Every Story has a Happy Ending [2/2]

16465397_943455695787809_8033111744433881088_n

a story

by pramudiaah

(Song: A Rocket To The Moon – Like We Used to)

Sebelumnya: [1]

Aku terlalu sibuk bernostalgia sampai-sampai aku mengabaikan keberadaannya untuk beberapa saat.

***

Hidup sendiri artinya adalah kau benar-benar harus mandiri. Mulai dari membereskan seisi flat, mencuci, belanja, memasak, bahkan membuang sampah pun adalah pekerjaan yang harus kau lakukan sendirian.

Well, itu tak pernah jadi masalah buatku karena aku sudah terbiasa tinggal sendiri di Seoul bahkan sejak masih kuliah. Dan, yeah, aku biasa pergi kemana-mana sendirian, termasuk urusan belanja ke swalayan.

Siang itu cuaca terik sekali saat aku membuka lemari es dan tak menemukan satu pun bahan makanan tersisa di sana. Oh, ya ampun, aku lupa kalau aku belum belanja keperluan dapur selama satu bulan belakangan. Aku pasti terlalu sibuk dengan pekerjaanku sebagai penulis dongeng anak-anak. Haha.

Jadi, di sini lah aku berakhir; di depan rak-rak sayuran. Sebelumnya aku menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit dengan menggunakan bus untuk sampai ke swalayan ini. Jangan tanya berapa derajat suhu kota Seoul sekarang, tapi kau harus tahu bahwa aku hampir terbakar saat di luar tadi. Orang-orang menyebut musim panas adalah yang terbaik, tapi sungguh aku tidak pernah menyukainya.

Setelah selesai dengan buah dan sayuran, aku beralih ke tempat lain dengan mendorong troli belanjaanku. Aku tertarik untuk mendekati rak-rak daging. Di sana banyak pilihan daging dari yang lokal sampai yang impor. Tapi satu yang membuatku paling tertarik, yakni daging sapi segar yang sedang diskon lima puluh persen. Demi Tuhan! Kapan lagi aku akan dapat kesempatan seperti ini?! Ini tentu akan membantuku menghemat pengeluaran bulanan sebanyak sekian persen.

Dengan gerak tangan secepat kedipan mata, aku menyambar daging yang tinggal tersisa satu pack itu. Namun mataku langsung melotot begitu menyadari bahwa aku justru memegang tangan manusia.

Sial. Aku keduluan.

Kumohon. Mataku masih menatap lekat satu pack daging itu. Aku tidak akan merelakannya begitu saja.

“Kim Hyunji?”

“Eh?” Aku menoleh, dan mendapati Oh Sehun berada tepat di depan mataku.

Aku terpana menatapnya. Posisi kami bersebelahan, sama-sama membungkuk, dan tangan Sehun lebih dulu menyentuh bungkusan daging itu sementara tanganku berada tepat di atas jari-jarinya—eh, APA?!

Aku buru-buru menegakkan badan dan menarik tanganku, sampai-sampai aku hampir terjungkal ke belakang. Ya Tuhan, Sehun pasti menertawakan tindakan konyolku di dalam hatinya.

Aku memandangnya tidak percaya. Ini tidak boleh terjadi—maksudku, aku tidak bisa membiarkan Sehun melihat penampilanku yang serampangan ini. Rambut yang dikuncir asal; muka yang tak dipoles make up sedikit pun; kacamata bulat; celana training; hoodie warna maroon yang hampir saja menenggelamkan separuh tubuhku. Oke, ini cukup untuk merusak image cantikku di masa lalu—di mata Oh Sehun.

Well, aku tak percaya ia bahkan masih bisa mengenaliku.

“Se-Sehun?” Aku pura-pura baru menyadari bahwa itu adalah dirinya. Sembari mengatur napas, aku mencoba untuk merapikan rambut dan membenarkan letak kacamataku.

“Oh, rupanya benar itu kau!” Sehun seperti tidak memercayai apa yang ia lihat. (Oke, aku bahkan lebih tidak percaya bahwa pertemuan kedua kami akan sangat tidak keren, seperti ini).

“Aku tidak menyangka kita akan bertemu di sini,” ujar Sehun lagi. “Hei, aku sering datang ke tempat ini dan sekali pun aku tidak pernah bertemu denganmu, benar? Kupikir Seoul sesempit apartemenku,” tambahnya, dengan nada setengah bercanda.

Aku tergelak. Aku malah berpikir bahwa Seoul itu sesempit lemari pakaianku. Maksudku, di siang yang terik ini dan dengan penampilanku yang serampangan ini dan di Seoul yang luas ini—bagaimana bisa aku bertemu Sehun di tempat ini?!

Baiklah, semua sudah terjadi dan aku harus terlihat normal. Yeah, normal.

“Oh, kau mau daging yang itu?” tanya Sehun lagi, menunjuk daging yang sama-sama kami pegang tadi.

Aku tidak boleh membiarkan keinginanku terlihat terlalu mencolok. “Ah, kau ambil saja yang itu, aku bisa ambil yang lain.” Tidak. Aku tidak serius mengatakannya!

“Benarkah?” tanya Sehun memastikan.

Aku mengangguk, tidak yakin. Mungkin, hari ini aku memang harus merelakan diskon lima puluh persen itu.

“Kau bohong,” ujar Sehun tiba-tiba. Tentu saja aku terkejut. “Kau menginginkannya,” lanjutnya lagi. Aku semakin terkejut. Bagaimana ia bisa tahu?

Tapi ini soal harga diri, dan aku tidak mau terlihat terlalu ambisius. “Tidak, Sehun, Aku tidak bohong. Kenapa aku harus berbohong?”

Sehun menatapku lama. Tiba-tiba paru-paruku seperti terbakar, karena aku kesulitan mendapatkan oksigen di sekitarku. Namun kemudian pria itu tersenyum, membuatku akhirnya bisa bernapas dengan normal.

“Apa kau selalu seperti ini?” tanyanya sembari mengambil bungkusan daging tadi dan memasukkannya ke troli belanjaanku.

Ia kemudian mendorong troli belanjaannya, meninggalkanku. Aku menatap punggungnya bingung, sebelum kemudian buru-buru menyusulnya untuk berbicara, “Tidak, aku tidak selalu suka diskon, asal kau tahu,” balasku dengan nada sedikit ketus.

Sehun tergelak lagi. “Maksudku, apa kau selalu menyembunyikan keinginan hatimu?”

Aku tidak mengerti. “Apa maksudmu?” tanyaku bingung.

“Sudahlah, lupakan,” balasnya, lalu berjalan semakin cepat.

“Hei!” Aku mendorong troliku tidak kalah cepat. Aku berusaha berjalan bersisian dengannya. Namun ketika kami sudah bersebelahan, ia memacu trolinya makin kencang, dan aku menyusulnya. Hal itu terjadi beberapa kali sampai-sampai aku kelelahan. Aku bisa melihat Oh Sehun tersenyum senang dan bagiku hal itu adalah sebuah ejekan.

Maka, aku mendorong troliku dengan kecepatan dua kali lipat dari sebelumnya. Meninggalkan Sehun jauh di belakang.

“Hei, Kim Hyunji! Kau tidak mau menungguku?”

Aku tersenyum puas mendengar Sehun berteriak.

.

.

Matahari masih bersinar sangat terik dan kantong belanjaanku ternyata tidak sedikit—maksudku, ini pasti berat sekali.

Jadi, ketika Sehun menawarkan tumpangan padaku, aku tidak mungkin menolaknya. Lagipula, rumah kami searah, katanya. Atau mungkin, ini memang kesempatan yang diberikan oleh Tuhan untuk kami memperbaiki hubungan. Siapa tahu.

Ini sudah beberapa menit sejak aku masuk mobil dan Sehun belum juga membuka mulutnya. Kulihat air conditioner di mobil Sehun hidup tapi kenapa aku tetap merasa kepanasan? Apa ini bagian dari musim panas? Entahlah, aku mungkin hanya terlalu gugup.

“Kau memang selalu belanja sendirian, ya?” Aku berusaha memecah suasana. Aku tidak berani memandang ke arah Sehun yang sedang menyetir, jadi aku menatap ke luar jendela mobil.

“Tentu saja,” balasnya. “Kau harus belanja sendirian saat kau memutuskan untuk hidup mandiri.”

Aku menahan senyumku. Kalimat Sehun barusan kurang lebih sama seperti pemikiranku selama ini. Dan, kalimat itu sekaligus memberiku jawaban bahwa Sehun—

“Bagaimana kabar ibumu?”

“Eh?” Aku menoleh ke arah Sehun. Aku tidak menyangka bahwa ia akan menanyakan hal itu. “Beliau sehat,” balasku akhirnya.

“Kau masih tinggal bersama ibumu, kan?” tanya Sehun lagi.

Aku menggeleng. “Ibuku memutuskan untuk tinggal bersama nenekku, di Busan, sejak beberapa tahun yang lalu.”

Sehun manggut-manggut, tampak paham. “Jadi, kau tinggal sendiri di Seoul?”

Aku mengangguk. “Yah, begitulah. Kau sendiri?” Aku balik bertanya.

“Apalagi yang dilakukan pria lajang, kalau bukan tinggal sendiri?” balasnya, lalu tertawa.

Kali ini aku tidak bisa menahan senyumku. Sehun seperti baru saja memberi jawaban atas pertanyaanku selama ini. Kukira dirinya sudah hidup bahagia bersama wanita lain, menikah, memiliki anak, dan sebagainya. Aku tidak tahu apa yang kuharapkan, tapi yang jelas saat ini aku merasa sangat lega. Mungkinkah.. aku bersyukur karena Sehun bukan milik siapa pun?

“Oh, iya, sebenarnya aku penasaran sejak lama.. dan hanya ingin memastikan,” kali ini Sehun yang membuka suara setelah sekian detik. “Apa kau sudah menikah?”

“Huh?” Aku seperti tersedak air liurku sendiri. Apa yang ia katakan barusan? Apa Sehun baru saja mengatakan bahwa selama ini ia penasaran apakah aku masih lajang atau tidak?

“Belum, tentu saja belum,” jawabku dengan terburu-buru.

“Oh.” Sehun manggut-manggut.

Hanya itu? Kau serius, Oh Sehun?

Jangan bertanya lagi. Tentu saja, aku kecewa. Memangnya apa lagi sih, yang kau harapkan dari mantan pacarmu?

Aku menertawakan diriku sendiri.

“Ah, iya, apa kesibukanmu sekarang? Maksudku, pekerjaanmu,” ujar Sehun kemudian.

Aku tidak langsung menjawab. Aku masih merasa kesal. Apa Sehun pikir ini sebatas kuis dimana ia sebagai penanya dan aku adalah orang yang harus menjawab? Apakah ia bertanya hanya untuk sekadar basa basi? Apakah Sehun bahkan tahu apa yang sedang ia tanyakan?

Tolong perjelas tujuanmu, Oh Sehun.

“Penulis dongeng anak-anak, sebut saja begitu. Yeah, hanya penulis lepas, sih,” balasku pada akhirnya.

“Wah, bukankah itu hobimu dari dulu?” Sehun tampak takjub, entahlah. Aku kemudian mengangguk. “Hmm, kau masih mengingatnya,” jawabku sekadarnya.

“Kau tahu pekerjaan yang paling menyenangkan di dunia?” tanyanya lagi.

Tunggu dulu. Apa ini benar-benar kuis? Memangnya apa pekerjaan yang paling menyenangkan di dunia?

Aku mungkin tidak tahu pekerjaan yang menyenangkan, tapi aku tahu beberapa yang keren. Dokter? Artis? Apa lagi?

“Aku tidak tahu, memangnya apa?” Aku balik bertanya, sedikit penasaran.

“Hobi yang dibayar.”

Aku langsung terdiam, merenungkan perkataan Sehun. Aku tidak bisa tidak setuju dengannya. Menulis cerita dongeng memang hobiku, dan seharusnya aku bersyukur karena seseorang mau membayar untuk itu. Ah, aku merasa telah lebih banyak mengeluh ketimbang bersyukur selama ini.

Setelah itu, tidak ada lagi pertanyaan keluar dari mulut Sehun. Timbul jeda hingga beberapa menit. Sehun masih fokus menyetir sementara aku menjatuhkan pandanganku ke luar jendela mobil. Sebentar lagi tiba di persimpangan jalan blok rumahku, dan sepertinya aku akan kehabisan waktu lagi. Atau mungkin, aku memang tidak diizinkan untuk memperbaiki masa lalu.

Meski hubunganku dengan Sehun tampak baik-baik saja sekarang, tetapi sebenarnya, aku masih berhutang penyelasan sementara Sehun berhutang penjelasan padaku. Kami sama-sama punya hutang yang seharusnya sudah kami lunasi.

“Turunkan aku di perempatan itu saja,” ujarku sambil menunjuk persimpangan jalan di depan kami.

“Eh?” Sehun tampak terkejut. “Aku bisa mengantarmu sampai ke depan rumah,” ujarnya lagi.

“Tidak, Sehun, tidak perlu. Masih ada sesuatu yang harus kubeli di minimarket,” tolakku. Sebenarnya aku hanya berdalih, tentu saja. Aku tidak bisa menerima kebaikan Sehun lebih banyak lagi. Memangnya, siapa aku?

“Oh, oke.” Sehun tampak mengerti.

Aku tidak bisa berharap lebih. Mungkin aku dan Sehun memang ditakdirkan untuk menjadi dua orang yang hanya saling mengenal, tidak untuk saling mencintai apalagi saling memiliki.

Mobil Sehun sudah benar-benar berhenti, tapi aku enggan beranjak dari posisiku. Sebenarnya, aku juga tidak tahu apa yang masih kuharapkan.

Saat pada akhirnya aku memutuskan untuk menyerah dan hendak ke luar dari mobil, Sehun memanggil, “Hyunji-a.”

Aku kembali pada posisiku semula. “Ada apa?” tanyaku heran.

“Berikan ponselmu,” ujarnya, lalu mengulurkan tangan.

Meski bingung, aku hanya menurut dan mengambil ponsel dari dalam tas kecilku.

Aku membiarkan Sehun melakukan sesuatu terhadap ponselku. Setelah beberapa saat, ia mengambil ponselnya sendiri dan mengotak-atiknya. Sehun mengembalikan ponselku ketika ia sudah selesai dengan kedua ponsel itu.

“Itu nomorku,” katanya.

Aku menatapnya heran.

“Kalau kau ingin menjadi penulis yang sesungguhnya, kau bisa menghubungiku. Siapa tahu aku bisa membantumu,” ujar Sehun lagi.

Aku tidak terlalu paham, tapi aku jadi sedikit terharu. Ternyata Sehun tidak pernah berubah sedikit pun; ia tetap pria yang baik.

Aku kemudian mengangguk. “Terimakasih, Sehun, untuk tumpangannya,” ujarku. “Dan untuk ini.” Aku menunjukkan kontaknya di layar ponselku.

Sehun hanya tersenyum, lantas mengangguk.

Aku membuka pintu mobil untuk kemudian turun. Setelah memindahkan barang belanjaanku ke luar, aku berdiri di sebelah jendela mobil. “Ngomong-ngomong, sebenarnya apa pekerjaanmu, Oh Sehun?” tanyaku penasaran.

“Aku hanya melakukan hobiku,” balasnya sambil mengedikkan bahu.

Aku berpikir sebentar, mengingat-ingat hobi Sehun sewaktu SMA.

***

Aku membenarkan letak kacamataku. Jari jemariku bergerak lincah di atas keyboard sementara otakku berputar cepat. Sore ini adalah deadline ceritaku dan waktuku tinggal tersisa satu jam lagi sebelum mengirim tulisan ini ke editor.

Baiklah. Aku mungkin bisa menambahkan beberapa kata lagi sebelum mengakhiri cerita ini. Ya. sedikit lagi. Oke, sebentar, aku tinggal mengetikkan kata ‘ending’ di bagian paling bawah dan, selesai.

Thanks, God!” Aku mengembuskan napas lega, lalu menggeliat lantaran tubuhku terasa kaku semua. Tidak heran karena aku harus menghadap layar laptop selama berjam-jam dan dengan posisi duduk yang tidak berubah sama sekali.

Tapi usahaku selama beberapa hari belakangan kini membuahkan hasil yang manis. Aku takjub sendiri membaca ulang cerita yang sudah kubuat—meski yah, judul tulisanku kali ini cukup menggelikan.

‘Air Mata Buaya’

Tidak. Kalian jangan salah paham dulu. Tentu saja, cerita ini ditujukan untuk anak-anak dan editor di tempatku bekerja akan membuatnya menjadi buku dongeng bergambar yang indah. Ini tidak seperti aku sedang menceritakan laki-laki playpoy atau semacamnya. Kalian harus percaya padaku!

Beralih dari meja kerja, aku kemudian mengempaskan tubuhku ke atas tempat tidur.

Tiba-tiba saja aku teringat Oh Sehun dan pertemuan-pertemuan kami; tiga minggu lalu di acara reuni dan satu minggu yang lalu di swalayan. Aku bertanya-tanya apakah kami memiliki kesempatan untuk bertemu lagi. Dan kalau iya, aku bersumpah akan benar-benar memperbaiki masa lalu kami.

Aku meraih ponselku di atas meja, untuk kemudian mencari kontak Sehun di sana. Haruskah aku menghubunginya lebih dulu? Lalu apa? Apa aku harus mengajaknya bertemu di luar—mengajaknya makan atau pergi ke bioskop?

Hahaha. Yang benar saja! Sehun bahkan tidak pernah menghubungiku selama satu minggu ini setelah ia menyimpan nomor ponselku. Aku tak yakin kalau Sehun bahkan masih ingat padaku.

Tiba-tiba saja ponsel di tanganku bergetar, dan nama sahabatku tertera di sana.

“Ya, Jung Soojung?” sapaku malas. “Ada apa?” tanyaku lagi.

Demi Tuhan! Kim Hyunji, kau harus pergi kencan buta malam ini! Aku tidak mau tahu, kau harus pergi, titik!”

Aku menjauhkan ponsel dari telingaku begitu kudengar suara heboh gadis itu.

“Begini, Soojung—”

Tidak, Hyunji! Aku tidak mau dengar alasan apa pun darimu!

“Tapi aku—”

Tidak ada tapi-tapi! Aku akan datang ke rumahmu satu jam lagi dan akan kubuat kau secantik Jun Jihyun malam ini!

“Eh? Soojung, aku—” Aku mengernyit, lantas melihat layar ponselku. “Apa dia mematikan sambungannya?!”

Apa-apaan, sih, gadis ini? Kenapa suka sekali memaksaku? Kenapa?!

.

.

Kini aku sudah berdiri di depan Kona Beans—nama kafe yang disebutkan Soojung ketika di rumah tadi. Dari yang bisa kulihat melalui pintu kaca, sepertinya tidak banyak pengunjung di dalam.

Lalu, aku pun mengamati penampilanku. Dress selutut berwarna biru dongkermake up sedikit tebal, dan rambut yang ditata sedemikian rupa; kurasa ini berlebihan. Maksudku, hei, ini hanya kencan buta biasa! Aku bahkan tidak tahu bagaimana rupa pria yang akan kutemui, jadi bagaimana mungkin aku berdandan sampai seperti ini?

Tetapi daripada terus memikirkan hal itu (sehingga aku terus saja menyalahkan Jung Soojung), lebih baik aku masuk ke tempat itu dan dengan begitu, kencan buta ini akan segera berakhir.

Jadi, aku pun melangkah masuk. Dan seperti yang sudah kuduga, suasana di dalam kafe tidak terlalu ramai. Hanya beberapa meja yang terisi oleh pengunjung, sisanya kosong, tentu saja. Menurut instruksi dari Soojung, aku harus menunggu di meja yang letaknya paling pojok—di dekat jendela besar yang menghadap ke luar kafe. Aku pun menurut.

Aku mendudukkan diri di sana. Aku kemudian baru sadar kalau tempat itu sedang memutar tembang If I Let You Go milik Westlife.

“Astaga, lagunya,” komentarku.

Selanjutnya lagu Britney Spears yang berjudul Everytime mengalun merdu. Aku tak bisa menahan tawa ketika mendengarnya. Aku tidak menyangka kafe itu memiliki playlist lagu-lagu lama. Dan tepat ketika lagu itu berakhir, aku menyadari seseorang tiba di mejaku.

“Kim Hyunji?”

Aku lantas mendongak, dan menganga tak percaya setelah itu. Sebentar, apa aku sedang berhalusianasi?

“Bagaimana kau..” Aku gelagapan.

Aku melihat Oh Sehun berdiri di hadapanku dengan mengenakan kemeja berwarna biru dongker, rambut cepaknya yang disisir rapi—seperti biasa, dan dengan senyum tampannya. Aku hampir tidak percaya. Ini terlalu mustahil (dan indah) untuk disebut kenyataan.

“Hyunji-a, apa yang kau lakukan di sini?”

Aku bisa melihat Sehun juga terkejut dengan pertemuan ini. Entahlah, mungkin aku bisa menyebut pertemuan kedua kami sebagai sebuah kebetulan, tapi tidak untuk yang satu ini.

Tapi aku buru-buru menutupi rasa terkejutku. “Kencan buta, Sehun. Kau tahu, sahabatku memaksaku untuk ini.” Kemudian aku memaksakan tawa di akhir kalimatku.

“Benarkah? Aku juga,” balasnya. Lalu mendudukkan diri di hadapanku.

“Huh?” Aku mengerjap kebingungan. Tunggu dulu, jangan bilang, Oh Sehun adalah pria yang harus kutemui?

Dalam kebingunganku, tiba-tiba ponselku bergetar. Sebuah pesan masuk, dan sekilas aku tahu itu dari Jung Soojung. Diam-diam mataku melirik layar ponsel di atas meja.

From Soojung:

Bagimana? Sudah bertemu Oh Sehun?

Aku tidak tahu apakah aku harus berterimakasih atau membunuh Soojung setelah ini. Apa gadis itu sengaja mempertemukanku dengan Sehun?!

Well, sekarang, aku tidak tahu harus memulai dengan kata apa. Aku hanya memainkan jari jemariku di atas pangkuan. Aku tidak berani memandang ke arah Sehun, tapi sekilas aku tahu ia sedang menatapku. Cukup lama. Tidak, ini bukan karena aku terlalu percaya diri, tapi Sehun memang sedang melakukannya.

Aku kemudian berdehem, berusaha mencairkan suasana. “Umm..” Aku membuka suara. “Aku tidak tahu kalau kau yang akan menjadi partner kencanku,” ujarku terus terang.

Sehun tersenyum sekilas. “Yeah, kau benar. Siapa yang tahu kalau kita bakal bertemu di sini?”

Aku mengangguk, lalu balas tersenyum. Dan ketika mataku tidak sengaja bertemu tatap dengan milik Sehun, aku langsung memandang ke arah lain. Kemana saja asal jangan Oh Sehun. Aku tidak tahu kenapa aku harus gugup begini.

“Ah, iya, bagaimana pekerjaanmu?” Kali ini Sehun yang membuka obrolan.

“Huh?” Aku mengangkat kepalaku, menatapnya. “Sebenarnya.. hari ini aku baru menyelesaikan satu cerita lagi.”

“Benarkah? Aku jadi penasaran,” balasnya. “Lain kali kau harus membacakan dongeng itu untukku,” lanjutnya lagi.

Aku tersenyum, kemudian mengangguk. “Tentu saja, akan kuberikan satu padamu. Gratis,” ujarku antusias. Aku merasa lebih rileks sekarang.

“O iya, kau mau pesan apa?” Tawarku kemudian. Aku memang sengaja tidak memesan lebih dulu karena menunggu partner kencanku. Tapi berhubung Sehun sudah di sini, kupikir kami harus setidaknya memesan minuman untuk teman mengobrol.

Tapi bukannya menjawab, Sehun malah menatapku lama. Aku sungguh tidak mengerti. “Kenapa? Ada sesuatu yang aneh di mukaku?” Aku meraba wajahku.

“Kau ingat pantai yang sering kita datangi dulu? Kau mau kesana?” tanyanya tiba-tiba. Mengejutkanku. “Tidak butuh lama untuk mencapai tempat itu,” Sehun melirik arloji di pergelangan tangannya. “Kurasa kita punya banyak waktu.”

Tentu saja aku heran. Kupikir kami hanya akan menghabiskan waktu di kafe ini. Kami bahkan belum memesan apa pun di tempat ini.

“Bagaimana?” tanyanya lagi.

Aku bisa melihat Sehun sedang menunggu jawabanku. Dan meskipun aku belum sepenuhnya mengerti, aku tidak mungkin menolak ajakannya, kan?

.

.

“Tidak banyak yang berubah.” Sehun membuka suara.

Kini, kami sedang berdiri menghadap laut, setelah sebelumnya berjalan menyusuri pantai selama hampir sepuluh menit. Dan yang barusan adalah kalimat pertama sejak kami sampai ke tempat ini.

Aku bukannya tidak mengerti apa yang Sehun maksud dengan ‘tidak banyak berubah’.  Namun  aku terlalu sibuk bernostalgia sampai-sampai aku mengabaikan keberadaannya untuk beberapa saat.

Well, dulu kami sering mengunjungi tempat ini, untuk menghabiskan hari Minggu atau sekadar mencari ketenangan di malam hari. Saat itu, kami masih mengenakan seragam SMA. Kami akan berlari menyusuri pantai dengan bergandengan tangan, lalu bermain air, dan berakhir dengan merebahkan diri di atas pasir.

Dulu, aku berpikir untuk bersama Sehun selamanya. Sebelum peristiwa di hari kelulusan itu datang. Tidak ada hujan tidak ada badai, Sehun datang padaku dengan membawa seorang gadis dan mengatakan bahwa ia tidak lagi mencintaiku. Aku merasa seperti tersambar petir di siang bolong, saat Sehun bilang bahwa dirinya ingin mengakhiri hubungan denganku karena ia mencintai gadis lain—gadis yang ia bawa bersamanya. Itu terjadi dengan sangat tiba-tiba. Ia bilang bahwa hubungan tiga tahun kami itu bukan apa-apa. Aku sangat marah, tentu saja. Hal yang kulakukan adalah menampar pipi Sehun dan aku hampir saja menggunduli rambutnya—kalau saja Soojung tidak datang menghentikanku.

Dan, yeah, hubungan kami benar-benar berakhir setelah itu.

Tapi, kalian tahu? Sehun berbohong soal gadis itu.

Satu tahun setelah kelulusan kami, aku dan Soojung menemukan fakta bahwa gadis yang Sehun bawa waktu itu adalah sepupunya. Kalian pasti akan berpikir sama sepertiku; bagaimana mungkin Sehun mencintai sepupunya sendiri? Itu tidak masuk akal. Kecuali kalau Sehun memang sengaja memanfaatkan gadis itu dan menjadikannya alasan untuk mengakhiri  hubungan kami. Dan setelah aku mencari-cari keberadaan Sehun untuk menanyakan kebenarannya, aku mengetahui satu lagi fakta yang mengejutkan.

Sehun pergi ke luar negeri untuk kuliah, tepat setelah hari kelulusan.

Suatu hari, Kim Soyun, sepupu Sehun itu, menjelaskan segalanya padaku. Gadis itu bilang bahwa semua yang Sehun katakan di hari kelulusan itu bohong. Semuanya bohong. Sehun hanya tidak tahu bagaimana mengucapkan selamat tinggal padaku. Sehun akan kuliah di luar negeri dan meninggalkanku untuk waktu yang cukup lama, dan ia tidak bisa menjajikan apa pun. Jadi, ia memilih cara yang paling sadis. Yakni, mengakhiri hubungan kami.

Dan bodohnya, aku tidak tahu apa-apa. Aku berpikir bahwa aku adalah pihak yang paling tersakiti. Tanpa kutahu bahwa Sehun juga merasakan hal yang sama.

Beberapa tahun sudah berlalu dan kini hubungan kami memang bukan apa-apa lagi. Kami seperti dua orang asing yang baru bertemu. Haha, menyedihkan sekali.

“Bagaimana kabar Kim Soyun?” tanyaku memecah keheningan. Percayalah, aku hanya iseng menanyakan ini.

Tanpa kuduga, Sehun tergelak. “Yeah, dia sehat. Dia menikah tiga tahun yang lalu dan sekarang punya satu anak,” ujarnya sambil terkekeh.

Aku hanya manggut-manggut.

Berhubung topik ini sudah muncul ke permukaan, mungkin tidak apa-apa jika aku membahasnya. “Well, ngomong-ngomong, aktingmu saat hari kelulusan bagus juga,” kataku setengah bercanda, setengahnya lagi serius.

Sehun terkekeh sebentar. Sebelum kemudian suasana kembali hening.

“Aku minta maaf,” ujarnya tiba-tiba.

Aku menoleh ke arahnya. Mengamati figurnya dari samping. Sehun tampak memandang jauh ke depan. “Aku juga,” balasku. “Aku terlalu anarkis waktu itu. Aku menamparmu dua kali dan menjambakmu juga.” Dan aku hampir merontokkan seluruh rambut di kepalamu.

Sehun tertawa kecil, dan aku tidak percaya ia bahkan masih bisa tertawa.

“Kau memang pantas melakukannya. Aku memang jahat sekali,” ujarnya kemudian. “Tapi, yeah, kau tahu, aku hanya tidak tahu harus melakukan apa saat itu. Aku tidak mungkin egois dengan tetap mempertahankan hubungan kita. Kau mungkin akan tersiksa.”

Ya, dan akhirnya kau mengungkapkan alasanmu yang sebenarnya, Oh Sehun. Akhirnya kau memperbaiki kesalahpahaman yang sudah terjadi selama bertahun-tahun di antara kita.

Jadi, sekarang apa? Bisakah kita kembali seperti tujuh tahun lalu? Atau, bisakah kita memulai dari awal lagi?

“Aku penasaran,” Sehun membuka suara lagi. “Kalau saja hubungan kita tidak berakhir saat itu, mungkinkah hari ini kita masih bersama?”

Aku lantas menoleh ke arahnya, dan saat itu juga, pandangan kami bertemu. Aku memang merasa gugup, tapi anehnya, kali ini aku tidak ingin mengalihkan pandanganku darinya. Bahkan sedetik pun.

Aku berusaha keras untuk menutupi kegugupanku. “Bisa iya, bisa juga tidak,” jawabku akhirnya.

“Kenapa tidak?” tanyanya, tiba-tiba jadi serius.

“Yah, bisa saja kita putus satu tahun setelah kelulusan, atau dua tahun setelahnya,” balasku. “Itu bisa saja terjadi, kan?”

Sehun mengalihkan pandangannya dariku. “Kau benar. Kau mungkin akan jatuh cinta pada pria yang lebih baik dariku, lalu meninggalkanku.” Ia kemudian tertawa.

Aku tersenyum. Kalau aku bisa, aku sudah melakukannya dari dulu, Oh Sehun. Tapi aku tidak pernah bisa. Aku tidak bisa menyukai pria lain selain dirimu bahkan setelah tujuh tahun.

“Pada kenyataannya, kau-lah yang pergi meninggalkanku, Oh Sehun,” ujarku kemudian. “Lalu tiba-tiba kau muncul dan bersikap seolah tidak ada yang pernah terjadi di antara kita,” lanjutku. “Kau tahu, kau jahat sekali!” Oke, aku hanya meluapkan kekesalanku selama ini.

Sehun terkekeh sebentar. Namun, tiba-tiba ia diam dan menjadi serius. “Kim Hyunji, ada yang ingin kukatakan padamu,” ujarnya.

Kau tahu, Sehun, kau sedang menakutiku sekarang. Raut wajahmu yang serius membuatku takut. Rasanya seperti.. seperti saat kau membawa Kim Soyun dan bilang bahwa kau tidak lagi mencintaiku.

“Apa itu?” tanyaku takut-takut. Firasatku mengatakan bahwa hal buruk akan terjadi sebentar lagi.

“Sebenarnya,” Sehun memandangku. “Aku akan menikah.”

“A-apa?” Aku menatap Sehun tak percaya. Apa ini? Apa ia sedang bercanda? Kalau iya, terimakasih, leluconnya sungguh tidak lucu.

“Yah, bulan depan.”

“Kau sedang bercanda, ya?” Aku menatap Sehun, menuntut penjelasan.

“Apa aku terlihat seperti sedang bercanda?” Sehun malah balik bertanya. Dan sialnya, aku hanya menangkap raut serius di wajahnya.

“Tapi, kenapa..” Aku masih tak ingin percaya. “Maksduku, kenapa kau ikut kencan buta kalau kau mau menikah bulan depan?” Aku bertanya dengan napas yang memburu. Demi Tuhan, padahal baru beberapa menit yang lalu aku menaruh harapan padanya. Tapi kini, rasanya seperti jantungku dijatuhkan ke dasar jurang yang paling dalam.

Kulihat Sehun mengedikkan bahu. “Kupikir, aku harus melakukan kencan buta setidaknya sekali seumur hidupku sebelum menikah,” ujarnya santai. “Bukankah begitu?”

Aku ingin menangis. Sungguh. “Oh,” jawabku kemudian.

“Kau tidak mau memberikan selamat padaku?”

Dan kau merasa masih perlu bertanya, Oh Sehun?! Setelah membumbungkan harapanku setinggi langit dan kemudian menjatuhkannya ke dasar jurang yang paling dalam?! Kau masih bertanya?!

“Selamat, kalau begitu,” ucapku dengan setengah hati.

Tiba-tiba Sehun meledakkan tawanya. Aku tidak mengerti.

“Simpan saja ucapan selamatmu itu.”

“Huh?” Aku mengerjap, memandang Sehun bingung. Kakiku sudah sangat lemas dan aku tidak percaya ia masih sempat membuatku kebingungan.

“Aku berbohong.”

Apa katanya?

“Apa kau bilang?” tanyaku memastikan.

“Kubilang, aku bercanda,” ujarnya lagi.

Tunggu, bercanda katanya?

Yeah, aku belum bisa melupakanmu,” Sehun berbicara lagi. “Aku sudah mencoba berkencan beberapa kali, tapi itu tidak berhasil. Kau tahu, aku masih sering datang ke tempat ini, bahkan tempat-tempat yang dulu biasa kita datangi,” Sehun kemudian menarik tanganku hingga kini aku menghadap ke arahnya. Kurasakan tangan itu menyentuh bahuku. “Aku mungkin tidak selalu memikirkanmu, tapi serius, aku tidak bisa melupakanmu. Jadi..”

Aku menatap Sehun tak percaya. Aku berusaha mencari kebohongan di sana, tapi sial, tidak ketemu.

“Jadi?” tanyaku memastikan.

“Jadi, mungkin kita bisa memulai lagi dari awal.”

“Dari awal?”

“Maksudku, hubungan kita,” ujar Sehun lagi. “Bukankah itu yang kau inginkan?” tanyanya dengan senyum miring.

“Sehun, apa kau bercanda—”

“Tidak, aku serius,” potong Sehun. “Dan aku tidak pernah seserius ini. Aku ingin kita memulainya dari awal.”

Aku belum sepenuhnya membaca situasi ketika kurasakan tangan Sehun menyentuh pipiku. “Seperti ini, misalnya,” ujarnya seraya mendekatkan wajah.

Aku tersadar dan buru-buru mencubit perutnya hingga ia melonjak kesakitan. Sehun pikir setelah semua yang sudah terjadi, aku akan membiarkannya menciumku begitu saja? “Well, tidak semudah itu, Oh Sehun.”

“Kenapa?” protesnya langsung.

Aku melepas high heels-ku, sebelum kembali berbicara, “Tangkap aku, kalau kau bisa!” Kemudian aku berlari meninggalkan Sehun.

Tidak, aku tidak serius menolaknya, tentu saja. Tidak ada hal yang lebih membahagiakan ketimbang mengetahui fakta bahwa Sehun tidak pernah melupakanku selama ini.

“Aku tidak akan melepaskanmu, Kim Hyunji!”

Ya, dan dengan senang hati, aku akan membiarkanmu menangkapku, Oh Sehun.

.

fin.

In fact, mantan tetaplah mantan.

 

Advertisements

40 responses to “Every Story has a Happy Ending [2/2]

  1. Si sehun sumpah deh bikin degdegan ae sih 😂😂 udah berapa kali ngeboong coba 😂 ahh mereka emng jodoh yak, udah tujuh tahun masih tetep ketemu Lagi. Emng jdoh! Wkwk akhirnya happy end juga 😊 sehun kurang gentle tapi wkwk. Tapi bener sii, mantan ya tetep mantan :v

  2. Wkwk mantan tetaplah mantan yak, wkwk…

    Btw kak bikin story lain ttg sehun juga dong.. aku suka sama karakter tulisan nya kakak..

  3. Whahaha kirain bakalan sad end kakkk. Huhuhu. Syukurlan ternyata happy end. Keep writing kak pramudiah 🙂

    • Kayaknya nggak bakal sad ending deh, wkwk soalnya dr judulnya aja “every story has a happy ending” so its a happy ending.. wkwk

      Btw cuman di dongeng yaa.. kenyataan mah beda lagi 😅

  4. Setuju bgt..mantan ttp lah mantan….huahh kirain bnran sehun mw nikah..udh bikin deg2an adja…dan emang happy ending…

  5. sehun ada bener juga sih waktu itu mutusin hyunji, soalnya kalo putusnya karna bosen ldr kemungkinan buat balik kecil… kalo putusnya pas lagi gak ada masalah gitu kan bikin susah move on terus bisa balikan lagi hehehe… tapi mantan tetap lah mantan

  6. God! Nyaris aja gue potek pas Sehun bilang kalo dia bakal nikah-_- hihh emang tuh mulutnya Sehun bikin kesel tp ngangenin ama suaranya wkwk
    Thanks ka, semangadd buat next fanfictnya^^

  7. LOL itu tulisan “In fact, mantan tetaplah mantan” Duh, Mbak maksudnya apa coba?? Aku kira Sehun alan bilang bahwa Hyunji-lah yg jadi bride-nya. Kkkkkkk my brain. Kebanyakan baca drama. Hehehe

  8. yeuw.. mantan ya ttep mantan
    gmn nih klo mantan gebetan.. hhhh
    aku paling suka cerita yg happy end hehe gatau knp klo cerita yg sad ending malah nyesek bgt
    yah.. aku pernah beli buku eh novel trilogi awalx enak *bacanya*
    tp gasabar pas abis di buku pertama eh lgsg loncat ke akhir cerita*baca buku yg ke3* dan disitu.. aku gamau lanjut baca heheu terlanjur kitati.. bgt.. bukux karya Guiyeoni -> romance of their own *klo gasalah krn novelx lg dipinjem wkwk
    duh.. malah curcol apadah..
    btw aku line 95 Di….
    salken yeah..

  9. pramudiaah!!! you’re back!!! seneng banget deh kamu balik >,< kamu mungkin ga akan inget aku tapi aku itu reader setia kamu dari jaman oh boy! sampe the king, juga yg dulu pake akun comment njhbac0n / baekxlu^^ dulu kita sering chat di bbm juga tapi skrg ku udah ga pake bbm~ apakabar?? must be so fine ya?? seneng bgt deh kamu udah balik seriusan hahaha, aku blm baca ini tapi aku mau tinggalin komentar dulu karena saking gladnya youre back^^ eh iya, kapan nih tulis ff baek lagi? kangen imajinasi kamu pake cast baekhyun T,T

      • sumpah loh aku kangen sama ff-ff itu:”) masih ada gak sih? seingetku ff kamu itu pada dihapus yaa?? kalau boleh, di repost dong.. aku pengen baca lagi nih, kangen >,< lain kali ya janji!? berarti ada hopes ya ^^

  10. Sumpah gue iri banget sama yhyunjin yang ditunggu cogan kayak sehun selama 7 th,gue juga mau kayak gitu….huhu….

  11. memang benar kata org,tak ad mantan terindah,namun ad kalimat mantan adh kenangan terindah y pernah kita miliki.

    Hah aku udah agak gerogi pas bc part 2 in,kiraiin beneran kalo sehun beneran mau nikah,aku udah hampir nangis,soalnya ngerasa sedih juga,gimana ga sedih coba,kalo punya mantan pacar selama 7 tahun y gak bisa kita lupaiin itu rasanya SAKIT atuh….kok jdi curhat ky gini sih,abaikn authornim

  12. Duh bener2 ngena apalagi bacanya pas kyk gini ,authornim kau benar-benar membuat cerita yang hampir sama denganku tp sayangnya aku tidak bisa kembali dengan mantanku barang sekali bahkan saat terakhir kali bertemu seolah kita seperti orang asing huhuhu ,andaikan kisahku seperti mereka 😢maaf kalo curhat.
    Daebak authornya bener-bener buat aku jadi baper maksimal

  13. Sehunnya so sweet… Itu mulut apa gula kapas, manis banget omongannya *eh :V

    Tujuh tahun belum bisa ngelupain mantan, eh nggak taunya balikan lagi. Apa daya aku sebulan belum ada udah ada yang ngganti di hatinya doi *malah curhat 😂😂

  14. wahh happy ending.. Ciee hyunji gak galau lagi.. Aaa sweet.. Dasar sehun aku fikir dy bnr2 mau nikah.. Trnyata cuma brcanda.. Daebak.. mau sequel dong eonni..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s