya, “Janji untuk tidak menyusahkanmu saat dia berada di dalam sana.”

Minjoo mengernyitkan keningnya, “Kapan kau membuat janji itu?” Minjoo masih menatap Baekhyun yang tetap mengelus perutnya—masih memberikannya perasaan gila itu.

“Seingatku ini kali pertamanya kau menyapanya?”

“Tidak ini kedua kalinya.” Baekhyun menjawabnya begitu mudah, seperti ini bukanlah masalah yang besar. Memang harusnya tidak, hanya saja entah kenapa Minjoo merasa bersalah untuk mendengarnya. “Yang pertama kalinya saat hujan petir itu. Saat kau merenguh dalam tidurmu dan aku memegang tanganmu. Aku menyapanya.”

Minjoo masih tidak bisa mengambil jawaban itu sebagai jawaban akhirnya. Dia pun melepaskan tangan Baekhyun dari perutnya dan membuat Baekhyun menatapnya.

“Kenapa kau tak bilang? Maksudku.. kenapa kau tak membangunkanku pada malam itu?”

Baekhyun menatap Minjoo lurus-lurus, ada pandangannya yang membuat perasaan bersalah itu semakin kentara di hati Minjoo.

“Kau pikir aku tega membangunkanmu di saat kau tidur? Lagi, kau kan sedang marah padaku saat itu.” Baekhyun benar-benar mengatakannya begitu tulus dan tepat mengenai hati Minjoo. Apalagi kalimat selanjutnya.

“Aku ingin menghargai dan menjagamu. Kau tahu, Minjoo-ya, saat pertama kali aku tahu kau hamil, aku benar-benar bahagia sampai rasanya aku terbang ke langit ke-tujuh. Aku ingin memelukmu, mengucapkan terima kasih padamu tapi.. malah kesalahpahaman itu yang terjadi.”

Hatinya memang terbang ke atas langit, Minjoo tahu itu. Tapi, saat terbang itu hatinya membawa segudang beban bersamanya hingga Minjoo merasa pundaknya sangat berat saat mendengar ucapan Baekhyun.

“Aku ingin menyapa anakku, tapi aku tak mau membuatmu tak nyaman hanya karena untuk memenuhi keinginanku. Makanya, hanya saat malam itu, aku diberi kesempatan untuk menyapa anakku.”

Minjoo baru sadar bahwa dirinya pemeran antagonis dalam cerita cintanya dengan Baekhyun. Dia yang menyakiti Baekhyun, dia yang membuat Baekhyun terluka. Hanya karena pikirannya yang bodoh, membuat kesalahpahaman itu berdasarkan dengan basis matanya saja, dia mampu membuat Baekhyun terluka sedalam itu. Minjoo sangat bisa merasakannya, bahkan dirinya membayangkan bagaimana besar keinginannya Baekhyun untuk memeluknya saat dia tahu dirinya sedang mengandung anaknya. Bagaimana kuat keinginannya untuk menyapa anaknya sendiri, tapi Minjoo malah membuatnya tidak bisa melakukan itu.

Minjoo ingin menangis rasanya dan dia menatap Baekhyun sangat bersalah.

“Ya..” Minjoo merundukan pandangannya, rasanya dia tak mampu menatap Baekhyun. “..aku ini benar-benar jahat, hm? Membuatmu merasakan seperti itu.”

Tiba-tiba saja Minjoo mendongakan kepalanya dan menatap Baekhyun. Itu membuat Baekhyun menatapnya kaget, karena air matanya tiba-tiba tergenang di pelupuk matanya.

“Aku ini sangat jahat, aku bahkan bilang padamu untuk tidak perlu mengurus diriku dan anakmu. Aku bahkan pernah punya niatan untuk memisahkanmu dengan anakmu. Bukankah aku sangat jahat, Baekhyun-ah?” Dan genangan air mata itu berubah aliran sungai di matanya. Membuat Baekhyun langsung kaget melihatnya.

“Ya, Minjoo-ya, aku tidak—“

“Kau harusnya menghukumku.” Minjoo menatap Baekhyun lurus-lurus, penuh ketegasan dan keseriusan. “Kau harusnya menghukumku karena aku telah berniat memisahkanmu dengan anakmu sendiri, Baekhyun-ah”

Baekhyun tahu bahwa Minjoo mengatakan itu karena perasaan bersalahnya dan Baekhyun menghargai itu. Maksudnya, dia senang karena Minjoo juga mencoba untuk menghargai perasaannya hanya saja ini terasa salah untuknya mendengar ucapan Minjoo.

Baekhyun pun menghembuskan nafasnya perlahan sambil mengangkat tangannya pada wajah gadis-nya.

“Apa kau pikir aku tega membiarkanmu mendapatkan hukumannya?”

Jempolnya terbuka dan perlahan menghapus air mata itu dari sisi wajah Minjoo.

“Kalau kau mendapat hukumannya, maka aku juga akan mendapatkan hukumannya. Kau tidak lupa bukan kalau aku juga akan terluka kalau kau merasa terluka?”

Meski tangan Baekhyun hangat dan perkataannya sangat jelas terdengar tulus dari pria itu, tetap saja itu belum bisa membuat Minjoo melupakan kesalahannya.

“Lalu aku harus apa untuk menebus kesalahanku?”

Baekhyun melihat Minioo dengan pandangan aneh, “Bukankah kau sudah tahu?” Lalu dia menarik Minjoo pada pelukannya lagi. Sama seperti sebelumnya, tangan pada perutnya.

“Tetap di sampingku dan percaya bahwa aku hanya mencintaimu.” Mulutnya tepat pada telinga Minjoo dan tentu saja Minjoo mendengarnya begitu jelas, “Itu terlalu jelas tanpa kau harus menanyakannya lagi, Minjoo-ya..”

Perasaannya tiba-tiba melambung kembali dan Minjoo tahu bahwa dia tengah terbang kembali ke atas awan seperti sebelumnya. Pria itu, Byun Baekhyun. Kenapa sih, dia punya kekuatan itu? Ingat bukan, yang bisa merubah perasaan orang dalam waktu beberapa detik.

Saat Minjoo bilang bahwa dirinya sangat jahat, dia benar-benar mengakuinya. Dengar saja penuturan katanya, itu semua tidak bohong. Dirinya memang benar pernah memiliki niatan untuk memisahkan Baekhyun dan anaknya, dia punya niatan untuk pergi jauh dari Baekhyun dan membawa anaknya. Harusnya Baekhyun menghukumnya bukan?

Tapi.. apa yang pria itu lakukan sekarang. Dia malah bilang bahwa dia tidak ingin menghukum Minjoo karena dia benci untuk melihat Minjoo terluka padahal Minjoo membuat luka yang sangat dalam dan Minjoo tahu itu. Ya Tuhan.. apa secinta itu kah Baekhyun pada Minjoo?

Karena perasaan hangat itu telah melambung tinggi kembali, air mata Minjoo pun mengering di wajahnya. Dia juga ikut membalas pelukan Baekhyun dengan menaruh tangannya pada tangan Baekhyun.

“Benar hanya itu saja?”

Baekhyun berdecak pelan lalu tiba-tiba saja dia mencium bibir Minjoo sekilas.

“Kau berisik.” Dan kemudian Baekhyun mendekap Minjoo semakin dalam, “Iya, itu saja. Han Minjoo.”

Minjoo pun tersenyum pelan mendengarnya. Kenapa sih Minjoo itu tidak bisa semakin pintar meski Baekhyun telah menyatakan perasaannya? Sebenarnya ini karena otaknya yang masih hilang di Bucheon atau karena memang warisannya seperti itu.

Tapi.. biarlah Minjoo tetap bodoh seperti ini. Dia membutuhkan kebodohannya untuk membuat Baekhyun melakukan hal-hal yang manis padanya.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Mata Hyojoo benar-benar tidak bisa terlepas sedikit pun dari Chanyeol. Menatap Chanyeol seakan pria itu bisa pergi kapan saja kalau Hyojoo sedetik melepas dirinya. Begitu juga tangannya, tidak pernah mau kalau tidak terikat dengan jemari Chanyeol. Sekilas saja Hyojoo melepasnya, maka tangan itu seperti tidak bisa diraih lagi.

“Ya..” Chanyeol masih terbaring lemas di atas kasurnya. Dokter bilang meskipun Chanyeol sudah sadar, tubuhnya belum pulih total akibat tembakan itu. “..kau harus istirahat, Hyojoo-ya.. jangan menungguku terus.”

Hyojoo menggeleng pelan seraya tersenyum pada Chanyeol, “Aku tidak mau melepaskanmu dari pandanganku lagi.” Tangan Chanyeol terasa semakin mengerat pada Hyojoo, membiarkan Chanyeol merasakan perasaannya. “Aku takut kalau sedetik bisa menjadi selamanya saat aku mencoba melepaskanmu. Aku benar-benar tidak mau kehilanganmu lagi, Chanyeol-ah.”

Chanyeol hanya bisa tersenyum lemas, meskipun perasaannya begitu kentara di tubuhnya. Hubungannya dan Hyojoo memang belum bisa dikatakan resmi kembali saat ini, mengingat perbatasan itu masih terasa jelas untuknya. Hanya saja, Chanyeol sekarang ingin berusaha. Menipiskan perbatasan itu, bisa membuat dirinya berdiri di sisi Hyojoo. Tidak lagi dengan Chanyeol yang pesimis akan tingginya jarak mereka.

Chanyeol akan berusaha untuk mendapatkan Hyojoo, mulai dari sekarang.

Srek.

Pintu geser kamarnya bergerak, menandakan seseorang telah memasuki ruang kamarnya. Serentak, Chanyeol dan Hyojoo pun langsung melirik ke arah pintu itu.

Yang nyatanya seorang pria paruh baya telah masuk ke sana. Wajahnya yang tegas itu membuat bulu kuduk mereka berdua naik dan mendingin.

“Selamat sore, Park Chanyeol.” Ucap Tuan Han, Ayahnya Hyojoo. Seseorang yang membuat perbatasan itu sangat kentara di antara mereka.

.

.

“Ayah mau apa kemari?” suaranya terdengar galak, sangat tidak pantas jika dikeluarkan untuk menyapa Ayahnya. “Ayah mau memisahkanku dengan Chanyeol lagi, iya!?”

“Ya.” Chanyeol menahan Hyojoo dari ranjangnya, tentu saja dia tahu bahwa apa yang Hyojoo lakukan sangat tidak pantas. “Berhenti. Kau tidak boleh berbicara seperti itu pada Ayahmu.”

Dia adalah Han Hyojoo. Gadis yang pernah mengalami trauma akan kehilangan kekasih hatinya. Tentu saja Hyojoo sangat tidak mempedulikan perkataan Chanyeol.

Hyojoo menepis tangannya dan masih menatap Ayahnya galak, “Bukankah sudah pernah kubilang bahwa aku tidak bisa memenuhi permintaan Ayah yang kali ini?! Berhenti melarangku untuk menyayangi Chanyeol karena itu semua percuma, Ayah. Aku hanya akan tetap mencintai Chanyeol!!”

Chanyeol ingin sekali menegur Hyojoo. Demi Tuhan, memangnya pantas kalian sebagai anak membentak orang tua seperti itu? Namun, belum juga kata-katanya keluar Chanyeol melihat bahwa Ayahnya merundukkan tubuhnya. Sembilan puluh derajat membungkuk ke arahnya.

“Pertama-tama aku ingin mengucapkan permintaan maafku. Aku tahu, aku salah. Tak seharusnya aku melarangmu dan membatasimu untuk berhubungan dengan anakku. Tak seharusnya aku melarang sebuah perasaan yang tak bisa ditandingi dengan materi apapun.”

Sumpah, Chanyeol merasa tubuhnya kaku dan dia tidak tahu berbuat apa-apa selain membulatkan matanya. Dia ingin berdiri, tapi saraf tubuhnya seperti tertahan begitu saja.

“Aku minta maaf atas semua kesalahanku selama ini, yang meremehkanmu karena perbedaan kelas kita. Aku benar-benar minta maaf.” Ayah Hyojoo bangkit lagi dan menatap Chanyeol sekilas.

“Yang kedua, aku ingin berterima kasih padamu.” Ayah Hyojoo telah membungkukan tubuhnya lagi, seperti sebelumnya namun yang kali ini sedikit lebih dalam. “Terima kasih karena telah menyelamatkan nyawa anakku. Aku benar-benar berterima kasih.”

Setelah mengatakan itu, Ayah Hyojoo membangkitkan tubuhnya dan menatap mereka berdua.

“Aku tidak tahu imbalan apa yang sesuai untuk menebus kesalahan dan terima kasihku padamu, hanya saja..” pria tua itu menatap mereka secara bergantian. Terlebih, saat ia menatap mata putrinya, dia menyematkan senyumannya disana.

“..jika aku ingin menjadikanmu menantuku.. apakah itu bisa menebus semuanya?”

Hati Hyojoo maupun Chanyeol seperti sedang melambung ke udara tinggi. Hyojoo tak kuasa lagi menahan bahagianya, jadi dia menutup mulutnya dan menatap Ayahnya dengan berkaca-kaca.

“Ayah..” air mata yang berasal dari kebahagiaan itu muncul dari sudut matanya, “Ayah.. serius mengatakan itu..? Ayah.. mengizinkanku untuk hidup bersama dengan Chanyeol?”

Ayah Hyojoo tersenyum lembut sambil mengangguk pelan, “Aku sudah tidak meragukan apa-apa lagi sekarang. Ayah sadar bahwa kebahagiaan anak-anak Ayah tidak hanya datang dari materi saja, melainkan datang dari seseorang yang membuat hatinya bisa berdetak bahagia. Seperti Baekhyun untuk Minjoo..” begitu pelan, Ayah Hyojoo menatap Chanyeol. Berbeda dari seperti sebelumnya, sekarang tatapan itu terlihat begitu yakin pada dirinya.

“..dan seperti Chanyeol untuk Hyojoo. Ayah yakin dengan itu sekarang.”

Hyojoo tak sanggup untuk menahan air mata kebahagiaan itu lagi. Dia menangis lalu berlari untuk memeluk Ayahnya sambil mengatakan ‘terima kasih, Ayah.’ ‘maafkan aku juga, Ayah’. Chanyeol juga ingin berlari pada Ayah Hyojoo, hanya saja kondisi tubuhnya tidak mengizinkannya untuk melakukannya. Dia hanya bisa tersenyum, menatap Ayah Hyojoo dengan ucapan ‘terima kasih’ di mulutnya. Ucapan yang begitu tulus dari seorang lelaki yang meminta restu pada Ayah dari anak yang dicintainya.

Semuanya terlihat begitu membahagiakan. Jika ditanya apakah mereka menyesal pernah merasakan pahitnya perjuangan untuk mendapatkan akhir seperti ini, jelas sekali mereka akan menjawab tidak. Meski itu sangat menyakitkan, ketahuilah bahwa di dunia ini tidak pernah ada yang bisa di dapatkan dengan melangkah satu langkah saja.

Kalian harus melangkah beribu-ribu langkah dahulu baru kalian bisa berpijak di taman yang indah ini.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

“Jadi Baekhyun sudah boleh pulang, dokter?”

Dokter bermarga Yoo itu mengangguk pelan sambil tersenyum pada pertanyaan Minjoo, “Lukanya sudah pulih semua, tinggal istirahat secukup pasien Byun saja.” Setelah itu melirik ke arah Baekhyun yang terduduk di atas ranjang. “Pasti kau ingin istirahat di rumah saja, benar?”

Minjoo pun tersenyum senang mendengarnya. Ayolah, masa iya dia tidak senang mengetahui pria-nya sudah sembuh total? Mengingat kejadian dimana ia melihat Baekhyun tertidur seperti tidak ingin membuka matanya lagi pun sudah cukup membuat Minjoo menderita. Dia bahkan mengategorikan hari itu sebagai hari terburuknya setelah hari melihat Baekhyun pergi enam tahun lalu.

“Tidak.”

Minjoo tersontak kaget mendengarnya sambil menolehkan kepalanya pada Baekhyun, meminta penjelasan. Minjoo pikir Baekhyun bilang seperti itu murni karena dia masih merasa sakit di tubuhnya, hanya saja..

“Aku masih ingin istirahat di rumah sakit.” Dia ikut menolehkan kepalanya pada Minjoo dan mengangkat dagunya menunjuk arahnya, “..supaya aku tetap bisa bermanja ria pada gadis ini.”

Demi Tuhan, Minjoo seperti ingin menjatuhkan rahangnya saat ini juga. Apa Baekhyun gila!? Minjoo tahu Baekhyun itu tipikal orang yang blak-blakan, dia tak akan peduli pada apapun dan hanya mengeluarkan pendapatnya, tapi apa perlu bercanda di saat seperti ini?!

Tanpa berpikir panjang, Minjoo pun menolehkan kepalanya pada dokter kembali sambil tertawa paksa. “Haha, suamiku memang suka bercanda seperti ini, dokter—“

“Aku serius, dokter.” Ya Tuhan, Minjoo seperti ingin menyumpal mulut Baekhyun dengan kaus kaki terbusuknya. “Aku ingin istirahat di rumah sakit saja, aku tidak mau pulang ke rumah dahulu. Aku bisa melakukan itu, bukan?”

Untung saja Dokter Yoo tidak terlalu serius membawa gurauan seperti itu, dia hanya terkekeh pelan dan berkata, “Terserah padamu saja, pasien Byun. Kalau kau merasa tubuhmu belum terlalu pulih, kau masih boleh tinggal di rumah sakit.”

Tapi kini Minjoo seperti ingin menyumpal mulut dokter Yoo dengan kaus kaki terbusuknya. Apa yang dia katakan seperti memancing buaya di tepi dengan darah berjarak sepuluh sentimeter darinya.

“Benarkah!?” Baekhyun tersenyum riang sambil menidurkan tubuhnya. “Ya sudah kalau begitu, aku masih ingin tinggal di rumah sakit.”

Dokter Yoo hanya tertawa pelan, sedangkan Minjoo sudah seperti kehilangan nafasnya. Untung saja dokter Yoo tidak mengatakan apa-apa lagi dan segera pamit untuk mengecek pasien yang lainnya. Memberikan Minjoo kesempatan untuk mengeluarkan amukannya.

“Kau gila, benar!?”

Minjoo telah menghampiri Baekhyun kembali sambil memukul Baekhyun sekali, “Otakmu itu rusak benar!?” Lalu memukul untuk yang kedua kalinya, “Ah, jadi benar kau belum pulih karena otakmu itu tidak waras, iya!?”

“Ya!!” Sumpah, sedari tadi ringisan Baekhyun selalu berhasil tertutupi oleh pukulan Minjoo. “Kau tega, huh!? Aku ini baru sembuh tapi kenapa kau memukulku!?”

“Ah..” Minjoo memukul Baekhyun lagi namun yang kali ini sedikit lebih keras, “Baru sembuh, iya!?”

“Aish!!”

Baekhyun pun tak tahan lagi lalu bangkit dan menatap Minjoo galak, “Salahku apa sebenarnya!?”

“Apa maksudnya ‘aku masih ingin tinggal di rumah sakit’!?”

“Eh!?” Baekhyun menaikkan satu alisnya, “Apa salahnya dengan masih ingin tinggal di rumah sakit? Aku pasien disini, jadi aku berhak mendapatkan pengobatanku sampai menurutku benar-benar pulih. Dokter Yoo pun tadi bilang begitu!”

“Ck, tapi tadi kau bilang alasannya supaya bisa bermanja ria denganku!?” Ucap Minjoo sambil tertawa di dalam hatinya. Kena kau, Byun Baekhyun.

Tapi, bukannya menerima kekalahan, Baekhyun malah bertingkah selayaknya dia memang masih menang.

“Benar. Itu juga alasannya, kenapa?” Baekhyun menatap Minjoo percaya diri sedangkan gadis itu benar-benar menghilangkan raut wajahnya. “Kalau aku punya alasan seperti itu memangnya kenapa?”

Minjoo pun benar-benar tak kuasa untuk menahan amarahnya dan menatap Baekhyun tak percaya. Wah, orang seperti Baekhyun itu benar-benar seribu satu di dunia ini.

“Untuk apa kau masih ingin tinggal di rumah sakit kalau alasannya ingin bermanja ria denganku!?” Minjoo menatap Baekhyun tegas, menghadap Baekhyun di seluruh tubuhnya.

“Kau pikir rumah sakit itu main-main!? Rumah sakit itu untuk merawat orang yang sakit, Baekhyun-ah! Kau tidak bisa sembarangan tinggal di rumah sakit hanya untuk alasan seperti itu! Banyak orang sakit di luar sana yang menderita karena tidak bisa masuk rumah sakit, sedangkan kau yang sudah sembuh seperti ini masih ingin memenuhi ruang kamarnya. Kau tidak punya hati apa!?”

Setiap lontaran amarah Minjoo itu diimbuhi dengan gerakan tubuhnya yang mengkoar-koar. Jelas saja, Minjoo marah sekali pada kelakuan Baekhyun. Minjoo tidak pernah berpikir bahwa kelakuan Baekhyun akan se-kanak-kanak ini, hanya karena ingin bermanja ria dengannya harus tetap tinggal di rumah sakit. Meski Minjoo mengakui dia juga senang dengan alasan Baekhyun yang seperti itu, tetap saja. Rumah sakit bukanlah tempat kalian untuk jatuh cinta, tapi untuk mengobati kalian yang sedang sakit. Bukan sakit ‘hati’, tapinya.

“Ck. Kenapa kau mesti semarah itu padaku? Apa aku salah jika aku ingin bermanja ria denganmu?” Baekhyun menatapnya dengan sorot kecewa dan Minjoo bisa merasakan itu, “Aku itu baru bisa mendapatkanmu benar-benar untuk selamanya di hidupku, Minjoo-ya. Aku baru bisa melakukan hal-hal yang selama ini ingin kulakukan padamu dan ingin kau lakukan padaku. Aku hanya ingin mengasihimu dan kau mengasihiku. Aku hanya ingin itu, apa aku salah membuat alasan seperti itu?”

Minjoo pun bergeming dan kini dirinya lah yang merasa bersalah. Harusnya dia juga bisa mengontrol emosi dirinya, lagi-lagi, tidak bisa dia bertindak dalam satu percakapan.

“Tidak selamanya kita harus mempedulikan orang, Minjoo-ya. Kita juga harus mempedulikan diri kita sebelum diri orang lain. Dan yang aku inginkan itu, bisa mengasihi dan dikasihi dirimu. Apa aku tidak boleh?”

Helaan nafas pun keluar dari mulut Minjoo setelah melihat Baekhyun yang benar-benar menatapnya dengan sorot kecewa. Benar perkataannya, mereka itu baru saja bisa hidup bersama setelah bertahun-tahun lamanya menginginkan itu semua. Minjoo, kau harus lebih peka dengan hal-hal seperti itu.

“Baiklah, aku salah. Tak seharusnya aku semarah itu padamu, tapi kau harus tetap pulang Baekhyun-ah..”

Minjoo bisa melihat Baekhyun seperti ingin mengeluh lagi namun Minjoo dengan segera menahan tangannya,

“Kau bilang kau ingin aku mengasihimu, benar? Kau ingin aku menyayangimu, benar?”

Seperti anjing terlucu di dunia, Baekhyun menganggukan kepalanya. Membuat Minjoo tak kuasa untuk menahan jiwa fangirlingnya pada pria itu di dalam hati.

“Aku memang bisa melakukan itu semua di rumah sakit, tapi…” Entah kenapa ide seperti ini muncul di kepala Minjoo. Ya mungkin karena Baekhyun sudah resmi jadi miliknya, dia jadi memiliki pikiran seperti ini. “..kalau di rumah sakit, aku tidak bisa mengasihi dan menyayangimu sepenuhnya, Baekhyun-ah.”

Baekhyun mengerutkan keningnya, “Maksudmu—“

“Se.pe.nuh.nya.” Minjoo tersenyum menyeringai dengan mata menatap Baekhyun penuh harapan. “Kau tak mengerti? All of me.

Baekhyun pun tersedak dan tak kuasa untuk tidak mengangakan mulutnya. Ya Tuhan, Han Minjoo. Kau benar-benar membuat Baekhyun gila.

“Ya. Jangan seperti itu.” Baekhyun menatap Minjoo setengah tertawa sambil menahan dirinya, “Kau ingin kejadian waktu pertama kali aku bangun terulang disini?”

Minjoo hanya terkekeh pelan mendengarnya, “Yang ingin mengulang itu dirimu, Baekhyun.” Lalu menatap Baekhyun lagi dengan menantang, “Lagi pula yang waktu itu kita hanya berciuman panas saja. Tidak ada apa-apa.”

Baekhyun pun tak kuasa untuk tertawa dan tiba-tiba saja dia berdiri dari ranjangnya.

“Baiklah, kita pulang sekarang. Panggil dokternya—ah biar aku saja!” Baekhyun berjalan menuju pintu keluar namun sebelumnya dia berbisik pelan pada telinga Minjoo.

“Kau sudah berjanji ya akan ‘mengasihiku sepenuhnya’. Jangan lari kemana-mana malam ini!”

Minjoo hanya terkekeh pelan mendengar itu. Sekarang, Minjoo tahu bagaimana menaklukan seorang Byun Baekhyun yang memiliki sifat seperti itu.

Ada pada dirinya sendiri, ternyata.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

Luhan hanya bisa terpaku, terdiam menatap pintu kamar di depannya dengan hati yang jatuh ke dasar. Mendengar semua hal yang harusnya dia tidak pernah dengar.

 

“Ck. Kenapa kau mesti semarah itu padaku? Apa aku salah jika aku ingin bermanja ria denganmu? Aku itu baru bisa mendapatkanmu benar-benar untuk selamanya di hidupku, Minjoo-ya. Aku baru bisa melakukan hal-hal yang selama ini ingin kulakukan padamu dan ingin kau lakukan padaku. Aku hanya ingin mengasihimu dan kau mengasihiku. Aku hanya ingin itu, apa aku salah membuat alasan seperti itu?”

“Kau bilang kau ingin aku mengasihimu, benar? Kau ingin aku menyayangimu, benar?”

“Lagi pula yang waktu itu kita hanya berciuman panas saja. Tidak ada apa-apa.”

 

Tangannya yang semula sudah menggapai kenop pintu pun ia tahan, tak sanggup untuk menekannya ke bawah. Tak sanggup untuk melihat semuanya benar-benar melalui matanya.

Luhan tahu, inilah saatnya dia menyerah dengan semuanya. Mengetahui bahwa Baekhyun dan Minjoo sudah sadar pada perasaannya masing-masing, harusnya Luhan sudah mulai menyerah untuk mempertahankan perasaannya dan Minjoo. Saatnya Luhan melepas Minjoo untuk selamanya tapi, entah kenapa, hatinya benar-benar masih berat menerima ini semua. Dia masih terus ingin menyayangi Minjoo, hatinya masih terus berusaha untuk mencoba menarik Minjoo padanya. Terlihat egois, tapi jika kalian di posisi Luhan pasti kalian ingin melakukan hal yang sama.

Dia pun menghembuskan nafasnya, menarik tangannya untuk tidak melakukan hal yang menurutnya terlampau egois, namun sepertinya Tuhan memang menginginkan Luhan untuk segera melepas Minjoo dari hatinya.

“Dokter kau dimana—“

Baekhyun terpaku melihat Luhan dan seketika senyumannya luntur dari bibirnya. Luhan sempat kehilangan nafasnya namun pada akhirnya dia pun memutuskan untuk mencoba tesenyum pada Baekhyun.

“Hai, Byun Baekhyun.”

.

.

Pijakan di bawah Luhan sudah seperti hal yang terindah untuknya detik ini. Maksudnya, Luhan benar-benar tidak melepaskan pandangannya dari pijakan itu. Tidak sedikit pun dia punya nyali untuk menatap Baekhyun yang duduk di sebelahnya.

Setelah bertemu dengan keadaan canggung seperti tadi, mau tak mau Luhan mengajak Baekhyun berbicara padanya. Mau tak mau juga, Luhan harus meluruskan segala hal yang berkaitan dengan dirinya, diri Baekhyun, dan diri Minjoo.

Sebenarnya Luhan ingin menolak setengah mati, kalian pikir saja memangnya mudah melepas perasaan cinta pada orang yang kalian cintai selama enam tahun hidup kalian? Itu benar-benar sulit, asal kalian tahu saja. Tapi.. Luhan sadar dia tak bisa menghindarinya lagi.

“Bagaimana keadaanmu?” Luhan pun mulai mengangkat kepalanya, menatap Baekhyun. “Sudah membaik?”

Baekhyun hanya menatap datar di hadapannya sambil mengangkat bahunya acuh, “Lumayan, hanya tinggal istirahat sedikit lagi saja.” Baekhyun pun pada akhirnya membuang malasnya untuk menatap Luhan, “Ada apa kau kemari?”

“Heol.” Luhan memutar bola matanya malas, “Apa kau tidak lihat bingkisan ini? Aku mau menjengukmu!” Tangan Luhan yang memegang bingkisan itu ia angkat ke depan mata Baekhyun. “Tidak kau lihat ketulusan hatiku?!”

Baekhyun hanya bisa mendengus kesal, “Kukira kau sedang mencoba merebut Minjoo dariku.”

Saat nama itu muncul dari mulutnya, baik Luhan maupun Baekhyun benar-benar merasakan udara di antara mereka mencekam. Seperti di sedot untuk menahan emosi mereka.

Ini memang saatnya.

“Selamat, Byun Baekhyun.” Luhan bisa menyadari bahwa Baekhyun tengah menyipitkan matanya, kebingungan, meski Luhan tak melihatnya langsung. “Selamat pada akhirnya.. kau yang menang.”

“Kau.. berhasil mendapatkan gadis itu.”

Baekhyun benar-benar terdiam seribu bahasa, dia tentu saja bingung dengan ‘dari mana’-nya Luhan mengetahui informasi ini.

“Kau.. tahu darimana?”

“Ck.” Luhan berdecak pelan, tatapannya masih enggan untuk Baekhyun. “Aku tahu ini semua dari lama, aku tahu memang pada akhirnya kau akan mendapatkan gadis itu karena..” Luhan menjeda perkataannya selama beberapa detik.

“..karena hanya dirimu yang gadis itu suka. Dari enam tahun yang lalu, dia memang sudah mencintaimu dan menyayangimu.”

Baekhyun tampak terkejut dari tempatnya dan itu membuat Luhan sedikit kesal. Dia terlihat seperti malaikat dan Luhan membenci perannya yang seperti itu.

“Aku tak tahu dia mulai menyukaimu dari kapan, yang jelas aku bisa tahu pasti bahwa dia sudah menyukaimu dari waktu yang cukup lama. Yang berarti dari sebelum enam tahun yang lalu.” Itu semua tak ayal membuat Luhan membuka memorinya bersama Minjoo. Tepatnya, saat pertama kali mereka bertemu dimana Minjoo meminta pertolongannya.

“Dari sebelum kalian selalu bertengkar, lebih tepatnya pada saat Minjoo menemuiku untuk pertama kalinya, aku tahu bahwa orang yang dia suka itu dirimu. Awalnya aku pikir kalian akan menyadari perasaan kalian masing-masing dalam kurun waktu yang cepat, namun nyatanya kalian sampai membutuhkan waktu enam tahun untuk menyadari itu semua.” Luhan pun menarik nafasnya, mencoba untuk menetralisir keadaan jantungnya. “Aku pernah memiliki niat untuk membantu kalian, mencoba untuk membuat kalian jujur pada perasaan kalian masing-masing. Hanya saja, saat aku terlalu sering bertemu dengannya karena dia selalu mengadu padaku saat kau menjahilinya, aku benar-benar terjatuh pada sosok Han Minjoo. Yang bertingkah manis padaku. Yang membuatku akhirnya memutuskan untuk mencoba merebut Minjoo darimu dan membiarkan urusan hati kalian diatur oleh waktu.” Pria itu terkekeh pelan dan melihat ke arah Baekhyun. Oh, Luhan bisa lihat jika Baekhyun sedikit menatapnya garang. “Meskipun aku terlihat jahat, tapi yang membuatku jatuh cinta pada Minjoo adalah kesalahanmu sendiri. Siapa suruh kau selalu menjahili Minjoo hingga dia pada akhirnya lari padaku untuk mengadu atas sikap kekanakanmu!”

Baekhyun menganga tak percaya, terlihat sekali kalau alisnya menunjukan bahwa ia marah. “Aku seperti itu juga karena aku ingin membuat Minjoo tampak menjijikan di matamu!”

Luhan menggeleng-geleng kepalanya dan kekehannya masih tersisa di bibirnya. Setelah beberapa detik lamanya, dia pun bergeming kembali. Sedang mengingat seluruh tingkah Minjoo padanya, yang manja, yang cerewet. Yang membelikannya es krim berjumlah lima buah dan memintanya untuk menjadi pria yang pura-pura disukainya. Gadis terunik yang pernah Luhan temui.

Ini semua berat untuknya, terlalu susah untuknya melepas semua kenangan dan perasaannya pada Minjoo itu. Dia sudah memiliki perasaan sedalam itu untuk Han Minjoo dan kali ini dia harus melepasnya.

“Tapi sekarang aku benar-benar akan melepasnya, Baekhyun-ah.”

Tapi, ada satu prinsip dalam hidupnya yang selalu ia pegang teguh dan membuatnya melepas seluruh beban itu.

Untuk tidak pernah memenangkan keegoisannya jika itu tidak membuat orang yang dikasihinya bahagia.

“Aku sudah melepasnya karena aku tahu yang dia cintai hanya dirimu.” Luhan pun tersenyum pelan dan menatap Baekhyun percaya lagi, “Selamat. Pada akhirnya kau bisa mendapatkannya benar-benar di hidupmu.”

Memang inilah saatnya. Saatnya untuk mengucapkan ‘Selamat tinggal, Han Minjoo.’

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

 Jika Baekhyun disebut takjub oleh keputusan Luhan, maka Baekhyun akan mengakuinya. Dia benar-benar kaget, sekaligus kagum pada Luhan. Maksudnya, ini adalah Luhan. Yang enam tahun lalu dan sampai sekarang punya perasaan pada Han Minjoo. Mungkin memang tidak sehebat dirinya yang sudah menyayangi Minjoo dari mereka berumur 5 tahun, hanya saja.. enam tahun bukan waktu yang sebentar untuk mempertahankan cinta. Belum lagi dirinya yang selalu mengancam Baekhyun akan merebut Minjoo darinya, tapi kini pria itu bilang padanya bahwa dia akan melepaskan Minjoo untuknya. Bukankah suatu keajaiban hal seperti itu bisa terjadi?

Suara derit pintu kamar mandi terdengar, memunculkan Minjoo dihadapannya. Mereka sekarang sudah di kamar mereka lagi, di kamar sesungguhnya dan bukan di rumah sakit—mengingat kejadian tadi siang. Ah, Minjoo juga sudah tidur kembali dengannya.

Tak kuasa Baekhyun pun menyematkan senyuman di bibirnya. Kalau kalian berpikir itu semua karena Minjoo sudah kembali tidur dengannya, kalian memang tidak sepenuhnya salah hanya saja.. ada alasan lain yang membuat Baekhyun tersenyum seperti sekarang.

“Kenapa kau tersenyum seperti itu?” Minjoo baru saja menyelesaikan rutinitasnya sebagai wanita karena sekarang sudah menunjukan waktu tidur mereka. Dia pun berjalan, melewati tempat tidurnya, menuju kaca riasnya lalu mengatur rambutnya selama beberapa detik. Setelah itu, dia barulah beranjak ke kasurnya dan baru menyadari bahwa Baekhyun masih menatapnya dengan senyuman itu.

“Kenapa?” Minjoo menarik selimut sampai menutupi batas perutnya. “Kenapa kau tersenyum? Sesenang itukah aku kembali tidur bersamamu!?”

Baekhyun hanya tetap tersenyum sambil menghapus jaraknya dengan Minjoo. Menyelipkan tangannya di antara pinggang Minjoo.

“Jujur padaku, Minjoo-ya..” Minjoo menatap aneh Baekhyun, merasa ada sesuatu yang buruk akan datang padanya.

“Kau.. tidak pernah menyukai Luhan, benar?” Minjoo tertohok dan Baekhyun seperti menang di tempatnya, “Kau itu hanya pura-pura menyukai Luhan supaya kau tak terlihat menyedihkan karena kau berpikir aku menyukai Hyojoo noona, benar!?” Baekhyun sedikit memajukan wajahnya, sekitar tiga sentimeter dari hidung Minjoo. “Aku ini cinta pertamamu, benar!?”

Baekhyun telah mengetahui semuanya, tentu saja dari siapa lagi kalau bukan dari Luhan saat pertemuan tadi siang. Ini benar-benar membuat Baekhyun seperti terbang dengan hatinya ke atas awan yang penuh perasaan bahagia, asal kalian tahu saja. Selama ini, Baekhyun selalu berpikir bahwa dirinya bukanlah yang pertama untuk Minjoo. Seperti kata-katanya waktu itu, melihat dan mengetahui perasaan Minjoo untuk Luhan—yang nyatanya hanya tipu muslihat—mampu membuatnya berpikir bahwa hanya dirinya lah yang menganggap hubungan mereka spesial. Bahwa perasaan diantara mereka lebih dari sekedar teman, Baekhyun pikir hanya dirinya yang menganggap seperti itu.

Tapi.. tadi siang Luhan menceritakan semuanya. Semua skenario dari pernyataan ‘Minjoo menyukai Luhan’. Astaga.. ini semua semakin membuat Baekhyun mengagumi Luhan. Bukankah Luhan luar biasa memiliki hati sekuat besi, bisa mengungkapkan ini semua padanya?!

Luhan, aku berhutang padamu.

Minjoo pun mendorong tubuh Baekhyun sedikit menjauh darinya, takut tertangkap meskipun sepertinya percuma. Jangan tanya gadis itu kenapa kalau Minjoo masih sedang mempertahankan cerita harga dirinya saat ini.

“T-tidak s-seperti itu!” Minjoo mencoba mengumpulkan nafas dan keberaniannya, “A-aku kan sudah p-pernah bilang bahwa a-aku menyukai L-luhan oppa! K-kau bukan yang pertama!”

Baekhyun hanya terkekeh pelan, sudah dibilang juga percuma Minjoo melakukan itu. Semuanya malah tampak semakin jelas untuk Baekhyun.

“Aigoo..” tak kuasa untuk menahan rasa bahagianya, Baekhyun pun menarik Minjoo kembali. Mengendus-enduskan hidungnya di sekitar pipi Minjoo, seperti memeluk boneka yang paling disukai di dunianya. “Kau telah menyayangiku dari lama rupanya. Aku pikir perasaan ini selalu bertepuk sebelah tangan dari dahulu, nyatanya tidak.” Baekhyun melonggarkan pelukannya dan menatap Minjoo sebentar.

“Han Minjoo menyayangiku juga ternyata..” ucapnya, menatap Minjoo begitu dalam di pupil matanya dan Baekhyun bisa lihat jelas bahwa hanya ada bayangannya di sana. Ah, ternyata sesenang itu bisa menjadi orang yang hanya ada di mata wanita yang kita cintai.

Minjoo pun terdiam, bingung apakah dia harus melanjutkan kebohongannya atau tidak, tapi ada satu hal yang dia bisa rasakan dari tatapan Baekhyun padanya saat ini. Perasaan bahagia pria itu.

“Kau…” Minjoo menelan salivanya susah payah, “..tahu darimana?”

Baekhyun terkekeh pelan dan dia membawa Minjoo ke pelukannya lagi. Mengeratkannya begitu hangat dan tak pernah ingin melepaskannya lagi.

“Kau tak perlu tahu dari mananya, yang jelas.. aku benar-benar bahagia saat ini.” Baekhyun benar-benar mengeluarkan semua perasaannya dan Minjoo bisa merasakan itu. “..terima kasih. Terima kasih karena kau juga menyukaiku dari waktu yang lama. Aku benar-benar berterima kasih.”

Semuanya sudah terlalu jelas, pelukan ini terlalu nyaman, dan Minjoo rasa percuma juga kalau dia masih tetap ingin mempertahankan gengsinya. Minjoo juga sama bahagianya seperti Baekhyun, jelas saja apalagi dia telah mengetahui lebih dahulu tentang perasaan Baekhyun padanya dibandingkan perasaannya pada Baekhyun. Dia pun menyerah, lalu mulai membalas pelukan Baekhyun sambil meredam wajahnya di dadanya.

“Iya, aku sudah menyayangimu dari dahulu. Kau puas!?” Pelukan Baekhyun memang selalu jadi candu untuknya. Terlalu hangat, terlalu harum, dan terlalu nyaman. “Aku bahkan sudah menyayangimu dari sejak pertama kita bertemu, Baekhyun-ah. Kau tak tahu itu?”

Perkataan itu tentu saja menyinggung Baekhyun. Dia melepas pelukannya—meski tak ingin—dan menatap Minjoo kembali, “Kenapa kau tak pernah bilang? Tentang perasaanmu, maksudku.”

“Kupikir kau menyadarinya, Baekhyun-ah. Sama seperti katamu waktu itu, kupikir dengan aku yang selalu datang dan bergantung padamu, kau menyadari bahwa yang kubutuhkan itu hanya dirimu.” Minjoo mendesis pelan sambil menatap Baekhyun dengan cemberut, “Nyatanya kau malah mengaku bahwa kau menyukai kakakku..”

“Aku sebenarnya selalu bingung dengan itu, kenapa kau selalu menyimpulkan bahwa aku itu menyukai kakakmu?” Baekhyun mengangkat dagunya sedikit, setengah menatap Minjoo dengan kerutan dahinya. Baekhyun serius dengan perkataannya, dia selalu bingung mengapa Minjoo punya pemikiran tentang dirinya dan kakak gadis itu. “Kapan aku pernah berkata seperti itu memangnya?”

“Ck.” Minjoo memutar bola matanya malas, dia pikir Baekhyun seperti sedang menjahilinya padahal sesungguhnya Baekhyun memang tidak menyadari itu. “Hyojoo noona itu seperti malaikat untukku. Cantik, pintar, dan yang paling kukagumi adalah kepribadiannya yang begitu lembut dan baik hati. Noona mampu membuat orang yang pertama kali bertemu dengannya akan langsung merasakan nyaman detik setelah noona menyebut namanya.” Suaranya sengaja ia buat menyerupai Baekhyun sambil menatap Baekhyun kesal. “Tentu saja aku menyukai noona. Mana ada lelaki yang tidak menyukainya?’ Kau tak ingat pernah berkata seperti itu padaku!?”

Baekhyun pun menatap Minjoo tak percaya sambil tak kuasa untuk menahan tawanya. Demi Tuhan, jika kalian melihat bagaimana kesalnya Minjoo melontarkan setiap katanya, kalian juga pasti akan ikut tertawa. Namun ada sedikit perbedaan kasusnya untuk Baekhyun, dia menambahkan kata ‘gemas’ untuk kasusnya.

“Ah, jadi karena itu..” Baekhyun ingat dengan kata-katanya, tentu saja. Itu saat mereka menonton Hyojoo yang menjadi penari pembuka di acara pentas olahraga nasional. Tawanya semakin tak tertahan mengingat kata-kata itu begitu detil Minjoo ucapkan. “Hanya karena itu kau beranggapan bahwa aku menyukai noona!?”

“Ya!!” Minjoo menepuk dada Baekhyun pelan, “Waktu itu kau mengatakannya dengan binar di matamu, seakan-akan kau benar-benar menyukai eonnie sedalam itu!!”

“Ckck.. aku memang menyukai noona.” Baekhyun tersenyum tipis sambil bertingkah seperti sedang memikirkan Hyojoo di otaknya. Baekhyun si evil itu telah muncul kembali. “Ya kau pikir saja, siapa sih yang tidak menyukai wanita secantik dan sepintar noona?”

Minjoo tertohok di tempatnya, sumpah dia benar-benar ingin melilit Baekhyun dengan pembungkus kimbap lalu membuangnya ke tempat sampah. Minjoo hampir saja bersiap untuk pergi dari kasurnya sebelum dia mendengarkan sesuatu yang membuatnya memerahkan wajahnya.

“Tapi.. wanita yang kucintai ‘kan hanya dirimu.” Baekhyun tersenyum teduh sambil menarik Minjoo kembali padanya, menyatukan hampir ujung hidung mereka. “Perasaan suka dan perasaan cinta itu berbeda Minjoo-ya. Kalau suka itu hanya berdasarkan mata saja, sedangkan cinta berdasarkan hati. Mata hanya memuaskan otak, tapi kalau hati memuaskan seluruh tubuh. Dari otak, jantung, lalu menyebar ke seluruh tubuhmu.”

“Noona mungkin mendapatkan mataku, tapi noona tidak bisa mendapatkan hati dan jantungku.” Perlahan Baekhyun pun mengangkat tangannya dan menaruhnya di wajah Minjoo. “Sampai saat ini, hanya dirimu yang berhasil mendapatkan hatiku, Minjoo-ya. Belum pernah ada yang lainnya dan itu hanya dirimu.”

Wajah Minjoo panas, seperti matahari terbit persis di wajahnya. Kenapa sih Baekhyun selalu bisa membuatnya seperti ini!? Tak berdaya dengan perasaan hangat di sekitar tubuhnya, selalu menjadi makanan utama untuk kupu-kupu yang hidup di dalam perutnya. Ini mengganggunya tapi sekaligus membahagiakannya. Jujur, Minjoo sangat menyukai perasaan seperti ini. Mabuk oleh cinta adalah yang terbaik, Minjoo beritahu untuk informasi tambahan kalian.

“Y-ya.. berhentii..” Minjoo melepaskan tangan Baekhyun darinya, takut Baekhyun merasakan panas wajahnya. “Jangan berkata seperti itu..”

Baekhyun tahu Minjoo sedang menahan malunya dan pria itu tak kuasa untuk tidak terkekeh pelan, “Jangan pernah meragukan perasaanku pada perasaanmu lagi. Seberapa lama kau pergi, kau menjauh atau meninggalkanku, hatiku akan terus memanggilmu. Kau tidak perlu ragu lagi, aku itu akan selalu mencintaimu. Mengerti?”

Ugh, Byun Baekhyun. Berhenti. Kau benar-benar membuat Minjoo meleleh di tempatnya.

“Iya,” Ucapnya sambil setengah menunduk malu, menyembunyikan semburat merah itu. “Aku mengerti, Baekhyun-ah..”

Masih tak tahan dengan kegemasannya pada Minjoo, Baekhyun pun menaruh tangannya di puncak kepala Minjoo, “Sekarang masalah kita selesai?”

Minjoo perlahan mendongakkan kepalanya, dirasa dia telah berhasil menetralisir warna merah di wajahnya. “Hm, selesai.”

Baekhyun pun tersenyum semakin lebar, lalu mengusap pelan puncak kepala Minjoo. “Omong-omong, Minjoo-ya..Kepalamu itu memang kecil ya?” Baekhyun melebarkan tangannya kembali seperti sebelumnya lalu menggenggam kepala Minjoo. Benar-benar sebesar telapak tangannya, “Lihat, lebar kepalamu sama seperti lebar telapak tanganku..”

Minjoo hanya bisa terkekeh pelan lalu melingkarkan lengannya pada Baekhyun.

“Itu berarti aku imut, benar?”

“Tidak, itu artinya otakmu kecil.”

Minjoo cemberut dan dia baru saja akan melepaskan eratannya pada Baekhyun sebelum Baekhyun menahannya. Menarik pinggangnya serta menyatukan bibirnya. Menyatukan perasaan mereka.

“Aku mencintaimu, Minjoo-ya.”

Baekhyun memundurkan wajahnya beberapa senti, untuk melihat wajah Minjoo yang selalu membuat perasaannya terbang ke atas langit.

“Aku sangat mencintaimu, Han Minjoo.”

Minjoo tersenyum, memperlihatkan senyuman terindahnya pada Baekhyun.

“Aku juga.” Tuturnya, “Aku juga sangat mencintaimu, Byun Baekhyun.”

Baekhyun juga ikut membalas senyuman itu sambil perlahan menyatukan kembali bibirnya. Tidak menuntut, hanya ingin mendeklarasikan betapa perasaannya begitu nyata dan kuat untuk seorang Han Minjoo.

Meminta lebih, karena tiba-tiba saja Baekhyun menginginkan Minjoo bisa merasakan perasaan bahagianya.

“Bolehkah kita melakukannya sekarang?” Baekhyun melepas ciumannya dan menatap Minjoo memohon, “Ayolah, kita lakukan sekarang. Aku sudah sangat merindukanmu, kau tahu!?”

Minjoo menatap Baekhyun jahil sambil menggelengkan kepalanya, “Tidak mau.” Lalu dia mengelus-elus perutnya. “Kasian anakmu, nanti merasa ibunya direbut kalau kau melakukannya.”

“Aish!”

Baekhyun pun menyibakkan selimutnya dan naik ke atas tubuh Minjoo lalu menatap perutnya, “Setelah kau lahir, kau bisa sepenuhnya memiliki ibumu.” Lalu mengelus perut Minjoo pelan, “Jadi.. biarkan aku memiliki ibumu seutuhnya untuk malam ini sampai sebelum kau lahir, hm!?”

“Ya!!” Minjoo memukul pundak Baekhyun, “Memangnya aku mau apa melakukannya setiap hari!?”

“Aku akan memaksamu untuk melakukannya setiap hari sampai sebelum kau melahirkan, karena aku tahu kau hanya akan peduli pada anak kita setelah dia lahir.” Lalu dia menghapus jaraknya lagi di antara bibirnya dan bibir Minjoo. Menciumnya penuh gairah namun juga penuh perasaan.

Ck, yasudahlah. Minjoo akan membiarkannya kali ini karena ya.. sejujurnya, Minjoo juga sangat merindukan Baekhyun.

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

“Oppa! Kenapa kau tak pernah bilang, hm!?” Yubi cemberut sedangkan Chanyeol hanya bisa terkekeh pelan. Sehun yang berdiri di sebelahnya juga menatap sebal ke arah Chanyeol, merasa dibohongi oleh temannya juga. Chanyeol baru saja selesai bercerita tentang dirinya yang memiliki hubungan khusus dengan Hyojoo beberapa saat lalu, “Oppa tak pernah menganggap kita semua temanmu, iya!?”

“Tidak, Yubi-ya..” Chanyeol menghentikan tawanya. Minjoo dan Baekhyun yang berada disitu juga hanya bisa terkekeh pelan dan tak bereaksi lebih seperti Yubi, mereka kan sudah tahu dari sebelumnya. “Aku tak bermaksud seperti itu hanya saja.. kalian tidak pernah bertanya?”

“Heol..” Yubi mengangakan mulutnya lebar sambil menatap Chanyeol semakin kesal, “Meskipun kami tidak bertanya bukan berarti Oppa tidak bisa menceritakannya pada kami, bukan!?” Lalu kemudian ia melirik ke arah Minjoo. “Eonnie juga, kenapa tidak pernah bilang soal Oppa pada kami!? Aku dan Sehun jadi terlihat buruk, tahu!?”

“Ya, kenapa kalian jadi menyalahkanku!?” Minjoo mengangkat bahunya, seakan berkata ‘kesalahannya-memang-bukan-padaku’ sambil menunjuk-nunjuk Chanyeol, “Salahkan saja dia, jangan bawa-bawa aku!”

“Ck, Han Minjoo.” Baekhyun bergumam sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah Minjoo. Minjoo hanya bisa mempoutkan bibirnya lalu menurunkan bahunya perlahan.

“Aish! Ya sudah, aku minta maaf.” Chanyeol menatap Yubi dan Sehun secara bergantian, “Aku minta maaf ya, adik-adikku. Maaf telah merahasiakan ini dari kalian.”

Sehun dan Yubi masih tetap mempertahankan kekesalannya, meski sebenarnya mereka hanya pura-pura. Tapi, mereka serius dengan rasa kekesalannya pada Chanyeol. Mereka tidak tahu bahwa Chanyeol selama ini memiliki perasaan khusus pada Hyojoo yang notabenenya wakil direktur perusahaan ditambah selama ini sebenarnya Chanyeol dan Hyojoo sudah memiliki hubungan meski hubungannya masih di katakan belum berstatus. Bukankah itu menyebalkan di saat kalian adalah sahabatnya!?

“Omong-omong..” Chanyeol berucap kembali sambil masih memerhatikan Yubi dan Sehun, “Dari kemarin ini aku sering melihat kalian berdua terus. Kalian mengunjungiku berdua, menungguku berdua. Ya mungkin karena kalian temanku, hanya saja aku tak pernah melihat kalian seakrab ini.”

Chanyeol menyipitkan matanya, membuat Yubi sedikit risih namun tidak untuk Sehun.

“Kalian sudah berkencan, benar!?” Chanyeol tertawa pelan sambil menunjuk-nunjuk Yubi dan Sehun. “Sudah, ya!? Ahahah, aku tahu hal ini akan terjadi sebenarnya..”

Sumpah, ini adalah hal tercanggung dan termenyebalkan yang pernah Yubi alami. Mungkin Yubi akan berlaga biasa saja, atau mungkin akan mengakuinya tapi masalahnya apa yang mau dia akui disaat dirinya dan Sehun itu tidak menjalin hubungan apapun!!

“T-tidak! Aku tidak berkencan dengan Sehun!” Yubi mengelak dan itu membuat Sehun yang di sebelahnya meliriknya, “Kenapa aku harus jadian dengannya—“

“Jangan berbohong!! Aku sudah tahu, Lee Yubi.. Oh Sehun!” Chanyeol menunjuk-nunjuk mereka, “Aku tahu kalian itu punya hubungan yang khusus!”

“Ck. Aku serius, Oppa!” Yubi terus mengelak sambil mengeluarkan emosinya. Sehun sedari tadi hanya bergeming dan menatapnya penuh, “Aku tidak menjalin hubungan apapun dengan Sehun..”

Yubi memberanikan dirinya melirik Sehun, meski dia tahu apa yang dilakukannya salah.

“Benar, bukan.. Sehun-ah?”

Yubi tersenyum paksa, sedangkan Sehun hanya menatapnya datar.

.

.

“Aish!” Yubi melepas tangannya dan menatap Sehun yang baru saja menarik tangannya paksa setelah mereka keluar dari kamar Chanyeol. “Kenapa kau melakukan ini padaku!?”

“Beritahu aku, apa maumu, hm!?” Sehun berkacak pinggang, menatap Yubi penuh garang. “Apa maumu sampai-sampai kau masih belum mau mengakui bahwa aku ini kekasihmu!!”

Yubi tergelak dan dia merasakan panas di sekujur tubuhnya.

Kejadian hari itu tentunya merupakan hari yang tak terlupakan untuk Yubi. Dimana Sehun menciumnya dan memberitahunya bahwa pria itu menyukainya. Ayolah, coba Yubi tanya pada setiap manusia di dunia ini. Jika lelaki atau orang yang kalian sukai di dunia ini nyatanya memiliki perasaan yang sama dengan kalian, bukankah kalian merasa bahagia sampai terbang ke langit? Yubi berani bertaruh tidak akan ada orang yang menjawabnya tidak.

Itu memang benar pada dasarnya, bahwa Yubi merasa bahagia bahwa Sehun ternyata memiliki perasaan yang sama dengannya. Hanya saja, Yubi merasa.. bahwa perasaan itu tidak sungguh-sungguh untuknya. Ada keganjalan hatinya yang mengatakan bahwa pengakuan itu hanya sebatas karena Sehun mengasihaninya, karena mereka teman yang sangat dekat. Yubi tidak menginginkan itu, tentu saja.

“Sehun-ah..” Yubi pun berdeham sebentar, melupakan amarah yang sebelumnya. Kali ini dia harus meluruskan segalanya, kalau memang benar perasaan itu hanya sebatas karena dirinya kasihan pada Yubi, maka Yubi tidak akan menahannya lagi. “..terima kasih, sebelumnya. Terima kasih karena kau sudah menjadi temanku selama ini. Kau ini partnerku dalam bekerja, kau banyak membantuku dan menemaniku juga. Kau berjuang lebih banyak denganku ketimbang Chanyeol Oppa atau Minjoo eonnie. Terima kasih telah menjadi teman terbaikku selama ini.”

Sambil menarik nafasnya, Yubi pun pada akhirnya berani membuang segala kerisauannya. Kegelisahan hatinya yang menahan Sehun selalu di hatinya hingga membuat Sehun tak nyaman.

“Aku.. tahu, bahwa pengakuan pada saat itu hanya karena kau.. mengasihaniku.” Yubi bisa melihat wajah Sehun membias, seperti Yubi telah mengatakan sesuatu yang benar dan itu membuat hati Yubi kembali jatuh seperti sebelumnya. “Karena itu, berhentilah. Berhenti mengasihaniku karena jujur, aku baik-baik saja. Seperti yang pernah aku bilang, perasaanku padamu itu salah. Itu kesalahanku, tak seharusnya aku menyukai dirimu.”

Yubi berhasil mengatakan semuanya. Meski ini menyakitkan, tapi Yubi tidak bisa memaksakannya. Cinta tidak harus memiliki, benar?

“Terima kasih karena telah peduli padaku sebagai teman. Tenang, aku mengatakan ini bukan berarti kita sudah tidak bisa berteman lagi.” Yubi tersenyum meski itu rasanya sangat pahit, “Aku.. selamanya akan menjadi temanmu, Sehun-ah. Aku hanya butuh waktu untuk menerima semuanya. Jadi, tolong berhenti mengasihaniku dengan pengakuan pada waktu itu.”

Yubi pun memutar tubuhnya, berniat berjalan untuk menjauhinya. Ini tampak memalukan, sangat menjatuhkan harga dirinya, tapi ini adalah jalan terbaik untuknya. Meski sepertinya dia berbohong atas kata-katanya, setidaknya Yubi harus membuat Sehun berhenti merasa kasihan pada diri gadis itu.

“Lalu, apa perasaan dimana seseorang ingin memiliki orang yang dicintainya dinamai perasaan ‘mengasihani’, Yubi-ya?”

Perkataan Sehun itu sukses membuat Yubi menghentikan langkahnya. Memutar tubuhnya dan menatap Sehun kebingungan.

“Hm?”

Yubi bisa melihat bahwa pandangan Sehun itu begitu tegas padanya, sedikit terlihat garang namun Yubi tahu.. ada perasaan sendu yang muncul dari sana.

Sehun pun tiba-tiba saja menderapkan langkahnya menuju Yubi, berhenti tepat beberapa senti meter darinya.

“Apa perasaan dimana..” Sehun memotong perkataannya beberapa detik dan ia gunakan untuk menatap Yubi tepat di matanya. “..aku ingin memilikimu.. dinamakan perasaan ‘mengasihani’, Yubi-ya?”

Jantung Yubi lompat dan seperti berlarian di sekujur tubuhnya. Ini gila, ini membuatnya tiba-tiba lemas namun jatuh di awan terempuk di langit.

“Apa.. maksudmu—“

“Kau tak tahu? Aku itu sudah menyukaimu dari lama, Lee Yubi.”

Tentu saja, itu terlampau membuat Yubi membulatkan matanya dengan jantung yang benar-benar telah berlarian di otaknya.

“Aku.. sudah memiliki perasaan ini lebih dahulu sebelum darimu.”

 

~

~

“Halo semuanya, saya Oh Sehun. Tolong jaga saya dengan baik.”

Sehun tersenyum lalu membungkuk hormat. Setelahnya, dia pun berjalan menuju mejanya yang pada saat itu terletak berderetan dengan meja seorang wanita. Kenapa Sehun bisa bilang bahwa itu meja seorang wanita? Karena ada seorang wanita yang tengah memerhatikannya sedari tadi sampai dia duduk di meja itu saat ini.

“Annyeong, Sehun-ah!” Wanita itu sedikit berteriak sambil menjulurkan tangannya, “Aku Lee Yubi. Kita seumuran jadi mulai dari saat ini kau partner kerjaku, ok!?”

Ya Tuhan. Sehun tahu sepertinya pekerjaan ini akan menjadi pekerjaannya yang ke-dua untuk menuliskan surat pengunduran diri.

.

“Kau itu kalau dilihat-lihat sangat tampan ya, Oh Sehun!”

Perkataan dari Yubi membuat Sehun tersedak makanannya. Membuat Minjoo dan Chanyeol terkekeh pelan di sebelahnya.

“Ya, Lee Yubi! Jangan mengatakan hal-hal seperti itu disaat ini adalah makan siang pertama kita!” Minjoo mengambilkan tisu untuk Sehun, membiarkan Sehun mengelap mulutnya. “Ya, jangan di dengar ya omongan Yubi itu?! Dia memang gadis yang blak-blakan.”

Sehun mengangguk canggung sambil masih mengelap mulutnya. Tak sengaja juga ia menangkap Yubi yang tengah memerhatikannya dengan kagum dan itu entah kenapa membuatnya merasa risih namun.. ada perasaan yang tak bisa ia jelaskan juga.

.

“Ya!! Oh Sehun!!” Seseorang yang bertag nama ‘Chief of Marketing’ menghampiri Sehun sambil menggebrak mejanya.

“Kau ini bagaimana sih!? Kerjaanmu sudah beberapa hari ini salah terus! Kau tak tahu apa kalau itu bisa merugikan perusahaan!?”

Sehun hanya bisa menunduk dan mengucapkan permintaan maafnya, “Maaf, Tuan.”

“Maaf!? Kau pikir hal seperti ini bisa di maafkan!? Aku akan memecatmu sekarang juga—“

“Jangan, Tuan Min!” Yubi tiba-tiba saja berdiri di depan Sehun sambil menunduk, “Maafkan Sehun, Tuan Min. Ini kesalahan saya juga, harusnya saya bisa membimbingnya. Tolong jangan pecat dia.”

Entah seperti malaikat tiba-tiba turun ke hadapan si ketua marketing sialan itu, tapi Sehun bisa lihat jika raut wajahnya berubah. Pupil matanya melebar, seperti melihat gadis tercantik di dunia.

“Ah, Yubi-ssi..” Tuan Min berucap dengan nada selembut mungkin, 180 derajat berbeda dengan suara yang ia gunakan untuk memaki Sehun sebelumnya. “..kau menginginkan Sehun untuk tidak dipecat, hm?”

Demi Tuhan, Sehun tertohok kaget dan dia seperti ingin memukul wajah pria tua ini dengan raket kastinya. Serius, dia itu tua keladi!

“Iya, jangan pecat dia, Tuan Min.” Yubi menunduk wajahnya, “Kumohon.”

Tuan Min itu tersenyum pelan lalu tangannya tiba-tiba terangkat untuk menarik dagu Yubi ke atas. Membuat Sehun mengepalkan tangannya.

“Baiklah.” Ucapnya dengan wajah sangat menjijikan. “Karena ini permintaanmu, Aku akan mengabulkannya.” Dan dia pun sedikit mengedipkan matanya pada Yubi. “Khusus untuk Lee Yubi-ssi.”

Ya Tuhan, tolong hapus laranganmu tentang jangan membunuh orang meskipun mereka memiliki kesalahan yang sangat banyak.

.

“Kenapa kau melakukan itu?”

Mereka telah berada di atap gedung kantor setelah kejadian yang menjijikan barusan.

“Kenapa kau membiarkan dirimu dihina seperti itu!?” Saat ini emosi Sehun seperti memuncak, benar-benar dia ingin kembali ke apartemennya untuk membawa raket kastinya. “Orang seperti Tuan Min itu tidak bisa dibiarkan, Yubi! Dia harus dilaporkan pada Minjoo noona!”

“Sudahlah, tidak perlu.” Yubi mengangkat bahunya acuh, seakan-akan itu bukanlah hal yang besar. “Tuan Min memang seperti itu, dia selalu menggoda para wanita di kantor ini. Minjoo eonnie telah mengetahuinya namun prestasi Tuan Min di perusahaan ini terlalu bagus untuk memecatnya.”

Sehun menganga sambil menatap Yubi tak percaya, “Tapi sifatnya bukanlah alasan yang tepat untuk mempertahankannya!”

“Aku tahu. Tapi kita tak bisa berbuat apa-apa, Sehun-ah. Kita hanya sekretaris disini.”

Sehun menarik nafas banyak, menahan emosinya lalu menatap tajam Yubi kembali.

“Lalu kenapa kau membelaku? Kenapa kau membelaku dan membuat dirimu dihina seperti itu olehnya!?”

Yubi terkekeh pelan melihat Sehun, “Ya. Kita ini partner kerja, kau tahu?” Yubi menjeda perkataannya, membuat Sehun menunggu namun tiba-tiba saja hatinya menghangat setelah Yubi melanjutkannya lagi.

“Aku harus melindungimu, tentu saja.”

Entah kenapa, hati Sehun terasa menghangat. Seperti ada seseorang yang menggenggamnya dan memberikannya kehangatan yang pas untuknya. Ini kali pertamanya, ada seseorang yang mengatakan bahwa dirinya ingin melindungi Sehun. Belum pernah ada yang lainnya dan Yubi yang pertama kalinya.

“Aku bahkan tak melindungimu.” Sehun bergumam kecil namun Yubi bisa mendengarnya, “Kenapa kau mau melakukan itu padaku..”

Ucapan itu tentu saja membuat Yubi tertawa. Dengan segera, Yubi pun melilitkan tangannya di leher Sehun dan menariknya mendekatinya.

“Kalau begitu itu merupakan suatu hutangmu padaku. Kau harus menebusnya lain kali saja, bagaimana?”

Sehun meringis sebal dan lalu menjauhkan kepalanya dari Yubi.

“Ya! Sakit, Lee Yubi!”

Yubi tertawa dan dia masih menatap Sehun dengan bergurau, “Sudah dua kali aku mendengarmu memanggil namaku tanpa sebutan formal, apakah ini artinya kita sudah berteman!?”

Perkataan Yubi itu membuat Sehun bergeming dan menatapnya. Selama ini memang Sehun selalu memanggil Yubi dengan panggilan formal, dia menganggap bahwa Yubi itu orang asing untuknya hanya saja entah kenapa.. hari ini, tepatnya setelah kejadian tadi Sehun berpikir bahwa Yubi adalah seseorang yang begitu dekat dengannya. Yang memilik suatu arti untuknya.

“Memangnya kita tidak pernah berteman?” tutur pria itu dengan datar, “Tadi kau bilang aku ini partner kerjamu..”

Mendengar ucapan itu tak ayal membuat Yubi tersenyum senang sambil menarik kepala Sehun lagi dilingkaran tangannya, “Assa! Akhirnya aku bisa berteman dengan Oh Sehun yang dingin ini!”

Sehun masih meringis kesal dengan tingkah Yubi padanya. Hanya saja, saat itu dia juga merasakan apa yang Yubi rasakan.

Malah, sepertinya perasaannya lebih bahagia ketimbang Yubi saat itu.

~

~

“Kemarin ini kau bilang padaku bahwa kau menyukaiku, lalu sekarang apa!?” Sehun menatap tegas Yubi. Meski begitu, ada perasaan sedihnya yang terselip di nada suaranya. “Kenapa kau bilang pengakuanku saat itu hanyalah perasaan kasihan kepadamu..”

“Kau.. maksudku..” Yubi seperti kehilangan kata-katanya saat ini. Bingung membedakan ini kenyataan atau hanya mimpi palsu yang dibuat. “..bukankah aku ini, tidak pernah menjadi tipemu?”

“Aish!” Sehun berumpat kesal lalu menatap Yubi emosi, “Kenapa sih kau selalu membahas tipe setiap kali berbicara tentang ini!? Kau bilang kau itu temanku, teman yang mengerti diriku, tapi kau nyatanya tak pernah mengerti diriku!!”

“Bukan begitu Sehun-ah—“

“Kau ingat tidak aku pernah bilang aku punya standarku sendiri? Waktu itu aku ingat bahwa kau memarahiku karenaaku terus mengganti-ganti wanita. Kau tahu standar apa yang kucari?”

Belum sempat Yubi menggeleng kepalanya, Sehun sudah memberikan jawabannya melalui tatapan matanya.

“Dirimu. Itu Lee Yubi.” Sehun hanya menatap Yubi, tanpa memikirkan apapun di dalam otaknya. “Wanita yang kucari-cari selama ini adalah sosok seperti dirimu, Yubi-ya. Tapi nyatanya kau malah menganggap perasaanku ini sebatas kasihan karena kau temanku.”

Apakah rasanya seperti ini.. saat perasaan jatuh cinta yang terbalaskan? Kenapa ini membuat Yubi seperti ingin mengelilingi lapangan sepak bola terbesar di dunia sambil berteriak histeris karena.. perasaannya terbalaskan. Oh Sehun, pria itu, benar-benar menyukainya.

Sehun dengan bahunya yang merosot pun telah siap untuk berjalan menjauhinya, tentu saja ia merasa kecewa dengan anggapan Yubi padanya. Sehun telah berhasil untuk memutar tubuhnya namun Yubi langsung menahan tangannya.

“Lalu kenapa kau selama ini mencari banyak wanita dan tidak mengutarakannya padaku!?” Ucapan Yubi langsung membuat Sehun memutar tubuhnya, “Kenapa kau tak pernah bilang padaku, kalau begitu!?”

“Ya, kau tak ingat apa kalau kau pernah bilang kau menyukai seseorang sekitar satu tahun yang lalu?”

Yubi menyipitkan matanya, berpikir. “Huh?”

“Ck.” Sehun melepaskan tangan Yubi darinya dan menatap Yubi kesal, “Aku sedang menyukai seseorang, Sehun-ah. Kupikir aku sangat menyukainya.’ Kau tak ingat?” Suaranya sengaja Sehun buat menyerupai Yubi, mengejeknya. “Karena itulah aku mulai berpikir untuk tidak menyukaimu lagi karena aku tahu, aku bukanlah orang yang kau sukai!”

Yubi terdiam dan ingatannya pun terbuka pada saat itu. Itu adalah hari dimana dia menyadari bahwa sosok Sehun benar-benar mencuri hatinya. Setelah satu tahun bersamanya, Yubi baru menyadari bahwa perasaan itu memang ada di dalam hatinya.

“Itu dirimu, Sehun-ah.”

Sehun terlonjak namun perasaan hangat itu muncul kembali.

“Orang yang kumaksud saat itu adalah kau, Sehun-ah.” Yubi menundukan wajahnya, malu. “Aku juga sudah menyukaimu dari lama, dari saat itu.”

Tak bisa Sehun pungkiri bahwa dirinya merasa senang. Seperti dia mendapatkan undian rumah seharga satu triliyun dengan lokasi di California, Amerika Serikat. Mengetahui bahwa Yubi juga memiliki perasaan yang sama dengannya, waktu yang hampir sama dengan perasaannya pada Yubi, membuat Sehun benar-benar sebahagia itu.

“Lalu..” Sehun pun memberanikan dirinya menarik tangan Yubi sambil menggenggamnya. Membuat Yubi memberanikan dirinya juga untuk mengangkat kepalanya, “..kalau begitu, kita ini sepasang kekasih sekarang?”

Yubi terdiam memikirkan semuanya. Sekarang, tidak ada hal yang Yubi ragukan lagi untuk pengakuan pada hari itu dan juga yang beberapa waktu lalu. Semuanya sudah jelas, dan Yubi tidak menginginkan yang lainnya.

“Hm. Sekarang, aku ini kekasihmu.”

Sehun tersenyum cerah lalu setelahnya dia pun menarik Yubi ke dalam dekapannya. Memberikannya dekapan dengan perasaan yang begitu hangat untuknya.

“Ah, ini sangat manis..”

Yubi juga ikut melingkarkan tangannya di pinggang Sehun, membalas pelukannya.

“Ini terlalu manis dan juga.. aku mencintaimu, Lee Yubi.”

Yubi juga tersenyum di dalam dekapannya. Seperti kata Sehun, ini benar-benar manis. Semuanya manis dan perasaan Sehun untuknya manis. Juga.. dunia terlihat lebih manis untuknya sekarang.

“Aku juga mencintaimu, Oh Sehun..”

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

⚔❥💢💑 I Married To My Enemy 💑💢❥⚔

▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪ ▪

“Aish, dua bocah itu!” Minjoo menatap kesal apapun di hadapannya, mengingat Sehun dan Yubi yang baru saja ditemuinya tadi di rumah sakit. “Dua bocah itu.. kalau mereka benar-benar berkencan, aku akan memukul kepalanya!”

Baekhyun yang di sebelahnya, tepatnya di kursi kemudi hanya bisa terkekeh pelan sambil melirik Minjoo. “Kenapa kau marah? Kau cemburu, hm?” Kemudiannya tiba-tiba saja Baekhyun menarik tangan Minjoo untuk digenggamnya, “Kau kan sudah punya aku..”

Jujur sebenarnya jantung Minjoo sedikit lompat mendengar kata-kata itu, hanya saja kekesalannya pada Sehun dan Yubi lebih mendominasi dari itu semua.

Minjoo melepas tangan Baekhyun lalu menghadap tubuh pria itu, “Bukan, aku tidak cemburu. Hanya saja aku kesal karena mereka tidak menceritakannya padaku!”

Minjoo itu adalah gadis termanis kalau sedang marah. Baekhyun sudah kelampau hapal dengan sikap Minjoo yang sedang marah, lihat saja setelah ini, Baekhyun bisa menebak semua yang akan Minjoo lakukan kalau sedang marah:

Pertama, mengangkat bahunya.

“Aku ini sudah menjadi teman mereka selama dua tahun! Kita selalu makan bersama, minum bersama, mengerjakan pekerjaan bersama!”

Lalu, menunjuk-nunjuk jemarinya dengan hentakan.

“Kita saling berbagi cerita, entah masa lalu atau apapun itu. Kita juga berjuang bersama, saat banyak pekerjaan kita saling berbagi tugas. Maksudku, kan kalau orang sudah ditekan secara bersama-sama artinya mereka sudah sangat dekat, benar!?”

Dan yang terakhir dia akan menggeleng-geleng, merasa tak percaya apa yang diterimanya.

“Aku benar-benar kesal dengan mereka! Awas saja mereka!!”

Setelah berhasil menebak itu semua pun Baekhyun tertawa keras. Untung saja lampu merah sedang menyala, tidak menjadi ancaman nyawa untuk mereka berdua. Memiliki Minjoo yang mempunyai sifat ini benar-benar deh, rasanya sangat menyenangkan!

“Ya!” Minjoo memerhatikan Baekhyun aneh, “Kenapa kau jadi tertawa!?”

“Tidak,” Baekhyun masih belum bisa menghentikan tawanya. Kini pria itu pun telah menghadap Minjoo sepenuhnya, “Hanya saja kau itu benar-benar manis ya, Han Minjoo.”

Semburat merah langsung muncul di pipi Minjoo, ayolah jangan tanya kenapa alasannya. “Kenapa tiba-tiba jadi seperti itu..”

Baekhyun pun terkekeh pelan namun tiba-tiba saja dia menaruh kedua tangannya pada sisi wajah Minjoo. Menarik wajah Minjoo sampai beberapa senti dari wajahnya.

“Aigoo, Han Minjoo-ku.” Baekhyun menatapnya dengan senyuman gummy, sedangkan Minjoo seperti sedang membakar api di wajahnya. “Kenapa kau begitu manis sih? Aku jadi ingin menciummu!”

Kemudian Minjoo merasakan dahi, hidung, dan kedua pipinya terasa panas dalam hitungan detik. Belum lagi, yang paling terakhir. Saat dia merasakan bibirnya terbang ke atas langit seperti biasanya.

“Ah,” Baekhyun memundurkan wajahnya, hanya satu sentimeter karena perasaan-gemasnya-pada-Minjoo belum habis, “Ini manis.”

Byun Baekhyun berhenti membuat Minjoo gila seperti ini!

“Ya..” Minjoo pun merajuk dan memundurkan wajahnya, demi Tuhan dia bisa gila kalau merasakan itu terus. “Berhenti. Jangan seperti itu..”

Lampu telah berwarna hijau dan mobil pun telah berjalan kembali. Membuat Baekhyun mau tak mau melepas tangan dan pandangannya dari Minjoo untuk kemudinya lagi.

“Kenapa? Aku membuat hatimu berdetak sampai kau rasanya ingin gila, benar?”

Minjoo pun mengangguk, mengakuinya. Ya sudah, cerita harga diri Minjoo memang sudah selesai mulai dari detik ini juga.

Baekhyun tentu saja langsung terkekeh pelan melihatnya. Dia pun kembali menarik kepala Minjoo namun yang kali ini bukan untuk mencium setiap sudut wajahnya, melainkan menyuruh Minjoo untuk bersandar pada bahunya.

“Kau pernah dengar tentang kencan dalam mobil tidak?”

Tangannya yang untuk menarik kepala Minjoo sudah pindah menjadi menggenggam tangan gadis itu. Sedangkan Minjoo, dia sudah menuruti untuk menyandarkan kepalanya pada bahu Baekhyun.

“Belum,” Minjoo menggeleng pelan, “Memangnya seperti apa, Baekhyun-ah?”

“Ya, seperti ini.” Baekhyun mengangkat tangannya yang menggenggam tangan Minjoo ke atas, “Menggenggam tangan kekasihmu dengan satu tangan karena satu tangannya digunakan untuk menyetir.”

Lalu melirik ke arah Minjoo yang pada bahunya, “Membiarkan kepala kekasihmu bersandar pada bahunya—ah, ada satu lagi.”

Baekhyun pun menyematkan kecupan lagi di puncak kepala Minjoo.

“Dan ini juga.”

Minjoo tak kuasa untuk menahan ini semua, dia rasa dirinya memang sudah kehilangan akal sehatnya. Maksudnya, yang di genggam oleh tangan Baekhyun itu kan tangannya. Lalu, yang dikecup oleh Baekhyun itu kan puncak kepalanya, namun kenapa yang merasa panas itu malah seluruh tubuhnya?! Sepertinya hatinya memang tengah berlari di sekujur tubuhnya sambil membakar setiap inci kulitnya. Ini panas tapi Minjoo sangat menyukainya.

“Ya..” Minjoo merajuk sambil sedikit memukul lengan Baekhyun, “Sudah kubilang jangan seperti itu! Kau mau membuat jantungku meledak, iya!?”

Baekhyun hanya menjawab pertanyaan konotasi itu dengan kekehan.

“Ah, omong-omong soal kencan,” Minjoo rasa sepertinya dia akan mendapatkan berita bagus setelah ini, “Bagaimana kalau kita kencan hari ini, Minjoo-ya!?”

Benar bukan prediksinya?!

“Aku suka itu!!” Minjoo menjawabnya kelewat cepat sambil mengangkat kepalanya. Menatap Baekhyun dengan pancaran yang bahagia, seperti anak kecil yang menemukan permen di jalanan.

“Ayo kita pergi kencan, aku ingin kencan denganmu, Baekhyun-ah!”

Ugh, kalau Minjoo bilang Baekhyun itu selalu membuat Minjoo gila, Minjoo tidak tahu saja kalau dirinya juga selalu membuat Baekhyun gila di tempatnya. Malah, sepertinya Minjoo yang membuat Baekhyun lebih gila dari padanya.

“Baiklah, ayo kita kencan. Minjoo-ya.”

.

.

Senyuman lebar terus menghiasi Minjoo, seperti dia baru mendapatkan mimpi ala puteri kerjaan. Itu, kalian tahu bukan, yang menikah dengan pangeran tampan lalu hidup bahagia selama-lamanya? Minjoo seperti sedang berada di posisi tersebut.

Semuanya terlihat romantis bagi Minjoo. Meski ini hanya berjalan kaki di taman, dengan langit senja dan juga angin sejuk yang menghembus ke tubuhnya, Minjoo benar-benar seperti tengah berdiri di atas awan dengan Baekhyun yang menggenggamnya. Oh, terang saja Minjoo merasakan seperti itu. Yang dia butuhkan itu hanya Byun Baekhyun, bukan yang lainnya.

“Minjoo-ya.”

“Hm?”

“Apa kau bahagia?”

Ucapan Baekhyun itu membuat Minjoo menoleh. Sedikit merasa khawatir, takut hal yang tak pernah Minjoo bayangkan tiba-tiba datang.

“Kenapa kau bertanya seperti itu?”

Suara Minjoo terlihat begitu khawatir dan Baekhyun terkekeh pelan mendengarnya. Pandangannya pun tiba-tiba menuju tangan mereka yang terkait.

“Tidak apa-apa,” Kemudian Baekhyun mengangkat tangan itu ke atas udara, sambil mengaitnya cukup erat. Bukan, maksudnya sambil membiarkan perasaan hangat itu semakin nyata.

“Hanya saja aku benar-benar bahagia.” Dia tersenyum, selayaknya tuturan katanya itu memang terjadi di tubuhya. “Aku benar-benar sangat bahagia sekarang. Aku hanya ingin tahu apa kau merasakan hal yang sama denganku atau tidak..”

Minjoo menganga lebar sambil siratan senyuman itu terlihat di wajahnya. Jelas saja, dia merasa hatinya bergemuruh di dalam sana sambil merasakan perasaan hangat yang selalu muncul setiap kalimat manis Baekhyun terdengar di telinganya. Jujur, sampai detik ini Minjoo masih tidak mengetahui asal muasal terlahirnya mulut manis Baekhyun itu.

“Aku juga bahagia, Baekhyun-ah..” perlahan, Minjoo pun melepas tangan mereka untuk merangkul lengan Baekhyun, “Sangat bahagia, seperti dirimu.”

Baekhyun tertawa pelan sambil mengacak pelan rambut Minjoo. Setelah itu, mereka berjalan kembali. Melalui jalan setapak taman, masih dengan hembusan angin dan senja sore yang menemani mereka. Katakan Minjoo berlebihan, tapi ini memang membuatnya di mabuk asmara. Demi Tuhan, saat itu dia benar-benar merasa seperti itu.

Di rasa mereka sudah berjalan cukup lama, ditambah mengingat Minjoo dalam kondisi sedang mengandung anak mereka, mereka pun memutuskan untuk beristirahat dengan duduk di atas rumput hijau. Rumputnya tidak terlalu tajam, jadi mereka bisa tetap merasa nyaman duduk di atasnya sambil saling mengeratkan tubuh masing-masing, menatap matahari yang sebentar lagi akan menghilang di permukaan langit. Membiarkan hangatnya berubah asal dari pancaran matahari menjadi tubuh mereka.

“Baekhyun-ah, sebenarnya aku ingin bertanya ini sejak dari lama..” Minjoo duduk dengan lingkaran tangannya yang berada di pinggang Baekhyun. Sedangkan pria itu, satu tangannya ia gunakan untuk membelai rambut dan punggung Minjoo, satu tangannya lagi ia gunakan untuk menahan beban tubuh mereka. “..sebenarnya apa yang membuatmu jatuh cinta padaku? Aku kan tidak cantik, juga tidak pintar.”

Minjoo menjeda perkataannya dan itu sukses membuat Baekhyun menolehkan kepalanya pada Minjoo, “Harusnya kau itu jatuh cintanya pada eonnieku, dia jelas-jelas cantik. Tinggi. Tubuh semapai. Pintar? Jangan ditanya, eonnieku itu lulusan Seoul University!” Minjoo kembali diam, sedari tadi memang pandangannya tidak melihat ke arah Baekhyun karena kepalanya bersandar pada dadanya hanya saja, Baekhyun bisa melihat semua pandangan Minjoo itu. “Sedangkan aku? Aku hanya gadis biasa. Hanya, biasa. Nothing special.”

Kalau ditanya apakah Minjoo insecure, ya Minjoo mengakuinya. Dia sangat tidak percaya pada dirinya sendiri karena Minjoo tahu tidak ada kelebihan yang bisa Minjoo banggakan. DIa mengakui bahwa dirinya tidak terlalu cantik, tubuhnya terlalu kecil meski tak sekecil sedotan. Otak? Kalian tahu sendiri bukan kalau Minjoo hanya menjabat kepala sekretaris perusahaan. Ah, untuk informasi tambahan juga, kalau itu bukan perusahaan Ayahnya, Minjoo mungkin hanya akan menjadi pengangguran sekarang.

Tidak ada hal yang ada pada dirinya yang pantas disebut ‘alasan Baekhyun mencintaimu’. Kalau suaranya yang melengking bisa disebut seperti itu, ok Minjoo akan menambahkan percaya dirinya tapi bukankah harusnya itu lebih tepat dikategorikan ‘alasan Baekhyun membencimu’?

Baekhyun yang mendengar itu tentu saja merasa tersinggung. Awalnya Baekhyun pikir Minjoo hanya bercanda mengatakannya, mengingat sudah berulang kali Baekhyun mengutarakan perasaannya, tapi raut itu begitu serius di wajah Minjoo. Seperti mengungkapkan keresahan yang tiada henti ada pada dirinya dan jelas saja.. hatinya yang mencintai Minjoo sepenuhnya merasa tak terima dengan semua kata-kata Minjoo.

“Kata siapa kau tidak cantik?”

Baekhyun melepas Minjoo dari eratannya, menatapnya begitu detil dan sedikit kesal atas ke-insecure-an Minjoo. Satu tangannya terangkat, menuju wajah Minjoo dan yang pertama kali disentuhnya adalah matanya.

“Matamu. Matamu itu seperti tempat terindah untukku. Aku selalu merasa bangga saat melihat bayanganku berdiri disana. Seperti aku adalah makhluk terbaik di muka bumi yang bisa membuatmu hanya melihatku.”

Lalu, kemudiannya Baekhyun menurunkan tangannya pada bibir Minjoo. Mengusapnya dengan ibu jari. Begitu lembut, seperti rasanya bibir Baekhyun tengah mengecupnya.

“Ini. Ini adalah hal yang paling berbahaya darimu. Siapapun yang pernah merasakannya pasti langsung tidak mau melepasmu. Kau tahu? Aku selalu seperti terbang ke surga setiap kali aku merasakannya.”

Dan yang terakhir kalinya, Baekhyun pun menaikkan seluruh jemarinya pada sisi wajah Minjoo. Mengusap pipinya dan Minjoo tahu bahwa semua kata-katanya bukan bualan semata.

“Wajah ini sangat berarti untukku. Wajah ini bisa membuatku mati jika tidak melihatnya barang satu detik, bisa membuatku tersenyum tidak jelas seperti aku tengah kerasukan setan gila, bisa membuatku terluka kalau melihatnya tersiksa, bisa juga membuatku terbang ke atas langit saat melihatnya.”

Bahwa kata-kata itu sungguh keluar dari hati dan perasaannya. Hati dan perasaannya untuk dirinya seorang.

“Kau itu cantik, Minjoo-ya. Kau itu sangat cantik. Kau itu tidak biasa. Ok, mungkin otakmu memang tidak sepintar itu, ya wajahmu juga tidak secantik noona..” Baekhyun bisa lihat bahwa Minjoo mengerucut kesal, gadis itu sempat mau protes tapi kata-kata dari mulut Baekhyun keluar lebih dahulu.

“Tapi.. kau itu memberikan sesuatu padaku yang tiada orang lain bisa memberikannya. Kau tahu apa, Minjoo-ya?”

Minjoo menggeleng pelan dan Baekhyun menjawabnya dengan senyuman.

“Keberadaanmu. Keberadaanmu di sisiku selama ini.”

“Kau tumbuh bersamaku, berjuang dan menghadapi semuanya bersamaku selama ini. Memberikanku suatu pelajaran dalam kehidupan dan juga mengajarkanku pelajaran dalam kehidupan.” Baekhyun menjeda perkataannya dan dia masih menatap Minjoo, “Itulah yang membuatku jatuh cinta padamu karena kau.. keberadaanmu.. sudah terlalu berarti untuk disampingku. Kau seperti kabel dari televisi, juga seperti pembuka keran air. Tanpamu, aku itu pasti tidak ada maknanya. Nothing.

Baekhyun bisa melihat bahwa Minjoo sudah seperti ingin menangis di tempatnya, mungkin karena gadis itu merasakan seluruh perasaan Baekhyun. Biarlah, sekali saja Baekhyun membuat Minjoo ingin menangis seperti ini. Ini juga demi dirinya yang benar-benar ingin Minjoo memahami perasaannya.

“Maka dari itu,” Tangannya yang semula berada wajah Minjoo pun turun. Bermaksud untuk menggenggam tangan gadis itu. “Jangan pernah ragukan perasaanku lagi terhadapmu. Aku sudah pasti mencintaimu. Sudah kubilang bukan kalau hanya bisa mendapatkan mata itu belum tentu bisa membuat hidup nyaman? Kau itu mendapatkan mata dan juga hatiku.”

“Jangan merasa dirimu tidak sempurna untukku, di dunia tidak ada yang sempurna, Han Minjoo. Nyatanya, kau itu melengkapi apa yang tidak kumiliki hingga membuat kita menjadi sempurna.”

“Jadi, tentu saja aku mencintaimu. Sepenuh hatiku. Juga,” Baekhyun menjeda perkataannya lagi, teringat dengan sesuatu yang mengganjal padanya.

“Karena kita sudah berbicara sampai disini, ada sesuatu yang sampai saat ini belum kusampaikan padamu.”

“Sesuatu?”

“Hm, penyesalanku.”

Kening Minjoo bertaut, dia bingung dengan maksud kata ‘penyesalan’. Ehm, Minjoo tahu apa arti kata penyesalan itu—tenang, Minjoo tidak sebodoh itu—hanya saja, Minjoo tak mengerti dengan penyesalan yang Baekhyun maksud.

“Penyesalanmu?”

Baekhyun mengangguk lalu, entah kenapa.. perlahan namun pasti dia menundukan wajahnya. Tampak menarik dan mengeluarkan nafasnya selama beberapa waktu dan membuat Minjoo bergeming selama Baekhyun melakukan itu.

Minjoo baru saja akan menyoleknya hanya saja satu menit kemudian, Baekhyun mengangkat kepalanya. Menatapnya dengan pandangan yang sudah berubah.

Pandangan seseorang yang terluka dan seperti pernah membuat dosa terbesar di muka bumi ini.

“Aku ingin minta maaf karena aku pernah pergi darimu. Meninggalkanmu dengan rasa sakit yang membekas hingga membuatmu membenciku. Aku tahu.. aku terlihat sangat pengecut. Aku tahu.. aku bajingan. Aku meninggalkanmu dengan cara seperti itu. Hubungan kita sangat tidak baik saat terakhir kali dan aku hanya pergi begitu saja tanpa menyelesaikannya. Harusnya aku tidak pantas bertemu lagi denganmu, tapi nyatanya aku terus ingin berlari padamu. Meski dosa ini terlalu berat untuk kutanggung, aku tetap ingin lari padamu.”

Tangannya yang berada pada tangan Minjoo sangat terasa berat. Dia menggenggam Minjoo begitu kuat, seperti ada perasaan memohon yang meminta Minjoo untuk tidak melepasnya.

“Aku tak tahu apa aku masih pantas untuk meminta ini padamu, tapi..” Dia menjeda perkataannya dan tangan yang memohon itu semakin kentara di genggamannya.

“..bolehkah kau berjanji bahwa kau tidak boleh pergi dariku.. untuk selamanya? Tidak pernah meninggalanku? Aku berjanji aku tidak akan membuat dosa apapun lagi, Minjoo-ya. Aku berjanji akan menjadi suami terbaik untukmu, juga ayah terbaik untuk anak kita..”

“Kumohon, jangan pernah tinggalkan aku. Ah,” Baekhyun mengangkat kepalanya, menahan air matanya yang keluar dari pelupuk matanya. “Memikirkan kau mungkin meninggalkanku membuatku ingin menangis.”

Mata Minjoo sudah berair, pipinya sudah basah dan Minjoo tahu itu. Salahkanlah pria di hadapannya sekarang. Yang mengatakan hal-hal tak pernah Minjoo dengar dari siapapun, mengatakan bahwa dirinya memiliki arti begitu penting untuk kehidupannya. Yang bilang bahwa Minjoo itu sebuah kabel dari televisi atau keran atau apapun itu. Yang memohon padanya untuk tidak meninggalkannya.

Semuanya terdengar menyakitkan dan menghangatkan untuk Minjoo. Saat Baekhyun mengungapkan penyesalan-penyesalannya; yang meninggalkan Minjoo dengan hubungan terakhir mereka yang rusak, tanpa penjelasan, dia bisa merasakan dengan jelas luka yang dalam itu. Saat Baekhyun mengungkapkan betapa pentingnya Minjoo untuknya, betapa pria itu mencintainya, Minjoo juga ikut merasakannya.

Intinya, Minjoo merasakan semua perasaan Baekhyun yang membuatnya berpikir bahwa dia memang makhluk yang luar biasa. Yang bisa memiliki pengaruh begitu besar untuk satu laki-laki seperti Baekhyun di dunia ini. Dia tidak besar kepala, hanya saja dia merasa sangat dicintai saat ini.

“Kenapa kau harus berbicara seperti itu?” Minjoo melepas paksa tangan Baekhyun darinya kemudian menunjuk wajahnya sendiri, “Kau tak lihat apa air mataku sudah seperti air terjun sekarang!?”

Baekhyun tertawa pelan mendengarnya lalu ia mengangkat tangannya kembali. Bukan untuk menggenggam tangan Minjoo, tapi untuk menghapus air mata gadis itu.

“Maafkan aku karena berbicara seperti itu, tapi aku serius dengan kata-kataku.” Dirasa air mata itu telah kering di wajah Minjoo, Baekhyun pun membuat wajah Minjoo menghadapnya dengan kedua tangannya. Membiarkan netra mereka saling terkait. “Bisakah kau berjanji untuk tidak pernah meninggalkanku? Aku mungkin tak tahu apa yang terjadi nantinya, entah badai mana yang mau mengusik kita tapi aku bisa berjanji bahwa aku tidak akan pernah menyakitimu.”

“Bisakah kau hanya hidup bersamaku, selamanya, dengan keluarga kita di masa depan? Aku harap kau bisa, Minjoo-ya..”

Minjoo gila bukan kalau dia menggeleng kepalanya dan menolak itu semua disaat semua itu adalah keinginan terbesar Minjoo selama ini? Nyatanya, dia memang gila.

“Tidak,” Minjoo menggeleng kepalanya. “Aku tidak mau berjanji padamu seperti itu.”

Baekhyun langsung kehilangan nafasnya. Matanya membulat dan dia rasa dia seperti jatuh ke neraka sebelum Minjoo melanjutkan kata-katanya,

“Karena aku memang tidak akan pernah meninggalkanmu.” Rekahan senyuman itu langsung kentara kembali di bibir Baekhyun, membuat Minjoo tertawa di dalam hatinya. “Kau tak tahu? Hidupku itu hanya dirimu. Kalau aku meninggalkanmu, itu artinya aku sudah tidak ada di dunia ini lagi.”

Minjoo mengangkat tangannya, giliran dia yang menghapus air mata Baekhyun tadi—saat pria itu memikirkan bahwa Minjoo akan meninggalkannya. “Hidupku itu dirimu, jadi aku tak bisa berbuat janji seperti itu karena itu suatu kepastian yang harus aku lakukan untuk tetap ada di dunia ini. Bersamamu.”

“Kau lah yang harus berjanji seperti itu padaku, Baekhyun-ah.” Minjoo menurunkan tangannya dari wajahnya, jatuh untuk menggenggam tangan pria-nya. “Kau harus berjanji padaku untuk tidak pernah meninggalkanmu. Kalau kau meninggalkanku, ya aku mati.”

“Kau yang harus berjanji sepert itu padaku, Byun Baekhyun.”

Minjoo bisa lihat tatapan Baekhyun begitu kaget di tempatnya, tercengang seperti itu adalah kata pertama dari seorang Han Minjoo. Tapi, apa yang Minjoo katakana itu benar, juga tulus dari hatinya.

Selama ini.. tidak pernah ada niatan Minjoo untuk meninggalkan Baekhyun. Nyatanya, meski Baekhyun pernah pergi meninggalkannya enam tahun yang lalu, Minjoo selalu berharap bahwa pria itu kembali. Menunggunya, di jendela kamarnya, berharap bahwa kejadian saat kakaknya yang mengetuk pintu kamarnya terulang. Berharap, bahwa Minjoo bisa menyampaikan kata-kata yang tak sempat ia ucapkan saat itu; Kau harus kembali lagi, Baekhyun-ah. Harus. Tak perlu ditanya lagi bukan alasannya kenapa selain karena Minjoo mencintai pria itu sebanyak dunia bertahan jutaan tahun ini?

“Aigoo..” Baekhyun berdecak dan tiba-tiba saja air matanya telah keluar lagi dari matanya. “Aku jadi menangis lagi, Minjoo-ya.”

Minjoo melihat Baekhyun menghapus air matanya sendiri dan itu tak ayal membuat Minjoo terkekeh pelan, “Itu yang tadi kurasakan saat kau mengungkapkan seluruh hatimu. Sekarang, kau merasakannya juga kan?”

Anggukan langsung Minjoo dapatkan setelahnya dan itu membuat mereka menjadi tertawa bersama. Setelahnya, Baekhyun kembali menatap Minjoo sambil menaruh kedua tangannya di pundaknya.

“Hm, baiklah. Aku yang berjanji bahwa aku tidak akan pernah meninggalkanmu.” Baekhyun tersenyum sendu, sisa air mata itu masih kentara di matanya. “Selamanya. Aku berjanji, Han Minjoo.”

Lalu, perlahan namun pasti Minjoo bisa merasakan bahwa jaraknya di hapus oleh Baekhyun. Jarak antara kening dan bibir miliknya.

“Istriku. Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, selamanya. Janji.”

Hangat. Rasanya sangat hangat dan penuh makna. Dan Minjoo bisa merasakan itu semua di tubuhnya.

Baekhyun pun melepaskan kecupannya lalu menatap Minjoo sambil tertawa pelan, “Omong-omong kau belajar dari mana kata-kata itu, Minjoo-ya? Sampai bisa membuatku menangis seperti itu..”

“Darimu.” Minjoo telah mengeratkan kembali dirinya pada Baekhyun, memeluknya seperti sebelumnya. “Aku belajar dari mulutmu yang penggombal itu.”

“Eiy, aku tidak menggombal, aku serius dengan kata-kataku—“

“Diamlah, aku sedang menikmati ini semua!”

Semuanya sudah begitu jelas, sangat jelas tanpa ada keraguan ataupun kesalahan yang mungkin menjadi korek api untuk hubungan mereka. Kecupan itu.. janji itu.. kini seperti buku magis yang Tuhan simpan di lokernya, menandakan bahwa janji itu adalah janji sehidup semati mereka. Yang Tuhan sengaja simpan untuk membuat mereka tetap bersama selama umur mereka.

Hati mereka dari dahulu nyatanya sudah saling memanggil nama masing-masing. Karena hidup bersama, tumbuh bersama, berjuang bersama, merasakan pahit dan suka cita bersama, dan belajar untuk bertahan bersama. Mereka pernah berpisah, Baekhyun pergi meninggalkan Minjoo, tapi itu bukan semata-mata karena perasaan itu telah hilang. Nyatanya, meski mereka terpisah oleh waktu dan jarak, perasaan di antara mereka tetap kuat. Tetap bertahan hingga membuat mereka pada akhirnya saling berusaha untuk mengejar diri mereka. Meski pernah ada keraguan di antara mereka, ada nama yang muncul bukan dari nama mereka, itu semua tidak membuat mereka menyerah pada perasaan mereka.

Jika ditanya apakah mereka menyesal pernah menghadapi itu semua, mereka yakin kalau mereka akan menjawab tidak. Tentu saja, nyatanya mereka tetap akan berjuang untuk membuat kata bersama itu ada di antara mereka.

“Aku mencintaimu, mantan temanku. Han Minjoo.”

“Aku juga, Baekhyun-ah. Aku mencintaimu, mantan teman juga musuhku.”

“Musuh!?”

“Hm, aku kan pernah membencimu, kau tak ingat? In The End, My Enemy Is My Love.

Kita selalu tahu bahwa musuh itu bisa menjadi teman kalian, tapi.. kalau musuh menjadi pasangan kalian, kalian tidak pernah bisa menebaknya bukan? Itu bukan takhayul, percayalah! Minjoo sudah merasakannya sendiri!

Meski begitu, itu bukanlah hal utama yang ingin Minjoo tekankan untuk kalian semua. Yang Minjoo ingin tekankan adalah.. kenyataan bahwa cinta itu pasti datang dari orang yang terduga. Meski pernah menjadi musuhmu, atau pun temanmu, yang jelas cinta itu ada di antara dua orang yang selalu hidup bersama. Dan orang yang pernah hidup bersama tentunya adalah orang yang terduga, benar?

Jadi, kalau kalian memiliki orang yang pernah hidup bersama kalian untuk waktu yang cukup lama, percayalah.. ada cinta di antara kalian.

❤️ 💛 💚 💙 💜❤️ 💛 💚 💙 💜

Epilog

❤️ 💛 💚 💙 💜❤️ 💛 💚 💙 💜

6 Years Later

 

“Eomma, Appa!!!”

Minjoo dan Baekhyun terlonjak kaget sambil menghentikan pergerakan mereka. Perlahan kepala mereka pun menoleh pada pintu kamar mereka yang tertutup. Untung juga masih terkunci.

Dug. Dug. Dug.

“Eomma, Appa!! Bangun!!” suara bocah kecil yang mereka kenali sebagai suara anaknya menginterupsi mereka, “Ayo, hari ini kan pesta ulang tahunku!!!”

Mereka hanya bergeming dan membiarkan anak mereka meringis sebal di pintunya. Mereka tahu mereka tampak seperti orang tua yang jahat, tidak membukakan pintu untuk anaknya dan malah mengutamakan keinginan mereka. Tapi, ya mau bagaimana lagi. Keadaan mereka sekarang ini sedang sangat tidak pantas untuk anak umur 5 tahun seperti anaknya!

“Aish, eomma dan appa jahat!!”

Minjoo dan Baekhyun pun bisa mendengar suara kekesalan itu sambil mendengar derap langkah yang menjauh dari pintunya. Membuat Baekhyun menghadap wajah Minjoo kembali, yang persis berada di bawahnya.

“Ya, Hyunjoo marah. Kita harus menghentikan ini sekarang.” Minjoo mencoba untuk mendorong Baekhyun dari atas tubuhnya namun Baekhyun menahannya.

“Sebentar lagi saja, Minjoo-ya.” Baekhyun memegang tangan Minjoo begitu berarti, “Ini sangat tanggung, biarkan aku menyelesaikannya dalam beberapa menit lagi. Kumohon..”

“Ck.” Minjoo berdecak pelan sambil tak kuasa untuk menatap Baekhyun gerah, “Ya, anakmu sudah marah! Hari ini itu ulang tahunnya dan kau sudah berjanji dari seminggu yang lalu bahwa kau akan merayakannya. Kau mau di cap sebagai pembohong oleh anakmu sendiri!?”

Baekhyun tentu saja tidak bisa mengalah begitu saja, pasalnya mereka berhenti di saat mereka tengah memuncak. Kalau kalian menjadi kaum lelaki, tentu itu bukan hal yang sangat mengenakkan untuk menahan hormon kalian yang sedang memanas.

“Sebentar, ini benar-benar sebentar.” Baekhyun memindahkan eratan tangannya dari pergelangan tangan Minjoo menjadi pundak Minjoo yang tanpa sehelai kain apapun. Mengusapnya untuk memohon pada gadis itu. “Sebentar lagi saja. Aku benar-benar sedang jatuh cinta padamu, Minjoo-ya.”

Minjoo tahu, meski dia menolak sekali lagi pun Baekhyun akan terus memintanya. Percuma saja dia menentang, Baekhyun kan selalu pria yang harus mendapatkan apa yang di inginkannya.

“Ugh, baiklah.” Minjoo melepas tangannya dari pegangan Baekhyun, menyiapkan dirinya seperti sebelumnya. “Hanya sebentar saja, mengerti?! Kasian Hyunjoo, nanti dia kecewa di hari spesialnya.”

Baekhyun mengangguk pelan, tersenyum seperti bocah lima tahun yang diberikan kado robot di hari natal.

“Ok, hanya sebentar saja.” Baekhyun kembali pada posisi semulanya, seperti sebelum anak mereka mengetuk pintu tadi. “Setelah itu, acara ulang tahun Hyunjoo.”

Minjoo mengangguk lalu Minjoo merasakan Baekhyun yang menyatu pada dirinya lagi. Jujur sih, sebenarnya Minjoo juga tidak ingin berhenti begitu saja seperti tadi. Karena ya, seperti yang Baekhyun katakan, dia juga sedang jatuh cinta pada Baekhyun.

“Kenapa sih hormonmu harus panas di saat seperti ini?” ucapnya di tengah-tengah kesibukan mereka.

Baekhyun tertawa, sambil masih fokus pada Minjoo yang terlihat menawan di bawahnya meski umurnya sudah melebihi angka tiga puluh.

“Salahkan dirimu yang selalu terlihat cantik meski sudah sudah 24 tahun aku mengenalmu.”

Minjoo pun tersipu malu. Byun Baekhyun, si raja penggombal itu.

.

.

“Bibi, kapan adikku lahir?”

Hyunjoo menatap perut Hyojoo yang sudah besar di hadapannya. Wajah bocah kecil itu tampak kebingungan, karena dia sudah melihat Hyojoo yang seperti itu selama berbulan-bulan.

“Perasaan dia sudah diam di perut bibi sangat lama..” tuturnya lagi, masih dengan kerutan keningnya.

Hyojoo hanya terkekeh pelan lalu tangannya terangkat untuk mengusap-usap perutnya lembut, “Adik Hyunjoo, kakakmu sudah menunggumu tuh! Kapan kau lahir, hm?” ucapnya seakan-akan berbicara pada anaknya sendiri.

Hyunjoo yang melihat itu pun langsung mengangguk-angguk, “Iya, adik! Kakak sudah menunggumu!” wajahnya cemberut sekarang, “Aku sudah bosan karena teman bermainku hanya Jieun!”

“Kalau dia sudah lahir,” Chanyeol pun datang menghampiri mereka dengan minuman yang ia bawa untuk Hyojoo. Maklum, Hyojoo sedang hamil besar anak pertama mereka jadi dia tidak bisa banyak berjalan. “Hyunjoo janji mau menjaganya?”

“Tentu saja, Paman!” Hyunjoo menepuk-nepuk dadanya, seperti bangga pada dirinya sendiri. “Aku akan berjanji pada diriku sendiri bahwa aku akan menjadi kakak terbaik untuk adikku!”

Chanyeol dan Hyojoo pun terkekeh pelan, lalu tangan Chanyeol terangkat untuk mengacak pelan rambut Hyunjoo.

“Aigoo, anak yang sangat baik..”

Hyunjoo pun tersenyum senang dan bangga.

.

.

Acara puncak hari itu pun sedang dilaksanakan. Hyunjoo di depan semua orang, dengan kue ulang tahun bergambar superhero kesukaannya, Captain America. Memang sih, acara ini tidak dilaksanakan besar-besaran. Hanya bermodal taman belakang rumah mereka, sound system bervolume tidak terlalu besar, dan hanya mengundang sanak saudara dan kerabat terdekat mereka. Paling juga mengundang beberapa teman sekolah Hyunjoo, itupun ada salah satu anak yang orang tuanya merangkap kerabat Minjoo dan Baekhyun juga. Oh Jieun, anaknya Sehun dan Yubi.

Suasananya sangat indah, melihat seluruh orang berkumpul seperti ini. Orang tuanya, orang tua Baekhyun, kakaknya dan juga Chanyeol, lalu Sehun dan Yubi. Semuanya terlihat membahagiakan dengan masing-masing hidup mereka. Minjoo tahu mereka semua punya jalan yang sama seperti Minjoo dan melihat mereka memiliki akhir yang juga sama seperti Minjoo pun mampu membuar dirinya ikut merasa senang.

“Han Minjoo?”

Minjoo menoleh pada suara yang dipanggilnya dan dia langsung terperangah kaget melihat sosok di hadapannya.

Itu, dia Luhan!

“Oppa!” Minjoo menutup mulutnya sambil menatap Luhan tak percaya, “Kau Luhan Oppa, kan!? Benar!?”

Luhan tertawa pelan lalu mengangguk-angguk, “Iya, ini aku.”

“Aish, Oppa!” Minjoo pun memukul lengan Luhan cukup keras. Luhan sendiri menanggapinya biasa saja, mengingat dia tahu akan mendapatkan reaksi seperti itu. “Oppa kenapa kau pergi begitu saja enam tahun yang lalu, hm!? Kenapa Oppa tidak mengucapkan apapun padaku saat itu!!”

Luhan tertawa, mengingat keputusannya pergi saat itu. “Aku pergi seperti itu karena aku tak sanggup untuk menemuimu disaat aku sudah membuat hubungan kita sedikit rusak karena perasaanku.”  Pria itu menerawang ke masa lalu, tepatnya di hari dia menyatakan cintanya pada Minjoo.

“Aku tidak sanggup untuk mengucapkan selamat tinggal padamu karena perasaanku waktu itu masih begitu kuat untukmu. Jadi, ya.. aku minta maaf, hm? Karena pergi seperti itu saja..”

Minjoo berdecak kesal dan menatap Luhan sebal, “Meski begitu, harusnya Oppa setidaknya mengucapkan satu patah kata perpisahan padaku!”

Luhan tertawa pelan lagi sambil menatap Minjoo yang menurutnya tidak berubah, “Iya, aku mengaku salah. Maaf, ok?”

Minjoo hanya mendengus pelan lalu dia teringat sesuatu, “Oppa, omong-omong siapa yang mengundangmu kemari? Seingatku aku tak mengundangmu..”

“Heol, bukankah itu terdengar kejam?” Luhan menatap Minjoo tersinggung dan Minjoo menyengir lebar, “Aku datang kemari karena Hyunjoo itu teman anakku.”

Anak? Minjoo tidak salah dengan bukan?

“Oppa, kau sudah menikah!?” Teriakannya begitu melentang tinggi, membuat Luhan menjauhinya sedikit tapi dia menjawab pertanyaannya.

“Hm, sudah.” Dagunya ia tunjuk pada seseorang yang berada tak jauh dari mereka. Ada anak kecil yang tengah bermain bersama Hyunjoo disana. “Itu anakku, Lu Eunjoon.” Lalu dia mengarahkan dagunya lagi pada seorang wanita yang memakai gaun pink dan sedang duduk di kursi bersama para orang tua dari anak-anak teman Hyunjoo. Satu kata untuk wanita itu, cantik.

“Dan itu, istriku. Han Jooeun.” Luhan tersenyum bangga sambil menatap Minjoo lagi, “Aku menikah saat aku kembali ke Tiongkok lagi enam tahun yang lalu, bertemu dengan gadis itu.”

Minjoo pun tak kuasa untuk tersenyum begitu lebar. Tentu saja ia sesenang itu, maksudnya ini adalah Luhan. Teman sekaligus kakak beda orang tua terdekat di hidupnya. Dia tentu saja merasa senang melihat Luhan mendapatkan kebahagiannya sendiri.

“Oppa, aku benar-benar senang dengan ini semua kau tahu!” Dia menatap Luhan penuh ekspresi sedangkan Luhan sedari tadi hanya bisa tertawa-tawa saja, “Aku benar-benar ingin memelukmu saking aku senangnya!!”

“Ck, kalau begitu, mungkin ini saatnya kita berpisah. Maksudku, berpisah untuk mengakhiri perasaanku padamu yang sudah lama hilang.” Luhan menjulurkan tangannya, “Terima kasih pernah mengizinkanku untuk menyukaimu. Maaf jika hubungan kita kemarin ini sempat tidak membaik, tapi aku ingin memulainya lagi seperti pertama kali kita bertemu. Berteman denganmu, Han Minjoo.”

Minjoo mengangguk setuju sambil tersenyum dan menjabat uluran tangan itu.

“Benar, mari kita berteman seperti pertama kali kita bertemu, Oppa.”

.

.

Minjoo baru saja keluar dari kamar mandi dan langsung menemukan Baekhyun yang tengah tersenyum melihat hasil foto-foto mereka tadi siang. Itu, foto-foto dari acara ulang tahun Hyunjoo yang ke-lima.

“Ya, kenapa kau melihatnya duluan?” Minjoo memprotes sambil beranjak ke atas kasur mereka, duduk di sebelah Baekhyun. “Tadi kan kau sudah berjanji kalau kita akan melihatnya bersama-sama.”

“Ah,” Baekhyun pun membantu Minjoo membuka selimutnya sambil menarik tubuh gadis itu dengan memeluknya, “Maaf, aku hanya tak sabar melihat hasilnya semua. Sekarang kita lihat bersama-sama, ok?”

Minjoo hanya mendengus sebal sambil membenarkan posisinya menyandar pada Baekhyun. Mencoba merasakan kehangatan Baekhyun yang tak pernah hilang darinya.

“Aku tak sadar bahwa waktu sudah berjalan begitu cepat, Minjoo-ya..” Satu persatu foto itu di lewati mereka, senyuman mengembang serta kehangatan mereka menjadi orang tua menyalur disana. Ah, juga karena tubuh mereka yang saling berdekap seperti itu.

“Baru rasanya kemarin ini aku bertemu pertama kali bertemu denganmu, bermain bersama sebagai anak kecil yang hanya tahu bermain, lalu kita bertengkar karena hal yang tidak pasti..”

“..aku pergi ke London, lalu aku kembali untuk mendapatkanmu, kita bertengkar kembali karena perasaan kita yang tidak jelas, dan pada akhirnya kita benar kembali bersama lagi dengan Hyunjoo di kandunganmu waktu itu.” Tangan Baekhyun yang ikut menggenggam tangan Minjoo sambil memegang foto itu pun membuat kehangatan semakin kentara. Belum lagi ingatan-ingatan itu, yang membuat mereka tersenyum bahagia. “Aku tak percaya ternyata aku sudah selama itu hidup bersamamu. Juga, Hyunjoo sudah tumbuh sebesar sekarang.”

Mereka berdua berhenti pada foto dimana di dalam bingkainya terdapat mereka bertiga. Dengan Hyunjoo di tengah dan Baekhyun serta Minjoo yang mengapitnya.

“Kau sudah menjadi ibu yang hebat, Minjoo-ya.” Baekhyun pun memutar tubuh Minjoo sedikit untuk menghadapnya. Untuk melihatnya dan menatapnya dengan perasaan itu. “Terima kasih sudah menjadi ibu yang hebat untuk Hyunjoo. Juga masih mau bertahan denganku yang kadang masih kurang. Terima kasih untuk selama ini, Minjoo-ya.”

Minjoo juga ikut tersenyum dan menatap Baekhyun bangga, “Kau juga sudah menjadi Ayah yang baik untuk Hyunjoo, Baekhyun. Ingat, kau bilang kata sempurna itu tidak pernah ada tapi kau hanya membutuhkan suatu pelengkap untuk menjadi sempurna.”

“Kau itu pelengkap, jadi kita sempurna. Seperti itu kau untukku.”

Baekhyun mengangguk setuju lalu dia pun menarik tengkuk Minjoo sambil menyatukan bibir mereka. Mencium gadisnya penuh perasaan. Perasaan yang masih sama dari dahulu sampai sekarang. Yang tidak pernah berkurang barang seatom pun.

“Aku sudah bilang, bukan..” Baekhyun melepas ciumannya sebentar, untuk menatap mata Minjoo yang hanya terpaut hidung olehnya. “..kalau aku sangat mencintaimu?”

Minjoo tersenyum gummy sambil mengangguk-angguk kepalanya, “Iya, sudah jutaan kali kau mengatakan itu dan aku masih akan menjawab yang sama setiap kau mengatakannya.”

Baekhyun terdiam, menunggu kelanjutan kata dari Minjoo.

“Aku juga mencintaimu, Byun Baekhyun. Sangat.”

Baekhyun tersenyum semakin lebar lagi lalu dia pun kembali mengecup bibir Minjoo yang selalu menjadi miliknya. Penuh perasaan karena perasaannya menyuruhnya seperti itu.

Ciuman itu sudah semakin panas, Baekhyun memeluk pinggang Minjoo begitu erat serta menarik Minjoo terus padanya. Begitu juga dengan Minjoo, karena Baekhyun terus menariknya, gadis itu juga terus memaksa menyatu dengannya. Intinya, mereka berdua sudah tidak bisa menahannya lagi.

Membuat Baekhyun bergerak untuk menidurkan tubuh Minjoo, mencoba akan mengekspresikan perasaannya lagi, hanya saja..

“Eomma..”

Pintu terbuka dan suara anak kesayangan mereka menginterupsi mereka. Membuat mereka terlonjak kaget sambil saling mendorong tubuh mereka menjauh. Demi Tuhan, jantung mereka mau lepas!

“Eomma.. Appa…” Hyunjoo setengah menguap sambil memegang bantal kesayangannya. Saat itulah, Minjoo dan Baekhyun berharap bahwa bocah kecil itu masih menutup matanya seperti itu saat membuka pintu tadi, “Hyunjoo bermimpi aneh tadi dan Hyunjoo takut..”

Minjoo menelan salivanya sambil masih mencoba menetralisir hatinya yang meledak-ledak di dalam sana. Sedangkan Baekhyun, pria itu sudah duduk sambil menatap anaknya seratus persen—maksudnya supaya tidak menimbulkan kecurigaan.

“A-ah, terus kenapa, Hyunjoo-ya?” tutur Baekhyun.

Hyunjoo pun berjalan lagi, lalu perlahan naik ke atas ranjang mereka. Mengambil posisi dekat Minjoo, juga di antara mereka yang tengah menjauh.

“Aku ingin tidur bersama Appa dan Eomma malam ini.” Meski matanya sudah setengah menutup, tapi Minjoo bisa melihat bahwa sirat ketakutan dari mimpi buruknya ada disana. “Boleh ya?”

Minjoo tahu, pasti saat ini Baekhyun tengah merasa kesal pada anaknya. Maksudnya, sudah pasti dengan apa yang terjadi dengan ciuman itu, Minjoo tahu puncak hormon Baekhyun sedang panas dan dia ingin menyalurkannya pada Minjoo.

“Tentu saja, kau bisa tidur dengan Appa dan Eomma.”

Tapi, masa iya dia setega itu untuk membiarkan anaknya tidak tidur karena mimpi buruknya? Kalau pun Baekhyun akan marah padanya, biar sajalah. Lagipula, sekarang ini Hyunjoo lebih nomor satu dibanding mereka.

“Kau tidur sekarang, ya.. besok kan Hyunjoo harus sekolah pagi..” Minjoo membantu Hyunjoo menidurkan tubuhnya disamping Minjoo. Dari situ juga dia bisa melihat Baekhyun menatapnya dengan tajam, seperti mengatakan; Apa yang kau lakukan? Kita kan sedang akan melakukannya, namun Minjoo menjawabnya dengan melirik-lirik Hyunjoo dengan tajam juga.

Seperti memberitahu ini; Anakmu sedang mengalami mimpi buruk, tapi kau lebih mementingkan nafsumu?! Kau itu seorang Ayah, sialan!

Minjoo bisa lihat bahwa Baekhyun kalah dari peperangannya yang saling bertajam ria. Tentu saja, ia harus kalah. Tidak mungkin kan kalau mereka tetap melakukannya sedangkan Hyunjoo sudah disini.

Karena Baekhyun sudah mengalah, Minjoo pun mencoba untuk menidurkan tubuhnya di samping Hyunjoo. Belum saja sepenuhnya tubuhnya terbaring, dia melihat Baekhyun menghampirinya dan mengecup bibirnya sekilas.

Membuat Minjoo terperanjat dan ingin memaki Baekhyun.

“Itu artinya kau punya hutang satu malam denganku, mengerti?” Baekhyun berbisik sambil membaringkan tubuhnya. Untung saja saat tadi Minjoo melirik ke arah Hyunjoo, bocah itu telah terlelap kembali. Kemungkinannya hanya satu persen jika dia melihat.

“Kau itu gila ya, Byun Baekhyun!?” teriaknya, meski Minjoo tak benar-benar teriak. Bisikannya ia coba buat seperti berteriak.

“Hm, aku gila karena aku mencintaimu.” Baekhyun tersenyum lalu mengacak rambut Minjoo pelan, “Selamat malam, sayang.”

Lalu dia melirik sambil mengecup kening Hyunjoo, yang kemudian Hyunjoo sedikit meringis dalam tidurnya.

“Selamat tidur juga, jagoan Ayah.”

Minjoo tersenyum dengan tingkah manis Baekhyun. Ah, hidup ala kerajaan yang selalu dia impikan memang terwujud ternyata.

“Selama malam, Baekhyun dan Hyunjoo.”

“Dua laki-laki yang paling kucintai di dunia ini.”

 

💑💢❥⚔💑💢❥⚔

“Namamu siapa?”

Seorang gadis kecil, berumur lima tahun-an menghampiri bocah kecil yang sebaya dengannya. Tangannya sudah terulur dan bocah kecil itu pun hanya merespon dengan diam.

“Aku Han Minjoo,” gadis kecil itu menggoyangkan tangannya, tidak sabaran. “Namamu siapa?”

Bocah kecil itu masih terdiam, menatap wajah gadis kecil itu dan tangannya bergantian. Awalnya dia tidak mau menjabatnya, hanya saja tangannya tiba-tiba tergerak untuk terangkat ke atas.

Dan menyambut uluran tangan itu.

“Aku.. Byun Baekhyun.” Ucapnya, “Namaku.. Byun Baekhyun.”

Gadis kecil bernama Minjoo itu mengangguk pelan lalu berjongkok bersama bocah itu. Melihat mainan Baekhyun yang telah berserakan di atas tanah.

“Kau sedang main apa, Baekhyun?”

Baekhyun hanya bergeming, menatap takjub Minjoo dari sebelahnya.

“Kau.. mau main bersamaku?”

Minjoo menoleh lalu mengangguk pelan kepalanya, “Hm, aku mau main bersamamu. Aku baru saja pindah dari Belanda dan aku tidak punya teman disini. Kau mau menjadi teman pertamaku?”

Baekhyun terdiam namun dia menganggukan kepalanya. Membuat Minjoo tersenyum lebar lalu mengambil mainan di hadapannya.

“Ah,” Tapi, tiba-tiba saja Minjoo menghentikan pergerakannya. “Kuralat, bagaimana kalau kau menjadi temanku untuk selamanya? Aku tidak ingin teman siapa-siapa lagi dan cukup hanya kau.”

“Bagaimana, Baekhyun-ah?”

Baekhyun berkedip dan entah kenapa ada perasaan bahagia terselip di hatinya. Bocah kecil itu kaget, ini kali pertamanya bertemu gadis kecil itu namun gadis kecil itu sudah mau bermain dan mempercayakannya menjadi temannya.

“Kau yakin.. Minjoo-ya?” suara Baekhyun terdengar ragu, “Ini kali pertamanya kita bertemu, apa kau percaya bahwa aku bisa menjadi teman-selamanya dirimu?”

Minjoo terdiam sambil berpikir, “Aku percaya saja, karena kau tidak menolak untuk menjadi teman pertamaku.” Minjoo mempoutkan bibirnya dan menatap Baekhyun lagi, “Biasanya orang-orang tidak suka menjadi teman pertamaku, jadi kau yang pertama.”

Baekhyun mengangguk-angguk mengerti, meski sebenarnya dia tidak benar-benar mengerti dengan maksud Minjoo.

“Jadi.. kau mau menjadi temanku untuk selamanya?”

Baekhyun terdiam sebentar, berpikir.

Namun, pada akhirnya pria itu pun tersenyum dan menatap Minjoo.

“Aku mau, Minjoo-ya.”

“Aku mau, jadi teman-selamanya untukmu.”

💑💢❥⚔💑💢❥⚔

 

❣❣❣THE END❣❣❣

Lemme put a Q&A in here okay! To make you more understand what Ive been write all this time.
Q: Apa yang sebenarnya membuat Minjoo sama Baekhyun bertengkar?
A: Salah paham mereka aja, yang Baekhyun mengira Minjoo sukanya sama Luhan and either in the opposite way too, Minjoo pikir Baekhyun suka sama Hyojoo, kakaknya. Dari situlah mereka bertengkar.
Q: Baekhyun pergi ke London karena dia bertengkar sama Minjoo, begitu?
A: Nope, it is fully because he is continuing his education in London. But, yes he left in the wrong time.
Q: Hyunjoo itu namanya berdasarkan apa?
A: If you are a really-hard-shipper for this imagination couple, you don’t need my answer too fulfill your curiosity^^
I can only answer this 3 question, the question also came in comments box from the previous chapter so I’ll just make it right on the way.
Firstly, I would like to send my apology to you guys, yang udah nungguin ini berhari-hari. Huhu, mianhaeyo T.T aku seminggu lalu benar-benar sibuk (pakai banget) sampai kalau pulang cuman bisa langsung tidur aja. /curhat ya ekye/ huhu maaf ya yang udah ngedirect message di ig and also ngecomment terus di prev chapter untuk segera lanjutin T.T
Secondly, I would like to send my grateful, thanks.. to all of you guys, each by each. Makasih banget selama ini sudah dukung aku untuk karya ini!! Aku pikir this fanfics were such a waste and this was just a trash to be posted but you guys make me feel touched by saying this fanfics was so great! Makasih banget loh, rasanya kupingin kecup kalian satu-satu pake bibir Baekhyun deh T.T ❤
Thirdly, this is the announcement. This is the announcement that my status as a writer will be on HIATUS mode. Neomu mianhaeyo T.T Aku benar-benar ngga bisa menulis di saat aku menjalankan rutinitasku di kehidupan nyataku karena aku super busy kalau udah masuk kampus /so sibuk lo thor/. Maaf ya, btw karena aku udah sering begini, jadi aku ingatkan aja kalau aku cuman bisa menulis saat aku libur. Which is, project ku itu hanya ada di bulan Januari-Februari or Jule-August or December. Sekitaran bulan itu aja, tapi kalau untuk Jule-August mungkin tidak pasti.
Sekali lagi, I would like to send my thanks to all of you guys. Makasih banget untuk dukungan kalian selama ini. Maaf kalau aku pernah ada salah kata atau fanficku ini tidak memuaskan kalian. Maaf juga kalau tidak sesuai dengan yang kalian harapkan. Kalau cara penulisanku salah, mohon di maaf juga tapi ya memang seperti itu gaya penulisanku. But, terima kasih intinya. Aku benar-benar terima kasih sama kalian!
Ah! If you miss me, many times ive repeat, u can contact me via instagram: @byeonieb or twitter: @baekxlu. Tapi aku gayakin sih kalian bakal kangen LOL.
Ok, this is too long and I’m so bacot. Kkeut, see you really..really.. soon!^^

 

Processed with VSCO with a10 preset

Don’t ever forget the truth that I was by your side
Don’t erase my heart that could sacrifice everything for you
For You by Chen,Baekhyun,Xiumin

-Baek’s sooner to be wife-

Advertisements

91 responses to “I Married To My Enemy [X] #END -by ByeonieB

  1. the end yehet~~
    Happy ending is the sweet ending and it just too sweet loved it so muchhh
    Makin cinta baekhyunnnnn oh iya tor sebelum hiatus bikin ficlet dong hahaha sumpah deh pasti entar bgt sama tulisan kk
    Ga rela sih kk hiatus, tapi semangat yaa!!!
    I would like to waiting your post in the next day
    Then make some ficlet for us!
    Figthing!!!

  2. Can i say somethine about these story?
    Whenever these was the short story that i read, but these are the SWEETEST & BEST EVER!
    Yaampun, ak baca hampir mau terharu liat Hyunjoo, Baekhyun and Minjoo
    Ini bener2 bagus banget ku saranin jadi novel ^^ pas banget kelar baca ini sama lagunya ‘Christina Perri yg A Thousan Year’ jadi pas baca ending nya dapet banget.
    As always, keep write and figthing for another stories ya ><

  3. HUAAAAA DAEBAK BANGET

    ENDING NGA BEST❣❣
    Bakal masuk daftar req fanfic nih
    Thanks ya thor ydh kasih cerita yg bagus bngt buat dibaca😍✌🏻️

  4. Endingnya bikin melayang.
    terima kasih banyak kak sudah bikin ff yang keren kyk gini, terus semangat , dan ditunggu next projectnya 😍😘❤❤

  5. aaaa the end!perfect! baekhyun minjoo ku akhirnya bahagiaaaa.. semua nya juga bahagiaa, tpi bsa ga sih ilangin sifat byuntae nya baekhyun?wkwkw tpi gapapa itu sweet bgt aku sukaaaaa!
    Sampai bertemu di next project byeonieB!

  6. Aigoo manisnya hyunjoo-baekhyun-minjoo ^^ senang deh akhirnya mereka semua bahagia hihihi tapi masih belum rela pisah dengan couple ini hufff. aku heran kok anak sehun-yubi udah besar aja yaa sedangkan hyojoo masih hamil wkwkwk sehun ngebet banget kayaknya kekekeke..
    liat nama Han Jooeun jadi kangen minhyun apa kabar yaa?? lanjutin ‘the sun’ dong kak..
    ditunggu ff terbaru yg semakin menarik ya kak ^^ fighting!!

  7. Ahhhhh senenggg banget akhirnya ff ini update jugaaa selalu suka banget sama ff kakak ceritanyaa lucuu daper banget imaginenyaㅋㅋㅋ semangat kaa kuliahnya✊ cepet comeback nya jadi authornya aku tunggu ff selanjutnyaaa💕👍

  8. Huaaaa 😂 keren banget endingnya. Feel nya bener bener berasa banget. Mereka so sweet banget sih. Gemes banget. Bisa gk sih si baekhyun di bawa pulang. Dia so sweet banget 😆. Sedih author mau hiatus. Tapi gk pp lah. Semangat kuliah nya 😇😊

  9. Udh endd
    Huhuhu
    Ini ff selalu datang tepat aku sukaaa bengetttt
    Akhirnya merekaaaa happy ending
    Kirain anaknya cewe
    Aku masih greget ajaa a
    Aku tunggu ff selanjutnya
    Fighting

  10. ah udah mantengin tiap hari akhirnya di update ending pula kyaaaaaaaaaaa baekhyun terlalu manis mulutnya berbagai kalimat cheesy yang keluar dari mulut baekhyun uuhhh menggemaskan sok imut deh baek pake manja sama minjoo pas di rumah sakit, weh aku suka itu part yang baekhyun nyapa anaknya. aku kira awalnya hyunjoo itu cewe ternyata cowo hehehe… aih luhan dah ada anaknya aja padahal wktu itu kan minjoo udah hamil trus sehun sama yubi juga dah kenapa anak mereka seumuran sama hyunjoo berrti mereka cepet amat hamil sama lahirnya ya wkwkwk baek kelewat hafal kalau minjoo marah ya sampai di itung tiap tahapnya uh sweet amat sampai hapal hal sesepele itu. wah hyojoo aja anaknya masih belum lahir btw jieun itu siapa ko hyunjoo bilang dia udah bosen mainnya cuma sama jieun doang? okok kakak aku bakal kangen sama tulisan kakak semangat buat kuliah kakak ya dan ini happy ending kusuka sangat suka wkwkwk lope kakak author😍😍😍😍😍

  11. aduh baca ini jadi senyum” sendiri.. Ending yg manis.. mereka bisa jadi keluarga bahagia.. udah nglewatin banyak masalah tpi kalo akhirnya gini aku juga mau…

    huwwwaaa.. the best dech pokoknya..

  12. ENDing nya keren thor👍🏻 Btw, thor ini ending terbagus yg pernah ku baca lho thor… yah kok hiatus sih thor? Tapi gpp lah. Ditunggu project barunya lho thor 😬 Semoga ini ff byk yang baca ya thor^^ ini ff yg chapternya terdikit tapi ini ff terkeren yang pernah ku baca. Thanks buat karya2nya ya thor. Ditunggu karya terbarunya lho thor😄😄

  13. Haaaahhjh endingnya kereeen ya ampuuuunn ^O^
    Ditunggu karya hebat selanjutnya ~^O^~ keep fighting └(^o^)┘↖(^▽^)↗

  14. Mati gue mati!! Diabetes akut nihh gegara Baek-_-
    The sweetest I’ve ever felt, see you soon. Thanks for best ending. Selamat menikmati hiatus mode ka, ditunggu banget next project yaww^^

  15. yah udah end 😦 bakal lama lg nih baca karya author selanjutnya ckckck
    untungnya semuanya happy ending, jadi kan seneng semua tuh, kalo ada epilog di bikin special chapter dong wkwk pengen tau juga anaknya minjoo baehyun kyk apa gitu
    aku tunggu karya selanjutnya ya 🙂 semangat buat author!

  16. Diabet akur ini mah klo baca,, manis bgt aih baekhyun utukutuk,, smua terasa sempurna ye kan eaakk,, btw hyunjoo ni laki kan?,, berharap ada seriesnya nih buat kelanjutan hidup mreka

  17. Ahhh baper karna happy end,-, semua kata²nya manis bnget smpe bener² baper /aing lebay ah/ pkoknya mkasih bngett buat author yg mnyiptain ff ini, dri awal smpe akhir bner2 kren 👍 TERBAIK

    di follback ig: @aisyah17_xx tweeter: @aisyahoctavi1

  18. happy ending, petcaah pokoknya 😂
    baca ff ini pasti selalu dan selalu netesin air mata 😢
    nyampe banget ke hati huhu
    gak ada ff yg ditungguin lagi deh sekarang..

  19. Such a sweet ending kak, thankyou bikin mereka nyatu dan setiap cast dapet jodoh masing2 (lah gw kpn???) Btw aku tunggu karya2 selanjutnya kak, fighting

  20. Worth my time sih yaaa💞💞💞💞 I’m not good with word, but i know i love this fanfiction💞💞💞(?)
    Thankyou ya buat this super niceeeee fanfiction❤️ Goodluck buat kuliahnya ya byeonieeeeeee☺️☺️

  21. And finally it has been ended and happy ending OMO!! Yak aku bahagiaaa, I really dont know what will to say to this ff 😦 actually I was fallin to this ff (indeed baekhyun for the main cast of course haha) ya engga juga sih, tapi more domain._. Halah on the other side, aku suka banget nget sama tulisan ByoenieB, from alurnya, gaya bahasa, cerita yang bikin readers got the emotional and somethin unpredictable on her ff entahlah aku ga bosen aja dari judul sebelum ini kayak The Sun yang bikin aku floods of tears, The Day yg ga kalah bikin emosi hff mungkin udah terlalu suka kali ya wkwk and from now on I’ll waitin for next ff project (for really!) yah walaupun ampe desember gapapa dah, ku tetap menunggu kok :” kalau bisa sih req yg marriage life lagi ya hihi gatau kenapa suka sama genre ini, lebih dalem aja gitu sampai ke hati(?) pokoknya keep writing and fighting deh buat ByoenieB and as usual kecup jauh authornim 💋💋 see u very very soon! Pai pai~

  22. Huh. Hela napas. Syukurlah semuanya berakhir bahagia. Baek manis banget sumpah. Aku terbang bacanya.

    Cieeee. Yang nulis romantis banget si. Sini peluk. Mumumumu 😘 ditunggu karya lainnya.

  23. Annyeong byeonie onnie~ hehe aku pertama-tama mau minta izin karena aku mau baca dari awal sampe akhir dlu, baru komen per chapter. oke unnie ? ^0^ aku udh baca ini smpe bbrp chapter dan aku lupa lg. karena lg jarang buka SKFF hehe~ dan aku juga ijin copy ke word biar aku bsa baca pas offline … aku janji aku gk akan plagiat, karena aku gk berniat buat FF atau semacamnya ^^ oke onni? gomawoyo~ Keep Writing and Hwaiting!

  24. Yah udah main ‘THE END’ aja.. padahal kyknya baru kemarin aku baca chapter 1-nya, baru kemarin ikutan nangis karena ikutan baper, baru kemarin ikut senyum2 sendiri cuma baca ff ini huhuhuhu.. i’ll miss that moments.. bakalan kangen Baek-Joo couple.. i’ll wait for your next project author-nim.. see you soon..

    • salam kenal, saya ingin bertanya bagiman ya mendapatkan password untuk membuka ff, di bog ini, tolong beritahu saya melalui nomo 085789732742, terimakasih sebelumnya. 🙂

  25. Baek yg jahil, gombal dan super romantis bikin meleleh duuuh
    Over all, the best ending 👍
    Bahkan dri first chapter pun udah bener2 memainkan emosi
    Bikin hatiku cenat cenut gak jelas 😂
    Thanks for making this ff authornim, Great job 👍

    • salam kenal, saya ingin bertanya bagiman ya mendapatkan password untuk membuka ff, di bog ini, tolong beritahu saya melalui nomo 085789732742, terimakasih sebelumnya. 🙂

  26. And HAPPYENDING!! Yeiyy~ hahaha jadi Yubi ma sehun lebih dulu punya anak dari chanyeol ma hyojoo,huaaah sehun daebak! Hehehe endingnya memuaskan! Gomawo thor~ and semangat ngejalanin rutinatasnya eo! SARANGHAJA!!!

  27. Aaaa… kereeeennnn… anak cowok.. hyunjoo… kmaren minhyun… anak2 yang lucu hyunjoo dengan minhyun… aku suka bgt ini… wahh.

  28. Ah! Udah dari awal aku speechless sama ff ini. Kenapa? Karena kegilaan couple kita itu. Karena geregetan sama cast”nya. Karena dibuat mikir ribet. Karena harus baper. Karena bikin nangis. Dan karena terlalu manis. Kwkw.

    Akhirnya happy ending. Udah pasangsurut dilalui. Huh, ikutan lelah. Haha.

    Makasih banyak. Semangat kuliahnya. Dan minta doa dari Kakak ya, semoga UNBK ku tgl 10 April besok bisa sukses, lancar, dan hasilnya bagus. Hihi.

    Yeogineun
    Dikanasly (:

  29. Maaf banget komentarnya longkap banyak😂😂 tb” paketan abis. Udh di buja semua gabisa komen😂😂
    Jd aku mau bilang kalo ff ini superdupeerrr keren.
    Jd pengen nulis😁

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s