[CHAPTER 17] SALTED WOUND BY HEENA PARK

sw2

“Kau milikku, sudah kukatakan dari awal, bukan? Kau adalah milikku.”- Oh Se-Hun

.

A FanFiction 

by

Heena Park

.

SALTED WOUND’

.

Starring: Shin Hee Ra-Oh Se Hun-Kim Jong In

.

 

Romance–Incest-Thriller–PG15–Chaptered

.

Wattpad : Heena_Park

Facebook : Heena

Instagram : @arumnrd

.

Notes : ff ini juga aku share di WATTPAD

.

.

 

 

.

“B-baiklah, aku akan menghentikannya!”

 

Se-Hun melepaskan cengkeramannya pada kerah Kevin sesaat setelah pria itu bersedia menghentikan pengeboman. Ia menatap tajam ke arah Kevin yang tengah menghubungi anak buahnya. Untunglah Se-Hun bisa menghentikan semua ini, ia tak bisa membayangkan kalau Hee-Ra sampai celaka di sana.

 

Tubuh Kevin agak bergetar, ia menjauhkan alat komunikasinya yang berbentuk layaknya bulan sabit dari mulut dan menatap Se-Hun, “Sekarang bagaimana? Apa yang harus kukatakan pada ketua organisasi tentang ini? Kita semua bisa mati.”

 

Se-Hun menggeleng. “Aku..aku yang akan bertanggung jawab.” Ia berbalik, melangkah maju beberapa kali dan menengok ke belakang. “Pergilah, bawa semua anak buahmu dan aku yang akan membereskan segalanya,” katanya yang kemudian kembali melangkah pergi meninggalkan Kevin.

 

Semua hal yang harus diperjuangkan memang mebutuhkan banyak pengorbanan. Se-Hun tahu dengan baik kalau melawan organisasi sama saja mencari mati. Tapi itu lebih baik daripada harus melihat Hee-Ra terjebak di sana, kesakitan karena pembunuhan masal, meskipun sebenarnya ia memiliki waktu untuk menyelamatkan gadis itu, membawanya keluar dan menyembunyikan ke tempat yang aman, tetap saja, Hee-Ra akan melihatnya sebagai pembunuh.

 

Se-Hun benar-benar tidak ingin kebencian kembali meliputi hati Hee-Ra yang mulai terbuka untuknya, jadi ia memilih jalan ini, menerima segala resiko yang mungkin terjadi karena keputusannya.

 

Langkahnya melebar, kembali memasuki ruangan dan mendapati sosok Hee-Ra tengah membungkuk beberapa kali di hadapan orang-orang. Senyumnya mengembang, pengharuh gadis itu begitu besar. Se-Hun sendiri tak bisa mengontrol perasaannya kala kedua matanya tak sengaja kembali bertemu dengan Hee-Ra. Walau hanya sekelebat, beberapa detik yang begitu mendebarkan, hatinya bergemuruh yakin kalau Hee-Ra mengenalinya meski telah menyamar.

 

“Kau mengenaliku…aku tahu kau selalu mengenaliku, Shin Hee-Ra,” bisiknya pada diri sendiri setelah Hee-Ra pergi ke backstage.

 

Perlahan Se-Hun mengikuti Hee-Ra, menerobos kerumunan orang yang mulai membicarakan gadis cantik dengan tarian yang luar biasa barusan, membuat Se-Hun sesekali tersenyum kala mendengar pujian yang dilontarkan. Tapi bukan berarti ia tidak kesal, pasalnya beberapa pria yang menurutnya hidung belang mulai mengatakan hal-hal tidak senonoh dan bahkan berkata ingin memiliki Hee-Ra.

 

Oh, sungguh. Ingin sekali Se-Hun merobek mulut pria yang berkata barusan.

 

Sayang sekali Se-Hun sedang tak berniat mencari keribudan dan lebih memilih melanjutkan apa yang telah dimulai. Ia masuk ke backstage dari samping, cahaya remang yang cenderung gelap membuat penghilatannya tak begitu baik.

 

Ia berusaha mencari Hee-Ra, matanya menelusur ke sekitar sampai tak sengaja melihat tiga orang berjalan melewatinya. Ujung bibirnya ditarik, mereka adalah teman-teman Hee-Ra. Ah, pasti gadis itu masih ada di sini.

 

Matanya membulat—berusaha memfokuskan pandangan—saat kedua pupilnya mendapati sosok gadis berambut sepundak tengah berdiri memunggunginya. Walau samar, tapi Se-Hun bisa melihat tangan kanan gadis itu tengah membawa sesuatu, benda kecil bewarna hitam yang kelihatan sangat familiar dan di arahkan tepat kepada Hee-Ra.

 

Mungkinkah?

 

Bukannya mau menuduh, tapi Se-Hun yakin gadis itu adalah Jasmine. Ia berusaha mencelakai Hee-Ra saat lengah. Demi Tuhan, Se-Hun tak akan membiarkan itu terjadi!

 

Tanpa mengulur waktu, Se-Hun segera mendekatkan alat komunikasinya ke mulut dan memencet tombol kecil di ujung kanan yang akan menyambungkannya pada Jasmine.

 

“Di mana kau sekarang?” tanyanya pelan, lebih kedengaran seperti berbisik.

 

Napas Jasmine yang tidak teratur terdengar dalam telinga Se-Hun. Deru naik-turun seolah ia melakukan kesalahan besar.

 

“Bukan urusanmu.”

 

Tadinya Se-Hun berniat menghentikan kegiatan Jasmine secara baik-baik, tapi nyatanya gadis itu memang tak bisa diajak bekerja sama. Ia merogoh saku dan menodongkan pistol ke arah kepala Jasmine. “Turunkan pistolmu atau aku akan melakukan hal yang sama?”

 

Sialan! Jasmine tak mengira bahwa Se-Hun ada di sekitarnya. Ia terkikik. “Kau berani? Silakan, aku rela kau bunuh setelah aku membunuh gadismu itu.”

 

“Kau tidak akan pernah bisa membunuhnya.” Se-Hun memberikan penekanan pada setiap kata yang keluar dari mulutnya. Berbalik mengancam Jasmine yang saat ini telah kehilangan kendali. “Aku yang akan membunuhmu terlebih dulu, Jasmine Rochester.”

 

“Oh astaga, kenapa aku bisa jatuh cinta pada psikopat sepertimu?” Jasmine menertawai diri sendiri, ia mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menaruh pistol ke dalam sakunya kembali. “Baiklah, aku tidak akan membunuhnya malam ini. Bersyukurlah karena aku mencintaimu, sehingga aku memiliki alasan untuk melakukan apa yang kau mau.”

 

Setelah mengucapkan kalimat barusan, Jasmine berbalik, melihat ke arah Se-Hun yang masih menodongkan pistol padanya. Ia tersenyum pahit meratapi kenyataan yang begitu tidak adil. Pria yang sangat ia cintai tega menodongkan pistol ke arahnya? Benar-benar kisah cinta yang tragis, bukan?

 

 

 

 

 

 

Hee-Ra baru saja selesai mengemasi barang-barangnya, seluruh staff juga telah mendapat makan malam mewah dari orang yang mengadakan pesta. Bahkan beliau secara khusus mengucapkan terima kasih pada Hee-Ra ditambah amplop yang tentu saja siapapun pasti tahu apa isinya atas tarian Hee-Ra yang begitu indah.

 

Namun bayangan Se-Hun masih saja terlintas. Hatinya yang paling dalam selalu mengatakan bahwa pria tadi adalah Se-Hun. Ya, penampilan memang bisa disamarkan, tapi mata itu, mata yang tak sengaja bertemu, tatapan yang sama dengan biasanya, perasaan yang semakin kuat, juga perasaan mengenal yang tak bisa dihindari semakin membuat Hee-Ra gila.

 

Well, kau benar-benar beruntung bersedia tampil malam ini.” Alice duduk di samping Hee-Ra, ia mendekatkan wajahnya pada wajah Hee-Ra, “Jadi, berapa bonus yang kau dapat tadi? Kalau saja Emma yang tampil hari ini, aku tidak yakin dia akan mendapat bonus sepertimu,” celotehnya.

 

“Al…” Bukannya menjawab, Hee-Ra malah memanggil Alice, pandangannya kosong.

 

“Ya?” Alice mengerutkan alisnya. “Kenapa? Apa kau merasa tidak enak badan? Kenapa pandanganmu kosong seperti itu? Haruskah aku memanggil Jong-In? Kau tidak bertengkar dengan Emma, kan?”

 

Hee-Ra terkikik pelan mendengar banyaknya pertanyaan dari mulut Alice, namun ia cepat-cepat menggeleng. “Tidak..tidak untuk semuanya..”

 

“Eh?” Alice menjauhkan wajahnya dari Hee-Ra dan memilih untuk menatap dari samping. “Lalu ada apa denganmu?”

 

Hee-Ra menengok pelan, bibirnya bergetar penuh kebimbangan, mencoba mengeluarkan suara dan menceritakan segalanya tapi keadaan tak mungkin membiarkannya. “Aku rasa…aku melihatnya…seseorang yang seharusnya tidak aku lihat di sini.”

 

Ucapan Hee-Ra membuat Alice berpikir keras. Ia tak mengerti dan tidak tahu kalau Hee-Ra memiliki musuh, tentu saja selain Emma. “Siapa? Orang yang kau benci? Kukira hanya Emma orang yang tidak kau suka.”

 

Hee-Ra menunduk, kedua matanya terpejam sebentar, sementara paru-parunya berusaha mendapatkan sebanyak mungkin oksigen dan kemudian mengeluarkannya. “Aku…aku tidak membencinya…aku hanya takut jatuh cinta padanya…”

 

Alice membulatkan mulutnya, ia merasa telah mendengar kalimat paling mengejutkan selama beberapa bulan ini. Maksudku, Hee-Ra telah memiliki Jong-In, tapi dia berkata takut akan jatuh cinta pada orang lain? Apa Hee-Ra sudah mulai tidak waras?

 

Jadi ini alasan kenapa keduanya tak kunjung berbaikan? Karena Hee-Ra yang mulai berpaling pada pria lain? Serius, Alice tak mengerti pada apa yang terjadi pada mereka.

 

“Mungkinkah…mungkinkah ini alas—”

 

“Shin Hee-Ra, aku akan mengantarmu pulang.” Vokal familiar seorang pria berhasil memotong pembicaraan Alice dan Hee-Ra. Pria itu menyunggingkan senyumnya, namun matanya tidak kelihatan senang. “Aku akan mengantarmu pulang, ada hal yang harus kita bicarakan,” ujarnya lagi yang kemudian meraih tas lengan Hee-Ra, mengenggamnya lalu menarik Hee-Ra untuk ikut bersamanya, sementara Alice masih terpaku di tempat, memandangi Hee-Ra dan Jong-In yang baru saja pergi.

 

Kali ini tak ada penolakan, Hee-Ra membiarkan Jong-In menariknya. Ia tidak tahu sejak kapan mobil Jong-In berada di sini, padahal mereka tadi berangkat menggunakan mini bus.

 

Mereka duduk bersampingan, Jong-In melajukan mobilnya pelan. Tidak ada suara yang terdengar selain kesunyian. Sempat beberapa kali Hee-Ra melirik ke arah Jong-In, memandangi wajah marah lelaki itu.

 

Tidak ada gunanya mereka bersama jika terus diam, tidak ada gunanya memendam amarah sehingga Hee-Ra memutuskan untuk membuka pembicaraan. Ya, walau ia tahu kemungkinan Jong-In akan murka.

 

“Apakah kau mendengarnya?”

 

Jong-In tidak merespon, wajahnya semakin merah padam. Sebenarnya Hee-Ra paham kalau itu merupakan tanda jika Jong-In tak berniat membahasnya, tapi inilah yang harus ia lakukan, Hee-Ra ingin segalanya menjadi jelas.

 

“Apa kau mendengarnya? Pembicaraanku dengan Alice tadi?” Hee-Ra bertanya lagi.

 

Selama beberapa saat Jong-In terdiam, ia menengok ke arah Hee-Ra dan menepikan mobilnya. Tarikan napas yang begitu berat dihirup oleh pria itu, menandakan betapa besar gemuruh dalam hatinya.

 

“Ya, aku mendengarnya. Semua yang kalian bicarakan.”

 

Pertanda buruk kah semua ini? Hee-Ra menundukkan kepalanya, tak tahu harus berkata apa, toh Jong-In sudah terlanjur tahu segalanya.

 

Dalam detik berikutnya, Jong-In tiba-tiba menarik paksa lengan Hee-Ra, membuat gadis itu menatap wajahnya yang tengah diliputi kemarahan. Jong-In mencengkeram kasar kedua lengan Hee-Ra sampai gadis itu mengaduh kesakitan, tapi perasaan marahnya jauh lebih besar hingga Jong-In tak berniat menghiraukan racauan yang keluar dari mulut Hee-Ra.

 

“Apa aku masih belum cukup bagimu? Apa pria yang kau lihat itu jauh lebih baik dariku?” Jong-In berteriak kasar, menekan pada setiap katayang keluar. “Apa kau tahu bahwa aku rela pulang dan kembali hanya untuk mengambil mobil ini dengan harapan bisa pulang dan berbaikan denganmu? Apa kau tahu aku terpaksa melewatkan penampilanmu yang begitu kurindukan dan memaksa Jason agar mau merekamnya? Apakah kau tahu bahwa aku memaksa untuk pulang dari Rumah Sakit hanya karena ingin bertemu denganmu?! Kenapa kau begitu egois! Teganya kau memberikan hatimu pada orang lain yang bahkan tak pernah berkorban bagimu!”

 

Kemarahan Jong-In yang begitu besar berhasil menggoyahkan Hee-Ra. Tanpa sadar setetes butiran bening keluar dari matanya, tak menyangka kalau Jong-In akan bersikap sekasar ini padanya. Pria yang biasanya begitu baik dan sangat menyayanginya, pria yang selalu berusaha menjaga perasaannya. Tapi kenapa? Kenapa dia berubah seratus delapan puluh derajat? Ke mana Jong-In yang dulu?

 

Menyadari perubahan ekspresi Hee-Ra yang begitu kontras, Jong-In segera menarik gadis itu dalam pelukannya, ia mengusap lembut punggung Hee-Ra sambil terus menyesali ucapannya barusan, “Maafkan aku…maafkan perkataanku, Shin Hee-Ra…aku..aku tidak berniat memperlakukanmu dengan kasar..”

 

Hee-Ra mengerti, ia benar-benar mengerti dan menerima luapan kemarahan Jong-In karena memang dia pantas mendapatkannya. Lagipula Hee-Ra memang bersalah, ia tidak seharusnya jatuh cinta pada orang lain sementara Jong-In adalah kekasihnya. Dia sadar, dia paham, tapi tetap saja rasa kecewa berhasil menggores hatinya meskipun Jong-In menjelaskan semua pengorbanannya hari ini.

 

Bukan soal siapa yang paling berkorban, tapi apa artinya pengorbanan kalau hatinya telah terluka? Sebesar apapun Hee-Ra berusaha menerima kemarahan Jong-In, hatinya masih saja merasa tak terima, hatinya terus mengelak dan berkata Jong-In tak seharusnya lepas kendali seperti itu.

 

“Maafkan aku, aku mencintaimu…aku benar-benar mencintaimu..” Jong-In melonggarkan pelukannya, menangkup kedua pipi Hee-Ra penuh kasih, “Jadi, jangan pernah membuka hatimu untuk pria lain. Sedikitpun jangan, karena akupun juga akan melakukannya.”

 

 

 

 

 

 

“Lepaskan aku! Lepaskan aku, Oh Se-Hun!”

 

Berkali-kali Jasmine meronta, namun Se-Hun terus menarik lengannya keras, membawa gadis itu ke balkon apartemen dan mendorongnya ke pagar besi hingga terdengar bunyi keras akibat benturan tubuh Jasmine.

 

“Kuperingatkan padamu, jangan pernah berani menyentuh Hee-Ra sedikitpun!” teriak Se-Hun penuh emosi. Matanya mengilatkan kemarahan besar yang siap meledak kalau Jasmine mengelak.

 

Mereka berada di lantai dua puluh, tempat yang aman untuk bertengkar, serta tepat untuk mendorong Jasmine jatuh ke dasar, kan?

 

Bukannya menurut, Jasmine malah tertawa pahit melihat kearogansian Se-Hun padanya. Berani sekali Se-Hun mengancam Jasmine? Apakah dia sudah lupa siapa gadis yang selalu menemani malam-malam kelamnya saat itu? Gadis yang pada akhirnya memutuskan untuk melabuhkan hati padanya? Benar-benar jahat!

 

“Pengecut! Kau benar-benar lemah hanya karena ilusi cintamu pada gadis murahan itu! Cinta yang bahkan tidak pernah terbalaskan!”

 

“Tutup mulutmu, Jasmine Rochester!”

 

“Apa? Apa aku salah?!”

 

Se-Hun mengeram, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat karena amarah yang menyelimuti jiwanya. “Dia bahkan jauh lebih baik darimu!”

 

“Jauh lebih baik kau bilang?” Jasmine menggeleng, kalimat selanjutnya ia katakan dengan selingan tawa pahit, “dia tahu kau mencintainya tapi tidak pernah menjaga perasaanmu sedikitpun. Lihatlah kalian berdua benar-benar menyedihkan. Kau bahkan tak pernah bisa membawa gadis itu ke atas ranjangmu! Kau tidak pernah bisa memilikinya, Oh Se-Hun!”

 

Merasa Jasmine sudah mulai berlebihan, Se-Hun segera mengeluarkan pistol dan menempelkan ujungnya tepat di samping kepala Jasmine. Sekali Se-Hun menarik pelatuk, maka gadis itu akan mati.

 

“Dia..bukan gadis murahan yang mau memberikan badannya pada semua lelaki.” Se-Hun berhenti sebentar, kedua matanya menatap Jasmine tajam, seolah ingin membunuh gadis itu. “Dan aku selalu berusaha menjaganya, aku akan melindungi hal paling berharga yang dimiliki gadisku sampai dialah yang memintaku untuk melakukannya.”

 

Kenapa?

 

Kenapa rasanya begitu menyakitkan saat Se-Hun berkata akan melindungi Hee-Ra? Kenapa hatinya berasa diremukkan begitu keras saat Se-Hun berkata demikian? Ingin sekali Jasmine menangis dan menampar Se-Hun untuk mengatakan betapa sakit hatinya saat ini. Tapi Jasmine tahu hal itu hanya akan berakhir sia-sia.

 

Kenyataannya, ia tak bisa bergerak sekarang. Tubuhnya lemas namun kaku, tak mau diperintahkan untuk melakukan apapun karena hatinya kritis. Semua yang dialaminya hari ini tidak ada bedanya dengan percobaan bunuh diri. Jasmine tak kuat menjadi orang yang selalu ditolak, Jasmine lelah.

 

“Ingat perkataanku baik-baik, Jasmine Rochester. Aku tidak ingin kita bertengkar hanya karena hal ini.” Se-Hun menjauhkan pistolnya dari Jasmine. “Kuharap kau mengerti, karena akupun hanya seorang lelaki biasa yang bisa jatuh cinta,” lanjutnya yang sedetik kemudian sudah melangkah pergi membiarkan Jasmine tetap di balkon.

 

Se-Hun bahkan tidak menengok sama sekali, sementara Jasmine hanya mampu memandang punggung pria itu menghilang di balik pintu.

 

Apakah Se-Hun tidak tahu kalau Jasmine juga seorang wanita biasa? Wanita yang tentu bisa jatuh cinta seperti yang lainnya?

 

Tangisannya tak bisa ditahan lagi, Jasmine terduduk di lantai, meringkuk sambil memegangi lututnya. “Kenapa…kenapa hanya kau yang boleh memperjuangkan cintamu? Apa aku salah karena juga memperjuangkan cintaku padamu, Oh Se-Hun? Apa aku salah…”

 

 

 

 

 

 

“Lakukan sekarang. Matikan semua CCTV di Rumah Sakit.” Jasmine melirik ke kanan-kiri sembari berbicara dengan seseorang melalui ponsel. “Aku harus mengakhirinya hari ini, Daniel Cross.”

 

Beberapa saat kemudian Jasmine meletakkan kembali ponselnya ke tas lengan dan berjalan melewati koridor Rumah Sakit dengan percaya diri. Ia berhenti di depan kamar nomor 157—kamar rawat Shin Jae-Woo.

 

Ia memutar knop pintu, matanya langsung disambut oleh sosok Shin Jae-Woo yang tengah terbaring lemas di atas ranjang. Begitu menyedihkan, hidupnya akan segera berakhir dalam beberapa menit ke depan.

 

“Sayang, kaukah itu?” Shin Jae-Woo yang nampaknya menyadari kehadiran seseorang langsung berusaha duduk, namun dugaannya salah, ternyata orang lainlah yang datang. “Miss. Rochester?”

 

“Lama tidak berjumpa, Mr. Shin,” sapa Jasmine. Ia mendekat, berdiri tepat di samping ranjang Shin Jae-Woo. “Anda kelihatan semakin lemah akhir-akhir ini, pasti sangat menyakitkan harus melawan penyakit yang tiba-tiba datang itu, kan?”

 

Lantas, Jasmine merogoh tas lengannya, mengambil suntikan yang telah berisi cairan di dalamnya. “Kusarankan lebih baik kau mengakhiri kesakitan ini dan tidur dalam damai,” ucapnya.

 

Shin Jae-Woo membelalakkan matanya. “Apa yang akan anda lakukan Miss. Elizabeth Rochester? Suntikan apa itu?”

 

“Elizabeth?” Jasmine mengetuk-ngetukkan jarinya ke jarum suntik. “Aku tidak suka dipanggil Elizabeth.” Ia berhenti sebentar dan mendekatkan suntikan ke selang infus Shin Jae-Woo. “Karena Elizabeth bukanlah namaku, Mr. Shin. Anda benar-benar bodoh, dan kebodohan itulah yang akhirnya membawamu pada kematian dengan sangat menyakitkan.”

 

Setelah menyelesaikan ucapannya, Jasmine segera menancapkan jarum suntik ke selang infus, Shin Jae-Woo yang benar-benar lemas dan sulit untuk menggerakkan badan hanya mampu menatap miris kelakuan Jasmine. Kalau saja tubuhnya tidak serapuh ini, kalau saja Shin Jae-Woo sanggup untuk sekedar menggerakkan tangan, ia pasti berusaha menjauhkan Jasmine dari sini. Ia tidak ingin mati dan meninggalkan keluarga kecilnya!

 

“Apa yang kau lakukan?! Cairan apa yang kau masukkan?!”

 

Jasmine tahu betul kalau Shin Jae-Woo tengah ketakutan, dan percayalah bahwa Jasmine sangat menikmatinya. Ia suka melihat raut ketakutan dari pada targetnya ketika akan menemui ajal.

 

“Entahlah, aku tidak begitu yakin dengan cairan ini,” ia menaikkan kedua bahunya bersamaan. “Tapi, yang pasti kau akan merasa kepanasan setelah ini. Panas yang begitu membara sampai kau ingin mencabut kulitmu dari tempatnya. Panas yang kemudian berubah dingin dan mematikan semua indra yang kau punya, hingga akhirnya darahmu berhenti mengalir, jantungnya tak mau berdetak, dan napasmu..akan berhembus untuk yang terakhir kalinya.”

 

Ternyata benar! Baru saja Jasmine selesai menyuntikan seluruh cairan pada selang infus Shin Jae-Woo, ekspresi pria itu mulai berubah. Sebelum semakin menyebar, Jasmine segera menutup mulut Shin Jae-Woo dengan lakban, ia tidak ingin teriakan kesakitannya sampai terdengar keluar.

 

Matanya melotot sebagai tanda dahsyatnya rasa panas yang dialami, sementara itu Jasmine tertawa puas, ia benar-benar senang karena berhasil membunuh Shin Jae-Woo dengan cara yang menyakitkan.

 

Perlahan namun pasti, kulit Shin Jae-Woo memerah, keringat bercucuran dari tubuhnya, napas pria itu makin terputus-putus, menandakan kematian yang semakin dekat.

 

Shin Jae-Woo pasrah karena tahu tak ada hal lain yang bisa dilakukan. Hatinya terasa tercabik, ia bahkan belum sempat mengucapkan selamat tinggal pada istri dan kedua anaknya, mengatakan agar mereka hidup dengan baik dan tidak terus-terusan sedih saat Shin Jae-Woo pergi nanti, dan yang paling penting, Shin Jae-Woo harus mengingkari janjinya untuk melihat Hee-Ra menikah suatu hari nanti.

 

Tarikan napasnya yang begitu dalam, bersamaan dengan nama ketiga orang yang sangat dicintainya membuat Shin Jae-Woo tak kuasa menahan air mata. Dalam napas terakhir yang dihembuskan, Shin Jae-Woo berharap agar keluarganya tegar dan mampu hidup dengan baik….tanpanya.

 

TO BE CONTINUED

Advertisements

62 responses to “[CHAPTER 17] SALTED WOUND BY HEENA PARK

  1. Oh God! Seriously, itu JongIn? Duhh satu sisi kasian banget gue ama HeeRa, pacaranya sendiri loh yg main kasar, tapi sisi lain jg kan HeeRa yg salah, toh HeeRa jg mau nerima kemarahannya JongIn. Impas
    Baru pertama kali gue ngrasain sisi wanitanya Jaze pas dia ngomong kalo dia tu wanita ‘biasa’. W.O.W bangetss wkwk ehh dua menit setelahnya sisi iblisnya nongol lg-_- alig banget tuh otaknya, kerusakan akutt
    Shin Jae Woo beneran mati? Laaa masa iya HeeRa harus nelangsa lg si idupnya, pelindungnya cuma Sehun ama JongIn doang dongg, uhhh terlalu tragiss
    Okay thanks buat part 17nya ka, semangat 18nya^^

  2. ih jasmine jahat pekerjaan membunuh ayah heera sekaligus dendam pada heera sehun kemana help itu uh. sudah heera kena bentak jongin setelahnya menerima berita kematian ayahnya oh kasihannya dia huweee baper aku ikutan sedih lho kak tanggung jawab kak:’v

  3. Wajar sih jongin marah kayak gitu,jasmine tuh sebenernya mau apa ya?? Kalo appa mereka beneran meninggal semoga sehun sadar siapa yang harus dilindungi,biar dia gak nyesel toh

  4. Huaahhhh appa…ihhh jasmine jht bgt..tega bgt..gmn nnt tkt sehun y d jauhin ma heera..jongin knp gitu..jnp jd mrh2 trz ma heera…udh ma sehun adjaaaa

  5. Akhirnya sehun berhasil gagalkan rencana jasmine untuk nembak heera. Kan benar heera sukama sama sehun tapi dia takut dan mungkin heera juga masih kepikaran dengan perasaan jongin. Kapan sih mereka putus dan heera sama sehun aja. Kasihan appa nya sehun harus terbunuh di tangan jasmine. Pasti heera benar-benar terpukul, semoga sehun selalu bisa lindungin heera.

  6. uhhh… Untung ada sehun yang menghalangi jasmine, coba kalo enggapasti jasmine udah nembak hee ra pake pistolnya itu. Tapi justru jasmine malah ngbunuh ayahnya hee ra, kolk gak ada yang nungguin ayahnya sii, kasian itu ayahnyaa kesakitan. Ihh jahat + licik bangett sii jasmine ituu..

    Ditunggu nextnya ya kakk

  7. wah…..Daebak si jasmine,sehun kamu hrus ttp meindungi heera walaupun nyawa taruhannya ya….Pasri nih si heera swdih banget deh krna ditinggalkn oleh ayahnya………Heera udah jujur tuh dia takut jatuh cinta sama sehun ap udah jatuh kedalam pesonanya seorg Oh SeHun,Heera ssi

  8. Sedih siii jadi jasmine. Tapi orang sadis mah ga bakal di kasihanin 😂 sehun sayang bgt yak sama heera 😆 keep her hunnie 😘 papa nya heera udah di bunuh, jadi ngeri sama jasmine. Duh ka, ini kapan endingnya siii (?) tiap kali baca chap ini bikin pemasaran bgt 😂😂. Pokonya next ditunggu kaaa

  9. Kaget waktu Jongin kasar sama Heera, tapi seneng juga soalnya Heera jadi ragu sama Jongin😆.
    Btw, kalo papanya Heera meninggal Sehun bakal lebih ngelindungin keluarga palsunya kan?
    Ditunggu next chapt nya kak!!!

  10. kasihan sm ayah heera. dia pasti sedih bgt 😥 😥
    tp apa sehun tahu sm rencana Jasmine tuh??? heera galau nih milih yg mn , udah pilih sehun aj pliss jg d gantungin lg 😥 😥

  11. Kalau jdi posisi jongin..saya juga akn mrasa sakit..
    Aplagi gk sngaja denger ky gitu…
    Jasmine mngerikan..stidaknya ad 2 malaikat pnolong heera..jongin ma sehun..

  12. Yaampunnnnnnn ayahnyaa heraaaa noo!!!!! Sedih bngettt ini pastiiiiiiii
    Plisss thorrrr jngan buat kisahnya makin sedih kayak giniii. Kasian hera sama sehunnyaaaa

  13. Andwe…………………… 😱 😖😭
    Author-nim……..
    Tega banget sih….. 😥
    Kasian hee ra………. 😭

    Aaarrgghh……..
    Sehun………. Bunuh aja kenapa sih tuh nenek lampir,.. Kejaaaammmm………… 😭

    Keluarga yg bahagia sekarang telah hancur,. 😥

    Jasmineee…………………
    tunggu pembalasan sehun……………. 😡

  14. review bwt bca ini lg, kmrin gagal mw komen ckk -_- Ayahnya Hye Ra…??? apa bnran akn meninggal??? uhuhu sedih.. Shock juga ps Hyera ngmong takut jtuh cinta sm org lain ps Jongin denger omoo…. blm lg ada adegan menggembirakan dimana sehun nyeret Jasmine! ok! izin bca lnjutnx ya author Heena 😀

  15. jasmine emang gilaaaa ya…
    pysycopat bgt…. segitunya kah ???
    gue heran hatinya sebegitu nya kah otaknya sih oke lah tapi gk punya hati apa ? oh ya satu yg gua lupa.

  16. Iiiih Jasmine tega banget…mereka gila yah sehun juga termasuk..membunuh udah hal biasa bagi mereka…izin lanjut

  17. Gila! Gercep juga jasmine! Kasian heera………
    Gimana ya, kalo dihadapkan dengan sehun dan jongin….wkwk

  18. Anjir ko bacanya sedih bgt sih , dimana jasmine nyuntikin cairan aneh dan papanya heera cuman bisa diem , kalo heera tau papanya udah mati pasti sedih

  19. Tuan Shin beneran meninggal? Hee Ra pasti bakalan sedih banget. Kira2 Sehun bakalan tahu gak ya kalau itu perbuatan Jasmine?

  20. Kenapa si targetnya jasmine harus ayahnya heera ;( kalau sehun tau yang bunuh ayahnya Dia jasmine gimana ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s