Hello School Girl [Chapter 8] ~ohnajla

ctcvnjhvmaarmvm

ohnajla || romance, schoollife || Teen || Chaptered ||

Min Yoonji aka Agust D aka Suga BTS

BTS members

Oh Sena (OC)

other cameo

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5 ||Chapter 6 || Chapter 7 || Chapter 8

**

Sudah pukul 7 pagi dan Yoonji belum juga bangun. Sena yang sudah cantik dengan seragamnya pun segera menghampiri tempat tidur gadis itu. Ah masa bodoh dengan garis pembatas. Kemarin dia sudah berjanji untuk menjadi alarm si cabe itu.

“Hei bangun.” Ia pun menoel lengan Yoonji. Tapi Yoonji malah menepisnya.

“Katamu aku harus jadi alarm-mu? Sekarang sudah jam 7. Ayo bangun!”

Lelah melihat Yoonji yang terus menolak untuk dibangunkan. Dia pun menarik penutup mata Yoonji dan PAK! Otomatis gadis –jadi-jadian berambut bob itu bangun juga.

“Apa sih ganggu!” bentak Yoonji sembari melepas penutup mata bermotif Kumamon dan duduk di pinggir ranjang.

Sena memutar bola matanya. “Sekarang sudah jam 7, cabe. Kau mau tidur sampai jam 12 seperti kemarin lagi?”

Yoonji menggaruk rambutnya lalu menyeka jejak sungai di pipinya. “Ya. Sekarang pergi.”

“Tanpa kau suruh pun aku juga akan pergi,” balas Sena jutek sambil berbalik, meraih tasnya lalu keluar dari kamar. Yoonji menatap kepergiannya. Lalu ia pun mengerang.

“Gatal sekali ah!!”

.

.

.

Tidak ada waktu untuk mencuci rambut aka wig. Karena sebelum bel berbunyi pukul 8, semua siswa sudah harus berada di kantin sekolah untuk sarapan bersama. Kalau biasanya makanan di asrama itu gratis, di SMA Bangtan justru kebalikannya. Semua makanan sudah diberi plang harga. Jadi siswa hanya perlu membayar apa yang mereka makan kepada kasir sebelum mulai makan.

Yang seperti itu tidak menjadi masalah untuk Yoonji. Memangnya lucu kalau rapper dunia miskin? Jangan salah. Di dompetnya tidak pernah ada uang tunai. Semuanya kartu ATM. Dia hanya perlu gesek saja kalau mau beli apa-apa. Kecuali kalau bertandang ke warung-warung makanan kecil.

Setelah membayar makannya, Yoonji membawa nampan makanannya ke sebuah meja yang hanya ditempati oleh seorang gadis berkacamata yang duduk sendirian. Dia menjadi perhatian di sana. Tidak yang laki-laki, tidak yang perempuan, semuanya memandangnya heran.

“Dia bukannya Min Yoonji anak pindahan itu?”

“Cantik ya.”

“Dengar-dengar dia itu anak orang kaya loh.”

“Tadi kulihat dia membayar dengan black card.”

“Gila, masih umur segitu sudah bawa black card.”

“Jomblo dia.”

“Kenapa dia mau duduk dengan si nerd?”

“Mungkin dia tidak tahu.”

“Maklum anak baru.”

Yoonji sebenarnya dengar, tapi dia makan dengan cueknya. Urus saja urusan kalian sendiri, anak-anak. Diam-diam dia melirik gadis berkacamata yang duduk tak jauh darinya. Tampaknya yang tidak nyaman di sini justru gadis itu, bukan dia.

Ia pun meletakkan sumpitnya, lalu menggeser duduknya sampai menghadap gadis nerd itu.

Jujur dia tidak kenal. Bukan teman sekelasnya pula.

Dia tersenyum saat gadis itu menatapnya terkejut. Lalu dia meletakkan seiris daging di atas nasi gadis itu.

“Makanlah yang banyak.”

Gadis itu membenarkan letak kacamatanya yang melorot. “Te-te-terima kasih.”

Dia tersenyum lagi lantas melahap nasinya.

Tak jauh dari sana, Sena yang duduk bersama Lisa, Jenny dan Irene ternyata terus memperhatikan mereka. Sampai-sampai satu kunyahan saja tidak selesai dalam lima menit.

“Ternyata Yoonji baik juga ya,” celetuk Lisa yang juga sama-sama melihat tempat itu. Yah, sebenarnya semua yang di sini juga sedang melihat mereka.

“Selain cantik, dia juga baik. Goals banget,” tambah Jenny.

Sena menelan sisa makanan di mulutnya, lalu memasukkan satu suapan lagi. “Sepertinya dia begitu untuk menarik perhatian cowok-cowok saja.”

Irene memutar bola mata muak. “Terus saja berpikiran negatif, Oh Sena. Aku justru bersyukur enam cecurut di kelas kita berpaling pada dia.”

Sena hanya bisa mendengus. Memangnya dia tulus? Cih, aku tahu motifmu yang sebenarnya, Min Cabe. Terus saja begitu, aku tidak akan kalah.

.

.

.

Pelajaran Sastra Korea, Jung seonsaengnim yang tak lain juga adalah ayah Jung Hoseok, mencetuskan belajar di perpustakaan. Ide bagus, pikir Yoonji. Dengan begini dia bisa diam-diam menulis tanpa harus disibukkan mengurus cowok-cowok yang suka sekali cari-cari kesempatan berbicara padanya.

Sambil menenteng buku tulis dan kotak alat tulis, dia pun pergi ke perpustakaan bersama yang lain. Awalnya dia berjalan sendirian, tahu-tahu seseorang sudah ada di sampingnya. Jeon Jungkook.

Ia hanya melirik cowok itu. Ya ampun, anak-anak jaman sekarang besar-besar sekali. Dia merasa tersindir berdiri di sampingnya. Sudah tidak punya otot, pendek, kaki kecil, berwujud wanita lagi. Sigh….

“Kau mau duduk bersamaku?”

Yoonji mendongak. Anak ini ternyata bisa bicara. “Tidak usah. Aku akan bersama yang lain saja.”

“Oke.”

Hm … ternyata dia jauh lebih gampang ditolak daripada Jimin.

Sesampai di perpustakaan, semuanya bebas duduk di mana pun. Jung seonsaengnim menyuruh siswa-siswi kelas 3-1 untuk mencari buku literatur untuk diulas. Diberi waktu dua jam sampai jam pelajaran berakhir.

Yoonji langsung pergi ke tempat yang tampak tak terjamah. Asal-asalan mengambil buku. Lalu ia pun duduk di lantai dengan posisi menyila.

Nah … ini baru surga.

Bukannya membaca buku yang diambilnya, dia justru mengambil note kecil dari saku blazer-nya. Dibukanya lembar yang kosong, lalu ia pun mulai menuliskan apa-apa saja yang dipikirkannya.

Selama satu jam, persembunyiannya ini aman-aman saja. Tapi tiba-tiba Kim Namjoon yang hobinya memang suka reflek jalan-jalan kalau sudah di perpustakaan, menemukan spot rahasianya. Otomatis note itu dia masukkan ke dalam saku blazer. Matanya menatap Namjoon tajam.

Sayangnya Namjoon malah memamerkan senyum polos. “Eh Yoonji.”

“Kenapa kau di sini?”

Namjoon menggeleng –masih sambil memamerkan lesung pipinya. “Aku sedang jalan-jalan. Kau sendiri sedang apa, Yoonji?”

Yoonji langsung mengangkat novel klasik terjemahan sampai selevel dengan wajahnya. “Aku sedang sibuk membaca. Jangan ganggu aku.”

“Oh begitu. Ya sudah. Aku pergi ya. Saranghae.”

Yoonji langsung pasang wajah horor. Ya ampun … apa-apaan itu tadi?

“Namjoon-ie? Kau sedang bicara dengan siapa?”

Suara yang terdengar familiar itu datang dari sisi kiri Namjoon. Tak lama kemudian si pemilik suara muncul. Oh Sena.

Mereka berdua pun bertemu pandang.

“Oh, cabe? Kau sedang apa di sana? Buang air besar?”

Namjoon langsung menggeleng cepat. Padahal bukan dia yang ditanya. “Yoonji sedang membaca. Ssshhh, ayo pergi.”

Yoonji menyeringai. Kerja yang bagus, Nak.

Dan setelah mereka pergi, Yoonji pun mengeluarkan kembali catatan kecilnya.

TBC

Advertisements

17 responses to “Hello School Girl [Chapter 8] ~ohnajla

  1. Pingback: Hello School Girl [Chapter 9] ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

  2. Pingback: Hello School Girl [Chapter 10] ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

  3. Pingback: Hello School Girl [Chapter 11] ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

  4. Pingback: Hello School Girl [Chapter 12] ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

  5. Pingback: Helo School Girl [Chapter 13] ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

  6. Pingback: Hello School Girl [Chapter 14] ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

  7. Pingback: Hello School Girl [Chapter 15] ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s