PLOT TWINS 2 —Lee Hani

plottwins-new-2

[Lee Hani]

By IMA (@kimkaisure)

Casts : Lee Hana and Lee Hani (OC – Twins), Kim Jong In, Zhang Yixing and will revealed soon

Genre   : Family, Dark, School-Life, Hurt, Romance

Rating   : 17+ (for scenes and words)

Beta : neez

©IMA @saykoreanfanfiction 2017

Poster BSfxo @PosterChanel

“There are two types of people in the world: those who prefer to be sad among others, and those who prefer to be sad alone.” ― Nicole Krauss

[Plot Twins 2]

Seoul

Hidup bersama keluarga yang harmonis tentu menjadi impian bagi semua orang. Berkecukupan, dikelilingi orangtua yang sayang dan peduli, dan menjadi anak satu-satunya yang disayang oleh kedua orang tuanya. Seharusnya Hani bersyukur, keluarga barunya jauh lebih baik dari keluarga Hana di Amerika sana. Tapi, Hani sendiri tidak tahu harus merasa bersyukur atau menyesal karena berada di dalam keluarga itu.

Sarapan bersama setiap pagi adalah rutinitas yang harus dilakukan keluarga Kim –karena ayah tirinya Hani yang bermarga Kim—dan selalu membahas berita terbaru yang sedang hangat diperbincangkan. Hani tentu akan ikut dalam perbincangan itu dan mau-tidak-mau harus sering membaca berita agar bisa menjawab.

“Hani-ya, bagaimana menurutmu situasi politik Korea yang sedang panas sekarang, hm?” tanya tuan Kim seraya menyuapkan potongan roti ke dalam mulutnya.

Tangan Hani berkeringat dingin begitu tatapan ibu dan ayah tirinya itu mengarah padanya. Ia yakin sudah membaca semua berita tentang itu tadi malam. “Mungkin… Akan ada demo besar.”

“Ya, bisa jadi,” ayah tirinya menyeka mulutnya dengan tisu lalu melemparkan senyum tipis pada Hani. “Sebenarnya appa berharap reaksi yang lebih kritis darimu, Hani-ya. Tapi kau sepertinya sedang sibuk dengan kegiatan sekolah sampai tidak sempat baca berita. Jadi appa memaklumi.”

Hani menundukkan kepala sambil memainkan rotinya, tidak bernapsu makan karena perutnya bergejolak tidak enak. “Ne, appa.

Yeobo, aku berangkat sekarang,” tuan Kim bangkit dari kursi seraya memakai jas hitamnya, menghampiri nyonya Kim dan mendaratkan kecupan ringan di kening istrinya itu. Sementara ia hanya mengusap kepala Hani seraya berbisik pelan. “Belajar yang benar ya, Hani-ya.”

Hani meremas tangannya sendiri sambil berusaha tersenyum, menatap kepergian tuan Kim yang menghilang di balik pintu depan bersama supir pribadinya. Helaan napas keluar dari bibir Hani, ia memundurkan piring sarapannya, mengambil tas ranselnya di dekat kaki kursi makan lalu beranjak dari sana.

Eomma, aku berangkat sekarang,” Hani menghadap nyonya Kim yang terlihat memijat pelipisnya. “Eomma sakit?”

“Hani-ya, eomma ‘kan sudah bilang kalau kau harus sering baca berita terbaru. Memangnya kau sesibuk itu sampai tidak sempat baca berita?” seru nyonya Kim, dengan nada setenang mungkin –tersirat sedikit intimidasi.

Hani kembali menundukkan kepala. “Aku sudah baca tadi malam, eomma. Tapi aku tidak tahu harus merespon apa.”

“Kau harus banyak belajar, eoh? Keurae, kau bisa berangkat sekarang,” nyonya Kim bangkit dari kursi makan seraya memutar tubuhnya ke arah Hani. “Belajar yang benar. Jangan sampai rankingmu turun juga di sekolah.”

Ne, eomma,” Hani membungkuk singkat sebelum melangkah cepat meninggalkan ruang makan menuju pintu depan.

Supir pribadinya membukakan pintu mobil, sementara Hani memasuki mobil dengan helaan napas panjang –lagi. Terkadang merasa lelah karena ayah tiri dan ibunya selalu memberikan tekanan di setiap pagi. Ia bukan tipe seseorang yang moody, ibunya selalu mengajari untuk selalu berpikiran positif dan suasana sarapan yang –selalu seperti itu malah menjadi motivasi baginya agar bisa menjadi lebih baik lagi.

Begitu tiba di sekolah, hanya ada beberapa murid yang baru memasuki gerbang –mengingat masih tiga puluh menit lagi sebelum bel masuk. Hani keluar dari mobil, membungkuk singkat pada supir pribadinya sebelum melangkah memasuki gerbang dengan sedikit tergesa. Menundukkan sedikit kepala hingga wajahnya sedikit tertutupi rambut –agar tidak harus bertemu orang-orang yang sudah ada di sekolah.

Memasuki koridor yang dipenuhi deretan loker, Hani segera mendekati lokernya yang berada di sudut. Begitu menemukan pintu lokernya dipenuhi sticky notes berisi umpatan untuk dirinya, Hani hanya bisa menghela napas panjang sambil membuka pintu loker. Bahkan di dalam lokernya sendiri ada banyak sekali amplop dan kertas berisikan tinta darah, seolah meneror dirinya agar tidak sombong dan bersosialisasi dengan mereka.

“Lihat ekspresinya.”

Suara menggumam beberapa murid di dekat Hani sontak membuat gadis itu cepat-cepat mengambil buku-buku yang akan dipakai dan memasukkannya ke dalam tas. Tanpa peduli kertas yang berceceran dari dalam loker, Hani bergegas meninggalkan koridor itu menuju kelas pertamanya.

‘Dasar aneh. Kau pikir selamanya bisa merasa sombong karena peringkatmu itu?’

Ya, Lee Hani, jangan pernah berani mendekati uri Yixing!’

‘Kau tidak akan selamat hari ini, ara?”

Sekelebat ingatan dari kertas-kertas yang berada di dalam loker tadi kembali menghantui Hani. Seraya menghempaskan tubuhnya ke atas kursi, Hani kembali menghela napas panjang. Selalu seperti itu setiap hari, tekanan di saat sarapan bersama dan tekanan saat berada di sekolah. Hani berusaha untuk tidak memusingkan ancaman-ancaman di sekolah, tapi terkadang ketika ancaman itu benar-benar terjadi padanya, ia menyesal karena tidak mematuhi ancaman-ancaman itu.

Sudut mata Hani menangkap sosok laki-laki –yang dari kejauhan saja bisa membuat jantungnya berdegup sangat kencang. Kelasnya berada di lantai dua, dan laki-laki itu baru saja memasuki gerbang sekolah bersama teman satu gengnya. Wajahnya tiba-tiba terasa hangat, membayangkan senyum manis dan lesung pipi –yang bisa membuat wanita mana pun meleleh. Apalagi ditambah suara merdu dengan alunan gitar khas lelaki itu, ia yakin tidak akan ada yang bisa menolak pesona seorang Zhang Yixing.

“Ah ini dia,” suara bernada dingin dari seorang wanita membuat kepala Hani berputar ke arah pintu kelas. “Guru Shin mencarimu, Hani-ssi. Kau disuruh membantunya memeriksa tugas anak-anak kelas.”

Sontak tatapan hampir lima belas murid di kelas menoleh ke arah Hani. Hani menghindari tatapan mereka dengan bangkit dari kursi, merapikan roknya yang sedikit kusut seraya melangkah ke pintu masuk kelas. Mengikuti salah satu murid wanita di sekolahnya -yang memakai rok sangat pendek. Terlihat dari belakang seperti itu, Hani bisa pastikan pakaian dalam wanita itu akan terlihat jika membungkuk sedikit saja.

Begitu memasuki ruang guru, wanita itu meninggalkannya dan membuat Hani mematung di belakang pintu. Memperhatikan guru-guru yang duduk di meja masing-masing, Hani melangkah dengan ragu mencari meja guru Shin –yang sudah ia hapal karena hampir setiap hari pergi ke sana. Well, untuk seseorang yang selalu berada di peringkat satu se-sekolah, ia tentu sering dimintai tolong oleh guru-guru.

“Ah, Lee Hani!” suara nyaring guru Shin menyambut Hani yang masih berjalan di lorong antara cubicle.

Hani menyunggingkan senyum tipis seraya membungkuk singkat setelah tiba di depan meja guru Shin. “Selamat pagi, sonsaengnim.”

“Tolong periksa kertas kuis kemarin, ya. Sampai bel masuk saja, nanti bisa dilanjut saat jam istirahat,” guru Shin merapikan rambut klimisnya ke belakang dan mempersilakan Hani duduk di kursi yang berseberangan dengannya. Ia meletakkan setumpuk kertas ke depan Hani dengan seulas senyum tipis. “Aku harus rapat ke sekolah lain. Nanti kalau sudah selesai, taruh saja di atas meja.”

Ne, sonsaengnim,” Hani menghela napas panjang –lagi begitu guru Shin meninggalkannya di sana. Melangkah menuju pintu keluar sambil bersenandung pelan dan menyapa –sambil setengah menggoda pada guru-guru wanita yang ditemuinya sebelum keluar dari pintu.

***

Pagi-pagi sekali Hani sudah duduk di meja makan, menunggu pelayan-pelayan di rumahnya selesai menyajikan sarapan di atas meja sementara ia sibuk membaca headline berita yang sedang panas akhir-akhir ini melalui ponselnya. Ia harus terus membaca perkembangan di negaranya sendiri, apalagi berita tentang bisnis, saham, dan politik. Jika ayah tirinya kembali menodongnya seperti pagi-pagi sebelumnya, ia akan siap menjawab dengan lantang.

“Selamat pagi, Hani-ya,” tuan Kim menghampiri meja makan dan mengusap kepala Hani sebelum duduk di kursi makan di ujung meja.

Ne, appa,” Hani membalasnya dengan membungkuk singkat sementara matanya memperhatikan nyonya Lee yang duduk berseberangan dengannya sambil mengulas senyum tipis. “Selamat pagi, eomma.

Melihat kedua orangtuanya sedang dalam mood baik pagi itu, membuat Hani bisa sedikit bernapas lega. “Apa ada kabar baik hari ini?”

Eoh, China mulai mau menerima barang dari perusahaan appa lagi,” tuan Kim menyunggingkan senyum tipis lalu memperhatikan Hani yang ikut tersenyum menanggapinya. “Bagaimana sekolah? Apa ada kendala?”

Kedua tangan Hani di bawah meja terkepal tanpa sadar. “N-ne, baik-baik saja appa. Akhir bulan ini ada olimpiade Sains tingkat Seoul, dan sepertinya aku yang dikirim ke sana.”

Jinjja?” tanya nyonya Lee tidak percaya, “Kau harus belajar yang benar, eoh?”

Hanya seulas senyum tipis yang Hani berikan, tidak berharap lebih atas apa yang sudah ia dengar. Ayah tiri dan ibunya bahkan tidak memuji prestasinya dan malah menyuruhnya belajar lebih keras. Atau mungkin ia harus memenangkan olimpiade itu agar bisa mendengar pujian dari kedua orangtuanya.

Tak lama kemudian setelah Hani menghabiskan sarapan, ia segera berpamitan pada kedua orangtuanya dan bergegas berangkat ke sekolah. Seperti biasanya, Hani selalu menggerai rambut panjangnya dan berjalan dengan sedikit menunduk agar wajahnya tidak terlalu kentara. Dengan seperti itu, ia tidak harus membalas tatapan para murid yang ditemuinya di koridor.

“Lee Hani~.”

Langkah Hani terhenti karena beberapa orang menghadangnya di koridor, dengan suara tawa menggelikan dan tangan-tangan dihiasi kuku cantik yang mulai menyentuh bahunya. Tanpa mau mengangkat kepala, Hani hanya mengepalkan kedua tangan di samping tubuhnya dan tidak melakukan apapun.

“Hani-ya~,” wanita bertubuh semampai dengan kaki jenjang dan putihnya –yang memiliki name tag bertuliskan Hyejong, merangkul Hani dengan erat. “Apa kau sudah sarapan?”

Hani terpaksa mengangkat kepala, memperhatikan tiga wanita yang ikut mengelilinginya selain Hyejong. Namun tatapannya malah menangkap sosok laki-laki yang bersandar di deretan loker, dengan permen lolipop kesayangan yang selalu bertengger di mulut dan memperhatikannya dari kejauhan. Hani kembali mengalihkan tatapannya ke bawah, menyembunyikan wajahnya dari tatapan mengerikan wanita-wanita itu.

Ya~, kenapa tidak jawab?” wanita yang bersuara paling nyaring sedikit mendorong bahu Hani, namun segera dihentikan oleh Hyejong.

Anhi, jangan mendorongnya, Momo-ya.”

“Apa yang kalian mau?” Hani memotong perdebatan menggelikan itu tanpa mengangkat kepalanya.

“Ah, kau sudah tahu, ya?” Hyejong terkekeh pelan dan merapatkan Hani di rangkulannya, sambil menyeret gadis itu agar mengikutinya. Senyuman Hyejong sontak tertuju pada laki-laki –yang masih dengan pose bersandar pada loker dan lelaki itu hanya menggoyangkan permen lolipop di tangannya untuk membalas. “Jong In-ah, apa kau sudah sarapan?”

Jong In menyunggingkan senyum tipis seraya memperhatikan Hani dan Hyejong –yang berhenti di hadapannya secara bergantian. “Tapi aku belum dapat ‘dessert’ yang enak.”

Dari balik rambutnya, Hani menyeringai pelan, menangkap arti di balik ucapan Jong In. Hingga Hyejeong melepaskan bahunya –dan menggamit lengan Jong In, menyerahkan diri sebagai ‘dessert’ lelaki itu. “Ya! Lee Hani, aku meninggalkan buku tugas di atas mejamu. Tolong kerjakan tugasku sekalian, eoh? Girls, lepaskan Hani, biarkan dia mengerjakan tugas di kelasnya.”

Hani merasakan tangan-tangan lentik yang dihiasi cat kuku warna-warni itu mulai menjauh dari tubuhnya. Kedua mata Hani memperhatikan Jong In dan Hyejeong yang berjalan bersama entah kemana, sementara teman satu geng wanita itu juga berangsur meninggalkannya. Hembusan napas keluar dari bibir Hani sebelum melangkah cepat menaiki tangga dan menuju ke kelasnya di ujung koridor.

***

Waktu yang Hani paling tidak suka selain pagi hari –sebelum bel masuk—adalah jam setelah pelajaran kedua, tentu saja jam istirahat. Ia hanya memperhatikan teman-teman sekelasnya berhamburan keluar bersama sahabat masing-masing, sementara ia berdiam di sudut kelas. Hanya mengulum senyumnya dan bersandar pada kursi, mengeluarkan ponselnya dari dalam saku dan memperhatikan wallpaper di layar ponselnya. Wajah konyol Hana bersama sahabatnya dengan background layar-layar besar di New York Times Square.

Memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku blazer, Hani beranjak dari kursi sambil membawa beberapa buku tulisnya. Menghindari para murid yang berlarian ke cafetaria di lantai satu, Hani berbelok di koridor dekat kelasnya, menuju arah perpustakaan. Tempat dimana murid-murid sepertinya mendapat ketenangan.

Tepat seperti bayangannya, perpustakaan hanya berisi tiga murid yang sedang sibuk membaca di meja-meja yang berderet dekat jendela. Hani membungkuk singkat pada wanita penjaga perpustakaan di meja depan dan memasuki bagian dalam perpustakaan. Mencari referensi buku-buku untuk bahan belajarnya sebelum menghadapi olimpiade akhir bulan nanti.

Hani menarik buku yang ditemukannya di salah satu rak, namun pandangannya tidak terfokus pada buku ketika ia menemukan hal yang aneh dari balik rak. Ia sedikit membungkuk, mengintip melalui celah buku –yang tadi diambilnya dan melihat sepasang murid yang sedang bercumbu mesra di lorong antara rak buku. Hani mengernyit, memundurkan kepalanya kembali dan mengendikkan bahu tak acuh sambil melangkah keluar dari rak dan mencari tempat duduk.

“Hani-ssi?”

Hani yang baru menarik kursi dekat jendela dikagetkan dengan suara bisikan seseorang di belakang. Sontak Hani menoleh dan menahan napasnya sendiri saat melihat sosok lelaki berlesung pipi yang tersenyum ke arahnya.

Wae? Kenapa kaget seperti itu?” Yixing terkekeh pelan sebelum menarik kursi di samping Hani seraya meletakkan dua bungkus roti dan satu susu kotak ke atas meja –dekat buku-buku Hani. “Kau tidak makan siang lagi.”

Hani tersenyum tipis lalu duduk di kursi –sebelah Yixing, meraih susu kotak rasa cokelat kesukaannya. “Terima kasih, Yixing-ssi.”

“Jangan suka skip makan siang, nanti kau malah sakit saat olimpiade,” Yixing memutar-mutar pulpen milik Hani sambil menopang kepalanya ke arah gadis itu. “Mereka mengancammu lagi ‘kan?”

“Selama mereka tidak main fisik, aku tidak apa-apa,” Hani membuka buku teori Sains yang ditemukannya saat tiba-tiba sekelebat pemandangan menjijikkan tadi terlintas di pikirannya. Kepala Hani terangkat, memperhatikan lorong di antara rak yang tadi dijadikan tempat bercumbu oleh sepasang murid.

Dan di saat yang bersamaan Hani melihat murid wanita keluar dari sana seraya merapikan seragam dan rambutnya yang berantakan. Dengan bibir yang bengkak dan beberapa tanda kemerahan yang samar-samar berusaha ditutupi dengan rambut panjang, wanita itu berjalan cepat menuju pintu keluar perpustakaan.

Hingga kedua mata Hani bertemu pandang dengan sosok laki-laki yang keluar dari lorong yang sama dengan wanita tadi. Menyunggingkan senyum miring ke arahnya sambil merapikan rambut sebelum berlalu dengan kedua tangan di dalam saku celana. Sosok laki-laki yang selalu membuat perut Hani terasa tidak enak bahkan hanya dengan bertatapan dalam beberapa detik seperti tadi. Bukan karena ia menyukai Jong In tentu saja, justru karena ia sangat membenci lelaki itu.

“Hani-ssi, aku harus ke kelas duluan. Jangan lupa dimakan rotinya,” Yixing meletakkan kembali pulpen milik Hani dan memindahkan roti-roti itu ke atas buku. Menyunggingkan senyum pada Hani lalu berjalan cepat meninggalkan gadis itu keluar dari perpustakaan.

Hani menghela napas panjang, meletakkan susu kotak yang sudah dibuka ke atas meja dan meraih roti yang dibelikan Yixing dengan tidak selera. Ia membaca buku teori Sains sambil memakan rotinya, namun tidak benar-benar fokus pada apa yang dibacanya. Konsentrasinya sudah terpecah karena kehadiran laki-laki menjijikkan yang membuat otaknya tidak bisa kembali fokus.

Pada akhirnya Hani beranjak dari meja, merapikan buku yang tadi dibacanya dan mengembalikan buku-buku itu kembali di raknya. Sambil memeluk buku catatan, memegangi roti, dan kotak susu –yang dengan bodohnya—ia bawa semua dari meja, ia sedikit kesusahan menaruh buku itu kembali ke dalam rak.

“Butuh bantuan?”

Kepala Hani menoleh ke arah Jong In yang –entah datang dari mana –dan tiba-tiba saja bersandar pada rak buku di dekatnya. Dengan senyuman simpul –sedikit miring dan tangan terlipat di depan dada, Jong In memperhatikan gerak-gerik Hani yang kerepotan sendiri.

“Tidak, terima kasih,” Hani meletakkan barang-barangnya ke atas karpet perpustakaan dan memasukkan beberapa buku yang dibacanya kembali ke dalam rak.

“Ah, jadi kau yang mengintipku di rak ini tadi?” Jong In sedikit membungkuk dan mengintip melalui celah-celah buku seraya menggelengkan kepala. “Ck ck ck, aku tidak tahu kalau seorang Lee Hani ternyata suka melihat adegan seperti itu.”

“Aku tidak mengintip,” Hani masih berusaha bersikap dingin dan sedikit mendorong Jong In agar ia bisa memasukkan buku-buku itu kembali ke dalam rak dan menutup celah menuju rak sebelah.

“Waah, jinjja, kau mendorongku dan tidak mau mengaku?” Jong In menyeringai pelan seraya memperhatikan Hani yang kembali memunguti barangnya dari atas karpet. Sebelum Hani melarikan diri, ia cepat-cepat merentangkan tangan dan kakinya –mencegah gadis itu keluar dari sana. “Aku tidak suka diintip.”

Hani hanya melirik lelaki itu sambil menghela napas panjang. “Aku harus kembali ke kelas.”

“Tidak boleh sampai kau mengaku sudah mengintipku tadi,” Jong In memiringkan kepalanya, dan tersenyum miring memperhatikan Hani yang mulai gelisah.

“Minggir,” Hani masih berusaha sabar, mengabaikan perutnya yang mulai terasa mual karena terlalu lama berinteraksi dengan lelaki itu.

“Tidak mau,” masih dengan bersikeras, Jong In menghadang Hani keluar dari lorong. Namun ia kalah cepat dengan Hani yang tiba-tiba menarik buku tebal dari dalam rak dan menjatuhkan buku itu hingga menimpa kakinya. Jong In hampir berteriak –jika tidak ingat berada di perpustakaan sambil mengangkat kakinya yang terasa ngilu.

Kesempatan itu digunakan Hani dengan menyelinap dan bersiap melarikan diri ketika tiba-tiba saja tangannya ditarik dari belakang. Membuat susu kotaknya terjatuh dan tumpah ke atas karpet diikuti buku catatan dan roti miliknya yang juga berserakan di atas karpet. Hani merasakan punggungnya menabrak rak perpustakaan dengan tubuh tinggi dan atletis Jong In menutupi tubuhnya. Kedua mata Hani terpejam begitu merasakan hidungnya menyentuh dada bidang lelaki itu, sementara napas Jong In menyentuh puncak kepalanya.

Tangan Jong In mengunci setiap sisi tubuh Hani, dengan senyum miring ia sedikit menundukkan kepalanya dan berbisik di telinga gadis itu. “Kalau kau memang menyukai adegan seperti ini, kau tinggal bilang saja.”

Kedua tangan Hani terkepal, tenggorokannya tercekat dan ia sudah hampir menangis karena ketakutan. Ia bahkan tidak punya tenaga untuk melawan dan mendorong Jong In yang kini mulai memainkan rambutnya. Udara di sekitarnya terasa menipis, wangi tubuh Jong In bahkan menambah rasa mual yang mengaduk-aduk perutnya sejak tadi. Ia hanya berharap seseorang datang menolongnya dari tangan menjijikkan lelaki itu.

Haksaeng?”

Suara petugas perpustakaan yang semakin mendekat sontak membuat Jong In menjauh. Lelaki itu mengacak rambutnya sambil berdecak, merasa tidak suka karena kegiatannya menjahili Hani harus terganggu. Melihat Hani yang masih merapatkan punggung pada rak buku dengan kedua mata terpejam ketakutan malah membuat Jong In tersenyum geli. Ia berjongkok untuk merapikan barang-barang Hani yang berantakan sebelum melangkah cepat meninggalkan gadis itu.

Begitu wangi tubuh Jong In menjauh, Hani memerosotkan tubuhnya. Kakinya yang terasa lemas sudah tidak sanggup menopang berat tubuhnya sendiri. Bahkan air mata entah sejak kapan mengalir di pipinya, tangannya bergetar dan ia hanya mendengar samar-samar suara petugas perpustakaan yang berlari menghampirinya.

Tidak, itu tidak separah apa yang pernah Jong In lakukan sebelumnya, mungkin hanya sebagian dari adegan menjijikkan dan bodoh yang selalu Jong In lakukan padanya. Tapi ia tidak pernah terbiasa, rasa takut  dan mual selalu menyerang jika Jong In berada di dekatnya dan melakukan hal bodoh seperti tadi. Ia tidak memiliki alasan untuk tidak membenci lelaki itu, karena semua yang terjadi membuat ia semakin membenci kehadiran Jong In dimana pun yang bisa tertangkap oleh pandangannya.

[PLOT TWINS 2 — CUT]

Casts Introduction  — 0 PROTEA — 1 Lee Hana



Ima’s Note :

1 bulan lebih 10 hari :’)

Maafkan daku yang belum bisa tepati janji /halah/

Sorry for typo(s) 😦 Aku ga sabaran ingin post padahal ka neez blm ngebeta wkwk hampura ka neez 🙂

Tapi serius, aku gabisa nepatin janji seminggu sekali post huhu karena ekspektasi tidak sesuai realita/?/

tiap minggu ngejar-ngejar dosen-revis-ngejar dosen-revisi-gitu terus sampe seminar wkwk tapi mudah-mudahan cepet seminar huhu minta doanya yaa~

Terima kasih buat yang masih mau baca

Ngga sepanjang ekspektasi kalian, tapi next chapter akan lebih panjang dari part awal yang sekiranya lebih mirip introduction hihi terima kasih

With Love,

IMA

Advertisements

39 responses to “PLOT TWINS 2 —Lee Hani

  1. makin penasaran ama ceritanya, dri introduce aja sdh se-Menarik ini…..selalu nunggu koq wlau agak lama updatenya…hwaitinggg author-nim buat seminar n update ffnya…hehehehe

  2. wah…..Akhirx dipost juga,gak apa2 kok Authornim,walaupun lama tapi kami sllu menanti kok 😀 😀 😀 ,wah…..Jong in jailx keterlaluan sih…..Si Icing itu kok ky biang mslh buat hani ya???
    padahalkn niatx baik,tpi disalah artikn sm yeoja2 badung itu lo,kasian si hani….Appa dan Eommanya malah ky gimana ya…..Shrusx kn ortu it tdk mmbebabi ank mreka sperti itu,hanikn cuma gadis SMA biasa,bukan mahkluk sempurna seperti apa y Appa dan Eommanya pikirkn

  3. Udah tunggu ff ini dilanjut. Akhirnya dilanjut. Liat appa tiri sma oemma nya hani gmna gitu, kok spti memaksakan hani utk tau ini itu ngelakuin ini itu. Dan itu sih jongin napeun banget

  4. Aku jd penasaran, emang apa yg udah jongin lakuin ke hani yg parah bgt itu? Jongin bukannya benci sana hani ya? Apa ngejahilin yg jd cara dia dalam membenci hani? Sebenarnya akublebih kepo sama hidupnya hani yg penuh misteri daripada hana yg glamour dan open bgt wkwk

  5. Aku kira udah gk dilanjut karena aku nunggu bgt cerita ini, makasih ya udah update semoga next chapnya gk ada kendala trd dpt ilham spya updatenya cpt 🙏

  6. msh byk bgt misteri disini. knp hani bgt benci bgt sma jong in ? pst ada alasan laen yg lebih wow ! btw mrk bukan saudara tirikan ?

  7. Akhirnya update jugaaa!! Huu kak ima aku tunggu banget loh ini:(( eh kita sama loh kak, semoga skripsweetnya lancar ya kakk. Semangaatt💪🏻💪🏻 Biar makin semangat juga lanjutin ceritanya hehe.
    Btw hani sama jongin pernah ngapain kak? Kok macem kaya yang pernah diapa2in gitu ya kak:33 wah wah!! Aku tunggu nextnyaa☺️☺️

  8. Waduh kyknya jongin bkn cuma sekali aja ngerjain hani tp pernah lebih dari itu..
    Omg sebenrnya jongin knp sih seneng bgt isengin(?)Hani…
    Siip ceritanya makin greget errr

  9. Akhirr nya update juga…wahh kasian juga hani y..kaya ujian aja cma sarapan juga…btw jongin kaya y suka deh ma hani..dia ngerjain nya kaya gitu…atw emang jongin suka ngebullý hani y parah bgt…

  10. hidup hani berat ya, terus di paksa sm ortunya n dibully d sekolah. penasaran nnt Hani sm jongin ato yixing, trus hananya nnt ma siap juga??
    ditunggu kelanjutannya thor

  11. Aku kira jongin bakalan sama hana yg sama2 sifatnya pemberontak , tapi ini sama hani yg baik2 , wuahhhh ka ima keren >< aku ga bisa ngebayangin kedepannya gmn , trus yg sama hana siapa? Aku harap msh member exo soalnya aku cuma kenal exo doang ka , pokonya semangat buat real life kk , i love so much pokonya sama ka ima ^^

  12. yash akhirnya diposting 😳
    ditunggu tunggu tiap minggu ternyata malah ngejar2 dosen 😆
    kapan ketemu hana nya, aaa makin penasaran 😆
    semangat skripsinya ya!!!

  13. Hani sama keluarganya ‘unik’ gitu ya? Cem gue ditanya “apa kabar Indonesia hari ini?” sama temen. LOL. iya walaupun ngaret lama. Tapi tetep excited kok nunggunya. Keep writing kak 🙂

  14. Ommmmoooooo aku suka bgt dg plot twins ini!! haduh begitukah cerita hidup Hani? 2 saudari kembar itu sjjurnya sama2 mengalami tekanan, bedanya Hani mmpu ngendalikan uneg-unegnya.. banyak sedihnya sih bca Hani. tp mata lgsg melek pas ad Jongin yg jailin Hani haha…. ql q jd Hani sih bkux ga q jatuhin dikaki Jongin, tp q pentokin ke kepala abag Jong biar bisa kabur haha… Semangat buat author Ima kuliahnya, ciye yg bntr lg seminar.. Sekses ya, semoga dimudahkan smpai mnjlg sidang skripsi, Aamiin… 😀

  15. ouh aku kira jongin disini bakalan jadi pacar hani ehhh ternyata dia malah jahat sama Hani. Dan apakah jongin itu saudara tiri Hani ?? kasihan banget ya jadi Hani 😂😂😂😂

    it’s okayy unnie… dimaklumin pake banget. semangat aja unnie! Fighting 😚😃😃

  16. kereeeeen…👍👍👍
    baca ff ini jadi inget lee eun bi sama go eun byul school 2015
    semangaaaaaat authornim~

  17. Jongin uda kayak virus penyakit yg harus d hindari oleh hani. hahaha
    jongin parah.. suka ngjahili hani ya.. bahkan sebelumnya lebih para dr kejadian yg d perpus ini. uuhhh.. jd penasaran emang apa yg d lakukan jongin.
    entah… tp aku suka adegan jongin ngejahili hani, ckk… entar lama2 bisa jd saling cinta ni, wekkkk..

    jd kakak lg skripsi ya.. ok d maklumi deh.. aku jg uda pernah ngerasain bagaimana rasanya ngejar dosen itu. revisi lg revisi lg..
    yg semangat semoga cepat sidang.

    aku doa in semoga update chap 3 nya gak lama.

    fighting

  18. Yampun kayaknya Jongin udh pernah ngelakuin hal yg gk2 ke Hani sampek2 Hani sebenci itu ke dia. Poor Hani 🙁
    Dan sebaliknya aku sempet mikirin alasan Jongin beni Hani, klo Jongin itu benci Hani gara2 ayahnya nikah sama ibunya Hani, aku liatnya dari marganya ‘Kim’, jadi aku mikirnya Jongin itu benci Hani gara2 itu, *eh maafkan otakku yg konslet ini 😆 aku sok tau ya hehehe. Maafkeun aku.

    Dan yg buat aku penasaran bgt itu gimana reaksi Jongin setelah Hana sampe ke Korea, pasti dia bakal gak binggung kenapa Hani ada 2(?) 😆😆

    Dan sekali lagi semangat buat kak IMA, semoga skripsinya cepat selesai dan berjalan lancar. XOXO 😙

  19. Jangan jangan bapak tirinya hani itu bapaknya jongin? Entah kenapa suka liat adegan hani diapa2in sama jongin haha. Benci sama cinta itu tipis lho haha.

    Semangat buat skripsi nya. Semoga lancar sampai wisuda. Kalo penat berarti saatnya nerusin cerita ini, sis

  20. Hani terlalu dikekang sama bapak tirinya harus tau ini itu emang apa untungnya itu buat hani hufff.. jongin kok suka ngejahilin hami ya? ntar cinta lo jong hihihi ada yixing yg baik hati juga disini ^^ next kak..

  21. akhirnya yang di tunggu tunggu datang juga… satu bulan lebih loohh.. lanjut baca dulu ya.. ^^

  22. ga sabar ngeliat hana ke korea… dan ketemu sama si jongin… lanjut terus thor.. kalo bisa jangan lama” ya.. aq selalu stay tune di INSTAGRAMNYA hana, sama hani… FIGHTING!!!

  23. Ok ok ok
    Aq makin pnasaran ajha ni
    Itu jongin aslinya suka atau gmna siiihh…
    Duh buset.. lanjutin dong ima…

  24. Hidup Hani emang harmonis dibanding hidup Hana, tapi liat hidup Hani yang penuh tuntutan dalam segala hal malah buat bosen. Hani pasti sebenernya udah lelah tapi ia terima aja.

    Jadi, yang Jongin lakuin tadi ke Hani pas di perpus tuh bukan yang pertama. Keknya diam-diam Jongin suka Hani.

    Penasaran sama alur ceritanya. Jongin nanti sama siapa ya? Hani or Hani.

    Ditunggu next chapternya. Semangaaaat kuliahnya kak.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s