Every Story has a Happy Ending [1/2]

16465260_386636305035364_1853332826934476800_n

a story

by pramudiaah

(Backsound: David Archuleta – A Little Too Not Over You)

Aku tahu ini tidak benar, tapi aku memang sedang menunggu Oh Sehun. Aku berharap ia akan kembali.

***

Aku melangkah masuk dengan hati-hati. Suara musik yang lumayan kencang langsung menyambut runguku. Suasana di dalam ruangan ini ramai sekali—yeah, persis seperti yang sudah kuduga, sih. Kupikir tempat ini semacam restoran, awalnya, namun aku lebih memilih menyebutnya seperti bar. Bau alkohol menguar di mana-mana dan aku tidak menyukainya.

Aku tidak menyukai tempat ini.

Seharusnya aku tidak mengiyakan ajakan Yoon Sohee untuk menghadiri acara reuni ini. Harusnya aku bergelung saja di bawah selimut, dan bukannya tiba di tempat ini pukul tujuh tepat. Harusnya aku sudah mengenakan piyama beruang favoritku dan bukannya dress selutut berwarna pastel ini. Oh, ya ampun, soal rambut ini, aku perlu menyisirnya sepuluh kali untuk membuatnya terlihat normal, asal kau tahu. Dan jangan tanya soal riasan di wajahku, karena aku sungguh amatir soal make up, jadi aku menggunakan jasa sahabatku secara cuma-cuma (sebenarnya, aku tidak perlu membanggakan hal ini, sih).

Well, kualihkan pandanganku ke sekeliling, mencoba mencari sesosok manusia yang mungkin kukenal. Lalu, sekumpulan orang yang berkerumun di dekat meja panjang di tengah ruangan berhasil menarik perhatianku. Setelah kuamati satu per satu, kupikir mereka memang orang-orang yang pernah kukenal tujuh tahun lalu.

Aku menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan.

Sungguh, ini tidak akan mudah. Bertemu untuk pertama kali setelah tujuh tahun tidak saling berjumpa tentu akan menempatkanmu pada situasi yang tak nyaman, canggung, akward, dan semuanya. Mereka akan menanyakan apa pekerjaanmu, siapa pacarmu, bagaimana kehidupanmu, dan mereka akan sangat ingin tahu. Percayalah.

Begini, aku lulus kuliah tiga tahun silam, dua tahun setelahnya aku menganggur—aku sempat putus asa dan berpikir untuk bunuh diri saja (tapi bunuh diri adalah hal paling tidak keren dalam kamus hidupku, jadi aku membuang niat itu jauh-jauh), sampai akhirnya tahun lalu, seseorang menawarkan pekerjaan yang sangat kuinginkan. Yeah, menulis dongeng anak-anak. Kendati hanya penulis lepas, tetapi bayarannya lumayan.

Jadi, maksudku, aku tidak punya rumah atau mobil mewah yang bisa kubanggakan pada mereka—yang pernah kusebut teman tujuh tahun lalu. Aku tidak punya kisah asmara yang bisa kuceritakan atau pun pengalaman kerja luar biasa yang bisa kubagi, dan percayalah, hidupku bukan apa-apa.

Aku melanjutkan langkah mendekati kerumunan itu. Kuayun kedua kakiku dengan hati-hati; berusaha untuk tidak menarik perhatian. Darahku mendesir dan nyaliku menciut seiring dengan langkahku yang semakin dekat ke arah mereka.

“Hei, Kim Hyunji!”

Seketika aku berhenti melangkah.

Oh, sial. Kenapa aku harus merasa seperti maling yang baru saja tertangkap basah, sih?

Aku berusaha tersenyum pada wanita yang baru saja meneriakkan namaku. Dan tanpa kusadari, semua pasang mata kini sudah beralih memandangku.

Memang, aku dulu cukup populer. Aku tidak bohong. Aku dulu sangat cantik dan lumayan pintar—serius, aku tidak sedang mengada-ada. Tapi kini aku tidak hidup seperti itu. Aku pernah menjadi seorang yang pengangguran dan penampilan bagiku bukan lagi yang nomor satu. Aku hidup serampangan dengan rambut bergelombangku yang sulit diatur. Kalian harus percaya kalau hidup manusia memiliki rodanya masing-masing. Dan barangkali, aku sedang berada di posisi yang paling bawah.

Jadi, pasti mereka bertanya-tanya apa yang sudah terjadi padaku selama tujuh tahun belakangan.

Seharusnya kuteriakkan pada mereka semua, “Hidup ini sungguh berat, kawan.” Tetapi yang kulakukan malah tersenyum seraya menyapa mereka.

“Sudah lama, ya, tidak bertemu. Bukankah… tujuh tahun?” Aku memamerkan senyuman terbaikku. Namun kalian harus tahu, ini canggung sekali.

Yeah, tentu saja, dan aku tidak percaya aku masih bisa mengingatmu,” celetuk pria berkemeja biru di tengah kerumunan.

Well, akan kuanggap ia hanya bercanda. Aku lantas tergelak, sembari mengingat-ingat siapa namanya.

“Kupikir kau tidak akan datang, seperti sebelum-sebelumnya,” Sahut wanita di sebelah pria tadi.

Kali ini otakku berputar sejenak untuk mencari alasan. “Ah, soal itu,” Aku mencoba untuk tertawa ringan. “Sayang sekali, aku selalu berada di luar kota saat acara seperti ini diadakan. Harusnya kalian menghubungiku lebih awal,” jawabku sekadarnya. Entahlah, aku tidak bisa memikirkan alasan lain.

“Yang benar saja! Kau selalu berada di luar kota setiap tahun?” Sahut yang lain.

Lagi-lagi aku hanya tertawa canggung. “Yeah, begitulah. Aku harus mengunjungi ibuku di Busan,” balasku lagi. Kuharap mereka tak akan membuat masalah ini menjadi lebih panjang.

Sebagian mengeluh tidak puas akan jawabanku, sebagian lagi tidak peduli. Tapi lebih dari itu, aku bisa menarik napas lega sekarang. Semua orang tampak kembali sibuk dengan aktivitas mereka semula. Ada yang melanjutkan mengobrol, dan ada beberapa orang yang turun ke lantai dansa. Mereka kemudian memutar lagu Here’s to Never Growing Up milik Avril Lavigne dan suasana tampak lebih meriah dari sebelumnya.

Aku kemudian kembali merajut langkah, berusaha menemukan sosok yang familier—untuk sekadar kuajak mengobrol atau semacamnya. Tapi beberapa saat pandanganku berkelana, tidak kunjung juga kutemukan orang-orang yang sempat akrab denganku di masa lalu. Semua orang tampak asing dan aku hanya menyapa untuk formalitas. Padahal demi Tuhan, aku tidak ingat nama mereka. Uh, aku pasti menjadi teman yang kejam; karena seharusnya aku mengingat mereka.

Aku menyerah, dan memutuskan untuk melihat salah seorang bartender melakukan aksinya. Aku sempat terpukau dengan cara laki-laki itu mencampur minuman yang satu dengan minuman yang lain. Aku tergoda untuk mencicipi minuman berwarna cokelat yang kuduga mengandung alkohol itu, tapi—oh, sadarlah, Kim Hyunji!

Aku tidak boleh mabuk malam ini. Tapi warna minuman itu sungguh menggoda. Aku tidak bohong.

Aku mendudukkan diri di hadapan laki-laki itu, lalu mengetukkan jariku di atas meja panjang di hadapanku. “Permisi.”

“Ya, Nona? Segelas wine?” tawarnya.

“Huh?” aku mengerjap. Lalu setelah berpikir sebentar, aku kembali membuka mulutku. “Ah, tidak. Apa kau punya jus jeruk?” lanjutku sambil meringis.

Laki-laki itu tergelak sejenak. “Maaf, Nona, tapi kami tidak menyediakan yang seperti itu di sini.”

“Oh, begitu.” Aku manggut-manggut kecewa. Aku kan, tidak boleh mabuk malam ini. “Ya sudah, air mineral saja,” ujarku kemudian.

“Baiklah,” balas laki-laki itu sambil tersenyum.

Aku meringis lagi. “Thankyou.”

My pleasure.” Laki-laki itu kembali tersenyum, lalu menghilang dari posisinya barang sejenak, sebelum kemudian kembali dengan segelas air putih di tangan.

Aku membalas perlakuan itu dengan memamerkan senyuman di wajah. Tidak kuduga ia ramah sekali.

Saat laki-laki itu kembali sibuk dengan pekerjaannya, aku pun memindai pandanganku ke sekitar. Harusnya ia berada di tempat ini. Ya, sama sepertiku, seharusnya seseorang itu juga menghadiri acara reuni ini. Seharusnya begitu.

Aku menghela napas, lalu tergelak tak percaya; menertawakan diri sendiri. Aku tidak menyangka rasa rindu itu masih tersisa bahkan setelah tujuh tahun kami berpisah. Hei, ini sudah tujuh tahun dan kau masih merindukan mantan pacarmu?

Aku tertawa lagi.

Aku hendak meneguk minumanku saat kurasakan seseorang menahan pergelangan tanganku. Refleks aku menoleh ke sisi kiri, dan aku menemukan pria yang tak kukenal di sana. Aku lantas menarik tanganku darinya.

“Apa kau sedang minum soju? Oh ayolah, ini bar mewah dan tidak seharusnya kau meminum itu disini, Nona,” ujarnya tiba-tiba. “Harusnya kau pilih wine atau vodka. Apa kau mau mencoba punyaku?” Pria itu mengacungkan gelasnya yang berisi minuman.

Aku serta merta menjauh begitu menyadari bau alkohol yang menguar darinya. Pria aneh ini pasti sedang mabuk.

“Maaf, Tuan, tapi ini air mineral dan aku tidak berniat mabuk hari ini,” balasku berusaha sopan. Aku hendak pergi, namun pria itu mencengkeram tanganku. Membuatku terkejut bukan main.

“Memangnya kenapa kau tidak mau mabuk? Apa kau tidak punya pacar yang akan mengantarmu pulang?” Pria itu tersenyum mengerikan. “Kalau begitu, minumlah bersamaku dan aku akan mengantarmu pulang,” ujarnya lagi.

Aku berdigik. Jelas-jelas pria ini mabuk berat.

“Maaf, aku tidak bisa.” Aku mengempaskan tangannya dengan kasar. Namun pria itu dengan cepat meraih pinggangku. Sialan.

“Berengsek! Lepaskan aku!” umpatku, seraya berusaha melepaskan diri. Tapi pria bertubuh tinggi ini terlalu kuat.

Aku berusaha meminta pertolongan ke sekitar. Namun semua orang tampak sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Aku berniat menampar pria ini karena ia dengan lancangnya memelukku. Tetapi sebelum aku sempat melakukan itu, seseorang menarik tubuhku menjauh dari pria berengsek tadi. Aku harus mengucapkan banyak terimakasih untuk hal ini.

“Apa ini hobimu barumu, Kang Woo Il? Mengganggu pacar orang?” pria yang menolongku tadi bersuara.

Aku menoleh ke arahnya, berniat protes soal ‘pacar’ yang pria itu maksud. Namun serta merta mulutku terkatup kembali. Mataku membola dan jantungku seperti berhenti berdetak untuk sepersekian detik. Tahu-tahu, rahangku sudah jatuh sekian senti dan aku hampir lupa untuk memungutnya kembali.

Pria dengan setelah tuxedo berwarna hitam ini; aku tidak mungkin melupakan sosoknya. Tubuh jangkungnya, bahu lebarnya, rahang tegasnya; aku selalu gagal melupakan sosoknya selama tujuh tahun belakangan. Jadi, aku tidak mungkin tidak mengenalnya.

Oh Sehun.

“Jadi, dia pacarmu?” Pria berengsek tadi bertanya dengan nada sinis.

“Ya, anggap saja begitu,” balas pria di sebelahku.

Aku masih belum bisa berhenti mengamati sosoknya. Kurasa ia tumbuh menjadi lebih tinggi dari yang terakhir kuingat. Karena dulu tinggiku sejajar dengan telinganya, dan sekarang aku hanya setinggi dagunya—padahal aku menggunakan sepatu high heelsApakah ini adil?

“Oh Sehun?” Aku tidak berkedip memandangnya. Ya Tuhan, bisakah Kau menghentikan waktu tiga puluh detik saja? Atau kalau tidak, lima belas detik. Oh, bukan, lima detik saja. Bolehkah?

“Ah,” ia tersenyum sekadarnya. “Si Berengsek tadi sudah pergi,” lanjutnya lagi.

“Eh?” aku lantas tersadar. Lalu mengalihkan pandanganku ke sekitar, dan aku tidak menemukan keberadaan pria berengsek tadi. “Oh, terimakasih,” ujarku kemudian. Aku berusaha terlihat biasa saja.

Yeah, kau memang harus berterimakasih untuk itu,” balasnya dengan nada setengah bercanda. Setelahnya ia tergelak. Dan mau tidak mau aku ikut tertular tawanya.

“Seharusnya kau tidak perlu menyebutku sebagai pacarmu, tadi,” ujarku kemudian. Tiba-tiba, aku merasakan suasana canggung itu lagi.

“Apa kau keberatan?” tanyanya.

“Ah, bukan begitu,” balasku langsung.

“Jadi?”

“Itu.. hanya saja.. aku.. umm..” Aku berpikir super keras untuk menemukan jawaban yang tepat.

Dan tiba-tiba saja ia tertawa. Lagi-lagi jantungku berdebar kencang sekali.

Hahahaha. Kim Hyunji, kau tidak berubah sama sekali.” Ia berbicara di sela tawanya.

Ia tertawa lepas seolah kami memang teman lama yang baru berjumpa lagi setelah sekian tahun—seperti kawan lama yang memiliki masa lalu bahagia, dan bukannya dua sejoli yang pernah menjalin kisah namun kandas di tengah jalan. Ya. Oh Sehun membuatnya terlihat seperti itu.

“Oh, omong-omong, bagaimana kabarmu?” tanyanya kemudian.

Hmm?” Aku tak terlalu siap dengan pertanyaannya. Aku kemudian mengedikkan bahu; mencoba untuk terlihat normal. “Seperti yang kau lihat,” balasku.

Well, biar kutebak,” Sehun meletakkan tangannya di dagu, lalu menampilkan raut wajah berpikir (gestur tubuh yang sering ia lakukan dulu). “Kim Hyunji. Dua puluh lima tahun. Single,” diktenya.

Aku refleks tersenyum lebar. Aku tidak menyangka ia masih bisa melakukannya; dengan mudah membaca diriku layaknya sebuah buku.

Aku juga tidak mau kalah. Aku melakukan gestur yang sama seperti yang ia lakukan tadi. “Oh Sehun. Dua puluh lima tahun—” aku menghentikan kalimatku sejenak, lalu melanjutkannya dengan sedikit tak yakin. “—single.”

Sehun tertawa. Aku tidak mengerti apa maksudnya, sungguh. Apakah aku baru saja melakukan kesalahan?

“Kau lucu sekali,” ujarnya, lalu mengacak rambutku.

Tidak. Ia tidak bisa melakukannya. Ini tidak baik untuk kesehatan jantungku. Aku tidak mau mati muda karena serangan jantung dan—

—dan Sehun tidak boleh melupakan fakta bahwa kami putus dengan cara yang tidak baik di masa lalu. Ia tidak boleh melupakannya.

Aku berdehem, berusaha menguasai diri. “Dan kau tidak pernah berubah, Oh Sehun,” ujarku. “Kecuali tubuh jangkungmu yang makin tinggi,” tambahku lagi.

Ia kemudian tertawa. Tunggu, apakah tertawa sekarang adalah hobi barunya?

“Oh ayolah, ini ulah hormon di masa puberku. Kau harusnya tahu betul soal itu,” balasnya dengan nada bercanda.

Aku terdiam. Aku tidak bisa melepaskan pandangan darinya. Matanya yang menyipit ketika tersenyum; aku tidak bisa melewatkan wajah tampan itu begitu saja. Meski jauh di dasar hati, aku merasa bahwa hal ini salah. Seharusnya, aku tidak melakukannya. Seharusnya aku menuntut sebuah penjelasan darinya.

“Sehun..”

Aku memanggil namanya. Aku sudah kembali duduk di tempatku tadi, dan kini Sehun berada tepat di sampingku.

“Ya?” tanyanya kemudian, terlihat penasaran.

Aku ingin membuka obrolan terkait masa lalu, namun aku tidak punya ide harus memulai dari mana. Dan, aku tidak memiliki keberanian.

“Itu soal..” Aku masih memilah-milah kata yang tepat untuk memulainya, dan kulihat ia menanti jawabanku dengan sabar. “Itu.. soal tujuh tahun yang lalu—”

Kalimatku terputus saat kulihat Sehun menjawab sebuah panggilan di ponselnya. “Ya?” Ia tampak terkejut setelah berbicara dengan seseorang di seberang telepon. “Baik, saya akan segera kesana.”

Aku tidak tahu apa yang sedang terjadi. Semuanya terjadi kepalang cepat. Sehun berpamitan untuk pergi dan ia berlalu dengan tergesa-gesa. Meninggalkanku. Aku bahkan tidak sempat mengucapkan selamat tinggal dan—

—dan aku kehabisan waktu.

Aku tidak sempat menanyakan kabarnya, bagaimana kehidupannya, siapa pacar barunya—atau mungkin istrinya, dan lebih dari itu, aku tidak sempat menjelaskan kesalahpahaman yang terjadi di masa lalu. Aku kehabisan waktu, dan mungkin aku tidak akan pernah memiliki kesempatan yang lain lagi.

Malam semakin larut. Beberapa orang tampak meninggalkan ruangan untuk bergegas pulang. Namun aku masih enggan beranjak dari posisiku. Aku tahu ini tidak benar, tapi aku memang sedang menunggu Oh Sehun. Aku berharap ia akan kembali.

Tapi ia tidak pernah muncul.

.

.

to be continued.

 

Advertisements

29 responses to “Every Story has a Happy Ending [1/2]

  1. Pingback: Every Story has a Happy Ending [2/2] | SAY KOREAN FANFICTION·

  2. lah daku shock ada update an dari kak diah, kaya biasanya ff kakak keren, lagi pengen baca cerita yang ringan gitu eeee ff ini nongol, ngepas banget.. ya lagi lagi mantan lagi lagi mantan, mupon memang suatu hal yang susah dilakukan ya hahahaha… yuk kak nexttt, jangan lama2 😀

  3. Penasaran sama cerita masa lalu mereka. Aku sering denger author pramudia ini. Hehehe. Izin baca ya kak. Salam kenal dan selamat menulis 🙂

  4. Yey pramudiaah update ff lagi….
    saya sukaaa. ..
    kamu salah satu author favorit ku,
    lamaaa banget gk baca ff mu..
    huaaa penasaran masa lalu nya mereka..

  5. As expected. Jempol buat mbak pramudiah. Aku emang gak kenal sama Mbak tapi aku kenal dengan tulisannya. Dan aku belum banyak membaca karya2 mbak tapi aku ngerasa tulisan Mbak sangat menarik untuk membaca. Pas banget kalo bikin orang ornasaran. Terus terang aku suka baca tulisan yang tidak banyak menggunakan istilah-istilah aneh yang bikin lieur dan sepertinya di KBBS ohn nggak ada. Hoho maaf bukannya bermaksud menyinggung author lain tapi yah tiap-tiap orang pasti berbeda-beda preference-nya. Semangat nulis ya Mbak, aku suka banget sama tulisan Mbak. 🙂

  6. Wawww baca update dari mba Diah.. setelah sekian lama
    Jujur kangen sama tulisannya yg keren
    BTW hyunji ada salah apa sama sehun
    Apa sehun sudah punya pacar atau istri mungkin
    But next aja

  7. Pramudiaah, welcome back hehehe…
    Uda lama bgt ampe lupa dulu ff nya apaan hehehe tp namanya msh inget 😁😁😁

  8. hai hai Diah..
    duh maap sksd hahaha
    balik lagi ya stlh skian lama
    aku menunggu~ *malah nyanyi
    yook.. mangats. .
    btw capcus chap brikutx *maap ga komen ceritax

  9. Wah pramudiah comeback lagi…
    Tp kyknya cm sebentar2 aja nih hihii
    Kangen loh sm karya2 ff km #authorfavorit soalnya# 😉

    Oy sebelumnya pernah bikin ff yg cashnya sehun juga kan ya..?? yg kolaborasi sm author sebelah saya lupa judulnya apa haha soalnya udh lama bgt tuh 😁 kira2 ada lanjutanya nggak tuh #mulaikepo# nih 😂

  10. ijin bc ya authornim,wah…..daebak bikin jantungku deg-deg an juga,knp ya sehun memutuskn hyunji tanpa alasan dan sebeb y jelas,

  11. Suka seneng kalo baca ff yg penulisannya rapi kaya gini 👍👍 Jadi penasaran ada hubungan apa Hyunji sama Sehun ada hubungan apa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s