[CHAPTER 18] SALTED WOUND BY HEENA PARK

sw2

“Kau milikku, sudah kukatakan dari awal, bukan? Kau adalah milikku.”- Oh Se-Hun

.

A FanFiction 

by

Heena Park

.

SALTED WOUND’

.

Starring: Shin Hee Ra-Oh Se Hun-Kim Jong In

.

Romance–Incest-Thriller–PG15–Chaptered

.

Wattpad : Heena_Park

Facebook : Heena

Instagram : @arumnrd

.

Notes : ff ini juga aku share di WATTPAD

.

.

Memperjuangkan berarti berani berkorban, memperjuangkan berarti berani melawan arus, dan memperjuangkan berarti berani memegang teguh keinginan. Semula Se-Hun tak begitu mengerti apa itu arti berjuang demi seseorang, tapi hati dinginnya yang kemudian berhasil ditakhlukan oleh seorang gadis biasa dengan senyum yang luar biasa cantiknya itu akhirnya membuat Se-Hun berdiri di sini. Dikelilingi oleh lima pria berbadan besar yang siap membunuhnya kapan saja.

 

“Semula kukira telingaku salah dengar.” Pria yang duduk di hadapan Se-Hun pun bangkit, matanya memberikan pandangan sengit seolah mengajak Se-Hun berperang, “Tapi ternyata memang semua ini salahmu, Oh Se-Hun. Beraninya kau membatalkan penyerangan!”

 

“Scott, tahan emosimu!” ujar Bruce mengingatkan.

 

Tapi sepertinya pria yang dipanggil Scott barusan tidak begitu mengindahkan ucapan Bruce. Ia meraih pistol di atas meja dan mengarahkannya kepada Se-Hun, hanya butuh satu kali tekanan untuk membunuh pria muda di hadapannya.

 

“Katakan, apa yang membuatmu menghancurkan segalanya atau aku akan memecahkan kepalamu?”

 

Mengatakan perihal alasannya untuk melindungi Hee-Ra pada Scott sama saja bunuh diri. Organisasi pasti akan mencari tahu tentang gadis itu bila Se-Hun memberikan celah sedikit saja untuk membuka identitasnya.

 

“Kemarin bukan waktu yang tepat.”

 

Bukan waktu yang tepat? Scott sudah memperhitungkan segalanya. Semua orang akan mati hanya dengan sekali menekan tombol, lagipula seluruh tempat telah di-booking oleh orang yang mengadakan pesta tersebut.

 

“Tidak tepat katamu?” Scott tertawa renyah, menyindir kebodohan Se-Hun untuk pertama kalinya. “Kaupikir kita bisa mendapatkan waktu yang lebih tepat daripada saat itu? Oh Se-Hun, kau andalan organisasi, bahkan ketuapun juga selalu merekomendasikanmu!”

 

“Scott, jaga emosimu, kumohon!” Merasa tak diperhatikan, Bruce mendobrak meja dan berteriak. Ia tahu Se-Hun telah melakukan kesalahan, tapi sebagai seorang penanggung jawab, wajib bagi Bruce untuk melindunginya.

 

“Berhentilah melindunginya, Waylon! Aku tahu dia adalah anak didikmu, tapi apa yang telah dilakukannya benar-benar merugikan organisasi!”

 

Semua orang terdiam, kemarahan Scott merupakan batu hantam yang paling menyeramkan akhir-akhir ini. Rahangnya mengeras, kesal karena Se-Hun tak kunjung memberikan penjelasan, tapi toh percuma juga memaksa pria itu, yang ada akan semakin makan hati.

 

“Sekali lagi melakukannya, maka kau akan mati.”

 

Mati?

 

Se-Hun baru sadar bagi organisasi kata mati begitu mudah diucapkan. Ia baru sadar jika nyawa seseorang dihargai begitu murah di sini, begitu juga dengan nyawanya. Benar-benar menyedihkan.

 

Se-Hun mengangkat mukanya, membalas tatapan tajam Scott yang mulai menurunkan pistol ke meja. “Bila memang aku harus mati, maka aku akan menerimanya.” Ia berhenti sebentar, meyakinkan diri untuk mengatakan semua ini. “Mungkin aku memang tidak cocok dengan organisasi ini, aku tidak dilahirkan untuk bergabung, mungkin Tuhan berkehendak lain.”

 

“Mengoceh apa kau ini?” Scott tak habis pikir. Bagi seorang pembunuh bertangan dingin, membawa nama Tuhan seolah hidup dengan suci kedengaran memalukan. Tapi Se-Hun tak masalah, walau mungkin terlambat, perlahan Se-Hun akan berusaha mengakhiri semuanya.

 

“Aku pergi, kau selalu bisa menemukanku kalau memang butuh.”

 

Setelah mengucapkan kalimat barusan, tanpa menunggu balasan dari Scott, Se-Hun segera membalikkan badan dan melangkah pergi, sementara Bruce yang daritadi hanya menggeleng miris mendengar setiap suara yang keluar dari mulut Se-Hun segera mengekor, ia harus berbicara dengan Se-Hun.

 

“Oh Se-Hun, we need to talk!” teriaknya untuk menghentikan langkah lebar Se-Hun.

 

Tanpa melirik ke arah Bruce sedikitpun dan merasa tak perlu melakukannya, Se-Hun berucap, “Tidak, Bruce! Kau tahu apa yang akan kukatakan tanpa perlu bertanya. Sampai kapanpun aku akan melindunginya, bahkan bila harus bertaruh nyawa.”

 

Memang dasar Se-Hun keras kepala, ia tak pernah mendengar nasihat Bruce. “Aku tahu, tapi kau juga harus memikirkan keselamatanmu sendiri. Kau tidak harus mengorbankan dirimu untuk gadis itu.”

 

Geli, Se-Hun sangat geli mendengar Bruce berkata demikian. “Memikirkan diriku sendiri?” Suaranya bergetar, sekelebat ingatan tentang masa lalu tiba-tiba menghampirinya. “Untuk apa aku memikirkan diriku jika pada kenyataannya aku telah dijual oleh orang tuaku sendiri? Untuk apa aku mempertahankan nyawa yang telah dibeli ini?”

 

Se-Hun menyerah, ia akhirnya melirik sedikit ke belakang. “Kau tidak perlu mengkhawatirkanku, khawatirkan saja dirimu sendiri. Karena mungkin bila aku kembali melakukan kesalahan dan mati, namamu juga akan terseret di dalamnya.”

 

 

“Apa yang sedang kulakukan sebenarnya?” Hee-Ra mendecak. Beberapa saat lalu, entah bagimana, ide gila untuk masuk ke kamar Se-Hun dan membongkar tempat pribadi pria itu muncul begitu saja.

 

Ia terduduk di ranjang Se-Hun, kamar bernuansa dominan hitam-putih tersebut memberikan kesan manly tersendiri, dan percayalah untuk seorang pria, kamar ini benar-benar rapi.

 

Pandangannya terfokus ke meja kerja, laci yang agak keluar dari tempatnya membuat Hee-Ra tertarik dan mulai mendekatinya. Ditariknya laci tersebut sampai kedua matanya mendapati amplop bewarna coklat.

 

Rasa penasarannya kembali mencuat, dibukanya amplop milik Se-Hun dan lihat! Kenapa Se-Hun menyimpan foto seorang lelaki? Satu orang, tapi dengan gaya yang berbeda. Bukan Cuma itu, kalau tidak salah, pria di foto ini mirip dengan pengusaha yang mengadakan pesta waktu itu.

 

Jantungnya tiba-tiba berdebar tak beraturan, Hee-Ra teringat kala itu tak sengaja melihat sosok pria yang mirip dengan Se-Hun di pesta. Kalau sudah seperti ini, mungkinkah orang yang dilihatnya dulu memang Se-Hun? Tapi untuk apa dia menyamar seperti itu? Apa yang sebenarnya direncanakan oleh Se-Hun? Dan juga, kalau memang pria di pesta itu adalah Se-Hun, lalu gadis yang bersamanya bukan tidak mungkin memang asisten sang ayah, kan?

 

Merasa terlalu lama berpikir, Hee-Ra tersadar ketika suara mobil Se-Hun terdengar. Tunggu, pria itu sudah pulang? Kalau begitu Hee-Ra harus segera mengembalikan amplop coklat ini ke tempat semula sebelum Se-Hun menangkapnya basah-basah.

 

Setelah mengembalikan amplop ke dalam laci, Hee-Ra buru-buru keluar dari kamar Se-Hun dan berdiri di dekat sofa, menanti kedatangan Se-Hun untuk masuk. Tidak butuh waktu lama, seperti perkiraannya, Se-Hun membuka pintu dengan wajah lelah, jasnya disampirkan ke pundak, sementara tangan kirinya menyimpan kunci mobil ke saku.

 

“Kau..sudah pulang?” Bodoh! Apa yang kukatakan barusan? Bertanya sesuatu yang sudah jelas. Batin Hee-Ra.

 

Tapi rupanya Se-Hun tidak mempermasalahkannya, ia mengangkat mukanya dan bertemu dengan tatapan Hee-Ra. Saat itu pula ada hal yang disadari Hee-Ra, yang mana tatapan Se-Hun memang tak pernah bisa berbohong. Tatapan yang sama dari orang yang sedikit berbeda. Tidak, Hee-Ra yakin pria di pesta memang Se-Hun—benar-benar yakin.

 

Tak ingin kelihatan mencurigakan, Se-Hun segera berkedip dan membuang pandangan ke sisi lain, meskipun begitu, ia menjawab pertanyaan Hee-Ra, “Ya, begitulah.” Rasa gugup yang tiba-tiba muncul membuat Se-Hun berusaha menyembunyikannya dengan menjilat lembut bibir bawahnya sendiri. “Aku mau mandi,” tukasnya kemudian berjalan melewati Hee-Ra.

 

“Aku…”

 

“Ya?”

 

Entah apa yang dipikirkan Se-Hun, ia langsung berhenti dan menengok saat Hee-Ra berkata ‘aku’. Kedengarannya memang berlebihan bila merespon seseorang terlalu cepat, tapi Se-Hun tak bisa menahan diri, sungguh.

 

“Waktu di pesta kemarin, aku tahu ini tidak masuk akal, tapi…aku melihat seorang pria yang mirip denganmu,” aku tahu itu memang kau, “aku tidak akan bertanya dan aku tidak akan mencurigaimu, sungguh.” Suaranya berubah pelan, lebih seperti berbisik, “Ah, apa yang kukatakan sebenarnya? Apa aku sudah gila?” kelunya pada diri sendiri.

 

Sebelum membuat Se-Hun kebingungan dan menganggapnya gila, Hee-Ra segera meluruskan, “Lupakan.” Ia mendesah berat. “Kurasa aku kelelahan, kau bisa mandi sekarang,” lanjutnya.

 

Namun, bukannya beranjak pergi, Se-Hun malah berbalik, ia menghampiri Hee-Ra, menarik lengan gadis itu dari belakang hingga berputar menatapnya dan kemudian segalanya seolah berjalan slow-motion, dalam sekali tarikan Se-Hun berhasil menenggelamkan Hee-Ra dalam pelukannya. Mendekap gadis itu erat sambil membiarkan debar jantung keduanya bersatu.

 

Selama beberapa saat, entah karena terlalu kaget atau apa, Hee-Ra tidak memberikan penolakan. Ia membiarkan Se-Hun memeluknya begitu erat tanpa tahu apa arti dari dekapan ini.

 

Detik berikutnya, saat Hee-Ra hendak melepaskan diri, Se-Hun malah memeluknya semakin erat sambil berucap parau, “Kumohon, biarkan aku memelukmu sedikit lebih lama.” Ia berhenti sebentar dan menutup kedua matanya, lantas menyandarkan dagu ke pundak Hee-Ra. “Aku lelah, aku ingin mengisi tenagaku untuk sebentar saja.”

 

Berkali-kali memaksa diri agar mendapat alasan untuk menghentikan kegiatan Se-Hun, Hee-Ra merasa frustasi karena tak berhasil. Bahkan dengan membatin Jong-In sebagai alasannya untuk melepaskan diri dari pelukan Se-Hun, pada akhirnya ada ikatan saudara yang lebih kuat untuk terus membiarkan Se-Hun memeluknya.

 

Di antara kebimbangan yang besar, Hee-Ra memutuskan untuk menggerakkan kedua lengannya dan membalas pelukan Se-Hun. Entah mendapat keberanian dari mana, tapi percayalah bahwa saat ini gadis itu tengah mengusap lembut punggung Se-Hun. Memberikan kasih sayang tanpa perlu diucapkan, memberikan semangat tanpa harus diteriakkan, satu pelukan yang penuh arti, satu pelukan yang mungkin bisa mengubah pendiriannya sendiri.

 

Pelukan mereka berlangsung cukup lama sampai Se-Hun akhirnya bersedia melepaskan Hee-Ra dari dekapannya—meskipun berat.

 

Mereka saling berpandangan, mencari kejujuran di mata satu sama lain, mengartikan pandangan yang selalu sama sejak bertahun-tahun lalu. Detik berikutnya, ponsel Hee-Ra berdering hingga keheningan keduanya terpecah.

 

Saking terkejutnya, Hee-Ra hampir melompat ke belakang. Ponsel sialan! Dengusnya dalam hati. Ia segera mengambil ponselnya sebelum deringannya semakin keras, lalu memberi jarak antara dirinya dengan Se-Hun untuk menerima panggilan.

 

Dahinya mengerut ketika mendapati nama sang Ibu tertera di layar. Pikirannya kosong, ia tidak bisa membayangkan kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi, sehingga tanpa pikir panjang, Hee-Ra segera menekan tombol jawab dan menempelkan ponselnya ke telinga.

 

Baru beberapa detik ia menempelkan ponsel ke telinga, ucapan seseorang dari seberang berhasil membuat jantungnya seakan berhenti berdegup. Bibirnya memucat, dunianya seolah hancur dalam sekali pukulan. Mulut dan telinganya seakan tidak mau bekerja. Bagaimana tidak? Baru saja menerima panggilan dan sang Ibu mengatakan bahwa ayahnya sudah tidak ada di dunia.

 

Kakinya bergetar lemas, ponsel dalam genggamannya meluncur ke lantai begitu saja. Tubuh yang semula tertopang kuat, terkulai jatuh—untungnya Se-Hun yang cekatan langsung sadar dan menopang tubuh Hee-Ra—air matanya keluar, tangisannya histeris, membuat Se-Hun bingung akan apa yang sebenarnya terjadi.

 

“Ada apa? Kenapa kau menangis?” tanya Se-Hun berkali-kali. Tapi Hee-Ra terlalu bingung pada kenyataan yang terjadi. Tangisannya semakin pecah, Hee-Ra melepaskan dirinya dari topangan Se-Hun dan terduduk di lantai, menangis tersedu-sedu tanpa peduli wajah bingung di sampingnya.

 

“Shin Hee-Ra, katakan padaku apa yang terjadi?”

 

Se-Hun menggoyang-goyangkan pundak Hee-Ra, kemudian menangkup kedua pipi gadis itu agar mau menatap kedua matanya. “Kumohon, katakan padaku..”

 

Sulit rasanya untuk sekedar menggerakkan mulut, Hee-Ra tak kuasa menyampaikan berita yang barusan didengarnya. Tangan kanannya menggenggam telapak kiri Se-Hun erat, ia takut, segalanya terasa seperti mimpi, mimpi buruk yang seharusnya bisa diakhiri. Tapi kesadaran akan nyatanya hari ini langsung menerpa kala Hee-Ra merasakan hangat sentuhan Se-Hun di tangannya.

 

Jadi…

 

Ayahnya benar-benar meninggal?

 

Hee-Ra menggigit bibir bawahnya, sedikit lebih keras lagi bibirnya bisa berdarah, tapi ia berusaha untuk tak menyakiti diri sendiri karena hal tersebut hanya membuatnya rugi. Kali ini kedua tangannya menggenggam tangan kiri Se-Hun, meremasnya keras dengan sisa kekuatan yang mungkin tak terasa. Mulutnya terbuka kecil, kedua matanya masih sarat akan kesedihan yang mendalam, “Papa…papa meninggal..”

 

 

Hitam, sejauh apapun matanya memandang, hanya kegelapan yang didapat. Hatinya masih hancur, begitu sulit menerima kenyataan bahwa sang Ayah telah tiada.

 

Jong-In berdiri di ambang pintu, pakaiannya serba hitam, sama seperti yang dikenakan gadis dalam pandangannya. Seorang gadis yang hanya menatap kosong keluar jendela dengan berlinang air mata. Hidungnya merah, matanya bengkak karena terlalu lama menangis, setidaknya itu yang dilihat Jong-In saat ini.

 

Ia sudah seperti itu sejak satu jam terakhir—setelah menerima abu kremasi ayahnya—dan Jong-In kebingungan harus bersikap seperti apa, sampai kemudian memutuskan untuk menemui Hee-Ra, duduk di sampingnya dan mengusap pelan punggung gadis itu.

 

Tiba-tiba Jong-In teringat kejadian beberapa hari lalu, saat sedang menjenguk ayah Hee-Ra di Rumah Sakit—tentu saja tanpa sepengetahuan Hee-Ra karena saat itu mereka masih bertengkar—lagipula Jong-In dan Shin Jae-Woo berada di satu Rumah Sakit.

 

Jong-In beralih mengelus rambut Hee-Ra dengan lembut, ia mendekatkan wajahnya pada Hee-Ra. “Ayahmu pasti akan bahagia di sana..”

 

Hee-Ra tidak menjawab, ia hanya mengangguk dan mengukir senyum. Sudah cukup bagi Jong-In, setidaknya gadis itu mau memberikan respon.

 

Ingin sekali Jong-In bercerita bila Shin Jae-Woo sempat berpesan padanya agar selalu menemani Hee-Ra dan tak mengecewakan putrinya tersebut, tapi Jong-In tak sampai hati, yang ada malah Hee-Ra akan semakin sedih karena tahu ayahnya berpesan seperti itu, seolah sudah menyadari bahwa ajalnya segera tiba.

 

Lengannya memberanikan diri untuk merangkul Hee-Ra dari samping, menarik kekasihnya untuk mendekat dan ikut merasakan kesedihan mendalam yang dirasakan Hee-Ra.

 

Dalam hati Jong-In berjanji untuk melakukan amanah Shin Jae-Woo. Ia akan menjaga Hee-Ra dan tak akan mengecewakan gadis itu, Jong-In pasti akan membawa Hee-Ra menuju kebahagiaan. Ia berjanji.

 

 

Hari yang indah untuk seorang Jasmine Rochester. Ia meneguk segelas wine sambil terus memfokuskan pandangan ke televisi, sementara Bruce tampak mencurigai gadis yang baru saja tiba di mansion-nya ini.

 

“Dia tidak di sini, Jaze,” ujar Bruce, dagunya menunjuk televisi. “Ayah angkatnya meninggal.”

 

Berita kematian Shin Jae-Woo cukup menggegerkan se-antero London, bagaimanapun beliau adalah salah satu pengusaha yang cukup berpengaruh di kota ini.

 

Jasmine tersenyum puas, kemudian menaruh gelas wine-nya ke meja. “Aku tahu, aku sangat tahu tentang hal itu, Bruce.”

 

Ekspresi seperti ini hanya ditampilkan Jasmine saat ia berhasil menghabisi targetnya dengan sangat menyakitkan. Bruce mengerutkan kening, dalam benaknya timbul pertanyaan, mungkinkah Jasmine yang membunuh orang tua angkat Se-Hun?

 

Sadar akan perubahan air muka Bruce, Jasmine menepuk kedua tangannya. “Bravo! Kau benar, Bruce. Apa yang ada di pikiranmu memang tepat!” pujinya.

 

Waktu Jasmine mendapat tugas untuk membunuh pria Korea beberapa waktu lalu, Bruce memang menemaninya, tapi bukan berarti Bruce benar-benar mendengarkan dan mengingat apa yang Jasmine dan Alexander Jones bicarakan. Ia agak buruk dalam hal mengingat.

 

“Alexander Jones, dia yang memintaku untuk membunuh pria itu. Awalnya aku merasa biasa saja, tapi rupanya kenyataan berkata lain,” ia berhenti sebentar dan memandang Bruce tajam, “Shin Jae-Woo ternyata ayah dari gadis yang sangat dicintai Se-Hun, dan kau tahu? Aku benar-benar senang bisa melenyapkan pria itu dengan tanganku sendiri.”

 

Hal paling mengerikan dari Jasmine adalah ia tak pernah ragu untuk membunuh, bahkan jika orang tersebut memiliki hubungan dengan pria yang dicintainya. Oh, Jasmine bahkan telah membunuh kakak kandungnya sendiri, dan percayalah bahwa Jasmine sangat bangga akan hal itu.

 

“Shin Hee-Ra telah membuat Se-Hun hampir membunuhku, Shin Hee-Ra telah menghancurkan mimpi indah yang selama ini kujaga.” Matanya berkilat penuh kebencian, “Dan mulai sekarang, aku akan membalas setiap rasa sakit hati yang telah ditimbulkannya, mengambil setiap orang yang dicintainya, dan membuatnya mati perlahan.”

 

TO BE CONTINUED

Advertisements

79 responses to “[CHAPTER 18] SALTED WOUND BY HEENA PARK

  1. Heolllll kapan bahagianya buat sehun sama heraa?
    Papa hera uda gak ada trus gimana nasib hera?
    Makin kesini makin sedih aja kok ceritanyaa

  2. Sehun..jaga heera..lindungi heera..pengorbananmu gk akn sia sia kok dek..semoga cintamu tersambut..walaupun sblm itu banyak cobaan yg mncoba mnghalangi mu meraih cintamu..
    Pergi sana jauh jauh kau jasmine!!!

  3. Heeooll jasmine neo jinja …. Aishhh psikopat t**gik !!!
    Hera fighting .. Sehun pasti selalu ada disampingmu .
    Ditunggu next chapternya thor

  4. gila…..Tuh kn,tpi seneng deh kalo ngeliat sehun sama heera damai kya gini,tpi mlh ad insiden y bikin heera syook,hah,jasmine itu sungguh gila,knp sehun ga mmbunuh dia aj si

  5. Apa ceritanya masih panjang y thor
    Masa hee ra dan sehun gx ada bahagia” nya
    Semoga aja nanti happy ending

  6. Psychopath girl, Jasmine. Dalang dibalik bencana yg akan dialami heera juga sehun. Bahkan aku lebih takut mereka diapa-apain jasmine drpd organisasi 😦 aku seneng akhirnya sehun mau bertobat wkwkk

  7. Kasihan sehun demi nyelamatin heera harus nanggung resiko nya. Jadi beneran papa nya heera meninggal kasihan banget heera nya. Jasmine jahat san licik sekali pantas aja sehun nggak suka sama jasmine.

  8. Sedihhhh..kasian bgt heera y..gmn perasaan sehun yah??…ya ampun jht bnr deh jasmine..gitu bgt..gmn klo sehun mape tw klo dia yg bnh ayah angkat y..pst makin ngejauhin..

  9. eah kalau sehun tau bakal jadi kaya apa wowowow iya jong jaga heera sehun juga jaga heera. ah sehun mati kek wkwkwk.ggg biar jong yg nikah ama heera wkwkwk.g semangat next chapternya kak aku tungguin uh

  10. Semoga dengan kejaidain ini sehun sadar sama apa dan siapa yang harus dia lakuin dan lindungi dengan bener² biar dia bisa dapet akhir yg bahagia bareng orang² yg dia cintai

    Ea ea banget nih bahasanya /?

  11. Her father passed away…. 😦 so sad… sedihnya…. akan sperti apa lagi hidup Heera stlh ini? akankah Sehun mampu melindungi Heera?? hiks sedih banget
    menguras emosi bacanya! smkin kesini ceritanya smkin keren,!! Salut bwt Authornya! Tlong buat ceritanya sprti “Habis Gelap Terbitlah Terang” ya, kakak Author… ksihan Heera n Sehun susah bahagianya huhu

  12. sehun bakal ttp lindungi heera. ngeri juga jasmine. jgn2 satu persatu org yg dekat heera celaka. nah kalo oya jongin jadi korban juga gak yaa. duh duuuuh… nice story

  13. Yaampun mereka kapan bahagiaa? Ko kayanya konfliknya banyak banget yakk? Apa masih jauh dari krisis?

  14. Jasmine sadisnya bukan mainnnn… Tega banget ngbunuh sodaranya sendiri, yaampunn kaya orang gak punya hati nurani yaa? Ngeri sendiri ngbayanginnya.. Huft, untung sehun gai di bunuh sama organisasi, coba kalo dia sampe di bunuh, pasti nanti hee ra yang jadi inceran selanjutanyaa. Hee ra kasiian, ayahnya meninggal. Apa sehun tau kalo yang ngbunuh si jasmine?

    Ditunggu nextnya ya kakk

  15. Hhuuwwaaa…….
    Jasmine kejam amat…😫
    Dia itu bener2 psikopat gila…….
    Kapan sih dia mampus, enggak tahan liat dia berkeliaran bebas gitu,…😡

  16. thor.. tolonglah buat para readermu bahagia hanya dengan bersatunya heera sehun :’)) aing sudah tak kuattt membaca ini semua huwaaaa takut sehun heera kenapa napa sm si jasmine :((((

  17. Jasmine, tau ngga? Yg kamu lakuin ke papa HeeRa itu JAHAT BNGET. Segitu bncinya kamu dngan HeeRa, tp knapa kamu lampiaskan ke orang yg tdk tau apa2.

  18. Aaaahhh papa heera beneran mati..semoga author buat jasmine mati nantinya..faighting thor izin lanjut

  19. Jasmine sangat mengerikan 😥 Tuan shin berpesan pada Jongin lah nanti bagaimana dengan Sehun?

  20. Jasmine bener bener gapunya perasaan.. katanya cinta sama sehun Tapi bisa bisanya ngebunuh ayah angkatnya..

  21. Aaaarrghh 😤😤… Kesel bgt ke Jasmine, tapi lebih kesel juga ke Alexander 😒, masa nyuruh org ngebunuh karena dia cuma iri? Ini pasti nyakitin Hee-Ra bgt 😭😭😭.
    Tetep keren kok, Kak ;). Aku next chap yaa…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s