LO(st)VE [4th] —ARLENE P.

75585-lost-love

Cr. image Google

LO(st)VE

Rain ]

.

.: The Other Slice :.

Nightmare | Promises | I Miss You

.

.

“When it rains, the memories fall down and the pain spreads.

.

.

Ilana Kim (28 y.o)

11137772_904121046297952_1134843479_n

.

Oh Sehun (30 y.o)

sehun-pf-1

.

Evelyn Oh (25 y.o)

1173086_1541790346114894_1196820828_n

.

Shayla Oh (3 y.o)

SHYL

,

Mervyn Oh (3 y.o)

mervyn-childhood-2

.

Romance — Hurt — Angst — Drama

Alternate Universe ¶ Ficlet

PG-17

.

.

Pagi hari, Sehun terbangun dalam pelukan rasa hangat. Senyumnya tak urung merekah tatkala menyadari keberadaan selimut tebal yang melindungi tubuh setengah telanjangnya. Belum lagi aroma masakan yang merebak di setiap penjuru ruangan, membawanya tenggelam pada satu kenangan lama yang menyisakan rindu berkepanjangan.

Kehilangan separuh kewarasannya, Si Pria Oh tergerak menampar pipi sendiri lalu meringis, berbanding terbalik dengan jiwanya yang mulai sibuk melantunkan simphoni kemenangan. Berbahagia lantaran asa yang telah sudi berjumpa dengan realita. Kegirangan menyadari jarak yang tak lagi kejam memisahkan dirinya dengan Ilana.

Ya. Ilana, judul terpedih dalam melodi sepinya.

“Kau masih suka telur setengah matang, kan?” suara sopran Ilana dibawa udara, belasan detik kemudian. Melengkapi pembenaran yang sejak tadi sibuk dicipta Sehun. Menarik kembali pria tersebut dari alam bawah sadarnya lantas bersuka cita memusatkan fokus terhadap si pemilik suara yang belum lama ini meretas hening.

“Aku akan selalu suka apa pun yang kau masak, La.”

Ilana mendengus samar sembari membuang pandangan. Berusaha tak acuh walau tahu tatapan Sehun sama sekali tak beranjak darinya. Sebagai distraksi, wanita cantik ini memilih menyibukkan diri di meja makan. “Kau masih saja suka membual, padahal tahu itu sudah tidak mempan lagi padaku,” tukas Ilana, masih enggan menatap Sehun. “Setelah sarapan, cepat pergi dari sini.”

Sehun bergegas bangkit dan mengenakan kembali kemejanya. “Tidak perlu mandi?” tanya pria ini dengan langkah tertuju pasti, menghampiri Ilana. “Lagi pula aku tidak akan ke mana-mana sampai kau mau pulang, La. Aku sudah mengatakan hal itu, bukan?”

Ilana yang sudah mendudukkan diri di kursi lekas mendongak. Mencari tatapan Sehun yang sempat ia abaikan dengan raut tak percaya. Iris violetnya kentara membulat, menahan kesal. “Apa kau pikir semuanya sesepele itu?” sarkasme pun terlempar sebagai bukti nyata peperangan. “Atau perlu kutekankan bahwa aku tidak semurah yang kau pikir, Oh Sehun?”

“Ilana—”

“Aku bukan barang!” potong Ilana, meninggi.

“Aku tahu!” balas Sehun tak kalah emosi. “Aku hanya masih sangat mencintaimu dan aku tak tahu bagaimana cara menunjukkannya, La. Kau sudah terlalu jauh dari jangkauanku, padahal aku masih sangat membutuhkanmu. Anak-anak kita juga membutuhkanmu.”

Ilana meringis, kepayahan menahan sesak. Memorinya seolah bekerja seperti kaset rusak, memutar potongan film masa lalunya yang itu-itu saja. Tepat di bagian terpahit saat keadaan menyudutkannya sebagai pihak paling berdosa. “Jangan bohong! Mereka hanya membutuhkanmu. Aku tahu, aku ini ibu yang gagal.”

For God’s sake, Ilana Kim! Mereka lebih membutuhkanmu,” sergah Sehun, berubah putus asa. Bergegas mengikis jarak dan berlutut di hadapan Ilana. Menggenggam jemari lentik perempuan cantik tersebut, lantas kembali buka suara, “Aku harus bagaimana agar bisa membawamu pulang ke rumah?”

Hening cukup lama yang digunakan Ilana untuk menyembunyikan wajah. Menunduk dalam dengan kedua bahunya yang bergerak statis, naik-turun. Entah sibuk menangis dalam diam atau sekadar menormalkan deru napas. Tahu-tahu saat pandangan keduanya kembali bertemu, sepasang iris ungu Ilana sudah mengabur terhalang lapisan kaca-kaca bening penanda luka.

“Semalam aku lupa diri. Semalam aku hampir saja menerimamu kembali.”

“Apa yang salah dari itu?”

Secepat kilat Sehun bertanya, secepat itu pula Ilana memberi jawaban, “Semuanya.” Senyum tipis diulas Wanita Kim ini sembari membebaskan kesepuluh jemarinya, kentara menolak kehangatan yang ditawarkan Si Pria Oh. “Kau tahu poin terbaik dari hujan?”

Sehun menggeleng ragu, kebingungan.

“Hujan selalu mau kembali meski seringkali diumpat dan tidak dihargai kedatangannya. Hujan yang membawaku padamu,  meski pada akhirnya hujan juga yang menjadi saksi perpisahan kita. Hujan begitu mahir membawa apa pun tentangmu kembali dalam ingatanku tanpa kenal lelah,” Ilana berseloroh dengan potongan katanya yang terbata hingga tertangkap lambat dalam pendengaran Sehun. “Aku sangat menyukai hujan karenamu.”

“Kau ini bicara apa, sih?”

“Masih cinta bukan berarti harus kembali bersama, kan? Persetan soal perasaan karena kau dan aku memang tidak akan pernah bisa menjadi kita.”

Sehun menggeram frustasi. “Demi Tuhan! Aku sama sekali tidak mengerti dengan apa yang kau ucapkan, Ilana Kim! Kupikir semalam semuanya sudah mulai membaik, lalu kenapa pagi ini kau kembali terasa asing? Kumohon, jangan begini. Kumohon, kembalilah demi Shayla dan Mervyn.”

“Berhenti membawa nama anak-anak kita dalam persoalan ini, Hun!” tukas Ilana. “Saat kau memutuskan untuk mengakhiri semuanya pun kau tak pernah memermasalahkan tentang mereka, bukan? Bahkan ketika aku mengemis, kau sendiri yang mengatakan bahwa kau mampu mengurus Si Kembar jauh lebih baik dariku!”

“Waktu itu egoku terlalu tinggi, La. Aku menyesal.”

Bukannya tersentuh, yang diajak bicara justru mengangkat sinis salah satu sudut bibir. “Satu tahun berlalu dan kau baru mengatakannya sekarang. Kalau benar keberadaanku penting bagimu, kau takkan pernah membuatku menunggu selama ini, Oh Sehun.”

“Jadi, apa inti dari percakapan kita sekarang, hm?” Termakan emosi, Sehun bergegas menegakkan tubuh. Menantang riak dalam sepasang netra Ilana dengan kelam obsidiannya. Tak sadar bahwa tindakannya ini baru saja memermarah luka hati sang lawan bicara.

Perlahan namun pasti Ilana mengirup udara. Memantapkan susunan katanya dalam pikiran, sebelum melisankan dengan kesadaran penuh. “Ada seseorang yang menyerupai hujan. Dia selalu bertahan di sisiku meski keberadannya pernah kutolak berulang kali.”

Tak perlu waktu lama bagi Sehun untuk merasakan kepingan asanya yang kembali tercecer di dasar hati. Akalnya hilang ditelan nyanyian waktu, bersamaan dengan jiwa dan raga yang mulai lelah selaras dalam keputus-asaan. Dan seolah semesta ingin turut andil dalam mengapresiasi patah hati yang dialami seorang Oh Sehun, sejumput ingatan berenang ke permukaan otak. Menghadirkan sebuah nama tak asing yang kerap memorak-morandakan mimpi indahnya melalui sejumlah premis.

Premis itu kemudian berkawan dengan konklusi, sebelum akhirnya berbalik menyerang segenap pertahanan Sehun tanpa kenal ampun. “Jadi, benar kabar yang beredar selama ini?”

Ilana bungkam yang disambut Sehun dengan tawa getir. Namun, alih-alih meledak, pria ini justru kembali memapas jarak disusul tangan kanannya yang mendarat di puncak kepala si perempuan. Mengusaknya lembut, setengah bergetar, dan baru berani angkat bicara puluhan detik sesudahnya. “Kau cantik, pintar, juga memiliki hati yang tulus. Kau memang pantas mendapatkan seseorang yang jauh lebih baik dariku, La. Selamat!”

Tepat saat Ilana mendongakkan kepala, Sehun telah mengambil tiga langkah mundur menjauhinya. Meninggalkan rasa kosong dalam lubuk hati wanita ini yang sempat dijalari rasa hangat tanpa satu pun menyadari. Lalu, bukannya memertanyakan perubahan air wajah sang mantan istri, Sehun justru kembali berlindung di balik selimut ego dengan bersikukuh pada keputusan sepihaknya.

Hanya butuh sepuluh detik bagi Si Pria Oh untuk berbenah diri sebelum benar-benar membawa langkah menuju pintu keluar. Meneguhkan hati, walau tetap saja membeku tatkala Ilana melabelkan silabel pembentuk namanya melalui kuasa udara. Hatinya remuk merasakan dinginnya kenop pintu, penanda perpisahan mereka yang kesekian kali. Punggungnya terasa kian kaku begitu merasakan tangan-tangan kurus Ilana memeluknya rapuh dari arah belakang. Membisikkan kalimat yang menambah sesak organ pernapasan lantaran dicekik sesal tak berkesudahan.

“Aku merindukanmu terlalu lama. Aku terlanjur lelah, Hun.”

Senyum pahit dikulum Sehun, sebelum memberi balasan singkat, “Maaf.” Selang beberapa detik, bariton yang sama kembali terdengar, “Kau bisa mengunjungi anak-anak lebih sering, kan? Bagaimana pun kondisinya saat ini, aku serius saat mengatakan bahwa mereka membutuhkanmu, La.” Helaan napas berat, diikuti salah satu tangannya yang tergerak untuk memutus kontak dengan sang lawan bicara. “Datanglah lebih sering … ke rumah … ku.”

Suara pintu ditutup pun menyisakan Ilana bersama kesedihan tak bernama. Membuat sosok cantik ini menangis terisak dalam kesendirian, bahkan jatuh terduduk lantaran tak ada yang menopang. Sehun telah pergi bersama seluruh asa yang pernah mereka rajut bersama. Sakit, tentu saja.

Seandainya bisa, Ilana ingin menjadi pecundang. Memilih lari dari keselarasan hidupnya sekarang dan kembali ke masa lalu, kemudian meneruskan lagi seluruh mimpi mereka yang tertunda. Namun, bagaimana mungkin dirinya tega menyakiti seseorang yang telah begitu tulus menerima kekurangan serta mendampinginya di saat sulit? Ilana tidak ingin menyakiti orang lain, karena dirinya sendiri pun tahu betapa sakitnya dicampakkan.

Ini harusnya menjadi putusan terbaik dari segala pilihan yang ada, tapi mengapa masih saja terasa salah? Mengapa hati kecilnya justru memberontak dan memohon agar Sehun tetap tinggal? Mengapa alam bawah sadarnya justru menuntutnya menjadi seseorang yang egois? Mengapa kebutuhannya akan Sehun masih saja sebesar ini?

Mengapa harus sesakit ini melepaskan yang telah lama pergi?

Di tengah rasa gamang yang menerkam, ponsel dalam sakunya bergetar. Meminta atensi dengan menampilkan nama kontak sang pemilik rindu pada layar. Bibir bawah pun digigit Ilana lamat-lamat sembari menempelkan alat komunikasi tersebut ke telinga.

Dan, tanpa memberi kesempatan bagi Ilana untuk mengucap sapaan pembuka, si penelepon dengan tergesa angkat suara. Bergumam diiringi tangisan langit, “Hujan, La.” Jeda sebentar, seolah memberi kesempatan bagi Ilana untuk melirik jendela di balik punggung. “Kenangannya juga menyiksaku.”

“Sehun …”

“Aku janji ini yang terakhir kali aku mengatakannya; Aku sangat mencintaimu, Ilana Kim.”

¤
¤
¤

Di tempat lain dalam waktu bersamaan ketiga anak manusia tengah asyik memandang keluar jendela. Dua di antaranya pun sibuk berceloteh, sementara sisanya mendengarkan lamat-lamat.

“Nah, kan! Bibi bisa liat sendili, Shayla selalu mulung setiap kali hujan tulun,” keluh si kecil pertama pada sosok lain yang jauh lebih dewasa. Sedangkan tangan kecilnya dengan sigap membimbing saudara kembarnya ke dalam pelukan. Bermaksud menenangkan.

Tanpa menolak kehangatan yang diberikan Mervyn, Shayla lekas menimpali. Memberi pembelaan atas wajah bermuramnya saat ini kepada Evelyn. “Shayla sedih melihat langit menangis. Mengingatkan Shayla pada ayah yang seling menangis sendili di kamal kalena melindukan Ibu.” Hening cukup lama yang memberi Evelyn kesempatan untuk mengirup udara. Tahu benar ke mana percakapannya dengan si kecil ini mengarah. “Kenapa ibu pelgi lama sekali, Bi? Shayla juga ingin ditemani ibu pelgi belmain sepelti anak-anak yang lain.”

Merasakan hal serupa, Mervyn pun mengamini melalui pelukannya yang mengetat. Menyisakan Evelyn yang mengumpat dalam hati, merasa tak berguna meski dirinya mengenal baik Sehun juga Ilana. Sesal itu ada paska dirinya berpura-pura bodoh semalam. Memohon setengah memaksakan kebahagiaan yang telah menjauh sejak lama. Mengikat simpul pengharapannya kuat-kuat, namun semu.

Tak ada satu pun tentang Ilana yang luput dari pengetahuan Evelyn, tak terkecuali kedekatannya dengan pria yang baru. Sama halnya perkara hidup Sehun, betapa pria itu bersikeras berbohong soal kedekatannya dengan Jennie hanya untuk tahu bagaimana respon yang diberikan mantan istrinya.

Ilana lelah menunggu, sementara Sehun terlalu lama berkutat dengan ego.

Lalu bagaimana Evelyn harus menghadapi situasi ini?

“Bibi yakin ibu akan mengunjungi kalian lebih sering. Shayla dan Mervyn mau bersabar, kan?”

Mervyn mengangguk, berbeda dengan Shayla yang menggeram penuh penolakan. Bersusah payah mengurai pelukan saudara lelakinya demi mencecar Evelyn. “Shayla tidak butuh dikunjungi, Shayla hanya ingin ibu kembali pulang! Bukannya datang sebental lalu pelgi lagi. Tidak bisakah Bibi meminta ibu untuk tinggal di lumah ini? Supaya kita bisa belkumpul tanpa pellu melasa sedih.”

“Shayla—”

Belum sempat Evelyn memberi penjelasan, Shayla sudah lebih dulu meledak dengan segala kekecewaannya. “Shayla lindu Ibu! Shayla mau Ibu! Shayla ingin telus ditemani Ibu, setiap saat!”

“Shayla!” Mervyn menegur. “Lendahkan nada bicala Shayla! Mana boleh belteliak begitu pada Bibi Eve!”

Setengah terisak, Shayla menyahut, “Memangnya kenapa? Shayla hanya mengatakan apa yang Shayla lasakan. Lagi pula, Melvyn juga melasakannya, kan? Shayla tahu bahwa Melvyn juga sedih karena melindukan ibu.”

Detik selanjutnya, tubuh Si Kembar tenggelam dalam pelukan Evelyn. “Maafkan ibu, maafkan ayah, maafkan Bibi juga.” Tanpa tedeng alih-aling, gadis cantik ini turut menitikkan air mata. “Maafkan kami.”

.

.

-fin

.

.

Maaf mendung, di tempat aku lagi ujan terus sih/? Aku sempetin nulis nih karena kangen kalian, semoga menghibur/? Sampai jumpa di lain waktu ya ♥

—Sincerely, Arlene P.

Advertisements

67 responses to “LO(st)VE [4th] —ARLENE P.

  1. udah fin? lanjutin ya kak. ini sedih banget … buat sehun ilana balikan. kasian itu shayla sm mervyn, aku berkaca2 bacanya. masih terlalu kecil deh buat ngadepin situasi kek begitu

  2. Finally, muncul juga yang ditunggu-tunggu.
    Ceritanya tak bisa ditebak, meski telah menerka-nerka akan kelanjutannya namun tetap saja berbeda dengan cerita yang disajikan. Penyajian kata-kata yang sedikit berbeda dengan yang lainnya tetap menjadi favorit sebab bisa membantu dalam mengimajinasikan ceritanya.
    Setiap sampai di bagian mervyn dan shayla entah kenapa turut merasakan kesedihan mereka. Terlalu menyedihkan bagi mereka berdua harus berada di situasi yang demikian. Sehun dan Ilana takkan bisa bersatukah?
    Tapi, posisi Ilana sedikit sulit untuk membuat keputusan yang tak menyakiti siapapun sepertinya. Well, apapun itu semoga keputusannya yang terbaik.
    Untuk author.nim, semangat untuk melanjutkan ceritanya karena karyamu selalu ditunggu reader setiamu. Semangat untuk menjungkirbalikkan perasaan pembaca.
    Fighting!!

  3. Wow Kerennn bangett.knp inland gk balikan aka sama sehun.ank” sangat merindukannya.makin penasaran nih kedepannya d tunggu next capther nya fighting

  4. Ya ampuuuun kenapa mereka pd nyiksa perasaan masing2 ya…
    dan kenapa mereka ngga mencoba lagi menjalin hubungan, kali ini aja mereka egois demi si kembar…
    semoga aja mereka akhirnya bersatu kembali dgn sikembar juga, kasian mereka kangen Ibunya kumpul bareng mereka…
    ini end apa tbc ya???

  5. halohaaa eonni… wkwk maaf bru bsa coment hehe aduh kak sedihhh sekaliii aku nihh ha lebay gak sih heheh . terhura sekali eonni
    hm kalo boleh minta happy end ya eon sehun illana nya kasiha shayla melvynnya huhuu
    keep writing eon

  6. Yha kak baru chapter sebelumnya dibuat senang sekarang sedih lagi suka gitu ih:( tapi itu yg jdi shayla siapa ucul bgt
    Dan ilana suka bgt ya nyiksa diri sok jual mhal padahal sakit juga kasian si kembar

  7. OMFG. selalu nunggu eonni untuk up! kangen bgt sama tulisannya, tapi aku baru baca yg ini gilak bgt ini seru bgt sih parahhhhh. jangan lama lama hiatus donggggggggggg😭

  8. Awalnya ga asing sama judul , makin baca ternyata bener dugaan kirain bkal hiatus lama , tapi ternyata udh update lagi …
    Jujur kangen sama ffnya but keep writing I will wait for your next post

  9. Ga kerasaa, cepet banget baca nya 😂
    Ditunggu lanjutan nya ka, semangat ka nulis nya biar dapet ide2 yg lebih wawwww lg hehehhe
    Aku nungguin lanjutan cerita cinta mereka nya ka heheheh

  10. wahhh keren. kasian anak” yg menjadi korban .ke egoisan orang tua. makin penasaran nih kedepannya d tunggu next chapter nya fighting

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s