[CHAPTER 19] SALTED WOUND BY HEENA PARK

sw2

“Kau milikku, sudah kukatakan dari awal, bukan? Kau adalah milikku.”- Oh Se-Hun

.

A FanFiction 

by

Heena Park

.

SALTED WOUND’

.

Starring: Shin Hee Ra-Oh Se Hun-Kim Jong In

.

Romance–Incest-Thriller–PG15–Chaptered

.

Wattpad : Heena_Park

Facebook : Heena

Instagram : @arumnrd

.

Notes : ff ini juga aku share di WATTPAD

.

.

Seoul, South Korean.

 

24th Years Ago.

 

Hal yang paling membuat Jae-Bum menyesal di hidupnya adalah membiarkan bayi kecil pembunuh istrinya ini lahir. Tidak, seharusnya dari awal Jae-Bum tidak pernah membiarkan Se-Hun hidup dalam rahim sang istri, sehingga ia tidak perlu kehilangan Go-Eun karena melahirkan anak sialan ini.

 

Anggota keluarga Go-Eun menyalahkan Jae-Bum atas kematian putrinya. Pria itu dinilai tak becus menjadi kepala keluarga yang seharusnya melindungi sang Istri. Sudah tahu bila kesehatan Go-Eun semakin lemah ketika mengandung, bahkan dokter menyarankan agar Go-Eun menggugurkan kandungannya saja, tapi wanita itu tetap bersikeras untuk mempertahankan calon bayinya tersebut.

 

Tentu saja Jae-Bum tidak tinggal diam. Dia berusaha membujuk Go-Eun agar mau menggugurkan kandungannya, tapi wanita itu marah, dia mengusir Jae-Bum dari kamar rawat dan tak mau menemui suaminya sampai pria itu menyadari betapa berharganya anak ini bagi Go-Eun. Ia rela menukarkan nyawa, yang penting bayi dalam kandungannya sehat, ia rela melakukan apapun demi bayi ini, sungguh.

 

Sampai akhirnya saat yang paling menentukan tiba. Proses kelahiran Se-Hun dilakukan dengan cara caesar—mengingat keadaan Go-Eun yang sangat lemah. Dalam harap cemas, di balik pintu operasi, berdoa agar istri dan anaknya baik-baik saja, Jae-Bum terus meminta, ia benar-benar tidak ingin kehilangan dua orang yang paling berarti dalam hidupnya saat ini.

 

Sayangnya takdir berkata lain, nyawa Go-Eun tidak bisa diselamatkan, sementara bayinya dalam keadaan sehat, tidak kurang satu apapun. Entah kenapa hal itu membuat Jae-Bum murka, dalam otaknya seolah memberi kesimpulan jika kesehatan bayi itu adalah pengorbanan Go-Eun. Bayi sialan yang berani merenggut nyawa ibunya sendiri.

 

Mulai saat itulah Jae-Bum membenci putranya sendiri. Darah daging yang diperjuangkan oleh sang Istri. Satu nyawa yang begitu berarti bagi Go-Eun.

 

Se-Hun selalu mendapat perlakuan kasar dari sang ayah, terlebih lagi saat Jae-Bum tak sengaja memandang mata anak itu, mata sayu yang begitu mirip dengan istrinya, mata yang selalu membuat Jae-Bum merasakan murka di dadanya. Kenapa anak sialan ini memiliki kulit dan mata seperti ibunya? Kenapa dua hal tersebut harus melekat pada diri Se-Hun?

 

“Dasar anak sialan! Kau hanya bisa menghabiskan uangku!” tukas Jae-Bum penuh kemarahan kala mendengar tangisan nyaring Se-Hun yang tak kunjung berhenti sejak tadi sore.

 

Dan ya, sesungguhnya Jae-Bum tidak pernah memberi nama anak itu, dan ia tidak sudi melakukannya. Oh Se-Hun merupakan nama yang diberikan oleh dokter Rumah Sakit tempat Go-Eun melahirkan. Jujur saja, Jae-Bum agak tidak rela memberikan marganya pada Se-Hun.

 

“Aku bersumpah akan menjualmu nanti!” geramnya, kali ini Jae-Bum memberikan susu pada Se-Hun dengan kasar. Ia lelah, ia tidak punya uang, kehadiran Se-Hun semakin membuat ekonominya melemah.

 

Kendati demikian, setidaknya mertua perempuannya—ibu Go-Eun—luluh akan kehadiran Se-Hun. Walau beliau tidak pernah memandang Jae-Bum, tapi beliau sangat menyayangi Se-Hun dan sering berkunjung. Tentu saja saat itu Jae-Bum tidak akan bertindak kasar pada putranya, ia tak mungkin mencari mati, kan?

 

 

 

 

 

 

Malam mulai larut, Hee-Ra masih duduk melamun di ruang tengah, memandang foto sang Ayah yang dikelilingi bunga dalam gelap, sementara itu sang Ibu tengah mempersiapkan diri untuk terbang ke Korea besok pagi.

 

Dalam duka yang mendalam, tiba-tiba Kang So-Hee berkata akan pergi ke Korea, ia teringat pesan Shin Jae-Woo beberapa tahun lalu, dimana beliau menginginkan agar ketika meninggal nanti, abunya akan disemayamkan di tempat kelahirannya—Korea Selatan—otomatis Kang So-Hee tidak akan melupakan mandat suaminya tersebut.

 

Mereka berniat berangkat bersama, tapi sungguh, Hee-Ra benar-benar tidak memiliki tenaga untuk sekedar bangkit dan menopang tubuhnya sendiri. Rasa tidak percaya akan kepergian ayahnya masih begitu membekas, seolah semuanya hanya mimpi, seolah ayahnya masih di sini, bersamanya, menjadi kepala keluarga yang sangat dihormati juga disayangi.

 

Sebagaimana harusnya, kata seolah hanya berlaku untuk perandaian, begitu kenyataan kembali menghantam, hatinya hancur. Kepergian Shin Jae-Woo terasa begitu cepat, belum sempat Hee-Ra menyiapkan hati dan berharap ayahnya dapat pulih kembali, lalu tiba-tiba semuanya runtuh begitu saja.

 

Padahal masih banyak mimpi yang ingin ia lakukan bersama ayahnya. Seharusnya saat wisuda nanti, Shin Jae-Woo memotretnya, seharusnya saat menikah nanti, Shin Jae-Woo yang mengantarnya, seharusnya saat memiliki anak nanti, Shin Jae-Woo yang memberikan nama, seharusnya mereka bisa bersama-sama.

 

Sedangkan Se-Hun yang sedari tadi hanya memandang dari pinggir pintu mulai bergerak, sudah cukup lama pria itu mengamati Hee-Ra dalam diamnya. Ia tidak bisa membiarkan Hee-Ra seperti itu, setidaknya Hee-Ra harus istirahat malam ini, mengingat kemarin gadis itu menghabiskan malam dengan penuh tangisan.

 

Se-Hun melepas jaket yang dikenakannya, kemudian menyampirkan jaket tersebut ke badan Hee-Ra dari belakang hingga berhasil membuat gadis itu refleks menengok karena terkejut.

 

“Se-Hun?” ujarnya, kemudian kembali pada posisi awal.

 

Se-Hun mengangguk, ia tersenyum lembut—menutupi kesedihan yang juga menyelimuti hatinya—lalu duduk di samping Hee-Ra. “Kau tidak mempersiapkan pakaian untuk besok?” tanyanya hati-hati, takut kalau melukai perasaan Hee-Ra.

 

“Aku tidak memiliki tenaga untuk itu..”

 

“Kejadian ini…membuatku sadar akan berharganya waktu dan nyawa,” Se-Hun bergumam. Ia meluruskan pandangan ke arah foto mendiang Shin Jae-Woo dan tersenyum pahit. “Papa, awalnya aku tidak tahu apakah pantas memanggil beliau papa, mengingat tidak adanya hubungan darah antara kami.” Ia berhenti sebentar, kepalanya menunduk. “Papa bahkan memberiku kasih sayang seperti anak kandungnya sendiri….kasih sayang yang tidak pernah kudapatkan sebelumnya.”

 

Hee-Ra ingat Se-Hun pernah mengigau memanggil-manggil ‘ayah’ dalam tidurnya. Mungkinkah ayah kandung Se-Hun tidak memperlakukan pria itu dengan baik? Pantas saja dulu ibunya tidak boleh melanjutkan hubungannya dengan lelaki itu.

 

Yah, kalau dipikir-pikir kasian juga bila hal tersebut benar adanya. Se-Hun pasti sangat kesakitan pada waktu itu.

 

“Aku bahagia berada di tengah-tengah keluarga ini..” Se-Hun menengok kepada Hee-Ra, kemudian menangkup kedua pipi gadis yang matanya berair itu. “Menangislah, aku tidak akan menyuruhmu berhenti kalau memang itu bisa membuatmu merasa lebih baik.” Ia menggerakkan kedua ibu jarinya untuk mengusap lembut pipi Hee-Ra, “Dan aku tidak keberatan berbagi pundak untuk tempatmu menangis.”

 

Dalam keadaan seperti ini, seharusnya Hee-Ra langsung menenggelamkan diri dalam pelukan Se-Hun dan menangis tersedu-sedu. Tapi kenapa jantungnya malah berdebar dua kali lebih cepat? Kenapa sentuhan Se-Hun perlahan membuat pipinya memanas? Kenapa dibalik kesedihan yang terjadi tersembunyi kehangatan?

 

Astaga, apa otaknya mulai tidak waras?

 

Mata mereka sekali lagi saling bertemu, jarak yang hanya terpaut tiga puluh centimeter berhasil memporak-porandakan hati Hee-Ra. Tatapan lembut Se-Hun yang entah bagaimana berhasil merasuk dalam jiwanya, berbisik lembut seolah pria itu mencintainya. Tatapan yang sama dengan waktu itu—kala keduanya berdansa di sekolah menengah atas.

 

Kalau sudah seperti ini, Se-Hun rela terjaga sepanjang malam—asalkan bersama Hee-Ra—dia rela terus duduk dengan posisi seperti ini, masa bodoh dengan tulangnya yang mungkin akan pegal nanti.

 

“Shin Hee-Ra..”

 

“Ya?”

 

“Apa kau bisa mempercayaiku?”

 

Mempercayai apa? Kenapa Se-Hun melontarkan pertanyaan ambigu seperti itu?

 

“Aku tidak mengerti maksudmu.”

 

Kali ini Se-Hun melepaskan tangkupannya dari pipi Hee-Ra dan membetulkan posisi duduknya. “Sudah kuduga kau memang tak bisa melakukannya.” Ia membuang napas gusar. “Suatu hari nanti, mungkin kau membutuhkan rasa kepercayaanmu untukku.”

 

Hee-Ra semakin bingung pada ucapan Se-Hun. Kenapa dia tidak langsung to the point saja? Suasananya sudah rumit dan Se-Hun semakin memperparah karena mengucapkan kalimat yang tak jelas apa maksudnya. Sungguh, Hee-Ra tak habis pikir dengan semua ini.

 

 

 

 

 

 

Jadwal keberangkatan keluarga Hee-Ra pukul sembilan pagi. Jong-In yang sejak pukul enam telah datang di rumah Hee-Ra langsung membantu keluarga tersebut untuk memasukkan barang bawaannya ke bagasi mobil.

 

Hee-Ra dan ibunya duduk di belakang, sementara Jong-In harus menahan diri untuk menyetir di samping Se-Hun. Ugh, aneh sekali, kenapa aura mengesalkan dari Se-Hun sangat mendominasi?

 

Sesekali Jong-In melirik dari kaca, mata Kang So-Hee masih merah, pasti beliau menangis sepanjang malam. Tentu saja! Siapa yang tidak sedih bila suaminya meninggal?

 

Sesampainya di Bandara, Jong-In dan Se-Hun segera keluar, kemudian menuju ke bagasi dan mengeluarkan koper serta barang bawaan lainnya. Well, Jong-In hanya mengantar Hee-Ra dan keluarganya sampai Bandara saja, sebenarnya pria itu sempat memaksa untuk ikut ke Korea, tapi Hee-Ra melarangnya, ia bilang Jong-In tidak perlu melakukan hal itu.

 

“Kaupikir aku tidak bisa melihat wajah kesalmu itu?”

 

Jong-In mengela napas, kesabaran yang telah dipertahankan hancur begitu saja. Ia menghentikan aktivitas dan memutar tubuh untuk menatap Se-Hun sengit. “Aku tidak akan memberikan ekspresi seperti ini kalau sikapmu tidak memuakkan.”

 

Se-Hun membalas tatapannya penuh rasa heran, “Ya, terima kasih. Kurasa kau jauh lebih memuakkan.”

 

Oh ayolah, bukanlah hal lucu bila dua pria dewasa beradu argumen di Bandara. Calm down, emosi keduanya mungkin bisa memuncak hingga terjadi pertengkaran hebat.

 

“Aku sungguh bertanya-tanya apa yang membuat Hee-Ra bersedia menjadi kekasihmu. Pria dungu yang dengan mudahnya bisa didapatkan siapapun.” Ia menepuk-nepuk punggung Jong-In, “Ya, bisa kumaklumi kalau kau mudah terjerat oleh banyak wanita. Tapi kusarankan untuk tidak mengumbar kemesraan dengan gadis lain di depan kekasihmu sendiri, dude.”

 

Serius. Kalau mereka tidak berada di tempat umum, Jong-In akan segera tertawa dan melemparkan pukulan ke wajah pria sialan itu. Untungnya keadaan sedang tidak mendukung, jadi Jong-In memiliki alasan untuk tidak bertindak demikian.

 

Walau tidak dikatakan secara gamblang, Jong-In bisa menerka dengan mudah bila yang disindir Se-Hun adalah kejadian beberapa waktu lalu—saat Jong-In dan Emma tidak sengaja bertemu Hee-Ra dan Se-Hun di restoran.

 

Tak ingin kalah, Jong-In menimpali, “Lalu bagaimana denganmu? Bukankah kau terlalu berlebihan menjadi seorang kakak?” Ia memutar bola matanya lalu mendecak, “Ah, kakak yang over-protective sampai orang-orang mungkin berpikir kau adalah kekasih adikmu sendiri. Tidak, jangan-jangan kau memang menyukai adikmu sendiri, Oh Se-Hun?”

 

Se-Hun yakin Jong-In menyadarinya sejak lama, hanya saja pria itu berusaha menyangkal dan terus menyangkal pada kenyataan. Well, mungkin sekarang memang saat yang tepat untuk mengatakan yang sebenarnya, Se-Hun tidak terlalu suka berbelit-belit.

 

Se-Hun memalingkan wajahnya memandang koper di tangannya. “Kau benar,” katanya, “aku memang menyukainya. Tidak, sebenarnya aku mencintainya.”

 

“Brengsek!” Jong-In mengumpat, tapi ia tidak bisa berbuat lebih. Ia tidak mungkin menghajar Se-Hun di tempat ini. Ia tidak ingin terlibat keributan.

 

Dalam satu hentakan, Jong-In melepaskan koper ke tanah dan mendorong bahu Se-Hun agar pria itu mau menatapnya dengan paksa. “Kuperingatkan padamu, kau tidak akan pernah bisa memilikinya.” Wajahnya mendekati wajah Se-Hun, melepaskan pandangan siap membunuh pada pria dihadapannya tersebut. “Jadi, bersiaplah untuk menerima kekalahan, brother.”

 

Keduanya saling melempar pandangan mematikan bagaikan dua raja hutan yang siap memperebutkan wilayahnya. Jong-In dengan keyakinan besar karena Hee-Ra memang telah menjadi kekasihnya, sedangkan Se-Hun dengan keyakinan akan perasaan gadis itu yang semakin luluh dan sebentar lagi pasti akan meninggalkan Jong-In.

 

“Apa yang kalian lakukan?”

 

Teriakan Hee-Ra berhasil mengacaukan fokus keduanya. Mereka segera menengok dan mendapati wajah kesal Hee-Ra.

 

“Tidak bisakah kalian lebih cepat? Apa mengambil koper seberat itu sampai-sampai aku harus menunggu sangat lama?” celotehnya sambil melewati Se-Hun dan Jong-In, kemudian mengambil sendiri koper yang masih tersisa. “Lebih baik kau segera menyusul karena mama mencarimu,” gumamnya pada Se-Hun yang langsung dibalas anggukkan.

 

Sedetik kemudian Hee-Ra telah berlalu meninggalkan Se-Hun dan Jong-In lagi. Kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Se-Hun. Ia segera meraih koper yang sempat dilepaskannya dan kemudian melangkah lebih dekat pada Jong-In hingga mereka berdiri bersebelahan.

 

Se-Hun mengeraskan dagunya dan mendekatkan mulut ke telinga Jong-In. “Bagaimana jika kenyataannya dia bukan adikku?” bisiknya yang berhasil membuat Jong-In membeku.

 

Tidak!

 

Se-Hun pasti asal bicara.

 

“Apa maksudmu?”

 

Bukannya menjawab, Se-Hun malah menangkat kedua pundaknya penuh misteri. “Sudah pernah kukatakan padamu, bukan? Kau harus belajar menerima kenyataan. Ingat itu, Kim Jong-In.”

 

Setelah mengucapkan kalimat barusan, Se-Hun buru-buru menyusul Hee-Ra, sementara Jong-In masih sibuk dengan pikirannya sendiri. Ada dua hal rancu yang dindengarnya hari ini. Pertama, perihal Se-Hun yang ternyata mencintai Hee-Ra, kedua tentang hubungan mereka yang tidak diakui kakak-adik oleh Se-Hun.

 

Sungguh, Jong-In tak mengerti apa yang ada dalam pikiran Se-Hun. Mereka sudah tinggal bersama lebih dari empat tahun, bahkan Kang So-Hee telah menyatakan bahwa Se-Hun memang putra kandungnya. Lalu atas dasar apa Se-Hun berkata demikian? Apa yang sebenarnya direncanakan Se-Hun?

 

Bukan..

 

Yang lebih tepat adalah, siapa sebenarnya pria itu?

 

 

 

 

 

 

Jong-In baru saja tiba di rumah saat kebetulan sang Paman keluar dari pintu masuk, mereka tak sengaja bertemu.

 

“Paman?” Ia melirik jam tangan, “Malam-malam begini kau akan bekerja?”

 

Charlie terkekeh, “Tindak kriminal bisa terjadi kapan saja,” gumamnya. Ia mendecak, “Berhati-hatilah, akhir-akhir ini tindak kriminal semakin meningkat.”

 

“Baiklah,” jawabnya sambil mengangguk. “Omong-omong, paman mau ke mana? Apa terjadi kecelakaan? Atau perampokan?”

 

“Begini.” Charlie menepuk pundak kanan Jong-In. “Aku memberitahumu karena kau adalah keponakanku.”

 

Matanya melirik ke berbagai arah, tidak ada yang tahu kan kalau bisa saja Charlie sedang disadap?

 

“Kami menemukan petunjuk mengenai salah satu organisasi pembunuh bayaran paling berbahaya di dunia, dan anggotanya bisa berada di mana saja.”

 

“Organisasi pembunuh bayaran?” Jong-In mengerutkan dahi. “Aku tidak tahu organisasi semacam itu benar-benar ada. Oke, kupikir hanya ada di film.”

 

“Tidak, Kim Jong-In. Organisasi seperti itu memang benar-benar ada, dan bahkan anggotanya bisa saja orang yang terlihat biasa saja. Kami mencurigai ada anggota organisasi tersebut dalam kepolisian.”

 

“Maksudmu..mereka menyamar? Bukankah menjadi anggota kepolisian memakan waktu bertahun-tahun? Dan mereka mau menyamar untuk itu?”

 

Charlie mengangguk setuju pada argumen Jong-In. “Ya, seperti itulah mereka. Para anggota organisasi tersebut bisa menyamar hingga bertahun-tahun, mereka juga sangat pintar dalam menyembunyikan identitas, itulah alasan kenapa menemukan mereka sangat sulit.”

 

“Lalu bagaimana dengan klien mereka? Maksudku, cara mereka menemuinya?”

 

“Entahlah.” Charlie mengangkat kedua pundaknya bersamaan. “Kami masih berusaha menyelidikinya. Mungkin mereka memiliki cara tersendiri dan itu sangat berbahaya.”

 

Memikirkan organisasi semacam itu berhasil membuat Jong-In bergidik ngeri. Well, bagaimana kalau ternyata salah satu orang yang dekat dengannya merupakan anggota dari organisasi tersebut?

 

Dan bagaimana kalau ternyata Jong-In termasuk salah satu targetnya?

 

Benar-benar mengerikan, bukan?

 

“Masuklah, kau belum makan malam, kan? Bibi sudah menunggumu sejak tadi,” ujar Charlie akhirnya. Beliau menyadari perubahan ekspresi Jong-In. Tentu saja, semua orang pasti akan bergidik ngeri mendengar informasi seperti itu, tidak perduli wanita atau pria.

 

Akhirnya Jong-In menuruti apa yang dikatakan Charlie, ia mengiyakan perkataan sang Paman. “Baiklah, berhati-hatilah di jalan, paman.”

 

Beberapa detik berlalu penuh keheningan sebelum Charlie menautkan kedua ujung bibirnya dan tersenyum kepada Jong-In. Ia bisa meresakan ketegangan dalam diri sang Paman yang berusaha disembunyikannya itu. Yah, siapa yang tidak tegang bila harus berurusan dengan organisasi yang mematikan? Organisasi yang menganggap nyawa seseorang hanya sebuah mainan.

 

Orang kejam macam apa yang tergabung di sana? Mungkinkah hati mereka terbuat dari besi? Memperihatinkan sekali.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

TO BE CONTINUED

 

 

 

 

Halo halo halo~

 

Berhubung aku udah kelas 12 dan sebentar lagi bakal berperang (?)melawan Ujian Nasional, jadi kemungkinan beberapa chapter ke depan bakal ada yang molor hehehehe.

 

Buat yang sama-sama kelas 12 kaya aku, semoga nilai kita bagus dan keterima di Univ yang diinginkan hihihi

 

Btw, aku mau vote juga ah~

 

4a2946ee668b184a98a379eb6e919a2c

1 . Team #HunRa (Sehun-Heera)

 

 

d5c92b9fa36b1aecdc0434127396415e

2. Team #KaiRa [Kai-Heera]

 

jasmine

3 . Team #HunMine [Sehun-Jasmine]

 

 

Kalian #Team siapa?

 

 

 

 

Advertisements

69 responses to “[CHAPTER 19] SALTED WOUND BY HEENA PARK

  1. I chose the first team! Sehun-Heera! JAYA! haha *apaanTho* wkk 😛 Yeay Yeay author Heena koumbek again! Jadi Heena baru kls 12 ya? aaa… qlo gitu semangat ya adek Author bwt UAS nya, semoga lancar smpai UN n Ujian masuk Universitasnya 😀 Good Luck! Good Luck! 😉

  2. Jelas aku team hunra
    Si sehun mah iseng aja kalo ngomong,tapi jadi kocak sendiri kalo jongin ama sehun ketemu pasti berantem kayak kucing ama guguk

    Semangat UN yaa,aamiin buat doanya.btw kita seumuran ternyata

  3. Kita teman seperjuangan ternyata :”)) , semangat terus yah buat belajar and nerusin ff ini, jujur aja ff ini jadi selingan belajar lo :”)) ❤
    #TeamHunRa

  4. 1 Team #HunRa
    organisasi yang dimaksud itu organisasinya sehun gitu?
    Entah kenapa walaupun sehun gabung disitu tp nggak rela kalo dia masuk penjara, malah berharap sehun nggak ketahuan.
    semangat buat auhtor yang mau UN.
    Fighting 😉

  5. Ohyaampu. Kamu baru kelas 12 😂 sehu. Kayanya bentar lagi identitasnga bakal kebongkar deh. Serem ih 😆 sehun cepet cepet berhenti dari organisasinya itu deh. Btw aku teammnya #TeamHunRa next yaa

  6. Jongin itu pintar. Dengan ceoat dia akan menyadari keadaan sekitarnya. Cepat atau lambat dia pasti sadar siapa sehun hanya dengan mengingat perkataan sehun di bandara, kalau he ra bukan saudaranya.

  7. Yeeyyy.. Akhirnya di post jugaa. Di saat aku lagi gabut pasti SALTED WOUND selalu dipost, datang di saat yang pas.

    Lohh kamu baru kelas 12, aku fikir kamu lebih tua dari aku.. Vote ku pastinya sehun-heera dong, please jangan pisahkan mereka. Duh gak rela banget kalo akhirnya mrk pisahh.

    Ditunggu ya nextnya & semangat juga un-nya

  8. Semangat UN-nya thor, aku juga mau UN kok.
    Hati heera mulai luluh dengan sifat nya sehun, semoga sehun nggak pernah mengecewakan heera.
    #TeamHun-Ra

  9. Hai authornim.. karena di wattpad gagal terus tiap mau pasang komentar, jadi aku mau komen disini aja kalau fanficnya bener-bener bagus 😀 konfliknya keren! Sehunnya juga di cerita ini bikin greget-greget gimana gitu 😀 jadi gak sabar nunggu kelanjutan ceritanya hehe

  10. #1 TeamHunRa donk..
    Wahhh sehun bnr2 bikin jongin kaget kaya y ma pernyataan nya…
    S3mangatt yaahh yg kls 12..smoga nilai y bgs2..aamiin…

  11. #HunRa……
    Hah trnyata pmnnya jong in anggota polisi,gmn kao sehun ketahuan belangnyaya???
    Semangat buat y akn ujian ya,semoga nilainya bagus2 Amin…..

  12. Yeayyy team sehun heera,keren bgtt ff ini,kak banyakin bagian sehun heera dong,good luck terus ya ka

  13. #1 team HunRa pasti nyaaaaa …
    Omooo ternyata heena masih sma ,, semangat buat un nya semoga masuk univ yang diimpikan . Amiiinnn
    Keep fighting heena ..

  14. waahh ternyata sama aku kira author lebih tua wkwkwkk aku vote kaira ah entah aku lebih suka sehun tetap jadi kakak yg over protective namun bukan milik utuh heera. waahh usek usbn terus unbk itu perang anak sekolah wkwkwk semangat ya buat ujiannya amin amin buat diri sendiri dan author semoga di terima sebagai mahasiswa di univ yg di inginkan amiin aku tetep tunggu next chapternya

  15. #TeamHunRaa donggggg

    Sukses buat ujiannya ya kak, ditunggu juga kelanjutan ceritanya. Dimaklumi kok kalau misalnya postnya lama

  16. Team hunra la jelassss
    Btw thor alurnya gini2 aja yaaa
    Gak ada peningkatan buat sehun sama heera
    Pgenn cpat2 baca happy ending nya hehhe

  17. Hunra dong miin pasangan paling serasi wkwk
    Akhirnya keluar juga yang ditunggu tunggu
    Slalu bikin penasaran dan alur yang tak terduga 😁
    Oh ya thor klo bisa aku ada saran sebaiknya jangan agak terlalu bertele tele hehe
    Semangat unasnya smiga mendapatkan nilai yg terbaik
    Sangat ditunggu next chapternya 👍😄
    Team 1 #HunRa

  18. Team #HunRa ~~~~
    Semangat ya menjelang USBN, US, dan UNBK semoga lancarrrrrrrrrr semua-muanya. Mau cikgu kasih bocoran soalnya?? Tunggu 15 April ya. Muahahahahahahaha

  19. Waw masih kelas 12, tapi ceritanyaaaa baguss. Aku overall dukung Sehun-Heera, yeay!! Semangat buat UN yaaa, sukses buat semua ujian-ujiannyaaa 😘😘

  20. #TeamHunRa , please heera sama sehun dongggg aku suka bgt sama mereka huhuhu
    Ditunggu next chapnya dan sukses buat ujiannya fighting

  21. Jayalah tim hunra?!!! Yeay!!!!!
    Semangat UN buat author hehe ternyata dedek emesh ya?? Apalah daya sy hanya kakak yg sudah pantas untuk menikah *eh hahahhaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s