Sleeping Beauty – “Something Weird”| QueenX

“Sleeping Beauty”

SOMETHING WEIRD

ob2

Author

QUEENX

Genre : FLUFF, MYSTERY

Length : Mini Series

The Cast :

OC (Kim Yoojung)

Oh Sehun

Rating : PG 15

Ayah dan ibumu meninggal dalam kecelakaan mobil.

Bagaimana bisa kau melupakannya?

Kenyataannya memang seperti itu, kau tak bisa mengelaknya.’

Aku tidak berbohong.’

Aku tahu kau masih belum bisa merelakan kepergian mereka, tapi bukan begini caranya.

Sayang, bangunlah…Yoojung-ah…

Ayah dan ibumu meninggal dalam kecelakaan mobil.

Bagaimana bisa kau melupakannya?

Kenyataannya memang seperti itu, kau tak bisa mengelaknya.’

 ‘Sayang, bangunlah…Yoojung-ah…

Aku tidak berbohong.’

Aku tahu kau masih belum bisa merelakan kepergian mereka, tapi bukan begini caranya.

Sayang, bangunlah…Yoojung-ah…

Ayah dan ibumu meninggal dalam kecelakaan mobil.

Bagaimana bisa kau melupakannya?

Yoojung terbangun dari tidurnya dengan napas yang terengah-engah. Wajahnya dipenuhi dengan keringat dingin. Matanya langsung menyusuri seisi kamarnya, bukan kamarnya, masih di kamar yang sama, milik pria tampan bernama Sehun yang mengaku sebagai suaminya. Dilihatnya jam dinding yang sudah menunjukkan pukul enam sore.

“Sebenarnya apa yang terjadi denganku.” lirihnya lalu memeluk lututnya sendiri dan membenamkan wajahnya di dalam sana.

Yoojung masih dibuat pusing dengan kenyataan yang tiba-tiba saja menghantamnya saat mendengar dari mulut Sehun sendiri kalau kedua orang tuanya sudah meninggal. Ia bahkan masih dengan jelas mendengar suara ibunya saat ia berada di dalam kamar ini.

Tiba-tiba sebuah tangan membelai lembut kepala Yoojung, membuat Yoojung terperanjat dan langsung menatap terkejut Sehun yang tengah membawa Yoohun di gendongannya.

“Mama.” Panggil balita bernama Yoohun itu sambil mengulurkan kedua tangan kecilnya untuk diraih oleh Yoojung.

Yoojung masih enggan menyentuh bayi itu. Ia bahkan sama sekali merasa tidak memiliki ikatan apapun dengan anak itu. Ia benar-benar menatap asing anak di gendongan Sehun, membuat Sehun menatap sedih kepadanya.

“Jung-ah.” Panggilnya.

Yoojung membuang muka ke arah jendela, “Aku ingin sendiri.” Ucapnya.

“Tapi Yoohun—”

“Aku benar-benar ingin sendiri. Pergilah.” Pinta Yoojung tanpa menatap Sehun.

Terdengan suara helaan napas Sehun, dibawanya keluar Yoohun yang mulai menangis karena perempuan yang disangka ibunya tak ingin meraih uluran tangannya.

Yoojung turun dari kasurnya. Dibukanya tirai jendela yang sejak tadi pagi masih tertutup. Matahari mulai terbenam. Semburan jingganya memenuhi langit kala itu. Perlahan dibukanya jendela kamar dan dihirupnya udara segar dari luar sebanyak yang ia bisa. Anehnya, semakin kuat ia menghirupnya, semakin sesak dadanya. Yoojung melihat rumah-rumah yang berada di sekitar rumah yang ia tempati, tampak sepi seolah tak berpenghuni, jalan di depan rumahnya juga terlihat sepi, tak ada siapapun yang sekedar jalan ataupun lari sore bersama dengan hewan peliharaannya. Mungkin ini adalah komplek perumahan orang kantoran. Yang hanya ada penghuninya saat malam hari saja.

Dilihatnya sebuah kolam renang yang tampak tidak terurus di sisi rumah berukuran istana tersebut. Apa saja yang dilakukan kedua pelayan Sehun sampai tidak pernah membersihkan kolam yang luasnya melebihi luas ruang tamu di rumah Yoojung. Bahkan banyak daun kering menutupi permukaan air kolamnya.

Taman di depan rumah juga tidak terurus. Banyak daun-daun kering yang dibiarkan berserakan dan ranting-ranting yang patah. Bahkan beberapa bunga dan pohonnya tampak layu. Yoojung menyerngitkan keningnya saat melihat seseorang dengan jubah berwarna serba hitam berdiri menatapnya diantara pepohonan kering di taman. Seketika ia merasakan tangannya ditarik masuk  kembali ke dalam.

“Apa yang sedang kau lakukan di luar?!” Sehun langsung mendudukkan Yoojung di atas kasur lalu menutup jendela dan tirai kamar tersebut.

“Aku hanya ingin melihat keluar saja, tidak boleh?” tanya Yoojung kemudian.

“Tidak tanpa seizinku!” tegas Sehun.

“Memangnya apa hakmu melarangku?”

“Ini rumahku!”

“Kau bilang aku istrimu, kan? Itu tandanya rumah ini rumahku juga!” balas Yoojung dengan suara yang cukup tinggi.

Keduanya saling bertatapan. Kali ini ada kemarahan yang ditunjukkan dari tatapan Sehun, namun lama kelamaan amarahnya mereda dan kemudian membawa Yoojung ke dalam pelukannya.

“Kau boleh melakukan apapun di rumah ini, rumahku adalah rumahmu juga, tapi kumohon, jangan pernah keluar barang selangkahpun ke balkon utama ataupun ke teras rumah.” Bisiknya.

“Kau gila?! Secara tidak langsung kau memenjarakanku di dalam rumah ini Oh Sehun!” Yoojung langsung melepas pelukan dari Sehun.

“Baiklah, baiklah…kau boleh keluar rumah asal tidak keluar dari pagar utama. Kau mengerti?”

“Mengapa aku harus mematuhimu?”

“Karena aku suamimu.”

“Tapi aku—”

“Ini demi keselamatanmu, aku tidak mau lagi kehilangan orang yang aku sayangi.” Ucap Sehun memotong kalimat Yoojung.

“Me-memangnya, sebelumnya kau kehilangan siapa?”

“Jadi kau benar-benar tidak ingat, ya?” lirih Sehun lalu menunduk.

Yoojung mengamati wajah Sehun dengan baik. Ia sedikit terkejut saat melihat wajah dan kulit Sehun yang jauh lebih pucat daripada saat pertama kali ia melihatnya. Bahkan tangan Sehun yang menggenggamnya terasa sangat dingin. Seketika Yoojung merinding luar biasa. Ia bahkan sampai meneguk salivanya kepayahan.

“A-apakah kau sakit juga?” tanya Yoojung hati-hati.

Sehun menatapnya lalu menggeleng.

“Tu-tubuhmu dingin.” Ucap Yoojung kemudian.

Sehun tersenyum lalu kembali memeluk Yoojung, anehnya saat memeluk Yoojung, tubuh Sehun mendadak menjadi hangat, sangat hangat.

“Hanya dengan memelukmu, tubuhku tidak akan kedinginan lagi.” Bisik Sehun.

Perlahan Yoojung mengangkat tangannya untuk membalas pelukan Sehun, awalnya ia ragu namun pada akhirnya ia membenamkan wajahnya di dada bidang milik pria tersebut. Perasaan hangat dan nyaman mulai menelusup ke dalam hatinya, tanpa ia sadari bibirnya mengulas senyuman kecil.

“Aku mencintaimu.” Bisik Sehun yang langsung membuat Yoojung terkejut dan melepas pelukan dari Sehun.

“A-ayo, ku-kurasa…aku ingin bertemu de-dengan Yoohun.” Ucap Yoojung salah tingkah lalu berdiri dari duduknya dan berjalan menjauhi Sehun.

Tiba-tiba saja pipi Yoojung merona merah dan jantungnya berdebar dua kali lebih cepat dari biasanya. Tidak mungkin dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam ia langsung jatuh hati pada perhatian dan sikap protektif Sehun, kan?

“Kau tidak sepenuhnya berubah. Ternyata masih saja salah tingkah setiap kali aku berkata aku mencintaimu.” Bisik Sehun pada Yoojung yang kemudian membawanya keluar dari kamar.

Yoohan tampak bahagia selama berada di gendongan Yoojung. Yoojung yang awalnya merasa asing dengan anak kecil yang katanya putranya itu, mendadak mulai akrab bahkan timbul rasa sayangnya pada Yoohan secara tiba-tiba. Meski rasa sayang yang ia rasakan masih sebatas seorang kakak kepada adiknya, bukan seperti rasa sayang seorang ibu terhadap anaknya. Mungkin lambat laun Yoojung akan merasakan rasa sayang itu.

Di tempat duduknya Sehun menatap senang Yoojung yang asyik bercanda dengan Yoohan. Ditatapnya kedua pelayannya yang ikut bahagia menyaksikan pemandangan tersebut. Salah satu pelayan wanitanya datang menghampirinya.

“Aku senang dia mulai bisa kembali dekat dengan Yoohan, tuan.” Ujar wanita tersebut.

“Kau sudah memastikan semua pintu keluar dikunci, kan?” tanya Sehun yang dijawab dengan anggukan kepala wanita tersebut.

“Bagaimana dengan pagar depan dan pagar belakang?”

“Sudah saya kunci, tuan.” Jawab si pelayan pria yang kemudian datang menghampiri Sehun.

“Pastikan tidak ada siapapun yang mendekati rumah ini, aku tidak mau mereka mengambil kembali Yoojungku. Yoojung hanya milikku dan milik Yoohan. Tidak ada lagi yang boleh merebutnya dariku.” Ucap Sehun sambil menatap Yoojung yang langsung tersenyum saat Yoojung membalas tatapannya.

“Baik, tuan.” Jawab kedua pelayannya bersamaan.

#

Pagi itu Yoojung terbangun dari tidurnya dengan perasaan yang sedikit lebih tenang. Ia terkejut saat tidak menemukan siapapun yang tidur dengannya. Padahal ia masih mengingat dengan jelas kalau Sehun dan Yoohun juga tidur bersamanya malam itu.

“Ah, apakah aku kesiangan lagi?” Yoojung menatap ke jam dinding dan menyerngit.

“Baru jam lima?” lirihnya.

Ia kemudian memutuskan untuk mengambil salah satu jaket yang ada di dalam lemari dan memakainya kemudian keluar dari kamarnya. Saat ia keluar, ia mendengar suara tangisan seorang anak kecil, itu pasti suara milik Yoohun, dengan segera Yoojung berlari menuju kamar Yoohun, namun saat membuka pintunya ia tidak menemukan siapapun disana, suara tangisan Yoohun pun lenyap dalam sekejap.

“Aneh, ah mungkin Sehun membawanya ke taman.” Ucap Yoojung lalu berjalan menuruni anak tangga menuju lantai bawah.

“Dimana semua orang?” lirihnya saat melihat seisi rumah namun tak ia temukan siapapun di dalam sana.

Dari lantai atas tampak Sehun dengan seseorang berjubah serba hitam yang Yoojung lihat kemarin saling berhadapan. Sehun menatap sengit orang dalam jubah hitam itu, begitupun sebaliknya.

“Apa maksudmu melakukan semua ini?!”

“Aku tidak mau melihatmu seperti ini terus!”

“Tapi aku tidak mau pergi dari Yoojung!”

“Sadarlah Sehun! Dia bukan milikmu!”

“Dia Yoojungku! Dia milikku dan selamanya akan menjadi milikku!”

“Aku akan membuatnya kembali pada kedua orang tuanya, kau tidak berhak menahannya disini, dia bukan Yoojung istrimu!”

“Dia istriku!”

“Oh Sehun! Dia tidak seharusnya berada disini!”

“Aku tidak peduli! Dia harus tetap bersamaku! Kau lupa kalau Yoohun masih membutuhkannya?!”

“Sampai kapan kau akan hidup seperti ini, huh?! Lepaskan dia!”

“Tidak mau!”

Sehun kemudian mendorong kuat tubuh orang berjubah hitam itu sampai keluar menembus dinding rumahnya. Ia kemudian melangkah turun menyusul perginya Yoojung menuju ruang tengah.

“Mengapa semua pintu dan jendela dikunci? Dimana mereka menyimpan kuncinya?” ucap Yoojung mencari-cari kunci pintu di semua rak maupun laci rumah tersebut.

“Sedang mencari apa?” tiba-tiba Sehun sudah ada di belakang Yoojung dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Yoojung.

“O-oh, kau…kupikir siapa.” Ucap Yoojung terkejut.

“Dimana Yoohun?”

“Dia sedang tidur di kamarnya, semalam bibi pelayan memindahkan Yoohun ke kamarnya setelah kau tidur dengan lelap.” Ucap Sehun sambil menciumi tengkuk Yoojung.

“Be-benarkah?” tanya Yoojung tidak percaya.

Sehun menjawabnya lewat anggukan kepala, “Ayo sarapan.” Ajak Sehun kemudian.

“Tapi tadi aku tak melihat Yoohun di kamarnya saat…”

“Kau salah masuk kamar, sayang.” Potong Sehun.

“O-oh ya? A-ah sepertinya begitu.” Jawab Yooung lirih.

Aku salah kamar? Di lantai atas hanya ada dua kamar, jika itu bukan kamar Yoohun, lalu dimana Yoohun tidur? Aneh.’ Batin Yoojung.

#

“Se-Sehun-ah.” Panggil Yoojung menghampiri Sehun yang sedang bermain puzzle balok bersama dengan Yoohun.

“Ya, sayang?” jawab Sehun kemudian.

“Bo-bolehkah aku keluar sebentar?” tanya Yoojung hati-hati.

“Kau mau kemana?” tiba-tiba suara Sehun berubah menjadi tegas dan dingin.

“Mama.” Panggil Yoohun namun kedua tangannya ditahan oleh Sehun.

“Bukankah sudah kubilang kau tidak boleh pergi kemanapun?” tanya Sehun lebih terdengar seperti sebuah peringatan.

Yoojung meneguk salivanya dan mencoba mencari alasan, “A-aku hanya ingin melihat pekarangan rumah kita. Ji-jika kau mau menemaniku aku tidak keberatan. A-aku rasa aku ingin mengelilingi rumah ini. Mu-mungkin dengan berkeliling, aku bisa mengembalikan ingatanku yang tiba-tiba saja hilang.” Ucap Yoojung.

Sehun langsung tersenyum dan berdiri dari duduknya sambil menggendong Yoohun, “Baiklah, kajja.” Ajaknya lalu berjalan bersama dengan Yoojung.

“Tuan.” Namun tiba-tiba bibi pelayan di rumah tersebut menghalangi langkah Sehun.

“Apa?” balas Sehun kemudian.

“Bukankah ini berbahaya untuk anda?” ujar sang pelayan khawatir.

“Berbahaya? Bibi, kita hanya akan keluar sebentar, lagipula kita masih berada di lingkungan rumah, apanya yang berbahaya? Apakah Tuanmu memelihara buaya atau serigala sampai-sampai kau khawatir meski ia hanya keluar sejengkal dari rumah ini?” balas Yoojung jengkel.

Bibi pelayan itu langsung menatap sengit Yoojung, namun tatapannya jadi lembut setelah punggungnya dipegang oleh Sehun, “Aku baik-baik saja. Tolong kau buka pintunya.”

“Ba-baik, Tuan.” Jawab sang pelayan patuh.

#

Yoojung tampak terkejut dengan pemandangan yang ia lihat. Tidak mungkin dalam waktu sehari, taman bunga yang gersang berubah menjadi lebat dan penuh dengan pepohonan dan bunga yang dihinggapi banyak kupu-kupu. Bahkan kolam renang yang ia lihat dari balkon kamar menjadei bersih dan airnya pun jernih. Dari jendela dalam rumah, kedua pelayan Sehun tampak menatap khawatir pada Sehun. Yoojung segera membalikkan tubuhnya, dilihatnya Sehun yang memberikannya senyuman namun dengan tatapan sayu. Wajahnya pun kian memucat. Buru-buru Yoojung meraih lengan Sehun.

“Kau baik-baik saja?” tanya Yoojung yang dijawab dengan anggukan kepala Sehun.

“Kau benar sedang sakit, ya?” tanya Yoojung lagi, Sehun menggeleng pelan.

“A-ayo, kuantar kau masuk ke dalam saja.” Yoojung mulai tidak enak dan merasa khawatir.

“Tidak apa-apa. Ayo, kita jalan lagi. Akan lebih baik kalau kau menggandengku seperti ini.” Jawab Sehun sambil tersenyum tipis.

Yoojung mengulum bibirnya dan akhirnya menggandeng lengan Sehun sambil berjalan. Langit tampak mendung namun tetes air hujan tak kunjung turun. Dilihatnya sebuah bangku panjang di tengah taman dan dibawanya Sehun ke bangku tersebut.

“Kau selalu duduk disini bersama Yoohun setiap sore, kau juga biasanya menyanyikan lagu untuk Yoohun sampai Yoohun tertidur. Kau ingat?” ucap Sehun.

Yoojung tersenyum kecil. Ia tidak mengangguk ataupun menggeleng. Ia tidak tahu dan masih tidak mengerti sebenarnya, ia yakin bukan dia Yoojung yang Sehun cintai namun dari album foto yang Sehun berikan padanya, jelas kalau itu menunjukkan bahwa dia adalah Yoojung tersebut. Ia masih tidak percaya dan belum menerima tentang kenyataan yang membingungkan ini.

“Bunga-bunga kau, kaulah yang menanam dan merawatnya dengan bibi pelayan. Kalian sampai lupa waktu kalau sudah mengurus bunga di taman.” Jelas Sehun lagi.

“Kau paling suka bunga anggrek, makanya setiap aku pulang dari luar kota, aku membawakanmu anggrek.”

Yoojung menyerngit, ia bahkan sama sekali tidak memiliki rasa ketertarikan pada segala jenis bunga. Ya, wanita manapun pasti senang jika diberikan sebuket bunga oleh orang yang ia sayangi, Yoojung pun tidak memungkiri itu, namun untuk rasa suka sampai memelihara berbagai jenis bunga terutama anggrek, itu bukanlah kebiasaan Yoojung. Ia malah lebih suka mengoleksi berbagai komik bergenre school romance ataupun dvd film.

“A-apa pekerjaanmu?” Yoojung bertanya, entahlah, tiba-tiba saja pertanyaan itu melintas di kepalanya.

“Benar-benar lupa, ya?” Sehun menyentil kening Yoojung.

“Aku seorang dokter hewan. Ah, mau melihat kelinci dan kucing peliharaanku? Kau sangat suka dengan kelinci, kelinci yang baru kubelikan beberapa bulan yang lalu kini sudah memiliki tiga ekor anak. Kau belum melihatnya, kan?”

Kelinci? Astaga! Meski itu lucu tapi aku sangat membenci hewan berbulu itu! Terutama kucing!’ batin Yoojung. Ia kemudian menggelengkan kepalanya dengan cepat.

“Ada apa?” tanya Sehun kemudian.

“Ki-kita bisa melihatnya lain kali. Bagaimana kalau kita masuk saja, huh?” ajak Yoojung lalu berdiri dari duduknya.

“Ayolah, sebentar saja Jung-ah.”

“Ta-tapi aku—”

“Kumohon.” Pinta Sehun.

Mau tak mau Yoojung akhirnya pasrah dan menganggukkan kepalanya. Langkahnya terasa berat saat Sehun membawanya ke halaman belakang. Tiba-tiba saja bulu badan Yoojung meremang. Padahal tidak ada angin apalagi tanda-tanda akan turun hujan, namun Yoojung merasakan dingin yang sangat menusuk di sekujur tubuhnya.

Mereka sudah tiba di halaman belakang, dilihatnya sebuah kandang yang berukuran cukup besar. Lebih pantas dijadikan kandang anjing daripada kandang untuk seekor kelinci. Sehun membuka pintu kandang tersebut. Yoojung berdiri dengan jarak yang cukup jauh dari Sehun. Ia masih benar-benar takut, dipikirannya melintas kalau tiba-tiba saja kelinci dari dalam kandang itu melompat dan mendekati Yoojung.

“Oh? Dimana mereka semua?” tiba-tiba Sehun menatap Yoojung dengan ekspresi bingung.

“A-ada apa?”

“Semua kelincinya tidak ada di dalam kandang.” Tutur Sehun.

“A-apa? Tapi…bagaimana bisa?”

“Tunggulah disini sebentar, akan kutanyakan pada pelayanku, mungkin dia lupa memasukkan mereka ke dalam kandang setelah memberi makan.”

“A-aku ikut.” Yoojung langsung memegang lengan Sehun.

Sehun tersenyum lalu melepas pegangan tangan Yoojung, “Tidak apa-apa, siapa tahu saat aku pergi mereka akan muncul menghampirimu, sebentar saja.”

“Tidak mau.” Rengek Yoojung.

“Mengapa tiba-tiba saja kau manja begini, huh? Baiklah, ayo kita pergi.” Sehun kemudian berjalan bersama dengan Yoojung.

Ketika keduanya sudah berbelok menuju pintu depan, langkah Sehun terhenti. Ia melupakan sesuatu.

“Kau masuklah duluan.” Ucap Sehun.

“Kau mau kemana?” tanya Yoojung.

“Aku lupa menutup pintu kandangnya.”

Yoojung mengangguk kemudian berjalan lebih dulu meninggalkan Sehun, setibanya ia di depan pintu ruang tamu, tangannya tak kunjung ia ulurkan pada gagang pintu masuk. Ia seperti mendengar suara kepakan sayap di belakangnya, saat Yoojung berbalik betapa terkejutnya ia mendapati seseorang dengan jubah hitam yang ia lihat kemarin di taman bunga kini hanya berdiri beberapa senti tepat di hadapannya.

“S-si-siapa kau?” tanya Yoojung ketakutan.

“Ikutlah denganku.” Perintah si pria berjubah hitam itu.

“A-apa?”

“Cepatlah! Aku tidak punya banyak waktu.” Ucap pria tersebut lalu menarik pergelangan tangan Yoojung.

“Ta-tapi kita mau kemana?” tanya Yoojung panik.

Ketika pria berjubah hitam itu menarik Yoojung ke dekapannya. Keduanya langsung berpindah tempat. Tiba-tiba saja keduanya sudah ada di hamparan rumput yang luas. Yoojung menatap terkejut ke sekelilingnya. Ia juga menatap takut pada pria berjubah tersebut. Yoojung melangkah mundur sehingga kakinya menabrak sesuatu, nyaris saat ia akan terjatuh, pria berjubah hitam itu langsung menangkap pinggangnya.

“Hati-hati.” Lirih pria tersebut.

“Siapa kau sebenarnya? Ta-tadi itu…kau berteleportasi?” tanya Yoojung heran.

Pria berjubah hitam itu melepaskan pegangannya setelah dirasa Yoojung sudah berdiri dengan tegap lalu mengangguk.

Heol! Daebak! Di zaman secanggih ini, kemampuan aneh seperti itu benar-benar ada?” tanya Yoojung tak percaya.

“Ini bukan duniamu. Semua yang tidak kau percaya bisa terjadi disini.” Ucap pria tersebut.

“Bukan duniaku? Apakah kita sedang berada di Venus? Atau…Saturnus?” tanya Yoojung.

“Kembalilah sebelum semuanya terlambat.” Tutur pria berjubah hitam itu tanpa menggubris pertanyaan Yoojung yang entah merupakan candaan atau pertanyaan yang serius.

“Kembali kemana? Aku bahkan tidak tahu ada dimana aku sekarang.” Jawab Yoojung.

“Sudah kubilang ini bukan duniamu.” Tegas pria berjubah hitam itu lagi.

“Baiklah Tuan Jubah Hitam, tapi sebelumnya, bisakah kau jelaskan padaku kita ada dimana sekarang? Kau main asal saja membawaku ke tempat antah berantah ini, bagaimana jika pria yang mengaku sebagai suamiku sedang mencariku sekarang? Atau mungkin melaporkanmu ke polisi karena telah menculik wanita yang ia sangka sebagai istrinya ini?” balas Yoojung geram.

“Kau bukan istrinya dan dia bukan suamimu.”

“Iya, betul sekali, aku juga merasakan hal yang serupa. Tapi ia bersikeras menganggapku adalah istrinya. Apa boleh buat. Aku juga tidak tahu bagaimana lagi harus menjelaskan padanya bahwa aku—”

“Bawalah ini saat kau kembali nanti.”

Pria berjubah hitam itu kemudian memberikan sebuah kalung pada Yoojung, kalung dengan bandul berbentuk matahari.

“Apa ini? Kalung ajaib?” tanya Yoojung.

“Kau harus terbangun di tengah malam agar kalung ini dapat bekerja dan membawamu kembali ke duniamu. Ingatlah, jangan kau lewatkan tengah malam nanti, jika kau terbangun lewat dari tengah malam meski hanya satu menit, kau tidak akan pernah bisa kembali ke duniamu.” Jelas pria berjubah hitam itu.

Yoojung masih mencoba mencerna kata-kata pria tersebut namun pada akhirnya ia mengalungkan kalung tersebut di lehernya. Lagipula ia juga sedikit merasakan kejanggalan meski baru beberapa hari tinggal bersama dengan Sehun di rumah tersebut.

“Tapi…bagaimana caranya aku pulang? Aku benar-benar tidak tahu dimana aku berada sekarang.” Ucap Yoojung.

“Pejamkan matamu lalu bukalah kembali pada hitungan ketiga. Dan ingat satu hal, jangan ceritakan pada Sehun tentang apa yang kita bicarakan hari ini, kau mengerti?”

“Memangnya kalau aku bercerita padanya kenapa? Apakah ia akan datang mencarimu dan membunuhmu?” tanya Yoojung penasaran.

“Kau ini benar-benar banyak tanya. Pokoknya patuhi saja perintahku kalau kau mau mengetahui kenyataannya dan segera kembali ke duniamu. Paham?”

Yoojung mengerucutkan bibirnya dan akhirnya mengangguk. Ia kemudian memejamkan matanya.

Satu…dua…tiga. Apakah aku boleh membukanya sekarang? Apakah aku benar bisa kembali? Sebenarnya apa-apaan ini? Sehun, Yoohun, pelayan dengan wajah galak dan sekarang…pria berjubah hitam. Haish, sebenarnya ada dimana aku?

Yoojung membuka matanya dan terkejut ketika melihat Sehun sudah berdiri di depannya dan tengah menatapnya.

“Kau memejamkan matamu sejak tadi, kupikir kau tertidur sambil berdiri.” Ucap Sehun lalu tersenyum.

“Ayo masuk.” Sehun kemudian membuka pintu rumahnya untuk Yoojung.

“Ah, pasti hanya halusinasiku saja.” Lirih Yoojung.

“Bersihkanlah dirimu, aku dan Yoohun akan menunggumu di bawah untuk makan malam.” Ucap Sehun lalu mengecup kening Yoojung lalu berjalan meninggalkan Yoojung lebih dahulu.

Yoojung kemudian berjalan menaiki tangga rumah tersebut, satu tangannya masih terkepal sejak tadi. Ia menyerngit saat merasakan sesuatu di tangannya, saat ia membukanya perlahan, betapa terkejutnya ia ketika didapatinya kalung berbandul matahari ada di tangannya. Buru-buru ia memasukkannya ke dalam saku dressnya dan kemudian ia segera berlari menuju ke kamar untuk membersihkan diri.

#

Kau yakin dia belum bertemu dengannya?”

Ya aku sangat yakin, aku selalu berada di sisinya setiap saat.”

Bagaimana jika mereka ternyata sudah bertemu tanpa sepengetahuanmu.”

Aku sudah mengusirnya pergi dari sini, aku yakin ia tak akan berniat kembali lagi.”

Itu tidak mungkin, sebelumnya ia juga melakukan ini pada gadis-gadis lain agar mereka kembali ke asalnya.”

Kali ini tidak akan terulang lagi.

Yoojung menyerngit mendengar pembicaraan antara Sehun dan pelayannya. Tanpa sepengetahuan mereka Yoojung menguping dibalik pintu kamarnya. Sebenarnya secara tidak sengaja Yoojung menguping saat ia akan kembali ke kamar mandi mematikan keran air. Semoga saja mereka mengira Yoojung masih mandi dengan mendengar bunyi keran air yang masih terbuka.

“Dia siapa? Gadis-gadis lain? Apakah ada yang pernah mengalami hal yang serupa denganku? Apakah mereka adalah penculik? Omo!” Yoojung langsung menutup mulutnya dan berjalan mundur.

“Jung-ah, kau sudah selesai? Tolong buka pintunya.” Panggil Sehun dari balik pintu.

Yoojung menutup rapat mulutnya. Ia kemudian memikirkan segala cara untuk bisa segera kabur. Namun tiba-tiba ia teringat akan kalung pemberian pria misterius berjubah hitam yang ia membawanya entah kemana beberapa saat yang lalu. Buru-buru ia memakai kalung tersebut dibalik lehernya dan langsung ia tutupi dengan rambutnya agar tidak terlihat dengan jelas oleh Sehun.

“Su-sudah. Aku sudah selesai.” Jawab Yoojung setelah membuka pintu kamarnya.

“Baiklah, makanan sudah siap. Yoohun juga sudah menunggumu dibawah.” Tutur Sehun kemudian menarik pinggang Yoojung agar lebih merapat kepadanya.

Debaran jantung Yoojung mulai tidak senormal biasanya lagi. Selain membawa rasa takut, disaat yang bersamaan Sehun juga membuat Yoojung salah tingkah dan berdebar-debar, meski terkadang Yoojung harus membuang jauh perasaan aneh itu, namun Yoojung tak pernah bisa menahannya, apalagi jika Sehun memberikan senyuman manis untuknya.

#

Usai makan malam, Yoojung langsung masuk ke dalam kamar, padahal Yoohun masih mau berlama-lama dengannya. Usai mendengar percakapan antara Sehun dan pelayannya, Yoojung lebih memilih untuk bungkam kecuali diajak berbicara atau ditanya oleh Sehun, ia tak mau banyak bertanya lagi. Yoojung bahkan sudah tidak sabar menanti waktu tengah malam datang, ia harus tahu kenyataan yang sebenarnya dibalik semua ini.

“Ah, haus sekali.” Yoojung kemudian berjalan ke sisi kasur untuk mengambil air minum yang sudah disediakan oleh pelayan Sehun di atas nakas.

“Aneh, sebelum aku mandi masih ada disini. Apakah pelayan itu sudah mengambilnya saat aku turun tadi?” gumam Yoojung kemudian berjalan keluar memutuskan mengambil air di dapur.

“Mengapa tiba-tiba saja rumah ini menjadi sepi? Kemana semua orang pergi?” gumam Yoojung ketika menuruni anak tangga dan melihat lantai bawah tampak sepi.

Ia melangkah santai menuju ke dapur namun tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat mendengar tangisan anak kecil.

“Yoohun?!”

Yoojung langsung berlari ke lantai atas menuju ke kamar Yoohun, ketika ia mencoba membuka pintu kamar Yoohun, pintunya terkunci.

“Sehun-ah? Apakah kau sedang berada di dalam? Sehun jawab aku! Ini aku! Sehun!” pekik Yoojung sambil mengetuk pintu berulang kali.

Namun tiba-tiba saja Yoojung terdiam, tidak lagi terdengar suara tangisan Yoohun. Rumah kembali sepi. Yoojung kemudian melihat ke arah kamarnya, terlihat beberapa orang sedang mondar-mandir di dalam kamar tersebut. Ia segera berlari menuju kamar tersebut dan ketika ia berniat memasukinya tiba-tiba saja pintu kamar tersebut dibanting dengan keras di depan wajahnya dan saat Yoojung berniat membukanya, pintunya malah terkunci.

“Apa-apaan ini?” lirih Yoojung.

Yoojung kemudian mencoba lagi membuka pintunya namun tidak berhasil.

“Siapapun yang ada di dalam! Tolong buka pintunya! Sehun! Bibi pelayan! Apakah kalian di dalam? Kalian mendengarku?” pekik Yoojung.

Tiba-tiba saja dari belakang Yoojung ada dua buah tangan yang meraih lehernya dan mencekik leher Yoojung.

“Aa-aaa-aarr—argh…lhe-lhepha-lephaskhan!” lirih Yoojung yang tak bisa berbicara dengan jelas.

“Menjauhlah dari suamiku! Perempuan sialan! Kau tak boleh hidup dengannya! Kembalilah ke duniamu!” terdengar suara seorang perempuan si pemilik tangan tersebut.

 

*

T B C

SORRY FOR TYPO(s)

 

Advertisements

27 responses to “Sleeping Beauty – “Something Weird”| QueenX

  1. Yaampun horror banget. Sehun ada di dunia apa sebernya? Istri aslinya udah ga ada apa gimana? Tapi ko ada kata kata “gadis gadis lain”? Brrti banyak dong yg ngerasain kaya yoojung. Sehun ko jadi jahat siiii. Next yaa

  2. yoojung brada d dunia lain n Sehun mgkn adalah makhluk gaib…akh~ bingung tpi pnsaran…ffnya keren….

  3. Woahhhh makin ngeri ajaaa…apalagi waktu Yoojung dicekikkk…siapa yg cekik, hantu istrinya Sehun yaa😂😂
    Mngkin Yoojung ngga kelihatan gara2 make kalung itu…
    Laki2 jubah hitam itu siapa eonni, Kai yaa…haha soalnya kan dian yg punya kekuatan teleportasi di jaman Mama
    Next yyaa unnie….^^

  4. Sebenarnya ini dunia apa sih 😂,, jgn blg yg dekik itu istrinay sehun,, duh duh duuhh

  5. Ternyata jiwa nya ga ketuker mereka emg org berbeda. Terus katanya dunia mereka beda? Maksudnya gimana ko bisa , kalo yoojung yang ini bukan istri beneran nya sehun, terus yg benerannya kemana? Ko serem ya :v

  6. ini beneran aneh. tapi anehnya lagi aku penasaran sama cerita ini. daan yoojung memang beda org sama yg di maksud sehun itu kan ?. sangat sangat penasaran

  7. Alhamdulillah dilanjutkan juga ni ff. .udah q tunggu. ..sehun sehun..

    Semoga ini semua bukan hanya mimpi yang indah. ..

  8. Jangan2 sehun vampir ? Dan maksud gadis2 lain itu apa ? Dan yang nyekik yoojung itu istrinya sehun yg asli kan ? Daebak deh ! 😀 next next next….

  9. Setelah sekian lama nggak baca FF, dan ini FF pertama yang aku baca setelah vakum bertahun2 dari dunia per-ff an. Keren dan bikin penasaran.

    Awalnya aku pikir “Sehun psycho ya?” trus setelah dibaca lagi “eh Sehun gila nih” trus baca lagi dan baca lagi emang bikin penasaran. Perasaan campur aduk. Feelnya Yoojung itu dapet banget keren. Sampai2 aku mikir “Yoohun itu bukan hantu kan ya?”

    sumpah sumpah sumpah bikin penasaran banget. Nggak sabar pengen baca lanjutannya 😀

  10. Wahh, sumpah ini bikin penasaran 😶 Jadi tambah penasaran itu dunia apa wkwk… Btw, semangat ya buat authornya, ditunggu next chapnya 🙌🙌

  11. Jadi bener sebenernya yokjung bkan istrinya sehun.Itu yg mau nyekik yoojung arwah istrinya sehun ato gmn? Maksudnya didunia yg beda ? Makin penasaran

  12. Heol daebakkk…..
    Kok merinding sendiri bacanya. Padahal msih siang. Makin penasaran nih, lanjut thor….
    Palli palli yh. , 🙂

  13. Ini kayak kasusnya film insidius…
    Ngeri sekali…
    Moga aja yoojung selamat…
    Dan ketemu srhun di dunianya sendiri

  14. Duh horror trus kepo banget sumpah. Itu yg nyekik yoojung apa istri aslinya sehun? Trus sehun siapa? Yg pake jubah hitam jg siapa?

  15. Pliss ini makin horror ceritanya. Apalagi pas ada sesorang yang pake jubah hitam, taman sama kolam yang tadinya kotor tiba-tiba bersih, dan adegan terakhir itu siapa coba? apakah dia yoojung yang asli? tapi…. aaaaaa makin penasaran><

  16. haduh itu pas ending siapa yg cekik yojung ya? jadi sehun bukan manusia gitu?
    walah ini asli bikin penasaran ceritanya.. lanjut baca series lanjutannua dulu author-nim hehehe

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s