Hello School Girl [Chapter 12] ~ohnajla

10f5bcfa3ebb2488e7c9c108d9c732bc

ohnajla || romance, schoollife || Teen || Chaptered ||

Min Yoonji aka Agust D aka Suga BTS

BTS members

Oh Sena (OC)

other cameo

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5||Chapter 6||Chapter 7 || Chapter 8 || Chapter 9 || Chapter 10 || Chapter 11 || Chapter 12

**

Agust D duduk di meja kerjanya dengan kedua telinga yang tersumbat earphone. Saat ini dia sedang bekerja untuk musiknya tapi … pikirannya entah melayang kemana. Semuanya mendadak berantakan. Ia pun melepas earphone itu dengan terburu-buru lalu menghempaskan punggungnya dengan kasar di sandaran kursi. Dipijatnya keningnya dengan satu tangan.

Bukan. Dia tidak sedang memikirkan kata-kata CEO-nya. Dia bahkan belum bertemu dengan pria itu seharian ini. Begitu datang dia langsung kemari dan mengecek kesiapan lagunya.

Tapi semuanya melesat dari rencana.

Bukannya memikirkan lagu comeback-nya, yang ada dia justru memikirkan yang lain.

Oh Sena.

See? Bukankah itu sangat tidak penting?

Kenapa juga dia harus memikirkan gadis sombong dan tak tahu diri itu sekarang?

Padahal sebelum-sebelumnya dia tidak pernah seperti ini tapi kenapa—

Ugh! Rasanya dia ingin segera keluar dari sekolah itu.

“Yoongi-ya—”

Kkamjjagiya!” pekiknya saat mendengar suara Slow Rabbit dari belakang. Pria berkacamata itu angkat kedua tangan seperti tersangka karena Agust D yang dipanggilnya Yoongi itu terkejut akan kehadirannya.

“Santai man. Aku tidak membawa senjata.”

Bukannya tertawa, Agust D justru menampakkan ekspresi kesalnya pada pria yang hanya beda lima tahun darinya itu.

“Ketuk pintu dululah, Hyung. Kalau aku terkena serangan jantung bagaimana?”

Slow Rabbit terkekeh sembari duduk di kursi kosong yang ada di sebelah Agust D.

“Aku sudah ketuk pintu, kau saja yang sedang melamun.”

Agust D menghela napas. Ya juga. Pasti ini gara-gara Oh Sena itu.

“Bagaimana menurutmu? Aku sudah memperbaiki sedikit musikmu dan dapat hasilnya seperti itu? Sudah pas atau perlu kita tata ulang lagi?”

“Entahlah … aku belum mendengarkannya.”

Bagaimana mau didengarkan kalau isi kepalanya penuh dengan tingkah siswi remaja yang kini berstatus sebagai roommate-nya di sekolah itu? Cara gadis itu menyebutnya Min Cabe, tingkah gadis itu yang sangat-sangat membencinya tapi diam-diam perhatian, ketika rambut gadis itu masuk mesin hair dryer, saat mereka tidur di ranjang yang sama….

Kalau saja bukan karena insiden tidur di ranjang yang sama itu perasaannya tidak mungkin campur aduk begini.

“Kupikir kau di sini sejak tadi untuk mendengarkan musiknya. Wae? Kau sedang banyak pikiran? Atau jangan-jangan kau sedang memikirkan roommate­-mu, um?”

Agust D memandang hyung sesama producer itu dengan senyum kecut. “Kenapa juga aku harus memikirkan anak SMA?”

“Hah … kau merendahkan pesona anak SMA sepertinya.”

“Ah sudahlah, itu tidak penting.”

Agust D aka Yoonji baru kembali ke sekolah pukul 11. Dan dia datang bersamaan dengan Kim Seokjin. Trainee itu rambutnya acak-acakan seperti baru saja bangun tidur. Yoonji tanpa disuruh menunggunya di gerbang.

“Oh hai Yoonji-a….” sapa laki-laki itu dengan senyum lelahnya.

Mereka pun berjalan memasuki area sekolah.

“Kau baru pulang dari latihan, huh?” tanya Yoonji basa-basi.

Eo. Hari ini penilaian mingguan.”

Yoonji hanya mengangguk.

“Kau sendiri dari mana?” tanya Seokjin balik sambil memandang sisi wajah Yoonji.

“Dari rumah.”

“Ah … kau selalu pulang ke rumah ya? Anak baik. Pasti kau bisa merasakan semua masakan ibumu.”

Wae? Kau tidak pernah pulang ke rumah?”

Seokjin memasukkan kedua tangannya dalam saku celana sambil menendang batu-batu kecil yang menghadang jalannya. “Ani. Bagaimana aku bisa pulang ke rumah kalau setiap hari aku harus ikut latihan di Big Hit. Rumahku bukan di Seoul sepertimu. Rumahku di Gwacheon. Menjadi kau pasti beruntung ya. Kau bisa makan semua masakan ibumu setiap hari.”

Apa yang dikatakan Seokjin itu salah. Dia sudah jarang merasakan masakan ibunya. Ya bagaimana lagi, sudah takdirnya seperti itu. Kemungkinan besar tahun ini dia tidak akan pulang ke Daegu. Dia harus sekolah sampai bulan Juli. Harus menggelar konser di Chicago bulan Mei. Comeback di hari libur sekolah. Lalu masuk sekolah lagi akhir Agustus. Perkiraan fanmeet bulan Oktober. Perkiraan fansign bulan November. Dan Desember tahun ini dia akan dijadwalkan untuk hadir di semua acara penghargaan di Korea maupun di Amerika. Belum di bulan Januari tahun depan dia sudah ujian untuk kelulusan. Super sibuk sekali bukan?

“Aku pernah menelepon eomma dan bilang ingin pulang. Aku sudah sangat lelah menjadi trainee belum dengan tekanan sekolah dan lain-lain. Tapi eomma bilang jangan. ‘Eomma akan mengirimimu kimchi setiap seminggu sekali asalkan kau tidak pulang sampai mimpimu terwujud’. Awalnya aku kesal karena eomma seolah melarangku untuk pulang dan berpikir kalau eomma tidak menyayangiku lagi tapi … ternyata eomma bicara begitu karena dia tak mau aku tahu kalau keadaan rumah sedang kacau. Tch … eomma selalu saja berusaha membodohiku.”

Yoonji di sebelahnya hanya menyimak.

“Kalau tahu begini sulitnya menjadi trainee, mungkin dulu aku akan menghindari Big Hit sama halnya seperti aku menghindari SM. Kau tahu, meskipun aku sangat suka pada Agust D hyung, aku akan lebih memilih ibuku daripada dia.”

Yoonji meliriknya.

Ya, harusnya kau tidak perlu menjadi trainee sejak awal kalau memang tidak yakin bisa melewati kesulitan seperti itu.

Bebanku dulu jauh lebih berat darimu, Nak.

Kuharap kau tidak akan menjadi seperti seorang Min Yoongi.

Mereka berhenti di depan kantin. Keduanya harus berpisah di sana karena gedung asrama pria dan wanita tidak searah. Gedung asrama pria ada di jalur kanan dari kantin, sementara gedung asrama wanita ada di jalur kiri dari kantin.

Seokjin tersenyum ketika dia bertemu tatap dengan Yoonji. “Terima kasih sudah mau mendengarku.”

Yoonji mengangguk. Terima kasih juga sudah bercerita padaku.

Laki-laki muda itu menggaruk kepalanya sampai rambutnya makin berantakan. “Selama ini tidak ada yang mau mendengar ceritaku. Kau tahu, kau adalah gadis pertama yang kuberitahu.”

Yoonji tersenyum tipis. “Benarkah? Woah … aku tersanjung.”

Seokjin tersenyum malu-malu. “Kau ini benar-benar baik ya. Tidak salah aku bercerita padamu.”

Kalau saja kau tahu aku ini siapa, mungkin kau akan melonjak kegirangan. Ya … kau sangat beruntung bisa bercerita pada idolamu.

“Aku akan ke sebelah sana. Apa kau berani sendirian ke asrama wanita?”

Yoonji menggendikkan bahu. “Tidak masalah, aku bukan gadis yang penakut.”

Yang ada orang lain atau setanlah yang akan takut padaku.

“Oke….” Seokjin menjeda kalimatnya. Kemudian melanjutkan, “aku duluan kalau begitu. Jalja.”

Yoonji hanya mengangguk saat Seokjin melambai padanya sambil berbalik dan menjauh. Setelah laki-laki itu sudah jauh darinya, dia pun menghela napas.

Ternyata menyamar sebagai seorang wanita cukup melelahkan.

Dilihatnya kembali punggung lebar Seokjin yang sudah nyaris ditelan gelapnya malam. Kemudian dia pun berbalik untuk pergi ke asramanya … dan saat itulah dia mendapati Sena sedang ada di latar kantin. Menjilat es krim.

Dahinya berkerut. Sejak kapan dia di sana?

Gadis itu pun menghampirinya tanpa perlu disuruh. Mengulurkan sebungkus es krim padanya.

Dia memandang es krim itu masih dengan dahi berkerut.

“Apa ini?”

“Es krim. Kau tidak lihat?”

Kalau itu sih aku juga tahu. “Maksudku kenapa kau berikan ini padaku?”

“Ini permintaan maafku.”

“Untuk?”

Gadis itu menggaruk pelipisnya gugup. “Yang kejadian di kantin hari minggu lalu. Si nerd.”

Bukannya segera mengambil es krim itu, Yoonji justru memasukkan kedua tangannya dalam saku jaket. “Kenapa harus minta maaf padaku? Minta maaflah pada dia. Kau tidak punya salah apa-apa padaku.”

Sena kembali menarik tangannya dengan ekspresi kesal. “Tidak bisakah kau ambil saja? Untuk apa juga aku minta maaf pada gadis hina sepertinya?”

Yoonji menyeringai. Apakah ini bisa disebut sebagai permintaan maaf? Dia ini bodoh atau bagaimana sih?

Tanpa membalas kata-kata Sena, Yoonji langsung berbalik dan meninggalkannya. Tch, untuk apa dia menghabiskan waktu berbicara pada orang yang tidak tahu diri seperti itu? Minta maaf karena si nerd katanya? Tapi masih menyebut si nerd gadis hina? Astaga.

Sena langsung mengejar kemana Yoonji pergi. “Yaa, tunggu aku!”

“Hei, tidakkah kau keterlaluan? Aku sudah menyisihkan uang jajanku untuk membelikanmu es krim paling mahal.”

Yaa, kau dengar tidak sih?”

“Jadi begini caramu memaafkan aku yang sudah tulus minta maaf?”

Yoonji memutar bola mata bosan. Sekarang dia menyesal kenapa harus memikirkan gadis seperti ini saat berada di meja kerjanya.

“Kau marah karena aku menyebutnya gadis hina?”

Yaa, bahkan yang lain memanggilnya jauh lebih jahat. Anak-anak kelas satu saja memanggilnya sampah. Anak laki-laki memanggilnya pelacur. Kenapa hanya aku yang kau marahi?”

Yoonji berhenti mendadak yang membuat Sena tak sengaja menabrakkan kepalanya ke bahu Yoonji. Dia mendesis dan akan berteriak marah sebelum dilihatnya ekspresi Yoonji yang dingin.

“Jadi hanya karena orang lain menyebutnya seperti itu kau juga ikut-ikutan?”

“Huh? A-aku … aku….”

“Kalau orang lain menyebutmu hina, sampah, pelacur, apa kau mau mendengarku menyebutmu ‘hina’ juga seperti yang lain? Kau mau mendengarku memanggilmu begitu hanya karena aku ikut-ikutan padahal aku adalah roommate-mu?”

Sena tercenung.

Yoonji menghela napas. Ia mengeluarkan tangan kanannya untuk menunjuk es krim yang masih dipegang Sena.

“Berikan es krim itu pada Yoon Heejoo. Bicaralah baik-baik padanya, minta maaf dan panggil dia dengan namanya. Kau punya salah padanya, bukan padaku.”

Setelah bicara begitu Yoonji pun berbalik dan melanjutkan perjalanannya menuju asrama. Meninggalkan Sena yang masih berdiri terpaku di sana, tak peduli dengan es krimnya yang sudah mencair sampai membasahi tangannya.

Kemudian gadis itu sadar dan langsung melempar es krimnya ke tanah.

TBC

Advertisements

17 responses to “Hello School Girl [Chapter 12] ~ohnajla

  1. Yoonji cowok idaman, pantas sena suka…yoongi sdh mulai suka sama sena,mdhn aja hubungan mereka menjadi lebih baik..

  2. Pingback: Helo School Girl [Chapter 13] ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

  3. Pingback: Hello School Girl [Chapter 14] ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

  4. Pingback: Hello School Girl [Chapter 15] ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

  5. yoonji ululuuuh, baru kemarin mau shipperin kamu sama jimin, sekarang jadi shipperin kamu sama jin~
    aaaaarrgghh ketinggalan banyaaakkk.bingung mau baca yg mana ini
    kamu postingnya rajin banget ya ampun -_- pasti kuotanya melimpah ruah deh, bagilah barang 1 giga / 2 giga buat aku wkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s