Hello School Girl [Chapter 14] ~ohnajla

 

rooms

ohnajla || romance, schoollife || Teen || Chaptered ||

Min Yoonji aka Agust D aka Suga BTS

BTS members

Oh Sena (OC)

other cameo

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5||Chapter 6||Chapter 7 || Chapter 8 || Chapter 9 || Chapter 10|| Chapter 11 || Chapter 12 || Chapter 13 || Chapter 14

**

*anggap foto di atas adalah kamar asrama Yoonji x Sena 😀 

Sena berdiri menyandarkan setengah badannya sambil melipat kedua lengan di bawah dada pada rak buku Yoonji. Ia pun berdehem untuk menarik perhatian si rambut bob itu. Yoonji mengernyit.

“Aku sudah minta maaf pada nerd—”

“Heejoo,” koreksi Yoonji sambil kembali memandang laptopnya.

“Ah ya, maksudku itu.”

“Lalu?”

“Ya, dia memaafkan.”

“Oh.”

Hening. Sena menggaruk tengkuknya canggung karena kehabisan kata-kata. Padahal dia berharap Yoonji mau bertanya-tanya lebih lanjut tapi yang ada malah macet di tengah jalan. Ia pun berjalan menuju ranjangnya. Kini sudah tak ada lagi yang namanya garis batas ataupun kesepakatan. Mau Yoonji ke tempatnya, dia ke tempat Yoonji, semua itu sekarang bebas.

“Apa yang sedang kau kerjakan?” tanya Sena setelah mereka menghabiskan waktu 2 menit hanya untuk saling diam.

“Biasa.”

“Membuat musik?”

Yoonji mengangguk.

“Kenapa kau suka sekali membuat musik? Memangnya … kau ini mau jadi artis ya? Atau … memang artis?”

Yoonji pun menoleh. Menempelkan telunjuknya di bibir. “Mohon tenang, babi. Jangan ganggu konsentrasiku dulu.”

Babi lagi. Sena mencelos mendengar nama panggilannya. Sampai kapan Yoonji akan memanggilnya babi? Apa mungkin dia harus diet dulu supaya gadis itu tidak memanggilnya babi lagi? Padahal sekarang berat badannya hanya kelebihan 3 kg dari berat badan idealnya. Ia pun melipat kedua lengannya lagi sambil cemberut.

“Oh ya, Heejoo memberiku cokelat tadi siang.”

Sena langsung menoleh sambil membelalakkan matanya. “Jinjja? Heejoo yang nerd itu?”

Woah … si hina itu diam-diam mencuri start.

Dasar! Bukankah sudah kuperingatkan untuk tidak mendekati Yoonji lagi?

Tch, anak itu sepertinya harus diberi pelajaran.

Berani-beraninya mengambil milikku.

“Aku tidak suka manis-manis sayangnya. Kalau kau mau ambil saja di tasku.”

Wajah Sena makin kusut. “Aku tidak mau. Aku juga tidak suka cokelat.” Bohong, padahal setiap dia beli lollipop, es krim, dan sebagainya dia pasti memilih rasa cokelat. Bahkan kalau ada pria yang menyukainya, dia akan lebih memilih diberi cokelat daripada se-ton bunga mawar.

“Oh ya? Ya sudah. Mungkin Jimin mau—”

“AAA!”

Yoonji tersentak. Nyaris saja dia melempar laptopnya. Dipandanginya gadis remaja itu dengan heran. Anak ini kenapa sih?

Sena sendiri yang sudah berdiri dengan wajah kesal, menghentak-hentakkan kakinya seperti anak-anak. “Kau ini tidak peka sekali sih?! Bagaimanamungkinakutidaksukacokelatkalauakuinginpacarkumemberikucokelatdaripadabunga?!” Teriaknya dalam sekali tarikan napas.

“Kalau begitu kenapa kau bilang tidak su—”

Sena langsung mengambil tas Yoonji, mengeluarkan semua barang-barang di dalamnya lalu diambilnya kotak berwarna hijau yang diberi pita pink. Segera dibukanya kotak itu, lalu melahap satu kotak cokelat, ditambah satu kotak lagi, satu kotak lagi sampai mulutnya penuh.

“Hei hei, pelan-pelan. Kau bisa ter—”

“UHUK!”

Baru saja dibicarakan kotak-kotak kecil cokelat yang sudah berliur pun bermuncratan ke atas seprai. Bagus. Sena membelalak terkejut, sedangkan Yoonji menatap horor seprai putihnya yang sudah penuh dengan bercak kecokelatan.

“Uhuk! A-ah … maaf aku—”

Yoonji menghela napas sambil memijat keningnya.

Kenapa nasibku selalu sial.

Dewi Fortuna, kau ini kejam sekali.

Tidak bisakah kau berikan aku ketenangan dan kedamaian sekali saja di sekolah ini.

Aku hanya punya satu sprei dan sekarang dia sudah luluh lantak oleh gadis babi itu.

Di mana nanti aku harus tidur, oh Dewi?

Kau pasti tidak mau menampungku di kamarmu.

Tsk, apakah hari ini harus ada tidur bersama part 2?

Aaaahhhhh…

Biarkan aku mengumpat dulu pada kesialanku.

.

.

Malam itu mereka berdua benar-benar harus tidur di ranjang yang sama, dikarenakan ranjang Yoonji yang tanpa seprai dan antisipasi kalau banyak semut yang berdatangan. Sekali lagi, ini sungguhan tidur bersama part 2.

Yoonji sejak tadi hanya berbaring telentang dengan dua tangan di atas perut dan mata menatap lurus pada langit-langit kamar mereka. Beku. Mau bergerak ke kiri, ragu. Bergerak ke kanan … takut. Bahkan bernapas saja sulitnya minta ampun. Kenapa tekanan udara di sini mendadak berbeda?

Kondisi Sena pun tak jauh beda. Dia sudah berkeringat dingin karena tidur di sebelah bae. Padahal ini bukan pertama kalinya. Tapi, ini pertama kalinya mereka benar-benar tidur di ranjang yang sama dalam keadaan sadar. Tolong garis bawahi kata ‘sadar’ barusan.

Lelah dengan suasana yang super canggung, Yoonji pun berdehem. “K-k-kau belum tidur?” Diam-diam dia mengumpat lidahnya yang mendadak kelu untuk bicara. Kemana perginya tongue technologie yang dia bangga-banggakan selama ini?!!

Sena pun memulai bicara dengan berdehem juga. “Kau sendiri kenapa tidak segera tidur.”

Bagaimana aku bisa tidur kalau di sampingku ada kau.

Tolong sadarlah kalau aku ini laki-laki.

Yoonji pun langsung berbalik ke kiri, memunggunginya. “Tempatnya sempit, bodoh. Makanya kecilkan badan babimu itu.”

Sena mendengus. Lagi-lagi babi. “Tidak adakah kata lain yang lebih keren? Berisi mungkin? Berat badanku hanya limapuluh delapan. Tiga kilo lebih berat dari berat idealku. Kau itu yang babi.”

“Tinggiku 175 dan beratku hanya 59.”

Mendengarnya membuat Sena shock berat. W to the O to the W. “Jinjja?”

Yoonji pun memejamkan matanya. “Kalau kau ingin berat badanmu stabil di angka ideal, kau tidak boleh makan makanan berminyak di malam hari. Jadi berhenti memesan chicken dan pizza malam-malam.”

Sena ikut-ikutan berbalik ke sebelah kiri. “Hei, kalau kau bicara begitu, aku yakin kau pasti selalu menjaga berat badanmu ‘kan? Ibumu menginginkanmu menjadi model dan akhirnya kau menjadi sekurus ini.”

Yoonji tersenyum miring. “Kenapa kau bisa bicara begitu?”

“Yah … aku selalu melihatnya di drama-drama. Karena ibunya tidak suka punya anak yang gendut jadi dia memaksa anaknya untuk menjaga berat badan. Biar nanti dapat pekerjaan yang bagus, tidak dibully yang lain, dan akan mendapat jodoh yang keren.”

Yoonji menggeleng pelan. Astaga … pikiran anak remaja.

Sepersekian detik kemudian ekspresi Yoonji berubah serius. “Hei, kau belum tidur ‘kan?”

Eo. Wae?”

“Ada yang ingin kubicarakan padamu.”

“Tentang apa?” tanya Sena heran. Apa jangan-jangan dia mau mengatakan kalau dia sudah tahu aku menyukainya? Atau jangan-jangan dia juga menyukaiku?

“Sebelum itu kuperingatkan kalau yang aku katakan ini adalah kebohongan.”

“Kebohongan? Maksudmu?”

Untuk apa dia ingin mengatakan kebohongan padaku?

“Ya. Kebohongan.”

“Oke, kebohongan. Jadi apa yang kau maksud dengan kebohongan itu?”

Yoonji menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya pelan. Akan menyesal atau tidak, dia tidak peduli.

“Aku adalah Min Yoonji.”

Ye?!

“Aku adalah Min Yoonji,” ulangnya sambil berbalik hingga mereka berdua pun bisa saling berhadapan.

Sena mengerjap-ngerjap. Terlalu terkejut melihat Yoonji yang mendadak berbalik. “Y-y-yaa!! Memangnya aku akan percaya begitu saja dengan kata-katamu?! Cih … sudah kuduga kau pasti akan mengatakan sesuatu yang tidak jelas.”

Bukannya kesal, Yoonji justru tersenyum. Ia menyelipkan tangan kanannya di bawah bantal. “Arasseo, aku sudah paham dengan jalan pikir gadis sepertimu.”

Sena berpura-pura cemberut. “Kalau memang sudah tahu kenapa memberitahuku hal seperti itu?”

“Aku hanya tidak mau membuatmu terkejut nantinya.”

“Tch … lagi-lagi bicara ngawur. Apa kau ini sedang menyamar menjadi seorang Min Yoonji, huh? Apa kau ini agen FBI yang dikirim untuk memata-mataiku? Oh … jadi itulah kenapa kau ditempatkan di kelas dan kamar yang sama denganku. Pasti karena kau diperintahkan untuk memata-mataiku ‘kan? Yah … agak aneh juga mendengarmu berasal dari Amerika. Sekolah di Korea itu banyak, kenapa harus datang ke SMA Bangtan? Pantas pertama kali melihatmu aku sudah kesal kuadrat—” Sena tertegun sejenak melihat senyum di wajah Yoonji. “Tapi bersyukurlah, karena aku, kau tidak kulaporkan pada kepala sekolah. Kalau mau memata-mataiku … silahkan saja.”

Kali ini Yoonji tak bisa menahan tawanya. Entah sadar atau tidak dia sudah memperlihatkan karisma gigi unyunya pada gadis remaja itu. Sena tertegun. Terlalu terkejut mungkin melihat surga di depan mata.

Menyadari tatapan Sena, Yoonji otomatis menutup mulutnya. Kembali ke ekspresi datar.

“Kenapa, um?”

Sena mengerjap-ngerjap, lalu menggeleng sambil membalik badannya untuk telentang. “Tidak tidak. Aku hanya sedang melamun. Mungkin karena aku sudah mengantuk. Ah ya sudah, aku tidur dulu.”

Yoonji tersenyum miring, lantas berbalik ke kiri, mulai tidur juga.

TBC

Advertisements

16 responses to “Hello School Girl [Chapter 14] ~ohnajla

  1. Dena dan yoongi sdh mulai akur..wah daebak..keren,jangan2 yoongi sdh mulai suka sama sena..jangan2 maksudx babi adalah baby…sena aja yg ngak peka..mudahan yoongi mulai menyadari dia suka sama sena

  2. aaaah apa maksud yoonji? apa dia mau kasih tau yg sbenarnya? huahhh pnasaran bnget,- next ya thorr jan lama²,-

  3. Pingback: Hello School Girl [Chapter 15] ~ohnajla | SAY KOREAN FANFICTION·

  4. tiap liat interaksi yoonji sm sena kok aku tegang gimana kalau yoonji ketahuan, sena gak terlalu peka tapi dia udah nyadar kalau dia suka sm yoonji yg dia kira perempuan,atau yoonji yg pesonanya udah membutakan satu sekolah makanya banyak yg suka sm dia perempuan ataupun lk2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s